Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

ENTERREUNERSHIP

OLEH:

KELOMPOK II

Dominggus Lende Ngongo 2118011


Yanti 2118017
Alan Yusuf 2118020
Isabella 2118036
Kristina Wisrance 2118043
Fransiska Lamur 2118045

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGI ILMU KESEHATAN
GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2018
KATA PENGANTAR

           Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini
dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya penyusun tidak dapat menyelesaikan dengan
baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Kewirausahaan, yang
saya sajikan berdasarkan hasil diskusi dan di ambil dari beberapa sumber. Makalah ini kami
selesaikan untuk memenuhi tugas Kewirausahaan yang di berikan oleh dosen sebagai tugas
kelompok.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan
kritiknya. Terima kasih.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.....................................................................................................
B. Rumusan Masalah ...............................................................................................
C. Tujuan .................................................................................................................

BAB II : PEMBAHASAN
A. Analisa Keirausahaan...........................................................................................
B. Faktor-Faktor Kewirausahaan .............................................................................

BAB III : PENUTUP


A. Kesimulan............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Wirausaha merupakan suatu proses atau cara untuk melakukan suatu usaha yang
bertujuan untuk mendapatkan hasil atau keuntungan yang diharapkan dengan cara
memproduksi, menjual atau menyewakan suatu produk barang atau jasa. Indonesia
merupakan negara yang sedang berkembang dalam bidang perekonomiannya. Pembangunan
ekonomi negara Indonesia di masa yang akan datang, sangatlah ditentukan dari peran yang
maksimal dari para wirausahawannya. Seorang wirausaha berperan secara internal maupun
eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam mengurangi tingkat
ketergantungan orang lain, meningkatkan kepercayaan diri serta meningkatkan daya beli
pelakunya. Secara eksternal seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan
pekerjaan bagi para pencari kerja. Untuk itu, peran seorang wirausaha sangat dibutuhkan
sekali untuk membantu mengangkat perekonomian Negara.
Dewasa ini banyak sekali perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia,
sementara rakyat Indonesia sebagai pekerja di perusahaa tersebut. Misalnya saja perusahaan
Caltex dari Amerika Serikat yang bergerak dibidang pengeboran minyak, perusahaan
handphone seperti Sony, Samsung, Siemen yang berasal dari Jepang, Korea Selatan dan
Perancis, perusahaan motor seperti Honda yang berasal dari Jepang, serta perusahaaan-
perusahaan asing lainnya. Dengan berdirinya perusahaan-perusahaan asing di Indonesia
membuat rakyat Indonesia sendiri mengalami kerugian dimana rakyat Indonesia tidak dapat
menikmati hasil alam dengan sepenuhnya dan tidak bisa mengelola hasil alam alam dengan
mandiri. Hal ini membuktikan bahwa rakyat Indonesia masih belum mampu menjadi seorang
wirausaha dan membantu membangun negeri.
Namun tidaklah mudah menjadi seorang wirausaha yang sukses gemilang. Banyak sekali
tantangan dan rintangan yang harus dihadapi oleh seorang wirausaha, terlebih lagi untuk
seorang wirausaha pemula. Para wirausahawan harus memiliki banyak ide dan berani
berkreasi agar produk yang dihasilkan bisa terjual maksimal.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana menganalisis kewirausahaan?
2. Apa saja faktor-faktor keirausahaan?
C. Tujuan
1. Mengetahui analisa kewirausahaan
2. Mengetahui apa saja faktor-faktor kewirausahaan
3.
BAB II
PEMBAHASAN
Analisakewirausahaan
1. Kondisi nyata usaha kecil dan menengah saat ini
Selama krisis ekonomi yang berawal pada pertengahan tahun 1997, sektor agribisnis termasuk
didalamnya bisnis kecil secara nyata telah mampu menjadi stabilizer perekonomian di Indonesia.
Hal ini terbukti masih tetapnya usaha-usaha agribisnis berproduksi, terutama usaha menengah
dan usaha kecil. Meskipun demikian, pengembangan usaha kecil juga mengalami berbagai
permasalahan seperti : [1] kesulitan mendapatkan modal yang cukup, [2] kekurangan pengetahan
di bidang agribisnis, [3] kelemahan dalam pengelolaan atau manajemen usaha, [4] kekurangan
