Anda di halaman 1dari 10

Konsep dan cara pemberian obat

Oral
Pemberian obat melalui oral merupakan pemberian obat melalui mulut dengan tujuan mencegah,
mengobati, dan mengurangi rasa sakit sesuai dengan jenis obat.
Pemberian  obat  melalui oral
Pemberian  obat  melalui mulut  dapat  dilakukan  dengan tujuan mencegah , mengobati dan
mengurangi rasa sakit sesuai dengan efek terapi  dari jenis obat .
Persiapan alat dan  bahan :
         Daftar   buku  obat / catatan, jadwal pemberian obat.
         Obat  dan tempatnya
         Air minum  dalam tempatnya
Prosudur  kerja
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan pada pasien  mengenai prosedur  yang akan dilakukan .
3.      Baca obat, dengan berperinsip tepat obat ,tepat pasien , tepat dosis, tepat  waktu, dan tepat
tempat.
4.      Bantu  untuk meminumkannya dengan cara
a.       Apabila memberikan obat  berbentuk tablet  atau kapsul  dari botol,  maka   tobat. Jangan sentuh
obat dengan tangan untuk obat berupa kapsul  jangan  dilepaskan  pembungkusnya.
b.      Kaji kesulitan menelan  bila ada, jadikan tablet  dalam bentuk bubuk  dan  campuran  dengan
minuman.
c.       Kaji denyut  nadi  dan tekanan darah sebelum  pemberian obat yang membutuhkan  pengkajian .
5.      Catat perubahan  dan reaksi  terhadap pemberian . evaluasi  respons terhadap obat denngan
mencatat hasil pemberian obat
6.      Cuci tangan

Melalui parenteral
Istilah parenteral mempunyai arti setiap jalur pemberian obat selain melalui enteral atau
saluran pencernaan. Lazimnya, istilah parenteral dikaitkan dengan pemberian obat secara injeksi
baik intradermal, subkutan, intramuscular, atau intravena. Pemberian obat secara parenteral
mempunyai aksi kerja lebih cepat disbanding dengan secara oral.
Namun, pemberian secara parenteral mempunyai berbagai resiko antara lain merusak
kulit, menyebabkan nyeri pada pasien, salah tusuk dan lebih mahal. Demi keamanan pasien,
salah tusuk dan mahal. Demi keamanan pasien, perawat harus mempunyai pengetahuan yang
memadai tentang cara pemberian obat secara parenteral termasuk cara menyiapkan, memberikan
obat dan menggunakan teknik steril.
Dalam memberikan obat secara parenteral, parawat harus mengetahui dan dapat
menyiapkan peralatan yang benar yaitu alat suntik (spuit/syringe), jarum, vial dan ampul).
Menurut bentuknya spuit mempunyai tiga bagian yaitu ujung yang berkaitan dengan jarum,
bagian tabung dan bagian pendorong obat    
Dilihat dari bahan pembuatannya spuit dapat berupa spuit kaca (jarang digunakan)
dan spuit plastik (disposable). Ditinjau dari penggunaannya spuit dapat dibedakan
menjadi tiga jenis yaitu spuit standard hipodermik, spuit insulin dan spuit tuberculin
Jarum merupakan alat pelengkap spuit. Jarum injeksi terbuat dari bahan stainless yang
mempunyai ukuran panjang dan besar yang bervariasi. Jarum mempunyai ukuran panjang yang
berkisar antara 1,27 sampai dengan 12,7 cm. besar jarum di nyatakan dengan satuan gauge antara
nomor 14 sampai dengan 28 gauge. Semakin besar ukuran gauge-nya semakin kecil diameternya.
Diameter yang besar dapat menimbulkan rasa sakit saat ditusukkan. Penggunaan ukuran jarum
ini disesuaikan dengan keadaan pasien yang meliputi umur, gemuk/kurus, jalur yang akan
dipakai dan obat yang akan dipakai dan obat yang akan dimasukkan.
Cairan obat untuk diberikan secara parenteral, biasanya dikemas dalam ampul atau vial Ampul
biasanya terbuat dari bahan gelas. Sebagian besar leher ampul mempunyai tanda berwarna
melingkar yang dapat dipatahkan. Bila bagian leher tidak
Mempunyai tanda berarti bagian pangkal leher harus digergaji dengan
gergaji ampul sebelum dipatahkan. Vial mempunyai ukuran yang bervariasi. Bagian penutupnya
biasanya terbuat dari plastik yang dilindungi dengan bagian logam.
Vial dibuka dengan cara membuka logam tipis penyegel bagian atas vial sehingga bagian karet
akan kelihatan. Cairan obat diambil dengan cara menusuk jarum spuit pada karet penutup vial.
Untuk lebih jelasnya bacalah cara kerja menyiapkan obat dari ampul dan vial.

