Anda di halaman 1dari 120

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mungkin sudah banyak yang menulis buku tentang lakon perang Baratayuda yang
sudah melegenda itu. Namun cerita yang dipadukan dengan kisah-kisah perang
tersebut dalam Pedalangan dari beberapa dalang terkenal di negri ini, mungkin masih
sangat jarang.

Mas Patikrajadewaku adalah salah satu pengasuh dalam blog indonesiawayang.com


(dulu wayangprabu.com) yang pemahaman akan cerita-cerita wayang cukup dalam.
Meskipun bukan seorang seniman ataupun penulis, namun dari pengalaman dan
pemahaman akan kiprah para dalang senior seperti almarhum Ki Nartosabdho,
almarhum Ki Timbul Cermo Manggolo, almarhum Ki Hadi Sugito, almarhum Ki Sugino
Siswocarita, Ki Manteb Sudharsono dan dalang-dalang lainnya, beliau dikarunia
kelebihan dalam menuangkan cerita wayang seolah kita mendengar alunan suara dari
rekaman pagelaran wayang.

Kisah perang Baratayudha dalam buku ini, adalah tulisan Mas Patikrajadewaku yang
telah dimuat secara serial di wayangprabu.com mulai 24 Juni 2010.

Kisah yang sangat menarik dan disajikan dengan renyah sehingga dapat membuat kita
terbawa seolah berada dalam arena padang Kurusetra.

Melalui beberapa perbaikan penulisan, kami sajikan untuk Anda, khususnya para
penggemar wayang dimanapun berada.

Mudah-mudahan hal kecil ini dapat berguna bagi kita semua dan merupakan
kontribusi nyata bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya wayang di
Indonesia.

Wassalam

Bandung, 28 September 2013

Pranowo Budi Sulistyo

indonesiawayang.com
Daftar Isi
Kata Pengantar ......................................................................................................................... 1

Episode 15 : Kala Kalabendana Menjemput ............................................................................ 3


Episode 16 : Drupadi telah meluwar Janji .............................................................................. 12
Episode 17 : Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri ............................................. 19

Episode 18 : Palgunadi dan Janji Sang Guru................................................................... 29


Episode 19 : Mimpi Besar Aswatama ..................................................................................... 41
Episode 20 : Atas nama Darma Satria .................................................................................. 49

Episode 21 : Ketika Rahasia itu Terungkap .......................................................................... 59


Episode 22 : Saat-saat Terakhir ............................................................................................. 69
Episode 23 : Siasat Sang Pecundang ................................................................................... 75

Episode 24 : Jujurlah Pinten, Tangsen! ................................................................................. 82


Episode 25 : Salya dan Bunga Cempaka Mulia ................................................................. 91
Episode 26 : Utang Piutang Bagaspati-Narasoma ........................................................... 98

Episode 27 : Babak Akhir Baratayuda Jayabinangun ...................................................... 108

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 2


Episode 15 : Kala
Kalabendana Menjemput
Sesungguhnya Dursasana waktu mendapat tugas dari kakaknya sudah enggan
segera berangkat ke istana. Namun kematian Burisrawa kawan karibnya yang hanya
bisa ia saksikan dari jauh, sebab ia sudah menyanggupi kembali ke Astina,
menjadikan ia terpicu untuk segera berangkat malam kemarin. Keengganan yang
berkepanjangan memaksa dirinya menunda keberangkatannya, namun kini ia
terpaksa kembali ke peperangan dengan hati yang panas terluka.

Tak disangka oleh siapapun tadinya, malam kemarin itu sepeninggal Dursasana
ternyata menjadi malam yang mengerikan. Prabu Salya yang terluka hatinya karena
kematian putra kebanggaannya, satria Madyapura Arya Burisrawa, memarahi orang
orang disekelilingnya. Sesabar-sabarnya Prabu Salya, kematian putra lelakinya yang
terakhir kalinya ini, membuat ia betul-betul kehilangan kendali diri. Kemarahan
melebar hingga lagi-lagi murka itu menyerempet kepada Adipati Karna. Tidak terima
menjadi tumpuan kemarahan, Adipati Karna segera menyatakan madeg senapati
malam itu juga. Dua kali ia telah dikenai hatinya oleh mertuanya dan sekali oleh resi
Krepa, membuat ia kembali bergolak kemarahannya. Kemarahan yang tidak dapat
dilampiaskan sebagaimana ia melampiaskan kepada Krepa, membuatnya ia memilih
jalan lain untuk melampiaskan kekesalan hatinya.

Adipati Karna adalah seorang adipati dengan pengaruh kuat terhadap negara-negara
jajahannya, segera ia menyusun barisan yang berisi prajurit jajahan Awangga. Tak
peduli lagi tentang tata krama perang yang berlaku, dengan menyalakan obor beribu-
ribu ia menggerakkan pasukannya yang berujud para raksasa dari negara Pageralun
yang dipimpin oleh Prabu Gajahsura, negara Pagerwaja yang dipimpin oleh
Kelanasura dan negara Pagerwatangan dengan Lembusaka.

Majunya Adipati Karna sebagai senapati dan akan menggempur lasykar


Randuwatangan malam itu benar-benar tanpa tata krama, barisan raksasa
membakari beberapa pasanggrahan garis depan dengan tiba tiba. Arya Drestajumna
dan Wara Srikandi serta Setyaki yang lelah siang tadi bertarung sudah harus kembali
menahan serangan musuh. Berita serangan itu akhirnya sampai ke telinga penghuni
Randuwatangan.

Arjuna yang dari tadi duduk tenang segera menggeser duduknya. Panasnya hati
mendengar kejadian yang tidak lazim, membuat ia menawarkan diri untuk
menandingi majunya senapati Kurawa malam itu “Kanda Prabu, perkenankan adikmu
ini hendak menandingi kesaktian kanda Basukarna. Bagi kami, kanda Adipati adalah

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 3


jodoh kami dalam perang. Hamba mohon sekarang kami diijinkan. Inilah saat yang
hamba nantikan kanda Prabu”.

“Arjuna, bila majunya Karna ada pada waktu yang benar, maka aku ijinkan kamu
untuk menandinginya. Tapi sekarang yang terjadi adalah perang dengan tidak
menggunakan tata aturan perang yang sudah disepakati. Perang waktu malam
adalah tindakan yang bukan watak satria. Tenanglah lebih dulu, jangan terbawa
oleh hawa kemarahan”.

Gb. 44 – Gatotkaca (Solo)

“Werkudara, bila anakmu aku wisuda jadi prajurit untuk menghadapi musuh malam
ini, apakah kamu setuju ?” Kresna yang dihadapi oleh Werkudara malam itu
menanyakan kerelaannya.

“Anakku dilahirkan memang sebagai prajurit. Sudah semestinya peristiwa malam ini
menjadi harapan bagi anakku untuk diberi kehormatan sebagai senapati. Tetapi
kenapa harus Gatutkaca yang menjadi senapati malam ini ?”. Sahut Werkudara.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 4


“Anakmulah yang mempunyai mata Suryakanta, yang dapat awas diwaktu malam,
dan kotang Antrakusuma yang menyorot hingga dapat menerangi
sekelilingnya”. Kresna menjelaskan dengan menyembunyikan kenyataan yang ia
telah ketahui dari kitab Jitapsara. Saat inilah Gatutkaca harus pergi untuk
menghadap Hyang Widi Wasa.

“Apakah bila anakku ada apa-apanya, kamu bertanggung jawab atas penunjukanmu
atas Gatutkaca ?” Kembali Werkudara dengan rasa was-was, naluri seorang ayah,
menanyakan kepada Kresna.

Gb. 45 – Gatotkaca (Banyumas)

“Aku adalah manusia yang mungkin dapat melakukan kesalahan, tetapi bila sampai
anakmu gugur nanti, itu adalah mati dalam membela negara, mati sempurna sebagai
kusuma bangsa, bukan mati sia-sia. Kejadiannya akan tercatat dalam lembar sejarah

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 5


dengan nama harum yang tak kan pernah tersapu oleh angin jaman. Masihkah kamu
ragu ?” kembali Kresna meyakinkan hati adik iparnya yang masih saja ragu.

“Aku menurut apa kata-katamu “ Werkudara akhirnya merelakan.

“Baik, adikku Drestajumna, panggil keponakanmu Gatutkaca menghadapku.


Sekarang juga ”.

Segera menghadap Raden Gatutkaca kehadapan uwaknya, yang mengatakan bahwa


kesaktian Gatutkaca-lah yang mampu membendung serangan Adipati Karna. Begitu
mengetahui ia diberi kehormatan untuk menjadi senapati untuk berhadapan dengan
Sang Arkasuta-Karna. Bangga hati Gatutkaca. Raden Arjuna-pun ikut memuji
kesaktiannya yang dimiliki sang keponakan. Tersenyum lega hati dan gembira sang
Gatutkaca setelah penantiannya, kapan ia akan diwisuda menjadi senapati dalam
peperangan besar, segera malam ini terlaksana.

“Uwa Prabu, Rama Kyai, dan semua sesepuh, perkenankan hamba hendak
berpamitan untuk maju ke medan pertempuran. Walaupun dalam dada ini tersimpan
kemantapan diri yang besar, namun kesaktian uwa adipati Karna memang tidak
dapat dianggap enteng. Dan tugas yang diberikan oleh para sesepuh dan orang tua
kami, menjadikan rasa hamba bagaikan diberi kehormatan yang demikian tinggi,
sejajar dengan derajat dari uwa Adipati Karna. Dan juga pemberian kesempatan
sebagai senapati ini, putramu mengupamakan, sebagai hendak meraih bongkahan
inten permata didalam taman surga”. Pamit Sang Purbaya kepada Prabu Kresna dan
para sesepuh yang menyatakan sebagai meraih kebahagian sorga. Ia telah tidak
sengaja berkata bagaikan pengucapan kata pamitan terakhir kalinya.

Kaget sang paman, Arjuna yang mendengar kata-kata keponakannya itu. Kata-kata
terakhir ucapan Garutkaca, dalam pikiran Arjuna seperti halnya pamitan seseorang
yang hendak mati. Segera dirangkulnya pundak Gatutkaca dengan air mata yang
mulai menetes dikedua belah pipinya.

“Aduh anakku, kepergian adikmu Abimanyu sudah aku relakan. Ketika melihat sifat
dan kesaktian yang kamu miliki, seakan tergantikan semua yang ada pada diri
anakku. Namun dengan pernyataanmu tadi, aku merasakan adanya keanehan dalam
ucapanmu tadi”.

“Permadi, tidak layaklah seorang satria memberi bekal tangis serta mengucapkan
kata-kata seperti itu kepada seorang senapati ketika ia hendak menunaikan
tugasnya. Minggirlah, biar aku kalungi rangkaian melati buyut Prabu, sebagai tanda,
bahwa sekaranglah saatnya Gatutkaca aku wisuda menjadi senapati”. Kata-kata
yang diucapkan Prabu Matswapati mau tidak mau membuat Arjuna menyisih

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 6


memberikan kesempatan untuk eyangnya mengalungkan bunga sebagai tanda
senapati.

Tak diceritakan persiapan prajurit Pringgandani, yang digerakkan oleh paman-paman


dari Raden Gatutkaca, Brajawikalpa, Brajalamatan dan para braja yang lain.

Maka malam itu, campuh perang begitu mengerikan. Kedua pasukan yang berujud
raksasa saling serang dengan suara raungan sebagaimana para raksasa. Suaranya
terdengar bagai auman singa lapar dipadang rumput yang sedang berpesta bangkai
kijang. Obor ditangan kiri dan senjata ditangan kanan mobat-mabit membuat suasana
perang menjadi begitu lain dari biasanya. Gemerlap pedang yang memantul dari
cahaya merah obor berkilat bagai petir yang menyambar-nyambar. Obor yang
terpental jatuh seiring jatuhnya prajurit raksasa yang menjadi pecundang, tak urung
membuat tanah yang mulai tergenang merah darah menjadi semakin merah.
Bagaikan banjir api! Dan diangkasapun terang obor dimedan Kuru seakan menelan
sinar Sang Hyang Wulan.

Tandang sang Gatutkaca tak kalah membikin giris siapapun yang melihatnya.
Gerakannya bagai kilat hingga yang terlihat adalah ujud Gatutkaca seribu. Sigap
tangannya menyambar nyambar kepala lawan. Yang lunak ditempelengnya hingga
hancur, sedangkan yang liat dipuntirnya kepala hingga terlepas.

Ketiga sraya dari negara taklukan Awangga tak berdaya. Kelumpuhannya tinggal
menunggu waktu kapan ia didekati oleh sang Gatutkaca, maka kepalanya akan segera
lepas dari lehernya.

Benarlah, tanpa perlawanan berarti ketiga sraya itu berhasil disudahi oleh tangan
kekar Gatutkaca.

Tetapi tidak hanya musuh yang tewas, kecepatan gerak dengan terbatasnya
pandangan karena gelap malam dan sama-sama berujud raksasa, para braja paman
Gatutkaca ikut tewas oleh trengginasnya gerakannya yang begitu cepat.

Adipati Karna tidak dapat berbuat sesuatu lagi, selain harus menghadapi Gatutkaca
sendiri. Maju ia setelah melihat prajuritnya banyak berkurang.

Segera Raden Gatutkaca dan Adipati Karna saling berhadapan. Adu kesaktian dan
kekuatan saling dikeluarkan untuk melumpuhkan lawannya. Babak pertama Karna
yang merasa keteter segera menerapkan ajiannya, Kalalupa. Ujud raksasa keluar dari
tapak tangan Adipati Karna semakin banyak, menambah jumlah para raksasa yang
dari ketiga negara jajahan Awangga. Dikerubut oleh makin banyak raksasa dengan
perawakan yang sama, akhirnya membuat Gatutkaca keteteran. Segera serangan
balik dilancarkan. Aji Narantaka warisan sang guru sekaligus buyut, Resi Seta, segera

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 7


dirapal. Kobaran api menyembur dari kedua tapak tangan sang senapati, berkobar
makin hebat padang Kurusetra oleh nyala api tambahan dari aji Narantaka. Semburan
api dengan gemuruh keras membasmi raksasa jadian dari telapak tangan Karna.
Mundur sang Adipati ngeri melihat semburan dahsyat api yang keluar dari ajian
Narantaka senapati Pringgandani.

Terpesona Prabu Karna, dengan kesaktian sang Gatotkaca. Namun hal ini
membawanya mengubah cara perangnya dengan menaiki kereta Jatisura, dengan
kusirnya, yang juga patih Awangga, Patih Hadimanggala.

Gb. 46 – Gatotkaca Gugur

Malam yang sudah mencapai sunyi lewat tengah malam dihari lain, malam ini tidak
berlaku. Geriap para raksasa yang sedang bertempur dengan geramannya masih
membuat susana malam bagai terserang angin ribut. Kali ini ditambah dengan
perbawa kesiur angin lesatan kereta Adipati Karna.

Diatas kereta, sang Adipati menyiapkan senjata Kunta Druwasa. Pusaka dewata yang
dahulunya hendak dihadiahkan kepada Arjuna untuk memutus tali pusat Jabang
Tetuka, bayi Gatutkaca, Atas keculasan Suryatmaja, nama Karna muda, pusaka itu
jatuh ketangannya. Sedangkan Arjuna hanya mendapat sarungnya. Sarung itulah yang
akhirnya bersemayam dalam puser sang Gatutkaca, ketika tali pusar berhasil diputus.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 8


Waspada sang Gatutkaca ketika melihat Adipati Karna menghunus senjata Kunta
Druwasa, dan bersiap melepaskan anak panahnya itu. Adipati Karna diuntungkan
dengan sinar kutang Antrakusuma yang menyorot melebihi pijar sinar purnama
didada musuhnya. Gatutkaca menghindari dengan naik lebih tinggi terbangnya,
bersamaan lepasnya senjata Kunta. Ia melesat keatas awan, dengan harapan taklah
panah Kunta berhasil mencapainya.

Syahdan, Kala Bendana, paman sang Gatutkaca, si raksasa boncel yang berhati
bersih. Ia yang terbunuh tidak sengaja oleh keponakannya ketika bersaksi atas
menduanya Abimanyu dalam beristri, dalam peristiwa Gendreh Kemasan, Ia masih
tetap setia menunggu sang keponakan di alam madyantara.

Rasaksa lucu yang kini berujud sukma setengah sempurna itu, hendak menjemput
sang keponakan pada waktunya, ketika perang besar Baratayuda berlangsung. Saat
inilah yang ditunggu. Maka ia bersiap berkeliling diatas arena tegal Kuru malam itu.

Maka ketika melihat lepasan sang Kunta Druwasa, disambarnya anak panah yang
sebenarnya tak kuat sampai di sasaran diatas awan itu dan dibawanya menghadap
Gatutkaca.

Kaget sang Gatutkaca ketika melihat sang paman datang keatas awan dengan
membawa Kyai Kunta Druwasa sambil menyapa.

“Anakku Gatutkaca, sudah sampai saatnya pamanmu menjemputmu, Mari anakku,


aku gandeng tanganmu menuju sorga “.

Takzim Gatutkaca menghormat pamannya.“Oh, paman . . . Aku tidak mengelak akan


kesediaanku sesuai dengan janjimu. Putramu ikhlas, mari paman. Tapi perkenankan
anakmu meminta sesuatu darimu”. Tak dapat menolak Gatutkaca atas ajakan
pamannya. Ia telah pasrah dan mengaku segala kesalahannya dimasa lalu. Ia minta
sesuatu sebagai permintaan terakhir terhadap pamannya.

“Dengan senang hati, anakku. Apa permintaanmu ?” senyum sang paman


menanyakan permintaan keponakannya.

“Kematianku harus membawa korban dipihak musuh sebanyak-banyaknya, hingga


perang malam ini berakhir”. Jawab Gatutkaca mantap.

“Baik aku bisa melakukannya !”

Maka diarahkannya pusaka Kunta itu ke arah pusar sang Gatutkaca yang tersenyum
menerima takdirnya. Melayang sukma Raden Gatutkaca ketika pusaka Kyai Kunta
Druwasa masuk kedalam sarungnya. Dengan rasa kasih, digandengnya tangan
kemenakannya menuju swarga tunda sanga. Penantian panjang sang paman akan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 9


keinginannya pergi berbarengan ke surga bersama kemenakan tersayang, hari ini
berakhir.

Bersatunya Kunta Druwasa kedalam sarungnya, menimbulkan akibat yang hebat.


Sejenak kemudian diiringi suara mendesing, kemudian disusul suara gelegar hebat
bagai suara meteor, raga Gatutkaca melesat menuju medan peperangan dibawah
sana. Kecepatan lesatan raga Gatutkaca tak terkira cepatnya menimpa kereta perang
Adipati Karna beserta sang kusir Hadimanggala. Tewas seketika sang patih. Remuk
kereta Jatisura terkena tubuh sang Gatutkaca yang meledak menggelegar,
menimbulkan lubang besar bertumbak-tumbak luasnya.

Begitu pula dengan putra Adipati Karna, Warsakusuma yang ikut ayahnya dalam
peperangan juga tewas. Namun Adipati Karna berhasil menghindar.

Akibatnya, arena bagai terkena bom dengan daya ledak tinggi, hingga menewaskan
banyak barisan prajurit. Gelombang kejut yang terjadi dari ledakan tubuh sang
Gatutkaca menimbulkan hawa panas yang dahsyat hingga mampu meleleh luluh
lantakkan apapun yang ada disekitar jatuhnya raga. Jangankan tubuh manusia,
hewan tunggangan dan para raksasa, persenjataan yang terbuat dari logam-pun, cair
meleleh, kemudian menjadi abu. Dan seketika perang terhenti !

Berhenti perang meninggalkan luka dalam dihati Werkudara. Segera dicarinya Adipati
Karna yang lari tinggalkan gelanggang peperangan.

Segera Sri Kresna menghentikan tindakan Werkudara. Disabarkan hati adik iparnya
agar menunda dendamnya.

“Lebih baik beritahu istrimu lebih dulu mengenai kejadian yang berlangsung malam
ini. Mari kita datang bersama dengan saudaramu yang lain untuk menghibur
hatinya”.

“Kalau mau pergi ke Pringgandani, pergilah ! Aku tidak tega melihat apa yang akan
terjadi disana !” Werkudara pergi sendirian kearah tak tentu dengan hati yang
kosong. Kerasnya baja perasaan sang Bimasena tidak kuasa untuk membayangkan,
lebih jauh lagi melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa hancur perasaan istri
yang sangat dicintainya. Istri sakti yang tindakannya dimasa lalu berbuah jasa yang
sangat besar bagi kelangsungan hidupnya, bahkan bagi kelangsungan hidup dan
kejayaan seluruh keluarga Pandawa.

Kedatangan para Pandawa di sisa malam tanpa suaminya, membuat Dewi Arimbi
terkesiap hatinya. Naluri seorang ibu mengatakan ada sesuatu yang terjadi terhadap
suami atau terlebih lagi bagi anaknya. Maka begitu diberitahu akan peristiwa yang
terjadi malam tadi, ia berkeputusan untuk mengakhiri hidup dengan bakar diri dalam

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 10


api suci. Demikan juga dengan Dewi Pregiwa, keduanya sepakat untuk bersama sama
mengiring kepergian anak dan suami mereka. Semua saudara ipar dan Prabu Kresna
tidak kuasa untuk membendung keinginannya. Maka upacara segera dimulai.

Gb. 47 – Dewi Arimbi (Putri dan Raseksi)

Dengan busana serba putih, sang Arimbi naik ke agni pancaka, menggandeng
menantunya. Ia telah memutuskan pilihannya, tetap bersama suami atau
mendampingi anak tunggal kekasih hatinya.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 11


Episode 16 : Drupadi telah meluwar Janji
Kembali seorang dari saudara Pendawa terkena tekanan jiwa karena kematian anak
tercinta. Padahal mereka tahu, kematian bagi seseorang yang masuk dalam arena
pertempuran pilihannya adalah mukti atau mati. Tetapi tetap saja terjadi, setelah
kematian Abimanyu anak Arjuna yang menjadikan Arjuna kehilangan pegangan diri,
kali ini Sang Bima Sena-pun mengalami hal yang sama.

Tidaklah ia menyalahkan siapapun, Prabu Kresna, Karna atau dirinya sendiri.


Kerelaannya melepas kepergian anaknya menjadi senapati malam itu adalah atas niat
suci. Namun kenyataan yang terjadi tidak urung membuat perasaannya yang teguh
sedikit banyak telah terguncang. Ketiga anak lelakinya telah mendahuluinya meraih
surga. Yang pertama ketika mengikhlaskan Antareja menjadi tawur atas kejayaan
trah Pandawa sebelum pecah perang waktu lalu . Kemudian berita telah sampai pula
ditelinganya, ketika Antasena juga telah merelakannya akhir hidupnya atas
keinginannya untuk tidak menyaksikan dan mengalami perang Barata, asalkan para
orang tuanya unggul dalam perang itu. Ia dengan sukarela tersorot mata api yang
tajam Batara Badawanganala, hingga lebur menjadi abu.1

Maka ketika anak lelaki keduanya tersambut rana dalam peperangan, maka remuk
redam hatinya tanpa dapat mengalirkan air mata. Dengan pikiran yang kosong
Werkudara berjalan menjauhi arena peperangan. Tak terasa langkahnya sampai
dipinggir bengawan Cingcingguling ketika waktu belum lagi menjelang siang. Rasa
lelah semalaman dalam menghadapi barisan raksasa dari Pagerwaja, Pageralun dan
Pagerwatangan, membebani raga sang Bima, ditambah jiwa yang terluka menganga,
merana ditinggalkan semua anak tercintanya. Walau amuknya semalam telah
menelan korban kedua adik dari Patih Sengkuni, Anggabasa dan Surabasanta, namun
tetap ia tidak puas sebelum membalas kematian terhadap Adipati Karna. Rebahlah
dibawah randu hutan dipinggir bengawan, sang Bima melepas lelah.

Satu bingkai demi bingkai bayangan peristiwa masa lalu mengalir bagai kejadian yang
baru saja terjadi. Dibayangkannya sosok sang istri yang begitu menyayanginya dengan
segenap jiwa dan raga. Wanita yang sesuai dengan angan-angan ketika ia memilih
istri. Wanita yang lembut namun perkasa dan sakti mandraguna.

Berkelebat bayangan kejadian pahit manis perjalanan kasih, hidup dan


perjuangannya dengan sang istri. Saling bahu membahu dengannya ketika
membangun Negara Amarta dari asal hutan Wisamarta yang demikian angker dengan

1Pada versi pedalangan Banyumasan, ada empat anak Werkudara. Satu yang hampir tak
pernah disebut, yaitu Raden Srenggini. Sedangkan pada masa lalu, pedalangan gaya
Surakarta menyatakan Antasena dan Antareja adalah sosok yang sama.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 12
penunggu para lelembut sakti. Para Drubiksa penghuni hutan yang ternyata mereka
adalah pemilik negara maya dalam hutan itu, bahkan telah menyatu dalam jiwa
masing masing pribadi para Pandawa. Terpesonanya diri ketika melihat perubahan
ujud raseksi Arimbi yang begitu perkasa dan sakti, menjadi sedemikian cantik karena
sabda sang ibu, Prita-Kunti Talibrata, ketika menyaksikan Arimbi yang demikian
cantik budi perilakunya dalam membantu anak-anaknya, sehingga tercetus kata
mantra Sabda Tunggal Wenganing Rahsa ke telinga Arimbi.

Gb. 48 – Bima bersama Arimbi dan ketiga anaknya, Antasena, Antareja dan
Gatotkaca

Istri yang telah memberikan warna hidup hingga lebih cerah ketika ia melahirkan
seorang putra yang walau masih ujud bayi merah, Jabang Tetuka, tetapi oleh olah
para Dewata, anaknya itu dibuat cepat dewasa dengan kekuatan bagaikan berotot
kawat tulang besi. Ia telah berhasil membebaskan Kahyangan Jonggring Saloka
dengan mengenyahkan Prabu Kalapercona dan para punggawanya yang sedemikian
sakti. Putra yang sangat ia banggakan dengan sosok yang dambaan yang melekat pada
angan angannya. Putra sempurna yang merajai negara tinggalan dari orang tua
ibunya, sekaligus musuh Pandu, orang tuanya, yaitu Prabu Trembuku. Itulah Negara
Pringgandani.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 13


Tetapi belum semua kelebat bayangan masa lalunya usai, angan angannya itu buyar,
ketika terdengar suara berisik yang dikenalinya. Warna suara itu, suara teriakan
sesumbar itu. Itulah suara sesumbar dari Dursasana.

Manusia berangasan yang sedang panas hatinya sekembali dari taman Kadilengeng di
istana Astina, nyerocos sepanjang jalan. Tantangan dari iparnya, Banuwati, untuk
mengalahkan Arjuna, serta hinaan kepadanya yang dituduh sebagai manusia yang
takut darah, menjadikannya ia sangat bernafsu untuk segera menaklukkan Pandawa.

Sekarang hati Werkudara menjadi gembira bukan main, seakan ia menjadi anak kecil
yang mendapat mainan baru. Dalam hatinya mengatakan, inilah pelampiasan dendam
atas kematian anaknya tadi malam.

