Anda di halaman 1dari 55

BARATAYUDA

Perang menuai KARMA


Buku-1

Oleh

MasPatikRajaDewaku

indonesiawayang.com
Kata Pengantar
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mungkin sudah banyak yang menulis buku tentang lakon perang Baratayuda yang
sudah melegenda itu. Namun cerita yang dipadukan dengan kisah-kisah perang
tersebut dalam Pedalangan dari beberapa dalang terkenal di negri ini, mungkin masih
sangat jarang.

Mas Patikrajadewaku adalah salah satu pengasuh dalam blog indonesiawayang.com


(dulu wayangprabu.com) yang pemahaman akan cerita-cerita wayang cukup dalam.
Meskipun bukan seorang seniman ataupun penulis, namun dari pengalaman dan
pemahaman akan kiprah para dalang senior seperti almarhum Ki Nartosabdho,
almarhum Ki Timbul Cermo Manggolo, almarhum Ki Hadi Sugito, almarhum Ki Sugino
Siswocarita, Ki Manteb Sudharsono dan dalang-dalang lainnya, beliau dikarunia
kelebihan dalam menuangkan cerita wayang seolah kita mendengar alunan suara dari
rekaman pagelaran wayang.

Kisah perang Baratayudha dalam buku ini, adalah tulisan Mas Patikrajadewaku yang
telah dimuat secara serial di wayangprabu.com mulai 24 Juni 2010.

Kisah yang sangat menarik dan disajikan dengan renyah sehingga dapat membuat kita
terbawa seolah berada dalam arena padang Kurusetra.

Melalui beberapa perbaikan penulisan, kami sajikan untuk Anda, khususnya para
penggemar wayang dimanapun berada.

Mudah-mudahan hal kecil ini dapat berguna bagi kita semua dan merupakan
kontribusi nyata bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya wayang di
Indonesia.

Wassalam

Bandung, 28 September 2013

Pranowo Budi Sulistyo

indonesiawayang.com

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 2


Daftar Isi
Kata Pengantar ......................................................................................................................... 2

Episode 1 : Kresna Gugah ......................................................................................................... 5


Episode 2 : Hari-hari Menjelang Pecah Perang...................................................................... 20
Episode 3 : Perang Besarpun Dimulai di Hari Pertama itu .................................................. 36

Episode 4 : Hari-hari Panjang di Padang Kurusetra ........................................................... 48

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 3


Link-link wayang PPW

http://indonesiawayang.com

https://www.facebook.com/samudrianto.aris

https://www.facebook.com/pranowobudisulistyo

https://www.facebook.com/indonesiawayang

http://youtube.com/user/bumiprabu

http://wayangpustaka.wordpress.com/

http://wayangpustaka02.wordpress.com/

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 4


Episode 1 : Kresna Gugah
Perang Baratayudha, atau lengkapnya Baratayuda Jayabinangun, perang antar darah
Barata, merupakan salah satu dari empat perang besar yang telah digariskan dewa
dalam pewayangan, selain perang Pamuksa ketika Prabu Pandu menumpas
pemberontakan Prabu Trembuku dari Pringgandani dan Perang Gojalisuta, perang
saudara anak bapak, antara Prabu Bomantara alias Prabu Sitija, dengan Prabu Kresna
dalam membela anaknya yang lainnya Samba Wisnubrata, serta perang Guntarayana
ketika Sang Begawan Ciptaning menjadi sraya, atas serangan Raja Hima Imantaka,
Prabu Niwatakawaca, yang hendak mempersunting primadona kahyangan Jonggring
Salaka, Dewi Supraba.

Perang Baratayuda, perang dimana terjadi bagaimana prajurit yang maju menjadi
senapati, memetik hasil dari apa yang telah ditanam dan disisi lain melunasi janji
yang pernah terucap.

Semua kejadian adalah bermula dari konflik keluarga keturunan langsung dari Resi
Wiyasa Kresna Dwipayana.

Tiga orang puteranya: Drestarastra sang cacat netra sebagai anak sulung, Pandu
Dewanata anak penengah dan Arya Yamawidura sebagai anak bungsu.

Ketika Prabu Wiyasa hendak menyerahkan tahta lengser keprabon Astina dan hendak
menyucikan diri ke Sapta Arga, dipanggilnya ketiga puteranya. Dan dengan ikhlas
disaksikan para saudara dekat termasuk Resi Bhisma atau Sang Jahnawisuta
Dewabrata, yang secara garis adalah sebenarnya pewaris trah Barata, Drestarastra
menyerahkan tahta haknya hingga ke anak cucu turunnya kepada adik penengah,
Pandu Dewanata.

Sayang, atas kelicikan dan gosok kerti sampeka sang maha julig adik ipar
Drestarastra, yaitu Arya Gendara Sangkuni, seratus anak Drestarastra, dikenal
sebagai trah Kurawa, menjadi manusia-manusia bermoral buruk yang kurang tata
krama.

Puntadewa, anak sulung trah Pandawa, anak Pandu yang telah mangkat, seorang yang
tidak bisa berkata tidak, masuk dalam perangkap pokal akal-akalan Sengkuni dengan
mengadakan permainan dadu.

Trah Pandawa yang telah mempunyai negara sendiri, hasil dari membuka hutan
Wisamerta, dan menjadikannya sebuah istana indah bernama Indraparahasta atau
kerajaan Amarta, terpaksa kalah dalam olah permainan curang Sengkuni. Perjanjian
telah disepakati, pihak kalah akan dibuang ke hutan Kamyaka selama 12 tahun dan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 5


melakukan penyamaran disuatu tempat selama setahun terakhir masa pembuangan.
Bila penyamaran diketahui pihak Astina, maka pembuangan harus diulang selama
waktu yang sama.

Tigabelas tahun hampir lewat. Ketika Astina kedatangan seorang raja seberang
bernama Prabu Susarman, raja dari negara Trikarta. Bujuk rayu Susarman
menghasilkan serbuan bermotif menggelar jajahan ke Negara Wirata, dan berakhir
gagal.

<<< ooo >>>

Syahdan, dalam sidang agung Negara Astina, Sang Duryudana sangat jengkel ketika
prajurit Astina kembali dengan tangan hampa ketika pulang dari Wirata dalam misi
menaklukkan negara itu.

Negara yang tadinya diperkirakan telah lemah karena ditinggalkan tiga orang agul-
agul senapati, Sang Kencakarupa, Rupakenca dan Rajamala yang diberitakan tewas
ditangan seorang jagal, ternyata berakhir dengan kegagalan telak. Malah Prabu
Susarman, bala bantuan dari Negara Trikarta yang semula mengipasi agar Sang
Duryudana mau menaklukkan Wirata, tewas mengenaskan.

Kekuatan Wiratha menurut perhitungan semula hanya tinggal dua dari tiga putera
Baginda Matswapati, Raden Utara dan Raden Wratsangka. Sudah sangat berkurang
kekuatan negara itu, karena Resi Seta sang putra sulung yang sakti mandraguna, lebih
senang dengan olah kapanditan, dan saat itu sedang bertapa tidur di Pertapan Suhini
atau Sukarini.

Upaya Sang Duryudana untuk sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui,
menaklukkan Wirata sambil mencari keterangan tentang adanya trah Pandawa dalam
masa penyamaran, sekalian dilakukan. Bila ditemukan disana, maka mereka harus
mengulang lagi masa pembuangannya selama genap tigabelas tahun bakal terlaksana.

Padahal masa pembuangan duabelas tahun dan masa penyamaran satu tahun, sudah
hampir berakhir ketika itu.

Selesailah masa perjanjian itu, ketika perang gagal dalam menggelar jajahan
berakhir

“Hmm . . . . Paman Harya Sengkuni, kekalahan ini merupakan kegagalan beruntun.


Pertama. . . . . . , pasti. ., negara Wirata gagal menjadi jajahan kita. Kedua,
berakhirnya peperangan Astina dan Wirata, menandai habisnya waktu perjanjian
pembuangan para Pandawa” Prabu Duryudana akhirnya bersabda setelah beberapa
waktu diam dengan pergolakan pikiran penuh sesal atas misi yang berakhir dengan
kekalahan telak yang memalukan.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 6
“Dengan berakhirnya waktu perjanjian ini pasti Pandhawa akan segera menagih
haknya untuk kita mengembalikan Astina dan Indraparahasta yang dulu
dipertaruhkan dalam permainan dadu” Kembali sang Duryudana menyambung
pembicaraannya dengan masygul.

Prabu Salya, raja Mandaraka, mertua dari Prabu Duryudana dan Adipati Karna yang
ikut hadir dalam sidang menyela

“Benar angger Prabu, sabda raja adalah perkataan yang tidak dapat diasak, tidak
usahlah kiranya angger prabu kukuh dalam mempertahankan lagi hak yang
seharusnya harus dilepaskan, karena perjanjian telah berakhir. Bila nanti Angger
bersedia, Negara Mandaraka akan saya pasrahkan untuk angger prabu. Saya sudah
tua ngger, saatnya bagiku untuk menjauhi keramaian dan aku siap menyepi, kembali
ke Argabelah”.

Sejenak suasana sidang sunyi.

“Anak Prabu” Sang mahajulig Sengkuni memecahkan kesunyian,

”Negara Mandaraka tidaklah sebesar Astina, tidak sebanding, apalagi dibandingkan


luas Astina yang digabungkan dengan Amarta. Mau dikemanakan anak anakku Kurawa
yang seratus itu bila hanya negara seluas Mandaraka yang diharapkan menampung
sejumlah keponakanku semua . . ?” demikian Sang Patih Sengkuni memberikan
alasan, ditambahkan lagi segala pertimbangan bermacam-macam yang intinya tidak
menyetujui jika Negara Astina beserta seluruh jajahannya diserahkan ke trah
Pandawa.

Demikian juga dengan Adipati Karna, seorang anak angkat kusir Radeya yang
dirangkul dan dijadikan tetunggul senapati dan berpikiran menurut sudut pandang
keprajuritan menambahkan :

”Yayi Prabu, apakah menurut yayi, saya sebagai seorang yang sudah dibuat kenyang
dengan segala kebaikan, kemurahan hati dan keluhuran yang tiada terhingga,
merasa masih kurang dalam memberikan tetameng terhadap keluhuran derajat Yayi
Prabu? Sehingga dengan mudahnya menyerahkan kembali negara tanpa harus
mengandalkan peperangan. Jangan berpikir sebagaimana berpikirnya orang yang tua
yang sudah rapuh, sehingga menganggap penyerahan negara adalah hal yang
bermartabat? Tidak. Keutuhan negara harus dibela dengan pecahnya dada dan
mengalirnya darah...!”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 7


Gb. 1 - Jejer Negri Astina

Prabu Salya merasa tidak senang dengan perkataan Adipati Karna, yang dengan tanpa
sengaja mengusik rasa sang Prabu Salya. Dalam hatinya perkataan itu ditujukan
kepada dirinya. Kemarahan Sang Narasoma tua menggelegak. Tudingan kemarahan
jatuh kepada Adipati Karna Suryatmaja sontak mengalir bagaikan banjir bandang.

“Heh Karna.! Dari tiga orang mantuku, kamulah satu-satunya mantu yang tidak
pernah memberi rasa puas terhadap mertua, celaka benar nasib anakku Surtikanti
dapat suami kamu, suami yang seharusnya dahulu bukanlah kamu, tapi Arjuna. Atas
kemurahan Arjuna-lah kamu menjadi mantuku.

Prabu Baladewa, raja Mandura, menantuku yang gagah perkasa, tetapi didepanku
menyembah kakiku. Prabu Duryudana, raja kaya raya. Didepanku takluk juga
menyembah. Tetapi kamu itu siapa ? Adipati kecil, tetapi tingkah lakumu selalu
tidak berkenan dalam hatiku. Sudah jarang datang ke Mandaraka, juga tak sekalipun
kamu datang dengan membawa kebahagiaan, kalaupun datang pasti membawa
masalah . . . . . . “ Panjang lebar Prabu Salya memarahi sang mantu dipersidangan,
sekalipun beberapa kali dicoba kemarahannya dipenggal oleh menantu yang lain,
Prabu Duryudana.

Merasa sudah lega dengan memuntahkan segala kemarahan yang melebar kesana
kemari kepada menantunya, Prabu Salya meminta diri: “Angger Prabu, pikirlah

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 8


kembali dengan beningnya hati. Tetapi apapun yang terjadi nanti, bila Angger
masih berkenan dengan tenaga orang tua ini, pastilah aku akan datang kembali ke
Astina”

“Aku sudah kangen dengan Ibumu Setyawati. Ketika sudah tua semacam aku ini,
pergi sebentar saja, rasaku gampang sekali kepengin kembali ketemu dengan
ibumu” Prabu Salya berkilah.

Selepas kembalinya Sang Prabu Salya ke Mandaraka, sidang menetapkan,


bagaimanapun Astina dan Indraparahasta dan seluruh jajahannya tetap akan
dipertahankan. Sang Pendita Durna-pun dengan berat hati setuju dengan keputusan
ini. Semua menganggap, para sesepuh Astina yang maha sakti seperti Sang Bhisma
Jahnawisuta dari Talkanda, tidak akan tertandingi bila sudah berkenan maju dalam
peperangan nanti.

Usahanya tinggal selangkah lagi, karena berdasarkan wangsit, peperangan besar


Baratayuda bakal dimenangkan, bila sudah dapat menggaet Prabu Kresna yang
sedang bertapa tidur di Balekambang. Usaha inipun sudah yakin dapat dicapai bila
Prabu Baladewa yang merupakan kakak Sri Kresna dapat dirangkul untuk
membangunkan adiknya, sekalian mengajaknya bergabung di Astina.

Apa yang diperhitungkan oleh Sang Duryudana perihal akan datangnya utusan dari
para Pandawa memang benar adanya. Diluar sudah menunggu ibu dari para Pandawa,
Dewi Prita, Kuntitalibrata dengan ditemani sang ipar, Adipati Yamawidura dari
Ksatrian Panggombakan.

