Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

2.1. Latar Belakang


Mobilitas yang tinggi telah menjadi gaya hidup dari manusia zaman
sekarang. Hal ini disebabkan.oleh aktivitas manusia yang dituntut untuk
berpindah tempat dengan cepat, baik untuk kepentingan pariwisata maupun
untuk pekerjaan. Saat ini moda transportasi yang bisa memenuhi kebutuhan
tersebut adalah sarana transportasi udara yaitu dengan mengganakan pesawat
terbang. Dengan hal.tersebut maka dibutuhkan bandara untuk pesawat terbang
mendarat (landing) maupun untuk mengudara (climbing).
Saat.ini.bandara.bukanlah sekedar fasilitas bagi transportasi udara, bandara juga
bisa menjadi ikon membanggakan dari daerah tersebut, hal ini bisa dilihat dari
desain dan fasilitas yang ditawarkan juga cara bandara tersebut beroperasi
melayani penumpang.
Bandar udara, disingkat dengan bandara adalah tempat atau fasilitas
untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, barang, pos yang dilengkapi
dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan berfungsi sebagai perpindahan
antar moda transportasi.Saat ini Indonesia tercatat memiliki lebih dari 200
bandara yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Meliputi bandara
internasional, maupun bandara domestik.
Dalam bidang Teknik Sipil, tanah memiliki peranan yang sangat penting
sebagai pendukung kekuatan suatu struktur, salah satunya sebagai pendukung
struktur Bandar Udara. Namun, tidak semua tanah memiliki sifat yang selalu
sama. Setiap tanah mempunyai sifat – sifat teknis yang beragam yang disebabkan
oleh pengaruh dari keadaan geografis suatu tempat. Ada jenis tanah yang
memiliki kekuatan daya dukung baik dan adapula tanah yang memiliki daya
dukung yang buruk.
Pada konstruksi Bandar Udara, perencanaan tanah sebagai Sub-Grade
Bandar Udara sangat penting. Bandar Udara memiliki peranan yang sangat
penting sebagai kawasan untuk mendarat dan lepas landas pesawat terbang,
bongkar muat barang, naik turun penumpang, dan sebagai tempat perpindahan
moda transportasi. Agar dapat berfungsi sesuai dengan yang diharapkan, maka
perlu untuk memperhatikan faktor – faktor yang mempengaruhi fungsi pelayanan
konstruksi tersebut, antara lain sifat dari tanah dasar dimana nantinya akan
dilakukan perkerasan. Di beberapa wilayah penduduk menggunakan tanah
sebagai Sub-Grade. Salah satunya tanah di Kabupaten Paser Tanah Grogot
Kalimantan Timur (Gambar 1). Tanah di Kabupaten Paser ini di dominasi oleh
lapisan lempung lunak yang cukup dalam sehingga perlu dilakukan penanganan
dalam bentuk perbaikan tanah maupun perkuatan – perkuatan lainnya agar
mampu menahan beban rencana nantinya.
Permasalahan yang telah diuraikan tersebut yang melatar belakangi
dibuatnya makalah ilmiah ini untuk mengetahui metode perbaikan tanah yang
sesuai dengan tanah dikawasan Tanah Grogot ini.

Gambar 11. Lokasi Perencanaan Bandar Udara tanah Grogot.


2.2. Rumusan Masalah
Dalam perencanaan ini didapatkan permasalahanpermasalahan sebagai
berikut:
1. Bagaimana merencanakan perbaikan tanah untuk kontruksi bandara yang
akan dibangun?
2. Bagaimana merencanakan perbaikan tanah menggunakan metode Stone
Column dan PVD?
3. Bagaimana merencanakan timbunan dengan mempertimbangkan
penurunan tanah?

2.3. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari dibuatnya tugas akhir ini adalah sebagai
berikut:
1. Merencanakan perbaikan tanah untuk kontruksi bandara yang akan
dibangun?
2. Merencanakan perbaikan tanah menggunakan metode Stone Column dan
PVD?
3. Merencanakan timbunan dengan mempertimbangkan penurunan tanah?

2.4. Batasan Masalah


Adapun lingkup pekerjaan yang dilakukan dalam perencanaan tugas akhir
ini adalah sebagai berikut :
1. Karya ilmiah ini membahas mengenai perencanaan perbaikan tanah untuk
pembangunan Bandar Udara. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan
untuk merancang perbaikan tanah paling efektif dan efisien.
2. Perancangan ini dilakukan di Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Provinsi
Kalimantan Timur.
3. Perencanaan perbaikan tanah ini dibatasi pada Runaway.
4. Metode perhitungan untuk perencanaan perbaikan tanah ini dibatasi pada
metode Stone Column dan PVD.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kondisi Geografis, Topografi dan Geologi Kabupaten Paser


Kabupaten Paser dengan ibukota Tanah Grogot merupakan satu dari
sepuluh kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, yang secara geografis terletak
pada 0°45’18.37” -2°27’20.82” LS dan 115°36’14.5” -166°57’35.03” BT dengan
luas wilayah 11.603,94 km2. Secara Administratif, Kabupaten Paser memiliki
batas-batas wilayah sebagai berikut (Gambar 1.1):
1. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Kutai
2. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Penajam Paser Utara
dan Selat Makasar
3. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Kota Baru
Prov. Kalimantan Selatan
4. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Tabalong
Prov. Kalimantan Selatan dan Hulu Sungai Utara
Prov. Kalimatan Selatan.
Keadaan Topografi wilayah Kabupaten paser memiliki ketinggian dan
kontur yang bervariasi, Secara garis besar Kabupaten Paser dibagi dalam dua
wilayah:
1. Wilayah Timur merupakan dataran rendah, landai hingga bergelombang
dengan ketinggian berkisar 0-1.000 m diatas permukaan laut yang
membentang dari utara sampai selatan yang terdiri dari rawa-rawa dan
daerah aliran sungai dengan luas 967.100 Ha (69,52% dari Luas daratan).
Dengan jalan negara Penajam-Kuaro dan Kerang Dayu sebagian batas
topografi;
2. Wilayah Barat merupakan daerah bergelombang, berbukit dan bergunung
berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah
dengan luas 424.100 Ha (30,48% dari luas daratan). Di wilayah ini
terdapat beberapa puncak pegunungan seperti Gunung Serumpaka dengan
ketinggian 1.380 m, Gunung Lumut 1.233 m, Gunung Narujan atau
Gunung Rambutan dan Gunung Halat.

