Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya
penyusunan Buku Pedoman HIV/AIDS UPTD Puskesmas Sutojayan dapat selesai dengan baik.
Pedoman ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi tenaga HIV/AIDS UPTD Puskesmas
Sutojayan dan tenaga kesehatan lain termasuk pengelola program kesehatan di UPTD
Puskesmas Sutojayan dalam melakukan pelayanan HIV/AIDS yang berkualitas.
Pedoman ini mencakup kebijakan HIV/AIDS di UPTD Puskesmas Sutojayan, tentang
Ketenagaan, Sarana dan Prasarana, Manajemen, alur pelayanan, jenis-jenis pelayanan
HIV/AIDS di dalam gedung dan di luar gedung, mekanisme rujukan, Monitoring dan Evaluasi
HIV/AIDS di UPTD Puskesmas Sutojayan. Diharapkan dengan adanya pedoman ini,dapat
meningkatkan mutu pelayanan di Puskesmas Sutojayan dan meminimalisir terjadinya hal-hal
yang dapat membahayakan kesehatan,serta menambah kualitas kesehatan masyarakat.
Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. dr.Kuspardani, selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar.
2. drg. Desi Nur Ariana ,selaku Kepala Puskesmas Sutojayan.
3. Srinatun, selaku Kepala Tata Usaha Puskesmas Sutojayan.
4. Teman-teman di pelayanan dan semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam
penyusunan pedoman ini
Saran serta kritik membangun tentunya sangat kami harapkan untuk penyempurnaan
dan perbaikan di masa mendatang. Akhir kata, semoga pedoman ini dapat bermanfaat bagi
tenaga medis maupun para medis dalam memberikan pelayanan di Puskesmas Sutojayan.

Sutojayan, 02 April 2020


Koordinator HIV/AIDS
UPTD Puskesmas Sutojayan

Lutfi Nur Ichwan, Amd.Kep


DAFTAR ISI

Kata Pengantar HIV/AIDS ......................................................................................................1


Daftar Isi ..................................................................................................................................2
BAB I. PENDAHULUAN 5
A. Latar Belakang 5
B. Tujuan 6
C. Ruang Lingkup 7
BAB II. STANDAR KETENAGAAN 8
A. Kualifikasi SDM Tenaga HIV/AIDS 8
B. Distribusi Ketenagaan 8
C. Jadwal Kegiatan 9
BAB III. STANDAR FASILITAS10
A. Standar Kwalitas 11
BAB IV. TATA LAKSANA PELAYANAN HIV/AIDS 10
A. Lingkup Kegiatan 10
1. Kegiatan HIV/AIDS dalam gedung 10
2. Kegiatan HIV/AIDS Luar Gedung 10
B. Strategi / Metode 10
1. Strategi Advokasi 11
2. Strategi kemitraan 11
3. Strategi Pemberdayaan Masyarakat 11
C. Langkah Kegiatan 12

