Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

MATAKULIAH MATERNITAS I
AMENORRHEA

DISUSUN OLEH KELOMPOK 4:

CHALLISTA D.F.I.R TADUNG


DITA FARADILLA
HESTI ELVINA
MAWAR MELANIA UMRAH

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
2019/2020

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Mahaesa , karena
atas berkat dan rahmatnya penulis dapat menulis makalah ini yang berjudul
‘AMENORRHEA” hingga selesai. Meskipun dalam makalah ini penulis
mendapat banyak yang menghalangi, namun mendapat pula bantuan dari beberapa
pihak baik secara moral, materil maupun spiritual.

Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih pada dosen pembimbing
serta semua pihak yang telah memberikan sumbangan dan saran atas selesainya
penulisan makalah ini.Di dalam penulisan makalah ini kami menyadari bahwa
masih ada kekurangan-kekurangan mengingat keterbatasannya pengetahuan dan
pengalaman kami.Oleh sebab itu, sangat di harapkan kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun untuk melengkapkan makalah ini dan berikutnya.

Jayapura, 19
september 2019

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................................1
BAB I.........................................................................................................................................3
PENDAHULUAN......................................................................................................................3
1. Latar belakang....................................................................................................................3
2. rumusan masalah................................................................................................................3
3. tujuan..................................................................................................................................3
BAB II........................................................................................................................................4
PEMBAHASAN........................................................................................................................4
1.1 Definisi amonerrhea.........................................................................................................4
1.2 faktor-faktor yang mempeengaruhi terjadinya Amonerrhea............................................5
1.3 Klasifikasi amonerrhea....................................................................................................6
1.4 Etiologi amonerrhea.........................................................................................................6
1.5 Manifestasi Klinis.............................................................................................................7
1.5 Patofisiologi.....................................................................................................................8
1.6 Komplikasi.......................................................................................................................8
1.7 Pemeriksaan penunjang....................................................................................................8
1.8 Terapi penanganan Amonerrhea......................................................................................9
BAB III.....................................................................................................................................10
PENUTUP................................................................................................................................10
SIMPULAN..........................................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................11
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Wanita normal akan mengalami siklus Menstruasi normal secara periodik


sehingga perubahan siklus mentsruasi yang tidak normal akan menggangu seorang
wanita terutama pada kondisi dimana haid atau datang bulang datang lebih sering,
tidak teratur, terjadi dalam siklus yang lebih lama, lebih pendek dan pada kondisi
tertentu wanita bahkan tidak haid sama sekali. Pada beberapa kondisi, gangguan
haid bahkan dapat mengakibatkan nyeri pada bagian perut dengan durasi panjang
dan juga pendek. Gangguan ini akan dialami seluruh wanita selama hidup
terutama pada masa Reproduksi remaja, Sisi Peralihan dan Klimakterium.

Saat umur wanita di atas umur 16 tahun belum mengalami menstruasi ataupun
pada wanita yang sudah mengalami menstruasi tetapi setelah itu tidak mengalami
menstruasi kembali, maka kemungkinan wanita tersebut mengalami Amenorrhea.

Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai apa yang dimaksud
Amenorrhea, yang merupakan salah satu gangguan siklus menstruasi,
klasifikasinya, bagaimana gejala klinisnya, apa penyebabnya, sampai kepada
pengobatannya.

2. rumusan masalah

1. Bagaimana konsep dasar Amenorrhea?


2. Apa saja klasifikasi amenorrhea?
3. Apa penyebab terjadinya amenorrhea pada wanita usia reproduksi?
4. Apakah amenorrhea dapat menyebabkan kemandulan pada wanita?
5. Bagaimana patofisiologi amenorrhea?
6. Bagaimana penerapan pengobatan yang tepat terkait amenorrhea?
3. tujuan

1. mengetahui konsep dasar amenorrhea.


2. Mengetahui tentang definisi, etiologi, klasifikasi, penyebab, patofisiologi,
dan penerapan pengobatan terkait Amenorrhea.
3. menambah wawasan baru mengenai salah satu gangguan siklus menstruasi
pada wanita dan dapat dijadikan referensi sebagai bahan bacaan tambahan.

