Anda di halaman 1dari 56

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mungkin sudah banyak yang menulis buku tentang lakon perang Baratayuda yang
sudah melegenda itu. Namun cerita yang dipadukan dengan kisah-kisah perang
tersebut dalam Pedalangan dari beberapa dalang terkenal di negri ini, mungkin masih
sangat jarang.

Mas Patikrajadewaku adalah salah satu pengasuh dalam blog indonesiawayang.com


(dulu wayangprabu.com) yang pemahaman akan cerita-cerita wayang cukup dalam.
Meskipun bukan seorang seniman ataupun penulis, namun dari pengalaman dan
pemahaman akan kiprah para dalang senior seperti almarhum Ki Nartosabdho,
almarhum Ki Timbul Cermo Manggolo, almarhum Ki Hadi Sugito, almarhum Ki Sugino
Siswocarita, Ki Manteb Sudharsono dan dalang-dalang lainnya, beliau dikarunia
kelebihan dalam menuangkan cerita wayang seolah kita mendengar alunan suara dari
rekaman pagelaran wayang.

Kisah perang Baratayudha dalam buku ini, adalah tulisan Mas Patikrajadewaku yang
telah dimuat secara serial di wayangprabu.com mulai 24 Juni 2010.

Kisah yang sangat menarik dan disajikan dengan renyah sehingga dapat membuat kita
terbawa seolah berada dalam arena padang Kurusetra.

Melalui beberapa perbaikan penulisan, kami sajikan untuk Anda, khususnya para
penggemar wayang dimanapun berada.

Mudah-mudahan hal kecil ini dapat berguna bagi kita semua dan merupakan
kontribusi nyata bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya wayang di
Indonesia.

Wassalam

Bandung, 28 September 2013

Pranowo Budi Sulistyo

indonesiawayang.com
Daftar Isi
Kata Pengantar ......................................................................... 1
Episode 5 : Akhir Perjalanan Sang Jahnawisuta ................................... 3
Episode 6 : Rekadaya Durna, Sang Senapati Tua ................................ 12
Episode 7 : Lunaslah Janji Abimanyu .............................................. 23
Episode 8 : Ricuh di Bulupitu ....................................................... 34
Episode 9 : Ricuh juga di Kadilengeng ............................................ 48

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 2


Episode 5 : Akhir Perjalanan
Sang Jahnawisuta

Gb. 15 – Akhir hidup Bisma (versi India)

Segala bentuk kegembiraan terpancar pada setiap wajah yang hadir pada sidang yang
digelar di pesanggrahan Bulupitu. Malam setelah tewasnya senapati Pendawa, Resi
Seta. Prabu Duryudana dengan senyum sumringah duduk pada kursi dampar
kebesaran yang direka persis bagaikan dampar yang ada di balairung istana Astina.

“Eyang Resi, kemenangan lasykar Kurawa sudah diambang pintu !“ Dada Prabu
Duryudana membuncah penuh dengan rasa pengharapan besar bahwa saat
kemenangan akan segera datang.

Lanjutnya

“Tidak percuma perang yang melelahkan selama tigabelas hari telah berlangsung.
Ditangan senapati seperti Eyang Bisma, tiada satupun prajurit Pendawa yang akan
dapat menandingi kesaktian paduka, Eyang!”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 3


“Tidaklah berlaku, wangsit Dewata yang sebelumnya mengatakan, bahwa siapapun
yang mendapat perlindungan dari Prabu Kresna akan jaya dalam perang. Pada
kenyataannya siapa yang dapat menandingi tokoh sepuh sakti mandraguna seperti
Eyang Bisma ?!!” berkata lantang Prabu Duryudana, dengan mulut penuh dalam
jamuan yang diselenggarakan malam itu menyambut kemenangan.

Demikan pula raja seberang sekutu Kurawa seperti Prabu Gardapati dari Negeri
Kasapta dan Wersaya dari Negara Windya yang sudah datang saat perang dimulai
serta, Prabu Bogadenta yang juga datang menyusul dari Turilaya serta semua yang
hadir sepakat, bahwa perang segera berakhir dengan kemenangan ditangan.

Setelah menghela nafas panjang, dengan sareh 1 Sang Jahnawi Suta menyahut

“Ngger Cucu Prabu, jangan merasa sudah tak ada lagi rintangan yang harus dilalui.
Walaupun banyak orang menganggap, kalau aku sebagai manusia sakti tanpa
tanding, tetapi ada pepatah mengatakan, diatas langit masih ada langit. Jalan
didepan kita masih panjang. Angger tahu, kekuatan Pandawa ada dipundak kedua
saudaramu yang juga musuhmu, Werkudara dan Arjuna. Bila angger sudah dapat
mengatasinya, barulah kekuatan Pandawa akan berkurang dengan nyata!!.”

Bisma melanjutkan

“Apalagi, dibelakang mereka ada berdiri Prabu Kresna, seorang penjelmaan Wisnu
yang sungguh waskita 2 dalam memberikan pemecahan berbagai masalah. Jadi
tetaplah waspada!!”

Sidang malam itu menetapkan, mereka akan menggelar formasi perang Garuda
Nglayang di esok hari, barisan mengembang dengan kedua sayap dihuni Prabu Salya
di sayap kiri, Resi Bisma di sayap kanan. Harya Suman pada kepala serta Pandita
Durna yang sudah terbebas dari ancaman Resi Seta menjadi paruh serangan.

Sementara pada anggota badan Garuda, terdapat Prabu Duryudana diapit dan
dilindungi oleh para raja telukan 3 , dibelakangnya Harya Dursasana siap pada daerah
pertahanan untuk menghalau para prajurit musuh yang dapat diperkirakan menyusup
kedalam.

Rencana telah ditetapkan ketika sidang berakhir. Malam itu Prabu Duryudana tidur
mendengkur dengan nyenyaknya, seiring dengan kepuasan hati dan kenyangnya

1 Sabar, tenang
2 Awas, mampu melihat sesuatu yang samar
3 Taklukan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 4


perut. Mimpi indahlah Prabu Duryudana bertemu istrinya yang molek jelita, Dewi
Banuwati, yang segera dipondongnya keatas tilam rum.

<<< ooo >>>

Malam bertambah larut. Dalam malam tak ada yang dapat diceritakan selain sinar
rembulan yang tengah purnama menerangi jagat raya. Sinarnya yang temaram
mampu membuat hati manusia terpengaruh menjadi romantis, terkadang bagi
pribadi lain akan menyebabkan kelakuannya menjadi lebih beringas, sebagian lain
menjadi murung.

Burung malam melenguh membuat suara giris bagi yang mendengar dengan hati dan
pikiran yang kalut dan ketakutan, namun bagi yang sedang gembira, suara itu
bagaikan nyanyian malam pengantar tidur. Sementara serigala pemukim hutan
sekeliling Tegal Kurukasetra menggonggong dengan suara panjang membuat bulu
roma berdiri, gerombolan liar itu tengah mengendus, kapan kiranya suasana menjadi
aman bagi mereka untuk memulai pesta pora.

Kembali fajar menyapa, segenap para prajurit dari kedua belah pihak kembali siaga
dengan senjata ditangan. Jumlah barisan yang semakin menyusut tidak menjadi
alasan bagi mereka berkecil hati. Bahkan mereka bangga menjadi prajurit linuwih
yang mampu melewati hari-hari panjang dan sulit mengatasi musuh hingga saat ini,
ternyata nyawa mereka masih tetap mengait pada raga.

Bende beri 4 bersuara mengungkung, bersambut seruling yang ditiup dengan irama
pembangkit semangat dan ditingkah suara tambur bertalu berdentam menggetarkan
dada, berirama senada detak jantung yang mulai terpacu.

Pada malam sebelumnya juga sudah digelar sidang di pesanggrahan Randuwatangan


atau Hupalawiya. Garuda Nglayang, gelar sebelumnya yang ditiru oleh prajurit
Astina masih tetap dipertahankan. Prabu Kresna yang sudah paham dengan apa yang
harus dilakukan setelah bertemu dengan Resi Bisma hari kemarin, masih menyimpan
Wara Srikandi dibarisan tengah, yang sewaktu-waktu dipanggil untuk mengatasi
kroda sang Dewabrata.

Sedangkan Drestajumna, adik Wara Srikandi, menjadi senapati utama. Drestajumna,


putra Prabu Drupada, dengan tameng baja menyatu didada sejak lahir sebagai
manusia yang dipuja dari kesaktian ayahnya, ditakdirkan menjadi prajurit trengginas
sesuai dengan perawakannya yang langsing sentosa.

Kembali hujan panah dari Resi Bisma bagai mengucur dari langit. Segera Arjuna
melindungi barisan dengan melepas panah pemunah. Bertemunya ribuan anak panah

4 bêndhe: sejenis tetabuhan, sejenis gong kecil


Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 5
diangkasa bagaikan gemeratak hujan deras menimpa hutan jati kering diakhir musim
kemarau panjang.

Bertemunya kedua barisan besar dengan formasi yang sama campuh satu sama lain
terdengar seperti bertemunya gelombang samudra menerpa tebing laut. Gemuruh
mengerikan.

Pedang kembali ketemu pedang atau pedang itu menerpa tameng. Dentangnya
memekakkan telinga dibarengi dengan berkeradap bunga api yang semakin
membakar semangat. Kembali teriakan kemenangan mengatasi lawan bercampur
teriakan kesakitan prajurit yang roboh sebagai pecundang.

Disisi lain, Werkudara dengan gada besar Rujakpolo yang tetap melekat di genggaman
tangannya yang kokoh, menyapu prajurit yang mencoba menghadang gerakannya.
Gemeretak tubuh patah dan remuk membuat giris prajurit kecil hati, membuat
gerakan Sang Bima makin masuk kedalam barisan Kurawa. Bantuan dari Setyaki yang
sama-sama mempertontonkan cara mengerikan dalam membantai musuh dengan
gada Wesikuning, membuat kalang kabut barisan sayap itu. Tak terhitung banyaknya
korban prajurit dan adik-adik Prabu Duryudana seperti Durmuka, Citrawarman,
Kanabayu, Jayawikatha, Subahu dan banyak lagi. Bahkan kuda dan gajah tunggangan
bergelimpangan. Juga kereta perang yang remuk tersabet gada kedua satria yang
mengamuk dengan kekuatan tenaga yang menakjubkan.

Bubarlah sayap kiri yang dihuni pendamping Prabu Salya, seperti Resi Krepa, Adipati
Karna dan Kartamarma serta Jayadrata. Mereka terdesak ke sayap kanan mengungsi
dibelakang sayap seberang yang masih terlindung oleh Sang Resi Bisma.

Waspada Sang Bisma dengan keadaan ini, kembali panah sakti neracabala dikaitkan
pada busurnya, mengalirlah ribuan anak panah yang menghalangi laju serangan.
Bahkan Bima dibidik dengan panah sakti Cucukdandang yang mengakhiri krida Resi
Seta sebagai senapati Pandawa.

Oleh kehendak dewata, Werkudara tidak terluka dengan hantaman panah sakti itu
tetapi rasa kesakitan hantaman anak panah itu menyebabkan mundurnya serangan
bergelombang yang sedari tadi sulit untuk ditahan.

Kali ini Sri Kresna tidak lagi menunda korban yang berjatuhan.

“Yayi Wara Srikandi, sekarang tiba saatnya bagimu untuk menyumbangkan jasa bagi
kemenangan Pandawa. Kemarilah sebentar!” Prabu Kresna melambaikan tangannya
kearah Wara Srikandi untuk berdiri lebih mendekat.

“Apa yang harus aku lakukan Kakang Prabu?!” Srikandi maju mendekat dengan
segenap pertanyaan bergulung dibenaknya.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 6
“Sekarang sudah tiba waktu bagimu untuk mengantar Eyang Bisma menuju
peristirahatannya yang terakhir” Prabu Kresna mengawali penjelasannya.

“Apakah adikmu yang perempuan ini mampu mengatasi kesaktian Eyang Bisma . . .?!
Sedangkan prajurit lelaki dengan otot bebayu yang lebih sentosa tak mampu untuk
membuat kulit Eyang Bisma tergores sedikitpun..!”

“Nanti dulu, akan aku jelaskan masalahnya. . . . . !” Tersenyum Prabu Kresna melihat
kebimbangan dalam hati Wara Srikandi.

Gb. 16 – Wara Srikandi

Sambungnya sambil memancing ingatan Wara Srikandi yang pernah diceritakan oleh
suaminya, Arjuna, “Mungkin yayi Srikandi sudah mendengan cerita asmara tak
sampai dari Dewi Amba ketika Eyang Bisma masih bernama Dewabrata ?!”

“Aku tahu, tapi apa hubungannya dengan adikmu ini?! Apakah aku yang diharapkan
dapat menjadi sarana bagi Dewi Amba untuk menjemput Eyang Dewabrata?”

“Nah, ternyata otakmu masih encer seperti dulu !” Prabu Kresna masih sambil
tertawa mendengar jawaban dari madu adiknya, Subadra.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 7


Tersipu Wara Srikandi dengan pujian yang dilontarkan oleh kakak iparnya. Hatinya
menjadi sumringah oleh harapan dapat mengatasi kesulitan yang tengah dialami oleh
keluarga suaminya, Arjuna.

Arjuna yang dari tadi ada juga didekatnya juga tersenyum lega. Segera dipegang
lengan istrinya dan mengajaknya dengan lembut “Ayolah istriku, jangan lagi
membuang waktu, kasihan para prajurit yang rusak binasa oleh amukan Eyang
Bisma.”

Segera Wara Srikandi digandeng Arjuna naik kereta perang.

