Anda di halaman 1dari 24

KONSEP DASAR PAUD

“PENYELENGGARAAN SATUAN PAUD SEJENIS


(SPS)”

Dosen

Dra. Gunarti Dwi Lestari, M.Si, M.Pd


Ali Yusuf, S.Ag., M.Pd.

UNIVERSITAS TANJUNG PURA


2016
X
X

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................... 1

A. LATAR BELAKANG......................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH.................................................................................... 1
C. TUJUAN............................................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................ 5

A. PENGERTIAN SATUAN PAUD SEJENIS...................................................... 5


B. PRINSIP DASAR PENYELENGGARAAN SPS.............................................. 5
1. BERBASIS MASYARAKAT....................................................................... 5
2. PRINSIP KESEDERHANAAN................................................................... 5
3. PRINSIP MUDAH, MURAH, BERMUTU................................................. 6
C. KOMPONEN PENYELENGGARAAN SPS.................................…………… 7
D. JARINGAN KEMITRAAN SPS........................................................................ 11
E. PROSES KEGIATAN DALAM SPS.................................................................. 13
1. PENGASUHAN BERSAMA (0-30 BULAN).............................................. 13
2. BERMAIN BERSAMA (31-72++ BULAN)................................................ 14
F. EVALUASI DAN PEMBINAAN PROGRAM SPS.......................................... 18

BAB III SIMPULAN………………………………………………………………… 22


DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………….
23BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 tertulis bahwa pendidikan anak usia dini
adalah suatu upaya yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun
yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan yang lebih lanjut. Lebih lanjut diatur mengenai pembagian jenis program
PAUD sesuai jalur pendidikannya yakni formal, non formal dan informal.

Pendidikan anak usia dini dari jalur non formal menjadi program unggulan dalam
menyiapkan generasi emas dari anak-anak. Layanan PAUD nonformal meliputi tempat
penitipan anak, kelompok bermain dan layanan lain yang terbentuk dalam satuan PAUD
sejenis atau SPS.

SPS dapat dilaksanakan secara terintregasi dengan berbagai program layanan anak
usia dini yang ada di masyarakat. Untuk itu dibutuhkan panduan atau pedoman tentang
penyelenggaraan SPS yang berguna untuk pihak-pihak yang akan menyelenggarakan SPS
serta pihak lain yang terkait.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian Satuan PAUD Sejenis (SPS)?
2. Bagaimana prinsip dasar penyelenggaraan SPS?
3. Apa saja komponen penyelenggaraan SPS?
4. Bagaimana jaringan kemitraan SPS?
5. Bagaimana proses kegiatan dalam SPS?
6. Bagaimana evaluasi dan program pembinaan SPS?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian Satuan PAUD Sejenis (SPS)
2. Memahami prinsip dasar penyelenggaraan SPS
3. Memahami komponen penyelenggaraan SPS

| Growing with Characters 3


4. Memahami jaringan kemitraan SPS
5. Memahami proses kegiatan dalam SPS
6. Memahami evaluasi dan program pembinaan SPS

| Growing with Characters 4


BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SATUAN PAUD SEJENIS (SPS)

Satuan PAUD Sejenis adalah bentuk-bentuk Satuan PAUD selain Taman Kanak-
Kanak, Kelompok Bermain, dan Taman Penitipan Anak yang penyelenggaraannya dapat
diintegrasikan dengan berbagai program layanan anak usia dini yang telah ada di
masyarakat seperti Posyandu, Bina Keluarga Balita, Taman Pendidikan Al-Qur'an,
Pelayanan Anak Kristen, Bina Iman Anak, atau layanan terkait lainnya.

B. PRINSIP DASAR PENYELENGGARAAN SPS


1. Berbasis Masyarakat

Dikelola dengan prinsip “dari, oleh, dan untuk” masyarakat. SPS dibentuk atas dasar
kesepakatan, kemauan, kemampuan, kesediaan, kebutuhan, dan kepedulian masyarakat,
para pendidik dan tenaga kependidikan PAUD untuk memfasilitasi satuan layanan PAUD
yang sederajat karena banyaknya jumlah pendidikan bagi anak usia dini yang belum
terlayani oleh program PAUD seperti TK, RA, Kelompok Bermain, maupun bentuk
layanan sejenis lainnya.