Setelah dipersilakan duduk, Sang Prita dengan santunnya mengutarakan maksud


kedatangannya.

“Anakku ngger Duryudana, seperti yang sudah tersiar luas dijagat ini, bahwa sudah
purna masa pengasingan anak-anakku Pandawa. Itu sudah masa lalu. Sekarang
angger, sebagai utusan dari kelima anakku, aku meminta ketegasan, kapan waktunya
peristiwa diperbolehkan kembali Pandawa ke Astina beserta dipulihkannya
kedaulatan atas Negara Amarta bakal dilaksanakan. . . . ?”

Sang Dewi juga mengatakan bahwa kedatangannya disertai Arya Yamawidura,


adalah merupakan saksi atas ucapan kesediaannya mewujudkan janji yang telah
diucapkan ketika permainan dadu hendak dilaksanakan dulu.

Prabu Duryudana terdiam. Dalam hatinya bergolak pikiran bagaimana cara


mengatakan tidak kepada utusan itu, yang tak lain adalah orang yang dihormatinya.
Bahkan oleh ayahandanya sendiri Adipati Drestarastra.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 9


Tetapi oleh sang pembisik disekeliling Sang Prabu yang selalu menggosoknya dan
nafsu Sang Prabu terhadap kekuasaan telah sedemikaian besar, kata Sang Prabu
dengan tanpa mengindahkan tata krama dan seribu alasan, malah mengusir Dewi
Kunti:

“Bibi sudahlah, bibi pulang saja kemana saja bibi mau, sekarang saya belum terpikir
kapan akan mengembalikan semua yang telah dijanjikan dulu”.

Kunti hanya bisa meratap kepada adik iparnya, sang Yamawidura. Harapan besar yang
telah diusungnya dari Wirata atas kembalinya negara Astina kepada anak-anaknya
musnah sudah. Segera diboyongnya kembali Dewi Prita yang pingsan keberatan
dengan beban batin, untuk sementara bermukim di Ksatrian Panggombakan. Segera
Sang Yamawidura mengutus seseorang untuk mengabarkan apa yang terjadi terhadap
Dewi Prita kepada anak anaknya di Wirata.

<<< ooo >>>

Prabu Drupada, raja Pancalaradya, yang datang kemudian atas inisiatif sendiri,
sebagai duta juga dipandang remeh, dihinanya Sucitra tua itu yang hanya bisa
menahan marah, dan keluar tanpa pamit dari sidang agung.

Keriuhan dalam sidang sampai juga ditelinga Adipati Destarastra, Adipati cacat netra
ini segera minta dituntun sang istri, Dewi Gendari, menuju sidang agung yang sudah
ditinggalkan oleh Dewi Kunti dan Prabu Drupada dengan perasaan masygul.

“Heh anakku Duryudana, aku dengar dari dalam tadi ada pertengkaran. Apa yang
terjadi ngger, baiknya jujur saja katakan kepada bapakmu ini??”.

Dengan plintat-plintut Duryudana menceritakan apa yang baru saja terjadi.


Terperangah sang Drestarastra. Segera dia minta dipertemukan dengan Prabu
Drupada, yang dengan kesaktiannya pasti mampu menaklukkan anaknya, untuk
dimintai seribu maaf atas kurangnya tata susila yang dilakukannya tadi.

<<< ooo >>>

Balekambang. Sebenarnyalah Sri Kresna sedang meraga sukma. Secara kewadagan


kelihatan Sri Kresna tertidur dalam bertapa, namun sebenarnya sukma sang Kesawa
sedang pergi menghadap haribaan Sang Hyang Guruloka untuk mecari keterangan
mengenai isi kitab Jitapsara, kitab skenario pelaksanaan Perang Baratayuda yang
berdasarkan jangka kadewatan sudah saatnya dibuat oleh Hyang Jagatnata dan
ditulis oleh Batara Penyarikan, sekretaris Kahyangan.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 10


Maka ketika Para Kurawa datang hendak membangunkan dan mengajaknya
bergabung, tidak satupun berhasil membangunkan. Mereka satu persatu melakukan
usaha untuk mencoba dengan caranya sendiri-sendiri.

Prabu Karna datang membangunkan dengan meraba leher sang Sri Kresna,
menandakan leher adipati Karna akan terpenggal dan tewas dalam Baratayuda.
Terkena pagar kesaktian diri Sri Kresna, Adipati Karna seketika terbanting tak
sadarkan diri.

Demikian juga dengan Arya Dursasana yang datang membangunkan dengan


menggerayangi dan menggoyang seluruh tubuh dan persendian Sri Kresna. Kejadian
ini sebagai pertanda akan terpotong potongnya jasad Arya Dursasana dalam
Baratayuda. Walat atau pagar diri Sri Kresna juga berlaku ketika Resi Durna mencoba
membangunkan dengan memegang leher Sang Tapa.

Prabu Duryudana akhirnya datang sendiri dengan memegang dan mengelus paha Sri
Kresna, ini sebagai pertanda bahwa kelak pada peperangan Baratayudha, Prabu
Duryudana akan tewas dengan tertebas Gada Rujakpolo, gada Raden Werkudara,
pada paha kirinya.

Karena tidak kunjung terbangun, makin lama semakin keras menggoyang paha Sri
Kresna. Terkena walat sang Kresna seketika Prabu Duryudana juga sama dengan para
bawahannya, terbanting tidak sadarkan diri. Geger para prajurit yang lain, seketika
itu tidak ada satupun Kurawa yang berani mencoba membangunkan.

Ketika suasana sudah bisa diatasi dan tenang kembali, kesepakatan rembuk terjadi,
mereka mengundurkan diri terlebih dulu sambil menunggu datangnya Prabu
Baladewa sebagai usaha mereka yang terakhir.

<<< ooo >>>

Para Pandawa datang juga akhirnya. Waspada Prabu Yudistira, bahwa Sri Kresna
sejatinya tidak sedang bertapa tidur, melainkan sedang meraga sukma,
ditinggalkannya wadag, sementara sukma sang Narayana pergi entah kemana.

“Adikku Werkudara, kamu sudah pernah merasakan, bagaimana bertemu sang Guru
Sejatimu, Dewa Ruci, tatkala kamu menceburkan dirimu ke samudera Minangkalbu
dahulu. Sekarang ketemukan kakang Kresna. Ajaklah kembali ke raganya dan
persilakan beliau untuk pulang bersama kita ke Wirata, untuk menjadikannya jaya
trah kita Pandawa dalam perang Baratayudha bila benar akan terjadi nanti adimas”

“Apa gunanya Si Arjuna yang lebih dari sakti, yang juga merupakan tukang tapa,
sesama titis Wisnu dan lebih dekat dengan Kresna, kenapa dia tidak ada usaha yang
mestinya tidak lagi harus diberi perintah??!”. Tukas sang Werkudara
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 11
Sang Arjuna yang dari tadi diam disindir kakaknya Bima, sejatinya sedang
mengheningkan cipta, meraga sukma mencari dimana gerangan sukma kakak iparnya,
Sukma Wicara, berada.

Gb. 2 – Gambar Lukisan Kresna Gugah

Arjuna adalah sesama titisan Wisnu yang membelah diri bagaikan api dan panasnya.
Ketika melihat raga Sri Kresna yang sedang tergolek, tak ada keraguan baginya bahwa
Sri Kresna tidak bersukma. Ikutlah sang Arjuna meraga sukma dengan nama Sukma
Langgeng meninggalkan raga dan saudara-saudaranya.

<<< ooo >>>

Diceritakan, ketika itu di Kahyangan Jonggiri Kaelasa atau Jonggring Salaka, Batara
Guru sedang bersidang menetapkan siapa saja yang masuk dalam agenda perang
Baratayuda.

Batara Panyarikan dengan pena ditangan dan tinta dihadapannya menulis skenario
apa yang dikatakan oleh Sang Jagad nata.

Telah ditulisnya sabda dari Batara Guru, dari awal skenario:

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 12


Raden Utara dan Salya bertanding, Utara terbunuh oleh Prabu Salya.

Raden Wratsangka bertanding dengan Resi Durna, Wratsangka terbunuh oleh Resi
Durna.

Raden Rukmarata terbunuh oleh panah Resi Seta.

Resi Bhisma perang tanding dengan Resi Seta dan terbunuh oleh Resi Bhisma, dan
seterusnya.

Ketika sampai pada kalimat Prabu Baladewa tanding dengan Antareja dan hendak
ditulisnya kedalam daftar skenario, tumpahlah tinta dihadapan Batara Panyarikan
ditabrak seekor kumbang penjelmaan Sang Sukma Wicara, sukma dari Batara Kresna
yang sedang memata-matai bagaimana Baratayuda tergelar. Gagallah kalimat itu
dituliskan.

Marahlah Sang Girinata, ditangkapnya kumbang itu, seketika berubah menjadi Sukma
Wicara.

“Heh Kaki Kresna. . ! kenapa kamu sebagai titahku menggagalkan usahaku dalam
menulis naskah ini?” tanya Batara Guru.

“Duh Pukulun, jujur saja, rasa sayang hamba terhadap kakak kandung hamba Prabu
Baladewa-lah yang menyebabkan hamba menggagalkan alur kejadian
Baratayuda itu. Bukanlah tandingannya bila kakak hamba diadu dengan
Antareja”. Jawab Sukma Wicara.

“Baik, adakah sesuatu yang dapat kamu berikan menjadi tetukar terhadap jalan
cerita Baratayuda dan dapatkah kamu memberikan jalan cerita yang lain sehingga
hal yang kamu tidak sukai itu dapat terhindar?” sahut Batara Guru.

“Pukulun, saya rela menukarnya dengan pusaka andalan hamba Kembang


Wijayakusuma, sangatlah adil dan berharga nyawa kakak hamba bila dibandingkan
dengan kembang yang merupakan penghidupan orang yang belum dalam pepasti
akhir hidup, pukulun” demikian Sri Kresna menawarkan taruhan atas nyawa sang
kakak dengan pusaka yang merupakan warisan dari Sang Guru, Resi Padmanaba.

“Dengan penyerahan ini Pukulun, maka dirasa akan fair-lah perang itu karena hamba
tidak dapat lagi menghidupkan kawan yang telah terbunuh”. Tambah Sri Kresna
seraya menghiba atas kearifan Sang Jagat Nata.

“Sedangkan bagaimana caranya agar kakak hamba Kakrasana agar tidak ikut dalam
perang Baratayudha kelak serahkan kepada hamba” Kresna meneruskan.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 13


Demikianlah, setelah barter terjadi dan Sukma Wicara telah diberitahu bagaimana
jalan cerita dituliskan dalam Jitapsara maka pulanglah Sang Sukma kembali menuju
raganya.

Diperjalanan ketemulah Sang Sukma Wicara dengan Sukma Langgeng.

Sukma Langgeng memaksa memberikan kitab skenario kepadanya, tetapi dijelaskan


bahwa ini adalah rahasia para dewa dan iapun tidak diberikan kitabnya hanya
diberitahu jalan ceritanya. Sukma Langgeng tidak percaya dengan keterangan itu,
dan terjadi perkelahian diantara keduanya.

Gegerlah Jonggring Salaka oleh tanding seimbang dan tidak akan berkesudahan.
Diutusnya Batara Naradda oleh Hyang Girinata untuk memisahkan keduanya.

“ Heh cucu-cucuku. . .!!, Berhentilah . . . !!, Tidak ada gunanya kalian berkelahi,
segera masuklah kembali ke raga masing masing. Tugas suci sudah menunggu. Sukma
Langgeng percayakan kepada Sukma Wicara yang kelak menjadi pengatur laku dalam
peperangan besar nanti !!” Batara Naradda datang dengan memberikan penjelasan
panjang lebar kepada Sukma Langgeng atas apa yang terjadi ketika Sukma Wicara
menghadap di Kahyangan Jonggring Salaka.

Keduanya segera mematuhi titah sang Naradda, turun kembali ke arcapada masuk ke
raga masing masing.

Gembiralah para Pandawa setelah menerima kesanggupan Sri Kresna untuk diboyong
ke Wirata.

Belum sempat mereka semua beranjak dari Balekambang, ketika datang Prabu
Baladewa menghadang langkah para Pandawa dan Sri Kresna, sambil berkata:

“Sukurlah yayi Prabu sudah bangun dari tapamu…! Sekarang marilah adikku, pergi
bersama kakakmu ini ke Astina, begitu kan kehendak yayi Prabu Duryudana ?” sang
Baladewa menegaskan juga ke Prabu Duryudana

“Benar kakanda…! Marilah datang berkumpul ke Astina. Disana kakanda bakal saya
beri kemukten, asalkan kanda sudi kami boyong” sang Duryudana juga merayu Sri
Kresna.

Sri Kresna yang selalu waspada, dengan tidak terlihat manampik dan berusaha untuk
tidak melukai hati Sang Baladewa, menanyakan kepada Prabu Duryudana:

“Yayi, tujuan akhir yayi memboyong kakakmu ini adalah memenangkan


Baratayudha, bukankan begitu ?”

“Benar kakang Kresna” Dengan nada yakin Duryudana menyahut.


Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 14
“Kalau begitu bukankan lebih baik bila kakakmu yang satu ini ditukar seribu raja
beserta para nayakanya sekalian sehingga kekuatan negara Astina niscaya akan lebih
kuat sentosa ?!” Kresna berusaha memberi alternatif, sambil berusaha bagaimana
agar Duryudana mau dirayu.

Belum sempat sang Baladewa mencegah jawaban sang Duryudana yang sudah
diduganya, dengan cepat Prabu Duryudana menyanggupi menukar satu orang Sri
Kresna dengan seribu raja lengkap dengan hulubalangnya. Dalam pikirannya apalah
kekuatan satu orang dibandingkan dengan kekuatan yang hendak dibarternya.

“Heh yayi Prabu Duryudana, semula apa yang direncanakan dari Astina datang ke
Balekambang? Apakah yayi Prabu lupa akan wangsit dewata bahwa siapa yang bisa
mendatangkan Kresna bakal unggul dalam perang itu? Bukankan aku didatangkan
kemari hendak diutus melakukan itu? Aduh yayi Prabu, alangkah malangnya Kurawa
memiliki raja seperti yayi ini . . . . . . . . !!”.

