Anda di halaman 1dari 6

NENGSIH: RESENSI BUKU

RESENSI BUKU

Judul Buku : Pengantar Semiotika: Tanda-Tanda dalam Kebudayaan


Kontemporer
Judul Asli : Sign in Contemporary Culture: An Introduction to
Semiotics (1984)
Penerbit : Tiara Wacana
Tahun cetakan : 2010
Jumlah Halaman : 248 halaman
Penulis : Arthur Asa Berger
Penerjemah : M. Dwi Marianto (ISI Yogyakarta)
Penyunting : Muhammad Yahya
No. ISBN : 978-979-1262-32-3
Peresensi : Nengsih
Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Pendidikan Indonesia
Jalan Dr. Setiabudhi 229, Bandung
Ponsel: 087829127774
Pos-el: nengsih1112@student.upi.edu

1. Pendahuluan Dalam kehidupan sehari-hari kita terbiasa


mencari tahu makna dari tanda-tanda,
Komunikasi ialah pengiriman dan membicarakan kesan-kesan, membaca buku dan/
penerimaan pesan yang disampaikan penutur atau majalah yang mengulas bahasa tubuh.
kepada petutur. Dalam berkomunikasi manusia Kegiatan-kegiatan itu menunjukkan bahwa pada
menggunakan bahasa mereka masing-masing. dasarnya kita terbiasa menjadi praktisi semiotik
Bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan sekalipun kita mungkin tidak memahami hal-hal
gagasan (Saussure, 1969 dalam Zaimar, 2008:3). teknis dalam bidang semiotik.
Pernyataan de Saussure tersebut memiliki Sebagai ilmu tentang tanda dan tentang
kontemplasi bahwa sebuah sistem tanda kode-kode yang dipakai untuk memahaminya,
merupakan unsur pengganti untuk menjelaskan hal semiotika merupakan satu sains yang
lain. Oleh karena itu, tanda memerlukan imperialistis, sains yang dapat diterapkan untuk
interpretasi bahasa untuk mengungkapkannya. berbagai bidang kehidupan yang berbeda. Kajian-
Bahkan, bahasa merupakan tanda atau sign itu kajian ilmu bahasa dan sastra yang menggunakan
sendiri. berbagai sistem tanda, baik itu verbal maupun
Salah satu studi mengenai tanda dan nonverbal di antaranya adalah semantik,
hubungan tanda-tanda dengan acuannya ialah pragmatik, dan semiotik itu sendiri.
semiotik. Semiotik atau semiologi adalah kajian Keuniversalan dan pengkajian mengenai
tentang tanda dan segala yang berhubungan tanda diakui sangat rumit. Ia memiliki
dengannya: cara berfungsinya, hubungannya terminologinya sendiri sehingga memerlukan
dengan tanda-tanda lain, pengirimannya, dan sebuah pengantar untuk memahami istilah-istilah
penerimaannya oleh mereka yang semacam penanda dan yang ditandakan
mempergunakannya (Van Zoest, 1992:5). (konsep), kode-kode, ikon-ikon, dan indeks-
145
Metalingua, Vol. 14 No. 1, Juni 2016:145—150