2. Prinsip Kesederhanaan
a) Kesederhanaan program

Program SPS dapat dilakukan secara sederhana untuk memfasilitasi kegiatan


main anak kelompok usia 0-6 tahun dan pembelajaran minimal diselenggarakan
seminggu sekali untuk dilanjutkan di rumahnya masing-masing.

b) Kesederhanaan mainan (APE)

Alat permainan edukatif (APE) dikemas secara sederhana dalam bentuk paket
APE, yang dinamakan Keranjang APE. Setiap kelompok dilengkapi satu Keranjang
APE. APE ini sebagian dapat dibeli dan sebagian lain dapat dikembangkan oleh

| Growing with Characters 5


masing-masing pendidik. Jika diperlukan APE luar, dapat diusahakan dengan cara
membuat sendiri dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar (tidak harus beli).

c) Kesederhanaan pengelolaan

Program SPS dapat dikelola oleh tenaga kependidikan bekerjasama dengan


masyarakat, tokoh agama, dan aparat Desa/Kelurahan sebagai pembina.

d) Kesederhanaan tempat

Program SPS tidak mensyaratkan adanya bangunan khusus sebagai tempat


kegiatan pembelajaran. Kegiatannya dapat dilakukan di serambi rumah, garasi, balai
desa, serambi mesjid, gedung pertemuan RT/RW, sekolah, prasarana ibadah, atau
tempat lain yang tersedia dan terjangkau.

e) Kesederhanaan pakaian

Peserta didik program SPS tidak diwajibkan berseragam, tetapi harus bersih,
sopan, dan layak pakai.

3. Prinsip Mudah, Murah dan Bermutu

a) Mudah
Dengan prinsip kesederhanaan menjadikan Program SPS mudah dilaksanakan.
b) Murah
Dengan prinsip pengelolaan dari, oleh, dan untuk masyarakat membuat Program
SPS terjangkau biayanya. Semua biaya dibahas bersama sesuai dengan
keperluannya yang selanjutnya dicarikan sumber dananya atau dibebankan kepada
orangtua, baik secara merata maupun sistem subsidi silang.
c) Bermutu
Mutu Program SPS dicapai melalui: (1) keterpaduan dengan layanan pembinaan
orang tuanya melalui Bina Keluarga Balita (BKB) dan layanan kesehatan dan gizi
melalui Posyandu; serta (2) keterpaduan pemberian rangsangan pendidikan antara
yang dilakukan di Program SPS (center base) dan yang dilakukan di rumah masing-
masing (home base). Dengan demikian anak menerima layanan secara utuh dan
terpadu yang mencakup aspek kesehatan, gizi, Pengasuhan, dan pendidikan.

| Growing with Characters 6


C. KOMPONEN PENYELENGGARAAN SPS
1. Penyelenggara
A. Program SPS dapat diselenggarakan oleh satuan lembaga pendidikan
nonformal dan informal baik berupa perkumpulan, perhimpunan, perserikatan, seperti
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), organisasi sosial kemasyarakatan,
organisasi keagamaan, yayasan, LSM, perguruan tinggi, terutama UPTD Sanggar
Kegiatan Belajar (SKB), Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) dan instansi
sejenisnya, yang mengembangkan program SPS, mengabdi di bidang PAUD serta
memenuhi kriteria.
B. SPS antara lain berbentuk: Pos PAUD, Taman Asuh Anak Muslim (TAAM),
Bina Anak Muslim Berbasis Masjid (BAMBIM), PAUD Taman Pendidikan Al Qur’an
(PAUD TPA), PAUD Pendidikan Anak Kristen (PAUD PAK), PAUD Bina Iman Anak
(PAUD BIA) atau bentuk lainnya.
2. Peserta Didik
a. Peserta didik pada program Satuan PAUD Sejenis (SPS) anak usia 0-6 tahun.
terutama yang belum terlayani PAUD
b. Peserta didik dapat dikelompokkan menurut usia atau tahap perkambangannya,
yaitu kelompok (0-2 tahun), (3-4 tahun), dan (5-6 tahun)
c. Untuk SPS (Satuan PAUD Sejenis) kriteria peserta didik disesuaikan dengan
petunjuk juknis pelaksanaan program SPS (Satuan PAUD Sejenis) yang telah ada
yang dikeluarkan oleh Direktorat PAUD
3. Pendidik
Pendidik dalam penyelenggaraan program SPS adalah guru pendamping dengan
persyaratan sebagai berikut :
a) Kualifikasi pendidikan minimal SLTA atau sederajat
b) Memiliki sertifikat pelatihan/magang/kursus PAUD yang terakreditasi
c) Memahami prinsip-prinsip pendidikan anak usia dini
d) Memiliki kemampuan mengelola (merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi,
membuat laporan) kegiatan/ proses pembelajaran pendidikan anak usia dini
e) Jumlah pendidik 2 orang dengan ratio 1 : 10 anak

| Growing with Characters 7


f) Khusus bagi anak usia 0-2 tahun dilaksanakan dalam bentuk ”pengasuhan
bersama” oleh para orang tua atau pengasuh, dengan didampingi oleh seorang
kader