Cara kerja menyiapkan obat dari ampul dan vial :


Siapkan peralatan yang meliputi :
a.       Vial atau ampul yang berisi cairan obat steril
b.      Kapas alcohol
c.       Jarum dan spuit sesuai ukuran yang dibutuhkan
d.      Air steril atau normal salin bila diperlukan
e.       Kassa pengusap
f.       Turniket untuk injeksi antravena
g.      Kartu obat atau catatan rencana pengobatan.
Periksa dan yakinkan bahwa order pengobatan dan cara pemberiannya telah akurat.
Siapkan ampul atau vial yang berisi obat sesuai yang diperlukan dan kemudian buka dengan cara
sebagai berikut :  

a. untuk ampul ; pegang ampul dan bila cairan obat banyak terletak di bagian kepala,
jentiklah kepala ampul atau putar ampul beberapa kali sehingga obat akan turun ke
bawah. Bila perlu bersihkan bagian leher ampul. Ambil kassa steril letakkan diantara
ampul dan ibu jari dengan jari- jari anda kemudian patahkan leher ampul kea rah
berlawanan dengan anda.
b. Untuk vial ; Bila perlu campur larutan dengan memutar- mutar vial dalam genggaman
anda (bukan dengan mengocok). Buka logam penyegel kemudian disinfeksi karet vial
dengan kapas alcohol 70 %. 

Ambil cairan obat dengan cara sebagai berikut :


a. Untuk obat dalam ampul ; sebaiknya gunakan jarum berfilter. Buka penutup jarum
kemudian secara hati- hati masukkan jarum yang sesuai yang si butuhkan. Bila spuit akan
digunakan untuk injeksi, ganti jarum filter dengan jarum biasa.
b. Untuk obat dalam vial ; Pasang jarum berfilter pada spuit, buka penutup jarum dan tarik
pengokang spuit agar udara masuk ke tabung spuit agar udara masuk ke tabung spuit.
Secara hati- hati tusukkan jarum di tengah karet penutup vial lalu masukkan udara.
Pertahankan jarum tidak menyentuh cairan obat sehingga udara tidak membuat
gelembung. Pegang vial sejajar dengan mata vial tarik obat secukupnya secara hati- hati.
Tarik spuit dari vial kemudian tutup jarum dengan kap penutup lalu ganti jarum pada
spuit dengan jarum biasa.
c. Bila obat berbentuk bubuk (powder), bacalah cara pengunaannya. Obat injeksi bentuk
bubuk harus dibuat dalam larutan dulu sebelum diambil. Untuk membuat larutan obat
bubuk maka sebelum dibuat larutan, hisap udara dalam vial, yang berisi obat tersebut
dengan spuit 9kecuali untuk obat yang tidak diperbolehkan). Masukkan air steril atau
cairanlain sesuai yang dibutuhkan kedalamnya, kemudian putar- putar vial sampai obat
menjadi larutan. Bila obat merupakan multidosis, beri label pada vial tersebut tentang
tanggal dicampur, banyaknya obat dalam vial dan tanda tangan anda. Bila perlu
disimpan, baca cara penyimpanannya sesuai yang dianjurkan oleh pabrik farmasi.
d. Bila obat perlu dicampur dari beberapa vial misalnya dua vial, maka perawat harus
berupaya mencegah tercampurnya obat pada kedua vial tersebut. Cara mencampur obat
dari dua vial adalah : masukkan udara secukupnya pada vial A dan jaga jarum tidak
menyentuh cairan. Lalu cabut jarum kemudian hisap udara secukupnya lalu masukkan
pada vial B. Hisap cairan obat B sesuai yang diperlukan kemudian cabut spuit tersebut.
Ganti jarum kemudian tusukkan pada vial A dan hisap cairan obat dari vial A sesuai yang
diperlukan berikutnya cabut spuit dari vial A.

