Anda di halaman 1dari 3

7.

Pencegahan
Langkah utama untuk mencegah barotrauma telinga adalah dengan
menjaga tuba Eustachius tetep terbuka. Langkah ini dapat dilakukan
dengan cara:
 Minum obat
Jika sedang pilek, gunakan dekongestan sekitar satu jam sebelum
penerbangan. Selain itu, antihistamin juga dapat digunakan.
Konsultasikan hal ini terlebih dahulu dengan dokter
 Menggunakan penyumbat telinga (earplugs)
Penyumbat telinga khusus untuk perjalanan udara dapat digunakan
untuk memperlambat perubahan tekanan dan memberi waktu bagi
telinga untuk menyesuaikan diri.
Tindakan-tindakan pencegahan pada kejadian barotrauma saat
penerbangan antara lain:
 Tidak melakukan penerbangan dalam keadaan pilek atau sakit
tenggorokan.
 Minum selama penerbangan. Tindakan ini dapat menjaga tuba
Eustachius tetap terbuka dan membantu mengencerkan lendir di
saluran pernapasan.
 Mengunyah permen karet. Gerakan mengunyah dan menelan dapat
membantu mengendalikan tekanan udara di dalam telinga.
 Jangan tidur saat pesawat akan mendarat. Cobalah untuk menguap dan
menelan sesuatu saat lepas landas dan mendarat karena dapat
membantu mengendalikan tekanan udara di dalam telinga.
 Melakukan valsava maneuver dan frenzel meneuver. Tarik napas, lalu
jepit hidung dengan jari dan tutup mulut, kemudian hembuskan napas
secara perlahan melalui hidung yang tertutup.
 Konsumsi obat-obatan ± 30 menit sebelum terbang apabila terdapat
alergi atau sedang sakit.
 Menggunakan penutup telinga (Supartono, 1981 : Kay, 2000).
Apabila membawa bayi saat penerbangan, pastikan bayi tidak tertidur
ketika pesawat akan mendarat. Dapat menggunakan dot untuk membantu
bayi tetap terjaga.
Pencegahan barotrauma terbaik saat menyelam adalah menerapkan teknik
menyelam yang baik. Teknik menyelam yang benar bisa dipelajari melalui
pelatihan bersertifikat.

8. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan timbul tanda gejala atau jika
terdapat riwayat nyeri telinga atau pusing setelah melakukan penerbangan.
Apabila gejala tidak membaik selama beberapa hari, maka diperlukan
pemeriksaan oleh dokter. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk
mendiagnosis antara lain pemeriksaan vestibular menggunakan alat
otoskop untuk melihat kondisi di dalam liang telinga. (Bentz, 2002).
Jika diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan
untuk memastikan diagnosis dan akibat yang ditimbulkan. Jenis
pemeriksaan lanjutan yang dilakukan adalah:
 Tes pendengaran, untuk memeriksa fungsi pendengaran dan
mendeteksi kerusakan pada telinga.
 Foto rontgen, untuk mendeteksi tumpukan cairan atau cairan udara di
bagian tubuh, seperti sinus atau rongga perut.
 CT scan atau MRI, untuk memeriksa kondisi organ yang dicurigai
mengalami barotrauma, misalnya paru-paru atau saluran pencernaan.
rasa tidak
nyaman
nyaman
atau
atau sakit
sakit
pada
pada
telinga,
telinga,
perasaan
perjalanan
membran perubahan adanya membran
dengan
dengan
timpani
timpani tekanan
tekanan sumbatan
sumbatan di di timpani
timpani barotrauma
barotrauma
menggunak
menggunak
abnormal
abnormal udara
udara telinga,
telinga, perforasi
perforasi
an
an pesawat
pesawat pusing,
pusing,
penurunan
pendengara
nn
sementara,
sementara,
tinnitus

Membran timpani abnormal→perjalanan dengan menggunakan


pesawat→perubahan tekanan udara→rasa tidak nyaman atau sakit pada
telinga, perasaan adanya sumbatan di telinga, pusing, penurunan pendengaran
sementara, tinnitus→membran timpani perforasi→barotrauma (Thaller et al,
1995).

Daftar Pustaka
Alodokter. (2019, Desember 5). alodokter.com. Diambil kembali
dari https://www.alodokter.com/barotrauma
Betz, Cecily L. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik (Mosby’s
Pediatric Nursing Reference). Edisi 3. Jakarta: EGC.
Repository, UMY. Barotrauma.
(http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/20505/BAB
%202.pdf?sequence=3&isAllowed=y)