<<< ooo >>>

Diceriterakan, arwah sang Dewi Amba yang masih menunggu saat untuk menjemput
kekasih hatinya, segera menyatu dalam panah Wara Srikandi, Sarotama, pinjaman
sang suami. Kegembiraan sang Amba teramat sangat. Cinta Dewi Amba yang
terhalang oleh hukum dunia, sebentar lagi sirna, berganti dengan cinta abadi di alam
kelanggengan.

Resi Bisma ketika melihat majunya Wara Srikandi ke medan pertempuran tersenyum.
Dalam hatinya mengatakan

“Inilah saatnya bagiku untuk bertemu dengan cinta sejatiku Dewi Amba sekaligus
mengakhiri do’a ibundaku”.

Memang benar kata hati Resi Bisma, bahwa Dewabrata waku itu dimintakan kepada
Dewa oleh Dewi Durgandini dapat menjadi orang yang berumur panjang dan tidak
mudah dikalahkan bila bertemu musuh, sebagai pengganti atas pengorbanannya tidak
mengusik keturunan ayahnya dengan Dewi Durgandini.

Permintaan ini juga sudah dibuktikan ketika Dewabrata bertemu sang guru sakti
Rama Parasu. Ketika itu Dewabrata dicoba ilmu kesaktiannya oleh sang guru sambil
dengan diam-diam mengajarkan dan menurunkan ilmu kesaktian selama berbulan-
bulan tanpa henti.

Seketika sang Jahnawisuta menarik nafas panjang sambil memejamkan mata. Dalam
benaknya bergulung-gulung peristiwa masa lalu bagiakan gambar-gambar yang
diputar ulang bingkai demi bingkai, menjadikannya seakan-akan peristiwa perjalanan
hidupnya itu baru saja terjadi.

Ketika membuka matanya kembali, didepan matanya Wara Srikandi dengan senyum
mengambang di bibirnya sudah dalam jarak ideal untuk melepas anak panah.
Berdebar gemuruh jantung Dewabrata ketika melihat wajah Srikandi bagai senyum
kekasih hatinya, Dewi Amba. Tak pelak lagi, kekuatan sang Dewabrata bagaikan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 8


dilolosi otot bebayu dalam raganya. Memang demikian, ketika panah Sarutama yang
tergenggam ditangan Srikandi, seketika perbawa Dewi Amba seakan melekat pada
raganya. Tiada salahlah pandangan Resi Bisma saat ini.

Maka ketika panah sakti melesat dari busur dalam genggaman Dewi Wara Srikandi,
maka terpejamlah matanya, seakan pasrah tangannya digandeng oleh Dewi Amba.

Titis bidikan Srikandi yang terkenal sebagai murid terkasih olah senjata panah Sang
Arjuna. Terkena dada Sang Resi panah Sarotama menembus jantungnya, rebah
seketika di tanah berdebu Padang Kurusetra.

Seketika itu juga perang berhenti tanpa diberi aba-aba. Prabu Duryudana dan Prabu
Puntadewa seketika berlari sambil mengajak adik adik mereka masing-masing,
menyongsong raga sang senapati yang rebah ditanah basah tergenang merah darah
yang membuncah.

Kedua belah pihak seakan melupakan permusuhan sejenak, karena kedua raja ini
memangku bersama raga pepunden mereka.

<<< ooo >>>

Gb. 17 – Resi Bisma menanti ajal dikelilingi Pandawa dan Kurawa

“Duryudana, Puntadewa, sudah cukup kiranya perjalanan hidupku ini. Lega rasa
dalam dada ketika kamu berdua datang pada saat bersamaan menyongsong raga
rapuh, melupakan segala permusuhan dan peperangan menjadi terhenti” tersendat
dan gemetar suara Resi Bisma kepada kedua cucu trah Barata.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 9


“Terimakasihku kepada kalian berdua yang telah datang menyongsong aku dan
mendukung ragaku ini. Perlakuanmu berdua adalah tanda bakti yang tak terhingga
kepadaku”. Sambil sesekai nafasnya tersengal ia melanjutkan

“Kalian berdua ada pada jalanmu masing-masing, teruskanlah peperangan ini, untuk
membuktikan pendapat diri siapa yang benar dalam peristiwa ini”.

Terdiam kedua pihak dengan pikiran menggelayut pada benak masing-masing. Seakan
tanpa sadar mereka berdua mendekap raga eyangnya dengan erat.

“Lepaskan sejenak ragaku ini ngger, eyang mau berbaring”. Akhirnya mereka
tersadar atas permintaan Resi Bisma kali ini.

“Dursasana, ambilkan bantal untuk eyangmu !!” perintah Prabu Duryudana gemetar.

Seketika Dursasana pergi dan kembali dengan bantal putih bersih ditangannya.

Kecewa Prabu Duryudana ketika Bisma berkata

“Bukan itu ngger yang aku mau . . . Aku menghendaki bantal layaknya seorang
prajurit di medan perang”.

Kali ini Werkudara yang juga berdiri disisi raga eyangnya segera melompat tanpa
diperintah. Ketika kembali ditangannya tergenggan beberapa potong gada patah dan
pecah. Disorongkan barang barang itu ke bawah kepala sang resi.

Tersenyum Bisma merasa puas “Nah beginilah seharusnya bantal seorang prajurit . .
. .!”

Melotot jengkel Prabu Duryudana kepada Werkudara dengan pandangan kurang


senang.

Nafas satu demi satu mengalir dari hidung sang Resi Bisma, sebenar-bentar wajahnya
menyeringai menahan sakit didadanya. Darah yang masih mengalir dari dadanya
membuat cairan tubuhnya berkurang. Sekarang yang terasa adalah haus yang tak
tertahankan. Terpatah-patah perintah Sang Resi kepada cucu-cucunya

“Kerongkonganku kering, tolong aku diberi minum walau hanya setetes”.

Melompat Prabu Duryudana tak hendak tertinggal langkah. Segera kembali


kehadapan sang Senapati sepuh yang sedang meregang nyawa, dibawanya secawan
anggur merah segar.

“Eyang pasti akan hilang rasa hausnya kalau mau merasakan anggur mewah
kerajaan”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 10


Bangga Prabu Duryudana bersujud dihadapan eyangnya hendak meneteskan
minuman.

Sekali lagi kekecewaan Duryudana terpancar dari wajahnya ketika Resi Bisma kembali
menolak pemberiannya.

Habis kesabaran dua kali ditolak pemberiannya, dengan sugal 5 ia memerintahkan


kepada adik-adiknya untuk meninggalkan raga sang resi dengan suara lantang,

“Dursasana, Kartamarma, Citraksa dan kalian semua!! Tinggalkan orang tua yang
sedang sekarat itu!! Tidak ada guna lagi kalian menunggu hingga ajalnya tiba.! Ayo
semua kembali ke pakuwon masing masing . . . !”

Prabu Kresna yang sedari tadi juga berada di tempat kejadian, segera membisikan
sesuatu kepada Raden Arjuna,

“Yayi, celupkan ujung anak panahmu Pasupati ke wadah kecil berisi air minum kuda
perang, berikan kepada Eyangmu”.

Tanpa sepatah kata bantahan, Arjuna mematuhi perintah kakak iparnya.


Dipersembahkan air minum itu kepada Resi Bisma yang tersenyum meneguk air
pemberian cucunya itu. Senyum untuk terakhir kali.

Kidung layu-layu 6 berkumandang. Sementara itu, taburan bunga sorga para bidadari
dari langit, mengalir bagaikan banjaran sari wewangian, mengantar kepergian satria
pinandita sakti berhati bersih. Ia telah menjalani hidup dengan cara brahmacari,
tidak akan menyentuh perempuan, demi kebahagiaan ayah dan ibunda tercintanya.
Perjalanan hidup yang kontradiktif dengan jiwa yang bersemayam dalam raga yang
berumur panjang. Sekarang segalanya telah berakhir dengan senyum.

Bergandeng tangan dengan kekasih yang sangat memujanya selama ini, kekasih yang
dengan sabar menanti kapan kiranya dapat bersatu tanpa halangan dari hukum dunia
yang selama ini mengungkung mereka berdua, Dewi Amba dan Raden Dewabrata,
hingga mereka berdua tak mampu bersatu didunia. Sekaranglah saat bahagia itu
menjelang.

<<< ooo >>>

5 Sugal = bengis
6 Berita kematian, kesedihan
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 11
Episode 6 : Rekadaya Durna, Sang
Senapati Tua
Bagai tersaput kabut suasana dalam sasana Bulupitu. Gelap pekat dalam pandangan
Prabu Duryudana. Kesedihan yang teramat dalam dibarengi dengan kekhawatiran
akan langkahnya kedepan setelah gugurnya Resi Bisma, membuat Duryudana duduk
tanpa berkata sepatahpun. Sebentar-sebentar mengelus dada, sebentar-sebentar
memukul pahanya sendiri. Sebentar kemudian mengusap-usap keningnya yang
berkerut. Hawa sore yang sejuk menjelang malam, tak menghalangi keluarnya
keringat dingin yang deras mengucur dan sesekali disekanya, namun tetap tak hendak
kering. Dalam hatinya sangat masgul, malah lebih jauh lagi, ia memaki-maki dewa
didalam hati, kenapa mereka tidak berbuat adil terhadapnya.

Tak sabar orang sekelilingnya dalam diam, salah satunya adalah Prabu Salya. Dengan
sabar ia menyapa menantunya.

“Ngger, apa jadinya bila pucuk pimpinan terlihat patah semangat, bila itu yang
terjadi, maka prajuritmu akan terpengaruh menjadi rapuh sehingga gampang rubuh
bila terserang musuh”.

Terdiam sejenak Prabu Salya mengamati air muka menantunya. Ketika dilihat tak
ada perubahan, kembali ia melanjutkan,

“Jangan lagi memikirkan apa yang sudah terjadi. Memang benar, kehilangan
senapati sakti semacam Resi Bisma, eyangmu itu, tak mudah untuk digantikan oleh
siapapun. Namun tidakkah angger melihat, aku masih berdiri disini. Lihat, raja
sekutu murid-murid Pandita Durna, yang disana ada Gardapati raja besar dari
Kasapta. Disebelah sana lagi ada Prabu Wersaya dari Negara Windya, sedangkan
disana berdiri Raja sentosa bebahunya, Prabu Bogadenta dari Negara Turilaya, Prabu
Hastaketu dari Kamboja, Prabu Wrahatbala dari Kusala, disebelah sana ada lagi
Kertipeya, Mahameya, Satrujaya, Swarcas 7 dan tak terhitung raja-raja serba

7
Pada nama nama ini, diceritakan, saat diadakan penimbangan bobot antara Pandawa dan
Kurawa dengan tujuan siapa yang lebih berat akan diberi kekuasaan memerintah Negara
Astina, atas akal-akalan Sangkuni. Sangkuni berpikir tidaklah Kurawa yang berjumlah seratus
akan lebih ringan dari Pandawa yang hanya lima orang. Ketika para Kurawa sudah naik semua
ke batang traju, semacam timbangan dengan sebatang gelagar panjang dengan satu poros
ditengahnya kemudian Bondan Paksajandu, Werkudara muda, naik dengan gerakan tiba tiba
sehingga banyak Kurawa yang terpental jauh keseberang lautan. Termasuk didalamnya
nama-nama ini, yang akhirnya mereka berhasil di pengembaraannya dan menjadi raja disana.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 12


mumpuni olah perang lainnya yang aku tidak dapat disebu satu persatu. Para
manusia sakti mandraguna masih berdiri disekelilingmu. Belum lagi gurumu Pandita
Durna masih berdiri dengan segudang kesaktian dan perbawanya. Ada kakakmu
Narpati Basukarna. Dan jangan remehkan juga pamanmu Sangkuni, manusia dengan
ilmu kebalnya. Masih kurangkah mereka menjadi penunjang berdirinya kekuatan
Astina?”

Sekali lagi Prabu Salya mengamati wajah menantunya yang sebentar air mukanya
berubah cerah, mengikuti gerakan tangan mertuanya menunjuk para raja dan
parampara yang ada di balairung.

Sejenak kemudian, pikiran dan hati Prabu Duryudana mencair, tergambar dari air
mukanya yang menjadi cerah.

Tak lama kemudian, sabda Prabu Duryudana terdengar

Gb. 18 – Pandita Durna

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 13


“Rama Prabu Mandaraka, Bapa Pandita Durna, Kakang Narpati Basukarna dan para
sidang semua, terliput mendung tebal seluruh jagatku, tatkala gugurnya Eyang
Bisma, seakan-akan patah semua harapan yang sudah melambung tinggi, tiba-tiba
tebanting di batu karang, remuk redam musnah segalanya”.

Sejenak Prabu Duryudana terdiam. Setelah menarik nafas dalam-dalam, ia


melanjutkan

“Namun setelah Rama Prabu Salya membuka mata saya, bahwa ternyata
disekelilingku masih banyak agul-agul sakti, terasa terang pikirku, terasa lapang
dadaku !. Terimakasih Rama Prabu, paduka telah kembali membangkitkan semangat
anakmu ini”.

“Ngger anak Prabu, sekarang anak Prabu tinggal memilih, siapakah gerangan yang
hendak diwisuda untuk menjadi senapati selanjutnya. Silakan tinggal menunjuk
saja. Semua sudah menanti titah paduka, angger Prabu”. Pandita Druna memancing
dan mencadang tandang dan mengharap menjadi senapati pengganti.

“Baiklah, besok hari, mohon perkenannya Paman Pandita Durna untuk


menyumbangkan segala kemampuan gelar perang, mengatur strategi bagaimana
agar secepatnya para Pandawa tumpas tanpa sisa”

Gembira Pandita Durna terlihat dari wajahnya yang berseri-seri.

“Inilah yang aku harap siang dan malam, agar menjadi pengatur strategi yang
nyatanya sudah aku mengamati dari hari kehari, apa yang seharusnya aku lakukan
untuk kejayaan keluarga Kurawa”.

