Anda di halaman 1dari 45

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mungkin sudah banyak yang menulis buku tentang lakon perang Baratayuda yang
sudah melegenda itu. Namun cerita yang dipadukan dengan kisah-kisah perang
tersebut dalam Pedalangan dari beberapa dalang terkenal di negri ini, mungkin masih
sangat jarang.

Mas Patikrajadewaku adalah salah satu pengasuh dalam blog indonesiawayang.com


(dulu wayangprabu.com) yang pemahaman akan cerita-cerita wayang cukup dalam.
Meskipun bukan seorang seniman ataupun penulis, namun dari pengalaman dan
pemahaman akan kiprah para dalang senior seperti almarhum Ki Nartosabdho,
almarhum Ki Timbul Cermo Manggolo, almarhum Ki Hadi Sugito, almarhum Ki Sugino
Siswocarita, Ki Manteb Sudharsono dan dalang-dalang lainnya, beliau dikarunia
kelebihan dalam menuangkan cerita wayang seolah kita mendengar alunan suara dari
rekaman pagelaran wayang.

Kisah perang Baratayudha dalam buku ini, adalah tulisan Mas Patikrajadewaku yang
telah dimuat secara serial di wayangprabu.com mulai 24 Juni 2010.

Kisah yang sangat menarik dan disajikan dengan renyah sehingga dapat membuat kita
terbawa seolah berada dalam arena padang Kurusetra.

Melalui beberapa perbaikan penulisan, kami sajikan untuk Anda, khususnya para
penggemar wayang dimanapun berada.

Mudah-mudahan hal kecil ini dapat berguna bagi kita semua dan merupakan
kontribusi nyata bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya wayang di
Indonesia.

Wassalam

Bandung, 28 September 2013

Pranowo Budi Sulistyo

indonesiawayang.com
Daftar Isi
Kata Pengantar ......................................................................... 1
Episode 10 : Sihir Sakti Sempani ..................................................... 3
Episode 11 : Terjerat Jerat Cinta, Arjuna-Murdaningsih ....................... 12
Episode 12 : Teror Kepala Jayadrata .............................................. 19
Episode 13 : Akhir Dendam yang Terpendam .................................... 29
Episode 14 : Mahalnya Sebuah Harga Diri......................................... 40

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 2


Episode 10 : Sihir Sakti Sempani

Gb. 32 – Bogadenta

Ketika itu di Pesanggrahan Bulupitu, segala kebijakan gelar perang tetap ada di
tangan senapati Pandita Durna. Tekad sang Senapati kali ini adalah hendak
mengembalikan nama baik yang tercoreng tebal, setelah kecolongan dengan
tewasnya putra Pangeran Pati Astina Raden Lesmana Mandrakumara. Kematian
Pangeran Pati yang berbuntut panjang dengan kericuhan di pasanggrahan Bulupitu
hingga menewaskan iparnya Krepa dan diusirnya anak semata wayangnya Aswatama,
mengharuskan kali ini nama baiknya akan pulih, dengan memenangkan peperangan
kali ini.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 3


Maka ditunjuknya pendamping sakti dari negara sebrang.

“Baik, sekarang aku minta anakmas Setyarata dan Setyawarman menjadi


pendamping senapati”.

Pandita Durna menujuk kedua orang yang disebut itu dengan jempolnya. Yang
ditunjuk sejenak kaget namun kemudian menjadi berseri-seri. Kehormatan sebagai
pendamping senapati Durna adalah hal yang merupakan kehormatan tiada tara bagi
mereka.

“Sedangkan anakmas Kertipeya akan saya beri tugas khusus untuk menghadang
Werkudara agar tidak mudah menumpahkan dendamnya kepada
Jayadrata”. Kertipeya mengiyakan dengan perasaan bangga dan keyakinan diri
tinggi.

“Dan untuk perkara membekuk Arjuna, menurut telik sandi saat ini Arjuna sedang
dalam keadaan tertekan jiwanya dan tidak memperdulikan peperangan, karena
kematian anak kesayangannya. Nah dengan keadaan yang dialami Arjuna, akan aku
jalankan cara khusus untuk menawan Arjuna, yaitu dengan perangkap asmara.”
Pendita Durna adalah ahli strategi, maka diuraikan kepada kedua pendamping
senapati, mengenai strategi yang hendak dirancangnya itu.

“Kalau Arjuna masuk dalam perangkap asmara, maka tak akan lama ia bakal
tertawan dan tinggal dengan gampang membunuhnya”. Kembali Pendita Durna
berhenti bicara. Kemudian mendekat kearah Prabu Bogadenta.“Bukankan anakmas
Bogadenta datang bersama dengan Saudara perguruanmu yang cantik itu? Anak
angger Bogadenta dan saudara seperguruanmu akan aku pasrahi untuk menawan
Arjuna”.

Bogadenta belum sepenuhnya mengerti akan rancana Pandita Durna “Bagaimana


maksud paman Pendita? Apakah aku harus mencari keberadaan Arjuna, dan aku
harus bersama Murdaningsih dan gajah tunggangan saudara seperguruanku
Murdaningkung ?

“Benar anakmas, nanti bila Arjuna sudah diketemukan, saudara seperguruanmu


harus merayu Arjuna agar lengah, kemudian bunuhlah dengan belalai tunggangan
gajah Murdaningkung !”. Durna memutus.

Memang benarlah demikian. Prabu Bogadenta yang datang dari kerajaannya,


Turilaya, ke Astina, disertai dengan saudara perguruannya seorang wanita cantik, liar
dan sakti bernama Murdanigsih yang memiliki hewan Gajah putih bernama
Murdaningkung.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 4


Pertemuan itu terjadi ketika mereka berguru bersama sama menuntut ilmu
kanuragan. Bahkan setelah penuh ilmu, mereka dihadiahi suatu ajian, yang membuat
mereka akan hidup kembali ketika salah satunya terbunuh, bila salah satunya
menetesi air mata kesedihan terhadap kawan seperguruannya

“Kemudian aku utus anakmas Kertipeya menghadapi Werkudara, secara fisik aku
kira tak beda jauh kekuatannya dibanding Werkudara, bila Werkudara sudah
dilumpuhkan, maka menawan Puntadewa adalah hal yang sangat mudah !”.

Secara fisik Prabu, Kertipeya memang gagah perkasa tinggi besar sehingga layak
ditandingkan dengan Werkudara.

“Nah sekarang anak angger Bogadenta kami persilakan untuk berangkat ke sisi hutan
Minangsraya, perbatasan Kurusetra, kebiasaan Arjuna diwaktu sedang sedih,
biasanya dia akan pergi ke tempat sepi untuk menyegarkan kembali kelelahan
jiwanya”.

Selesai segala petunjuk sang senapati, sambil menghaturkan sembah, mundurlah


Bogadenta untuk memenuhi tugas meringkus Arjuna.

Sepeninggal Raja Turilaya, Pandita Durna segera memulai pasang strategi


kesukaannya yang dianggap ampuh untuk memenangkan peperangan hari ini. Dalam
pikirannya hanya muridnya, Arjuna yang dapat memecah gelar Cakrabyuha, kecuali
Abimanyu yang telah tewas di hari kemarin.

“Untuk yang akan melakukan tugas di peperangan Kurusetra, gelar yang hendak aku
rakit adalah Cakrabyuha. Walau gelar ini telah dapat diobrak abrik oleh Abimanyu
waktu itu, namun akan aku bangun kembali, dengan kepercayaan, tak akan lagi gelar
dapat dihancurkan tanpa adanya Arjuna yang tengah pergi entah kemana, karena
setengah gila memikirkan tewasnya anak kesayangannya itu”.

<<< ooo >>>

Dilain pihak, Pesanggrahan Randugumbala, Gelar Perang Garuda Nglayang dari pihak
Pandawa diterapkan kembali, setelah mengubahnya kemarin hari dengan Supiturang.
Dengan sayap kanan ditempati Raden Werkudara, dan disebelah kiri, karena
ketiadaan Arjuna, adalah Arya Setyaki sebagai pengganti. Paruh garuda ditempati
Sang Senapati Raden Drestajumna sedangkan pada ekor ditempati oleh Wara
Srikandi.

Berangkatlah kedua wadyabala kedua belah pihak, dengan suara gemuruh menuju
medan peperangan dihari itu.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 5


Segera setelah barisan lawan masing-masing terlihat, pecahlah perang campuh
kembali. Bagaikan kilat kelebat batang gada sang Setyaki mengamuk dengan Wesi
Kuning ditangannya. Banyak prajurit kecil terpukul gada pecah brantakan tulang
belulangnya, bahkan yang menunggang kuda terguling beserta kuda kuda
tunggangannya. Porak poranda tertebas gada satu sisi gelar Cakrabyuha.

Dihadapannya menghadang Raden Durcala salah satu saudara Prabu Duryudana. Sama
sama bersenjata gada, ia tak tahan melihat banyaknya korban yang jatuh pada salah
satu juring ruji barisan.

“Heh Setyaki ! jangan hanya berani melawan prajurit kecil. Datanglah kemari hadapi
Durcala kalau kamu sebagai seorang prajurit sejati !”.

Segera setelah keduanya berhadapan, saling pukul dan gada serta hindaran pukulan
berlangsung sengit. Durcala tak lama kemudian keteteran menahan serangan
lawannya. Menyesal ia berhadapan dengan lawan ini. Ia salah memperkirakan
kehebatan lawannya. Namun sudah kepalang basah, dengan sekuat tenaga ia
menahan serangan lawan yang bertubi-tubi datangnya bagaikan banjir bandang.
Lama kelamaan susutnya tenaga mengharuskan ia bersembunyi disela-sela rapatnya
prajurit lain yang sedang beradu tenaga dengan lawannya masing-masing.

Setyaki yang panas, tak hendak melepaskan lawannya yang sudah diujung
kekuatannya. Maka ketika melihat lawannya terjebak dalam sudut yang tak lagi
memungkinkan ia menghindar, karena dibelakangnya terdapat reruntuhan kereta
perang, maka sabetan gada Wesi Kuning mengakhiri perlawanan Durcala.

Citrabahu yang melihat saudaranya terpupuh gada, marah bukan kepalang. Segera
pertempuran antara Setyaki dengan Citrabahu memperpanjang amukan Setyaki.
Tenaga Setyaki yang bertubuh kecil padat, sejatinya ia bertenaga raksasa. Citrabahu
yang bertempur dalam keadaan marah dan kehilangan akal seakan-akan menjadi
bulan-bulanannya. Tanpa perlawanan berarti, dihentikan gerak limbung Citrabahu
dengan sekali pukul dikepalanya. Pecahnya kepala Citrabahu tanpa sempat ia
berteriak.

Raden Upamandaka dan Citrawarman bersepakat maju bersama untuk menghentikan


korban yang semakin besar. Dikerubutnya Arya Setyaki dari dua arah dengan cecaran
secara bergelombang. Namun Setyaki bukan prajurit lemah, walau serangan
keduanya bagai siraman air bah, tetapi tetap dapat ditahannya, bahkan dengan
garangnya ia menyerang keduanya bergantian, hingga membuat kedua lawannya
kerepotan menyerang dan berkelit berganti-ganti. Sama dengan lawan sebelumnya,
kewaspadaan Upamandaka yang terkesima dengan kegarangan Setyaki, menurun.
Terlena sekejap dibayar dengan mahal. Penggungnya tersenggol gada Setyaki yang
menyebabkan ia kehilangan keseimbangan. Tak menyia-nyiakan kesempatan yang

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 6


terpampang didepan matanya, sekali lagi dikenainya pinggang Upamandaka dengan
kekuatan penuh, terkapar Upamandaka tak bisa bangun selama lamanya.

Melihat saudaranya terkapar tak bangun lagi Citrawarman gemetaran. Sukmanya


bagai ikut tercabut bersama lepas sukma Upamandaka. Tak ayal lagi gerakannya
menjadi kacau balau. Tak ada lagi harapan untuk menang, ia melarikan diri. Namun
kejaran Setyaki yang dilambari tenaga raksasanya berhasil menghentikan langkah
Citrawarman dengan menebas kakinya. Teriakan ngeri menghambur dari mulut
Citrawarman yang kemudian terhenti, ketika sekali lagi gada Wesi Kuning menerpa
kepalanya.