4. Pengelola
a. Susunan pengelola sekurang-
kurangnya terdiri dari: ketua, sekretaris, dan bendahara. Pengelola juga boleh
merangkap sebagai pendidik/kader
b. Disamping pengelola, diperlukan
unsur pembina yang dapat bersumber dari: Kepala Desa/Lurah, Ketua PKK Desa,
tokoh agama, tokoh masyarakat, donatur tetap, dan wakil orangtua.
c. Kriteria dan tugas pengelola
program SPS (Satuan PAUD Sejenis) sesuai dengan petunjuk teknis pelaksanaan
program SPS yang telah dikeluarkan oleh Direktorat PAUD
1) Lulusan SMA dan atau sederajat
2) Memiliki keterampilan tentang dasar-dasar manajemen
3) Memiliki wawasan tentang pendidikan anak usia dini
4) Memiliki pengalaman dalam mengelola suatu lembaga
5) Sehat jasmani dan rohani
5. Program Pembelajaran
a. Kurikulum
Acuan yang digunakan untuk merencanakan, melaksanakan dan menilai
pembelajaran adalah Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan yang
diformulasikan dalam Permendiknas Nomor 58 pada tahun 2009.
Kurikulum ini dapat direalisasikan dalam bentuk perangkat pembelajaran yang
diperlukan, yaitu :
1) Rencana pembelajaran satu tahun yang disusun berdasarkan
kurikulum/Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan dalam Permen Nomor
58 tahun 2009, yang dikembangkan oleh lembaga yang memuat minimal 5
lingkup pengembangan anak (pengembangan nilai-nilai moral dan agama,
sosial-emosi, motorik, kognitif, dan bahasa), indikator perkembangan,
tema/sub tema, waktu serta metode pembelajaran yang digunakan
2) Kalender pendidikan

| Growing with Characters 8


3) Rencana pembelajarn mingguan/harian yang disusun oleh pendidik
4) Jadual pembelajaran harian dan kegiatan mingguan
5) Pendekatan pembelajaran aktif yang memperlihatkan kegiatan anak

b. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dilakukan dengan berpedoman pada kurikulum yang
telah disusun sehingga seluruh perilaku dan kemampuan dasar yang ada pada anak
dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Pendekatan pembelajaran pada anak
memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak yaitu:
a) Anak belajar dengan baik apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi serta
merasakan aman dan tentram secara psikologis.
b) Siklus belajar anak selalu berulang.
c) Anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan anak-anak
lainnya.
d) Minat dan keingintahuan anak akan memotivasi belajarnya.
e) Perkembangan dan belajar anak harus memperhatikan perbedaan individu.
2) Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya
pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik
perkembangan fisik maupun psikis (agama dan moral, intelektual, bahasa,
motorik,dan sosio emosional). Dengan demikian berbagai jenis kegiatan
pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisis kebutuhan yang
disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan dan kemampuan pada
masing-masing anak.
3) Bermain Seraya Belajar atau Belajar Seraya Bermain
Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
pada anak. Upaya-upaya pendidikan yang diberikan oleh pendidik hendaknya
dilakukan dalam situasi yang menyenangkan dengan menggunakan strategi,
metode, materi/bahan dan media yang menarik serta mudah diikuti oleh anak.

4) Menggunakan Pendekatan Tematik

| Growing with Characters 9


Kegiatan pembelajaran hendaknya dirancang dengan menggunakan
pendekatan tematik dan beranjak dari tema yang menarik minat anak.

5) Kreatif dan Inovatif


Proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif dapat dilakukan oleh pendidik
melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak,
memotivasi anak untuk berfikir kritis dan menemukan hal-hal baru.

6) Lingkungan Kondusif
Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan
menyenangkan sehingga anak selalu betah. Lingkungan fisik hendaknya
memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain. Pendidik
harus peka terhadap karakteristik budaya masing-masing anak.

7) Mengembangkan Kecakapan Hidup


Proses pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan kecakapan
hidup. Pengembangan konsep kecakapan hidup didasarkan atas pembiasaan-
pembiasaan yang memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan
menolong diri sendiri, disiplin dan sosialisasi serta memperoleh keterampilan
dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.

