Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Farmakognosi berasal dari bahasa yunani yang artinya Pharmakon

adalah obat dan gnosis adalah ilmu atau pengetahuan. Jadi pengertian

farmakognosi adalah ilmu atau pengetahuan tentang obat. Dalam

farmakognosi, yang menjadi objek diamati atau bahan yang diamati adalah

bahan alam berupa tumbuhan. Tumbuhan memiliki banyak kandungan yang

bisa dimanfaatkan menjadi obat. Simplisia dalam bahasa farmakognosi

merupakan bahan yang kita amati dimana didalamnya mempunyai komposisi

senyawa bahan yang terkandung dari jenis tertentu. Salah satu tanaman yang

dipakai sebagai obat adalah Phyllanthi Herba (Phyllanthus niruri). Phyllanthi

Herba (Phyllanthus niruri) merupakan salah satu tanaman obat yang sudah

lama digunakan untuk pengobatan tradisional penyakit hati, antikanker,

antidiabetes dll. Meniran dan manfaatnya yang beragam ini berkaitan erat

dengan zat atau senyawa yang ikandungnya.

Pada makalah kali ini, kami akan membahas tentang hasil praktikum

uji Histokimia dan Kromatografi Lapis Tipis terhadap Phyllanthi Herba. Uji

Histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat yang terkandung

dalam jaringan simplisia Phillanthi Herba. Sedangkan Kromatografi Lapis

Tipis adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas perbedaan

distribusi dari komponen campuran tersebut diantara 2 fase, yaitu fase diam

dan fase gerak. Uji kandungan ini sangat bermanfaat, karena kita dapat
menentukan kandungan kimia apa saja yang terdapat dalam simplisia tersebut

sehingga memudahkan kita dalam membuat suatu sediaan obat tradisional

yang sesuai. Selain itu juga bermanfaat untuk membuat sediaan yang dapat

memberikan efek terapi yang optimum sesuai dengan kandungan kimia yang

ada pada simplisia tersebut.

B. Rumusan Masalah

Adapun batasan bahasan yang kita tulis dalam makalah ini :

1. Bagaimana cara mengidentifikasi fragmen-fragmen spesifik serbuk herba?

2. Bagaimana cara mengidentifikasi serbuk herba dengan penambahan

reagen kimia?

3. Bagaimana cara menganalisis indentitas senyawa serbuk herba dengan

C. Tujuan

1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri spesifik cacahan herba.

2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi fragmen-fragmen spesifik pada serbuk

herba.

D. Manfaat

1. Mengetahui cara identifikasi fragmen-fragmen spesifik serbuk herba.

2. Mengetahui cara identifikasi serbuk herba dengan penambahan reagen

kimia.

3. Mengetahui cara analisis identitas senyawa serbuk folium dengan metode

Kromatografi Lapis Tipis.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang

belum mengalami pengolahan apa pun juga dan kecuali dinyatakan lain,

berupa bahan yang telah dikeringkan (FI edisi III).

Simplisia terbagi menjadi tiga bagian yakni :

1. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian

tanaman dan eksudat tanaman (eksudat tanaman adalah isi yang spontan

keluar dari tanaman atau isi sel yang dikeluarkan dari selnya dengan cara

tertentu atau zat yang dipisahkan dari tanamannya dengan cara tertentu

yang masih belum merupakan zat kimia murni).

2. Simplisia hewani yaitu simpisia berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat

yang dihasilkan hewan yang masih belum berupa zat kimia murni.

3. Simplisia mineral adalah simplisia yang berasal dari bumi, baik telah

diolah atau belum, tidak berupa zat kimia murni (Ditjen POM,1979).