Tak ada lagi Kurawa berani mendekati amukan Setyaki membuat bubar mawut, satu
sisi ruji Cakrabyuha

Dibagian lain Wara Srikandi juga mengamuk dengan luncuran anak panahnya. Salah
satu musuh yang memperhatikan datangnya anak panah mendekatinya dengan tujuan
menghentikan hujan panah yang membawa banyak korban. Ia adalah Wiringsakti.

Dengan mengendap-endap ia berhasil mendekati kearah Wara Srikandi, tanpa ragu


dihadapinya untuk mengadu kesaktian

“Siapa kamu yang berani mengganggu kerjaku ?!” Srikandi yang merasa terusik,
menghentikan lepasan anak panahnya.

“Inikah Srikandi, yang telah berhasil membunuh Eyang Bisma ?!” Yang ditanya tidak
segera menjawab pertanyaan Srikandi, malah ia kembali balik bertanya.

“Sekali lagi siapa namamu sebelum kamu mati tanpa membawa nama ?. Dari ciri-
cirinya pastilah kamu salah satu saudara Kurawa !” Tak sabar, tanpa mempedulikan
pertanyaan balik si pengganggu, Srikandi menghardik.

“Akulah Wiringsakti ! salah seorang Kurawa yang hendak membalaskan kematian


Eyang Bisma !” Jumawa Wiringsakti akhirnya menjawab. Senang hatinya ketika ia
berhadapan langsung dengan Srikandi, karena dalam hatinya mengatakan, inilah
kesempatan memperlihatkan jasanya terhadap kakak sulungnya, Prabu Kurupati-
Duryudana, bila berhasil nanti.

“Jangan banyak cakap, majulah akan aku antarkan kau kehadapan Eyang Bisma !”

Semula Wiringsakti menganggap enteng prajurit wanita ini. Ia hendak meringkusnya


dengan tangan kosong. Harapannya ia akan menangkap hidup hidup sebagai sandera.
Karena lama kelamaan Wiringsakti terdesak, senjata pedang sudah ada dalam
genggamannya. Tetap saja, ia tak juga berhasil mengenai tubuh lawannya dengan
senjatanya, mulailah ia geregetan. Dengan gerakan yang mulai makin kasar, tak ragu

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 7


lagi ia hendak meringkus lawannya dengan secepat-cepatnya. Namun yang terjadi
adalah hal yang sebaliknya. Ketika ada jarak terbuka diantara mereka, dengan cepat
Wara Srikandi memasangkan anak panah pada busurnya. Kelincahan gerak pemanah
wanita ini tidak diragukan lagi, lepasnya anak panah yang meluncur dari jarak yang
tak terlampau jauh, mengenai dada Wiringsakti tembus ke jantung, menggelepar
Wiringsakti, jatuh di tanah berdebu.

Subasta, Suwarman, Habayuda dan beberapa saudaranya tak ragu lagi untuk
meringkus Wara Srikandi bersama-sama. Harapan mereka, satu tawanan bila dapat
diringkusnya, akan sangat berharga untuk membuat semakin lemah dan semakin
hancur jiwa Arjuna, bila mengetahui istrinya ada dalam tangan Kurawa.

Namun yang diharapkan, menjadi mentah kembali. Gatutkaca yang melihat


keroyokan terjadi, segera turun dari angkasa, satu demi satu para pengeroyok itu
dipuntir lehernya, tak sanggup mereka bangun kembali selamanya.

Diceritakan, adalah amukan ditempat lain, Werkudara yang terbawa dendam atas
kematian Abimanyu mencari keberadaan Jayadrata si biang kematian kemenakannya.
Berteriak Werkudara dan prajurit Jodipati termasuk Patih Gagak bongkol dan juga
anak Antareja, Danurwenda, serta anak Gatutkaca, Sasikirana, mengamuk sambil
memanggil nama Jayadrata yang hendak dibunuhnya. Sapuan gada Rujakpolo
ditangan Wekudara-Bimasena mobat mabit kanan kiri menyasar lawan didepannya.
Korban berjatuhan banyaknya tak terhitung lagi. Dengan cara seperti ini, jeri prajurit
Kurawa lari tunggang langgang. Banyak para Kurawa yang tewas, membuat Kertipeya
segera menghadang Werkudara untuk menghindari lebih banyak lagi prajurit yang
menjadi korban.

Merasa dihalangi dalam menambah kurban ditangannya, tambah-tambah liwung


amukannya. Tak pelak lagi Kertipeya menjadi sasaran amukan berikutnya. Namun
Kertipeya bukan prajurit rucah, tanding kekuatan berlangsung sengit. Silih ungkih
singa lena. Bagaimanapun akhirnya dapat ditebak. Kematangan tempur Werkudara
yang tertempa kerasnya ujian alam, telah berhasil mengungguli Kertipeya. Terlena
sekejap Kertipeya, tahu-tahu gada Rujakpolo telah berada didepan mukanya. Tak
sanggup menghindar karena sudah dekat senjata lawan, ia hanya bisa berteriak
ketika pusaka super berat itu menimpa kepalanya. Pecah kepala Kertipeya dengan
isi otak yang berceceran. Satu lagi sekutu Kurawa menjadi korban.

Satyarata dan Setyawarman maju berbarengan. Anggapan mereka, tenaga mereka


masing-masing masih masih dibawah Kertipeya. Bila digabungkan, maka pikirnya
akan melebihi kekuatan temannya, Kertipeya. Tanpa ragu mereka berdua
menghadang amukan Bimasena. Keroyokan terjadi kembali kali ini. Pusat perhatian
Bima terpecah dengan serangan dari dua arah. Bila salah satu dicecar, yang lain
mengganggunya. Jengkel Werkudara dibuatnya. Dapat akal yang lebih mudah,
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 8
diletakkan gadanya, dengan tangan kosong dicengkeramnya musuh satu persatu,
kemudian saling dibenturkan kepalanya. Kembali teriakan kedua pecundang
mengakhiri perlawanan.

Gb. 33 – Jayadrata

Begawan Durna yang tidak heran dengan tandang muridnya itu segera
waspada. Dipanggilnya Patih Sangkuni dan Jayadrata.

“Adi Cuni, kamu melihat Werkudara mengamuk itu ?”

“Ya Wakne Gondel, para prajurit Jodipati yang dipimpinannya meneriakkan nama
Jayadrata. Menurutmu bagaimana, kakang ?” minta penjelasan Patih Sengkuni.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 9


“Sekarang aku minta kamu segera temani Jayadrata. Segera serahkan Jayadrata
untuk sementara ke orang tuanya di pesanggrahan Giri Ancala. Katakan alasannya
dengan tepat kepada Resi Sempani, ayahnya agar tidak salah paham !”. perintah
Durna Kumbayana.

“Baik wakne Gondel, segera aku jalankan perintahmu”,

Sengkuni bersiap mengajak Jayadrata.

Tetapi Jayadrata yang diperintahkan mundur dulu oleh Durna dan Sangkuni
keberatan.

“Saya tidak takut dengan Werkudara. Kenapa saya harus diminta mundur ?!”

“Tidak ragu aku dengan kesaktianmu, tapi aku berharap hari ini saja, anakku
Jayadrata mundur dahulu “ Durna memberikan pengertian.

“Tapi ini bukan ciri Jayadrata yang menghindar dari musuh. Mati adalah batas
terakhir bisanya hamba mundur dari pertempuran, bapa” kembali Jayadrata
mengemukakan keberatannya.

“Hari ini saja, sebab banyak hal yang aku hendak lakukan untuk menumpas Pendawa.
Bila saatnya tiba, kembali anakmas Jayadrata aku perkenankan untuk mengambil
peran dalam perang besar ini ngger !”

Bujuk rayu Durna sementara berhasil mengantarkan kembali Jayadrata kehadapan


ayahnya, Sempani.

“Raden Patih Sangkuni, apakah perang sudah berakhir sehingga andika datang ke
pesanggrahan kami ini ?”

“Maafkan kami kakang Panembahan atas gangguanku terhadap semadi paduka


kakang, yang siang malam memuji unggulnya Kurawa” Sangkuni memulai
penjelasannya.

“Perang belum berakhir, tetapi ada bahaya yang mengancam jiwa putramu
Jayadrata. Untuk itu aku sementara aku mengembalikan putramu ke pesanggrahan
ini demi keselamatannya”.

Keheranan Sempani mendengar tutur Patih Sengkuni.

“Andika meremehkan anak saya ? Dari kecil saya mengajarkan ilmu jayakawijayan
dan sikap sebagai prajurit sejati. Didalamnya terdapat salah satu watak prajurit
yang ditanamkan, menjunjung tinggi sikap dan harga diri seorang prajurit yang tidak
mengenal menyerah. Tidak ! Kami keberatan untuk menerima anakku !”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 10


“Dasarnya adalah begini kakang. Bila ini adalah dikatakan mundur, maka jangan
dikatakan ini mundur yang sebenarnya, ini mundur untuk maju kembali dengan
kemenangan . Ini adalah strategi. Pada saatnya nanti Jayadrata akan diberi peran
yang lebih besar dalam perang ini. Untuk hari ini saja, karena ini hanya untuk
memancing rasa penyesalan Pandawa lebih panjang. Seperti halnya penasaran dan
sesal dalam yang dialami oleh Arjuna. Setengah gila dan tiada lagi mengambil peran
dalam peprangan ini. Bila ini yang terjadi, maka amukan Bima yang sia-sia, akan
melumpuhkan perasaannya. Sehingga selanjutnya makin gampang untuk
meringkusnya”. Sengkuni menjelaskan strategi yang hendak dijalankan oleh Pandita
Durna.

Sejenak Begawan Sempani berpikir. Kemudian katanya.

“Bila untuk meringkus Bima, serahkan kepadaku ! Anakku Jayadrata, masuklah ke


gedung baja perlindungan. Bila terjadi apa apa, ada suara apapun yang ada diluar,
jangan sekali kali kamu mencoba untuk mengintipnya dari jendela udara, apalagi
keluar dari baja perlindungan itu, sampai aku kembali menemuimu.”

Syahdan, sesampainya di medan peperangan, segera Begawan Sempani mempreteli


tasbihnya yang terbuat dari butiran buah gemitri. Dengan disertai rapal mantra
saktinya, dipuja butir butir tasbihnya menjadi Jayadrata-Jayadrata tiruan yang
segera mengamuk merubung sang Bimasena.

Digebuk satu terbelah menjadi dua, digebuk dua terbelah menjadi empat, digebuk
empat menjadi duabelas Jayadrata dan seterusnya, hingga Jayadrata tiruan
memenuhi palagan peprangan. Jengkel Werkudara mengatasi keadaan itu, diletakkan
gadanya kemudian digulingkannya dengan kakinya.

Tergilas Jayadrata tiruan. Lebur satu persatu, namun bangun menjadi berlipat lipat
ganda. Ngeri Werkudara melihat kejadian itu !

Hilang akal, ia yang segera mundur dengan seribu tanya, bagaimana untuk mengatasi
tiruan Jayadrata alias Tirtanata. Orang yang sebenarnya terjadi karena air rendaman
bungkus yang melingkup Bratasena, Werkudara muda ketika lahir.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 11


Episode 11 : Terjerat Jerat Cinta, Arjuna-
Murdaningsih
Dursilawati. Satu satunya wanita trah Kurawa. Ia adalah istri dari Jayadrata-
Tirtanata.

Atas hubungan adik kakak ipar inilah Jayadrata, anak Raja Sindu, menjalin
persaudaraan rapat dengan para Kurawa. Sejatinya Jayadrata adalah anak
kepenginan dari Dewi Drata dan Prabu Sempaniraja karena telah bertahun-tahun
tidak mempunyai anak. Maka ditemukan sarana atau cara untuk mendapatkan anak.
Atas wangsit dewata, dengan meminumkan air rendaman bungkus Bima-Werkudara,
kepada istri Sang Prabu Sempani. Kebetulan kala itu bungkus yang melimput
Bratasena, nama Werkudara muda, setelah bungkus pecah. Pecah oleh kekuatan
Gajah Sena. Namun kedekatan secara kejadian, tidak membuat Jayadrata rapat
terhadap para Pendawa.