Sedangkan Kondisi Geologi Kabupaten Paser terbagi dalam beberapa


formasi dan satuan batuan dengan litologi sebagai berikut:
1. Kompleks Batuan Ultramafik merupakan batuan tertua dan batuan alas
dari formasi yang ada di daerah penelitian, terutama terdiri dari serpentin
dan harzburgit. Serpentin berwarna kelabu kehijauan tersusun oleh
kristosil dan antigorit. Komplek ini diduga berumur Jura. Di jumpai di
sebelah barat Kuaro, dengan arah sebaran utara-selatan.
2. Formasi Pitap dan Haruyan terletak di atas Komplek Batuan Ultramafik
berumur Kapur Awal. Formasi Pitap terdiri dari perselingan batu pasir,
grewake, batulempung dan konglomerat. Formasi Haruyan terdiri dari
lava, breksi dan tuf. Batuan granit dan diorit menerobos batuan di atas
pada Kapur Akhir. Komoditas yang dijumpai adalah lempung.
3. Secara tidak selaras menutupi Formasi Pitap adalah Formasi Tanjung dan
Kuaro yang berumur Eosen Awal. Formasi Tanjung terdiri dari
perselingan batu pasir, batulempung, konglomerat, batugamping dan
napal dengan sisipan tipis batubara, napal, batugamping dan serpih.
Komoditas yang dapat dijumpai adalah lempung dan batugamping.
4. Secara tak selaras menindih di atas Formasi Kuaro diendapkan Formasi
Telakai berumur Eosen Akhir berupa batulempung, batu pasir lempungan
dan serpih dengan sisipan batugamping dan napal.
5. Di atasnya diendapkan Formasi Tuyu berumur Oligosen Akhir, terdiri
dari perselingan batu pasir, grewake, serpih dan batulempung.
6. Di atasnya lagi diendapkan Formasi Berai terdiri dari batugamping, napal
dan serpih. Formasi Pamaluan terdiri dari batulempung dan serpih dengan
sisipan napal , batu pasir dan batugamping, sedangkan Formasi Bebulu
terdiri dari batugamping dengan sisipan batulempung lanauan dan sedikit
napal. Komoditas yang dapat dijumpai disini adalah batugamping,
lempung.
7. Formasi Warukin menindih secara selaras Formasi Berai berumur Miosen
Tengah-Akhir, terdiri dari perselingan batu pasir batu pasir dengan
batulempung dengan sisipan batubara. Komoditas yang dapat dijumpai
adalah lempung.
8. Formasi Pulau balang menutupi selaras Formasi Pamaluan berumur
Miosen Tengah, terdiri dari perselingan batu pasir kuarsa, batu pasir dan
batulempung dengan sisipan batubara. Komoditas yang dijumpai adalah
lempung, pasir kuarsa.
9. Formasi Balikpapan menindih secara selaras di atas Formasi Pulaubalang
berumur Miosen tengah bagian atas, terdiri dari perselingan batu pasir
kuarsa, batulempung lanauan dan serpih dengan sisipan napal. Komoditas
yang dijumpai adalah batugamping, batubara, pasir kuarsa, lempung.
10. Endapan termuda adalah alluvial yang berupa endapan sungai, rawa dan
pantai terdiri dari kerakal, kerikil, pasir dan Lumpur. Komoditas yang
dapat dijumpai adalah sirtu , lempung.
Gambar 1.1. Peta Geografis Kalimantan Timur
2.2. Klasifikasi Tanah
Tanah merupakan himpunan mineral, bahan organik dan endapan-
endapan yang relatif lepas (loose), yang terletak diatas batuan dasar (bedrock)
(Christady, 2017)
Dari sudut pandang teknis, tanah – tanah itu dapat digolongkan kedalam
macam pokok berikut ini :
a. Kerikil (Gravel)
b. Pasir (Sand)
c. Lanau (Silt)
d. Lempung (Clay)
Istilah kerikil, pasir, lanau dan lempung digunakan untuk
menggambarkan ukuran partikel pada batas ukuran butiran yang ditentukan,
namun istilah ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan sifat tanah yang
khusus. Contoh: Lempung adalah jenis tanah yang bersifta kohesif dan plastis
sedangkan pasir digambarkan sebagai tanah yang tidak kohesif dan non plastis.
Adapun ukuran butiran dari setiap jenis tanah berdasarkan klasifikasi dari
berbagai organisasi dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut.