“Sukurlah kalau demikan, ternyata tak salah aku memilih Paman Pandita yang sudah
mengamati bagaimana cara menumpas musuh. Perkenankan Paman Pandita
membuka gelar strategi itu”. Kali ini senyum Prabu Duryudana makin lebar.

“Begini ngger, seperti yang sudah pernah diutarakan oleh Resi Bisma, kekuatan
Pendawa itu sebenarnya ada pada Werkudara dan Arjuna. Nah, sekarang mereka
menggelar perang dengan formasi Garuda Nglayang, dengan sayap kiri ditempati
oleh Werkudara, sedangkan di sayap kanan ada di pundak Arjuna”.

“Bila kedua sayap itu dibiarkan utuh, maka kita akan keteteran menghadapi
serangan kedua orang itu. Cara satu-satunya adalah bagaimana kita melepas tulang
sayap itu sehingga kekuatannya akan menjadi hilang. Satu hari saja mereka
dipisahkan dari barisan, segalanya akan berjalan mulus untuk kemenangan kita”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 14


Sejenak Pandita Durna menghentikan beberan strategi. Matanya mengawasi
para yang hadir didalam balairung. Setelah yakin bahwa semua penjelasan awal
dimengerti, terlihat dari anggukan hadirin, Durna meneruskan.

“Sekarang bagaimana caranya?” kembali ia berhenti. Matanya kembali menyapu satu


demi satu hadirin dengan percaya diri sangat tinggi. Lanjutnya

“Nak angger, untuk memuluskan langkah kita melolosi kekuatan Pandawa satu demi
satu, besok hari akan digelar barisan dengan tata gelar Cakrabyuha. Gelar ini
diawaki ruji-ruji terdiri dari Prabu Salya, Nak Mas Adipati Karna, Adipati Jayadrata,
Yayi Resi Krepa , Kartamarma, Prabu Bogadenta, Dursasana, Aswatama, Prabu
Haswaketu, Kertipeya serta Wrahatbala. Semuanya membentuk lingkaran,
sedangkan dalam poros adalah anak Prabu Duryudana”.

Merasa tidak disebut, Prabu Gardapati dan Prabu Wresaya berbareng mengajukan
pertanyaan,

“Adakah kekurangan kami sehingga kami tedak dipercaya terlibat dalam susunan
gelar?”

Terkekeh tawa Pandita Durna mengamati mimik muka ketidakpuasan yang terpancar
dari kedua Raja Seberang ini.

”Jangan khawatir, justru kamu berdua akan aku beri peran yang cukup besar untuk
gelar strategi perang esok hari !” sambungnya sambil memainkan tasbih yang selalu
melekat ditangannya.

Wajah-wajah yang tadinya menampakkan rasa kecewa, wajah Prabu Gardapati dan
Prabu Wersaya kembali sumringah

“Apakah peran kami berdua ? Sebesar apa sumbangan yang bisa kami berikan agar
jasa kami selalu dikenang dibenak saudara-saudara kami Kurawa?” Tak sabar
Gardapati mengajukan pertanyaan.

“Naaa . . . Begini Gardapati, Wersaya, besok secara pelan dan pasti, pancing kedua
sayap kanan dan kiri Werkudara dan Janaka untuk mejauh dari barisan utama dan
ajaklah mereka bertempur hingga ke pinggir hutan pinggir pantai. Anak Prabu
Gardapati dan Wersaya, segera tancapkan senjata saktimu ketanah berpasir,
bukankah senjata pusakamu dapat membuat pasir menjadi hidup dan
berlumpur, mereka terperosok masuk dalam perangkap pasir itu. Semakin kuat
mereka bergerak, pasir hidup itu akan menarik mereka kedalam. Pasti keduanya
akan segera tewas”.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 15


Sementara itu di Pesanggrahan Randuwatangan, Prabu Matswapati, Prabu Puntadewa
dan Prabu Kresna serta segenap para prajurit utama juga mengadakan pertemuan
membahas langkah yang dituju untuk mencapai posisi unggul di esok hari.

Namun sebelumnya, mereka mengadakan upacara pembakaran jasad Resi Bisma


secara sederhana, namun dilimputi dengan suasana tintrim dan khidmad. Walau
sejatinya Resi Bisma adalah senapati lawan, namun kecintaan para Pandawa
terhadap leluhurnya taklah menjadi sekat terhadap rasa bakti mereka.

Prabu Punta yang duduk berdiam diri dengan rasa sedih atas kematian Resi Bisma,
tak juga memulai sidang. Namun Prabu Kresna segera memecah kesunyian, menyapa
Prabu Punta. Tetapi yang terlontar dari jawaban Prabu Puntadewa, adalah
penyesalan diri. Mengapa perang terjadi sehingga menyebabkan tewasnya Resi
Bisma.

Kembali Kresna menasihati adik-adiknya. Semua diuraikan lagi, mengapa perang ini
harus berlangsung dan intisarinya perang Baratayuda sesungguhnya apa.

Cair kebekuan hati Prabu Punta, segera inti pembicaraan sidang ditanyakan kepada
Prabu Puntadewa.

“Yayi Prabu, sidang sudah menanti titah paduka untuk langkah yang akan kita
arahkan besok hari. Adakah yang perlu yayi sampaikan dalam sidang ini ?”

“Terimakasih kakang Prabu yang selama ini sudah membimbing kami semua, pepatah
mengatakan kakang Prabu dan kita semua, sudah terlanjur basah, alangkah lebih
baik kita mencebur sekalian”

Prabu Puntadewa sejenak terdiam. Dalam pikirannya masih diliputi dengan peristiwa
yang sore tadi berlangsung. Selain itu dalam hal strategi, siapa yang tak kenal dengan
Raja Dwarawati yang diketahui memiliki ide-ide cemerlang. Maka tidak ragu lagi
Prabu Punta melanjutkan.

”Selanjutnya, segala pengaturan langkah, silakan kakang Batara untuk mengatur


langkah kita dibawah perintah paduka “.

“Dhuh yayi, kehormatan yang diberikan kepadaku akan aku junjung tinggi, segala
kepercayaan akan kami jalankan demi kejayaan kebenaran”.

“Senapati yang kemarin belum akan diganti, masih ada ditangan Adimas
Drestajumna. Kemarilah lebih mendekat, yayi Drestajumna, Paparkan semua
strategi gelar yang akan dimas terapkan besok hari”. Prabu Kresna mulai mengatur
kekuatan langkah.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 16


Segera Drestajumna maju menghaturkan sembahnya

“Kanda Prabu, segala tata gelar yang kemarin dijalankan, ternyata ampuh untuk
mengusir dan mendesak majunya prajurit Kurawa. Dari itu kanda, besok, gelar itu
masih saya pertahankan”

“Bagus! Kali ini berhati-hatilah, mereka masih punya banyak orang sakti”.Prabu
Kresna mengingatkan.

Dengan tegas Drestajumna melanjutkan “Saya harap, semua para satria yang ada
pada posisi penting, jangan sampai keluar dari tata baris yang digariskan. Hal ini
penting agar kekuatan kita merata sehingga sentosa menghalau serangan musuh.

<<< ooo >>>

Gb. 19 – Drestajumna (gaya Solo)

Demikianlah. Cakrabyuha dan Garuda Nglayang berbenturan pagi itu, selagi matahari
masih belum menuntaskan basahnya embun. Ringkik kuda dan sorak prajurit yang
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 17
bertenaga segar di pagi itu memicu semangat tempur semua lasykar yang sudah
berhari-hari terperas keringatnya. Kali ini, para generasi muda mulai menampakkan
kematangannya setelah pengalaman hari-hari kemarin. Pancawala anak Prabu
Puntadewa mengamuk disekitar Raden Drestajumna. Tandangnya trampil memainkan
senjata membuat banyak korban dari Pihak Kurawa semakin banyak berguguran.

Sementara tak kalah pada sayap seberang, krida pemuda bernama Sanga-sanga,
putra Arya Setyaki, bersenjata gada, juga mengamuk membuat giris lawan. Gerakan
dan perawakannya yang bagai pinang dibelah dua dengan sang ayah, hanya beda
kerut wajah membuat banyak lawan tertipu. Kedua orang ini sepertinya nampak ada
dimana-mana.

Tak hanya itu, dibagian lain terlihat dua satria yang kurang lebih sama bentuk
perawakan dan kesaktiannya, Raden Gatutkaca dan Raden Sasikirana, kedua orang
bapak anak tak mudah dibedakan caranya berperang membuat terperangah prajurit
lawan. Tak kurang ratusan prajurit Astina tewas ditangan keduanya termasuk patih
dari Negara Windya dan Giripura.

Sementara di sayap gelar garuda nglayang, Werkudara segera dihadang oleh


Gardapati. Setelah bertempur sekian lama, kelihatan bahwa Gardapati bukanlah
tanding bagi Bimasena. Khawatir segera dapat dibekuk, Gardapati segera bersiasat
sesuai yang dipesankan oleh Pandita Durna

“Werkudara! Ternyata perang ditempat ramai seperti ini membuat aku kagok. Ayoh
kita mencari tempat sepi, agar kita tahu siapa sesungguhnya yang memang benar
benar sakti. Kejar aku..!!”

Lupa pesan panglima perang, Werkudara menyangupi “Ayo. .! Apa maumu akan aku
layani. Dimanapun arenanya, aku akan hadapi kamu”.

Gembira Gardapati sambil terus bercuap sesumbar, memancing langkah lawannya


menuju ketempat yang ditujunya.

Disisi sayap lain Wersaya menjadi lawan tanding Arjuna. Sama halnya dengan
Gardapati, Wersaya mengajak Janaka pergi menyingkir menjauh dari arena di
Kurusetra.

Diceritakan, sepeninggal kedua pilar kanan kiri barisan, angin kekuatan berhembus
di pihak Kurawa. Semangat yang tadinya kendor oleh amukan para satria muda
Pendawa, kembali berkobar. Tak sampai setengah hari, Garuda nglayang dibuat
kucar-kacir oleh barisan Cakrabyuha Kurawa. Kali ini banyak prajurit Hupalawiya
yang menjadi korban amukan dari sekutu Kurawa. Haswaketu, Wrahatbala dengan
leluasa mengobrak abrik pertahanan lawan. Dursasana dan Kartamarma serta

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 18


Jayadrata demikian juga. Ketiganya segera merangsek maju hingga mendekati
pesanggrahan para Pandawa.

“Maju terus, kita sudah hampir mendekati pesanggrahan Randuwatangan” teriak


prajurit Kurawa.

Disisi lain, teriakan dari dalam barisan membahana memecah langit

Gb. 20 – Prabu Gardapati

“Bakar pesanggrahan Randu watangan kita akan terus melaju”.

Tanpa adanya kedua kekuatan di kedua sayap, Garuda nglayang bagaikan garuda
lumpuh. Keadaan barisan Randuwatangan makin kacau, mereka berlarian tunggang
langgang tanpa ada yang dapat mengatur ulang barisan yang makin terpecah belah.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 19


Murka sang Drestajumna melihat barisannya terdesak hebat. Segera dicari tahu
sebabnya. Dipacu kereta perangnya melihat apa yang terjadi. Begitu sudah ketemu
sebab musababnya, segera ia memacu kembali kereta kearah Prabu Kresna.

“Duh kakang Prabu, lebih baik saya melepas gelar senapati. Akan aku lepas kalungan
bunga tanda senapati ini bila kejadiannya seperti ini”. Ucap Drestajumna memelas.

“Bila saya sudah tidak dianggap lagi, perintah saya kepada kakang Arjuna dan
Werkudara dianggap bagai angin lalu, saya sudahi saja peran saya sampai disini”
sambungnya sambil bersiap melepas kalungan bunga tanda peran senapati.

“Lho . . ! nanti dulu. Ada rembuk kita rembuk bersama”. Kresna tetap tersenyum
tanpa terpengaruh kisruh yang menimpa prajurit Randuwatangan atau Mandalayuda,
meredakan kisruh hati Raden Drestajumna.

Katanya lagi

“Tidaklah pantas bagi satria sakti semacam Drestajumna, satria pujan yang terjadi
dari api suci yang ketika ayahmu Prabu Drupada bersemadi meminta seorang putra
sakti mandraguna. Karana yang lahir terdahulu adalah selalu anak
perempuan” sejenak Prabu Kresna berhenti, menelan ludah

“Tidaklah pantas seorang yang telahir sudah bertameng baja didada dan
punggungnya menggendong anak panah, melepas tanggung jawab yang sudah
diberikan”.

Tersadar Sang Senapati dengan apa yang sudah terjadi “ Aduh kakang Prabu, seribu
salah yang telah aku perbuat, kiranya kakang Prabu dapat memberi pintu maaf
seluas samudra. Apakah yang harus aku perbuat untuk memulihkan kekuatan,
kakangmas”.

“Baiklah. . ! Bila satu rencana gagal, tentu rencana cadangan harus kita terapkan.
Kita panggil satria lain sebagai pilar pengganti dan kita ubah gelar yang sesuai
dengan keadaan saat ini” Kresna membuka nalar Drestajumna.

Siapakah menurut kakanda yang pantas untuk keadaan seperti saat ini?” Sambar
Drestajumna.

“Tak ada lain, keponakanmu, anak Arjuna, Abimanyu. Segera kirim utusan untuk
menjemput dia” Sri Kresna memberi putusan

<<< ooo >>>

Syahdan. Ksatrian Plangkawati, Raden Abimanyu atau Angkawijaya sedang duduk


bertiga. Ketika itu ia diminta pulang ke Plangkawati terlebih dulu menunggui
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 20
kandungan Retna Utari yang sedang menjelang kelahiran putranya. Disamping kiri
kanannya duduk putri Sri Kresna, Dewi Siti Sundari. Sedang disisi lain Dewi Utari yang
tengah mengandung tua. Kedua tangan Dewi Siti Sundari dan Dewi Utari tak hendak
lepas dari tangan sang suami.

