Anda di halaman 1dari 5

Mirza Adliawan

165020307111061

Ak.Forensik CB

RESUME TT BAB 4 : ATRIBUT DAN KODE ETIK AKUNTAN FORENSIK SERTA


STANDAR AUDIT INVESTIGATIF

ATRIBUT SEORANG AKUNTAN FORENSIK

Menurut Howard R Davia, seorang auditor harus memegang prinsip dalam melakukan
investigasi, yaitu:

1. Jangan mengumpulkan fakta dan data yang berlebihan dan bersifat premature
2. Seorang auditor hendaknya dapat membuktikan niat pelaku untuk melakukan
kecurangan
3. Seorang auditor hendaknya bersifat kreatif dalam menelusuri sebuah tindakan
kecurangan
4. Sebuah tindakan kecurangan dimulai dari adanya persekongkolan
5. Seorang auditor harus mempertimbangkan strategi untuk menemukan kecurangan
dalam investigasi proaktif

KUALITAS AKUNTAN FORENSIK

Dalam sebuah kuesioner yang dilakukan Robert J Linsquid yang berisi kualitas apa saja yang
dimiliki oleh seorang akuntan forensik? Berikut ini adalah beberapa jawaban yang diberikan:

1. Kreatif, kemampuan dalam membaca situasi bisnis yang dianggap orang lain biasa dan
memerlukan pertimbangan interpretasi lain
2. Rasa ingin tahu, keinginan untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi dalam
rangkaian peristiwa yang ada
3. Tak menyerah, kemampuan untuk tidak mundur dalam menemukan fakta walaupun
fakta tersebut sulit diperoleh
4. Akal sehat, kemampuan untuk mempertahankan perspektif dunia nyata
5. Business sense, kemampuan untuk memahami bagaimana sesungguhnya bisnis berjalan
dan tidak memahami bagaimana transaksi yang ada dicatat
6. Percaya diri, kemampuan untuk mempercayai penemuan yang telah kita dapat sehingga
dapat bertahan saat menerima pernyataan silang dari jaksa penuntut dan pembela

INDEPENDEN, OBJEKTIF, DAN SKEPTIS

Terdapat tiga sikap yang sangat melekat dengan auditor yaitu independent, objektif, dan
skeptis. Dengan adanya sikap ini akan membantu seorang auditor dalam melakukan pencarian
fakta dan menemukan adanya kesalahan. Hal ini dikarenakan auditor dengan ketiga sikap ini
akan memiliki kemampuan untuk menemukan fakta yang lebih banyak dan mendalam terhadap
kasus yang ditangani. Apabila seorang auditor tidak memiliki ketiga sifat ini dimungkinkan
mereka tidak akan memperoleh informasi yang lengkap dan mendalam.

PELAKSANAAN KODE ETIK

Apabila sebuah profesi memiliki kode etik dan standar di dalamnya maka hal itu merupakan
awal yang baik namun apabila tidak disertai dengan pelaksanaan yang baik maka hal itu akan
menjadi hal yang sia-sia dan tidak berguna. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus yang
melibatkan etika di dalamnya dari mulai penyidik yang melakukan pemerasan terhadap para
saksi. Namun untuk setiap pelanggaran yang ada akan mendapatkan hukuman yang sesuai
dengan apa yang telah mereka perbuat. Dalam perekrutan sendiri diperlukan adanya
penyaringan yang semakin ketat sehingga mereka yang memiliki integritas yang kurang baik
maka mereka akan dengan mudah melanggar kode etik profesi.

STANDAR AUDIT INVESTIGATIF

Seorang akuntan publik memiliki sebuah standar yaitu standar profesi akuntan public (SPAP).
Dalam SPAP sendiri mencakup standar yang digunakan dalam audit, atestasi, pengendalian
mutu, dan lain-lain. Namun dalam SPAP belum mencakup tentang audit investigatif dan
kecurangan audit. Hal ini sangat rawan karena para kecurangan auditor melakukan audit tanpa
standar. Dalam sebuah profesi auditor standar merupakan ukuran mutu. Auditor sendiri juga
ingin menegaskan adanya standar yang ada.

