Anda di halaman 1dari 175

PERLAKUAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM

PERSPEKTIF SOSIOLOGI (Studi Kasus di Sekolah Inklusi


SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang)

TREATMENT OF CHILDREN WITH SPECIAL NEEDS IN


SOCIOLOGY PERSPECTIVE (Case Study at Incubation School
of SMP Negeri 1 Alla Enrekang District)

HASTUTI

P1600215002

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
PERLAKUAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM
PERSPEKTIF SOSIOLOGI (Studi Kasus di Sekolah Inklusi
SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang)

HASTUTI

P1600215002

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

i
PERLAKUAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM
PERSPEKTIF SOSIOLOGI (Studi Kasus di Sekolah Inklusi
SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang)

Tesis
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Magister

Program Studi
Sosiologi

Disusun dan Diajukan Oleh


HASTUTI

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANAUDDIN
MAKASSAR
2018

ii
iii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : HASTUTI

Nomor mahasiswa : P1600215002

Program Studi : SOSIOLOGI

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini


benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan
pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian
hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis
ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan
tersebut.

Makassar, Februari 2018

Yang menyatakan

Hastuti

iv
PERSEMBAHAN

Untuk Bapak dan Ibunda tercinta

v
PRAKATA

Bismillahirrahmanirrahim, segala puji serta syukur penulis haturkan

ke hadirat Ilahi Robbi atas segala rahmat dan hidayahnya, sehingga tesis

ini bisa terselesaikan seperti yang ada di tangan pembaca. Tidak lupa

salam dan salawat selalu dipanjatkan kepada baginda Nabi Muhammad

SAW, Nabi yang menghantarkan umatnya dari zaman keterpurukan

menuju zaman terang benderang.

Tesis penulis berjudul Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus

dalam Perspektif Sosiologi (Studi Kasus di Sekolah Inklusi SMP

Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang) dibuat sebagai salah satu syarat

untuk menyelesaikan pendidikan magister di program studi sosiologi

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Hasanuddin. Dimana terpaut suatu

harapan untuk mengasah kemampuan diri agar menjadi bermanfaat pada

masyarakat.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa

hormat dan ucapan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah

sangat membantu dalam penyelesaian tesis ini, yakni kepada:

1. Ayahanda tercinta, Alex dan ibunda, Jaharia yang selalu menghujani

ananda dengan cinta kasih, doa, motivasi, semangat dan pengorbanan

materiil. Setiap titik keringat tidak akan pernah bisa tergantikan oleh

apapun. Tidak ada kata yang cukup menggambarkan betapa bahagia

dan bersyukur ananda menjadi bagian dari darah daging kalian.

vi
2. Prof. Dr. Maria E. Pandu, MA (Almarhuma), selaku pembimbing 1 dan

Dr. H. Suparman Abdullah, M.Si diamanahkan sebagai pembimbing 2.

Keduanya telah banyak meluangkan waktu dan pikiran untuk memberi

pengarahan sekaligus saran-saran yang memperkaya tesis ini.

3. Dr. M. Ramli AT., M.Si, Dr. Mansyur Radjab, M.Si dan Dr. Rahmat

Muhammad, M.Si, yang masing-masing diamanahkan sebagai penguji

dalam sidang tesis ini. Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak luput

dari beberapa kekurangan, karena itu pula beragam saran dan kritik

yang membangun dari penguji menjadi vitamin dalam perbaikan dan

pengembangan tesis ini.

4. Dr. H. Suparman Abdullah, M.Si selaku ketua jurusan pascasarjana

sosiologi, sekaligus menjadi pembimbing 2 yang telah memberikan

arahan dan menyediakan waktu dengan sikap yang ramah untuk

mendukung kelancaran dari penyelesaian tesis ini.

5. Para dosen pengajar di Pascasarjana Sosiologi yang telah bersedia

memberikan ilmu dan perhatiannya.

6. Segenap staff administrasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang

dengan keramahan dan pelayanan terbaiknya menghadapi penulis.

7. Seluruh informan yang telah memberikan banyak informasi terkait

permasalahan yang diteliti oleh penulis. Segala suka duka serta

keterbukaan terhadap penulis menjadi pengetahuan yang mampu

memompa semangat bagi penulis dan semoga begitu pula pihak-pihak

yang membaca tesis ini.

vii
8. Sahabat dan teman seperjuangan yang tidak mampu disebutkan satu

persatu terimakasih selalu memotivasi, membantu, menyemangati

dengan nasehatnya, penulis bersyukur dipertemukan dengan kalian.

9. Terakhir, kepada Agung, Leo (alm), Ausi, Arul, Lenny dan adik bungsu

Nurul Sakinah. Saudara yang selalu melindungi, membantu dan

menghargai keterbatasan tanpa pernah meremehkan. Kalian adalah

saudara terbaik pernah saya miliki. Terima kasih atas kepercayaan dan

cintanya. Tak lupa pula kepada kakak tercinta Abdul Dudi, ST,

terimakasih selalu setia jadi pendengar yang baik dan nyaring dengan

nasehat serta motivasinya.

Akhir kata, dengan segala keterbatasan dan kerendahan hati,

penulis mempersembahkan tesis ini kepada khalayak pembaca. Semoga

karya sederhana ini mampu memberikan pengetahuan, serta bermanfaat

dalam perbaikan sumber daya manusia, melahirkan insan-insan yang

saling menebar kebaikan dalam beragam perbedaan.

Makassar, Januari, 2018

Hastuti

viii
ABSTRAK

Hastuti. Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Perspektif Sosiologi


(Studi Kasus di Sekolah Inklusi SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang),
dibimbing oleh Maria E. Pandu dan Suparman Abdullah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan yang diterima anak


berkebutuhan khusus dalam keluarga, masyarakat dan sekolah.
Metode penelitian yang digunakan adalah model penelitian kualitatif dengan
teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terbatas, wawancara
mendalam dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus mendapat
perlakuan bervariasi. Dalam keluarga, anak mendapat perlakuan baik berupa
diterima keberadaannya, dipenuhi kebutuhannya, diberi pendidikan, kasih
sayang, dibekali ilmu agama serta diajarkan nilai dan norma berlaku di
masyarakat. Perlakuan salah seperti pelabelan negatif, sering dibentak dan
dimarahi serta dibebani banyak pekerjaan rumah. Di lingkungan masyarakat,
keberadaan mereka diterima sebagai anggota. Tetapi, anak sering menjadi
bahan ejekan, tidak diikutsertakan dalam kegiatan kemasyarakatan dan tidak
disediakan layanan sosial di lingkungan masyarakat. Di sekolah, kehadiran
mereka diterima sebagai amanah untuk meningkatkan mutu pendidikan
semua anak. Anak berkebutuhan khusus berada di kelas bersama anak
normal mendapat perlakuan sama dalam metode pembelajaran dan
kurikulum yang diajarkan. Evaluasi hasil belajar tidak hanya berfokus pada
hasil ulangan dan tugas tapi juga dilihat dari perkembangan pengetahuan
anak, kehadiran, kerajinan dan kesopanan. Sekolah juga dilengkapi ruang
sumber dan jalanan khusus pengguna kursi roda. Namun, kurangnya
pengetahuan mengenai anak menjadikan guru tidak siap dalam menghadapi
anak berkebutuhan khusus dalam kelas Sehingga pembelajaran yang
diberikan menjadi tidak maksimal.
Kata kunci: anak berkebutuhan khusus, keluarga, masyarakat, perlakuan,
sekolah

ix
ABSTRACT

Hastuti. Treatment of Children with Special Needs in Sociology Perspective


(Case Study at Incubation School of SMP Negeri 1 Alla Enrekang District),
guided by Maria E. Pandu and Suparman Abdullah.

This study aims to determine the treatment received by children with special
needs in the family, community and school.
The research method used is a qualitative research model with data
collection techniques done through observation, in-depth interviews and
documentation.
The results showed that children with special needs received varying
treatment. In the family, the child gets a good treatment in the form of
acceptable existence, filled with his needs, given education, compassion,
equipped with religious knowledge and taught values and norms apply in the
community. False treatments such as negative labeling, often snapped and
scolded and loaded with many homework. In the community, their existence
is accepted as a member. However, children are often the subject of ridicule,
not included in community activities and not provided social services in the
community. At school, their presence is accepted as a mandate to improve
the quality of education of all children. Children with special needs in the
classroom with normal children are treated equally in the method of learning
and the curriculum being taught. Evaluation of learning outcomes not only
focuses on the results of repetition and task but also seen from the
development of children's knowledge, presence, crafts and courtesy. The
school also features a special source room and street wheelchair users.
However, the lack of knowledge about the child makes the teacher is not
ready in the face of children with special needs in the class So that the lesson
given is not maximal.

Keywords: children with special needs, family, community, treatment, school

x
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGAJUAN ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS iv
PERSEMBAHAN v
PRAKATA vi
ABSTRAK ix
ABSTRACT x
DAFTAR ISI xi
DAFTAR TABEL xiv
DAFTAR GAMBAR xv
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 8
C. Tujuan Penelitian 8
D. Manfaat Penelitian 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 10

A. Anak Berkebutuhan Khusus 10


B. Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus 19
1. Perlakuan Keluarga Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus 25
2. Pelakuan Masyarakat Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus 33
3. Perlakuan Sekolah Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus 36
C. Kerangka Teori 40
1. Teori Interaksionisme Simbolik 40
2. Teori Sosialisasi 44

xi
3. Teori Ekologi Perkembangan 47
D. Kerangka Konseptual 50

BAB III METODE PENELITIAN 53

A. Pendekatan Jenis Penelitian 53


B. Lokasi Penelitian 54
C. Sumber Data 55
D. Teknik Pengumpulan Data 57
E. Teknik Analisis Data 59
F. Keabsahan Data 60

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 61

A. Gambaran Lokasi Penelitian 61


1. Profil Sekolah SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang 61
2. Sarana dan Prasarana SMP Negeri 1 Alla 64
3. Struktur Organisasi SMP Negeri 1 Alla 68
B. Hasil Penelitian 67
1. Profil Anak Berkebutuhan Khusus 69
2. Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Keluarga 72
a) Penerimaan Anak 95
b) Cara Penanganan Anak 99
c) Penerapan Fungsi Keluarga dalam Memberi Perlakuan 102
d) Perlakuan Salah 109
3. Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Masyarakat 112
a) Sikap masyarakat 121
b) Pengikutsertaan dalam kegiatan masyarakat 123
c) Interaksi masyarakat dengan anak 125
d) Ketersediaan layanan dan sarana prasarana ramah anak 126
4. Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah 127

xii
a) Sikap pendidik/guru 143
b) Evaluasi Hasil Belajar 146
c) Metode/Proses belajar mengajar 147
BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 149
B. Saran 150

DAFTAR PUSTAKA 152

xiii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1. Matriks Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus


dalam Keluarga 92

Tabel 4.2. Matriks Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus


dalam Masyarakat 120

Tabel 4.3. Matriks Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus


di Sekolah 142

xi
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Skema Kerangka Konseptual Penelitian 52

Gambar 2. Ruang Inklusif 65

Gambar 3. Jalanan Pengguna Kursi Roda 66

Gambar 4. Struktur Organisasi SMPN 1 Alla 68

Gambar 5. Anak Berkebutuhan Khusus Mengikuti Ulangan 146

Gambar 6. Anak Berkebutuhan Khusus Mengikuti Ulangan 147

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak adalah titipan Tuhan yang diharapkan kelak menjadi generasi

penerus bangsa. Pada kenyataannya, setiap anak mempunyai kelebihan

dan kekurangan masing-masing. Ada anak terlahir secara normal dan

tumbuh serta berkembang dengan normal, akan tetapi ada juga yang

terlahir sebagai anak tidak normal karena memiliki keterbatasan dan

gangguan baik secara fisik, mental, sosial maupun psikologis. Namun di

balik kekurangan yang dimiliki, bukan berarti mereka tidak memiliki minat

dan bakat.

Tidak ada orang tua mendoakan anaknya terlahir sebagai anak

berkebutuhan khusus (ABK). Kehadiran anak berkebutuhan khusus dalam

keluarga cenderung menimbulkan ketegangan dalam keluarga. Orangtua

pada umumnya akan mengalami perasaan bersalah dan menunjukkan

mekanisme pertahanan diri atau bahkan merasakan kecewa yang

mendalam. Akibat dari stres dan ketegangan seperti itu bisa saja orang

tua menolak kehadiran anak tersebut atau memberikan perlindungan

sangat berlebihan kepadanya (Sudrajat dan Rosida, 2013: 35-36).

Keberadaan anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam masyarakat

tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai individu, mereka

juga berhak mendapat perlakuan sama dengan anak-anak normal dalam

1
memperoleh kebahagiaan hidup serta tumbuh dan berkembang dalam

lingkungan yang kondusif termasuk akses yang sama dalam mengenyam

pendidikan. Di berbagai tempat, anak berkebutuhan khusus cenderung

termarjinalkan dari lingkungannya. Ada yang mengalami penolakan dari

orang-orang di sekitar tempat tinggalnya dan beberapa bahkan tidak

diterima di dalam keluarganya sendiri. Selain itu, beragam perlakuan pun

didapatkan anak berkebutuhan khusus.

Tuntutan akan adanya persamaan serta kesempatan yang sama

dalam memperoleh pendidikan bahkan diatur dalam UUD 1945, seperti

yang tertuang pada Pasal 31 ayat (1): “Tiap-tiap warga negara berhak

mendapat pengajaran”. Secara rinci lagi dijelaskan dalam Undang-

Undang Nomor 2 Tahun 1989 Pasal 5 yang berbunyi: “Setiap warga

negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan” dan

dalam Pasal 8 yang berbunyi: “Warga negara yang memiliki kelainan fisik

dan/ mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa” (Hasbullah, 2013:

146).

Pembangunan sekolah-sekolah luar biasa (SLB) di berbagai

daerah menjadi alternative untuk memberikan akses pendidikan kepada

anak berkebutuhan khusus (ABK). Sistem pendidikan ini merujuk pada

penyediaan fasilitas untuk melayani anak berdasarkan jenis dan tingkat

kekhususannya. Tenaga pengajarnya adalah guru-guru yang memang

sudah punya pengetahuan tentang penanganan anak berkebutuhan

khusus, jadi mereka tidak akan kebingungan dan bisa memperlakukan

2
anak berkebutuhan khusus dengan baik. Program pembelajarannya

mencakup hal-hal berhubungan dengan apa yang diperlukan anak dalam

kehidupan sehari-hari agar dapat mengurus diri tanpa terlalu bergantung

kepada orang lain.

Seiring waktu, pendidikan bersifat segregatif dinilai menghambat

proses interaksi sosial antara anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan

masyarakat sekitarnya. Kebanyakan anak-anak berkebutuhan khusus

bersekolah di sekolah khusus yang jauh dari keluarga, sahabat dan teman

sebaya mereka. Hal ini mengakibatkan mereka merasa tercerabut dari

dinamika sosialnya.

Pemisahan pendidikan juga mengakibatkan masyarakat menjadi

asing tentang kehidupan anak berkebutuhan khusus dan selalu

menganggap mereka berbeda, sementara kepercayaan diri anak

berkebutuhan khusus untuk bersosialisasi dengan orang lain menjadi

berkurang dan timbul perasaan tidak aman karena selalu merasa

keberadaannya bukan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat di

sekelilingnya.

Llyod Dunn (Smith, 2015: 42) menekankan bahwa memberikan

label kepada anak untuk ditempatkan di kelas-kelas khusus membuat

suatu stigma yang sangat destruktif bagi konsep diri mereka. Pemindahan

ini memberikan pengaruh sangat signifikan pada perasaan dan problem

penerimaan diri. Pemberian label anak berkebutuhan khusus dapat dilihat

sebagai bentuk diskriminasi karena label ini bisa membentuk persepsi

3
masyarakat bahwa anak berkebutuhan khusus adalah sekumpulan

manusia yang dikategorikan sebagai manusia tidak normal.

Kecacatan tidak seharusnya menjadi alasan yang menghalangi

anak berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan sama dengan anak

normal dalam berbagai segi kehidupan, apalagi setiap anak memiliki

potensi berbeda-beda dan bisa dikembangkan lebih dari sekedar

kemampuan menolong dan mengurus diri sendiri. Adanya tuntutan pada

pemerintah untuk memberikan akses sama untuk memperoleh pendidikan

dan pengajaran dalam sebuah lingkungan sama dengan orang lain tanpa

memandang hambatan dimiliki mendorong pemerintah mengeluarkan

sebuah deklarasi tentang Indonesia Menuju Pendidikan Inklusif di

Bandung pada tahun 2004.

Deklarasi ini memuat adanya hak dalam berbicara, berpendapat,

memperoleh pendidikan, kesejahteraan, kesehatan bagi anak berkelainan

dan anak berkebutuhan khusus sebagaimana dijamin oleh UUD 1945.

Mereka mendapatkan hak dan kewajiban secara penuh sebagai warga

Negara dalam memperoleh pendidikan bermutu dan berperan aktif dalam

kehidupan masyarakat sebagaimana tertuang dalam Deklarasi Universal

Hak Asasi Manusia (1948), diperjelas oleh Konvensi Hak Anak (1989),

Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (1990), Pernyataan

Standar Kesetaraan Kesempatan untuk Orang Penyandang Kecacatan

(1993), Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi UNESCO (1994),

Undang-Undang Penyandang Kecacatan (1997), Kerangka Aksi Dakar

4
(2000), UU RI No. 23 tentang Perlindungan anak (2002), Undang-

Undang RI Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional (2003) dan

Deklarasi Kongres Anak Internasional (2004). Dokumen-dokumen

deklarasi di atas merupakan awal dari munculnya konsep pendidikan

inklusi (Smith, 2015: 443).

Pendidikan inklusi merupakan suatu sistem layanan pendidikan

khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus

dilayani di sekolah terdekat, di dalam kelas biasa bersama teman-teman

seusianya (Praptiningrum, 2010: 34). Pendidikan inklusi pada dasarnya

bertujuan untuk merangkul semua siswa tanpa memandang latar

belakang dan kondisi ke dalam satu sistem sekolah untuk menemukan

dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh siswa beragam

tersebut.

Penyatuan ini diharapkan mampu mendorong toleransi antar siswa

serta mengurangi stigma negatif terhadap anak berkebutuhan khusus

sehingga perlakuan negatif seperti penolakan dan diskriminasi terhadap

anak dalam pergaulan bisa diminimalisir. Dalam penyelenggaraannya,

diperlukan juga dukungan dari tenaga kependidikan, sarana pendukung,

serta kurikulum khusus dikolaborasikan dengan kurikulum sekolah regular

sehingga anak mampu pengembangan potensinya lebih lagi.

Pendidikan Inklusif sendiri sudah mempunyai payung hukum yang

tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik

Indonesia Nomor 70 Tahun 2009. Dimana dalam pelaksanaannya,

5
beberapa sekolah ditunjuk oleh Pemerintah untuk menerapkan sistem

Sekolah Inklusif di daerahnya masing-masing. Penerapan ini menemui

hambatan dikarenakan persebaran anak-anak berkebutuhan khusus tidak

berfokus pada satu lokasi. Sehingga pada akhirnya muncul peraturan

bahwa sekolah tidak boleh menolak anak berkebutuhan khusus yang

mendaftar di sekolah umum.

Pada tahun 2011, jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia

yang tercatat mencapai 1.544.184 anak. Berdasarkan data dari Direktorat

Pembinaan PK-LK Dikdas tahun 2010 angka partisipasi murni ABK untuk

jenjang pendidikan dasar baru mencapai 30 persen. Artinya, masih

terdapat 70 persen ABK yang belum mengenyam pendidikan di sekolah,

baik sekolah khusus ataupun sekolah inklusif. Kondisi ini menggambarkan

seriusnya persoalan pada anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga

perlu dicarikan solusi bagaimana agar mereka dapat memperoleh hak

atas pendidikan yang sesuai (Handayani dan Rahadian, 2013: 29).

Penerapan sekolah inklusi dilakukan di berbagai Provinsi dan

Kabupaten di Indonesia. Secara spesifik, bisa ditemukan di Kabupaten

Enrekang khususnya di SMP Negeri 1 Alla. Sekolah ini bersama dengan

beberapa sekolah lain di Kabupaten Enrekang ditunjuk pemerintah

setempat sebagai sekolah inklusi di Kabupaten Enrekang. Namun,

berdasarkan hasil observasi peneliti menemukan hanya beberapa sekolah

yang bersedia ditunjuk sebagai sekolah inklusi. Kebanyakan merasa

belum siap untuk menerima semua anak berkebutuhan khusus di sekolah

6
umum karena terkendala pada tenaga pengajar, kurikulum dan sarana

prasarana yang bisa diakses oleh semua anak berkebutuhan khusus.

Sekolah-sekolah di Kabupaten Enrekang mulai di resmikan sejak

tahun 2015. Namun, sejauh ini masih banyak mengalami kendala.

Berdasarkan hasil dari observasi awal peneliti menemukan banyak anak-

anak berkebutuhan khusus tidak bisa bertahan di sekolah umum. Dalam

proses belajar mengajar, guru cenderung mendasarkan pemenuhan pada

kebutuhan siswa rata-rata dan tidak terlalu memperhatikan kebutuhan dari

anak berkebutuhan khusus. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan

guru-guru sekolah umum tentang cara menangani anak berkebutuhan

khusus. Bahkan di salah satu sekolah inklusi yaitu sekolah SMP Negeri 1

Baraka pada pertengahan tahun 2016 para siswa tergolong berkebutuhan

khusus banyak yang putus sekolah.

Pihak sekolah mengakui kesulitan dalam melayani siswa

berkebutuhan khusus secara maksimal disebabkan karena tidak adanya

tenaga pengajar profesional yang berasal dari Pendidikan Luar Biasa

(PLB), kurikulum digunakan sama dengan anak normal, ketersediaan

sarana dan prasarana sekolah belum ramah terhadap anak berkebutuhan

khusus, serta mereka masih kerap dikucilkan oleh teman sebaya di

sekolah. Hal ini mengakibatkan mereka sulit beradaptasi dengan sekolah

dan memilih untuk putus sekolah ataupun memilih pindah ke sekolah lain.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk

melakukan penelitian di salah satu sekolah inklusi di Kabupaten Enrekang

7
dengan judul: Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Perspektif

Sosiologi (Studi Kasus di Sekolah Inklusi SMP Negeri 1 Alla Kabupaten

Enrekang).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan deskripsi latar belakang di atas, maka dibuat beberapa

rumusan masalah yang akan menjadi fokus penelitian, antara lain:

1. Bagaimana perlakuan keluarga terhadap anak berkebutuhan khusus?

2. Bagaimana perlakuan masyarakat terhadap anak berkebutuhan

khusus?

3. Bagaimana perlakuan sekolah terhadap anak berkebutuhan khusus.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dipaparkan tujuan

dari penelitian sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perlakuan yang diterima anak berkebutuhan khusus

dari keluarga.

2. Untuk mengetahui perlakuan yang diterima anak berkebutuhan khusus

dari masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

3. Untuk mengetahui perlakuan yang diterima anak berkebutuhan khusus

dari pihak sekolah.

8
D. Kegunaan Penelitian

Melalui penelitian ini, diharapkan:

1. Secara teoritis dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam

menambah wawasan terutama yang terkait dengan perlakuan yang

diterima anak berkebutuhan khusus dari keluarga, mayarakat dan

sekolah.

2. Secara praktis dapat memberikan masukan mengenai cara yang

dilakukan guna memperlakukan anak berkebutuhan khusus.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (ABK) sering diartikan sebagai individu

dengan karakteristik berbeda dari orang lain yang dianggap normal oleh

masyarakat pada umumnya. Menurut Efendi (Abdullah, 2013: 1) istilah

berkebutuhan khusus ditujukan kepada anak yang dianggap mempunyai

kelainan/penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal, umumnya

dalam hal fisik, mental maupun karakteristik perilaku sosialnya. Istilah lain

untuk menyebut anak berkebutuhan khusus antara lain: anak cacat, anak

berkelainan, anak tuna, anak difabel, disability dan handicap.

Adapun menurut World Health Organization (WHO) (Utina, 2014:

73) defenisi dari beberapa istilah di atas sebagai berikut: (1) Disability,

keterbatasan atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan dari

impairment) untuk menampilkan aktivitas sesuai dengan aturannya atau

masih dalam batas normal, biasanya digunakan dalam level individu, (2)

Impairment, kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis atau

struktur anatomi atau fungsinya dan biasanya digunakan pada level organ,

(3) Handicap, ketidakberuntungan yang membatasi atau menghambat

individu dalam memenuhi peran normalnya. Perbedaan konsep antara

disability dan handicap juga dikemukakan oleh Smith (2015: 32) yaitu:

disability adalah keadaan aktual fisik, mental dan emosi, sedangkan

10
handicap adalah keterbatasan yang terjadi pada individu oleh karena

disability.

Ada beberapa klasifikasi anak berkebutuhan khusus menurut

Soemantri (Faradina, 2016: 390) antara lain: autis, tunanetra (gangguan

penglihatan), tunarungu (gangguan pendengaran), tunadaksa (kelainan

pada anggota gerak tubuh), tunagrahita (keterbelakangan kemampuan

intelektual), tunalaras (kelainan perilaku), berkesulitan belajar dan anak

berkelainan akademik (anak berbakat).

1. Autis

Autis adalah gangguan yang terjadi pada anak ditandai dengan

keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, serta

interaksi sosial. Menurut Wijayakusuma (Putranto, 2015: 14), kata autis

berasal dari bahasa Yunani yaitu auto berarti sendiri. Kata tersebut

ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala berupa hidup dalam

dunianya sendiri. Pada umumnya, penyandang autis mengabaikan suara,

penglihatan, ataupun kejadian yang melibatkan mereka.

Ada beberapa jenis terapi yang baik dan telah diakui oleh kalangan

professional bisa diterapkan untuk menangani penderita autis (Putranto,

2015: 17-21) sebagai berikut:

1. Applied Behavioral Analysis (ABA)

Sistem yang digunakan adalah melatih anak secara khusus dengan

memberikan hadiah atau pujian.

11
2. Terapi Wicara

Kebanyakan anak autis memiliki kemampuan berbicara sangat lemah.

Meskipun ada yang bicaranya cukup berkembang, namun dia tidak

mampu memanfaatkan kemampuan tersebut untuk berkomunikasi dan

berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini, terapi bicara dan bahasa

akan sangat membantu karena terapi ini bertujuan untuk melancarkan

otot-otot mulut agar dapat bekerja lebih maksimal.

3. Terapi Okupasi

Hampir sebagian besar anak autis mengalami keterlambatan dalam

perkembangan motorik halus. Gerak-gerik yang ditunjukkan cenderung

kaku dan kasar misalnya, tidak mampu memegang pensil dengan

benar, sulit menyuap makanan ke mulut dsb. Untuk mengatasi gejala

ini, teori okupasi sangat diperlukan untuk melatih anak menggunakan

otot-otot halus secara benar.

4. Terapi Fisik

Terkadang otot anak autis lembek sehingga kemampuan berjalannya

menjadi kurang kuat dan keseimbangan tubuhnya buruk. Terapi fisik

dan integrasi sensoris bisa sangat membantu dalam menguatkan otot

serta memperbaiki keseimbangan tubuhnya.

5. Terapi Sosial

Kekurangan paling mendasar anak autis terletak pada komunikasi dan

interaksi. Mereka membutuhkan pengembangan keterampilan dalam

komunikasi dua arah, mendapatkan teman, serta bermain bersama di

12
tempat terbuka. Terapi ini membantu memberikan fasilitas untuk bisa

bergaul dengan teman-teman sebaya, namun harus dilakukan secara

intensif dalam membimbing anak.

6. Terapi Bermain

Terapi bermain dilakukan secara intens disertai bimbingan optimal.

Pemilihan permainan harus mengacu pada kelemahan yang dimiliki

anak, misalnya jenis mainan dengan mengandalkan hubungan sosial,

keterampilan bicara dan sebagainya.

7. Terapi Perilaku

Seorang terapis tentu menelusuri latar belakang dari perilaku negatif

anak serta mencari solusi secara perlahan dan terus-menerus dengan

merekomendasikan perubahan lingkungan untuk memperbaiki perilaku

anak.

8. Terapi Perkembangan

Berdasarkan terapi ini dapat dipelajari minat, kekuatan serta tingkat

perkembangan dari anak autis. Terapis juga berupaya meningkatkan

kemampuan sosial, emosional, dan intelektual anak.

9. Terapi Visual

Anak autis akan lebih mudah belajar dengan cara melihat (visual

learners/thinkers), sehingga penanganannya bisa menggunakan media

gambar. Salah satu contohnya yaitu metode PECS (picture exchange

communication system). Selain itu, beberapa video games juga dapat

13
dimanfaatkan untuk mengasah otak anak agar lebih optimal menyerap

informasi dan pesan pembelajaran.

10. Terapi Biomedis

Terapi ini dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam

DAN (Defeat Autism Now). Sebagian perintis organisasi ini mempunyai

anak autis. Mereka gigih melakukan riset dan menemukan fakta bahwa

gejala autisme diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang

berdampak pada fungsi otak. Terapi ini dilakukan untuk memperbaiki

kebugaran tubuh agar terlepas dari faktor-faktor merugikan.

11. Terapi Musik

Terapi musik dapat membantu meningkatkan kepekaan fungsi kognitif,

afektif dan psikomotorik serta bisa juga mengembangkan potensi atau

bakat mereka pada bidang seni. Terapi ini diberikan menyesuaikan

usia, kebutuhan, dan tingkat pemahaman anak terhadap bunyi.

2. Tunanetra

Tunanetra merupakan gangguan terjadi pada daya penglihatan.

Menurut Soemantri (Putranto, 2015: 95) tunanetra tidak hanya ditujukan

kepada orang buta, tetapi juga mencakup mereka yang hanya mampu

melihat secara terbatas sehingga cukup menghambat kepentingan hidup

sehari-hari, terutama dalam belajar.

Secara garis besar, anak tunanetra di kelompokkan menjadi dua

yaitu buta dan low vision. Akan tetapi, ada juga yang mengklasifikasikan

anak tunanetra menjadi empat macam antara lain: (1) Low Vision (kurang

14
awas) adalah seseorang yang mengalami penurunan fungsi penglihatan

atau lemah penglihatan, (2) Tunanetra ringan adalah seseorang yang

masih mampu melihat benda besar, (3) Tunanetra setengah berat adalah

sesorang yang masih mampu melihat cahaya atau membedakan terang

dan gelap, (4) Tunanetra berat/total adalah seseorang yang sama sekali

tidak mampu melihat (Sudrajat dan Rosida, 2013: 10).

Secara fisik, anak tunanetra tidak berbeda dengan anak normal

pada umumnya. Perbedaan mencolok hanya pada daya penglihatan. Dari

segi mental, intelektual kecenderungan IQ biasa hampir sama dengan

anak normal, namun ada juga beberapa kasus disertai dengan

keterbelakangan mental. Adapun ciri-ciri anak yang mengalami gangguan

daya penglihatan (tunanetra) antara lain: menulis dan membaca dengan

jarak yang sangat dekat, hanya dapat membaca huruf yang sangat besar,

memicingkan mata atau mengerutkan kening melihat sesuatu di cahaya

terang (Sudrajat dan Rosida, 2013: 11).

3. Tunarungu

Secara fisik, anak tunarungu terlihat tidak memiliki perbedaan yang

mencolok dengan anak normal. Tunarungu merupakan gangguan terjadi

pada daya pendengaran. Biasanya mereka memiliki ketidakmampuan

atau kesulitan berkomunikasi dengan baik seperti berbicara tanpa suara,

menunjukkan artikulasi kurang jelas, bahkan tidak berbicara sama sekali

(hanya memberi isyarat). Kesulitan dalam berkomunukasi secara lisan

15
dengan orang lain dinilai disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam

mendengarkan suara.

Menurut Sardjono (Putranto, 2015, 228) ada beberapa ciri-ciri anak

yang mengalami gangguan tunarungu, antara lain: (1) kemampuan verbal

(verbal IQ) anak tunarungu lebih rendah dibanding pada anak dengan

pendengaran normal, (2) penampilan IQ anak tunarungu sama dengan

anak mendengar, (3) daya ingat jangka pendek anak tunarungu lebih

rendah disbanding anak mendengar, terutama pada informasi yang

bersifat berurutan, (4) pada informasi serempak, anak tunarungu dan anak

dengan pendengaran normal tidak terdapat perbedaan yang berarti, dan

(5) hampir tidak terdapat perbedaan dalam hal daya ingat jangka panjang,

sekalipun prestasi akhir anak tunarungu biasanya tetap lebih rendah.

4. Tunadaksa

Gambaran seseorang diidentifikasikan sebagai tunadaksa adalah

mengalami kondisi kelainan/kecacatan pada alat gerak seperti tulang,

sendi, dan otot sehingga dapat menghambat aktivitas kesehariannya.

Menurut Suroyo (Andini, 2015: 13) kelainan anggota tubuh atau

tunadaksa adalah ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan

fungsinya secara normal akibat luka, penyakit atau pertumbuhan tidak

sempurna. Dilihat dari pergerakan otot-otot tubuhnya penyandang celebral

palsy dikelompokkan menjadi beberapa jenis (Sudrajat dan Rosida, 2013:

44-45) antara lain: (1) Kelainan pada sistem otak (Celebral System

Disorder, (2) Celebral Palsy.

16
5. Tunagrahita

Istilah biasa digunakan untuk menyebut anak tunagrahita sangat

bervariasi. Dalam bahasa Indonesia, tunagrahita juga dikenal dengan

sebutan lemah pikiran, terbelakang mental, cacat grahita dan sebagainya.

Bahkan, tunagrahita sering disamakan dengan berbagai ungkapan seperti

bodoh atau tolol (idiot), ketergantungan penuh, mental subnormal, cacat

mental, dan gangguan intelektual.

Anak yang menderita tunagrahita tergolong berkebutuhan khusus

karena memiliki hambatan dibanding anak normal. Hambatan tersebut

mencakup banyak segi seperti dari segi fisik, intelektual, sosial, emosi

atau gabungan hal-hal tersebut. Anak tunagrahita membutuhkan layanan

pendidikan khusus untuk mengembangkan potensi dan bakatnya secara

optimal sehingga keterbatasan dari segi intelektual bisa di minimalisir.

Selain itu, melalui bersekolah anak menjalin komunikasi dan berinteraksi

dengan berbagai pihak baik ke sesama siswa maupun pendidik. Adapun

tunagrahita dikelompokkan menjadi tiga yakni, tunagrahita ringan (Debil),

tunagrahita sedang (Imbesil), dan tunagrahita berat atau idiot (Putranto,

2015: 210)

6. Tunalaras

Istilah tunalaras berasal dari kata tuna berarti kurang dan laras

artinya sesuai. Tunalaras diidentikkan dengan seseorang yang selalu

berperilaku tidak sesuai dengan norma-norma berlaku pada masyarakat

tempat tinggalnya seperti: suka mencuri, mengganggu teman, menyakiti

17
orang lain dan sebagainya. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang

Pokok Pendidikan No. 12 Tahun 1952, anak tunalaras adalah individu

yang mempunyai tingkah laku menyimpang/berkelainan, tidak memiliki

sikap, melakukan pelanggaran terhadap peraturan/norma-norma sosial

dengan frekuensi cukup besar, tidak/kurang mempunyai toleransi

terhadap kelompok dan orang lain, serta mudah terpengaruh suasana

sehingga membuat kesulitan baik bagi diri sendiri maupun orang lain

(Putranto, 2015: 220).

7. Anak berkesulitan belajar

Kesulitan belajar bukan hanya dialami oleh siswa sekolah dasar,

namun bahkan bisa ditemukan pada siswa di jenjang pendidikan lebih

tinggi. Kesulitan belajar dapat dilihat dari adanya siswa tinggal kelas atau

memperoleh nilai kurang baik dalam mata pelajaran yang diikutinya

disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas

akademiknya.

