Anda di halaman 1dari 12

JURNAL PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMISOLIDA STERIL (FA 3102)

Obat Tetes Telinga Kloramfenikol

Kelompok : N-5

Shift : Kamis

Anggota :

Natasha Belvani (10718100)

Diah Fardesia (10718054)

Aristo Hakisa Rendra (10718055)

Nada Nurul Husna (10718056)

LABORATORIUM STERIL

PROGRAM STUDI SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI

SEKOLAH FARMASI

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2020
JURNAL PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMISOLIDA STERIL (FA 3131)

KELOMPOK : N-5 SHIFT : Kamis

SOAL : OBAT TETES TELINGA KLORAMFENIKOL

I. Pendahuluan
Menurut Farmakope Indonesia Edisi V (2014), larutan tetes telinga atau larutan otic adalah
larutan yang mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi, untuk
penggunaan pada telinga luar. Faktor yang perlu diperhatikan yaitu pembawa dan kelarutan zat
aktifnya. Untuk pembawa umumnya air namun gliserol dapat juga ditambahkan ke dalamnya
untuk membantu memberikan aksi pelunak malam pada telinga dan meninggikan viskositas
larutan. Viskositas larutan yang meninggi akan membantu memperkuat kontak antara sediaan
dan permukaan yang terkena infeksi. Sedangkan untuk kelarutan zat aktifnya, misal kloramfenikol
memiliki kelarutan 1:400 dalam air dan 1:7 dalam propilen glikol. Untuk memperoleh larutan obat
tetes telinga yang efektif maka digunakan propilen glikol sebagai pelarutnya.
Berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi V (2014), tetes telinga kloramfenikol adalah larutan
steril Kloramfenikol dalam pelarut yang sesuai, mengandung tidak kurang dari 90,0% dan tidak
lebih dari 130,0% C11H12Cl2N2O5, dari jumlah yang tertera pada etiket.
Menurut Martindale edisi 36 halaman 242, kloramfenikol berfungsi untuk mengatasi infeksi
yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan bakteri gram negatif aerob yang memiliki
mekanisme kerja menghambat sintesis protein dengan berikatan dengan subunit 50s ribosom
dan menghambat enzim peptidil transferase. Dosis kloramfenikol adalah 50mg/kg per hari setiap
6 jam, bisa mencapai 100 mg/kg per hari untuk meningitis atau infeksi berat untuk organisme
yang resisten dan harus diusahakan dikurangi secepat mungkin. Kekuatan sediaan kloramfenikol
untuk infeksi bakteri pada telinga adalah 5% atau 10%.
II. Preformulasi Zat Aktif
Zat Aktif (Kloramfenikol)

Struktur Kimia

Rumus: C11H12Cl2N2O5
Pemerian Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang; putih
hingga putih kelabu atau putih kekuningan; larutan praktis
netral terhadap lakmus P; stabil dalam larutan netral atau
larutan agak asam (FI V h. 684)
Kelarutan Sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, dalam propilen
glikol, dalam aseton dan dalam etil asetat (FI V h. 684)
pH 4,5-7,5
pH sediaan : 4,0-8,0 (FI V h. 688)
pH stabilitas : 6,0 (Connors h. 328)
Titik leleh 149oC
Stabilita
Panas Tidak tahan terhadap panas (110oC) dan mudah terdekomposisi

(Analytical Profiles of Drugs Substances Vol 4:68-69)

Hidrolisis Terdegradasi melalui hidrolisis amida pada pH dibawah 7.


Hidrolisis amida tidak tergantung pada pH pada daerah pH 2-6

(Analytical Profiles of Drugs Substances Vol 4:68-69)

Dapat terdegradasi oleh cahaya. Adanya cahaya menyebabkan


oksidasi, reduksi, atau kondensasi dari kloramfenikol.
Cahaya
(The Pharmaceutical Codex 12th Ed: 787)

Tidak mudah teroksidasi

(The Pharmaceutical Codex 12th Ed: 787)


Oksidasi.
Kesimpulan:
Bentuk zat aktif yang digunakan: basa lemah (C11H12Cl2N2O5 BM =323,132)
Bentuk sediaan: larutan
Cara sterilisasi sediaan: filtrasi membran dengan pompa vakum
Kemasan: botol obat tetes telinga 10 ml tidak tembus cahaya (kaca amber)
III. Permasalahan Farmasetika dan Solusinya

