Anda di halaman 1dari 4

Dasar-Dasar Kebudayaan dan Peradaban Islam

Kata Kebudayaan kerap kali disejajarkan, dari segi asal katanya dengan kata-kata:
cultuur (bahasa Belanda), kultur (bahasa Jerman), culture (bahasa Inggris dan Perancis)
atau cultura (bahasa Latin), bahkan ada sederetan kata lain yang tumpang tindih dengan
kata kebudayaan yaitu: civilization (bahasa Inggris dan Perancis), civilta (bahasa Italia)
dan bildung (bahasa Jerman). Padahal arti kata tersebut berbeda satu sama lain. Seperti
culture (bahasa Perancis) searti dengan kata bildung (bahasa Jerman) dan education
(bahasa Inggris) yang mengandung arti budi halus, keadaban, lalu disamakan dengan kata
kebudayaan (Inrevolzon, 2008).
Dasar-dasar kebudayaan dan peradaban Islam pertama kali dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW. Tujuannya adalah untuk memperkokoh masyarakat dan negara .
Beliau meletakkan dasar-dasar tersebut pada saat Beliau berada di Yastrib atau sekarang
lebih dikenal dengan nama Madinah. Tidak seperti pada saat di Mekah, di Madinah Allah
SWT banyak menurunkan wahyu yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat. Nabi
Muhammad mempunyai kedudukan sebagai kepala agama sekaligus kepala negara. Pada
diri Nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan kekusaan sekuler. Beliau
menjadi kepala negara bukanlah atas penunjukan dan bukan pula berdasarkan keturunan
tetapi berdasarkan wahyu. Rasulullah menjadi rasul sekaligus kepala negara. Misi
kerasulan Beliau adalah untuk memberikan bimbingan kepada umat manusia agar dalam
mengembangkan kebudayaan tidak terlepas dari nilai-nilai ketuhanan. Hal tersebut sesuai
dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”.
Artinya Nabi Muhammad SAW, mempunyai tugas pokok untuk membimbing manusia
agar mengembangkan kebudayaan sesuai dengan petunjuk Allah (Nuryadin, 2016).
Dasar-dasar kebudayaan dan peradaban Islam tersebut, antara lain:
a. Pembangunan Masjid
Masjid merupakan hal yang paling fundamental dan yang pertama kali dibangun Nabi
Muhammad SAW. Masjid tidak hanya di gunakan oeh masyarakat sebagai tempat ibadah
khusus seperti shalat bagi umat muslim, tetapi juga berguna sebagai sarana untuk
mempersatukan kaum muslimin. Masjid disamping sebagai tempat merundingkan
masalah-masalah yang sedang dihadapi, masjid pada masa Nabi juga berfungsi sebagai
tempat pemerintahan. Bahkan masjid menjadi pusat komando militer dan gerakan-
gerakan pembebasan dari penghambaan dan penindasan. Rasulullah SAW menyusun
strategi militer di masjid. Masjid merupakan pusat pembinaan, memakmurkan umat,
membimbing umat agar taat beribadah, serta menuntut umat untuk memperbaiki
lingkungan. Berbagai permasalahan umat Islam dibahas dan di musyawarahkan melalui
masjid (Nuryadin, 2016).
Rasulullah SAW telah memberikan tauladan dalam upaya menciptakan kemampuan
umat Islam untuk menjadi kholifah di muka bumi dan hamba Allah Swt. dengan
melakukan pendidikan Islam kepada para sahbat di masjid-masjid. Rasulullah
menggunakan masjid untuk mengajarkan agama Islam kepada para sahabat, membina
mental,dan akhlak mereka, biasanya di masjid dilakukan sholat berjamaah. Pada zaman
nabi, masjid digunakan untuk mensucikan jiwa kaum muslimin, mengajarkan Al-Quran
dan Al Hikmah, bermusyawarah untuk menyelesaikan berbagai macam masalah kaum
muslimin, membina sikap dasar kaum muslimin terhadap perang yang berbeda agama,
hingga upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan umat dimulai melalui masjid. Hal ini
berjalan hingga 700 tahun, sejak nabi mendirikan masjid pertama, masjid Quba, fungsi