Melalui supositoria
Pemberian obat suppositoria adalah cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui
anus atau rektum dalam bentuk suppositoria. Organ-organ yang dapat diberi obat suppositoria
adalah rectum dan vagina.
bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat, menjadikan lunak pada daerah feses dan
merangsang buang air besar.
Persiapan Alat
a.       Obat sesuai yang diperlukan (krim, jelly, foam, supositoria)
b.      Aplikator untuk krim vagina
c.       Pelumas untuk supositoria
d.      Sarung tangan sekali pakai
e.       Pembalut
f.       Handuk bersih
g.      Gorden / sampiran

Fase Kerja
1.      Menjelaskan kepada pasien tujuan tindakan yang akan dilakukan.
2.      Memebritahukan prosedur tindakan yang akan dilakukan.
3.      Menutup jendela, korden, dan memasang sampiran atau sketsel bila perlu.
4.      Menganjurkan orang yang tidak berkepentingan untuk keluar ruangan.
5.      Periksa kembali order pengobatan mengenai jenis pengobatan waktu, jumlah dan dosis obat.
6.      Siapkan klien
Identifikasi klien dengan tepat dan tanyakan namanya
Berikan penjelasan pada klien dan jaga privasi klien
Atur posisi klien dalam posisi sim dengan tungkai bagian atas fleksi ke depan
Tutup dengan selimut mandi, panjangkan area parineal saja
7.      Kenakan sarung tangan
8.      Buka supositoria dari kemasannya dan beri pelumas pada ujung bulatan dengan jeli, beri
pelumas sarung tangan pada jari telunjuk dan tangan dominan anda.
9.      Minta klien untuk menarik nafas dalam melalui mulut dan untuk merelaksasikan sfingterani.
Mendorong supositoria melalui spinter yang kontriksi menyebabkan timbulnya nyeri
10.  Regangkan bokong klien dengan tangan dominan, dengan jari telunjuk yang tersarungi, masukan
supusitoria ke dalam anus melalui sfingterani dan mengenai dinding rektal 10 cm pada orang
dewasa dan 5 cm pada bayi dan anak-anak.
Anak supositoria harus di tetapkan pada mukosa rectum supaya pada kliennya di serap dan
memberikan efek terapeutik
11.  Tarik jari anda dan bersihkan areal anal klien dcngan tisu.
12.  Anjurkan klien untuk tetap berbaring terlentang atau miring selama 5 menit untuk mencegah
keluarnya suppositoria
13.  Jika suppositoria mengandung laktosit atau pelunak fases, letakan tombol pemanggil dalam
jangkauan klien agar klien dapat mencari bantuan untuk mengambil pispot atau ke kamar mandi
14.  Buang sarung tangan pada tempatnya dengan benar
15.  Cuci tangan
16.  Kaji respon klien
17.  Dokumentasikan seluruh tindakan.

IM
Pemberian obat intramskular dilakukan dengan cara memasukan obat kedalam jaringan otot.
Lokasi penyuntikan adalah pada daerah paha (vastus lateralis), ventrogluteal (dengan posisi
berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan atas (deltoid). Tujuan pemberian obat
dengan cara ini adalah agar absorpsi obat lebih cepat.
Persiapa alat dan bahan :
a.       Daftar buku obat / catat, jadwal pemberian obat
b.      Obat dalam tempatnaya
c.       Spuit dan jarum sesuai dengan ukurannya : untuk orang dewasa, panjang nya 2,5-3,7 cm;
sedangkan untuk anak , panjangnya 1,25-2,5 cm
d.      Kapas alcohol dalam tempatnya
e.       Cairan pelarut
f.       Bak injeksi
g.      Bengkok
Perosedur kerja:
1.      Cuci tangan
2.      jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3.      ambil obat kemudian masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosis. Setelah itu letakkan pada
bak injeksi
4.      periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan.
5.      Disinfeksi dengan kapas alcohol pada tempat yang akan dilakukan penyuntikan
6.      Dilakukan  penyuntikan
7.      Lakukan penusukan menggunakan jarum dengan posisi tegak lurus
8.      Setelah jarum masuk , lakukan aspirasi spuit.bila tidak ada darah, semperotkan obat secara
perlahan-lahan hingga habis
9.      Setelah selesai, ambil spuit dengan menariknya, tekan daerah penyuntikan dengan kapas alcohol,
kemudian letekkan spuit yang telah digunakan pada bengkok
10.  Catat reaksi pemberian , jumlah dosis obat, dan waktu pemberian
11.  Cuci tangan