Panjang lebar sang Baladewa memarahi Prabu Duryudana. Sri Kresna menyela:

“Sudahlah kanda, sabda raja adalah perkataan suci, harus konsisten, sekali dia
berkata, tak layaklah dia mencabut kembali kalimatnya”

Segera Sang Kresna menepuk batang beringin tempat bernaung dalam tapanya,
seketika daun daun yang berguguran berubah menjadi seribu raja beserta para
punggawanya.

“Silakan yayi Prabu Duryudana , pulanglah ke Astina beserta para raja yang kelak
menjadi beteng dalam perang yang pasti akan terjadi nanti” Demikian Kresna
bermaksud menyudahi persoalan.

“Mari Kakang Prabu, kita segera kembali ke Wirata”, Werkudara segera mengajak
Sri Kresna pulang, “Persoalan kita sudah selesai” tambah Bima

“Belum !!” bentak Prabu Baladewa

“Apa maumu ?” sahut Bima kembali

“ Kresna harus ikut aku!!” Baladewa kembali membentak

Tentu saja Bima tidak berkenan, terjadilah perkelahian diatara keduanya. Kekuatan
kedua ksatria ini memang hampir seimbang. Baladewa menggunakan kecepatan dan
kekuatan untuk mencoba mengalahkan Bima, namun Werkudara juga memiliki
kekuatan yang lebih tangguh dalam melawan Prabu Baladewa.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 15


Merasa keteteran, Baladewa menggunakan senjata Nenggala. Waspada sang Kresna,
didekatinya Werkudara dan dibisiki untuk memancing agar senjata Nenggala
menancap ke tanah.

Demikianlah, atas pancingan itu senjata Nenggala yang hendak ditujukan ke


Werkudara dan dihindari akhirnya menembus tanah dan terjepit hingga tidak bisa
dicabut kembali.

Sri Kresna mendekati Baladewa yang berusaha keras mencabut pusakanya dari
jepitan, disapanya prabu Baladewa

“Kakang Prabu, paduka tidak dapat melepaskan senjata dari dalam tanah karena
sebenarnya kakanda berdosa. Tanah yang tidak bersalah paduka kenai senjata sakti.
Akhirnya kejadian inilah yang menyebabkan senjata kanda tidak dapat dicabut
kembali. Kandapun nanti akan mendapat kemalangan terjepit bumi dan tidak dapat
keluar dari malapetaka itu”.

“Aduh adikku, sial benar aku. Bagaimana cara agar aku dapat keluar dari laknat
bumi ini yayi ??” ratap Prabu Baladewa

“Kanda, paduka harus melakukan penebusan berupa memberikan dana bagi siapapun
yang meminta”.

<<< ooo >>>

Tersebutlah seorang pengemis, hendak meminta sesuatu kepada Prabu Baladewa


yang mendengar kabar Sang Prabu sedang berkelililng membagikan dana.

Ia dengan tidak sungkan meminta istri sang prabu, Dewi Erawati, untuk dijadikan
sebagai istri. Tidak ingat akan kesanggupannya, marahlah Prabu Baladewa dan
dikeluarkan senjata Nenggala dan ditujukan kepada si pengemis. Pengemis itu
menghindar dan terserempet senjata itu, dan berubah ujud menjadi Arjuna.

Malang kembali menimpa Prabu Baladewa, senjata Nenggala kembali mengenai bumi
dan menyebabkan tanah itu berlubang.

Ketika hendak mengambil senjata dan masuk kedalam lubang, segera bumi menjepit
Sang Prabu hingga sebatas dada.

Sekuat tenaga Sang Prabu berusaha melepaskan diri, namun tetap tidak bisa keluar
dari jepitan. Sekali lagi ia meminta tolong adiknya.

“Kanda Prabu, sekarang dosa kanda makin besar, penebusannya pun semakin besar
pula” Kresna memberikan penjelasan.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 16


Dengan rasa putus asa Baladewapun menyerah atas ampunan dosa yang ia lakukan

“Baik sebesar apapun aku sanggup melakukan penebusan itu asalkan aku terhindar
dari dosa yang aku telah perbuat ini”.

“Baik, kanda prabu harus melakukan tapa di Grojogan Sewu (air terjun dengan seribu
alur). Kanda akan kami sertai dengan anak saya Setyaka. Jangan sekali-kali paduka
menyelesaikan laku tapa kanda, bila saya belum menjemput kanda nanti”.

Dalam hati Sri Kresna, sekaranglah saatnya mulai untuk mengubah jalan nasib
kakaknya itu.

Dengan ditemani keponakannya, Prabu Baladewa berangkat bertapa di air terjun


dengan bunyi gemuruh, hingga segala bebunyian apapun akan terkalahkan dengan
gemuruhnya suara air terjun dengan seribu alur. Raden Setyaka sudah dibekali pesan-
pesan dari ayahandanya dan dirajah tapak tangannya agar dapat menenangkan sang
uwak dengan memegang dadanya, bila Sang Baladewa terlihat gelisah.

Inilah sebenarnya usaha Sri Kresna dalam mengubah alur skenario, agar sang
Baladewa tidak terlibat dalam perang Baratayuda, seperti janjinya kepada Sang
Hyang Guru ketika itu.

<<< ooo >>>

Satu masalah selesai. Lalu bagaimana dengan Antareja ? Tidak kurang akal
dipanggilnya Werkudara,

“Sena, Baratayuda nanti akan terlaksana. Setujukah yayi akan hal ini, termasuk
syarat srana yang harus ditempuh agar Pandawa unggul dalam perang?”

“Setuju, apapun syaratnya” sahut Arya Werkudara.

“Nah, syarat itu berujud tumbal berupa anakmu Antareja, bila dia masih ada, maka
Baratayuda yang berupa perang suci tempat para manusia mengunduh apa yang
mereka tanam dan sarana meluwar segala janji, akan gagal. Tidak ada seorangpun
yang dapat menandingi kesaktian anakmu yang satu itu”

Seketika itu sang Bhima berbalik tidak setuju. Dengan segala cara bujuk rayu dan
pemberian pengertian akhirnya dengan berat hati putra Bhima mengerti dan
merelakan anaknya sebagai tumbal akan kejayaan Pandawa.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 17


Gb. 3 - Raden Antareja (gaya Banyumasan)

Memang demikian, kesaktian Raden Antareja sungguh luar biasa. Kesaktian turunan
dari Sang Hyang Anantaboga, dewa ular, kakeknya. Kesaktian yang berupa lapisan
gigi taring dan bisa anta pada lidahnya. Tapak kaki siapapun yang terjilat bakal
langsung melepuh dan tewas. Bahkan bekas telapak manusia yang dijilatpun bakal
tewas seketika itu juga.

Segera dipanggilnya Antareja. “Antareja, sudahkan kamu siap menjadi senapati


dengan akan berlangsungnya perang besar nanti?” Seberapa kesaktian yang kamu
punyai untuk membuat jaya trah-mu?

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 18


“Sudah siap uwa, kami bersedia untuk memberi bukti akan kesaktian putramu
ini” Antareja mantap menjelaskan.

“Baik ikutlah aku, jilatlah tapak kaki yang aku tunjuk” perintah Kresna.

Segera Sri Kresna menunjuk bekas tapak kaki disuatu tempat yang sudah ditandainya.
Gugurlah seketika sang Anantareja setelah menjilat tapak yang tercetak di tanah,
yang ternyata bekas telapak kakinya sendiri. Diiringi wangi bunga tawur dari para
bidadari, arwah Sang Antareja diiring para dewa dan bidadari ke sorga lapis sembilan.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 19


Episode 2 : Hari-hari Menjelang
Pecah Perang
Negara Wirata, dimana Negara ini menjadi tempat berkumpulnya Pendawa selama
masa penyamaran dan sebelum pecah perang besar itu. Disana para Pandawa
ditunjang kekuatan dari Prabu Matswapati dalam rencananya mengambil kembali
haknya atas Negara Astina beserta seluruh jajahannya. Termasuk Negara yang
dibangun atas keringat dan darah Para Pandawa sendiri, Amarta.

Sang baginda Matswapati menerima kembali dengan suka cita para Pandawa yang
sudah berhasil memboyong Prabu Kresna sebagai syarat atas kemenangan dalam
perang besar nanti, bila usaha dalam mengirim duta ibu Pandawa, Kunti dan Prabu
Drupada tidak ada hasil.

Memang demikian, ketika sudah diketahui hasil awal duta yang dikirim, Prabu
Matswapati menasihati Yudistira agar segera mengambil tindakan perang terhadap
para Kurawa.

Prabu Puntadewa yang berhati halus mengusulkan kepada Prabu Matswapati

“Baginda, perang nanti merupakan perang antar saudara sendiri, kalau mungkin,
kami para Pendawa rela bila kami diberi separohnya saja, maka perang tidak harus
terjadi”

“Kakaku sulung, bila separopun tidak diberi, Negara Astina harus diberikan
seutuhnya dengan cara berperang” Werkudara menyahut sigap.

Sebenarnyalah Sri Kresna sudah tidak ada syak lagi bahwa Baratayudha pasti akan
terjadi. Namun untuk meyakinkan sekali lagi, ia pun sanggup menjadi duta terakhir
sekalian menjajagi sampai dimana kesiapan para Kurawa dalam menghadapi perang
itu.

“Eyang Matswapati, sekaranglah saatnya untuk hamba melaksanakan tugas duta


yang terakhir kalinya. Bila nanti memang semua tidak dapat dilakukan dengan cara
perundingan, maka satu-satunya jalan adalah mengambil hak adik-adikku dengan
cara perang” Mantap Sri Kresna memohon ijin kepada Sang Baginda Matswapati.

Sambung Kresna Kemudian

“Sekarang ijinkan hamba berangkat, dan adik hamba Setyaki akan kuajak serta
sebagai kusir kereta Jaladara, untuk menyingkat waktu agar segera menjadi jelas
apa yang bakal terjadi”.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 20
Restu Sang Baginda Matswapati, raja tua yang masih sentosa, beserta para Pandawa
mengantarkan kepergian Sri Kresna dengan kereta Jaladara, disertai kusir adik
iparnya Raden Setyaki, Singamulangjaya.

Gb. 4 - Kresna Duta

Kereta Jaladara adalah kereta hadiah dewa, dibuat oleh Mpu Ramayadi dan Mpu
Hanggajali. Dengan ditarik kuda empat ekor berwana kemerahan, hitam, kuning dan
putih yang punya kesaktian sendiri-sendiri. Kuda berwarna kemerahan dari benua
barat hadiah dari Batara Brahma, dengan kesaktiannya mampu masuk kedalam
kobaran api, bernama Abrapuspa. Kuda hitam dari benua paling selatan bernama
Ciptawelaha pemberian Sang Hyang Sambu, mampu berjalan didalam tanah. Kuda
yang bernama Surasakti yang dapat berjalan diatas air berwarna kuning, pemberian
Batara Basuki dari jagad timur. Sedangkan kuda putih murni bernama Sukanta
pemberian dari Batara Wisnu dari bumi utara, kesaktiannya mampu terbang. Bila
sudah dirakit dalam satu kereta, satu sama yang lain saling berbagi kesaktian dan
saling melindungi.

Diceritakan, cepatnya lari kereta Jaladara segera sampai diluar kota Wirata,
melewati di kaki gunung, sampailah di batas wilayah pemerintahan Astina dengan
gapura yang terlihat demikian indah dan megah. Geger para kawula cilik di pedesaan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 21


dan lereng gunung kebawah Astina, mereka segera mambunyikan tetabuhan
menyambut datangnya duta agung para Pandawa.

Lain halnya dengan pandangan mata Sri Kresna, setiap benda yang ditemuinya,
pohon, bunga, burung burung termasuk lelawa, bahkan batu beserta lumut kering
bagaikan menyapanya dengan sedih, mereka, dalam telinganya menanyakan
mengapa para Pandawa tidak ikut serta dalam meminta negaranya separuh. Mereka
terutama merindukan kedatangan Sang Arjuna ksatria sempurna meliputi seluruh
jiwa, raga dan kesaktiannya.

Sesampainya di tegal Kuru, tanah lapang luas kebawah pemerintahan Astina, kereta
dihentikan empat dewa : Rama Parasu, Kanwa dan Janaka, ketiga dewa yang dahulu
kala adalah manusia luhur yang dihadiahi derajat tinggi menjadi dewa karena tekun
dalam semedi, besar jasanya terhadap menjaga ketenteraman dunia, mengiring Sang
Hyang Naradda, parampara pepatih Kahyangan Jonggring Salaka.

Segera Sri Kresna turun menyapa keempat dewa

“Duh pukulun, ada apakah gerangan pukulun berempat menghentikan laju kereta
hamba?”

“Heh Kresna titah ulun, kami berempat datang menghentikan laju kereta tidak lain
bermaksud untuk bersama datang ke Astina. Kami berempat hendak menjadi saksi
bagaimana Duryudana bertindak, apapun yang akan ia lakukan akan aku saksikan dan
menjadi ketetapan cerita yang akan berlangsung”.

“Baiklah, kami persilakan pukulun berempat naik ke kereta kami, agar kami
mendapatkan kekuatan moral yang lebih besar dalam menjalankan duta kali ini
pukulun” Kresna meminta keempatnya bersama dalam satu kereta. Diambil alihnya
sais dari adiknya, Harya Setyaki. Dalam hati Sri Kresna bersyukur bahwa apa yang
akan dilakukan Prabu Duryudana akan mendapatkan legitimasi dengan tataran yang
lebih tinggi, apapun bentuknya.

Maka kata sepakat bersambut, bergabunglah bersama keempat dewa dalam satu
kereta menuju kerajaan Astina.