6. Media Pembelajaran
Menggunakan media pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan potensi,
karakteristik (ciri khas) dan budaya setempat serta menumbuhkan nilai-nilai karakter
yang dapat menciptakan anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia.

7. Evaluasi Hasil Belajar


Prinsip-prinsip evaluasi belajar hendaknya mengacu kepada standar penilaian yang
tertuang dalam permendiknas nomor 58 tahun 2009 tentang standar pendidikan anak
usia dini.

8. Dana Bantuan Langsung/ Blockgrant


Dana Bantuan Langsung/Blockgrant dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan
(memberdayakan) UPTD BPKB/SKB dalam melaksanakan tugas pokok dan

| Growing with Characters 10


fungsinya sebagai percontohan program dan peningkatan mutu program PAUDNI,
khususnya pendidikan anak usia dini. Jumlah Bantuan Langsung percontohan
program Satuan PAUD Sejenis yang akan disalurkan sebesar Rp. 620.000 per peserta
didik yang bersumber dari DIPA P2-PNFI/BP-PNFI di Regional masing-masing yang
disalurkan dalam satu tahap (100%) oleh KPPN kepada bank sesuai dengan nomor
rekening lembaga.

D. JARINGAN KEMITRAAN SPS

Kemitraan adalah kerjasama yang terjalin dalam rangka menjaring atau merekrut,
mengumpulkan instansi, organisasi atau perorangan yang berpotensi untuk melaksanakan
suatu kegiatan/program yang berada dalam lingkungan diri guna mencapai tujuan
program kegiatannya.

Keberhasilan Lembaga Program SPS dalam bermitra di tandai dengan beberapa


bentuk berikut :

Lembaga/individu Mitra Bentuk Kemitraan

IGTKI (Ikatan Guru Taman Kanak-  Penyediaan tenaga pendidik


kanak Indonesia)/ GOPTKI (Gabungan  Fasilitator dan Penyuluhan Kegiatan
Organisasi Penyelenggara Taman  Penyediaan sarana belajar
Kanak-Kanak Indonesia), IGRA (Ikatan
Guru Rauthatul Athfal), HIMPAUDI,
Forum PAUD
Pengrajin APE Penyediaan Sarana dan Prasarana

Tempat Magang
Tokoh Masyarakat  Fasilitator dan Penyuluh Kegiatan
 Nara Sumber
 Tenaga pendidik
 Konsultan Kegiatan
 Penyediaan Sarana dan Prasarana
Pendukung Kegiatan
 Penyediaan Modal
 Motivator

| Growing with Characters 11


Pemerintah Desa atau Kecamatan  Perijinan
 Penyediaan sarana dan Prasarana
Kegiatan
 Memberikan Kebijakan yang
berhubungan dengan Kegiatan
 Motivator
 Pendamping
 Mediator kemitraan
Penilik  Evaluasi kegiatan
 Pembinaan
 Fasilitator
Dinas Pendidikan (Tingkat  Penyediaan Bahan Bacaan
Kota/Kab/Kecamatan)/ SKB  Penyediaan Dana Kegiatan
 Fasilitator dan Penyuluhan Kegiatan
 Penyelenggara diklat
PKBM  Penyediaan Sarana dan Prasarana
Kegiatan
 Penyelenggara Kegiatan
 Penyedia tutor
LSM / Yayasan Pendidikan  Penyediaan Sarana dan Prasarana
Kegiatan
 Penyelenggara Kegiatan
 Penyedia dana
Puskesmas  Fasilitator dan Penyuluhan Kegiatan
 Penyediaan Bahan Bacaan
 Nara Sumber
BKKBN(Penyuluh KB)  Nara Sumber
 Fasilitator
 Pendamping Kegiatan
PKK  Pendamping Kegiatan dan Fasilitator

E. PROSES KEGIATAN DALAM SPS (POS PAUD)


1. Pengasuhan Bersama (Usia
3-30 Bulan)
a. Penataan Tempat Main

| Growing with Characters 12


Kader harus datang lebih awal untuk menyiapkan tempat main dengan
menggelar tikar/karpet sebagai alas "Pengasuhan Bersama" dan menggelar APE dari
"Keranjang PAUD" yang akan digunakan untuk main.

b. Penyambutan Kedatangan Anak

Saat anak mulai datang, Kader yang menyambut kedatangan anak dan orangtua.
Anak bersama orangtua/pengasuhnya dipersilahkan duduk di tempat yang telah
disiapkan. Jika penataan alat main belum selesai, orangtua dapat diajak untuk
membantu.