IV
Memberikan obat secara langsung, diantaranya vena mediana cubitus / cephalika (daerah
lengan), vena frontalis / temporalis di daerah frontalis dan temporal dari kepala. Tujuanya agar
reaksi berlangsung cepat dan langsung masuk pada pembuluh darah.
Alat dan Bahan
a.       Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran
b.      Obat dalam tempatnya
c.       Selang intravena
d.      Kapas alcohol
Prosedur kerja
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.      Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian masukan ke dalam spuit
4.      Cari tempat penyuntikan obat pada daerah selang intravena
5.      Lakukan disinfeksi dengan kapas alcohol dan stop aliran
6.      Lakukan penyuntikan dengan memasukan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan
masukan obat perlahan lahan ke dalam selang intravena
7.      Setelah selesai tarik spuit
8.      Periksa kecepatan infus dan observasi reaksi obat
9.      Cuci tangan
10.  Catat obat yang telah diberikan dan dosisnya

IC
Memberikan  atau memasukkan obat kedalam jaringan kulit  dilakukan sebagai tes  reaksi alergi 
terhadap jenis obat  yang akan digunakan .  pemberian obat  melalui  jaringan intrakutan  ini
dilakukan di bawah dermis  atau epidermis secara umum, dilakukan pada daaerah lengan , tangan
bagian venteral.
Persiapan  alat dan bahan :
a.       Daftar buku obat /catatan, jadwal pemberian obat.
b.      Obat dalam tempatnya.
c.       Spuit  1cc /spuit insulin
d.      Kapas alkhol dalam tempatnya.
e.       Cairan pelarut
f.       Bak seteril dilapisi kas steril
g.      Bengkok
h.      Perlak dan alasanya

Prosedur kerja :
1.      Cuci  tangan
2.      Jelaskan pada pasien mengenai prosedur  yang akan dilakukan
3.      Bebaskan daerah yang akan disuntik.bila menggunakan baju lengan panjang, buka dan ke
ataskan.
4.      Pasang perlak di bawah bagian yang di suntik.
5.      Ambil obat untuk tes alergi ,kemudian larutkan / encerkan dengan akuades (cairan pelarut).
Selanjutnya , ambil 0,5 cc dan encerkan lagi sampai    1 cc lalu siapkan pada bak injeksi atau
seteril
6.      Desinfeksi dengan kapas alcohol pada daerah yang disuntik
7.      Tegangkan daerah yang akan disuntik dengan tangan kiri.
8.      Lakukan penusukan dengan lubang mennghadap ke atas yang sudutnya 15-20   terhadap
permukaan kulit.
9.      Semperotkan obat hingga terjadi gelembung
10.  Tarik supit dan tidak boleh dilakukan massage
11.  Cuci tangan
12.  Catat reaksi pemberian , hasil pemberian obat / tes obat, tanggal, waktu, dan jenis obat

Melalui sublingual
Adalah obat yang cara pemberiannya ditaruh di bawah lidah.• Tujuannya adalah agar efek yang
ditimbulkan bisa lebih cepat karena pembuluh darah di bawah lidah merupakan pusat dari sakit.•
Kelebihan dari cara pemberian obat dengan sublingual adalah efek obat akan terasa lebih cepat
dan kerusakan obat pada saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari.
Persiapan Alat :
a.      Obat yang telah ditentukan dalam tempatnya.
Cara kerja
1.      Beri obat kepada pasien
2.      Beritahu pasien agar meletakkan obat pada bagian bawah lidah hingga larut seluruhnya.
3.      Anjurkan pasien agar tetap menutup mulutnya, tidak minum dan tidak berbicara selama obat
belum larut seluruhnya.