<<< ooo >>>

Syahdan, Duryudana telah mendengar akan segera datangnya Sri Kresna. Sambutan
kenegaraan berlangsung meriah. Gelaran karpet merah terhampar panjang, pada
kedua sisi berjajar para prajurit pengawal yang serba sentosa. Disepanjang jalan para
penduduk kota berjajar rapat menyaksikan tamu agung yang sayang apabila terlewat
sekejappun.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 22


Para sesepuh yang menyambut kedatangan tamu diantaranya Sang Bhisma
Jahnawisuta, Resi Durna; guru kedua trah Wiyasa, Resi Krepa; adik ipar Resi Durna
dan para sesepuh lain termasuk Adipati Drestarastra. Sangat gembira dengan
kedatangan sang duta. Mereka berharap kali ini perdamaian akan tercipta.

Tidak demikian dengan Patih Sangkuni, segera ia mendekati Duryudana dan


membisikkan rencana atas kedatangan duta kali ini. Segera dipanggilnya Dursasana
adiknya, diberitahukan segera agar para Kurawa menerapkan baris pendem, baris
rahasia, untuk menumpas Kresna, raja Dwarawati, yang sejatinya adalah pengawak
Pandawa, bila sewaktu-waktu dia berjalan dengan cara yang tidak sesuai dengan
rencana yang disusun.

Segera para tamu, Sri Kresna, Batara Naradda, Batara Rama Parasu, Batara Kanwa
dan Batara Janaka dipersilakan masuk ke ruang penyambutan. Segala macam
hidangan digelar untuk menjamu kedatangan para tamu. Khusus untuk Sri Kresna juga
dihidangkan segala makanan dan minuman untuk sang duta.

”Silakan dinikamati hidangan yang sudah kami persiapkan untuk sang duta yang
sudah datang dari jauh dan tentunya sangat lelah” Duryudana menawari hidangan
dihadapannya.

Dengan halus Sri Kresna menampik: “Terimakasih atas kebaikan yayi Prabu, besok
baru kami akan datang kembali untuk menyampaikan segala keperluan kami, karena
hari sudah menjelang malam.”.

“Kami akan bermalam di Kasatrian Panggombakan sekalian ketemu dengan bibi


Kunti” sambung Sri Kresna dengan kewaspadaan tinggi.

Diluar sidang Sri Kresna pamit kepada keempat dewa, dan berjanji besok hari akan
segera menyampaikan maksudnya sebagai duta.

<<< ooo >>>

Kasatrian Panggombakan. Dengan rasa masygul sang Prita dihadapan Arya


Yamawidura, menceritakan bagaimana Duryudana dan Karna yang tak lain adalah ibu
kandungnya tak mengindahkan apa yang dia minta atas hak anak anaknya.

“Sudahlah bibi, masalah ini pasrahkan saja pada kemenakanmu ini. Nanti aku akan
datang juga pada putramu Karna. Aku ingin bicara empat mata dengannya. Aku
merasakan adanya hal yang tidak sewajarnya dengan sikap putramu Karna, bibi”
Kresna menyampaikan isi hatinya.

“Aku percaya sepenuhnya atas tindakan yang kamu lakukan nanti, sampaikan rasa
sesal-sedihku kepadanya. Sebagai seorang ibu, naluri kasih sayangku kepadanya tak

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 23


akan pudar, walaupun dalam kenyataannya, aku telah membuangnya ketika masih
bayi merah dulu, ngger” demikian sang Prita berdesah pasrah.

<<< ooo >>>

Tak diceritakan keindahan malam di negara Astina, terutama didalam istana tempat
kediaman sang Parameswari Banuwati. Istana yang serba berhiaskan memanik yang
bersinar bak nyala hingga ke ujung langit, Istana tempat Duryudana memanjakan
Parameswari jelita yang memiliki kecantikan sempurna.

Dan ketika matahari pagi sudah merekah, kesiapan di Panggombakan akan perginya
sang duta ke sidang agung Astina dilakukan.

Dan ketika matahari naik sepenggalah, sidang sudah dipenuhi para agung dan
sesepuh, diantaranya Adipati Drestarastra, Resi Bhisma, Begawan Durna, Resi Krepa,
Prabu Salya, Adipati Karna, Patih Sangkuni dan parampara praja yang lain termasuk
Arya Yamawidura.

Setelah berbasa-basi sejenak, Sri Kresna mengutarkan maksud kedatangannya

“Paman Drestarastra, kedatangan hamba kemari adalah ujud dari duta, utusan dari
adik-adikku para Pandawa. Karena sudah menjadi kesepakatan sebelumnya, dalam
permainan dadu, bahwa setelah genap duabelas tahun pembuangan dan satu tahun
masa penyamaran berjalan mulus tanpa diketahui, maka Pandawa berhak kembali
atas negara Astina beserta Indraparahasta”.

“Namun demikian paman, karena Kurawa juga adalah darah daging sendiri, maka
atas kesediaan yayi Puntadewa, cukuplah Astina dibagi dua, dan yayi Duryudana
melepaskan Indraprasta, yang negara ini merupakan perasan keringat darah
Pandawa. Itu sudah cukup” sambung Sri Kresna.

Para sesepuh sangat berkenan dengan tawaran yang diajukan oleh Prabu Puntadewa.

“Aduh anakku Puntadewa . . . , demikian luhur budi yang mengeram dalam jiwamu
ngger. Tawaranmu atas negara Astina adalah hal yang sangat adil. Bukankah begitu
anakku Duryudana. . . . ?” demikian antara lain sang Drestarastra mengatakan.

Ibu sang Duryudana, Gendari, juga menyetujui kehendak suaminya. Rasa sayangnya
atas anak-anaknya, dengan firasatnya akan ketidak mampuan anaknya dalam
mengatasi kekuatan para Pandawa mendorongnya mengatakan

“Benar apa yang dikatakan ayahmu ngger, terimalah tawaran yang diajukan
saudaramu itu, rasa persaudaraan akan jauh lebih indah daripada kemukten yang
kamu sandang selama ini!”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 24


Duryudana diam membisu. Dihadapan para raja, sesepuh dan keempat dewa, mau
tidak mau Duryudana menandatangani pakta perjanjian atas perdamaian itu dengan
perasaan masygul.

Demikianlah, ketika pakta telah ditandatangani dalam satu surat yang sudah
disiapkan Sri Kresna, maka mohon pamitlah keempat dewa pulang kembali ke
kahyangan.

Merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dirasai sungkan, diliriknya sang paman, Arya
Sangkuni serta Adipati Karna, meminta pendapat. Keduanya memang sama-sama
menginginkan akan tetap mempertahankan negara dengan jalan perang. Sang paman
mengerti sasmita dari keponakannya, gatuknya tetanda dari keduanya membuat
Duryudana dengan tanpa suba sita menyambar surat perjanjian yang masih
tergeletak diatas meja, disobeknya dan langsung meninggalkan sidang agung diiringi
sang paman.

Tercenganglah para yang hadir atas sikap Duryudana, segera sang Gendari berlari
berusaha menenangkan suasana batin anaknya yang kurang trapsila dihadapan para
agung.

<<< ooo >>>

Diluar sidang agung. Arya Setyaki masih duduk diatas kereta Jaladara menunggu
kembalinya sang kakak ipar yang sedang dalam tugas.

Burisrawa, putra sang Prabu Salya, yang selalu berada dilingkungan para Kurawa,
oleh sebab kaulnya sendiri ketika gagal mempersunting Wara Subadra, tidak akan
kembali ke Mandaraka bila tidak bisa mempersunting kekasih hatinya itu, atau
setidak-tidaknya wanita yang sejajar kecantikannya dengan Subadra.

Dengan rasa benci Burisrawa menyaksikan ulah Setyaki yang dipandangnya kurang
tata, tetap duduk diatas kereta, duduk dengan seenaknya dan tidak mau turun.

“Hoi Setyaki . . . .!! Turun datang kesini. Mari kita minum tuak bersama !! panggil
Burisrawa mencari masalah.

“Terimakasih kakang Burisrawa, aku tidak minum seperti kamu” Setyaki mencoba
berlaku sopan.

“He, apakah perlu aku paksa kamu minum dengan cara kekerasan ?” sambar
Burisrawa yang sedari tadi memang bermaksud memanasi Setyaki.

Pertengkaran sengit terjadi, dari saling tuding, saling colek terjadilah perkelahian
antar keduanya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 25


Burisrawa yang berbadan tinggi besar dan kasar merasa yakin akan unggul
berhadapan dengan Setyaki yang berperawakan kecil padat.

Saling serang antar keduanya berlangsung seru. Walaupun Setyaki lebih kecil tetapi
sejatinya tersimpan kekuatan dari penjelmaan raja raksasa Singamulangjaya, yang
pernah ditaklukkannya sewaktu Setyaki menjadi utusan dewa kala masih kecil. Belum
terlihat siapa yang diperkirakan unggul ketika para Kurawa yang datang kemudian
mendengar keributan antara keduanya, seketika ikut larut dalam perkelahian. Tentu
membantu Burisrawa, mereka mencoba menangkap Setyaki.

Pertempuran tidak imbang terjadi. Ketika mulai terdesak, Setyaki yang marah
dicurangi menghindar dan bersumpah nanti dalam perang yang sesungguhnya akan
berhadapan dengan Burisrawa, satu lawan satu, menyambung perkelahian yang
terjadi tadi.

Ia berlari dikejar para Kurawa naik ke balairung dan mengadukan atas kejadian yang
dialaminya.

Kaget Sri Kresna ketika melihat Setyaki dalam kejaran para Kurawa dan turun
menghadapi ulah penyerang yang sebenarnya sudah siap dengan segala senjata untuk
menumpas para duta yang datang kali ini.

Marahlah Sang Kesawa ketika melihat dirinya sebagai objek kebrutalan Kurawa.
Triwikrama adalah hal yang terpikir ketika melihat prajurit segelar sepapan hendak
menghancurkannya. Seketika Sri Kresna berubah wujud menjadi raksasa dengan
sepuluh anggauta badan, diliputi kobaran api yang menyambar nyambar .

Dengan langkah yang menimbulkan gempa dan suara sesumbar yang menggelegar
bagai halilintar, seketika membuat nyali para Kurawa gentar

“Hayo amuklah aku Kurawa, apakah kamu sanggup mengatasi kesaktianku………..!!!”.

Hawa panas yang ditimbulkan bahkan sampai ditepi samudra, airpun menggelegak,
hingga mengambangkan satwa laut serta banyak kura kura sekalipun yang
bercangkang keras.

Bubar mawut para Kurawa, jeri melihat amuk Sang Triwikrama, penjelmaan Sang
Wisnu Batara, bagaikan hendak melebur seisi bumi.

Batara Naradda yang ternyata masih mengawasi segala yang terjadi atas peristiwa di
Astina waspada, segera mendekati Sang Triwikrama

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 26


“Titah ulun Kresna…..!, dinginkan hatimu, bila dengan cara ini kamu menaklukkan
Kurawa, maka kamu berdosa, membuat cerita Jitapsara yang sudah disepakati
menjadi berantakan” Naradda berusaha menghentikan amukan sang Triwikrama.

Dengan segera Kresna meracut ajiannya, dan menghaturkan sembah kepada sang
Naradda, Kanekaputra.

“Sudahlah, pulanglah kembali ke Wirata, bukankah kamu datang bukan sebagai


orang yang diberi wasesa, tapi datang sebagai pengawak duta? dan sebenarnya kamu
sudah tahu apakah yang bakal terjadi nanti. Bahwa perang Baratayuda harus terjadi
?” Batara Naradda menasihati Kresna.

“Aduh pukulun, seketika hamba tidak waspada, ketika para Kurawa datang bagai air
bah mendekati kami dan Setyaki dengan senjata ditangan masing-masing. Maafkan
hamba pukulun, ijinkanlah sekarang kami kembali ke Wirata” Jawab Sri Kresna
membela diri.1

<<< ooo >>>

Sebelum kembali ke Wirata, kembali Kresna teringat akan kesanggupannya


menyampaikan sesuatu kepada Karna, putra Kunti dari kecelakaan dalam
menerapkan ajian ajaran Resi Druwasa ketika itu, sehingga Kunti hamil karena ulah
Sang Hyang Surya.

Bertemulah Kresna dengan Karna, disampaikan salam dari sang ibu yang dalam
hatinya tetap menyayanginya.

Ketika Kresna dengan jujur mengatakan apa yang dilihatnya dengan mata hatinya,
hati Karna merasa tersentuh. Akhirnya dia mengatakan hal yang menjadi rahasia
hatinya selama ini.

“Kanda Kresna, mungkin hal ini tidak mengagetkan kanda. Tapi isi hati ini akan saya
tumpahkan dihadapan kanda, sejujur-jujurnya tanpa ada yang aku simpan
lagi” Tutur Karna Basusena.

1Dalam versi pedalangan Mataraman dan Banyumasan, kala terjadi Triwikrama, Prabu Drestarastra
dan Dewi Gendari Tewas tertimpa tembok baluwarti. Dalam tulisan ini, Prabu Drestarastra sekalian
Dewi Gendari akan diceritakan setelah perang Baratayuda usai.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 27


Gb. 5 - Sri Kresna Triwikrama

“Sebenarnya kenapa adikmu berlaku seperti ini adalah, pertama, dinda bermaksud
membalas budi kepada Prabu Duryudana atas kebaikan yang selama ini telah
tertumpah kepadaku siang dan malam. Sepantasnyalah nyawaku aku pertaruhkan
membelanya” Mulailah Karna menjelaskan ikhwal atas apa yang terjadi
sesungguhnya.

“Kedua, sewaktu dulu ketika saya bertempur memperebutkan senjata Kunta


Wijayandanu, perang tanding kedua adikmu, antara saya dengan Arjuna telah
disaksikan oleh Sang Hyang Naradda, bahwa bila nanti perang besar darah Barata

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 28


terjadi, tanding itu akan dilanjutkan hingga satu diantaranya akan tewas, kanda.
Dan hal itu sudah menjadi garis pepasti”.

“Ketiga, angkara murka harus segera lenyap dari muka bumi, sebab itu niat adikmu
ini adalah segera menjadikannya Baratayuda menjadi ajang tumpasnya angkara
murka yang disandang oleh kakang Duryudana dari atas bumi Astina, kanda”.