BAB V LOGISTIK 16
BAB VI KESELAMATAN SASARAN 18
BAB VII KESELAMATAN KERJA 19
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU 20
BAB IX PENUTUP 23
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Upaya - upaya pembangunan kesehatan diarahkan pada upaya
menurunkan angka kematian dan angka kesakitan serta meningkatkan usia harapan
hidup masyarakat (Depkes, 2014).
Keberhasilan pembangunan kesehatan mengalami ancaman serius dengan
berkembangnya berbagai penyakit menular yang mematikan dan belum ada obatnya.
Salah satu penyakit menular berbahaya tersebut adalah penyakit Human Immuno
Deficiency Virus/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) Penyakit ini
disebabkan oleh sejenis virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh sehingga penderita mudah sekali terkena infeksi yang dapat
menimbulkan kematian.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus golongan Rubonucleat Acid
(RNA) yang spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh/ imunitas manusia dan
menyebabkan Acqiured Immunodeficiency Symndrome (AIDS). HIV positif adalah orang
yang telah terinfeksi virus HIV dan tubuh telah membentuk antibodi (zat anti) terhadap
virus. Mereka berpotensi sebagai sumber penularan bagi orang lain. Penyakit AIDS
(Acquired Immunodeficiency Syndrome/ Sindroma Defisiensi Imun Akut/SIDA) adalah
kumpulan gejala klinis akibat penurunan sistem imun yang timbul akibat infeksi HIV.
Penyakit ini sering bermanifestasi dengan munculnya berbagai penyakit infeksi
oportunistik, keganasan, gangguan metabolisme dan lainnya (Modul PMTCT DepKes RI,
2008).
Peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS di Jawa Timur terjadi sangat pesat. Jumlah
Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) baru di Jawa Timur saat ini (13 Januari 2020), sebanyak
7.105 orang. Sedangkan untuk jumlah keseluruhan, ODHA di Jawa Timur sebanyak
50.556 orang. Kabupaten Blitar mempunyai pengidap HIV AIDS yang cukup banyak dan
dari tahun ketahun menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan. Penyebarannya merata
di setiap wilayah kecamatan.
Pada masa pandemi ini kita harus mencegah penyebaran COVID-19 namun tetap
memperhatikan upaya – upaya menurunkan Angka Kenaikan ODHA dan Angka kematian
ODHA. Diperlukan pendekatan yang berbeda untuk mengupayakan kelangsungan
pelayanan HIV. Kita memiliki peluang untuk bersinergi dengan seluruh pihak baik lintas
program dan juga lintas sector untuk bersama mengupayakan pencegahan penularan
COVID-19 pada kelompok ODHA, memenuhi pelayanan kesehatan esensial dan
mengupayakan perlindungan ODHA.
Dengan kondisi tersebut, maka perlu dilakukan pencegahan perluasan transmisi
HIV ke dalam keluarga melalui deteksi dini kasus HIV dalam keluarga melalui Konseling
dan Tes HIV (KTHIV), deteksi dini ibu hamil yang terinfeksi HIV/AIDS dapat dilakukan
pada saat pertama kali mereka memeriksakan kehamilannya atau ANC (Antenatal Care),
pelayanan Konseling dan Tes HIV yang merupakan salah satu program Dinas
Kesehatan dalam PMTCT (Prevention Mother To Child Transmision), Puskesmas
Sutojayan juga ikut serta dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS
dengan mengadakan kegiatan penyuluhan tentang HIV-AIDS dan IMS ke kelompok
resiko tinggi dan kelompok yang rentan tertular HIV yang menjadi populasi kunci dalam
keberhasilan penanggulangan HIV-AIDS ini. Di mana pada masa pandemi Covid-19 ini
seluruh kegiatan yang dilakukan dalam pelayanan HIV menerapkan prinsip pencegahan
pengendalian infeksi dan physical distancing untuk menekan serendah mungkin
penularan dan penyebaran Covid-19 ke ODHA atau orang yang berisiko tertular HIV
yang sedang melakukan pemeriksaan HIV di Puskesmas Sutojayan.
Dalam pelaksanaanya kegiatan HIV/AIDS di UPTD Puskesmas Sutojayan
berperan strategis mendukung peningkatan pencapaian target lintas program dan
diharapkan berdampak pada peningkatan kinerja puskesmas. Kegiatan HIV/AIDS
dilakukan sesuai visi puskesmas yaitu “Menuju Kabupaten Blitar Lebih Sejahtera, Maju D
an Berdaya Saing”. Juga dilakukan dengan membudayakan tata nilai UPTD Puskesmas
Sutojayan yaitu PRADAH (Profesional dan Amanah)
1. Profesional : Kompetensi untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab
secara baik dan benar
2. Amanah : Jujur dan dipercaya sehingga menghasilkan layanan yang
memuaskan pelanggan
Program HIV/AIDS secara umum ditujukan untuk meningkatan pemberdayaan
masyarakat tehadap kesehatan masyarakat, sehingga terwujud kesehatan masyarakat
yang optimal.
Pedoman Pelaksanaan Kegiatan HIV/AIDS UPTD Puskesmas Sutojayan pada
masa pandemic Covid-19 diharapkan menjadi acuan bagi pelaksana HIV/AIDS dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya di lingkungan wilayah kerja UPTD Puskesmas
Sutojayan.