BAB II

PEMBAHASAN

1.1 Definisi amonerrhea

Haid (Menstruasi) adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari


uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium. Panjang siklus  Menstruasi
ialah jarak antara tanggal mulainya Menstruasi yang lalu dan mulainya Menstruasi
berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Panjang
siklus Menstruasi yang normal atau dianggap sebagai siklusMenstruasi yang
klasik ialah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa
wanita tetapi juga pada wanita yang sama. Juga pada kakak beradik bahkan
saudara kembar, siklusMenstruasi tidak terlalu sama. Dari pengamatan Hartman
yang dikutip dari  Wiknjosastro (2012), panjang siklus yang biasa dijumpai ialah
25 – 32 hari.Lama Menstruasi biasanya antara 3 – 5 hari, ada yang 1 – 2 hari
diikuti darah sedikit-sedikit kemudian, ada yang sampai 7 – 8 hari. Pada setiap
wanita biasanya lama Menstruasi itu tetap. Jumlah darah yang keluar rata-rata ±
16 cc. Pada wanita yang lebih tua biasanya darah yang keluar lebih banyak.
Jumlah darah Menstruasi yang lebih dari 80 cc di anggap patologik (Wiknjosastro,
2012).

Amenorrhea adalah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan


berturut-turut. Lazim diadakan pembagian antara amenorrhea primer dan
amenorrhea sekunder. Kita berbicara tentang amenorrhea primer apabila seorang
wanita berumur 18 tahun keatas tidak pernah mendapat haid, sedang pada
amenorrhea sekunder penderita pernah mendapat haid, tetapi kemudian tidak
dapat lagi (Wiknjosastro,2008).

Amenorrhea adalah tidak ada atau berhentinya menstruasi secara abnormal


yang diiringi penurunan berat badan akibat diet penurunan berat badan dan nafsu
makan tidak sehebat pada anoreksianervosa dan tidak disertai problem psikologik
(Kumala, 2005).

A. Primer
1. Tidak mengalami menstruasi hingga usia 14 tahun, walaupun telah ada
perkembangan dan pertumbuhan normal karakteristik seksual skunder.
Menstruasi biasanya dimulai 12 bulan setelah tumbuh rambut pubis.
2. Tidak mengalami menstruasi hingga usia 16 tahun, terlepas dari
perkembangan dan pertumbuhan normal, serta munculnya karakteristik
seksual skunder.

B. Sekunder
Tidak mengalami menstruasi selama lebih dari 6 bulan pada wanita
yang telah mengalami siklus menstruasi.
1.2 faktor-faktor yang mempeengaruhi terjadinya Amonerrhea

1. Faktor Internal

a.  Organ Reproduksi


Faktor yang mempengaruhi amenorrhea adalah vagina tidak tumbuh dan
berkembang dengan baru, rahim yang tidak tumbuh, indung telur yang tumbuh.
Tidak jarang ditemukan kelainan lebih kompleks pada rahim atau rahim tidak
tumbuh dengan sempurna.Kelainan ini disebut ogenesis genitalis bersifat
permanen artinya wanita tersebut tidak akan mendapatkan haid selama-lamanya
(Pardede,2002).

b.  Hormonal
Alat reproduksi wanita merupakan alat akhir (endogen) yang dipengaruhi
oleh sistem hormonal yang komplek. Rangsangan yang datang dari luar masuk
dipusat panca indra diteruskan melalui Striaeterminalis menuju pusat yang disebut
“Puberitas Inhibitor” dengan hambatan tersebut tidak terjadi rangsangan terhadap
hypotalamus, yang akan memberikan rangsangan pada “Hipofise Pars Posterior”
sebagai “Mother of Glad” (Pusat kelenjar-kelenjar). Rangsangan yang terus
menerus datang di tangkap panca indra, dengan makin selektif dapat lolos menuju
hypotalamus dan selanjutnya terus menuju hipofise anterior (depan)
mengeluarkan hormon yang dapat merangsang kelenjar untuk mengeluarkan
hormon yang dapat merangsang kelenjar untuk mengeluarkan hormon spesifiknya
yaitu kelenjar tyroid memproduksi hormon tiroksin, kelenjar indung telur
memproduksi hormon estrogen dan progesteron, sedangkan kelenjar adrenal
menghasilkan hormon adrenalin. Pengeluaran hormon spesifik sangat penting
untuk tumbuh kembang mental dan fisik (Pardede, 2002).

c.  Penyakit
Beberapa penyakit kronis yang menjadi penyebab terganggunya siklus haid,
Kanker payudara dan lain-lain. Kelainan ini menimbulkan berat badan yang
sangat rendah sehingga datangnya haid akan terganggu (Suhaemi, 2006).