Bangun ia dari rebahannya, segera diketatkan segala pakaian yang melekat


ditubuhnya siap untuk bertempur kembali. Kelelahan jiwa raga yang mendera,
berganti dengan kesegaran yang mengalir dari dalam rasa hati. Melompat sang Bima
menuju kearah suara yang nyerocos sesumbar tak henti-hentinya.

Demikan juga dengan Dursasana yang merasa sangat senang, ketika melihat
Werkudara menghadang langkahnya. Tidak disangka, belum sampai dimedan
peperangan, orang yang dicari muncul lebih cepat dari pada yang ia bayangkan.

“Hee . . .Wekudara, kamu ternyata ada disini ! Tidak usah repot-repot mencarimu
ditengah banyaknya manusia yang sedang menyabung nyawa ! Sekalian aku hendak
membalaskan kematian anakku Dursala karena ulah anakmu Gatutkaca ! kalimat
yang terucap disertai tawa yang mengalir dari mulutnya tanda kegembiraan karena
keinginannya akan segera terwujud.

“Apa maumu ?!” Bimasena menyahut sekenanya.

“Sekarang atau nanti, di Palagan Kurusetra atau disini sama saja. Sekaranglah
waktunya untuk kita mengadu kesaktian, satu lawan satu, siapakah sebenarnya yang
mempunyai kaki yang lebih kokoh, lengan yang lebih kekar dan tenaga yang paling
kuat diantara kita berdua !” yakin Dursasana kali ini dapat menjadi pahlawan ketika
nanti ia dapat merobohkan tulang punggung trah Pandawa ini.

“Waspadalah, ayo kita mulai !” Siaga Werkudara setelah ia berhenti berucap.

Maka tanding antara tulang punggung kedua bersaudara Pandawa dan Kurawa mulai
berlangsung. Kaki kanan Dursasana mengayun ke dada Werkudara dielakkan dengan
sedikit memiringkan badan. Merasa tidak akan bisa mengenai sasaran, segera
Dursasana menarik kembali serangannya, kemudian ganti tangan kirinya hendak
menyapu pundak Bima. Gerakan Dursasana yang lurus menyerang pundaknya segera
ditangkis dengan tangan kanan, benturan kedua tangan terjadi. Sentuhan tangan
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 14
keduanya memulai kontak tenaga sebagai penjajakan atas kekuatan diantara
keduanya.

“He he he . . . . bagus juga kekuatanmu, jangan keburu senang dengan berhasil


menghindari serangan pertamaku. Ayolah sekarang ganti kamu yang menyerang, aku
tidak akan mengelak seberapapun kekuatan yang hendak kau kerahkan”

“Jangan banyak mulut, terimalah kerasnya tapak kakiku !”

Kembali keduanya siap dengan kuda-kudanya. Kali ini kaki kanan Werkudara diangkat
mengarah dada Dursasana yang mencoba menahan dengan kedua tangannya yang
bersilang didepan dadanya. Ketika kaki Werkudara beradu dengan tangan Dursasana,
segera Werkudara menambah daya kedut pada kakinya hingga Dursasana terpaksa
menahan. Sejenak kemudian kekuatan kaki Werkudara telah mendesak tahanan
serangan Dursasana yang terpaksa menggulingkan diri. Werkudara mencecar dengan
hendak menginjaknya, namun waspada Dursasana yang segera menyapu gerakan kaki
Werkudara sambil meloncat bangun. Benturan kaki keduanya terjadi dengan
kerasnya dilambari dengan kekuatan ajian masing-masing.

Terlempar keduanya beberapa langkah kebelakang dengan mulut masing masing


mendesis menahan nyeri tulang kering mereka. Kemudian mulut Dursasana
mengalirkan sumpah serapah seperti kebiasaanya.

Kembali Dursasana mengayunkan kaki mengarah ke lambung Werkudara yang sudah


siap dengan kuda-kudanya. Tetap dengan mulut yang tak mau diam dengan caci
makinya. Kaki beradu kaki berulang terjadi, berganti kanan kiri diselingi sambaran
kepalan tangan dari keduanya. Saling serang dan elak berlangsung seimbang pada
mulanya. Tanding keduanya bagaikan perkelahian seekor gajah dengan seekor
harimau. Gerak sentosa Werkudara yang kokoh maju setapak setapak menahan dan
menyerang balik Dursasana yang berkelahi bagai seekor singa. Hutan pinggir sungai
bagai terbabat oleh sabetan tangan dan kaki kedua musuh abadi itu. Tanaman perdu
patah rata tanah, sedangkan yang besar-besar batangnya bertumbangan bahkan ada
yang rungkat beserta akarnya.

Tapi yang berkembang kemudian adalah akibat dari jejak laku dari keduanya.
Werkudara yang telah tertempa secara fisik dan telah menyerap segala kesaktian
dari Ajian Bandung Bandawasa, Blabag Pengantol-antol hingga menyatunya saudara
tunggal bayu serta kekuatan raksasa Kumbakarna yang ia peroleh di sekitar hutan
Kutarunggu. Ketika itu Kresna yang menyamar menjadi Begawan Kesawasiddi dan
memberi wejangan Hastabrata kepada Arjuna, sehingga Werkudara mendapat
tambahan kekuatan selagi ia mencari keberadaan Kresna dan Arjuna. Usaha “tarak
brata” inilah yang membuat ia lama kelamaan menjadikannya Werkudara unggul

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 15


telak daripada Dursasana yang jarang melakukan usaha peningkatan ilmu kesaktian
dengan lebih enak tinggal di istana.

Ketika Dursasana gagal mengungguli dengan kekuatan tangan kosong, berganti ia


mencoba menggunakan limpung dan kemudian gada. Werkudara melayani kemauan
Dursasana dengan kuku pancanaka dan batang gada Lukitasari. Dengan langkah
mantap, Werkudara melayani serangan bertubi-tubi dari Dursasana. Namun tetap
saja, walau Dursasana mengerahkan segala kesaktiannya, keteguhan Werkudara
tetap tak tergoyahkan.

Gb. 48 – Dursasana dan Drupadi

Merasa keteteran dengan tandang Werkudara, Dursasana mencoba mencari akal lain
dengan berusaha menguras tenaga lawan. Ia berlari dan melawan dengan berulang-
ulang kemudian melompati kali Cingcingguling.

“Werkudara . . . . Ayuh kejar aku keseberang! Kamu tunjukkan seberapa kuat


tenaga seribu gajah yang kamu miliki ! “ Ia berharap sebelum kaki Werkudara
menapak tebing seberang ia sudah kembali menyerang sehingga lawannya kehilangan
keseimbangan kemudian serangan beruntun dilancarkan hingga lawan dengan mudah
disasarnya.

Ketika perkelahian itu berlangsung, Prabu Kresna yang kehilangan adiknya, segera
melacak jejak Werkudara. Pengalaman ketika ia kehilangan jejak Arjuna ketika
adiknya itu terkena tekanan jiwa atas kematian Abimanyu, membuat intuisi Kresna

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 16


segera menemukan dimana adanya Werkudara yang mengalami kesamaan peristiwa
seperti Arjuna ketika itu.

Maka ketika dilihatnya yang dicari sedang bertempur diarena yang tidak resmi dan ia
berketapan hati Dursasana akan dikalahkannya, maka diutusnya seseorang untuk
menjemput Drupadi.

Gb. 49 – Drupadi

Dan memang benar. Tak lama kemudian usaha Dursasana dalam mengubah strategi
menjadi tak berarti karena kalah unggul kekuatan dan kesaktiannya. Tambahan lagi,
ketika campur tangan pihak ketiga juga ikut bermain. Sarka dan Tarka, kedua arwah
tumbal yang tak rela atas kematiannya masih juga melanglang di alam madyantara
juga hendak menuntut balas atas kematiannya.

Maka begitu kesempatan itu datang, juntaian akar pohon tepi sungai menjadi sarana
atas dendam keduanya. Kaki Dursasana yang diperkirakan menginjak tebing sungai
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 17
dengan mulus, tersandung akar dan goyah langkahnya. Kesempatan ini digunakan
sepenuhnya oleh Werkudara yang dengan sigap menjambak rambut lawannya, dan
kakinyapun mengunci gerak lawannya. Dengan tenaga penuh dipuntirnya tubuh
Dursasana bagaikan seekor buaya memutar mangsanya, Werkudara memperlakukan
tubuh musuhnya.

Pucat pasi wajah Dursasana ketika sudah terkunci tak bisa bergerak lagi dengan
tulang yang sudah patah pada beberapa bagian.

“ Adikku Werkudara, lepaskan aku ! Berikan kakakmu sedikit rasa kemanusiaanmu.


Kendurkan pitinganmu, aku mengaku kalah, ampuni aku, berikan aku hidup. . . . . .
. .” Memelas kata kata permohonan ampun meluncur dari mulut Dursasana.

“Tutup mulut buayamu yang kotor ! Kamu harus ingat ketika kamu masih dalam
keadaan jaya, tingkah lakumu sungguh sangat membuat jengkel saudara sepupumu.
Sekarang waktunya kamu menuai tindakanmu dahulu yang selalu mencari kematian
kami semua bersaudara anak Pandu. Bahkan kakak iparku Drupadi hendak kau buat
malu ketika kamu menang dalam judi dadu, hingga sumpahnya harus aku luwar, agar
ia dapat kembali bergelung”. Mendengar permohonan ampun tidak digubris, dengan
muka yang memerah marah dan gemetar, kemudian berubah pucat pasi tanda
keputus asaan mendera dadanya.

Maka takdir menjemput akhir hidup manusia yang selalu berjalan dalam kepongahan
itu dengan sumpah serapah yang masih membuncah dari mulutnya. Kekesalan Bima
terlampiaskan dengan memelintir anggauta tubuh lawannya hingga tercerai berai.
Tidak puas juga, bagian anggauta badan Dursasana yang sudah tercerai berai
dilemparkan kesegala penjuru.

Memang demikian, Dewi Drupadi, ia pernah mempunyai janji, ia tak kan pernah
bergelung rambutnya apabila ia belum berkeramas dengan darah Dursasana. Janji itu
terucap ketika ia hendak dipermalukan oleh Dursasana di arena judi dadu. Janji itu
terucap disaksikan oleh semua yang hadir dalam arena itu termasuk Prabu Kresna.
Walaupun ia tak dapat dipermalukan karena pertolongan dewa, kain yang menutup
tubuhnya tak dapat dilepas seakan tiada berujung. Maka kesempatan itu tak hendak
dilalukan. Bima yang teringat akan sumpah kakak iparnya segera menyedot darah
Dursasana dengan mulutnya hingga kumis dan jenggotnya tergenang merah darah.
Sampai ditempat kakak iparnya Draupadi, dituangkannya darah Dursasana dari mulut
dan perasan darah dari jenggot dan kumisnya, yang kemudian dipersembahkan
dihadapan Drupadi yang dengan senang hati menjadikannya luwar atas janjinya
ketika itu.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 18


Episode 17 : Tekad Durna Menegakkan
Kembali Harga Diri
Sejenak kita kembali kepada saat padang Kurusetra bergejolak, atas kehendak
Adipati Karna dalam menjalankan perang di waktu malam. Kita beralih ke tempat
yang lain namun dalam waktu yang bersamaan, di hutan Minangsraya. Ditempat ini
terlihat bentangan suasana alam nan luas. Suasana yang tergelar samar dan muram,
seperti halnya cahaya kunang-kunang. Tak berdaya sinarnya, kalah tertelan oleh
cahaya bulan purnama di awang-awang. Ketika itu pranata mangsa telah menunjuk
pada musim kemarau dan awan tipis berarak di kaki langit, menjadikan terpesona
yang melihatnya. Bahkan juga mahluk seisi hutanpun ikut terpana, batang pohon
kayu besar-pun terbakar.

Gambaran suasana yang ada di hutan Minangsraya ini, saat Pandita Durna yang
terlunta-lunta dan sakit hati, dijatuhi murka sang Duryudana. Duduk bersila dibawah
pohon baniyan, resi Durna mengheningkan cipta. Semua panca indriya dimatikan,
hanya rasa jati yang dimunculkan. Terseret sukma sang begawan kedalam alam layap
leyep, alam samar. Dan pesatlah laju suksma sang Pandita melesat keharibaan sang
gurunadi, guru sejati, Ramaparasu.

Kaget sang Ramaparasu melihat datangnya Kumbayana yang menampakkan wajah


murung.

Sembah bakti telah dihaturkan ke haribaan Ramaparasu atau Ramabargawa.


Kemudian Kumbayana menyampaikan segala isi hatinya.

“Guru, hamba telah kehilangan harta yang tak bernilai harganya. Bahkan seluruh
raga ini telah terasa bagai terseret runtuhan gunung Mahameru. Luluh lantak sudah
tak berujud lagi”

“Apa sebab kamu merasa demikian, segala kesaktian, guna kawijayan kanuragan,
kasantikan telah kau terima dariku waktu lalu, bagaikan telah tertuang habis
mengalir kepadamu. Dan bila kamu merasa telah kehilangan harta yang tak ternilai
seperti yang kau sebutkan tadi, segera jelaskan apa maksudnya.” Rama Bargawa
menanyakan, namun dalam hatinya ia tidak syak lagi, bahwa didepan telah
menjelang peristiwa besar yang menanti garis perjalanan Kumbayana muridnya.

“Bapa Guru, hamba telah kehilangan kepercayaan dari junjungan hamba Prabu
Duryudana dalam mengemban tugas sebagai seorang senapati. Inilah yang hamba
anggap kehilangan yang terbesar dalam hidup. Kehilangan kepercayaan yang
berturut-turut terjadi, setelah putra kesayangan hamba satu-satunya Aswatama,

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 19


telah diusir jauh dari pandangan mata junjungannya. Dan kini kehilangan
kepercayaan dari seorang raja mengenai kegagalan hamba dalam melakukan tugas,
adalah, bagai runtuh dan leburnya harga diri. Sekali telah runtuh, banyak waktu dan
usaha yang teramat sulit untuk mendirikannya kembali, malah mungkin tak kan
pernah lagi terbangun kepercayaan itu lagi” sedih Kumbayana memuntahkan isi
hatinya, mukanya tertunduk dalam, menanti jawab sang guru yang apapun
ucapannya nanti, dalam niatnya ia akan menjalankan sepenuh hati.

“Jadi apa maksudmu sekarang ? Apalagikah yang harus aku berikan untuk mengatasi
masalahmu ?” sang guru sebenarnya berwatak keras sepanjang hidupnya, namun
sekarang tersentuh hatinya menanyakan maksud Kumbayana.

“Berilah hamba pencerahan. Krisis kepercayaan yang terjadi pada diri hamba
sekarang, telah menutup nalar hamba terhadap segala pertimbangan dan keputusan
yang harus hamba ambil. Sekali lagi mohon pencerahannya bapa guru.” Memohon
dengan seribu hormat Kumbayana kepada sang guru.

“Sekarang kamu sedang menimbang perkara apa ?” Kembali Ramaparasu menegaskan


pertanyaannya.

“Haruskah hamba meneruskan peran yang sedang hamba pikul dipundak ini, apakah
cukup disini riwayat Kumbayana, dan kemudian beban itu kami letakkan ? Kemudian
hamba minta kerelaan paduka guru, agar hamba dapat menjadi abdi paduka guru
selama-lamanya !” Kumbayana mengakhiri kalimat itu dengan kesan mendalam bagi
sang guru bahwa ia benar-benar ada dalam keputusasaan yang berat.

“Kumbayana, pantang bagi manusia sepertimu yang walaupun pada kenyataanya


kamu adalah seorang pandita, namun dalam jiwamu masih bersemayam jiwa satria
yang kuat. Seharusnya kamu tidaklah meletakkan beban yang disandangkan ke
punggungmu, bila belum memperoleh kata perintah berhenti dari yang memberi
beban. Apalagi menyerah kemudian memilih pergi ke alam kesejatian”. Sejenak
Rama Parasu berhenti berbicara, ia mengamati perubahan air muka Kumbayana.

Lanjutnya “Bila alam kesejatian yang hendak kau raih, jalan ke arah itu janganlah
dilalui melewati keputusasaan. Segeralah kembali ke medan Kurusetra. Tak perlulah
kamu kembali kehadapan Duryudana, tapi segeralah kerjakan apa yang menjadi
tugasmu. Menang atau kalah itu adalah darma satria. Menang kamu harus
meneruskan darmamu, dan bila kalah, jalan kesejatian itulah yang seharusnya kau
lalui menuju tempat suci. Itu adalah seharusnya jalan utama bagi seorang kesatria
yang harus dilalui”

“Baik, hamba akan menuruti segala sabda paduka Guru.” Mengangguk Kumbayana,
mengerti yang dimaksudkan oleh gurunya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 20


“Terimalah bekal sarana sakti dalam menuntaskan tugas itu. Bulu merak ini mampu
membuatmu takkan terlihat dengan mata telanjang. Syaratnya adalah kamu tidak
boleh bicara ketika menggunakannya. Tetapi bila anak-anakmu Pandawa kuasa
untuk mengantarmu kealam abadi nanti, itu pertanda bahwa merekalah yang
sebenarnya berlaku benar dan pantas memenangi perang, atau sebaliknya.”

Gb. 50 – Pandita Durna

Kembali ke raga, sukma sang Kumbayana, setelah mendapatkan pembekalan dari


sang gurunadi. Langkah ringan Pandita Durna diayun kembali ke Kurusetra. Ia telah
menimbang-nimbang tentang hal dihadapannya. Mukti dan mati sekarang terlihat
bagai hanya tersekat oleh lembaran setipis kulit bawang. Ketidakpercayaan akan
kemampuannya sebagai senapati, akan ia balikkan menjadi keberhasilan bagi negara
tempat ia mengayom, bagi dirinya sendiri dan terpenting bagi anak turunnya
Aswatama. Itulah tekad yang menguat di hatinya. Apapun kejadiannya nanti, telah
tidak menjadi beban lagi baginya.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 21
Malam tinggal sepotong. Malam yang ditempat lain, di padang Kurusetra baru saja
terhenti persabungan nyawa, prajurit Pringgandani melawan prajurit dari negara
Awangga dan segenap jajahannya. Malam dengan pemandangan dan peristiwa yang
mengerikan. Namun ditempat ini, langkah Pandita Durna seakan diberkati alam
semesta. Pemandangan alam yang dilalui menampakkan asrinya hamparan keindahan
bagai sebuah tamasya. Bulan lepas purnama mengambang dilangit, sinarnya terbias
oleh air telaga bening bagai bayangan seekor kura-kura yang mengambang.
Sementara sisa gelap malam masih mengelipkan bintang-bintang yang menyebar
bagai terpencarnya sari bunga tertiup angin. Ayam hutan berkokok merdu dari arah
ladang pegagan, ketika sang Pendita telah sampai dipinggir hutan menjelang terang
fajar.

<<< ooo >>>

Dan ketika semburat merah matahari kembali menerangi hamparan perdu pinggir
hutan Minangsraya, dilihatnya Patih Sangkuni berjalan diiring oleh anak terkasihnya
Aswatama. Dapat akal ia untuk menguji ilmunya, segera ajian Laring Merak dirapal
menurut petunjuk sang guru. Dicolek patih Sangkuni dengan gaya kocak kebiasaan
mereka berdua yang sering bercanda.

“Aswatama, kamu mencolek-colek aku, ada apa ?!” Sangkuni yang terheran,
menanyakan ke Aswatama ketika punggungnya merasa ada yang menyentuh.

“Hamba tidak melakukan itu paman” sanggah Aswatama.

“Lha kalau begitu, pasti disini banyak jin setan periprayangan yang kerjaannya
mengganggu manusia !” Sangkuni setengah berbisik mengatakan kepada Aswatama.

“Tapi hamba tak diganggunya. Mungkin hamba orang yang tidak banyak dosa jadi
tidak diganggu.” Jawab Aswatama sekenanya.

“Kalau begitu aku ini manusia yang banyak dosa, begitu ?” kembali Sangkuni
menegaskan.

“Ya begitu, memang kenyataannya !” terkekeh Pandita Durna menyahut. Maka


tampaklah sosok Durna dihadapan keduanya.

Gembira Patih Sangkuni segera merangkul Pandita Durna. Kemudian berganti sang
Pandita merangkul anak tunggal kesayangannya, Aswatama.

“Lha Wakne Gondel, sudah dua malam aku mencarimu, ayolah kakang, Sinuwun
sudah mengharapkan wakne Gondel untuk meneruskan peran andika sebagai
senapati. Sinuwun Prabu Duryudana menyampaikan rasa sesal yang tak terkira.
Maklumlah, beliau banyak beban dipunggungnya yang kian berat. Apalagi kematian

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 22


putra lelaki satu-satunya, telah meruntuhkan moral perangnya. Tugas wakne Gondel
sekarang adalah, mengangkat kembali moral sinuwun Prabu Duryudana.”

“Ya aku sanggupi. Hari ini sebelum matahari tenggelam, aku sanggup menyelesaikan
perang dengan kemenangan !“. Pendeta Durna menjanjikan.

“Anakku Aswatama, untukmu aku pesankan, jangan dulu kamu ikut dalam
pertempuran ini, pergilah menjauh dari arena. Kalau aku sudah dapat membuktikan
kerjaku, pasti sinuwun Duryudana akan mengampuni kesalahanmu“.

Berita kembalinya Pandita Durna telah memberi bahan bakar semangat baru bagi
prajurit Kurawa. Prabu Duryudana gembira mendengar kedatangan kembali agul-agul
sakti sebagai senapati. Melebihi kegembiraan ketika malam tadi, kakak iparnya,
Adipati Karna telah berhasil membunuh Gatutkaca.

Walaupun sang Pendita tidak langsung menghadap, namun kesediaannya kembali


mengatur peperangan yang disampaikan oleh pamannya, Sangkuni, telah
menjadikannya Duryudana bangkit kepercayaan dirinya lagi.

Perang campuh pun kembali berlangsung siang itu. Telah tersedot habis tenaga dalam
peprangan malam kemarin, sisa prajurit Kurawa yang selamat dari kehancuran
perang malam telah kembali bertarung mengadu peruntungan siang ini.

Melihat kelelahan yang mendera para prajurit Bulupitu, sang Senapati tidak tega.
Maka diambil alihlah kendali peperangan dengan peran utama ada pada tangan
Pandita Durna sendiri. Amukan sang Senapati tua, yang kembali dari pengasingan diri
kemarin hari, membawa korban sedemikian besar bagi para prajurit Amarta. Senjata
Jayangkunang ditangannya dengan ajian laring merak yang membuatnya tidak kasat
mata. Mengerikan bagai seberkas api ndaru braja berkobaran ditengah palagan
peperangan, menghanguskan siapapun yang berani menghadang gerakannya.
Gerakannya yang kadang mematikan nyala kerisnya dan berpindah posisi amukannya
membuat lawan kerepotan dalam menentukan dimana arena amukannya akan
terjadi.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan bagi prajurit Amarta, Drestajumna


segera menghadap Sri Kresna dan Arjuna.

“Dhuh para sekti, kami meminta pertimbangan kepada paduka, apakah yang harus
kita lakukan agar dapat menghentikan amukan senapati yang tak terlihat dengan
mata para prajurit”.

“Adimas Drestajumna, sudah aku pikirkan sebelum dimas sampai dihadapanku. Aku
akan mengutus kakakmu Arjuna, untuk menghentikan jatuhnya korban dari tangan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 23


Pandita Durna”. Tenang Prabu Kresna memberikan ketegaran hati kepada sang
senapati Pandawa.

“Adikku Arjuna, hanya kamulah yang dapat menghentikan amukan gurumu Resi
Kumbayana. Hanya pesanku, jauhkan rasa yang mengatakan itu adalah gurumu yang
harusnya kamu hormati dan patuhi semua perkataannya. Ingatlah kata-kataku waktu
lalu, yang mengatakan, ini adalah perang dimana tidak ada balas budi antara guru
dengan muridnya. Yang ada hanyalah perang dimana tempat itu adalah arena untuk
meluwar segala janji dan memetik yang kita tanam”. Kresna mengulangi pesan yang
pernah ia sampaikan ketika perang baru saja berlangsung. Ketika itu ragu hati Arjuna
menyaksikan lawannya adalah para saudara sendiri, paman, eyang, bahkan gurunya
sendiri, hingga membuat semangatnya luluh dan ia jatuh terduduk dengan badan
yang gemetar.

“Kata kata kanda Prabu akan kami junjung tinggi dan akan hamba laksanakan. Mohon
petunjuk kanda Prabu selanjutnya” Mantap Janaka menjawab.

“Baiklah. Sarana untuk melihat keberadaan lawanmu adalah rumput Sulanjana yang
kamu miliki sejak lama, pergunakanlah untukmu sendiri dan orang-orang yang kamu
percayai dalam membantu usahamu, adimas”. Pesan Prabu Kresna mengakhiri
pembicaraan.

Maka beranjaklah Arjuna mengatur barisan dan menggunakan sarana agar dapat
melihat dimana adanya musuh yang tidak terlihat itu. Sementara Kresna memberi
pesan juga, agar mengulur waktu karena dirinya hendak mencari keberadaan
Werkudara yang meninggalkan Tegal Kuru tanpa pamit hendak kemana.

Prabu Drupada yang mendapatkan jatah rumput sulanjana segera menghadang


gerakan Pandita Durna. Ia merasa masih punya ganjalan dengan teman karibnya
dahulu. Setengah memaksa kepada Arjuna dan anaknya Drestajumna, agar ia dapat
melayani senapati Bulupitu itu.

Maka ketika sari rumput sulanjana sudah diteteskan pada matanya, Drupada dengan
mudahnya mendapati dimana Begawan Durna berada.

“Heh Kumbayana, tak ada gunanya kamu bersembunyi dalam ajianmu. Ayolah kita
menentukan siapa sejatinya yang lebih benar dalam persoalan trah Barata ini”.

“Ooh . . kakang Sucitra, baik aku layani segenap kesaktian yang kamu miliki. Lupakan
saat dahulu ketika bersama sama berguru. Lupakan saat kita sudah melewati
simpang jalan dan kamu sudah mukti wibawa di Pancalaradya, yang mengakibatkan
kamu kurang berkenan, karena aku kurang tata susila ketika aku menemuimu.
Peristiwa yang membuat marah adik iparmu Gandamana dan membuat cacat

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 24


seluruh ragaku. Tapi dalam pertemuan ini, persahabatan kita harus berakhir dalam
permusuhan. Salah satu dari kita harus berakhir masa pengabdiannya sebagai tokoh
yang membawa kebenaran dalam sudut pandang kita masing-masing”.

Gb. 51 – Prabu Drupada (Sucitra)

Maka bersiaplah kedua tokoh tua itu. Serangan demi serangan segera mengalir
gencar. Pada mulanya anggauta tubuh sang Drupada yang lebih lengkap ditambah
dengan ajiannya Lembu Sekilan mampu mendesak posisi sang Pandita yang hanya
bertangan fungsi tunggal. Namun pandita Durna adalah seorang guru yang setiap kali
menurunkan ilmunya bukan menjadi berkurang, tetapi malah semakin matang.
Sementara Prabu Drupada adalah seorang raja yang walaupun sakti pada masa

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 25


mudanya, tetapi kehidupan istana yang lebih menjanjikan kemewahan pelayanan
membuat ia kurang terasah kemampuan fisiknya.