Kesulitan belajar atau learning disability biasa juga disebut dengan

istilah learning disorder atau learning difficulty. Reid (Jamaris, 2015: 4)

mengemukakan bahwa anak berkesulitan belajar biasanya tidak dapat

diidentifikasi sampai anak mengalami kegagalan dalam menyelesaikan

tugas akademis yang harus dilakukannya. Selanjutnya, ia mengatakan

bahwa siswa yang teridentifikasi mengalami kesulitan belajar memiliki ciri-

ciri seperti berikut: (1) memiliki tingkat intelegensi (IQ) normal, bahkan

bisa di atas atau sedikit di bawah normal berdasarkan tes IQ, (2)

18
mengalami kesulitan dalam beberapa mata pelajaran, tetapi menunjukkan

nilai yang baik pada mata pelajaran lain, (3) kesulitan belajar siswa

berpengaruh terhadap keberhasilan belajar yang dicapainya, sehingga

mereka dikategorikan ke dalam lower achiever.

8. Anak Berbakat Istimewa

Anak berbakat biasanya menunjukkan dengan jelas kemampuan

luar biasa. Anak tersebut akan lebih terlihat bakatnya apabila ditempatkan

di lingkungan yang bisa memberi mereka banyak kesempatan untuk

mengembangkan potensi dan kemampuannya. Anak-anak yang tumbuh di

lingkungan dengan tidak memberikan kesempatan dan dorongan bagi

pertumbuhan potensi keberbakatan mereka, nampaknya tidak akan

mencapai level prestasi intelektual dan kreativitas seperti pencapaian

teman lainnya (Smith, 2015, 303).

B. Perlakuan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus

Kehadiran anak berkebutuhan khusus dalam keluarga dan di

tengah masyarakat selalu mendapat respon yang bervariasi. Ada bisa

menerima tapi terkadang juga ada yang mendapat penolakan. Bagi

keluarga, disamping harus menghadapi kondisi psikologinya sendiri, juga

harus berhadapan dengan respon dari masyarakat di sekitarnya. Tidak

jarang dalam masyarakat memiliki pandangan bahwa anak berkebutuhan

khusus dikonotasikan sebagai produk gagal atau bahkan ada yang berani

mengatakan kutukan bagi orangtuanya. Sehingga mereka diperlakukan

bukan seperti orang yang memiliki potensi, tetapi memandang dengan

19
rasa belas kasihan lalu membantu mereka dengan cara tidak tepat (Anas,

2013: 127).

Kata perlakuan menurut Kamus Bahasa Indonesia mengandung

arti perbuatan yang dikenakan terhadap sesuatu atau orang (Sugiyono

dan Maryani, 2008: 862). Perlakuan tersebut bisa baik maupun salah. Hal

tersebut muncul disebabkan karena adanya interaksi antara pelaku dan

korban perlakuan.

Adapun batasan digunakan dalam melihat perlakuan yang diterima

anak dari orang disekitarnya yakni berupa perlakuan secara fisik,

perlakuan secara psikologis atau emosional, perlakuan secara verbal,

perlakuan secara seksual dan perlakuan secara sosial dan sistem.

Perlakuan orang sekitar, baik itu sikap menerima maupun menolak

kehadiran mereka sangat berpengaruh pada diri anak berkebutuhan

khusus. Perlakuan baik seperti penerimaan yang baik di lingkungan

keluarga maupun di lingkungan sosial akan membuat anak lebih merasa

aman, kepercayaan diri meningkat dan lebih mudah berinteraksi dengan

orang lain. Akan tetapi, lain halnya dengan anak berkebutuhan khusus

yang mendapat perlakuan salah. Mereka cenderung lebih tertutup dan

sulit bergaul dengan orang lain.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) (Delaney dan Suharto, 2011: 102)

menyatakan bahwa perlakuan salah terhadap anak atau penganiayaan,

mencakup segala bentuk perlakuan buruk secara fisik atau emosional,

pelecehan seksual, penelantaran atau kelalaian atau perdagangan atau

20
bentuk eksploitasi lainnya yang berakibat pada ancaman kesehatan,

survival, perkembangan atau harga diri yang aktual atau potensial dalam

konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan, atau kekuasaan.

Perlakuan salah (abuse) terhadap anak adalah tindakan yang keliru

atau tidak dapat dibenarkan, baik fisik, seksual, maupun emosional. Di

Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau

Centers for Disease Control dan Prevention (CDC) mengartikan perlakuan

buruk terhadap anak sebagai tindakan apapun yang dilakukan oleh orang

tua atau pengasuh lain menyebabkan bahaya atau potensi bahaya atau

terancam berbahaya terhadap anak. Kebanyakan penyalagunaan anak

terjadi di lingkungan rumah, sebagian lagi di organisasi, sekolah atau

masyarakat dengan siapa anak berinteraksi (Delaney dan Suharto, 2011:

81).

Berbagai wilayah hukum telah mengembangkan defenisi mereka

sendiri tentang penyalagunaan anak untuk tujuan memisahkan anak dari

keluarganya atau melakukan penuntutan kriminal. Menurut Journal of

Child Abuse and Neglect, penyalagunaaan anak adalah setiap aksi untuk

bertindak dipihak orang tua atau pengasuh yang menyebabkan kematian,

bahaya fisik, emosi dan penyalagunaan seksual atau eksploitasi.

Ada empat kategori utama perlakuan salah terhadap anak (Delaney

dan Suharto, 2011: 82), antara lain:

1. Penelantaran. Penelantaran anak adalah apabila tanggung jawab

orang dewasa gagal memenuhi berbagai kebutuhan anak, termasuk

21
kebutuhan fisik (kegagalan memberikan makanan yang cukup, pakaian

dan tempat tinggal), kebutuhan emosional (kegagalan memberikan

kasih sayang), kebutuhan pendidikan (kegagalan untuk mendaftarkan

anak di sekolah) atau kebutuhan medis (kegagalan untuk memberikan

pengobatan kepada anak atau membawanya ke dokter).

2. Perlakuan salah secara fisik adalah kekerasan fisik yang dilakukan

terhadap anak. Itu dapat berupa pukulan, tendangan, dorongan,

tamparan, membakar, menarik telinga atau rambut, mencekik atau

menggoyang anak. Menggoyang anak dapat menimbulkan sindrom

guncangan pada anak, yang dapat menimbulkan tekanan intrakanial

dan pembengkakan otak yang menyebabkan luka yang parah.

3. Perlakuan salah secara psikologis atau emosional merupakan sebuah

serangan terhadap kesejahteraan emosi anak. Ini meliputi panggilan,

menolak, merendahkan, merusak barang pribadi anak, penyiksaan

binatang peliharaannya, kritik yang berlebihan, permintaan yang tidak

tepat, tidak mengajak bicara dan penghinaan.

4. Perlakuan salah secara verbal berupa penggunaan kata-kata secara

langgung dan disengaja untuk mendiskriminasikan, membuat malu,

merendahkan, menakuti seseorang, teriakan, omelan, pertengkaran,

umpatan yang berlebihan pada seseorang dan ejekan.

5. Perlakuan salah secara seksual terhadap anak adalah suatu bentuk

penyalagunaan anak dimana orang dewasa menyalagunakan anak

untuk stimulasi seksual. Bentuk penyalagunaan seksual meliputi

22
permintaan atau paksaan kepada anak untuk terlibat dalam aktivitas

seksual, pemaparan alat kelamin yang tidak pantas kepada anak,

mempertontonkan pornografi dan menggunakan anak untuk membuat

pornografi anak. Efek dari perlakuan salah secara seksual meliputi

depresi, penyakit stress pasca traumatis, kecemasan, kecenderungan

untuk kembali menjadi korban pada waktu dewasa, dan cedera fisik

pada anak.

6. Perlakuan salah secara sosial dan sistem

Perlakuan ini pelakunya adalah masyarakat disebabkan oleh struktur

sosial, politik, hukum, agama, kepercayaan dan nilai-nilai tradisi.

Secara formal, perlakuan di atas tidak dikategorikan sebagai perlakuan

salah tetapi apabila anak terlibat dalam sebuah sistem yang

menyebabkan kekerasan dan penderitaan pada mereka, maka itu

termasuk dalam perlakuan salah. Misalnya, proses-proses yang tidak

dirancang untuk kebutuhan anak-anak, seperti prosedur tidak ramah

bagi anak-anak (Delaney dan Suharto, 2011: 107).

Dibawah ini ada beberapa poin-poin yang dipilih dari 41 poin hasil

Konvensi PBB tentang Hak Anak tahun 1989 versi ramah anak yang

menyebutkan bahwa semua orang dibawah umur 18 tahun memiliki

semua hak-hak (Delaney dan Suharto, 2011: 27) sebagai berikut:

1. Diperlakukan secara adil siapapun anda, dari manapun anda

berasal, bahasa apapun yang anda gunakan, apapun kepercayaan

anda atau dimanapun anda tinggal.

23
2. Dilindungi hak-haknya oleh pemerintah.

3. Didukung dan diberi nasehat oleh orang tua dan keluarga.

4. Mendapatkan kehidupan.

5. Diberi nama dan kewarganegaraan.

6. Berpendapat, didengar, dan ditanggapi dengan serius.

7. Dilindungi dari perlakuan yang tidak baik.

8. Mendapatkan pendidikan dan dukungan yang dibutuhkan jika

memiliki kecacatan.

9. Mendapatkan standar kehidupan dasar: makanan, pakaian dan

tempat tinggal.

10. Dibesarkan oleh orang tua bila memungkinkan.

11. Mendapatkan pendididkan yang bisa mengembangkan kepribadian

dan kemampuan, dan mendorong anda untuk menghormati

sesama, budaya dan lingkungan.

12. Dilindungi dari perlakuan salah seksual.

13. Dilindungi dari pemanfaatan dan eksploitasi dengan cara apapun.

14. Mendapatkan bantuan khusus jika anda sakit, terlantar, atau

diperlakukan dengan buruk.

15. Dilindungi oleh hukum nasional dan internasional yang memberikan

hak-hak lebih baik dari hak-hak dalam daftar ini.

Perlakuan baik maupun perlakuan salah bisa saja diterima anak

berkebutuhan khusus dari siapapun yang ada di sekitanya. Orang sekitar

yang dimaksud disini yakni keluarga, pihak sekolah dan masyarakat yang

24
tinggal sekitar tempat tinggal anak. Perkembangan anak termasuk anak

berkebutuhan khusus dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya melalui

sosialisasi. Sosialisasi secara umum dapat diartikan sebagai proses

belajar individu untuk mengenal dan menghayati norma, nilai, peran agar

individu bisa berpartisipasi secara efektif di dalam kehidupan masyarakat.

1. Perlakuan Keluarga Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus

Keluarga merupakan lingkungan primer dalam proses tumbuh

kembang anak. Secara sederhana, keluarga adalah kelompok sosial yang

terdiri dari dua atau lebih orang terikat hubungan darah, perkawinan, atau

adopsi dan hidup bersama untuk periode waktu cukup lama (Raho, 2016:

263). Keluarga sebagai sebuah sistem sosial dibentuk oleh sekumpulan

tujuan, peran orang tua dan anak, harapan dan kondisi sosial ekonomi

(Cook dalam Hidayati, 2011: 14).

Keluarga dianggap sebagai hal dasar pembentuk arah pergaulan

masyarakat luas. Keluarga harmonis dapat menciptakan lingkungan

masyarakat yang harmonis pula, begitupun sebaliknya. Suatu keluarga

harmonis bisa memberi dampak positif terhadap perkembangan anak,

meskipun tidak selalu suatu keluarga bisa luput dari konflik atau tanpa

masalah.

Kelahiran anak bisa membawa perubahan besar di dalam keluarga.

Sebelum mempunyai anak, hubungan suami istri bersifat dyadic (duaan),

maka dengan kelahiran anak hubungan itu bersifat kompleks bergantung

kepada jumlahnya dalam keluarga (Raho, 2016: 275). Pada saat dalam

25
suatu keluarga lahir anggota baru, akan muncul berbagai masalah terkait

dengan penyesuaian yang perlu dilakukan saat memiliki anak. Bagi orang

tua yang mendapati anaknya lahir dengan kebutuhan khusus, maka

masalah mesti sdihadapi bisa menjadi lebih banyak dan jauh lebih berat.

Orang tua anak-anak berkebutuhan khusus seringkali menghadapi

tantangan dan tanggungjawab berbeda dengan dialami orang tua lain.

Pada umumnya, mereka harus mencurahkan lebih banyak waktu, tenaga,

dan sumber daya lain dalam merawat perkembangan anak mereka

(Darling dalam Smith, 2015: 338). Kebanyakan rutinitas sehari-hari dalam

keluarga menjadi terganggu. Kebutuhan khusus yang dimiliki anak juga

dapat berdampak jauh, misalnya pada keharmonisan dan karier orang tua

(Mangunsong dalam Hidayati, 2011: 13).

Salah satu reaksi awal yang umum dari orangtua atas kelahiran

anak berkebutuhan khusus adalah shock. Orangtua merasa terkejut dan

terpukul oleh kenyataan bahwa anak lahir tidak sesuai harapan mereka.

Keterkejutan ini bisa terwujud dalam bentuk perasaan sedih, bingung dan

kecemasan yang mendalam. Di awali dengan rasa sedih lalu mengarah

pada penerimaan anak akan kelainan anak. Adapun tahap-tahap reaksi

orangtua dirangkum oleh Drotar dkk (Smith, 2015: 339) antara lain:

shock/terguncang jiwanya, menolak, sedih, cemas, takut, marah dan

menerima dan menyesuaikan diri. Namun perlu diketahui bahwa tidak

semua orangtua mengalami tahapan reaksi seperti ini. Reaksi bisa saja

berbeda pada orangtua yang lain.

26
Keluarga sebagai agen sosialisasi yang pertama dan utama karena

hampir sebagian besar waktu dari anak dihabiskan di tengah keluarga.

Hanya setelah anak memasuki dunia sekolah baru perlahan-lahan

meninggalkan rumah. Keluargalah bertanggung jawab mentransfer nilai-

nilai dan norma-norma budaya kepada anggotanya. Sekalipun keluarga

tidak mempengaruhi perkembangan seorang anak secara sempurna

namun ada banyak hal mereka peroleh di dalam keluarga seperti sikaf,

minat, tujuan hidup, dan kepercayaan ataupun prejudice tertentu (Raho,

2016: 118). Melalui keluarga juga anak memperoleh pengasuhan, afeksi,

perlindungan, pemenuhan kebutuhan dan status.

Adapun fungsi yang dikembangkan dalam keluarga (Wahyu dalam

Jusnawati, 2015: 27-28), antara lain:

1) Fungsi biologis

Fungsi biologis berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sandang,

pangan dan papan bagi anggota keluarga serta seksual antara suami

dan istri.

2) Fungsi sosialisasi anak

Fungsi sosialisasi menunjuk pada peranan keluarga dalam membentuk

kepribadian anak dengan memperkenalkan pola tingkah laku, sikap,

keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat serta

mempelajari peranan diharapkan akan dijalankan oleh mereka.

27
3) Fungsi afeksi

Fungsi afeksi berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia yakni

kebutuhan kasih sayang atau rasa cinta, dimana diketahui kebutuhan

persahabatan dan keintiman sangat penting bagi anak.

4) Fungsi edukatif

Fungsi edukatif yakni berkaitan dengan pendidikan yang seharusnya

diperoleh oleh anak dilingkup keluarga. Keluarga menjadi wadah

pertama dalam pembentukan dan pertumbuhan anak.

5) Fungsi religius

Keluarga memiliki fungsi religius yakni mendorong anggota keluarga

untuk menjadi insan-insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan

Maha Esa.

6) Fungsi protektif

Fungsi protektif berkenaan dengan perlindungan fisik, ekonomis dan

psikologis terhadap anggota keluarga agar terhindar dari hal-hal yang

negatif.

7) Fungsi rekreatif

Fungsi rekreatif yakni memberikan atau menciptakan suasana yang

segar dan gembira dalam lingkungan.

8) Fungsi ekonomis

Fungsi ekonomis berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-

sehari, yakni memproduksi kebutuhan ekonomi.

28
9) Fungsi penentuan status

Fungsi ini berkenaan dengan pemberian status kepada anak dan

memperkenalkan peran seharusnya dijalankan sesuai dengan status

yang diberikan.

Merawat dan membesarkan anak berkebutuhan khusus tentunya

lebih sulit daripada merawat anak normal. Selain biaya yang diperlukan

lebih besar, tidak semua orang bisa bertahan untuk menjaga anak

berkebutuhan khusus. Seperti kasus dialami oleh Haryanto dan

diceritakan dalam bukunya berjudul: Berawal Dari Kontak Mata (2013 :

19). Sikap anak sangat hiperaktif dan susah di atur mengakibatkan tidak

ada pengasuh betah menjaga anaknya, Dimas. Hal ini kemudian

mendorong Haryanto mengambil keputusan besar ketika memilih berhenti

bekerja untuk total mendampingi serta melakukan terapi kepada anak

semata wayangnya yang menyandang autis.

Orangtua anak berkebutuhan khsusus mengalami tekanan lebih

besar dibanding orangtua anak-anak lain yang tidak mengalami kelainan

(Mahoney dkk dalam Smith, 2015: 341). Seorang fotomodel majalah

Playboy yang juga ibu dari seorang anak laki-laki penyandang autis,

Jenny Mc Carthy (Haryanto, 2013: 35) mengatakan, “Secantik apa pun

kamu, sebagus dan se-blonde apa rambut kamu, serta sebesar apa

payudaramu, apabila kamu seorang single parent dan punya anak autis,

setiap pria pasti tidak akan bertahan lama menjadi pacarmu”.

29
Haryanto (2013: 10) mengungkapkan bahwa terkadang muncul

perasaan sedih dan tidak terima punya anak autis. Akan tetapi, banyak hal

bisa didapat apabila berpikiran posistif dalam menyikapi hidup karna telah

dianugrahkan Tuhan untuk merawat dan menjaga seorang individu autis.

Hal-hal bisa didapat dari merawat anak autis adalah belajar kesabaran,

keikhlasan, kekuatan dan ketabahan. Tanpa kesabaran, akan banyak

energi terkuras karena marah, uring-uringan, atau tidak puas. Kunci utama

untuk bisa bertahan mendampingi Dimas (nama anak autisnya) adalah

selalu menerima Dimas apa adanya. Karena jika tidak bisa menerima

anak apa adanya serta melakukan penolakan terhadap kondisinya,

perjalanan hidup akan terasa semakin hari kian berat dan tidak bisa untuk

ikhlas mendampingi anak spesial tersebut.

Perlakuan baik seperti tidak pernah membandingkan anak dengan

anak lain, berusaha membangun kepercayaan diri anak agar lebih berani

mengepresikan dirinya, lebih berfokus pada pengembangan kelebihan

dan kekuatan anak serta kesabaran orang tua dalam mendidik dan

merawat anak dengan cinta dan kasih sayang bisa membuahkan hasil

yang manis. Anaknya bisa menemukan kondisi terbaiknya. Sebelumnya

tidak mau melakukan kontak mata, tidak bisa berbicara, sering tantrum,

sangat hiperaktif dan susah diatur, pada akhirnya sudah mau diajak

berkomunikasi dua arah, bisa membaca dan lebih mudah di atur.

Anak saat diterima keberadaannya dan mendapat dukungan dari

keluarga akan lebih memiliki penilaian yang tinggi terhadap dirinya

30
ketimbang anak tidak mendapat dorongan dari anggota keluarga. Anak-

anak menilai dirinya rendah akan sangat sensitive terhadap kritik. Adapun

cara-cara bisa diterapkan untuk membangun harga diri dalam diri anak

(Delaney dan Suharto, 2011: 177), diantaranya: (1) beri pesan-pesan

positif, (2) beri tanggung jawab dan bantuan, (3) beri pujian, (4)

promosikan rasa pencapaian (5) promosikan budaya dan identitas, (6)

berikan contoh positif, (7) ciptakan budaya memiliki, (8) hilangkan tuduhan

dan ide negatif, (9) dorongan pertisipasi, (10) berikan rasa berpengaruh,

(11) doronglah rasa bangga dalam hal penampilan dan (12) tunjukan

kepedulian.

Sayangnya tidak semua anak mendapat perlakuan baik dari pihak

keluarga. Ada juga anak berkebutuhan khusus mendapat perlakuan salah

seperti disiksa dan dipasung oleh orang tua mereka sendiri. Hal ini sejalan

dengan temuan Indah Winarso (Chatib dan Said, 2012: 26) tentang

perlakuan diterima seorang anak berkebutuhan khusus bernama Agus.

Dia dipasung keluarganya sendiri selama 10 tahun. penyebabnya karena

agus kerap berlaku kasar terhadap orang lain. Selain itu, kedua orang

tuanya hanya bekerja sebagai petani dan tidak mampu membiayai

pengobatan dan terapi Agus. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi

keluarganya, selain memasung kaki kiri Agus dengan rantai besi yang

telah di semen di samping rumah.

Kasus perlakuan salah terhadap anak berkebutuhan khusus juga

terjadi Panji. Karena merasa tidak sanggup dengan sikap anak sering

31
tantrum tanpa kendali di sembarang tempat, memukul teman-temannya

dan menyakiti diri sendiri mendorong sang Ibu menitipkan Panji di

rehabilitasi jiwa dan narkoba di Sukabumi. Tanpa di duga Panji mendapat

perlakuan salah di tempat rehabilitasi. Saat di jemput, Panji di tempatkan

dalam kamar seperti kandang bebek. Tidak hanya itu, kedua tangannya di

ikat dan terlihat bekas luka dan bekas sundutan rokok di sekujur tubuhnya

(Chatib dan Said, 2012: 27).

Kasus di atas sejalan dengan penelitian dilakukan oleh Faradina

(2016) mengenai penerimaan diri pada orang tua anak berkebutuhan

khusus menemukan bahwa orang tua anak berkebutuhan khusus

menunjukkan perilaku dan memperlakukan anak dengan cara berbeda-

beda. Ada yang bisa menerima kondisi anaknya, sehingga memberikan

penanganan dan perlakuan baik terhadap anak. Namun, ada juga orang

tua tidak mampu menerima kekurangan anak. Keterbatasan waktu yang

dimiliki dan kurangnya pemahaman mengenai anak mengakibatkan orang

tua tidak maksimal dalam merawat dan mendukung perkembangan anak

berkebutuhan khusus.

Menurut Dyah (Chatib dan Said, 2012: 27) orang tua yang memiliki

anak berkebutuhan khusus harus berbesar hati menerima kenyataan.

Sifat dan tingkah laku anak memang berbeda dengan anak lainnya. Hati

orang tua saat sudah bisa menerima kenyataan anaknya cenderung dapat

memberikan lingkungan nyaman untuk perkembangan anak mereka,

32
karna manusia, bagaimanapun keadaannya, jika dia tidak diterima oleh

lingkungan terdekatnya, tidak akan berbahagia.

Seorang anak jika dibesarkan dalam keluarga penuh kasih sayang,

kehadirannya diterima kedua orang tuanya, adanya keseimbangan antara

disiplin dan kebebasan maka cenderung jadi orang dewasa yang dapat

menyesuaikan diri. Sementara anak yang keberadaannya ditolak atau

terlalu di lindungi bisa menjadikannya orang dewasa sulit menyesuaikan

diri (Sudrajat dan Rosida, 2013: 35).

2. Perlakuan Masyarakat Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus

Masyarakat didefenisikan sebagai kumpulan orang-orang saling

berinteraksi antara satu sama lain di dalam suatu wilayah tertentu dan

menghayati kebudayaan yang sama (Macionis dalam Raho, 2016: 157).

Selo Soemardjan mengungkapkan bahwa masyarakat adalah orang-orang

yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Pengertian lain dari

MacIver dan Page menyatakan bahwa masyarakat ialah suatu sistem dari

kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerjasama antara berbagai

kelompok, penggolongan dan pengawasan tingkah laku serta kebebasan

manusia (Soekanto, 2006: 24). Masyarakat disebut sebagai keseluruhan

kompleks karena ia tersusun dari berbagai sistem dan subsistem seperti

ekonomi, politik, pendidikan, keluarga, kesehatan dan lain-lain.

Perilaku anak berkebutuhan khusus yang anggap aneh, anti sosial

dan biasa dinilai merugikan orang lain menimbulkan berbagai respon

bermacam-macam. Bahkan sebagian masyarakat terkadang melakukan

33
reaksi tidak pantas bahkan bersikaf kejam pada anak berkebutuhan

khusus. Seringkali lingkungan sekitar anak berkebutuhan khusus menjadi

penyumbang terbesar dalam terbentuknya konsep diri yang buruk. Orang

tua bisa berada pada situasi sulit karena sikaf dari masyarakat dalam

memandang anak mereka, terkadang muncul rasa malu pada kondisi dan

kekurangan anak yang bisa mengakibatkan penolakan pada anak (Nida,

2014: 47).

Penolakan-penolakan dilakukan oleh masyarakat akan berdampak

pada terbentuknya persepsi buruk anak mengenai dirinya, sehingga

dalam rentang perkembangan secara berkelanjutan bisa memunculkan

konsep diri yang buruk bagi anak berkebutuhan khusus itu sendiri. Hal

tersebut tidak dapat dipandang sebagai hal sederhana mengingat setiap

individu memiliki tugas perkembangan dinamis dan berorientasi pada

pengembangan diri untuk masa depannya, agar mampu mandiri dan

berkontribusi bagi kehidupan pribadi maupun sosialnya dengan berpijak

pada pengembangan konsep diri yang kondusif bagi kehidupannya secara

komprehensif (Nida, 2014: 47).

Perlakuan salah juga diterima oleh anak berkebutuhan khusus lain

yaitu autis. Hingga saat ini, orang belum memahami arti autis sehingga

banyak anak penyandang autis menjadi bahan olok-olok oleh orang-orang

sekitarnya. Itu terjadi karena perilaku anak autis yang aneh. Ada pula

yang beranggapan bahwa autis adalah semacam penyakit menular. Hal

ini dapat dilihat dari pengalaman pribadi seorang ayah yang anak autisnya

34
pernah diusir oleh seorang ibu dari kolam renang dengan alasan takut

anaknya tertular autis (Haryanto, 2013: 38).

Berdasarkan hasil penelitian dilakukan oleh Jean Marc Gaspard

Itard terhadap anak didiagnosis menderita keterbelakangan mental

menemukan adanya kemajuan menakjubkan pada anak bimbingannya.

Anak yang sebelumnya dianggap idiot dan tidak bisa disembuhkan

menurut beberapa ahli propesional pada akhirnya bisa belajar angka-

angka, warna, dan berbagai bentuk bahkan dapat menulis beberapa kata

benda dan kata kerja. Anak tersebut juga mampu beradaptasi dengan

lingkungannya.

Menurut Itard (Smith, 2015: 101) perlakuan masyarakat yang

menilai kelayakan beberapa anak hanya hidup dalam suatu institusi

seperti halnya masyarakat mempunyai hak merenggut anak dari

kehidupan bebas alami, lalu mengirimnya ke sebuah institusi. Dia juga

mengungkapkan bahwa seorang anak berhak mendapatkan perlakuan

lebih manusiawi seperti merawatnya secara baik dan memberikan

pelatihan dengan mempertimbangkan kesukaan dan kecenderungannya.

Apabila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi

semua individu siswa. Pikiran kita akan berubah sekaligus merefleksikan

keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang. Serta

optimisme yang lebih besar dalam meperlakukan hambatan dengan lebih

santun (Smith, 2015: 46).

35
3. Perlakuan Pihak Sekolah Terhadap Anak Berkebutuhan

Khusus

Setiap manusia yang lahir sepanjang mempunyai otak, pastinya

memiliki jenis kecerdasan tertentu terlepas dari apakah dia termasuk anak

berkebutuhan khusus ataupun anak normal. Pada dasarnya semua murid

memiliki potensi kecerdasan sangat beragam, maka sekolah mempunyai

peranan penting dalam mengembangkan proses pembelajaran kreatif

agar bisa memantik minat belajar dan berfikir siswa. Menurut Chatib

(2013: 109) tidak ada ciptaan Tuhan dianggap gagal. Semua manusia itu

pintar. Sesama manusia itu sendiri yang membuat pernyataan bahwa

manusia tertentu adalah prodak gagal karena kondisi anak secara fisik

tidak sempurna terlihat oleh mata jasmani kita.

Pada saat mendengar kata sekolah, umumnya hal pertama muncul

dalam benak seseorang adalah bayangan suatu tempat dimana orang-

orang melewatkan sebagian masa hidupnya untuk belajar atau mengkaji

sesuatu. Sekolah umumnya ditujukan pada suatu sistem, lembaga, suatu

organisasi besar dengan segenap kelengkapan perangkatnya yaitu

sejumlah orang-orang yang belajar ataupun mengajar, gedung, peralatan,

serangkaian kegiatan terjadwal, aturan-aturan, dan sebagainya. Padahal

kata sekolah dalam bahasa Latin, yakni skhole, scola, scolae atau schola

secara harafiah berarti waktu luang atau waktu senggang (Topatimasang,

2013: 5).

36
Sekolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari anak didik dan

begitupun sebaliknya, sehingga hal ini menciptakan sebuah hubungan

sinergisitas. Antara sekolah dan anak didik duduk berdampingan satu

sama lain, menciptakan sebuah harmonika pendidikan yang diniscayakan

untuk kepentingan bersama di atas segalanya. Tentu, praktik pendidikan

di sekolah jangan sampai membuat anak didik merasa jenuh. Sekolah

diharapkan bisa menjadi pelepas dahaga ketika anak merasa kehausan

akan ilmu, menciptakan suasana menyenangkan serta membahagiakan

bagi anak didik untuk belajar (Yamin, 2012: 22).

Bersekolah bukan hanya berkaitan dengan deretan materi-materi

pelajaran. Namun tidak kalah pentingnya adalah bagaimana membangun

watak dan kepribadian anak. Harefa (Yamin, 2012: 29) mengatakan

bahwa sekolah sesungguhnya tidak cukup untuk mendapatkan pendidikan

yang bernilai dan berguna, namun setidaknya dengan bersekolah dapat

membentuk jati diri dan mulai membuka kesadaran dalam berkehidupan.

Lapangan pendidikan meliputi wilayah sangat luas dan ruang

lingkupnya mencakup seluruh pengalaman serta pemikiran manusia

tentang pendidikan. Pendidikan diartikan luas merupakan usaha manusia

untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya yang berlangsung sepanjang

hayat. Menurut Henderson (Sadulloh, 2014: 5), pendidikan merupakan

suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi

individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, serta berlangsung

sepanjang hayat sejak manusia lahir.

37
Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2013 tentang Sistem

Pendidikan Nasional dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan

terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran

agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara (Sadulloh, 2014: 5).

Pada dasarnya, jenis dari pendidikan hanya satu yaitu upaya

mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, namun

beragamnya kondisi dan situasi melingkari kehidupan peserta didik

mengharuskan tenaga pendidik memberikan pelayanan yang bermacam-

macam. Banyaknya variasi kemampuan peserta didik baik dari segi

mental, fisik dan emosi mendorong pemerintah membuat kebijakan agar

bisa merangkul keberagaman tersebut sehingga tidak terjadi perlakuan

diskriminatif terhadap anak didik utamanya seperti anak berkebutuhan

khusus di sekolah.

Perlakuan diskriminatif dalam bentuk apapun bertentangan dengan

Permendiknas No. 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu

Pendidikan, pasal 3 ayat (1) butir (a) “pendidikan untuk semua yang

bersifat inklusif dan tidak mendiskriminasikan peserta didik atas dasar

latar belakang apapun (Anas, 2013: 132). Filosofi pendidikan inklusif

adalah membiasakan anak-anak hidup dalam keberbedaan. Apabila anak

berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak normal. Hal ini bisa

38
memberikan dampak positif, selain mereka terbiasa saling menghargai

dan mengapresiasi, juga dapat menambah kepercayaan diri si anak.

Menurut Darmaningtyas (Masbur, 2015: 138) fungsi pendidikan

bukanlah menyamakan selera agar menjadi tunggal, tetapi memelihara

dan mengembangkannya agar tetap beragam. Sebab keberagaman itu

sendiri merupakan keindahan dunia. Lanjutnya, melarang perbedaan

adalah identik dengan merampas kemerdekaan orang lain dan itu

bertentangan dengan prinsip pendidikan yang harus membimbing individu

untuk mencapai kemerdekaannya.

Kesiapan guru dalam memberikan pengajaran kepada anak-anak

beragam tentunya juga didukung oleh sarana prasarana sekolah dan

kurikulum sekolah. Kesiapan guru menerima anak berkebutuhan khusus

itu penting agar guru tidak terlalu shock menghadapi anak berkebutuhan

khusus dan mengetahui strategi yang bisa digunakan untuk menggali

potensi anak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Syafrida Elisa

dan Aryani Tri Wrastari berjudul “Sikap Guru Terhadap Pendidikan Inklusi

Ditinjau Dari Faktor Pembentuk Sikap” (Elisa, 2013: 8-9) peneliti

menemukan bahwa guru lebih mendukung program inklusi untuk anak

berkebutuhan khusus apabila telah mampu bersekolah dan mengikuti

pelajaran sedangkan bagi anak berkebutuhan khusus yang kurang

mampu mengikuti pelajaran diperlukan pendamping dalam belajar dan

terapis untuk mempermudah para pengajar menangani mereka.

39
Selain itu pengetahuan guru tentang anak berkebutuhan khusus juga

mempengaruhi bagaimana guru bersikaf dan memberi pengajaran, serta

adanya faktor empati guru yakni sikaf mau memperhatikan dan berusaha

menerima keadaan anak berkebutuhan khusus.

C. Kerangka Teori

1. Teori Interaksionisme Simbolik

Interaksi sosial merupakan bentuk umum proses sosial karena

merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Membahas

interaksi sosial antar sesama manusia adalah hal menarik karena bukan

hanya mampu menciptakan produk-produk fisik yang menjadi bagian dari

kebudayaan, peradaban dan peninggalan masih bisa dinikmati oleh

semua pelaku kehidupan, tetapi juga dapat menciptakan kehidupan sosial

mereka sendiri.

Secara etimologis, interaksi terdiri dari dua kata yakni action (aksi)

dan inter (antara). Jadi interaksi adalah tindakan dilakukan antara dua

orang bisa lebih atau tindakan yang berbalas-balas (Raho, 2016: 63).

Pengertian lain menyebutkan bahwa interaksi sosial adalah hubungan

sosial yang dinamis menyangkut hubungan orang-perorangan, antara

kelompok-kelompok manusia, maupun antara perorangan dengan

kelompok manusia (Soekanto, 2006: 61). Suatu interaksi sosial tidak akan

mungkin terjadi apabila tidak memenuhi syarat yaitu: (1) adanya kontak

sosial dan, (2) adanya komunikasi (Soekanto, 2006: 64).

40
Berdasarkan sarana yang digunakan terdapat dua jenis interaksi

yaitu interaksi tanpa kata dan interaksi menggunakan kata-kata.

1. Interaksi tanpa kata adalah interaksi yang dapat terjadi walaupun

didalamnya para aktor tidak menggunakan kata-kata. Dalam menukar

informasi/arti, mereka menggunakan ekspresi pada wajah atau gerak

tubuh. Interaksi seperti ini seringkali disebut interaksi menggunakan

bahasa tubuh misalnya, mengangguk, menggeleng, mengangkat bahu,

mengedipkan atau menutup mata.