dalam perencanaan usaha, [5] kekurangan dalam pengalaman berusaha, [6] kekurangan
pengetahuaan dan ketrampilan teknis bidang usaha yang dilakukan. Dengan kata lain, titik berat
persoalan usaha kecil adalah sedikitnya pengusaha kecil yang memiliki jiwa wirausaha.
(Noer:2001)
Kewirausahaan adalah jiwa, sehingga kurang tepat jika dikatakan pengembangan kewirausahaan
agribisnis dan usaha kecil. Kewirausahaan adalah kemampuan dalam melihat atau menilai
kesempatan di peluang bisnis serta kemampuan mengoptimalkan sumberdaya dan mengambil
tindakan yang beresiko tinggi. Mungkin lebih tepat apabila dikatakan pengembangan agribisnis
usahakecil.(Noer:2001)
Selama ini prospek bisnis ke depan, yang berkaitan dengan kontrak/transaksi, cenderung
memerlukan kemitraan dalam kaitannya antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil.
Kemitraan ini tidak hanya di budidaya, tetapi juga di bagian pembibitan dan pengolahan.
Kegiatan hulu sampai dengan kegiatan hilir ini dapat saling dimanfaatkan. (Noer:2001)
Bagi agribisnis baik petani, maupun pengusaha kecil dalam menjalankan usahanya, mempunyai
karakteristik, berupa harga dan pasar hasil petani tidak dapat dipengaruhi oleh produser secara
sendiri-sendiri tapi harus dihadapi oleh agribisnis secara keseluruhan. Untuk mendpatkan
kesepakatan bersama ini tidak mudah tapi kelompok sekaligus bisa mempengaruhi harga dan
pasar, sehingga semua produser baik yang masuk kelompok atau tidak akan merasakan hasilnya.
Kemudian akan banyak para produser untuk menanamkan produknya lebih luas dan produser
yang tadinya tidak menanam produk tersebut akan tertarik pula untuk menanam produk yang
sama, sehingga pada akhirnya persediaan produk berlebih serta harga dan pasar akan turun.
2 Peluang Usaha Kecil yang sedang dikembangkan.
Untuk mendayagunakan keunggulan Indonesia sebagai negara agraris dan maritim serta
menghadapi tantangan kedepan seperti otonomi daerah, liberalisasi perdagangan, perubahan
pasar internasional lainnya. Pemerintah sedang mempromosikan pembangunan sistem dan usaha
agribisnis yang berdaya saing (Competiveness), berkerakyaratan (People-Driven), berkelanjutan
(Sustainable) dan terdesentralistis (Decentralized).
Pembangunan pertanian dalam kerangka system agribisnis merupakan suatu rangkaian dan
keterkaitan dari : (1) Sub agribisnis hulu (upstream agribusiness) yaitu seluruh kegiatan ekonomi
yang menghasilkan sarana produksi bagi pertanian primer (usahatani); (2) Sub agribisnis
usahatani (on-farm agribusiness) atau pertanian primer, yaitu kegiatan yang menggunakan sara
produksi dan sub agribisnis hulu untuk menghasilkan komoditas pertanian primer. Sub ini di
Indonesia disebut pertanian; (3) Sub agribisnis hilir (down-stream agribusiness) yaitu kegiatan
ekonomi yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan baik bentuk produk
antara (intermediate product) maupun bentuk produk akhir (finished product); dan (4) Sub jasa
penunjang yaitu kegiatan yang menyediakan jasa bagi ketiga sub agribisnis di atas.
Sedangkan Strategi Sistem Agribisnis diatas harus bersinergi kedalam 4 sub-sistem yang
terjabarkan sebagai berikut: Keterkaitan 4 sub Sistem dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Upstream Agribusiness
Sub sistem agribisnis hulu berupa pengembangan industri yang menghasilkan barang modal bagi
pertanian, yaitu industri pembenihan atau pembibitan, tanaman, ternak ikan industri agro kimia
(Agro-otomotif) seperti pupuk, pestisida, obat, vaksin ternak/ikan, sindustri alat dan mesin
pertanian.
2. Onfarm agribusiness
Sub sistem pertanian primer berupa pengembangan kegiatan budidaya yang menghasilkan
komoditi pertanian primer (usaha tani tanaman pangan, usahatani hortikultura, usahatani
tanaman obat-obatan) usaha perkebunan, usaha peternakan, usaha perikanan, dan usaha
kehutanan.
3. Downstream agribusiness
Sub sistem Agribisnis Hilir berupa pengembangan industri-industri yang mengolah komoditi
pertanian primer menjadi olahan seperti makanan dan minuman, industri pakan ternak, industri
barang-barang serat alam, industri farmasi, industri bio-energi dan lain-lain.
4. Services for Agribusiness
Sub Sistem penyedia jasa Agribisnis berupa fasilitas Perkreditan, transportasi, pergudangan,
Litbang, Pendidikan SDM dan kebijakan ekonomi.
Dalam artian, peluang akan membuka usaha kecil dan menengah terbuka pada 4 subsistem
agribisnis, yang menjadi kendala saat ini, adakah jiwa-jiwa kewirausahaan dan kepemimpinan
untuk segera mempergunakan peluang tersebut.