Simplisia nabati, hewani dan pelican yang dipergunakan sebagai

bahan untuk meperoleh minyak atsiri, alkaloid, glikosida atau zat berkhasiat

lainnya, tidak perlu memenuhi persyaratan yang tertera pada monografi yang

bersangkutan. Identifikasi simplisia dapat dilakukan berdasarkan uraian

mikroskopis serta identifikasi kimia berdasrakan kandungan senyawa yang

terdapat didalamnya (Anonim, 1995). Untuk mengetahui kebenaran dan mutu

obat tradisional termasuk simplisia, maka dilakukan analisis yang meliputi


analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif terdiri atas pengujian

organoleptik, pengujian makroskopik, pengujian mikroskopik, dan pengujian

histokimia.

Simplisia dapat diperoleh dari tanaman liar atau dari tanaman yang

sengaja dibudidayakan/dikultur. Tanaman liar disini diartikan sebagai

tanaman yang tumbuh dengan sendirinya di hutan-hutan atau di tempat lain di

luar hutan atau tanaman yang sengaja ditanam tetapi bukan untuk tujuan

memperoleh simplisia untuk obat (misalnya tanaman hias, tanaman pagar).

Sedangkan tanaman kultur diartikan sebagai tanaman budidaya, yang ditanam

secara sengaja untuk tujuan mendapatkan simplisia. Tanaman budidaya dapat

berupa perkebunan luas, usaha pertanian kecil-kecilan atau berupa tanaman

halaman dengan jenis tanaman yang sengaja ditanam untuk tujuan

memperoleh simplisia tetapi juga berfungsi sebagai tanaman hias.

Dibandingkan dengan tanaman budidaya, tanaman liar sebagai sumber

simplisia mempunyai beberapa kelemahan untuk dapat menghasilkan

simplisia dengan mutu yang memenuhi standar tetap yang dikehendaki. Hal

ini disebabkan karena:

a. Unsur tanaman pada waktu pengumpulan tanaman atau organ tanaman

sulit atau tidak dapat ditentukan oleh pengumpul. Kadar senyawa aktif

dalam suatu simplisia sering dipengaruhi oleh umur tanaman pada waktu

pengumpulan simplisia yang bersangkutan. Ini berarti aktivitas biologis

yang dikehendaki dari suatu simplisia sering berubah apabila umur tanamn

dari suatu pengumpulan ke waktu pengumpulan lain tidak sama.


b. Jenis (spesies) tanaman yang dikehendaki sering tidak tetap dari satu

waktu pengumpulan ke waktu pengumpulan berikutnya. Sering timbul

kekeliruan akan jenis tanaman yang dikehendaki. Dua jenis tanaman dalam

satu marga kadang mempunyai bentuk morfologi yang sama dari

pengamatan seseorang (pengumpul) yang sering bukan seorang ahli /

seorang yang berpengalaman dalam mengenal jenis tanaman yang

dikehendaki sebagai sumber simplisia. Perbedaan jenis suatu tanaman

akan berarti perbedaan kandungan senyawa aktif.

c. Perbedaan lingkungan tempat tumbuh jenis tanaman yang dikehendaki.

Satu jenis tanaman liar sering tumbuh pada tempat tumbuh dan lingkungan

yang berbeda (ketinggian, keadaan tanah, cuaca yang berbeda). Simplisia

yang diperoleh dari satu jenis tanaman sama tetapi berasal dari dua

lingkungan dapat mengandung senyawa aktif dominan yang berbeda.

Misalnya tanaman

Myoporoides di daerah Australia utara kandungan skopolamina yang

dominan, sedangkan di Australia selatan kandungan hiosiamina yang

dominan.

Jika simplisia diambil dari tanaman budidaya maka keseragaman umur, masa

panen dan galur tanaman dapat dipantau. Namun tanaman budidaya juga ada

kerugiannya. Pemeliharaan rutin menyebabkan tanaman menjadi manja,

mudah terserang hama sehingga pemeliharaan ekstra diperlukan untuk

mencegah serangan parasit. Penggunaan pestisida untuk ini membawa

konsekuensi tercemarnya simplisia dengan residu pestisida (sehingga perlu


pemeriksaan residu pestisida). Identifikasi simplisia yang akan dilakukan

secara :

 Organoleptik meliputi pengujian morfologi, yaitu berdasarkan warna, bau,

dan rasa, dari simplisia tersebut.