2. Interaksi menggunakan kata-kata. Menurut banyak ahli interaksi melalui

kata-kata atau percakapan merupakan unsur sangat penting dalam

kehidupan sosial. Sekalipun orang bisu bisa berkomunikasi dengan

menggunakan bahasa isyarat, namun komunikasi mereka bersifat

terbatas. Kata-kata menjadi penting karena tidak semua gerak-gerak

tubuh dan bahasa isyarat dapat dimengerti oleh keseluruhan orang

dengan jelas (Raho, 2016: 66).

Pemikir penting dalam sejarah interaksionisme simbolik adalah

George Herbert Mead (Ritzer dan Goodman, 2010: 271). Di dalam

bukunya berjudul: Mind, Self and Society, Mead menguraikan tentang tiga

tema pokok yakni tentang pikiran, diri dan masyarakat. Menurut Mead,

pemikiran (akal budi) bukanlah suatu benda melainkan satu proses sosial

yang secara kualitatif membedakan dia dari binatang. Apabila binatang

bereaksi, maka manusia beraksi, menangkap makna symbol (interpretasi)

kemudian memberikan reaksi. Sebagaimana halnya pikiran merupakan

41
suatu proses sosial, demikian pun halnya dengan diri (self) yang

mempunyai kemampuan untuk memberikan tanggapan sesuai dengan

harapan orang lain atau kemampuan untuk mengambil bagian dalam

percakapan untuk orang lain. Adapun halnya dengan masyarakat, Mead

berpendapat bahwa masyarakat itu semacam organisasi sosial dimana

mind dan self berkembang (Raho, 2010: 48).

Pendapat bahwa manusia memiliki kemampuan berfikir menjadi

pembeda interaksionisme simbolik dari akar behaviorisme. Kemampuan

ini dibentuk dalam proses interaksi sosial. Pandangan ini menghantar

interaksionisme simbolik untuk memperhatikan satu bentuk khusus dari

interaksi sosial, yakni sosialisasi. Kemampuan berpikir sudah dibentuk

dalam sosialisasi mulai pada masa kanak-kanak dan berkembang terus

hingga orang menjadi dewasa. Sosialisasi dipandang sebagai proses

bersifat dinamis. Di dalam proses itu, manusia tidak hanya menerima

informasi melainkan dia juga menginterpretasi dan menyesuaikan

informasi tersebut sesuai dengan kebutuhannya (Raho, 2007: 107-108).

Pada saat melakukan interaksi sosial, orang belajar simbol-simbol

dan arti-arti. Tidak semua objek sosial mempunyai arti lain dari yang ada

dalam dirinya. Tetapi objek yang merupakan simbol selalu mempunyai arti

lain daripada yang tampak didalam objek itu sendiri. Simbol bersifat luas,

sehingga tidak hanya dihubungkan dengan warna semata, tetapi juga bisa

ditampakkan pada bentuk lain seperti bahasa (language), bahasa tubuh

42
(body language), ekspresi muka (facial expression), keras lemahnya suara

(loud-weak of voice) dan budaya (costum) (Susilo, 2016: 66).

Menurut Mead (Ritzer dan Goodman, 2010: 276), gerak atau sikaf

isyarat (gesture) merupakan mekanisme dasar dari tindakan sosial dalam

proses lebih umum. Lebih detail menyatakan bahwa gesture adalah

gerakan organisme pertama bertindak sebagai rangsangan khusus dan

menimbulkan tanggapan secara sosial yang tepat dari pihak kedua. Baik

binatang maupun manusia, mampu membuat isyarat dalam arti bahwa

tindakan seseorang tanpa pikir dan secara otomatis mendapatkan reaksi

dari individu lain.

Simbol signifikan adalah sejenis gerak-isyarat dan hanya dapat

diciptakan oleh manusia. Isyarat menjadi simbol signifikan apabila arti

yang dimaksudkan pembuat simbol sama maknanya diperoleh (tapi tidak

selalu sama) oleh individu sebagai sasaran isyarat. Kumpulan isyarat

suara paling mungkin menjadi simbol signifikan adalah bahasa. Dalam

percakapan dengan isyarat, hanya isyarat sendiri bisa dikomunikasikan.

Tetapi dengan bahasa, maka yang dikomunikasikan adalah isyarat dan

maknanya. (Ritzer dan Goodman, 2010: 278).

Teori interaksionisme simbolik memberikan perhatian utama pada

dampak dari makna dan simbol terhadap tindakan dan interaksi manusia.

Disini akan bermanfaat menggunakan pemikiran dari Mead yang

membedakan antar perilaku lahiriah dan perilaku tersembunyi. Perilaku

lahiriah adalah perilaku sebenarnya dilakukan seorang aktor. Sedangkan

43
perilaku tersembunyi adalah proses berfikir dengan melibatkan simbol dan

arti. Simbol dan arti memberikan ciri-ciri khusus pada tindakan sosial

manusia (melibatkan aktor tunggal) dan pada interaksi sosial manusia

(melibatkan dua orang aktor atau lebih dalam tindakan sosial timbal balik)

(Ritzer dan Goodman, 2010: 293).

Meskipun manusia memberikan tanggapan setelah menangkap

atau memberikan makna kepada simbol yang diterimanya, namun seperti

dikatakan George Herbert Mead dan Herbert Blumer bahwa tidak semua

interaksi terjadi antara manusia melibatkan simbol-simbol dan interpretasi.

Mereka membedakan dua macam interaksi yaitu interaksi non-simbolik

dan simbolik. Adapun interaksi non-simbolik yaitu tidak melibatkan pikiran

seperti gerakan reflex dan interaksi simbolik menggunakan proses berfikir

(Raho, 2010: 48).

2. Teori Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses mempelajari dan menghayati norma,

nilai, peran dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan supaya

seorang individu bisa berpartisipasi secara efektif di dalam kehidupan

masyarakat. Menurut Berger (1990: 187) sosialisasi didefenisikan sebagai

pengimbasan individu secara komprehensif dan konsisten ke dalam dunia

objektif suatu masyarakat. Sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama

yang dialami individu dalam masa kanak-kanak yang dengan itu ia

menjadi anggota masyarakat. Sosialisasi sekunder adalah setiap proses

berikutnya yang mengimbas individu yang sudah disosialisasikan itu ke

44
dalam sektor-sektor baru dunia objektif masyarakatnya. Sosialisasi dan

dukungan diberikan oleh orang-orang sekitar anak yakni keluarga,

sekolah, teman sebaya dan masyarakat selaku agen-agen sosial yang

memikul tanggung jawab dalam mewujudkan kesejahteraan anak serta

menjadikan anak menjadi orang dewasa yang produktif.

Sosialisasi dipandang dari dua perspektif, yakni masyarakat dan

individu. Bagi masyarakat, sosialisasi adalah proses menyesuaikan

individu dengan cara hidup yang sudah terorganisir dan mengajarkan

tradisi budaya dari masyarakat bersangkutan. Sedangkan dari perspektif

individu, sosialisasi adalah suatu proses mengembangkan diri pribadi atau

self. Melalui kontak dengan orang lain, individu memperoleh identitas,

mengembangkan nilai-nilai dan aspirasi, serta mendayagunakan segala

kemampuan yang ada padanya (Raho, 2016: 115).

Agen-agen sosialisasi adalah kelompok atau konteks sosial dimana

di dalamnya proses sosial berlangsung. Adapun agen-agen sosialisasi

terdiri dari keluarga, teman sebaya, sekolah dan media. Keluarga adalah

agen sosialisasi pertama dan utama bagi anak. Melalui keluarga, anak

memperoleh pengetahuan mengenai nilai dan norma dalam masyarakat.

Agen sosialisasi lain adalah kelompok bermain atau teman sebaya.

Kelompok ini biasanya terdiri dari anak-anak dengan minat yang sama

dan berusia kurang lebih sama. Kelompok bermain pada awalnya terdiri

anak-anak tetangga dan seiring perkembangan anak bisa berasal dari

teman sekolah atau teman sekelas (Raho, 2016: 120).

45
Saat anak mulai bersekolah ia bertemu dengan sejumlah orang

asing. Di sekolah ia belajar berinteraksi dengan orang-orang yang bukan

anggota keluarganya dan bisa saja mempunyai latar belakang berbeda

dengan dirinya. Sumbangan terbesar dari sekolah dalam proses

sosialisasi adalah mengajarkan anak pengetahuan dan keterampilan.

Namun, anak bukan hanya belajar hal-hal tertera dalam kurikulum

melainkan mereka mempelajari apa yang tidak tertulis seperti nilai, norma

budaya dan pola tingkah laku sesuai dengan harapan masyarakat. Hal

tersebut tampak dalam peraturan-peraturan berlaku dan disiplin yang

diajarkan (Raho, 2016: 121).

Media massa dan elektronik mempunyai pengaruh sangat kuat

dalam membentuk sikaf dan tingkah laku dan menjadi agen sosialisasi

sangat berpengaruh dewasa ini seperti anak-anak menghabiskan banyak

jam untuk nonton TV ketimbang belajar. Meskipun media memiliki banyak

sumbangan positif, namun tidak semua media memuat nilai-nilai sesuai

dengan harapan. Sehingga orangtua harus jeli untuk bisa membantu anak

memilah apa yang bisa di tonton dan informasi mana dapat diambil anak

dari media.

Mead (Susilo, 2016: 71) menjelaskan bahwa sosialisasi dipandang

sebagai individu yang mempelajari evaluasi simbolik, misalnya baik atau

buruk diletakkan pada kondisi dan kesesuaian dengan ciri-ciri dari perilaku

dalam peran-peran tertentu. Individu harus mendapatkan bekal-bekal

symbol yang cukup karena ia harus mengambil peran orang lain. Karena

46
banyaknya peran tersedia dalam masyarakat, maka tidak semua peran

dapat diambil. Hanya pihak-pihak dapat dipercayai saja. Matang tidaknya

proses pengambilan peran tidak lepas dari pengembangan self yang

dimiliki masing-masing individu. Semakin banyak mengambil peran dari

individu lain, maka self semakin berkembang dengan baik.

Adapun tahapan-tahapan dari sosialisasi menurut Mead antara lain:

(1) Tahapan persiapan yaitu saat anak dilahirkan sampai mempersiapkan

diri untuk mengenal dunia sosialnya. (2) Tahapan permainan atau meniru

(Play stage) yaitu, tahap semakin sempurna anak menirukan peran orang

dewasa sperti anak yang yang berpura-pura sebagai ayah, ibu atau peran

orang dewasa lainnya yang dikenal. (3) Tahapan siap bertindak (Game

stage) yaitu peniruan peran orang dewasa yang dilakukan sudah

berkurang, digantikan memainkan peran secara langsung. Selain itu, anak

juga sudah mampu memahahami peran-peran dari orang lain. (4) Tahap

penerimaan norma secara kolektif (Generalizing stage) yaitu tahap

seorang anak sudah dewasa dan dapat memainkan perannya dalam

masyarakat yang luas (Susilo, 2016: 72-73).

3. Teori Ekologi Perkembangan

Manusia dipandang sebagai makhluk berkembang dan beradaptasi

melalui interaksi dengan semua elemen di lingkungannya. Hubungan

timbal balik antara individu dengan lingkungan akan membentuk tingkah

laku individu tersebut. Teori ekologi menyatakan bahwa konsep ekologi

bisa diterapkan pada manusia. Ekologi manusia meliputi konteks biologis,

47
psikologis, sosial dan budaya (Bronfenbrenner dan Moris dalam Hidayati,

2011: 14). Teori ekologi perkembangan anak menekankan pada interaksi

seseorang dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya.

Teori ekologi perkembangan anak diperkenalkan oleh seorang ahli

Psikologi bernama Uri Bronfenbrenner dari Cornell University Amerika

Serikat. Melalui teori yang awalnya diberi nama ecological system teory

tersebut, Bronfenbrenner menjelaskan bagaimana individu berkembang di

dalam berbagai lapisan lingkungannya. Secara umum, teori ini membantu

memahami bagaimana budaya atau kultur dan berbagai pengalaman

sosialisasi membentuk perkembangan individu.

Bronfenbrenner (Izzaty: 5) mengatakan bahwa individu yang

berkembang dipandang sebagai partisipan aktif dalam proses belajar.

Istilah ekologis dikenalkannya mengacu pada konteks individu dalam

berbagai situasi berpatok pada penyediaan bermacam-macam pola

hubungan atau interaksi sosial, serta aturan-aturan dan kesempatan

sosial yang bermanfaat untuk pembentukan tingkah laku (Guerra dkk

dalam Izzaty: 5).

Delaney dan Suharto (2011: 72) menyatakan bahwa ada tiga

struktur mendasar tempat terjadinya hubungan dan interaksi dengan pola

tertentu yang mempengaruhi perkembangan manusia berdasarkan teori

sistem ekologis Bronfenbrenner antara lain: mikrosistem, mesosistem dan

makrosistem. Ketiga sistem tersebut akan membantu perkembangan anak

dalam membentuk fisik dan mentalnya.

48
Adapun uraian ketiga subsitem (Mujahidah, 2015: 174) tersebut antara

lain:

(1) Mikrosistem adalah lingkungan dimana anak tinggal, konteks ini

meliputi keluarga anak, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tempat

tinggal. Dalam sistem mikro, terjadi banyak interaksi secara langsung

dengan agen sosial yaitu orang tua, teman dan guru. Dalam proses

interaksi, anak bukan saja sebagai penerima pasif tetapi turut aktif

membentuk dan membangun lingkungan mikrosistemnya. Setiap

subsistem dalam mikrosistem saling berinteraksi, dampaknya setiap

masalah yang terjadi akan mempengaruhi satu sama lain misalnya,

keadaan di rumah dapat mempengaruhi tingkah laku anak di sekolah

seperti seorang anak yang ditolak keberadaannya oleh orangtuanya

terkadang sulit membangun hubungan positif dengan guru.

(2) Eksosistem adalah sistem sosial yang lebih besar. Anak tidak terlibat

interaksi secara langsung, tetapi bisa begitu berpengaruh terhadap

perkembangan karakter anak. Subsitemnya terdiri dari lingkungan

tempat kerja orang tua, kenalan saudara, dan peraturan dari pihak

sekolah.

Makrosistem adalah sistem lapisan terluar dari lingkungan anak.

Subsistemnya terdiri dari ideology Negara, Pemerintah, tradisi, agama,

hukum, adat istiadat, budaya dsb. Menurut Berk (Mujahidah, 2015: 175)

budaya yang dimaksud dalam subsitem makro adalah pola tingkah laku,

49
kepercayaan dan semua produk dari sekelompok manusia dan diwariskan

dari generasi ke generasi berikutnya

D. Kerangka Konseptual

Setiap anak memiliki potensi, bakat dan minat masing-masing yang

dapat dikembangkan, tidak terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus.

Anak berkebutuhan khusus yaitu anak-anak yang mengalami gangguan

secara fisik, emosi dan mental. Selain itu anak yang termarjinalkan, anak

korban bencana juga termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus,

akan tetapi untuk keperluan sekolah inklusi biasanya dibagi menjadi 8

kelompok yaitu autis, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, tunanetra,

tunarungu, anak berkesulitan belajar dan anak berbakat istimewa. Dalam

hal ini peneliti hanya akan membahas lebih detail salah satu jenis anak

berkebutuhan khusus yaitu anak berkesulitan belajar yang menjadi fokus

dari penelitian.

Keluarga adalah tempat pertama terbentuknya kepribadian anak.

Melalui pendidikan dan pengasuhan yang diterima dari pihak keluarga

yang menjadi bekal anak untuk bisa beradaptasi dengan dalam kehidupan

masyarakat. Namun, beradaptasi dengan pihak lain bukanlah hal yang

mudah bagi anak berkebutuhan khusus. Hal ini disebabkan tidak semua

orang bisa menerima keberadaan anak dengan baik karena anggapan

bahwa anak berkebutuhan khusus berbeda. Maka, tidak mengherankan

apabila anak mendapat berbagai macam bentuk-bentuk perlakuan dari

orang-orang di sekitarnya.

50
Perlakuan dari keluarga, pihak sekolah dan masyarakat sangat

bergantung dari penerimaan atau penolakan atas kekurangan yang ada

pada anak. Perlakuan pihak keluarga merujuk pada fungsi keluarga

seperti pemenuhan kebutuhan anak, pemberian kasih sayang, fungsi

perlindungan, fungsi sosialisasi dan penentuan status dll. Perlakuan dari

pihak sekolah merujuk pada pemberian nilai pada siswa, metode

pengajaran, sikaf para pengajar terhadap keberadaan anak berkebutuhan

khusus di dalam kelas reguler. Penggabungan anak berkebutuhan khusus

dengan anak normal di sekolah reguler diharapkan bisa menjadi tempat

pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi semua anak termasuk anak

berkebutuhan khusus dan bisa menumbuhkan sikaf saling menghargai

dan menerima perbedaan. Sedangkan perlakuan dari pihak masyarakat

berupa sikaf terhadap keberadaan anak berkebutuhan khusus serta

pengikutsertaan dalam kegiatan yang ada dalam masyarakat.

51
Berdasarkan uraian singkat diatas dapat dijabarkan kedalam

skema kerangka konseptual sebagai berikut:

Perlakuan Masyarakat

1. Sikaf Masyarakat
2. Pengikutsertaan
dalam Kegiatan
Masyarakat.

Perlakuan Keluarga
Anak Berkebutuhan 1. Fungsi Ekonomi
Sekolah Inklusi Khusus 2. Fungsi Perlindungan
SMPN 1 ALLA  Anak Berkesulitan 3. Fungsi Afeksi
Belajar 4. Penentuan Status
5. Fungsi Sosialisasi

Perlakuan Sekolah

1. Sikaf Pengajar
2. Pemberian Nilai
3. Metode Pengajaran

Gambar 2.1 Skema Kerangka Konseptual Penelitian

Keterangan:

: Lokasi Penelitian

: Bentuk Perlakuan Anak

52
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini bermaksud mengetahui perlakuan aktor yang terlibat

dalam memberi perlakuan kepada anak berkebutuhan khusus di Sekolah

Inklusi SMP Negeri 1 Alla sehingga bisa terjawab masalah penelitian yang

telah dirumuskan. Jenis penelitian yang dianggap bisa mengungkap

perlakuan anak berkebutuhan khusus di SMPN 1 Alla Kab. Enrekang

secara mendalam adalah penelitian kualitatif. Sedangkan untuk

implementasi operasional digunakan Studi Kasus sebagai pendekatannya.

Adapun yang dimaksud dengan penelitian kualitatif menurut

Bogdan dan Taylor (Moleong, 2004: 4-5) adalah prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari

orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut Creswell dalam

Jusnawati (2015: 49), jenis penelitian kualitatif dibagi menjadi 5

pendekatan penelitian yaitu: etnografi, grounded theory, studi kasus,

fenomenologi dan naratif.

Agar penelitian ini berjalan mengikuti alur penelitian kualitatif, maka

dibuat mengacu pada tahap penelitian yang kemukakan oleh Moleong

(2004: 127) dengan tahap-tahap seperti berikut:

1. Tahap pra lapangan, tahap ini adalah tahap penjajakan dimana

peneliti menyiapkan segala keperluan sebelum terjun meneliti di

53
lapangan. Hal-hal yang dilakukan dalam tahap ini adalah menyusun

rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus

perizinan, menjajaki dan menilai lapangan, memilih dan

memanfaatkan informan, menyiapkan perlengkapan penelitian dan

persoalan etika penelitian.

2. Tahap pekerjaan lapangan, dalam tahap ini ada tiga pekerjaan

yang harus dilakukan yaitu memahami latar penelitian dan

persiapan diri, memasuki lapangan, mengumpulkan data.

3. Tahap analisis data adalah tahap mengolah data yang dimulai

pada saat peneliti mengumpulkan data.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Alla, Kecamatan Alla

Kabupaten Enrekang. Peneliti memilih lokasi tersebut disebabkan karena

di antara beberapa sekolah yang dicanangkan Pemerintah Kota Enrekang

sebagai sekolah inklusi tahun 2014, sekolah ini menjadi salah satunya

yang masih aktif menerima dan melayani kebutuhan pendidikan bagi anak

berkebutuhan khusus sampai sekarang. Selain itu, sebelum dijadikan

sekolah inklusi, pihak sekolah memang sudah sering menerima anak

berkebutuhan khusus yang masih bisa di layani oleh mereka, hal tersebut

terbukti dari adanya alumni sekolah merupakan seorang penyandang

autis dan anak tunadaksa. Sedangkan di sekolah inklusi lainnya hampir

tidak ada anak berkebutuhan khusus yang terdeteksi oleh pihak sekolah.

54
Sebelumnya ada beberapa siswa berkebutuhan khusus bersekolah di

sana, tetapi seiring waktu banyak yang mengundurkan diri entah itu

pindah ke tempat lain ataupun putus sekolah.

C. Sumber Data

Menurut Lofland dan Lyon (Moleong, 2004: 157). Sumber data

utama penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya ada

data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Data yang digunakan untuk

menjawab pertanyaan dari penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber,

baik berupa data primer maupun data sekunder.

1. Data primer diperoleh dengan wawancara langsung bersama

orang-orang yang paling dekat dan sering berada di sekitar anak

berkebutuhan khusus yaitu keluarga, guru dan tetangga sekitar

tempat tinggal anak.

2. Data sekunder berupa hasil observasi dan dokumen-dokumen yang

diperoleh dari sekolah inklusi SMP Negeri 1 Alla Kabupaten

Enrekang. Dokumen tersebut seperti profil siswa, daftar tendik

jumlah siswa, sarana penunjang yang disediakan sekolah dan data-

data berkaitan dengan lokasi dan wilayah penelitian. Peneliti

menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat temuan dan

melengkapi hasil dari wawancara langsung yang sudah dilakukan

dengan keluarga, guru dan tetangga anak berkebutuhan khusus.

55
Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Purposive

sampling digunakan pada penelitian yang lebih mengutamakan tujuan

penelitian daripada sifat populasi dalam menentukan sampel penelitian

(Bungin, 2013: 118). Informan utama dalam penelitian ini adalah orang-

orang yang memberi perlakuan kepada anak berkebutuhan khusus di

dalam keluarga, masyarakat dan sekolah. Informan penunjang yaitu anak

berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan dari segi mental dan

perilaku. Adapun jumlah informan keseluruhan yaitu delapan orang, enam

orang diantaranya merupakan informan kunci yakni orang-orang yang

berada disekitar anak, terdiri dari dua orang tua anak berkebutuhan

khusus, dua orang staff pengajar terdiri dari wali kelas dan kepala sekolah

di SMP Negeri 1 Alla, dua orang tetangga dekat anak berkebutuhan

khusus yang sering melakukan interaksi dengan anak dan dua anak

berkebutuhan khusus.

Secara sederhana di gambarkan dalam tabel di bawah ini seperti

berikut:

Tabel 3.1 Jumlah Sampel

Informan Sampel

Kunci 1. Orang tua anak 2

2. Tetangga 2

3. Kepala sekolah dan guru 2

Penunjang Anak Berkebutuhan Khusus 2

Jumlah 8 orang

56
D. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti dalam melakukan penelitian ini, memanfaatkan waktu se-

efektif mungkin mengumpulkan informasi di lokasi penelitian. Teknik

pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, wawancara

mendalam, penggunaan dokumen. Pengumpulan data juga menggunakan

bantuan alat seperti hape dan kertas untuk merekam, memotret dan

mencatat data.

Adapun teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian

ini yaitu:

1. Observasi

Penelitian ini menggunakan teknik observasi yang di dalamnya

peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perlakuan

keluarga, guru dan masyarakat terhadap anak berkebutuhan

khusus yang berada di SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang.

Pada penelitian ini, observasi yang lakukan adalah observasi

terbatas dimana peneliti hanya melakukan pengamatan di lapangan

tanpa ikut terintegrasi dalam rutinitas maupun realitas yang ada di

lokasi. Melalui observasi, peneliti mengumpulkan data mengenai

kejadian, tindakan sadar maupun tindakan yang terjadi secara

otomatis dalam proses interaksi antar informan yang terjadi baik di

sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal anak.

Pengamatan dilakukan secara langsung pada saat berada di

sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Dalam prakteknya peneliti

57
lebih banyak menggunakan bantuan hand phone sebagai kamera

dan alat perekam. Pencatatan dilakukan sembari melakukan

pengamatan dan pada saat wawancara usai di laksanakan.

2. Wawancara

Penelitian ini menggunakan wawancara mendalam (indepth

interview) untuk memperoleh informasi mengenai perlakuan

terhadap anak berkebutuhan khusus dengan mengacu pada

pedoman wawancara yang telah disiapkan dan teknik wawancara

terstruktur. Wawancara dengan teknik wawancara terstruktur

adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri

masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dengan

menggunakan format wawancara (Moleong dalam Jusnawati, 2015:

55).

3. Dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian ini, sebagaimana yang diungkapkan

Creswell dalam Jusnawati (2015: 55) yakni peneliti mengumpulkan

dokumen-dokumen berupa dokumen publik (Koran, makalah,

laporan kantor) ataupun dokumen privat (buku harian, surat dan

email). Jadi hal ini seperti mencatat kembali data yang sudah ada

58
E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data menjelaskan bagaimana proses reduksi data,

peyajian data dan penarikan kesimpulan. Menurut Moleong (2004, 280),

bahwa analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan

data ke dalam pola, kategori dan kesatuan uraian dasar sehingga dapat

ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang

disarankan oleh data.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada

tahapan analisis data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman yakni:

pengumpulan data, reduksi data, penyajian dan pengambilankeputusan/

kesimpulan. Ke empat hal tersebut saling terkait satu sama lain. Pertama-

tama dikumpulkan data di tempat penelitian. Pengumpulan data dilakukan

dengan mencatat semua hasil wawancara dan observasi yang ditemukan

di lapangan. Kemudian menyusun dan menggolongkan setiap informasi

yang mengena dengan tema yang diteliti serta membuang informasi yang

di anggap tidak penting atau tidak berhubungan dengan masalah diteliti.

Setelah selesai di pilah-pilah semua informasi yang dikumpulkan barulah

datanya disajikan. Setelah disajikan kemudian ditarik kesimpulan dari data

yang ditemukan.

59
F. Keabsahan Data

Pengecekan keabsahan data dilakukan agar bisa yakin dengan

kebenaran informasi yang didapat dari informan. Dalam penelitian ini,

guna mendapat informasi yang valid, peneliti melakukan wawancara

ulang dengan anak berkebutuhan khusus untuk memastikan

kebenaran perlakuan yang dikemukakan oleh pihak keluarga, tetangga

dan pihak sekolah kepada mereka. Namun, berhubung karna anak

berkebutuhan khusus ini sangat sulit dimintai keterangan jadi peneliti

juga melakukan mewawancarai orang lain yang tau seluk-beluk anak

berkebutuhan khusus tersebut.

60
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Lokasi Penelitian

1. Profil Sekolah SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang

Sekolah SMPN 1 Alla merupakan SMP Negeri pertama yang di

bangun di Kecamatan Alla. Lokasinya terletak di Jalan Pendidikan Sudu,

Kelurahan Buntu Sugi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. Untuk

sampai di Jalan Pendidikan Sudu bisa melalui jalan poros Enrekang-

Toraja. Pertama-tama setelah memasuki kawasan Kecamatan Alla

kemudian meneruskan perjalanan mengikuti jalan poros ke Toraja.

Perjalanan tersebut akan melewati salah satu pasar terkenal

dikalangan masyarakat Enrekang Duri yakni Pasar Tradisional Sudu. Di

sepanjang jalan terlihat rumah dan ruko-ruko milik penduduk dan sekitar +

sepuluh menit kemudian akan ditemukan sebuah simpang tiga.

Dipersimpangan tersebut terdapat sebuah tanda yang menunjukkan arah

apabila ingin sampai ke sekolah SMP Negeri 1 Alla. Ada sekitar seratus

meter (100 m) jarak yang ditempuh dari pertigaan hingga sampai di depan

gerbang sekolah.

Lokasi SMPN 1 Alla berada di sekitar pemukiman warga, sehingga

sepintas bila memasuki wilayah tersebut, tidak ada tanda-tanda adanya

sebuah bangunan sekolah di tempat itu. Batas-batas lokasinya pada

sebelah utara, timur dan barat berbatasan langsung rumah-rumah

penduduk, sedangkan sebelah selatan dengan kebun holtikultura milik

61
penduduk. Di bagian depan bangunan terdapat pagar besi yang

membatasi rumah warga dengan sekolah serta pintu gerbang yang

terbuat dari tembok yang bertuliskan nama sekolah yaitu “SMPN 1 ALLA”.

SMP Negeri 1 Alla menempati lahan seluas + 14.955 M2 yang

sebagian besar tanahnya digunakan untuk membangun gedung sekolah

dan sebagian lainnya diperuntukkan sebagai lapangan, taman dan lahan

parkir. Sekolah ini menjadi salah satu SMP Negeri favorit dikalangan

masyarakat karena menjadi SMPN tertua dan satu-satunya sekolah

percontohan inklusif di Kecamatan Alla. (Data SMPN 1 Alla, 2017).

SMP Negeri 1 Alla di bangun pada tahun 1979. Tidak memakan

waktu lama, sekolah ini juga mulai di operasikan di tahun yang sama yakni

tahun 1979, walaupun saat itu pembangunan belum sepenuhnya selesai.

Nama pertama kali digunakan sekolah adalah SMEP Interaksi Kalosi.

Seiring perkembangannya, SMEP Interaksi Kalosi kemudian di ubah

namanya menjadi SMPN 1 Alla dan merupakan SMPN pertama yang

didirikan di Belajen, Kecamatan Alla. (Sumber data SMPN 1 Alla 2017).

Pada tahun 2014, pemerintah kota mencanangkan tiga SMP Negeri

di Kabupaten Enrekang sebagai percontohan sekolah inklusf dan salah

satu diantaranya adalah SMPN 1 Alla. Sekolah ini menerima siswa-siswi

baik anak yang normal maupun anak berkebutuhan khusus untuk belajar

bersama dalam kelas yang sama dan mendapat pengajaran dari guru

yang sama pula. Kurikulum yang digunakan di sekolah ini adalah K13 dan

62
KTSP dan tidak ada kurikulum khusus untuk siswa berkebutuhan khusus

(Wawancara tanggal 8 Mei 2017).

Visi dan misi dari SMP Negeri 1 Alla adalah sebagai berikut:

1) Visi

Membangun generasi yang unggul dalam prestasi, berwawasan

lingkungan agropolis berdasarkan IPTEK, bernuansa iman dan

taqwa.

2) Misi

a. Meningkatkan pembelajaran yang bermutu untuk menghasilkan

prestasi akademik.

b. Menerapkan CTL dalam proses pembelajaran semua mata

pelajaran.

c. Mengintegrasikan wawasan lingkungan agropolis dalam mata

pelajaran yang sesuai.

d. Menumbuh kembangkan sikaf budi pekerti berdasarkan iman

dan taqwa.

e. Menerapkan sistem penilaian secara konsisten dengan

mengacu pada standar penilaian.

f. Mengoptimalkan pengerahan sumber daya (sarana dan

prasarana, sumber daya manusia dan sumber dana). (Sumber

data SMPN 1 Alla).

63
2. Sarana dan Prasarana SMP Negeri 1 Alla

Kelengkapan sarana/prasarana menjadi suatu keharusan bagi

sekolah bila ingin memberikan layanan pendidikan yang layak kepada

siswa. Begitupun halnya dengan SMPN 1 Alla yang selalu berusaha

menyediakan fasilitas yang dibutuhkan oleh semua siswa maupun guru.

Berdasarkan observasi peneliti, sejumlah sarana/ prasarana sudah

melengkapi proses belajar mengajar yang berlangsung di SMP Negeri 1

Alla di antaranya ruang kelas, ruang inklusif, perpustakaan, bank sampah,

laboratorium, lapangan, jalanan khusus untuk pengguna kursi roda dan

ruangan penunjang proses pembelajaran lainnya.

Ruang kelas sebagai bangunan utama jumlahnya ada 22 ruangan.

Di dalamnya dilengkapi meja dan kursi berbentuk segi empat sejumlah 25

buah sesuai dengan jumlah siswa setiap kelas. Susunan kursi dan meja di

bentuk berdasarkan keinginan setiap penghuni kelas. Ada susunan meja

dan kursi membentuk huruf U dan ada juga dibuat sejajar seperti bentuk

susunan meja dan kursi dalam kelas pada umumnya. Selain meja dan

kursi siswa, juga terdapat 1 set meja dan kursi untuk guru. Di dinding

kelas terdapat pajangan berupa gambar pahlawan, roster mata pelajaran

dan daftar kebersihan. Di sudut-sudut jendela dipajang hasil karya siswa

berupa botol minuman bekas yang di cat berwarna warni dan digunakan

sebagai pot bunga plastik. Di luar kelas terdapat papan mading, tempat

sampah dan penyimpanan sepatu guru dan siswa.

64
Ruang inklusif atau biasa dikenal dengan nama ruang sumber

digunakan siswa berkebutuhan khusus apabila harus mendapat

bimbingan dari guru pendamping untuk mengoptimalkan pelajaran yang

telah diterima dalam kelas sebelumnya. Tidak ada perbedaan mencolok

antara kelas inklusi dan kelas lainnya. Perbedaannya hanya terletak pada

warna cat dinding kelas yang sengaja diberi warna abu-abu. Akan tetapi

ruang inklusif ini tidak pernah digunakan untuk belajar mengajar karna

tidak adanya guru pendamping khusus bagi anak berkebutuhan khusus

(Wawancara tanggal 10 Mei 2017).

Gambar 4.1 bagian depan ruangan inklusif, 2017.

Seperti halnya ruang inklusif, keberadaan jalanan yang dibangun

khusus untuk pengguna kursi roda ini juga sudah menjadi jalur umum bagi

siswa yang lain. Pasalnya, sejak diresmikan menjadi sekolah inklusif

sampai sekarang, pihak sekolah belum juga menerima siswa tunadaksa

yang harus menggunakan kursi roda. Menurut hasil wawancara, pernah

ada anak tunanetra dan tunarungu yang mendaftar di SMP Negeri 1 Alla,

65
tapi pihak sekolah mengarahkan ke anak ke SLB. Hal ini dikarenakan

fasilitas yang mendukung proses belajar mengajar untuk anak tunarungu

dan tunanetra seperti ketersediaan buku Braille dan penunjang lainnya

belum tersedia. Selain itu, guru pendamping untuk anak berkebutuhan

khusus juga belum ada (Wawancara tanggal 10 Mei 2017).

Gambar 4.2 Jalanan khusus untuk pengguna kursi roda, 2017.

Perpustakaan berada di dekat ruang kelas agar tempatnya strategis

dan bisa didatangi siswa pada saat jam istirahat. Ruangan ini di jaga oleh

ibu Saripa. Selain buku, di ruangan ini juga terdapat meja dan kursi yang

bisa digunakan siswa ketika ingin membaca. Ada juga yang biasa

meminjam buku. Syaratnya siswa harus mencatat identitas siswa serta

judul buku yang di pinjam pada lembaran yang sudah ibu Saripa sediakan.

Dan bagi siswa yang melanggar seperti merusak, menghilangkan atau

terlambat mengembalikan buku bisa dikenakan denda.

66
Ruangan lain tidak kalah penting keberadaannya dalam menunjang

proses pembelajaran siswa antara lain: ruang TIK, ruang keterampilan,

laboratorium IPA, dan lapangan olahraga. Lapangan olahraga berada

tepat di bagian tengah antara gedung-gedung sekolah. Lapangan ini

terdiri atas 3 bagian yaitu lapangan basket, lapangan volley dan takraw

yang sengaja di tembok lantainya. Di lapangan ini tempat siswa

melakukan praktek mata pelajaran pendidikan jasmani, kegiatan porseni

atau bermain-main saat jam istirahat.

67
3. Struktur Organisasi Sekolah SMP Negeri 1 Alla

Struktur yang ada di SMP Negeri 1 Alla bisa dilihat dalam

skema sebagai berikut:

Gambar 4.3

Struktur organisasi SMP Negeri 1 Alla

KETUA KOMITE KEPALA SEKOLAH

Drs. MUHAMMAD Dra. Hj. MARYAM RAJUDDIN


KEPALA TU.