Permasalahan Farmasetik Solusi


Zat aktif sukar larut dalam air Dilarutkan dalam propilen glikol

Sediaan harus steril, zat aktif tidak tahan Dilakukan sterilisasi dengan filtrasi membran
terhadap panas dan mudah terdekomposisi

Zat aktif dapat terdegradasi oleh cahaya Digunakan kemasan tidak tembus cahaya
(botol kaca amber) dan selama proses
pembuatan sediaan, lampu ruangan
menggunakan lampu natrium, tirai/jendela
pada laboratorium (bila ada) ditutup, wadah
pembuatan dilapisi aluminium foil

Sediaan harus dapat kontak dengan baik Digunakan pembawa berupa propilen glikol
pada dinding telinga yang memiliki viskositas tinggi

Sediaan dibuat bebas mikroba patogen dan Dilakukan sterilisasi dengan filtrasi membran
partikulat kasar

IV. Perhitungan Tonisitas/Osmolalitas dan Dapar


A. Tonisitas
Tidak dilakukan perhitungan tonisitas karena sediaan merupakan obat tetes telinga yang
mana hanya dipergunakan untuk telinga bagian luar sehingga tidak harus isotonis dengan
cairan tubuh.

B. Osmolaritas

Tidak dilakukan perhitungan osmolaritas karena sediaan merupakan obat tetes telinga yang
mana hanya dipergunakan untuk telinga bagian luar sehingga pH sediaan tidak harus
berada di sekitar pH cairan tubuh atau sekitar 7,4.

C. Dapar

Tidak dilakukan perhitungan dapar karena rentang pH zat aktif (pH 4,5 – 7,5) masih
termasuk dalam rentang pH sediaan yang cukup luas (pH 4 – 8 dengan pH target 6,0)
sehingga pada sediaan ini tidak digunakan dapar.

Kesimpulan :

Sediaan tidak harus isotonis.

Perhatian yang perlu dicantumkan dalam informasi obat : -


V. Pendekatan Formula

No Bahan Jumlah Fungsi / alasan


penambahan bahan
1. Kloramfenikol 5% Zat aktif (antibiotik
bakteriostatik)
(Martindale 36th ed
h.241)

2. Natrium Hidroksida q.s. pH adjuster

3. Asam Klorida q.s. pH adjuster

4. Propilen glikol ad 10 ml Pelarut dan


peningkat viskositas
(HOPE 6th ed h.592)

VI. Preformulasi Eksipien


A. Propilen Glikol

Struktur Kimia

Rumus: C3H8O2
Pemerian Merupakan cairan kental, jernih tidak berwarna, rasa khas,
praktis tidak berbau,dan menyerap air pada udara lembab. (FI V
hal.1070)
Kelarutan Bercampur dengan etanol (95%), gliserin, dan air (HOPE 6th ed h.
592).
pH pH 3-6.
Titik leleh -60o C
Stabilita
 Panas Pada temperatur tinggi dan keadaan terbuka cenderung
mengalami oksidasi menghasilkan propionaldehid, asam laktat,
asam piruvat, dan asam asetat

 Hidrolisis Stabil ketika dicampur dengan air 


 Cahaya Tidak tahan terhadap cahaya (HOPE 6th ed h. 592)

Inkompatibilitas Propilen glikol tidak kompatibel dengan reagen pengoksidasi


seperti kalium permangat (HOPE 6th ed h. 592)
B. NaOH

Struktur Kimia

Pemerian Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, keras,
rapuh dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah meleleh
basah. Sangat alkalis dan korosif, segera menyerap
karbondioksida (Farmakope Indonesia V Halaman 1727).
Kelarutan Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P
(Farmakope Indonesia V Halaman 1727).
pH pH ~ 12 (larutan 0.05% w/w);
pH ~13 (larutan 0.5% w/w);
pH ~14 (larutan 5% w/w)
(HOPE 6th Halaman 659).
Titik leleh 318oC (HOPE 6th Halaman 659).
Stabilita Harus disimpan dalam wadah bukan logam kedap udara di
tempat yang sejuk dan kering. Saat terkena udara, natrium
hidroksida dengan cepat menyerap kelembapan dan mencair,
tetapi kemudian menjadi padat kembali karena penyerapan
karbon dioksida dan pembentukan natrium karbonat (HOPE 6th
Halaman 659).
Inkompatibilitas Tidak kompatibel dengan senyawa apa pun yang mudah
mengalami hidrolisis atau oksidasi. NaOH akan bereaksi dengan
asam, ester, dan eter, terutama dalam larutan air (HOPE 6th
Halaman 659).