 Makroskopik merupakan pengujian yang dilakukan dengan mata telanjang

atau dengan bantuan kaca pembesar terhadap berbagai organ tanaman

yang digunakan untuk simplisia.

 Mikroskopik, pada umumnya meliputi pemeriksaan irisan bahan atau

serbuk dan pemeriksaan anatomi jaringan itu sendiri.

 Kandungan sel dapat langsung dilihat di bawah mikroskop atau

dilakukan pewarnaan. Sedangkan untuk pemeriksaan anatomi jaringan

dapat dilakukan setelah penetesan pelarut tertentu, seperti kloralhidrat

yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan sel seperti amilum dan

protein sehingga akan dapat terlihat jelas di bawah mikroskop. Namun,

untuk pemeriksaan amilum dilakukan dengan penetesan air saja.

B. Klasifikasi tumbuhan

1. Andrographidis Herba 

Nama lain : Sambiloto

Nama tanaman asal : Andrographis paniculata (Nees)

Keluarga : Acanthaceae

Zat berkhasiat utama /: isi : 2 macam zat pahit yaitu suatu hablur

kuning
(androgon folida) yang rasanya sangat

pahit) dan kalmegin (zat amorf). Minyak

atsiri, alkaloida, asam kersik, damar, garam

alkali.

Penggunaan : Tonikum, antipiretika, diuretika. Tidak

berbau, rasa sangat pahit.

Bagian yang digunakan : Ranting berdaun.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

2. Cannabis herba

Kingdom : Plantae

Division : magnoliophyte

Class : magnoliopsida

Ordo : rosales

Family : cannabaceae

Genus : Cannabis

Species : C. sativa

Ganja atau mariyuana (Cannabis sativa) merupakan golongan

tanaman perdu. Cannabis sativa termasuk dalam suku

cannabinaceae(ganja-ganjaan).

Morfologi Batang:

Tanaman semusim ini bisa setinggi dua meter dengan batang bercabang-

cabang dan merupakan penghasil bahan narkotik yang sangat terkenal.

Morfologi Daun:
Daunnya majemuk menjari atau berbagi. Daunnya mempunyai tangkai dan

jumlah helai daunnya selalu dalam bilangan ganjil antara 5-7 dan 9 helai.

Helai daunnya menjari dengan bagian pinggirnya yang bergerigi dan

ujungnya lancip.

 Daun ganja bentuknya kering, lengket dan berminyak.

 Daun ganja mengandung zat THC(Tetrahydrocannabinol) yaitu

suatu zat sebagai elemen aktif yang oleh para ahli dianggap sebagai

Hallucinogenio substance atau zat sebagai faktor penyebab

terjadinya halusinasi atau khayalan pada seseorang yang

menyalahgunakan ganja.

Morfologi Bunga:

Umur Cannabis Sativa antara 1-2 tahun dan pada umur 6 bulan sudah

mulai berbunga. Ukuran bunga jantan dan betina ada di tanaman berbeda,

berumah dua. Ukuran bunga jantannya kecil-kecil dan tersusun dalam

tandan.

Morfologi Buah:

Buahnya berbiji satu, yang berwarana hitam kecokelatan dan mengkilat

bulat agak menggepeng serta mengandung minyak.

Morfologi Akar:

Cannabis Sativa memiliki akar tunggang dan berwarna agak kecokelatan.

Ada tiga bentuk cannabis: mariyuana, hasyis (hashish) dan minyak hasyis.

Mariyuana adalah daun dan bunga kering pada tanaman cannabis dan

umumnya dampaknya paling ringan di antara ketiga bentuk cannabis.


Hasyis membentuk lapisan minyak kental pada bunga bagian atas yang

diambil dan di cetak sebagai gumpalan dari damarkering. Kepekatan THC

(Tetrahydrocannabinol) hasyis adalah hasil penyulingan damar tanaman

cannabis dan adalah yang terkuat dari semua jenis cannabis.