MUSTAKIM, SPd
WAKASEK

JUFRAN, S.Pd

URUSAN KURIKULUM URUSAN KESISWAAN URUSAN HUMAS URUSAN SARANA/PRASARANA

AYUB PARINDING, S.Pd BAHARUDDIN, S.Pd MUH. RUSMAN, S.Pd MUSLIMIN, S.Pd

PERPUSTAKAAN BK/BP LABORATORIUM

WALI KELAS

GURU

SISWA

MASYARAKAT

68
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Profil Anak Berkebutuhan Khusus

Sebelum membahas mengenai perlakuan anak, terlebih dahulu

akan diceritakan tentang profil dari kedua anak berkebutuhan khusus yang

di singgung dalam penelitian ini. Berikut penjelasannya di bawah ini:

a. ZF (19 Tahun)

ZF adalah laki-laki dan merupakan anak ke-enam dari sembilan

bersaudara buah hari pasangan NI dan NM. ZF menetap bersama kedua

orang tuanya di daerah Sudu Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. Saat

ini dia sekolah di SMP Negeri 1 Alla dan sudah duduk di bangku kelas 2.

ZF dikenal sebagai anak kurang waras di lingkungannya. Bahkan di dalam

keluarga pun seperti itu. Menurut informasi orang tuanya, ZF semasa bayi

tidak menunjukkan adanya gejala kelainan dalam dirinya. Kekurangan

tersebut baru terlihat pada saat dia mulai menginjak usia kanak-kanak.

Ibunya mengklaim, kelainan disebabkan karna semasa kecil ZF sering

mengalami deman tinggi dan kejang-kejang. Dalam bahasa Enrekang Duri

diistilahkan lillang. Pada saat itu, orang tuanya kesulitan dalam hal

financial sehingga setiap ZF sakit, mereka hanya mempercayakan

kesembuhan ZF pada pengobat tradisional (dukun) dan hampir tidak

pernah tersentuh oleh pengobatan medis. Selain masalah biaya, orang

tuanya juga berpendapat bahwa sakit kejang-kejang yang dialami ZF tidak

berbahaya dan menganggap bahwa itu memang sering kali terjadi pada

anak kecil.

69
ZF dalam kesehariannya di rumah sering membantu ibunya

menyelesaikan pekerjaan rumah. Bahkan ZF punya pekerjaan rutin

sebelum berangkat ke sekolah yaitu harus pergi mengambil air bersih dari

sumur tetangga yang berjarak sekitar + 150 Meter dari rumahnya dengan

menggunakan troli. Selain itu, dia juga sering di perintah untuk

mengerjakan pekerjaan rumah lainnya seperti membuat minuman untuk

tamu, membersihkan rumah, memasak, mencuci piring, mencuci pakaian

dan menyapu di kolong rumah.

Pada masa kanak-kanak, ZF mulai menunjukkan kelainan seperti

sering mengamuk, marah tidak jelas dan anti sosial. Saat mengamuk dia

membenturkan kepalanya ke dinding dan lantai, memukul badannya

sendiri serta membanting dan merusak barang-barang. Saat masih duduk

dibangku sekolah dasar, ZF sering memukul dan berkelahi dengan teman-

temannya serta marah-marah sambil berdiri di atas meja apabila

diperintah atau ditegur oleh gurunya. Dia juga anak yang pelupa, tidak

suka berinteraksi dengan orang lain, kurang inisiatif, pasif dan terhambat

dalam belajar. Saat ini, dia belum lancar dalam membaca, menulis dan

berhitung. Karena itu keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggal ZF

sering memanggil dia anak yang bodoh atau setengah liter.

Di sekolah ZF di kategorikan sebagai anak berkesulitan belajar. Hal

tersebut ditentukan bukan tanpa alasan oleh guru-gurunya. Tapi dilihat

berdasarkan evaluasi belajarnya di sekolah dan hasil dari tes intelegensi

yang dilakukan pada setiap siswa oleh pihak sekolah dengan dibantu oleh

70
sebuah Divisi Pelaksana Tes Intelegensi Siswa bernama Yayasan Putra

Bintang Yogyakarta. Hasil tes ZF menunjukkan bahwa dia memiliki

intelegensi yang sangat lemah dan nilai akademiknya pun selalu rendah.

Namun, ada satu hal yang sangat di sukainya yakni menggambar. Dia

suka menggambar kartun seperti naruto dan spiderman.

b. NU (22 Tahun)

NU adalah perempuan dan merupakan anak kedua dari tujuh

bersaudara buah hati pasangan JU dan SN. NU lahir di Pana dan saat ini

menetap bersama kedua orang tuanya di daerah Belajen Kecamatan Alla.

NU bersekolah di SMP Negeri 1 Alla dan sudah duduk di bangku kelas 2.

NU di kenal oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya sebagai anak yang

memiliki kelainan. Biasa di panggil anak bodo’-bodo’. Orang tuanya

mengetahui adanya kelainan pada NU saat masuk usia kanak-kanak.

Kelainanya tersebut seperti kurang inisiatif, terkadang mengamuk, anti

sosial, terhambat dalam pembelajaran, pasif dan selalu bertingkah tidak

sesuai dengan usianya. Selain itu, dia juga anak yang pelupa, pendiam,

suka menyendiri dan menghindari komunikasi dengan orang lain.

Kegiatan sehari-hari di rumah digunakan untuk bermain, menonton dan

terkadang di suruh membantu pekerjaan rumah.

Meskipun saat ini dia sudah berumur dua puluh dua (22) tahun

namun kelakuannya masih seperti anak kecil dan lebih suka bergaul dan

bermain dengan anak kecil seperti main rumah-rumahan, main tanah,

main masak-masak dsb. Dia juga punya teman akrab yang masih berumur

71
tiga tahun. Menurut orang tua, kelainan dari NU di akibatkan kerena

pernah mengalami jatuh dari rumah sebanyak dua kali. Selain itu, dia

sering sakit dan kejang-kejang saat masih kecil.

Di sekolah NU dikategorikan sebagai anak berkesulitan belajar. Hal

tersebut dikarenakan nilai evaluasi belajarnya selalu rendah dan hasil tes

intelegensinya sangat rendah. Dia belum lancar dalam membaca, menulis

dan berhitung. Pelajaran yang tidak dia sukai adalah matematika. Dalam

keseharian di sekolah dia lebih suka menyendiri dan menghindar untuk

berinteraksi dengan teman-teman sekolahnya.

2. Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Keluarga

Keluarga merupakan faktor sangat penting dalam perkembangan

anak, sehingga walaupun banyak ditemukan persamaan mengenai

keluarga, namun pengalaman setiap orang dalam kehidupan keluarganya

berbeda-beda. Pada saat orang tua dihadapkan kenyataan akan lahirnya

anak berkebutuhan khusus sebagai anggota baru, hal tersebut terkadang

menimbulkan ketegangan dalam suatu keluarga.

Berbagai reaksi pun ditunjukkan orang tua ketika mendapati anak

yang diidam-idamkan adalah seorang berkebutuhan khusus. Seperti

halnya dialami oleh Ibu NI sebagai salah satu orang tua yang memiliki

anak berkebutuhan khusus bernama ZF. Sekilas bila dilihat dari kondisi

fisiknya, ZF terlihat seperti anak normal lainnya. Namun saat diajak

berkomunikasi barulah terlihat kekurangan dalam diri sang anak.

72
Pada awalnya, ibu NI dan suaminya tidak mengetahui anaknya

termasuk anak berkebutuhan khusus. Tidak ada informasi dari tenaga

kesehatan yang merawat ibu NI selama kehamilan sampai proses

persalinan mengenai kemungkinan kondisi anaknya setelah dilahirkan.

Mereka hanya menyimpulkan bahwa ZF mengalami kelainan dengan

melihat perilakunya tidak seperti anak seusianya yakni sulit memahami

sesuatu yang disampaikan, pelupa, anti sosial, terkadang mengalami

gangguan emosi, kurang inisiatif, tidak mandiri dan sangat lambat dalam

belajar. Kelainan tersebut diduga disebabkan karena sang anak sering

sakit dan mengalami kejang-kejang waktu masih kecil. Pada saat anak

sakit, orang tua membawa anak ke pengobat tradisional (dukun) dengan

mengandalkan obat-obat tradisional pula karena keterbatasan biaya jika

ingin berobat ke dokter. Berikut penuturannya:

”Sebenarnya sebelumnya tidak kutau kalo ana’ku termasuk


anak berkebutuhan khusus. Karena sempurna ji fisiknya.
Ketika hamil tidak ada saya rasa kelainan. Masih sama
waktu hamilka’ kakaknya ZF. Kalau ke puskesmas periksa
na bilang ji ibu bidannya normal dan perkembangan masa
kehamilanku juga sehat. Saya melahirkan dengan cara
normal di puskesmas Sudu di bantu oleh bidan. Saya juga
teratur bawa ke posyandu jadi dia itu imunisasinya lengkap
dan pemeriksaan berat badan juga teratur. Masuk usia satu
tahun pi baru sering sekali sakit. Deman tinggi dan kejang-
kejang terus. Tidak kelihatanmi mata hitamnya. Kalau di sini
istilahnya lillang. Sakit begitu biasa memang terjadi sama
anak-balita. Setelah masuk masa kanak-kanak mulai lain
perilakunya biasa seperti anak bodo’bodo’. Sering ngamuk
tidak jelas, na benturkan kepalanya di lantai. Kalau na bicarai
orang itu lari atau diam saja. Biasa itu ku bilangi, ZF kalau na
bicarai ki orang lain di jawab jangan tunduk saja. Itumi
tambah nabilangi ki orang lain bodo’-bodo’ kalau begitu ki’.
Waktu masukmi usia sekolah kalau na suruh gurunya, naik di
meja marah-marah dan suka memukul kalau ada yang

73
ganggu. Kalau di kasi tau soal pelajaran seperti masuk
telinga kanan keluar telinga kiri, tidak ada yang tertinggal di
kepalanya. Karna dia juga cepat sekali lupa baru tidak ada
sekali minatnya mau belajar sendiri”. (Wawancara tanggal 16
Mei 2017)

“Pemahamanku penyebabnya anakku bodo’-bodo’ bukan


karna ada kelainan sejak lahir tetapi karna waktu masih kecil
sering sekali sakit dan kejang-kejang. Pernah dikira mau mi
meninggal karna kejang ki mulai dari jam 5 subuh sampai
jam 11 siang. Itu mata hitamnya tidak maumi turun. Jadi di
panggilkan mi orang-orang tua na obati ki, di kasi mi juga
obat seperti kecap dan jeruk. Karna dulu kodong susah
dapat uang kalau mau ke dokter. Jadi diobati di rumah ji
saja. Alhamdulillah pammase puang sadarki dikka waktu jam
11. Tidak ditaumi yang mana obat yang kasi sembuhki karna
banyak sekali mi di pake obati. Itumi ku bilang, seringnya ji
sakit dulu jadi kayak anak bodo’-bodo’ sekarang. Mungkin
gara-gara sering minum obat juga waktu masih kecil.”
(Wawancara tanggal 16 Mei 2017).

Tidak adanya informasi mengenai kondisi sang anak setelah

dilahirkan, menjadikan kedua orang tua ZF tidak memiliki pengetahuan

dan pemahaman cukup mengenai cara penanganan anak berkebutuhan

khusus. Kurangnya pemahaman tersebut menyebabkan ketidaksiapan

orang tua dan keluarga untuk menghadapi anak dengan kondisinya yang

berbeda. Sehingga pada saat ZF lahir dan memiliki kelainan dalam

perkembangannya, orang tua dan anggota keluarga lainnya berpendapat

bahwa ZF adalah anak yang bodoh dan anti sosial.

Hal serupa juga dialami oleh keluarga pak SN dan ibu JU yang

mempunyai anak berkebutuhan khusus bernama NU. Pada awalnya,

mereka tidak mengetahui NU termasuk anak berkebutuhan khusus. Ibu JU

tidak menerima informasi dari dokter atau bidan yang menanganinya

selama hamil hingga persalinan mengenai kondisi NU pasca dilahirkan.

74
Sehingga mereka tidak mengkhawatirkan kondisi anaknya. Saat anak

mulai menunjukkan tanda-tanda kelainan pada masa kanak-kanak, kedua

orang tua kebingungan. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman orang

tua mengenai cara menghadapi anak yang kondisinya berbeda dengan

anak normal lainnya. Mereka berpendapat bahwa kelainan disebabkan

karena anak sering jatuh saat masih kecil. Selain itu, anak juga kerap

mengalami kejang-kejang dan demam tinggi. Pada saat sakit, orang tua

sering mengandalkan pengobat tradisional (dukun) untuk kesembuhan

anak karena terbentur biaya bila harus ke dokter. Hal tersebut diungkap

dalam penggalan wawacara berikut:

“Ana’ku NU lahir secara normal di rumah tapi di bantu bidan


desa waktu itu. Perkembangan masa kehamilan juga normal.
Jadi tidak pernah istriku mengeluh ada masalah yang
dirasakan saat hamil. Saat masih balita, mamanya bilang
imunisasinya lengkap karna rajin dibawa ke posyandu.
Masuk masa kanak-kanak itu baru biasa mi lain tingkahnya.
Tapi sudahpi sering jatuh itu baru begitu ki. Waktu jatuh dulu,
terhambat ki di pembiayaan jadi tidak pernah di bawa ke
rumah sakit periksa. Tidak ada uang buat bayar biaya dokter.
Cuma di urut ji saja karna sempat mengalami cedera.
Waktunya mulai mi lain tingkahnya, waktu itu belumpi ku tau
termasuk pale anak inklusi. Apalagi, bisa dibilang saat itu
saya masih termasuk orang tua baru karna dia anak kedua.
Belum punya banyak pengalaman dalam merawat dan
mendidik anak apalagi anak berkebutuhan khusus jadi biasa
ka’ kerepotan. Takkala datang sabarnya, sabar sekali kasian.
Tapi takkala rewel susah dikasi tenang. Saat itu juga tidak di
tau bagaimana cara merawat anak seperti, jadi di kasi sama
saja cara ta’ rawat ki dengan rawat kakaknya. Tapi meskipun
pusingka’ hadapi biasaka juga na buat naik emosi ku tapi
tidak pernahka saya maki-maki anakku dengan sebutan
yang tidak pantas na dengar karna ucapan itu doa bagi
anak”. (Wawancara tanggal 18 Mei 2017)

75
Kehadiran anak berkebutuhan khusus dalam keluarga menjadi

tantangan sekaligus masalah tersendiri yang pikul oleh keluarga. Baik ibu

NI maupun pak SN memiliki pendapat yang hampir sama mengenai reaksi

mereka setelah mengetahui buah hati mereka memiliki kelainan. Awalnya

mereka merasa sedih, bingung, tidak percaya dan merasa bersalah

karena tidak maksimal dalam merawat anak. Tetapi meski anak memiliki

kelainan, orang tua tidak menganggapnya sebagai kutukan bagi keluarga

karena kelainannya disebabkan karena sering sakit. Mereka juga tidak

membeda-bedakan anak dengan saudaranya. Ibu NI menuturkan:

“Tidak ada orang tua yang mau anaknya terlahir dalam


keadaan tidak normal. Waktu dia masih kecil karna belum
ada kelainan jadi saya biasa-biasa saja. Kurawat ji seperti
waktu kakaknya masih kecil. Mulai pi biasa lain perilakunya
baruka khawatir. Apalagi setelah anak ku menunjukkan sikaf
seperti anak bodo’bodo’ sampai na bilangi orang lain anak
setengah liter. Tidak kutau mau ku apa. Awalnya pasti dirasa
sedih dan tidak percaya kalau anak ku jadi anak bodo’bodo’.
Intropeksi diri sendiri apa yang salah dari penjagaan ku
sehingga anak jadi seperti ini. Tetapi meskipun anak ku
kondisinya beda dengan anak normal, saya tidak pernah
berfikir kalau anak ku ini semacam kutukan untuk saya dan
keluarga. Karna saya tau dia jadi seperti itu gara-gara waktu
kecilnya sering sakit. Saya sama keluarga juga menerima
keadaannya dengan ikhlas tanpa ku beda-bedakan dengan
saudaranya yang lain. Meski sebelumnya merasa sedih tapi
itu tidak berlangsung lama. Karna mau bagaimana lagi,
bukan kita yang menentukan. Semua sudah ada yang atur.
Sempat takut juga waktu mau melahirkan adeknya. Saya
takut kalau adeknya setelah lahir seperti kakaknya juga”.
(Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

Hal serupa juga dituturkan oleh SN. Dia berpendapat bahwa semua

orang tua menginginkan yang terbaik bagi anak. Awalnya, merasa sedih

dan kecewa. Beliau intropeksi diri dan berusaha lebih memperhatikan

76
anak agar hal sama tidak terjadi kembali pada anaknya yang lain. Meski

memiliki kelainan, SN menerima keberadaannya sebagai amanah yang

harus diperlakukan dengan baik. Berikut penuturannya:

“Semua orang tua mau yang baik-baik untuk anak. Sedih


dan kecewa itu hal yang wajar dirasakan orang tua pada
awalnya. Begitu juga saya dan keluarga sedih saat melihat
tingkah laku anak kami menunjukkan seperti dia memiliki
kondisi berbeda dengan anak seusianya. Saya berusaha
intropeksi diri dan lebih memperhatikan anak supaya tidak
terjadi lagi kejadian seperti ini sama adek-adenya kelak. Tapi
meski begitu saya ikhlas menerima keberadaan anak ku
dalam keluarga karena saya tau kalau NU ini amanah yang
harus saya jaga dan perlakukan dengan baik”. (Wawancara
tanggal 18 Mei 2017)

Meskipun keluarga ibu NI dan pak SN sama-sama mempunyai

anak berkebutuhan khusus, akan tetapi terdapat beberapa perbedaan

perlakuan yang diberikan kepada anak. Seperti terlihat saat pertama kali

mendatangi rumah Ibu NI, ZF waktu itu baru pulang dari sekolah. Setelah

mempersilahkan duduk, beliau kemudian berteriak memanggil ZF dan

menyuruhnya membuat teh. Pada saat yang bersamaan, ada beberapa

saudara ZF yang sedang bersantai menonton di depan televisi. Ada juga

yang asyik memainkan handphone sambil mendengarkan musik di dekat

ruang tamu. Tak berselang lama, ZF datang membawa secangkir teh dan

menyuguhkannya sesuai perintah dari ibunya. Ibu NI sempat protes

kepada ZF karna membawanya tanpa menggunakan baki’. Setelah itu, ZF

berlalu ke dalam rumah, melanjutkan aktivitasnya. (Observasi tanggal 15

Mei 2017).

77
Ibu NI sering meminta bantuan pada ZF untuk membuat minuman

untuk tamu yang datang berkunjung ke rumahnya. Selain itu, ZF juga

telaten membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci

piring, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu kolong rumah.

menggoreng lauk seperti ikan, tahu dan tempe. Bahkan ZF setiap pagi

memiliki rutinitas yang harus dikerjakan sebelum berangkat sekolah yakni

mengambil air bersih di sumur milik tetangga. Hal ini seperti dituturkan ibu

NI dalam penggalan wawancaranya sebagai berikut:

“Kalau ada tamu atau teman kakaknya datang di rumah, dia


mi itu yang di suruh buatkan air minum seperti kopi. Pintar
sekali mi bikin kopi karna dia juga suka minum kopi. Di
rumah dia juga yang rajin ku suruh bantu ka’. Biasa cuci
piring sama menyapu di rumah kalau pulang sekolah.
Menyapu di kolong rumah dan cuci baju juga kalau hari libur.
Kalau mauka pergi ke suatu tempat, baru dia pulang mi dari
sekolah. Biasa ku kasi tau kalau sebentar cuci piring nah
kalau sudah makan siang. Karna ada mau ku pergi, pasti
tambah capekka kodong nanti kalau datang ma di rumah
baru masih saya yang mau cuci piring. Kalau datang ma
nanti itu di rumah sudah mi na cuci piringnya. Pintarmi juga
di suruh goreng ikan, tahu, dan tempe. Memasak nasi ji yang
belum bisa. Tapi tetap harus di awasi saat dia pakai kompor
karna kalau di suruh menggoreng biasa na tinggalkan
kompor pergi menonton. Biasa mi na lupa yang na goreng
karna asyik menonton. Dari dulu memang sudah kubiasakan
supaya bisa bantuka karna kalau di rumah menonton tv
terusji saja na kerja. Apalagi setelah menikah mi itu anak ku
yang perempuan. Biarpun masih sama ka’ tinggal tapi dia
pergi berdagang di pasar jadi capek mi kalau sampai di
rumah. Tidak ada juga kebun mau di olah kalau mau di bawa
ke kebun. Na tidak bisa juga pergi bantu bapaknya bawa
mobil seperti kakak pertamanya (Wawancara tanggal 16 Mei
2017)

”Tugasnya ZF setiap pagi sebelum berangkat sekolah, pergi


ambil air sumur di rumahnya tetanggaku. Biasa keruh air
kran di rumahku, jadi harus ke rumahnya tetangga yang ada
sumurnya ambil air untuk di masak. Galon na isi air baru na

78
kasi naik gerobak sampai di rumah. Kalau capek mi ambil air
baru masih di suruh lagi, biasa marah-marah, na pukul-pukul
tangga atau dinding pake gallon sampai pernah rusak gallon
ku na pukulkan tangga. Biasa na bilang suruh juga BN atau
saudaraku yang lain pergi ambil air. Tapi kalau tidak ada
saudaranya yang mau pergi, dia kembali ji nanti yang pergi
sendiri sambil marah-marah. Sering itu ku ingatkan kalau di
suruhki nak janganki suka marah-marah terus, nanti tambah
na bilangiki orang lain anak bodo’-bodo’ kalau suka ki
mengamuk. Diam ji saja kalau di bilangi begitu, biasa
mengangguk, biasa juga tidak ada responnya”. (Wawancara
tanggal 16 Mei 2017)

Ibu NI mengungkapkan bahwa ZF sudah dibiasakan membantunya

melakukan pekerjaan di rumah karena ZF tidak punya lain kesibukan lain

selain menonton tv saat di rumah. Sebelumnya pernah melihat ZF datang

dengan membawa pasir. Pasir dimasukkan ke dalam karung dan dipikul di

pundaknya sampai ke rumah. Saat itu ibu NI ingin membuat pot bunga

yang baru tetapi kehabisan pasir. Jadi ZF yang sudah pulang sekolah

diberi tugas pergi mengambil pasir di sungai. (Observasi tanggal 15 Mei

2017)

Saat wawancara berlangsung, baik ibu NI maupun kakak ZF dalam

beberapa percakapan sering menyebutnya anak bodoh dan setengah liter.

Beliau juga mengungkapkan bahwa ZF penyabar bila tidak diganggu,

pendiam, pemalu sering menunduk atau bahkan diam saja bila diajak

berkomunikasi oleh orang lain. Hal tersebut mungkin disebabkan karna

dia tidak mengerti apa yang ditanyakan jadi tidak bisa menjawab

pertanyaan. Sehingga saat diberi tahu harus berulang-ulang. Dia juga

tidak suka berkelahi. Hanya saja, dia sering mengamuk dan marah-marah

bila dibentak oleh saudaranya. ZF mengepresikan marahnya bukan

79
dengan adu mulut tetapi mengamuk sambil merusak dan membanting

barang. Kalau kemauannya tidak dituruti, dia sering mengamuk sambil

membenturkan kepalanya dan berguling-guling di lantai. Dia juga sangat

suka menonton jarak sangat dekat dengan tv. Seringnya bila dilarang, dia

akan marah dan membanting remot televisi. Saat dia marah, hanya NI

yang bisa membujuk dan menenangkan ZF. Berikut salah satu penuturan

ibu NI :

“Ini ana’ku anak bodo’-bodo’ kasian. Biasa dibilang anak


setengah-setengah liter. Terkadang sabar sekali jadi anak
kalau tidak adaji yang ganggu. Sangat pendiam, suka
menunduk dan pemalu kalau ketemu orang lain. Itumi kalau
kita ajak cerita nanti harus ki sabar-sabar kalau diam terus ji
karna memang begitu. Biasami mungkin gara-gara tidak
mengerti apa yang di tanyakan jadi diam ji saja. Harus di
ulang-ulang karna tidak cepat tangkap anaknya. Biasa mi itu
lain di bilangi lain juga na kerja. Dia di rumah tidak suka
berkelahi sama saudaranya. Cuma biasa baru marah sama
saudaranya kalau ada yang tidak sesuai keinginanya atau
ada salahnya baru na bentak saudaranya. Tapi caranya
ekspresikan rasa marahnya itu bukan dengan adu mulut tapi
dengan merusak atau banting barang-barang. Kalau ada na
minta baru tidak dituruti kemauannya biasa mengamuk
seperti anak kecil. Na guling-guling badannya di lantai. Biar
hal sepele kalau tidak sesuai kemauannya biasami marah-
marah. Seperti saat menonton film kartun, baru duduknya
dekat sekali depan televisi. Di larang tidak mau mendengar.
Kalau ada saudaranya ambil remot tv baru na kasi pindah
siaran lain, marah-marah. Na ambil remot na lemparkan.
Sering mi rusak itu remot na lempar. Saat di suruh haruski
sabar bujuk-bujuk sampai mau, di kasi tau baik-baik karna
dia juga cepat lupa dan tidak cepat tangkap. Jadi harus di
ulang-ulang Tapi dia juga kadang marah-marah kalau di
ulang-ulang terus yang di bilang. Waktu kecil biasa na
benturkan kepalanya di dinding kalau marah. Pernah sampai
berdarah itu kepalanya na benturkan. Biasami juga tidak
mau makan. Baru susah di kasi tenang kalau takkala
ngamuk. lama sekali baru berhenti menangis. Saya ji yang
selalu bisa bujuk ki, karna kalau kakaknya yang bujuk baru
tetap tidak mau tenang pasti akhirnya na bentak, kalau dia

80
ngamuk baru dimarahi tambah parah”. (Wawancara tanggal
16 Mei 2017)

Meski selalu memanggil ZF dengan sebutan bodoh, hal tersebut

bukan berarti Ibu NI tidak bisa menerima keadaan anaknya. Pada saat

mengetahui anak memiliki kelainan, tidak lantas membuat ibu NI dan

suami putus asa. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan anak tanpa

membedakannya dengan anak lainnya. Dalam keluarga, ZF paling dekat

dengan NI sehingga setiap akan bepergian, NI sering mengajak anaknya

tersebut. Tetapi ZF biasa menolak bila mengunjungi tempat ramai karna

dia tidak menyukai hal tersebut. Kalaupun ZF ikut bepergian, dia selalu

memegang ujung baju NI dan mengikuti kemana NI pergi. Dia tidak mau

bermain dengan anak sebayanya dan bila di ajak komunikasi oleh orang

lain, dia lebih banyak diam. NI sering mengajarkan untuk berbicara bila

diajak berinteraksi dan menjawab pertanyaan orang lain supaya tidak

dianggap sebagai anak bodo’-bodo’. Hal tersebut dituturkan dalam

penggalan wawancara berikut:

“Sembilan ana’ku, ZF anak ke tujuh dan dia ji yang anak


bodo’-bodo’. Kakak sama adeknya yang lain alhamdulillah
normal semua. Kalo kita mauki semua yang baik-baik, tapi
saat Tuhan berkehendak lain, kita hanya bisa lapang dada
menerima. Sebagai orang tua yang jadi proritas adalah
kebahagiaannya anak-anak. Saat anak-anak merasa sakit,
orang tua juga bisa merasakan. Mungkin karna darah daging
sendiri. Jadi apapun itu saya sama bapaknya berusaha
lakukan supaya bisai juga jadi seperti orang lain. Berusaha
ka’ penuhi kebutuhannya sehari-harinya. Kalau masih bisa
dikabulkan yang na minta, pasti dituruti. Dia juga tidak susah
apa yang mau na makan. Bakso na suka sekali. Biasa itu
minta apa yang naliat di televisi. Kalau di bilang nanti di
belikanko, tidak menangis mi itu. Asal tenang ki dulu karna
nantinya na lupa mi juga kalau sudah di janji mau di belikan

81
yang di televisi. Daripada di bilangi tidak di belikanko biasa
menangis mengamuk na lama di bujuk baru berhenti kalau
takkala menangis. Biasa memang ada orang tua yang na
anggap dirinya tidak beruntung atau dapat teguran kalau ada
kekurangan sama anaknya. Ada tetanggaku biasa bertanya
sama saya adakah anakmu kau beda-bedakan? Ku bilangi
kenapa mau ku beda-bedakan na sama semua ji, saya yang
lahirkanki. Itu saja ana’ku ZF bodo’-bodo’ na tidak ku
bedakan sama saudaranya. Bagi saya dia itu tetap amanah.
Apalagi kelainannya itu bukan dari lahir, tapi gara-gara
sering sakit waktu kecil”. (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

“ZF itu paling dekat sama saya kalau ada di rumah. Saya ji
yang selalu na temani. Itumi rajin kalo saya yang suruh.
Kalau bepergian dia yang selalu saya kasi ikut. Karna tidak
merepotkanji anaknya kalau di bawa ke rumahnya orang
lain. Tidak seperti ji anak yang lain yang suka ribut sana sini
dan lari kesana kemari. Dia itu ada terus ji di belakangku
ikutika. Biasa sambil pegang ujung baju ku. Sering ku bawa-
bawa ke tempat rumah orang atau tempat acara yang ramai
supaya dia terbiasa ketemu keluarga dan banyak orang. Dia
sering tidak mau ikut kalau mauka pergi ke tempat ramai.
Karna dia tidak suka dengan suasana yang ramai. Kalau
adami di rumahnya orang biasa ku bilangi pergiki main sama
anak-anak lain. Dia geleng-geleng saja tidak mau. Ku
ajarkan juga jawab pertanyaannya orang lain kalau ada yang
bertanya sama dia. Karna kalau ada orang bertanya sama
dia, diam saja. Tunduk tidak mau di liat mukanya. Biasa mi
ku bilangi memang di rumah sebelum pergi kalau di tempat
acara nanti tidak boleh menangis atau marah-marah kalau
mau minta pulang. Na ketawaiki orang nanti. Kalau ada yang
bertanya sama kita bicara ki jangan diam saja. Itumi na
bilangiki orang lain bodo’-bodo’ kalau di bicarai baru tidak di
jawab. Tapi biasa biar sudah di ingatkan begitu terus, kalau
ada yang tanya di diam saja atau geleng kepala. Di bantu pi
karna biar na jawab hampir tidak di dengar suaranya. Dari
kecilnya itu ku biasakan memang kalau salaman itu cium
tangan, sekarang kalau ada yang salaman sama dia tanpa di
ingatkan lagi dia cium tangan”. (Wawancara tanggal 16 Mei
2017)

82
Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari sang anak, ibu NI juga

memilih tetap menyekolahkan ZF meskipun nilai akademiknya selalu

rendah di sekolah. Berikut penuturannya Ibu NI:

“Sebenarnya waktu ZF masih kecil ragu ka’ ada sekolah


yang mau terima anak ku dengan keadaannya yang begitu.
Tidak ada apa na tau. Tapi itu tetangga ku yang berprofesi
sebagai guru bilang coba mendaftar saja di tempatnya
mengajar. Kebetulan lokasi sekolah dekat ji dari rumahku,
jadi ku daftarkan di sana dan alhamdulillah di terima. Waktu
di SD mi sering lagi berkelahi, datang biasa itu orang tua
murid mengeluh karna sudah lagi di pukul anaknya. tapi itupi
berkelahi kalau di ganggu duluanki. Kalau na suruh gurunya
naik mi di meja marah-marah. Pusing ma di situ. Mau ku kasi
berhenti dari sekolah karna biar juga sekolah tidak ada na
tau, tapi tambah tidak adami na tau kalau tinggalji di rumah.
Gurunya juga masih na terima. Jadi terus na lanjutkan
sekolahnya. Apalagi lewat sekolah ji baru bisa dapat ijasah.
Kalau di rumah mi itu ku ajar terus mi kalau di sekolah tidak
boleh marah-marah sama guru. Kalau suka marah-marah
nanti na bilangi ki orang ka bodo’bodo’ ini ZF karna marah
terus. Kalau suka marah sama guru dan suka pukul-pukul
orang di kasi keluarki sekolah, tidak di kasi maki itu uang
jajan seperti kakak kalau pergi sekolah. Ku bujuk terus dan
nasehati supaya tidak berkelakuan buruk lagi di sekolah. Itu
terus ku ulang-ulang ku ingatkan sampainya naik kelas dari
tahun ke tahun tidak sukami memukul temannya dan na
bilang gurunya sopan dan diam terus mi kalau ada di bicarai
guru. Di ajarkan mi juga di rumah membaca dan menulis.
Kalau menonton mi itu selalu bapaknya di suruh itu ZF baca
itu tulisan dalam televisi. Baru na kasi liat uang lima ribu
rupiah (Rp. 5.000,-) di tangannya. Kalau bisa ZF baca itu
tulisan dikasi’ ki itu uang. Begitumi awalnya mulai belajar
membaca. Begitu terus menerus di ulang-ulang. Itumi ada ji
na tau kalau membaca tapi belum terlalu lancar. Menulis
juga tidak terlalu lancarpi. Tidak kutau bagaimana penilaian
gurunya sampai ana’ku bisa lulus”. (Wawancara tanggal 16
Mei 2017)

“Lulus SD mau lagi masuk SMP, saya sama bapaknya mulai


pusing lagi cari sekolah yang mau terima kondisinya.
Dapatka’ informasi dari tetangga kalau di sekolah SMP 1 na
terima semua siswa. Bahkan ada yang anak autis. Jadi ada
lagi titik terang, ku daftarkan ke SMP 1 dan akhirnya di

83
terima. Waktu ada pertemuan orang tua murid, ku bilangi
kepala sekolahnya, tidak ada sekali na tau ini ana’ku. Tapi
beliau bilang ada ji nanti guru yang bimbingngi. Waktu kelas
satu SMP biasa na ajari teman-temannya bolos sekolah. Kan
tidak na tau bedakan yang mana baik, yang mana buruk jadi
kalau di ajari salah kodong mengikut saja sama temannya.
Itu ji temannya na bodoh-bodohi ji jadi na ajar salah. Na kasi
merokok juga di kolong rumahnya orang. Tapi tidak begitu mi
sekarang karna itu teman-temannya sudah di peringati sama
guru. Takutmi juga temannya ajar-ajar salah karna marah
kakaknya kalau ada yang ajari hal tidak baik ke adiknya.
Kebetulan juga tetangga rumahka dengan wali kelasnya.
Jadi seringka na kasi tau perkembangan anak ku di sekolah.
Nilai sekolahnya yang selalu kasi pusingka’ karena rendah
terus. Menggambar ji saja na suka sekali. Kalau di suruh
belajar pasti menggambar ji na kerja. Kalau menonton mi film
kartun, biasa na ikuti gambar kartun yang di televisi na
gambar. Na foto dulu pake hapeku baru na ikuti gambarnya.
Tapi adapi na liat baru bisa kin a gambar. Nd bisa kalau tidak
ada na tiru. Tidak tau bagaimana gurunya kasi penilaian
karna tidak ada na tau pelajaran lain selain menggambar.
Kalau di rumah itu biar itu di paksa pergi belajar biasa tidak
mau juga. Kalau di tunggu mau belajar sendiri pasti tidak
akan pergi belajar. Ada adiknya yang sama-samaki di SMP
sekarang, itumi yang biasa dampingi belajar kalau di rumah.
Biasami juga kakaknya juga ajar. Tapi mengeluh terus ini
saudaranya kalau na ajari karna mereka bilang dijelaskan
berulang-ulang tapi ZF tidak mengerti. Kalau saudaranya
sudah capek ajar baru dia tidak bisa mengerti mengeluhmi
kakaknya bilangi bodoh sekali ini ZF, Biasa juga sepertimi na
bentak. Dia kalau sudah lagi dibentak begitu tidak mau lagi
lanjutkan belajar. Berharap ka’ seandainya ada sekolah yang
tetap terima kalau naik mi lagi nanti SMA supaya selesai
sekolahnya paling tidak bisa sampai SMA. Itumi tetap ku kasi
sekolah sampai sekarang karna mau ji tetap pergi sekolah
dan sekolah masih mau terima ki”. (Wawancara tanggal 16
Mei 2017)

Hal lain yang di ajarkan Ibu NI kepada anaknya adalah baca tulis Al-

Qur’an. Berikut penuturan beliau:

“Di rumah itu selain di ajar membaca dan menulis pelajaran,


saya berusaha ajari juga shalat dan mengaji. Tapi saya tidak
tau bagaimana lagi caraku supaya dia bisa karna dia sangat
kesulitan dalam pengenalan huruf. Berapa kali mi ku bawa

84
ke guru mengaji di mesjid, karna anak-anak disini belajar
mengajinya di mesjid tapi itu gurunya juga pada akhirnya
menyerah karna lama mi di kasi ikut ngaji tapi tidak ada
perkembangan. Kalau na ajar guru ngajinya diam saja, di
suruh ikuti apa yang na baca ustad juga diam saja. Jadi na
suruhka’ ustadnya kasi pindah ke tempat lain. setelah ku kasi
pindah juga masih tidak ada hasil. Jadi saya mi sendiri yang
ajar di rumah. Seandainya kodong di kasi kemudahan bisa
na hafal surah al-fatihah dan bacaan shalat. Bagaimana cara
di ajarkan gerakan shalat kalau bacaannya tidak ada na tau.
Biasa ku fikir bagaimana kalau dewasa mi nanti baru ada
jodohnya mau menikah na tidak na tau al-fatihah. Sedih ka
juga kalau sudah ku marah-marahi karna capek ma ajar baru
tidak mengerti. Baru saya ji juga yang kerepotan bujuk ki
kalau mengamuk gara-gara sudah ku marahi. Tapi kadang
nd bisa di tahan emosi kalau sudah di ulang-lulang berkali-
kali dia tetap tidak bisa”. (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

“Biasa ka’ khawatir bagaimana mi nanti ini ana’ku kalau tidak


adaka’ sama bapaknya. Fisiknya lembek dan tidak kuat kerja
terlalu berat kalau mau jadi pekerja kasar, kerja di tempat
bagus belum tentu di terima dengan kemampuannya yang
terbatas. Sebentar ji itu mungkin di pecat mi karna tidak ada
na tau. Baru kalau bekerja pasti sering komunikasi dengan
orang lain. Dia tidak suka juga bergaul dengan banyak
orang, kalau ada yang ajak bicara dia menghindar. Di
sekolah memang ketemu banyak orang tapi dia tidak suka
bergaul juga. Tetangga ku di sini saja kalau na tanya ki, ZF
tidak menjawab tapi biasa langsung lari. Dia itu juga pulang
sekolah tidak mau pergi main sama temannya. Di rumah saja
menonton. Seandainya ada ji na tau baru bisa dapat kerja
setidaknya kalau ada penghasilannya tidak terlalu
bergantung sama orang lain kalau masalah biaya hidup.
Kalau masalah rawat diri seperti mandi, pakaian dan makan
itu na lakukan sendiri ji. Ku biasakan memang ajar dari kecil.
Itu ji kalau masalah simpan buku, rapikan buku dan tas di
tempatnya di kasi tau pi. Ganti baju sekolah di ingatkan juga.
Bahkan kerja tugas sekolah harus sering di ingatkan karna
dia selalu lupa. Biasa na bilang itu guru walinya tidak na
kerja lagi tugasnya ZF. Na lupai kerja di rumah. Sama juga
kalau pekerjaan di rumah. Harus di tunjukkan yang na kerja.
Sering ku kasi tau saudaranya kalau ada sesuatu terjadi
sama saya, jaga baik-baik ini saudara mu. Penurut ji itu
lakukan apa yang di suruhkanki asal sabar ki, jangan di
bentak kalau salah. Kalau dia itu mulai lagi marah dan
mengamuk kan tidak mau sekali di pegang tapi tetap itu

85
berusaha pergi ku peluk, ku usap-usap belakangnya. Kalau
diabaikan tambah mengamuk. Biasa ka’ mau abaikan
supaya di kasi jera. Karna kalau setiap marah baru di bujuk-
bujuk takutnya jadi kebiasaan ki. Na ulang-ulang karna na
bilang adaji mamaku bujuk ka’ tapi tidak sampai hati juga liat-
liati saja kalau na guling-guling mi badannya di lantai apalagi
sampai na benturkanmi kepalanya”. (Wawancara tanggal 16
Mei 2017)

Pemandangan lain terlihat pada saat pertama kali mengunjungi

kediaman pak SN. Saat itu, pak SN dan anaknya NU belum berada di

rumah. Sehingga pak SU yang merupakan paman NU mempersilahkan

menunggu mereka di teras rumah. Sambil menunggu, beliau mengajak

berbincang-bincang dan bercerita mengenai keponakannya. Tak berapa

lama NU datang bersama MD adik ke enam dari NU. MD membawa dua

tas di tangannya. Tas miliknya dan satunya lagi tas dari NU, kakaknya.