Di kasatrian Banakeling itu, sang Dewi Dursilawati hanya duduk berdua dengan anak
tunggal kesayangannya Raden Wisamuka. Masih muda belia, namun berjiwa keras,
menurun dari sang ayah Raden Jayadrata.

“Ibu, apakah ibu akan bangga bila mempunyai anak yang dapat mengangkat derajat
keluarga sehingga ke tataran yang lebih tinggi ?” Wisamuka memancing ibunya ketika
basa-basi telah usai dibicarakan.

“Apa maksud pertanyaanmu anakku ?” terheran sang ibu ketika anaknya menanyakan
hal yang tak terduga.

“Tolong jawab dulu pertanyaanku, ibu. Setelah itu akan aku sampaikan
maksudku” tanpa menghiraukan pertanyaan ibunya Wisamuka mengejar jawaban
ibunya.

“Baiklah, semua orang tua, pasti mengharapkan agar anaknya menjadi manusia atau
satria yang berguna bagi nusa, bangsa, agama. Pada akhirnya harkat dan derajat
manusia itu akan terangkat oleh laku budi luhur itu. Perilaku anak itu secara
langsung maupun tidak, membawa naik martabat bagi orang tua si anak” Jawab sang
ibu akhirnya.

“Bila demikian, cita-cita atau keinginan kanjeng ibu dapat terujud dalam waktu
singkat”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 12


Bahagia terpancar dari raut wajah Wisamuka, ketika ibunya menjawab runtut
pertanyaanya.

“Sekarang katakan maksudmu dengan pertanyaan yang kau ajukan itu” Ibunya tidak
sabar dengan perubahan raut muka anak kesayangannya. Anak satu-satunya.

Gb. 34 – Dursilawati

“Aku telah mendengar berita yang santer, bahwa pada perang Baratayuda, ada
prajurit muda belia yang seumur denganku, tetapi telah dapat mengobrak-abrik
barisan Kurawa. Alangkah gagahnya dia. Bila ia tidak ditahan dengan akal-akalan
oleh para Kurawa, saya yakin, ia adalah prajurit yang dapat mengakhiri perang
dengan kemenangan. Alangkah bangganya orang tuanya” Bicara Wisamuka, tak tahu
bahwa ayahnya terlibat dalam kecurangan itu. Jiwa mudanya yang bergelora hanya
berpikir, bagaimana ia ingin memperlihatkan akan keberadaannya, sebagai anak
muda yang merasa setingkat kemampuannya dengan anak Janaka.

Ia meneruskan ketika ibunya hanya memandanginya penuh selidik.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 13


“Aku juga bisa seperti Abimanyu itu. Dan belajar dari kejadian yang lalu, kuncinya
adalah kewaspadaan agar tidak terkena reka daya. Dengan waspada itu perkenankan
anakmu hendak maju ke peperangan “.

Wisamuka menyatakan maksud yang sebenarnya.

“Jangan gegabah, anakku, Apalagi ayahmu sudah berpesan agar jangan sekali-kali
kamu berangkat ke palagan, bila tidak mendapat ijin dan restu dari ayahmu
!” Larang ibunya.

“Tidak ibu, kapan lagi aku dapat memperlihatkan kepiawaianku terhadap penguasa
negara. Apakah aku harus menunggu perang menjadi selesai. Tidak ! Sekaranglah
saatnya !” Wisamuka yang tadinya duduk manis disamping ibunya, kemudian berdiri.
Sang ibupun ikut bangkit dari kursinya, kemudian dipeganginya tangan anaknya.

“Wisamuka, sekarang ibu mau bertanya kepadamu nak, Apakah kamu sayang
terhadap ibumu ?” dibimbingnya anak muda itu kembali duduk. Wisamuka tak hendak
menurut perlakuan ibunya. Namun ibunyalah sekarang yang duduk kembali, dan
melihat kedalaman mata anaknya seakan hendak menyelami isi dalam hati buah
hatinya.

“Pasti ibu, bukankan yang hendak aku lakukan adalah ujud rasa sayangku kepada
keluarga Banakeling, terutama ibuku ?” Wisamuka malah kembali bertanya.

“Bukan ! Bukan seperti itu caranya. Bila kamu sayang ibumu, maka turuti apa yang
ayah ibumu katakan”. Si ibu menyanggah pertanyaan anaknya.

“Aku bukan anak kecil lagi, yang bila jatuh masih menangis dan berlari kepangkuan
ibunya. Sekarang anakmu sudah dewasa, sudah dapat memilih mana yang harus aku
lakukan atau mana yang tidak. Aku mohon pamit, ibu” Kembali anaknya membantah.

Dengan lemah lembut layaknya seorang ibu, didekatinya kembali anaknya setelah
sang ibu bangkit dari duduknya. Diraihnya kepala anaknya yang sudah lebih tinggi
jauh diatas ibunya. Dielus rambut itu sambil berkata.

“Wisamuka, kasihani ibumu. Apa kata ayahmu nanti bila mengetahui anaknya
dibiarkan pergi tanpa ijinnya. Apakah kamu tega bila ibumu dimarahi ayahmu ?”.

“Sudahlah ibu, nanti aku akan ketemu dulu dengan ayah. Boleh atau tidaknya
serahkan kepada ayah setelah nanti aku ketemu disana”.

Dursilawati tahu tabiat anaknya. Dijeratnya pasti dia akan memutus jerat itu dan
dihalangi jalannya ia akan melompat. Akhirnya dilepaskan pegangannya, anak itu
menyembah khidmat dihadapan ibunya. Itulah sembah anaknya yang terakhir.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 14


Kenapa demikian ? Sebelum ia bertemu dengan ayahnya di pesanggrahan Bulupitu,
Wisamuka, dalam perjalanannya bertemu dengan Arjuna di hutan tempat ia berjalan
tanpa tujuan dengan jiwa yang kosong.

Jiwa yang setengah sakit ditinggal anaknya yang sangat dicintainya, membuat Arjuna
bagaikan menemukan segarnya udara alam swargaloka, ketika Wisamuka terlihat
berjalan sendirian. Dalam pandangan matanya, Abimanyu-lah yang berjalan
mendekatinya.

Memang secara fisik, ciri Abimanyu dengan Wisamuka tidak jauh berbeda, keduanya
masih muda belia dengan sosok dan ciri yang hampir sama. Makin kaburlah pandangan
Arjuna Janaka menyaksikan satria remaja dengan ciri yang bagai pinang dibelah dua
dengan anaknya.

“Anakku tampan, kemarilah, aku sudah rindu dengan kamu, anakku”.

Wisamuka tercengang. Tak dinyana ia bertemu dengan Arjuna ditempat yang tak
terduga. Setahu Wisamuka, pamannya sedang ada dalam larutnya peperangan di
Kurusetra. Belum sempat ia menjawab, rangkulan Arjuna membuat ia kaget. Tetapi
karana yang keluar dari mulut Arjuna–lah, yang akhirnya membuat ia makin mengerti
sebab musababnya.

“Abimanyu anakku, mengapa sekian lama kamu baru datang ? Kemana sajakah
selama ini ? tidakkah kamu kasihan terhadap ayah dan ibumu yang sangat rindu akan
kedatanganmu ?”

Sejenak Wisamuka tak tahu ia harus berbuat apa. Namun otak cemerlangya segera
bekerja. Inilah kesempatan yang ia idamkan ! Gelar pahlawan akan dengan mudah
didapatnya, karena pamannya itu sedang tidak sepenuhnya sadar diri. Terpikir ia
segera melakukan tindakannya, tapi pertimbangannya menyarankan untuk menguji
kewaspadaan pamannya terlebih dahulu.

“Paman Janaka, aku Wisamuka anak Banakeling. Aku bukan Abimanyu !”.

“Jangan main-main, ayolah kita pulang. Ibumu pasti sudah menunggu setelah sekian
lama kamu pergi.” Jawaban pamannya membuat ia makin yakin, kali ini ia akan
menjadi pahlawan.

Segera ia melepaskan pelukan Arjuna. Tanpa ragu dipukulnya tubuh Arjuna dengan
sekuat tenaga. Harapannya segera ia dapat melumpuhkan Arjuna dan
dipersembahkan ke hadapan Prabu Duryudana.

Namun harapan itu tak terpenuhi. Bahkan dengan senyum dibibirnya, Arjuna malah
merayunya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 15


Kembali tangan Wisamuka mengayun memukul bertubi-tubi ke dada Arjuna.

“Pukulanmu masih kuat, tapi jangan main-main begitu. Nanti aku akan ajarkan cara
memukul yang lebih baik bila kamu ingin menjadi prajurit yang tanpa tanding”.

Tak menyangka diperlakukan seperti itu, Wisamuka melolos senjatanya. Sebilah keris
sakti sudah siap ditangannya untuk menamatkan riwayat pamannya. Tidak
menangkap hidup-hiduppun tak apa. Cukuplah dengan kepala Arjuna yang gampang
ditenteng, bukti sebagai pahlawan akan tersemat didadanya.

Ditusuknya dada Arjuna dengan sigap. Tak menghindar Arjuna, bahkan kembali
senyumnya membayang.

“Sudahlah Abimanyu, jangan bermain dengan senjata, marilah pulang bersamaku.


Kamulah satu-satunya yang aku harapkan siang malam dalam segala laku prihatin
yang pernah aku jalani. Nanti juga aku berikan keris yang lebih sakti dengan pamor
yang lebih berkilau. Bila kamu mau pulang sekarang juga, sekarangpun aku berikan
keris Kalanadah melengkapi pusakamu yang telah aku berikan sebelumnya, Kyai
Pulanggeni”.

Diceritakan, Batara Narada yang kepanasan, karena sesuatu tak wajar terjadi di
arcapada, yang berkekuatan hendak merobah alur cerita Baratayuda. Ia segera
menerawang, mencari penyebab keanehan. Setelah diketahui penyebabnya, sukma
Abimanyu segera diperintahkan untuk menggugah alam sadar ayahnya. Sesampainya
di hadapan ayahnya, segera ia menyembah. Arjuna adalah satria sakti kesayangan
para dewa. Dengan hanya badan halus, kedatangan Abimanyu menggugah
kesadarannya, setelah sapaan anaknya menyentuh kalbu.

“Kanjeng rama, perkenankan putramu menjelaskan, jangan lagi kanjeng rama


menyesali kematianku, anakmu sudah menemukan kebahagiaan sejati”.

“Sekarang bangkitlah rama ! Dihadapanmu adalah trubusan musuh, anak uwa


Jayadrata. Bila rama berkenan, rama dapat menuntaskan utang yang disandang uwa
Jayadrata !”

Terang benderang hati sang Arjuna, terlihat Wisamuka tak jauh darinya, didekatinya
Wisamuka yang tak mengira Arjuna sudah sadar. Kaget Wisamuka ketika rambutnya
dijambak dan tangannya ditelikung, segera dipagas leher Wisamuka, tak bernyawa
ia.

Bersamaan dengan jatuhnya raga di rerumputan hutan.

Terceriterakan, Dewi Dursilawati yang tak tega melepas anaknya sendirian, menyusul
bersama Patih Sindulaga. Sempat tersusul oleh kedua orang itu, namun keadaan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 16


sudah terlambat. Yang terlihat dihadapannya adalah, tubuh orang kesayangannya
yang telah terpisah dengan kepalanya. Darah segar masih mengucur dari luka akibat
luka terkena keris Arjuna.

Melihat anak junjungannya tewas, Patih Sindulaga, hendak bela pati. Tidak ada
keraguan bagi patih Sindulaga terhadap siapa yang mengakhiri hidup anak
junjungannya, karena yang terlihat didepannya, adalah hanya manusia yang
dikenalnya dengan nama Arjuna.

Melihat Sindulaga menyerang, maka dilolos anak panah dari gendongannya,


terpasang pada busur, segera direntang dan dilepas dengan suara membahana. Panah
meluncur mengenai dada Patih Sindulaga tembus ke jantung, tewas Sindulaga
menyusul Wisamuka.

Tak rela anaknya terbunuh, kemudian pengawal setianya juga menyusulnya, Dewi
Dursilawati menghunus patremnya, rasa sesal sedih campur aduk, membawa
tangannya ringan mengayunkan keris kecilnya kedada. Tamat riwayat Dursilawati.