Tabel 1.1 Klasifikasi Ukuran Butiran


Ukuran Butiran (mm)
Nama Organisasi
Kerikil Pasir Lanau Pasir
Massachusetts Institute
>2 2 – 0.06 0.06 – 0.002 <0.002
of Technology (MIT)
U.S. Department of
>2 2 – 0.05 0.05 – 0.002 <0.002
Agriculture (USDA)
American Association of
State Highway and
76.2 - 2 2 – 0.075 0.075 – 0.002 <0.002
Transportation Officials
(AASHTO)
Unifief Soil
Classification System
(U.S. Army Corps of
Butiran halus (contoh Lanau
Engineer, U.S. Bureau 76.2 – 4.75 4.75 – 0.075
dan Lempung) < 0.075
of Reclamation, and
American Society for
Testing and Materials)
2.3. Tanah Lunak
Tanah lunak merupakan tanah kohesif yang terdiri dari butir-butir yang
sangat kecil seperti lempung dan lanau. Tanah lunak selalu mempunyai dua sifat
yang kurang menguntungkan dalam konstruksi teknik sipil yakni kuat geser yang
sangat rendah dan sifat mampat yang sangat tinggi. Karena kedua sifat ini,
konstruksi yang akan didirikan diatas tanah ini harus menghadapi terbatasnya
kecepatan konstruksi dan perlu adanya masa prabeban yang sering tidak mudah
diadakan.
Nilai Uji Penetrasi Standar (SPT) menunjukkan bahwa tanah lunak
memiliki nilai NSPT < 2 sampai 5 dengan nilai qu dari hasil pengujian Unconfined
Compression Strength berkisar antara <25 kN/m2 s.d. 50 kN/m2 dengan
konsistensi very soft sampai soft. Hubungan antara NSPT dan qu dapat dilihat pada
Tabel 1.2 berikut.
Tabel 1.2 Hubungan antara NSPT dan qu

2.4. Korelasi Data Tanah


Untuk korelasi antara nilai NSPT dengan sifat-sifat fisik dan mekanis
tanah ditunjukkan pada Tabel 2.1, Tabel 2.2, Gambar 2.1 dan Gambar 2.2
Tabel 2.1 NSPT dan Korelasinya (J. E. Bowles, 1984)
Cohesionless Soil
N (blows) 0-3 4 - 10 11 - 30 31 - 50 > 50
g (kN/m3) - 12 - 16 14 - 18 16 - 20 18 - 23
f (o) - 25 - 32 28 - 36 30 - 40 > 40
State Very Loose Medium Dense Very
Loose Dense
Dr (%) 0 - 15 15 - 35 35 - 65 65 - 85 85 - 100
Cohesive Soil
N (blows) <4 4-6 6 -15 16 - 25 > 25
g (kN/m3) 14 - 18 16 - 18 16 - 18 16 - 20 > 20
cu (kPa) < 25 20 - 50 30 - 60 40 -200 > 200
Consistency Very Soft Medium Stiff Hard
Soft

Tabel 2.2 Korelasi Parameter Tanah (Biarez & Favre)


Sifat d e n Wsat sat K Cv s mv = I/E
Tana
h g/cm lb cb % g/cm3 cm/s ft/year lugeon cm2/s ft2/ye bars psi cm2/k ft2/ton
3 ft ar g

0.5 31.25 4.4 0.8 163 1.31 1,03x10 0,01 0,142 100 97,6
10-9 -3
10-4 10-5

0.6 37.5 3.5 0.78 129. 1.38 0,05 0,71 20 19,5


6

0.7 43.75 2.86 0.74 105. 1.44 1,03x10 1x10-4 3.4


8 10-8 -2
10-3
lunak

-
0.8 50 2.38 0.7 88 1.5 2 x10
4 6.8 0,1 1,42 10 9,76

-
0.9 56.25 2 0.67 74.1 1.57 1,03x10 3 x10 10.1 0,5 7,05 2 1,95
10-7 -1
10-2 4

-
4 x10
4 11.1 1 14,2 1 0,976

-
1.0 62.5 1.7 0.63 63 1.63 1x10-6 1,03 5 x10 16.9 2 28,4 0,5 0,488
10-1 4

-
1.1 68.75 1.45 0.59 53.9 1.69 2x10-6 2,06 6 x10
4 20.3 3 42,6 0,33 0,325
rata-rata

- -
1.2 75 1.25 0.56 46.3 1.76 3 x10
6 3,10 7 x10
4 23.6 4 56,9 0,25 0,244

- -
1.3 81.25 1.08 0.52 39.9 1.82 4 x10
6 4,13 8 x10
4 27 5 71,0 0,20 0,195

- -
1.4 87.5 0.93 0.48 34.4 1.88 5 x10
6 5,17 9 x10
4 30.4 6 85,3 0,17 0,163

-
1.5 93.75 0.8 0.44 29.6 1.94 6 x10 6,20 338 7 99,5 0,14 0,144
6
10-3

-
7 x10
Sand

1.6 100 0.69 0.41 25.5 2.04 6 7,24 8 113 0,12 0,122

-
1.7 106.2 0.59 0.37 21.8 2.07 8 x10
6 8,26 9 127 0,11 0,111
5
-
1.8 112.5 0.5 0.33 18.5 2.13 9 x10 9,30 338 10 142 0,10 0,096
6
10-2

1.9 118.7 0.42 0.3 15.6 2.2 10,33 1 11 156 0,091 0,0887
5 10-5

1,03x10 10 338 12 170 0,083 0,0815


10-4 2
10-1

2.0 125 0.35 0.26 13 2.26 1,03x10 100 13 185 0,077 0,075
10-3 3

2.1 131.2 0.29 0.22 10.6 2.32 1,03x10 1000 14 199 0,073 0,07
5 10-2 4

2.2 137.5 0.23 0.19 8.4 2.39 1,03x10 10000 15 213 0,064 0,065
10-1 5

2.3 143.7 0.17 0.15 6.4 2.45 20 284 0,050 0,0488


5
Gravel

2.4 150 0.13 0.11 4.63 2.51 50 710 0,020 0,0195

2.5 156.2 0.08 0.074 2.96 2.57 100 1420 0,010 9,76x10
-3
5

2.6 162.5 0.03


8 0.037 1.42 2.64 500 7100 0,002 1,95x10
-3

2.7 168.7 0 0 0 2.7 1000 1420 0,001 9,76x10


-4
5 0

Gambar 2.2 Hubungan Koefisien Konsolidasi (Cv) dan Batas Cair


(LL) (After US. Navy)
Gambar 2.3 Hubungan Batas Cair (LL) dan Indeks Plastisitas
(PI) (ASTM, Cassagrande)
2.3.1 Sifat Fisik

Menurut Hardiyatmo (1992), nilai specific gravity (Gs) dari


butiran tanah sangat berperan penting dalam bermacam-macam
keperluan perhitungan mekanika tanah. Nilai specific gravity (Gs)
dapat ditentukan secara akurat dilaboratorium. Nilai-nilai specific
gravity untuk berbagai jenis tanah terdapat pada Tabel 1.

