Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

MODUL 12 PTHI

Di susun Oleh :

KELOMPOK 4
1. APRIADI
2. DIANA KURNIATI
3. LATRI NOVIA UTAMI
4. MARIATI
5. NIA DANIATI

UNIVERSITAS TERBUKA BATAM


FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI NEGARA
2019
MODUL 12

Hukum Acara

KEGIATAN BELAJAR 1

Hukum Acara Perdata

A. PENGERTIAN
Hukum sebagai suatu sistem yang terdiri dari peraturan perundang- undangan yang begitu
kompleks baik dilihat dari segi tingkatan, materi pengaturan, saat pembuatan dan lain sebagainya,
pada dasarnya dapat diklasifikasi. Salah satu kriteria untuk melakukan klasifikasi adalah dengan
mendasarkan pada fungsi hukum yang dibagi menjadi hukum materil (substantive law) dan hukum
formal (adjective law). Berkaitan dengan kategorisasi hukum berdasarkan fungsinya ini, hukum
acara perdata dimasukkan sebagai hukum perdata formal karena ia merupakan ketentuan hukum
yang mengatur bagaimana caranya mempertahankan, menjamin, sekaligus menegakkan hukum
perdata materil melalui hakim di pengadilan (Sudikno Mertokusumo, 1993:2). Dengan kata lain,
hukum acara perdata tidak lain dan tidak bukan adalah semua kaidal m yang menentukan dan
mengatur cara bagaimana melaksanakan hak hak dan kewajiban-kewajiban perdata sebagaimana
diatur dalam hukum perdata materiil. Penggunaan kalimat "melalui hakim di pengadilan" juga bisa
memberikan pengertian hukum acara perdata berdasarkan tujuan, yaitu sebagai peraturan hukum
yang mengatur proses penyelesaian perkara perdata lewat hakim di pengadilan sejak
dimajukannya gugatan sampai dengan hukum pelaksanaan putusan.

B. SUMBER HUKUM ACARA PERDATA

Ada beberapa sumber hukum acara perdata Indonesia. Sumber -sumber hukum tersebut adalah
sebagai berikut:

1. Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) dan Rechtsreglement ngadilian dan a ama lan umi ata
(idui Kair Buitengewesten (Rbg)
Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) untuk daerah Jawa dan Madura dan Rechtsreglement
Buitengewesten (Rbg) untuk luar Jawa dan Madura. Pemberlakuan HIR dan Rbg. ini didasarkan
kepada ketentuan Pasal 5 ayat 1 UU Darurat No. 1 Tahun 1951 yang menentukan bahwa hukum
acara perdata pada Pengadilan Negeri berdasarkan peraturan- peraturan Republik Indonesia
terdahulu, yang sudah ada dan berlaku untuk Pengadilan Negeri dalam daerah Republik Indonesia
(Sudikno Mertokusumo, 1993:6).
2. Reglemen tentang Organisasi Kehakiman (Reglement op de Rechterlijke Organisatie in her beleid
der justitie in Indonesia) yang disingkat dengan RO.
3. Burgerlijk Wetboek voor Indonesie (disingkat BW) buku ke IV.
4. Reglemen Catatan Sipil yang memuat peraturan-peraturan hukum acara perdata yang sejak
semula hanya berlaku untuk golongan tertentu yang baginya berlaku hukum perdata barat.
5. Beberapa Undang-undang yang relevan, antara lain:
a. 3. 4. 5. Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman;
b. Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No 9 Tahun 1975 tentang
Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974;
c. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama d. dimana di dalamnya ada
ketentuan pemberlakuan HIR;
d. Undang-undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan Undang-undang No. 5
Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah
Agung;
e. Undang-undang No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum dan Undang-undang No. S Tahun
2004 tentang Perubahan atas Undang- undang No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum;
f. Undang-undang No. 20 Tahun 1947 tentang Pengadilan Peradilan Ulangan yang mengatur
persoalan banding khusus untuk wilayah Jawa dan Madura, sedangkan untuk di luar Jawa dan
Madura diatur dengan Rbg. (pasal 199-205)
6. Yurisprudensi. Misalnya putusan MA tanggal 14 April 1974 No. 99 K/Sip/1971
7. Adat kebiasaan.
8. Perjanjian internasional
9. Doktrin.
10. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA). Catatan untuk SEMA, sepanjang mengatur hukum acara
perdata dan hukum perdata materil tidaklah mengikat hakim sebagaimana sebuah Undang-
undang. Akan tetapi ia merupakan sumber tempat hakim dapat menggali hukum secafra acar
perdata maupun hukum perdata materiil.