Sambutlah setiap anak dengan senyuman dan sapaan yang ramah. Usahakan
selalu melakukan kontak fisik dengan anak untuk menjalin keakraban misalnya
dengan cara mengelus kepala, memegang pipi, atau cara lainnya. Sambil
menunggu waktu sesuai jadwal, biarkan anak-anak bermain bebas dengan anak
lainnya. Untuk itu perlu disediakan alat main yang bisa digunakan bersamasama.

c. Kegiatan Main
1) Kegiatan main kelompok ini belum memerlukan jadwal
rinci, melainkan dilakukan secara alami oleh anak bersama orangtuanya.
2) Anak usia 3-30 bulan kemampuan bermainnya masih
dominan pada tahap sensorimotor, yaitu melalui interaksi dengan bendabenda
disekitarnya yang dapat merangsang gerakan tubuh dan anggota badan serta
panca inderanya.
3) Para orangtua memilihkan APE yang tersedia atau
membiarkan anaknya mengambil sendiri bagi yang sudah mengerti.
4) Kegiatan dapat dilakukan dengan main bersama anak
lainnya, main berdampingan, atau main sendiri-sendiri.
5) Kegiatan juga dapat dilakukan dengan melatih berceloteh,
merangkak, berjalan, berlari, membedakan warna, mengenal nama-nama
benda, atau kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan dan usia masing-
masing anak.
6) Semua aktivitas yang dilakukan agar anak melakukan
kegiatan
secara aktif sehingga akan merangsang bekerjanya otak anak.

| Growing with Characters 13


7) Tugas kader yang mendampingi kelompok pengasuhan
bersama ini adalah sebagai fasilitator. Biarkan proses bermain anak berjalan
secara alami.
8) Walaupun kegiatan ini nampak sangat sederhana dan
sudah biasa dilakukan anak-anak, tetapi jika rutin dilakukan, akan nampak
manfaatnya dalam membantu perkembangan anak.
9) Kader Pos PAUD dan BKB dapat membuka diskusi
dengan orang tua tentang perkembangan anak.
2. Bermain Bersama (Usia 31-
72++ Bulan)
a. Penataan Tempat Main

Masing-masing kader bertanggungjawab mengatur tempat main untuk


kelompok anak yang menjadi tanggungjawabnya. Hal-hal yang perlu dilakukan
antara lain :

1) Menggelar tikar/karpet untuk kegiatan anak.


2) Menyiapkan dan menata bahan dan alat main sesuai dengan rencana dan
jadwal kegiatan hari itu.
3) Penataan alat main harus mencerminkan rencana pembelajaran yang sudah
dibuat.
b. Penyambutan Kedatangan Anak
Saat anak datang, sambil menyiapkan tempat dan alat main, agar Kader
menyambut kedatangan anak. Anak-anak langsung diarahkan untuk bermain
bebas dulu dengan teman-teman lainnya sambil menunggu kegiatan dimulai.
Orangtua/pengasuh dipersilahkan menunggu di tempat yang telah disediakan.
c. Main Pembukaan dan Ikrar Bersama
Kader mengajak seluruh anak untuk membentuk lingkaran besar dengan
bergandeng tangan, lalu menyebutkan kegiatan pembuka yang akan dilakukan.
Kegiatan pembuka bisa berupa permainan tradisional, gerak dan musik, senam,
dan sebagainya. Satu orang kader memimpin dan kader lainnya jadi peserta
bersama anak (mencontohkan). Agar tidak bosan, sebaiknya permainannya
berganti-ganti. Jenis permainan juga dapat dikaitkan dengan tema dan rencana
kegiatan hari itu. Permainan gerakan kasar dapat dijadikan sarana untuk