Karna melanjutkan : “Biarlah putra bibi Kunti ini tetap lima, seandainya nanti aku
bertanding melawan Arjuna, dan salah satunya gugur dalam palagan nanti”.

Termangu Sri Kresna mendengar pengakuan jujur dari Adipati Karna, dirangkulnya
saudara sepupunya, saudara dari orang tua kakak beradik antara ayahnya, Prabu
Basudewa sebagai ayah sri Kresna dengan adiknya Kuntitalibrata sebagai ibu Karna
itu.

Setelah berjanji untuk tetap merahasiakan semua yang terucap itu. Minta dirilah Sri
Kresna untuk pulang kembali ke Wirata.

<<< ooo >>>

Tersiar kabar luas bahwa Perang Baratayuda akan segera berlangsung. Para negara
sekutu dari kedua belah pihak mulai bersiap datang dari berbagai penjuru dunia.

Sementara itu sesaji tawur dihidangkan kepada para dewa junjungan dari kedua
belah pihak. Sang Dursasana dipasrahi tugas untuk mencari manusia sebagai tawur
bebanten sebagai syarat akan keunggulan dalam perang nanti.

Berangkatlah Arya Dursasana mencari manusia yang sanggup dijadikan tumbal. Tanpa
pilih-pilih lagi, ketika sampai di pinggir kali Cingcingguling, sepasang kakak adik
kembar penambang (tukang menyeberangkan orang dengan perahu) Sarka dan
Tarka, dirayu untuk dijadikan tumbal dengan janji anak istrinya bakal dimuliakan di
negara Astina. Keduanya menolak, tapi Dursasana tetap memaksa. Dibunuhnya Sarka
dan Tarka dengan keji.

Sukma dua penambang itu melayang dengan sumpah akan membalas kematiannya
segera.

Dipersembahkannya tumbal itu keharibaan Batara Kala, yang dengan gembira


menerima dan sanggup untuk menumpas Pandawa yang memang salah satu sukerta
yang berhak dimakannya. Berangkatlah Batara Kala diiringi harapan besar para
Kurawa.

Sampailah Batara Kala dikediaman para Pandawa. “ Heee. . . sudah lama aku
mengidamkan makanan satria-satria trah Pandawa, sekaranglah saatnya tidak ada

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 29


yang menghalangi. Kresna yang telah kehilangan kembang Wijayakesuma, tak akan
mampu menghalangiku memakan darah daging Pandawa” Kegirangan Batara Kala
setelah mengetahui Kresna tak lagi mampu menghalangi maksudnya.

Kresna yang ditakuti Kala bila hendak memangsa manusia-manusia sukerta, jenis
manusia dengan ikatan kekeluargaan tertentu dan berbuat sesuatu yang ditentukan,
yang dijanjikan ayahnya Batara Guru boleh dimakan, tak kuasa menaklukkan Kala
dengan cepat. Seluruh kekuatan dan mantra Sri Kresna yang sekarang hanya memiliki
satu dari sepasang pusaka sakti Cakrabaswara dan kembang Wijayakusuma, dapat
ditandingi oleh Kala.

<<< ooo >>>

Kahyangan Ondar-Andir Bawana. Ketika itu Raden Wisanggeni, Putra Arjuna dari Dewi
Dersanala, sedang menghadap Sang Hyang Wenang, ayah penguasa Kahyangan
Jonggring Salaka, Batara Guru.

Wisanggeni manusia setengah dewa karena ibunya adalah putri dari Sang Hyang
Brahma, mengetahui apa yang sedang terjadi di Wirata dan mengajak bicara sang
Hyang Wenang

“Kaki Wenang, sebenarnya Baratayuda itu jadi nggak sih?”

“Kenapa kamu tanyakan itu Wisanggeni, bukankah garis besar cerita tentang
kejadian dijagat ini kamu sudah mengetahui, kecuali nasib dirimu sendiri, tidak ada
yang menghalangi kemampuanmu melihat ke masa depan” Sang Hyang Wenang
dengan sengaja mencoba menyelidiki kemauan Wisanggeni yang sebenarnya sudah ia
pahami.

“Kalau begitu kaki Wenang, kenapa sekarang Kala memaksakan kehendak dengan
menumpas Pandawa saat ini, kaki ?” sahut Wisanggeni dengan santai.

“Ya, aku sudah tau maksudmu, turunlah ke Wirata. Bawalah senjata gada ini sebagai
ganti senjata andalan Kresna yang mampu mengalahkan Kala dalam maksudnya
makan manusia-manusia sukerta” Sang Hyang Wenang segera memberikan senjata
gada kepada Wisanggeni.

“Nanti setelah selesai tugasmu segera kembalikan kemari lagi. Ada sesuatu yang aku
hendak katakan kepadamu, Wisanggeni” sambung Hyang Wenang.

Segera Wisanggeni melesat turun dari haribaan Sang Hyang Wenang.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 30


Gb. 6 – Bambang wisanggeni (gaya Solo)

Kresna yang kehilangan akal dalam membendung serangan Kala segera didekatinya
dan diberikan gada pemberian Hyang Wenang.

“Uwa, kamu nggak akan bisa kalahkan Kala, bukankah uwa Kresna sudah tak lagi
mempunyai sepasang pusaka andalan itu, wa?”

“Lho kamu kulup, tahu saja orang tuamu ada dalam kerepotan, kemarikan gada itu
kulup, biar aku hadapi kembali Batara Kala itu”.

Maju kembali Sri Kresna Menghadapi Sang Batara Kala. Kali ini tidak dua kali kerja.
Ketika tanding kembali dan Kala lengah, gada inten segera menghajar tubuh Kala,
dan segera Kala terkapar, bertobat dan mengaku kalah.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 31


“Baiklah Kala, sekarang aku ampuni bila kamu tidak lagi lagi memakan dan
mengganggu manusia sukerta. Sanggupkah kamu?”

Setelah menyanggupi syarat dari Kresna, pulanglah kembali Kala ke Pasetran


Gandamayit.2

Wisanggeni yang sudah berjanji untuk datang kembali ke hadapan Sang Hyang
Wenang, kembali datang setelah menerima kembali gada pemberian pinjam itu.

“Kaki Wenang, sekarang aku sudah kembali, apa yang hendak kaki katakan mengenai
hal penting itu kaki ?” tanya Wisanggeni.

“Wisanggeni, kamu pasti akan memilih Baratayuda akan dimenangkan para orang
tuamu bukan?” Hyang Wenang pura-pura bertanya.

“Itu sudah pasti, nggak perlu ditanyakan lagi” kembali jawab Wisanggeni masih
dengan santainya.

Lanjut Sang Wenang: “Apakah kamu rela menjadi tumbal atas kemenangan orang
tuamu?”

“Kalau kaki Wenang sudah menggariskan seperti itu, apa keberatanku” sahut
Wisanggeni. “Ayolah kaki Wenang, sempurnakan kematianku sekarang”

Segera sang Hyang Wenang menatap Wisanggeni dengan tajam. Pandangan Sang
Hyang Wenang diiringi tatapan yang fokus menyebabkan tubuh Wisanggeni makin
mengecil dan mengecil, akhirnya menjadi debu tertiup angin.

<<< ooo >>>

Terkisah tiga orang manusia bernama Resi Janadi beserta kedua cantriknya Cantrik
Rawan dan Cantrik Sagatra. Ketiganya bertekat untuk mati sebagai tawur para
Pandawa. Maka menghadaplah mereka kehadapan para Pandawa.

“Gusti, perkenankan kami bertiga hendak meraih kemukten swargaloka dengan


perantara paduka. Ini kami lakukan demi kejayaan trah paduka nanti di dalam
perang agung nanti” begitu tutur Resi Janadi kepada Prabu Puntadewa.

2Versi lain menyebutkan Batara Kala tewas saat itu bersama dengan Batari Durga ketika,
Kresna yang menyamar sebagai Batara kala mengelabuhi Durga agar menyimpan gada inten
pada kutangnya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 32


Prabu puntadewa adalah manusia pengasih, tidak dapat menolak memberi atau
menerima apapun yang orang lain minta atau berikan kepadanya.

“Yayi Arjuna, segera berikan apapun maksud ketiga orang ini”

Arjuna menghunus Pasupati, dilepaskan panah hadiah dewata ketika bertapa di


Gunung Indrakila. Panah dengan tajam berbentuk bulan sabit itu menghembuskan
kobaran api dan membakar ketiga manusia yang dengan sukarela menjadi tawur
dalam kejayaan Perang Besar Baratayuda.

<<< ooo >>>

Goa Selamangleng, sebuah negara para rasaksa dengan kerajaan yang dibangun
dalam goa batu dilereng gunung. Jangan samakan goa itu dengan tempat kumuh
dan kotor, namun sejatinya kerajaan goa itu indah mengagumkan, berhiaskan dengan
batu permata mutu manikam nan gemerlap, bagaikan berebut sinar dengan sorot
sang surya.

Pagi itu sang penguasa, seorang raseksi, perempuan dengan sosok tinggi besar
bernama Dewi Jatagini sedang duduk di balairung dihadap oleh anak semata
wayangnya Kalasrenggi. Pemuda raksasa sebesar lumbung padi dengan muka seram
bermulut manyun dihias gigi gerigi tajam, bak tajamnya batuan karang di lereng
jurang pantai.3

Kalasrenggi berketetapan hati untuk mengutarakan isi hati yang telah dipendamnya
sedari kecil hingga menganggap sudah waktunya perasaan itu dimuntahkan
dihadapan ibunya:

“Ibu, aku merasa sudah cukup waktu untuk mengetahui, siapakah sejatinya diri kami
ini” Kalasrenggi memulai pembicaraan setelah sekian lama terdiam ragu untuk
mengutaraakan hal ini.

“Sedari kecil hingga dewasa, saya tidak pernah merasakan bagaimana rasa seorang
anak dibimbing oleh bapaknya. Walaupun ajaran kesaktian kanuragan telah dipenuhi
oleh ibunda yang sakti mandraguna, tapi rasa ini tidak dapat dibohongi, rasa
kedekatan anak lelaki dengan ayahnya adalah idaman setiap anak lelaki,
ibunda” sambung Kalasrenggi.

3 Dalam versi Mataraman dan Banyumasan, anak Dewi Jatagini ada yang menyebutkan
sebagai anak kembar, yaitu Kalasrenggi dan Srenggisrana.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 33


Termangu dewi Jatagini mendengar penuturan anaknya yang sebelumnya
diperkirakan pasti suatu hari akan menanyakan hal itu.

“Baiklah anakku, mungkin sudah saatnya aku beritahukan hal tentang kedua orang
tuamu yang sebenarya, hingga kamu hadir didunia sekarang”. Kemudian Jatagini
menceritakan apa yang terjadi pada dirinya hingga terlahir Kalasrenggi.

<<< ooo >>>

Syahdan, ketika itu kakak beradik Prabu Jatayaksa dan Jatagini muda sedang
kasmaran. Prabu Jatayaksa merindukan Dewi Subadra, yang sudah bersuamikan
Arjuna, sedangkan Jatagini kasmaran dengan satria penengah Pandawa, Arjuna.

Jatayaksa berangkat ke Madukara sendiri hendak menculik Subadra, sedangkan


Jatagini dengan diam-diam juga pergi dari Selamangleng hendak mencari Arjuna.

Keduanya memang sakti mandraguna dapat menjelma menjadi siapa saja yang
diangankan.

Keduanya berubah menjadi orang orang yang dianggap dapat menaklukkan hati
kekasih idamannya.

Nasib berkehendak lain, mereka bertemu dan memadu kasih sekembalinya ke


Selamangleng. Lahirlah Kalasrenggi kemudian, seorang anak dengan ujud raksasa.

Curigalah keduanya dan berubah ujud kembali ke semula setelah saling mengaku
kesejatian dirinya.

Dendam Jatayaksa dengan seribu rasa atas dipermalukannya keluarga Selamangleng


tertumpah kepada Arjuna. Berangkatlah dia dengan lasykarnya menuju Madukara.
Pertempuran terjadi antara prajurit Selamangleng dengan Madukara. Pertempuran
Jatayaksadan Arjuna tidak dapat dielakkan lagi. Kesaktian Jatayaksa yang hebat
membuat Arjuna keteteran yang akhirnya melepaskan panah Ardadedali mengenai
dada Jatayaksa dan tewaslah sang raja Selamangleng.

<<< ooo >>>

“Itulah anakku kejadian yang sebenarnya, ayahmu yang juga uwakmu berpesan
padaku, untuk memberikan segenap kesaktian kepada kamu, dan setelah kamu
dewasa carilah Arjuna, balaslah dendam yang tertanam dalam-dalam didadaku ini,
anakku” pesan sang ibu mengakhiri penjelasan asal usul kejadian yang telah lalu itu.

“Ibu ijinkalah anakmu berangkat sekarang juga. Berikan aku ciri-ciri satria itu” tidak
seranta Kalasrenggi hendak menuntaskan dendam kedua orang tuanya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 34


Sebenarnya keraguan Jatagini, harap akan keselamatan anaknya bercampur aduk
dengan ijin yang diberikan.

“Baiklah, tetapi menurut prajurit pangisepan telik sandi, saat ini Pandawa sedang
berada di Wirata dan kamu tidak dapat mengenali Arjuna kalau tidak aku beri ciri-
cirinya” sambung sang ibu, yang kemudian menerangkan ciri target utama balas
dendam.

<<< ooo >>>

Adalah Bambang Irawan, yang baru turun gunung dari Pertapaan Yasarata atau
Candibungalan. Cucu Resi Jayawilapa, memaksa turun gunung ingin mengabdikan
diri demi kejayaan trah-nya, Pandawa, karena ia adalah anak Arjuna. Tanpa restu
sang Panembahan dan ibunya Dewi Manuhara, Bambang Irawan berangkat ke Wirata
seorang diri.