Tabel 2.3. Berat Jenis Tanah


Jenis Tanah Berat Jenis
Kerikil 2,65 – 2,68
Pasir 2,65 – 2,68
Lanau anorganik 2,62 – 2,68
Lanau organik 2,58 – 2,65
Lempung
anorganik 2,68 – 2,75
Humus 1,37
Gambut 1,25 – 1,80
(Sumber: Hardiyatmo, 1992)
Indeks plastistas (PI) merupakan interval kadar air dimana tanah
masih bersifat plastis. Indeks plastisitas menunjukkan sifat keplastisan
tanah. Jika tanah mempunyai nilai PI tinggi, maka tanah mengandung
banyak butiran lempung. Jika tanah mempunyai nilai PI rendah,
seperti lanau, sedikit pengurangan kadar air berakibat tanah menjadi
kering. Batasan mengenai indeks plastisitas, sifat, dan jenis tanah
terdapat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3. Nilai Indeks Plastisitas dan Jenis Tanah

Plasticity Index (PI) Klasifikasi

0 Non - Plastis

1-5 Sedikit plastis

5 - 10 Plastis rendah

10 - 20 Plastis sedang

20 - 40 Plastis tinggi

 40 Sangat tinggi
(Sumber: USCS)

Tanah lempung lunak dapat dikategorikan ke dalam kelompok MH


atau OH berdasarkan system klasifikasi Unified Soil Classification
System yang dikembangkan di Amerika Serikat oleh Casagrande
(1948) terdapat pada Gambar 1. Klasifikasi didasarkan atas prosedur-
prosedur di laboratorium dan di lapangan. Tanah yang menunjukkan
karakteristik dari dua kelompok harus diberi klasifikasi pembatas yang
ditandai simbol yang dipisahkan oleh tanda hubung.
Gambar 2.4 Grafik PI-LL Casagrande untuk klasifikasi tanah berbutir halus
(Ameratunga Et. Al, 2016)

2.3.2 Sifat Mekanis

Uji geser triaksial adalah uji yang dapat dipakai untuk menentukan
parameter tegangan geser (Bowles, 1984). Uji geser triaksial menggunakan
sample tanah berdiameter 1,5 inchi (38,1 mm) dan panjang 3 inchi (76,2 mm).
Sample tanah ditutup dengan membran karet yang tipis dan diletakkan di
dalam sebuah bejana silinder dari bahan plastik atau gelas kemudian bejana
tersebut diisi dengan air atau larutan gliserin. Uji triaksial unconsolidated
undrained, air tidak diperbolehkan mengalir dari contoh tanah. Tegangan air
pori tidak diukur pada percobaan ini. Hanya kekuatan geser unconsolidated
undrained yang dapat ditentukan.

Uji kuat tekan bebas termasuk hal yang khusus dari uji triaksial
unconsolidated undrained (tak terkonsolidasi tak terdrainase). Hasil uji kuat
tekan bebas biasanya tidak begitu meyakinkan bila digunakan untuk
menentukan nilai parameter kuat geser tanah tak jenuh. Kuat geser undrained
dapat dihitung menggunakan Persamaan 1.
𝑠𝑢 = 𝑐𝑢 = 𝑞𝑢/ 2

dimana:

𝑠𝑢 atau 𝑐𝑢 = kuat geser undrained,

𝑞𝑢 = kuat tekan bebas.

Penurunan pada tanah lempung (lunak) membutuhkan waktu yang


lama karena daya rembesan air sangat rendah. Angka pori pada akhir setiap
periode penambahan tekanan dapat dihitung dari pembacaan arloji pengukur
dan kadar air atau berat kering dari contoh tanah pada akhir pengujian.
Penurunan tanah dapat dihitung menggunakan Persamaan 2.

∆𝑒/∆𝐻 = (1 + 𝑒0)/𝐻0

dimana:

∆𝐻 = perubahan tebah tanah selama pengujian,

∆𝑒 = perubahan nilai angka pori selama pengujian,

𝑒0 = angka pori tanah awal,

𝐻0 = tebal contoh tanah pada awal pengujian.

2.3.3 Korelasi untuk Menentukan Parameter Deformasi

Parameter deformasi berdasarkan angka pori dan kadar air terdapat


pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Persamaan-Persamaan Berdasarkan Angka Pori dan Kadar Air


Persamaan Keterangan Sumber
𝐶𝑐 = 0,54 (𝑒𝑜 − 0,35) Semua Lempung Nishida (1956)
Lempung Yunani dan Amerika
𝐶𝑐 = 0,4 (𝑒𝑜 − 0,25) Serikat Azzous (1976)
Lempung Yunani dan Amerika
𝐶𝑐 = 0,01 (𝑤 − 5) Serikat Azzous (1976)
𝐶𝑐 = 0,4049 (𝑒𝑜 −
0,3216) Tanah Kohesif Anorganik Hough (1957)

2.3.4 Korelasi untuk Menentukan Berat Isi dan Kadar Air

Berat isi dan kadar air pada lapisan tanah yang kapasitas daya
dukungnya rendah dan kompresibilitasnya tinggi. Aplikasi yang sama untuk
kadar air (Persamaan 3), berat isi jenuh (Persamaan 4) dan berat isi kering
(Persamaan 5).