Maka kembali lelaku pengasahan ilmu yang berkesinambungan-lah yang unggul. Hal
ini yang membuat Durna berada diatas angin. Apalagi ketika ada kesempatan
terbuka, sang pandita mampu menancapkan senjatanya. Tembus dada sang Sucitra
tua hingga kejantungnya.

“Kumbayana, aku mengakui kesaktianmu lebih unggul dariku, dan rasanya sudah
dekat ajalku . . . . . “ terpatah kata kata Sucitra yang sudah roboh ditanah yang
bersimbah darah. Ia menyampaikan isi hati dihadapan Kumbayana yang masih berdiri
mematung. Dengan nafas yang makin satu satu keluar dari mulut yang berlumur
darah, Drupada lirih melanjutkan,

“Namun . . . persahabatan kita hendaknya tidak berhenti . . . . sampai disini. Aku


akan sabar menungguimu kembali ke alam kelanggengan bersamamu . . . mudah-
mudahan waktu tunggu . . . . ini tak akan lama”

Termangu sang Kumbayana ketika melihat teman seperguruan tewas ditangannya.


Seketika tersadar ketika sorak-sorai membahana mengabarkan tewasnya Prabu
Drupada.

Dilain pihak, sesal sang Arjuna melihat mertuanya tewas. Tetapi itu tidaklah
berguna. Kehendak keras Prabu Drupada yang memintanya agar diberi kesempatan
bertarung dengan teman lamanya, ternyata adalah saat ia mengantarkan jiwanya
menuju keabadian.

Tak ada pilihan lagi bagi Arjuna-Dananjaya untuk mengatasi runtuhnya moral
prajuritnya, karena gugurnya Prabu Drupada. Maka majulah ia kehadapan gurunya.

“Sembah baktiku kami haturkan kehadapan Bapa Guru” Dananjaya mengaturkan


sembahnya.

“Ya, aku terima. Betapapun kamu sebagai musuhku, kamu tidak lupa akan suba sita.
Inilah yang aku kagumi dari watak para anak Pandu” Durna terkesima dengan apa
yang terjadi dihadapannya.

Lanjutnya “Lain dari itu, kesaktian anak Pandawa tidak aku ragukan lagi. Ajian
Laring Merak yang aku banggakan tidaklah ada artinya dihadapanmu. Marilah kita
mengakhiri cerita masa lalu. Sudah saatnya Baratayuda menentukan, mana pakarti
kita sebelumnya yang harus dipanen pada saat ini”.

Sekali lagi Arjuna melakukan sembahnya dan bangkit untuk melakukan kewajiban
sebagai seorang prajurit yang tak lagi mengenal status sebagai guru dan murid.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 26


Pertempuran tangan kosong telah dimulai. Arjuna yang masih ada perasaan sedikit
segan terhadap gurunya, bertempur dengan setengah hati. Pukulan dan gerak yang
dilancarkan tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga, maka tak lama kemudian
punggungnya terkena sabetan kaki gurunya hingga ia merasa kesakitan. Tersengat
rasa Arjuna yang berubah menjadi panas karena rasa sakit yang mendera bagian
tubuh yang dikenai oleh Pandita Durna, kali ini ia bersungguh-sungguh.
Kesempurnaan raga dan timbunan kesaktian yang ditambah dengan tenaga yang lebih
baik karena faktor usia, membuat ia mendesak sang Pandita.

Mundur Durna sejenak dan mencipta api berkobar dari senjatanya. Kobaran dahsyat
api dari ajian guntur geni melanda medan Kurusetra membuat lari tunggang langgang
prajurit Amarta.

Waspada sang Dananjaya, segera mencipta mendung pekat melayang diatas palagan.
Seketika hujan deras disertai prahara melanda medan Kuru memadamkan kobaran
api. Itulah ajian guntur wersa-prahara dari gurunya sendiri yang disempurnakan oleh
Batara Indra. Adu kesaktian pengabaran berlangsung silih berganti. Segala bentuk
kesaktian yang diciptakan Pandita Durna berhasil dipunahkan Arjuna, bahkan
mendesak balik pertahanan Durna.

Ketika ilmunya dapat dipunahkan, segera Kumbayana melolos keris kecilnya Cis
Jayangkunang dan kembali perang tanding senjata keris berlangsung seru.
Perimbangan pertempuran berlangsung mengagumkan dengan keris Pulanggeni
ditangan Arjuna, hingga banyak prajurit dari kedua pihak berhenti menonton tanding
senjata itu.

Kematangan Sang Begawan dalam menggunakan ilmu kesaktiannya menjadikan


peperangan berlangsung dengan seimbang. Hingga Kresna kembali dari pencarian
terhadap Werkudara yang berhasil membunuh Dursasana, pertempuran masih tetap
berlangsung sengit. Maka yang terjadi selanjutnya adalah perang strategi. Bila secara
wajar pertempuran akan memakan waktu dan berlarut-larut, maka segera ia
menyusun strategi.

“Werkudara, ketahuilah, bahwa gurumu itu dalam bertempur mempunyai tujuan


tertentu”.

“Apa maksudmu ?” Werkudara menukas.

“Nanti dulu, aku akan menunjukkan kepadamu sesuatu. Ingatlah, beberapa hari ini
gurumu meninggalkan peperangan karena sakit hati atas ketidak percayaan
Duryudana kepada anak bapak Sokalima. Misi dari gurumu sekarang, tidak lain
adalah mengembalikan harga dirinya dan sekaligus mengembalikan kepercayaan
junjungannya kepada anak tercintanya, Aswatama. Semua yang ia lakukan adalah

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 27


bermuara kepada kemukten bagi anak yang dicintainya itu”. Sejenak Kresna diam
dan menyelidik, apakah kata-katanya dimengerti oleh adik sepupunya itu.

Yang dipandanginya mengangguk setengah mengerti. “Teruskan dongenganmu, biar


aku tidak setengah-setengah menelan omonganmu”

“Kamu lihat siapa yang menaiki gajah dan berperan sebagai senapati pendamping
?” Kresna bertanya, namun kembali ia meneruskan “Itu adalah raja dari negara
Malawapati, Prabu Permeya”.

“Terus apa hubungannya dengan reka dayamu ?” Kembali Bima memotong.

“Gajah yang dinaiki itu bernama Hestitama, bunuh prabu Permeya dengan gajahnya
sekalian, kemudian kabarkan pada semua prajurit agar mereka mengatakan
Aswatama telah tewas !”

Melompat Werkudara dengan menimang gada Rujakpolo. Dihampiri Permeya yang


duduk pongah diatas gajahnya. Terkejut Permeya ketika dihadapannya telah berdiri
dengan teguh sosok Werkudara. Terkesiap darahnya ketika melihat gada ditangan
Bima-Werkudara berputar mengancam dirinya. Tak pelak lagi mentalnya jatuh.
Memang demikian, kesaktian Permeya memang tak sebanding dengan Werkudara.
Maka disertai mental yang telah runtuh, tak sulit Werkudara menebas keduanya,
Permeya beserta tunggangannya, gajah Estitama. Tanpa bisa mengaduh, keduanya
tewas dengan isi kepala terburai.

Seperti direncanakan oleh Sri Kresna, geger para prajurit meneriakkan Aswatama
telah tewas. Dan berita itu tak lama kemudian sampai ditelinga Begawan Durna.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 28


Episode 18 : Palgunadi dan Janji
Sang Guru

Gb. 52 – Palgunadi

Bingung dan gundah rasa Sang Begawan mendengar teriakan bersahut-sahutan yang
mengabarkan kematian putranya Aswatama. Ia bertanya kesana kemari tentang
kebenaran berita itu kepada beberapa prajurit yang ditemuinya. “Heh prajurit, apa
benar Aswatama tewas ?”

“Benar begitu, ini yang saya dengar !” jawab beberapa prajurit yang ia tanya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 29


Ia berketetapan hati untuk menanyakan kepada para Pandawa yang dianggapnya
dapat berkata jujur. Bertemulah ia dengan Nakula dan Sadewa

“Anakku kembar, kamu berdua adalah dua orang yang lugu, cepat katakan, apa
benar Aswatama telah tewas ?”

“Itu yang saya dengar bapa, bahwa Aswatama telah tewas” keduanya menjawab
seadanya. Namun jawaban keduanya yang tak mengurangi rasa penasaran, bahkan
makin makin membuat ia bertambah bingung dan tubuhnya menjadi lunglai.

” Ah . . sama saja, bohong ! Kamu berdua memang tidak bisa dipercaya !” ketus
sang Begawan, diputuskannya untuk mencari Puntadewa yang selamanya tak pernah
bohong.

Melihat gelagat bahwa Pendita Durna hendak mencari tahu atas berita kematian
anaknya kepada sepupunya Puntadewa, Kresna mendekati Puntadewa dan
mengingatkan.

“Adimas Puntadewa, kami hanya mengingatkan kepadamu agar berbuat sesuatu


ketika nanti Bagawan Durna datang kepadamu, dan menanyakan tentang keberadaan
Aswatama. Perbuatan dan perkataan adinda Prabu nanti bila berhadapan dengan
Bapa Pandita, adalah titik dimana Pendawa akan unggul atas Kurawa atau
sebaliknya”.

Kata kata bersayap Sri Kresna dimengerti oleh Puntadewa, “Akan kami lakukan apa
yang diperingatkan oleh kanda Prabu”

Demikiankah, memang benar, Begawan Durna yang sudah kalang kabut pikirannya
datang kepada Puntadewa menanyakan perihal anaknya.

“Puntadewa anakku, kamu adalah satu diantara manusia langka yang mempunyai
darah yang berwarna putih. Manusia berdarah putih yang bila darah itu menimpa
bumi dapat menyebabkan bumi menjadi terbelah. Hati orang yang berdarah putih
mempunyai kerelaan yang tiada terkira, apapun yang orang minta, tidak memandang
itu dari golongan apapun, pasti akan ia kabulkan. Kata-katanya juga tak akan pernah
bohong barang sekalimatpun” Durna memuji-muji Puntadewa dan berharap ia
mengatakan sejujurnya apa yang terjadi.

Lanjutnya, “Sekarang aku sudah berhadapan dengan manusia semacam itu. Sekarang
katakan, apakah benar Aswatama mati? Itu hal yang bohong, bukan ? Aswatama
sekarang masih hidup, bukankah begitu ?!” Setengah mendesak agar ia mengatakan
hal yang sebenarnya dan mengharapkan agar anaknya masih dalam keadaan hidup.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 30


Tetapi terbawa oleh kekalutan pikiran dan riuhnya suasana peperangan, maka ketika
Puntadewa yang pantang berbohong mengatakan, “Bapa Guru, yang kami tahu,
memang Hestitama mati” dan ia mengatakannya dengan tekanan kalimat pada kata
tama sementara kalimat Hesti terucap pelan. Diterima dengan salah, maka jatuhlah
Durna terkulai bersandar tebing batu. Setengah tega, ditinggalkan gurunya yang ada
antara sadar dan tidak. Dalam hati Begawan Durna, jelaslah, Puntadewa yang tak
pernah bohong mengatakan Aswatama telah tewas.

Ternyata tidak hanya kalutnya hati dan riuhnya suasana perang yang mengakibatkan
Durna salah terima, sukma raja Paranggelung, Prabu Palgunadi yang sewaktu muda
bernama Bambang Ekalaya atau Ekalawiya yang masih membayangi kehidupan
Begawan Kumbayana di alam madyantara-pun, punya peran untuk meniupkan kalimat
Aswatama ditelinga sang Begawan.

“Nah Bapa Guru, sekarang adalah waktunya bagi muridmu untuk membawamu ke
alam dimana tak ada lagi aturan yang membatasimu, agar tidak menerima murid
selain dari darah Barata. Bapa guru tak lagi dapat bertindak pilih kasih kepada
setiap muridmu. Mari guru akan kita selesaikan perkara yang masih belum selesai
waktu lalu” kata Prabu Palgunadi yang melihat “guru imaginasi”-nya menjadi tak
berdaya atas keyakinan bahwa anaknya sudah tewas.

<<< ooo >>>

Gb. 52 – Kesetiaan Palgunadi kepada Guru Imajinasinya

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 31


Demikianlah, diceritakan pada waktu itu, Prabu Palgunadi yang sangat gandrung
dengan ilmu kanuragan. Walau ia sudah menjadi raja dengan segala kemewahan
duniawi dan beristri cantik yang setia, Dewi Anggrahini, tetapi ia sangat kepincut
dengan ilmu jaya kawijayan dan kanuragan yang diajarkan oleh Durna. Maka ia
merelakan meninggalkan kerajaannya dan menyatakan niatnya berguru kepada
Begawan Durna.

Jelas saja ia ditolak, karena Begawan Durna sudah diberi batasan, bahwa yang berhak
menyerap ilmu darinya adalah hanya trah Barata, alias putra-putra dari
Adipati Drestarastra dan Prabu Pandu, serta putra Raden Yamawidura.

Dengan perasaan sedih, Palgunadi pergi dari hadapan Begawan Durna.

Kerasnya tekad Palgunadi makin menjadi-jadi ketika ia ditolak berguru di Sokalima.


Dengan ditemani istri setianya ia membangun arca berujud Begawan Durna ditempat
pengasingannya. Dipusatkan pikirannya seakan setiap kali ia ada didepan arca Durna,
ia sedang menerima ilmu kanuragan, kasantikan beserta segenap wejangannya.

Waktu berlalu, dan tahunpun berganti. Ketrampilan tata perkelahian dan olah panah
sang Palgunadi sedemikian hebatnya, oleh karena ketekunannya dalam memusatkan
pikiran dihadapan arca yang direka sebagai sang guru sejatinya.

Maka ketika ia sedang berkelana di hutan, bertemulah ia dengan Permadi-Arjuna.


Harga diri memperebutkan buruan menjadikan perang tanding diantara keduanya.

Berhari-hari tanding tiyasa berlangsung dengan imbang. Tetapi dalam olah permainan
panah, Arjuna kalah oleh ketrampilan Palgunadi.

“Heh Arjuna, jangan menyesal kamu berhadapan dengan murid Sokalima, Begawan
Durna. Masihkan kamu hendak menyamai kesaktianku ? Taklah kamu bakal
mengalahkan murid terkasihnya !”

Masygul dipermalukan, bahkan sumbar sang Palgunadi yang menyebut nama gurunya
adalah juga sebagai guru musuhnya, ia kembali ke pertapaan Sukalima dan
mengadukan peristiwa itu dan menuduh, bahwa gurunya telah secara diam diam
berselingkuh dengan menerima murid selain saudara sedarah Barata-nya.

Tak terima dengan tuduhan itu, ia ingin membuktikan ketidak benaran tuduhan
itu,dengan mengajak Arjuna ketempat Palgunadi berada.

Setelah bertemu, Ekalaya terkesiap hatinya. Sangat bersuka cita ia sehingga tak
dapat berbuat apapun, kekagumannya atas Sang Begawan seakan mengunci segenap
tindakannya. Setelah tersadar, ia menjatuhkan diri berlutut dihadapan Begawan
Durna, dan dengan takzim ia menghaturkan sembah,

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 32


“Guru, perkenankan muridmu menghaturkan bakti atas kunjunganmu terhadap
muridmu ini. Sungguh anugrah yang tak terhingga kedatangan paduka guru, sehingga
sejenak hamba tak dapat berbuat sesuatu apapun dalam menerima kedatangan
paduka guru yang tiba-tiba ini”

Panas hati Arjuna melihat adegan didepannya, “Benarlah ternyata, bahwa bapa
Durna telah menyalahi janji dihadapan para sesepuh kami”

“Eits, nanti dulu . . .! Inikah orang yang mengaku sebagai muridku ? Bila memang
sungguh begitu, lakukan layaknya seorang murid dihadapan gurunya”, Durna yang
merasa terdesak oleh tuduhan yang dilontarkan dengan rasa kecemburuan yang besar
dari Arjuna coba berkelit dengan susah payah.

“Apakah yang Guru hendak perintahkan kepada muridmu ini, akan hamba kerjakan
sesuai kemampuan kami” mantap jawaban Palgunadi mengharap ia tidak disisihkan
dari statusnya sebagai murid Sokalima. Tersenyum ia seakan segenap permintaan
sang guru maya itu bakal ia penuhi. Tak tahu, bahwa olah rekayasa guru Durna
mempunyai tujuan memunahkan segala ketrampilannya dalam olah warastra.

“Begini Palgunadi, bila kamu hendak diakui sebagai muridku, maka berikanlah cincin
yang menyatu pada jari manismu itu !” Akal Durna seketika terang sewaktu melihat
cincin Gandok Ampal yang menyatu pada jari manis Ekalaya.

“Aduh Sang Resi, adakah cara lain agar hamba dapat menukar permintaanmu, duh
sang Guru ?” Memelas kata-kata Ekalaya mendengar permintaan itu. Cincin Gandok
Ampal yang melekat pada jarinya adalah penyeimbang gerak jari tangan yang
menjadikan ia dapat dengan jitu membidik sasaran. Bahkan benda itu telah menyatu
dalam kulit daging sehingga bila dilepaskan nanti, maka sama artinya ia menyerahkan
kesaktian bahkan nyawanya.

Ketika ia masih berpikir dan gurunya pun berpikir sembari menunggu keputusan kata
akhir dari Palgunadi, Arjuna menyelonong menyampaikan usulnya.

“Bapa Guru dan juga Palgunadi, bila tidak keberatan, maka cincin itu dapat
dipertahankan melekat pada jarinya, asalkan ditukar dengan yang ada dibelakangmu
itu, Palgunadi”

“Apa yang kamu maksudkan Arjuna ?” Tanya Palgunadi yang heran dengan
permintaan Arjuna.

“Wanita dibelakangmu dapat kamu tukar dengan cincin yang melekat dijarimu.
Bukankan itu hal yang bersifat adil Bapa Guru ? Jelas Arjuna sambil meminta
pertimbangan kepada gurunya dan dijawab Sang Guru dengan menganggukkan
kepalanya.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 33
Memerah muka Palgunadi ketika sang istrinya disebut sebagai tanda tetukar atas
pengakuan sebagai murid Sokalima. Kedua permintaan antara guru dan murid
Sokalima itu telah menyudutkan pilihan atas kuatnya hasrat memiliki sesuatu. Ia akan
merelakan nyawanya bila cincin itu ia serahkan, sedangkan kehormatan seorang
suami akan memberontak bila seorang istri diminta lelaki lain

Berpikir keras Palgunadi menimbang yang manakah yang hendak ia pilih. Samar ia
mendengar guru maya-nya mengingatkankan, “Palgunadi, aku tak punya cukup
waktu aku menungguimu. Cepat putuskan pertimbanganmu”

Kaget Palgunadi, terputus angan-angannya ketika ia diminta segera memutuskan


pilihannya. Sejenak ia berbalik badan memandangi Anggraini. Wanita cantik itu
tertunduk gelisah. Pilihan yang berat bagi suaminya. Anggraini adalah istri yang
sangat mengerti sekali akan watak suaminya. Ia tahu betapa suaminya sangat
gandrung dengan olah ilmu kanuragan aliran Sokalima. Pastilah ia tak akan mundur
dalam mempertahankan status ilusinya, bahwa ia adalah murid perguruan Sokalima.
Dan saat ini status guru-murid ilusi itu akan berganti dengan status diakui penuh, bila
ia dapat menyerahkan salah satu dari dua pilihan itu.

Angan itu terputus ketika suara istrinya menanyakan beberapa hal,“Kanda, apakah
rela bila seorang suami menyerahkan istrinya ? Apakah benar tindakan seorang suami
yang merelakan istrinya dijamah lelaki lain ? Tidakkah seorang suami terusik
kehormatannya bila belahan jiwanya dimiliki oleh orang yang tidak berhak memiliki
. . . .”

“Baiklah . . . “, potong Palgunadi sebelum istrinya meneruskan kalimatnya panjang


lebar, “ Sekarang aku akan memutuskan !”

Sejenak ia terdiam dan kembali menghadap Begawan Durna, yang tersenyum puas
terhadap apapun yang Palgunadi hendak pilih. Bila ia memilih istrinya diserahkan
kepada Arjuna, maka ia akan melihat, betapa Palgunadi akan tersiksa dan goyah
lahir-batinnya hingga ia merana, bahkan dapat berujung pada kematiannya. Bila ia
akan menyerahkan cincin dijarinya, ia sangat yakin, cincin itu adalah keseimbangan
jiwa raga bagi Palgunadi, dan ia akan tewas bila ia menyerahkan cincin sekaligus
jarinya.

“Guru, aku telah memutuskan. Aku serahkan . . . . . cincinku beserta segenap jiwa
dan ragaku” Tegar Ekalaya dengan pilihan hatinya. Bagaimanapun status murid
Sokalima adalah kebanggaan tiada tara baginya. Kebanggaan yang sejatinya adalah
semu dan membabi buta, telah mengantarkannya pada keputusan yang tak
mengherankan bagi setiap manusia yang bersikap sangat fanatik terhadap
kepercayaan yang sudah tertanam dalam sanubari, sebagai dogma yang tak mudah
diasak. Bahkan, bagi sebagian orang seperti itu, mengorbankan jiwa raganya

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 34


sekalipun ia rela melakukannya demi mempertahankan kebanggaan serta kebenaran
yang dipercayainya. Padahal semua kebenaran adalah nisbi, dan kebenaran bagi
suatu pihak, golongan atau perseorangan belum tentu benar bagi yang lain.
Kebenaran sejati hanya terpancar dari hukum alam semesta.

Terkekeh Begawan Durna senang, tak peduli ia sebagai manusia yang timpang rasa
keadilannya. Tak salah, bahwa ia telah diberi batasan serta janji bahwa hanya
kepada trah Barata-lah ia boleh menurunkan ilmunya. Tak terbatas pada orang
Pandawa dan Astina serta trah Yamawidura yang sekarang tinggal di Astina, tetapi
Kurawa sabrang yang terpental pada kejadian Pandawa Traju-pun 2 tetap menjadi
muridnya. Sekarang ia akan mengenyahkan satu trubusan yang mencederai janji itu,
sekaligus membuktikan kepada murid terkasihnya, Arjuna, bahwa ia tidak ingkar
janji.

“Segera letakkan jarimu diatas batu itu, relakan bahwa apa yang terjadi adalah atas
dasar kesungguhanmu dan kesetiaanmu pada perguruan Sokalima”

“Baik bapa Guru, satu kata-kata yang hendak aku sampaikan kepadamu, bila aku
mati karena peristiwa ini, ini adalah suatu tanda bagi seorang guru yang pilih-pilih
menjatuhkan kasih bagi murid muridnya…..” antara rela dan tidak Palgunadi
megutarakan isi hatinya.

“Sudahlah jangan banyak cakap, aku akan melaksanakannya sekarang juga” Durna
tidak mau terpengaruh kata-kata Palgunadi dengan memotong pembicaraannya.

Segera Palgunadi meletakkan telapak tangannya diatas batu, bersamaan dengan


dicabutnya senjata Cundamanik. Putus jari manis Palgunadi beserta cincin Gandok
Ampal dengan sekali iris. Tak dinyana begitu putus jari, yang seharusnya hanya
cedera yang ia alami, tetapi kemudian yang terjadi adalah tubuh Palgunadi bergetar
hebat. Desis kesakitan yang amat sangat keluar dari mulutnya, kemudian ia terkapar
terbujur meregang nyawa. Tewas sang Palgunadi.

Tertegun Begawan Durna dan Arjuna melihat kejadian dihadapannya, hingga ia


lengah. Cundamanik yang ada ditangan Durna secepat kilat ada pada genggaman
Anggraini yang kemudian menusukkan keris ditangannya ke dada tembus di jantung.
Menyusul sang istri setia kepangkuan suami tercinta ke alam sunya ruri. Terbujur dua
orang yang saling mencinta itu dengan meninggalkan bau harum memenuhi sekitar
tubuh keduanya.

Belum lagi tersadar sepenuhnya Begawan Durna, ia dikejutkan denga suara yang
terngiang di telinganya,

2 Baca kembali bab Rekadaya Durna Sang Senapati Tua


Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 35
“Bapa Guru, telah sempurna aku sebagai muridmu. Tetapi ajaranmu yang
sebenarnya masih aku tunggu, sampai aku melihat waktu yang tepat untuk kembali
mencecap ilmu darimu “

<<< ooo >>>

Melihat sang Drestajumna diatas kereta senapati dengan pikiran kosong, sedih dan
rasa duka mendalam setelah kematian ayahnya Prabu Drupada, maka bergeraklah
sukma Palgunadi menuju kearah Drestajumna. Segera berubah raut muka
Drestajumna menjadi liar ketika sukma Ekalaya menyatu dalam raganya.

Gb. 53 – Drestajumna pengal leher Durna

“Durna ! dimana kamu? Aku akan bela pati atas kematian ayahandaku. Ini adalah
anaknya yang dari lahir sudah menggenggam busur ditangan kiri dan menggendong
anak panah dipunggungku. Aku yang akan meringkusmu dan akan aku jadikan bulan
bulanan kepalamu !” Sesumbar Drestajumna liar dengan mata jelalatan mencari
dimana Durna berada.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 36


Maka gembira hati Drestajumna ketika melihat Begawan Durna mengeluh panjang
pendek menyesali kematian anaknya semata wayang.

“Aswatamaaaaa . . . . , huuu . . . kamu adalah harapanku, satu satunya penyambung


keturunan Atasangin. Kamu yang siang malam aku gadang-gadang bakal
menggantikan peran bapakmu. Sukur kalau kamu dapat aku jadikan raja agung
binatara dan menguasai jagad. Anakku bagus tampan Aswatama, kamu adalah anak
yang bukan sembarangan, tetapi kamu adalah manusia linuwih. Kamulah anak
setengah dewa, karena ibumu Wilutama adalah seorang bidadari. Maka kamu pasti
akan dapat dengan mudah menguasai banyak jajahan. Bahkan negara Astinapun
dapat kamu kuasai bila kamu sudah bertahta di Atasangin nanti. Anakku . . . ,
dimana jasadmu sekarang. Bila mungkin akan aku mintakan kepada ibumu agar kamu
dapat dihidupkan kembali. Wilutama . . . , pertemukan aku dengan anak tampanmu.
. .” menangis mengenaskan Durna sambil mulutnya meracau, berdiri condong
bersandar tebing batu.

Malang begawan Durna, Drestajumna yang dalam penguasaan arwah Palgunadi


melihat keberadaan Begawan Durna yang menangis meraung-raung mengenang nasib
anaknya. Tak satupun sosok Kurawa didekatnya karena mereka sibuk mencari
keberadaan Aswatama yang diperintahkan untuk menjauh dari medan peperangan.
Para Kurawa sebenarnya bermaksud untuk mempertemukan Aswatama dengan
ayahnya agar selesai masalah kekalutan jiwa yang menimpa Begawan Durna.