Setelah bertemu dengan ayahnya dan para saudaranya yang lain, Irawan menyatakan
kesanggupannya menjadi bebanten bagi kejayaan keluarga, keluarlah Irawan dari
balirung dan berkumpul dengan para prajurit yang siap siaga menuju tegal Kuru
keesokan harinya.

Nasib naas menimpanya, ketika Kalasrenggi yang tengah berupaya mencari tahu
keberadaan Arjuna melihat satria dengan ciri ciri yang hampir sama dengan yang
disebutkan oleh ibundanya. Kalasrenggi rasaksa sakti yang dapat terbang itu segera
turun, dan tanpa ba bi bu menyambar leher Bambang Irawan dengan moncongnya.
Putus leher satria muda itu. Namun sebelum itu, sempat Bambang Irawan
menancapkan pusakanya kedalam dada Kalasrenggi. Gugurlah Bambang Irawan
berbarengan dengan lepasnya nyawa Kalasrenggi.4

<<< ooo >>>

4Terdapat versi lain yang menyebutkan, Kalasrenggi tewas oleh pusaka panah Srikandi ketika
ketahuan membunuh Bambang Irawan, Pada babak awal Baratayuda.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 35


Episode 3 : Perang Besarpun Dimulai di
Hari Pertama itu

Gb. 7 – Perang Baratayuda (serat Baratayuda)

Dan ketika pagi merekah, berangkatlah dengan suara gemuruh lasykar besar dari
Negara Wirata. Merah menyala busana barisan terdepan bagaikan semburat sinar
matahari fajar yang membias mega dari puncak gunung gemunung ketika hendak
menerangi jagat.

Susul menyusul warna warni barisan yang lain bergerak bersama, yang berwarna
kuning kumpul sesama kuning terlihat seperti sekumpulan burung podang yang
menguasai pucuk ranting-ranting pohon besar. Barisan yang berwarna putih
berkumpul sesama putih, sehingga kelihatan bagaikan kumpulan burung kuntul
menyebar memenuhi rawa-rawa. Demikian juga barisan dengan seragam berwarna
hijau, biru, hitam, ungu dan sebagainya terkumpul sesamanya.

Terlihat dari kejauhan, bebarisan prajurit dengan seragam berwarna warni elok
bagaikan kelompok kembang setaman.

Suara gemerincing kendali dan kerepyak ladam kuda membentur bebatuan jalan,
bercampur dengan irama tidak beraturan tangkai tombak yang saling beradu
menambah hingar bingarnya suara barisan. Kemeriahan barisan ditingkah dengan
suara tetabuhan tambur, suling, kendang dan bende serta kelebatnya bendera
bersimbol warna warni, bagai hiasan pesta, indah dipandang mata ! Debu akhir

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 36


kemarau membubung tinggi dibelakang barisan menambah dramatis dalam
pandangan siapapun yang melihat.

Diatas awan para dewa, dewi, hapsara, hapsari menyebar bunga mewangi, memuji,
hendaknya barisan Pandawa dan sekutunya akan unggul dalam perang.

Pada barisan terdepan adalah lasykar setia dari Jodipati berbendera hitam dengan
gambar gajah. Terlihat sang Werkudara yang selamanya tidak pernah berkendara,
tetap dengan jalan kaki menggenggam gada super besar ditangannya. Dibelakangnya
Patih Gagakbongkol mengiring langkah gustinya dengan tegap.

Berikutnya nampak Arjuna dengan kereta kencananya yang berhias sesotya gemerlap,
lasykarnya berbendera merah keemasan dengan gambar kera ditengahnya.
Disampingnya duduk istrinya, Wara Srikandi, anak Prabu Drupada, seorang wanita
berwatak prajurit.

Susul menyusul dibelakangnya sesama barisan saudara Pandawa yang lain, Prabu
Punta dengan memangku surat Jamus Kalimasadda, duduk diatas kereta.
Disampingnya duduk Wara Drupadi dengan rambut terurai melambai ditiup angin.
Dalam benak Sang Dewi terpikir, inilah saat yang ditunggu untuk keramas dengan
darah Dursasana, seorang yang coba mempermalukannya pada pesta permainan dadu
dahulu. Atas perlindungan dewa, kain kemben yang coba dilepas sang Dursasana
menjadi tak berujung. Saat itulah Drupadi bersumpah untuk tidak bergelung sebelum
keramas dengan darah Dursasana.

Susul menyusul dibelakangnya, kembar bungsu Pandawa Nakula dan Sadewa, dengan
berbendera ungu bergambar dewa kembar, Batara Aswin-Aswan.

Pada barisan sekutu, barisan Dwarawati dipimpin Prabu Kresna beserta sang adik ipar
Arya Setyaki, disambung barisan dari Wirata dengan pengawak Prabu Matswapati
diiring kedua Putranya Utara dan Wiratsangka. Resi Seta, putra Sulung baginda
Matswapati yang sedang dalam semedi di Selaperwata atau Sukarini-pun segera
disusul utusan untuk memintanya turun gunung, diberi warta bahwa Baratayuda
segera terjadi.

Dibelakangnya, lasykar Pancalareja/Pancalaradya prabu Drupada didampingi


Pangeran Pati Arya Drestajumna, atau Trustajumena. Dibelakangnya kembali
menyusul raja-raja sekutu yang lain yang mengharap kemukten dengan ikut serta
dalam perang suci ini.

Tak ketinggalan barisan yang dipimpin anak-anak muda Pandawa, Gatutkaca dengan
pasukan raksasa dan manusia biasa dari Pringgandani, kemudian putra sang Arjuna,
Abimanyu, putra sang Punta, Pancawala dan saudara muda yang lain.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 37


Sampailah barisan di tepi lapangan yang maha luas, tegal Kurukasetra. Barisan yang
mengumpul menjadi satu bagaikan pasangnya air samudra yang meleber ke daratan.
Beberapa pesanggrahan dibangun untuk menjadi base camp dibeberapa tepi
strategis. Prabu Puntadewa beserta para sesepuh menamai pesanggrahan utama
sebagai Pesanggrahan Randuwatangan. Dengan penguat batang kayu pohon randu,
dipadu patut dengan segala hiasan hingga menyerupai istana.

Pesanggrahan untuk para senapati dengan nama pasanggrahan Randugumbala,


pesanggrahan dengan bahan kayu semak randu, sedang pesanggrahan untuk prajurit
garda depan dengan nama Glagahtinunu, pasanggrahan dengan lahan rumput glagah
yang dibakar terlebih dahulu.

<<< ooo >>>

Begitupun juga di pihak Kurawa, mereka membuat pesanggrahan yang dihias


bagaikan istana yang sesungguhnya, dinamakan Pesanggrahan Bulupitu,
pesanggrahan utama dimana para calon senapati dihimpun dalam satu naungan,
sementara para prajurit melingkup disekitar pesanggrahan.

Ditempat lain Adipati Karna menempati pesanggrahan Ngrunting, Prabu Salya


mesanggrah di Karangpandan.

<<< ooo >>>

Persiapan di pihak Pandawa dimatangkan, Dewi Kunti sudah datang diantar kembali
iparnya Arya Yamawidura beserta putra sang Yamawidura, Arya Sanjaya ke
Randuwatangan.

“Kanjeng Ibu, putra-putra paduka mengharap restumu untuk mengemban tugas suci
ini”. Puntadewa memulai pokok pembicaraan setelah haru biru berlalu, menyesali
mengapa perang harus terjadi. Tetapi pada dasarnya mereka adalah kesatria waskita,
yang dianugrahi hati penuh kebijaksanaan.

Kunti dengan penuh wibawa menguatkan batin anak anaknya

“Anak anakku, watak satria adalah mempunyai hati yang teguh. Tidak pernah
merasa ragu dalam bertindak. Bila sudah dikatakan dahulu bahwa negara akan
dikembalikan setelah masa perjanjian lewat, maka janji itu adalah hutang yang
harus dibayar, dan kalian pantas untuk mendapatkan apa yang dijanjikan”.

“Sedangkan kamu semua adalah kesatria yang diidamkan oleh ayahmu dahulu,
semua anak Pandu adalah anak-anak yang teguh memegang janji. Sekarang ini
adalah saat yang tepat untuk kalian semua berbakti kepada mendiang ayahmu,
menjaga kebanggaan akan sikap yang ditanamkan sejak kamu masih kecil”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 38


Sementara kebulatan tekad terlahirkan, Yamawidura , paman para Pandawa dan
Kurawa, tidak tega ikut dalam perang, dalam pikirannya masih berkecamuk rasa
sesal, kedua pihak adalah bagian dari darah dagingnya. Dan minta pamitlah Arya
Yamawidura kembali ke Panggombakan, kadipaten dalam lingkungan kerajaan
Astina.

<<< ooo >>>

Gb. 8 – Senapati Bhisma (Dewabrata)

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 39


Pesanggrahan Bulupitu. Prabu Duryudana dalam sidang darurat penetapan senapati.

Hadir didalamnya Prabu Salya dari Mandaraka sudah diundang datang. Demikian juga
Resi Bisma dan Begawan Durna.

“Para sesepuh semua dan saudaraku, tidak sabar rasaku ini hendak mulai menumpas
Pandawa yang tidak tahu tata”. Duryudana mengambil inisiatif awal dengan
menunjuk seorang senapati.

“Eyang Bisma, dengan segala hormat, kami para Kurawa meminta kanjeng
Eyang menjadi senapati pertama”. Strategi Duryudana menunjuk. Dalam pikirnya,
Baratayuda akan dibuat sesingkat mungkin.

Ia berkesimpulan, siapapun dari pihak Pandawa tidak akan mampu menanggulangi


krida Sang Bisma Jahnawisuta, satria dengan nama muda Dewabrata, sarat dengan
ilmu kaprawiran dilambari kesaktian hasil dari mesu raga olah batin pada sepinya
pertapan Talkanda menjadikannya seolah tanpa tanding.

Sebenarnyalah Resi Bisma ada dalam situasi batin yang bertentangan dengan pihak
yang ia bela. Dalam hatinya, kesatria Pandawa-lah yang terkasih ini tersimpan dalam
relungnya.

Tetapi intuisi seorang Pandita waskita mengatakan, “inilah saatnya bagiku untuk
mengunduh segala pakarti yang aku pernah perbuat dimasa lalu”.

Dalam benaknya terbayang, ketika ia pernah muda dan salah langkah, membunuh
putri Kasi bernama Dewi Amba tanpa sengaja, untuk menghindari batalnya sumpah
kepada sang ibu sambung, dewi Durgandini, bahwa ia akan menjalani hidup sebagai
brahmacarya, seorang yang tak kan pernah menyentuh perempuan.

Terngiang dalam telinganya akan ajakan sang Dewi Amba ketika menjelang ajalnya
menjemput, bahwa ia akan menggandeng tangan sang Dewabrata saat ia akan
bertarung dengan prajurit wanita entah kapan. Dan dalam pengamatannya prajurit
wanita yang pantas menjadi sarana kemuliaan adalah prajurit Pandawa. Kelompok
satria utama yang pantas mengantarnya kembali ke alam tepet suci.

Satu hal lagi, Bisma akan kembali bertarung dengan Seta, seorang putra sulung raja
Wirata yang sama-sama gemar bertapa. Ketika itu mereka sepakat akan kembali
bertarung mengadu kesaktian akibat dipisahkan Hyang Naradda, karena pertempuran
mereka oleh suatu sebab menimbulkan panas hingga sampai ke Kahyangan Jonggring

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 40


Salaka. Dan momen ini tak dapat ia tinggalkan melihat Wirata ada di pihak Pandawa.
5

<<< ooo >>>

Demikianlah, Senapati utama telah ditunjuk, dengan senapati pendamping Prabu


Salya dan Pandita Durna. Formasi serangan mematikan telah disusun sesuai dengan
ambisi sang Prabu Duryudana yang tidak mau mengulur waktu segera mengeluarkan
jurus maut berisi orang orang sakti andalan.

Kata sepakat telah bulat, strategi telah disusun, pilihan jatuh pada gelar Wukir
Jaladri, gunung karang ditepi laut dengan deburan ombaknya. Kokohnya pertahan
karang laut dengan gerakan ombak laut yang dahsyat siap melumat barisan prajurit
Pandawa. Gemuruh langkah cepat prajurit yang bergerak maju bagaikan membelah
langit. Jumlah besar prajurit dari ujung hingga ke ujung lainnya hampir tak kelihatan,
ditambahkan dengan pandangan yang tertutup debu yang mengepul. Kembali
bebunyian penyemangat ditalu, tambur, suling, kendang, gong beri ditabuh
membahana memekakkan telinga.

Randuwatangan. Segala kemungkinan sedang dirembug, Baginda Matswapati


memberikan usul

“Anak-anak dan cucu-cucuku, negaraku, bahkan jiwaku beserta anak-anakku sudah


aku pertaruhkan untuk kejayaan Pandawa. Sumpahku telah terucap, ketika cucu
Pandawa sudah menyelamatkan keselamatan keluarga dan negara Wirata dari musuh
dari dalam, Kencakarupa, Rupakenca dan Rajamala, dan musuh dari luar para
Kurawa dan sraya prajurit dari Trikarta Prabu Susarman”. Demikian Matswapati
membuka usulannya.

“Dari itu, perkenankan sebagai senapati, angkatlah anak-anakku. Ketiganya sekalian


aku serahkan segala strategi gelar peperangan kepadamu sekalian”.

5Terdapat versi lain, yang terbunuh oleh Raden Dewabrata ketika itu adalah Dewi Ambika.
Namun versi pada cerita ini adalah ; Ketika itu Dewi Amba, Ambika dan Rambalika menjadi
boyongan ke Astina ketika sayembara perang yang diselenggarakan Raja Kasi telah
dimenangkan oleh Dewabrata.