B. Tujuan Pedoman
a. Tersedianya acuan tentang jenis pelayanan HIV/AIDS, peran dan fungsi
ketenagaan, sarana dan prasarana di Puskesmas dan jejaringnya
b. Tersedianya acuan untuk melaksanakan pelayanan HIV/AIDS yang bermutu di
Puskesmas dan jejaringnya selama masa pandemi Covid-19
c. Tersedianya acuan bagi tenaga HIV/AIDS puskesmas untuk bekerja secara
profesional dan sesuai protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19
dalam memberikan pelayanan yang bermutu kepada pasien/ klien di Puskesmas
dan jejaringnya
d. Tersedianya acuan monitoring dan evaluasi pelayanan HIV/AIDS di puskesmas
dan jejaringnya selama masa pandemi Covid-19

C. Ruang Lingkup
1. Kebijakan Pelayanan PROGRAM HIV/AIDS di Puskesmas baik didalam gedung dan
di luar gedung pada masa pandemic Covid-19
2. Pencatatan dan pelaporan
3. Monitoring dan Evaluasi

D. Batasan Operasional
Adapun batasan operasional pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS adalah :
a. Hubungan lintas sektor
b. Perlindungan hak asasi manusia
c. Terpadu, terkoordinasi, dan berkelanjutan

E. Dasar Hukum Pelaksanaan Kegiatan HIV-AIDS Dan IMS


1. Undang-Undang Kesehatan No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
2. Peraturan Menteri Kesehatan No 21 Tahun 2013 Tentang penanggulangan HIV dan
AIDS.
3. Peraturan Menteri Kesehatan No 74 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan
Konseling dan Tes HIV
4. Peraturan Menteri Kesehatan no 43 tahun 2019 tentang Standart Pelayanan Minimal
bidang kesehatan.
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1591/2020 Tentang
Protokol Pengendalian Corona Virus Dsease 2019 (Covid-19)Kesehatan Di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus
Disease 2019
6. Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor PM.02.02/3/2022/2020 Tentang
Protokol Pelaksanaan Layanan HIV AIDS selama Pandemi Covid-19

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Berikut ini kualifikasi SDM dan realisasi Tenaga program HIV/AIDS yang ada di UPTD
Puskesmas Sutojayan.
Kegiatan Kualifikasi SDM Realisasi
HIV/AIDS Pendidikan minimal Sarjana kedokteran,
- Dalam gedung Sarjana DIII Kebidanan,
- Luar Gedung Kedokteran, DIII DIII Keperawatan,
Kebidanan , DIII DIII Analis
Keperawatan, DIII
Analis

B. Distribusi Ketenagaan
Pengaturan dan penjadwalan Penanggung jawab program HIV/AIDS dan karyawan
puskesmas yang terlibat dalam kegiatan upaya dikoordinir oleh penanggung jawab
UKM.
Sumber daya manusia yang wajib berpartisipasi dalam kegiatan HIV/AIDS adalah:
a. Dokter ( Sarjana Kedokteran)
b. Dokter gigi ( Sarjana Kedokteran )
c. Bidan (DIII Kebidanan dan DIV Kebidanan)
d. Perawat Gigi (SPK dan DIII Keperawatan Gigi)
e. Perawat ( SPK, DIII Keperawatan dan S1 Keperawatan )
f. Nutrisionis (SI Gizi dan DIII Gizi)
g. Sanitarian (SI Kesling)
h. Promosi Kesehatan ( S1 Promosi Kesehatan )
i. P2P ( DIII Keperawatan, S1 Keperawatan dan Ners )
j. Analis (DIII Analis dan DIV Analis)
k. Farmasi (DIII Farmasi dan Apoteker)
C. Jadwal Kegiatan
1. Pengaturan kegiatan HIV/AIDS dilakukan bersama oleh para pemegang program
dalam kegiatan lokakarya mini bulanan maupun tiga bulanan/lintas sektor, dengan
persetujuan kepala puskesmas.
2. Jadwal kegiatan HIV/AIDS dibuat untuk jangka waktu satu tahun dan dibuat juga
jadwal kegiatan bulanan dan dikoordinasikan pada awal bulan sebelum pelaksanaan
jadwal.
3. Kegiatan pelayanan HIV/AIDS di dalam gedung dilaksanakan setiap hari kerja
layanan dan di luar gedung penyuluhan sesuai kesepakatan dengan lintas program
dan lintas sektoral.
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruangan

Keterangan :
: Pintu Masuk
: Lemari
: Meja

B. Standar Fasilitas
Untuk menunjang tercapainya tujuan kegiatan HIV/AIDS UPTD Puskesmas
Sutojayan memiliki penunjang yang harus dipenuhi
Kegiatan HIV/AIDS Sarana Prasarana
- Meja, Kursi
- Alat tulis
Dalam Gedung - Alat Kesehatan
- Buku Register, Buku Pencatatan Kegiatan
- Alat peraga/lembar balik
- Buku panduan : pedoman HIV/AIDS
- Blangko blangko laporan
- Laptop
- Printer
- Air Condicioner
- Lembar balik, Poster,Materi Materi
Luar Gedung Penyuluhan
- Meja, Kursi, ATK, dan Blanko-blanko laporan
lain
BAB IV
TATA LAKSANA HIV/AIDS

A. Lingkup Kegiatan
Dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas
Sutojayan dan dalam upaya penanggulangan HIV dalam masa Pandemi Covid-19 di
Puskesmas Sutojayan berperan serta melalui beberapa kegiatan yaitu:
1. Kegiatan HIV/AIDS dilakukan di dalam gedung, antara lain :
- Konseling dan Tes HIV ( TIPK dan VCT) sesuai protokol kesehatan Covid-19
- Pelayanan Klinis HIV/AIDS
- Pelayanan rujukan HIV/AID
2. Kegiatan yang dilakukan diluar gedung meliputi jadwal, pelaksanaan dan hasil
pelaksanaan kegiatan-kegiatan antara lain :
- Mobile VCT
- Penyuluhan HIV/AIDS kepada masyarakat khusunya populasi kunci remaja di
sekolah SLTP, SLTA sesuai protokal kesehatan Covid-19
- Meningkatkan koordinasi dengan lintas sector
3. Pelaporan
Semua kegiatan yang dilakukan yang berkaitan dengan pemeriksaan HIV
dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar melalui entri data di aplikasi
SIHA