masjid dijadikan simbol persatuan umat dan masjid sebagai pusat peribadatan dan
peradaban. Masjid Quba merupakan tempat peribadatan umat Islam pertama yang
kemudian menjadi model atau pola dasar bagi umat Islam dalam membangun masjid.
Masjid Qub disamping sebagai tempat peribadatan, juga berfungsi sebagai tempt
pendidikan dan pengajaran agama Islam (Nuryadin, 2016 dan Mulyono, 2017).
Masjid pada waktu itu mempunyai fungsi sebagai sekolah seperti pada zaman
sekarang, gurunya adalah Rasulullah dan murid-muridnya adalah para sahabat yang haus
akan ilmu dan mempelajari Islam lebih dalam. Tradisi tersebut kemudian diikuti oleh para
sahabat dn penguasa Islm selanjutnya. Sekolah-sekolah dan universitas kemudian
bermunculan justru berawal dari masjid. Masjid Al-Azhar di Mesir merupakan salah satu
contoh yang sudah di kenal di seluruh dunia. Masjid ini mampu memberikan beasiswa
pelajar dan mahasiswa sebagai upaya memberantas kemiskinan (Mulyono, 2017).
b. Uhuwah Islamiyah
Kata ukhuwah berasal dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulamun
shalihan” (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara. Makna ukhuwah menurut Imam
Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain
dengan ikatan aqidah. Nabi mempersaudarakan antar golongan Muhajirin, yaitu orang-
orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah, dan kaum Anshar, yaitu penduduk Madinah
yang sudah masuk Islam dan ikut membantu kaum Muhajirin. Dengan demikian
diharapkan umat muslim merasa terikat dalam ikatan persaudaraan dan kekeluargaan.
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah tersebut berarti menciptakan suatu bentuk
persaudaraan yang baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama yang menggantikan
persaudaraan berdasarkan darah (Nuryadin, 2016).
Di antara unsur-unsur pokok dalam ukhuwah adalah cinta. Tingkatan cinta yang
paling rendah adalah husnudzon yang menggambarkan hati yang bersih dari perasaan
hasad., benci, dengki, dan bersih dari sebab-sebab permusuhan. Al-Quran menganggap
permusuhan dan saling membenci sebagai siksaan yang dijatuhkan Allah atau orang-
orang yang kufur terhadap risalah-Nya dan menyimpang dari ayat-ayat Nya (Nuryadin,
2016).
c. Hubungan dengan Non-Islam
Saat menjadi kepala negara di kota Madinah, selain orang-orang Arab Islam, juga
terdapat golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut
agama nenek moyang mereka. Stabilitas warga sangatlah penting di situasi seperti ini.
Rsulullah mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Sebuah piagam yang menjamin
kebebasan beragama orang-orang Yahudi sebagai suatu komunitas dikeluarkan. Setiap
golongan masyarakat memiliki hak-hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan.
Kemerdekaan setiap pun terjamin dan mereka sama-sama berkewajiban menjaga negeri
Madinah dari ancaman dan serangan dari luar (Nuryadin, 2016).
Dalam perjanjian itu jelas disebutkan bahwa Rasulullah menjadi kepala
kepemerintahan karena sejauh menyangkut peraturan dan tata tertib umum, otoritas
mutlak diberikan kepada beliau. Dalam bidang social, Beliau juga meletakkan dasar
persamaan antara sesama manusia. Perjanjian ini dalam pandangan ketatanegaraan
sekarang, sering disebut dengan Konstitusi Madinah (Nuryadin, 2016).
Inrevolzon. 2008. Kebudayaan dan peradaban. Jurnal Raden Patah. 1-8.

Nuryadin. 2016. Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi. Yogyakarta. Penerbit


Aswaja Pressindo

Mulyono. 2017. Rekonstruksi Peran Dan Fungsi Masjid Sebagai Pusat Kegiatan Pendidikan
Islam. Jurnal Muaddib 7(1): 13-32.
.

Anda mungkin juga menyukai