Termangu Arjuna melihat ketiga orang yang ada hubungannya dengan Jayadrata.
Biang kematian anaknya. Kembali melihat kematian, kembali pula kesedihan
membeban di hatinya.

Terucap dalam cerita. Dewi Murdaningsih wanita liar yang cantik dan mempunyai
daya pikat luar biasa, telah sampai ke tempat Arjuna berada.

Murdaningsih yang muda tetapi telah matang, datang dengan dandanan serba
menantang. Dadanya yang setengah terbuka menampakkan sekilas sisi cengkir
gading. Kukunya dibiarkan sedikit panjang dengan pulasan warna merah dadu serasi
dengan kulit sang dewi yang kuning gading cenderung putih. Matanya yang sedikit
sipit dihiasi sekeliling kelopaknya dengan pulasan lembut serasi. Begitu juga bibirnya
yang terpulas warna merah delima, kontras dengan kulit putih wajahnya. senyum
merekah dibibirnya, memperlihatkan giginya yang putih tertata bagai deretan
mutiara. Maka semakin menambah daya tarik ia terhadap lawan jenis. Bau harum
merangsang kelelakian juga menghambur dari tubuh sang Dewi. Siapapun akan
terpesona dengan kecantikan dan gerak-geriknya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 17


Gb. 35 – Wayang Gajah

Berkendara seekor gajah putih yang berjalan dengan anggun. Terpesona Arjuna
melihat apa yang tampak dihadapannya.

“Bidadari manakah gerangan yang hendak menyejukkan hati yang terlanjur gersang
ini ?” Pikir Arjuna.

Tempat hening dan kondisi jiwa Arjuna yang labil, ditambah watak dasar Arjuna yang
memang gampang jatuh cinta, menyebabkan semakin mudah jerat asmara
mengurung sukmanya.

“Bidadari manakah yang ada dihadapanku ini, selama aku merajai taman surga,
belum pernah aku melihat sosok seperti andika. Siapakah gerangan andika sang Dewi
?” sapa Arjuna dengan senyum terkulum. Senyum yang sanggup menjerat wanita
manapun, hingga ia digilai para wanita. Memang demikian apa yang terjadi di masa
lalu, atas hadiah mengenyahkan Prabu Niwatakawaca waktu hendak meminang Dewi
Supraba, oleh Sang Hyang Jagatnata, Arjuna dihadiahi tahta di karang kawidadaren
dengan jejuluk Prabu Kiritin atau Kirita. Tak pelak lagi, hampir semua sosok bidadari
dikenalnya.

Namun kali ini, wanita asing dihadapannya datang dengan ciri-ciri yang belum pernah
dikenalnya, dirasa lebih cantik dari yang pernah ia temui. Biasalah demikian, tak
perlu diceritakan lagi.

Pertanyaan Arjuna dibalas dengan lirikan mata dan tebaran pesona yang membuat
Arjuna semakin mabuk kepayang.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 18


Episode 12 : Teror Kepala Jayadrata
Pelahan atas perintah Dewi Murdaningsih, si gajah merunduk. Mambiarkan tuannya
turun dari punggungnya. Dengan luwesnya Dewi Murdaningsih turun dari punggung
gajah dan segera berjalan semakin dekat ke tempat Arjuna berada.

Kenes ia berputar disekeliling Arjuna dengan senyum yang tak pernah lepas dari
bibirnya. Bagai kerbau tercocok hidungnya, Arjuna ikut berputar badannya mengikuti
gerak sang Dewi.

Kemudian tangan Murdaningsih yang lembut meraih kedua tangan Arjuna dan berkata
memuji. Tetap ia tak berhenti bergerak lincah.

“Ternyata tanah Jawa terdapat lelaki yang sempurna segalanya, tak ada
tandingannya dibanding di negaraku. Satria bagus, siapa nama andika ? ”Pujian
Murdaningsih mengabaikan pertanyaan mengenai namanya.

“Tadinya aku berpikir, hanya rupamu yang cantik, sehingga jiwaku terpasung,
mataku tak sanggup untuk berkedip. Tetapi begitu andika sang Dewi mengucapkan
kata-kata, sekalimat demi sekalimat, hatiku runtuh terbawa sapuan arus kidung
cinta yang mengalun bersama sapa suaramu, sang Dewi ?”Aku Arjuna penengah
Pendawa”. Arjuna menyebut nama memperkenalkan diri.

“Ooh, inikah satria dengan nama harum yang menjadi inspirasi kidung cinta ? Inikah
satria dengan sorot mata yang mampu meruntuhkan hati wanita siapapun. Bahkan
wanita dengan keangkuhan setinggi langitpun, akan takluk dihadapan yang namanya
Raden Arjuna. Saking orang banyak yang memuja, sampai-sampai ada yang
mengatakan, kerikilpun, bila andika berjalan, mereka minta andika pijak ?”

“Bahagianya hatiku, karena tidak sia-sia aku datang dari jauh, ketemu dengan
andika Raden, seakan sukmaku telah tertawan ditanah ini, dan tak hendak aku
pulang ke Turilaya”. Kembali pujian yang dikatakannya melupakan perintah kakak
seperguruannya, tentang tugas yang sebenarnya diemban.

“Puja pujimu teramat tinggi sang Dewi, membawaku terbang ke awan. Melayang
sukmaku mendengar pujian dari bibirmu yang sungguh bagus itu. Tapi siapakah sang
Dewi sebenarnya ?” kembali Arjunapun yang lalai akan kewajiban yang seharusnya
dilaksanakan, ia menanyakan nama wanita itu.

“Masihkan aku perlu menyebut namaku ?” Murdaningsih manja mengulur rasa


penasaran lawan bicaranya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 19


“Ya sudahlah aku pergi saja, kalau kamu tak mau memperkenalkan dirimu”.Sambil
melepaskan pegangan tangan Murdaningsih, Arjuna kemudian melangkah pergi, jurus
rayu itu diterapkan.

Gb. 36 – Murdaningsih, Gajah Murdaningkung dan Arjuna

“Eeh…, nanti dulu, jadi lelaki kok merajuk !” Murdaningsih mengejar, menyambar
tangan Arjuna.

“Bukan merajuk, tapi apa gunanya aku berhadapan muka dengan orang yang tak aku
kenal”Arjuna menyanggah.

“Aku Murdaningsih, sengaja datang kemari untuk menemuimu, Raden. Nama dan
cerita yang beredar di negaraku, membuat sasar rasaku, sehingga jauh-jauh aku
datang untuk membuktikan kebenaran cerita itu”. Kali ini Murdaningsih
menumpahkan isi hatinya.

“Terus apa yang andika lihat pada diriku, sang Dewi ?” pancing Arjuna.

“Seperti yang aku katakan tadi, aku tak akan lagi pulang ke Turilaya. Hatiku telah
tertambat disini, bawalah diriku kemana Raden pergi”.

Suasana hutan yang sunyi sungguh gampang berubah menjadi suasana romantis,
membuat kedua insan yang dimabuk asmara itu lupa segala-galanya. Arjuna lupa akan
tugas negara sebagai prajurit, sedangkan Murdaningsih lupa bahwa tujuannya adalah

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 20


untuk meringkus Arjuna. Sekarang yang ada hanyalah puja-puji serta kidung asmara,
berisi rayuan yang berhamburan dari mulut kedua asmarawan dan asmarawati itu.

Namun tidak demikian dengan gajah Murdaningkung. Ia adalah seekor gajah dengan
sifat yang sudah bagaikan manusia. Melihat keadaan tidak sesuai dengan apa yang
digariskan, tidak ada keraguan dalam otaknya segera mendekati kedua insan yang
tengah memadu kasih. Diulurkan belalai, Arjuna yang tidak waspada, diangkat tinggi
dan dilempar dari sisi Murdaningsih.

Terjerembab Arjuna ditanah hutan yang lembab. Belum sempat ia berdiri sempurna,
gajah Murdaningkung kembali memburunya. Tak ada usaha lain kecuali Arjuna
menghindar melompat dari raihan belalai yang kembali hendak meringkusnya.
Kemarahan yang amat sangat merasuki ubun-ubunnya karena terganggu
kesenangannya. Segera diraihnya anak panah yang tersandang dipunggungnya dan
dilepas busur yang tersandang dibahunya. Terpasang anak panah pada busurnya,
segera ditarik tali busur dan meluncur mengenai kepala gajah itu. Lelehan otak
bercampur darah mengalir dari tubuh besar yang terguling. Mati seketika gajah
Murdaningkung.

Dewi Murdaningsih yang terpana melihat kejadian yang begitu cepat membunuh
gajah kesayangannya, kemudian berlari memburu kearah gajah kesayangannya
sambil menangis.

Air mata sang Dewi yang jatuh ditubuh gajah itu secara ajaib membangunkan sang
gajah dari kematian.

Terheran Arjuna melihat kejadian itu. Begitu juga Murdaningsih yang baru kali ini
membuktikan kesaktian yang diberikan gurunya.

Pada saat itu, Prabu Bogadenta yang dari tadi mengikuti perjalanan adik
seperguruannya, muncul ditengah kejadian.

Tahulah sekarang Arjuna siapa mereka sebenarnya ketika mendengar Prabu


Bogadenta memarahi adik seperguruannya.

“Adikku yang cantik, sekali ini kamu terjebak oleh ketampanan lawanmu. Tadinya
aku tak ragu lagi untuk melepaskan kamu sendiri. Tapi setelah kamu tak mampu
menahan godaan Arjuna. Sekarang aku ambil alih peran kamu.”

“Arjuna ,Ssekarang kamu sudah ada dalam genggamanku jangan sampai kamu
melawan, percuma hanya membuang tenaga. Sekarang mendekatlah ulurkan kedua
tanganmu akan aku ikat tanganmu dan aku bawa kehadapan Prabu Duryudana. !”

“Siapa kamu !” tanya Arjuna penasaran

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 21


“Prabu Bogadenta dari Turilaya.” Bangga sang Prabu memperkenalkan dirinya

“Kamu boleh menawanku kalau kamu sudah bisa melangkahi jasadku.” Arjuna
menantang.

“Rupanya kamu hendak meraih sorga. Majulah !”

Kali ini Arjuna mendapatkan lawan yang sepadan. Saling serang dengan tempo tinggi
terjadi hingga hutan menjadi riuh oleh geretak ranting patah dan tumbangnya
pepohonan runtuh tersapu serangan kedua pihak. Kali ini Arjuna tidak membuang
waktu. Ketika serangan agak berkurang, Arjuna melompat mundur, kemudian bidikan
anak panah meluncur mengenai dada Prabu Bogadenta. Tewas seketika sang Prabu.

Gajah Murdaningkung berlari mendekati tuannya dan meneteskan air mata sedih atas
kematiannya. Keajaiban kembali terjadi, bagai terbangun dari tidur, bangkit kembali
Prabu Bogadenta dari kematiannya.

Pusing Arjuna mengatasi lawan yang tiga-tiganya saling bisa menolong sesama
kawannya.

Prabu Kresna yang dari kemarin mencari Arjuna mendengar keributan yang terjadi
segera menghampiri yang dicari cari.

“Aduh adikku, ternyata kamu ada disini !”

Melihat kedatangan Prabu Kresna segera Arjuna bersimpuh “Sembah baktiku kanda”

Penuh selidik Prabu Kresna berkata “Ya aku terima, tetapi lain kali jangaan seperti
ini. Aku tahu betapa remuk hatimu dengan kematian anak kesayanganmu. Darma
satria sudah kau lupakan sekarang. Padahal seandainya kamu masih ingat akan janji
setia Pandawa, bahwa mati salah seorang Pandawa, maka yang lain akan mengikuti
kematian yang satu itu. Bila itu terjadi, maka kamu yang akan dituduh sebagai biang
dari kematian saudaramu. Alangkah malunya kamu. Jiwa satriamu akan luntur dan
menjadi contoh buruk sepanjang tergelarnya jagad”.

“Kanda, adikmu minta pengayoman “ Tercetus kata pasrah Arjuna.

“Apa yang bisa aku ayomi” jawah Kresna.

“Saya keteteran menghadapi lawan-lawan itu.” aku Arjuna

“Baik aku sekarang mengerti. Tapi tegakah kamu dengan wanita cantik itu ?”. Tanpa
ada yang tersembunyi dari mata Arjuna, alasan Kresna menanyakan tentang wanita
cantik itu.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 22


“Terpaksa kanda”. Sekenanya Arjuna menjawab.