B. Langkah Kegiatan
Untuk terselenggaranya program HIV/AIDS di UPTD Puskesmas Sutojayan, perlu
ditunjang dengan managemen yang baik. Managemen HIV/AIDS di puskesmas
adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematis untuk menghasilkan
puskesmas yang efektif dan efisiensi di bidang HIV/AIDS.
Managemen HIV/AIDS di puskesmas dilakukan dengan cara :
1. Perencanaan (Plan)
2. Pelaksanaan (Do)
3. Pengawasan (Cek)
4. Tindak lanjut dari pengawasan (Action)
Semua fungsi managemen tersebut harus dilakukan secara terkait dan
berkesinambungan.
1. Perencanaan
Perencanaan HIV/AIDS adalah proses penyusunan rencana tahunan
puskesmas untuk mengatasi masalah dan kebutuhan dan harapan masyarakat
pada pogram HIV/AIDS di wilayah puskesmas. Langkah-langkah perencanaan
program HIV/AIDS yang dilakukan oleh puskesmas mancakup hal-hal sebagai
berikut :
a. Identifikasi masalah
Identifikasi masalah dilakukan :
1) Berdasarkan ada tidaknya masalah, kebutuhan dan harapan
masyarakat terhadap HIV/AIDS.
2) Bersama masyarakat melalui survey mawas diri (SMD)
b. Menyusun usulan kegiatan (RUK)
Langkah puskesmas dalam menyusun usulan kegiatan HIV/AIDS dilakukan
dengan menetapkan :
1) Kegiatan
2) Tujuan
3) Sasaran
4) Besar/Volume kegiatan
5) Waktu
6) Lokasi
7) Perkiraan kebutuhan biaya
c. Mengajukan usulan kegiatan
Usulan kegiatan yang telah disusun diajukan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten.
d. Menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK)
Setelah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten, maka disusun Rencana
Pelaksanaan Kegiatan dalam bentuk matrik. Bentuk format hampir sama
dengan RUK namun lebih detail dalam biaya dan waktu pelaksanaan. RUK
kemudian disosialisasikan pada tingkat Puskesmas kepada pemegang
upaya lainya pada saat lokakarya mini Puskesmas, tingkat Kecamatan
maupun tingkat desa pada acara pertemuan lintas sektor.
Dalam pertemuaan lintas sektor dapat dilakukan penggalangan kerjasama
atau membuat kesepakatan agar pihak terkait ikut serta menyukseskan
rencana kegiatan yang sudah di buat. Setelah RPK disosialisasikan
kemudian penanggungjawab upaya HIV/AIDS membuat Kerangka Acuan
kegiatan serta Standart Operasional untuk memudahkan dalm melaksanakan
kegiatan. Contoh format kerangka acuan dan SOP terlampir dalam buku
pedoman ini.
2. Pelaksanaan
Dilakukan dengan tahapan berikut :
a. Mengkaji ulang RPK yang sudah disusun, mencakup jadwal pelaksanaan
kegiatan, target pencapaian lokasi dan rincian biaya serta tugas para
penanggung jawab dan pelaksanaan kegiatan.
b. Menyusun jadwal kegiatan bulanan untuk tiap petugas sesuai dengan
rencana pelaksanaan.
c. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pada
waktu pelaksanaan kegiatan harus diperhatikan hal sebagai berikut :
 Azas penyelenggaraan puskesmas
 Berbagai standart pedoman pelayanan HIV/AIDS
 Kendali mutu
 Kendali biaya
3. Monitoring evaluasi
Pengawasan atau pemantauan pelaksanaan kegiatan secara berkala
mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Melakukan telaah penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai
b. Mengumpulkan permasalahan, hambatan dan saran-saran untuk peningkatan
penyelenggaraan serta memberikan umpan baik.
c. Pengawasan meliputi pengawasan internal dan eksternal. Pengawasan
internal dilakukan secara melekat oleh atasan atau kepala Puskesmas,
sedangkan pengawasan eksternal oleh masyarakat. Pengawasan mencakup
administrasi, pembiayaan dan teknis pelaksanaan serta hasil kegiatan.
4. Rencana Tindak Lanjut
Dari hasil pelaksanaan kegiatan dievaluasi tentang permasalahan,
hambatan dan saran-saran yang ditemukan. Kemudian dianalisis dan dicari
pemecahnya untuk peningkatan mutu pelayanan HIV/AIDS, untuk kemudian
diterapkan pada kegiatan yang sama di tempat lain. Pelaksanaan dan hasil
kegiatan yang dicapai dibandingkan dengan rencanan tahunan atau target dan
standart pelayanan yang sudah dibuat. Kemudian penanggung jawab HIV/AIDS
melaporkan pelaksanaan kegiatan dan laporan berbagai sumber daya kemudian
disampaikan kepada Kepala Puskesmas
Dalam melakukan kegiatan upaya pelayanan HIV/AIDS petugas
berpedoman pada prosedur yang ada,yaitu
NO NAMA SOP
1 SOP VCT
2 SOP TIPK
3 SOP Penyuluhan HIV/AIDS
BAB V
LOGISTIK

Perencanaan logistik adalah merencanakan kebutuhan logistik yang pelaksanannya


dilakukan oleh semua petugas penanggung jawab program kemudian diajukan sesuai
dengan alur yang berlaku di masing-masing organisasi. Kebutuhan dana dan logistik
untuk pelaksanaan kegiatan HIV/AIDS direncanakan dalam pertemuan lokakarya mini
lintas program dan lintas sektor sesuai dengan tahapan kegiatan dan metoda
pemberdayaan yang akan dilaksanakan.
1. Kegiatan di dalam gedung Puskesmas membutuhkan sarana dan prasarana antara
lain :
a. Tempat Cuci tangan/Handsanitizer
b. Meja, Kursi
c. Alat tulis
d. Alkes
e. Buku catatan Kegiatan
f. Leaflet
g. buku panduan
h. komputer dan printer
i. Alat peraga
j. Blangko laporan
k. APD (Masker, Faceshield, Gown)
2. Kegiatan di luar gedung Puskesmas membutuhkan sarana dan prasarana yang
meliputi :
a. Leaflet
b. Alkes
c. Buku catatan kegiatan
d. Lembar Balik
e. Poster
f. LCD dan Proyektor
g. Handsanitizier
h. APD (Masker, Faceshield, Gown)
Prosedur pengadaan barang dilakukan oleh koordinator HIV/AIDS berkoordinasi
dengan petugas pengelola barang dan dibahas dalam pertemuan mini lokakarya
Puskesmas untuk mendapatkan persetujuan Kepala Puskesmas. Sedangkan dana yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan direncanakan oleh koordinator HIV/AIDS
berkoordinasi dengan bendahara puskesmas dan dibahas dalam kegiatan mini lokakarya
puskesmas untuk selanjutnya dibuat perencanaan kegiatan ( POA – Plan Of Action ).
BAB VI
KESELAMATAN SASARAN