Berdasarkan pengakuan pak SU, keduanya selalu berboncengan

saat berangkat dan pulang dari sekolah. Pak SU kemudian menyuruh

kedua keponakannya mengganti pakaian dan setelah itu baru makan

siang. NU yang terlihat kelelahan, tidak memberi respon hanya terus

menyandarkan tubuhnya dalam rangkulan pamannya. Sambil mengusap

rambut NU, pak SU membujuknya segera berganti pakaian. Tak lupa,

beliau juga mengatakan bahwa tante dari NU sudah memasakkan lauk

kesukaannya. Beberapa saat kemudian, NU bangkit dan masuk ke dalam

rumah sambil memegang kerudung sekolahnya. (Observasi tanggal 17

Mei 2017)

86
Setelah menunggu beberapa lamanya, pak SN juga datang dari

sekolah. NU sebelumnya duduk di samping pamannya langsung berdiri

dan berlari menuruni tangga saat mendengar bunyi motor bapaknya di

kolong rumah. Pak SN tersenyum ramah saat menyadari ada tamu dan

langsung memulai percakapan. Di saat bersamaan, NU dibiarkan duduk di

pangkuannya. Pak SN kemudian bercerita mengenai anaknya. Sambil

terus berbicara, dia mengusap-usap punggung anaknya. Dengan bahasa

sangat hati-hati dan suara yang pelan, dia berbicara mengenai kelainan

NU seolah-olah dia tidak ingin membuat anaknya sedih bila mendengar

ceritanya. (Observasi tanggal 17 Mei 2017)

Pak SN tidak melihat adanya kekurangan pada bagian fisik anak

bila dibandingkan dengan anak seusianya, akan tetapi dia merasa NU

memiliki kelainan pada mental semenjak sudah pernah jatuh dari

ketinggian dan kepalanya terbentur. Hal tersebut dinilai berpengaruh pada

otaknya sehingga terhambat dalam menerima pelajaran. Karena terbentur

biaya dokter, saat sudah jatuh anaknya di obati di rumah oleh pengobat

tradisional (dukun). Hal tersebut dituturkannya sebagai berikut:

“Apabila diliat dari fisik, NU pertumbuhannya normal saja.


Tapi ituji perkembangan otaknya yang seperti mengalami
masalah sejak sudah jatuh. Pernah terjatuh dari rumah dan
jatuh dari pohon waktu masih kecil. Baru terbentur di bagian
kepalanya karna sempat luka bagian keningnya. Benturan itu
mungkin yang berpengaruh sama otaknya jadi terhambatki
dalam menerima pelajaran. Tapi tidak di bawa ke dokter
periksa saat itu jadi tidak ditau pasti hasilnya. Saat itu tidak
ada uang di pakai biaya rumah sakit jadi di obati di rumah
saja. Biasa juga deman tinggi dan sering kejang-kejang
waktu masih kecil. Tapi sekarang tidak pernah mi kejang-
kejang lagi”. (Wawancara tanggal 18 Mei 2017)

87
Pak SN mengatakan anaknya memang termasuk anak inklusif di

sekolah sehingga bersikaf anti sosial dan sangat lambat dalam belajar.

Hal tersebut di ungkapkannya sebagai berikut:

“Ini ana’ku anak kedua dari tujuh bersaudara. Anak ku yang


pertama sudah selesai kuliah. NU ini juga harusnya juga
sudah menyusun skripsi dan hampir selesai juga kuliah
seperti teman-teman sebayanya andaikan dia normal. Anak
yang ketiga sudah kuliah semester 6 tapi dia sudah umur 22
tahun tapi masih duduk di bangku SMP kelas 2. Tapi begitu
memang karna dia memang termasuk kategori anak inklusif
kalau di sekolah. Dia satu sekolah sama adeknya yang ke
enam. Adeknya duduk di kelas satu baru dia di bangku kelas
dua. Bisa-bisa masih duluan nanti adeknya selesai. NU
memang terlambat menerima pelajaran dan juga kurang
bagus daya ingatannya, cepat sekali lupa. Biasa dikasi’ tau
sesuatu sekarang tapi tidak na ingatmi lagi besok. Biar itu di
kasi tau berulang ulang tetap dia bisa lupa. Jadi harus selalu
diingatkan. Kalau diajari susah tinggal pelajaran di kepalanya
dan juga susah sekali mengerti. Selain itu, dia anaknya suka
menyendiri, cepat perasa dan suka ngambek. Kalau ada itu
di bilangi baru dia tidak terima, dia tidak mau bicara. Itu juga
kalau ada na minta baru tidak di kasi atau tidak di belikan
biasa juga mokjok dan biasa sampai menangis guling-guling
di lantai seperti anak-anak kalau tidak di turuti kemauannya.
Sifat dan tingkah lakunya juga masih seperti anak-anak.
Umur dan perwatakannya itu tidak sama. Umurnya sudah 22
tahun, tapi dia tidak bergaul dengan sebaya malah bermain
bersama anak-anak kecil.” (Wawancara tanggal 18 Mei
2017)

Pak SN mengetahui anaknya bermasalah dalam hal belajar tapi dia

ingin NU tetap bersekolah seperti saudaranya yang lain. Meskipun ada

kekurangan dalam diri anaknya, hal tersebut tidak membuatnya berkecil

hati. Bahkan SN tidak pernah memanggil NU dengan sebutan yang kasar

seperti bodo’-bodo’ atau idiot dsb. Pak SN juga berusaha tidak membeda-

bedakan perlakuan kepada anak-anaknya.

88
Hal tersebut di tuturkan dalam penggalan wawancara berikut:

“Ana’ku NU rajin belajar, tanpa di suruh lagi dia langsung


pergi belajar sendiri kalau di rumah. Sekarang pintarmi
tawwa karna bisa mi membaca dan menulis biarpun belum
terlalu lancar. Tapi kalau diliat nilai rapornya kasian, rendah
terus terutama pelajaran matematika. Matematika memang
pelajaran yang paling tidak na tau. Tidak apa-apa karna dia
sudah berusaha dalam belajar. Tidak mauka terlalu paksa
berfikir otaknya, asal rajin mi saja belajar. Takutka kalau
kupaksakan, nanti malah berakibat negatif. Apalagi ana’ku
tidak suka kalau dipaksa-paksa. Maunya dibujuk-bujuk terus
seperti anak kecil. Kalau ada keinginannya itu maunya
langsung di ikuti. Karena kalau tidak, dia suka ngambek dan
marah-marah. Tapi sebentar ji saja kalau dia yang marah”.
(Wawancara tanggal 18 Mei 2017)

“Ana’ku suka merengek-rengek kalau minta sesuatu seperti


anak kecil. Saya selalu berusaha penuhi keinginannya kalau
masih ku anggap wajar. Saudaranya yang lain juga mengerti
keadaan NU jadi tidak iri kalau meskipun umurnya sudah tua
tapi masih kumanjakan seperti anak kecil. Kalau saudaranya
yang lain adami yang bisa berfikir lebih dewasa jadi tidak
seperti mi lagi anak kecil kalo di temani. Tapi kalau dia
memang perlu lebih diperhatikan dan tidak boleh ditekan.
Kalau ada kesalahannya di bicarai baik-baik. Karna jiwanya
memang masih seperti kanak-kanak. Biar itu selalu rangking
terakhir di sekolah tapi tidak pernahka bilangiki anak bodo’-
bodo’. Karena dia itu sudah berusaha belajar dan rajin pergi
sekolah tapi kemampuannya memang sebegitu. Adek sama
kakaknya juga tidak adaji yang suka kasari apalagi bentak-
bentak ki. Kalau na bimbing belajar saudaranya, berulang-
ulang tapi tidak mengerti penjelasannya, mengeluh ji ini
saudaranya karna capekmi tapi tidak sampai na marahi ji.
Kalau PR na kerjakan baru tidak mengerti ki, ini saudaranya
biasa na buatkan jawabannya di buku lain baru na suruhmi
NU salin jawabannya. Dia juga tidak suka berkelahi dengan
saudaranya apalagi memukul. Kalau ada yang ganggu ki
atau pukulki dia pergi menjauh tapi tidak balas memukul. Dia
memang penyayang anaknya apalagi sama anak-anak yang
kecil”. (Wawancara tanggal 18 Mei 2017)

89
Selain mengajarkan pelajaran sekolah, pak SN juga mengakui

membekali anak keterampilan merawat diri dan berusaha mengajarkan

ilmu agama serta nilai-nilai kesopanan yang diperlukan dalam beradaptasi

di lingkungan masyarakat. Hal tersebut diungkapkan dalam wawancara

berikut ini:

“Seringka’ berfikir tentang masa depannya ini ana’ku kelak.


Adakah nanti na dapat pekerjaan karna kurang sekali
kemampuannya. Itumi mauka kalau dia tetapki sekolah
biarpun biasami tinggal kelas juga. Paling tidak, supaya ada
ijasahnya, dan sempat bisa nanti na gunakan cari kerja.
Saya dan keluarga selalu berusaha bimbing ki kalau ada
pelajarannya yang tidak na tau. Sering juga saya, mama dan
kakak bahkan adeknya nasehati dia kalau ada kelakuannya
yang tidak baik. Terutama itu tentang cara merawat diri
sendiri, kejujuran dan sopan santun memang dibiasakan dari
kecilnya. Sering juga ku ajarkan mengaji di rumah. Tapi
belum pi na tau sampai sekarang. Pernah ku daftar di guru
ngaji tapi na bilang gurunya biasa pergi ji main. Lama di ajar
tapi tidak ada perkembangan. Dia juga sudah tidak mau
pergi. Jadi adeknya dan biasa juga saya yang ajar iqra’ di
rumah. Kalau mau di kasi ikut ke acara pengantin misalnya
sebelum berangkat selalu di kasi tau terlebih dahulu kalau di
sana itu di marah ki yang punya rumah kalau lari-lari dan
teriak-teriak di tengah banyak orang. Serta kalau ketemu
sama orang lain yang lebih tua di cium tangannya kalau
salaman, baru bilang permisi ki’ kalau lewat ki di depannya
orang banyak. Na iya kan ji kalau di bilangi, kalau di sana
baru tidak ada anak kecil yang na kenal, diam ji saja. Karna
dia juga pemalu, kalau di tanya sama orang lain, biasa tidak
mau na jawab. Dia diam saja atau menghindar. Tapi kalau
acaranya di adakan di dekat rumah, biasanya ikut-ikutan
main-main sama anak-anak kecil”. (Wawancara tanggal 18
Mei 2017)

Pak SN mengatakan NU sering menghabiskan waktu di rumah

dengan menonton televisi atau bermain bersama anak kecil. Biasa juga di

perintah untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring

90
dan memasak dengan rice cooker. Asal di bujuk saat diberi perintah, pasti

dikerjakan. Berikut penuturan dari SN:

“NU suka menonton, biasa kalau pulangmi sekolah langsung


ji menonton tv. Biasa kalau pulang ka’ dari sekolah ku dapati
mi itu duduk di depan tv nonton film india baru masih pakai
seragam sekolahnya. Barupi kusuruh pergi ganti bajunya.
Selalu ji di ingatkan untuk ganti bajunya sepulang sekolah
tapi sering na lupa. Kalau pulang sekolah memang biasa dia
ji sama adeknya yang SMP juga yang duluan sampai di
rumah. Kalau saudaranya yang sudah sekolah di SMA biasa
terlambat pulang. Mamanya jarang di rumah kalau siang.
Sore pi baru ada di rumah, biasa juga hampir magrib karna
pergi berdagang di pasar. Biasa juga sepulang sekolah pergi
main masak-masak sama anak-anak kecil di kolong rumah.
Jadi NU biasa mi di suruh cuci piring dan juga masak nasi
pakai rice cooker kalau pulang sekolah. Asal baik-baik cara
ta’ suruhki pasti pergi ji na kerja. Kalau memasak pakai
kompor dia belum bisa. Takutki juga suruhki pakai kompor,
nanti na bakar rumah kalau na lupai kalau na kasi menyala
kompor karna dia pelupa sekali”. (Wawancara tanggal 18
Mei 2017)

Berdasarkan data hasil wawancara yang telah dikumpulkan, maka

perlakuan diterima anak berkebutuhan khusus di kehidupan keluarganya

dibedakan menjadi dua, yaitu pertama perlakuan baik dan perlakuan

salah. Secara rinci akan digambarkan dalam tabel matrik hasil wawancara

mendalam yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan permasalahan

diteliti sebagai berikut:

91
Tabel 4.1
Matrik Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Keluarga

Komponen yang diteliti Pandangan/Pemikiran Temuan di Lapangan


te oritis
Perlakuan Penerimaan 1. Penerimaan anak 1. -Menganggap anak
baik anak berkebutuhan khusus sebagai amanah dan
berkebutuhan dari setiap anggota takdir dari Tuhan
khusus dalam keluarga akan yang Maha Esa yang
keluarga memberikan harus di jaga dengan
kepercayaan diri pada baik
anak untuk -Menilai anak sebagai
mengembangkan orang yang tidak
potensi yang dimiliki memiliki kemampuan
-Kurang memberi
dukungan kepada
anak dan terkadang
tidak menghargai
hasil kerja anak
2. Tidak ada namanya
produk gagal dalam 2. Tidak menganggap
penciptaan manusia. anak sebagai kutukan
dan karma
3. Interaksi/Relasi yang
terbangun dengan 3. Komunikasi intensif
semua anggota dengan orang tua.
keluarga
Penanganan 1. Orangtua harus 1. Tidak mengetahui
anak mempunyai mengenai anak
berkebutuhan kemampuan teknis inklusi
khusus dan menstimulasi
sedini mungkin
perkembangan anak
berkebutuhan khusus
di rumah dan
lingkungannya
2. Orangtua dan
keluarga perlu 2. Kurang paham
mempunyai mengenai cara
keterampilan dalam menghadapi anak
merawat dan sehingga
mengasuh anak yang menyamakan
berkebutuhan khusus perlakuan anak
melalui pelatihan. berkebutuhan khusus
dengan saudaranya
yang normal

92
Penerapan 1. Fungsi biologis 1. Memenuhi kebutuhan
fungsi anak
keluarga -Berusaha memenuhi
permintaan anak
2. Fungsi pendidikan 2. Tetap
menyekolahkan anak
meski nilai akademik
selalu rendah
-Mengajarkan anak
aturan-aturan yang
boleh dan tidak boleh
di lakukan dalam
keluarga dan
3. Fungsi Afeksi kehidupan
bermasyarakat
3. -Memberi pelukan
dan mengusap
kepala anak saat
mengamuk
-Selalu
memperhatikan anak
-Berbicara lembut dan
membujuk-bujuk anak
saat memberi perintah
-Sering memuji anak
-Membujuk anak saat
4. Fungsi religius memberi perintah
-Tidak memaksakan
kehendak pada anak
5. Fungsi sosialisasi 4. Mengajari anak baca
tulis al-qur’an dan
gerakan shalat
5. Membiasakan anak
budaya cium tangan
saat bertemu orang
lebih tua
-Mengajari bersikaf
sopan santun pada
orang lain
-Selalu menasehati
anak untuk tidak
mengganggu dan
memukul teman
-Menasehati anak
jangan suka marah
bila diberikan

93
perintah
- Menasehati anak
supaya membangun
komunikasi dengan
orang lain
-Mengajari anak cara
merawat diri
-Menasehati dan
menegur bila anak
melakukan
kesalahan tapi tanpa
bentakan
Perlakuan Perlakuan Meliputi panggilan, - Sering memanggil anak
salah salah secara menolak, dengan sebutan bodoh
psikologi dan merendahkan, dan setengah liter
emosional merusak barang -Anggota keluarga yang
pribadi anak, lain biasa memarahi
penyiksaan binatang dan membentak anak
peliharaannya, kritik saat berbuat
yang berlebihan, kesalahan dalam
permintaan yang tidak melakukan perintah
tepat, tidak mengajak -Sering membebani
bicara dan anak dengan
penghinaan. pekerjaan rumah
seperti mengambil air,
membersihkan rumah,
memasak, mencuci
piring, mencuci
pakaian bahkan
melayani tamu

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diurai dalam tabel di atas

dapat dilihat bahwa perlakuan diterima anak berkebutuhan khusus dalam

keluarga mencakup beberapa hal diantaranya: penerimaan anak, cara

penanganan anak, perlakuan berdasarkan penerapan fungsi keluarga dan

perlakuan salah.

Penerimaan anak mencakup bagaimana tanggapan serta persepsi

keluarga mengenai keberadaan anak berkebutuhan khusus serta

94
hubungan yang terjalin antara sesama anggota dalam keluarga. Di sisi

lain, perlu diperhatikan juga mengenai penanganan anak, penerapan

fungsi keluarga dan perlakuan salah yang biasa diterima anak dari pihak

keluarga. Ke semua hal di atas seakan saling terkait dalam memberikan

perlakuan terhadap anak.

Jika melihat data yang didapatkan peneliti, kurangnya pengetahuan

dimiliki orang tua mengenai anak berkebutuhan khusus mengakibatkan

orangtua tidak maksimal dalam merawat anak. Pihak keluarga hanya bisa

berusaha menangani anak seperti merawat anak lainnya tanpa melihat

pada kebutuhan anak yang sebenarnya. Minimnya pemahaman keluarga

tersebut mampu memicu munculnya perlakuan salah dari pihak keluarga

terhadap anak dan terkadang menjadikan anak berkebutuhan khusus

sebagai sasaran empuk. Hal-hal tersebut akan dijelaskan secara detail

sebagai berikut:

a) Penerimaan anak

Membincang tentang penerimaan anak berkebutuhan khusus,

maka akan dilihat sikap yang ditunjukkan oleh anggota keluarga mengenai

keberadaan anak dengan beragam kondisinya. Tidak ada yang lebih

merasakan dampak besar dari hadirnya anak berkebutuhan khusus selain

keluarganya sendiri. Pada umumnya, sebagian besar orang tua akan

menyatakan telah menerima keberadaan anak, karena mereka adalah

amanah yang ditakdirkan menjadi bagian dari keluarga. Akan tetapi,

kenyataannya, respon penerimaan setiap orang berbeda-beda. Respon

95
inilah nantinya akan memperlihatkan mereka telah benar-benar menerima

ataupun sebenarnya menolak melalui perlakuan yang mereka berikan.

Seperti halnya data yang didapatkan oleh peneliti, sebagaimana

diungkapkan informan yakni NI menuturkan mengenai kondisi anaknya.

Pada awal perkembangan anaknya, NI tidak melihat adanya kelainan

pada anak. Kekurangan anak baru terlihat saat anak menginjak usia

kanak-kanak. NI mengakui kehadiran anak berkebutuhan khusus memberi

beban tersendiri bagi keluarganya. Disamping berusaha menghilangkan

rasa terkejut, sedih dan cemas, dia juga harus bersiap untuk menghadapi

pandangan masyarakat sekitar tempat tinggalnya yang masih awan

dengan keberadaan anak berkebutuhan khusus.

Pada posisi ini, keterkejutan mengetahui anak mengalami kelainan

bisa terwujud dalam bentuk perasaan sedih, bingung serta kecemasan

yang mendalam. Reaksi orangtua dijelaskan sebagai suatu tahapan yang

dilalui orangtua ketika mereka mulai bisa menerima ketimbang terus

bersedih atas keadaan anak yang tidak diharapkan. Tahapan-tahapan

reaksi tersebut sebagaimana yang dijabarkan oleh Drotar dkk antara lain:

terguncang jiwanya, menolak, sedih, cemas, takut, marah dan akhirnya

menerima/menyesuaikan diri. Reaksi tersebut bisa saja berbeda-beda

pada orangtua yang lain (Smith, 2015: 339).

Beberapa tahapan reaksi-reaksi tersebut dirasakan oleh NI sebagai

orangtua dari anak berkebutuhan khusus. Namun, seiring waktu NI bisa

menerima keadaan anaknya dan beranggapan bahwa anak berkebutuhan

96
khusus adalah amanah serta takdir yang harus diterima keberadaannya.

Kehadiran mereka bukanlah kutukan dan karma dari kesalahan yang telah

dilakukan oleh orangtuanya pada saat hamil apalagi aib bagi keluarga.

Seperti terungkap dalam teori ekologi perkembangan anak

(Ecological Theory Of Human Development), keluarga merupakan struktur

pertama dalam mikrosistem dan menjadi figur paling berpengaruh pada

tahap-tahap awal perkembangan anak. Perkembangan anak ditentukan

oleh pengalamannya dalam regulasi dengan lingkungan mikrosistemnya.

Pemberian kesempatan bergaul, sarana/prasarana bermain, kesempatan

berkomunikasi dengan orang lain, serta kualitas dan kuantitas hubungan

antara orangtua dan guru merupakan aspek dasar dalam perkembangan

anak (Bronfenbrenner dkk dalam Naimah, 2012: 161).

Pada perkembangan manusia, Berger melihat bahwa menjadi

manusia dimulai sejak lahir, secara biologi saat anak lahir sudah dianggap

sebagai organism yang lengkap, tetapi pada dasarnya itu belum lengkap

karna belum dianggap menjadi manusia. Proses menjadi manusia terjadi

ketika manusia berada dalam interaksi dengan suatu lingkungannya. Teori

perkembangan juga melihat bahwa manusia lahir dengan membawa

potensi-potensi yang akan dibutuhkan dalam hidupnya. Potensi-potensi ini

akan terekplorasi melalui interaksinya dengan lingkungan (Papalia dan

Old dalam Bastiana, 2012: 17).

Namun seperti dikatakan sebelumnya bahwa setiap anak memiliki

pengalaman berbeda-beda dalam keluarga memang ada benarnya.

97
Perlakuan yang diterima dari keluarga masing-masing memiliki perbedaan

terlepas dari besar kecil kadar perbedaannya. Seperti pada keluarga SN

sebagai orang tua memiliki anak berkebutuhan khusus. SN mengakui

tidak tahu menahu mengenai kelainan anak sebelumnya sehingga saat

anak mulai menunjukkan kelainan saat usia kanak-kanak, SN dan

keluarga berusaha memahami keadaan anak dan menerimanya sebagai

sebuah amanah. Hal tersebut terlihat dari data yang menunjukkan bahwa

SN selalu memberikan dukungan serta dorongan pada anak agar

kekurangannya bisa diminimalisir tanpa memojokkan dan melakukan

perlakuan salah secara verbal apalagi fisik kepada anak saat dia

melakukan kesalahan ataupun hasil pekerjaannya berbeda dari yang

diinginkan.

Pola sikap kedua orang tua dan anggota keluarga lainnya akan

mempengaruhi perilaku anak dalam semua tahap pertumbuhannya.

Seperti dikatakan Mead mengenai rangsangan dan respon, perlakuan

keluarga dalam hal ini merupakan rangsangan (impuls) bagi anak dan

anak memberikan tanggapan (respon) berdasarkan perlakuan yang

diterima. Nuansa positif dalam keluarga akan membangun energi dan

kepercayaan diri anak untuk mengembangkan potensinya dan tidak

berfokus pada hambatan yang dimilikinya. Hal tersebut juga bisa

membantu anak untuk menemukan kondisi terbaiknya. Jadi idealnya

perkembangan anak akan menjadi optimal jika dibesarkan dalam keluarga

harmonis dan saling menghargai kondisi setiap anggotanya. Selain itu,

98
orangtua harusnya bisa menerima bahwa anaknya memiliki kelainan.

Meskipun butuh waktu dan proses cukup lama untuk bisa menerima

kenyataan tersebut. Namun, semakin orangtua menolak kehadiran

mereka, maka semakin sulit dan berat beban yang dirasakan dalam

memberikan penanganan terhadap anak.

b) Cara penanganan anak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, orangtua pada awalnya tidak

mengetahui anak mereka termasuk dalam kategori anak inklusif. Di sisi

lain, mereka juga tidak memiliki pengetahuan cukup mengenai anak

berkebutuhan khusus sehingga dalam kesehariannya anak diberikan

pengasuhan sama dengan saudaranya lain. Tidak jarang orangtua

mengalami kesulitan dalam merawat dan mengasuh anak berkebutuhan

khusus tersebut. Keanehan yang ditunjukkan anak juga memunculkan

anggapan keluarga kalau anak tersebut bodoh dan idiot karna mereka

tidak mengetahui anak termasuk dalam kategori inklusi.

Pada saat mendapati anak memiliki kondisi berbeda, NI dan

keluarga tidak mengetahui harus berbuat apa dalam menghadapi anak

tersebut. Sehingga yang terjadi, mereka memberi perlakuan sama kepada

semua anaknya termasuk pada anak berkebutuhan khusus. Padahal

pemberian perlakuan sama pada semua anak tidaklah tepat karna setia

anak memiliki kebutuhan yang berbeda pula. Kondisi anak yang berbeda

dari segi perilaku, mental dan kognitif dengan saudaranya menjadi alasan

bagi NI menganggap anaknya bodoh dan tidak waras. Entah bagaimana

99
awalnya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ada stigma masih bergulir

dalam masyarakat dimana seorang anak berkebutuhan khusus yang

memiliki masalah pada mental dan sosialnya sering dilekatkan dengan

istilah anak bodoh atau bahkan idiot. Tindakan NI tersebut tanpa sadar

sudah memberikan perlakuan salah secara psikologis kepada anak,

padahal seharusnya dialah yang paling bisa mengerti perasaan anak.

Akan tetapi, tidak semua orangtua anak berkebutuhan khusus

seperti kasus NI di atas. Keluarga SN juga mengalami kerepotan yang

sama dengan dialami oleh orang tua anak berkebutuhan khusus lainnya.

Namun SN mengakui kekurangan anak dalam hal mental dan sosialnya

tidak mendorong dirinya ikut-ikutan memberi anak label anak idiot ataupun

label-label negatif lainnya.

Saat orang tua melihat adanya tanda-tanda kelainan pada anak,

mereka memilih memberikan pengobatan alternatif karena terhambat oleh

biaya pengobatan ke rumah sakit. Sehingga anak berkebutuhan khusus

ini hanya mendapat penanganan dari pengobat tradisional (dukun) yang

ada di sekitar tempat tinggalnya. Setelah melihat tidak ada kemajuan dari

hasil berobat tradisional, orangtua menghentikan pengobatan pada anak

meski tidak sempat tersentuh oleh tenaga medis.

Orangtua juga tidak mendapat informasi dari tenaga kesehatan

yang menangani mereka selama masa kehamilan mengenai kemungkinan

kondisi anak yang dikandung setelah dilahirkan. Hasil pemeriksaan yang

didapat selama masa hamil selalu normal sehingga orangtua tenang saja

100
dan tidak membekali diri dengan pengetahuan tentang cara menangani

anak berkebutuhan khusus. Pengetahuan tentang cara menghadapi

kelakuan anak yang terkadang aneh, perbedaan karakter anak, mengasuh

dan mendidik anak adalah salah satu prioritas dan harus diketahui oleh

keluarga terutama orang tua selaku agen sosialisasi pertama bagi anak.

Diperlukan kesabaran serta strategi jitu dalam menghadapi tingkah laku

anak sebagai bentuk ekspresi dari tumbuh kembangnya. Ketidakpahaman

orang tua mereka dalam pengasuhan, bisa mengakibatkan tidak

maksimalnya asuhan dan didikan yang diterima oleh anak.

Kesulitan yang dialami oleh NI dan SN dalam menghadapi anak

mereka merupakan salah satu imbas dari sedikitnya pengetahuan dimiliki

orang tua dalam merawat dan mendidik anak berkebutuhan khusus. Untuk

menghadapi anak, orangtua tidak belajar mengenai hal-hal berhubungan

dengan kelainan sang anak, sehingga mereka hanya mempraktekkan

pengalaman saat merawat anak lainnya kepada anak berkebutuhan

khususnya. Seperti kata sebuah pepatah, tak kenal maka tak sayang,

seharusnya para orang tua berusaha untuk mencari informasi dan belajar

banyak mengenai kelainan anak agar mereka lebih mengenal kebutuhan

anak sehingga bisa meperlakukan anak dengan baik serta lebih telaten

dalam merawat serta mendidik anak.

101
c) Penerapan fungsi keluarga dalam memberi perlakuan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, orangtua sudah berusaha

untuk memenuhi fungsi keluarga di antaranya fungsi biologis, sosialisasi,

pendidikan, afeksi dan fungsi religius. Potret keluarga ideal adalah adanya

seorang ayah, ibu dan anak-anak kandung yang tinggal satu atap secara

harmonis dengan peranan dan hubungan yang dimiliki jelas. Gambaran

seorang ayah sebagai kepala keluarga yang memberi nafkah, ibu

sepenuhnya berperan sebagai pengurus rumahtangga dan anak yang

juga diberikan peranan tertentu oleh orangtua. Namun penting dipahami

bahwa setiap keluarga mempunyai ciri tersendiri dalam memenuhi

kebutuhan para anggotanya.

Suami NI sebagai kepala keluarga berprofesi sebagai sopir. NI

sendiri melakoni peran sebagai seorang ibu rumahtangga yang bergulat di

ranah domestic serta memberi pengasuhan kepada ke sembilan anaknya.

Pemenuhan kebutuhan anak akan sandang, pangan dan papan menjadi

kewajiban mereka. Menurut Berger, manusia akan merasa hidupnya

teratur bila kebutuhan biologisnya antara lain kebutuhan pangan, tidur dan

keamanan dari kematian terpenuhi (Riyanto, 2009: 77). Bagi NI, selain

memenuhi kebutuhan primer di atas, tak kalah penting dia juga perlu

mengetahui keperluan lain dari sang anak yang berhubungan dengan

kelainannya.

Selain daripada itu, NI juga mengajarkan dan mentransfer norma

serta nilai-nilai yang berlaku di masyarakat kepada anaknya dengan

102
harapan bisa menjadi bekal untuk beradaptasi dalam kehidupan sosialnya

kelak. Keberadaan norma dan nilai yang teralienasi dengan baik dalam

keluarga tentunya bisa melanggengkan keberlangsungan dari fungsi

keluarga tersebut. Semua aktivitas manusia yang terjadi pada momen

eksternalisasi dapat mengalami proses pembiasaan (habitualisasi) (Berger

dan Luckman, 1990: 75-76). Tiap tindakan yang sering diulangi pada

akhirnya akan menjadi suatu kebiasaan dan berpola. Berger dan Luckman

mengungkapkan bahwa keluarga memegang peranan sebagai sosialisasi

primer anak yakni sosialisasi pertama yang dialami oleh individu semasa

kecil dengan belajar menjadi bagian dari anggota masyarakat. Tiap

individu dilahirkan ke dalam suatu struktur sosial yang objektif dimana ia

menjumpai orang-orang berpengaruh sebagai agen sosialisasi bagi anak.