Mariyuana biasanya dihisap dalam rokok yang digulung dengan tangan,

atau memakai pipa. Jenis pekat yaitu hasyis atau minyak hasyis, sering

dihisap dengan rokok biasa atau di masukkan ke dalam bahan makanan

seperti kue atau biscuit dan di makan Bentuk tanaman ganja banyak

variasinya, tidak hanya bergantung pada tanah dan iklim tetapi juga pada

sifat-sifat genetik. Tanaman penghasil serat dan biji banyak terdapat di

daerah beriklim sedang. Biasanya tanaman lebih tinggi dan mempunyai

batang dan daun yang lebih besar daripada tanaman penghasil obat

narkotika. Tanaman jantannya menghasilkan serat yang lebih baik

daripada tanaman betina, namun tanaman betinanya juga menghasilkan

biji yang biasanya digunakan dalam pembuatan cat, sabun, minyak lampu

dan makanan burung dan penganan. Seratnya digunakan untuk membuat

kain kasar dan tali. Meskipun tanaman ini mengandung resin namun kadar

resinnya tidak tinggi sehingga penanamannya tidak dilarang.

Sementara itu ukuran tanaman ganja penghasil narkotik lebih kecil. Daerah

penyebarannya terutama di daerah subtropis dan tropis. Tanaman ini juga

menghasilkan serat, tetapi mutunya tidak baik dan sukar diperoleh. Semua

bagian tanaman dapat menghasilkan resin, tetapi kadar resin tertinggi

terdapat pada daun pelindung yang membungkus bunga betina. Bunga


betina dan daun juga mengandung resin yang tinggi kadarnya namun

masih lebih rendah jika disbanding dengan daun pelindung. Akar dan biji

paling rendah kadar resinnya. Banyak Negara yang melarang penanaman

ganja jenis ini.Sebagaimana jenis narkotika lainnya, penyalahgunaan ganja

mempunyai efek terhadap fisik maupun psikis bagi pemakainya.

3. Equiseti Herba

Kingdom : plantae

Division : magnoliophyta

Class : magnoliopsida

Ordo : lamilaes

Family : lamilaceae

Genus : mentha

Species : M. arvensis

Morfologi dan anatomi daun poko

Tanaman mentha adalah tanaman semak perdu kecil yang sering kita jumpai di

sekitar kita. Tanaman mentha dapat ditemukan di ladang, pekarangan rumah,

tepi jalan, dan hutan. Nama latin tanaman mentha adalah Mentha Arvensis Var.

Javanica Bentham. Sedangkan dalam bahasa inggris tanaman mentha ini

memiliki nama Wild Mint. Tanaman mentha ini tersebar meliputi wilayah Eropa,

Asia, Siberia timur, dan Amerika Utara. Tanaman mentha ini memiliki 6 sub

spesies jenis. Tanaman mentha menurut sejarah berasal dari Eropa. Ciri-ciri

tanaman mentha adalah tanaman ini ukurannya kecil merayap, bentuk daun

mirip daun tanaman mint dan bunganya yang berwarna ungu. Kegunaan dan
fungsi tanaman mentha bagi sebagaian orang mungkin dianggap sebagai

tanaman semak liar yang banyak digunakan sebagai pakan ternak. Tetapi yang

tidak kita ketahui ternyata tanaman mentha ini memiliki banyak manfaat dan

khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit yang ada ditubuh.

Tanaman mentha merupakan salah satu jenis tanaman yang berasal dari

kelurga tanaman Lamiacea. Tanaman mentha ini termasuk jenis tanaman

semak perdu merayap yang berukuran kecil dengan ukuran tinggi yang

dapat mencapai 10-15 cm. Akar tanaman mentha tunggang berwarna

putih. Batang tanaman mentha ini lunak,  teksturnya berbulu dan berwana

keunguan. Batang tanaman mentha yang masih muda berbentuk segi

empat dan ketika tua akan membulat. Tanaman mentha memiliki daun

tunggal, letak daun berseling, tepi daun bergigi, dengan ujung daun yang

meruncing, pertulangan daun menyirip,dan ukuran daunnya 2-6,5 cm.