“Penyakitmu belum sembuh sembuh juga ! Aku tahu, aku percaya. Kamu adalah jago
memanah tanpa tanding. Kecepatan memanahmu dalam satu waktu dengan jumlah
lepasan anak panahnya tak ada yang bisa mengalahkan. Itu yang belum kamu lakukan
!”.

Belum habis bicara Prabu Kresna, Arjuna sudah bersiap dengan ketiga anak panahnya
yang terpasang dalam satu busur. Dengan cara yang tidak mudah ditiru siapapun,
anak panah yang terluncur dari satu busur menuju sasaran masing masing. Mengenai
ketiga pendatang dari Turilaya, tamat riwayat ketiganya bersamaan.

“Ayoh Arjuna, kita segera pulang. Jangan lagi berpaling, jangan lagi menyesali yang
sudah terjadi. Istrimu sudah menunggumu”. Tersipu malu Arjuna mendengar kata
kakak iparnya.

<<< ooo >>>

Sampai ke palagan peperangan Kurusetra, Arjuna kaget dengan keadaan pasukannya


yang terdesak hebat oleh amukan Jayadrata tiruan yang jumlahnya tak terhitung,
membuat ngeri siapapun yang melihatnya. Bahkan kakaknya, Werkudara mundur.

Setelah diberi keterangan oleh Prabu Kresna mengenai kejadian yang sebenarnya,
segera Arjuna melepaskan panah neracabala. Ribuan anak panah segera terlepas dari
busurnya menghalau amukan ribuan Jayadrata, setelah itu disapunya seluruh bangkai
Jayadrata dengan ajian Guntur Wersa, berupa hujan lebat dengan banjir yang
menyapu hebat seluruh padang Kurusetra didepan Arjuna. Ia telah diberitahu
sebelumnya oleh Prabu Kresna, bahwa Jayadrata tiruan akan tak dapat berbuat
apapun jika dalang yang menggerakkannya telah dilumpuhkan.

Ketika banjir melanda Kursetra di pertahanan prajurit Randuwatangan, Bagawan


Sempani yang tak mau terlanda hujan terpaksa meninggalkan pabaratan, kembali
buru-buru ke pesanggrahannya, tidak kuat dengan air hujan dan kerasnya arus banjir
yang hendak melandanya.

Lenyap ribuan Jayadrata tiruan, tetapi rasa penasaran Arjuna belum sirna. Yang
diarah dari usaha yang sebenarnya adalah Jayadrata asli. Jayadrata yang menjadi
penyebab gugurnya Abimanyu anaknya. Betapapun matinya Wersakusuma masih saja
belum memuaskan rasa dihatinya.

Dari rasa penasaran itu, yang keluar dari mulut Arjuna akhirnya sepotong kalimat
sumpah.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 23


“Kakanda Prabu, bila nanti sampai matahari tenggelam hari ini, Jayadrata asli tidak
dapat aku bunuh, maka hamba akan naik pancaka, untuk bakar diri !”.

Gb. 37 – Prabu Kresna (Pakualaman)

Sumpah Arjuna terdengar oleh banyak orang yang segera bersambung lidah mencapai
telinga lawan. Geger lawan yang segera menutup rapat jalan kearah persembunyian
Jayadrata.

Sedangkan Prabu Kresna terdiam sejenak, kemudian kata tanya ditujukan kepada
Arjuna “Begitukah ? Padahal hari sudah mendekati sore. Apa usahamu untuk
melaksanakan sumpahmu ?” Tanya Prabu Kresna menjajagi sumpah adik iparnya.

“Semua usaha akan aku pasrahkan kepada kanda Prabu”. Ternyata Arjuna
mengandalkan kakak iparnya.

Tersenyum Prabu Kresna. “Oooh begitu, akhirnya aku juga yang kau andalkan !” Bila
memang itu maumu ayo ikut aku !
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 24
Prabu Kresna mengajak Arjuna mencari tempat yang strategis dalam melihat tempat
persembunyian Jayadrata.

“Tunggu disini. Lihat apa yang ada didepanmu ?” Itulah tempat berlindungnya
Jayadrata !”

“Apa yang harus hamba lakukan sekarang kanda Prabu ?”

“Aku akan membuat suasana menjadi petang seakan matahari sudah tenggelam. Bila
nanti itu sudah terjadi, segera nyalakan api pancaka, berpakaianlah serba putih,
dan perintahkan seluruh prajurit untuk berhenti dan menyaksikan ritual
kematianmu dalam api suci !”

Berbalik badan Kresna melangkah dengan masih berkata.“Tunggulah sebentar, akan


aku atur segala sesuatu yang bersangkut dengan bagaimana kamu harus melakukan
pancingan agar Jayadrata dapat ditemukan”.

Segera bergerak Prabu Kresna mendekati saudara-saudara Pendawa, untuk


menjelaskan apa yang hendak dilakukan, kemudian ia melepaskan senjata Cakra
Baswara keangkasa.

Senjata cakra adalah senjata sakti yang sejatinya adalah bagaikan senjata yang
terkendali oleh rasa yang ada pada hati dan diri Prabu Kresna. Mempunyai kesaktian
triwikrama sebagaimana yang berlaku pada diri Prabu Kresna.

Segera dalam keremangan sore setelah prahara hujan buatan dari Arjuna, maka tak
terasalah bahwa sinar matahari yang tertutup senjata cakra bagai menyambung ke
masa senja yang sebenarnya.

Api pancaka sudah disulut, para Pandawa yang sudah dibisiki oleh Prabu Kresna akan
tindakan yang hendak dilakukan, mengenakan pakaian serba putih. Tidak hanya para
prajurit Pandawa yang hendak menyaksikan peristiwa itu, para Kurawapun ikut juga
tersulut rasa penasarannya, menyaksikan dengan kegembiraan yang tiada terkira.
Dalam hatinya mereka mengatakan, bahwa sekaranglah saatnya salah satu bahu
Pendawa akan lumpuh dengan kematian Arjuna.

Arjuna yang sudah diberi pembekalan segera naik ke panggung , bersembunyi dalam
kobaran api berseberangan dengan tempat Jayadrata berada.

Jayadrata, seorang manusia keras hati, pada dasarnya ia tidak rela dengan keadaan
yang memaksanya bersembunyi bagai seorang pecundang. Rasa penasaran
mengalahkan ingatannya yang telah ditanamkan pada benaknya, bahwa ia tak boleh
terpengaruh oleh apapun yang terjadi disekitarnya. Maka ketika suasana makin
meriah dengan teriakan yang menyebutkan Arjuna bakar diri, pertama yang

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 25


dilakukan adalah melihat dari celah lubang udara. Gelapnya suasana membuat ia tak
dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi diluar. Makin penasaran, sekarang
lehernya dikeluarkan untuk melihat dengan lebih jelas yang terjadi diluar sana.

Kejadian berlangsung sangat cepat. Ketika kepala Jayadrata keluar dari lubang
persembunyian, matahari muncul kembali setelah Cakra dikendalikan untuk segera
bergeser dari tempatnya. Secepat itu pula, Kyai Pasopati segera dilepaskan. Putus
leher Jayadrata menggelinding keluar dari bunker baja.

Kembali suasana terang matahari sore membuat gaduh suasana. Werkudara sigap
segera mengejar kepala Jayadrata. Saking geregetan ditendangnya kepala Jayadrata
yang jatuh itu menjadi bulan-bulanan para prajurit Hupalawiya. Kepala itu pada
akhirnya mendarat didepan Resi Sempani.

Orang tua itu menangis memelas, melihat betapa nista jasad anaknya yang dibuat
permainan itu.

“Jayadrata anakku, walau kamu sudah tidak berbadan lagi, sebenarnya kamu
belumlah mati. Kamu masih hidup !”

Ajaib. Kepala yang tadinya tak berdaya, dengan mata terbuka, menyala dendam
terpancar dari bola mata itu !

“Gigitlah patrem ini, mengamuklah kamu atas kemauanku !” sabda sang Resi
melayangkan kepala tanpa badan kembali ke medan pertempuran.

Kembali geger suasana di Kurusetra. Sepotong kepala mengamuk dengan keris


tergigit di giginya. Perasaan ngeri menghinggapi seluruh prajurit Randuwatangan
melihat kejadian yang membuat bulu tengkuk berdiri. Puluhan prajurit kecil menjadi
korban disisa hari dengan cara yang tak terkira. Tidak hanya itu, putra lain Arjuna,
Raden Gandawardaya, Raden Gandakusuma dan dan Raden Prabukusuma tewas oleh
amukan kepala yang melayang layang mengerikan. Sepotong kepala dengan senjata
dimulutnya !

Tidak mau banyak lagi yang menjadi korban, Kresna segera mencari tahu dimana Resi
Sempani yang diketahuinya menjadi penyebab kejadian mengerikan ini. Setelah
ditemukan, segera dihampiri Sempani yang tengah mengucapkan berulang ulang
ucapan sakti penyebab amukan kepala anaknya. “Hiduplah Jayadrata, jangan
mati”.

Berulang kalimat ini diucapkan.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 26


Kresna hendak mengganggu dengan membalikkan kata kata namun awas perasaan
Sempani dengan akal-akalan Kresna. Tetap ia mengucapkan kata mantra dengan
benar.

Gb. 38 – Jayadrata (Jogja)

Tidak mau kalah akal Prabu Kresna, segera menjadi lalat yang mengganggu bibir dan
hidung. Sehingga salahlah ia mengucapkan kata mantra sakti hingga
terbalik, “Matilah Jayadrata ! Sadar dengan ucapannya, dan kaget dalam hatinya
yang segera ia maju ke peperangan. Tidak terima ia dengan akal-akalan yang
dilakukan Kresna.

Kepala Jayadrata yang kembali terkulai ditanah, kali ini tak dibiarkan utuh, gada
Rujakpolo atau gada Lukitasari Werkudara, segera menghancurkan kepala itu
menjadi tak berbentuk lagi.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 27


Namun bahaya belum berakhir, sekarang berganti bahaya datang dari amukan
Sempani. Pendeta tua, bekas raja sakti itu mendesak maju dengan sebilah pedang
menebas-nebas ganas bengis, siapapun yang menghalangi krodanya. Drestajumna
mencoba menghentikan amukan Sempani. Sesama menggunakan pedang ia mencoba
melayani permainan pedang jago tua itu. Tetapi kekuatan orang tua itu tidak dapat
dianggap enteng. Saling serang berlangsung hingga matahari sudah menyentuh ufuk.

Tidak mau bertele tele, Kresna segera mendekati Arjuna. “Adimas, segera kembali
turunkan hujan, Sempani adalah orang yang tidak tahan terhadap dinginnya hujan”.

Demikianlah, tak percuma Arjuna bernama Indratanaya, yang berarti anak Batara
Indra, dewa hujan. Maka hujan senja hari kembali turun dengan lebat.

Ternyata memang tidak salah, orang tua itu menggigil kedinginan, terkena hujan
yang turun dingin dilangit senja. Ia jatuh terduduk tak berdaya yang kemudian napas
tuanya memburu keluar satu persatu dan akirnya satu tarikan nafas mengakhiri hidup
ayah prajurit sakti Jayadrata.

Jayadrata seorang yang sejatinya mempunyai kedekatan kejadian dengan Bimasena,


tetapi sepanjang hidupnya ada dipihak lawan, karena hubungan kekerabatan kakak
adik ipar yang dekat dengan Prabu Duryudana , ia lebih memilih tinggal di kesatrian
Banakeling, daripada menjadi raja di tlatah Sindu . . .

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 28


Episode 13 : Akhir Dendam
yang Terpendam
Pegal, sebal, rasa Prabu Duryudana. Kembali ke Astina disela-sela perang, dirancang
bakal mengendurkan rasa tegang. Tetapi yang terjadi adalah rancangan yang berubah
menjadi mentah. Yang ditemui di taman Kadilengeng bukan layanan penuh kasih sang
istri yang didamba siang dan malam sepeninggalnya dari istana. Yang ditemui
ternyata hanyalah keruwetan yang menambah kusut masai keadaan hati didalam.
Ricuh di taman Kadilengeng masih meninggalkan rasa sebah tetapi rindu terhadap
sang istri, belum terlampiaskan. Sehingga rasa hati itu akhirnya terbayang diwajah
kusut sang Prabu.