(Berger: 1990: 188). Melalui proses sosialisasilah seseorang menjadi tahu

bagaimana seharusnya bertingkah laku di lingkungan masyarakat. Mead

dalam aliran Interaksionisme simboliknya menyatakan bahwa perilaku

serta tindakan seseorang di kehidupan sosialnya akan menunjukkan

perannya. Sehingga, perilaku mereka dalam konteks sosialnya selalu

bersifat simbolik yang merujuk kepada suatu pesan atau makna.

Dalam kesehariannya, NI membiasakan anak sejak dini untuk

bersikap santun kepada orang lain, tidak boleh mengganggu apalagi

berkelahi dengan sesama, membiasakan mencium tangan orang lebih

tua, mengajari anak membangun komunikasi dengan orang lain, serta

mengajarkan anak tata cara merawat diri. Berger menjelaskan bahwa

103
anak mengalami sosialisasi dengan memperhatikan bagaimana signifikan

others yaitu orang tuanya dan orang-orang lain yang dekat dengannya

dan saling berinteraksi menjalankan peran sosialnya. Interaksi di

perlakonan peran antara para signifikan others ini mengenalkan anak

kepada definisi-definisi paling mendasar dari sebuah situasi sosial

tertentu. Lalu anak tersebut akan menjalani tiga fase perkembangan yaitu,

Preparatory Stage, Play Stage dan Game Stage yang menunjukkan

bahwa anaka sedang mengalami sosialisasi dan membangun mengenai

dirinya dan dunianya (Riyanto, 2009: 113)

Sosialisasi kepada anak pada jangka usia penyerapan aktif

merupakan sosialisasi primer. Sosialisasi primer menciptakan kesadaran

anak yang semakin tinggi akan peranan-peranan dan sikap orang lain

tertentu ke peranan-peranan dan sikap pada umumnya (Berger, 1990:

190). Setelah anak dewasa, ia akan terus mengalami sosialisasi, tetapi

sosialisasi yang dialaminya berbeda sebagaimana pada sosialisasi primer.

Hal tersebut merupakan sosialisasi sekunder. Bila sosialisasi primer

adalah sosialisasi yang dijalankan seorang anak untuk menjadi anggota

masyarakat, maka sosialisasi sekunder adalah proses memperkenalkan

anak pada sektor baru dalam kehidupan sosialnya (Riyanto, 2009: 114).

Jika dalam belajar individu bisa memahami dan kemudian menyesuaikan

diri dengan berbagai tingkah pekerti yang dijalankan dalam masyarakat,

maka sosialisasi dianggap berlangsung dengan baik (Narwoko dan

Suyanto dalam Bastiana, 2012: 23)

104
Dewasa ini pendidikan dinilai memiliki arti penting oleh masyarakat

modern. Di dalam keluarga, anak juga mendapat pendidikan namun

bersifat informal seperti, orang tua atau anggota keluarga lainnya

mengajari anak berkebutuhan khusus pengenalan huruf alphabet,

membaca, menulis dan perhitungan dasar. Disebut lembaga pendidikan

informal karna pengajarannya tidak mempunyai bentuk jelas serta tidak

memiliki lesson plan yang teratur dan ditetapkan secara resmi. Namun

seiring perkembangannya, anak memerlukan informasi dan pengetahuan

yang lebih kompleks. Sebuah keluarga tidak memiliki kesanggupan lagi

untuk memberikan pendidikan kepada anak. sehingga pada akhirnya

keluarga menyerahkan tanggung jawabnya kepada lembaga pendidikan

formal dalam hal ini adalah sekolah.

Sekolah atau tidak bersekolah adalah pilihan sulit untuk dicarikan

solusinya bagi orang tua anak berkebutuhan khusus. Meskipun di rumah

orangtua atau keluarga lainnya sudah menerapkan homeschooling, tetapi

tekanan pihak luar yang menanyakan mengapa tidak meyekolahkan anak

tentunya menjadi beban tersendiri bagi orang tua. Di sisi lain, jika anak

berkebutuhan khusus di sekolahkan di sekolah luar biasa banyak orang

tua yang berat berpisah dengan anak mereka. Bila di sekolahkan di

sekolah umum, ada kekhawatiran anak tidak akan mampu secara

akademis. Selain itu, sewaktu-waktu anak bisa mengalami perlakuan

salah secara psikologis dan emosional berupa ejekan atau penghinaan

atau bahkan pemukulan dari teman-temannya yang normal. Hal di atas

105
banyak dirisaukan oleh orangtua anak berkebutuhan khusus termasuk

SN, tetapi dia menyadari bahwa pendidikan formal sangat dibutuhkan

anak. Sehingga walaupun awalnya anak SN sudah mendapat bimbingan

dalam lingkungan keluarga, namun akhirnya diperkenalkan pada dunia

pendidikan formal.

SN sudah mengetahui kekurangan anaknya dalam bidang kognitif.

Hal tersebut terlihat dari pencapaian raport anak yang selalu rendah.

Bukan hanya itu anaknya juga kerap ketinggalan kelas. Terbukti saat ini

anaknya sudah berumur dua puluh dua tahun (22 tahun) dan seharusnya

sudah mengikuti jenjang perkuliahan seperti layaknya teman sebayanya

tapi kenyataannya saat ini sang anak masih duduk di bangku kelas dua

(2) SMP. Meskipun nilai anak selalu rendah, namun hal tersebut tidak

menyurutkan niat SN untuk tetap menyekolahkan anaknya. Harapannya

kelak sang anak bisa mendapat ijasah sebagai bekal untuk mencari

pekerjaan di masa mendatang.

Melalui lembaga pendidikan formal, anak memperoleh kecakapan

seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar, dan ilmu-ilmu lainnya

yang lebih kompleks dari diterima dalam keluarga. Selain itu, ada juga

materi-materi pelajaran dan hal lainnya yang dibutuhkan anak dan sulit

diselenggarakan di lingkungan keluarga. Dari sudut pandang neorologis

juga mengungkapkan pentingnya kecakapan seperti membaca bagi anak

karena kegiatan membaca dinilai bukanlah suatu mata pelajaran sekolah.

melainkan merupakan suatu fungsi otak. Melalui membaca, anak

106
mempelajari bahasa dan bahasa tersebut digunakan sebagai alat

komunikasi. Keberlangsungan hidup manusia di dunia sangat dipengaruhi

kemampuannya dalam berkomunikasi. Hal tersebut disadari oleh NI

sehingga tetap menyekolahkan anak berkebutuhan khususnya.

Seperti orang tua lainnya yang memiliki anak berkebutuhan khusus,

NI juga mencemaskan masa depan anaknya. oleh karena itu beliau

berusaha agar anaknya dapat bertahan di sekolah. Harapannya melalui

sekolah anak bisa mendapat ijasah yang bisa dimanfaatkan untuk mencari

pekerjaan di masa depan. Saat anak sering mengalami tantrum di

sekolah, NI dengan sabar memberi pemahaman kepada anak supaya

bersikaf baik kepada guru dan teman sekolahnya. Kesabarannya berbuah

manis karena pada akhirnya sang anak tidak lagi sering memukul

temannya dan sudah lebih sopan kepada gurunya. Tidak sampai disitu, NI

dan suami juga memiliki cara unik dalam mengajarkan anak cara

membaca. Mereka memanfaatkan media televisi dan materi (uang) dalam

proses pembelajaran anak dan hal itu dipermulus dengan hobby anak

yang memang suka menonton televisi. Selain mengajarkan anak

membaca, NI juga mengajarkan menulis dan perhitungan. Tapi seperti

diakuinya anak masih belum lancar dalam menulis dan sangat lemah di

bidang perhitungan.

Sebagai umat beragama, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk

mengenalkan agama kepada anak sejak dini. NI maupun SN kompak

menganggap bahwa pengajaran agama kepada anak sangat penting. Hal

107
itu yang menjadi dasar bagi mereka sehingga sangat berusaha mengajari

anak kewajiban-kewajiban sebagai umat beragama islam di antaranya

shalat dan mengaji. Bagi anak tergolong normal, pembelajaran ini bisa

saja lebih mudah. Mereka bisa mengamati, menirukan orang tua dengan

relatif lebih baik. Namun, tidaklah demikian bagi anak berkebutuhan

khusus. Setelah beberapa lama belajar, tidak ditemukan perkembangan

dari hasil pengajarannya pada anak. Beberapa kali anak berganti-ganti

guru mengaji karna guru mengeluh dalam mengajari anak mengaji. Tapi

mereka tidak berhenti berusaha memberi pemahaman demi kebaikan

anak.

Fungsi keluarga lain yang diterima anak berkebutuhan khusus

dalam keluarga adalah afeksi atau kasih sayang. Keluarga sebagai

lembaga masyarakat memiliki kewajiban untuk membuat simpul-simpul di

antara anggotanya agar tercipta hubungan harmonis yang berlandaskan

cinta dan kasih sayang di dalamnya. Tanpa didasari rasa cinta dan kasih

sayang, orangtua tidak akan sanggup mengasuh anak berkebutuhan

khusus. Haryanto mengatakan kunci utama dan sumber kekuatannya

sehingga bisa bertahan mendampingi anak berkebutuhan khususnya

adalah kecintaannya pada sang anak. Tak kalah penting adalah selalu

menerima keadaan anak apa adannya (Haryanto, 2013).

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa anak berkebutuhan khusus

ini mendapat kasih sayang yang cukup dari orang tuanya. Meskipun

terkadang mendapat perlakuan salah dari saudaranya mereka. Seperti

108
dalam keluarga SN, beliau mengaku sangat menyayangi anak

berkebutuhan khususnya seperti saudaranya yang lain. Wujud dari kasih

sayangnya ditunjukkan dalam perlakuannya kepada anak seperti berikut:

memberi pelukan dan mengusap kepala anak saat mengamuk, selalu

memperhatikan kebutuhan anak, berbicara lembut dan membujuk-bujuk

anak saat memberi perintah, sering memuji anak, membujuk anak saat

memberi perintah dan tidak memaksakan kehendak pada anak. Pelukan

atau sentuhan fisik secara sistematis bisa memberi efek menenangkan

kepada anak. Sentuhan dan tanda kasih sayang dapat merubah

kegelisahan dan kurangnya konsentrasi menjadi kesigapan, perhatian dan

fungsi mental yang lebih fokus sehingga bisa menciptakan peluang untuk

berinteraksi ataupun belajar.

d) Perlakuan salah

Kecintaan orangtua kepada anak tidak menjadi jaminan yang bisa

melindungi sepenuhnya anak dari perlakuan salah anggota keluarganya.

Seperti yang ditemukan dalam penelitian ini bahwa anak berkebutuhan

khusus ini masih sering mendapat perlakuan salah secara psikologis dan

emosional dari orang-orang terdekatnya. Perlakuan salah tersebut berupa:

sering memanggil anak dengan sebutan bodoh dan setengah liter,

anggota keluarga yang lain biasa memarahi dan membentak anak saat

berbuat kesalahan dalam melakukan perintah, sering membebani anak

dengan pekerjaan rumah seperti mengambil air, membersihkan rumah,

memasak, mencuci piring, mencuci pakaian bahkan melayani tamu.

109
Perlakuan salah di atas ditemukan dalam keluarga NI, dimana anak

berkebutuhan khususnya kerap dipanggil anak bodo’-bodo’ bahkan anak

kurang waras oleh keluarganya. Memanggil anak dengan sebutan bodoh,

idiot dan nama lain yang melukai hati anak bisa memberikan dampak

negative bagi penerimaan diri sang anak. Pemberian label seperti bodoh

yang sifatnya permanen dapat dipandang sebagai bentuk diskriminasi dan

merupakan vonis harus disandang seumur hidup oleh anak seperti ZF

yang sering mendengar orang tua dan saudara memberikan label bodoh

terhadap dirinya.

Ibu NI mengatakan bahwa ZF terkadang marah-marah dan tidak

mau melakukan hal yang diperintahkan kalau sudah dibentak kakaknya.

Apalagi kalau sebelumnya dia di panggil kakaknya dengan sebutan anak

bodo’-bodo’. Sikap yang ditunjukkan oleh ZF pada orang terdekatnya bisa

berarti dia tidak menerima apabila di perlakukan kasar apalagi selalu

dianggap sebagai anak bodoh, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana

caranya menghilangkan label negative yang sudah terlanjur melekat pada

dirinya.

Peristiwa di atas, senada dengan apa yang di ungkapkan oleh teori

interaksionisme simbolik (Simbolic Interaktionism Theory) mengenai sikap

isyarat (gesture) dimana suatu gerakan dilakukan oleh pihak pertama

yang bertindak sebagai rangsangan khusus yang menimbulkan tanggapan

dari orang kedua. Dalam mengomunikasikan perasaan tidak senang

110
kepada orang lain bisa saja dengan menggunakan isyarat fisik seperti

memasang wajah cemberut atau merajuk.

Hal tersebut seperti sikap yang ditunjukkan ZF dalam penggalan

wawancara di atas, membanting barang seperti gelas dan piring dan tidak

menuruti perintah bisa dianggap sebagai simbol signifikan ZF untuk

mengungkapkan perasaan tidak senangnya. Isyarat/bahasa tubuh

memang bisa menjadi simbol signifikan bila makna yang ingin

disampaikan oleh si pembuat simbol sama dengan yang diperoleh orang

menjadi sasaran isyarat. Akan tetapi, tidak semua orang bisa mengerti

akan bahasa isyarat sehingga ungkapan suaralah atau bahasa yang

paling mungkin menjadi simbol signifikan. Dengan kata lain, individu yang

menyatakan ketidaksenangannya kepada orang dengan cara memaki-

maki atau marah-marah secara lisan berperan jauh lebih baik daripada

hanya berpatok pada bahasa tubuh yang berubah seperti ngambek atau

wajah cemberut tadi.

NI masih melihat kelainan sebagai suatu hal yang membatasi,

sehingga anak dinilai hampir tidak memiliki kemampuan apa-apa dalam

berbagai hal akibat kelainan tersebut. Tidak tanggung-tanggung pula,

anak sering disuguhi banyak pekerjaan domestik yang notabenenya

merupakan tugas seorang ibu rumah tangga karna dianggap tidak bisa

berkontribusi dalam hal lain bagi keluarga. Sehingga anak diberdayakan

dengan cara diberikan banyak pekerjaan rumah. Selain itu, anak juga

kurang mendapat dukungan dan penghargaan mengenai hasil kerjanya.

111
Bahkan malah kerap dimarahi dan dibentak oleh anggota keluarga lainnya

apabila hasil pekerjaannya tidak sesuai dengan yang diperintahkan. Sikap

keluarga di atas sepertinya masih kurang memberi ruang positif bagi anak

dan terlihat mengingkari fungsi afeksi yang seharusnya diterima anak

dalam keluarga.

3. Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus di Lingkungan


Masyarakat
Seperti halnya pengalaman dalam keluarga, lingkungan sosial turut

berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus.

Keberadaan mereka ditengah masyarakat juga terkadang menimbulkan

beragam pandangan yang berbeda. Perbedaan pandangan tersebut biasa

memunculkan bentuk perlakuan-perlakuan yang berbeda pula. Perlakuan

diterima ZF dan NU sebagai anak berkebutuhan khusus di kehidupan

bermasyarakatnya berusaha digali dengan mencari informasi dari orang-

orang yang tinggal dan sering melakukan interaksi dengan anak. Informan

tersebut yakni Ibu NR dan Ibu DI selaku tetangga dengan anak.

Ibu NR merupakan tetangga dekat dengan keluarga Ibu NI. Beliau

mengakui mengenal baik keluarga Ibu NI termasuk salah satu puteranya

yang termasuk anak berkebutuhan khusus. Berikut penuturan Ibu NR:

“Saya dan ibu NI sudah cukup lama bertetangga jadi sudah


saling mengenal dengan sangat baik. Ibu NI sering datang di
rumahku bercerita dengan saya dan tetangga yang lain.
Beliau orangnya ramah sama siapa saja. Suaminya pun juga
begitu. Tapi saya jarang berkomunikasi dengan suaminya
karna dia orang sibuk. Pekerjaannya sopir jurusan pare-pare,
jadi pergi pagi dan pulangnya malam. Saya juga saling
mengenal dengan anak-anaknya termasuk dengan ZF. Ada
sembilan orang anaknya dan anak laki-laki tertua yang ikut

112
bantu bapaknya bawa mobil. Kalau yang lain ada yang
sudah bekerja, ada yang masih pengangguran dan ada
beberapa yang masih sekolah. Salah satunya sekarang yang
masih duduk di bangku sekolah adalah ZF”. (Wawancara
tanggal 19 Mei 2017)

“ZF kalau di lingkungan ini sudah dikenal masyarakat sejak


dulu sebagai anak yang memiliki kelainan. Warga disini
sering istilahkan anak bango’-bango’. Kalau diliat memang
lain perilakunya dibandingkan temannya yang lain. Tapi saya
juga jarang berkomunikasi langsung dengan dia meskipun
setiap hari bertemu. Setiap pagi dia datang di rumahku ambil
air bersih, tapi tunduk saja seperti tidak mau di liat mukanya
kalau di ajak bicara dan tidak na jawab yang ditanyakanki.
Biasa juga cuma senyum saja kalau ditanya. Kalau di suruh
mama atau saudaranya datang membeli, baru ka’ mau mulai
percakapan, dia lari mi pulang ke rumahnya bawa itu apa
yang na beli, baru cepat sekali larinya. Kalau dia pulang
sekolah juga selalu lewat depan rumahku. Jadi seringka’
basa-basi bertanya mengenai kegiatan di sekolah tapi dia
selalu saja menghindar”. (Wawancara tanggal 19 Mei 2017)

Ibu NR juga mengungkapkan bahwa ZF sering membantu ibu NI

dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Hal tersebut berdasarkan

hasil penggalan wawancara berikut ini:

“Biasa na bilang mamanya sama saya, untung ada ZF rajin


bantu-bantuka di rumah karena malas saudaranya yang lain.
Dia mi itu yang sering buatkan tamu air minum, cuci piring,
menyapu bahkan biasa juga mencuci pakaian. Kecuali
memasak nasi tidak pernah ku suruh karna belum pi na tau.
Sebenarnya adaji saudara perempuannya tiga orang tapi
sudah semua mi berkeluarga. Satu orang menetap di Palopo
dan dua orang lainnya masih tinggal serumah ji sama orang
tuanya. Tapi karna mereka berdua sibuk juga bekerja jadi
pagi-pagi sudah tinggalkan rumah. Baru saudaranya yang
laki-laki malas. Jadi kayak ZF yang kaki tangan mamanya.
Itumi biasa mengamuk kalau capek mi baru masih dia terus
di suruh. Padahal adaji saudaranya yang lain bisa di suruh
juga. Biasa mamanya suruh kakak ZF, tapi kalau mereka
tidak mau pasti ZF lagi yang kerjakan. Sekarang kita liat mi
itu di kolong rumahnya. Dia lagi itu na suruh mamanya pergi
pikul pasir dari sungai. Lagi tren ki lagi orang pelihara bunga
disekitar sini, jadi mau buat pot mamanya. ZF sendirian yang

113
pergi ambil pasir padahal ada ji juga saudara laki-lakinya di
rumah putar-putar musik. Sering ku tegur itu mamanya kalau
na bilangi terus ZF anak yang bodo’-bodo’ karna seandainya
bukan dia yang bantu ki, pasti setengah mati selesaikan
pekerjaan di rumah. Lebih baik syukuri saja keberadaannya
karena bukan keinginannya dia terlahir dengan kekurangan
tapi semua kuasa Puang La Ta’ala”. (Wawancara tanggal 19
Mei 2017)

Ibu NR mengatakan tidak pernah melihat ZF berkelahi atau dipukul

oleh orang tua maupun saudaranya sendiri. Berikut penuturannya:

“Sering ji na suruh-suruh tapi tidak pernah ji kuliat di pukul


sama orang tua ataupun saudaranya. Palingan na bentak ji
saja kalau ada na perintahkan ki baru tidak langsung na
kerjakan ZF di situ mi biasa di marahi. Tapi tidak pernah ji
dapat tindak kekerasan”. (Wawancara tanggal 19 Mei 2017)

Ibu NR juga mengatakan bahwa meskipun ZF terlihat memiliki

kekurangan tetapi itu bukanlah sesuatu yang bisa di anggap sebagai aib

dan kutukan bagi kedua orang tuanya. Serta beliau menerima keberadaan

ZF sebagai tetangganya dengan sangat baik. Berikut penuturan beliau:

“Memang biasa na bilang orang termasuk anak bodo’-bodo’


artinya ada kekurangannya tapi menurutku dia itu bukan
kutukan bagi keluarganya. Sering ada anak-anak di sekitar
sini ejek-ejek ki dan ketawai cara larinya. Biasa ku tegur
supaya tidak diganggu dan di ejek karna memang anak tidak
waras. Keberadaannya menurutku diterima ji di lingkunganku
karna tidak pernah ku liat ada warga yang mengeluhkan
tentang ZF. Ada kekurangannya memang tapi dia baik dan
sopan anaknya. Malah kasihan ka’ liat ki karna kelakuannya
seperti anak bodo’-bodo’ (kurang waras) ditambah lagi tidak
pintar juga di sekolah. Mungkin begitu mi garis takdirnya.
Tapi dia itu pintar sekali menggambar. Pernah ku liat na
gambar orang, bagus hasilnya dan hampir persis sama
dengan aslinya. Kalau menonton di rumahnya bede seperti
film naruto, biasa langsung na gambar dan hasilnya juga
sama dengan yang ada di film kartunnya”. (Wawancara
tanggal 19 Mei 2017)
“Biarpun selalu di ejek-ejek, ZF tidak pernah berkelahi sama
anak-anak di sini. Dia juga tidak suka memukul. Malah kalau

114
ketemu dengan anak kecil na suka elus-elus kepalanya. Dia
penyayang pada anak kecil. Baru sopan anaknya. Di zaman
sekarang biasa mi itu di liat kalau anak remaja biar ada
orang tua di depannya tetap lewat saja tanpa permisi. Kalau
ZF, pasti bilang tabe’ dulu baru lewat. Dari situ bisa diliat
kalau ada memang kekurangannya tapi sebenarnya lebih
banyak kelebihannya. Hanya saja, banyak orang yang bisa
na liat cuma sisi kekurangannya karena itu yang paling
menonjol”. (Wawancara tanggal 19 Mei 2017)
Ibu NR mengungkapkan bahwa ZF tidak pernah ikut berpartisipasi

dalam kegiatan yang diadakan di lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini

dituturkan sebagai berikut:

“Kalau di lingkungan ini jarang ada kegiatan. Paling disuruh


sama Pak RT gotong royong membersihkan lingkungan dan
penyuluhan dari aparat kesehatan atau pegawai kelurahan
Buntu Sugi. Dalam satu kali satu tahun ada warga yang
wakili untuk ikut dalam lomba agustusan seperti lomba gerak
jalan dan lomba malam kesenian. Tapi tidak pernah kuliat ZF
mengikuti kegiatan tersebut. Kalau di gerak jalan dan lomba-
lomba lainnya memang tidak di pilih karna takutnya nanti na
buat ki kalah tim. Tapi dia juga tidak pernah kuliat ikut dalam
kegiatan gotong royong. Kalau ada temannya ramai-ramai
main pimpong orang di rumah tetangganya biasa kuliat di
tangganya ji saja perhatikan temannya bermain. Tapi tidak
ikut juga main. Dia itu memang jarang keluar rumah. Jarang
juga pergi main apalagi kumpul-kumpul sama anak-anak di
sekitar sini”. (Wawancara tanggal 19 Mei 2017)

Ibu NR mengungkapkan bahwa tidak ada layanan khusus bagi

anak berkebutuhan khusus selain sekolah di tempat tinggalnya. Sarana

prasarana khusus juga tidak ada. Berikut penuturan beliau di bawah ini:

“Di sini tidak pernah ku liat ada tempat semacam kursus


untuk memberi binaan atau mengajarkan keterampilan bagi
anak berkebutuhan khusus. Tapi kan ZF pasti di ajar ji di
rumah dan di sekolah. itu dia pintar menggambar pasti di
ajar di rumahnya ji dulu. Baru belajar sendiri mi di bantu
media televisi. Lebih lengkap lagi pelajaran na dapat kalau di
sekolah. Kalau sarana prasarana khusus bagi anak cacat
tidak ada di sini. Tidak kutau juga apakah ada dananya dari
pemerintah tapi kalau bentuk nyatanya di sini tidak ada.

115
begitupun juga tidak ada yang di buat secara swadaya oleh
masyarakat di sini”.(Wawancara tanggal 19 Mei 2017)

Setelah mendapat informasi dari Ibu NR mengenai perlakuan yang

diterima ZF dari masyarakat, selanjutnya mencari informasi dari Ibu DI.

Beliau merupakan tetangga keluarga pak SN mulai tahun 2004. Sejak

saat itu, ibu DI berusaha menjalin hubungan yang baik dengan keluarga

SN. DI menuturkan:

“Saya kenal baik dengan keluarga bapak SN karna adami


sekitar 14 tahunan ka’ jadi tetangga dekat. Keluarganya juga
baik. Kalau sama-sama tidak ada kesibukan biasa ki’ kumpul
cerita-cerita di kolong rumah ku karna ada balai-balai di situ.
Sering juga bikin acara sama-sama. Kalau ada keperluanku,
biasa ke rumahnya ka’ minta tolong. Begitupun sebaliknya.
Karna lama ma’ki tetangga jadi ku kenal baik mi juga anak-
anaknya termasuk NU. NU termasuk anak inklusi karna
punya kekurangan. Dia itu di rumahku terusji main. Bisa di
bilang sahabat dekat sekali dengan anak bungsuku. Sama-
sama terus seperti kancing baju kalau ketemu ki. Kalau
pulang mi NU dari sekolah, datang mi cari ana’ku baru
pergimi main masak-masak di kolong rumah. Biasami juga
main-main tanah”. (Wawancara tanggal 20 Mei 2017)

Ibu DI mengaku sering berinteraksi dengan keluarga NU, sehingga

beliau mengetahui perlakuan yang diterima NU dari keluarganya. Ibu DI

menuturkan seperti berikut:

“NU dalam lingkungan keluarganya sangat diperhatikan.


Saya sudah lama bertetangga dan tidak pernah ka’ dengar
orang-orang di rumahnya bentak-bentak ki apalagi sampai
na bilangi anak bodo’-bodo’. Selama ka’ di sini tidak pernah
pi juga ku liat di pukul. NU juga tidak suka juga berkelahi
dengan saudaranya. Biasa ji di tegur sama mamanya kalau
main lari-lari di atas rumah. Biasa juga adeknya mengeluh
kalau NU main di atas rumah sama teman-temannya baru na
hambur semua barang-barang karna adeknya yang biasa
membersihkan. Na tegur, biasa mi juga marah adeknya tapi
tidak na bentak ji dan tidak na pukul ji juga. Apalagi suka
main-main tanah, kalau penuhi mi bajunya tanah itumi biasa

116
di suruh berhenti main sama mamanya tapi tidak di kasari
kalau di bicarai. Ku rasa masih wajar ji kalau di tegur kalau
begitu karna saya juga jengkel sekali ka kalau sudah capek
membersihkan baru datang ini anak-anakku membongkar
atau bikin kotor-kotor. Bapaknya juga sayang sekali sama
NU. Itu kalau lagi kumpul-kumpulki cerita sama bapaknya
baru ada NU di sampingnya, selalu na elus-elus kepala
anaknya. Kalau na bicarai juga secara baik-baik.Saya liat
bagus memang didikan yang na terima dari keluarganya,
tegas tapi tanpa bentakan. Itumi anak-anaknya sopan, tidak
nakal dan penurut sama orang tua”. (Wawancara tanggal 20
Mei 2017)

Ibu DI sudah mengetahui NU termasuk anak inklusi, akan tetapi dia

tidak mengetahui hal yang menjadi penyebab dari kelainan anak tersebut.

Hal tersebut di sebutkan dalam wawancara berikut:

“Kalau menurut saya NU sudah termasuk anak yang inklusif


Seandainya dia normal tidak mungkin bergaulnya sama
anak-anak. Padahal umurnya dia sudah terbilang dewasa.
Teman sebayanya itu sudah kuliah dan bahkan ada yang
sudah selesai. Itu anak bungsu ku baru umur tiga tahun, tapi
dia ji na temani terus NU main-main di rumah. Baru kalau
diliat nilainya akademiknya di sekolah selalu rendah juga.
Seringnya kalau di ajak bicara dia menghindar atau diam
saja. Tapi kalau sama temannya main dia ceria sekali. Itu ji
kalau sama orang yang lebih besar, dia lebih suka diam.
Hampir tidak di dengar suaranya kalau bicara”. (Wawancara
tanggal 20 Mei 2017)

“Meskipun ku tau kalau dia anak inklusi, tapi tidak ku tau apa
penyebab awalnya bisa begitu. Karna dia waktu kecil tinggal
di Pana. Mereka pindah kesini sekitar tahun 2002. Baru saya
tinggal disni itu tahun 2004 pi. Seandainya tetangga ka’
mulai dari lahir pasti ku tau. Tapi pernah na bilang mamanya
sering jatuh waktu masih kecil. Mungkin itu berpengaruh
sama otaknya”. (Wawancara tanggal 20 Mei 2017)

Meskipun NU memiliki kekurangan, Ibu DI tidak menganggap NU

sebagai aib dan kutukan bagi keluarganya. Dia menerima keberadaan NU

sebagai tetangganya dan tetap melakukan interaksi dengannya. Selain itu,

117
beliau sering menegur apabila melihat orang lain memukul atau mengejek

NU.Hal tersebut diungkapkan Ibu DI dalam penggalan wawancara di

bawah ini:

“Ada memang orang biasa berfikir kalau ada anak lahir


dengan kekurangan seperti cacat bisa jadi karena waktu
masa hamil orangtuanya melakukan kesalahan atau pernah
ejek-ejek anak cacat juga jadi pada saat anaknya lahir,
punya kekurangannya juga. Tapi menurut saya, NU begitu
kondisinya bukanji gara-gara orangtuanya dapat karma atau
semacam peringatan. Tapi anaknya begitu karena pengaruh
sering jatuh waktu masih kecil. Kemungkinan juga bisa karna
ada masalah waktu kehamilan. Kan yang begitu bisa saja
karna ada salah sebelum atau sesudah melahirkan. Kita
semua biasa dikasi cobaan sama Puang La Ta’ ala. Begitumi
juga dengan orang tuanya NU. Jadi harus mereka harus
banyak bersabar dan tidak putus asa karna biar bagaimana
urus anak inklusi lebih susah daripada merawat anak normal.
Apalagi NU yang tingkahnya masih seperti anak kecil, jadi di
urus juga seperti anak-anak meskipun umurnya sudah
dewasa”. (Wawancara tanggal 20 Mei 2017)

“Saya pribadi ku terima kondisinya. Karna dia tidak suka ji


merusak, tidak pernah mengganggu apalagi memukul. Dia
juga sabar sekali anaknya dan sopan. Malahan saya suka
kalau dia na temani ana’ku main-main karna pasti na jaga
dengan baik. Sering kuliat kalau na kasi’ menangis kakaknya
ini ana’ bungsuku, dia kasi diam ki,na belai-belai rambutnya
na sayang-sayang. Menurut saya, keberadaannya NU juga
diterima oleh warga di sekitar sini. Mereka biasa ji na ajak
NU berkomunikasi, meskipun NU biasa susah di ajak cerita
oleh orang dewasa. Mereka juga tidak ada yang pernah
mengeluh kalau anaknya main sama NU karena dia tidak
nakal. Baru tidak suka juga berkelahi. Biasa itu ku marahi
temannya kalau adai di rumah main baru na pukul ki karna
kalau di pukul itu dia diam saja, tidak terlalu merespon untuk
melawan. Biasa ji na bilang jangan pukul ka’ atau pergi ki
menjauh tapi tidak balas memukul juga. Penyayang memang
anaknya baru sabar sekali juga”. (Wawancara tanggal 20
Mei 2017)

118
Ibu DI mengatakan bahwa NU terkadang ikut berpartisipasi dalam

kegiatan yang di adakan di lingkungannya. Hal tersebut di tuturkan ibu DI

sebagai berikut:

”NU tidak pernah kuliat ikut berpartisipasi kalau ada kegiatan


seperti lomba-lomba yang diadakan di lingkungan sini. Kalau
ada kegiatan halal bil halal atau acara kesenian dan lomba
agustusan juga tidak pernah di pilih sama warga. Kalau dia
di ikutkan lomba pasti banyak pertimbangan dan banyak
warga yang protes karna bisaki kalah gara-gara itu karna
masih kayak anak-anak kasian yang bermain ji na tau. Kalau
dalam hal lain lebih banyak tidak dia tau. Dan kalaupun
dipilih juga pasti tidak mau juga ikut karna pemalu. Kalau ada
kegiatan penyuluhan-penyuluhan juga dia tidak pernah ku
liat. Ituji biasa ikut serta kalau mau ada kegiatan penilaian
kebersihan lingkungan. Dia ikut membantu membersihkan
seperti pungut sampah dan menyapu. Tapi begitumi tidak
bisa serius bekerja karna biasa mi main-main atau lari-lari
sama anak-anak lain”. (Wawancara tanggal 20 Mei 2017)

Ibu DI juga mengungkapkan bahwa tidak ada layanan khusus dan

sarana prasarana bagi anak seperti kebutuhan khusus di sekitar tempat

tinggalnya. Hal tersebut diturturkan sebagai berikut:

“Di lingkungan ku tidak ada tempat yang khusus untuk


memberi binaan atau mengajarkan keterampilan khusus
bagi anak berkebutuhan khusus. saya rasa tidak terlalu perlu
ada begitu karna NU sudah di didik dengan baik di
rumahnya dan apalagi dia juga sekolah. Kalau di sekolah
diajar mi banyak pelajaran. Sarana prasarana yang dibuat
khusus untuk mereka juga tidak ada, karna tidak pernah ka
denga ada bantuan pemerintah untuk hal semacam itu di
sekitar sini”. (Wawancara tanggal 20 Mei 2017)

Pengalaman dan kehidupan sosial budaya di lingkungan anak

berkebutuhan khusus turut memberi pengaruh terhadap perkembangan

anak. Bukan suatu perkara mudah memiliki kelainan di tengah-tengah

budaya yang tidak begitu memandang anak berkebutuhan khusus secara

119
proposional. Biasanya dalam diri mereka akan muncul berbagai macam

pergolakan batin dan rasa tidak percaya diri apabila akan berada atau

tampil di hadapan publik. Padahal bukan hal yang tidak mungkin ada

kemampuan berprestasi pada anak berkebutuhan khusus di sela-sela

keterbatasan mereka. Akan tetapi, karena berbenturan dengan perasaan

minder, kemampuan mereka yang sebenarnya bisa ditampilkan harus rela

dikubur dan dibiarkan tersembunyi tanpa diketahui orang lain bahwa

mereka diberikan oleh Pencipta sisi keistimewaan berdampingan dengan

kelainan mereka.