| Growing with Characters 14


mendukung perkembangan motorik kasar anak.
Selesai main gerakan kasar, dilanjutkan dengan pembacaan ikrar Pos PAUD.
Kegiatan ini dapat dilakukan dalam posisi baris atau posisi melingkar. Kader
menawarkan kepada anak yang bersedia memimpin pembacaan ikrar. Jika anak
belum siap, pembacaan ikrar dipimpin oleh kader. Kegiatan main pembukaan
memerlukan waktu sekitar 20 menit.
d. Transisi Menuju Kelompok
Setelah selesai kegiatan main pembukaan, bersama kader anak-anak diajak
antri untuk bersih-bersih diri (cuci tangan, cuci muka, cuci kaki, dan buang air
kecil) dan minum secara teratur.
e. Waktu Lingkaran I (Pijakan Sebelum main)
1) Kader duduk bersama anak dalam posisi melingkar. Kader memberi salam
pada anak-anak, menanyakan kabar anak-anak.
2) Kader meminta anak-anak untuk memperhatikan siapa saja yang tidak
hadir hari ini (mengabsen).
3) Berdoa bersama, mintalah anak secara bergilir siapa yang akan memimpin
doa hari ini.
4) Kader menyampaikan tema hari ini dan dikaitkan dengan kehidupan anak.
5) Kader membacakan buku yang terkait dengan tema. Setelah membaca
selesai, kader menanyakan kembali isi cerita.
6) Kader mengaitkan isi cerita dengan kegiatan main yang akan dilakukan
anak.
7) Kader mengenalkan semua tempat dan alat main yang sudah disiapkan.
8) Dalam memberi pijakan, kader harus mengaitkan kemampuan apa yang
diharapkan muncul pada anak, sesuai dengan rencana belajar yang sudah
disusun.
9) Kader menyampaikan bagaimana aturan main (digali dan anak), memilih
teman main, memilih mainan, cara menggunakan alatalat, kapan memulai
dan mengakhiri main, serta merapikan kembali alat yang sudah
dimainkan.
10) Setelah anak siap untuk main, kader mempersilakan anak untuk mulai
bermain dengan cara menggilir kesempatan pada anak berdasarkan warna
baju, usia anak, huruf depan nama anak, atau cara lainnya agar lebih

| Growing with Characters 15


teratur.

f. Waktu Bermain
1) Beri anak waktu yang cukup untuk bermain, agar gagasan main tuntas
dilakukan. Waktu yang diperlukan anak untuk menyelesaikan gagasannya
sekitar 40-60 menit.
2) Saat anak asyik bermain, kader berkeliling untuk memantau kegiatan
anak.
3) Beri contoh cara main pada anak yang belum bisa menggunakan
bahan/alat.
4) Beri dukungan berupa pernyataan positif atau pujian pada pekerjaan yang
dilakukan anak.
5) Pancing gagasan anak dengan pertanyaan terbuka untuk memperluas cara
main anak.
6) Beri bantuan pada anak yang rnembutuhkan.
7) Dorong anak untuk mencoba dengan cara lain, sehingga anak memiliki
pengalaman main yang kaya (densitas).
8) Catat kegiatan yang dilakukan anak (jenis main dan tahapan
perkembangan yang dicapai).
9) Kumpulkan basil keija anak, dengan mencatat nama dan tanggalnya di
lerrrbar kerja anak.
10) Bila waktu tinggal 5 rnenit, beritahu anak-anak untuk bersiapsiap
menyudahi kegiatan mainnya.
g. Waktu Beres-beres
1) Ajak anak membereskan mainan dengan menempatkan alat main pada
tempatnya.
2) Saat beres-beres dapat dilakukan sambil bernyanyi lagu beres-beres atau
lagu lainnya.
3) Bila anak belum terbiasa untuk membereskan, kader bias membuat
permainan yang menarik agar anak ikut membereskan.
4) Kader menyiapkan tempat untuk setiap jenis alat, sehingga anak dapat
mengelompokkan alat main sesuai dengan tempatnya.
5) Setelah selesai beres-beres, persilahkan anak untuk membersilb an diri,

| Growing with Characters 16


ganti pakaian bila basah/kotor, dan minum dengan antri.

h. Waktu Lingkaran II (Pijakan Setelah Main/Recalling)