Untuk mengobati segala rasa itu, segera ia mandi. Didalam mandinya, tetap yang
terbayang adalah sang istri, Dewi Banowati.

Setelah mandi ia berganti busana kependitaan hendak bersamadi menenangkan


batin. Ubarampe persembahan utama telah disediakan berupa sebongkah kemenyan
sebesar kepala kerbau yang diletakkan diatas pedupaan. Segera disulut dengan api
secara hati-hati, namun berkali-kali gagal. Dalam sekian kali usaha akhirnya berhasil
ia menyalakan pedupaan itu. Segera upacara dilakukan dengan duduk bersila, ia
berusaha memusatkan perasaan heningnya, menutup semua sembilan lubang
tubuhnya.

Bau kembang gadung dan semerbak bunga menur tercampur akar-akaran, mewangi
tercampur dengan asap dupa yang berkeluk meliuk naik keangkasa berbaur mega,
yang bila terlihat bagai bayangan sosok dewata.

Tak lagi samar akan sinar pamor sang suksma yang melayang dikeheningan sepi. Yang
tersimpan didalam kalbu sang Prabu hanyalah kunci pembuka pintu hati. Dalam
keadaan yang setengah sadar, bagai pesat laju lepasnya mimpi, sang sukma
Duryudana menyusup dalam kesejatian rasa.

Namun belum tuntas dalam melakukan ritual itu, bayangan Dewi Banowati kembali
membayang menggoda pemusatan rasa sang Prabu. Gagal sang Prabu mencapai
puncak pemuja, kembali ia berusaha dari awal. Namun kembali ia gagal

Berkali kali berusaha, berkali itu pula ia gagal dan gagal lagi. Murka sang Prabu
Duryudana, ditendangnya pedupaan hingga pecah berantakan. Dalam hatinya ia
memaki dewata yang dikiranya berbuat rencana buruk buat dirinya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 29


Merasa tak lagi ada gunanya ia kembali ke Astina, segera dipanggilnya tunggangan
sang Prabu, berrupa gajah putih bernama Kyai Pamuk. Segera dipacu tunggangan itu
kembali ke Pesanggrahan Bulupitu, dengan secepat cepatnya. Ia hendak
melampiaskan kekesalan yang menggunung tumpuk menumpuk didadanya.

Tak beberapa lama saking cepat lari sang gajah, sore itu sudah kembali ke
pesanggrahan Bulupitu, yang ditinggalkan setelah ricuh tempo hari.

Kembali ia menemukan kenyataan sangat pahit. Berita kematian adik iparnya,


Jayadrata, membuatnya semakin murka.

“Paman Pendita Durna, sudah berapa hari andika menjadi senapati ? Kesanggupan
andika paman dalam menumpas Pandawa, meringkus Puntadewa selama itu tak
kelihatan nyatanya ! Gugurnya anakku yang merupakan kehilangan lebih dari seisi
harta kekayaan negara, sekarang telah andika tambahi dengan menyusulnya adipati
Banakeling, Jayadrata ! Itukah yang andika telah lakukan dalam ujud pengabdian
sebagai senapati ! Kalau boleh aku sebut, andika adalah seorang guru yang telah
melakukan pilih kasih. Paduka sang Penembahan telah melakukan perbuatan dengan
standar ganda. Raga andika ada di sekitar para Kurawa,namun dikedalaman hati,
para Pandawalah yang bersemayam dalam hati.

“Itu dapat dilihat dari pencapaian selama andika menjadi senapati. Hanya matinya
Abimanyu-kah yang dapat andika lakukan ? Taklah itu seimbang dengan gugurnya
Pangeran Pati Astina, satu satunya anakku lelaki sebagai penyambung keturunanku.
Apakah aku sendiri yang harus maju menjadi senapati !”

Pandita Durna yang dicerca sedemikian bertubi-tubi, malu dalam hatinya. Melihat
Prabu Duryudana masih hendak menyambung kata-katanya, tak tahan ia. Segera
pergi ia tanpa pamit. Dalam lubuk hatinya, sangatlah sakit diperlakukan demikian.
Apalagi peristiwa kemarin hari, yang menyebabkan tewasnya adik iparnya, dan
diusirnya Aswatama, membuat ia merasa bagai terkeping keping hancurnya hati.

Kejadian di Bulupitu menjadikan Prabu Salya sangat prihatin.

“Aduh anak Prabu, sudahkah anak Prabu berpikir jernih dengan kata-katamu tadi
?” Salya yang dari tadi diam, berbicara ia mengingatkan. “Akan susut kekuatan
Kurawa bila ia tidak lagi ada pada pihak kita. Ia belumlah melangkah ke palagan
dengan kekuatan dirinya. Selama ini ia baru menggunakan kekuatan orang-orang
disekelillingnya. Seharusnya anak Prabu memberi kesempatan kepadanya dengan
lebih luas untuk meringkus para Pandawa dengan kekuatannya sendiri.”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 30


Sesal sang Prabu tiada guna. Dipanggilnya patih Sangkuni “Paman Harya, segera susul
Pandita Durna, sampaikan rasa sesalku yang tak kuat menahan beban rasa yang
menggelayut didadaku. Mintalah ia segera untuk kembali ke Bulupitu”.

“Daulat titah anak Prabu. Malam ini juga akan aku cari beliau. Tak akan pamanmu
pulang, sebelum Kakang Durna ditemukan. Namun bolehkah hamba ditemani
Aswatama ?”

Gb. 39 – Patih Sengkuni (Solo)

Tanya Sangkuni ragu, karena setahu ia, Aswatama telah menjadi orang yang tak
disukai sang Prabu, ketika terjadi ricuh di Bulupitu. Namun otaknya yang encer
mengatakan, Aswatama-lah yang hendak dijadikan pasal untuk merayu kembalinya
Dahyang Durna, bila ia ketemu nanti.

“Terserahlah Paman mau ditemani siapa. Yang penting adalah kembalinya Pandita
Durna”.

Mundur Patih Harya Sangkuni sambil menghaturkan sembah. Sesampainya diluar,


diperintahkan prajurit pecalang untuk menghadirkan Aswatama. Malam gelap itu ia

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 31


ditemani anak Durna berjalan tanpa tujuan, mencari seseorang dengan jejak yang
tak nampak. Sasar susur kedua orang itu malam yang pekat mencari keberadaan
Pandita Durna. Tak terasa mereka telah jauh meninggalakan medan Kurusetra.

Sementara di Bulupitu, merenung Prabu Duryudana memikirkan situasi yang terjadi


atas barisannya. Setengah menyerah, setengah semangat berganti-ganti terasa
didalam hatinya. Bagaimanapun juga, adanya orang tua itu telah menjadikan rasa
dan pikirnya semangat, karena kesaktian gurunya itu sebenarnya sejajar dengan
keberadaan Resi Bisma ketika itu, yang sama-sama murid dari Ramaparasu. Petapa
sakti yang panjang umurnya. Pertapa yang hidup sebelum jaman Ramayana berlaku
hingga ia mempunyai murid Dewabrata dan Kumbayana yang kemudian ia dipanggil
dewata sebagai penghuni kahyangan.

Prabu Duryudana akhirnya ia berpikir akan negaranya, Astina, bila ia maju sendiri ke
peperangan sebagai senapati.

Bahkan sempat terlintas dipikirannya, bila ia mati dalam peperangan, maka suksesi
kepemimpinan akan dikemanakan.

Teringat tentang hal ini, dipanggilnya adiknya Arya Dursasana. Dalam pikirnya, ia
harus menyiapkan pangeran pati baru sebagai pengganti anak sulungnya Lesmana
Mandrakumara.

“Adikku Dursasana, tahukah kenapa aku panggil kamu ?” Duryudana membuka


pembicaraan dengan maksud menjajagi hati adik kesayangannya.

“Tidak kanda prabu. Kalaupun hamba sudah dipanggil pastilah hamba bakal
dipercaya menjadi senapati. Ngiler rasanya bagaikan ngidam rujak cempaluk.
Cepatlah kanda Prabu mengatakan, sekaranglah hamba harus melangkah kemedan
pertempuran sebagai seorang senapati melawan Pandawa”.

Sudah menunggu sekian lama saya mengharap maju sebagai senapati, ikut perang di
hari hari kemarinpunpun serba dibatasi. Apalagi dijadikan senapati.

Hari ini hamba dipanggil, gembiranya hati adikmu ini bagaikan mendapat ganjaran
yang tiada ternilai harganya. Perkenankan adikmu ini, untuk segera melangkah ke
peperangan “. Harapan akan tugas sebagai senapati memenuhi dada Dursasana.

“Jauh dari yang kamu harapkan”. Tegas kata sang Prabu.

“Hah . . . bagaimana sebenarnya ?. Kecewa berat Dursasana mendengar jawaban


kakak sulungnya itu dengan seribu tanya dihatinya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 32


“Hari ini, kamu saya suruh pulang ke istana”. Makin tak mengerti ia mendengar
jawaban kakaknya. Belum jelas apa yang dimaksud kakaknya, ia
melanjutkan “Apakah ada musuh yang menerabas dari belakang ?”

“Ada pekerjaan yang harus kamu lakukan. Jagalah kakak mu Banuwati” Kaget
setengah tak percaya ia mendengar titah kakaknya. Sampai sampai ia menanyakan
kembali perintah itu, tapi jawabannya sama saja.

Gb. 40 – Dursasana (Jogja)

Tidak puas Dursasana menawar “Bagaimanapun saya seorang prajurit, yang


seharusnya maju ke medan perang. Kenapa harus kembali ke istana ? Kalau boleh
kali ini hamba menolak perintah paduka”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 33


“Apa kamu tidak takut aku ?” tanya Duryudana mempengaruhi adiknya.

“Takut ? Pasti. Karena kanda prabu adalah raja hamba, juga kakak sulung
hamba”. Kecewa Dursasana makin dalam. Keringat dingin yang mengalir diwajahnya
dibiarkan mengalir. Ia tak peduli dengan keadaan dirinya ketika batinnya berontak
hebat.

“Yang saya ingin sampaikan adalah, kekhawatiranku akan terjadinya apa-apa


terhadap kakak iparamu dan terhadap kamu sendiri”. Dijelaskannya maksud dari
semua perintah terhadap adiknya.

Tabiat Dursasana dikenal sebagai seorang Kurawa pemberani cenderung ugal ugalan.
Maka ketika diberi tugas menjaga wanita, batinnya sangat tidak terima. Tetapi apa
daya, rasa bakti terhadap kakaknya mengalahkan segalanya.

Maka berangkatlah dengan langkah gontai, Raden Arya Prawira Dursasana. Semangat
menggebu gebu diawal, terkubur oleh perintah kakaknya yang menyebabkan ia
merasa, seakan didandani dengan bedak tebal dimukanya, dipoles bibirnya dengan
gincu, sementara gelung rambutnya dirubah seperti bentuk gelung malang, gelung
para wanita. Dalam perasaannya ia juga bagai dipakaikan kain minting minting bak
dandanan wanita.

<<< ooo >>>

Hari telah berganti lagi, pagi baru menjelang. Kekosongan senapati membuat putra
Mandaraka, Burisrawa, adik Banuwati, tanpa diperintah telah mengambil alih peran
Pandita Durna. Segera ia menyusun barisan tanpa pola menyerang maju ke padang
Kuru dengan ampyak awur awur, serabutan membabi buta.

Ketika dilapori bahwa hari itu pasukan Bulupitu datang dengan pimpinan Burisrawa,
Werkudara yang sedang berjaga di garis depan, pesanggrahan Randugumbala segera
bersiap menghadang.

Tetapi Setyaki, yang dari dulu sudah menjadi musuh bebuyutan, segera menyelonong
kehadapan Arya Werkudara.