“Mimpiku semalam sungguh tidak enak kakangmas, siang ini jantungku merasa
berdebar tak teratur. Gelisah kala duduk, berdiri berasa lemas kaki ini. Apa
gerangan yang akan terjadi” demikian keluh Utari kepada suaminya.

“Utari, jangan dirasa-rasa. Mungkin itu bawaan dari anakmu didalam kandungan.
Aku sendiri tidak merasai apapun” hibur Abimanyu.

Siti Sundari juga tak juga diam, pegangan tangannya semakin erat menggelendoti
suami tercintanya. “Akupun begitu, malah dari kemarin, banyak perabot yang aku
pegang, terlepas pecah. Aku punya firasat buruk kakang” Semakin menggelayut
pegangan Siti Sundari.

“Aku tidak mengandung seperti keadaan eyang Utari, apakah ini tanda-tanda aku
juga mau hamil kakang” Tambah Siti Sundari yang menyebut madunya masih dengan
garis keturunan, eyang.

“Mudah mudahan dewata menjadikan ucapanmu menjadi nyata” hibur Abimanyu


sambil tersenyum kearah Siti Sundari. Senyum itulah yang membuat anak dari Prabu
Kresna itu, rela menerjang tata susila, ketika kunjungan Abimanyu ke Dwarawati
selalu diajaknya Abimanyu kedalam keputren, hingga mereka segera dikawinkan.

Terpotong pembicaraan suami dengan kedua istrinya, ketika Raden Gatutkaca sampai
dengan cepat, setelah diberi perintah oleh Sang Senapati. Dengan terbang di
angkasa, tanpa membuang waktu sampailah ia di Plangkawati.

“Adimas, mohon maaf atas kelancanganku mengganggu kemesraan kalian bertiga.


Sesungguhnya kedatanganku, adalah sebagai utusan dari para sesepuh yang sedang
dalam kesulitan di arena peprangan. Dimas diminta sumbangan tenaganya untuk
bergabung dengan kami di Kurusetra”.

Gatutkaca mencoba mengawali pembicaraan. Dalam hatinya ia sangat tidak enak


karena mengganggu kemesraan mereka, karena kedua istri adiknya dilihatnya tengah
menggelayut dipundak sang adik.

Kaget seketika para istri Abimanyu. Seketika itu juga, pecahlah tangis mereka.

Namun lain halnya dengan Abimanyu sendiri. Tersenyum sang Angkawijaya.


Wajahnya cerah bagai kanak-kanak mendapat mainan baru.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 21


“Sudahlah Utari, Siti Sundari istriku, tak ada yang perlu kamu berdua khawatirkan
atas keselamatanmu, aku akan menjaga diriku baik-baik”.

Seribu ucapan Abimanyu menjelaskan arti dari tugas negara disampaikan kepada
istrimya, namun tangis keduanya malah bertambah-tambah.

Semakin erat kedua istri Angkawijaya memegangi lengan suaminya. Ketika


Angkawijaya berdiri hendak pergi, keduanya masih juga memegangi erat selendang
sang suami. Tanpa ragu, diirisnya selendang hingga keduanya terlepas. Dengan cepat
ia berjalan memanggil Raden Sumitra, saudara seayah. Sesampai Angkawijaya ke
istal, kandang kuda, diajaknya serta saudaranya itu.

Sekelabatan lenyaplah kuda sang Angkawijaya yang bernama bernama Kyai


Pramugari yang berlari kencang, diiringi tangis kedua istrinya.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 22


Episode 7 : Lunaslah Janji Abimanyu
Nggemprang Kuda Pramugari bagai lari kijang dengan meninggalkan debu mengepul
diudara. Gerak lajunya bagai tak menapak tanah. Tak lama Abimanyu sudah ada
dihadapan Prabu Kresna dan Raden Trustajumna.

“Anakku yang bagus, sudah datang kiranya disini. Aku minta tenagamu kali ini, ngger
!” sapa Prabu Kresna. Hatinya bergolak antara rasa tak tega kepada sang menantu
menyongsong kematian atau membiarkannya maju memperbaiki formasi baris.
Tetapi isi kitab jalan certita Baratayuda, Jitapsara di dalam ingatannya,
membawanya mengatur laku apa yang seharusnya terjadi. Isi kitab itu lebih
berpengaruh dalam benaknya.

Bersembah Abimanyu kehadapan ayah mertua, juga uwaknya,

“Sembah bektiku saya berikan keharibaan uwa prabu. Bahagia rasanya dapat terlibat
dalam perkara yang sedang menggayuti para orang tua-orang tua kami”

“Baiklah, karena rusaknya barisan Hupalawiya sudah sangat parah, sekaranglah


saatnya bagimu anakku, untuk membereskan kembali barisan dan gantilah dengan
tata gelar baru” Perintah sang uwa

“Uwa prabu, saya minta gelar apapun yang hendak dibangun, perkenankan saya
untuk ditempatkan pada garda depan” Pinta Abimanyu

“Yayi Drestajumna, apa gelar yang hendak kamu bangun?” Kembali Prabu Kresna
menegaskan kepada Raden Drestajumna.

“Kiranya yang cocok dengan keadaan saat ini adalah Supit Urang, atas permintaan
anakmas Abimanyu, kami tempatkan kamu dalam posisi sungut !” Demikian putusan
Sang Senapati.

Segera, dengan sandi, dikumandangkan, para prajurit yang sudah kocar-kacir


perlahan lahan membentuk diri lagi. Drestajumna menempati capit kiri sedangkan
Gatutkaca ada pada sisi capit kanan. Arya Setyaki ada pada bagian kepala, sedangkan
pada ekor adalah Wara Srikandi.

Perlahan namun pasti, barisan Pandawa Mandalayuda dapat kembali solid. Demikian
besar pengaruh kedatangan Abimanyu dalam membuat tegak kepala para prajurit
Randuwatangan. Amukan Abimanyu diatas punggung kuda Pramugari, bagaikan
banteng terluka. Kuda tunggangan Abimanyu yang bagai mengerti segenap kemauan
penunggangnya, berkelebat mengatasi musuh yang mengurung. Gerakannya gesit
bagai sambaran burung sikatan. Olah panah yang dimiliki penunggangnya untuk

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 23


menumpas musuh dari jarak jauh, dan keris Pulanggeni untuk merobohkan musuh
didekatnya tak lama membawa puluhan korban. Tak kurang beberapa orang Kurawa
seperti Citraksi, Citradirgantara, Yutayuta, Darmayuda, Durgapati, Surasudirga dan
banyak lagi, telah tewas. Bahkan Arya Dursasana yang hendak meringkus terkena
panah Abimanyu. Walaupun tidak mempan, namun kerasnya pukulan anak panah
menjadikannya ia muntah darah. Lari tunggang langgang Arya Dursasana menjauhi
palagan.

Gb. 21 – Bambang Sumitra (gaya Solo)

Haswaketu yang mencoba menandingi kesaktian Abimanyu, tewas tersambar Kyai


Pulanggeni warisan sang ayah, Arjuna. Raungan kesakitan berkumandang dari mulut
Haswaketu membuat jeri kawannya, Prabu Wrahatbala dari Kusala.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 24


Namun, malu Wrahatbala, bila diketahui perasaanya oleh kawan maupun lawan, ia
terus maju mendekati Abimanyu. Sekarang keduanya telah berhadapan. Gerakan
Wrahatbala gagap, kalah wibawa dengan Abimanyu yang masih sangat muda, tetapi
dengan gagah berani telah mampu memulihkan kekuatan barisan dan bahkan telah
menewaskan ratusan prajurit dalam waktu singkat. Oleh rasa yang sudah kadung
rendah diri, gerakannya menjadi serba canggung. Tak lama ia menyusul temannya
dari Kamboja terkena oleh pusaka yang sama. Tersambar Kyai Pulanggeni, raga
Wrahatbala roboh tertelungkup diatas kudanya dan tak lama jatuh bergelimpang ke
tanah.

Namun bukan dari pihak Bulupitu saja yang tewas, ketika Bambang Sumitra yang maju
bersama Abimanyu dengan amukannya, terlihat oleh Adipati Karna. Niat Adipati
Karna sebenarnya hanya mengusir anak Arjuna agar tidak maju terlalu ketengah
dalam pertempuran. Perasaan seorang paman terhadap keponakannya kadang masih
menggelayuti hatinya. Teriakannya untuk mengusir keponakannya tak dihiraukan,
maka lepas anak panah menuju ke kedua satria anak Arjuna. Abimanyu luput namun
Sumitra terkena didadanya. Gugurlah salah satu lagi putra Arjuna.

Dibagian lain juga terjadi hal yang sama, Bambang Wilugangga terkena panah Prabu
Salya rebah menjadi kusuma negara.

Sementara itu, para raja seberang, ketika melihat dua raja telah tewas dalam waktu
singkat menjadi jeri. Mahameya mendekati salah satu temannya Swarcas,
membisikkan strategi bagaimana cara menjatuhkan Abimanyu. Ditetapkan kemudian
mereka berempat, Mahameya, Swarcas, Satrujaya dan Suryabasa akan maju bersama
mengeroyok Abimanyu. Tak peduli hal itu tindakan ksatria atau tidak, yang penting
mereka dapat menghabisi tenaga baru yang berhasil memukul balik kekuatan baris
para Kurawa.

Namun bukan Abimanyu bila tidak mampu mengatasi serangan empat raja sakti dari
berbagai penjuru. Licin bagai belut, Abimanyu menghindari serangan bergelombang
dengan senjata ditangan masing-masing lawannya. Bahkan sesekali Abimanyu dapat
mengenai pertahanan mereka satu persatu. Makin gemas ke empat lawannya yang
malah bagai dipedayai.

Kelihatanlah kekuatan masing-masing pihak, tak lama kemudian.

Ketika pedang Mahameya terpental karena lengannya terpukul Abimanyu, sebab dari
rasa kesemutan yang hebat memaksa ia melepaskan pedangnya. Pada saat itulah Kyai
Pulanggeni menusuk lambungnya. Kembali satu lawan roboh dari atas punggung
kudanya. Tiga lawan tersisa menjadi ciut nyalinya. Gerakannyapun menjadi semakin
tidak terarah, satu persatu lawan Abimanyu dapat diatasi. Kali ini Swarcas menjadi
korban selanjutnya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 25


Gerak kordinasi antar ketiga lawan tidak lagi serempak menjadikan mereka saling
serang. Swarcas terkena tombak dari Satrujaya. Meraung kesakitan Swarcas, jatuh
terguling tak bangun lagi.

Gb. 22 – Dewi Utari

Satrujaya dan Suryabasa gemetaran, mereka tak percaya dengan apa yang barusan
sudah terjadi.

“Hayuh, majulah kalian berdua, pandanglah bapa angkasa diatasmu, dan


menunduklah ke ibu pertiwi, saatnya aku antarkan kamu berdua ke Yamaniloka !”
kata-kata Abimanyu hampir saja tak terdengar oleh mereka, karena kerasnya dentam
detak jantung kedua raja seberang yang semakin tak dapat menguasai dirinya lagi.

Dengan sisa keberaniannya keduanya sudah kembali menyerang lawannya dari kedua
arah. Gerakannya yang semakin liar tak terkendali, tanda keputus-asaan, membuat
Abimanyu dengan mudah membulan-bulani mereka berdua. Tanpa membuang waktu
lagi, disudahi pertempuran keroyokan itu dengan sekali ayunan Kyai Pulanggeni. Jerit
ngeri keduanya mau tak mau membuat hampir semua mata mengarahkan
pandangannya kearah kejadian.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 26


Pandita Durna sangat kagum dengan kroda prajurit muda belia itu. Dalam hatinya ia
mengatakan,

“Weleh . . . . ,tidak anak, tidak bapak.! Keduanya ternyata sama saktinya. Kalau hal
seperti ini dibiarkan, tak urung binasalah barisan prajurit Kurawa. . !”.

Segera dipanggilnya Sangkuni dan Adipati Karna serta Jayadrata. Setelah mereka
menghadap, Pandita Durna menguraikan karti sampeka akal-akalannya,

“Adi Sangkuni, nak angger Adipati serta Jayadrata, bila dengan cara okol kita tidak
dapat mengatasi amukan Abimanyu, maka kita harus menggunakan kekuatan akal
kita. Setuju Adi Sengkuni ?”

“Eee. . . kakang Durna, kalau masalah itu jangan lagi ditanyakan ke saya. Pasti
setuju!” Sangkuni mengamini.

“Terus anak Angger Adipati, kali ini tak ada jalan lain. Bila hal ini diterus-teruskan,
maka akan kalah kita. Minta pendapatnya nak angger Adipati !” Seakan Durna minta
pertimbangan, padahal didalam otaknya sudah tersimpan rencana licik bagaimana
cara mengatasi keadaan yang sudah mengkawatirkan itu.

“Terserahlah paman pendita, kali ini aku menurut kemauanmu ! ”. Jawab Narpati
Basukarna sekenanya.

“Nah begitulah seharusnya. Kali ini aku meminta jasamu nak angger Adipati. Anak
angger yang aku pilih karena memang seharusnya anak anggerlah yang dapat
mengatasi masalah ini” Durna mulai membuka strategi.

“Baik Paman Pendita, apa yang harus aku lakukan?” berat hati Karna menyahut.

“Begini, Adi Sengkuni, segeralah naikkan bendera putih tanda menyerah. Kemudian
Anak Angger Adipati segera mendekati Abimanyu. Rangkul dan rayulah. Katakan
kehebatannya dan pujilah ia. Selanjutnya Jayadrata, panahlah Abimanyu dari
belakang. Bila sudah terkena satu panah, tidak lama lagi pasti akan gampang langkah
kita” Pandita Durna menjelaskan strateginya.