Hasil penelitian yang telah dilakukan beberapa peneliti menunjukkan bahwa integrasi dan link-
antar sub sistem usaha agribisnis belum tersinkron dengan baik, dimana setiap subsistem masih
berjalan dengan sendiri-sendiri bahkan cenderung mengakibatkan kerugian yang sebenarnya
justru harus mendatangkan dampak positip dari keberadaannya. Usaha-usaha pada sistem
agribisnis tersebut masih berskala kecil dengan sumberdaya manusia seadanya, teknologi yang
terbatas dan tidak ada kepastian harga dan proteksi akan kelangsungan usahanya.
3. Kondisi Kepemimpinan Usaha Kecil
a. Mencari Pemimpin Yang Baik.
Usaha mencari perpaduan terbaik untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses tidaklah mudah.
Dan, usaha untuk bisa menemukan nilai, gaya dan aktivitas atau apa pun yang relevan untuk
disebut sebagai pemimpin yang sukses merupakan proses yang panjang. Ada pemimpin yang
sukses karena mampu bertindak sebagai seorang pengarah tugas, pendorong yang kuat, dan
berorientasi pada hasil sehingga mendapatkan nilai kepemimpinan yang tinggi. Ada pemimpin
yang sukses karena mampu memberi wewenang kepada para pegawainya untuk membuat
keputusan dan bebas memberikan saran, mampu menciptakan jenis budaya kerja yang
mendorong serta menunjang pertumbuhan. Pendeknya, untuk menjadi pemimpin yang sukses
haruslah memiliki dorongan yang kuat dan integritas yang tinggi.
Kepemimpinan adalah sebuah proses yang melibatkan seseorang untuk mempengaruhi orang lain
dengan memberi kekuatan motivasi, sehingga orang tersebut dengan penuh semangat berupaya
menuju sasaran. Ahli manajemen, Peter F Drucker secara khas memandang kepemimpinan
adalah kerja. Seorang pemimpin adalah mereka yang memimpin dengan mengerjakan pekerjaan
mereka setiap hari. Pemimpin terlahir tidak hanya dalam hirarki managerial, tetapi juga dapat
terlahir dalam kelompok kerja non formal.
b. Kondisi Kepemimpinan Bisnis Kecil saat ini
Kepemimpinan sebenarnya sangat bersangkut erat terhadap karakter seseorang, jika seseorang
berbudi halus maka ia cenderung memimpin dengan gaya dan type yang halus pula. Melihat
kondisi kebanyakan bisnis kecil yang ada di Indonesia, Pemimpin: Manajer, Direktur biasanya
juga pemilik itu sendiri, bagian-bagian vital perusahaan cenderung dijabat oleh anggota keluarga
dekat, sehingga kekuasan pemimpin pada bisnis kecil tak terbatas. Disamping itu pengetahuan
akan teori-teori kepemimpinan juga terbatas sehingga kebanyakan pemimpin bisnis kecil
memimpin dengan gaya tradisional, misalnya pemimpin bisnis kecil di Bali akan cenderung
memimpin dengan gaya serta type dengan kaidah-kaidah atau norma-norma ke-baliannya. Begitu
juga, jika ada pemimpin bisnis kecil dari suku Tionghoa akan cenderung juga menerapkan gaya
dan type kepemimpinan ala cines, atau kalau kita bandingkan dengan teori kepemimpin lebih
dekat kepada gaya Paternalistik kekeluargaan.