Menurut K.H. Spencer Picket dan Jennifer Picket, dalam melakukan investigasi terhadap
kecurangan terdapat beberapa standar. Beberapa standar tersebut adalah:

1. Seluruh investigasi harus dilandasi praktik terbaik yang diakui


2. Kumpulkan bukti-bukti dengan prinsip kehati-hatian
3. Pastikan seluruh dokumentasi berjalan dengan aman, terlindungi dan diindeks
4. Pastikan para investigator mengerti hak asasi pegawai dan menghormatinya
5. Beban pembuktian ada pada perusahaan yang “menduga” pegawainya melakukan
kecurangan dan penuntut umum mendakwa pegawai tersebut
6. Cakup seluruh substansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis ditinjau
dari segi waktu
7. Liput seluruh tahapan kunci dalam melakukan investigasi

STE Bab 14 (General Criteria and Standards for Establishing an Expert Witness’s
Qualifications)

Pemberian jasa forensic berupa penampilan ahli (expert witness) di pengadilan negara- negara
Anglo Saxon begitu lazim sehingga seorang praktisi menulis bahwa secara teknis akuntansi
forensik berarti menyiapkan seorang akuntan menjadi saksi ahli dalam ligitasi, sebagai bagian
dari tim penuntut umum, atau pembela dalam perkara yang berkenan dengan fraud. Namun
dalam perkembangan selanjutnya istilah akuntansi forensik bermakna sama dengan prosedur
akuntansi investigatif.

Masalah utama dalam jasa expert witness adalah pengujian kompetensi. Untuk itu, dikenal dua
metode, yaitu Daubert test dan Frye test. Daubert test adalah pemenuhan kondisi-kondisi yang
meliputi:

• Teknik atau teori sudah diuji secara ilmiah


• Teknik atau teori sudah dipublikasi dalam majalah ilmiah dimana sesama rekan dapat
menelaahnya (peer-reviewed scientific journal)
• Tingkat kesalahan dalam menerapkan teknik tersebut dapat ditaksir dengan memada
atau diketahui
• Teknik atau teori sudah diterima dalam masyarakat atau asosiasi ilmuwan terkait

Adapun Frye test adalah hanya mensyaratkan bahwa keterangan saksi ahli didasarkan pada
prinsip atau metode yang sudah diterima oleh masyarakat atau asosiasi ilmuwan terkait.

Masalah yang timbul dalam penggunaan akuntan forensik sebagai ahli di persidangan,
khususnya dalam tindak pidana korupsi, adalah kompetensi dan independensi. Masalah
kompetensi dan independensi sering dipertanyakan tim pembela atau pengacara terhadap
akuntan forensik yang membantu penuntut umum. Sebaliknya, tidak ada pertanyaan mengenai
kompetensi dan independensi akuntan forensik yang membantu tim pembela (pengacara).

PRAKTIK DI SEKTOR PEMERINTAHAN

Akuntansi forensik pada sektor publik di Indonesia lebih menonjol daripada akuntansi forensik
pada sektor swasta. Secara umum akuntansi forensik pada kedua sektor tidak berbeda, hanya
terdapat perbedaan pada tahap-tahap dari seluruh rangkaian akuntansi forensik terbagi-bagi
pada berbagai lembaga seperti lembaga pemeriksaan keuangan negara, lembaga pengawasan
internal pemerintahan, lembaga pengadilan, dan berbagai lembaga LSM (Lembaga Swadaya
Masyarakat) yang berfungsi sebagai pressure group.

Di sektor publik (pemerintahan), praktik akuntan forensik serupa dengan apa yang
digambarkan pada sektor swasta. Perbedaannya adalah bahwa tahap-tahap dalam seluruh
rangkaian akuntansi forensik terbagi-bagi diantara beberapa lembaga. Dimensi yang
membedakan akuntansi forensik di sektor publik dan swasta: landasan penugasan, imbalan,
hukum, ukuran keberhasilan, pembuktian, teknik audit investigatif, akuntansi.

Dimensi Sektor Publik Sektor Swasta


Landasan
Amanat undang-undang Penugasan tertulis secara spesifik
Penugasan
Imbalan Free dan biaya
Lazimnya tanpa imbalan
Perdata, arbritrasi,

Pidana umum dan khusus,


Hukum administrative, internal perusahaan
hukum administrasi negara

aturan

Ukuran
Memulihkan kerugian
Keberhasilan Memenangkan perkara pidana
dan memulihkan kerugian
Dapat melibatkan instansi lain
di luar lembaga yang
Bukti internal, dengan bukti eksternal yang
Pembuktian bersangkutan
terbatas

Relatif lebih sedikit dibandingkan di sektor


Teknik Audit Sangat bervariasi karena
publik, kreativitas dalam pendekatan lebih
Investigatif kewenangan
menentukan

Akuntansi
Tekanan pada kerugian negara
Penilaian bisnis
dan kerugian keuangan negara