C. ASAS-ASAS HUKUM ACARA PERDATA


Dalam proses acara perdata ada beberapa asas penting yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Beracara dengan hadir sendiri
Pada prinsipnya, setiap orang mempunyai kewenangan melakukan perbuatan hukum dapat
beracara sendiri tanpa melalui perantaraan orang lain. Hanya kalau dikehendaki, kedua belah
pihak dapat dibantu atau diwakili oleh seorang kuasa. Demikian diatur dalam Pasal 123 HIR
dan Pasal 147 Rbg. Dengan kata lain, ketentuan HIR pada awalnya memang tidak
menentukan adanya kewajiban bagi para pihak dalam proses beracara, sehingga pemeriksaan
persidangan terjadi antara para pihak yang berkepentingan langsung. Ini artinya, hakim tetap
wajib memeriksa sengketa yang diajukan kepadanya oleh para pihak, meskipun mereka tidak
mewakilkan kuasanya kepada orang lain.
Berbagai kemudahan bisa diperoleh jika para pihak sendiri yang langsung beracara tanpa
mewakilkan. Kemudahan-kemudahan tersebut antara lain: Pertama, dengan memeriksa para
pihak yang berkepentingan langsung, hakim akan lebih mengetahui duduk persoalannya
mengingat para pihak itu sendirilah yang sebenamya mengetahui secara persis seluk beluk
peristiwa. Hal ini akan berbeda situasinya jika para pihak menguasakan kepada seseorang
yang kadang malah kurang menguasai peristiwa yang menjadi objek sengketa dengan detail,
sehingga sering terjadi ia hanya siap dengan surat jawabannya saja, dan tidak menguasai
materi diluar itu. Apabila hakim mempertanyakan hal-hal lain di luar surat jawaban itu pada
saat pemeriksaan ia harus berkonsultasi dengan pihak yang diwakilinya. Kedua, beracara
tanpa mewakilkan lebih murah dan ringan biayanya, karena para pihak tidak perlu
menyediakan dana untuk membayar kuasanya.
2. Beracara dikenakan biaya
Maksud dari pada asas ini adalah, bahwa setiap orang yang beracara di pengadilan
berkewajiban memikul biaya acara, seperti biaya pendaftaran, uang saksi, bea meterai,
honorarium pengacara dan sebagainya.
Untuk orang yang tidak mampu dimungkinkan beracara dengan cuma- cuma. Golongan
tidak mampu dapat mengajukan berperkara dengan cuma- cuma (pro deo) melalui izin bebas
dari pembayaran biaya perkara setelah mengajukan surat keterangan tidak mampu yang
dibuat oleh kepala polisi. Ketentuan mengenai hal ini diatur dalam Pasal 237 HIR dan 273 Rbg.
Dalam praktik surat keterangan ini dibuat oleh camat yang membawahi daerah tempat yang
berkepentingan tinggal.
3. Pemeriksaan perkara dalam sidang pengadilan terbuka.
Asas tentang keterbukaan pengadilan ini tercantum dalam Pasal 19 ayat 3. 1 Undang-
undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam pasal tersebut dinyatakan
bahwa setiap pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum dan tidak dipenuhi asas ini