Melalui mata
Pemberian obat pada mata dengan  obat tetes mata atau salep mata digunakan untuk persiapan
pemeriksaan struktur internal mata dengan mendilatasi pupil, pengukuran refraksi lensa dengan
melemahkan otot lensa, serta penghilangan iritasi mata.
Persiapan alat dan bahan:
b.      Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep.
c.       Pipet
d.      Pinset anatomi dalam tempatnya
e.       Korentang dalam tempatnya
f.       Plester
g.      Kain kasa
h.      Kertas tisu
i.        Balutan
j.        Sarung tangan
k.      Air hangat / kapas pelembat.

Prosedur keja:
1.      Cuci tangan
2.      Jelskan pada pasien, mengenai prosedur yang dilakukan
3.      Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dengan posisi perawat di samping kanan
4.      Gunakan sarung tangan
5.      Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembat dari sudut mata k arahhidung
apabila sangat kotor,   basuh dengan air hangat.
6.      Buka mata dengan menekan perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari,jari telunjuk di atas
tulang orbita.
7.      Teteskan obat mata di atas sakus konjugtiva. Setelah tetesan selesai sesuai dengan dosis,
anjurkan pasien untuk menutup mata dengan perlahan-lahan, apabila menggunakan obat tetes
mata.
8.      Apabila obat mata jenis salep pengang aflikator salep di atas pinggir kelopak mata kemudian
pencet tube sehingga obat keluar dan berikan obat pada kelopak mata bawah.setelah selesai,
anjurkan pasien untuk melihat ke bawah , secara bergantian dan berikan obat pada kelopak mata
bagian atas.biarkan pasien untuk memejamkan mata dan menggerakan kelopak mata
9.      Tutup mata dengan kasa bila perlu.
10.  Cuci tangan
11.  Catat obat, jumlah, waktu, dan tempat pemberian . 

Melalui telinga
Memberiakan obat pada telinga dilakukan dengan obat tetes pada telinga atau salep. Pada
umumnya, obat tetes telinga yang dapat  berupa obat antibiotik diberiakan pada gangauan
infeksi  telinga. Khususnya otitis media pada telinga tengah.
Persiapan alat dan bahan  :
a.       Obat dalam tempatnya
b.      Penetes
c.       Spekulum telinga
d.      Pinset anatomi dalam tempatnya
e.       Korentang dalam tempatnya
f.       Plester
g.      Kain kasa
h.      Kertas tisu
i.        Balutan
Prosedur  kerja :
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan pada pasien , mengenai prosedur  yang akan dilakukan
3.      atur posisi pasien dengan kepala miring ke kanan atau ke kiri sesuai dengan daerah yang akan
diobati , usahakan agar lubang telinga pasien ke atas.
4.      Lurusakan lubang telinga denger menarik daun telinga ke atas atau ke belekang pada orng
dewasa dan k bawah pada anak
5.      Apabila obat berupa obat tetes, maka teteskan obat dengan jumlah tetesan sesuai dosisi pada
dinding saluaran untuk mencegah terhalang oleh gelembung udara
6.      Aoabila berupa salep, maka ambil kapas lidi dan masukkan atau oleskan salep pada liang telinga
7.      Pertahankan posisi kepala  2-3m
8.      Tutup telinga dengan pembalut dan plester kalau perlu
9.      Cuci tangan
10.  Catat jumalah, tanggal,dan dosis pemberian.

Melalui hidung
Pemberian obat tetes hidung dapat dilakukan pada hidung seseorang dengan keradangan hidung
(rhinitis) atau nasofaring.
Persiapan alat dan bahan
a.       Obat dalam tempatnya
b.      Pipet
c.       Spekulum hidung
d.      Pinset anatomi pada tempatnya
e.       Korentang dalam tempatnya
f.       Plester
g.      Kain kasa
h.      Kertas tisu
i.        Balutan
Prosedur  kerja :
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan pada pasien, mengenai prosedur yang akan dilakukan
3.      Atur posisi pasien dengan cara :
4.      Berikan tetesan obat  sesuai dengan dosis pada tiap lubang hidung
5.      Pertahankan posisi kepala tetap tengadah ke belakang  selama  5 m
6.      Cuci tangan
7.      Catat cara tanggal, dan dosis pemberian obat