1) Bila anak sudah rapi, mereka diminta duduk melingkar bersama kader.
2) Kader bertanya pada setiap anak secara bergilir tentang kegiatan main
yang tadi dilakukan. Kegiatan menanyakan kembali (recalling) melatih
daya ingat anak, menambah kosa kata, dan berbicara secara runtut sesuai
pengalaman mainnya.
3) Penggiliran anak bisa dilakukan dengan cara menawarkan, urut tempat
duduk, warna baju, atau cara lain.
4) Jika kelompok diikuti banyak anak, lebih dari 15 anak, maka kader dapat
mempercepat giliran atau hanya bertanya kepada sebagian anak saja,
sementara anak lainnya diberi kesempatan pada pertemuan berikutnya.
5) Jika ada anak yang pendiam atau mengalami hambatan bicara agar banyak
diberi kesempatan untuk berbicara dan ditanya.
i. Makan Bekal Bersama
1) Makan bekal bersama merupakan bagian penting dalam proses
pembelajaran.
2) Saat makan bekal bersama, anak-anak tetap dalam bimbingan kader
(bukan waktu istirahat).
3) Anak-anak boleh membawa makanan ringan dari rumah, tetapi bukan
makanan jajanan. Sangat dianjurkan agar bekal yang dibawa adalah nasi
beserta lauknya.
4) Sebaiknya minimal sebulan sekali disediakan makanan untuk perbaikan
gizi. Orangtua dapat dilibatkan secara bergilir untuk menyiapkan makanan
ini dengan menu yang sudah disepakati.
5) Sebelum makan bersama, kader mengecek apakah ada anak yang tidalt
membawa makanan. Jika ada, tanyakan siapa yang mau memberi makan /
sodakoh pada temannya (mengenalkan konsep berbagi).
6) Beritahukan jenis makanan yang sehat dan tidak.
 Biasakan tatacara makan yang baik (adab makan).
 Libatkan anak untuk membereskan bekas makanan dan membuang
bungkus ke tempat sampah.

| Growing with Characters 17


j. Kegiatan Penutup
1) Setelah selesai makan bekal bersama, semua anak berkumpul kembali
dengan membentuk lingkaran.
2) Kegiatan penutup dilakukan sebagai transisi sebelum anak-anak pulang
yang diisi dengan kegiatan yang menggembirakan.
3) Kader dapat mengajak anak menyanyi, main tebak-tebakan, menari, atau
rnembaca puisi.
4) Kader menyarnpaikan rencana kegiatan minggu depan, dan menganjurkan
anak untuk melanjutkan bermain yang sama di rumah.
5) Kader meminta anak secara bergilir untuk memimpin do'a penutup.
Untuk menghindari berebut saat pulang, digunakan urutan berdasarkan
warria baju, usia, atau cara lain untuk keluar dan bersalaman lebih dahulu.

F. EVALUASI DAN PEMBINAAN


1. Evaluasi
Kegiatan evaluasi yang dilakukan mencakup dua hal yakni evaluasi terhadap
program dan evaluasi terhadap perkembangan anak.
a. Evaluasi Program
Evaluasi program bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan
program SPS. Evaluasi program mengukur sejauh mana indikator keberhasilan
dapat tercapai oleh SPS yang bersangkutan.
Evaluasi program mencakup penilaian terhadap:
1) Tempat kegiatan
2) Kader
3) Peserta didik
4) Frekuensi kegiatan
5) Orangtua yang aktif membayar iuran
6) Kehadiran orangtua selama kegiatan berlangsung
7) Pengelompokkan anak
8) Integrasi layanan
9) Sumber Pendanaan

| Growing with Characters 18


10) Dukungan unsur Pembina

Evaluasi program dilakukan oleh Penilik PAUD/PLS pada UPTD Pendidikan


Kecamatan bersama lembaga penyelenggara. Evaluasi program dilakukan setiap
akhir tahun ajaran.
Hasil evaluasi pelaksanaan program dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam melakukan pembinaan.
b. Evaluasi Perkembangan Anak
Pencatatan perkembangan anak dilakukan setiap pertemuan berdasarkan aspek
perkembangan yang tertuang dalam Menu Pembelajaran Generik, yang mencakup
perkembangan moral dan nilai-nilai agama, motorik kasar, motorik halus, bahasa,
kognitif, social-emosional, dan seni.

Pencatatan perkembangan anak dilakukan oleh kader dengan menggunakan


buku catatan perkembangan anak. Informasi perkembangan anak dapat diperoleh
melalui pengamatan terhadap:

1) Hasil kegiatan/karya anak.


2) Kemampuan gerakan kasar dan halus anak.
3) Kemampuan bahasa dan kosa kata anak melalui apa yang diucapkan.
4) Kemampuan kognitif anak.
5) Kemampuan sosial dan emosional anak melalui hubungan anak dengan teman
lainnya, ekspresi anak terhadap suatu kejadian.
6) Apresiasi anak terhadap kegiatan seni.
Selain mencatat perkembangan yang dicapai dengan kalimat atau kata-kata,
kader juga dapat mencatat dengan menggunakan daftar cek perkembangan anak.
Hasil pencatatan ini baik yang berbentuk narasi maupun daftar cek dijadikan bahan
evaluasi dan laporan perkembangan anak kepada orang tua masing-masing.

c. Tata Cara Evaluasi Perkembangan Anak Prinsip


1) Mengetahui proses dan hasil perkembangan anak.
2) Berkesinambungan.
3) Objektif dalam memperhatikan perbedaan individu.
4) Bukan sebagai alat untuk menghukum atau memojokkan anak.
5) Informasi yang disampaikan berguna untuk mendukung perkembangan anak

| Growing with Characters 19


selanjutnya.