Setiap kegiatan yang dilakukan pasti akan menimbulkan resiko atau dampak, baik
resiko yang terjadi pada masyarakat sebagai sasaran kegiatan maupun resiko yang
terjadi pada petugas sebagai pelaksana kegiatan. Keselamatan pada sasaran harus
diperhatikan karena masyarakat tidak hanya menjadi sasaran satu kegiatan saja
melainkan menjadi sasaran banyak program kesehatan lainnya. Tahapan – tahapan
dalam mengelola keselamatan sasaran antara lain :
1. Identifikasi Resiko.
Penanggungjawab program sebelum melaksanakan kegiatan harus
mengidentifikasi resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat
pelaksanaan kegiatan. Identifikasi resiko atau dampak dari pelaksanaan kegiatan
dimulai sejak membuat perencanaan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi dampak
yang ditimbulkan dari pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko terhadap
sasaran harus dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan.
2. Analisis Resiko.
Tahap selanjutnya adalah petugas melakukan analisis terhadap resiko atau
dampak dari pelaksanaan kegiatan yang sudah diidentifikasi. Hal ini perlu dilakukan
untuk menentukan langkah-langkah yang akan diambil dalam menangani resiko yang
terjadi.
3. Rencana Pencegahan Resiko dan Meminimalisasi
Resiko.
Setelah dilakukan identifikasi dan analisis resiko, tahap selanjutnya adalah
menentukan rencana yang akan dilakukan untuk mencegah terjadinya resiko
ataudampak yang mungkin terjadi. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah atau
meminimalkan resiko yang mungkin terjadi.
4. Rencana Upaya Pencegahan.
Tahap selanjutnya adalah membuat rencana tindakan yang akan dilakukan untuk
mengatasi resiko atau dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan yang dilakukan. Hal ini
perlu dilakukan untuk menentukan langkah yang tepat dalam mengatasi resiko atau
dampak yang terjadi.
5. Monitoring dan Evaluasi.
Monitoring adalah penilaian yang dilakukan selama pelaksanaan kegiatan sedang
berjalan. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan sudah berjalan
sesuai dengan perencanaan, apakah ada kesenjangan atau ketidaksesuaian
pelaksanaan dengan perencanaan. sehingga dengan segera dapat direncanakan tindak
lanjutnya. Tahap yang terakhir adalah melakukan evaluasi kegiatan. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui apakah tujuan sudah tercapai.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari-hari sering