Ketika itu kedua adiknya Citragada dan Wicitrawirya, diserahi putri penengah dan terakhir
sehingga dewi Amba tetap mengharap untuk dinikahi Dewabrata. Namun sumpah Dewabrata
kepada ibu tiri, Dewi Durgandini, yang khawatir tahta akan jatuh kepada Dewabrata atau
anak turunnya, menyebabkan Dewabrata bersumpah untuk tetap melajang seumur hidupnya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 41


“Sebagai pengayom dan pengarah laku, segala tindak yang akan dilakukan untuk aku
serahkan kepada Kanda Prabu Kresna” Puntadewa meminta Kresna untuk mengambil
alih segala kebijakan dan strategi.

“Baiklah Eyang dan adikku para pandawa, aku terima usul eyang Baginda
Matswapati. Untuk maju pertama kali sebagai senapati adalah eyang Seta sebagai
senapati pertama dan utama, sedangkan sebagai pendamping adalah eyang Utara
dan eyang Wirasangka”. Kresna memberikan ketetapan. 6

Gegap gempita penyambutan para prajurit. Siapa yang tak tahu Resi Seta ? Putra
pertama Baginda Matswapati, guru sang Gatutkaca yang memiliki ajian Narantaka.
Ajian yang bisa disejajarkan dengan ajian Lebur Seketi kepunyaan ayah Duryudana,
Adipati Drestarastra. Bahkan bila Lebur seketi dapat meleburkan benda apapun yang
diraba, maka Narantaka lebih dari itu, perbawa sekelilingnyapun menjadi panas
terbakar bila aji ini dirapal.

Kesaktian Resi Seta bila dibandingkan, jauh diatas dari kesaktian adik adiknya, Utara,
apalagi Wratsangka yang agak penakut.

Walaupun para Pendawa menyebut ketiga putra Wirata sebagai eyang, namun itu
hanya sebatas sebutan menurut garis keturunan. Karena sesungguhnya Utara dan
Wiratsangka adalah orang orang yang masih sebaya dengan para Pandawa, bahkan
saking panjangnya umur Baginda Matswapati, putra pertama Resi Seta adalah sebaya
Bisma sedangkan putri terakhir, Dewi Utari, malah sebaya dengan anak anak
Pandawa.

Ketika strategi perang belum dibicarakan, Wara Srikandi yang bertugas mengamati
garda depan di Glagahtinunu dengan tergesa menghadap sidang. Lapornya

“Semua yang hadir, sekarang para Kurawa sudah mendatangi palagan dengan
menggelar strategi perang Wukir Jaladri. Kami di garda depan sudah sempat
berhadapan dengan barisan depan mereka, tetapi kami sendiri dan Setyaki serta
kakang Udawa berkesimpulan untuk kembali terlebih dulu sebagai wujud kita semua
menggelar peperangan ini bukanlah perang ampyak, melainkan perang dengan
memakai aturan “.

Braja Tiksna Lungid. Gelar serupa seberkas bola api meteor dirancang Sri Kresna
untuk menghadapi gelar lawan, meteor panas dan tajam yang mampu meremukkan
karang laut sekalipun. Gelar frontal yang dirancang langsung berhadapan antar kedua

6 Pada versi lain, majunya Resi Seta ke palagan terjadi ketika Utara dan Wratsangka telah
tewas dan terpancing kemarahan Resi Seta saat jugar dari tapa tidur.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 42


senapati utama, untuk menghindari kelemahan para pendamping, Utara dan
Wratsangka. Namun sewaktu-waktu gelar dapat dirubah menjadi Garuda Nglayang
dengan kedua sayap diisi senapati pendamping, dengan back up Werkudara terhadap
Arya Utara dan Arjuna terhadap Arya Wratsangka disisi kiri dan kanan.

Diceritakan, kedua pihak barisan telah berhadapan. Gemetar sang Arjuna melihat
suasana yang tergelar didepan mata. Keraguan hati Arjuna disikapi Sri Kresna.
Didekatinya Arjuna yang berdiri termangu.

Gb. 9 – Arjuna dan Kresna (karya Herjaka HS)

“Kanda Kresna, apalah artinya peperangan ini. Perang yang terjadi sesama saudara.
Mereka yang saling berhadapan adalah kakaknya, adiknya, keponakan, paman dan
seterusnya. Bahkan guru dan murid juga terlibat” demikian sang Arjuna tersentuh
rasa kemanusiaannya.

Lanjutnya “Apakah masih ada gunanya saya meneruskan suasana seperti ini, apakah
tidak sebaiknya apa yang terlihat didepan mata disudahi saja ?”.

“Iparku, bukankah sudah menjadi ketetapan dalam sidang bahwa inti dari
peperangan ini bukan lagi berkisar pada kembalinya Astina sebagai hal yang utama,
walaupun demikianlah kenyataannya” Kresna mulai mencoba menghilangkan
keraguan yang kembali meliputi batin Arjuna”.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 43
“Tetapi darma dari satria yang tersandang dalam jiwa adalah menegakkan aturan
yang sudah ditetapkan. Dan lagi, perang ini bukan sekedar perang memperrebutkan
negara, tetapi dibalik itu, perang ini adalah sarana memetik hasil pakarti para
manusia didalamnya dan juga alat untuk meluwar janji yang telah terucap, perang
idaman para brahmana, jangka para dewa. . . . . . . .. . . .” banyak banyak nasihat
yang dikatakan Kresna untuk menguatkan hati Arjuna.

“Tetapi apakah aku dapat tega melepas anak panah, bila dihadapanku adalah orang
yang aku agungkan?” tanya Arjuna.

“Dalam perang bukanlah tempat untuk murid membalas jasa kepada guru, bukan
membalas kebaikan antara yang memberi dan menerima kebaikan, tetapi dalam
peperangan itu adalah berhadapannya kebaikan dan angkara murka. Lagi pula
banyak satria yang akan membantu menghadapi orang yang kau agungkan, jadi tidak
perlulah kamu sendiri yang menghadapinya. Tapi bila memang harus bertanding
juga, sembahlah terlebih dulu para junjunganmu sebelum kamu bertempur, niscaya
beliaupun akan menghormati kamu, Arjuna” Kresna menjelaskan.

Demikianlah, maka perang campuh berlangsung sengit. Suara dentang pedang beradu
memekakkan telinga. Gesekannya memancarkan bunga api bagai keredap kilat,
mengerikan. Saling bunuh terjadi, siapa yang terlena akan terkena senjata lawan.
Teriakan kesakitan para prajurit dan hewan tunggangan yang terkena senjata
membuat giris prajurit yang berhati lemah. Dilain pihak, prajurit yang haus darah
terus merangsek penuh nafsu membunuh. Sementara di angkasa hujan anak panah
bagai ditumpahkan dari langit.

Pertempuran antara kedua senapati utama Seta dan Bisma juga berlangsung seru,
keduanya pernah beradu kesaktian kala itu, kembali bertempur dengan peningkatan
ilmu kanuragan yang tak pernah mereka tinggalkan pengasahannya, sehingga tingkat
kemampuan bertempur mereka berdua semakin tinggi. Arena pertarungan seakan
menjadi kepunyaan mereka, karena lingkaran hawa panas keluar dari lingkaran
peperangan, sebab tak ada prajurit yang berani mendekati arena pertarungan antar
keduanya.

Ditempat lain, pertempuran senapati pendamping juga berlangsung seru. Senapati


Kurawa, walaupun keduanya sudah tua, namun mereka dengan kesaktiannya yang
mapan dan matang mampu mengatasi kekuatan dua anak muda Wirata. Tidak heran,
karena semasa muda keduanya adalah satria pilih tanding. Bahkan Durna dengan
kekurangan fisik, walau hanya bertangan tunggal, tetapi posisinya selalu diatas
angin. Sehingga terus merangsek dan mendesak Wratsangka.

Ketika matahari sudah tergelincir kearah barat, Durna menyudahi pertempuran.


Wratsangka terkena pusaka Cundamanik, gugur sebagai tawur perang.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 44


“Wratsangka tewas . . . , Wratsangka tewas . . . . .!!” teriakan para prajurit Kurawa
memberikan kipasan angin segar kepada kawan kawannya.

Motivasi prajurit Kurawa yang sudah mengendor kelelahan, berkobar kembali ketika
mendengar tewasnya Wiratsangka.

Gb. 10 – Wratsangka (gaya Solo)

Dilain pihak, gugurnya Wiratsangka membuat kedua kakaknya menjadi makin liwung,
beringas. Seta dengan ajiannya, Narantaka, kobaran api dari kedua tapak
tangannya meluluh lantaklah prajurit kecil yang menghalanginya. Hewan tunggangan
para senapati seperti kuda, gajah bahkan kereta perang banyak remuk redam dan
gosong terkena amuk Resi Seta. Demikian juga kroda sang Utara, yang tak lama
kemudian mampu merobohkan pertahanan Prabu Salya. Kereta yang ditumpanginya

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 45


Salya terkena sabetan gada Utara, pecah berantakan. Prabu Salya selamat namun si
kusir, patih Mandaraka Tuhayata, ikut tewas tertebas.

Gb. 11 – Rukmarata (putra Prabu Salya)

Putra Salya, Arya Rukmarata yang mencoba melidungi ayahnya akhirnya tewas
terkena panah Resi Seta yang sementara menghindari peperangan dengan Bisma
ketika mendengar adiknya terkasih tewas ditangan Durna.

Dendam membara menguasai hati Sang Seta. Dicarinya Durna yang segera dilindungi
rapat oleh para pengikut setianya. Bisma tak tinggal diam, dibayanginya Seta hingga
tidak dengan leluasa melampiaskan dendamnya kepada Durna.

Sementara itu, Prabu Salya sangat terpukul. Anak lelaki tampan kekasih hatinya
tewas melindunginya. Tewas dengan dada tertembus panah.

“Jagad dewa batara..!, anakku …., kau yang aku harapkan menjadi penggantiku
kelak, ternyata malah mendahului aku. Seperti apa derasnya air mata yang
tertumpah, bila ibumu Setyawati mendengar kabar tentang kematianmu
ngger…“. Bagai kehilangan seluruh kekuatannya, Prabu Salya membelai jasad anak
tercintanya.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 46
Tiba tiba Prabu Salya berdiri. Disapunya pandangan dengan nanar, mencari dimana
Utara berada. Kemarahannya menggelegak dengan hebatnya. Sementara Utara yang
sedang ganti berhadapan dengan Kartamarma dan Durjaya segera diterjang.

“Berikan lawanmu Kartamarma, Durjaya, orang ini pantas menjadi korbanku hari
ini!!!”

Kembali pertempuran yang terputus berlangsung. Kemarahannya memaksa


mengeluarkan raksasa bajang dari dalam tubuhnya. Tertebas gada sang Utara,
raksasa bajang bukannya mati, malah membelah diri menjadi dua. Dua dua tertebas,
raksasa bajang bertambah banyak dengan jumlah ganda. Itulah ajian Candabirawa.
Aji pemberian mertuanya, Resi Bagaspati.

Kerepotan Utara melayani lawan yang semakin banyak. Terlena sang Utara, panah
Prabu Salya, Kyai Candrapati yang dari tadi tertuju kepadanya segera dilepaskan,
mengena tubuh Utara, gugur pula ia sebagai kusuma bangsa dalam peperangan pada
ujung hari.

Senja telah datang di hari pertama itu. Dan hari pertama pertempuran telah
ditetapkan berakhir ketika sangkakala ditiupkan. Bangkai kuda, gajah kendaraan
para prajurit terkapar bersama ribuan sekalian prajurit.

Hari pertama itu mengawali delapan belas hari pertempuran yang akan berlangsung
penuh hingga selesai, dan empatbelas hari diantaranya berlangsung ketika Bisma
madeg senapati.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 47


Episode 4 : Hari-hari Panjang di Padang
Kurusetra

Gb. 12 – Resi Seta

Malam telah larut. Api pancaka sudah hampir padam. Api suci yang membakar kedua
putra Wirata, Arya Utara dan Wratsangka, yang gugur sebagai prajurit gagah berani.
Kesunyian malam mulai mencekam, bintang di langit berkelipan menyebar, sebagian
berkelompok membuat rasi. Menjadi pedoman bagi manusia atas arah mata angin
diwaktu malam mati bulan, serta menjadi titi waktu kegiatan manusia sepanjang
tahun, yang akan berulang dan terus berulang entah sampai kapan. Angin semilir
menyebarkan bau harum bunga liar. Lebah malam terbang dengan dengung khasnya
mencari bunga dan menghisap sari kembang.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 48


Para prajurit yang letih dalam perang seharian memanfaatkan malam itu sebagai
pemulihan tenaga yang esok hari peperangan pasti dilakoninya kembali. Dalam
pikiran mereka berkecamuk pertanyaan, apakah besok masih dapat menikmati
kembali terbenamnya matahari ? Bagi para prajurit pihak Pandawa, kalah menang
adalah darma. Kebajikan dalam membela kebenaran akan memberi kemukten dialam
kelanggengan bila tewas, atau mendapatkan kedua duanya, dialam fana juga dialam
baka nanti, bila nyawa masih belum terpisahkan dari raga.

Malam itu Resi Seta duduk gelisah. Rasa sasar sebelum mampu membalaskan dendam
kematian adik-adiknya masih terus berkecamuk. Sesal kenapa perang cepat berlalu
hingga tak sempat dendam itu terlampiaskan saat itu juga.

“Belum lega rasaku sebelum aku dapat membekuk kedua manusia yang telah
menyebabkan kematian kedua adikku”. Sayang, aturan perang tidak mengijinkan
perang diwaktu malam terus berlangsung.

Resi Seta terus terjaga, hingga ayam hutan berkokok untuk pertama kali barulah
mata terpejam. Didalam mimpinya yang hanya sekejap, terlihat kedua adiknya
tersenyum melambaikan tangannya. Mereka sangat bahagia, mengharap, bila saatnya
ketiganya akan berkumpul kembali.

<<< ooo >>>

Hari baru telah menjelang. Kembali hingar bingar membangunkan Seta dari tidur.

Hari itu gelar perang masih memakai formasi sehari lalu.

Belum matahari naik sejengkal campuh pertempuran berlangsung kembali. Kali ini
Salya dan Durna disimpan agak kebelakang. Sebagai gantinya, Gardapati dan
Wersaya, dua raja sekutu Kurawa di masukkan dalam barisan depan sebagai
pengganti tombak kembar penggedor pertahanan lawan.