akan berakibat putusan batal demi hukum. Di dalam Pasal 19 ayat 1 juga ditentukan bahwa
asas ini bisa dikecualikan jika Undang-undang menentukan lain.
Asas pengadilan terbuka ini mempunyai maksud dan tujuan penting, yaitu untuk menjaga
hak-hak asasi manusia dan objektifitas pemeriksaan. Di samping itu, ia juga membuka peluang
terjadi kontrol sosial terhadap proses pemeriksaan di pengadilan.
4. Hakim mendengar kedus belab pihak
Di dalam hukum acara perdata dikenal asas audi et alteram purkem yy berarti bahwa baik
pihak penggugst ataupun tergugat harus sama-sama didengar keterangan-keterangannya oleh
hakim dan hakim tidak boleh memihak kepada salah satu pihak yang berperkara. Asas in juga
dikenal sebagai asas kesamaan para pihak.
Sebangun dengan asas ini Pasal 5 ayat 1 Undang-undavg No, AT 2005 tentang
Kekuasaan Kehakiman juga secars eksplisit menysakat tentang hal ini dengan menyatakan
bahwa pengdilan mergsdili hukum dengan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan asas
ini pengadilan harus memberikan periskuan yag satte (non-diksriminatif) dan tidak bersifat
berat sebelah kepuda sala satu pihak (imparsial).
5. Terikatnya hakim kepada alat pembuktian.
Ketentuan mengenai alat pembuktian diatur dalam Pasal 104 1I1R, Pasl 284 Rbg, dan
Pasal 1866 KUH Perdata meliputi:
a. Alat bukti tulisan;
b. Alat bukti saksi
c. Persangkaan;
d. Pengakuan;
e. Sumpah.
Yang penting untuk diketahui, Undang-undang menentukan dua cara mengenai
pembuktian ini (Hartono Hadisoeprapto 2001:115), yaitu:
a. Hakim terikat secara negatif kepada alat pembuktian. Artinya, untuk menimbulkan
keyakinan kepada hakim tentang kebenaran dari suatu kenyataan atau hubungan,
harus didasarkan kepada minim bukti;
b. Hakim terikat secara positif kepada alat pembuktian. Artinya, jika bukti harus
memandang sesuatu b. tertentu sudah diberikan, maka hakim kenyataan atau
hubungan itu memang sungguh-sungguh telah terjadi.
6. Putusan hakim harus memuat alasan-alasannya
Seperti diketahui, proses acara di pengadilan bermuara pada dijatuhkannya putusan oleh
hakim. Berkenaan dengan hal ini Pasal 184 ayat 1 HIR dan Pasal 195 ayat 1 Rbg serta Pasal
25 ayat I Undang-undang No. 4 Tahun 2005 menentukan bahwa semua putusan pengadilan
harus memuat alasan-alasan yang dijadikan alasan mengadili atau memutus.
Tujuan tentang wajibnya disertakan alasan-alasan dalam putusan antara lain adalah
sebagai bentuk pertanggungjawaban hakim (akuntabilitas) berkaitan dengan putusannya
terhadap masyarakat, para pihak, pengadilan yang lebih tinggi dan ilmu hukum (Sudikno
Mertokusumo, 1993:14) Sedemikian pentingnya pemuatan alasan dalam putusan sehingga
beberapa putusan M.A menetapkan bahwa putusan yang tidak lengkap atau kurang cukup
dipertimbangkan merupakan alasan untuk kasasi dan harus dibatalkan.