“Baiklah Paman Pendita, mari kita bagi bagi peran masing masing” Adipati Awangga
itu segera melangkah menjalankan strategi yang telah dirancang.

Demikianlah. Maka akal culas Pendita Durna mulai dilakukan. Kibaran bendera putih
Patih Harya Suman membuat hingar bingar peperangan perlahan terhenti. Dalam hati
para prajurit tempur saling bertanya, kenapa perang dihentikan? Sementara orang
mengerti, bila perang terus berlanjut, maka kebinasaan pihak Kurawa tinggal
menunggu waktu.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 27


Gb. 23 – Siti Sundari

Kali ini giliran Adipati Karna mengambil peran, didekatinya Abimanyu:

“Berhentilah anakku bagus . .!, Kemarilah. Sungguh hebat anakku yang masih remaja
sudah dapat membuat takluk barisan Kurawa. Uwakmu sungguh ikut bangga dengan
apa yang kamu perbuat . . . ” Setelah mendekat, dipeluknya Abimanyu dengan
hangat, layaknya seorang paman terhadap keponakan yang telah berhasil berbuat
hal yang menakjubkan.

“Apakah sungguh begitu uwa Narpati . ! Bila memang barisan uwa sudah takluk,
dan memang demikian adanya, segera eyang Durna dibawa kemari, layaknya seorang
senapati takluk terhadap lawan” Bangga Abimanyu.

Kebanggaan itu ternyata tidak berlangsung lama, Jayadrata dengan kemampuan


memainkan gada yang luar biasa adalah juga seorang pemanah ulung. Dibidiknya

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 28


punggung Abimanyu, seketika jatuh terduduk Abimanyu dengan darah menyembur
dari lukanya.

Tak sepenuhnya tega Adipati Karna memegangi keponakannya yang terluka,


mundurlah ia menjauhi arena peperangan. Ditemui Pandita Durna untuk diberi
laporan.

“Paman Pendita, sekarang rencana paman sudah berhasil. Abimanyu terluka


dipunggungnya, untuk tindakan selanjutnya, saya tidak ikut mencampuri urusan
lagi” Tutur Adipati Karna.

Terkekeh-kekeh tawa Sang Pandita mengetahui rencananya sudah berhasil. Pikirnya


biarlah tanpa Adipati Karna pun kemenangan sudah sebagian besar dicapai kembali.
Segera Karna menjauh balik ke pesanggrahan.

Sepeninggal Adipati Karna, segera Durna memberi aba-aba untuk kembali


menyerang. Namun Abimanyu tidaklah gentar, malah ia semakin bergerak maju
menyongsong serangan.

“Heh para Kurawa . .!, Memang dari dulu sifat culas itu tidak akan pernah hilang.
Akan aku kubur sifat culas kalian, sekalian dengan yang raga menyandangnya. Hayo
majulah kalian bersama-sama. Tak akan mundur walau setapakpun walau Duryudana
sekalipun yang maju !!”.

Walau terluka, ternyata Abimanyu masih segar bugar. Suaranya masih lantang dan
berdirinya masih tetap tegar.

Melihat lawannya terkena panah yang masih menancap di punggungnya, aba aba
keroyok bersahut sahutan. Dari jauh anak panah lain dilepaskan oleh warga Kurawa,
sementara yang dekat melontarkan tombak dan nenggala serta trisula bertubi-tubi.
Dalam waktu singkat, segala macam senjata menancap ditubuh satria muda itu.

Namun hebatnya satria muda yang terluka parah ini masih maju dengan amukannya.
Dari kejauhan gerakan sang prajurit muda itu bagai gerak seekor landak, oleh
banyaknya anak panah dan tombak yang menancap di sekujur tubuhnya. Malah bila
digambarkan lebih jauh lagi, ujud dari satria tampan ini bagaikan penganten sedang
diarak. Kepala yang penuh senjata seperti karangan bunga yang terrangkai sementara
tubuhnya bagaikan kembar mayang yang mengelilingi raganya. Ada sebagian senjata
tajam mengiris perutnya. Usus yang memburai yang disampirkan pada duwung yang
terselip di pinggangnya, seperti halnya untaian melati menghiasi pinggang.

Darah yang mengalir deras bagaikan lulur penganten yang membuatnya menjadi
makin berkilau diterpa sinar matahari. Tidaklah berbau anyir darah Abimanyu, malah
mewangi sundul ke angkasa raya. Saat itulah para bidadari turun menyaksikan
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 29
kegagahan sang prajurit muda belia. Dalam pendengaran para bidadari, suasana yang
dilihat bercampur dengan kembalinya denting padang yang beradu dan tetabuhan
kendang, suling serta tambur penyemangat, bagaikan pesta penganten yang
berlangsung dengan iringan gamelan berirama Kodok Ngorek 8 !

Gb. 24 – Lesmana Mandrakumara

Dilain pihak, dalam pikiran Abimanyu teringat akan sumpahnya kala menghindar dari
pertanyaan istri pertamanya, Retna Siti Sundari, ketika curiga bahwa sang suami
sudah beristri lagi. Sumpah yang diiringi gemuruh petir, bahwa bila ia berlaku
poligami, maka bolehlah orang senegara meranjap tubuhnya dengan senjata apapun.

8 Gending pengiring penganten pada pesta perkawinan


Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 30
Saat itu ia terhindar dari tuduhan Siti Sundari, namun setelah Kalabendana raksasa
boncel lugu, paman Raden Gatutkaca, membocorkan rahasia perkawinannya dengan
Putri Wirata, kusuma Dewi Utari, akhirnya terbuka juga rahasia yang tadinya tertutup
rapi. Walau tak terjadi apapun akhirnya antar kedua istri pertama dengan madunya,
namun sumpah tetaplah sumpah, ia berketatapan hati, inilah bayaran atas janjinya.

Diceritakan, Lesmana Mandrakumara alias Sarojakusuma, putra Prabu Duryudana


yang baru saja mendapat ijin dari sang ibu untuk pergi ke peperangan. Padahal
selamanya sebagai anak manja, ia tak banyak ia berkecimpung dalam keprajuritan,
sehingga sifat penakutnya sangat kentara.

Dengan jumawa, kali ini ia melangkah menghampiri Abimanyu. Lesmana menghina


Abimanyu dengan kenesnya, diiringi kedua abdinya yang selama ini memanjakannya,
Abiseca dan Secasrawa.

Segera Sarjakusuma menghunus kerisnya untuk menamatkan riwayat Abimanyu.


Anggapannya, ialah yang akan menjadi pahlawan atas gugurnya satru sakti yang akan
dipamerkan kepada ayahnya.

“E . . e . . e . . . , Abimanyu, bakalan tak ada lagi yang menghalangi aku menjadi


penganten bila aku kali ini membunuhmu. Atau jandamu biar aku ambil alih. Rama
Prabu pasti gembira tiada terkira, kalau aku berhasil memotong lehermu”.

Dengan langkah yang masih seperti kanak-kanak sedang bermain-main, ia maju


semakin mendekat masih dalam kawalan kedua abdinya yang sedikit membiarkannya,
memandang enteng kejadian didepan matanya.

Abimanyu yang melihat kedatangan Lesmana Mandrakumara mendapat ide, tidak


dapat membunuh Duryudana-pun tak apa, bila putra mahkota terbunuh, maka akan
hancur juga masa depan uwaknya itu. Makin dekat langkah Sarjakusuma yang ingin
segera menamatkan penderitaan sepupunya. Tapi malang tak dapat ditolak, mujur
tak dapat diraih, dengan tenaga terakhir, sang prajurit muda masih mampu
menusukkan Kyai Pulanggeni ke dada tembus ke jantung putra mahkota Astina, tak
ayal lagi tewaslah Lesmana Mandrakumara, berbarengan dengan senyum terakhir
mengembang dibibir prajurit muda gagah berani itu. Abimanyu telah tunai melunasi
janjinya.

Kembali suasana menjadi gempar. Gugurnya kedua satria muda dengan beda karakter
bumi dan langit membuat perang berhenti, walau matahari belum lama beranjak
dari kulminasi. Kedua pihak bagai dikomando segera menyingkirkan pahlawan mereka
masing masing.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 31


Gb. 25 – Abimanyu Ranjap

Syahdan, Retna Siti Sundari yang hanya diiring oleh abdi emban menyusul ke
peperangan, telah sampai pada saat yang hampir bersamaan dengan gugurnya sang
suami tercinta. Oleh istri tuanya, Utari tidak diperkenankan pergi bersamanya ,
sebab dalam kandungan tuanya terkadang terasa ada pemberontakan didalam,
seakan sang jabang bayi sudah tak sabar hendak mengikut kedalam perang besar
keluarga besarnya. Kemauan besar Retna Utari untuk ikut serta kemedan perang,
terhalang oleh madu dan anaknya yang masih ada di dalam gua garba. Bahkan sang
ibu mertua, Wara Subadra juga melarang Utari untuk pergi.

Ketika terdengar teriakan gemuruh menyatakan Abimanyu telah gugur, jantung


wanita muda ini makin berdegup kencang. Ia segera berlari ketengah palagan tanpa
menghiraukan bahaya yang mengintip diantara tajamnya kilap bilah-bilah pedang dan
runcingnya ujung tombak. Sesampai di hadapan jenasah suaminya yang tetancap
ratusan anak panah. Tidak terbayang sebelumnya akan keadaannya yang begitu
mengenaskan, Siti Sundari lemas dan kemudian tak sadarkan diri. Suasana kesedihan
bertambah mencekam dengan pingsannya sang istri prajurit muda itu.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 32


Bumi seakan berhenti berputar, awanpun berhenti berarak. Burung burung didahan
tak hendak berkicau, kombangpun berhenti menghisap madu. Jangankan sulur
gadung dan bunga bakung yang bertangkai lembek, bahkan bunga perdu, seperti
bunga melati dan cempaka ikut tertunduk berkabung terhadap satu lagi kusuma
negara yang gugur, di lepas siang .

Sebentar kemudian, setelah siuman, Retna Siti Sundari yang telah sadar apa yang
terjadi di sekelilingnya segera menghunus patrem, keris kecil yang terselip
dipinggangnya. Dihujamkan senjata itu ke ulu hati. Segera arwah sang prajurit muda,
Abimanyu, menggandeng tangan sukma istrinya, mengajaknya meniti tangga tangga
kesucian abadi menuju swargaloka. Raga sepasang suami istri muda belia tergolek
berdampingan. Mereka telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 33


Episode 8 : Ricuh di Bulupitu
Sementara itu, ketika Harya Werkudara dan Raden Arjuna yang dipancing jauh keluar
arena oleh Prabu Gardapati dan Wersaya, telah lupa akan pesan dari senapati
pengatur perang, Drestajumna.

Mereka punya pertimbangan bahwa tidak sepantasnya seorang kesatria menghindar


dari tantangan musuh.

Maka ketika mereka sudah terlepas dari induk peperangan, tak ada lagi perasaan
bahwa mereka telah masuk dalam perangkap licik lawan.

Tanding antara mereka dalam dua kelompok terjadi dengan sengit. Tetapi sebetulnya
tidaklah berat bagi kedua satria Pendawa ini untuk mengakhiri tanding itu.

Tepat ketika matahari diatas kepala, dikenakai senjata sakti Gardapati dan Wersaya
tanah yang diinjak kedua satria Pandawa dengan cepat amblas berubah menjadi pasir
lumpur yang menyedot tubuh Arjuna dan Werkudara. Semakin mereka melawan
tenaga sedot pasir lumpur, makin mereka tenggelam.

Gardapati terbahak menyaksikan lawannya terperangkap dalam pasir lumpur yang


bagaikan hidup, menyeret tubuh didalamnya semakin dalam.

“Kalian berdua, berdoalah kepada dewa, pamitlah kepada saudara-saudaramu,


bicaralah kepada ayahmu Pandu, bahwa hari ini kalian akan menyusul ayahmu ke
Candradimuka menggantikannya jadi kerak neraka itu”.

Memang demikian, ketika itu, Pandu, ayah Werkudara adalah penghuni Kawah
Candradimuka, sebelum Werkudara sebagai anaknya mampu mengentaskan ayahnya
dari penderitaan atas kesanggupannya menghuni kawah itu, ketika atas tangis istri
mudanya, Dewi Madrim, yang ingin beranjangsana menaiki lembu Andini, tunggangan
Batara Guru.

“Tidak bertindak ksatria, bila dengan cara begini perangmu. Dunia akan
mengenangmu sebagai raja dengan cara perang yang paling pengecut!” Arjuna
menyahut dengan gerakan hati-hati, karena bila ia bergerak, maka sedotan lumpur
makin menyeretnya tenggelam.

Dilain pihak, Werkudara adalah satria yang telah tertempa lahir dan batinnya.
Perjuangan menempuh kesulitan dalam alur hidupnya telah menjadikannya kokoh
luar dalam. Maka ketika sedang terjepit seperti ini tak lah ia patah semangat. Ajian
Blabag Pengantol-antol dikerahkan untuk mendorongnya keluar dari seretan lumpur.
Tidak percuma, ketika berhasil melompat keluar dari pasir berlumpur maka

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 34


Gardapati yang lengah segera digebuk dengan Gada Rujakpolo, pecah kepalanya
seketika tewaslah salah satu andalan perang pihak Kurawa.

Gb. 26 – Werkudara

Pada saat yang sama Arjuna sudah dapat merayu Wersaya agar mendekat. Namun
setelah pancingannya mengena, ditariknya tangan Wersanya. Dengan meminjam
tenaga lawan keluarlah Arjuna dari kubangan lumpur. Pertarungan sengit kembali
terjadi, namun seperti semula, kesaktian Arjuna jauh diatas Wersaya. Dengan tidak
membuang waktu, diselesaikan pertempuran itu dengan tewasnya Wersaya diujung
keris Kyai Kalanadah.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 35


Kedua satria yang telah kembali dari pertempuran yang jauh dari induknya, dan
mendapati perang telah usai. Namun mereka pulang dengan menemukan suasana
duka mendalam yang terjadi di pesanggrahan Randuwatangan.