Bunga tanaman mentha majemuk berbentuk bulir, berwarna ungu,

berukuran 3-4 mm dan bakal buah berbulu.  Buah tanaman mentha buah

buni dan berwarna coklat tua. Perkembangbiakan tanaman mentha ini

dilakukan secara vegetatife yaitu dengan cara setek pucuk, setek batang

atau stolon. Namun bisa juga lewat biji. Habitat tanaman menta ini berada

pada daerah dengan ketinggian 150 m sampai 900 m dari permukaan laut.

Tanaman mentha hidup pada daerah lembab yang intensitas matahari

sedikit dan curah hujan lebih.

Manfaat dan Khasiat Tanaman Mentha Bagi Kesehatan

 Tanaman mentha untuk mengobati susah tidur


 Tanaman mentha digunakan untuk menyembuhkan sakit mencret.

 Tanaman mentha berguna sebagai obat pelega mulut

 Tanaman mentha bermanfaat mengobati penyakit influensa, batuk,

dan pusing.

 Tanaman mentha berkhasiat menyembuhkan sakit gigi.

 Tanaman mentha digunakan sebagai obat sakit sesak nafas.

 Tanaman mentha untuk mengobati mulas.

4. Thymi Herba

Kingdom : plantae

Order : Lamiales

Family : Lamiceae

Genus : Thymus

Spesies : Thymus Vulgaris L.

Tanaman ini memiliki banyak spesies thyme, saya tidak akan daftar

mereka semua tapi yang paling penting dan paling terkenal:

a. Vulgaris Timus: Spesies ini memiliki daun berbentuk tombak-hijau

abu-abu, bagian bawah ditutupi dengan rambut, memiliki penggunaan

terapi tertentu .

b. Timus serpillum: Spesies ini memiliki karakteristik untuk mengubah

penampilan dengan perubahan kondisi tanah dan iklim dapat

bervariasi tingginya, mengubah warna bunga dan parfum.Alih-alih

Vulgaris spesies, tidak ada rambut pada daun dan batang telah sedikit

lebih panjang, tetapi juga digunakan untuk tujuan terapeutik.


c. Timus Citriodorus: Seperti namanya, spesies ini mengandung minyak

esensial yang menjadi ciri aroma limone.

d. Thymus zygis: Spesies ini juga disebut thyme Spanyol, sangat tidak

aromatica
BAB III

ALAT DAN BAHAN

1. Alat

Mikroskop

2. Bahan

a. Simplisia cacahan

1. Andrographidis Herba

2. Cannabis herba

3. Equiseti herba

4. Thymi herba

b. Simplisia serbuk

1. Andrographidis Herba

2. Cannabis herba

3. Equiseti herba

4. Thymi herba

3. Cara kerja

1. Lengkapi identitas simplisia dan amati ciri-ciri organeleptis seta ciri-ciri

spesifik makroskopis dari masing-masing simplisia cacahan herba dan catat

pada buku laporan simplisia

2. Amati ciri-ciri organeleptis dari masing-masing simplisa serbuk herba

3. Buatlah sediaan dalam media air dari masing-masing simplisia serbuk

herba, amati di bawah mikroskop lalu gambar


4. Buatlah sediaan dalam media kloralhidrat dari masing-masing simplisia

serbuk herba dengan cara :

 Ambil sedikit simplisia serbuk herba, letakan pada gelas obyek

 Tambahkan beberapa tetes larutan klorahidrat, hangatkan di atas

nyala spirtus (jangan sampai mendidih)

 Tutup dengan gelas penutup

 Tambahkan klorahidrat kembali jika di perlukan

 Setelah dingin amati di bawah mikroskop

5. Amati dan gambarkan hasil pengamatan


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Simplisia merupakan hasil proses sederhana dari herba tanaman obat yang

banyak digunakan sebagai bahan baku industri obat. Simplisia dalam arti lain

adalah bahan alam yang telah dikeringkan dan digunakan untuk pengobatan serta

belum mengalami pengolahan. Simplisia umumnya dibagi menjadi 3 golongan

yaitu sebagai berikut: 