Masalah-masalah SDM pada perusahaannya belum begitu nampak besar dan serius karena skala
usahanya masih kecil, unsur kekeluargaan masih bisa dijalankan dengan baik, hal ini juga
sebenarnya menjadi faktor penghambat kenapa bisnis kecil tetap kecil. Alasan pertama adalah
gaya dan type kepemimpinan yang masih tradisional, paternalistik, lebih-lebih masih saja ada
yang feodal, seperti di Jawa misalnya.
c. Penerapan Teori Kebutuhan Maslow Dalam Bisnis Kecil
Penerapan Teori Kebutuhan Maslow dalam menumbuhkan dukungan yang kuat para anggota
perusahaan yang bersaing dalam: inovasi” dan “peningkatan kualitas” sehingga terjadi
peningkatan kinerja dan keuntungan perusahaan. Motivasi merupakan proses interaksi antara
kebutuhan (need), dorongan (drive), dan tujuan (goals).Mengapa dua produk yang sama, dijual
oleh dua perusahaan yang berbeda, memberikan hasil yang berbeda ? Suatu perusahaan membuat
produk yang dapat dijual, bukan menjual produk yang dapat dibuat, karena itu perusahaan perlu
mengenali pelanggan dan mengidentifikasi kebutuhannya. Dengan demikian perusahaan dapat
memenuhi kebutuhan pelanggan. Salah satu kegagalan dari produk baru, biasanya adalah karena
mereka salah mengenali kebutuhan konsumen. Perusahaan mengharapkan konsumennya menjadi
pelanggan, sehingga ada kontinuitas pembelian.
Dalam pemenuhan kebutuhan konsumen, wirausahawan tidak dapat menciptakan suatu produk
untuk memenuhi semua kebutuhan. Diversifikasi produk perlu dilakukan untuk melayani semua
kebutuhan. Berbagai usaha dilakukan perusahaan untuk membuat pelanggannya merasa
istimewa. Selain untuk meningkatkan penjualan juga untuk membangun loyalitas pelanggan.
Perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas, sehingga mereka yang menjalankan organisasi tahu
apa yang ingin dicapai dan dapat melakukan perencanaan dan implementasinya.