2. Faktor Eksternal

a. Status Gizi
Kecukupan pangan yang esensial baik kualitas maupun kuantitas sangat
penting untuk siklus menstruasi. Setiap orang dalam siklus hidupnya selalu
membutuhkan dan mengkonsumsi berbagai bahan makanan yang mengandung zat
gizi. Zat gizi mempunyai nilai yang sangat penting yaitu untuk memelihara proses
tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan (Soetjiningsih, 2004).
b. Gaya Hidup
Gaya hidup terutama perilaku makan dengan porsi yang cukup dan sesuai
jadwal serta mengandung gizi seimbang ( 4 sehat 5 sempurna) dapat
menyebabkan kondisi tubuh terasa fit dan terhindar dari kekurangan gizi sehingga
siklus menstruasi berjalan normal (Soetjiningsih, 2002).

1.3 Klasifikasi amonerrhea

Klasifikasi amenorrhea adalah sebagai berikut:

1. Amenorrheaprimer
Amenorrhea primer mengacu  pada masalah ketika wanita muda yang
berusia lebih dari 16 tahun belum mengalami menstruasi tetapi telah
menunjukkan maturasi seksual, atau menstruasi mungkin tidak terjadi
sampai usia 14 tahun tanpa disertai adanya karakteristik seks sekunder.
 Kromosom abnormal
 Defek anatomis
a) Himen imperforate
b) Agenesis vagina
 Stress emosional
 Aktivitas berlebihan
 Bulimia atau anoreksia

2. Amenorrheasekunder 
Amenorrhea sekunder adalah tidak adanya haid selama 3 siklus atau 6
bulan setelah menstruasi normal pada masa remaja, biasanya disebabkan
oleh gangguan emosional minor yang berhubungan dengan berada jauh
dari rumah, masuk ke perguruan tinggi, ketegangan akibat tugas-tugas.
Penyebab kedua yang paling umum adalah kehamilan, sehingga
pemeriksaan kehamilan harus dilakukan.
a) Kehamilan
b) Menopause
c) Gangguan kelenjar hipofisis
d) Obesitas
e) Gangguan pola makan
f) Aktivitas berlebihan
g) Penurunan berat badan dalam waktu cepat
h) Stress
i) Penyakit ovarium polokistik
j) Beberapa obat, termasuk Depo-Provera

1.4 Etiologi amonerrhea

Penyebab Amenorrhea secara umum adalah:

a) Hymen Imperforata : Selaput darah tidak berlubang sehingga darah


menstruasi terhambat untuk keluar.
b) Menstruasi Anavulatori : Rangsangan hormone – hormone yang tidak
mencukupi untuk membentuk lapisan dinding rahim sehingga tidak terjadi
haid atau hanya sedikit.
 Disfungsi Hipotalamus : kelainan organik, psikologis, penambahan berat
badan
 Disfungsi hipofise : tumor dan peradangan
 Disfungsi Ovarium : kelainan congenital, tumor
 Endometrium tidak bereaksi

c) Penyakit lain : penyakit metabolik, penyakit kronik, kelainan gizi, kelainan


hepar dan ginjal.

1.5 Manifestasi Klinis

 Tanda dan gejala yang muncul diantaranya :

 Tidak terjadi haid


 Produksi hormon estrogen dan progesteron menurun.
 Nyeri kepala
 Badan lemah

Tanda dan gejala tergantung dari penyebabnya :

 Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, maka tidak akan


ditemukan tanda – tanda pubertas seperti pembesaran payudara,
pertumbuhan rambut kemaluan dan rambut ketiak serta perubahan bentuk
tubuh.

 Jika penyebanya adalah kehamilan, akan ditemukan morning sickness dan


pembesaran perut.
 Jika penyebabnya adalah kadar hormon tiroid yang tinggi maka gejalanya
adalah denyut jantung yang cepat, kecemasan, kulit yang hangat dan
lembab.

 Sindroma Cushing menyebabkan wajah bulat ( moon face ), perut buncit,


dan lengan serta tungkai yang lurus.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada amenore :

 Sakit kepala
 Galaktore ( pembentukan air susu pada wanita yang tidak hamil dan tidak
sedang menyusui )
 Gangguan penglihatan ( pada tumor hipofisa )
 Penurunan atau penambahan berat badan yang berarti
 Vagina yang kering
 Hirsutisme ( pertumbuhan rambut yang berlebihan, yang mengikuti pola
pria ), perubahan suara dan perubahan ukuran payudara.