Tanpa sepatah kata, Drestajumna segera meraih tubuh renta dan menjadikan tubuh
itu sebagai layaknya kucing memainkan seekor tikus. Tak hanya sampai disitu,
ditebasnya leher Begawan Durna. Kepala menggelinding ditanah berdebu dan
dijadikan bola tendang dan kemudian dilemparkan jauh-jauh.

Tewas Sang Kumbayana dan sukmanya dijemput oleh sahabatnya, Sucitra, yang tidak
menunggu lama kedatangan karibnya itu ketika muda. “Lhadalah, tidak usah terlalu
lama aku menunggumu, sahabat” sambut Sucitra dengan senyum mengambang di
bibirnya dan kedua tangan mengembang menyambut kehadiaran Kumbayana.
Keduanya berangkulan, layaknya sahabat kental yang sudah lama tidak saling jumpa.

Kumbayana yang menyambut uluran kedua tangan Sucitra dan dengan hangat
membalasnya. “Hebatlah anakmu yang mengerti kemauan ayahnya, yang tak harus
lama menunggu kedatanganku. Walaupun aku juga tahu bahwa muridku Palgunadi-
pun sudah lama menunggu dan menyatu dalam raganya” Kumbayana memuji anak
Sucitra yang telah mengantarkan ke hadapan sahabatnya. Bergandengan tangan
dengan ceria keduanya melangkah menapaki tangga suci keabadian.

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 37


Diceritakan, ketika kepala itu telah hilang dari pandangan mata Drestajumna,
barulah ia merasakan keletihan yang tiada terkira. Sukma Ekalawiya yang telah
meninggalkan raganya menyadarkannya apa yang terjadi dihadapannya. “Aduh
betapa berdosanya aku yang telah tega membunuh guru para pepundenku Pandawa.
Betapa nistaku yang telah menghajar manusia sepuh yang sudah tak berdaya,
walaupun ia telah menewaskan ayahandaku, tetapi ia melakukan dengan jiwa
kesatrianya”. Drestajumna menyesali tindakannya.

Dipejamkan matanya seolah hendak mengusir bayangan yang memperlihatkan betapa


ia telah secara keji membunuh guru para darah Barata. Betapa ia menjadi giris ketika
ia membayangkan bila murid-muridnya tidak terima atas perilaku yang telah ia
lakukan. Tetapi semakin dalam dipejamkan mata itu, semakin kuat bayangan yang
menghantui hatinya.

Ketika ia membuka kembali matanya, dihadapannya telah berdiri Prabu Kresna dan
Werkudara.

Geragapan, ia kaget setengah mati karena rasa bersalah. Tetapi sejenak kemudian
ia menjadi merasa sejuk hatinya, ketika Prabu Kresna meraihnya dan memeluk
tubuhnya. Dan mengatakan, “Drestajumna, tidak ada yang perlu kamu sesali.
Segalanya adalah sudah garis takdir dari yang maha kuasa. Bukan salahmu, sebagai
titis Wisnu aku mengetahui bahwa tindakanmu bukan atas kehendakmu sendiri.
Sukma Palgunadi yang telah membalas ketidak adilan perilakunya dalam
memperlakukan dirinya sebagai murid, adalah ganjaran yang setimpal. Segera ambil
kembali kereta senapati perang, sebelum sore menjelang”

Ketika itu, berita kematian Pendita Durna telah sampai ketelinga Aswatama yang
tengah bersembunyi. Ia langsung memperlihatkan diri dan bertemu ia dengan Patih
Sengkuni. “Paman Harya, benarkah ayahandaku telah gugur ?” tak sabar ia menanti
jawaban Sengkuni.

“Benar anakku, kematian orang tuamu sungguh membuat siapapun menjadi miris
dan menimbulkan rasa tak tega. Dipenggalnya kepala orang tuamu dan dijadikannya
bola sepak yang ditendang kesana kemari”. Sengkuni menceritakan peristiwa yang
terjadi dengan dibumbui cerita yang didramatisir.

“Siapa yang melakukan, Paman Harya !” muntap kemarahan Aswatama, kembali ia


memerah mukanya dengan mata yang menyala nyalang, gemeratak giginya dan sudut
bibirnya bergetar.

“Pelakunya adalah Drestajumna . . . . !”. belum selesai Sangkuni mengucapkan


nama pelaku pembunuh orang tuanya, Aswatama telah melompat kearah palagan
peperangan, sambil menghunus keris warisan orang tuanya, kyai Cundamanik.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 38


Dicarinya Drestajumna dengan kobaran api dari bilah keris yang menyala berkobar
menyambar-nyambar dengan bunyi yang menggelegar bergemuruh ditangannya.

Gentar Drestajumna yang melihat amukan anak Durna, dan ia berlari mundur karena
merasakan tenaganya yang telah terkuras tadi dirasakannya tak kan lagi cukup untuk
menghadapi amukan Aswatama. Dan selagi ia mundur, ia bertemu dengan Setyaki
yang segera mencengkeram bahu sang senapati dengan kemarahan, “Inikah senapati
Hupalawiya ? Ketika menghadapi orang tua yang dalam keadaan tanpa daya telah
tega memenggal kepalanya ? Inikah Senapati Randuwatangan? Yang dengan gagah
berani membulan-bulani kepala dari guru para pepunden Pandawa. Tetapi apa yang
terjadi, ketika melihat amukan anaknya, senapati gagah itu ia telah “tinggal
gelanggang colong playu”dengan muka pias pucat bagai segumpal kapas !”

“Setyaki, aku menjadi senapati bukan atas kemauanku sendiri. Aku jadi senapati
adalah karena jejak laku sepanjang hidupku dimasa lalu yang dapat mengatasi segala
kesulitan yang menghadang dihadapanku dan tak pernah gagal dalam melakukan
tugas. Janganlah mencercaku tanpa dasar. Apakah kamu akan berusaha
menggantikanku ? Langkahi dulu mayatku sebelum kamu melakukan itu!”

Keduanya segera berhadapan dengan kuda-kuda kaki yang siap menyerang. Tetapi
hardikan yang keras telah menghentikan langkah keduanya. Suara hardikan itu
datang dari mulut Prabu Kresna, “Setyaki, Drestajumna berhentilah! Alangkah
memalukan bila ini menjadi tontonan musuh. Betapa hinanya kamu berdua yang tak
urung juga akan mendera aku sebagai seorang penasihat perang”.

Kedua orang yang bersengketa itu akhirnya sama-sama duduk bersimpuh menghadap
Sang Prabu. “Setyaki, jangan menjadi pandir dan seolah-olah kamulah yang paling
benar. Tanyakan dulu latar belakang peristiwa pada yang bersangkutan. Jangan
sesuatu dibawa dalam hawa amarah. Mengertikah kamu, Setyaki ? Setyakipun
mengangguk.

”Mintalah maaf atas kelancanganmu” kembali Setyaki mengangguk dan meminta


maaf atas kelakuannya tadi.

“Werkudara ! Temui Aswatama cegahlah amukannya!” Kresna memberikan perintah


kepada Werkudara yang selalu mengikuti kemana Kresna pergi. Kembali Werkudara
masuk kedalam arena pertempuran yang masih berlangsung sengit menjelang usai
sore hari. Dengan langkah tegap dan kembali menimang gada Rujakpolo dihampirinya
Aswatama yang dengan garang ingin memburu Derstajumna.

Aswatama yang dihadang Werkudara makin marah. Segala usaha dikerahkan untuk
mendesak lawannya, tetapi ia bagaikan sedang berusaha menembus kokohnya
benteng baja.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 39


Merasa tak ada urusan dengan Werkudara, ia memutuskan untuk mundur dengan
mengucapkan sumpah, “Ingat orang orang Pancala, aku akan datang kembali
menuntut balas atas kematian ayahku. Aku tak akan mati sebelum membasmi orang
Pancala lelaki ataupun perempuan, beserta turunnya, tumpes kelor !”

<<< ooo >>>

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 40


Episode 19 : Mimpi Besar Aswatama

Gb. 54 – Aswatama

Kembali remuk hati Aswatama. Belum lagi jelas pulihnya kepercayaan Prabu
Duryudana kepadanya setelah terjadinya kericuhan di Bulupitu waktu lalu hingga
menewaskan paman terkasihnya, Resi Krepa, kembali kematian ayahnya bagaikan
meremuk redamkan sisa bagian hatinya yang masih utuh. Remuknya hati dibawanya
menyingkir dari palagan peperangan disore yang mulai mendung. Seribu hitungan
langkah yang ia rencanakan selanjutnya berkecamuk dalam pikirannya. Rencana
bagaimana cara membalaskan sakit hati atas pokal orang Pancalaradya utamanya,
dan orang Pandawa bersaudara atas kematian orang tuanya secara keseluruhan.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 41


“Bapa, disini aku akan bersumpah untukmu atas perilaku Drestajumna. Belum
merasa lega hati anakmu, bila belum bisa menumpas anak-anak Pancalaradya.
Sanggup anakmu ini melakoni usaha apapun, bahkan menjadi hewan paling hina-pun
anakmu akan tetap berusaha menuntut balas atas kematianmu ” kilat dan serentak
suara gelegarnya menjadi saksi sumpah Aswatama.

Sedih hati Aswatama membawanya mengenang orang-orang yang dicintainya.


Pamannya, Krepa, yang menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri, pamannya
itu yang telah mencurahkan segala kasih sayang kepada dirinya, tak terbatas pada
rasa sayang seorang paman. Dirinya yang ditinggal ayahnya sedari kecil di Timpuru
telah mendekat-lekatkan hatinya kepada pamannya itu.

Sedangkan ayahnya yang menikahi ibu sambungnya, Krepi, bukan atas nama cinta,
tetapi semata-mata hanyalah berdasar usaha melepas beban mengasuh dirinya
sebagai anak bayi Aswatama kecil. Dalih menikahi Krepi adalah perilaku yang
menghindari diri dari kerepotan itu, demi mengejar angan tinggi seorang perantau
muda yang haus akan pengalaman dan cecapan kebebasan masa mudanya.

Angan kebebasan berpetualang yang membawa ayahnya menjadi rusak raga atas
hajaran Raden Gandamana, namun ayah tercintanya juga diberkati
kesaktian pinunjul ketika berguru kepada Rama Bargawa dan menjadi guru
ilmu kanuragan para Kurawa dan Pandawa.

Kemudian bayangan angan Aswatama menerawang mengenang kasih sayang sang


ayah ketika ia menyusul ke Sokalima. Ayahnya yang merasa bangga dengan sosok
dirinya yang merupakan keturunan satu-satunya. Bagi ayahnya adalah pelecut
semangat hidup, ketika raganya telah rapuh dan tak lagi sempurna. Sosok dirinya
yang mengingatkan atas sosok muda ayahnya, hingga ia dilimpahi kasih sayang tak
terhingga dari ayahnya itu.

Tidak berpanjang-panjang angan Aswatama, ketika Harya Suman yang mencari


dirinya telah menemukannya.

“Aswatama, jangan lagi menyesali kematian orang tuamu berpanjang-panjang,


marilah anakku, aku iring langkahmu menuju balairung Bulupitu. Sinuwun Prabu
Duryudana berkenan memanggilmu”

Ragu Aswatama mendengar perkataan Harya Suman. Dalam benaknya masih


tersimpan ingatan, bagaimana junjungannnya Prabu Duryudana sangat marah, ketika
ia berusaha membela pamannya terkasih, Resi Krapa, ketika pertengkaran pamannya
itu dengan Adipati Karna, yang berujung pada kematian pamannya.

Harya Suman sangat mengerti perasaan Aswatama, maka ia melanjutkan.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 42


“Sinuwun Prabu Duryudana memanggilmu atas kemurahan hati beliau, yang
menganggap orang tuamu telah menjadi pahlawan atas gugurnya dalam membela
para Kurawa dan melihat kesetiaanmu kepada negara. Ayolah anakku, jangan
ragukan kata-kata pamanmu. Aku yang akan menjadi jaminan atas sabda Prabu
Duryudana”.

“Baiklah paman, hamba mengerti akan keadaan ini” Aswatama menuruti kata-kata
Patih Sangkuni. Ia ingin mengumpulkan kembali kekuatannya lahir dan batin. Dengan
bergabung kembali ke barisan Kurawa, seribu kemungkinan akan ia dapatkan dalam
usahanya membalaskan sakit hati kepada trah Pancala. Hitungan dalam kepalanya
juga mengarah kepada suatu agenda tersendiri yang hanya ia yang tahu.

<<< ooo >>>

Malam kembali jatuh. Di Pesanggrahan Bulupitu, Prabu Duryudana sangat berduka


dengan apa yang terjadi pada peperangan hari tadi. Kematian demi kematian para
sanak saudara bahkan gurunya, telah membuat ia merasa telah terlolosi otot dan
tulang-tulang dari sekujur tubuhnya. Kematian gurunya Pendita Durna-lah yang
membuat serasa lumpuh. Ditambah lagi dengan kematian adiknya Dursasana yang
sudah ia terima dari abdi telik sandi. Kematiannya yang diluar arena resmi sangat ia
sesalkan. Ditambah lagi dengan kematiannya yang sangat menyedihkan dengan badan
yang tercerai berai, membuahkan dendam kepada Werkudara.

“Rama Prabu, sekaranglah waktunya putramu untuk maju sendiri kemedan


pertempuran” Duryudana tidak lagi terkendali rasa hatinya ketika orang orang
terkasihnya tewas satu persatu.

“Pikirkanlah baik-baik langkah yang hendak kau ambil, anak mantu Prabu” Salya
mencoba menyabarkan hati menantunya. Kemudian ia mencoba memberikan
pilihan. “Barangkali dengan telah tewasnya banyak andalan pihak kita, anak Prabu
mempunyai pertimbangan untuk mengakhiri saja perang ini. Dan bila anak Prabu
berkenan akan tindakan ini, aku sanggup untuk menjadi perantara dalam
menyampaikan pesan perdamaian kepada adik-adikmu Pandawa”.

“Tidak rama Prabu, akan sia-sia pengorbanan yang telah diberikan oleh para prajurit
dan senapati yang telah gugur. Tidak layak putramu berdamai dengan Para Pandawa
dengan landasan bangkai para prajurit dan bergelimang dengan darah
para bebanten perang”. Duryudana menjawab dengan tegas. Perasaan dendam yang
membara didadanya atas kematian adik terkasihnya, Dursasana, telah mendorongnya
mengatakan bantahan atas pilihan tawaran dari Prabu Salya.

“Baiklah, bila demikian. Anak Prabu masih mempunyai satria agul-agul yang kiraku
dapat mengatasi keadaan ini dengan memenangi perang. Disini masih berdiri kokoh

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 43


seorang calon senapati yang bukan orang sembarangan. Orang itu adalah anak dewa
penerang hari, yang telah kuasa memenangi pertempuran malam dengan korban
yang tak terkira jumlahnya termasuk senapati muda Gatutkaca”. Tutur Salya sambil
melirik mantunya yang paling ia tidak sukai dari ketiga mantu yang lain sambil
tersenyum penuh arti. Senyum yang keluar bukan dari hati yang tulus. Senyum yang
setengah mengejek, karena rasa yang terlanjur tidak suka terhadap mantu itu. Juga
senyum sinis itu disebabkan atas hasil kemenangan yang dicapainya baru-baru ini
yang tidak dilakukan dengan cara kesatria, layaknya perang yang terjadi di waktu
waktu sebelumnya yang terjadi diwaktu yang wajar, siang hari.

Gb. 55 – Pasewakan di Bulupitu

Adipati Karna yang berperasaan halus, telah tersentuh oleh perkataan mertuanya.
Dalam pikirannya, ia ingin membalas apa yang sudah diperlakukan atas dirinya.
Disamping itu, kematian lawannya, Gatutkaca telah berbuntut panjang. Werkudara
pasti masih mendendam. Maka telah ia rancang sesuatu tindakan tertentu bila ia
disetujui menjadi senapati.

Benarlah demikian, Prabu Duryudana menyetujui pilihan berikutnya yang ditawarkan


oleh mertuanya itu.

“Terimakasih rama Prabu, anakmu setuju atas kehendak rama. Hanya kepada kanda
Adipati, kami menyandarkan kekuatan para Kurawa dalam memenangi perang ini.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 44


Kami harap kanda Adipati dapat melaksanakan segala gelar perang yang akan
terlaksana besok pagi”.

“Kehormatan yang tiada terkira yang saya cadang siang dan malam telah terucap
dari sabda paduka adinda Prabu. Ada satu permintaan yang akan kami sampaikan
kepada adinda Prabu, dalam perang nanti, kami pasti akan berhadapan dengan
adimas Arjuna. Ini sudah menjadi takdir yang sudah terucap dari sabda Batara
Narada waktu lalu, bahwa kami berdua adimas Arjuna bakal bertemu kembali dalam
medan Baratayuda. Dari itu, para Pandawa akan menampilkan adimas Arjuna
sebagai senapati dari pihak Hupalawiya”.

Kembali Adipati Karna mengingatkan akan peristiwa masa lalu ketika anugrah
Kuntawijayandanu yang hendak diberikan kepada Arjuna sebagai pemutus tali pusar
Gatutkaca, telah salah diterimakan kepada Karna-Suryatmaja. Perkelahian keduanya
terjadi ketika Arjuna tidak terima atas kesalahan pemberian pusaka itu, dan bahwa
ia juga telah dibebani tugas oleh kakaknya, Bratasena Werkudara, untuk
mendapatkan senjata yang bisa memutus tali pusar keponakannya. Pertempuran
yang kemudian dipisah oleh Narada, dijanjikannya bakal terlaksana hingga salah
satunya tewas pada saat Perang Baratayuda berlangsung nanti.

“Permintaan apakah yang hendak kanda sampaikan. Kalau masih dalam jangkauan
kami, pasti akan kami kabulkan” Duryudana setengah menyanggupi permintaan yang
hendak ia sampaikan.

“Adinda Prabu, Bila terjadi perang tanding dengan kereta perang nanti antara kami
dengan dimas Arjuna, tidak urung adimas Arjuna akan dikusiri oleh Prabu Kresna.
Bila ini yang terjadi, mohon kesanggupannya agar kami dikusiri juga oleh manusia
yang setimbang dengan derajat Prabu Kresna”. Sejenak Karna diam, ragu dalam hati
ia hendak menyampaikan maksudnya kepada adik iparnya itu.

Jeda kesunyian itu kemudian diseling dengan pertanyaan sang Prabu.“Kanda, apakah
kanda hendak dikusiri oleh Kartamarma, ataukah oleh paman Harya Sangkuni ? Akan
kami perintahkan kapanpun, pasti keduanya dengan senang hati akan memenuhi
kehendak kanda Adipati”.

Adipati Karna tersenyum hambar. Perasaan sungkan yang ia pendam sedari tadi telah
ia keluarkan dan ia buang sedikit demi sedikit. Keinginan membalas perlakuan
mertuanya yang selalu tidak cocok dihatinya, dalam peristiwa ini, bagaikan suatu
sarana untuk melawan balik sikap mertuanya itu. Bagaimanapun permintaan seorang
senapati akan dipenuhi tanpa harus tercampuri oleh urusan pribadi. Dan urusan
negara ini akan dijadikan dalih dalam melawan sikap mertuanya itu. Inilah saatnya,
pikir Karna.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 45


“Adinda Prabu, bukan seorang Kartamarma atau Paman Sengkuni yang aku
kehendaki. Keduanya belum setimbang dengan derajat yang disandang oleh Prabu
Kresna. Satu-satunya orang yang dapat menyamai derajatnya, adalah . . . Rama
Prabu Salya”.

Terkejut Salya dengan permintaan yang diajukan oleh menantunya. Tidak senang ia
berkata. “Ooh . . , inikah wujud bakti seorang menantu terhadap mertuanya ? Aku
ini dianggap apa ? Derajat Prabu Kresna yang kau anggap sebagai dalih agar
mertuamu ini mau kau perintahkan aku sebagai kusirmu ? Sekali menjadi mantu
kualat, tetap menjadi menantu kualat juga. Belum juga sembuh rasa hati atas
tuduhanmu diawal perang, telah kau lukai hati ini sekali lagi dengan permintaanmu
yang merendahkan derajat raja Mandaraka”. Tanpa diduga sebelumnya oleh Karna,
rayuannya atas derajat yang ia lontarkan kepada mertuanya, tidak mempan
mengatasi anggapan rendah seorang kusir bagi dirinya. Bahkan kembali Salya
mengungkit ungkit sakit hatinya atas tuduhan menantunya diawal perang.

“Rama Prabu, bila rama tidak berkenan atas permintaan kanda Adipati, baiklah
sekarang putramu sendiri yang akan maju kemedan Kurusetra. Saya relakan jiwaku
demi kemenangan yang hendak aku raih. Putramu minta diri untuk berangkat malam
ini juga”. Duryudana mencoba untuk menarik perhatian ayah mertuanya. Ia berharap
mertuanya akan menyanggupi permintaan kakak iparnya bila ia mengancam akan
bertindak sendiri.

Kembali diluar dugaan, Salya berkata sambil tertawa sumbang. “Anak mantu
Duyudana, aku ini orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan. Tidak usahlah
merajuk seperti itu. Dalam pendengaranku, kata-kata anakmas Duryudana tadi,
bukan keluar dari lubuk hati anakmas sendiri. Tidak usahlah memaksa dengan
ancaman halus seperti yang anak Prabu katakan, aku akan menuruti keinginan
menantuku Awangga yang tampan itu, anak mantu yang membuat anakku Surtikanti
mabuk kepayang”. Akhirnya Salya menyanggupi permintaan itu. Karna yang
mendengar permintaannya dikabulkan bukannya senang, namun ia malah tersenyum
kecut penuh arti.

“Terimasih rama Prabu, yang telah mengabulkan permintaan anakmu ini. Mohon
perkenannya adinda Prabu Duryudana, mulai malam ini kanjeng rama ada dalam
tugas sebagai kusir senapati Awangga”. Adipati Karna akhirnya mengatakan kalimat
seperti itu. Telah telanjur basah ia dalam melawan rasa benci dari sang mertua,
maka sekalianlah basah dengan memerintahkan peran itu dari saat ini juga.

“Baiklah anakku tampan, perintahkan kepada kusirmu tugas apa yang hendak kau
perintahkan untuk mengantarmu ?” Salya sudah muak dengan tingkah menantunya
sekalian memanjakan semu kemauan menantunya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 46


“Mohon maaf rama, mohon rama menemani kami untuk kembali sejenak ke
Awangga. Anakmu mantu ingin ketemu sejenak dengan putri rama, Surtikanti. Sudah
lama anakmu tidak memberi kabar ataupun berita. Dan pasti ia ingin mengetahui
keselamatan suaminya. Sekali lagi mohon perkenannya. Ketemu dengan istri
bukanlah masalah pribadi, ini sebagian dari tugas seorang senapati. Ketemu dengan
istri adalah sebagai penguat jiwa, sebagai penambah moral bagi seorang lelaki
sekaligus suami dalam menjalankan tugas. Apalagi ini adalah tugas luar biasa, tugas
yang taruhannya adalah nyawa”. Karna mencoba memberi penjelasan kepada
mertuanya.

Namun sang mertua yang sudah pegal hatinya setengah hati menjawah. “Dalih
apapun yang kamu hendak berikan kepadaku, taklah menjadi sebuah arti. Mari ikuti
aku, kita segera berangkat ke Awangga”

“Anak mantu Duryudana, perkenankan kami mohon diri sejenak. Kusir ini akan
mengantarkan senapati agung”. Prabu Salya meminta diri.

“Semoga keselamatan rama Prabu dan Kanda Adipati menyertai perjalanan ini
nanti” demikian Duryudana mengakhiri sidang dan beranjak mengikuti Prabu Salya
dan Adipati Karna sampai di gapura pesanggrahan.

Lenyap bayang dua sosok menantu dan mertua itu di keremangan malam. Tetapi dua
sosok tubuh yang lain muncul. Mereka adalah Harya Sangkuni dan Aswatama. Segera
keduanya menghaturkan sembah kepada junjungannya . Diajaknya kemudian
keduanya menuju balairung pesanggrahan.

Setelah basa-basi sejenak, dan menceritakan apa yang terjadi baru saja, berkata
Prabu Duryudana, “Aswatama, telah saya cabut kata-kataku mengenai pengusiranmu
dari hadapanku. Kematian ayahmu sebagai seorang tawur peperangan
adalah labuh seorang pahlawan sejati. Sebagai seorang anak pahlawan, selayaknya
kamu harus aku berikan perlakuan layaknya seorang anak pahlawan. Sedangkan
perilakumu semasa pembuangan, aku lihat tetap bersikap sebagaimana prajurit yang
setia terhadap negara. Itulah yang mendasari kamu aku dekatkan kembali
dihadapanku”.

“Terimakasih atas kepercayaan gusti Prabu terhadap hamba. Akan kami pelihara
sikap kesetiaan kami terhadap negara ini dengan kesanggupan hamba sebagai mata
mata atas kedua parampara paduka gusti Prabu. Kenapa hamba mengatakan sanggup
menjadi orang yang setia, dan hubungannya dengan kedua parampara paduka yang
barusan pergi. Mohon seribu maaf, karena keduanya adalah masih ada hubungan
batin dan jiwa dengan musuh paduka para Pandawa. Prabu Salya adalah uwak dari
kembar Nakula dan Sadewa. Sedangkan kanda Adipati Karna adalah saudara tunggal
wadah dengan para Pandawa melalui bibi paduka Dewi Kunti. Maka menurut hamba,

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 47


keduanya harus diawasi benar-benar pergerakannya. Sekali lagi sinuwun Prabu,
hamba mohon maaf. Hubungan gusti Prabu dengan mertua paduka kali ini hamba
kesampingkan”. Aswatama menghaturkan kata-kata itu dengan hati-hati.

Sebenarnya ia khawatir mengatakan itu. Namun angin mengarah kepada dirinya


hingga diberanikan dirinya mengutarakan isi hatinya.

Takut ia dengan kemurkaan kembali gustinya, ia menunduk dalam. Tetapi hatinya


menjadi besar, ketika Patih Sengkuni mengamini kata katanya.” Anak Prabu, benar
apa yang dikatakan Aswatama. Segala sesuatu dapat saja terjadi dengan keduanya.
Kami sependapat, dan Aswatama akan membuktikan keterangan yang diberikan
besok hari ketika perang esok hari telah usai”.