“Kanda Arya, ini yang aku tunggu dari kemarin ! Sekaranglah waktunya yang tepat
untuk menuntaskan dendam berkepanjangan antara aku dengan Burisrawa” ingatan
Setyaki berbalik ke masa masa lalu, yang berkali kali gagal menuntaskan permusuhan
bebuyutan dengan Burisrawa. Terakhir kali ingatnya, ia bertempur sewaktu mengikut
Prabu Kresna ketika didaulat menjadi kusirnya sebagai duta terakhir sebelum pecah
perang.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 34


“Bungkik, apa yang menjadi bekal kamu dalam menghadapi Burisrawa yang berbadan
lebih besar dan kekuatan bagaikan orang hutan” Tanya Werkudara meyakinkan tekad
Setyaki.

“Yang paling utama adalah tekad !” jawab Setyaki yakin.

“Tekad tidak cukup !” kembali Werkudara menjawab

“Jadi harus bagaimana ?” tanya Setyaki memancing.

“Sebelum kamu maju menghadapi Burisrawa, akan aku uji dulu kekuatanmu
!“Werkudara menawarkan cara.

Gb. 41 – Setyaki

“Silakan kanda Arya !” Setyaki bersiap diri.

“Angkat Gada Lukitasari punyaku, bila kau sanggup mengangkatnya, kamu pantas
menghadapi Burisrawa”. Ujian pertama ditawarkan.

Segera disorongkan batang gada kehadapan Setyaki, dengan sekali usaha, terangkat
gada super berat Arya Bimasena.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 35


“Bagus , kamu memang pantas menyandang nama Bima Kunting !” Bima Kunting
artinya adalah Bima dengan tubuh kecil. Dijuluki demikian, Setyaki tetap bangga.

“Tapi itu belum cukup ! Satu lagi, bila kamu bisa kuat menerima pukulan gadaku
ini, kamu boleh berangkat sekarang !.” Kembali ujian kedua ditawarkan.

“Silakan kanda.” Kembali Setyaki bersiap diri.

Dipukulnya Setyaki dengan gada Rujakpolo. Gelegar suara benturan badan Setyaki
dengan batang gada bahkan menggetarkan tanah tempat Setyaki berpijak. Gelegar
suara itu bagai menerpa batang baja. Setyaki tetap bergeming. Gembira Werkudara
menyaksikan kekuatan adik misannya.

“Ayoh berangkat akan aku awasi dari jauh !” Werkudara memberi aba-aba

Bangga Setyaki lulus dalam ujian yang tidak ringan itu.

Semakin percaya diri Setyaki menghadapi Burisrawa. Iapun sesumbar. “Nanti


siapapun yang kalah, tak ada seorangpun yang boleh membantu !”

Maka berhadapanlah kedua satria yang sudah lama saling mendendam. Bara dendam
memercikkan semangat untuk saling mengalahkan dalam arena resmi ini. Mereka
berdua bertekad untuk menyelesaikan adu kekuatan dengan kemenangan.

“Heee Setyaki yang datang menjemput aku, sudah bosan rasanya aku melihat kamu
lagi. Kali ini adalah kali yang terakhir. Aku tak mau melihat tampangmu lagi. Biar
aku tekuk kamu sekarng ! Tidak mungkin kamu mengalahkan aku !”

“Apapun katamu, sekarang tak ada lagi yang bakal menunda kematianmu !”.

“Apa yang kamu andalkan ? Besarnya badan, lebih besar aku. Kekuatan pasti lebih
kuat aku. Majulah kemari orang kecil, terkena sambaran kakiku lunas nyawamu !”

“Jangan banyak mulut, serang aku sekarang juga !”

Adu kekuatan mulanya berjalan seimbang. Pukulan tangan kosong dada Setyaki
dilancarkan Burisrawa. Berkelit sambil memiringkan badan Setyaki menghindar
sambil mengayunkan sapuan kaki kanannya. Tak mau terkena sasaran kaki Setyaki,
Burisrawa meloncat. Sambil berbalik badan, kakinya mengarah ke leher Setyaki.

Kali ini benturan tak dapat dielakkan lagi, Setyaki merunduk sambil mengerahkan
kekuatan ditangannya, kaki Burisrawa ditebas dengan tangan berkekuatan penuh.
Benturan keras terjadi. Sementara tangan Setyaki kesemutan, Burisrawa
mendaratkan kakinya dengan terpincang pincang.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 36


Kembali adu kekuatan kaki dan tangan keduanya berlangsung silih berganti. Saling
serang dengan kekuatan raksasa, diselingi dengan ketangkasan beradu gada.

Setengah hari telah berlalu. Lama kelamaan kekuatan tenaga dari kedua satria itu
makin dapat ditebak keseimbangannya. Walaupun Setyaki bertenaga raksasa
penjelmaan raksasa Singa Mulangjaya, namun Burisrawa adalah anak raja Mandaraka
yang hampir tak pernah betah tinggal di istana. Ia lebih suka berkelana dihutan hutan
hingga kesisi lautan. Berguru pada berbagai orang sakti, hingga Batari Durga dan
Betara Kala sekalipun pernah menjadi gurunya. Tak heran ia menjadi manusia dengan
kekuatan gorila, karena rajinnya ia mencari kesaktian dan menyadap kekuatan alam.

Gb. 42 – Burisrawa

Maka pada suatu saat, Setyaki terkunci oleh gerak pitingan Burisrawa. Setyaki
mengerahkan seluruh kekuatannya, tetapi bagai terjepit ragum baja raksasa,
rontaannya tak sanggup ia lepas dari jepitan kekuatan raksasa Burisrawa.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 37


Bangga Burisrawa akan usahanya menjepit Setyaki “Disini akhir hidupmu Setyaki.
Akan aku patahkan tulang belulangmu sedikit demi sedikit, agar kamu tahu, betapa
sakitnya berani-beraninya melawan Burisrawa !”.

Belas kasih Prabu Kresna melihat adik istrinya, Setyaboma, terjepit oleh kekuatan
raksasa Burisrawa. Tapi di awal sudah ada perjanjian antar keduanya, bahwa
peperangan tanding itu tidak boleh dibantu oleh siapapun. Tak kurang akal, Kresna
memanggil Arjuna hendak melakukan sandiwara agar adik iparnya itu dapat ditolong.

“Arjuna, aku masih ragu terhadap trauma atas kematian anak-anakmu. Apakah
jiwamu sudah penuh kembali seperti semula atau belum ! Karena masih banyak para
sakti yang masih bermukim di pesanggrahan Bulupitu. Ujian akan aku berikan,
hingga aku tahu sampai dimana kembalinya pemusatan pikirmu. Sekarang aku uji
pemusatan pikiranmu, dengan memanah sehelai rambut yang ada ditanganku ini,
kenai dengan panahmu Kyai Pasopati . . !”

“Marilah kanda Prabu, akan aku buktikan kembalinya kekuatan jiwa ragaku” mantap
Arjuna menerima tantangan ujian itu.

Terlepas panah Pasupati memutus rambut yang terpegang Prabu Kresna, tetapi
sejatinya, arah yang diharapkan Prabu Kresna adalah searah dengan keberadaan
Burisrawa yang tengah memiting Setyaki. Maka tak ayal lagi terserempet Kyai
Pasupati, lengan Burisrawa terputus, tergeletak jatuh ketanah.

Merasa pitingan lawan kendor, disertai raungan kesakitan Burisrawa, Setyaki punya
kesempatan meraih gadanya. Dipukul kepala Burisrawa berkali kali, tewas seketika
Burisrawa.

Bangga Setyaki melihat lawannya tergeletak tak bernyawa lagi.

“Huh Burisrawa . . . ! Sumbarmu bagai hendak memecahkan langit ! Kepentok


kesaktianku, mati kamu sekarang !” berkacak pinggang Setyaki didepan jasad
Burisrawa.

“Setyaki siapa yang membunuh Burisrawa ?” Kresna yang menyusul kearah Setyaki
menjajagi rasa bangga Setyaki.

“Tentu saja adikmu yang gagah sentosa ini !” kebanggaan Setyaki belum habis juga

“Coba lihat sekali lagi, apa penyebab kamu bisa lepas dari pitingan lawanmu
?” tanya Kresna.

“Oooh . . . . . jadi lengannya telah putus lebih dulu sebelum hamba pukul kepalanya
?”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 38


“Makanya jadi orang jangan pandir, hayuh minggir , lihat ayah Burisrawa, Prabu
Salya tidak terima !” Buru-buru Setyaki diseret Prabu Kresna agar menjauhi jasad
Burisrawa.

Memang yang terjadi adalah Prabu Salya hendak maju kemedan perang. Tapi tak tega
Prabu Duryudana segera memegangi Prabu Salya, agar berlaku sabar terlebih dulu.
Duryudana merasa belum saatnya sang mertua untuk bertindak walaupun tahu
betapa sedihnya hati orang tua itu tatkala melihat anaknya lelaki yang tinggal satu
itu, setelah kematian kakak Burisrawa, Rukmarata, maka yang tertinggal adalah
ketiga anak perempuannya, Erawati, Surtikanti dan Banuwati.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 39


Episode 14 : Mahalnya Sebuah Harga
Diri
Kembali kita ke taman Kadilengeng. Siang belum lagi menjelang, Dewi Banowati
mencoba menyenangkan hati dengan berjalan-jalan ditaman sari. Taman yang jalur
jalannya lajur demi lajur dihampar batu akik hijau merah biru putih dan keemasan.
Diterpa sinar matahari yang belum naik sempurna memancarkan sinar semburat bagai
warna pelangi. Disuatu tempat yang menjadi kesukaannya, sang Dewi duduk diatas
batu marmer putih mengkilap yang direka pokok kayu. Terpesona sang Dewi
memandang taman yang asri itu dengan berbagai macam tanaman. Tanaman hias
dalam jambangan yang ditata teliti, berpasang-pasang, serasi warnanya dengan
paduan bunga-bunga yang harum mewangi. Tidak hanya dalam jambangan, bunga-
bunga perdu juga menghias hamparan taman bergerombol disela sela rumput lembut.

Bertambah indah suasana taman dengan terbangunnya rekaan telaga yang berair biru
bening dengan berbagai macam ikan warna emas, merah, putih dan warna tembaga
yang ditebar. Bila diterpa sinar matahari, seakan ikan ikan itu bagaikan bintang
bintang malam yang saling bertukar tempat.

Tersenyum puas sang Dewi dengan kerja para abdi dalem yang setiap waktu
memelihara dengan penuh cinta. Sejenak ia melupakan keresahan hati memikirkan
perang yang belum juga usai. Resah hati yang membawanya setiap malam membakar
sesaji dengan pedupaan yang bertumpuk tumpuk. Dalam setiap pemujaan sang Dewi
selalu berharap, agar segeralah selesai perang yang sedang berkecamuk. Untuk
kemenangan siapa, hanya Dewi Banowati saja yang tahu.

Belum puas Sang Dewi menikmati indahnya suasana, kali ini ia kembali kaget dengan
kedatangan adik iparnya, Raden Dursasana. Ketika diketahui yang datang adalalah
adik ipar yang tidak ia senangi, yang bertingkah laku mirip dengan adiknya sendiri,
Burisrawa, setengah malas ia melambaikan tangannya agar iparnya itu segera
mendekat. Dursasana segera menyampaikan sembahnya, kemudian duduk dengan
takzim.

Terheran Dewi Banowati dengan kedatangan adik iparnya bergantian dengan


suaminya yang hari-hari kemarin datang. Dalam hatinya ia bertanya, ada kejadian
apa lagi di peperangan. Siapa lagikah korban peperangan yang hendak dilaporkannya.
Mudah-mudahan hati ini kuat mendengar apapun yang terjadi. Atau ada sesuatukah
yang sangat perlu, hingga adik iparnya yang dikenal sebagai manusia yang penuh
kekerasan meninggalkan peperangan yang keras itu, tetapi malah datang ke taman
sari. Tempat indah penuh kelembutan. Seribu tanya ia simpan sejenak.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 40


Basa basi sang Dewi bertanya, “Baik baik sajakah kedatanganmu, adikku ?”.

“Sembah hamba kehadapan kakanda Banowati”. Dursasana menghaturkan baktinya.

“Apakah perang sudah selesai ?” tak sabar sang Dewi ingin mengetahui apa yang
terjadi.

Gb. 43 – Banowati

Dursasanapun mulai mengawali menceriterakan kenapa ia diminta untuk kembali ke


istana.