1.5 Patofisiologi

Disfungsi hipofise terjadi gangguan pada hipofise anterior gangguan dapat


berupa tumor yang bersifat mendesak ataupun menghasilkan hormone yang
membuat menjadi terganggu. Kelainan kompartemen IV (lingkungan) gangguan
pada pasien ini disebabkan oleh gangguan mental yang secara tidak langsung
menyebabkan terjadinya pelepasan neurotransmitter seperti serotonin yang dapat
menghambat pelepasan gonadrotropin.Kelainan ovarium dapat menyebabkan
amenorrhea primer maupun sekuder. Amenorrhea primer mengalami kelainan
perkembangan ovarium ( gonadal disgenesis ). Kegagalan ovarium premature
dapat disebabkan kelainan genetic dengan peningkatan kematian folikel, dapat
juga merupakan proses autoimun dimana folikel dihancurkan. Melakukan
kegiatan yang berlebih dapat menimbulkan amenorrhea dimana dibutuhkan kalori
yang banyaksehingga cadangan kolesterol tubuh habis dan bahan untuk
pembentukan hormone steroid seksual ( estrogen dan progesteron ) tidak
tercukupi.

Pada keadaaan tersebut juga terjadi pemecahan estrogen berlebih untuk


mencukupi kebutuhan bahan bakar dan terjadilah defisiensi estrogen dan
progesteron yang memicu terjadinya amenorrhea.Pada keadaan latihan berlebih
banyak dihasilkan endorphin yang merupakan derifat morfin.Endorphin
menyebabkan penurunan GnRH sehingga estrogen dan progesterone
menurun.Pada keadaan tress berlebih cortikotropin realizinghormone dilepaskan.
Pada peningkatan CRH terjadi opoid yang dapat menekan pembentukan GnRH.

1.6 Pathway

1.7 Komplikasi

Komplikasi yang paling ditakutkan adalah infertilitas. Komplikasi lainnya adalah


tidak percaya dirinya penderita sehingga dapat mengganggu kompartemen IV dan
terjadilah lingkaran setan terjadinya amenorrhea.Komplikasi lainnya muncul
gejala-gejala lain akibat hormon seperti osteoporosis.

1.8 Pemeriksaan penunjang

a) Pada amenorrhea primer, apabila didapatkan adanya perkembangan seksual


sekunder maka diperlukan pemeriksaan organ dalam  reproduksi (indung
telur, rahim, perlekatan dalam rahim) melalui pemeriksaan :

 USG
 Histerosalpingografi
 Histeroskopi, dan
 Magnetic Resonance Imaging (MRI).

b) Apabila tidak didapatkan tanda-tanda perkembangan seksualitas sekunder


maka diperlukan pemeriksan kadar hormon FSH (Follicle Stimulating
Hormone) dan LH (Luteizing Hormone).

 Setelah kemungkinan kehamilan disingkirkan pada amenorrhea sekunder,


maka dapat dilakukan pemeriksaan Thyroid Stimulating Hormone (TSH)
karena kadar hormon prolaktin dalam tubuh.

 Selain itu, kadar hormon prolaktin dalam tubuh juga perlu diperiksa.
Apabila kadar hormon TSH dan prolaktin normal, maka Estrogen /
Progesterone Challenge Test adalah pilihan untuk melihat kerja hormon
estrogen terhadap lapisan endometrium alam rahim. Selanjutnya dapat
dievaluasi dengan MRI.

1.9 Terapi penanganan Amonerrhea

Pengobatan yang dilakukan sesuai dengan penyebab dari amenorrhea yang


dialami, apabila penyebabnya adalah obesitas, maka diet dan olahraga adalah
terapinya. Belajar untuk mengatasi stress dan menurukan aktivitas fisik yang
berlebih juga dapat membantu. Terapi amenorrhea diklasifikasikan berdasarkan
penyebab saluran reproduksi atas dan bawah, penyebab indung telur, dan
penyebab susunan saraf pusat.
1.10 Prevalensi

Pada pengkajian yang dilakukan terhadap penelitian-penelitian yang


dilakukan oleh peneliti lain mendapatkan prevalensi bervariasi antara 15,8-
89,5%, dengan prevalensi gangguan menstruasi tertinggi yang terjadi pada remaja
sedangkan menurut Bieniasz J et al dalam penelitiannya mengenai gangguan
menstruasi lainnya, mendapatkan prevalensi amenorea primer sebanyak 5,3%,
amenorea sekunder 18,4%,oligomenorea 50%, polimenorea 10,5%, dan gangguan
campuran sebanyak 15,8% ( Kaur J,2009).