Berdasarkan hasil penelitian yang dikumpulkan peneliti, perlakuan

anak berkebutuhan khusus di lingkungan masyarakat bisa di gambarkan

dengan detail dalam tabel matrik dibawah ini:

Tabel 4.2
Matrik Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus di Masyarakat

Komponen yang di Teliti Pandangan/Pemikiran Temuan di Lapangan


Teoritis
Perlakuan Sikaf 1. Penerimaan anak 1. Menerima keberadaan
masyarakat berkebutuhan khusus anak sebagai salah satu
terhadap anak dalam masyarakat anggota masyarakat
berkebutuhan 2. Stigma masyarakat 2. Anak berkebutuhan
khusus mengenai anak khusus di beri label
berkebutuhan khusus sebagai anak bodoh,
berpengaruh pada kurang waras oleh
penerimaan anak masyarakat sekitarnya

Pengikutsertaan Anak mendapat Anak jarang ikut serta


dalam kegiatan pelatihan dan berpartisipasi dalam
masyarakat kesempatan yang kegiatan kemasyarakatan
sama dengan anak
normal lainnya

Interaksi Interaksi dan relasi Sering bertemu dengan

120
dengan ABK yang terbangun dengan anak tetapi komunikasi
ABK yang sering terjadi
bersifat satu arah karna
anak jarang merespon
bahkan menghindari
komunikasi

Ketersediaan Anak memerlukan 1. Tidak tersedia layanan


layanan sosial layanan khusus baik khusus lainnya bagi anak
dan sarana berupa layanan selain layanan
prasarana yang pendidikan, layanan pendidikan
mudah di akses sosial dan bimbingan 2. Tidak tersedia sarana
anak prasarana khusus yang
berkebutuhan mudah di akses oleh ABK
khusus

Berdasarkan hasil penelitian yang telah di urai dalam tabel di atas

dapat dilihat bahwa perlakuan anak berkebutuhan khusus dalam

masyarakat menyinggung beberapa hal, antara lain: sikap ditunjukkan

masyarakat terhadap keberadaan anak, pengikutsertaan anak dalam

kegiatan kemasyarakatan, interaksi yang tebangun antara masyarakat

dengan anak dan ketersediaan layanan serta sarana prasarana ramah

anak.

Hal-hal tersebut akan di jelaskan secara detail sebagai berikut:

a) Sikap masyarakat

Dewasa ini, masih banyak masyarakat menunjukkan sikap yang

tidak menguntungkan bagi anak berekbutuhan khusus. Hal tersebut

utamanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pemahaman

mengenai kelainan anak, sehingga memunculkan anggapan masyarakat

bahwa anak berkebutuhan khusus itu berbeda. Berbicara mengenai sikap

dari masyarakat dalam memandang keberadaan anak berkebutuhan

121
khusus tentunya tidak bisa dipisahkan dari penerimaan masyarakat

dengan menilai anak berkebutuhan khusus dan keadaannya sebagai

objektif serta menerima apa adanya segala kekurangan dan kelebihan

mereka. Sikap menerima memegang peranan sangat penting dalam

mengarahkan perlakuan terhadap anak ke arah yang lebih positif.

Sedangkan penolakan dari masyarakat terhadap keberadaan anak baik

secara terang-terangan ataupun terselubung bisa memicu munculnya

perlakuan salah kepada anak.

Pada data yang ditemukan oleh peneliti, masyarakat mengakui

bahwa mereka sudah menerima kehadiran anak berkebutuhan khusus di

lingkungannya dan tidak menganggap anak sebagai aib atau pembawa

sial, namun demikian, adakalanya anak berkebutuhan khusus masih

dijadikan bahan lelucon serta mendapat ejek-ejekan dari masyarakat di

sekitarnya.

Tindakan masyarakat kepada anak berkebutuhan khusus yang

ceritakan oleh NR pada data menunjukkan masih ada masyarakat yang

belum bisa menerima sepenuhnya keberadaan anak di tengah-tengah

masyarakat. Sehingga, meskipun anak terbebas dari perlakuan salah

secara fisik seperti pemukulan, namun anak masih mendapat perlakuan

salah secara psikologi dan sosial berupa ejekan-ejekan, penghinaan dan

penglabelan negative. NR sendiri mengakui sudah menerima keberadaan

anak sebagai tetangga dekatnya. Hal tersebut ditunjukkannya dengan

selalu menegur orang lain yang mengejek anak berkebutuhan khusus

122
tersebut. NR juga tidak hanya berfokus pada kekurangan dimiliki anak tapi

bisa melihat bakat dan kelebihan anak dalam menggambar. Bukan hanya

itu, dia juga memiliki rasa simpati tinggi pada anak tersebut.

Bagaimanapun keadaannya, sesungguhnya tidak ada manusia

menginginkan dirinya dipandang rendah oleh orang lain. Setiap manusia

memiliki ego dan harga diri yang ingin dihargai, bukan malah direndahkan.

Sehingga tidak berlebihan jika ada yang menyebut bahwa seni dari

menjalin hubungan baik dengan orang lain adalah dengan menghargai

mereka apapun keadaan, status sosial dan berapapun usia yang mereka

miliki. Banyak hal positif bisa didapat dari seorang anak berkebutuhan

khusus seandainya masyarakat menunjukkan sikap keterbukaan dalam

melihat kekurangan mereka. Melalui sikap terbuka, masyarakat bisa

mengerti dan lebih mampu memberikan rasa simpati kepada mereka.

Dengan begitu masyarakat bisa memperlakukan anak berkebutuhan

khusus secara lebih toleran.

b) Pengikutsertaan dalam Kegiatan Masyarakat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus

sangat jarang bahkan hampir tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan

kemasyarakatan. Kalaupun mereka ikut berpartisipasi, itu hanya pada

kegiatan seperti gotong royong pembersihan lingkungan. Selebihnya,

dalam kegiatan lain seperti lomba-lomba, penyuluhan, remaja mesjid dan

kegiatan penting lainnya mereka tidak dilibatkan. Alasan sehingga mereka

tidak dilibatkan misalnya dalam lomba adalah masyarakat sekitar tidak

123
yakin anak mampu mengikuti lomba tersebut. Selain itu, ada anggapan

bahwa mereka hanya akan mendatangkan kekalahan bila diikutsertakan.

Pandangan masyarakat seperti diatas sejalan dengan pendapat

Gorrard (Smith, 2015: 105) yang mengatakan bahwa kekurangan anak

adalah merupakan penyakit keturunan dan hampir tidak ada yang dapat

dilakukan untuk meningkatkan kehidupan mereka yang sudah terlanjur

lahir dengan kondisi seperti itu. Anak berkebutuhan khusus memang

memiliki otak tapi kemampuannya sangat lemah dan tidak ada pendidikan

atau lingkungan baik yang bisa mengubah mereka menjadi normal. Yang

bisa diubah dari mereka hanyalah mengubah warna rambut merahnya

menjadi berambut hitam (Smith, 2015:105).

Besarnya rasa tidak percaya pada kemampuan anak berkebutuhan

khusus menyebabkan masyarakat lebih sering tidak melibatkan anak

dalam kegiatan yang dilakukan di sekitar lingkungannya. Padahal anak

berkebutuhan khusus juga berhak atas kesempatan yang sama dengan

anak normal lainnya. Kesempatan tersebut bisa berupa kesempatan

bekerja maupun berkarya. Apabila diberikan kesempatan sama, anak

berkebutuhan khusus bisa ikut memperlihatkan bakatnya dalam

menggambar. Kepiawaian anak berkebutuhan khusus tersebut dalam

memainkan pensil sehingga bisa tercipta gambar yang tak kalah bagus

hasilnya dengan karya anak normal patut di apresiasi. Sehingga hal

tersebut bisa menepis sedikit demi sedikit stigma bahwa mereka tidak

mampu melakukan apa-apa.

124
c) Interaksi Masyarakat dengan Anak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat berusaha

berinteraksi dan menjalin komunikasi intim dengan anak, namun karena

kepribadian anak berkebutuhan khusus ini yang selalu memilih untuk

menghindari interaksi dengan orang lain dan bahkan cenderung menarik

diri dari kehidupan sosialnya menjadikan masyarakat sekitarnya tidak

terlalu mengenal anak seutuhnya.

Setiap individu memerlukan kehadiran orang lain di dalam

kehidupannya terlepas dari bagaimanapun keadaannya. Interaksi ini yang

membedakannya dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya seperti binatang.

Akan tetapi anak berkebutuhan khusus justru lebih sering mengabaikan

interaksi dengan orang lain dan cenderung bersikap anti sosial. Hal

tersebut terjadi dikarenakan ketidakmampuan sosial (social disability)

yang mereka miliki. Pandangan ini menitikberatkan pada ketidakmampuan

mereka untuk memahami aturan sosial dalam keluarga, sekolah dan

lingkungan masyarakatnya.

Hal tersebut disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan-

kebutuhan anak berkebutuhan khusus dalam interaksinya dengan orang

lain seperti: anak merasa bukan bagian dari lingkungannya sehingga dia

selalu menarik diri dan menganggap dirinya berbeda karena tidak pernah

diikutkan dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan seperti teman-temannya.

Selain itu, dia juga selalu mendapat label negatif sebagai anak yang

memiliki kelainan mental dan perilaku tidak seperti orang-orang di

125
sekitarnya. Interaksi anak berkebutuhan khusus dengan orang lain juga

seringnya berakhir dengan anak menjadi bahan ejekan dan sasaran

lelucon teman sebaya maupun orang dewasa di lingkungannya. Selain

mendapat ejekan, anak berkebutuhan khusus dalam interaksinya tidak

mendapat kenyamanan dan dukungan berprestasi tetapi lebih sering

dipandang dengan rasa kasihan oleh masyarakat. Karna kebutuhan

interaksinya belum terpenuhi dengan baik dan bahkan masih sering

mendapat perlakuan salah dari masyarakat sekitar tempat tinggalnya

sehingga anak berkebutuhan khusus merasa berbeda, tidak punya

kepercayaan diri untuk berbaur dengan lingkungannya serta lebih memilih

untuk selalu menghindar dari orang lain.

d) Ketersediaan Layanan dan Sarana Prasarana Ramah Anak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam masyarakat sekitar

tempat tinggal anak belum ada tersedia sarana prasarana penunjang

kegiatan keseharian mereka yang bisa di akses dengan mudah oleh anak

berkebutuhan khusus. Seperti nama-nama jalan atau penunjuk arah yang

memudahkan anak bila bepergian sendiri ke sekolah, tidak tersedia

transportasi umum yang bisa mengantar maupun menjemput anak

sekolah serta tidak tersedia layanan sosial seperti tempat kursus yang

bisa melatih dan mengajarkan keterampilan pada anak.

126
4. Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah

Sejarah penyelenggaraan pendidikan inklusif di SMP Negeri 1 Alla

mengalami pentahapan seperti halnya kehidupan yang melalui fase demi

fase. Namun demikian, konsep pendidikan inklusif memang sudah mereka

terapkan sebelum dicanangkan pemerintah menjadi sekolah inklusif pada

tahun 2014 lalu. Hal tersebut terlihat dari adanya alumni sekolah yang

merupakan anak berkebutuhan khusus. Lingkungan sekolah yang ramah

dan menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman sangat dibutuhkan untuk

memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh anak. Akan tetapi, keberadaan

anak berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah umum terkadang menemui

berbagai persoalan seperti: kesiapan para pengajar, metode pengajaran,

kurikulum serta kelengkapan sarana prasarana dalam pengajaran.

Hal tersebut sejalan dengan informasi yang di dapat dari Ibu MA

sebagai Kepala sekolah di SMPN 1 Alla. Beliau sudah lama mengabdi di

sekolah tersebut sehingga banyak mengetahui seluk beluk sekolah dari

dulu hingga sekarang. Penuturannya ibu MA seperti berikut:

“Saya di sini sudah mengabdi selama + 17 tahun jadi sedikit


banyak tau perkembangan siswa lebih khususnya tentang
anak inklusi. Pada tahun 2014 sekolah dicanangkan sebagai
sekolah percontohan inklusi oleh pemerintah kota. Namun
sebelum menjadi sekolah inklusi, pihak sekolah memang
sudah lebih dahulu menerima anak berkebutuhan khusus.
Sekolah punya beberapa alumni yang termasuk kategori
anak berkebutuhan khusus. Ada yang autis, tunadaksa dan
kebanyakan yang gangguan prilaku serta kesulitan belajar.
Mereka diberi pengajaran di kelas yang sama anak normal
lainnya”. (Wawancara tanggal 8 Mei 2017)

127
Ibu MA mengatakan bahwa sebelumnya banyak guru yang merasa

keberatan dengan keberadaan anak berkebutuhan khusus di sekolah.

Namun setelah dijadikan sekolah inklusif, beliau bersama guru-guru

lainnya mendapatkan pelatihan mengenai cara dalam menghadapi anak

berkebutuhan khusus, sehingga mereka sudah lebih bisa menerima

keberadaan anak inklusif. Hal ini seperti yang dituturkan beliau:

“Sebelum dicanangkan sebagai sekolah inklusi, memang


ada beberapa guru yang keberatan dan mengeluh tidak
menerima keberadaan siswa berkebutuhan khusus. Selain
karena akan menghambat proses belajar mengajar, guru
juga mengalami kesulitan dalam memberi pemahaman
mengenai pelajaran kepada mereka. Akan tetapi, setelah
menjadi sekolah inklusif, para guru harus bisa menerima
keberadaan anak inklusif karena mau tidak mau sekolah
sudah diamanahkan oleh pemerintah kota Enrekang untuk
mengajar anak berkebutuhan khusus”. (Wawancara tanggal
8 Mei 2017)

“Ada pelatihan yang diterima tentang cara penanganan ABK


di Jakarta pada tahun 2015. Pelatihan tersebut di wakili oleh
beberapa Kepala sekolah dari sekolah Inklusi di seluruh
Indonesia. Nantinya kepala sekolah yang akan membagikan
informasinya kepada guru yang ada di sekolah masing-
masing. Namun pelatihannya baru sekali, jadi saya rasa
informasi yang di dapat juga belum cukup bagi guru untuk
mengasuh anak-anak inklusif”. (Wawancara tanggal 8 Mei
2017)

Ibu MA mengungkapkan pihak sekolah berusaha menerima semua

jenis anak berkebutuhan khusus, namun menemui kendala-kendala dalam

mewujudkannya. Seperti saat ada siswa tuna rungu dan tunanetra yang

mendaftar di sekolah. Tidak guru pembimbing khusus yang menangani

mereka. Sehingga pihak sekolah mengarahkan anak tunarungu dan

tunanetra tadi ke SLB. Sekolah hanya menerima siswa yang bisa

128
ditangani oleh guru mata pelajaran seperti siswa sengau, tunadaksa,

autis, ADHA, berkesulitan belajar, tunagrahita ringan, tunalaras dan

tunadaksa. Hal tersebut di paparkan dalam penggalan wawancara berikut:

”Pihak sekolah sebenarnya tidak memberi kriteria khusus


mengenai anak berkebutuhan khusus yang terima, karna
pada dasarnya guru-guru disini ingin membantu dalam
meningkatkan mutu pendidikan segala pihak termasuk bagi
anak inklusi yang ada di Kabupaten Enrekang. Bapak Bupati
menghimbau untuk tidak membatasi siapa saja yang mau
bersekolah sehingga anak inklusi juga mendapat perhatian
dari Pemerintah. Tujuan dari pencanangan sekolah inklusif
adalah untuk menyetarakan pendidikan antara anak inklusif
dengan anak normal. Setelah dicanangkan menjadi sekolah
inklusif, kami mendapat bantuan uang sejumlah 20 juta yang
digunakan untuk kebutuhan fisik seperti membangun ruang
sumber, pengadaan mebeler di dalam ruangan serta jalanan
yang bisa dilalui oleh pengguna kursi roda. Jalanan ini
berhubungan langsung dengan ruangan inklusi tersebut”.
(Wawancara tanggal 24 Juli 2017)

“Meskipun ada keinginan untuk tidak memberi batasan


dalam penerimaan semua jenis anak berkebutuhan khusus,
namun ada banyak kendala yang ditemui guru dalam
menghadapinya diantaranya banyak guru memiliki sedikit
pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus. Selain itu
juga tidak ada guru pendamping khusus bagi ABK yang
mengetahui betul cara mengajar anak inklusif, sehingga
pembelajaran yang diberikan menjadi tidak maksimal. Faktor
lain yang menjadi kendala yakni sarana prasarana yang
mendukung proses pengajaran anak inklusif tidak lengkap.
Misalnya sekolah ingin menerima anak tunarungu dan
tunanetra, pihak sekolah tidak memiliki fasilitas pengajaran
dan tidak ada guru yang ahli menangani siswa tersebut. Jadi
apabila ada pendaftar yang termasuk anak tunarungu dan
tunanetra kami hanya bisa arahkan ke SLB. Jadi di sekolah
ini menerima anak inklusif yang masih bisa di tangani oleh
guru mata pelajaran seperti siswa sengau, pertumbuhan
kerdil, autis, ADHA, berkesulitan belajar, tunagrahita ringan,
tunalaras dan tunadaksa. Yang paling banyak itu anak
berkesulitan belajar. Ada biasa pendaftar yang tidak pintar
sama sekali membaca karna masih salah pengenalan
hurufnya. Siswa begitu betul-betul menyulitkan guru-guru

129
menentukan trik apa yang bisa dipakai dalam mengajar”.
(Wawancara tanggal 24 Juli 2017)

“Selama menjadi sekolah inklusi penambahan fasilitas di


sekolah masih sebatas pembangunan satu ruangan lengkap
dengan mebelernya serta jalanan untuk pengguna kursi
roda. Tapi saya melihat ada perkembangan dalam diri anak
inklusif setelah mendapat perlakuan yang sama dengan
teman-temannya yang normal. Mereka terlihat lebih percaya
diri dan menurut saya itu modal paling utama karena dengan
adamya rasa percaya diri untuk maju, sang anak tidak
merasa ada batasan bagi dirinya untuk berkembang”.
(Wawancara tanggal 24 Juli 2017)

Ibu MA melihat bahwa para orang tua siswa berkebutuhan khusus

banyak yang sudah mengetahui kalau anaknya memiliki kelainan sebelum

mendaftarkan anak mereka di SMP Negeri 1 Alla. Hal tersebut dituturkan

seperti berikut:

“Pada saat ajaran baru, pihak sekolah selalu mengundang


orang tua murid baru ke sekolah. Itu semacam penyambutan
bagi siswa baru. Di saat itu kami memberitahukan kepada
orang tua tugas dan amanah yang sekolah emban sebagai
sekolah inklusif. Ada orang tua yang memang sudah tau
kalau sekolah ini sudah termasuk sekolah inklusif. Pada awal
dicanangkan, saya dan guru yang lainnya mempromosikan
sekolah kepada orang lain melalui banyak cara seperti di
acara majelis taklim, arisan dan kegiatan kemasyarakatan
lainnya. Saya juga informasikan kepada Kepala sekolah SD
yang saya kenal. Lalu kemudian banyak yang tau melalui
cerita dari mulut ke mulut. Tapi ada juga orang tua belum
tahu mengenai sekolah inklusi. Jadi kami tetap informasikan
saat acara penyambutan siswa baru”. (Wawancara tanggal 8
Mei 2017)

“Sebelum mendaftarkan anak ke sekolah, kebanyakan orang


tua sudah mengetahui kondisi anaknya. Ada juga orang tua
yang menemui saya secara langsung. Mereka menceritakan
kekurangan dari anak mereka tersebut. Dari cerita mereka,
saya mendapat informasi mengenai kesulitan-kesulitan anak
dalam belajar. Ada anak yang belum bisa membaca, tidak
lancar menulis, mengalami gangguan emosi bahkan autis.
Kemudian saya bisa memberikan informasi kepada guru wali

130
mereka masing-masing kalau ada anak walinya termasuk
anak berkebutuhan khusus. Tolong diperhatikan dan berikan
binaan yang baik tetapi dalam aspek proses pembelajaran
usahakan selalu sama, Sehingga kita bisa melihat di SMPN
1 Alla baik anak normal maupun anak berkebutuhan khusus
mendapat perlakuan yang sama”. (Wawancara tanggal 24
Juli 2017)

Mengenai kurikulum, Ibu MA mengatakan bahwa sekolah SMP

Negeri 1 Alla menggunakan dua jenis yakni KTSP dan K13. Sekolah tidak

memiliki kurikulum khusus bagi anak inklusif. Jadi bahan ajar yang

digunakan sama dengan kurikulum pengajaran anak normal lainnya.

Selain itu, sekolah juga tidak memiliki guru pendamping khusus bagi anak

berkebutuhan khusus.

Hal tersebut terungkap dalam penggalan wawancara berikut:

“Pihak sekolah menggunakan kurikulum KTSP dan K13.


Tidak ada kurikulum khusus bagi anak berkebutuhan khusus
disebabkan guru pendampingnya belum ada. Untuk saat ini,
tugas pendamping khusus diserahkan kepada guru BK.
Siswa inklusif dibiarkan belajar dan menerima mata
pelajaran dari guru yang sama. Metode dan kurikulumnya
juga sama. Hal yang membedakan nantinya adalah dari segi
hasil rekap nilai setiap siswa. Disitu akan ditemukan hasil
ulangan siswa berkebutuhan khusus mendapat nilai sangat
rendah dan hasil tugas-tugas yang diberikan tidak tuntaslah”.
(Wawancara tanggal 24 Juli 2017)

Selain masalah kurikulum, Ibu MA mengatakan bahwa masih ada

guru yang mengalami kesulitan dalam memberikan penilaian pada siswa

berkebutuhan khusus. Berikut penuturan beliau:

“Banyak guru yang merasa kesulitan dalam memberikan


penilaian kepada anak berkebutuhan khusus. Bagaimana
tidak, ada anak inklusif yang belum lancar membaca dan
menulis, mereka tidak mampu menyelesaikan tugas yang
diberikan, tidak berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan
pembelajaran, bahkan ada anak inklusif yang hanya mampu

131
menulis soal saat ulangan dan tidak dapat menjawab
pertanyaan. Meskipun ada sosialisasi mengenai gambaran
cara penilaian anak berkebutuhan khusus, akan tetapi masih
ada guru yang mengaku masih kebingungan dalam mengisi
daftar nilai siswa yang berkebutuhan khusus”. (Wawancara
tanggal 24 Juli 2017)

Adapun cara memberi penilaian yang biasa diterapkan di SMP

Negeri 1 Alla di ungkapkan ibu MA dalam penggalan wawancara berikut:

“Guru disini memberi penilaian bukan hanya berfokus pada


nilai ulangan dan nilai tugas saja. Tetapi mereka juga menilai
perkembangan pengetahuan siswa dari waktu ke waktu. Ada
anak yang sebelumnya tidak bisa mengenal huruf menjadi
bisa mengeja, sebelumnya tidak lancar membaca dan
menulis menjadi lebih lancar itu semua kami masukkan
penilaian. Kami juga mengambil nilai keseharian anak di
sekolah seperti tingkat kehadiran, kerajinan siswa, sopan
kepada guru dan warga sekolah yang lain, dan keaktifan
dalam kelas, dan tingkah laku lainnya di dalam kelas. Semua
itu di beri nilai oleh guru. Bahkan ketika ulangan dan anak
hanya menulis soal ulangan juga diberi penilaian. Jadi ada
anak yang memang sangat rendah nilai akademiknya tetapi
tetap naik kelas karna nilai dalam kesehariannya baik serta
ditemukan ada perkembangan dari segi pengetahuan yang
bisa dilihat sebelum dan sesudah anak diberi pengajaran”.
(Wawancara tanggal 24 Juli 2017)

“Dulu ada siswa disini yang termasuk anak autis bernama


AG. Dia hanya menyukai 2 bidang studi yaitu bahasa inggris
dan computer. Kemampuannya di dua bidang ini lebih
unggul ketimbang teman-temannya yang lain. Jadi kalau ada
tugas diberikan di sekolah, AG biasanya hanya mampu
menulis soal. Karna hanya mampu menulis soal jadi apabila
ada tugas bahkan soal ulangan kami suruh bawa pulang
soalnya, nanti di kerjakan di rumah di bantu oleh orang tua
atau kakaknya. Meskipun hanya bisa menulis soal saat
ulangan akan tetapi dia memiliki kemampuan dalam bidang
bahasa inggris dan computer, sehingga guru tetap harus
memberikan AG nilai dan mengusahakan dia agar tidak
tinggal kelas. Kami tidak ingin membuat anak ini terhambat
mengembangkan kemampuannya hanya karena dia kurang
pandai dalam mata pelajaran lain”. (Wawancara tanggal 24
Juli 2017)

132
Adapun strategi yang di gunakan ibu MA dalam mengajar anak

inklusif diceritakan dalam penggalan wawancara di bawah ini:

“Strategi yang biasa saya terapkan dalam mengajar anak


inklusif yakni mereka diberikan tempat duduk di bagian
depan agar guru mata pelajaran mudah mengontrol dan
memantau sambil memberi tugas temannya yang lain. Saya
juga memberi pemahaman secara berulang-ulang di bagian
anak mengalami kesulitan dan menjelaskan pelajaran
dengan cara tidak terburu-buru agar anak berkebutuhan
khusus memiliki kesempatan untuk mencerna penjelasan
kata demi kata. Biasanya anak berkebutuhan khusus saya
pilihkan tempat supaya bisa duduk satu bangku dengan
murid yang pintar sehingga bisa meminta bantuan kepada
teman sebangkunya untuk mengajari mereka pada pelajaran
yang belum dimengerti dengan baik. Selain itu, saat anak
berkebutuhan khusus ini mulai mengamuk dalam kelas dan
tidak mau mematuhi perintah, saya biasa pancing dengan
barang-barang yang mereka minati. Seperti dulu waktu
masih mengajar anak autis. Kalau dalam kelas di mulai
bosan atau tidak suka dengan sesuatu pasti dia akan
mengamuk dan merusak barang dalam kelas. Dia juga
mengusir temannya dari kelas. Kalau sudah begitu biasanya
saya pura-pura mengaku laptopku bermasalah, ada file yang
rusak gara-gara virus. Saya kemudian meminta bantuan dia
untuk memperbaiki. Cara tersebut selalu berhasil karna dia
memang sangat suka bermain komputer. Dia langsung
duduk tenang di meja guru mengotak-atik laptop dan saya
juga bisa melanjutkan pelajaran bersama temannya yang
lain”. (Wawancara tanggal 24 Juli 2017)

Perhatian lebih yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus

terkadang mengundang kecemburuan bagi siswa normal yang lainnya.

Namun, pihak guru berusaha memberi pemahaman kepada siswa yang

lain mengenai siswa inklusif. Hal tersebut dituturkan ibu MA sebagai

berikut:

“Sebelumnya biasa ada siswa yang protes kalau ada anak


inklusif yang suka mengganggu dan berkelahi di sekolah tapi
tidak diberikan hukuman. Malah dibujuk-bujuk supaya tidak
mengganggu temannya. Apalagi waktu masih sekolah di sini

133
itu siswa yang autis. Dia itu kalau marah na buka rim
celananya na pake pukul temannya baru na usir semua
temannya dari kelas. Biasa mi juga na banting-banting meja
dan kursi di kelas kalau ada sesuatu yang tidak na suka. Jadi
kalau sudah begitu haruski pintar-pintar cara ta’ bujuk ki.
Kalau tidak, bisa jadi tambah mengamuk dan memukul.
Teman kelasnya adami yang biasa protes kenapa tidak di
keluarkan sekolah saja atau kenapa anak begitu tetap naik
kelas padahal nilainya sangat rendah. Jadi tugas kami guru
memberi pemahaman tentang kondisi anak inklusif kepada
teman-temannya agar mereka bisa menerima dan tidak iri
melihat siswa yang berkebutuhan khusus lebih mendapat
perhatian yang lebih dari guru”. (Wawancara tanggal 24 Juli
2017)

Informasi yang didapat dari ibu CH tidak terlalu jauh berbeda. Ibu

CH merupakan salah satu staff pengajar di SMP Negeri 1 Alla dan mengisi

posisi guru BK. Selain itu, dia diberikan amanah oleh Kepala Sekolah

sebagai guru pendamping bagi anak berkebutuhan khusus. Hal tersebut

seperti yang dituturkan ibu CH berikut ini:

“Saya mulai mengajar di sekolah ini sejak selesai kuliah


pada tahun 2011. Kebetulan saat itu guru yang mengajar
mata pelajaran BK mau pension, jadi saya yang masuk
menggantikan posisi guru tersebut. Saat ini sekolah belum
mempunyai guru pembimbing khusus bagi ABK, jadi guru BK
diamanahkan Kepala Sekolah untuk memberikan bimbingan
kepada siswa inklusif terutama bagi anak yang mengalami
gangguan emosi yang suka berkelahi, memukul dan tantrum
dalam kelas”. (Wawancara 5 Juni 2017)

“Sebenarnya, walaupun guru BK sudah diamanahkan untuk


membimbing anak berkebutuhan khusus di sekolah tapi anak
inklusif tetap membutuhkan guru pembimbing khusus yang
lebih ahli dan sudah mengetahui secara detail seluk beluk
mengenai ABK. Kalau kami guru BK hanya belajar dasar-
dasar dalam menghadapi anak-anak inklusif ini jadi
pelayanan dan pembelajaran yang kami berikan tidak
maksimal”. (Wawancara 5 Juni 2017)

134
Ada beberapa anak berkebutuhan khusus yang masih bertahan

melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Alla, namun ada juga beberapa

yang sudah putus sekolah. Informasi tersebut di tuturkan ibu CH dalam

penggalan wawancara berikut:

“Masih ada beberapa anak inklusif di SMP Negeri 1 Alla


yang bertahan, tapi ada juga yang sudah keluar dari sekolah.
Mereka yang berhenti sendiri dari sekolah. Waktu masuk
tahun ajaran baru, tidak datang mi lagi di sekolah. setelah di
konfirmasi ke keluarganya, anaknya katanya sudah tidak
mau ke sekolah. Siswa berkebutuhan khusus yang masih
bersekolah di sini diantaranya adalah ZF dan NU. Keduanya
sama-sama duduk di bangku kelas dua. ZF itu anaknya
sangat pendiam, pemalu, kurang aktif dan kurang inisiatif
baik dalam hal belajar maupun bermain bersama teman-
temannya. Saat berlangsung proses pembelajaran di dalam
kelas, dia lebih suka diam saja dan tidak pernah bertanya.
Bahkan saat di beri pertanyaan dia juga diam saja Biasa
ada guru mata pelajaran yang suruh maju ke depan papan
tulis tapi dia tidak mau. Prestasi belajarnya juga selalu di
urutan terakhir dibanding teman sekelasnya yang lain.
Namun demikan, ZF termasuk anak yang sopan, sangat rajin
datang ke sekolah dan rajin juga membersihkan dalam
kelas”. (Wawancara 5 Juni 2017)

“Kekurangan ZF yang sangat mencolok dalam dirinya yakni


dia sangat lambat dalam penerimaan pelajaran. Sedangkan
dalam hal-hal yang berhubungan dengan sosial, dia tidak
terlalu anti sosial karena masih biasa terlihat ikut bergaul
dengan teman dekatnya di kelas.Teman dekat ZF bernama
FH yang selalu dia ikuti saat berada di lingkungan sekolah.
Hanya saja dia tidak seaktif temannya yang lain. Saat teman-
temannya sedang asyik bermain, dia hanya duduk saja
memperhatikan temannya tersebut tanpa ikut terlibat dalam
permainan. (Wawancara 5 Juni 2017)

“Adapun anak inklusif yang lain bernama NU. Baik ZF dan


NU memiliki persamaan dalam hal nilai prestasi belajar.
Keduanya di nilai sama-sama lambat dalam penerimaan
pelajaran. Selain itu NU juga termasuk anak sangat pemalu,
pendiam dan anti sosial di lingkungan sekolah. Dia lebih
suka menyendiri baik itu dalam kelas maupun ketika ingin ke
kantin sekolah selalu berjalan sendirian. Prestasi belajarnya

135
tidak bagus, tapi dia tetap rajin datang ke sekolah. Dia juga
termasuk anak yang sopan dan sabar. Meskipun selalu jadi
sasaran ejekan teman-temannya tapi NU selalu diam saja
tanpa membalas mengejek ataupun marah pada temannya
tersebut”. (Wawancara 5 Juni 2017)

Pihak sekolah berusaha memberikan layanan pendidikan yang

sama kepada semua siswa agar bisa memenuhi kebutuhan pendidikan

setiap siswa baik normal maupun siswa inklusif. Hal tersebut dituturkan

ibu CH dalam penggalan wawancara berikut ini:

“Saya dan guru lainnya berusaha untuk tidak memberikan


perlakuan yang berbeda kepada siswa saat dalam kelas
dalam pemberian layanan pendidikan. Kami menggunakan
kelas yang sama dimana anak inklusif dan anak normal di
satukan di dalamnya. Kurikulum yang di gunakan juga sama.
Meskipun sama mengenai pelajaran, akan tetapi mau tidak
mau tetap ada perbedaan dalam hal pemberian perhatian.
Kami kebanyakan memberikan perhatian yang lebih kepada
anak-anak inklusif. Seperti saat menjelaskan pelajaran
kepada anak normal kami mengajar seperti pada umumnya,
akan tetapi pada saat berhadapan dengan anak inklusif yang
sulit memahami pelajaran, malas memperhatikan ataupun
tidak mau mengikuti pelajaran bahkan sering tantrum dalam
kelas, kami harus berusaha keras untuk mencari strategi
agar mereka mau mengikuti pelajaran dengan aktif, gaya
berbicara saat menjelaskan juga harus di perlambat dan
tidak boleh di kerasi agar anak lebih bisa mengerti. Yang
pasti harus sabar dan rajin membujuk saat mengajar anak
inklusif ini”. (Wawancara 5 Juni 2017)

Walaupun sudah memberikan perlakuan yang sama kepada

kepada siswa, namun Ibu CH merasa belum bisa memberikan pelayanan

pendidikan maksimal disebabkan kurangnya pengetahuan yang dimiliki

mengenai cara menangani anak berkebutuhan khusus di kelas. Hal

tersebut dituturkannya seperti berikut:

“Menurut saya, perlakuan yang diberikan oleh sekolah belum


sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan pendidikan bagi

136
siswa berkebutuhan khusus. Hal ini dikarenakan guru yang
mengajar di sekolah ini tidak ada yang berlatar pendidikan
dari PLB. Kebanyakan tidak terlalu mengetahui tentang anak
inklusif dan bagaimana cara menangani ABK di dalam kelas.
Saya selaku guru BK meskipun diberi kepercayaan untuk
membimbing anak inklusif ini, tapi tidak bisa berbuat banyak
untuk mereka. Biasanya saya hanya memberikan nasehat
apabila anak ini bermasalah di sekolah, memberi mereka
motivasi agar lebih giat dalam belajar. Padahal apabila ada
guru pembimbing khusus pasti bisa memberikan layanan
pendidikan yang lebih baik untuk anak inklusif”. (Wawancara
5 Juni 2017)

“Kalau ada pembimbing khusus yang membantu menangani


anak inklusif di sekolah, guru pembimbing dan guru mata
pelajaran bisa saling membantu dalam mengajar. Sehingga
pengajaran yang didapat anak bisa maksimal”. (Wawancara
5 Juni 2017)

“Sejauh ini kami menangani anak inklusi yang bermasalah di


sekolah seperti berkelahi dengan temannya atau mengamuk
di kelas, berbuat onar masih sebatas diberi nasehat dan
motivasi. Teman-temannya yang normal juga kami berikan
pemahaman bahwa temannya merupakan anak inklusif yang
mempunyai kebutuhan khusus serta kelainan baik itu dalam
hal kelainan emosi, ada juga yang lambat dalam menerima
pelajaran. Jadi tolong di maklumi dan jangan di ganggu.
Namun, meskipun sering di berikan pemahaman seperti itu,
tapi tidak semua anak bisa menerima. akan tetapi biarpun
kami selaku guru BK sudah menerapkan dasar-dasar ilmu
menangani ABK yang kami ketahui, tapi tetap saja terkadang
tidak berhasil. Seandainya ada guru pendamping khususnya
pasti memiliki strategi yang lebih jitu”. (Wawancara 5 Juni
2017)

“Saran saya mungkin sebaiknya ada SLB yang dibangun di


kecamatan Alla. Ada SLB di Kabupaten kota tapi letaknya
yang jauh jadi sulit di akses oleh anak yang tinggal di
seputaran Enrekang Duri. Selain itu, kebanyakan orang tua
tidak mau berpisah jauh dengan anaknya kalau mereka
berkebutuhan khusus. Kalau ada SLB, anak inklusif seperti
ZF dan NU yang sangat sulit memahami pembelajaran di
kelas dan tidak mampu bergaul dengan baik bersama anak
normal di sekolah bisa dimasukkan ke SLB. Hal tersebut
saya rasa lebih baik untuk mereka agar bisa mendapat
pelayanan pendidikan yang lebih maksimal di SLB karena

137
guru-gurunya lebih mengetahui cara tepat menangani anak
seperti mereka”. (Wawancara 5 Juni 2017)

Selain itu, ibu CH mengatakan bahwa meskipun dijadikan sekolah

inklusif, pihak sekolah tidak bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain

dalam memantau berjalannya program sekolah inklusif SMP Negeri 1 Alla.