1. Simplisia nabati 

Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian

tanaman, eksudat tanaman atau gabungan antara ketiganya. Eksudat tanaman

adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu

sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau

bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/ diisolasi dari

tanamannya 

 2. Simplisia hewani 

Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat

berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni 

3. Simplisia pelikan atau mineral 

Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral

yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa

bahan kimia murni

Pada praktikum farmakognosi ini dilakukan pemeriksaan simplisia secara

mikroskopik, dan serbuk simplisia. Pemeriksaan secara organoleptis dilakukan


dengan mengamati warna, bau, dan rasa. Pemeriksaan secara mikroskopik

dilakukan dengan melihat anatomi jaringan dari serbuk simplisia yang ditetesi

larutan kloralhidrat kemudian dipanaskan di atas lampu spiritus (jangan sampai

mendidih). Kemudian pengamatan dilakukan di bawah mikroskop dengan

perbesaran lemah dan perbesaran kuat. Sedangkan khusus untuk uji amilum hanya

ditetesi dengan aquades. Hal ini disebabkan karena penetesan kloralhidrat pada

amilum dapat menghilangkan butir-butir amilum. Kloralhidrat juga dapat

digunakan untuk menghilangkan kandungan sel seperti protein. Sedangkan

pemeriksaan secara makroskopik dilakukan dengan melihat simplisia dan serbuk

simplisia secara langsung dengan mata telanjang, memperhatikan bentuk dari

simplisia.

Namun terdapat beberapa kendala yang dihadapi pada pemeriksaan

makroskopik dan organoleptis. Simplisia satu dengan yang lainnya memiliki

bentuk, warna, dan bau yang hampir mirip pada sebagian besar simplisia.

Sedangkan kendala pada pemeriksaan mikroskopis adalah pada saat pemanasan,

terkadang kloralhidrat pada objek gelas mendidih, sehingga pada saat diamati

dibawah mikroskop, objek menjadi tidak jelas. Kendala lain pada pemeriksaan

mikroskopis adalah ketidaktelitian praktikan dalam menggunakan alat sehingga

antara pengamatan simplisia satu dengan yang lainnya dapat tercampur dan dapat

mempengaruhi pemeriksaan. Tentunya banyak simplisia yang memiliki perbedaan

yang jelas jika dibandingkan dengan simplisia yang lain. Hal ini disebabkan

simplisia tersebut memiliki ciri khas yang diakibatkan oleh adanya perbedaan

anatomi dan morfologi. Namun ciri khas tersebut dapat pula tidak nampak karena
kesalahan dalam melakukan pemeriksaan dan penyimpnan simplisia yang relatif

lama.

Mutu dari simplisia yang digunakan dapat diketahui dengan melakukan

pemeriksaan yaitu secara makroskopik (organoleptis) dan mikroskopik.

Pemeriksaan makrosopik dilakukan dengan menggunkan kaca pembesar atau

tanpa menggunakan alat. Cara ini dilakukan untuk mencari kekhususan bentuk,

warna, bau dan rasa simplisia (Soegiharjo, 2013). Pemeriksaan mikroskopik

meliputi anatomi simplisia yang memiliki karakteristik tersendiri dan merupakan

pemeriksaan spesifik penysun suatu simplisia ataupun haksel. Sebelum

melakukan pemeriksaan mikroskopik harus dipahami bahwa masing-masing

jaringan tumbuhan berbeda bentuknya. Ciri khas dari masing-masing organ

batang, akar dan rimpang umumnya memiliki jaringan penyususn primer yang

hampir sama yaitu epidermis, korteks dan endodermis, jari-jari empulur dan

bentuk berkas pengangkutnya. Tipe berkas pengangkut umumnya mengacu pada

kelas tumbuhan seperti monokotil yang memiliki tipe berkas pengangkut terpusat

(konsentris) dan pada dikotil tersebar (kolateral). Sedangkan jaringan sekunder

pada organ batang, akar dan rimpang berupa periderm dan ritidorm. Rambut

penutup dan stomata merupakan ciri spesifik dari bagian daun serta tipe sel

idioblas seringkali menunjukkan ciri spesifik suatu tumbuhan (Soegiharjo, 2013). 