Beberapa studi, menyatakan bahwa prevalensi pada populasi wanita usia


18- 55 tahun mengalami gangguan dengan menstruasinya dan juga dari hasil
penelitian pelajar lebih sering menunjukkan variasi menstruasi yang bermasalah,
seperti menstruasi tidak teratur (Sianipar, 2009). Kelainan haid biasanya terjadi
karena ketidakseimbangan hormon-hormon yang mengatur menstruasi, namun
dapat juga disebabkan oleh kondisi medis lainnya (Dewi, 2012).

1.11 Asuhan Keperawatan

A. Identitas klien

Nama Suami : Ny. M

Umur : 34 tahun

Suku/bangsa : jawa/Indonesia

Agama : Islam

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Swasta

Alamat rumah : Kebomas, Gresik.

Status perkawinan : Kawin

Usia saat kawin : 19 tahun.

Lama perkawinan : ± 5 tahun

B. Alasan datang/ keluhan


Ibu mengatakan ingin KB suntik 3 bulan, dengan keluhan tidak haid (amenore)

C. Riwayat keluhan sekarang

ibu mengatakan sudah sejak 2 bulan yang lalu tidak haid, padahal sebelumnya

haid ibu normal seperti biasanya.

D. Riwayat penyakit yang lalu

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit apapun, seperti penyakit jantung,

paru-paru, hipertensi, tumor payudara, tumor kandungan, DM, pedarahan yang

keluar dari kemaluan.


E. Riwayat penyakit keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit asma, kuning,

TBC, DM, Hep.B, hipertensi.

F. Riwayat menstruasi

Menarche : 15 thn

Lama haid : 7 hari

Jumlah : 1 pembalut penuh (ganti 2 x/hari)

Flour albus : tidak ada

Keluhan : tidak ada.

Sifat : merah segar, bau anyir, encer.

Tidak ada perdarahan diluar haid.

G. Riwayat seksual

Ibu mengatakan tidak ada gangguan selama melakukan hubungan seksual,

biasanya 2 hari sekalli.

H. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

No Anak Type Penolon BB/PB Jenis Umur Menyusui Lama

ke persalinan g kelamin sekarang


1 1 9 bulan Perawat 3100/49 Perempua 4 tahun Ya 7 bulan

I. Riwayat ginekologi

Ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit kanker, tumor, penyakit menular

seksual, radang panggul, gangguan haid.


J. Riwayat kontrasepsi

Ibu mengatakan sebelumnya menggunakan KB suntik 1 bulan selama 2,5 tahun,

kemudian di lepas, karena ibu ingin pindah pada KB suntik 3 bulan dan sampai

sekarang, sebelumnya ibu tidak ada keluhan tetapi sejak 2 bulan lalu ibu tidak

haid.

K. Data psikososial

Ibu mengatakan sudah membicarakan dengan suami tentang keluhannya saat ini,

dan dengan ijin suami ibu memeriksakan diri ke dokter. Ibu merasa cemas dan

khawatir dengan keadaanya saat ini.

L. PENGKAJIAN

1. Keadaan umum baik

2. Kesadaran kompos mentis

3. TTV: TD : 120/80 mmHg

N : 80 x/mnt

S : 36,5 c

Rr : 20 x/mnt

BB : 46kg

4. Kepala

Inspeksi : Ibu tidak pusing,tidak sakit kepala, rambut bersih.

Palpasi : Tidak terdapat benjolan abnormal

5. Muka

Inspeksi : Ibu tidak berjerawat, tidak ada flek-flek, tidak oedem,

tidak ada Hyperpigmentasi


6. Mata

Inspeksi : Conjungtiva merah muda, sclera putih, penglihatan tidak

berkunangKunang.

7. Mulut

Inspeksi : warna bibir merah muda, bibir lembab, tidak sariawan.