Dari pihak Randuwatangan, Werkudara dan Arjuna menjadi pengganti posisi Utara
dan Wratsangka untuk mengimbangi laju serang dua sayap Kurawa.

Dari jauh hujan panah sudah berlangsung. Seta dengan amukannya mencari biang
kematian kedua adiknya. Direntangnya busur dan anak panah ditujukan kepada Salya,
sayang luput dan hanya mengenai kereta perangnya yang kembali remuk.

Kartamarma dengan gagah berani menghadang, tetapi bukan tandingan Seta.


Kembali nasib baik masih menaungi Kartamarma, hanya kendaraannya yang remuk,
sementara Kartamarma selamat.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 49


Bisma mencoba membantu, dilepas anak panah kearah Seta, terkena di dadanya,
tetapi tidak tedas, bahkan anak panah patah berkeping.

Bukan main marah Seta, kembali ia mengamuk semakin liwung. Kali ini Durna sebagai
sasaran anak panahnya, namun Duryudana membayangi, yang kemudian terkena anak
panah Seta. Walau tidak terluka, Duryudana mundur kesakitan dengan menggandeng
Durna menyingkir mencari selamat.

Sebagai Senapati utama dari kedua pihak, Bisma dan Seta kembali bertarung. Saling
serang dengan gerakan yang semakin lama makin cepat. Seta yang sebenarnya
memiliki kesaktian lebih tinggi dari Bisma tidak bisa lekas menyudahi pertempuran.
Perhatiannya masih terpecah dengan rasa penasaran untuk membela kematian adik-
adiknya. Dengan sengaja Seta menggeser arena pertandingan mendekati Durna.
Namun kesempatan itu tidak dapat ditemukannya. Durna sangat dilindungi, demikian
juga dengan Salya, keduanya seakan dijauhkan dari dendam membara Seta.

<<< ooo >>>

Hari berganti, pertempuran seakan tak hendak padam. Sudah berjuta prajurit tewas,
tak terhitung lagi remuknya kereta perang dan bangkai kuda serta gajah kendaraan
para prajurit petinggi. Bau anyir darah dan jasad yang mulai membusuk, mengundang
burung-burung pemakan bangkai terbang berkeliaran diatas arena pertempuran.
Pertarungan kedua senapati linuwih hanya dapat dipisahkan oleh tenggelamnya
matahari.

<<< ooo >>>

Hingga suatu hari, keseimbangan kekuatan keduanya mulai goyah, kelihatan Seta
lebih unggul dari Bisma, secara fisik maupun kesaktian. Mulai merasa diatas angin
Seta sesumbar “Hayo Bisma, keluarkan semua kesaktianmu, setidaknya aku akan
mundur walaupun setapak”.

“Jangan merasa jadi lelaki sendirian dimuka bumi ini, lawan aku, hingga tetes darah
penghabisan pun aku tak akan menyerah”. Bisma tidak mau kalah menyahut.

Tetapi apa daya, tenaga Seta yang sedikit lebih muda mampu terus mendesak
pertahanan Bisma. Merasa terus terdesak, tak terasa posisi Bisma sampai hingga
ketepi bengawan Gangga. Terjatuh ia dari tepi jurang bengawan yang kelewat luas
dan dalam.

Tertegun Seta dibibir jurang, ditungguinya timbul Bisma ke permukaan air beberapa
saat, namun hingga sekian lama jasad Bisma tak kunjung muncul.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 50


Diceritakan, Bisma yang terjerumus kedalam palung bengawan, ternyata tidak tewas.
Samar terdengar ditelinganya sapaan seorang perempuan, “Dewabrata, inilah saat
yang aku tunggu, kemarilah ngger. . . !”

Gb. 13 – Dewi Gangga

Dicarinya suara itu yang ternyata keluar dari mulut seorang wanita cantik dengan
dandanan serba putih.

“Siapakah paduka sang dewi, yang mengerti nama kecil hamba. Pastilah paduka
bukan manusia biasa. Malah dugaanku padukalah yang hendak menjemput hamba
dari alam fana ini….” Dewabrata menjawab dengan seribu tanya.

Wanita itu menggeleng “ Bukan . . . , akulah Gangga ibumu”

“Benarkan itu, selamanya aku belum pernah melihatnya. Dan seumur hidup ini aku
selalu merindukan wajah itu.”

“Ya, akulah ibumu ini”, sang dewi mendekat membelai anaknya. Ibu yang dahulu
adalah seorang bidadari yang dipersunting Prabu Sentanu.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 51


“Pantaslah kamu tidak mengenal wajah ibumu ini, karena aku telah meninggalkan
kamu sewaktu masih bayi”. sambung Sang Batari.

<<< ooo >>>

Beginilah cerita singkatnya ngger anakku :

“Pada suatu hari ayah Prabu Sentanu, ayahmu, yaitu Prabu Pratipa sedang bertapa.
Saat sudah mencapai hari matangnya semadi, aku duduk dipangkuan sang Prabu
Pratipta, nyata kalau aku terpesona oleh aura sang prabu yang bersinar kemilau dan
juga ketampanannya.

Dari kencantikan yang aku punya, sebenarnya Prabu Pratipa juga sangat terpesona
denganku, namun tujuan utamanya bukanlah jodoh yang sang Prabu kehendaki.
Maka Prabu Pratipa berjanji, bila dia mempunyai anak lelaki kelak, maka ia akan
menjodohkannya dengan diriku, disaksikanlah janji itu oleh alam semesta.

Benar, takdir mempertemukan kembali aku dengan anak Prabu Pratipa, Raja Muda
Sentanu, ketika Sang Prabu sedang cengkerama berburu.

Demikianlah, aku dan ayahmu saling jatuh cinta, dan kembali ke Astina bersama-
sama.

Sayang seribu kali sayang, ada satu permintaan ku yang dirasa kelewat berat ketika
diutarakan kepada ayahmu. Setiap aku melahirkan, maka anak itu harus dihanyutkan
di bengawan Gangga.

Sekian lama ayahmu, Sentanu tidak dapat memutuskan persoalan yang maha berat
baginya.

Asmara akhirnya mengalahkan logika. Kecantikanku yang selalu belalu dihadapannya


setiap waktu, memancing gairah kelelakian Prabu Sentanu hingga disanggupinya
permitaan yang satu itu.

Hari berganti, bulan berlalu dan tahun-tahunpun susul menyusul menjelang. Lahir
satu demi satu anak anakku. Belum sampai menyusu, bayi merah dihanyutkan di
Bengawan Gangga. Hingga akhirnya lahir anakku yang ke sembilan.

Anak yang lahir ini sangat mempesona Prabu Sentanu, dengan aura cahaya
cemerlang, senyum cerah dan tingkah lucu meluluhkan cinta sang Sentanu
terhadapku. Anak itu adalah kamu Dewabrata ! Tambahan lagi kesadaran
ayahmu terhadap rasa kemanusiaan, mengalahkan cinta berlandas birahi terhadap
diriku.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 52


Pertengkaran sebab dari perbedaan pendapat berlangsung setelah itu dari hari
kehari, hingga terucap kata-kataku, bahwa aku harus meninggalkan Astina kembali
ke alam kawidodaren”.

Demikan Sang Batari Gangga mengakhiri cerita masa lalunya.

Memang demikaian adanya. Prabu Sentanu saat ditinggal istrinya, sangat kesulitan
mencarikan susuan untuk anaknya. Ratusan wanita tewas ketika mengharap dapat
dipersunting Sang Prabu, sebagai ganti atas air susu yang dilahap putera kerajaan,
Raden Dewabrata, atau Jahnawisuta alias Raden Ganggaya. Kelak Sang Sentanu dapat
menemukan kembali pengganti ibu Dewabrata sekaligus istrinya, yaitu Dewi
Durgandini, kakak Raden Durgandana yang ketika bertahta menggantikan
ayahndanya bergelar Sang Baginda Matswapati.

Durgandini sendiri mengalami cerita asmara rumit antara Palasara kakek moyang
Pandawa, dan Sentanu.

Itulah kenapa Bisma Jahnawisuta, Sang Putra Bengawan, tidak pernah bertemu
ibunya hingga saat Baratayuda tiba.

“Nah sekarang katakan, ada apa denganmu, kenapa kamu ada disini, anakku..?” sang
Batari menyelidik atas peristiwa yang tak terduga ini.

Lalu Dewabrata menceritakan dari awal hingga ia terjerumus kedalam lautan.

“Pertolongan ibu sangat aku harapkan, agar aku tidak mendapat seribu malu atas
tanggung jawab Negara yang telah dibebankan diatas pundak ini, ibu!”

“Baiklah, sekarang kembalilah ke medan pertempuran, Aku bekali dengan senjata


panah sakti bernama Cucuk Dandang, lepaskan kearah lawanmu”. Kasih ibu sekali ini
memberikan tunjangan terhadap anak yang sedang dalam kesulitan.

Gembira sang Bisma menerima pusaka itu. Niat untuk berlama-lama melepas kangen
dengan sang ibu diurungkan. Segera ia memohon pamit.

<<< ooo >>>

Seta kembali mengamuk di palagan setelah yang ditunggu tidak juga timbul.
Tandangnya membuat giris siapapun yang ada didekatnya. Namun tidak sampai
separuh hari, kembali ia dikagetkan dengan kemunculan Bisma.

“Seta, jangan kaget, aku telah kembali. Waspadalah, apa yang kau lihat ?” Bisma
datang dengan senyum lebar. Menggenggam busur serta anak panah ditangan, kali
ini ia yakin dapat mengatasi kroda sang Seta.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 53


“Hmm . . . , Bisma, apakah kamu baru berguru kembali? Atau kamu kembali datang
hendak menyerahkan nyawa ?” Seta menyahut dengan masih menyimpan percaya diri
yang besar.

Segera tanpa membuang waktu, Bisma merentang busur dengan terpasang anak
panah Kyai Cucuk Dandang. Panah dengan bagian tajam berbentuk paruh burung
gagak hitam, melesat dengan suara membahana dari busurnya, tembus dada hingga
kejantung. Menggelegar tubuh sang resi terkena panah, jatuh kebumi seiring
muncratnya darah dari dada sang satria.

Gb. 14 – Seta terkena panah Bisma

Sorak sorai para Kurawa membelah langit senja. Dursasana terbahak kegirangan.
Durmagati berceloteh riang. Kartamarma dan adipati Sindureja Jayadrata menari
bersama, Srutayuda, Sudirga, Sudira dan saudara lainnya memainkan senjatanya
seakan perang telah berakhir dengan kemenangan didepan mata.

Sementara itu, para Pendawa dan anak-anaknya mendekati Resi Seta yang berjuang
melawan maut. Dengan lembut Arjuna memangku Seta dengan kasih. Perlahan Seta
membuka mata, “Cucuku Pendawa . . . . . sudah tuntas … Perjuanganku sudah
berakhir, tetaplah berjuang… kebenaran ada pada pihakmu . . . . . “

Kresna sangat marah dengan kematian Resi Seta, dihunusnya panah Cakrabaswara
hendak ditujukan kepada Resi Bisma.

Waspada sang Resi Bisma, didatanginya Kresna sambil mengingatkan

“Duh Pukulun Sang Wisnu yang aku hormati, apakah paduka Sang Kesawa hendak
mengubah jalannya sejarah yang sudah ditetapkan. Bukankan sumpah dewi Amba,
yang akan menjemput titah paduka adalah prajurit wanita”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 54


Tersadar Kresna dengan perkataan itu, segera Kresna mundur dari peperangan.

Begitu pula Werkudara, melihat junjungannya tewas Werkudara mengamuk hebat,


dicabutnya pohon randu besar dan disapunya para prajurit lawan didepannya hingga
terpental bergelimpangan. Jadilah mereka korban yang tak sempat menghindar.
Yang masih sempat berkelit melarikan diri kocar kacir mencari selamat.

Senja hari menyelamatkan barisan Kurawa hingga korban yang lebih besar
terhindarkan. 7

Kembali Matswapati kehilangan putranya. Bahkan sekarang ketiga tiganya telah


sirna. Kesedihannya sangat mendalam, hilang semua putra yang diharapkan menjadi
penggantinya kelak. Pupus sudah harapan akan kejayaan penerus keluarga Matswa.
Tetapi dasarnya ia adalah raja besar yang menggenggam sabda brahmana raja. Tak
ada kata sesal yang terucap.

“Cucu-cucuku, jangan kamu semua merasa bersalah atas putusnya darah Matswa,
aku masih punya satu harapan besar atas darah keturunanku. Lihatlah di Wirata,
eyangmu Utari sudah mengandung jalan delapan bulan, anak dari Abimanyu, anakmu
itu Arjuna !” Matswapati memberikan pijar sinar kepada Pandawa, agar rasa bersalah
atas terlibatnya dengan dalam Wirata dalam perang.

“Bukankah keturunanku dan keturunanmu nanti sudah dijangka, akan menjadi raja
besar setelah keduanya, Abimanyu dan Utari, mendapat anugrah menyatunya Batara
Cakraningrat dan Batari Maninten?” Relakan eyang-eyangmu Seta, Utara dan
Wratsangka menjalani darma sehingga dapat meraih surga. Aku puas dengan labuh
mereka, yang nyata gagah berani menjalani perannya sebagai prajurit utama, yang
gugur sebagai kusuma negara.”

Malam itu Matswapati memberikan nasihat pembekalan kepada pemuka pihak


Pandawa yang hadir dalam sidang di pesanggrahan Randuwatangan, setelah upacara
pembakaran jenasah Seta selesai dilakukan.

<<< ooo >>>

BERSAMBUNG

7Versi lain menyebutkan Seta tewas oleh panah Bargawastra, panah pusaka warisan guru
Resi Bisma, Rama Parasu atau Rama Bargawa. Tidak ada pertemuan dengan Dewi Gangga
sebelumnya ketika Bisma mengalahkan Seta.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 55