Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN KIMIA ANALITIK

“EKSTRAKSI MINYAK BIJI KETAPANG”

DOSEN PENGAMPU:
Drs. Dedy Suhendra, M.Si., Ph.D
Dr. rer. nat. Lalu Rudyat Telly Savalas, M.Si

DISUSUN OLEH:

ULYANUR KHAIRUNNUFUS
(I2E019021)

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN IPA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MATARAM
2020
LAPORAN PRAKTIKUM
EKSTRAKSI MINYAK BIJI KETAPANG

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum : Untuk

2. Hari, tanggal praktikum : Selasa, 17 September 2020


3. Tempat Praktikum : Laboratorium MIPA, Fakultas MIPA,
Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI
Pohon ketapang terdistribusi secara luas di Indonesia. Di NTB, pohon ketapang
banyak terdapat di pinggir jalan, perkantoran dan pesisir pantai. Pohon ini ditanam untuk
perlindungan daerah pantai dan pohon peneduh karena tahan terhadap terpaan angin keras
dan memiliki daun yang rindang (Andriyany, 2010). Buah ketapang dapat dipanen setelah
pohon berumur 2-3 tahun (Mohale, dkk., 2009). Pohon ini berbuah tidak berdasarkan
musim (Thomson dan Evans, 2006), sehingga buahnya tersedia sepanjang tahun. Selama
ini, khususnya di NTB buah ketapang tidak termanfaatkan, banyak berserakan di bawah
pohonnya dan dibakar sebagai sampah (Andriyany, 2010). Buah ketapang berwarna hijau
tetapi ketika tua warnanya menjadi merah kecokelatan. Bentuk dari buah ketapang ini
seperti buah almond, besar buahnya kira-kira 4-5,5 cm. Kulit terluar dari bijinya licin dan
ditutupi oleh serat yang mengelilingi biji tersebut. Kulit biji dibagi menjadi dua,
yaitu lapisan kulit luar (testa) dan lapisan kulit dalam (tegmen). Lapisan kulit luar
pada biji ketapang ini keras seperti kayu. Lapisan inilah yang merupakan pelindung
utama bagi bagian biji yang ada di dalamnya (Thomson dan Evans, 2006).
Beberapa penelitian telah dilakukan terhadap biji ketapang dan diperoleh kandungan
minyak dalam jangka pendek (583,0g/kg bahan kering) sebanding dengan minyak sayur
lainnya seperti kacang tanah, rapeseed, dan bunga matahari (Ajayi, dkk., 2008).
Penelitian lain menunjukkan bahwa biji benih tanaman ini mengandung minyak mentah
dalam jumlah besar 60g/100g biji ketapang (Weerawatanakorn, dkk., 2015). Kandungan
asam lemak utama adalah asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA), asam oleat (C18: 1),
dan asam lemak tak jenuh ganda (PUFA), asam linoleat (C18: 2), masing-masing 32,4%
dan 30,3% (Janporn, dkk., 2015). Komposisi asam lemak penyusun trigliserida pada biji
ketapang terdiri dari asam: palmitat (27,9%), palmitoleat (8,6%), stearat (4,3%), oleat
(38,0%) dan linoleat (21,0%), dan selain itu terdapat 2 asam lemak baru yang strukturnya
belum dapat dipastikan (Suwarso, dkk., 2008)
Biji buah ketapang dapat menghasilkan minyak yang berwarna kuning bening dengan
persentase yang cukup besar, yaitu 54%. Indeks bias dan bobot jenisnya sebesar 1,4648
dan 0,898 gram/mL. Bilangan asam, bilangan penyabunan, dan bilangan iodium berturut-
turut sebesar 4,7 mgKOH/gram, 68,83 mgKOH/gram, dan 75,21 g iod/100g (Andriyany,
2010). Bilangan peroksida 0,51, energi 10,23 kJ/mol, viskositas pada 37oC 32,92 dan
asam lemak bebas 2,42 (Mathos, dkk., 2009). Untuk mendapatkan minyak ketapang, inti
buah ketapang yang telah halus dimaserasi dengan n-heksan, kemudian difiltrasi dan
dievaporasi untuk memisahkan minyak. Minyak ketapang yang diperoleh berwarna
kuning jernih (Andriyany, 2010).
Adapun sifat fisik dan sifat kimia minyak biji ketapang menurut penelitian ialah
berbau harum seperti bau kacang, berwarna kuning jernih, tidak larut dalam air, larut
dalam alkohol dan eter, mempunyai berat jenis sebesar 0,906 g/mL, mempunyai
viskositas sebesar 0,144 poise, mempunyai angka penyabunan 184,903 mg KOH/gram
minyak, mempunyai angka asam 3,286 mg KOH/gram minyak, nilai kekeruhan 3,517
NTU, mempunyai angka peroksida 1,983 meq/gram minyak (Hariani, dkk., 2007).
Berdasarkan beberapa penelitian, yield maksimum yang diperoleh dari minyak ketapang
yang diperoleh dengan metode sokletasi adalah sebesar 54,22 – 60,45% (Janporn et al.,
2015; Mathos et al., 2009; Menkiti et al., 2015). Sedangkan dengan metode maserasi,
yield maksimum yang diperoleh sebesar 49% dan 51% dengan perbedaan kondisi dimana
salah satunya dilakukan pengadukan dalam temperatur yang sama (dos Santos et al.,
2008; Janporn et al., 2015).