8. Leher

Palpasi :Tidak ada pembesaran kelenjar lymphe, tidak ada

pembesaran kelenjar Thyroid, tidak ada bendungan vena

jugularis.

9. Dada

Inspeksi :Tidak ada tarikan rongga dada, payudara bersih,

konsistensi kenyal,

Auskultasi : Tidak terdengar ronchi dan wheezing.

10. Perut

Inspeksi : Perut tidak kembung, tidak mual, nafsu makan baik,

BAB lancar, tidak Ada luka bekas operasi.

11. Genetalia

Inspeksi : Tidak ada oedem, tidak ada varises, tidak ada pembesaran

kelenjar Bartholini.

12. Ekstremitas atas-bawah

Inspeksi : Tidak oedem, tidak ada varises, tidak ada pergerakan pada

tangan dan Kaki, reflek patella ka-ki +/+


A. ANALISA DATA

Data fokus Masalah Etiologi

1. Data Subjektif : Kecemasan Perubahan proses


kesehatan
1. Klien menanyakan

tentang penyakitnya

2. Klien mengatakan

baru pertama kali

mengalami penyakit

yang saat ini diderita

oleh klien

2.Data Objektif :

1. Klien cemas

2. Klien tegang

3. Klien meremas-

remas tangannya

4. Observasi vital sign :

TD = 140 / 80mmHg

ND     = 90 x/m

RR     =  16 x/mnt
Ds : Kurang pengetahuan Kuarngnya informasi

1. klien menggatakan tidak yang di berikan


tau apa itu amenore
2. klien
menggatakanbingung
Do :

1. klien tampak binggung


2. klien terlihat banyak
bertanya.
Ds:- Gangguan body image Biofisik, penyakit, dan
Do: perseptual.
1. Klien terlihat minder,
tidak percaya diri,
perasaan terisolasi,
interaksi berkurang.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan

b. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan biofisik, tahap perkembangan, perseptual, dan

penyakit

c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi yang didapat tentang

penyakitnya (amenorrhea)

C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


Ansietas berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji tingkat kecemasan : ringan,

dengan status kesehatan keperawatan selama .. x 24 sedang, berat, panic

jam cemas klien dapat teratasi 2. Berikan kenyamanan dan

dengan ketentraman hati

kriteria hasil : 3. Beri dorongan pada klien untuk

1. Cemas berkurang mengungkapkan pikiran dan

2. Tidakmenunjukan perasaan untuk

perilaku agresif mengeksternalisasikan kecemasan

4. Anjurkan distraksi seperti nonton

1
tv, dengarkan radio, permainan

untuk mengurangi kecemasan.

5. Singkirkan stimulasi yang

berlebihan
Gangguan citra tubuh Setelah diberikan asuhan 1. Gunakan pendekatan yang

berhubungan dengan keperawatan selama .. x 24 menenangkan

biofisik, tahap jam klien diharapkan tidak 2. Berikan informasi factual

perkembangan, mengalami gangguan citra mengenai diagnosis, tindakan

perseptual, dan tubuh dengan prognosis

penyakit kriteria hasil : 3. Dengarkan dengan penuh

perhatin
1. Mengidentifikasi dan
4. Identifikasi tingkat kecemasan
mengungkapkan gejala

cemas

2. Mengungkapkan

tehnik mengontrol cemas

Kurang pengetahuan Setelah dilakukan asuhan 1. Mengkaji tingkat pengetahuan

berhubungan dengan keperawatan selama, klien klien tentang penyakit yang

kurang informasi yang mampu menjelaskan penyakit dideritanya

didapat tentang dan mampu mengenal 2. Memberikan pengajaran sesuai

penyakitnya penyakitnya dengan dengan tingkat pemahaman klien

(amenorrhea) kriteria hasil : 3. Memberikan informasi dari

1. klienmengetahui tentang sumber-sumber yang akurat dan

penyakitnya dapat dipertanggungjawabkan

D. IMPLEMENTASI

2
No Diagnose
Tgl/Jam Tindakan
Dx Keperawatan
1 Ansietas berhubungan 24/03/2015 1. Mengkaji tingkat kecemasan :

dengan status kesehatan kecemasan


09,00.- 09,15 wib

H : ringan

1. Memberikan dorongan dan berikan

waktu untuk mengungkapkan

pikiran dan dengarkan semua

keluhanya.