indeks. Buku Pengantar Semiotika: Tanda- Bab I dalam buku ini adalah mengenai definisi
Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer tanda. Tanda merupakan suatu bagian pada suatu
merupakan pengantar untuk semiotika, yang yang lain atau menambah dimensi yang berbeda
dimaksudkan untuk membantu pembaca pada sesuatu, dengan memakai hal apa pun yang
memahami praktik semiotika dengan membatasi dapat dipakai untuk mengartikan suatu hal lainnya.
terminologi yang rumit dan menghindari wilayah- Tanda menggunakan cara-cara, isyarat-isyarat,
wilayah tertentu yang kontroversial. bahasa-bahasa tertentu dan sebagainya untuk
merepresentasikan tanda dari perasaan-perasaan
tertentu yang barangkali dirasakan. Dapat
2. Pembahasan
disimpulkan dalam bab ini Berger memaparkan
Buku ini merupakan buku terjemahan yang berbagai definisi mengenai semiologi atau
disusun oleh M. Dwi Marianto dari ISI semiotik, pelopor-pelopornya, yaitu Ferdinand de
Yogyakarta dengan penyunting Muhammad Saussure di bidang linguistik dan Charles Sanders
Yahya. Buku terjemahan ini merupakan hasil Pierce dalam ranah kesuasatraan. Selain itu,
kajian mendalam terhadap buku Sign in Berger menambahkan berbagai pendangan dari
Contemporary Culture: An Introduction to ahli lainnya, seperti Roland Barthes dan Umberto
Semiotics. Ada 23 bab yang akan diungkap Eco yang relevan dengan berbagai istilah dalam
dalam buku ini, yaitu (1) Definisi; (2) Bagaimana memahami definisi semiotik. Selanjutnya,
Tanda-Tanda Bekerja; (3) Lambang, Simbol, dan diberikan berbagai contoh teks berupa puisi yang
Tanda; (4) Bentuk-Bentuk Tanda; (5) Aspek- menggunakan tanda-tanda bahasa untuk
Aspek Visual Tanda-Tanda; (6) Permasalahan memahami maksud pemaknaan tanda-tanda
Tanda-Tanda; (7) Denotasi dan Konotasi; (8) tersebut dalam semiotik.
Tanda-Tanda Imajiner; (9) Tanda-Tanda yang Selanjutnya, dalam Bab II dijelaskan
Mengelabui; (10) Penampilan Seseorang: bagaimana tanda-tanda bekerja? Bagaimana
Penanda dan Gaya Hidup; (11) Koherensi dalam sebenarnya tanda itu bekerja? Ada dua
Tanda-Tanda; (12) Siapa yang Menggunakan pendekatan penting atas tanda-tanda yang
Tanda-Tanda; (13) Tanda-Tanda dan Identitas; dijelaskan Berger. Pertama, pendekatan yang
(14) Istilah-Istilah yang Berhubungan dengan didasarkan pada pandangan Saussure yang
Tanda; (15) Tanda-Tanda dan Imanjinasi; (16) mengatakan bahwa tanda-tanda disusun oleh dua
Tiada Tanda sebagai Tanda; (17) Tanda-Tanda elemen, yaitu citra bunyi (semacam kata atau
yang Mengacaukan Ilusi Penglihatan; (18) representasi visual) dan suatu konsep tempat citra
Pelengkap Tanda; (19) Arti Manifest dan Arti bunyi yang disandarkan dengan menggunakan
Latent dalam Tanda-Tanda; (20) Menganalisis istilah penanda dan petanda. Kedua, sistem
Tanda dan Sistem Tanda; (21) Kode; (22) analisis Charles Sanders Pierce yang mengatakan
Karakteristik Kode; (23) Makna. bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-
Dalam buku ini Arthur Asa Berger objek yang menyerupainya, keberadaanya yang
menjelaskan sebuah pengantar untuk memahami memiliki hubungan kausal dengan tanda-tanda
semiotika atau pemikiran semiologikal dan satu atau karena ikatan konvensional dengan tanda-
aplikasi semiotik atas media massa, seni, dalam tanda tersebut. Pierce menggunakan istilah ikon
hal-hal terkait lainnya. Asa Berger memaparkan untuk kesamaannya, indeks untuk hubungan
penggunaan tanda dalam topik-topik, seperti kausalnya, dan simbol untuk asosiasi
komik, fiksi detektif, humor, aliran-aliran konvensionalnya.
formularis, periklanan, olahraga, fotografi, Selanjutnya, dalam Bab III Berger
fashion, program-program televisi, kartun, menjelaskan lambang, simbol, dan tanda. Dalam
artifak, video games, legenda, film, dan simbol- aplikasinya, tanda seringkali disejajarkan dengan
simbol perusahaan untuk memahami tanda yang lambang dan simbol, tetapi sebenarnya tanda
mereka gunakan. berbeda dengan lambang atau simbol.
146
NENGSIH: RESENSI BUKU