Maka malam itu ketika sudah larut, Aswatama tak segera dapat memejamkan
matanya. Kenangan masa lalu dan rencana kedepan hilir mudik mengisi kepalanya.
Tapi putusannya adalah, siapapun yang akan memenangi Baratayuda tidaklah
menjadi persoalan baginya. Tak ada lagi untung rugi yang ia hitung-hitung dalam
perkara ini. Yang utama adalah bagaimana ia dapat membalaskan sakit hati terhadap
pembunuh ayah dan pamannya, baik itu melalui tangannya sendiri maupun melalui
tangan orang lain. Sekarang telah diputuskan, bahwa dirinya akan menjadi seorang
oportunis sejati. Kurawa menang, dirinya aman, tetapi bila Pandawa yang menang,
kembali ke Timpuru atau Atasangin menjadi pilihan terakhir. Bahkan dibayangkannya
ia dapat menggulung kedua pihak yang sedang berperang, Pendawa dan Kurawa
sekaligus, dan kemudian bertahta diatas bangkai mereka, nyakrawati mbahu
denda di kerajaan Astina dengan permaisuri Dewi Banuwati. Entahlah ini dipikirkan
ketika ia masih terjaga atau sudah terlelap dalam mimpi besarnya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 48


Episode 20 : Atas nama Darma Satria

Gb. 56 – Karna dan Arjuna

Tak diceritakan bagaimana suasana ketika Adipati Karna bertemu dengan istri
tercintanya, Surtikanti. Yang terjadi kemudian adalah waktu pagi yang terik, dimana
pertempuran sengit berkecamuk kembali di padang Kurukasetra yang sudah berhari-
hari menjadi panggung ajang drama pertempuran yang mengerikan. Sisa-sisa tenaga
prajurit yang kini mulai jenuh dan lelah, hanya punya pilihan, segera perang selesai.
Entah dirinya yang menjadi korban atau ia membunuh lawan-lawannya dengan cepat.

Hawa panas menjelang penghujan menyengat menguatkan bau anyir darah dan busuk
bangkai manusia dan hewan tunggangan para adipati serta segenap pembesar perang
yang tak lagi sempat dirawat oleh sesama prajurit. Berserakan senjata yang
bergeletakan mencuat diantara reruntuhan kereta perang, sungguh membuat
meremang bulu kuduk orang orang yang bermental lemah. Belum lagi erangan para
prajurit terluka menahan rasa sakit yang tak terkira, tetapi tidak kunjung ajal
menjemput. Suara rintihan itu bagai nyanyian peri prayangan. Sementara burung
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 49
gagak pemakan bangkai berputar kekitar diangkasa yang biru dengan gumpalan awan
disana-sini, menanti kapan waktunya untuk kembali berpesta pora.

Di salah satu sisi medan pertempuran, terdengar pembicaraan dua orang prajurit
yang sama-sama terluka, entah kepada sesama teman atau lawan. Yang mengalami
luka serius menyandar pada pokok pohon kering, sementara lawan bicaranya tadi
tertelungkup dengan sesekali terbatuk memuntahkan darah segar dari mulutnya.

“Sesungguhnya apakah yang kita dapat dari peperangan yang kita jalani, kisanak?

“Inilah yang kita dapat! Kebinasaan! Hukum alam telah menuliskan, keseimbangan
alam telah mengharuskan manusia melakukan kekerasan, saling baku bunuh untuk
kembali ke keseimbangan baru, baik itu melewati perang seperti ini, bencana alam,
atau manusia dengan sadar mengerem lajunya jumlah turun. Kita ini sedang ada
didalam bagian dari putaran proses itu, kisanak”.

Keduanya berbincang diantara desing anak panah dan denting senjata serta
gelegarnya meriam dengan sesekali berhenti menahan rasa sakit, suara pembicaraan
keduanya kadang tertelan oleh kemeretak roda kereta dan derap ladam kuda yang
melintas disekitar mereka. Sementara kepulan debu dan asap sendawa mengepul
menyesakkan nafas.

<<< ooo >>>

Diceriterakan, adalah Raden Sanjaya. Yang merasa tertantang setelah bertemu


dengan Wara Srikandhi dan menyatakan hendak memberi sesumbang jiwa raga
terhadap para Pandawa. Akan tetapi niat baik Randen Sanjaya telah dianggap sebagai
manusia yang bersifat oportunis.

“Sanjaya, kalau kamu hendak membela para Pandawa, kenapa tidak dari semula,
kenapa baru sekarang ketika Kurawa sudah lemah, ketika kamu sudah merasa, tak
akan para Kurawa menang atas Pandawa. Apakah itu jiwa dan watak
seorang prajurit?. Apakah itu bukan manusia yang bertujuan untuk mencari
kemuliaan dan kesenangan belaka?. Apakah sekiranya bila kamu tidak bergabung
dengan para Pandawa, Pandawa tidak akan menang ? Malah aku kira, permintaan
bergabungnya kamu dengan para Pandawa adalah sebagai mata-mata. Kenapa aku
sebut begitu, karana sejak lahir, kamu adalah warga Panggombakan yang ada dalam
wilayah Astina !”.

Tersentuh rasa panas hati Sanjaya yang dituding mencari kemuliaan atas kemenangan
Pandawa, maka ia bersumpah akan menandingi kesaktian Adipati Karna. Berangkat
ke medan perang Sanjaya dengan hati terluka oleh tuduhan yang tidak beralasan dari
Wara Srikandi. Andai saja Sumbadra tidak terlambat dalam mencegah keberangkatan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 50


Sajaya yang sudah melangkah ke medan Kuru, maka mungkin kejadiannya akan
berbeda. Memang Wara Sumbadra tahu, betapa ayah dari Senjaya, Raden
Yamawidura, adalah seorang yang berjasa sangat besar pada Pandawa. Ketika terjadi
peristiwa bale Sigala-gala, orang tua Sanjaya telah membaui hal yang mencurigakan
ketika pesta itu diadakan oleh usul Sengkuni. Ketika itu Raden Yamawidura
menyelamatkan para Pandawa dari api yang membakar pesanggrahan mereka, ketika
mereka terbius tidur oleh para Kurawa. Kemudian mereka membakar habis seluruh
pesanggrahan.

Yamawidura yang menjelma menjadi garangan putih, telah membuat lubang bawah
tanah menembus sapta pratala dan menyelamatkan kemenakannya. Kemenakan yang
selalu terlihat benar dimatanya, tetapi karena sesuatu hal ia harus sembunyi-
sembunyi menyelamatkannya. Hal itulah yang dikatakan Wara Sumbadra kepada
Wara Srikandi, yang kemudian telah membuat sesal dihati Srikandi.

Namun rasa bersalah Wara Srikandi ketika mendengar keterangan dari Sumbadra,
menjadi tidak berarti, ketika putra Yamawidura itu telah melangkah ke palagan.

Maka didalam peperangan Kurusetra itu, Sanjaya mencari sosok Adipati Karna. Ia
hendak memperlihatkan kesungguhannya dalam menyatakan diri ada di pihak
Pandawa. Ia berteriak lantang menantang Adipati Karna.

Ketika putra Awangga kedua yaitu Raden Wersasena mengetahui ayahnya ditantang
oleh Raden Sanjaya, kemarahan anak muda itu terbangkit. Dihampirinya Sanjaya, ia
tidak rela bila ayahnya ditantang oleh sesama anak muda lain.

“Heh Sanjaya! Sejak kapan kamu telah memberontak terhadap negara yang telah
menghidupimu, yang telah memberi kumuliaan terhadap orang tuamu dan
keluargamu?”.

“Sejak dulu memang aku lebih bersimpati terhadap putra uwa’ Pandu Dewanata.
Sekaranglah aku hendak memperlihatkan betapa aku telah merasa salah,
membiarkan saudara tuaku para Padawa ada dalam kesengsaraan yang berlarut-
larut. Sekarang katakan, dimana senapati Kurawa berada?”

“Tak usah kamu mencari dimana senapati itu, hadapi dulu putra Awangga sebagai
putra senapati. Langkahi dulu mayatku sebelum kamu bisa berhadapan dengan
ayahku!”.

“Baik, akan aku turuti kata-katamu. Waspadalah!”

Pertempuran dua anak muda itu berlangsung sengit. Kelihatan mereka mencoba
mengerahkan segenap kesaktiannya, untuk menentukan siapa salah satunya yang
harus tewas ditangan masing-masing.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 51
Gb. 57 – Karna Tanding

Sumber : http://jepara-ukir-relief.blogspot.com/2009/06/karno-tanding.html

Semakin lama semakin tegas terlihat, bahwa Sanjaya lebih unggul daripada
Warsasena. Ketika sampai di puncak kemampuannya, Sanjaya menyudahi perlawanan
Warsasena dengan menewaskannya. Kemarahan Adipati Karna tidak terbendung
ketika mendengar anak lelakinya yang tinggal satu telah tewas. Sorak-sorai bala
tentara telah mengatakan akhir dari pertempuran kedua anak muda itu. Segera
Adipati Karna mendekati Sanjaya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Pertempuran kembali terjadi. Tetapi kesaktian Sanjaya ternyata tidaklah imbang
dihadapan Adipati Karna. Sekarang berganti, terdesak Sanjaya, dan tak lama
kemudian keris Kyai Jalak mengakhiri hidup Raden Sanjaya. Ia gugur dalam usahanya
membuktikan darma baktinya terhadap saudara-saudara sepupunya para Pandawa.

Diceriterakan, telah tiba saat kedua satria pilihan dari kedua pihak akan bertemu
dalam pertempuran atas nama darma satria. Ketika telah terdengar aba-aba bahwa
Senapati dari Pihak Wirata telah siap siaga, maka segera Adipati Karna meloncat
menaiki kereta perangnya. Tetapi oleh suasana hati Prabu Salya yang masih tetap
panas, ada saja masalah kecil yang menjadikannya tidak berkenan. Ketika melihat
menantunya telah menaiki kereta, dan ia masih ada dibawah, kemarahannya kembali
meledak. “Apakah kamu bukan manusia yang mengerti tata bagaimana menghormati
orang tua, keparat! Orang tua masih dibawah, kamu sudah duduk nangkring diatas
kereta!”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 52


Namun Adipati Karna mencoba membela diri, serba salah telah mendera hatinya dari
waktu ke waktu “Mohon seribu maaf rama Prabu, maksud hamba dari semula,
adalah hanya menetapi darma. Disini derajat kusir ada dibawah senapati”.

“Sudah tak terhitung berapa kali rasa sakit yang pernah melukai hatiku karena
kelakuanmu. Sewaktu Prabu Kresna menjadi duta di awal perang kemarin, kamu
sudah melukai hatiku dalam pasamuan agung. Belum sembuh luka itu, sekarang
kamu melakukan hal yang sama, aku kamu jadikan seorang kusir. Kalau tidak sungkan
dengan anak Prabu Duryudana, aku tidak sudi melihat mukamu yang membuat aku
muak. Dan kamu tidak berwenang untuk memerintah aku!”. Kejengkelan Prabu Salya
tidak juga reda.

“Rama, sekali lagi putra paduka mohon maaf, kami persilahkan rama Prabu untuk
menaiki kereta. Ketahuilah rama, sudah ada tanda-tanda dalam diri putramu, detak
jantung didada ini mengisyaratkan kematian putramu sudah menjelang. Kami
persilakan rama Prabu untuk mengantarkan kematianku, rama Prabu”. Campur
aduk perasaan kedua manusia menantu dan mertua itu mengawali langkahnya
menuju ke palagan peperangan. Inilah titik dimana perasaan yang tidak sepenuhnya
bulat telah melemahkan moral perang senapati Kurawa.

Baru saja kereta bergerak, mendadak melayang bagai awan hitam bergulung diatas
palagan. Itulah Naga Raja Guwa Barong, Prabu Hardawalika. Seekor naga yang
mengincar kematian Arjuna. Adipati Karna yang melihat keanehan naga mengarah
ketempat ia bersiap, segera menghentikan laju geraknya dan menanyakan
maksudnya “Heh kamu mahluk yang mencurigakan, siapa kamu dan apa maksudmu
membuat keruh suasana peperangan!”.

“Aku penjelmaan raja raksasa dari Guwa Barong. Aku bermaksud hendak membantu
kamu menandingi Arjuna”. Naga raksasa itu dengan tidak ragu mengatakan
maksudnya.

Tetapi sungguh tidak disangka, jawaban yang diterima adalah bentakan yang
menyuruhnya ia pergi. “ Heh naga mrayang, Arjuna adalah saudaraku. Kalaupun aku
berselisih sehari tujuh kalipun, tak akan pecah persaudaraanku. Menyingkirlah atau
akan aku percepat sempurnanya kematianmu!”.

“Haaah . . perbuatan yang sia-sia. Ternyata aku mengatakan hal ini kepada tempat
mengadu yang salah. Tetapi hal ini tidak akan menghalangiku untuk membalas
kematianku moyangku”. Melayang kembali Hardawalika kearah berlainan untuk
mencari keberadaan Arjuna.

Kresna yang tidak pernah terhalangi kewaspadaanya sedikitpun, segera tahu apa yang
ada dihadapannya, ketika awan mendung tiba-tiba membayang diatasnya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 53


“Arjuna, diatas pertempuran itu ada seekor naga penjelmaan Prabu Hardawalika.
Lepaskan panahmu, sempurnakan kematian Prabu Hardawalika”.

Tidak lagi membuang waktu, segera dipentangnya busur yang telah diisi anak panah.
Melesat anak panah menempuh bayangan naga, sirna seketika ujud dari naga
Hardawalika yang kembali membuat suasana palagan menjadi terang.

Gb. 58 – Karna Tanding

Sumber : http://kibrewok.blogspot.com/2011/03/karna-tanding.html

Syahdan, kedua Senapati dari kedua belah pihak telah sama-sama bergerak
mendekat. Maka suasana palagan peperangan menjadi gaduh, kemudian setelah
jarak keduanya menjadi semakin dekat kejadiannya justru menjadi terbalik.
Peperangan segera terhenti bagai dikomando. Suasana yang berkembang
menjadikannya Arjuna termangu. Prabu Kresna yang melihat suasana hati Arjuna
segera dapat menebak apa yang dipikirkannya.

“Arjuna, tatalah rasa hatimu! Hari ini sudah sampai waktumu harus meladeni
tanding dengan kakakmu, Adipati Karna”.

“Kanda, bagaimankah hamba dapat melayani tanding yuda dengan kanda Adipati
Karna. Suasana beginilah yang selalu mengingatkan akan Ibu Kunti” keluh Arjuna.

Kresna telah tahu apa yang melatar belakangi maksud dari keberpihakan Karna
terhadap Kurawa. Hal itu telah ia dengar sendiri tatkala ia bertemu dengannya empat
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 54
mata, ketika ia telah usai menjadi duta terakhir sebelum pecah perang. Semuanya
bagi Kresna sudah tidak ada hal yang meragukan. Namun ia tidak mengatakan apapun
tentang itu terhadap Arjuna.

“Adikku, hari ini pejamkan matamu, tutuplah telingamu. Kamu hanya wajib
mengingat satu hal, darma seorang satria yang harus mengenyahkan kemurkaan.
Walaupun saudaramu itu adalah salah satu saudara tuamu, tetapi ia tetaplah ada
pada golongan musuh. Dan ketahuilah, bahwa majunya kakakmu Adipati Karna itu,
tidak seorangpun yang ditunggu, kecuali dirimu. Dan tidak ada seorangpun di dunia
ini yang diwajibkan untuk mengantarkan kematiannya, kecuali dirimu. Mari aku
dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan
menjadi kusirmu”.

Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna,
kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat
benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila
dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda
tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan
segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa
besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu
bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna
yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk
menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna

“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut
dan ciumlah kakinya”.

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya

“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah
menghaturkan sembahnya.

“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menagis meraung-
raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela-bela diriku
membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku
sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus
berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan
isi hatinya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 55


“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi
paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali
berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh
kaki sudah disiapkan oleh adik-adik paduka, Kanda Adipati” Arjuna mencoba
meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terrasa didalam hatinya. “Lihat, air
mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan.
Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama-sama dengan
saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang
kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga
kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu,
hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku
tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu
senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.

”Tak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam
kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna! Dan bila aku nanti mati dalam
perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku
memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “

Serak terpatah-patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati
terhadap Arjuna.

Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba-tiba ia berkata dengan nada
tegas. “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan
siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.

“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan
saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang
kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah


berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda
ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama,
sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk
membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang
dinaikinya.

Pada suatu ketika topong kepala Adipati Karna terpental terkena panah Arjuna.
Sejenak Karna meminta Prabu Salya untuk berhenti, dan berkata.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 56


“Rama prabu, hampir saja hamba menanggung malu. Topong kepala hamba
terpental oleh panah adi Arjuna”.

“Sudah aku katakan, tak hendak aku ikut campur dalam peristiwa ini. Aku hanya
kusirmu. Tapi kali ini mari aku benahi rambutmu biar aku gelung” Setengah hati
Prabu Salya mendandani kembali putra menantunya.

Kembali adu ketangkasan olah warastra berlangsung. Kali ini Kunta Wijayandanu ada
ditangan Karna. Waspada Prabu Salya dengan melihat senjata kedua setelah Kunta
Druwasa yang telah sirna digunakan oleh Adipati Karna ketika berhadapan dengan
Gatutkaca. Maka pada saat menantunya itu melepas anak panah, kendali kereta
ditarik, kemudian kuda melonjak. Panah yang sejatinya akan tepat mengenai
sasaran, hanya mengenai topong kepala Arjuna dan mencabik segenggam rambutnya.

“Aduh Kanda Prabu, topong hamba jatuh terkena panah kanda Adipati. Apakah ini
sebagai perlambang kekalahan yang akan menimpa hamba?” Arjuna menanyakan.

“Bukan ! Itu peristiwa biasa. Biarlah aku tambal rambutmu dengan rambutku.
Sekarang aku akan menggelung rambutmu kembali”. Jawab Kresna, yang kemudian
menerapkan kembali gelung rambut baru pada kepala Arjuna.

Kembali kedua putra Kunti berdandan dengan cara yang sama. Semakin bingung para
yang melihat pertempuran dua satria yang hampir kembar itu. Bahkan para dewata
dan segenap bidadari dan durandara, melihatnya dengan terkagum.

Adu kesaktian telah berlangsung lama, segala macam kagunan dan ilmu pengabaran
telah dikeluarkan. Saling mengimbangi dan saling memunahkan kawijayan antara
kesaktian mereka berdua.

Namun Arjuna masih memegang satu senjata yang belum digunakan. Itulah panah
Kyai Pasupati, yang bertajam dengan bentuk bulan sabit.

“Arjuna !” Kresna memberikan isyarat

“Sekaranglah saatnya!. Hanya sampai disini hidup kakakmu Adipati. Segera lepaskan
senjatamu Pasupati untuk mengantarkan kakakmu ke alam kelanggengan!”.

Panah Pasupati telah tersandang pada busur gading Kyai Gandewa, lepas anak panah
berdesing bagai tak terlihat. Walau Arjuna melepaskannya sambil memejamkan mata
karena tak tega dan rasa bersalah, namun panah dengan bagian tajam yang
menyerupai bulan sabit itu mengenai leher Adipati Karna. Tajamnya Kyai Pasupati
tiada tara, sampai-sampai, kepala Adipati Karna dengan senyum yang masih
tersungging dibibirnya tak bergeser sedikitpun dari lehernya. Jatuh terduduk jasad
Adipati Karna bersandarkan kursi kereta. Geragapan Prabu Salya yang merasa

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 57


khawatir dan setengah bersalah. Turun dari kereta ia, kemudian menghilang dari
pabaratan, kembali ke Bulupitu.

Namun kejadian sejak dari awal pertempuran tadi, tidak terlepas dari sepasang mata
yang selalu mengawasi setiap gerakan sekecil apapun yang dilakukan Prabu Salya.
Itulah sepasang mata Aswatama! 3

3Banyak sekali versi tentang cerita Karna Tanding.


Petikan dan suntingan dari pagelaran demi pagelaran wayang purwa diatas,
adalah salah satunya yang terpilih untuk diketengahkan.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 58
Episode 21 : Ketika Rahasia itu
Terungkap
Kidung layu-layu kembali mengalun di Padang Kuru, awan mendung yang menandai
pergantian musim telah menitikkan airnya walau hanya rintik-rintik. Meski begitu,
rintik hujan itu sudah cukup menandai kesedihan yang melingkupi Para Pandawa.
Bagaimanapun Karna-Suryatmaja adalah saudara sekandung, walau ia terlahir bukan
atas keinginan sang ibu. Meski demikian, ia adalah sosok yang sudah memberi warna
kepada orang orang disekitarnya dan para saudara mudanya. Ia adalah sosok yang
tegar dan teguh dalam memegang prisip kesetiaan kepada Negara yang telah
memberinya kemuliaan hidup. Tetapi sekaligus ia tokoh yang kontroversial, sebab ia
adalah tokoh yang secara tersamar menegakkan prinsip, bahwa keangkaramurkaan
harus tumpas oleh laku kebajikan. Ia telah menyetujui bahwa perang Baratayuda
harus terjadi, sebab dengan demikian ia telah mempercepat tumpasnya laku angkara
yang disandang oleh Prabu Duryudana. Raja yang telah memberinya kemukten.

Dengan terbunuhnya Adipati Karna yang menyisakan dendam pembelaan dari Kyai
Jalak yang gagal, maka secara kenyataan adalah, telah terhenti perang campuh para
prajurit di arena padang Kurusetra. Dikatakan demikian karena jumlah prajurit
Kurawa yang tinggal, boleh diumpamakan telah dapat dihitung dengan jari saja.
Ditambah lagi kenyataan, bahwa para Kurawa seratus, yang tinggal hanya duapuluh
orang termasuk Prabu Duryudana dan Kartamarma. Maka lengkaplah apa yang disebut
sebagai kenyataan, bahwa perang Baratayuda sebenarnya sudah berakhir. Tetapi
pengakuan terhadap kekalahan itu, belumlah terucap dari bibir Prabu Duryudana.

Sore ketika Adipati Karna telah gugur, mendung gelap yang disusul oleh rintik hujan,
juga seakan mentahbiskan suasana dalam hati Panglima Tertinggi Kurawa yang juga
terlimput oleh gelap. Dihadapannya Prabu Salya dengan sabar menunggu ucapan apa
yang hendak terlontar dari bibir menantunya. Demikian juga Patih Harya Suman dan
Raden Kartamarma, hanya tertunduk lesu. Keduanya berlaku serba canggung
menyikapi keadaan dihadapannya. Keraguan akan hasrat menyampaikan usulan dan
pemikiran, telah dikalahkan oleh rasa takut akan murka junjungannya.

Hal ini juga berlaku pada perasaan Aswatama yang sesungguhnya hanya berderajat
rendah, hanya sebagai tuwa buru. Sebuah derajat rendah yang hanya mengurus
segala keperluan para Kurawa dalam menyelenggarakan kegemaran mereka berburu
dihutan. Derajat rendah itulah yang diberikan oleh penguasa Astina, ketika mendiang
ayahnya diangkat menjadi guru bagi sekalian anak anak Pandawa dan Kurawa.
Derajat yang sampai saat inipun masih tetap tersandang, walaupun waktu demi
waktu telah berlalu. Apalagi ketika ia harus kehilangan kepercayaan dari Prabu

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 59


Duryudana, pada saat ia membela pamannya Krepa. Juga tewasnya ayah tercinta
yang merupakan gantungan baginya dalam mengabdi kepada Prabu Duryudana, telah
lengkap meruntuhkan ketegaran dirinya terhadap penguasa tertinggi Astina. Lengkap
sudah perasaan takut yang mencekam jiwanya. Padahal sesuatu yang hendak
diajukan sebagai saksi mata atas suatu peristiwa di medan perang, telah mendesak
kuat dalam hati untuk disampaikan. Tetapi mulutnya terkunci, tetap tak berani
mengatakan sesuatu apapun. Dan iapun hanya diam tertunduk, duduk di tempat
paling belakang dari pembesar yang hadir.

Dalam ketidak sabaran menunggu sabda Prabu Duryudana, akhirnya Prabu Salya
berbicara. “ Anak Prabu, walaupun paduka anak Prabu tidak mengatakan dengan
sepatah kata, namun saya sudah merasa, pastilah perkiraan saya benar. Pasti anak
Prabu merasa kehilangan Senapati yang menjadi bebeteng negara, kakak iparmu,
anak menantuku, Adipati Karna”.

Tetap bergeming Prabu Duryudana mendengarkan kata-kata pemancing dari Prabu


Salya, sehingga kembali ia melanjutkan.

“Menurut tata cara, seharusnya aku tetap diam menunggu. Tetapi oleh karena
terdorong oleh gemuruh dalam dada, perkenankan aku mertuamu menyampaikan isi
hati ini”

“Rama Prabu, itulah yang sebenarnya yang aku nanti. Besar hati anakmu tanpa dapat
diumpamakan, karena sebegitu besarnya perhatian yang rama Prabu berikan
terhadap putramu”. Akhirnya beberapa patah kata meluncur dari bibir Prabu
Duryudana, terbawa oleh rasa penasaran, apakah yang hendak dikatakan oleh ayah
mertuanya.

Mencoba tersenyum Prabu Salya. Senyum getir, karena suasana yang dihadapi
tidaklah nyaman dirasakan. Tetapi ia tetap berusaha menguatkan hati Prabu
Duryudana.

“Kalaupun aku tidak memperhatikan anak Prabu, aku ini seakan menjadi manusia
yang tidak lengkap panca indraku. Setelah saya timbang-timbang, ternyata
pancaindriaku masih lengkap. Oleh karena itu, aku akan menyampaikan sesuatu”.

“Waktu sepenuhnya aku serahkan kepada rama Prabu”. Duryudana kali ini mencoba
pula tersenyum, walau terasa hambar.

Melihat menantunya serba kikuk, Prabu Salya tertawa. Walaupun tawa itu terdengar
sumbang, namun Ia mencoba memecah kebuntuan suasana. “Terhitung selama
perang berlangsung, aku baru bisa tertawa kali ini. Begitu anak Prabu mengatakan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 60


bahwa waktu telah sepenuhnya anak Prabu berikan, itu artinya anak Prabu masih
mempunyai kepercayaan kepadaku”.

Prabu Salya kemudian mengangkat dan mengungkit peristiwa yang berlangsung pada
masa lalu, ketika ia sedang ada pada balairung istananya di Mandaraka. Ketika itu ia
sedang merembuk bagaimana ia berencana hendak memberikan negara kepada anak
turun, serta bagaimana ia menyampaikan cara dalam menata negara. Ketika itu,
tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan dua orang utusan yang belum
dikenalnya. Ketika mereka mendekat dan memberikan surat. Ternyata mereka
berdua mengundang untuk mendatangi pahargyan di suatu tempat yang merupakan
pesanggrahan yang baru dibangun, pesanggrahan yang begitu indah. Disitu telah
menunggu para wanita yang muda-muda dan begitu cantik-cantik.

“Disitulah aku disuguhi makanan yang serba nikmat diiring tetabuhan dan kidung
yang menyenangkan hati”. Prabu Salya meneruskan

“Tanpa ragu makanan yang serba nikmat itu aku makan dengan begitu lahapnya.
Bawaannya aku belum makan ketika berangkat, maka sekejap aku telah
menghabiskan sebagian besar hidangan yang telah tersaji”.

Setelah merenung sejenak, Prabu Salya menyambung, “Begitu aku sudah merasa
kenyang, tiba tiba anak Prabu Duryudana datang dari belakang tanpa aku ketahui,
dan memeluk aku. Sebagai orang yang mengerti akan tata krama dan balas budi dan
terdorong oleh rasa puas karena semua kesenangan yang tersaji telah aku nikmati,
maka ketika paduka anak Prabu meminta saya untuk bersedia berdiri di pihak anak
Prabu ketika perang Baratayuda berlangsung nanti, seketika aku menyanggupi. Dan
ini adalah peristiwa yang mengharuskan aku menyaksikan darah yang tertumpah.
Darah yang mengalir dari tubuh-tubuh anak kemenakanku sendiri”.