𝑤𝑛 = 𝑒/(𝐺𝑠⁄g)

𝛾𝑠𝑎𝑡 = (𝐺𝑠(1 + 𝑤𝑛))/((𝐺𝑠/𝑔)(𝑤𝑛 + 1))

𝛾𝑑 = 𝐺𝑠/(1 + (𝐺𝑠/𝑔)𝑤n)

dimana:

𝑤𝑛 = kadar air tanah,

𝑒 = angka pori tanah,

𝐺𝑠 = berat jenis tanah,

𝑔 = gaya gravitasi bumi,

𝛾𝑠𝑎𝑡 = berat isi tanah jenuh,

𝛾𝑑 = berat isi tanah kering.

2.4 Perencanaan Timbunan


2.4.1 Tinggi Timbunan Pelaksanaan (HR) dan Tinggi Timbunan
Rencana (H)

Tinggi timbunan pelaksanaan (HR) merupakan tinggi dimana tanah


ditimbun saat pelaksanaan untuk mencapai tinggi timbunan rencana (H) sesuai
dengan waktu yang direncanakan. Besarnya tinggi timbunan pelaksanaan
tergantung dari besarnya pemampatan yang terjadi pada tanah dasar. HR dan
H dimodelkan pada Gambar 2.5. Tinggi timbunan pelaksanaan dapat dicari
dengan menggunakan cara grafis dengan mencari titik perpotongan antara
kurva Sc vs HR dan HR-H vs HR., sehingga berlaku persamaan

Sc= H HR

dimana:

Sc : besarnya pemampatan tanah dasar sesuai tinggi timbunan (HR)


(variabel)

HR : tinggi timbunan pelaksanaan (variabel)

H : tinggi timbunan rencana (fixed)

Gambar 2.5 Permodelan HR dan H timbunan

2.4.2 Tinggi Timbunan Kritis (Hcr)

timbunan kritis adalah tinggi dimana stabilitas timbunan memiliki


angka kemanan 1 atau saat timbunan akan mengalami kegagalan. Hcr dapat
dicari dengan menggunakan software analisis geoteknik seperti GeoSlope dan
PLAXIS dengan tujuan mencari tinggi timbunan ketika SF (Safety Factor) =
1.

2.4.3 Timbunan Bertahap

Pelaksanaan timbunan dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu


tertentu dengan tinggi timbunan per tahapnya direncanakan. Setiap tahap
ditimbun lalu dipantau perubahan stabilitas tanah dasarnya. Proses penahapan
timbunan mempertimbangkan tinggi timbunan kritis (Hcr) untuk mencegah
terjadinya kelongsoran. Pelaksanaan timbunan bertahap dapat dilaksanaan
pada Gambar 2.6.

2.4.4 Distribusi dan Perubahan Tegangan Akibat Timbunan Bertahap

imbunan Bertahap Tegangan akan mengalami perubahan akibat


adanya penahapan timbunan per minggu. Setiap tahap timbunan akan
mendistribusikan tegangan yang berbeda-beda ke tanah dasar. n’)

Untuk peninjauan penambahan tegangan yang berubah berdasarkan


waktu umur tahapan timbunan masing-masing dapat dihitung menggunakan
persamaan:
2.5 Penurunan Tanah
Salah satu permasalahan utama pada tanah lunak dalam suatu
pekerjaan konstruksi adalah penurunan tanah yang sangat besar.
Penurunan yang besar tersebut disebabkan oleh penurunan konsolidasi
pada tanah.
Ketika tanah dibebani, maka sama dengan material lain, tanah akan
akan mengalami penurunan. Dalam ilmu Geoteknik, dikenal tiga jenis
penurunan tanah.

1. Penurunan Seketika (immediate Settlement)


2. Penurunsan Konsolidasi (Consolidation Settlement)
3. Penurunan Rangkak/Sekunder (Creep/Secondary Settlement)
 Penurunan seketika merupakan penurunan yang terjadi seketika saat
beban diberikan. Pada tanah jenuh air dan permeabilitas rendah, beban
yang bekerja diterima sepenuhnya oleh tegangan air pori. Pada tanah
dengan permeabilitas tinggi, tegangan air pori yang terjadi muncul
hanya sebentar karena tegangan air pori ini terdisipasi dengan cepat.
Deformasi yang terjadi pada tanah tidak disertai dengan perubahan
volume. Perhitungan untuk penurunan seketika ini didasarkan pada
hukum elastisitas material (contoh, Hukum Hooke).
 Penurunan konsolidasi adalah penurunan pada tanah kohesif yang
diakibatkan terdisipasinya tegangan air berlebih di dalam tanah, dan
akhirnya menghasilkan perubahan dari segi volume. Jenis penurunan
terjadi bersama dengan waktu yang berlalu. Tegangan air pori berlebih
ditransfer menuju partikel tanah menjadi tegangan efektif (σ’= σ-u).
Saat tegangan air pori berlebih ini = 0, penurunan konsolidasi sudah
selesai dan tanah berada dalam keadaan Drained.
 Penurunan sekunder merupakan penurunan yang terjadi setelah
penurunan konsolidasi. Penurunan ini terjadi seiring dengan waktu
berlalu dan biasanya terjadi sangat lama setelah beban mulai bekerja,
dimana partikel tanah mengalami creep. Penurunan ini terjadi saat
semua tegangan air pori berlebih di dalam tanah telah terdisipasi dan
saat tegangan efektif yang terjadi berada dalam keadaan konstan.
Dengan Demikian, penurunan total dari suatu tanah yang dibebani
adalah :
ST = Si + Sc + Ss
ST = Penurunan Total
Si = Penurunan Seketika (Immediate Settlement)
Sc = Penurunan Konsolidasi (Consolidation Settlement)
Ss = Penurunan Sekunder (Secondary Settlement)
Dengan kata lain, Penurunan Sekunder terjadi ketika Penurunan
Konsolidasi
selesai, yaitu pada saat tegangan air pori berlebih, U sama dengan
nol.
Terlihat bahwa penurunan tanah sebagian besar terjadi pada saat
penurunan konsolidasi. Dan fase ini pula, tanah mengalami
peningkatan kekuatan dan stabilitas. Ada dua jenis penurunan
konsolidasi yaitu, Konsolidasi Normal (Normally Consolidated, NC),
dan Konsolidasi Berlebih (Over Consolidated, OC). Berdasarkan
teori Terzaghi, tentang konsolidasi satu dimensi, penurunan
konsolidasi untuk konsolidasi normal dapat dihitung dengan
persamaan berikut :