Berdasarkan jurnal, salah satu pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi

pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik. Pemeriksaan makroskopik

merupakan pemeriksaan organoleptik. Sedangkan pemeriksaan mikroskopik


dilakukan dengan bantuan mikroskop binocular menggunakan pelarut kloralhidrat

dengan perbesaran 100 kali (Azizah, 2014). 

Stomata merupakan celah dalam sel epidermis yang dibatasi oleh dua sel

epidermis khusus yang disebut sel penutup. Sel penutup dapat berbentuk lengkung

seperti biji kacang merah atau ginjal pada dikotil. Pada monokotil, sel penutup

memiliki struktur yang khusus dan seragam, ramping di tengah dan

menggelembung di ujung. Tipe-tipe stomata yaitu sebagai berikut: 

1. Anomositik : Jumlah sel tetangga tiga atau lebih yang satu sama lain

sukar dibedakan. 

2. Anisositik : Jumlah sel tetangga tiga atau lebih dan satu sel jelas lebih

kecil dari sel lainnya. 

3. Diasitik  : Jumlah sel tetangga dua dan bidang persekutuan menyilang

celah stomata 

4. Parasitik  : Jumlah sel tetangga dua dan bidang persekutuan segaris

dengan celah stomata 

5. Aktinositik  : Variasi dari stomata tipe anomositik yaitu stomata

dengan sel-sel tetangga yang pipih dan mengelilingi stomata dalam

susunan berbentuk lingkaran 

6. Bidiasitik : Variasi dari diasitik yaitu stomata yang sel tetangganya

dikelilingi oleh dua sel epidermis (Gunawan & Mulyadi, 2004).

Berikut ini merupakan penjabaran secara organoleptis, makroskopis, dan

mikroskopis dari simplisia yang praktikan amati:


1. Andrographidis Herba

2. Cannabis herba

3. Equiseti herba

4. Thymi herba

Praktikum kali ini yaitu tentang uji pendahuluan, makroskopik dan

mikroskopik. Tujuan praktikum ini yaitu untuk memahami dan melakukan uji

pendahuluan komponen kimia bahan alam serta pemeriksaan secara makroskopik

dan mikroskopik. Simplisia merupakan hasil proses sederhana dari herba tanaman

obat yang banyak digunakan sebagai bahan baku industri obat. Simplisia dalam

arti lain adalah bahan alam yang telah dikeringkan dan digunakan untuk

pengobatan serta belum mengalami proses pengolahan (Depkes RI, 1979). 

Pembuatan serbuk simplisia harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Bahan yang akan dijadikan simplisia harus bebas serangga, fragmen hewan dan

kotoran hewan 2. Bahan yang akan dijadikan simplisia tidak boleh menyimpang

dari bau dan warna 3. Bahan yang akan dijadikan simplisia tidak boleh

mengandung bahan lain yang beracun atau berbahaya 4. Bahan yang akan

dijadikan simplisia tidak boleh mengandung lendir, cendawan atau menunjukkan

tanda pengotor lain (Depkes RI, 1979) Tumbuhan yang akan dilakukan uji yaitu

saluang belum. Bagian dari tanaman yang dipakai yaitu kayunya. Tumbuhan ini

terdapat di hutan gambut tropika Kalimantan tengah. Kandungan kimianya yaitu

steroid dan flavonoid. Tumbuhan ini memiliki khasiat untuk kejantanan laki-laki

(Soegiharjo, 2013). 

Tahapan-tahapan pembuatan simplisia secara garis besar yaitu. 