Caranya melalui:

1) Mengamati/observasi.
2) Mencatat tingkah laku khusus yang ditunjukkan anak dalam buku anekdot
(anecdotal record).
3) Mengumpulkan hasil kerja anak (portofolio).
d. Tindak Lanjut
Hasil evaluasi digunakan untuk perbaikan dan pengayaan anak didik. Selain hal
tersebut orang tua/pengasuh dan penentu kebijakan dapat merancang perbaikan
metode mengasuh anak sesuai kebutuhan.

2. Pembinaan
a. Petugas Pembina
Petugas Pembina untuk Program SPS adalah dari unsur UPTD Dinas
Pendidikan Kecamatan dan lembaga penyelenggara SPS yang bersangkutan.
b. Lingkup Pembinaan
Kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh petugas Dinas Pendidikan terbatas
pada lingkup pembinaan program SPS. Pembinaan program BKB dilakukan oleh
petugas BKKBN, sedangkan pembinaan program Posyandu oleh Dinas Kesehatan.

3. Pelaporan
a. Pelaporan Perkembangan Anak
Laporan perkembangan anak disampaikan kepada orangtua masing-masing
dengan menggunakan Buku Laporan Perkembangan. Penyampaian laporan kepada
orang tua anak dapat dilakukan sewaktu-waktu jika diperlukan. Laporan berkala
disampaikan setiap tiga bulan (tengah semester) atau enam bulan sekali
(semesteran).
b. Pelaporan Program
Laporan program disusun oleh pengelola dengan diketahui oleh lembaga
penyelenggara. Laporan disampaikan kepada UPTD Dinas Pendidikan
Kecamatan. Penyampaian laporan program dilakukan setiap akhir tahun
pembelajaran (tahunan).

| Growing with Characters 20


4. Sertifikat tanda serta belajar
Anak yang telah menyelesaikan program SPS atau akan melanjutkan ke TK/SD
diberikan Sertifikat Tanda Serta Belajar (STSB). STSB dikeluarkan oleh pengelola
dan ditandangani oleh Ketua program SPS yang bersangkutan.

| Growing with Characters 21


BAB III
SIMPULAN

Satuan PAUD Sejenis adalah bentuk-bentuk Satuan PAUD selain Taman Kanak-
Kanak, Kelompok Bermain, dan Taman Penitipan Anak yang penyelenggaraannya dapat
diintegrasikan dengan berbagai program layanan anak usia dini yang telah ada di masyarakat.

SPS memiliki prinsip dasar diantaranya berbasis masyarakat yakni “oleh, untuk, dari”
masyarakat. Prinsip kesederhanaan program, mainan, pengelolaan, tempat dan pakaian. Serta
prinsip mudah dan murah dalam penyelenggaraannya dan bermutu hasilnya.

Komponen SPS terdiri atas penyelenggara, peserta didik, pendidik. pengelola,


program pembelajaran, media pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan dana bantuan
langsung.

Lembaga atau masyarakat yang melaksanakan program SPS dapat menjalin kerjasama
dengan berbagai unsur lembaga pemerintah, lembaga swasta/ormas/organisasi agama dan
tokok masyarakat, Pemerintah Desa/Kelurahan/Kecamatan.

Salah satu layanan satuan PAUD sejenis adalah Pos PAUD yang terintegrasi dengan
Posyandu. Kegiatan dalam Pos PAUD meliputi pengasuhan bersama untuk anak usia 0-30
bulan dan bermain bersama untuk usia 31-72 tahun keatas.

Kegiatan evaluasi yang dilakukan dalam penyelenggaraan SPS mencakup dua hal
yakni evaluasi terhadap program dan evaluasi terhadap perkembangan anak. Hasil evaluasi
akan digunakan untuk pembinaan.

| Growing with Characters 22


DAFTAR PUSTAKA

Kemendiknas Dirjen PAUDNI. 2011. Petunjuk Teknis Bantuan Langsung Perintisan


Program Satuan PAUD Sejenis (SPS).
Latif, Mukhtar, dkk. 2013. Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini: Teori dan Praktik.
Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pos PAUD SPS.
Republik Indonesia. 2005. Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS.
Lembaran Negara RI tahun 2005 Nomor 41. Sekretariat Negara. Jakarta.

| Growing with Characters 23