Gb. 27 – Arjuna

Melihat kenyataan didepan mata, Arjuna yang sangat menyesal telah meninggalkan
peperangan terjatuh pingsan. Kehilangan anak kesayangannya membuatnya sangat
terpukul. Demikian juga sang istri Wara Subadra tak henti hentinya menangisi
kepergian putra tunggalnya yang masih belia.

Tak ketinggalan Retna Utari yang tak diperbolehkan bela pati oleh Prabu Kresna,
duduk dihadapan jasad kedua orang yang sangat dicintai dengan lelehan air mata
bagai hendak terkuras dari kedua matanya.

Sore itu juga, api pancaka segera dinyalakan untuk membakar kedua raga suami istri
belia itu. Suasana petang sebelum matahari tenggelam, seolah mendadak seperti
dipercepat waktunya oleh mendung yang menutup suasana sore seperti mendung
yang menggelayut pada semua yang hadir dalam upacara itu.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 36


<<< ooo >>>

Begitu hening suasana balairung di Pasanggrahan Bulupitu siang menjelang sore itu
karena perang berhenti lebih cepat dari biasanya. Bahkan keheningan itu
menjadikannya helaan nafas berat Prabu Duryudana terdengar satu-satu. Kadang ia
berdiri berjalan mondar mandir, kemudian duduk kembali. Sebentar-sebentar ia
mengelus dada dan bergumam dengan suara tidak jelas.

Suasana itu juga berimbas pada keadaan di sekelilingnya. Namun orang-orang


disekelilingnya sangatlah paham apa yang bergejolak dalam benak Prabu Duryudana.
Mereka mengerti betapa berat keadaan yang membebani jiwa raja mereka. Putra
lelaki satu satunya sebagai penerus generasi trah Kurawa telah gugur, maka tiada
satupun yang berani membuka mulutnya.

Bahkan Prabu Salya pun. Ia juga tersangkut dalam peristiwa tewasnya Lesmana
Mandrakumara, karena Lesmana adalah cucunya juga.

Lama pikiran Prabu Duryudana mengembara kemana-mana dengan kenangan


terhadap pangeran pati yang dicintainya. Akibatnya ia merasa raganya menjadi bagai
lumpuh.

Setengah hari telah berlalu, pada akhirnya bagai bergumam, ia memanggil nama
pamannya.

“Paman Harya Sangkuni!”

Yang dipanggil setengah kaget, ia merasa bersalah dengan kejadian yang telah
berlangsung. Dalam pikirnya, hukuman apakah yang hendak dijatuhkan terhadap
dirinya atas keteledoran membiarkan sang pangeran memasuki palagan peperangan.
Namun ditegarkan hatinya ia menjawab.

“Daulat sinuwun memanggil hamba “

“Ini siang atau malam?”

Pertanyaan Duryudana melegakan. Kelegaan yang menyesak dada Sangkuni terasa


terurai. Dengan suara lembut malah ia balik bertanya.

“Mengapa begitu paduka anak angger membuka sidang ini dengan mempertanyakan
waktu, ini siang atau malam, “

Bagai terbuka saluran beban yang memberati hatinya, Prabu Duryudana


mengeluarkan isi pikirannya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 37


“Siapa orangnya yang kuat menjalani, kejadian yang menimpa para Kurawa,
Duryudana dan para saudaranya. Seberat-beratnya beban yang disandang manusia
adalah, bila sudah menjadi lawan para dewata. Tetapi saya lebih percaya bila bukan
itu yang sedang terjadi, yang salah bukan para dewa.”

“Yang saya percaya adalah, bahwa ada salah satu Pandawa yang menyelonong untuk
meminta kepada dewa, bila terjadi perang, maka maksudnya adalah supaya
membuat gelap jagad saya, seperti yang disandang sekarang ini”.

Setelah menarik nafas panjang ia melanjutkan.

“Anak lelaki yang hanya satu, satria Sarujabinangun, Lesmana Mandrakumara yang
siang malam aku mengharap, saya rancang, setelah selesai Baratayuda Jayabinangun
akan saya lungsuri keprabon, supaya “nyakrawati mbahudenda 9 di dunia, di negara
Astina. Tidak terduga apa yang akan terjadi sebelumnya, cucu andika, gugur dalam
peperangan”.

“Gugurnya Lesmana tidak urung membuat lumpuh bahu saya kanan dan kiri”.

Sejenak sang Prabu kembali terdiam. Banyak kata yang hendak ia sampaikan
berjejalan untuk segera dilepaskan dari sesak didadanya.

“Kata para pintar dan piwulang para brahmana, sabda para muni, manusia diberi
wenang mepunyai cita-cita apa saja. Walau lakunya lewat banyak jalan, ada yang
berusaha melewati cara dengan kerasnya bekerja, ada pula yang meraihnya dengan
cara laku tapa. Diumpamakan mereka tidak takut berjalan dalam lelayaran luasnya
samudra atau bertapa didalam gua gelap, tapi kemuliaan yang hanya untuk
kepentingan pribadi itu tidaklah berlaku apa apa dalam hidup. Buatku, yang
membuat laku kerja keras, itu adalah laku untuk mejadikan mukti keturunanku,
supaya besok aku dapat memperpanjang jaya keterunanku, dengan cara menang
dalam perang Baratayuda”.

Bicara Prabu Duryudana yang tadinya bagai bergumam, tiba-tiba menjadi ketus.

“Tetapi semuanya menjadi terbalik, semuanya menjadi terbalik!

“Yang terjadi adalah, para orang tua hanya yang ikut mengayom dalam kemuliaanku
diam saja. Bertopang dagu, duduk ngedangkrang tidak ikut dalam repotnya
penandang ! Padahal pada kenyataannya para orang tua itu tidak hanya ngayom
kepada kemuliaan negara. Padahal semestinya mereka bergerak tanpa memperoleh
perintah, tanpa harus diberi aba aba dan keluh kesah saya. Semestnya mereka
mengerti bahwa mereka mempunyai pekerjaan luhur, Yaitu menjalankan perang

9 cakrawati: jagad bundêr, bau-dhêndha: kuwasa bangêt.


Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 38
dalam Baratayuda. Tetapi semuanya tidak ada nyatanya, semua hanya berhenti
dalam kata kata. Cuma berhenti dalam rembug, yang dirembug siang malam hanya
rembug yang tak ada kenyataannya. Padahal rembug kalau tidak dilakukan tidaklah
ada nyatanya !’

“Apakah harus saya sendiri yang melangkah kedalam peperangan menyerang para
Pandawa”.

Gb. 28 – Prabu Duryudana

Terdiam kembali Prabu Duryudana setelah segenap sesak di dadanya dialirkan


dihadapan semua parampara dan para prajurit yang hadir. Satu persatu yang sedang
hadir dalam sidang dipandanginya. Namun semua wajah menunduk diam. Mereka
terlihat memberi kesempatan kepada rajanya untuk mengeluarkan segala unek unek
yang terpendam didadanya.

Namun tidak dengan Resi Krepa, kelihat keheningan yang kembali melingkup sidang,
ia membuka mulutnya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 39


“Seribu maaf, anak prabu. Saya dari Timpurusa ipar Pandita Durna. Saya yang
sanggup menjadi kekeset paduka, saya yang bernama Krepa”.

Krepa memperkenalkan kembali keberadaannya dalam sidang. Setelah diawasinya


semua yang menghadap di Bulupitu, ia melanjutkan.

“Awalnya saya pergi dari Timpurusa karena tertarik dan ada hubungannya dengan
persaudaraan ku dengan Pendita Durna. Karena kakak saya adalah wanita bernama
Kerpi. Karena kecintaanya kepada kakak ipar hamba Kumbayana. Karena paduka
menjadikannya sebagai penasihat Kurawa, saya juga tidak akan ketinggalan.
Walaupun tidak disuruh, hamba mengabdi datang ke Astina karena terdorong oleh
gregetnya hati, dalam pengharapan hamba, agar hamba tidaklah terpisah dari
saudara ipar hamba, kakang Kumbayana. Tetapi apa yang terjadi, ada kalanya
bergeser dari rancangan semula. Semula hamba datang tujuannya adalah ikut
menikmati kemuliaan. Ikut memperlindungi raga saya yang tak lagi muda, tetapi
saya menemukan keadaan Astina telah menjadi glagah alang alang, karena tersaput
oleh api perangan. Sebab dari telah terjadinya perang Baratayda Jaya Binangun”.

Setelah sejenak menelan ludah membasahi kerongkongannya, kembali Krepa dengan


percaya diri meninggi, melanjutkan jual dirinya.

“Mesti saja, tidak besar atau kecil, tua atau muda, saya terkodrat jadi lelaki. Sekali
lelaki tetaplah lelaki, dan saya sebagai lelaki pastilah berbekal keberanian. Dan
bila sinuwun hendak menanyakan berani dalam hal apa, silakan sinuwun
menanyakan”.

Krepa memancing.

“Berani dalam hal apa paman. Akan aku dengarkan”.

Penasaran, Prabu Duryudana menyahut.

“Bicaralah Krepa, akan saya dengarkan tidak hanya akan aku dengarkan dengan
telinga, tapi aku juga akan mendengarkan dengan rasa”.

Mendapat angin, Krepa makin percaya diri.

“Sukurlah, apakah sebabnya bila saya berbekal keberanian. Berapa lama manusia
hidup dalam dunia, lumrahnya hidup didunia ini hanya diumpamakan cuma mampir
minum. Ada kalanya orang harus memilih, hamba juga bisa memilih negara yang
lain. Hamba juga dapat memilih raja yang lain. Tetapi memang dari awal hamba
sudah memilihnya, walaupun menjadi gagang keringpun akan aku lakukan”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 40


“Tidak ada satupun orang yang mempunyai cita cita mengabdi dengan sepenuh hati
tak akan memperoleh nama harum, namun para orang yang sebaliknya, mengabdi
dengan setengah hati, itu adalah terserah mereka sendiri”.

“Dan pengabdian saya akan saya berikan dalam bentuk pengorbanan jiwa raga dari
atas pucuk rambut hinggga ke bawah keujung kaki”.

“Tetapi saat ini belum ada sarana yang bisa hamba pakai untuk membuktikan, sebab
perang Baratayuda ini sudah ditata oleh sang senapati. Yaitu orang yang telah
didapuk menjadi pengatur perang”.

Gb. 29 – Resi Krepa

Merasa dikenai hatinya atas segala ucapannya diawal pembicaraan, Prabu Duryudana
memotong.

“Kalau begitu, kalau yang aku bilang tadi, mencaci orang lain, terapnya kurang
tepat?!”.

Makin berani Krepa dengan kepala yang makin besar.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 41


“Baiklah, silakan untuk dirasakan sendiri. Sekarang bila menggunakan hitung
hitungan waktu, kalau saya dianggap kurang berkemauan, saya dimarahi karena saya
hanya ikut merasakan kemukten saja. Apakah hal itu sudah benar? Karena saya
mengabdi ke Astina belumlah selama yang lain!”.

“Dan bila saya mengatakan berdasarkan keheranan, disini ada yang lebih lama dan
yang juga mempunyai babat, bibit, bobot dan bebetnya”.

“Maksud paman Krepa?”

Duryudana meminta keterangan lebih lanjut karena dengan jumawa Krepa


memandangnya dengan sedikit memancing.

Kerpa menggeser duduknya yang mulai dirasa kurang nyaman, lanjutnya,

“Bibit disini ada yang tadinya hanya sekedar anak kusir, terus babatnya hanya ikut
orang tuanya, bebetnya, keadaannya hanyalah orang biasa , sekarang bobotnya
mempunyai jabatan tinggi karena dalam jabatannya ia adalah telah diberi gelar
senapati perang dan seharusnya ikut campur tangan dalam menata negara. Tidak
kurang kurang paduka telah memberkatinaya setinggi langit, dan meluberinya segala
kemewahan termasuk memberikannya kadipaten yang tidak aku sebut namanya”.

“Sekarang ia telah dihormati, dan punya nama harum. Namun bukan oleh karena
kepribadiannya, tetapi karena diperolehnya dari pengayoman dari paduka sinuwun.
Lagi pula dia sebenarnya bukanlah manusia yang biasa saja. Sebenarnya
dialah seseorang turun dewa yang memberi kecerahan siang”.

“Tetapi kesulitan yang paduka sandang hingga membawa korban cucu hamba
Lesmana Mandrakumara, tetap menjadikannya orang tersebut hanya berdiam diri.
Tidaklah ia memberikan pemecahan masalah yang membuat beban yang paduka
sandang menjadi ringan. Orang itu hanya membutakan mata, menulikan terlinga.
Bila aku umpamakan, orang itu, bila berdiri, berdirinya adalah condong. Condongnya
dalam berdiri bukanlah memberikan cagak kekuatan kepada teman, tetapi
condongnya adalah mengayomi lawan”.

“Yang ditunjang oleh orang itu adalah musuh, yang pada kenyataanya adalah masih
saudara tunggal wadah. Dengan demikian, paduka hendaknya sekali sekali menindak
orang yang bersalah. Sekali sekali hendaknya sinuwun menindak orang yang
membuat kekuatan Kurawa menjadi ringkih!”.

Sebenarnya apa yang dimaui Krepa sudah dirasakan oleh Adipati Karna. Ia tidak syak
lagi, bahwa Krepa menyindirnya. Namun demikian ia tahu siapa Krepa. Dibiarkannya
ia mengoceh dihadapan adik iparnya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 42


Dilain pihak, ipar Krepa, Begawan Durna Kumbayana, menjadi khawatir dengan kata
kata nyinyir Krepa. Akhirnya Durna berusaha mendinginkan suasana.