R : klien tampak kooperatif

1. Menjelaskan semua prosedur dan

pengobatan

R: klien menggatakan mengerti

dengan apa yang dijelaskan

1. Memberikan dorongan

spiritual.

R/H : klien kooperatif


2 Gangguan citra tubuh 24/03/2015 Mengkaji pandangan klien terhadap

berhubungan dengan penyakitnya


09,00.- 09,15 wib
biofisik, tahap H : klien mau menceritakan tentang

perkembangan, perasaannya

perseptual, dan R:klien mengatakan malu karna

3
penyakit penyakitnya tersebut

Pukul 9:20 WIB

2. Mengkaji derajat dukungan yang

ada untuk klien

H:    Keluarga klien slalu mendukung

dan memberi motivasi

R: Klien merasa nyaman saat

disamping keluarganya.

Pukul 09:57WIB

Memberi motivasi dan dukungan

H:  Klien terlihat senang saat di beri

motivasi.

R: klien mengatkan tidak malu lagi

Mendiskusikan tentang masalah dan

situasi yang membuat klien malu


3 Kurang pengetahuan 24/03/2015 3. Memberi pendidikan kesehatan
tentang amenore
berhubungan dengan
09,00.- 09,15 wib
kurang informasi yang Rh: klien mengatakan sudah mulai

didapat tentang tahu tentang amenore

penyakitnya

(amenorrhea)

E. EVALUASI

No Diagnosa keperawatan Jam/ tgl Evaluasi

4
Dx
1 Ansietas berhubungan Selasa 24-03- S :

dengan status kesehatan 2015


1. Klien mengatakan sudah mengerti

10:00 tentang penyakitnya

2. Kilen mengatakan baru pertama kali

mengalami penyakit yang saat ini

diderita oleh klien

O:

1. Cemas (-)

2. Klien lebih rileks

3. Observasi vital sign :TD  = 130 /

60mmHg, ND     = 88 x/mnt, RR     = 

20 x/mnt

4. Observasi vital sign : TD = 130 / 60

mmhg, ND = 88x/mnt, RR = 20x/mnt

A :Masalah teratasi

P :Intervensi dihentikan
2 Gangguan citra tubuh Selasa 24-03- S:

berhubungan dengan 2015 1. Klien mengatakan malu karna tangannya

biofisik, tahap patah.


10:10
perkembangan, perseptual, 2. Klien mengatakan merasa senang saat 

dan penyakit berada disamping keluarganya

3. Klien mengatakan tidak malu lagi untuk

bergaul.

5
O

1. Keluarga klien slalu mendukung klien

2. Klien terlihat senang

A : Masalah harga diri teratasi

P  : Intervensi dihentikan

3 Kurang pengetahuan Selasa 24-03- S :

berhubungan dengan 2015


klien mengatakan sekarang mengetahui tentang
kurang informasi yang
10:30 amenore
didapat tentang
O:
penyakitnya (amenorrhea)

klien tidak banyak bertanya lagi

A : Masalah teratasi

P : Intervensi di hentikan

BAB III

PENUTUP

SIMPULAN

Amenorrhea adalah istilah medis untuk tidak adanya periode menstruasi, baik secara
permanen atau sementara. Amenorrhea dapat diklasifikasikan sebagai primer atau sekunder.
Dalam amenorrhea primer, periode menstruasi tidak pernah dimulai (berdasarkan umur 16),
sedangkan amenorrhea sekunder didefinisikan sebagai tidak adanya menstruasi selama tiga
siklus berturut-turut atau jangka waktu lebih dari enam bulan pada wanita yang sebelumnya
menstruasi. Siklus menstruasi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor internal seperti
perubahan sementara di tingkat hormonal, stres, dan penyakit, serta faktor eksternal atau
lingkungan. 

6
Siklus menstruasi normal terjadi karena perubahan kadar hormon dibuat dan
dikeluarkan oleh indung telur. Ovarium merespon sinyal hormon dari kelenjar pituitari yang
terletak di dasar otak, yang, pada gilirannya, dikendalikan oleh hormon yang diproduksi di
hipotalamus otak. Pengobatannya dapat berupa pemeriksaan USG, Histerosalpingografi,
Histeroskopi, dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

7
DAFTAR PUSTAKA

Morgan, Gery dan Carole Hamilton. 2009. Obstetri & Ginekologi. ECG : Jakarta

http://www.farmasiku.com/index.php?target=pages&page_id=Amenore