Perbedaannya terletak pada hubungannya dengan pemikiran, yakni (1) penggambaran secara verbal;
kenyataan. Tanda memiliki hubungan langsung (2) impian; (3) halusinasi; (4) bayangan. Ia juga
dengan kenyataan, sedangkan lambang atau menggambarkan benda-benda untuk memperjelas
simbol tidak memiliki hubungan langsung dengan gejala-gejala imajiner, seperti bayangan dan
kenyataan. Artinya adalah tanda bersifat universal. impian.
Lebih lanjut Berger dalam Bab IV Dalam Bab IX, Berger menjelaskan tanda-
memberikan berbagai bentuk tanda yang tanda yang mengelabui. Menurut pendapatnya,
digunakan dalam reklame. Tanda-tanda yang tanda-tanda dapat menceritakan kebenaran
berbeda ditemui dalam kehidupan sehari-hari. ataupun kebohongan. Suatu tanda memiliki
Tanda-tanda tersebut, menurut Berger, terdapat kemampuan untuk memberi informasi yang benar,
dalam tanda-tanda periklanan, objek material tetapi juga dapat menyesatkan.
budaya, aktivitas dan penampilan,serta suara dan Semiotika merupakan penerapan prinsip-
musik. prinsip segala disiplin ilmu yang dimanfaatkan
Berikutnya, dalam Bab V, Berger untuk mengelabui (Eco dalam Berger, 2010:91).
menyatakan bahwa tidak semua tanda terlihat. Berdasarkan pendapat tersebut, dalam Bab IX
Suara dapat menjadi suatu tanda, begitu juga bau, Berger menjelaskan bahwa terkadang tanpa
rasa, dan bentuk. Namun, beberapa tanda diisadari seseorang membohongi dan mengelabui
mempunyai dimensi visual. Oleh karena itu, sangat orang lain dan dirinya sendiri dengan tanda dan
penting untuk memahami variasi-variasi aspek simbol (dengan menggunakan simbol status).
visual dari tanda-tanda yang mungkin dapat Tanda-tanda yang tampak yang dicontohkan
dijadikan pertimbangan di berbagai analisis, Berger seperti tanda rambut pirang (pengecatan
seperti penggunaan warna, ukuran, ruang lingkup, rambut) memberikan kesan menggairahkan
kontras, bentuk, dan detail. Contoh yang sehingga jelas contoh tersebut mengelabui warna
disodorkan Berger dalam Bab V berupa analisis dan sifat. Selain itu, dari segi bahasa, Berger
sebuah film. memberikan contoh pemakaian bahasa dalam
Bahasan selanjutnya, dalam Bab VI ialah parodi. Dalam pemaparannya Berger memberikan
permasalahan mengenai tanda. Berger bukti tentang parodi sebagai teknik menghibur
memaparkan sebuah kenyataan bahwa hubungan dengan menerapkan teknik-teknik humor lain,
antara penanda dan petanda bersifata arbriter seperti permainan kata-kata.
atau manasuka yang merupakan salah satu Dalam Bab X Berger memaparkan
permasalahan. Oleh sebab itu, aspek tersebut, penampilan seseorang dalam menggambarkan
menurut Berger, sering memancing adanya penanda dan gaya hidup. Dalam bahasan ini
pertanyaan-pertanyaan. Namun, Berger Berger memberikan beberapa contoh, seperti
menambahkan adanya permasalahan lain, yakni rambut rapi sebagai petanda bahwa orang
pengacauan, kerancuan kode, perubahan arti, dan tersebut berasal dari kalangan pengusaha. Pokok
ambiguitas dalam tanda-tanda. bahasan penting dari Bab X ialah pembentukan
Pada Bab VII Berger menjelaskan makna citra diri, baik ataupun tidak baik yang
konotasi dan denotasi, yang memegang peranan diasosiasikan dengan tanda-tanda tertentu. Berger
penting dalam ilmu linguistik. Makna denotasi menambahkan bahwa pemahaman tanda adalah
bersifat langsung dan dapat disebut sebagai hal utama, tetapi kita pun harus memperhatikan
gambaran atau suatu petanda. kesalahartian yang mungkin terjadi sehingga tidak
Dalam Bab VIII Berger menjelaskan tanda- menyesatkan orang lain karena tanda yang
tanda imajiner. Tanda-tanda imajiner adalah tanda mengelabui mata.
yang tidak berada di dunia nyata, tetapi dapat Pada Bab XI Berger memaparkan koherensi
dibayangkan. Berger mengelompokkan tanda- dalam tanda-tanda. Hal tersebut disebabkan
tanda imajiner sebagai segala bentuk tanda yang tanda-tanda cenderung berdampingan dengan
dapat dilihat,tetapi hanya dalam konsep tanda yang serupa pada kelas masyarakat lainnya.
147
Metalingua, Vol. 14 No. 1, Juni 2016:145—150