Kunci dari keberhasilan Perusahaan untuk mencapai tujuan yaitu membangun loyalitas
pelanggan dalam arti luas dapat dijabarkan bahwa: pelanggan bukan semata-mata hanya orang
yang membutuhkan produk yang dihasilkan oleh perusahaan tetapi jauh lebih luas, dalam Total
Quality Management dijelaskan yang termasuk pelanggan adalah: Konsumen, Pekerja, dan
pemilik. Kelemahan mendasar pada bisnis kecil adalah mengabaikan arti dan makna motivasi ini,
pemilik biasanya hanya memperhatikan pada tingkat kebutuhan dasar, belum lagi, pemerintah
telah mematok upah minimum regional misalnya, justru ini akan menjadi acuan untuk menggaji
karyawannya sebatas atau sebesar UMR itu sendiri. Pada akhirnya banyak bisnis kecil yang tidak
bertahan lama
B. Faktor-faktor Penyebab Keberhasilan dan Kegagalan Berwirausaha
Menurut Hendro ( 2011 : 47-50 ) ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha
berhasil adalah :
1. Faktor Peluang
Peluang merupakan faktor penentu keberhasilan wirausaha yang pertama. Ada
banyak peluang emas, tetapi belum tentu cocok dengan kita, karena peluang emas itu
harus ada keselarasan, keserasian dan keharmonisan antara pribadi pengusaha, bisnis,
pasar, kondisi, situasi, dan perilaku pasar sehingga kita dapat menentukan peluang emas
yang cocok dengan diri kita sendiri.
2. Faktor SDM
3. Faktor Keuangan
Hindari berpikir bahwa bisnis tanpa keuangan/ arus kas yang lancar itu bisa berhasil.
Arus kas itu bagaikan alirand arah dalam tubuh manusia. Bila arus kas tidak mengalir
maka bisnis akan berhenti dan mati. Jadi, faktor keuangan adalah salah satu faktor
keberhasilan wirausaha. Contohnya :
a. Pengendalian biaya dan anggaran.
b. Pencairan dana modal kerja, dana investasi, dan dana lainnya.
c. Perencanaan dan penetapan harga produk, perincian biaya, dan laba rugi.
d. Perhitungan rasio keuangan sehin
e. gga rasio keuangan bisa dikendalikan dengan baik, seperti rasio kecukupan modal,
rasio likuiditas dan rasio hutang vs modal.
f. Struktur biaya seperti margin (batas) kontribusi, laba berbanding penjualan, dan biaya
berbanding penjualan.
4. Faktor Organisasional
Organisasi usaha sebainya tidak statis, tetapi dinamis, kreatif, dan berwawasan ke
depan. Organisasi sangat penting untuk seorang pengusaha dan juga karyawannya.
Organisasi akan menentukan dan menjadi faktor keberhasilan usaha jika :
a. Ada jalur komunikasi yang jelas antara karyawan dengan atasan.
b. Sistem pertanggungjawabannya jelas.
c. Deskripsi pekerjaannya jelas.
d. Hubungan yang tegas antarkaryawan
e. Karyawan mengetahui tugasnya masing-masing.
f. Ada keteraturan dalam bekerja.
5. Faktor Perencanaan
Bekerja tanpa rencana berarti berjalan tanpa tujuan yang jelas. Jadi, dapat dipastikan
bahwa rencana adalah faktor kesuksesan usaha. Contohnya :
a. Perencanaan visi, misi, strategi jangkan pendek, dan strategi jangka panjang.
b. Perencanaan operasional dan program-program pemasaran.
c. Perencanaan produk.
d. Perencanaan informasi teknologi.
e. Perencanaan pendistribusian produk.
f. Perencanaan jumlah produk yang akan dijual.
6. Faktor Pengelolaan usaha
Pentingnya pengelolaan usaha adalah sebagai berikut :
a. Menyusun organisasi
b. Mengelola sumber daya alam
c. Mengelola asset
d. Membuat jadwal usaha dan kegiatan
e. Menetapkan jumlah tenaga kerja
f. Mengatur distribusi barang
g. Mengendalikan persediaan barang
h. Mengendalikan mutu produk
7. Faktor Pemasaran dan Penjualan
Pemasaran dan penjualan adalah lokomotif bagi divisi atau bagian lainnya seperti
keuangan, personalia, produksi, distribusi, logistik, dan pembelian. Faktor pemasaran dan
penjualan sangat penting bagi kelancaran usaha. Banyak usaha yang gagal karena hanya
mementingkan bagiannya saja dan lupa bahwa pemasarannya belum berjalan dengan
baik.
8. Faktor Administrasi