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Seperangkat alat soklet
b. Seperangkat alat rotary evaporator
2. Bahan
a. Biji ketapang
b. Larutan n-heksana
D. LANGKAH KERJA
a. Disiapkan biji ketapang, kemudian biji ketapang dihaluskan dengan blender.
b. Setelah dihaluskan, biji ketapang dijemur di bawah sinar matahari.
c. Ditimbang sampel yang sudah dihaluskan sebanyak 40 gram.
d. Dimasukkan sampel ke dalam kertas saring.
e. Dipasang set alat sokletasi.
f. Sampel dimasukkan ke dalam pipa dan disesuaikan ukurannya dengan pipa, tidak
boleh lebih dari pipa bagian tengah.
g. Dimasukkan pelarut yakni n-heksana ke dalam labu alas bundar.
h. Sampel disokletasi selama 6 jam.
i. Dihitung waktu ketika tetesan pertama.
j. Sampel yang telah disokletasi kemudian dievaporasi menggunakan rotary evaporator
untuk memisahkan minyak biji ketapang dengan pelarut n-heksana.
k. Minyak biji ketapang murni sudah siap dan disimpan di dalam botol.

E. HASIL PENGAMATAN
(Terlampir).

F. ANALISIS DATA
-

G. PEMBAHASAN
Ketapang (Terminalia cattapa Linn.) adalah suatu jenis pohon tropis dan merupakan
pohon pantai dengan daerah penyebarannya cukup luas. Pohon ketapang tumbuh dengan
subur di seluruh NTB, baik tumbuh secara liar ataupun yang sengaja ditanam sebagai
tanaman perdu. Selama ini, biji ketapang kurang begitu dimanfaatkan sehingga nyaris
terbuang begitu saja. Biji ketapang yang terbuang sebenarnya dapat dimanfaatkan secara
lebih luas mengingat dalam biji ketapang tersebut terkandung minyak yang tentunya
dapat dimanfaatkan. Biji ketapang tergolong jenis kacang (Nut) yang mengandung
trigliserida (Christian dan Ukhun, 2006). Biji ketapang mengandung minyak sebesar
40,15 %, sehingga minyak biji ketapang memiliki prospek untuk dijadikan suatu pilihan
baru dalam industri minyak nabati. Minyak biji ketapang berpeluang untuk digunakan
sebagai minyak pangan dan bahan baku industri sabun, lilin dan minyak pelumas
(Balogun dan Fetuga, 1985).
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara mengekstraksi minyak inti buah
ketapang. Pengambilan minyak inti buah ketapang dapat dilakukan dengan cara ekstraksi.
Pada praktikum ini, proses pengambilan minyak dari inti buah ketapang dilakukan dengan
metode ekstraksi sokletasi dengan pelarut n-heksana. Digunakannya n-heksana sebagai
pelarut dalam proses sokletasi dikarenakan sifat non-polar dari n-heksana sehingga sangat
baik sebagai pelarut minyak atau trigliserida yang juga bersifat non-polar. Langkah
pertama yang dilakukan adalah dipisahkan inti dari daging buah segar buah ketapang. Inti
buah segar yang telah dipisahkan, diblender dan dijemur di bawah sinar matahari.
Selanjutnya yakni proses ekstraksi. Ekstraksi dilakukan pada sampel inti buah ketapang
yang telah dihaluskan dan dibungkus dengan menggunakan kertas saring dengan diameter
kurang dari diameter soklet dan dengan massa 40gr yang ditimbang dengan menggunakan
timbangan analitik. Ekstraksi dilakukan selama 6 jam. Sampel yang telah dibungkus
menggunakan kertas saring dimasukkan ke dalam soklet, kemudian dirangkai alat
ekstraksi di atas mantel pemanas lalu dihubungkan dengan jaringan listrik, dan setelah
proses ekstraksi selesai mantel pemanas dimatikan dan hasil minyak yang tercampur
dengan pelarut yang tersisa dikeluarkan kemudian dimasukkan kedalam botol dan ditutup
dengan menggunakan plastik Wrap dan Aluminium Foil agar tidak terjadi penguapan.
Setelah diperoleh hasil ekstraksi, kemudian hasil ekstrak diuapkan untuk menghilangkan
pelarut n-heksana dengan rotary evaporator pada suhu 40oC. Hasil dari proses evaporasi
didapatkan minyak murni biji ketapang yang berwarna kuning bening.

H. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa
pengambilan minyak atsiri pada kulit jeruk dilakukan dengan menggunakan metode
sokletasi.
2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Agatemor, C. dan Ukhun, M.E. 2006. Nutritional Potential of the Nut of Tropical Almond
(Terminalia Catappia L.). Pakistan Journal of Nutrition. Vol. 5 (4): 334-336.
Ajayi, I.A., Oderinde, R.A., Taiwo, V.O., Agbedana, E.O., 2008. Short-term
toxicological evaluation of Terminalia catappa, Pentaclethra macrophylla and
Calophyllum inophyllum seed oils in rats. Food Chem. Vol. 106 (1): 458–465.
Ameh, S.J., Florence, T dan Taoheed, M.A. 2010. Physicochemical Analysis of the
Aqueous Extracts of Six Nigerian Medicinal Plants. Tropical Journal of
Pharmaceutical Research. Vol. 9 (2): 119-125.
Andriyany, Reny Septya. 2010. Pembuatan Biodiesel Dari Inti Buah Ketapang Dengan
Proses Transesterifikasi Kimiawi. Skripsi. Mataram: Fakultas MIPA, Universitas
Mataram.
dos Santos, I.C.F., de Carvalho, S.H.V., Solleti, J.I., Ferreira de La Salles, W., Teixeira
da Silva de La Salles, K., Meneghetti, S.M.P., 2008. Studies of Terminalia
catappa L. oil: Characterization and biodiesel production. Bioresour. Technol. 99,
6545–6549.
Hariani, Poedji Loekitowati; Riyanti, Fahma,; Oktaviani, Heni, 2007. Analisis Mutu
Minyak Biji Ketapang Hasil Sokletasi. J. Penelit. Sains 10, 327–334.
Janporn, S., Ho, C.T., Chavasit, V., Pan, M.H., Chittrakorn, S., Ruttarattanamongkol, K.,
Weerawatanakorn, M., 2015. Physicochemical properties of Terminalia catappa
seed oil as a novel dietary lipid source. J. Food Drug Anal. 23, 201–209.
Juniarti. 2006. Pengaruh Variasi Pelarut terhadap Mutu Minyak Biji Ketapang
(Terminalia catappa L.). Skripsi. Palembang: Fakultas MIPA, Universitas
Sriwijaya.
Mathos, L., Nzikou, J.M., Kimbonguila, A., Ndangui, C.B., Pambou-Tobi, N.P.G.,
Abena, A.A., Silou, Th., Scher, J dan Desobry, S. 2009. Composition and
Nutritional Properties of Seeds and Oil from Terminalia catappa L. Advance
Journal of Food Science and Technology. Vol. 1 (1): 72-77.
Menkiti, M.C., Agu, C.M., Udeigwe, T.K., 2015. Extraction of oil from Terminalia
catappa L.: Process parameter impacts, kinetics, and thermodynamics. Ind. Crops
Prod. 77, 713–723.
Mohale, D.S., Dewani, A.P., Chandewar, A.V., Khadse, C.D., Tripathi, A.S dan
Agrawal, S.S. 2009. Brief Review on Medicinal Potential of Terminalia catappa.
Journal of Herbal Medicine and Toxicology. Vol. 3 (1): 7-11.
Nagappa, A.N., Thakurdesai, P.A., Venkat Raob, N dan Jiwan Singh. 2003. Antidiabetic
Activity of Terminalia catappa Linn Fruits. Journal of Ethnopharmacology. Vol.
1 (88): 45–50.
Nwosu, F.O., Dosumu, O.O dan Okocha, J.O.C. 2008. The Potential of Terminalia
catappa (Almond) and Hyphaene thebaica (Dum palm) Fruits as Raw Materials
for Livestock Feed. African Journal of Biotechnology. Vol. 7 (24): 4576-4580.
Saputri, D., Fitriani, V.Y., dan Masruhim, M. A. 2013. Stabilitas Fisik dan Kimia
Minyak Biji Ketapang (Terminalia catappa L.) Selama Penyimpanan. Journal
Trop. Pharm. Chem. Vol. 2 (3): 132-145.
Suwarso, W.P., Gani, I.Y., Kusyanto, 2008. Sintesis Biodiesel dari Minyak Biji
Ketapang (Terminalia Catappa Linn.) yang berasal dari Tumbuhan di Kampus UI
Depok. J. Kim. Val. 1, 44–52.
Thomson, L.A and Evans, B. 2006. Terminalia catappa (tropical almond). Species
Profiles for Pacific Island Agroforestry. Vol. 3 (2): 1-20.
Weerawatanakorn, M., Janporn, S., Ho, C.T., Chavasit, V., 2015. Terminalia catappa
linn seeds as a new food source. Songklanakarin J. Sci. Technol. 37, 507–514.
LAMPIRAN
HASIL PENGAMATAN