Melalui Bukal
Pemberian obat secara bukal adalah memberika obat dengan cara meletakkan obat diantara gusi
dengan membran mukosa diantara pipi
Prosedur kerja
Secara umum persiapan dan langkah pemberian sama dengan pemberian obat secara oral. Yang
perlu diperhatikan adalah klien perlu diberikan penjelasan untuk meletakkan obat diantara gusi
dan selaput mukosa pipi sampai habis diabsorbsi seluruhnya.

Melalui topical
Pemberian obat dengan cara mengoleskan obat pada permukaan kulit atau membran mukosa,
dapat pula dilakukan melalui lubang yang terdapat pada tubuh (anus).
Obat yang biasa digunakan untuk pemberian obat topical pada kulit adalah obat yang berbentuk
krim, lotion, atau salep.
DISKUSI I
 Pasien fulan 35 tahun diagnose medis thypoid program terapi dokter : cefotaxim 3 x 125 mg IV ,
vitamin B complex 2 x 1 amp IM , sebelumnya pasien belum pernah mendapat terapi antibiotic
cefotaxim .

DISKUSI II
 Anak bebey diagnosis medis thypoid mendapat therapy dokter cefotaxim 3 x 125 mg IV .

TUGAS DISKUSI
a.       Jelaskan program pemberian obat ( melalui apa ) pada kasus 1 & 2 bagaimana caranya , dimana
lokasinya , berapa dosis pemberian obat (ml) pada pasien tersebut.
b.      Hal – hal apasaja yang perlu diperhatikan pada kasus 1 & 2 dalam program therapy pemberian
obat.
c.       Adakah data yang kurang lengkap pada kasus 1 dan 2 dalam hal pemberian obat.

JAWABAN :
a.       Jelaskan program pemberian obat pada kasus 1 & 2 bagaimana caranya, dimana lokasinya ,
berapa dosis pemberian obat :
1.      Sebelumnya pasien di cek dulu alergi terhadap antibiotic cefotaxim dengan IC letak di bawah
kulit yang tidak berpembuluh darah lingkari dan tulis jam setelah 15 menit lihat ada alergi
antibiotic tersebut atau tidak.
Dosis sehari pasien tersebut mendapat:
pagi 1 ampul cefotaxim IV dan 1 ampul B complek IM
siang hari pasien diberikan 1 ampul cefotaxim IV dan 1 ampul B complex IM
malam hari 1 ampul cefotaxim.
Pada IM di suntikan pada daerah bokong , sedangkan IV di vena apabila terdapat slang infus
masukan ke slang infus.
2.      Sebelumnya anak bebey di cek dulu alergi terhadap antibiotic cefotaxim dengan IC letak di
bawah kulit yang tidak berpembuluh darah lingkari dan tulis jam setelah 15 menit lihat ada alergi
antibiotic tersebut atau tidak.
Pemberian IV pada bayi disuntikan pada slang infus .
Dosis : 1 gr = 1000mg dioplos 10 cc
Jadi : 10 cc = 1000 mg
125 = 1000
X 10
1000 X = 1250
X = 1250
1000
X = 1.25 cc
Diberikan selama 3x sehari tiap 8 jam , dosisnya 1,25 cc setiap kali pemberian . secara suntikan
intravena lewat pembuluh darah vena .

b.      Hal yang perlu di perhatikan pada kasus 1 & 2 dalam pemberian therapy obat :
1.      Harus memperhatikan 5 tepat atau 5 benar
5 tepat pemberian dosis :
         Tepat nama pasien nya
         Tepat pemberian nama obat
         Tepat dosis obat
         Tepat cara pemberian obat
         Tepat waktu pemberian
2.      Pada bayi harus diketahui berat badan , dan umur untuk mempermudah pemberian dosis.

c.       Adakah data yang kurang tepat dalam kasus 1 & 2 dalam pemberian obat :
1.      Dalam pernyataan 1 :
2.      Dalam pernyataan 2 : kurang data berat badan , umur .