“Sinuwun, perkenankan hamba memadamkan api yang belum terlanjur berkobar.

“Mengapa diumpamakan begitu?”

Duryudana yang sebenarnya sudah paham akan keadaan yang terjadi


mempertanyakan.

“Hamba mengerti, yang dimaui Krepa itu adalah orang yang hari ini juga ikut duduk
bersama sinuwun”. Kemudian sambung Durna memohon.

“Bila saya diperkenankan hamba akan wawancara dengan adik ipar saya resi Krapa”.

“Terserahlah Paman Pendita, bila hasilnya adalah untuk memperkuat persatuan


Kurawa silakan Paman”. Pesan Prabu Duryudana.

“Krapa!! Kamu itu pintar tetapi jangan keterlaluan. Pintar boleh tapi jangan
hendaknya untuk meminteri. Kamu memang sudah terkenal doyan bicara, tetapi
kata katamu hendaknya membuat dingin suasana. Berkatalah dengan dasar air
kesabaran”.

Berkata Pendita Durna dengan mata tajam memandangi adik iparnya. Yang
dipandang hanya diam menunduk membuat Pendita Durna melanjutkan.

“Kalau api yang kau sulut itu akhirnya akan mengobarkan ketentraman. Kalau yang
terbakar hanya sebagian saja tidak mengapa. Lha kalau yang berkobar adalah
seluruh keluarga besar, merambat kepada para pembesar, tidak urung akan
merambat kepada semua rakyat!”

“Ketahuilah Krepa, bertindak selangkah, berbicara satu kalimat saja, selalu menjadi
perhatian para rakyat kecil, baik buruknya rakyat kecil adalah bagaimana para
pejabat berlaku. Para pejabat seharusnya merasa dijadikan panutan oleh rakyat
kecil. Semua harus bisa menjadi contoh!”

“Pejabat yang kau sebut tadi diam bukannya tidak merasa. Ketahuilah Krapa! Kamu
datang ke negara Astina bukanlah siapa siapa yang membawa. Tetapi aku yang
membawa. Datang ke Astina kamu diberi jabatan sebagai penasihat. Disini aku
mengingatkan kepadamu, kata katamu tadi hendaknya kamu cabut. Sebelum
kejadian yang tidak diinginkan terjadi!

Karena itu jangan biasakan memanaskan suasana, karena disini suasananya sudah
terlanjur menjadi makin panas !”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 43


“Sumbanglah para Kurawa dengan ide-ide yang bermanfaat agar semua menjadi
tenteram sehingga perang dimenangkan oleh Para Kurawa. Itu mauku !!”

Panjang lebar Durna memberikan nasehat kepada adik iparnya yang dikenal berhati
batu itu.

“Benar apa yang dikatakan paman Pendita Durna. Ibarat orang yang melangkah di
samudra pasir, melangkah dipadang pasir. Ia tidak berharap menemukan emas
sebakul, namun yang diharap adalah setetes air pengobat dahaga.”

Prabu Duryudana menyahut mengamini.

Namun kaget semua yang hadir, ketika Krepa menjawab dengan perasaan tinggi hati.

“Hamba minta maaf sebesar besarnya sinuwun, tetapi, bila kata-kata yang telah aku
sampaikan aku cabut kembali maka betapa malunya aku”.

“Bila diumpamakan kata kata hamba tadi adalah seperti halnya hamba melepaskan
anak panah, siapakah yang merasa perih ialah yang terkena anak panah tadi”.

Adipati Karna yang dari tadi terdiam menahan sabar, sudah mencapai batas ledakan
didadanya. Segera ia melangkah kehadapan sang Prabu Duryudana.

“Mohon maaf yayi prabu Duryudana”.

Merasa apa yang hendak terjadi adalah kobaran api amarah, maka prabu Duryudana
malah berkata dengan nada memelas.

“Kakang Prabu kami minta pengayoman”

“Apa dasarnya”.

Jawab Karna.

“Pengayoman itu adalah hendaknya kakang prabu berlaku sabar”.

Kembali Duryudana berusaha meredam kemarahan kakak iparnya.

“Saya tidak ingin menanggapi suara sumbang, yang suara itu bermaksud memecah
barang yang utuh. Suara itu kami anggap angin liwat, tetapi bila kemarahan yang
terpendam ini tidak tersalurkan dalam ledakan didada, maka tindakan yang
aku lakukan mejadi ngawur. Tidak aku salahkan bila sementara orang yang tega
memotong leher orang bila sudah terjadi hal yang seperti ini”.

Disambarnya tangan Krepa. Diseretnya ia keluar dari arena pertemuan.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 44


Kaget setengah mati Krepa diperlakukan seperti itu. Namun tak ada lagi kesempatan
membela diri, dihajarnya Krepa hingga babak belur.

Tak hanya itu, segera dicabutnya keris pusaka Kaladete dari warangka, tanpa ragu
dipotong leher Krepa. Tewas seketika. 10

Geger para Kurawa melihat kejadian yang berlangsung tiba tiba itu. Semua tidak
menyangka kejadian yang sangat cepat akan membawa korban.

Gb. 30 – Aswatama

10Catatan: Versi lain, menyebutkan Krepa tidak dibunuh Adipati Karna, namun hanya diusir
Prabu Duryudana bersamaan dengan Aswatama.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 45
Aswatama adalah seorang yang semasa kecil ditinggal ayahnya, Pandita Durna
Kumbayana. dan selalu dalam asuhan Ibu tirinya Dewi Kerpi dan sang paman Arya
Krepa. Melihat apa yang terjadi terhadap pamannya, dengan segera ia melompat
mendekati Adipati Karna yang berdiri puas menyaksikan menggelundungnya kepala
orang pandir yang nyinyir menyindir dirinya.

Aswatama memandang apa yang terjadi didepan matanya merasa bagai dipukul
dadanya dengan palu godam, marahnya hingga mencapai ubun-ubun. Merah menyala
dadanya. Matanya menyala nyalang, gemeratak giginya dengan sudut bibir yang
bergetar. Seluruh badannya bergetar memerah bagai warna bunga wora wari.

“Karna bila kamu memang lelaki jantan ini Aswatama yang akan sanggup berhadapan
dengan saling adu dada. Tidak sepantasnya kamu membunuh paman Krepa dengan
tidak memberi kesempatan membela diri”. Berdiri Aswatama dengan berkacak
pinggang, mata melotot dan memelintir kumisnya.

Tersenyum sinis Karna mendengar tantangan Aswatama.

“Heh Aswatama! Kamu anak Kumbayana kan? Anak dari guru para Pandawa dan
Kurawa sekaligus. Kalau memang kamu sebagai orang sakti keturunan bidadari
selingkuh macam Wilutama. Majulah kesini akan aku susulkan kamu kepada
pamanmu yang kurang ajar itu!”

Pertarungan tanpa diberi aba dimulai. Saling serang kedua orang yang dibakar
kemarahan hanya berlangsung sekejap. Para petinggi di balairung yang menyusul
keluar Adipati Karna telah sampai dipinggir arena.

Prabu Duryudana memegangi Adipati Karna sedangkan Pandita Durna memegangi


anaknya. Aswatama. “Anakku Aswatama ayolah segera meminta maaf kepada
sinuwun Prabu Duryudana. Kamu telah membuat malu bapakmu!”

Menurut apa yang dikatakan bapaknya, segera Aswatama menghaturkan sembah.

“Sinuwun apapun yang hendak paduka lakukan terhadap hamba, tak akan hamba
menolaknya”.

“Mulai hari ini aku perintahkan kepadamu Aswatama, segera menjauh dari
pandangan mataku. Aku muak melihat tampangmu. Jangan sekali sekali mendekat,
bila tidak aku panggil!”

Lemas Aswatama mendengar perkataan junjungannnya. Dengan gontai dan wajah


menunduk dilangkahkan kakinya menjauh dari pandangan mata bapaknya yang
berkaca kaca, melihat anak kesanyangannya pergi dengan hati remuk.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 46


Aswatama telah kehilangan paman kesayangannya yang mengasuhnya dengan rasa
sayang bagai seorang ayah kandung, dan kehilangan kepercayaan sebagai seorang
prajurit negara.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 47


Episode 9 : Ricuh juga di Kadilengeng
Diceritakan, yang ada didalam taman sari Astina. Taman yang bernama Kadilengeng.

Yang tengah duduk dibawah pohon Nagasari, duduk diatas batu yang tertata rapi,
itulah prameswari raja Astina, putri dari raja Mandaraka Prabu Salya, yang bernama
Dyah Banuwati atau Banowati.

Bila diceritakan kecantikannya, maka tak ada kata kata yang sanggup
menggambarkan. Dari pucuk rambut hingga ujung jari kaki, sedikitpun tiada
cacatnya. Kulit kuning bagai sepuhan emas. Kenes serba pantas, menarik hati. Bila
berbicara ceriwis, namun tetap pandai menata kata. Lirikan matanya dan senyum
bibirnya, menampakkan aura yang menyinar. Dasarnya ia adalah wanita yang pandai
memadu padan busananya, maka tiadalah aneh, bila ia selalu menjadi buah bibir.

Jangankan golongan jelata atau lebih lagi para satria, bahkan para raja pun banyak
yang terpikat akan kecantikannya. Ketika Dyah Banuwati masih belia hingga kinipun,
sang Prameswari masih menjadi inspirasi kidung cinta. Panjang rambutnya ketika
tertiup angin bagai melambai-lambai merayu. Dadanya yang terlilhat padat berisi,
siapapun yang melihat akan terpesona karena Sang Dewi adalah wanita yang pandai
merawat diri dengan segala jejamuan yang menyebabkannya awet muda. Walau kini
sang dewi menginjak sudah setengah umur, namun tetap, kecantikannya bagai
berebut dengan sinar rembulan.

Ketika itu, siang dan malam ia merasa prihatin dengan terjadinya perang Baratayuda
Jayabinangun.

Keheranan sang dewi, ketika terbuka pintu taman, terlihat datangnya sang suami.
Seketika ia bergegas menyambut kedatangannya, ia menghaturkan sembah
sebelumnya, kemudian ia menggandeng tangan sang Prabu.

“Sembah bektiku kepada kakanda prabu”. Dengan senyum yang mesra disambutnya
sang Prabu. Senyum yang mesra itu sebenarnya adalah senyum sandiwara, karena
selamanya sang dewi tak kan pernah mencintai Prabu Duryudana.

“Ya! Kanjeng ratu, sembah bektimu bagiku, menjadikanku bagai tersiram sejuknya
air pegunungan”. Prabu Duryudana juga tersenyum melihat istrinya menghaturkan
sembah.

“Kenapa begitu bicara kakanda Prabu?” Sang Dewi seolah tak mengerti.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 48


“Itu karena rinduku kepada kanjeng ratu telah memenuhi isi dadaku. Ketika aku
melangkah ke peperangan, pisah dengan istri, mulailah rasa rindu itu tertimbun
dihatiku”.

Gb. 31 – Banowati

Dengan segala kejujuran hati, Prabu Duryudana menyampaikan rasa rindunya. Bila
perang telah berhenti dan kesibukan mengatur lasykar sudah usai di hari-hari kemarin
yang melelahkan, yang tertinggal dalam benak sang Prabu selama ini adalah
bayangan istri tercintanya.

Rasa cinta sang Prabu terhadap istrinya, Banuwati, tercurah habis kepadanya. Tetapi
sebaliknya, bagi Dewi Banuwati, kenangan indah semasa muda bercengkerama
dengan Permadi, Arjuna muda, membekas dalam dihatinya. Sehingga kawin paksa
yang terjadi dengan Prabu Duryudana, tak pelak lagi menjadikan rasa penasaran yang

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 49


tak kunjung terlampiaskan dan membuahkan sebuah janji serta selingkuh
berkepanjangan.

“Kita kan sudah bukan lagi penganten baru, sudah berusia lebih dari tigapuluh tahun
dan sudah berputra dewasa. Harusnya tidak lagi perasaan itu dimunculkan!” Tukas
sang dewi.

“Ya, terus terang saja . . . . , rasa itu yang telah menggelayut dalam dadaku”.
Jawab Duryudana terus terang.

Akhirnya Duryudana mengalihkan pembicaraan.

“Aku hendak menanyakan beberapa hal. Pertama, sejak aku meninggalakan puraya
agung ke peperangan, bagaimana keadaannya semua yang ada di Kedaton ini ?”.

“Para abdi saling bergilir berjaga jaga, tak ada yang melalaikan
pekerjaanya”.Banuwati menjawab singkat.

“Sukurlah . Yang kedua, lalu bagaimana mengenai kesehatanmu ?” Pertanyaan basa-


basi terlontar dari mulut Prabu Duryudana.

“Tetep sehat-sehat saja. Tetapi bila menanyakan ketentraman hati hamba, pastilah
tidak tenteram. Negara yang dalam ancaman pastilah berakibat pada ketenteraman
batin hamba, sinuwun”. Jawaban basa-basi membalas pertanyaan suaminya.

“Ya !”, jawab singkat Duryudana sambil mengangukkan kepalanya.

“Apakah perang sudah selesai sehingga paduka kembali ?” Tanya Dewi Banuwati
ketika sang Prabu terdiam sejenak.

“Nanti dulu. Yang Ketiga, kamu jangan kaget. Karena kanjeng ratu dan aku sendiri,
telah kehilangan harta yang nilainya melebihi seluruh isi istana !” Ragu Prabu
Duryudana hendak mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.

Tak sabar Banuwati mengejar. “Sabda paduka yang tersirat demikian mohon dibuat
terang saja, mengapa mengatakan hal yang mengandung perumpamaan seperti itu
?”