Berger menjelaskan bahwa seseorang dengan Dalam Bab XVI Berger memaparkan bahwa
mudah mampu membangun kesan dan memilih tiadanya tanda pun merupakan suatu tanda. Berger
tanda-tanda yang sesuai untuk menghasilkan tanda menjelaskan ketiadaan tanda (pada saat tanda
yang tepat, yang Berger sebut sebagai tersebut dibutuhkan) sebenarnya juga
penyusunan tanda. Berger memberikan contoh mengomunikasikan suatu tanda yang lain.
komposisi tanda dalam seni rakyat, seperti sistem Dalam Bab XVII Berger menjelaskan tanda-
tanda yang digunakan dalam televisi, radio, koran, tanda yang dapat mengacaukan ilusi penglihatan.
dan opera sabun. Lebih dalam Berger memberikan pemahaman
Pada bab selanjutnya yaitu Bab XII Berger bahwa ilusi penglihatan dapat dipahami sebagai
memberikan penjelasan mengenai orang-orang jenis-jenis tanda visual sehingga tanda-tanda visual
yang menggunakan tanda-tanda dan cara mereka yang sulit ditafsirkan atau membingungkan akan
menggunakannya. Salah satu contoh yang memberikan informasi yang justru menjadi
disajikan Berger adalah penyair. Penyair masalah bagi yang menafsirkannya karena
menggunakan tanda bahasa dalam bentuk puisi kesalahtafsiran tersebut.
untuk mengungkapkan perasaan yang sifatnya Bab XVIII mengetengahkan penjelasan
harfiah dan komersial. pelengkap tanda. Berger berpendapat, “Karena
Berikutnya, dalam Bab XIII, Berger tanda-tanda bersifat kompleks, terkadang tanda
menjelaskan tanda-tanda dan identitas. Berger sukar dilihat dan dimengerti”. Untuk mengimbangi
memaparkan cara tanda-tanda digunakan oleh masalah tersebut, tanda sering dimodifikasi
masyarakat untuk memberikan petunjuk identitas dengan berbagai cara. Berger menyajikan cara
yang lain. Aspek-aspek identitas yang Berger dalam memodifikasi tanda, antara lain penguatan
maksud untuk mewakili tanda, di antaranya, (intensifier), pemusatan (focuser), duplikasi,
adalah identitas pribadi, identitas nasional, penjelasan (clasifier), dan pengurangan.
identitas pekerjaan, identitas badan hukum, Dalam Bab XIX Berger mendeskripsikan
identitas jenis, dan identitas keagamaan. Berger arti manifest dan arti latent. Berger menjelaskan
berpendapat bahwa tanda-tanda identitas manifest (arti yang tampak) dari suatu tanda akan
seseorang harus ditafsirkan dengan benar. dipertimbangkan sebagai salah satu arti yang
Pada Bab XIV Berger memberikan bersifat umum dan dengan hasil seperti yang
penjelasan mengenai istilah-istilah yang diinginkan pembuat tanda, sementara latent ‘arti
berhubungan dengan tanda. Menurut Berger yang tersembunyi’ dari suatu tanda merupakan
terdapat kompleksitas dan multidimensi di dalam makna yang terpendam dari tanda tersebut, yang
konsep tanda (Berger, 2010:143). Konsep tanda tidak disadari.
yang Berger maksud, di antaranya, adalah tanda Selanjutnya, dalam pembahasan Bab XX
tangan (signature), berhenti atau mengundurkan Berger memaparkan cara menganalisis tanda dan
diri (resign), lencana (insignia), pola (design), sistem tanda. Berger menarik masalah bagaimana
dan penting (significant). tanda-tanda dinterpretasikan dengan tanda-tanda
Pada pembahasan selanjutnya, yaitu Bab lain.
XV, Berger menjelaskan tanda-tanda dan Dalam Bab XXI Berger memaparkan kode.
imajinasi. Dalam penjelasannya Berger Kode diperlukan karena hubungan antara
mengungkapan bahwa tanda disusun dari pemberi arti dan yang diartikan bersifat
sejumlah elemen berbeda yang masing-masing konvensional. Kode-kode tersebut, di antaranya,
berfungsi sebagai tanda. Berger menyajikan adalah kode sosial, kode estetika, dan kode logis.
beberapa istilah yang dapat digunakan dalam Selanjutnya, dalam Bab XXII Berger
hubungan tanda-tanda, seperti elemen tanda menjelaskan karakteristik kode. Kode adalah hal
(signemes), tanda (sign), patung (icon), penting dalam memahami sesuatu. Berger
kumpulan tanda (sign assemblage), dan teks menambahkan sifat dari kode karena kode-kode
(text). cenderung tidak begitu tampak, seperti kode
148
NENGSIH: RESENSI BUKU