C. HCl

Struktur Kimia

Pemerian Larutan hidrogen klorida berair yang bening, tidak berwarna,


berair, dengan bau yang menyengat (HOPE 6th Halaman 308).
Kelarutan Dapat bercampur dengan air; larut dalam dietil eter, etanol (95%),
dan metanol (HOPE 6th Halaman 308).
pH pH = 0.1 (10% v/v larutan encer) (HOPE 6th Halaman 308).
Titik leleh -114.2oC
Stabilita harus disimpan dalam wadah yang tertutup baik, kaca atau
wadah lembam lainnya pada suhu di bawah 30oC. Penyimpanan
di dekat alkali pekat, logam, dan sianida harus dihindari (HOPE
6th Halaman 308).
Inkompatibilitas Asam klorida bereaksi hebat dengan basa. Asam klorida juga
bereaksi dengan banyak logam, membebaskan hidrogen (HOPE
6th Halaman 308).

VII. Persiapan Alat/Wadah/Bahan


a. Alat

No Nama Alat Jumlah Cara sterilisasi (lengkap)


1 Timbangan 1 Tidak dilakukan sterilisasi
2 Spatula 1 Oven dengan suhu 170°C selama 1 jam
3 Gelas Kimia 1 Oven dengan suhu 170°C selama 1 jam
250 mL
4 Batang Pengaduk 1 Oven dengan suhu 170°C selama 1 jam
5 Kaca Arloji 1 Oven dengan suhu 170°C selama 1 jam
6. Gelas Ukur Autoklaf dengan suhu 121°C selama 15 menit
100 ml 1
25 ml 1
7. Pipet Tetes 3 Autoklaf dengan suhu 121°C selama 15 menit
8. Karet pipet 3 Direndam dalam etanol 70% selama 24 jam
9. pH meter 1 Tidak dilakukan sterilisasi
10 Kain Lap 1 Autoklaf dengan suhu 121°C selama 15 menit
11 Membran filtrasi 0,45 2 Autoklaf dengan suhu 121°C selama 15 menit
µm
12 Membran filtrasi 0,22 2 Autoklaf dengan suhu 121°C selama 15 menit
µm
13. Corong buchner 2 Autoklaf dengan suhu 121°C selama 15 menit
14. Buchner flask 2 Autoklaf dengan suhu 121°C selama 15 menit
15. Pompa vakum 1 Tidak dilakukan sterilisasi
16. Buret 1 Autoklaf dengan suhu 121°C selama 15 menit
17. Statif + klem 1
18. Alumunium foil 1 Tidak dilakukan sterilisasi

b. Wadah

No Wadah Cara sterilisasi (lengkap)


1 Botol obat tetes telinga 10 ml Direndam dalam etanol 70% selama 24 jam
berwarna putih
2 Tutup botol Direndam dalam etanol 70% selama 24 jam
c. Bahan

Tidak dilakukan sterilisasi bahan karena akan di sterilisasi akhir dengan filtrasi membran

VIII. Penimbangan

Keterangan:

Untuk 100 sediaan :

Volume 100 sediaan = 10 ml x 100 botol = 1000 ml

Volume berlebih yang ditambahkan pada wadah 1 sediaan = 0,7 ml

Volume berlebih untuk kehilangan selama penyiapan sediaan = 50 ml

Maka,

Volume total larutan yang akan disiapkan = 1000 + 100 x 0,7 + 50 = 1120 ml

Untuk 10 sediaan :

Volume 10 sediaan = 10 ml x 10 botol = 100 ml

Volume berlebih yang ditambahkan pada wadah 1 sediaan = 0,7 ml

Volume berlebih untuk kehilangan selama penyiapan sediaan = 43 ml

Maka,

Volume total larutan yang akan disiapkan = 100 + 10 x 0,7 + 43 = 150 ml 

Nama bahan Jumlah yang ditimbang


Kloramfenikol 0,05 g/ml x 1120 ml = 56 gram (untuk 100 sediaan)
0,05 g/ml x 150 ml = 7,5 gram (untuk 10 sediaan)