Suasana kembali hening ketika Prabu Salya mengakiri cerita yang berujung sesal.
Kejadian awal dari mengapa ia terseret-seret dalam peristiwa besar ini. Maka ketika
tak ada lagi yang membuka mulut, Prabu Duryudana memanggil Patih Harya
Sangkuni.

“Paman, tinggal berapakah Kurawa sekarang?”

Geragapan Patih Sangkuni menjawab pertanyaan itu, setelah rasa terkejutnya hilang.
“Kalau tidak salah hitung, tinggal duapuluh orang saja”.

“Apakah mereka menjadi ketakutan karena jumlah yang tinggal sedikit itu?”

“Sama sekali tidak, bahkan mereka mengharap, kapan gerangan hendak diperintah
untuk beradu dada dengan para Pandawa”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 61


“Bagus! Kenapa begitu?“ Prabu Duryudana mempertegas pertanyaannya.

Gb. 59 – Kartamarmo

Sumber : http://www.maskedart.com/

“Mereka itu mengingat dan merasa, bahwa hidup mereka semua adalah ada dalam
perlindungan dari anak Prabu. Kenikmatan yang mereka terima selama ini, adalah
berkat pemberian dari anak Prabu. Maka ketika mereka dihadapkan dalam peristiwa
seperti ini, tak lain dan tak bukan, bahwa mereka telah rela menjadi tetameng,
bahkan bebanten dalam membela kejayaan anak Prabu”. Jawab Sangkuni, yang
adalah manusia super licik. Maka kata-katanya kemudian lancar nyinyir mengalir
menggelincirkan lawan bicaranya.

“Jagad dewa batara! Bila demikian, walaupun Kurawa cuma tinggal duapuluh orang,
itu sudah cukup memberiku rasa besar hati. Mereka itulah manusia yang mengerti
akan rasa kemanusiaan, manusia yang mengerti akan rasa kebaikan, manusia yang
mengerti apa itu kewajiban. Bila demikian Paman, semua orang yang masih hidup di
Astina, ternyata masih punya rasa bela negara, tanpa memandang dari mana asal
muasalnya. Seumpama ada seseorang pembesar, seseorang yang menjadi
sesembahan. Walaupun ia tidak dalam peperintahan negara Astina, tetapi ia
memiliki kulit daging yang mukti wibawa di negara Astina ini. Hidupnya diliputi oleh
segala kemewahan, dipuji-puji dan diagung-agungkan orang senegara. Namun ketika

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 62


negara itu menjadi ajang kebrutalan musuh, menurut Paman Sangkuni bagaimana
seharusnya manusia itu bersikap?”

Prabu Duryudana yang sedari kecil ada pada asuhan pamannya, sangat mengerti,
umpan apakah yang tengah ia pasang. Maka semakin lancarlan kata-katanya
mengikuti arah pembicaraan pamannya itu.

“Wah, kalau saya . . . . ini kalau saya . . ., saya akan segera bertindak! Segera saya
akan melangkah ke palagan peperangan, mengatasi musuh yang hendak berbuat
semena mena atas negara ini. Ini kalau saya . . .! “ dengan jumawa Patih Harya
Suman menjawab.

“Apakah ada Paman, orang yang saya telah berikan semua rasa mukti wibawa, tetapi
tidak mengerti akan balas budi itu?”

“Ada saja ! itulah istri paduka sendiri, Dewi Banuwati!”

Prabu Salya yang sudah kenyang makan asam garam, sebenarnya sudah tahu apa
maksud pembicaran mereka berdua. Tetapi ia masih dengan sabar dan senyum
mengembang di bibir mengikuti pembicaraan mereka. Ia menjadi penasaran,
sandiwara itu akan sampai mana ujungnya. Maka ia tetap terdiam ketika Prabu
Duryudana kembali mengajukan pertanyaan kepada pamannya. “Apakah ada orang
yang lain selain istriku?”

“Tidak, tidak ada lagi! Walaupun istri Paduka anak Prabu adalah wanita yang pada
mulanya juga sudah mukti wibawa di Negara Mandaraka, tetapi ketika ia diperistri
oleh paduka anak Prabu, ia telah mendapatkan jauh lebih tinggi derajat dan
kemukten yang tiada taranya. Itulah, dari rasa sayang Paduka Angger Anak Prabu
yang tiada terkira, sebetulnya dalam kenyataannya, negara Astina telah dipasrahkan
seutuhnya kepada istri Paduka , Dewi Banuwati.”

“Itulah memang yang menjadi niat saya! Kalau demikian, yayi Banowati itu,
seberapapun bobotnya harus menanggung semua baik buruk atas negara Astina ini?”.

“Tak jauhlah dari yang paduka kehendaki”.

“Tetapi paman, ia adalah seorang wanita. Apakah mungkin, wanita yang seharusnya
hanya aku manjakan, bersolek, mempercantik diri, harus maju ke medan perang adu
kesaktian dengan para Pendawa”.

“Lho kalau perlu memang demikian! Kalau semua para luhur sudah tidak mau tutun
tangan, maka istri sendiripun harus ikut. Saya kira istri Paduka pun tidak akan rela
melihat paduka kerepotan”. Sandiwara dengan dialog antar keduanya masih

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 63


berlangsung, masih mengalir lancar. Dan Prabu Salya masih tetap sabar dalam
duduknya.

Gb. 60 – Banowati

Sumber : http://www.maskedart.com/

Dan sampai disini Duryudana sedikit mentok, keteteter dengan kepiawaian pamannya
mengolah kata. “Ya . . . . . tetapi . . . . . apakah ini . . . . . . , apakah aku harus
menangis dihadapan istriku? Si Paman jangan menyangka aku takut akan darah,
tetapi istri itu . . . yang sejatinya bukan sanak, tapi ia sudah merasakan enak, sudah
aku ajak menikmati kenikmatan dan mukti wibawa. Waktu dalam keadaan enak, ia
sudah merasakan kenikmatan. Tetapi ketika menemukan papa sengsara, seharusnya
ia tidak menghindar dari segala kesulitan. Tetapi saya tak bisa hidup tenang tanpa
dia, paman. Seumpama saya melangkah ke medan pertempuran berdua dengan
istriku, Dewi Banowati, menurut si paman bagaimana?”

“Saya sangat setuju . . .sangat setuju!”

Tidak syak lagi, Prabu Salya yang mendengarkan dengan seksama dan tadinya tak
hendak memotong pembicaraan mereka, sudah mengerti kemana gerangan arah
pembicaraan itu. Tetapi saat ini ia menjadi gerah. Dan berkatalah Prabu Salya,
setelah menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha menekan perasaannya yang tiba-
tiba panas bagai terbakar bara api.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 64


“Jagad Dewa Batara! Aku merasakan tidak ada sesuatu apapun terjadi. Tetapi kepala
saya bagai terbakar panasnya bara api. Panasnya sedemikian menyengat hingga
sampai ke dada ini. Di seluruh jagad ini tidak ada yang menandingi kepiawaian dari
anak Prabu, apalagi bila sudah dipadukan dengan kepiawaian mengolah kata dari
Patih Sengkuni. Tetapi kepintaran itu. bila sudah manunggal, dan kemudian dipakai
di jalan yang tidak sesuai dalam keutamaan, bisa menjadi kabur dan ludes terbakar
api. Saya mengerti. Kalau saya dibolehkan menggambarkan, anak Prabu saat ini
sedang dalam posisi berpeluk tangan, tapi kelihatan olehku dari sini, Paduka anak
Prabu seperti melambaikan tangannya. Melempar sesuatu kearah utara, tapi yang
dikenai adalah benda yang diarah selatan, seperti halnya orang yang sedang
memancing di air keruh. Yah, saya sudah tua. Tak usahlah disindir, saya ini sudah
kenyang makan asam garam. Gambalangnya begini, paduka anak Prabu sekarang
sedang bersedih atas gugurnya anak mantuku Adipati Karna. Paduka sebetulnya
mengatakan, kenapa, orang tua yang sudah dibuat mukti wibawa karena anak nya,
tetapi orang itu sekarang diam saja. Bukankah itu yang Paduka maksudkan?”

Sudah disengaja Prabu Duryudana menyindir mertuanya itu. Tetapi ia sudah kadung
basah, maka walau dengan debaran dada, ia mengatakan, “Silakan bila rama Prabu
mengatakan demikian. Tetapi itu memang benar!”.

“Saya sudah mengatakan tadi, apakah saya hendak mengangkat muka melihat
tingginya sosok para Pandawa? Apakah saya tidak kuasa untuk merangkul betapapun
besarnya ujud para Pandawa? Apakah saya harus gemetar melihat kesaktian
Pandawa? Yang terlihat olehku, Pandawa itu adalah sebagai anak-anak belaka. Bila
aku mau, tandang para Pandawa dapat aku hentikan kurang dari setengah hari!
Dalam setengah hari itu, mereka sudah pulang ke kahyangan Batara Yama. Oleh
sebab itulah, saya hendak menjalankan sabda paduka dengan dua landasan. Ketika
bebanten para Kurawa dimulai dari gugurnya Eyang Bisma, sampai Resi Durna, jagad
sudah mengingatkan kepada paduka anak mantu, bahwa Baratayuda seharusnya
dihentikanlah! Apakah sebenarnya pokok persoalannya? Siapakah sebenarnya yang
menang, dan siapakah sebenarnya yang dikalahkan? Oleh sebab itu, silakan anak
Prabu merasakan, betapa sengsaranya yang sudah gugur dalam perang ini. Itu yang
pertama!”

“Kedua, siapapun akan mengerti. Siapakan Prabu Karna itu? Adipati Karna itu
manusia bukan manusia selayaknya manusia. Ia adalah anak Batara Surya yang
menerangi jagat. Walaupun ini hanya cerita yang kadung dilebih-lebihkan, tapi
sewaktu terlahir dari goa garba Kunti, ia sudah mengenakan anting anting dan
permata kawaca. Belum lagi jumlah pusakanya, kunta Druwasa, Wijayandanu,
siapakah yang kuat menadahkan dadanya pada pusaka itu? Keris kyai Jalak, siapapun
tak mampu menadahkan dadanya. Bahkan bila ditujukan ke gunung, gunung itu akan
menjadi runtuh, dan bila dikenakan terhadap lautan, samudra itupun akan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 65


mendidih. Walau demikian, Arjuna dapat mengalahkan dengan panah bertajam
bentuk bulan sabit, Kyai Pasupati. Lepasnya panah Arjuna telah membawa kematian
baginya. Bila anak Prabu hanya menuruti kehendak hati, aku hanya bisa berharap,
anakku Banuwati kelak tidak menjadi janda”.

Gb. 61 – Aswatama

Sumber : http://www.maskedart.com/

Diceritakan, Aswatama yang sedari tadi menahan beban perkara yang menghimpit
dadanya, lama kelamaan ia menggeser duduknya maju mendekati Prabu Duryudana.
Ia seakan terpicu, ketika mendengar peristiwa tanding satria sakti linuwih itu
diungkap kembali. Keberaniannya tumbuh saat ia harus mengatakan apa yang
sebenarnya terjadi. Melihat gerak dan raut muka Aswatama yang mengandung sejuta
keinginan untuk mengatakan susuatu, Prabu Duryudana memberikan sasmita
kepadanya untuk mendekat.

“Aswatama adakah sesuatu yang hendak kamu katakan?”

“Perkenankan Paduka memberi seribu maaf, karena hamba berani-beraninya


memutus pembicaraan para agung”. Beriring sembah, Aswatama meminta waktu.

“Bila memang ada sesuatu yang penting untuk disampaikan, saya memberimu maaf.
Silakan apa yang hendak kamu katakan?!”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 66


Sejenak Aswatama terdiam. Bagaiamanapun ia harus menata hati untuk
menyampaikan cerita yang menyangkut pembesar negara. Dalam pikirnya, sekarang
atau tidak sama sekali. Dan ia telah terlanjur maju, tak ada lagi jalan kembali
terbentang dihadapannya. Maka dengan tatag ia berkata, “Ketika sedang ramainya
tetanding antara Sinuwun Adipati Karna dan Arjuna, mestinya Arjunalah yang mati”.

“Apa sebab kenapa kamu bicara terbalik dengan kenyataan?” terheran Prabu
Duryudana mendengar kata-kata Aswatama.

“Jalannya kereta yang dikendarai oleh sinuwun Adipati yang dikusiri oleh Prabu
Salya, saya lihat sudah benar. Dan lepasnya panah kunta seharusnya telah pas
mengenai leher Arjuna. Tetapi arah panah itu meleset, oleh sebab adanya seseorang
pembesar yang telah melakukan kecurangan”

Sampai disini Prabu Duryudana sudah dapat menebak. Tetapi ia hendak mendengar
sendiri, beranikah Aswatama menyampaikan dengan mulutnya sendiri. “Siapa
pembesar yang melakukan itu?

“Tidak lagi hamba menutup-nutupi, jalannya kereta yang seharusnya sudah benar.
Namun tiba-tiba kendali kekang kuda ditarik, sehingga kuda menjadi binal dan
kereta menjadi oleng. Panahpun tidak mengenai leher Arjuna, hanya mengenai
sejumput rambutnya saja. Maka hamba berani bicara, bahwa gugurnya gusti Adipati
Karna bukan karena Arjuna, tetapi oleh pakarti Prabu Salya!”

“Iblis keparat kamu Aswatama!”

Memerah muka Prabu Salya. Tak disangka seseorang mengamati dengan sempurna
perbuatannya. Hendak dikemanakan muka itu bila rahasia itu terbongkar, maka yang
bisa diperbuat adalah memaki sejadi jadinya Aswatama dan bertamengkan kekuasaan
anak menantunya itu.

“Heh Asatama! Kamu anak Durna kan? Kamu disini pangkatmu hanya tuwa buru.
Paling tinggi tugasmua hanya memberi makan kuda-kuda kendaraan para Kurawa!
Tahukah kamu, bahwa derajatmu hanya dibawah celanaku yang aku pakai ini. Kamu
telah melakukan kesalahan. Kesalahanmu, pertama, kamu sudah berani-beraninya
memotong pembicaraan para agung. Kedua kamu sudah berani mengatakan yang
bukan-bukan! Kamu sudah berani menuduh aku telah menyebabkan gugurnya
mantuku. Dimana ada mertua yang tega terhadap anak menantu. Kemana kamu
ketika gugurnya Bapakmu ketika itu? Kelihatan batang hidungmupun tidak! Kamu
berniat merenggangkan hubungan antara aku dengan Prabu Duryudana, begitukah
maksud dari kata-katamu tadi?! Hayoh iblis, kalau kamu memang anak Durna, segera
ucapkan japa mantramu, hunus kerismu Cundamanik pemberian ibumu Batari
Wilutama, bidadari yang berlaku selingkuh selamanya! Dalam hitungan yang ketujuh

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 67


kamu tidak berani melangkah menghadapi Prabu Salya, akan kutebas batang
lehermu!”

“Aduh rama Prabu, rama kami mohon berlaku sabar! Aswatama itu hanya berderajat
rendah. Tidak sepantasnyalah rama Prabu melayani Aswatama” maka Prabu
Duryudana segera menghentikan langkah Prabu Salya ketika melihat mertuanya
seakan telah kehilangan pengamatan dirinya.

“Belum lega rasanya bila aku tidak memenggal kepala Aswatama”. Masih dengan
kata marah Prabu Salya dalam hadangan Prabu Duryudana.

“Rama Prabu, jangankan hanya seorang Aswatama, dewapun tak akan mampu bila
berhadapan dengan rama Prabu ketika sedang murka seperti itu. Mohon diingat rama
Prabu, jangan mendengarkan suara orang cari muka seperti Aswatama.

Rama mesti mengingat, masih banyak kewajiban yang harus dijalankan. Mohon
bersabar rama Prabu”.

“Huh Aswatama, bila tidak dalam sidang agung ini, kepalamu sudah terpisah dari
tubuhmu. Jangankan kamu, bila orang tuamu masih adapun, tak akan mundur
sejangkah menghadapi orang tuamu itu!” masih juga belum berhenti kemarahan
Prabu Salya, bahkan ia mengungkit-ungkit ayah Aswatama.

Setelah suasana terkendali, Prabu Duryudana mendekati Aswatama. Ia telah


membuat keputusan dengan menimbang bobot antara kedua orang yang bersilang
pendapat itu. “Aswatama, jangan membuat suasana menjadi bertambah ruwet. Aku
sudah tak lagi membutuhkan kamu. Pergilah!”

“Aduh Sinuwun, bila sudah tak lagi sinuwun mendengarkan kenyataan yang terjadi
di palagan peperangan, kami minta diri sinuwun”. Luka hati Aswatama kembali
kambuh, bahkan sekarang semakin parah. Keputusan hari kemarin bahwa ia akan
menjadi seorang oportunis sejati telah mengeras. Dirinya yang dibobot ringan oleh
Prabu Duryudana, mundur dari hadapannya dengan sejuta rencana tumbuh didalam
rongga kepalanya.4

4Sebagian disarikan dari cerita pagelaran Rubuhan oleh Ki Narto.


Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 68
Episode 22 : Saat-saat Terakhir
Aswatama segera pergi ke istal. Melepas kuda terbaik dari dalamnya, melepas tali
yang mengikat ke toggak, kemudian ia memacu kudanya dengan kecepatan penuh
meninggalkan percikan lumpur kotor. Ia seakan ingin membuang segala keruwetan
yang mendera dadanya. Beban yang menindihnya, seakan hendak ia angkat dan
campakkan, dengan cara memacu kuda itu sekencang-kencangnya bagai dikejar
setan. Tujuan yang semula telah ia rancang dengan rasa was-was, saat ini tidak lagi
mendera dadanya. Sepenuh hati rencana telah digenggamnya tanpa keraguan
sedikitpun. Banuwati, ya, Banuwati! Ia hendak menuju ke hadapannya. Ia adalah
anak dari Prabu Salya dan istri dari Prabu Duryudana. Setelah kejadian di balairung
tadi, sebuah rencana yang tertanam dari hari hari terakhir kemarin telah tumbuh
subur. Dihatinya juga telah timbul tekad bahwa ia tak lagi merasa sebagai bawahan
Prabu Duryudana. Junjungannya dimasa lalu yang telah menilai kecil perannya
selama ini. Ia merasa sadar sekarang bahwa dimasa lalunya ia telah dikerdilkan
dengan hanya diberi derajat yang hanya dipandang sebelah mata. Kekesalan yang
terpendam mencapai puncaknya ketika ia telah dibobot ringan dengan pengusiran
yang kedua kali terhadap dirinya.

Dendam membara juga berkobar dalam dadanya kepada Prabu Salya, orang tua
Banowati. Ia hanya bisa berkata dalam hati, jangankan kepada menantunya Prabu
Salya tega, kepada mertuanya-Resi Bagaspati-pun ia sampai hati menghabisi
hidupnya hanya karena perasaan malu mempunyai mertua berujud raksasa. Tapi
kata-katanya tersekat pada korongkongan, tak terlahirkan oleh perasaan tidak enak
kepada Prabu Duryudana. Maka ia hanya dapat mendendam, kepada Banuwati-lah ia
hendak lampiaskan. Dan malam dengan hujan rintik itu telah membawanya menuju
taman Kadilengeng. Malam ketika melintas kutaraja Astina, ia tak menemui kesulitan
apapun. Semua prajurit tunggu istana telah mengenal Aswatama dengan baik. Dan
taman Kadilengeng telah ada didepan mata.

Sementara itu di balairung Bulupitu, sepeninggal Aswatama, perasaan marah dan


setengah dipermalukan oleh Aswatama, masih mendekam didalam hati Prabu Salya.
Hingga ia tak lagi berminat mengatakan sesuatu apapun. Suasana hening melimputi
suasana sidang. Mereka yang hadir seperti terpaku ditempatnya. Hanya dalam pikiran
masing-masing yang berputar-putar menanggapi peristiwa yang baru saja terjadi.
Ketika kesunyian itu masih saja terjadi, Prabu Duryudana akhirnya berkata kepada
pamannya.

“Paman Harya Sengkuni, sungguh tidak masuk akal apa yang dikatakan oleh
Aswatama. Seorang ayah menegakan kematian anaknya, walau itu hanya anak

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 69


menantu. Apakah ia hanya bercerita atas karangan ia sendiri? Apakah ada di dunia
peristiwa semacam itu Paman?”

Patih Sengkuni kemudian mengangkat wajahnya. Dipandangi wajah Prabu Duryudana


dengan perasaan ragu. Ia hendak menyelami apa sesungguhnya kehendak
keponakannya dengan mengatakan demikian. Tapi ini memang menjadi watak
Sengkuni, bahkan dengan nada meyakinkan ia mengipaskan kembali suasana yang
sudah mengendap dengan jawabannya

“Ooooh Sinuwun, ada saja! Jangankankan mertua yang tega atas menantunya,
sebaliknya menantu yang melakukan pembunuhan terhadap mertuanya juga juga
ada. Bahkan ia telah membunuh mertuanya dengan tangannya sendiri”.

“Dimana peristiwa itu terjadi Paman? Siapakah orang yang telah tega berbuat
demikian?” Prabu Duryudana kembali terbawa oleh arus pembicaraan Pamannya. Ia
telah tahu apa yang dikehendaki pamannya.

Dan jawaban Patih Harya Sangkuni dengan tidak lagi ragu “Tidak jauh dari sini,
bahkan . . . “

“Cukup . . . . . !” Kali ini Prabu Salya menukas dengan ketus. Bara kemarahan yang
belum sempurna padam kini sudah kembali berkobar. Bahkan ia sudah tak lagi dapat
mengendalikan nalarnya. Maka tak lagi ia berpikir panjang dan segera menyambung
kata-katanya

“Jangan lagi sandiwara seperti yang kau ucapkan tadi itu diteruskan. Aku sudah
mengerti arah pembicaraan itu, Suman! Bukankah engkau hendak mengatakan
bahwa pada masa lalu aku telah membunuh ayah mertuaku sendiri? Itukah yang
kamu maksudkan dan kamu hubungkan dengan kematian anakku Basukarna?
Sudahlah, aku ini sudah tahu arah tujuan dengan kata-katamu. Kamu hendak
memanasi aku kembali, agar aku mau maju ke Medan Kurukasetra ! Tanpa kamu
panasi dengan kata-kata itupun aku sudah mempunyai tekad, besok aku akan maju
ke palagan peperangan. Lihatlah, esok anak-anak Pandawa akan aku kirimkan ke
alam kelanggengan. Aku ulangi, tidak perlu mamakan waktu lama, tak sampai
setengah hari semua keinginanmu akan terwujud!”

“Lho Sinuwun Prabu Salya, bukan maksud kami menceritakan tentang Paduka Prabu
Salya, tapi bila paduka merasakan itu, ya silakan saja” Patih Sangkuni
menjawab dengan nada merendah. Tetapi dalam hatinya ia tertawa terbahak-bahak,
menyaksikan pancingannya berhasil disambar sasarannya.

Sesak didalam dada Prabu Salya mendengar Patih Sangkuni yang masih saja memberi
jawaban. Namun kini yang bicara adalah paman dari Prabu Duryudana. Maka ia tidak

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 70


bisa gegabah menyalurkan kemarahan sebagaimana dilakukan terhadap Aswatama.
Tidak hendak berlarut-larut dalam kemarahan, ia menghela nafas panjang. Ia
berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan bara yang membakar hatinya. Karena ia
tak lagi mau termakan provokasi Sangkuni, ia berkata kepada Prabu Duryudana
dengan berusaha setenang yang ia bisa.

“Baiklah anak Prabu Duryudana, saya meminta waktu sekejap saja. Aku ingin
kembali dulu menemui ibumu, Setyawati. Rasa kangenku terhadap ibumu tak lagi
dapat ditahan. Mohon jangan bergerak dulu ke medan Kuru sebelum aku kembali
dari Mandaraka”.

“Baiklah rama Prabu, doa kami menyertai kepulangan rama” Duryudana melepaskan
kepulangan sementara Prabu Salya dengan rasa keraguan yang tetap menekan
dadanya. Bahkan dalam hati kecilnya rasa frustrasi telah menuntunnya ke tindakan
seorang pengecut.

“Paman Harya Sangkuni, segala merah hijaunya perang dan jalannya pertempuran
aku serahkan kepada si paman untuk besok hari. Ikuti segala perintah dari Rama
Prabu Salya. Besok aku tidak akan ikut campur urusan perang yang sudah aku
berikan sepenuhnya kepada si paman dan rama Prabu Salya”.

Malam itu juga kereta kebesaran Prabu Salya bergerak kencang menuju ke keputren
Mandaraka. Prabu Salya pulang ke Mandaraka dengan hati masgul.

Dan kedatangan Prabu Salya pada saat lepas sore itu benar-benar mengejutkan
Prameswari Mandaraka, Dewi Setyawati.

“Sinuwun kanda Prabu, kaget dan gembira rasa hati ini, ketika melihat Paduka
Sinuwun telah berada kembali di Mandaraka. Apakan perang sudah selesai? Siapakah
yang unggul dalam perang yang pasti melelahkan jiwa dan raga itu?”

“Pastilah kedatanganku membuat kamu berdua menjadi kaget. Dan perlu dinda
Setyawati, bahwa perang belumlah benar-benar selesai. Kedatanganku
sesungguhnya hanya melepas kangen, sebab, aku merasa sudah terlalu lama, sejak
pecah perang, baru kali ini aku kembali ke Mandaraka meninggalkanmu. Ketahuilah,
bahwa esok hari aku akan menjadi senapati perang. Dan sebagai seorang senapati,
ibaratnya adalah seperti orang yang siap bepergian. Karena rasa sayangku
terhadapmu, bila aku pergi nanti, maka kita harus pergi berdua. Secara kebetulan,
bahwa kita berdua adalah orang yang punya hari lahir yang sama, maka bila kita
pergi, sebaiknya juga kita pergi juga bersama-sama”.

Mendengar kata-kata suaminya, Dewi Setyawati nampak tertegun. Sebagai seorang


wanita anak Resi Bagaspati, yang tidak lain seorang pandita yang tak diragukan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 71


kewaskitaanya, ia sudah mempunyai firasat buruk terhadap apa yang dikatakan
suaminya. Ia telah merelakan anak-anak lelakinya habis dalam peperangan itu, tapi
kali ini, ia tidak akan lagi rela melepas suaminya menjadi bebanten perang seperti
yang terjadi pada anak-anaknya. Maka ia bangkit dari duduknya dan bergelayut pada
selendang suaminya. Prabu Salya yang melihat tingkah istrinya itu, kemudian
tersenyum kepadanya. “Apa yang menjadi kekhawatiranmu Dinda Ratu, aku akan
mendengarkan apa yang menjadi isi hatimu”, kata Salya masih dengan senyumnya.