“Pertama, kami mengabarkan kepada kanda Dewi, bahwa adik paduka Arya
Burisrawa telah tewas dalam peperangan”.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 41
Dewi Banuwati kembali hanya terdiam sesaat, seperti yang pernah terjadi ketika
putranya, Lesmana Mandrakumara, tewas. Ia hanya melihat kedepan dengan tatapan
kosong, tak ada rasa sedih yang terbersit dari wajahnya.

Banuwati dan Burisrawa, walaupun kakak beradik, dan pada kesehariannya keduanya
sering bersama ada di Astina. Tetapi keduanya tidaklah seperti kakak beradik yang
dekat dihati satu sama lain. Banuwati malah lebih dekat kepada adiknya yang jauh,
dan lebih senang bersama ayah ibunya di Mandaraka, Arya Rukmarata, yang kini juga
telah tewas.

Sama seperti adik iparnya, Dursasana, Burisrawa adalah manusia yang liar dan
cenderung ugal-ugalan. Kesamaan itu yang membuat Burisrawa dekat dengan
Dursasana. Mereka hanya renggang bila Burisrawa sudah bosan dengan suasana resmi
istana, dan kabur ke hutan hingga berbulan-bulan, baru ia kembali lagi ke Astina.
Apalagi setelah Burisrawa gagal mempersunting Wara Sumbadra kala itu, hingga ia
bersumpah, tak akan ia pulang ke Mandaraka, bila ia belum bisa mempersunting dewi
impiannya yang gagal, atau memperistri wanita yang mirip dengan Sumbadra, seperti
yang pernah diceriterakan.

Akhirnya setelah diam sebentar, kata pasrahlah yang terucap dari bibir
Banuwati “Perang itu, kalau tidak kalah ya menang. Kalau tidak membunuh, ia akan
dibunuh. Kalau Burisrawa terbunuh, itu adalah bagian dari kodrat perang itu
sendiri”

Mahfum dengan watak kakak iparnya, Dursasana kembali melanjutkan,“Yang kedua,


adikmu diutus kanda Prabu, untuk kembali ke istana”.

“Dan hal inilah yang saya tidak mengerti, kenapa saya sebagai pangeran sepuh yang
sekarang dijadikan pangeran pati sekaligus, harus disingkirkan, dan harus
dikembalikan ke istana. Terus terang saja, kali ini saya ditugaskan oleh kakanda
Prabu, untuk menjagai keberadaan paduka kanda Banowati”.

“Kalau begitu, kanda Prabu sebenarnya sedikit banyak mempunyai rasa curiga
terhadap aku, begitukah ? Banuwati mulai kesal dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Pikirnya, apakah ini buntut dari kericuhan kemarin ketika suaminya datang ?”

“Ya, kira-kira begitu. Saya juga tidak pernah bertanya lebih jauh kepada kanda
Prabu, karena saya ini apalah. Hanya sebagai adiknya dan hanya sebagai abdinya.
Dititahkan apapun hamba tidak akan sanggup menolak”. Dursasana sudah mulai
jengah. Inilah suasana yang sudah ia bayangkan sebelumnya. Suasana yang paling
tidak disenangi, bergaul dengan wanita, apalagi wanita itu adalah kakak iparnya yang
walau cantik, namun dimatanya ada sinar yang warna cahayanya sebagai sorot
warna ndaru braja, komet berracun. Hal inilah yang membuat Dursasana menjadi

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 42


serba salah duduknya. Bergeser-geser mencari posisi yang enak, namun tak juga ia
menemukan posisi duduk yang nyaman. Gerah rasa seluruh tubuhnya, walau angin
pagi masih tersisa bertiup membawa uap embun yang baru saja kering. Tak urung
keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya.

“Menungguiku, apaku yang ditunggui. Katakan ! Kamu itu jadi seorang satria kok
begitu bodoh, begitu dungunya !“ berubah menjadi galak Dewi Banuwati. Suasana
indahnya taman sudah hilang dari perasaannya.

“Apa sebabnya, saya yang hanya diperintah, kenapa saya dibodoh-bodohkan,


didungu-dungukan. Silakan kanda Dewi menjelaskan . . ” Dursasana menyabarkan
diri. Mungkin bila ini bukan istri kakaknya ia sudah berdiri marah atau bahkan
tangannya sudah melayang. Tabiat Dursasana yang tidak sabaran sebenarnya sudah
mencapai ambang batas kekuatan menahan, namun rasa hormat kepada kakak
sulungnya, tak pelak lagi mengorbankan habis sifat urakan yang menjadi ciri dari
lahir. Bahkan gerakan tangannya yang biasanya tak pernah diam seakan terkunci
ketat erat.

“Sebenarnya kamu itu sedang dicoba oleh kakakmu itu. Satria itu seharusnya
berperang. Tetapi kakakmu mengatakan kamu harus kembali ke istana. Kenapa kamu
menerima perintah itu dengan begitu lugunya. Apakah itu bukan dikatakan sebagai
satria bodoh yang penakut dan jeri akan tumpahnya darah !”Menuding-nuding sang
Dewi sambil bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang.

Panas hatinya dicurigai akan berbuat yang tidak tidak, Dursasana menjawab

“Bukan itu kanda Dewi, yang memerintah tidak salah, yang diperintah juga tidak
salah. Tetapi kenapa hamba yang diperintah dimarahi seperti ini ? Tapi terus terang
kemarahan ini menjadi bahan pelajaran dimasa datang. Dan takut hamba terhadap
kemarahan paduka kanda Dewi, hamba lebih takut akan kemurkaan kanda Prabu
Duryudana”. Masih mencoba sabar Dursasana.

“Dan bila hamba disuruh maju perang, maka betapapun saktinya lawan, akan hamba
laksanakan titah kanda Prabu dengan senang hati”.

“Duh . . sumbarmu ! Seperti bisa memecahkan balok besi, menjilat panasnya besi
membara ! Sinis dewi Banawati berkata.

“Dapat hamba buktikan ! Bila kanda Dewi mengatakan hamba ini satria bodoh yang
takut perang, hal itu adalah sebaliknya. Dan bila hamba diperintah untuk menjagai
wanita, yang terjadi sebenarnya adalah . . . . . , kanda Prabu itu orang yang kelewat
sabar . .”. Berhenti sejenak Dursasana ragu mengatakan, namun sejurus kemudian ia
melanjutkan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 43


“Tidak ada orang yang sabar didunia ini melebihi kanda Prabu. Walaupun di istana
ini sebenarnya terdapat tanaman yang sangat berbisa, yang selalu tumbuh dan
tumbuh dengan subur, yang pada akhirnya akan membuat gatal orang senegara. Tapi
karena besarnya cinta kanda Prabu terhadap tanaman itu, maka yang terlihat, hanya
bentuk dan rupanya yang cantik saja, sementara bisa racunnya tidak dihiraukan . .
. “.

“Kamu mengatakan begitu, aku ini kamu anggap apa ?” bagaikan mendidih, darah
diubun ubun dewi Banuwati, yang merasa dikenai hatinya.

“Nanti dulu . . , kalaupun hamba mengatakan perumpamaan terdapat tanaman


berbisa yang dipelihara kanda Prabu, terus terang saja kanda Banowati, yang sebagai
istri kanda Prabu, sebenarnya, paduka kanda Dewi tidak cinta lahir batin kepada
kanda Prabu Duryudana. Kalau dilihat sepintas, perilaku kanda Dewi terhadap kanda
Prabu itu seperti cinta yang sebenar-benarnya. Tetapi hal itu hanya terhenti dalam
tata lahir, dan dalam hati kanda Dewi yang sebenarnya, orang dinegara Astina ini
sudah tahu semuanya. Termasuk hamba sendiri”. Keterus terangan Dursasana makin
menjadi-jadi, ia memuntahkan seluruh isi hatinya. Ia melampiaskan belenggu rasa
yang dari tadi menjerat erat

“Bagaimana ? Apa yang kamu ucapkan tadi itu, dihatiku cinta sama siapa ?” Banuwati
menantang. Walaupun jawaban yang akan diucapkan oleh adik iparnya itu
sebenarnya dirasa mudah untuk ditebak jawabannya, tapi ia masih hendak mencoba
mencocokkan dengan perkiraannya.

“Terus terang tadinya hamba tidak akan mengatakan sampai kesitu, tapi karena
kanda Dewi sendiri yang menantang, akan hamba buka yang sebenarnya terjadi.
Kanda pasti tahu, sesuatu yang tersimpan dihati kelamaan akan menjadi penyakit,
sekarang sebaiknya hamba keluarkan unek-unek dihati hamba”.

Dibawah sorot mata tajam kakak iparnya ia melanjutkan curahan isi hatinya.
Terlanjur basah, mandi sajalah sekalian, pikirnya. Masalah ada aduan yang sampai
kepada kakak sulungnya, itu soal nanti. Sekarang sekarang, nanti ya nanti.
Kebiasaannya dalam berpikir pendek, menjadikannya ia meneruskan kata-katanya
dengan lancar.

“Saya memperhatikan setiap kali ada perang tanding antara Kurawa dan Pandawa,
bila ada warga Pandawa yang menang, paduka bergembira dengan membagi bagikan
hadiah kepada abdi dalem dan siapapun. Itu salah satu buktinya. Sebaliknya ? Contoh
terakhir, ketika putra Paduka, Lesmana Sarojakusuma tewas, paduka menyalahkan
kanda Prabu dan putra paduka sendiri, tetapi ketika Abimanyu yang tewas, paduka
menangis histeris. Itu kejadiannya !”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 44


“Maka pada setiap semedi, paduka kanda Dewi selalu memohon dewata, kapan
kiranya Baratayuda berakhir dan Kurawa kalah serta musnah. Dengan demikian
kanda Dewi dapat segera melaksanakan keinginan kanda Dewi untuk menjadi keset
Arjuna. Iya kan ?” Habis sudah, tumpah ruah segala kesah hati Dursasana tercurah.

“Keparat kamu Dursasana ! Kamu megucapkan sesuatu tanpa perhitungan. Ketahuan


kamu sebagai satria yang takut darah, malah menguak rahasia orang lain. Kalau
memang kamu sebagai satria sejati, dan kalau aku diberi wewenang untuk
menjagokan, kamu aku adu dengan Arjuna, berani kamu ?” Habis kesabaran
Banuwati. Kebanggaanya akan Arjuna dimunculkan dengan tidak malu-malu lagi.

“Jangankan Arjuna, Pendawa lima maju bersama tak akan hamba mundur sejangkah
!” Kembali Dursasana sesumbar. Panas hatinya sudah semakin membakar
perasaannya. Bahkan tempat yang didudukinya sudah terasa bagai beralaskan paku
membara.

“Sumbarmu ! Tetapi kamupun bisa menang bila aku adu kamu dengan Arjuna, bila
sudah terjadi kodok memakan liang nya !” Banuwati yang sudah terkena dengan telak
isi hati dan kelakuan dibelakang suaminya serta bosan dengan kericuhan yang terjadi
segera berbalik badan meninggalkan Dursasana yang tertawa senang sekaligus panas
hatinya karena kata-kata kakak iparnya.

Berdiri Arya Dursasana, setelah ditinggalkan Banuwati, lega rasanya seakan ia sudah
terbebas sangkar yang mengurungnya. Dipandanginya kepergian Banuwati dengan
berkacak pinggang dan muka yang ditengadahkan. Puas tetapi panas.

“Kena kamu Banuwati ! lagakmu seperti orang yang suci, tidak menengok ke tengkuk
sendiri menuduh orang yang tidak tidak. Aku buka rahasiamu, mencak-mencak
seperti orang kalap. Kamu anggap aku ini apa ? Kalau kamu bukan istri kakakku sudah
aku . . . . . . . Huhh . . ! Apakah aku kelihatan seperti orang yang bergelung malang
dengan bibir berpoles gincu, diberi bedak tebal mukaku dan dipakaikan kemben
tubuhku ? Lihat apa yang akan aku lakukan untuk membuktikan kata kataku.

Hari ini tak usah aku meminta ijin dari kanda Prabu, akan aku penggal kepala Arjuna,
sekaligus semua saudaranya”. Panas hati Dursasana membawa keputusannya untuk
kembali melangkah ke hamparan padang Kuru.

<<< ooo >>>

(Bersambung)

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 45