IX. Prosedur Pembuatan


Prosedur pembuatan 10 sediaan obat tetes telinga kloramfenikol

 Volume 10 sediaan = 10 ml x 10 botol = 100 ml


 Volume berlebih yang ditambahkan pada wadah 1 sediaan = 0,7 ml
 Volume berlebih untuk kehilangan selama penyiapan sediaan = 43ml

Maka,
Volume total larutan yang akan disiapkan = 100 + 10 x 0,7 + 43 = 150 mL
 Kloramfenikol : 5% x 150 ml = 7,5 gram
Ruang Prosedur Monitoring Ruangan & Proses
D Sterilisasi Alat Pastikan alat yang akan di
 Alat dan wadah yang dapat sterilisasi menggunakan panas
disterilisasi dengan autoklaf, telah tertutup dengan baik.
diautoklaf pada suhu 121°C Periksa listrik yang digunakan
selama 15 menit untuk oven dan autoklaf.
 Alat dan wadah yang dapat di Siapkan etanol 70% untuk
sterilisasi dengan panas sterilisasi alat yang tidak tahan
kering, dioven pada suhu panas
170°C selama 1 jam
 Alat dah wadah yang
disterilisasi menggunakan
desinfektan, direndam dalam
etanol 70%, selama 24 jam
D Peralatan yang telah disterilisasi
dibawa ke kelas C dan A background
B (statif, klem, buret, corong buchner,
buchner flask, membran filtrasi)
dengan menggunakan pass box
C Timbangan yang akan digunakan Pastikan sebelum ditara, waterpass
dikalibrasi, dibersihkan, kemudian berada di tengah. Pastikan juga
ditare hingga layar timbangan benar- setelah ditara layar timbangan
benar menunjukkan angka 0,000 benar-benar menunjukkan angka
gram 0,000 gram
C Dilakukan penimbangan zat aktif Pastikan layar timbangan
(Kloramfenikol 7,5 gram) dengan menunjukkan angka 7,5 gram
menggunakan kaca arloji
C Dilakukan kalibrasi gelas kimia Pastikan volume aquades yang
menggunakan 150 ml aquades, lalu dipakai kalibrasi sesuai dan spidol
tandai batas kalibrasi dengan spidol merupakan spidol tidak permanen
tidak permanen
C Larutkan 7,5 gram kloramfenikol Pastikan kloramfenikol terlarut
tersebut dengan 50 mL propilen sempurna
glikol dalam gelas kimia yang telah
dikalibrasi.
C Tambahkan 70mL propilen glikol, Pastikan volume propilen glikol
yaitu sampai 80% (120 ml) dari yang ditambahkan tidak lebih tidak
volume yang seharusnya kurang dari tanda batas kalibrasi
C Dilakukan pengecekan pH dengan Pastikan pH meter bersih dan telah
menggunakan pH meter dikalibrasi sebelum digunakan.
Setelah digunakan pastikan
elektroda bersih dari larutan uji dan
alat dalam keadaan kering
C Apabila pH belum sesuai dengan pH
target sediaan (pH 6), maka
dilakukan adjust pH dengan
menggunakan HCl apabila pH terlalu
tinggi, dan menggunakan NaOH
apabila pH terlalu rendah
C Tambahkan propilen glikol sampai Pastikan penambahan propilen
100% (150 mL) atau sampai tanda glikol tepat pada tanda batas
batas kalibrasi. kalibrasi
C Dilakukan uji organoleptik dengan Pastikan hasil uji organoleptik
mengamati sifat fisik sediaan meliputi sesuai
warna dan homogenitas
C Larutan sediaan dibawa ke kelas A
background B dengan menggunakan
transfer box
A background Dilakukan sterilisasi menggunakan Pastikan listrik yang digunakan
B membran filtrasi berukuran 0,45µm untuk pompa vakum menyala baik.
dan 0,25µm. Filtrasi membran
menggunakan pompa vakum yang
disusun dengan corong buchner dan
buchner flask
A background Siapkan buret steril, lalu lakukan
B pembilasan dengan 10 ml larutan
sediaan. Lalu masukan larutan
sediaan. Atas buret ditutup dengan
alumunium foil. Isi setiap botol obat
tetes telinga dengan 10,7 ml larutan
sediaan. Pasangkan tutup botol
tetes telinga.
A background Botol yang telah ditutup di bawa ke
B kelas D dengan menggunakan
transfer box
D Pengemasan dan evaluasi 
1. Etiket ditempel pada wadah
2. Sediaan dimasukkan kedalam
kemasan
3. Evaluasi sediaan akhir
X. Evaluasi Sediaan (IPC)