D. SIFAT KEPUTUSAN HAKIM


Biasanya dalam proses acara perdata jika hakim telah mengetahui suatu peristiwa dan
sekaligus menemukan hukumnya maka ia akan segera menjatuhkan putusan akhir.
Ada tiga macam putusan yang bisa dijatuhkan oleh hakim dalam muara akhir proses acara
perdata, yaitu:
a. Putusan condemnatoir (comdemnatoir vonnis, condemnatory udgement), yaitu
putusan yang bersifat menghukum. Dalam perkara perdata hukuman artinya
kewajiban untuk memenuhi prestasi yang dibebankan oleh hakim. Menghukum
artinya membebani kewajiban untuk berprestasi terhadap lawannya. Prestasi itu
bisa berwujud memberi (geven, give), berbuat sesuatu (doen, do) atau tidak berbuat
sesuatu (niet doen, not do). Pada umumnya putusan condemnatoir itu berisi
hukuman untuk membayar sejumlah uang.
b. Putusan declaratoir, yaitu putusan yang bersifat menyatakan hukum, atau
menegaskan suatu keadaan hukum semata-mata. Dalam putusan ini dinyatakan
bahwa keadaan hukum yang dimohonkan itu ada atau tidak ada.
c. Putusan constitutief, yaitu putusan yang bersifat menghentikan atau menimbulkan
keadaan hukum baru. Dalam putusan ini suatu keadaa hukum tertentu dihentikan
atau ditimbulkan oleh suatu keadaan hukum baru, misalnya putusan pembatalan
perkawinan, pembatalan perjanjian dan lain-lain. Pada putusan constitutief, tidak
diperlukan pelaksanaan dengan paksaan, karena dengan diucapkannya putusan itu
sekaligus ng uk at, atu keadaan hukum yang lama berhenti dan timbul keadaan
hukum baru.
E. PELAKSANAAN PUTUSAN
Untuk menjalankan putusan hakim sering diperlukan upaya-upaya tertentu sebagai berikut:
1. Eksekusi riil, yakni sungguh-sungguh dijalankan seperti yang diputuskan. Misalnya,
terhukum harus mengosongkan kediaman yang ditempatinya. Jika terhukum tidak mau
melakukan itu, ia dengan kekerasan dikeluarkan dari rumah itu.
Masalah eksekusi ril tidak diatur secara terperinci dalam undang-undang akan tindakan
yang sederhana yaitu merupakan tindakan nyata untuk melaksanakan hukuman dalam
amar putusan hakim misalnya pengosongan, pembongkaran dan sebagainya. Eksekusi
riil tidak MU HUKUM/PTHI nghukum tergugat mengenal eksekusi ril dalam penjualan
lelang yaitu eksekusi riil terhadap barang yang dijual lelang utuk pembayaran utang.
Dalam hal ini terjadi pengosongan barang yang dilelang untuk diserahkan kepada
pembeli (pemenang lelang). Pengaturan eksekusi riil dijumpai dalam Pasal 1033 Rv.
Pengosongan pada hakekatnya merupakan tindakan meninggalkan objek perkara
(benda tidak bergerak) dalam keadaan kosong untuk diserahkan kepada pihak yang
menang tanpa gangguan. Pihak yang wajib mengosongkan tidak hanya tereksekusi
saja tetapi termasuk juga keluarga yang menempati, sedangkan yang harus
dikosongkan tidak hanya orang tetapi juga harta benda milik tereksekusi dan
keluarganya.
2. Pensitan barang milik terhukum untuk dilelang dalam hal putusan hakim itu menghukum
untuk membayar sejumlah uang.
3. Uang pemaksa (dwangsom), yakni dalam putusan juga ditentukan bahwa terhukum
harus membayar sejumlah uang, tiap-tiap kali ia tidak memenuhi apa yang diputuskan
itu.
KEGIATAN BELAJAR 2

Hukum Acara Pidana

A. PENGERTIAN
Sesuai judul Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981, nama hukum acara pidana di
Indonesia adalah Hukum Acara Pidana, Undang-Undang ini juga disebut Kitab Undang. Undang
Hukum Acara Pidana (KUHAP), Undang Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76 Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209 ini mencabut dan menggantikan Undang-
Undang tentang acara pidana yang berlaku sebelumnya (Het Herziene Inlandsch Reglement atau
HIR), Setelah berlakunya KUHAP maka HIR (Staatshlad Tahun 1941 Nomor 44) dihubungkan
dengan Undang-Undang Nomor I Drt. Tahun 1951 (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 9,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 81) beserta semua peraturan pelaksanaannya dinyatakan
tidak berlaku.
Berdasarkan cara bekerjanya, pengertian hukum pidana meliputi hukum pidana materiil
dan formal. Hukum pidana meteril merupakan sekumpulan kaidah yang mengatur larangan dan
keharusan yang disertai sanksi pidana bagi pelanggarnya. Hukum Pidana materiil juga disebut
sebagai hukum in abstracto, Sedangkan hukum pidana formal, merupakan sekumpulan kaidah
yang mengatur tentang tata cara alat negara (penegak hukum) untuk menegakkan hukum materiil
bagi pelanggarnya. Hukum formal juga disebut hukum pidana dalam arti in konkrito atau hukum
acara pidana.
Dalam proses pembuktian tersebut hakim berkewajiban menggal menggali kebenaran yang
sebenarnya, sehingga yakin bahwa terdaksba pelakunya dan dapat dipersalahkan (dipertanggung
jawabkan). Berdasarkan ntuan Pasal 183 KUHAP, hakim dapat menjatuhkan putusan yang berupa
sanksi pidana apabila dirinya yakin bahwa terdakwa bersalah dan terdapat minimum 2 alat bukti
yang sah (negatief wetelike bewijst theorie). Sedangkan alat bukti yang sah menurut KUHAP
(pasal 184 KUHAP) ada 5, yaitu:
1. Keterangan saksi
2. Keterangan ahli
3. Surat.
4. Petunjuk.
5. Keterangan terdakwa.