bersifat inheren, kultur adalah jens-jenis kode, satu penjelasan tentang semiotika dan teori
kode adalah rahasia, kode itu nyata, kode harus semioiogi serta penerapan teori itu pada media
mempunyai kejelasan, kode harus massa, budaya populer, seni, dan budaya pada
berkesinambungan, kode itu luas, dan kode itu umumnya.
terkait. Buku ini merupakan pengantar mengenai
Dalam bab terakhir, yaitu Bab XXIII, Berger semiotika dalam membaca dan menelaah
menjelaskan makna. Makna menurut Berger fenomena kebudayaan kontemporer. Oleh karena
adalah maksud yang tersurat ataupun tersirat itu, buku ini merupakan sarana untuk membantu
dalam memahami hubungan mengenai konsep- Anda menjadi praktisi semiotik yang lebih
konsep yang dilekatkan pada sebuah tanda. Oleh sistematis.
karenanya, amat logis bagi kita untuk memahami Namun, seperti diperingatkan oleh
apakah tanda-tanda itu dan bagaimana mereka pengarang buku ini, ada pegangan yang harus
berfungsi. Manfaat semua ini adalah untuk disebutkan, yakni bahwa semiotika mempunyai
menggali dan mengerti tentang sesuatu dari tanda- terminologinya sendiri. Agar berfungsi sebagai
tanda yang menarik dan mengandung petunjuk praktisi semiotika. Anda harus mengenali
tentang kita sendiri. beberapa hal dari bahasa; Anda akan menemukan
diri Anda berhubungan dengan istilah-istilah,
3. Penutup seperti penanda, petanda, ikon, kode, dan indeks.
Semoga buku ini dapat memberikan
Sehubungan dengan apa yang menjadi tujuan
semangat untuk para pembaca dalam memahami
buku ini, pemaparan dan ide-ide yang
semiotika. Selain itu, buku ini dapat dijadikan
disampaikan oleh Arthur Asa Berger ini dapat
referensi atau bacaan untuk khalayak umum serta
dijadikan rujukan pustaka dalam memahami
para penggiat bahasa dan sastra.
kajian linguistik dan sastra. Buku ini merupakan

Daftar Pustaka
Berger, A. A. 2010. Pengantar Semiotika: Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer.
(Penerjemah M. Dwi Marianto). Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sitaresmi, N. dan M. Fasya 2011. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press.
van Zoest, A. 1992. Serba-Serbi Semiotika. Penyunting Panuti Sudjiman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Zaimar, O.K.S. 2008. Semiotik dan Penerapannya dalam Karya Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.

149
Metalingua, Vol. 14 No. 1, Juni 2016:145—150

150