No. Jenis Evaluasi Prinsip Evaluasi Syarat

1. Penetapan pH pH campuran larutan 4,0 - 8,0 dengan pH target 6,0 (sesuai


(Farmakope diukur menggunakan pH monografi kloramfenikol pada
Indonesia Edisi V meter Farmakope Indonesia Edisi V Hal.
Hal.1563) 688)

2. Uji Organoleptik Pengujian fisik sediaan Larutan jernih dan homogen


meliputi warna dan
homogenitas
XI. Evaluasi Akhir Sediaan

Jumlah
No Jenis evaluasi Prinsip evaluasi Syarat
sampel

1 Uji Sterilitas Sampel sediaan 2 botol Steril, tidak ada mikroba


(Farmakope dimasukkan dalam yang tumbuh pada media
Indonesia Edisi V medium steril dengan
halaman 1359) kontrol medium steril
dan kontrol
pertumbuhan mikroba
uji pada medium
selama tidak lebih dari
5 hari

2 Uji Penetapan pH pH sampel sediaan 2 botol 4,0 - 8,0 dengan pH target


(Farmakope diukur menggunakan 6,0 (sesuai monografi obat
Indonesia Edisi V pH meter tetes telinga kloramfenikol
halaman 1563) pada Farmakope Indonesia
Edisi V Hal. 688)

3 Uji kejernihan Wadah diperiksa 10 botol Larutan jernih


(USP <790>) dengan menyinari
sampel sediaan dari
sampling dengan latar
belakang warna hitam
dan putih

4 Uji kebocoran Vial direndam dalam 2 botol Larutan metilen biru tidak
dengan Tracer larutan metilen biru masuk ke dalam vial
Liquid Leak Test 0,1% pada chamber
(USP <1207.2> dan diberikan tekanan
3.4) positif dan diturunkan,
kemudian vial diangkat
dan dibilas bagian
luarnya, kemudian
dilihat secara visual
adanya warna biru
pada larutan isi vial

5 Penetapan Metode difusi antibiotik 2 botol -


potensi antibiotik dari silinder yang
(Farmakope dipasang tegak lurus
Indonesia Edisi V pada lapisan agar
halaman 1392) padat dalam cawan
petri, sehingga mikroba
yang ditambahkan
dihambat
pertumbuhannya pada
daerah berupa
lingkaran di sekeliling
silinder yang berisi
larutan antibiotik.
Mikroba yang
ditambahkan untuk
penetapan potensi
Kloramfenikol adalah
Eschericia coli
ATCC10536

6 Uji Viskositas Dengan alat Disesuaikan -


Larutan Viskometer Hoppler, hingga
mengukur kecepatan memenuhi
bola jatuh melalui alat
cairan dalam tabung
pada suhu tetap

XII. Daftar Pustaka


Brittain, H.G. (1999). Analytical profiles of drugs substances and excipients, 4th ed. California:
Academic Press.

Connors, Kenneth A., Amidon, Gordon L., Stella, Valentino J. (1986) Chemical Stability of
Pharmaceuticals: A Handbook for Pharmacists Ed 2. John Wiley & Sons. New Jersey, United
States.
Lund, W. (1994). Principles and practice of pharmaceutics. The Pharmaceutical Codex, 12th ed.
The Pharmaceutical Press, London, 85.
Kemenkes, R. I. (2014). Farmakope Indonesia edisi V. Jakarta: Direktorat Jendral Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Republik Indonesia.
Rowe, R. C., Sheskey, P. J., & Quinn, M. E. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th
edition Pharmaceutical Press. London, England.
Sweetman, S. C. (2009). Martindale, The comperhensive drug reference 36th Edition.

Anda mungkin juga menyukai