Sc =

Dimana :
Sc = Penurunan konsolidasi (m)
Cc = Nilai Compression Index
e0 = Void Ratio awal
H = Tinggi tanah terkonsolidasi (m)
σz0 = Tegangan tanah awal (kg/m2)
σzf = Tegangan tanah akhir, yaitu tegangan tanah awal + tegangan
akibat beban luar (σzf = σz0 + Δσz) (kg/m2)
Sedangkan untuk kondisi konsolidasi berlebih, penurunan
dapat dihitung dengan persamaan berikut :

Sc =

Dimana :
σzc = Preconsolidation Pressure (kg/m2)
Penurunan juga bias dihitung dengan menggunakan koefisien
kompresibilitas volume (mv). Koefisien kompresibilitas volume
adalah tegangan volumetric dalam tanah lempung per pertambahan
unit dalam tekanan.

Tegangan Volumetrik =

mv =

Maka, rumus penurunan konsolidasi menjadi :


Sσ = mv.Δσ.H0

2.6 PVD (Prefabricated Vertical Drain)


PVD (prefabricated Vertical Drain) merupakan salah satu produk
Geosintetik yang berfungsi sebagai pengalir air (Drainage). PVD
merupakan material komposit yang terdiri dari inti dan penyaring. PVD
berfungsi untuk mempercepat proses konsolidasi tanah, terutama pada
jenis tanah lempung atau lanau. PVD di tanam secara vertical kedalam
tanah untuk mengalirkan air dari lapisan tanah lunak kepermukaan. Proses
konsolidasi terjadi pada tanah yang mempunyai kemampumampatan yang
tinggi (Compressible Soil). Oleh karena PVD berfungsi untuk
mempercepat proses konsolidasi maka PVD dipasang sepanjang tebal
lapisa tanah yang mempunyai kemampumampatan yang tinggi saja.
(Perbaikan Tanah Lempung Lunak Metoda Preloading pada
Pembangunan Infrastruktur Transportasi di Pulau Kalimantan, 2016).

Pemasangan vertical drain bertujuan untuk mempercepat waktu


pemampatan. Hal ini dikarenakan pemampatan konsolidasi yang terjadi
pada tanah lempung berlangsung sangat lambat. Dengan adanya vertical
drain maka air pori tanah tidak hanya mengalir keluar ke arah vertikal
saja, tetapi juga ke arah horizontal seperti yang ditunjukkan pada Gambar
2.7

Salah satu jenis vertical drain adalah Prefabricated Vertical Drain (PVD).
PVD terbuat dari bahan geosintetik yang diproduksi di pabrik. Bahan ini
dapat mengalirkan air dengan baik, namun masa efektif kerja bahan ini
hanya 6 bulan. PVD lebih umum dipakai di lapangan dibandingkan
dengan kolom pasir karena kolom pasir pemasangannya jauh lebih rumit
dan juga lebih mahal. Waktu konsolidasi yang dibutuhkan dengan
menggunakan vertical drain menurut Barron (1948) adalah
dimana:

t = waktu yang diperlukan untuk mencapai Uh

D = diameter ekivalen dari daerah pengaruh PVD

D = 1,13 x S, untuk pola susunan segiempat,

D = 1,05 x S, untuk pola susunan segitiga

Ch = keofisien konsolidasi akibat aliran air arah radial

Uh = derajat konsolidasi tanah akibat aliran air arah radial

Nilai Ch dapat dicari dengan persamaan berikut:

dimana:

Cv = koefisien konsolidasi

kh = koefisien permeabilitas horizontal

kv = koefisien permeabilitas vertikal

kh/kv dapat dicari menggunakan Tabel 4

Tabel 2.5. Nilai kh/kv


Waktu konsolidasi dipengaruhi oleh pola pemasangan PVD. Pola
pemasangan PVD dapat berbentuk segiempat maupun segitiga seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 2.8 dan Gambar 2.9

Gambar 2.8. Pemasangan PVD Pola Segiempat


Gambar 2.9. Pemasangan PVD Pola Susunan Segitiga
2.7 Stone Column
Stone Column merupakan upaya penggalian yang dilakukan untuk
mengganti sebagian tanah yang akan digunakan sebagai dasar konstruksi
dengan kolom vertical yang dipadatkan. Fungsi utama pemasangan Stone
Column adalah untuk meningkatkan daya dukung tanah yang kurang baik
sehingga dapat menerima beban yang lebih besar dan Settlementyang
terjadiakan berkurang. Menurut Barksdale dan Banchus, 1982 selain untuk
meningkatkan daya dukung tanah, fungsi lain dari Stone Column adalah :
1. Mengurangi total settlement tanah
2. Memperpendek waktu konsolidasi
3. Mengurangi bahaya Liquefaction
Dalam perencanaan Stone Column banyak hal – hal yang
dipertimbangkan, antara lain :
1. Diameter Stone Column
2. Area Replacement Ratio
3. Jarak Stone Column
4. Konsentrasi tegangan
5. Smear Zone
Smear Zone merupakan daerah terganggu akibat dari instalasi
pemasangan Stone Column itu sendiri. Efek Smear Zone adalah
berkurangannya nilai koefisien untuk tanah lempung didekat Stone
Column atau diameter Stone Column yang digunakan diperkecil, hal ini
disebabkan proses peremasan selama pemasangan Stone Column.
(Pemodelan Numerik pada Perbaikan Tanah menggunakan Stone Column
di Tanah Lempung Lunak di bawah Tanah Timbunan, 2016).