Berikut penuturan ibu CH:

“Tidak ada lembaga lain yang membantu memantau


berjalannya program sekolah inklusif di sini. Baik pengawas
yang dibentuk pemerintah maupun pengawasan dari pihak-
pihak lain seperti LSM. Hanya wali kelas dan guru-guru mata
pelajaran bersangkutan yang selalu saling berbagi informasi
kepada guru BK tentang perkembangan siswa di lingkungan
sekolah khususnya di dalam kelas karena mereka setiap hari
berinteraksi dengan anak. Biasa juga kami selaku guru BK
yang mengunjungi kelas untuk memantau berjalannya
proses pembelajaran sambil melihat perkembangan anak
inklusif”. (Wawancara 5 Juni 2017)

Ibu CH mengatakan bahwa dia sudah menerima keberadaan anak

berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah SMP Negeri 1 Alla. Begitupun

juga dengan teman-teman sekolah dari anak berkebutuhan khusus.

Seperti yang dituturkannya sebagai berikut:

“Sebenarnya, saya tidak merasa terbebani dengan adanya


anak inklusif di sekolah karena hal itu bisa jadi pembelajaran
baru bagi guru tentang cara menangani ABK ke depannya.
Apalagi memang dalam menghadapi siswa pasti banyak
karakter yang mau di hadapi. Akan tetapi lebih bagus kalau
ada pembimbing khusus karena kemampuan kami untuk
menghadapi anak seperti itu terbatas”. (Wawancara 5 Juni
2017)

“Kebanyakan temannya sudah mengetahui kalau ZF dan NU


termasuk anak berkebutuhan khusus dan mereka menerima
keberadaan anak inklusif di lingkungan sekolah.Saya tidak
pernah menemui kasus ada anak inklusif yang dikucilkan
temannya di sekolah ini. Akan tetapi, meskipun temannya
bisa menerima tapi terkadang juga ada anak-anak lain yang

138
mengejek mereka. Biasa ada temannya yang memanggil
mereka dengan sebutan anak bodo’-bodo’, anak setengah-
setengah waras dan beberapa sebutan lainnya.Tapi mereka
hanya mengejek dan tidak sampai memukul anak inklusif”.
(Wawancara 5 Juni 2017)

Meskipun keberadaan mereka sudah diterima oleh warga sekolah

lainnya, namun terkadang masih ada guru mengeluh dalam menghadapi

anak-anak berkebutuhan khusus di dalam kelas. Hal tersebut di ceritakan

ibu CH dalam penggalan wawancara berikut:

“Tidak bisa di pungkiri, biasanya memang ada teman-teman


guru yang mengeluh dalam mengajar. Apalagi kita latarnya
sekolah umum yang harus menerima siswa inklusi. Dengan
adanya anak inklusi dalam kelas bisa menghambat proses
belajar mengajar. Misalkan dalam satu kelas ada termasuk
anak inklusi, setelah menjelaskan pelajaran, siswa yang lain
sudah mengerti, tapi dia belum. Seharusnya kita sudah
melangkah pada bahasan selanjutnya menjadi terhambat
karena harus menjelaskan berulang-ulang lagi agar anak
inklusif tersebut mengerti. Dan bagi guru-guru yang tidak
mengetahui kekurangan anak dan adami juga yang tahu
sebenarnya mengenai kekurangan anak tapi bersikaf acuh
saja, sehingga mereka akan tetap melanjutkan pembahasan
apabila sebagian besar siswa sudah mengerti penjelasannya
tanpa memperdulikan anak inklusif yang belum memahami
penjelasannya tadi”. (Wawancara 5 Juni 2017)

Setelah mendapat hasil dari para informan kunci di atas, kemudian

saatnya menggali informasi dari para informan penunjang yang terdiri dari

dua orang anak berkebutuhan khusus yakni ZF dan NU. Hanya saja, tidak

banyak informasi bisa di dapat dari keduanya karena mereka sama-sama

sulit diajak berkomunikasi. Saat wawancara berlangsung, baik ZF maupun

NU lebih banyak diam, sesekali menjawab pertanyaaan dengan cara

mengangguk dan berbicara singkat.

139
ZF merupakan anak ke enam dari sembilan bersaudara pasangan

ibu NI dan pak NM dan saat ini duduk di bangku kelas dua SMP Negeri 1

Alla. ZF termasuk anak dalam kategori anak inklusi di sekolahnya. Saat

diajukan pertanyaan mengenai kegiatan kesehariannya di rumah, ZF

mengakui setiap hari sebelum berangkat ke sekolah dia pergi mengambil

air di rumah ibu NR, tetangganya. Dia juga mengangguk ketika di tanya

apakah sering menyapu, mencuci piring dan di suruh memasak di rumah.

Seperti yang dituturkan singkat dalam penggalan wawancara berikut:

“Iya, pergi ambil air”. (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

Dia juga mengungkapkan:

“Mama, tidak suka marah. Bando biasa marah. Di rumah


suka menonton film naruto, main game dan menggambar
spiderman. Ku suka juga makan biskuit dan minum kopi
sachet”. (Wawancara tanggal 16 Mei 2017)

ZF sangat jarang bergaul dengan anak-anak lain yang ada di

sekitar tempat tinggalnya. Dia mengakui lebih sering berada di rumah.

Saat berangkat ke sekolah pun, dia pergi berjalan kaki sendirian. Selain

itu ZF juga mengakui bahwa biasa ada teman sepermainan atau teman

sekelas mengejek-ejek dirinyanya. Di sekolah, ZF mempunyai teman

dekat bernama FH dan AG. Dia juga mengungkapkan ada beberapa guru

dan temannya yang suka memarahinya. Berikut penuturannya:

“Temanku FH sama AG. FH tidak suka marah. AG sering


marah kalau na ajarika’. Teman kelasku AV kucontek PRnya
tapi dia pelit. Kusuka ibu JM dan guru bahasa inggris dan ibu
MR karna tidak suka marah. Takutka sama pak RH guru
matematika karna suka marah”. (Wawancara tanggal 16 Mei
2017)

140
Tidak berbeda jauh dengan ZF, informasi yang didapat dari NU

juga sangat sedikit. NU adalah anak kedua buah hati pasangan ibu JU

dan pak SN. Informasi yang di dapat dari NU terangkum dalam penggalan

wawancara di bawah ini sebagai berikut:

“Kalau di rumah suka menonton film india dan suka makan


bakso. Kusuka guru matematika. Tidak suka pelajaran
matematika. Tidak pernahka minta tolong sama teman diajari
kalau ada pelajaran susah. Tidak kusuka main sama
temanku di sekolah. Tidak ada teman dekatku. Biasa ka’ di
ejek tapi tidak pernah di pukul. Kalau ke kantin selalu ka’
sendiri. Biasa ji ketemu ka’ sama adekku di kantin. Alfiah
namanya teman sebangku ku. Alfiah suka marah sama saya
kalau mau pinjam tipe x ku”. (Wawancara tanggal 18 Mei
2017)

Sekolah menjadi bagian dari lingkungan mikrosistem anak yang tak

kalah penting dalam memberi pengaruh pada proses tumbuh kembang

anak. Suasana kehidupan di sekolah turut mempengaruhi perkembangan

kepribadian anak, karna hal tersebut merupakan wadah penyemaian nilai-

nilai yang akan dijadikan pedoman oleh anak dalam setiap tindakannya.

Sekolah layaknya sebuah miniatur masyarakat, dimana suasana yang

dirasakan anak didalamnya bisa mempengaruhi kondisi anak ketika

berada di masyarakat.

Sekolah inklusif sendiri pada hakikatnya berarti sebuah sekolah

yang mengakomodasi semua anak tanpa berfokus pada perbedaan

kondisi anak seperti kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional dan kondisi

lainnya. Dalam sekolah inklusif, baik anak normal maupun anak

berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dalam penerimaan layanan

pendidikan. Harapannya melalui itu, anak-anak baik berkebutuhan khusus

141
maupun anak normal dibiasakan hidup dalam keberbedaan sehingga

mereka akan terbiasa saling menghargai dan saling mengapresiasi.

Secara lebih rinci akan digambarkan dalam tabel matrik perlakuan

anak berkebutuhan khusus di sekolah yang dilakukan peneliti sehubungan

dengan permasalahan yang diteliti sebagai berikut:

Tabel 4.3
Matrik Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah

Komponen yang diteliti Pandangan/pemikiran Temuan di lapangan


teoritis
Perlakuan Sikaf pendidik Menerima keberagaman 1. Berusaha menerima
setiap anak di dalam kelas kehadiran ABK sebagai
inklusi amanah pemerintah

2. Ketidaksiapan pengajar
menghadapi anak ABK
Evaluasi hasil Dalam memberi penilaian Penilaian di dasarkan pada
belajar tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan
kekurangan yang dimiliki siswa
oleh anak berkebutuhan
khusus
Metode/Proses Memberikan kesempatan Metode pengajaran ABK
belajar yang sama kepada setiap disamakan dengan anak
mengajar anak untuk mendapat normal lainnya dalam kelas
pendidikan yang bermutu dan guru dan materi yang
namun tata cara mengajar sama pula
serta pemberian materi
bergantung kebutuhan
siswa

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diurai dalam tabel di atas

dapa dilihat bahwa perlakuan yang diterima anak di lingkungan sekolah

bisa dilihat melalui beberapa hal di antaranya: sikap pendidik, evaluasi

hasil belajar, metode atau proses belajar mengajar. Kesemua hal tersebut

di atas diyakini saling terkait dalam memberikan perlakuan pada anak.

142
a) Sikap Pendidik/Guru

Pendidik merupakan orang dewasa yang memiliki tanggung jawab

dalam membimbing anak. Guru bisa dianggap sebagai pengganti orang

tua dalam mendidik anak di sekolah namun tidak dapat menggantikan

sepenuhnya tugas, fungsi dan peran dari orang tua. Dalam praktek

penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah, banyak hal yang harus

dibenahi dan dipersiapkan terlebih dahulu. Salah satu hal penting yang

perlu disiapkan adalah guru sebagai tenaga pendidik. Seorang guru yang

akan mendidik anak berkebutuhan khusus memerlukan kompotensi

memadai agar bisa menangani anak dengan maksimal. Kesiapan guru

untuk mengajar anak bisa mempengaruhi penerimaan mereka terhadap

anak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, guru menerima keberadaan

anak berkebutuhan khusus sebagai amanah yang diberikan pemerintah

kota dalam rangka memperbaiki kualitas pendidikan di Kabupaten

Enrekang dengan mengesampingkan kondisi dari peserta didik. Sebagai

sekolah inklusi pihak sekolah mau tidak mau harus bersiap menghadapi

anak dengan segala kondisi mereka. Namun, meski sudah mengaku

menerima kehadiran anak, namun tidak bisa dipungkiri masih ada guru

mengeluh ketika harus mengajar anak berkebutuhan khusus. Bahkan ada

pula yang menganggap anak sebagai sebuah beban bukan sebagai

tantangan untuk menambah pengalaman dalam mengajar.

143
Anggapan diatas merupakan imbas dari kurangnya pengetahuan

dan kemampuan yang dimiliki oleh guru mengenai cara menghadapi anak

berkebutuhan khusus mengakibatkan mereka tidak memiliki kesiapan

untuk bisa berhadapan dengan anak di dalam kelas. Kebanyakan guru

bukan berlatar pendidikan luar biasa jadi sangat sedikit pengetahuan yang

di miliki untuk bisa memahami hal-hal yang benar sesuai kebutuhan anak.

Sehingga saat mereka mengajar di kelas dan sebagian besar anak sudah

mengerti penjelasan guru tetapi anak berkebutuhan khusus ini belum

mengerti, mereka tetap melanjutkan ke pembahasan selanjutnya. Selain

itu guru umum juga jarang sekali mendapat pelatihan-pelatihan mengenai

cara mengajar anak berkebutuhan khusus.

Hal paling mengkhawatirkan adalah jangan sampai sekolah inklusi

yang diharapkan ramah dan bisa melayani kebutuhan pendidikan bagi

semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus justru menjadi tempat

yang mendiskriminasikan anak dalam pemberian pendidikan. Ini terlihat

dari data yang ditemukan ada pendidik yang menyamaratakan metode

pembelajaran kepada semua anak dan seringnya anak normal yang

menjadi fokus pembelajaran. Hal tersebut diperparah dengan tidak

adanya guru pembimbing khusus yang benar-benar mengetahui

mengenai apa yang benar-benar diperlukan anak. Tugas dari guru

pembimbing khusus hanya dibebankan kepada guru bimbingan konseling.

Tanpa adanya guru pembimbing khusus, tindakan kolaborasi dalam

mengajar yang semestinya dilakukan oleh guru umum dan gurus khusus

144
tidak bisa dilakukan mengakibatkan pengajaran yang diberikan pun

menjadi tidak maksimal.

Selain dari tidak adanya pembimbing khusus dan kurangnya

pengetahuan guru umum mengenai cara mengajar anak, sarana

prasarana yang terbatas juga membatasi sekolah untuk bisa menerima

semua jenis anak berkebutuhan khusus. Kenyataan ini seperti menyalahi

arti dari sekolah inklusi itu sendiri sebagai sekolah untuk semua anak

dengan segala kondisi. Fasilitas untuk anak berkebutuhan khusus hanya

berupa pembangunan satu ruang sumber lengkap dengan mebelernya

serta jalanan untuk pengguna kursi roda. Sehingga tidak jarang sekolah

menyarankan kepada anak berkebutuhan khusus untuk mendaftar ke SLB

apabila ada yang tidak bisa ditangani oleh guru mata pelajaran.

Sejatinya sekolah inklusi dibangun untuk memenuhi kebutuhan

pendidikan anak berkebutuhan khusus. Dulunya, sebelum embrio

pendidikan inklusi tercipta di Indonesia, pendidikan segregatif sangat

popular dan banyak dilakoni oleh anak berkebutuhan khusus, tanpa di

sadari bahwa hal tersebut merenggangkan hubungan yang seharusnya

intim antara anak dan keluarga dan juga membuat anak menjadi asing

dengan lingkungan sosialnya. Dan meski saat ini payung-payung hukum

sudah mengatur sedemikan rupa peraturan mengenai pendidikan inklusi,

namun banyak yang belum bisa terealisasi dengan baik. Sehingga tak

diherankan meskipun saat ini Pemerintah sedang gencar-gencarnya

mencanangkan Sekolah Inklusi, akan tetapi masih ada pendidik yang

145
menginginkan anak berkebutuhan khusus tetap dilayani di sekolah luar

biasa. Alasannya anak berkebutuhan khusus akan lebih mendapat

pembelajaran maksimal di SLB. Selain tidak ada lembaga lain yang turut

mengawasi jalannya program sekolah inklusi sehingga ditemukan ada

beberapa sekolah yang sudah dicanangkan sebagai sekolah inklusi tetapi

tidak aktif dalam menerima anak berkebutuhan khusus .

b) Evaluasi Hasil Belajar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak guru yang

mengalami kesulitan dalam memberikan penilaian mengenai hasil belajar

dari anak berkebutuhan khusus. Hal ini disebabkan oleh penguasaan

materi pelajaran sangat lambat, ketidakmampuan dalam mengerjakan soal

ulangan dan tugas, belum lancar membaca dan menulis, rendahnya

partisipasi dan minat belajar anak. Hal ini mendorong para guru untuk

membuat alternative-alternatif lain dalam mengevaluasi hasil belajar siswa

tanpa berfokus hanya pada hasil kerja siswa tapi bertumpu pada proses

belajarnya.

Dalam memberi penilaian guru melihat perkembangan kemampuan

dan pengetahuan pada anak. Sebelumnya anak belum mengerti

pembahasan dan setelah dijelaskan menjadi sedikit lebih mengerti. Itu

juga diberi penilaian. Selain itu, faktor kehadiran di sekolah, kerajinan di

dalam kelas baik itu melaksanakan piket maupun rajin mengerjakan tugas

atau soal juga mendapat penilaian. Bahkan sikap sopan santun anak

146
kepada semua warga sekolah baik itu guru, teman sebaya dan staff

sekolah juga tidak luput dari penilaian.

c) Metode/Proses Belajar Mengajar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru

menggunakan strategi yang sama dalam mengajar anak berkebutuhan

khusus dan anak normal. Keduanya di ajarkan materi oleh guru dalam

kelas yang sama dan menggunakan metode sama pula dan tanpa

memperhatikan keterbatasan dan kebutuhan dari anak berkebutuhan

khusus.

Gambar 4.4 Zf sedang mengikuti ulangan semester di dalam kelas

147
Gambar 4.5 Nu sedang mengikuti ulangan semester di dalam kelas

Selain itu, tidak ada langkah-langkah spesifik yang dilakukan guru

dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus memungkinkan anak

sering kesulian dalam mengikuti pelajaran dengan baik. Di saat anak

mengalami kesulitan dan memiliki hambatan dalam belajar, kebanyakan

guru masih memanfaatkan tutor sebaya untuk membantu menjelaskan

kembali materi yang telah diajarkan guru apabila anak berkebutuhan belum

memahami materi telah diajarkan sebelumnya. Jadi anak berkebutuhan

khusus ini diberikan tempat duduk yang berdekatan atau sebangku dengan

siswa pintar di kelas agar guru bisa meminta bantuan untuk memberi

pemahaman kepada anak berkebutuhan khusus apabila menemui kendala.

148
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Sekolah Inklusi SMP

Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Perlakuan anak berkebutuhan khusus di lingkungan keluarga bisa

dilihat dari beberapa hal, antara lain: 1) penerimaan anak 2)

Penanganan anak 3) Penerapan Fungsi keluarga 4) Perlakuan

salah. Anak mendapat perlakuan baik maupun perlakuan salah dari

pihak keluarganya. Perlakuan baik seperti pemenuhan kebutuhan

anak, memberi kasih sayang berupa sentuhan, pelukan, pemberian

pendidikan, mengajarkan ilmu agama dan mengajarkan nilai dan

norma yang dibutuhkan anak untuk beradaptasi dalam lingkungan

sosialnya. Perlakuan salah yang diterima anak berupa diejek,

dibentak, dimarahi, tidak dihargai hasil karyanya, tidak mdiberi

dukungan, diremehkan serta diberikan banyak pekerjaan.

2. Perlakuan anak berkebutuhan khusus dalam masyarakat dilihat dari

1)sikap masyarakat 2) pengikutsertaan dalam kegiatan masyarakat

3) interaksinya 4) ketersediaan layanan dan sarana prasarana

Meskipun tidak dianggap sebagai kutukan dan pembawa sial tetapi

anak sering mendapat ejek-ejekan dari orang disekitarnya. Anak

tidak diberikan kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan karna

dianggap tidak memiliki kemampuan, interaksi berjalan tidak

149
intensif karena anak selalu menarik diri dan menghindari bila diajak

komunikasi. Di lingkungan masyarakat tidak tersedia layanan

khusus dan sarana lain selain sekolah yang bisa menunjang serta

mengajarkan keterampilan bagi anak.

3. Perlakuan anak berkebutuhan khusus di sekolah dilihat dari: 1)

sikap pendidik 2) evaluasi hasil belajar 3) metode/proses belajar.

Guru menerima keberadaan anak di sekolah sebagai amanah

namun tak jarang guru merasa belum siap dan sering mengeluh

saat menghadapi anak di dalam kelas. Dalam memberi penilaian

guru tidak hanya berfokus pada hasil kerja ABK tetapi juga pada

peningkatan pengetahuan ABK, nilai keseharian anak seperti

tingkat kehadiran, kerajinan, kesopanan dan keaktifan dalam kelas.

Metode pengajaran yang dilakukan dengan menyamakan

pengajaran antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal

dan guru sering memanfaatkan tutor sebaya.

B. SARAN

Berpatokan pada kesimpulan penelitian di atas, maka disarankan

beberapa hal sebagai berikut:

1. Kepada pihak keluarga dari anak berkebutuhan khusus. Anak

berkebutuhan khusus sangat memerlukan lingkungan keluarga

yang kondusif dan menerima anak apa adanya. Selain itu, anak

juga membutuhkan dukungan dan penghargaan atas karyanya. Hal

diatas akan membantu anak untuk bisa menerima kekurangan

150
dirinya dan mempunyai kepercayaan diri mengerahkan segala

potensinya untuk berprestasi tanpa berfokus pada kekurangannya.

Jika di dalam keluarga saja dia merasa tidak dihargai, maka akan

bertambah sulit bagi anak berkebutuhan khusus mengumpulkan

keberanian menghadapi kehidupan sosialnya.

2. Kepada pihak masyarakat. Sebaiknya masyarakat mengubah

pandangannya dalam melihat anak berkebutuhan khusus sebagai

pribadi yang tidak memiliki kemampuan serta bersikap lebih toleran

dengan keberadaan anak. Dengan begitu, masyarakat akan lebih

bisa memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada anak

berkebutuhan khusus untuk ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan-

kegiatan yang di lakukan di lingkungannya

3. Kepada pihak sekolah antara lain: 1) sebaiknya di sekolah terdapat

guru pembimbing khusus yang bisa berkolaborasi dengan guru

umum sehingga pengajaran lebih maksimal, 2) guru sebaiknya

melakukan identifikasi dan assesmen kepada setiap siswa

berkebutuhan khusus agar lebih bisa diketahui apa yang benar-

benar dibutuhkan anak, 3) guru sebaiknya mengembangkan materi

yang diampu secara lebih kreatif sesuai kondisi kelainan siswa, 4)

guru sebaiknya tidak menganggap anak berkebutuhan khusus

sebagai beban melainkan sebagai tantangan, 5) guru sebaiknya

meningkatkan kompetensi yang dimiliki agar lebih siap menghadapi

anak dengan segala kondisinya.

151
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Nandiyah. 2013. Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus. Magistra


No. 86 Th. XXV. ISSN 0215-9511. Di akses tanggal 14 Februari pukul
11.48 PM.
Anas, Zulkifli. 2013. Sekolah Untuk Kehidupan (Gagasan Awal Untuk Berfikir
Ulang Tentang Sistem dan Memahami Posisi Kurikulum). AMP Press &
Pustaka Bina Putera, Jakarta & Serang.
Andini, Leoni Dwi. 2015. Hubungan Penerimaan Diri dengan Penyesuaian
Pada Penderita Tunadaksa. Skripsi. Universitas Kristen Satya Wacana.
Di akses tanggal 21 Februari 2017 pukul 09.27 PM
Bastiana. 2012. Pendidikan Inklusi dalam Perspektif Teori Kontruksi Sosial
(Studi Kasus di SD Mutiara Bunda Bandung). Disertasi. Pascasarjana
Universitas Negeri Makassar.
Berger, Peter L & Luckmann, T. 1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan: sebuah
risalah tentang sosiologi pengetahuan. LP3ES, Jakarta.
Chatib, Munif & Said, Alamsyah. 2012. Sekolah Anak-Anak Juara Berbasis
Kecerdasan Jamak dan Pendidikan Berkeadilan. Kaifa, Bandung.
Chatib, Munif. 2013. Guardian Angel: Romantika Membangun Sekolahnya
Manusia. Kaifa, Bandung.
Delaney, Stephanie & Suharto, Edi. 2011. Pedoman Pelatihan Untuk Pekerja
Kesejahteraan Anak. Kementerian Sosial RI dan UNICEF.
Elisa, Syafrida & Wrastari Aryani Tri. 2013. Sikap Guru Terhadap Pendidikan
Inkusi ditinjau dari faktor sikap. Jurnal Psikologi Perkembangan dan
Pendidikan. Vol 2, No . Di akses tanggal 22 Maret 2017 pukul 10.00
PM.
Faradina, Novira. 2016. Penerimaan Diri Pada Orang Tua yang Memiliki
Anak Berkebutuhan Khusus. Ejournal Psikologi. Vol 4. No 4. ISSN
2477-2674. Di akses tanggal 9 Februari 2017 pukul 10.13 PM.
Hasbullah. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Rajawali Pers, Jakarta.
Haryanto. 2013. Berawal dari Kontak Mata (Kisah Nyata Seorang Ayah
Membesarkan Anak Semata Wayangnya yang Autis). Tiga Serangkai,
Solo

152
Handayani, Titik & Rahardian, Angga.S. 2013. Peraturan Perundangan dan
Implementasi Pendidikan Inklusif. Volume 39, No. 1. Di akses tanggal
27 Januari 2017 pukul 01.29 PM.
Hidayati, Nurul. 2011. Dukungan Sosial Bagi Keluarga Anak Berkebutuhan
Khusus. Jurnal. Vol. 13 No. 01. Di akses tanggal 16 Maret 2017 pukul
07.44 PM.
Izzaty, Rita Eka. Pencerahan dan Kemandirian Peserta Didik: Sudut Pandang
Psikologi Perkembangan. Universitas Negeri Yogyakarta. Di akses
tanggal 12 Maret 2017 pukul 03.34 AM.
Jamaris, Martini. 2015. Kesulitan Belajar: Perspektif, Assesmen, dan
Penanggulangannya Bagi Usia Dini dan Usia Sekolah. Ghalia
Indonesia, Bogor.
Jusnawati. 2015. Eksistensi Perempuan Dalam Kejahatan Berdasarkan
Perspektif Sosiologis (Studi Kasus Pada Pelaku Kekerasan Terhadap
Anak Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas Ii A Sungguminasa).
Tesis tidak diterbitkan. Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Mujahidah.2015. Implementasi Teori Ekologi Bronfenbrenner dalam


Membangun Pendidikan Karakter yang Berkualitas. Jurnal. Vol. IXX,
No. 2. Di akses tanggal 12 Maret 2017 pukul 03.32 AM.
Mukhrizal, Arif, dkk. 2014. Pendidikan Postmodernisme: Telaah Kritis Tokoh
Pemikiran. Ar-Ruzz Media, Yogyakarta.
Nida, Fatma Laili Khoirun. 2014. Membangun Konsep Diri Bagi Anak
Berkebutuhan Khusus. Jurnal. Volume 2, Nomor 1. Di akses tanggal 14
Februari 2017 pukul 02.17 PM.
Nurjan, Syarifan. 2014. Aplikasi Pembelajaran Terhadap Anak Berperilaku
Menyimpang. Jurnal. Vol.04 No.01. ISSN 2088-3390. Di akses tanggal
30 Maret 2017 pukul 06.00 PM.
Putranto, Bambang. 2015. Tips Menangani Siswa yang Membutuhkan
Perhatian Khusus. DIVA Pers, Yogyakarta.
Praptiningrum, N. 2010. Fenomena Penyelenggaran Pendidikan Inklusif Bagi
Anak Berkebutuhan Khusus. Jurnal Pendidikan Khusus. Vol 7. No. 2. Di
akses tanggal 24 Januari 2017 pukul 01.00 PM.
Putri, Prisca Arinda. 2015. Peran Ibu Mengasuh Anak Tunarungu Wicara
(Studi Kasus ibu SW di Desa Kranjingan Kecamatan Sumbersari

153
Kabupaten Jember). Skripsi. Universitas Jember. Di akses 16 Maret
2017 pukul 07.47 PM.
Raho, Bernard. SVD. 2007. Teori Sosiologi Modern. Prestasi Pustaka,
Jakarta.
Raho, Bernard. SVD. 2016. Sosiologi. Ledalero, Flores.
Ritzer,George & Goodman,Douglas.J. 2010. Teori Sosiologi Modern.
Kencana, Jakarta.
Ritzer, George. 2010. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda.
Rajawali Pers, Jakarta.
Riyanto, Geger. 2009. Peter L Berger: Perspektif Metateori Pemikiran.
Pustaka LP3ES, Jakarta.
Sadulloh, Uyoh. 2014. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Alfabeta, Bandung.
Sudrajat, Dodo dan Lilis Rosida. 2013. Pendidikan Bina Diri Bagi Anak
Berkebutuhan Khusus. PT. Luxima Metro Media, Jakarta.
Smith, J. David. 2015. Sekolah Untuk Semua (Teori dan Implementasi
Inklusi). Nuansa Cendikia, Bandung.
Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers.
Jakarta.
Susilo, Rahmat. K. D. 2016. 20 Tokoh Sosiologi Modern (Biografi Para
Peletak Sosiologi Modern). Ar-Ruzz Media, Yogyakarta.
Sugiyono & Maryani, Yeyen. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta.
Topatimasang, Roem. 2013. Sekolah Itu Candu. INSIST Press, Yogyakarta.
Utina, Sitriah Salim. 2014. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Jurnal
Managemen Pendidikan Islam. Volume 2 No. 1. Di akses tanggal 14
Februari 2017 pukul 11.50 PM.
Yamin, Moh. 2012. Sekolah yang Membebaskan (Perspektif Teori dan
Praktik Membangun Pendidikan yang Berkarakter dan Humanis).
Madani, Malang.

154
RIWAYAT HIDUP

HASTUTI lahir di Rante Padang, 12


Desember 1991. Penulis adalah anak
sulung dari enam bersaudara, yang
merupakan buah hati dari pasangan
Aleks dan Jaharia.

Penulis menempuh pendidikan formal


pertama pada tahun 1997 di SDk
Tanjung Kab. Enrekang Provinsi
Sulawesi Selatan yang merupakan
daerah kelahiran penulis. Kemudian
pindah sekolah ke SD 157 Cakke Kab.
Enrekang tahun 2001 dan di sekolah
tersebut penulis menempuh pendidikan
hingga selesai pada tahun 2003. Pada
tahun yang sama penulis melanjutkan
pendidikan di SMP Negeri 1 Anggeraja Kab. Enrekang dan selesai tahun
2006. Setelah selesai penulis melanjutkan lagi pendidikanya di SMA Negeri 1
Anggeraja Kab. Enrekang dan akhirnya selesai pada tahun 2009.

Setelah berhasil menyelesaikan studi di SMA Negeri 1 Anggeraja Kab.


Enrekang, penulis memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang
perguruan tinggi yang ada di kota Makassar, dan memilih Universitas Negeri
Makassar (UNM) sebagai tempat mengasah kemampuan diri demi
menggapai cita-cita.. Di kampus UNM itulah penulis mengambil program
strata satu di Fakultas Ilmu Sosial, jurusan Sosiologi dan selesai pada tahun
2013. Kemudian pada tahun 2015 penulis mengikuti test untuk program
magister dan penulis di terima di Universitas Hasanuddin jurusan Sosiologi.
Hingga akhirnya di tahun 2018 ini penulis dapat menyelesaikan studi dengan
tugas akhir yaitu Tesis yang berjudul: Perlakuan Anak Berkebutuhan
Khusus dalam Perspektif Sosiologi (Studi Kasus di Sekolah Inklusi SMP
Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang) yang merupakan salah satu syarat
untuk meraih gelar magister.
PEDOMAN WAWANCARA

I. IDENTITAS INFORMAN
a. Nama :
b. Agama :
c. Pekerjaan :
d. Usia :
e. Alamat :

II. PERTANYAAN INFORMAN


1. Perlakuan Keluarga
a. Biodata pelaku
1) Apakah anda sudah berkeluarga?
2) Berapa jumlah anak anda?
3) Apa pekerjaan anda?
4) Apa pekerjaan suami anda?
5) Bagaimana kehidupan keluarga anda?
6) Bagaimana aturan-aturan yang diterapkan dalam keluarga
anda?
7) Apakah anda masih tinggal bersama kedua orang tua anda?
b. Pola perlakuan
8) Apakah anda mengetahui tentang anak berkebutuhan khusus?
9) Bagaimana pandangan anda tentang anak berkebutuhan
khusus?
10) Apakah ada anak berkebutuhan khusus dalam keluarga anda?
11) Bagaimana cara anda menghadapi anak berkebutuhan
khusus?
12) Apakah ada strategi khusus yang anda gunakan dalam
mendidik anak anda?

155
13)Bagaimana keseharian anak anda bila berada di rumah?
14) Bagaimana reaksi anak anda bila diperintah melakukan
pekerjaan rumah?
15) Apakah ada perbedaan perlakuan anda terhadap anak
berkebutuhan khusus dengan anak lainnya?
16)Bagaimana interaksi anda dengan anak anda?
17)Bagaimana hubungan yang terjalin antara anggota keluarga
anda?
18) Apakah anak anda pernah berkelahi dengan anggota keluarga
yang lain?
19)Apakah anda sering mengajak anak bila berpergian?
20)Bagaimana kerjasama suami dan anda dalam menghadapi
anak?
21)Bagaimana anda menanamkan nilai-nilai keluarga pada anak?
2. Perlakuan Masyarakat
a. Sikaf Masyarakat
1) Apakah anda mengetahui tentang anak berkebutuhan khusus?
2) Apakah terdapat anak berkebutuhan khusus di sekitar tempat
tinggal anda?
3) Apakah anda pernah berinteraksi dengan anak tersebut?
4) Bagaimana respon anak tersebut terhadap anda?
5) Apakah anda mengetahui penyebab dari anak berkebutuhan
khusus?
6) Apakah anak anda sering bermain dengan anak berkebutuhan
khusus?
7) Setujukah anda dengan pendapat bahwa anak berkebutuhan
khusus termasuk kutukan bagi keluarga?
8) Apakah anak berkebutuhan khusus sering meresahkan warga
sekitar lingkungan anda?

156
9) Bagaimana adat dan tradisi yang berlaku di lingkungan anda
melihat anak berkebutuhan khusus?
b. Pengikutsertaan dalam Kegiatan Masyarakat
1) Apakah ada anak berkebutuhan khusus yang membantu dalam
gotong royong di lingkungan sekitar rumah anda?
2) Apakah ada kegiatan yang di rancang khusus untuk anak
berkebutuhan khusus di lingkungan anda?
3. Perlakuan Pihak Sekolah
a. Sikaf pengajar
1) Apakah ada guru yang mengeluh dalam mengajar anak
berkebutuhan khusus?
2) Apakah anda mengetahui karakteristik anak yang tergolong
berkebutuhan khusus?
3) Apakah anda pernah melakukan kekerasan terhadap anak
berkebutuhan khusus saat mengajar?
4) Apakah anda sering berinteraksi dengan anak berkebutuhan
khusus di luar jam pelajaran?
5) Apakah anda setuju anak berkebutuhan khusus di tempatkan di
sekolah-sekolah umum?
6) Apakah anda merasa kesulitan dalam mengajar siswa
berkebutuhan khusus?
7) Perlukah adanya guru pendamping dalam mengajar siswa
berkebutuhan khusus?
b. Hasil evaluasi belajar
1) Bagaimana anda memberikan nilai pada siswa anda?
c. Metode pengajaran
1) Bagaimana strategi guru mengajarkan penyesuaian diri kepada
siswa sehingga dapat berinteraksi dan menerima siswa yang
berbeda?

157
2) Bagaimana cara anda menyelesaikan apabila terjadi pertengkaran
antar siswa berkebutuhan khusus dengan anak normal dalam
kelas?
3) Bagaimana strategi yang anda gunakan dalam mengajar anak
berkebutuhan khusus?
4) Bagaimana cara yang diterapkan sekolah inklusi dalam melayani
kebutuhan pendidikan anak berkebutuhan khusus?

158