Anda di halaman 1dari 16

Uji Sensitivitas dan

Resistensi Mikroorganisme

Dosen Pengampu Mata Kuliah: Lisa Savitri, S.Si., M.Imun.


Program Studi S1 Farmasi
• Uji Sensitivitas adalah merupakan test yang
digunakan untuk menguji suatu bakteri
terhadap antibiotik
• Tujuan Uji Sensitivitas : Untuk mengetahui daya
kerja/efektif dari suatu antibotik dalam
membunuh bakteri
• Metode pengujian antibiotik : Metode difusi
Agar dan metode dilusi
Metode Difusi Agar
• Prinsip : zat antimikroba yang akan diuji
berdifusi dari reservoir ke dalam medium agar
yg telah diinokulasi dengan mikroba uji
• Prosedur Kerja :
• Diambil koloni bakteri pada media BHI cair
yang telah dinkubasi 37ºC selama 18 jam
• Pisahkan beberapa tetes suspensi ke dalam
tabung reaksi dan tambahkan NaCl
• Masukkan lidi kapas kedalam suspensi dan
ratakan lidi kapas ke media MHA
• Diamkan 5 menit
• Tempatkan disc antibiotik dan inkubasi 37ºC
selama 18 jam
• Amati zona pertumbuhan bakteri dan ukur
diameter hambat
Metode dilusi
• Prinsip dari metode dilusi ini adalah menggunakan satu seri tabung
reaksi yang diisi media cair dan sejumlah tertentu sel mikroba yang
diuji.
• Prosedur
• Setelah itu masing-masing diuji dengan obat yang telah
diencerkan secara serial. Seri tabung diinkubasi pada suhu 36ºC
selama 18-24 jam dan diamati terjadinya kekeruhan pada tabung.
Konsentrasi terendah obat pada tabung yang ditunjukan dengan
hasil biakan yang mulai tampak jernih (tidak ada pertumbuhan
mikroba) adalah MIC/KHM (Kadar Hambat Minimum) dari obat.
Konsentrasi terendah obat pada biakan padat yang ditunjukan
dengan tidak adanya pertumbuhan koloni mikroba adalah
MBC/KBM(Kadar Bunuh Minimal) dan obat terhadap bakteri uji
• Mengukur minimum inhibation concentration (MIC) dan
minimum bactericidal concentration (MBC)
Faktor-faktor yang mempengaruhi
• Resistensi : Ketahanan bakteri terhadap antibakteri
resistensi
sehingga antibakteri tidak berefek pada dosis yang biasa
digunakan

• Resistensi primer, resistensi bawaan dan resistensi episomal


• Resistensi primer : resistensi yang menjadi sifat alami
mikroorganisme (Mikroorganisme memiliki enzim yang dapat
mengurai antibiotik)
• Resistensi bawaan : Terjadi karena kontak dengan agen
antimikroba dalam waktu yang cukup lama dengan frekuensi
yang tinggi sehingga memungkinkan terjadinya mutasi pada
mikroorganisme
• Resistensi episomal disebabkan oleh faktor genetik di luar
kromosom (Episom: pisom=plasmid pada plasmidnya yang
dapat menular pada bakteri lain yang memilki kaitan spesies
melalui kontak sel secara konjugasi maupun transduksi)
Mekanisme Resistensi
• Bakteri mensintesis suatu enzim inaktivator atau
penghancur antibiotika . Misalnya Stafilokoki,
resisten terhadap penisilin G menghasilkan
beta-laktamase, yang merusak obat tersebut.
Beta-laktamase lain dihasilkan oleh bakteri
batang Gram-negatif
• Bakteri mengubah permeabilitasnya terhadap
obat. Misalnya tetrasiklin, tertimbun dalam
bakteri yang rentan tetapi tidak pada bakteri
yang resisten
• Bakteri mengembangkan suatu perubahan struktur
sasaran bagi obat. Misalnya resistensi kromosom
terhadap aminoglikosida berhubungan dengan
hilangnya (atau perubahan) protein spesifik pada
subunit 30s ribosom bakteri yang bertindak sebagai
reseptor pada organisme yang rentan
• Bakteri mengembangkan perubahan jalur
metabolik yang langsung dihambat oleh obat.
Misalnya beberapa bakteri yang resisten terhadap
sulfonamid tidak membutuhkan PABA ekstraseluler
tetapi seperti mamalia dapat menggunakan asam
folat yang dibentuk
• Bakteri mengembangkan perubahan enzim yang
tetap dapat melakukan fungsi metabolismenya
tetapi lebih sedikit dipengaruhi oleh obat dari
pada enzim pada kuman yang rentan. Misalnya
beberapa bakteri yang rentan terhadap
sulfonamid, dihidropteroat sintetase,
mempunyai afinitas yang jauh lebih tinggi
terhadap sulfonamid dari pada PABA
Upaya-upaya terhadap resistensi
• Mengoptimalkan Antimicrobial Stewardship
Program
• Memperbaiki sistem peresepan antibiotik
• Mencegah terjadinya infeksi bakteri
• Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk
bijak menggunakan antibiotik
~ selesai 