BAB 3
METODE PENELITIAN
Sebelum memulai tahap perhitungan korelasi dilakukan studi literatur sebagai
referensi untuk mengetahui nilai yang ditetapkan dalam perhitungan korelasi untuk
perbaikan tanah lunak untuk pembangunan Bandar udara di Kalimantan Timur.
Adapun data korelasi yang dipakai untuk perhitungan perbaikan tanah lunak
adalah sebagai berikut :
1. Data korelasi sat
2. Data korelasi 
3. Data korelasi c
4. Data korelasi cu
5. Data korelasi e0
6. Data korelasi cc
7. Data korelasi cs
8. Data korelasi cv
3.1 Bagan Alir
Mulai

Tinjauan pustaka

Data :
Data tanah
Data topografi

 Perhitungan Penurunan
Perencanaan Timbunan
Konsolindsi

 Perencanaan Pulmat  Perencanaan Pulmat


PVD Stone Colm

RAB

Selesai

3.2 Penjelasan Bagan Alir


3.3.1 Tinjauan Pustaka
Studi literatur dalam sebuah perencanaan mempunyai tujuan yaitu
mengumpulkan referensi yang diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang
menyeluruh tentang perencanaan perbaikan tanah lunak pada proyek
pembangunan jalan. Adanya referensi akan mempermudah dan membantu
dalam penyelesaian perencanaan tugas akhir ini. Referensi yang ada bisa
didapatkan dari berbagai macam sumber, dimulai dari diktat kuliah, bukubuku
yang berhubungan dengan perencanaan, jurnal juga dari internet.
3.3.2 Pengumpulan Data
Data-data yang dipakai dalam perencanaan ini adalah data sekunder yang
didapat dari instansi terkait atau hasil survey. Beberapa data yang diperlukan
dalam proses perhitungan antara lain:
 Lokasi pembangunan bandar udara kalimantan grogot

 Lokasi Rencana Pembangunan Runway

 Layout Bandara Paser

 Detail Potongan Melintang Runway

 Topografi Lahan

 Bor Hole No. BH-01 - Hole No. BH-03

3.3.3 Perhitungan Penurunan Konsolidasi

Dalam perencanaan ini, hal pertama yang dilakukan adalah dengan


menentukan parameter tanah dari hasil pengujian tanah di lapangan.
Parameter–parameter tanah yang digunakan dalam perencanaan adalah
menggunakan pendekatan/korelasi berdasarkan data tanah lapangan. Analisis
visual adalah analisis pertama yang dilakukan untuk mendeskripsikan sifat
tanah dan jenis lapisan tanah yang divisualisasikan ke dalam bentuk statigrafi
tanah. Data tersebut selanjutnya digunakan untuk merencanakan preloading
dan perkuatan lereng timbunan. Adapun tahapan perencanaan preloading
adalah sebagai berikut:

 Perhitungan sistem penimbunan bertahap dengan pembebanan awal


(Hinitial, Hfinal)
 Perhitungan besar dan waktu penurunan / pemampatan (settlement)
 Perhitungan daya dukung tanah (stablilitas terhadap puncture)
 Analisis kelongsoran timbunan (stabilitas terhadap rotational)
 Perhitungan angka keamanan (safety factor)

3.3.4 Perencanaan Timbunan

Penimbunan bertahap direncanakan dengan menentukan jadwal pentahapan


beban pre-loading sesuai kenaikan daya dukung. Penimbunan akan dilakukan
dengan kecepatan penimbunan tertentu dengan tetap mengontrol daya
dukungnya.

3.3.5 Perencanaan Perbaikan dan Perkuatan Tanah

Perkuatan tanah dasar dalam metodologi ini adalah alternatif yang pada
akhirnya selalu di cek angka kemananannya yakni menggunakan preloading
3.3.6 Perencanaan Pulmat PVD

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses


pemampatan tanah adalah dengan memperbesar permeabilitas tanah dengan
menggunakan vertical drain, dalam perhitungan PVD akan didapat:

 Pola pemasangan PVD

 Kedalaman PVD

 Jarak Antar PVD

3.3.7  Perencanaan Pulmat Stone Colm

3.3.8 RAB

3.3.9 kESIMPULAN

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.1 Data
Pada perencanaan pembangunan Bandar udara di kabupaten paser, tanah
grogot Kalimantan timur. Adapun data-data yang diperoleh dari panitia untuk
pernbaikan tanah untuk pembangunan Bandar udara internasional di Kalimantan
timur adalah sebagi berikut.

Gambar 4.1 Lokasi pembangunan bandar udara kalimantan grogot

Gambar 4.2 Lokasi Rencana Pembangunan Runway


Gambar 4.3 Layout Bandara Paser

Gambar 4.4 Detail Potongan Melintang Runway


Gambar 4.5 Topografi Lahan
Gambar 4.6 Bor Hole No. BH-01
Gambar 4.7 Bor Hole No. BH-02
Gambar 4.8 Bor Hole No. BH-03
1.2 Analisis Geoteknik Tanah Dasar
Data tanah yang di kasih dari panitia yaitu BH-01, BH-02 dan BH-03. Dari data
tanah yang diperoleh dari panitia dilakukan perhitungan korelaasi parameter tanah
yang dibutuhkan sebagai berikut :

4.2.1 Korelasi berat volume tanah ()


Nilai berat volume tanah () ditentukan menggunakan interpolasi
berdasarkan data SPT tanah menggunakan tabel NSPT dan korelasinya
menurut Bowles (1984) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.1. Lapisan
tanah dengan NSPT < 4, berat volume tanah dicari menggunakan
persamaan menurut (Wahyudi dan Lastiasih, 2007)
sat = 0,08 N + 1,47
d = 0,09 N + 0,78
Contoh perhitungan korelasi berat volume tanah () untuk tanah
dasar lapisan 1.
N=3
sat = 0.08 x 3 + 1.47 = 1.48 t/m3
d = 0.09 x 3 + 0.78 = 1.05 t/m3
Hasil korelasi berat volume tanah () untuk setiap lapisan tanah BH-01
ditunjukkan pada Tabel 4.1.