Gb. 62 – Prabu Salya dan Sang Istri, Setyawati

“Kanda, anak anak lelaki kita, satu demi satu sudah gugur dalam membela Negara
Astina. Bahkan anak perempuan kita Surtikanti juga telah bela pati atas kematian
suaminya Basukarna. Terlepas dari siapakah yang benar dalam perang itu, hamba
sudah pasrah. Tapi, untuk kali ini, hamba tidak akan melepas kepergian paduka ke
medan perang. Cukuplah sudah pengorbanan kita untuk mukti wibawa anak kita
Banuwati. Malah bila mungkin, mintalah anak mantu kita menyudahi pertempuran,
dan anak kita sekalian diminta untuk kembali ke Mandaraka. Negara Mandaraka
sudah tidak lagi mempunyai Pangeran Pati, biarkan anak mantu Prabu Duryudana-
lah yang sekiranya dapat kita turunkan negara ini untuknya. Dan kita sudah saatnya
untuk menikmati hari tua ini di Pertapaan Argabelah dengan memasrahkan diri
kepada dat yang maha kasih. Mohon maaf kanda Prabu untuk kelancangan hamba
memberikan pilihan kemungkinan yang tak lagi mengorbankan seorangpun.”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 72


Masih dengan senyumnya, Prabu Salya malah berkata memuji. Makin rapat sang istri
memeluk suaminya. Prabu Salya pun membalas dengn memegang tangan istrinya

“Itulah kenapa dari dulu aku menyayangimu, seorang anak gunung, yang jauh dari
keramaian kota dan tata krama kerajaan. Tetapi dalam dirimu yang dikaruniai
kecantikan yang sempurna, yang telah mampu merampas segenap sukmaku. Sampai
sekarang walaupun engkau sudah berputra-putri dewasa, kecantikan itu tidak pudar
dimakan oleh waktu, malah semakin bersinar. Dan tak kalah dari yang telah aku
ucapkan tadi, adalah mengenai sosok dirimu secara keseluruhan. Dasar pemikiran
cemerlang yang kamu punya itu, selalu muncul setiap kali aku merasa buntu dalam
menjalankan tata kenegaraan. Hingga segala pertimbangan atas buah pikiranmu
selalu menuntun aku keluar dari masalah pelik. Maka, walaupun kita dikatakan
tidak pernah terpisah sejengkalpun seumpamanya, dari muda hingga rambut kita
sudah dua warna, tetapi ketika aku berpisah walau sekejap, rasa kangen ini selalu
saja memenuhi dadaku. Dan bukan oleh karena permintaan rama Resi Bagaspati, bila
aku memperistrimu aku tidak boleh menduakan dinda Setyawati. Tetapi memang
tidak ada gunanya aku menduakanmu. Dari dirimu, semua rasa tentram, rasa
bahagia dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, rasanya sudah dinda berikan
tanpa henti hari demi hari, tahun demi tahun. Jangan lagi dipikirkan yang akan
terjadi besok, lihat, malam ini suasana sangat indah! Kenapa kita tidak menikmati
karunia yang telah dewata limpahkan?

Jatuh kedalam pelukan mesra, Dewi Setyawati ke dada suaminya. Sanjungan


suaminya yang dikenalnya sejak lama dan selalu saja dengan nada yang romantis
telah berkali-kali ia dengar. Tapi kali ini sungguh ia dibuat terbang sukmanya.
Dibimbingnya sang istri ke peraduan. Sudah tidak muda lagi keduanya, tetapi
kemesraan diantaranya tetap terjalin waktu demi waktu. Tidak heran, bahwa lima
orang putra putri telah lahir dari buah kasih mereka. Dan nama Setyawati adalah
benar-benar sebagai ujud dari nama Endang Pujawati semasa gadisnya. Mereka
berdua adalah manusia-manusia yang dikaruniai kasih setia yang dalam satu sama
lain.

Dipandangnya wajah istrinya ketika ia sudah terlelap terbuai mimpi indah. Dalam
hatinya tak dapat dipungkiri, ia sangat mencintai istrinya. Dan Prabu Salya sangat
memanjakan istrinya dengan berlaku setia penuh. Mungkin ia hendak membayar
kesalahan yang telah dilakukan atas permintaannya dulu ketika rasa malunya
mempunyai mertua berujud raksasa. Tetapi sesampainya di Mandaraka ketika
memboyong istrinya, ia malah mendapat murka dari ayahnya, Prabu Mandrapati. Ia
mengatakan hal yang sebenarnya terjadi atas mertuanya, tetapi ia tidak mengetahui
bahwa Resi Bagaspati adalah saudara seperguruan ayahnya. Diusirlah Narasoma,
Salya muda, ketika itu, yang diikuti oleh Madrim adiknya. Dari situlah ia menyerahkan
Dewi Madrim dan Dewi Kunti ke tangan Pandu, atas pengakuan kekalahannya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 73


Padahal ia telah memenangkan sayembara pilih dan berhak memboyong Kunti puteri
Mandura. Kenangan masa lalu Salya terhenti ketika ia memutuskan sesuci dan masuk
ke sanggar pamujan, meninggalkan sang istri yang masih terlelap tidur.

Kokok ayam yang pertama di pagi buta telah lama berlalu. Matahari di hari belum
lagi bersiap menerangi semesta dengan cahaya merah diufuk timur. Dalam balutan
busana putih di sanggar itu, Prabu Salya dikejutkan dengan kedatangan seorang
utusan yang mengatakan telah menunggu dua orang tamu yang hendak menghadap.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 74


Episode 23 : Siasat Sang Pecundang
Kita tinggalkan malam di Mandaraka. Ditempat yang lain, Aswatama dengan
kebulatan tekad telah memasuki Taman Kadilengeng di lepas sore itu. Dan di taman
itu, Dewi Banuwati tengah duduk didampingi oleh para dayang-dayangnya. Mereka
dengan setia memberikan bermacam hiburan yang ditujukan agar junjungannya
dapat melupakan kemelut yang sedang menyelubungi negaranya. Ketika Aswatama
masuk ke Taman Kadilengeng, suasana hingar bingar mendadak terhenti. Hampir
semua mata menuju kearah kedatangan Aswatama. Semua menerka-nerka, pasti ada
sesuatu yang sangat penting hendak disampaikan oleh sang tamu. Sosok tamu yang
semua sudah mengenalnya sebagai anak Pedanyang Sokalima, anak dari Sang
Pujangga Astina.

Begitu pula dengan Dewi Banuwati, yang memendam seribu tanya. Ada apakah
gerangan berita yang dibawa dari peperangan. Dalam suasana perang yang sudah
berhari-hari berlangsung, maka pastilah kejadian demi kejadian akan cepat berganti
waktu demi waktu dan segala kemapanan pasti goyah dengan cepat. Tidak
menunggu lama, diperintahkan oleh Dewi Banuwati para dayang-dayangnya untuk
segera menjauh darinya. Berita mengenai segala perubahan di peperangan hendak ia
bicarakan empat mata saja dengan Aswatama.

Sembah bakti Aswatama telah dihaturkan. Basa-basi telah diucapkan oleh keduanya.
Bagi Aswatama, kebiasaan pada waktu waktu yang telah lampau, tetap ia lakukan
demi siasat yang hendak ia jalankan. Kebiasaan yang masih berlaku hormat kepada
istri Prabu Duryudana. Walau dalam hatinya ia mengatakan bahwa ia tak akan lagi
menjadi abdi negara Astina, tetapi pesona kecantikan Sang Dewi masih membuat
dirinya juga tak berdaya dihadapan Banuwati.

Pada masa lalu, kekagumannya kepada kecantikan Banowati dipendamnya dalam-


dalam. Karena dalam pikirannya, tidak sepantasnyalah ia mengagumi kecantikan dari
junjungannya. Padahal dalam hatinya yang paling dalam, senyum Banuwati telah
lama mengguncangkan hatinya. Setiap kali ia menyaksikan kemanjaan sikap dari
Banuwati, ketidak berdayaannya atas keinginannya untuk memiliki Sang Dewi
semakin menindih perasaannya. Tidak pantaslah juga, ia mengidam-idamkan
Banuwati yang cantik, Banuwati yang manja, Banuwati yang sorot matanya
menyinarkan pesona bagi siapa saja yang menapnya. Tapi bagi Aswatama, tidak ada
keberanian baginya untuk menatap mata itu. Ketika itu, keberaniannya hanya
sebatas memandang pesona itu dari sudut matanya saja.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 75


Tetapi saat ini sekuat tenaga ia hendak meruntuhkan tabu-tabu atas masa lalu. Dan
pada saat yang dipandang tepat nanti, ia ingin mereguk dengan segenap isi jiwanya,
pesona yang terpancar dari sosok seorang Banuwati.

Gb. 63 – Dewi Banowati

“Aswatama, apakah perang sudah usai?” Itulah yang setiap kali diucapkan Sang
Dewi ketika ada seseorang yang kembali dari peperangan. Kembali pertanyaan itu
diucapkan. Aswatama dengan getar di dadanya mendengarkan ucapan dari bibir
merah Banuwati masih dengan angan-angannya. Sangat jarang Aswatama berhadapan
langsung dengan Sang Dewi, bisa dikatakan tak lebih dari hitungan jari sebelah
tangannya. Maklumlah jabatan yang ia sandang tidak memungkinkan sering bertemu,
walau ia sudah berada di istana sejak dari muda. Pertanyaan Banuwati dengan nada
yang kenes, sesuai sifat dasarnya, membuat runtuh jantung Aswatama yang
berdentang keras. Begitu kuat ternyata pesona yang terpancar dari sosok Banuwati
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 76
dari dekat. Hal inilah yang membuat kata-kata yang disusun sebelumnya, menjadi
berantakan tak karuan.

Tetapi gugupnya Aswatama dimata Dewi Banuwati dartikan lain. Dimatanya,


kegugupan itu mengisyaratkan telah terjadi sesuatu hal dalam peperangan yang
menentukan yang kehidupan negara selanjutnya. Dan Aswatama merasakan kesan
yang memancar dari mata Banuwati itu. Maka timbullah keberaniannya untuk segera
melakukan tindakan yang semula dirancangnya. Kembali ia dikejutkan dengan
pertanyaan Banuwati mengulang.

Serta merta Aswatama menjawab, setelah terkaget dengan ulangan pertanyaan itu.

“Memang ada yang hamba akan laporkan Sang Dewi, mengenai kejadian penting di
palagan peperangan.”

“Cepat katakan, Aswatama! “ Tak sabar Banuwati segera menyahut.

“Apakah Paduka Ratu berkenan dengan apa yang hendak hamba katakan?”.

“Ya ya. . . segera katakanlah.”

“Saat sekarang kekuatan Kurawa sudah dapat dikatakan lumpuh, dan tinggal
menunggu saat-saat terakhir perlawanan. Maka Baginda Prabu Duryudana
memerintahkan kepada hamba untuk membawa Paduka Sang Dewi, keluar dari
taman Kadelengeng”.

“Oooh begitukah? Biarkan saja aku tetap di Keputren ini. Tak akan ada sesuatu yang
membuat aku khawatir akan keselamatan diriku.” Datar saja ucapan Dewi Banuwati,
tak ada sedikitpun kecemasan membayang di wajahnya oleh sebab dari berita yang
disampaikan Aswatama. Berita kekalahan Kurawa, sepertinya adalah hanya
merupakan masalah kecil baginya. Aswatama hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya, dan ia tidak terlalu heran dengan sikap Banuwati.

Sejenak Aswatama terdiam, kemudian otaknya kembali bekerja. Katanya kemudian.

“Tetapi ini adalah perintah dari Gusti Prabu Duryudana. Hamba akan bersalah bila
tidak menjalankan titah yang telah digariskan”.

“Kembalilah ke Kurusetra. Katakan kepada kanda Prabu. Bahwa tak perlu ada yang
dikhawatirkan tentang keselamatanku. Musuh Kurawa pada perang Baratayuda
adalah para Pandawa. Mereka itu adalah para kesatria yang tahu bagaimana
memperlakukan musuh, mereka tak akan mungkin mencelakakan aku. Apalagi sifat
dimas . . . . “ Terhenti ucapan yang sudah ada dikerongkongannya dan segera ditelan
kembali. Dan warna merah dadu menghiasi wajah Sang Dewi atas ketelanjurannya,

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 77


walau terputus. Namun Aswatama segera tahu apa yang hendak Banuwati ucapkan.
Dan ini telah membuat otak Aswama seketika terang benderang

“Tetapi perkenankan hamba berterus terang. Gusti Prabu Duryudana sudah berada
di suatu tempat. Mereka sudah menunggu jemputan ini. Disana sudah menunggu
pula ayahnda Paduka Prabu Salya beserta Para Pandawa. Atas kehendak ayahanda
Paduka Sang Dewi, perdamaian diantara yang sedang berperang hendak
diselenggarakan. Dan diperkenankan Gusti Ratu sebagai saksi atas perdamaian
itu. Dari pihak Kurawa akan langsung dipimpin oleh Gusti Prabu Duryudana,
sedangkan dari Pihak Pandawa akan dipimpin oleh Raden Arjuna.” Sengaja
Aswatama menyebut nama Arjuna untuk memancing kenangan terhadap kekasih
gelapnya.

“Ah . . .” Banuwati berdesah, senyum dibibirnya hampir saja terkembang, tetapi


segera dipalingkan mukanya untuk menyembunyikan perasaannya. Dari sudut
matanya, Aswatama mencuri pandang terhadap raut muka Sang Dewi Banuwati yang
dengan susah payah hendak menyembunyikan perasaan yang berkecamuk di hatinya.
Namun senyum sekilas tadi telah mengembangkan sejuta asa di hati Aswatama.
Dalam hatinya mengatakan, “Inilah saatnya!” .

Sejenak hening disekitar mereka. Aswatama membiarkan saja perasaan Banuwati


melayang-layang. Namun Aswatama sudah tahu, apa pikiran yang membayang di
rongga kepala Banuwati.

Tetapi tak lama suasana itu hening itu berlangsung, kemudian Banuwati memecahkan
kesunyian.

“Bila begitu yang akan terjadi, apapun yang menurut rama Prabu Salya lakukan,
hendaknya dilakukan. Tetapi yang aku sesalkan, kenapa baru sekarang kanda Prabu
hendak berdamai setelah kekalahan nampak dipelupuk matanya. Perdamaian yang
sebelumnya telah membawa banyak korban!” Sejenak Dewi Banowati terdiam,
kemudian ia menyambung. “Tetapi baiklah, Aswatama, kapan kita hendak
berangkat?”

“Sinuwun Prabu Duryudana tidak mau membuang-buang waktu lagi. Malam ini juga
hamba dititahkan untuk segera mengantarkan Kusuma Dewi ke hadapannya”. Jawab
Aswatama setelah menarik napas panjang. Kelegaan memenuhi dadanya, setelah
sekian lama merasa tertindih beban yang begitu berat.

“Kita perlu pengawal untuk perjalanan malam ini Aswatama!”

“Tidak perlu Gusti Ratu, ini akan memperlambat perjalanan kita. Sedangkan malam
terus berjalan dan akan semakin larut bila waktu dibuang untuk mempersiapkan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 78


segala sesuatu. Toh kita besok sudah kembali lagi ke Astina”. Berpikir tangkas
Aswatama segera menolak usul yang disampaikan Dewi Banuwati.

“Baiklah Aswatama, kita pergi sekarang!”.

Maka dengan persiapan singkat, Dewi Banuwati berganti busana dan segera menaiki
kuda. Dan Aswatama menaiki kudanya pula. Tak ada kecurigaan apapun ketika
mereka melewati penjagaan demi penjagaan, pengawalan terakhirpun telah
melepasnya. Dan tak terasa malam makin merambat dan perjalanan mereka semakin
cepat.

Batas negara telah terlewat dan sawah kemudian ladang pegagan sudah mereka lalui.
Hujan yang turun sore tadi telah lama reda, langit hanya menyisakan awan bergumpal
di sana sini. Namun sebagian, masih menampakkan bintang-bintang yang berkelipan
malu-malu. Kemudian tibalah mereka di padang perdu dan kemudian hutan dengan
tumbuhan kayu besar yang makin pepat. Dan malam semakin merambat larut,
sementara perjalanan terus berlanjut.

“Aswatama, apakah tempat itu masih jauh?” tanya Banuwati yang merasa curiga
dengan perjalanan malam yang seperti tak berujung.

“Tinggal beberapa yojanya kita akan sampai?” Aswatama berkilah

“Benarkah? Aku lihat kita malah berputar putar arah tidak karuan bahkan kita
memasuki hutan dan jurang yang curam di kanan kiri kita!” tanya Banuwati ketika
sampai pada tempat yang lapang ditumbuhi beberapa pohon-pohon perdu ditepi
jurang.

“Mhmm . . . , baiklah! Sekarang aku tidak lagi hendak menyembunyikan apa


sejatinya yang kulakukan terhadapmu”. Sejenak Dewi Banuwati bagai terhenti
jantungnya. Ia mendengar ucapan Aswatama yang bernada lain dari biasanya. Tetapi
sekuat tenaga ditenangkan hatinya. Doa akan keselamatannya ia panjatkan untuk
mengatasi kejadian yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Dilain pihak,
Aswatama yang sudah sekian lama bersikap hormat sebagai anak Pedanyangan,
ketika mengabdi pada Prabu Duryudana, kini berusaha bersikap tegak. Secara naluri
Banuwati menjauhkan kudanya dari kuda tunggangan Aswatama.

Aswatama turun dari kudanya dan menambatkan di sebatang pohon. “Tempat yang
agak lapang ini memungkinkan aku berterus terang terhadap Banuwati” demikian
pikirnya dengan debar dada yang masih bergemuruh. Tetapi setelah diingat bahwa ia
hanya berdua saja dengan Banuwati, dan apalah artinya wanita tanpa pendamping
dihadapan lelaki yang terkodrat lebih kuat. Maka jebol-lah keraguan yang semula
melimputi dirinya. Dipandangnya Banuwati dari ujung rambut hinggga ke ujung kaki

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 79


dengan mata nyalang. Senyum aneh tersungging di bibir Aswatama bagai orang yang
mabuk tuak.

Banuwati yang dipandang seperti itu merasa risih, dan ketakutan mulai membayang
diwajahnya. Kembali hatinya dibesarkan, walau degup jantungnya masih juga tidak
hendak reda. Setelah menarik nafas dalam-dalam, ia menanya, dengan tetap duduk
diatas punggung kuda.

“Sekarang katakan apa sebenarnya yang kamu kehendaki, Aswatama?” bergetar bibir
Banuwati menanyakan maksud Aswatama. Padahal sebenarnya pertanyaan itu telah
diketahui jawabnya. Namun ia masih menunggu jawaban Aswatama yang masih
dengan senyum kemenangan dibibirnya. Kemudian dilihatnya Aswatama berdiri
didepan kuda, dan berkata dengan dada tengadah.

“Di dunia ini tidak genap dua hitungan jumlah perempuan yang memiliki pesona yang
begitu hebat. Pesona yang kamu miliki itu! Raja Astina yang begitu agung-pun
bertekuk lutut. Menurut apa yang kamu perintahkan dengan tidak ada suatu katapun
yang bernada menentang. Bahkan suatu contoh, bila keinginanmu untuk ketemu
Arjuna tidak diturut, hanya sedikit kata rayuan dan seribu alasan, permintaan itu
akhirnya dikabulkan. Benar-benar Prabu Duryudana bagai kerbau yang dicocok
hidungnya. Dan pesona dari dirimu tidak urung telah menebar keseluruh
lingkunganmu. Pesonamu juga telah menyusup menembus dalam dijantungku. Setiap
dirimu lewat didekatku, terasa dadaku hendak pecah. Ya, terus terang saja! Sudah
lama aku memendam perasaan ini terhadapmu, Banuwati. Perasaan cinta yang
tadinya hampir tak mungkin kesampaian karena aku dulu mengabdi kepada Prabu
Duryudana! Dan sekarang, Duryudana ada dalam keadaan sekarat. Daripada
keduluan yang lain, terimalah takdirmu bahwa Aswatama adalah pemilik yang sah
dari Banuwati untuk selanjutnya ha ha ha . . . . !”

Masih dengan ketawanya, Aswatama mendekat dan memandang dengan nyalang


sosok Banuwati yang tertegun duduk diatas kuda. Tanpa berkedip, di kegelapan yang
hanya tersinari bintang, sosok siluet Banuwati dikeremangan itu makin mempesona
dimata anak Pedanyangan yang dimabuk keberhasilan itu. Hilang kewaspadaannya,
dan tidak terpikir bahwa suatu saat, kuda itu dapat dilecut hingga lari dan tak dapat
dikejar.

Sementara di dalam otak Banuwati berputar mencari celah untuk dapat melarikan
diri. Tanpa sesadarnya kuda diarahkan mundur kembali menjauhi Aswatama
yang selalu mengikuti langkah kemana saja kuda Banuwati bergerak.

Banuwati yang lambat laun bisa menguasai dirinya, kemudian berusaha tersenyum.
Ia sudah dapat melihat dengan jelas, langkah apa yang seharusnya dilakukan untuk
mengatasi kesulitan yang menjepit dirinya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 80


“Ooh . . . begitukah? Siapapun, termasuk kamu dapat saja menjadi suamiku bila ia
memiliki kecekatan berpikir. Dan gerak cepatmu telah membawamu untuk
memboyong aku kemana kamu suka. Bawalah aku ke Timpuru atau ke Atasangin,
kesanalah kita akan mukti wibawa meneruskan kejayaan Astina! Lihat bintang-
bintang dilangit adalah saksinya!”

Sang Dewi mengatakan sambil menunjuk ke langit dimana bintang-bintang masih


bergelayutan.

Tanpa sadar bagai tersihir, Aswatama juga ikut mendongak ke langit. Dan saat yang
sedikit itu digunakan dengan sempurna oleh Banuwati. Secepat kilat ditariknya
kendali dan dipacu kuda itu tanpa menoleh kanan kiri. Kaget setengah mati
Aswatama dan terlanggar kuda Banuwati. Bergulingan ia menahan sakit didadanya,
dan merah padam mukanya oleh perasaan marah yang tidak terkirakan. Segera ia
menuju kearah kudanya dengan tertatih-tatih, dilepaskan ikatannya dengan terburu-
buru. Sumpah serapah membuncah dari mulutnya. Terlambat sedikit, kuda yang
ditunggangi Banowati telah menghilang dikelebatan hutan dan pekatnya malam.
Derap kaki kuda yang bergulung-gulung menggema diantara tebing telah
memperlambat usaha Aswatama dalam menelusuri jejak Banuwati. Sementara kabut
telah turun setelah malam menjadi dingin menjelang pagi. Sempurnalah kesulitan
Aswatama dalam melacak jejak buruannya.

Dewi Banuwati yang terlepas dari tangan Aswatama ternyata tidak mahir
mengendalikan kudanya. Terpental pental ia diatas punggung kuda yang menjadi liar
menyelusup diantara pepatnya pepohonan hutan. Walau sekuat tenaga Banuwati
bergayut, namun tetap ia tak berhasil menguasai keseimbangan badan diatas pelana.
Ia terhempas dan terperosok ke dalam kelebatan perdu yang tumbuh menyebar
ditebing jurang.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 81


Episode 24 : Jujurlah Pinten, Tangsen!
Bayangan jingga belum lagi terbias diantara mega-mega di langit timur, ketika
Aswatama telah berada jauh jaraknya dalam pencarian jejak Banuwati. Kelamnya
hutan dan kabut menjelang pagi amat mempersulitnya dalam melacak lari kuda yang
ditumpangi Banuwati. Jejak kaki kuda dan patahan ranting yang masih baru kadang
masih dapat terlihat sebagai tanda lacaknya, namun sejatinya kuda itu telah lama
kehilangan penumpangnya yang terperosok jatuh di tempat yang sudah jauh
tertinggal.

“Keparat Banuwati, kau telah membuat dendamku makin dalam! Ya, tidak ada yang
dapat aku katakan, belum akan mati dengan dada lapang Aswatama, jika aku belum
berhasil membunuh perempuan celaka yang berlindung dibalik kecantikan
parasnya!” Perasaan sesal dan dendam melonjak-lonjak dalam dada Aswatama.
Segenap sisi hutan telah ia selusuri meneliti dengan seksama tanda-tanda dimana
adanya Dewi Banowati, namun Sang Dewi seolah ditabiri oleh kekuatan gaib yang tak
kasat mata.

<<< ooo >>>

Gb. 64 – Pinten dan Tangsen menghadap Sang Uwa, Prabu Salya

Sementara itu di Mandaraka, abdi istana telah menghadirkan kedua orang tamu yang
sedari lepas tengah malam menunggu, kapan kiranya akan ditemui oleh tuan rumah.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 82


Prabu Salya yang masih belum beranjak dari tempat sesuci telah mengira, siapa
sebenarnya yang hendak menghadap. Firasatnya mengatakan, bukan orang lain yang
hendak bertemu dengannya. Maka ia masih tetap dalam busana putih yang ia kenakan
ketika ia memuja Hyang Maha Agung, dan juga belum hendak beranjak dari sanggar
pemujan.

Prabu Salya menarik nafas panjang ketika ia melihat dihadapannya berjalan dua
sosok yang sangat ia kenal dengan baik. Dialah kemenakannya, Nakula dan Sadewa.
Kemenakannya yang lahir dari gua garba adik perempuannya Madrim. Adik
perempuan satu-satunya yang sangat ia kasihi. Seketika tangannya dilambaikan
kearah kedua satria yang baru saja dipanggilnya menghadap. Sambil tetap duduk
ditempat semula, tangannya mengusap-usap kepala kemenakannya dengan sepenuh
kasih ketika Nakula dan Sadewa bersimpuh dan menghaturkan sembah bakti
kepadanya.

“Pinten, Tangsen, duduklah dekat kemari” Masih disertai senyum, Sang Uwak,
ketika melepaskan elusan tangannya. Prabu Salya terbiasa memanggil kemenakannya
dengan panggilan kecil, Pinten dan Tangsen, kepada Nakula dan Sadewa. Ia
menganggap kemenakannya masih saja selayaknya kanak-kanak, walau mereka
sebetulnya sudah lepas dewasa. Panggilan itu seakan ia ucapkan sebagaimana ia
dengan segenap kasih ingin menumpahkannya kepada anak yang terlahir piatu itu.
Dan masih tercetak kuat dalam benaknya, betapa sejak kecil keduanya telah
ditinggalkan oleh sepasang orang tuanya, sehingga tak terkira betapa kasih Sang
Uwak tertumpah kepada kedua kemenakannya itu.

Nakula dan Sadewa beringsut sejengkal memenuhi keinginan uwaknya. Tanya seputar
keselamatan masing-masing telah mereka ucapkan dengan singkat, hingga kemudian
Prabu Salya membuka pembicaraan ke hal selain basa-basi.

“Kedatanganmu kemari, aku merasakan seperti halnya ibumu hadir dalam diri kamu
berdua. Kembar, alangkah malangnya kamu berdua ditakdirkan terlahir sebagai
anak piatu”. Sejenak Prabu Salya yang baru saja membuka kata, terdiam.
Matanya menerawang mengingat adiknya Madrim dengan segala tingkah polahnya.