Tanpa pencatatan, dokumentasi, pengumpulan data, dan pengelompokan data
administrasi yang baik, strategi, taktik, perencanaan, pengembangan, program-program,
dan arah perushaan tidak akan berjalan dengan baik karena dilakukan berdasarkan felling
atau perasaan saja. Ini akan berbahaya dan menjadi penghalang kesuksesan wirausaha.
9. Faktor Peraturan Pemerintah, Politik, Sosial, dan Budaya Lokal
Faktor peraturan pemerintah, ekonomi, politik dan sosial budaya adalah faktor
keberhasilan wirausaha yang sangat besar. Hal ini disebabkan karena wirausaha
membutuhkan hal-hal berikut ini :
a. Peraturan pemerintah dan peraturan daerah seperti pajak, retribusi danpendapatan
daerah.
b. Legalitas dan perizinan.
c. Situasi ekonomi dan politik.
d. Perkembangan budaya lokal yang harus diikuti.
e. Lingkungan sosial yang berbeda di setiap daerah.
10. Catatan Bisnis
Banyak usaha yang sulit dan tidak bisa berkembang hanya karena kita tidak tahu
sejauh mana bisnis kita berkembang dan berjalan. Catatan usaha atau bisnis akan
membuat seorang pengusaha tahu sejauh mana ia telah menjalankan usaha, sampai di
mana, mengapa sampai, dan apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Contoh catatan
bisnis yaitu :
a. Keuangan : neraca, laporan laba rugi, dan laporan perubahan modal.
b. SDM dan personalia : jenis posisi dan bagian, jumlah karyawan, golongan profil dan
tingkat produktivitas.
c. Pemasaran : omzet, kontribusi produk, pasar, area, wilayah, konsumen, lokasi,
pembelian dan penjualan.
d. Produksi: stok, jumlah produksi, posisi produksi, dan kualitas.
Menurut Zimmerer (dalam Suryana, 2003:44-45) ada beberapa faktor yang
menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usahanya :
1. Tidak kompeten dalam manajerial
Tidak kompeten atautidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha
merupakan factor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil
2. Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan
Mengkoordinasikan, ketrampilan mengelola SDM, maupun kemampuan
mengintegrasikan operasi perusahaan.
3. Kurang dapat mengendalikan keuangan
Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik factor yang paling utama dalam
keuangan adalah memelihara aliran kas. Yaitu mengatur pengeluaran dan penerimaan
secara cermat.
4. Gagal dalam perencanaan
Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam
perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
5. Lokasi yang kurang memadai
Lokasi usaha yang strategis merupakan factor yang menentukan keberhasilan usaha.
Lokasi yang tidak strategis dapat mengakiatkan perusahaan sukar beroperasi karena
kurang efisien.
6. Kurangnya pengawasan peralatan
Pengawasan erat hubungannya dengan efisiensi dan efektifitas. Kurang pengawasan
mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan efektif.
7. Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha
Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang
dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati,kemungkinan gagal
menjadi besar.
8. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.
Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melaksanakan perubahan,tidak akan
menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh
apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.
DAFTAR PUSTAKA

Hendro.2011.Dasar-dasar Kewirausahaan. Jakarta : Penerbit Erlangga.


McGrath, R.G. & MacMillan. I.2000. The Entrepreneurial Mindset: strategies for Continuosly
Creating Opportunity in An Age of Uncertainty. Boston: Harvard Business School Press.
Sri Sulastri, Atty.2008.Kewirausahaan: Karakteristik Wirausaha.Bandung: Grafindo Media
Pratama
Suryana.2003.Kewirasuhaan: Pedoman Praktis, Kiat, dan Proses Menuju Sukses (Edisi
Revisi).Jakarta: Salemba Empat