“Nanti dulu . . . . , akan aku pikirkan bagaimana caranya aku akan mengatakan
kepadamu. Karana dalam hitungan, jangan-jangan setelah aku mengatakan berita
ini kepadamu, jangan sampai kanjeng ratu menjadi sakit bahkan meninggal. Kalau
hal ini yang terjadi lebih baik aku yang menggantikannmu. . . .” Prabu Duryudana
terdiam. Demikian juga istrinya yang makin penasaran, namun tetap memberikan
waktu bagi suaminya. Dengan lirih akhirnya coba memulai dengan cerita yang hendak
dipanjang-panjangkannya.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 50
“Yayi kanjeng ratu . . . , memang bukan kemauanku. Pesanggrahan anakmu
yang dikepung wadya penjaga yang jagaannya begitu sangat rapat. Tetapi apa
sebabnya, Lesmana yang selalu dalam pandangan mataku. Tanpa ijin dariku, ia maju
ke medan pertempuran” Kemudian Prabu Duryudana terdiam lagi.

“Saya percaya, walaupun begitu Pandawa tak ada satupun yang tega membunuh
Lesmana, terutama Arjuna. Kalaupun ia tega maka ia berarti tega terhadap
“anunya” sendiri” ! Tak sabar sang Dyah Banuwati menyambar, sampai-sampai ia
menyerempet menyebut nama selingkuhannya.

“Aku tidak mengerti” Pura pura tak mengerti Duryudana menjawab dengan tidak
senang.

“Anunya itu, artinya keponakannya sendiri” Banuwati berkilah sekenanya. Pikirnya,


diketahui suaminyapun, ia tak akan berani memarahi. Ia mengetahui benar, bahwa
Duryudana adalah tipe suami takut istri.

“Tapi ini beda dengan pengharapanmu, Lesmana bukan bertanding dengan


Arjuna” Pelahan Duryudana memberi penjelasan

“Lalu siapa ?” Tak sabar Banuwati hendak mencari tahu.

“Ketika itu ia bertanding dengan Abimanyu. Sewaktu ia berada di peperangan ia


mendekati Abimanyu dengan membawa pusakanya kyai Kokop Ludira. Namun ia
kalah cepat, ia terkena pusaka Abimanyu. Hari itu anakmu gugur di medan
peperangan !!”.

Bersiap Duryudana hendak menangkap istrinya yang dikira akan kaget atau jatuh
pingsan, atau lebih jauh lagi akan terhenti detak jantungnya. Namun apa yang
terjadi, ia cuma memandang dengan tatapan kosong, termangu, malah sejenak
kemudian ia menyalahkan anak dan suaminya.

“Jadi anak selalu semaunya sendiri, bertindak tanpa ijin dari orang tua, ya begitulah
jadinya !”.

Terheran Duryudana, sambil menggelengkan kepala, ia bergumam

“Dikabari anaknya mati bukannya sedih, susah, malah tidak kaget sama sekali . . .
. .”.

“Apakah susah dan sedih harus dipamerkan ? Kejadian seperti itu bukan salah
Lesmana tetapi salah paduka, kalau hamba boleh mengatakan!” Jawab Banuwati
ketus.

“Salahku ada dimana?” Dikerasi istrinya, Duryudana melembek.


Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 51
“Paduka itu kurang waspada sinuwun”, kali ini ia menyalahkan suaminya.

“Baratayuda bukan perang yang hanya memperhatikan orang seseorang, selain harus
menjaga diriku sendiri, aku juga harus bertanggung jawab atas keselamatan semua,
tanggung jawab ada pada pundakku. Dan aku tidak menyangka, bahwa ia berani-
beraninya maju ke peperangan !”. Ia memberikan alasan.

“Ya itulah, kenapa Lesmana tidak menerima perintah paduka ! ” Kembali Banuwati
menyalahkan anaknya.

“Begitukah ?” Bingung Prabu Duryudana menghadapi keadaan ini.

“Penyesalanku, sedihku, itu harus berdasarkan apa ?” Kembali Banuwati


mempertanyakan hal mengapa ia harus menyesal. “Bila ia tunduk dan patuh kepada
orang tuanya, makanya tidaklah aku harus menyesal. Hidupnya Lesmana kebanyakan
menambah nambah rasa malu, tak ada lain !”.

Kekesalan Banuwati mulai mengungkit-ungkit peristiwa lama.

“Berapa kali ia gagal menikah? Berapa kali …..? Apakah itu namanya tidak
memalukan orang tua…. ? Jadi anak kok begitu sialnya !, yang ditiru itu siapa sih
sebenarnya ?!”

Tak mau berlarut-larut dalam ketegangan, Duryudana mengalihkan perhatian.

“Tetapi ada sebagian yang membuatku bangga, tidak ada yang melebihi kebanggaan
itu. Matinya juga membawa kematian si Abimanyu !”.

Kali ini justru Prabu Duryudana menjadi bertambah heran, terperangah dengan
peristiwa yang ada dihadapannya. Dewi Banuwati yang diberitahu kematian
Abimanyu malah menangis tersedu-sedu. Maka, setengah menggumam, ia
menumpahkan rasa herannya.

“Aneh sekali, aneh sekali kejadian ini. Dikabari anaknya, Lesamana, mati, marah-
marah kepadaku, menyalahkan Lesmana. Tetapi dikabari Abimanyu tewas, kamu
malah menangis sesenggrukan….. !”

Setelah beberapa saat didiamkan dalam tangisnya oleh Prabu Duryudana, Banuwati
menjawab disela-sela sedunya.

“Kalau Lesmana mati kan hanya saya dan paduka yang bersedih. Tetapi kalau
Abimanyu yang tewas pastilah banyak orang yang ikut merasakan sedihnya. Seperti
Arjuna, aku membayangkan betapa ia kehilangan, bagaimana sikapnya. Yang kedua
adalah Wara Subadra, ia telah kehilangan anak nya yang tunggal, belum lagi istri-

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 52


istrinya Siti Sundari dan Utari. Padahal Eyang Utari sedang mengandung, bagaimana
rasanya dia.”

Setengah sugal, Duryudana menjawab. “Itu bukan urusanku . . . . !, itu bukan


perkaramu !. Abimanyu isrinya dua atau selusinpun, masa bodoh amat !!

“Ternyata rasa cintamu itu telah berpaling . . . . ! “

Kali ini Prabu Duryudana yang marah-marah,“Siang malam tak ada gunanya aku
menyellimutimu dengan sutra. Aku basuh kakimu dengan air mawar, makan aku
ladeni minum aku bawakan, dimanja setinggi langit, aku jaga bagai jimat. Tetapi
apa yang terjadi, apakah dasarnya kamu memprihatinkan musuh ?”.

“Hamba manusia juga sinuwun”. Mencoba berkilah Banuwati.

“Ya memang !”. Tak senang dengan jawab istrinya, prabu Duryudana menyahut
sekenanya.

“Kalau manusia itu harus menggunakan rasa kemanusiaan !”. Namun yang terjadi
justru sang Dewi yang meneruskan kalimatnya.

Makin tak senang , ditantangnya istrinya berdebat. “Yang tidak mempunyai rasa
kemanusiaan itu aku atau Pendawa ?”

“Paduka berkata begitu itu atas dasar apa ?!” yang diajak berdebat malah makin
galak.

“Tidak lah aneh kalau Pandawa itu mengerti bahwa Kurawa itu adalah saudara
tuanya. Kalau manusia yang masih waras harusnya ingat itu !. Bisma itu gurunya,
itupun Pandawa berani membunuhnya !”.

“Jelas, Bisma itu mengikut Kurawa ! Tapi begitu aku melihat gugurnya satria tiga,
Seta, Utara dan Wratsangka, yang pernah dingengeri, yang memberi tumpangan
ketika ia telah selesai menjalankan pembuangannya selama duabelas tahun, menjadi
pengemis sudra. Dihidupi oleh orang Wirata, tetapi akhirnya ia membalasnya dengan
mengorbankan orang-orang yang telah berbuat baik. Itulah tandanya bahwa ia
adalah orang-orang yang terbuang sebenar-benarnya !”

“Pandawa sudah bagaikan hewan hutan yang lapar, yang hendak memakan tuannya
!”.

Diungkitnya kejelekan Pandawa dari sudut pandangnya sendiri.

“Sinuwun, apakah aku diperkenankan mengatakan sesuatu kembali ?” Disalahkan


para Pandawa yang menjadi pujaan hatinya, panas hati Dewi Banuwati.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 53


Dengan ketus Prabu Duryudana menjawab. “Boleh saja, tetapi aku tidak mau kau
kalahkan !” beringsut Prabu Duryudana, dan kemudian berdiri mendekati jendela.
Panas hati dan suasana telah memaksanya mencari semilirnya sejuk angin.

“Hamba tak mau mengalahkan sinuwun ! Tetapi bila Pandawa dikatakan telah
kehilangan rasa kemanusiaan apakah memang begitu semestinya ?! “ Jawab
Banuwati dengan nada tinggi.

“Memang begitu !” kembali ketus jawaban Duryudana.

“Yang tipis rasa kemanusiaanya sebenarnya adalah paduka sendiri !” Jawab


Banuwati terus terang.

“Perkara yang mana ?” kembali tanya Duryudana dengan pandangan yang tajam.

Makin meruncing pertengkaran, tetapi sang istri semakin berani menyampaikan rasa
yang tersimpan dalam di lubuk hatinya.

“Tetapi sebenarnya hamba agak takut mengatakannya dan ini adalah sebuah
rahasia. Sudah lama hamba menahannya tetapi lama kelamaan sudah tidak kuat lagi
menahannya. Saya mengatakannya sekarang juga !”.

“Tunggu apa lagi, katakan !” Duryudana mempersilakan istrinya kembali membuka


isi hatinya.

“Sebenarnya yang tipis rasa kemanusiaannya adalah paduka sendiri. Kalau dalam
lubuk hati paduka yang paling dalam mengatakan, seharusnya yang bertahta di
Astina itu Pandawa atau Kurawa ! Namun kapankan Pandawa itu menagih haknya ?.

Tidak pernah ! Bahkan mereka mampu membuat negara dari keringatnya sendiri,
Negara Amarta !. Pandawa tidak diberikan secuwilpun tanah Astina. Tapi mereka
selalu diusahakan untuk selalu disengsarai, difitnah. Akhirnya dengan dalih
permainan dadu, Astina dan Amarta dijadikan taruhan dan para Pendawa diusir
paksa, sehingga mereka menjadi manusia hutan selama bertahun tahun. Jadi yang
tipis rasa kemanusiaannya itu sebenarnya Pendawa atau Kurawa ?!”

Bagai bendungan yang jebol, segala unek-unek ditumpahkan dihadapan suaminya.


Dalam hati, inilah saatnya, selagi ia ditantang untuk terus terang.

“Aku tidak peduli . . . . . ! Aku – tidak – peduli . . . ! Tetapi aku juga peduli !!” jawab
Duryudana tandas.

“Silakan sinuwun mengatakan !” kali ini Sang Dewi yang menantang.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 54


“Perkara permainan dadu, kamu jangan menyalahkan aku. Dimanapun yang namanya
permainan pasti tidak ada yang mau kalah !”.

“Itu bab permainan dadu. Lalu bagaimana mengenai negara Astina itu ?!” Saling
bantah makin seru.

“Mereeka tidak becus mengurus negara. Sudah terlalu lama mereka bergaul dengan
segala macam binatang hutan !”. Alasan sekenanya disampaikan, berharap ia tak
diserang lagi.

Namun kembali ia dicecar pertanyaan.

“Itu kan waktu setelah pembuangan di hutan ! Bagaiman mengenai sebelum itu ?”

“Itu salah mereka, mengapa mereka tiada pernah meminta negara Astina !” Jengkel
Prabu Duryudana dengan tarik urat yang berlarut larut.

“Itu namanya paduka seperti mengulum madu, terasa manis, hingga tak hendak
memuntahkannya. Sinuwun kalaupun kata-kataku sebagai istri, sebagai belahan
jiwa, tak ada satupun yang hendak diperhatikan, bila demikian halnya, silakan
hamba dikembalikan saja ke Mandaraka”. Tak lagi hendak berlarut larut bertengkar,
sang Dewi menantang.

“Baik . . . , kapan ?!” Keceplosan kata, sang Prabu menerima tantangan istrinya..

“Daripada aku melihat runtuhnya negara Astina atas angkara murka paduka,
sekarang juga lebih baik segera pulangkan hamba ke Mandaraka !.” jawab senang
Banuwati

“Kamu menantang ?!” gertak Prabu Duryudana.

“Sukurlah bila kehendakku paduka laksanakan !”

Berbalik badan Banuwati hendak pergi dari hadapan suaminya. Tetapi langkahnya
tertahan oleh cengkeraman tangan sentosa Prabu Duryudana dilengannya.

Sadar apa yang dilakukan, Prabu Duryudana kemudian ia mengendurkan


pegangannya. Katanya memelas.

“Mau kemana ?”

“Bukankan sinuwun sudah mengatakan, bahwa sinuwun merelakan saya kembali ke


Mandaraka ?!” masih dengan setengah marah dan nada merajuk, Banuwati bertanya
balik.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 55


Jurus bujuk rayu diterapkan oleh sang Prabu, agar sang Dewi tetap berada di
istananya, Kadilengeng, tempat ia memanjakan istrinya setinggi langit, Itulah
kenyataannya, di kedalaman hatinya, seluruh jiwa, rasa dan raga serta cinta buta
Prabu Duryudana mengatakan, tak ada wanita lain yang sanggup menggantikan
keberadaan istri yang cantik molek itu.

Tak kasat mata, bagaimanapun jerat kecantikan Banuwati telah mencengkeram Sang
Prabu hingga ke tulang sungsumnya, jauh melebihi kekuatan cengkeraman, tangan
sentosa Duryudana . . . . .

<<< ooo >>>

(Bersambung)

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 56