Kedalaman (m) NSPT  (kN/m3)


0 - 2 3 14.9
2 - 4 1 14.8
4 - 6 1 14.8
6 - 8 4 15.1
8 - 10 6 15.4
10 - 12 4 15.1
12 - 14 5 15.2
14 - 16 5 15.2
16 - 18 10 16.2
18 - 20 11 16.8
20 - 22 18 18.3
22 - 24 42 22.0
24 - 26 47 22.0
26 - 28 57 22.0
28 - 30 60 22.0
30 - 32 49 22.0
32 - 34 52 22.0
34 - 36 56 22.0
36 - 38 59 22.0
38 - 40 60 22.0
Hasil korelasi berat volume tanah () untuk setiap lapisan tanah BH-02
ditunjukkan pada Tabel 4.2.
Kedalaman (m) NSPT  (kN/m3)
0 - 2 1 14.8
2 - 4 1 14.8
4 - 6 1 14.8
6 - 8 1 14.8
8 - 10 3 14.9
10 - 12 4 15.1
12 - 14 4 15.1
14 - 16 6 15.4
16 - 18 8 15.8
18 - 20 15 17.6
20 - 22 18 18.3
22 - 24 27 19.4
24 - 26 31 19.4
26 - 28 32 19.5
28 - 30 32 19.5
30 - 32 38 19.9
32 - 34 40 22.0
34 - 36 49 22.0
36 - 38 51 22.0
38 - 40 57 22.0

Hasil korelasi berat volume tanah () untuk setiap lapisan tanah BH-03
ditunjukkan pada Tabel 4.3.

Kedalaman (m) NSPT  (kN/m3)


0 - 2 1 14.8
2 - 4 1 14.8
4 - 6 1 14.8
6 - 8 4 15.1
8 - 10 3 14.9
10 - 12 3 14.9
12 - 14 6 15.4
14 - 16 12 16.9
16 - 18 15 17.6
18 - 20 17 17.9
20 - 22 18 18.3
22 - 24 60 22.0
24 - 26 62 22.0
26 - 28 65 22.0
28 - 30 60 22.0
30 - 32 46 22.0
32 - 34 48 22.0
34 - 36 50 22.0
36 - 38 61 22.0
38 - 40 69 22.0

4.2.2 Korelasi Nilai Sudut Geser dalam Tanah (


Sudut geser dalam tanah () untuk tanah lunak (lanau)
diambil sesuai nilai NSPT setiap lapisan tanah, sedangkan untuk
tanah pasir menggunakan Tabel 2.1 berdasarkan berat volume
tanah. Contoh korelasi nilai sudut geser dalam tanah () untuk
tanah dasar lapisan 1:
N=0
  0
Hasil korelasi sudut geser dalam tanah () untuk setiap lapisan
tanah ditampilakan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Hasil Korelasi Sudut Geser Dalam Tanah () BH-01
Kedalaman (m) NSPT () (◦)
0 - 2 3 3
2 - 4 1 1
4 - 6 1 1
6 - 8 4 4
8 - 10 6 6
10 - 12 4 4
12 - 14 5 5
14 - 16 5 5
16 - 18 10 10
18 - 20 11 11
20 - 22 18 18
22 - 24 42 42
24 - 26 47 35
26 - 28 57 40
28 - 30 60 40
30 - 32 49 49
32 - 34 52 52
34 - 36 56 56
36 - 38 59 59
38 - 40 60 60

Tabel 4.3 Hasil Korelasi Sudut Geser Dalam Tanah () BH-02
Kedalaman (m) NSPT () (◦)
0 - 2 1 1
2 - 4 1 1
4 - 6 1 1
6 - 8 1 1
8 - 10 3 3
10 - 12 4 4
12 - 14 4 4
14 - 16 6 6
16 - 18 8 8
18 - 20 15 15
20 - 22 18 18
22 - 24 27 27
24 - 26 31 31
26 - 28 32 32
28 - 30 32 32
30 - 32 38 38
32 - 34 40 40
34 - 36 49 49
36 - 38 51 52
38 - 40 57 40

Tabel 4.2 Hasil Korelasi Sudut Geser Dalam Tanah () BH-03

Kedalaman (m) NSPT () (◦)


0 - 2 1 1
2 - 4 1 1
4 - 6 1 1
6 - 8 4 4
8 - 10 3 3
10 - 12 3 3
12 - 14 6 6
14 - 16 12 12
16 - 18 15 15
18 - 20 17 17
20 - 22 18 18
22 - 24 60 60
24 - 26 62 62
26 - 28 65 40
28 - 30 60 40
30 - 32 46 40
32 - 34 48 40
34 - 36 50 50
36 - 38 61 61
38 - 40 69 69

4.2.3 Korelasi Undrained Shear Strength (cu)


Untuk mendapatkan nilai undrained shear strength (cu)
digunakan korelasi cu menurut Terzaghi dan Peck berdasarkan
NSPT. Untuk cu dengan SPT = 0, diambil sebesar 5-8 kPa.
lempung plastis, cu = 12.5 N
lempung berlanau, cu = 10 N
lempung berpasir, cu = 6.5 N
secara nilai umum cu = 0.6 N
pasir cu = 0 N

Contoh korelasi undrained shear strength (cu) untuk tanah


dasar lapisan 1.

N=3
cu = 12.5 x (3) = 37.5 t/m3