disebut Safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah petugas dan
hasil kegiatannya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan
penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan.
Keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja
yang aman, kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan
serta penurunan kesehatan akibat dampak dari pekerjaan yang dilakukan, bagi
petugas pelaksana dan petugas terkait. Keselamatan kerja disini lebih terkait pada
perlindungan fisik petugas terhadap resiko pekerjaan.
Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan telah
mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan
kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan
lingkungan sekitarnya.
Seiring dengan terjadinya pandemi Covid-19, maka resiko yang dihadapi petugas
kesehatan semakin meningkat. Petugas kesehatan merupakan orang pertama yang
terpajan terhadap masalah kesehatan, untuk itu`semua petugas kesehatan harus
mendapat pelatihan tentang kebersihan, epidemiologi dan desinfeksi. Sebelum bekerja
dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi tubuh yang sehat.
Menggunakan desinfektan yang sesuai dan dengan cara yang benar, mengelola limbah
infeksius dengan benar dan harus menggunakan alat pelindung diri yang benar. Selain
itu sesuai dengan Surat Edaran Nomor HK.02.01/MENKES/216 Tahun 2020 tentang
protokol pencegahan penularan Covid-19 di tempat kerja maka pelayanan HIV harus
memenuhi protokol kesehatan sebagai berikut:
1. Melakukan pemeriksaan suhu tubuh pada pasien/pengungjung di setiap pintu
masuk
2. Menyediakan sarana cuci tangan menggunakan air dan sabun atau pencuci tangan
berbasis alcohol diberbagai lokasi strategis
3. Memastikan seluruh area kerja bersih dan higienis dengan melakukan pembersihan
secara berkala menggunakan desinfektan
4. Mengoptimalkan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk ruangan kerja
5. Menyediakan tisu dan masker di tempat kerja
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu adalah kegiatan yang bersifat rutin yang dirancang untuk
mengukur dan menilai mutu pelayanan. Pengendalian mutu sangat berhubungan
dengan aktifitas pengawasan mutu, sedangkan pengawasan mutu merupakan upaya
untuk menjaga agar kegiatan yang dilakukan dapat berjalan sesuai rencana dan
menghasilkan keluaran yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Kinerja
pelaksanaan dimonitor dan dievaluasi dengan menggunakan indikator sebagai berikut:
1. Ketepatan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadual
2. Kesesuaian petugas yang melaksanakan kegiatan
3. Ketepatan metoda yang digunakan
4. Tercapainya indikator
Hasil pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi serta permasalahan yang
ditemukan dibahas pada tiap pertemuan lokakarya mini tiap bulan.
Keberhasilan suatu program harus ditentukan dengan indikator, untuk upaya
pelayanan HIV/AIDS indikator berdasarkan Standar Pelayanan Minimal yang telah
ditentukan sesuai Kepmenkes no 43 tahun 2016, yang dimaksud dengan SPM adalah
suatu standart dengan batas–batas tertentu untuk mengukur kinerja penyelenggaraan
kewenangan wajib daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar pada masyarakat
yang mencakup jenis pelayanan, indicator dan nilai (BENCHMARK). Prinsip daripada
SPM adalah SUSTAINABLE (terus menerus), MEASUREBLE (terukur) dan
FEASIABLE (mungkin dapat dikerjakan).
Adapun SPM Upaya Pelayanan HIV/AIDS sebagai berikut :
NO INDIKATOR KINERJA TARGET
1. Pemeriksaan HIV/AIDS pada ibu hamil 100%
2. Pemeriksaan HIV/AIDS pada pasien TB 100%
3. Pemeriksaan HIV/AIDS pada pasien IMS 100%
4. Pemeriksaan HIV/AIDS pada waria 100%
5. Pemeriksaan HIV/AIDS pada pengguna 100%
napza
6. Pemeriksaan HIV/AIDS pada warga binaan 100%
lembaga Permasyarakatan

BAB IX
a. PENUTUP

Buku pedoman HIV/AIDS di UPTD Puskesmas Sutojayan merupakan sarana


penunjang yang sangat dibutuhkan sebagai paduan oleh petugas kesehatan khususnya tenaga
pelayanan HIV/AIDS UPTD Puskesmas Sutojayan dalam melaksanakan penyelenggaraan
kegiatan HIV/AIDS di UPTD Puskesmas Sutojayan selama masa pandemi Covid-19, agar
dapat melaksanakan pelayanan HIV/AIDS dengan baik, benar, terukur dan teratur sehingga
dapat meningkatkan derajat kesehatan serta menekaan serendah mungkin penyebaran dan
penularan COVID-19 di kalangan ODHA di wilayah Kecamatan .
Diharapkan para tenaga kesehatan mampu merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi upaya HIV/AIDS di puskesmas secara terpadu bersama dengan lintas upaya dan
lintas sektor terkait serta peran serta aktif masyarakat.
Pedoman ini jauh dari sempurna oleh karena itu diharapkan tenaga kesehatan lain
dapat membaca dan mempelajari buku-buku atau pedoman HIV/AIDS yang diperlukan sebagai
pelengkap pengetahuan.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dengan harapan derajat
kesehatan masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sutojayan semakin meningkat.

Koordinator HIV/AIDS
UPTD Puskesmas Sutojayan

Lutfi Nur Ichwan, Amd.Kep

Daftar Pustaka
Permenkes no 21 tahun 2013 tentang penanggulangan HIV/aids
Permenkes no 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat
Permenkes no 74 tahun 2014 tentang pedoman pelaksanaan konseling dan tes HIV
Permenkes no 434 tahun 2016 tentang standard pelayanan minimal