1. Pemgumpulan bahan baku Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-

beda tergantung pada bagian tanaman yang digunakan, umur tanaman, waktu

panen, dan lingkungan tempat tumbuh

2. Sortasi basah Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran dari

bahan simplisia

3. Pencucian Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor

lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucuian dilakukan dengan air

bersih yang mengalir 

4. Perajangan Perajangan dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan,

pengepakan dan penggilingan 

5. Pengeringan Tujuan pengeringan yaitu untuk mendapatkan simplisia yang

tidak mudah rusak hingga waktu lama 

6. Sortasi kering Sortasi kering dilakukan untuk memisahkan benda-benda asing

yang masih melekat pada simplisia kering 

7. Penegepakan dan penyimpanan Simplisia dapat rusak dan berubah mutunya

karena faktor luar dan dalam, antara lain seperti cahaya, oksigen, reaksi kimia

intern, serangga atau kapang dan pengotor lainnya. (Soegiharjo, 2013) 

Pemeriksaan makroskopik merupakan pemeriksaan karakteristik suatu

tanaman atau simplisia yang dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau

tanpa menggunakan alat. Tujuannya yaitu untuk mengenal dan mengidentifikasi

kekhususan simplisia yang berupa bentuk, warna, bau dan rasa simplisia.

Sedangkan pemeriksaan mikroskopik meliputi anatomi simplisia yang memiliki

karakteristik tersendiri dan merupakan pemeriksaan spesifik penysun suatu


simplisia ataupun haksel. Tujuannya yaitu untuk mengetahui anatomi bagian

tumbuhan baik itu pada bagian akar, daun maupun kayunya. Sebelum melakukan

pemeriksaan mikroskopik harus dipahami bahwa masing-masing jaringan

tumbuhan berbeda bentuknya. 


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan pada praktikum ini adalah sebagai berikut. 

1. Uji pendahuluan komponen kimia bahan alam adalah suatu uji dengan

mengamati golongan senyawa kimia yang terdapat dalam suatu simplisia

tumbuhan 

2. Pemeriksaan makrosopik dilakukan dengan menggunkan kaca pembesar

atau tanpa menggunakan alat yang dilakukan untuk mencari kekhususan

bentuk, warna, bau dan rasa simplisia. Hasil pemeriksaan makroskopik

thymi herba dan andrographidis belum yaitu bau aroma khas lemah,

dengan warna putih kekuningan, tidak memiliki rasa (hambar).

Karakteristik dari akar saluang belum yaitu akar berupa akar tunggang 

3. Pemeriksaan mikroskopik meliputi anatomi simplisia yang memiliki

karakteristik tersendiri dan merupakan pemeriksaan spesifik penysun

suatu simplisia ataupun haksel. Hasil pemeriksaan mikroskopik yaitu

epidermis, korteks dan endodermis, equiseti dan cannabis bentuk berkas

pengangkutnya. Tipe berkas pengangkut tersebar (kolateral) karena

mrupakan tanaman dikotil. Sedangkan jaringan sekunder berupa periderm

dan ritidorm.
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, D. N., K. Endang & F. Fahrauk. 2014. Penetapan Kadar Flavonoid


Metode
AlCl3 Pada Ekstrak Metanol Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.).
Jurnal Ilmiah Farmasi. 2 (2) : 45-49.

 Agromedia. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Penebar swadaya. Jakarta. 

Artini, P. E. U. D., K. Astuti & N. K. Warditiani. 2013. Uji Fitokimia Ekstrak Etil
Asetat Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Roxb.). Jurnal Farmasi
Udayana. 2 (4) : 1- 10. 

Gunawan, D & S. Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I.


Penebar
Swadaya, Jakarta. 

Mega, M. I & A. S. Dewa. 2010. Screening Fitokimia dan Aktivitas Antiradikal


Ekstrak Metanol Daun Gaharu (Gyrinops verstogii). Jurnal Kimia. 4 (2):
187-192. 

Soegiharjo, C. J. 2013. Farmakognosi. Citra Aji Parama. Yogyakarta.


Widyaningrum, H. 2011. Kitab Tanaman Obat Nusantara. Medpress.
Yogyakarta.