“Didunia ini, siapakah orangnya yang tidak mengenal Prabu Pandu Dewanata,
ayahmu. Tidak ada seorangpun yang bisa memberikan keterangan selengkap yang
aku berikan mengenai keberadaan ayahmu, kecuali keterangan itu datang dari
diriku. Dulu sewaktu ibumu hamil, ia ngidam naik Lembu Andini. Padahal ia tahu,
Lembu Andini itu kendaraan Hyang Guru. Itupun ia mengendarainya hanya sendirian
saja”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 83


Yang diajak bercerita masih diam sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dibiarkannya uwaknya berceritera. Walaupun cerita itu sudah berkali-kali ia dengar
dari mulut uwaknya, Prabu Salya.

Gb. 65 – Dewi Madrim

“Pinten, Tangsen, aku akan menceritakan kembali apa yang terjadi pada kedua
orang tuamu. Dengarkan ya”. Prabu Salya menyambung, “Ibumu, Madrim, ternyata
meniru tindakan Istri Batara Guru, yaitu Dewi Uma, yang juga ingin menaiki Lembu
Andini berdua dengan Batara Guru, suaminya. Walau banyak suara sumbang ingin
menggagalkan permintaan Uma atas keinginannya itu, tetapi cinta Batara Guru
terhadap Dewi Uma mengalahkan keberatan parampara kahyangan Jonggiri
Kaelasa”.

Cerita yang diceritakan Prabu Salya melebar, namun demikian Nakula dan Sadewa
masih saja mendengarkan dengan sesekali mengangguk kecil.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 84


“Waktu demi waktu berlalu, berdua melanglang jagat menaiki lembu Andini. Tak
lah aneh, bila segala keinginan Batari Uma dituruti, karena cinta mereka sebagai
suami istri yang baru mereka jalani. Mereka lupa bahwa berdua ada punggung Lembu
Andini. Kekuatan asmara telah menggiring mereka melakukan olah asmara diatas
punggung Lembu Andini. Hingga kemudian meneteslah kama salah, jatuh kelautan
dan menjelma menjadi raksasa yang dinamai Batara Kala. Dialah putra Batara Guru
dengan Dewi Uma, yang membuat jagat yang semula tentram menjadi kisruh, yang
suci-bening menjadi tercemar, yang tegak menjadi berantakan”.

“Tetapi ternyata perbuatan itu telah ditiru mentah-mentah oleh ayahmu, Pandu.
Walau Dewa telah memberi peringatan, tetapi ayahmu telah berlaku terlalu tinggi
hati, mentang-mentang ayahmu telah sangat berjasa bagi Kahyangan. Ayahmu lupa
bahwa ia telah diberikan anugrah ketika ia telah berhasil menyingkirkan musuh
Kahyangan, Prabu Nagapaya. Ganjaran yang telah Dewa berikan berupa Minyak Tala.
Bahkan ayahmu telah berjudi dengan nasibnya, dengan menyanggupi diri untuk
menjadi kerak Kawah Candradimuka. Itulah ayahmu, watak tinggi hati dan rasa cinta
terhadap ibumu yang tiada terkira, membuat ia lupa segalanya”.

Walau mereka berdua telah berkali kali mendengar cerita tentang kedua orang
tuanya, tetapi tidak urung Nakula dan Sadewa telah meruntuhkan air matanya. Kali
ini uwaknya menceriterakan kembali peristiwa yang mengiringi riwayat kejadian atas
diri mereka berdua.

“Perlukah aku ceritakan bagaimana kematian kedua orang tuamu?“

Sejenak Nakula Sadewa terdiam. Mereka teringat, kedatangan mereka sebenarnya


adalah dalam tugas negara. Seperti perintah yang diberikan oleh Prabu Kresna,
mereka diberikan kewajiban untuk bagaimana melululuhkan hati uwaknya, agar
dalam perang di terang hari nanti, uwaknya akan merelakan hidupnya untuk kejayaan
Para Pandawa. Kresna telah mengetahui, bila tidak ada usaha untuk membuat Prabu
Salya merelakan kematiannya, maka Para Pandawa tak akan dapat mengalahkan
senapati bentukan Prabu Duryudana kali ini, yaitu Prabu Salya.

Maka Nakula dan Sadewa telah mengambil keputusan untuk mengulur perasaan Prabu
Salya, agar nanti dengan gampang masuk mengutarakan maksudnya. Mereka pun
menjawab, “Uwa Prabu, kami akan mendengarkan apa yang hendak Uwa Prabu
ceriterakan”

“Baiklah. Ketika kamu dikandung ibumu menjelang kelahiranmu, terjadi


pemberontakan oleh sebuah negara yang ada dalam bawahan Negara Astina. Negara
Pringgondani yang dipimpin oleh Prabu Trembuku hendak memisahkan diri dari
kekuasaan Astina. Prabu Trembuku yang merasa sudah kuat dan mampu
mengalahkan ayahmu telah dengan berani melakukan pememberontakan. Dalam

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 85


perang tanding antara ayahmu dan Prabu Trembuku, ayahmu dapat mengalahkan
kesaktian Prabu Trembuku yang kala itu menggunakan pusaka berujud keris yang
bernama Kala Nadah. Sekali lagi kukatakan, ayahmu adalah orang yang tinggi hati.
Prabu Trembuku, oleh ayahmu, sudah dianggap tak berdaya, hingga ayahmu Pandu
lengah. Ketika sesumbar atas kemenangannya, ayahmu melangkah hendak berdiri
diatas tubuh Kala Trembuku, sebagai tanda atas kemenangannya. Namun Trembuku
ternyata masih kuat untuk menusukkan senjata keris Kala Nadah ke telapak kaki
ayahmu. Berhari-hari Keris Kyai Kala Nadah mengeram dikakinya. Tak ada
seorangpun yang mampu mencabut keris Kala Nadah, hingga membuat kesehatan
ayahmu menurun hari demi hari. Dan akhirnya, ketika kamu berdua terlahir kedunia,
yang disertai kematian ibumu karena kehabisan darah, ayahmu juga ikut wafat
setelah memberi nama buat kamu berdua”.

Gb. 66 – Prabu Pandudewanata

Sebentar prabu Salya membenahi tempat duduknya dan bergeser duduknya.


Kemudian ia melanjutkan ceritanya. “Kegaiban terjadi, ketika kedua orang tuamu
telah wafat, tiba-tiba saja jasad keduanya telah hilang tak berbekas. Sudah menjadi

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 86


suratan takdir bahwa kematian kedua orang tuamu adalah menuai apa-apa yang
mereka tanam. Janji ayahmu Pandu untuk sanggup menjadi kerak Neraka Yomani,
telah berbuah. Ucapan orang tuamu ketika meminjam Lembu Andini, sanggup mukti
waktu itu, dan sanggup sengsara kemudian telah menjadi kenyataan”.

“Keris perenggut nyawa ayahmu diberikan oleh pamanmu,Yamawidura, kepada


Arjuna kakakmu. Sejak saat kamu berdua menghirup udara dunia, kamu sudah ada
dalam asuhan ibu dari Puntadewa, Werkudara dan Arjuna, ya Kunti itulah yang
memberi perlindungan atasmu sebagaimana ia memperlakukan kasihnya terhadap
anak kandungnya. Oleh karena itu Pinten, Tangsen, perlakukan ibumu, Kunti,
dengan kasih yang sepenuh hati. Perlakukan ibumu Kunti, seperti saudara saudaramu
tua menyayangi ibunya”.

“Semua titah Uwa Prabu sudah hamba lakukan, sebagaimana Ibu Kunti dengan tak
membeda-bedakan kasihnya antara kami berdua dengan saudara-saudara kami yang
lahir dari rahim ibu Kunti” Jawab Nakula dan Sadewa serentak dengan suara yang
sedikit serak, ketika uwaknya menghentikan ceritanya sesaat.

“Baik”, sekali ini Prabu Salya kembali menghela nafas panjang dengan senyum puas,
“Selain dari pada itu anak-anakku, kamu berdua hendaklah tidak pernah menyerah
dalam menjalani Perang Baratayuda ini. Tetaplah ada pada kedekatan jarakmu
dengan kakakmu Puntadewa. Aku lihat kamu sekarang malah datang kehadapanku di
Mandaraka. Apa yang hendak kau sampaikan Pinten, Tangsen”.

Kedua bersaudara kembar itu saling berpandangan. Keduanya merasa pintu telah
terbuka. Kemudian bersepakat dengan sinar matanya, siapakah yang hendak
menyampaikan hal penting sebagai utusan dari Prabu Kresna.

“Siapakah diantara kami Para Pandawa yang tidak merasa khawatir, sebab kami
telah mendengar bahwa terang tanah hari ini, Uwa Prabu sudah diangkat wisuda
sebagai senapati perang Astina. Tak lain yang akan dihadapi adalah kami semua
saudara Pandawa”.

Berdebaran dada Nakula yang hendak menyatakan inti dari maksud kedatangannya.
Kembali dengan suara parau ia mengatakan, “Maka Uwa Prabu, dari pada
memperpanjang cerita, yang tidak urung nanti Para Pandawa akan runtuh di medan
Kuru, maka kami akan menyerahkan kematian kami sekarang juga, Uwa. Dan akan
jelaslah bahwa kematian kami, kemenakan Paduka Uwa Prabu, adalah atas tangan
Paduka Uwa Salya”.

Terkaget sejenak Prabu Salya mendengarkan uraian kedua kemenakannya, dengan


suara meninggi ia mengatakan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 87


“ Heh . . . apa yang kamu ucapkan? Sedari tadi aku menceriterakan bagaimana
keperwiraan orang tuamu, Pandu, juga dengan segala kelemahannya. Bagaimana
orang tuamu yang semua orang di jagat ini telah tahu, ternyata ia juga adalah
bagaikan seekor harimau yang sangat ditakuti. Kesaktian dan kewibawaan orang
tuamu ibarat bisa menunduk-runtuhkan gunung Himawan. Tetapi apa yang terjadi
terhadapmu, tidaklah membekas apa yang ada pada Pandu yang melekat pada
dirimu. Harimau itu ternyata hanya beranak dua ekor tikus!”

Hening melimputi suasana sanggar pamujan, dengan pikiran berputar-putar pada


rongga kepala ketiga manusia didalam sanggar itu. Namun sejenak kemudian dengan
suara berat Salya bertanya kepada kedua kemenakannya, “Baratayuda itu
sebenarnya siapa yang berperkara?”

Hampir serempak kedua satria itu menjaawb, “Itu perkara hamba Para Pandawa dan
Kurawa”.

“Bila benar begitu, kenapa perkara itu justru merembet kepada para pepundenmu,
para orang tua-orang tua yang seharusnya kamu beri kemukten. Kamu harusnya
berikan mereka kebahagian. Malah orang tua orang tua itu telah kamu jadikan
korban. Dan bila kamu adalah manusia manusia yang berakal, tentunya kamu tidak
akan menghadapku dan menyatakan minta aku bunuh disini. Itu seperti halnya kamu
sudah melihat hal yang sudah pasti, sehingga kamu telah mengambil kesimpulan.”
Kata Prabu Salya dengan kalimat yang bertekanan.

“Kalau kamu berdua datang bukan kepada Prabu Salya, maka tentu yang kau datangi
sudah menumpahkan rasa iba. Tapi bagiku, kedatangan kamu berdua hanya
merupakan gambaran dari betapa kamu berdua adalah sebetul-betulnya manusia
yang berjiwa kerdil” Ketus Prabu Salya menyambung.

“Werkudara kakakmu, adalah seorang manusia yang teguh bukan hanya tergambar
dari kewadagannya, tetapi keteguhannya merasuk jauh hingga ke lubuk hati dan
jiwanya yang paling dalam. Aku telah menjadi saksi, betapa dengan keteguhannya,
dengan segala kekuatannya ia berenang dalam banjir darah yang ia ciptakan. Arjuna
yang begitu titis dalam olah panah, sehingga sudah begitu banyak para sraya Prabu
Duyudana yang tumbang oleh ketepatan olah warastra. Mereka adalah sebenar-
benarnya anak Pandu Dewanata. Dan tak kalah dari orang tuanya, orang muda
Pandawa seperti Abimanyu dan Gatutkaca, telah bersimbah darah, dengan gagah
berani mereka telah merelakan jiwanya, gugur menjadi kusuma bangsa”.

Lho sedangkan kamu itu apa? Datang berdua ke Mandaraka menyerahkan jiwa! Kamu
takut menjalani peperangan heh?

“Terserahlah yang Uwak katakan . . . .” Nakula menjawab dengan lesu.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 88


“Pinten, Tangsen, bukan Prabu Salya, bila menjadi samar dengan segala ulahmu.
Dari aku mendengar berita kedatanganmu, melihat sosok kamu berdua, melilhatmu
mencium kaki dengan air mata yang berlinangan; aku sejatinya sudah tahu. Itu bukan
gambaran sosok anak Pandu !!”

Keheningan kembali menyungkup. Hanya pandangan mata tajam Prabu Salya


menghujam kearah kedua kemenakannya berganti-ganti. Namun sebentar kemudian
Prabu Salya mengatakan dengan nada tinggi hal yang membuat kedua satria kembar
itu terhenyak

“Kedatanganmu kemari adalah ada yang menyuruhmu, iya apa iya . . ?! “

Menohok rasa kalimat tanya yang dilontarkan Prabu Salya, tak ada kata lain, Sadewa
kali ini yang menjawab setelah terbungkam beberapa saat, “Kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya Uwa Prabu . . . . .”

“Tidak . . , aku tidak akan memberimu maaf. . !” Masih dengan suara tinggi Prabu
Salya menjawab ketus. Ia kecewa dengan kedua kemenakannya.

“Harus bagaimana hamba berdua Uwa Prabu?” Tanya Sadewa.

“Kamu berdua harus mengaku dulu, kamu sebetulnya disuruh seseorang untuk
berbuat seperti itu?” Prabu Salya masih bersikeras.

“Ini hal yang sebenar-benarnya hamba lakukan atas kemauan kami sendiri . . .”
Nakula dan Sadewa masih mencoba ingkar.

“Tidak . . . . tidak mungkin!! Kenyataan yang terjadi sekarang adalah macan yang
beranak tikus. Ooooh Pandu, apa yang terjadi dengan anak kembarmu. Apakah bila
kamu sudah berlinangan air mata dihadapanku, maka Salya akan larut. Ketahuilah,
dalam perang nanti, siapa yang menjadi musuh Duryudana, ia akan menjadi musuh
Salya pula!” Prabu Salya masih mencoba mengancam

“Silakan Uwa memarahi kami berdua . . . Tetapi biar bagaimanapun, silakan uwa
Prabu untuk membunuh hamba berdua, sekarang juga di Mandaraka ini”. Sadewa
tetap pada pendiriannya. Bagaimanapun pembekalan dari Prabu Kresna ketika ia
hendak pergi ke Mandaraka telah ia coba lakukan dengan sepenuh kekuatan untuk
memenuhinya.

“Ketahuilah Pinten, Tangsen, aku masih berharap besar kepadamu berdua


sepeninggal kakakmu Burisrawa dan Rukmarata. Aku masih berharap akan ada
sejumput ketenteraman yang bisa kau berikan kepada uwakmu ini, sebab kamu
berdua adalah masih darah dagingku sendiri”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 89


“Dari tata lahirku, aku ada di pihak Kurawa. Tapi tertanam dalam dalam dihati ini,
Pandawa adalah kebenaran sejati dalam perang Barata ini”.

“Hmm . .” Prabu Salya menggeram menahan pepatnya rasa hati. Akhirnya dengan
nada datar ia mengatakan kepada kedua kemenakannya. Kalimat yang ia reka dan
akan ia katakan inilah yang seharusnya Nakula dan Sadewa katakan terus terang
kepada dirinya.

“Sekarang katakan kepadaku, begini, Pinten, Tangsen. Tirukan kata-kataku: Uwa


Prabu, bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina,
kami para Pandawa minta kepada Uwa, hendaknya Uwa Prabu menyerahkan
nyawanya; Ayo katakan itu kepadaku . . . !“ 5

5 Tulisan diatas adalah kekaguman kami atas Sanggit antawecana Ki Narto.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 90


Episode 25 : Salya dan Bunga
Cempaka Mulia
Nakula dan Sadewa kembali saling pandang. Namun tak ada kata sepakat apapun
yang tersimpul dari pandangan sinar mata masing-masing.

Keduanya mengalihkan pandangannya ketika Prabu Salya kembali memecah


kesunyian, dengan pertanyaan disertai suara yang dalam.

“Kamu berdua menginginkan unggul dalam perang Baratayuda, begitu bukan?


Sekarang jawablah!”

“Tidak salah apa yang uwa Prabu tanyakan” Jawab Sadewa.

“Sebab itu, tirukan kata-kata yang aku ucapkan tadi”. Kembali Salya memerintahkan
kepada kedua kemenakannya dengan setengah memaksa.

Kedua satria kembar itu kembali saling pandang. Kali ini Nakula bertanya kepada
adiknya, Sadewa. “Bagaimana adikku, apa yang harus aku lakukan?”

“Terserahlah kanda, saya akan duduk dibelakang kanda saja.” Jawab Sadewa lesu

Kembali Nakula bersembah dengan mengatakan, “Dosa apakah yang akan menimpa
kami . . . .” Baru berapa patah kata Nakula berkata , namun dengan cepat Prabu
Salya memotong ucapan yang keluar dari bibir Nakula

“Bukan!! Bukan itu yang harus kamu katakan! Tetapi katakan dan tirukan kalimat
yang telah aku ucapkan tadi”.

Sinar mata memaksa dari Prabu Salya telah menghujam ke mata Nakula ketika ia
memandang uwaknya. Seakan tersihir oleh sinar mata uwaknya, maka ketika Prabu
Salya menuntun kalimat demi kalimat itu, Nakula menuruti kata yang terucap dari
bibir Prabu Salya bagai kerbau yang tercocok hidungnya.

“Uwa Prabu . . “

“Uwa Prabu”, tiru Nakula

“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina . . . .,”

“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina”

“Kami para Pandawa minta kepada Uwa . . . .”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 91


“Kami para Pandawa minta kepada Uwa “

“Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa Uwa di peperangan. . . .”

Sesaat Nakula tak berkata sepatah katapun, hingga kalimat terakhir itu diulang oleh
Prabu Salya. Dengan kalimat yang tersendat, akhirnya Nakula menggerakkan
bibirnya, “Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa di peprangan nanti”.

Bangkit Prabu Salya begitu kemenakannya mengucapkan kalimat terakhir itu.


Dirangkulnya Nakula, dielusnya kepala kemenakannya itu dengan penuh kasih.
Setelah beberapa saat berlalu dengan keheningan, Prabu Salya melepas pelukan,
kemudian duduk kembali. Katanya

“Kembar, itulah kalimat yang aku tunggu. Aku rela mengorbankan jiwa untuk
kejayaan Para Pandawa. Dari semula aku tidak berlaku masa bodoh terhadap
peristiwa yang terjadi dalam perang ini. Aku tidak samar dengan siapa sejatinya
yang benar dan siapa yang salah, siapa yang jujur dan siapa yang curang. Dalam hal
ini, Pandawa berhak mengadili siapa yang salah dalam perang Barata ini”. Keduanya
hanya menganggukkan kepala dengan lemah.

“Begini Pinten, Tangsen, mulai saat ini, uwakmu akan turun tahta. Dengarkan kata-
kataku, aku akan turun tahta keprabon Mandaraka”. Nakula dan Sadewa menatap
mata uwaknya dengan pandangan tidak mengerti. Sejurus kemudian Prabu Salya
meneruskan

“Setelah aku, uwakmu, turun tahta, seisi Kerajaan Mandaraka dengan segenap
jajahan dan bawahannya, aku akan serahkan kepada kamu berdua. Mulai saat ini,
kamu berdua aku wisuda sebagai Raja-raja baru di Mandaraka. Kamu berdua akan
aku beri nama Prabu Nakula dan Prabu Sadewa”.

Sejenak Nakula dan Sadewa terdiam. Dengan sang uwak mengatakan hal ini, maka
jelaslah bahwa Prabu Salya tidak lagi bermain dalam tata lahir. Dengan menyerahkan
Negara Mandaraka, maka sudah begitu terang benderang, kesanggupannya
menyerahkan nyawa di Medan Kurusetra adalah tumbuh dan terlahir dari dalam hati
yang terdalam. Maka Nakula dan Sadewa yang diberi kepercayaan hanya berkata
menyanggupi

“Hamba, uwa Prabu, semua yang uwa Prabu katakan akan hamba junjung tinggi”.

Kemudian Prabu Salya melanjutkan, “Kewajiban kamu berdua adalah; Nakula, kamu
akan aku berikan tugas sebagai raja yang menangani urusan di dalam negara.
Sedangkan Sadewa, kamu kuberikan kewajiban sebagai raja yang menangani urusan
di luar negara. Yang saya maksudkan adalah, Sadewa, melakukan hubungan

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 92


ketatanegaraan denga raja-raja diluar Mandaraka. Sedangkan Nakula, lakukan
penggalangan dengan raja-raja jajahan yang ada dalam lingkup Negara Mandaraka”.

“Menjadi raja itu sebenarnya tidaklah mudah tetapi juga tidak sulit. Tetapi ibarat
orang yang hendak bepergian, ia haruslah membawa bekal yang cukup. Bila
selayaknya orang yang bepergian dengan arti yang sebenarnya, cukuplah dengan
bekal uang dan barang-barang tertentu. Tetapi bila berbicara mengenai bekal bagi
orang yang hendak menjadi pemimpin negara, haruslah kamu berdua memiliki
sedikitnya empat hal yang harus kamu berdua kuasai”.

“Uwa Prabu, kami akan mendengarkan segala petuah yang hendak paduka berikan
kepada kami berdua”, keduanya mengatakan kesanggupannya.

“Pertama, pujilah Asma yang Maha Agung atas kekuasaannya terhadap alam
semesta. Mengertilah, bila kamu menjumpai sesuatu yang ada, pastilah ada yang
menciptakan. Pencipta itu langgeng namun yang diciptakan akan rusak atau berganti
oleh berlalunya waktu. Ikuti perubahan yang terjadi dan janganlah tetap tinggal
dalam sesuatu yang tidak langgeng. Bergeraklah dalam perubahan bila tidak ingin
terlindas oleh perubahan itu. Maka benarlah sebagian orang mengatakan perubahan
itulah, langgeng yang sebenarnya.”.

“Kedua, lakukan tata cara bersembah, menurut tata cara yang telah digariskan atas
kepercayaan masing-masing. Jangan pernah memaksa tata cara dan kepercayaan lain
yang sudah mereka anggap benar. Tetapi tegakkan terlebih dulu tata cara
bersembah yang telah menjadi kepercayaanmu itu. Dan hendaknya kamu berdua
jangan mengatur segala hal mengenai kepercayaan secara resmi dalam negara.
Dengan keresmian pembentukan wadah kepercayan kepada yang Maha Tunggal oleh
negara, ini akan mengakibatkan kapercayan yang telah terbentuk oleh negara akan
menguasai dan bertindak sewenang wenang atas kepercayaan kelompok kepercayaan
kecil yang lain. Awasi saja agar kepercayaan itu tumbuh dengan kewajaran dalam
jalur yang lurus, tidak saling mengalahkan atas kebenaran menurut kepercayaan
masing-masing. Ciptakan kebebasan terhadap setiap pribadi dalam menentukan
kepercayaan yang dipilih. Katakan kepada setiap pribadi dan golongan; jangan
kalimat dalam kitab suci mereka, dipahami secara sempit, hingga mereka
terkungkung oleh langit yang mereka ciptakan sendiri dari ajaran yang dianut”.

“Ketiga, pahami kebenaran sejati. Jangan pernah menyalahkan kebenaran yang


dianut orang lain dan jangan menyalahkan juga kebenaran yang sudah menjadi
kepercayaanmu sendiri. Bila kamu senang menyalahkan kebenaran yang dianut orang
lain apalagi kelewat mengatakan kepada pihak lain, bahwa kebenaran yang paling
benar adalah kebenaran yang kau anut, maka mereka yang kau katai akan kembali
menyalahkan kebenaran yang kau anut. Tentu kamu sudah tahu apa akibatnya”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 93


“Bila itu yang kau lakukan, maka kamu sudah bersifat Adigang, Adigung dan
Adiguna. Sifat yang dimiliki oleh watak tiga binatang, yaitu; Adigang, sifat atau
watak kijang, Adigung, watak seekor gajah dan Adiguna watak ular. Kijang yang
menyombongkan dirinya dengan mengandalkan kecepatan larinya. Gajah yang
mengandalkan dirimya yang paling besar dan kuat sedangkan ular yang sombong
mengandalkan bisa atau racunnya yang mematikan. Bila sifat itu yang kamu majukan
dalam menata negara, itu seperti halnya kamu tidak akan dapat menata negara
dengan berlandaskan rasa keadilan. Kedilan yang sebenar-benarnya adil dan dapat
dirasakan oleh orang banyak adalah, tetaplah dalam perilaku yang berlapang dada
terhadap perbedaan dan mengertilah akan rasa peri kemanusiaan”.

Nakula dan Sadewa yang mendengarkan petuah uwaknya tetap ditempat bagai
terpaku pada lantai sanggar. Keduanya hanya duduk tertunduk dan mengangguk kecil
bila sang uwak memandangnya meminta apakan ia memahami apa yang
dikatakannya.

“Dan keempat, tetaplah selalu mencari ilmu dan pengetahuan yang selalu baru.
Bisalah kamu berdua menyatukan antara ilmu dan pengetahuan. Orang yang
menguasai imu itu sebenarnya bagaikan manusia yang berjalan dalam pekat malam
namun diterangi dengan sinaran yang cukup terang, atau orang yang berjalan dalam
licin namun ia bertongkat. Dan ilmu itu sejatinya berkuasa mengurai sesuatu barang
atau keadaan yang kusut. Ilmu itu harus kamu jalankan atas landasan budi pekerti
yang luhur. Orang yang berilmu dan berpengetahuan tinggi, akan menghancurkan
sesamanya bila tidak berjalan diatas landasan budi pekerti yang luhur. Sebaliknya
perilaku luhur budi yang didorong oleh ilmu pengetahuan akan menciptakan tata
dunia yang tentram tertib dan adil ”.

Sampai disini Prabu Salya diam dan memandang kembali kedua kemenakannya. Yang
dipandang hanya mengangguk tanda mengerti.

Lanjutnya “Sedikitnya empat hal inilah yang kamu harus penuhi ketika kamu menjadi
raja.

“Sekarang kembalilah. Kembalilah ke pesanggrahan Hupalawiya. Terang tanah yang


sebentar lagi datang, aku sudah akan datang kembali ke medan Kurukasetra sebagai
seorang senapati perang”.

“Baiklah Uwa Prabu, kami berdua undur diri, hendaklah kejadian nanti di Medan
Kuru tidaklah menjadi timbulnya dosa baru bagi kami sendiri atau Para Saudara kami
Pandawa nanti”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 94


Serempak keduanya memohon diri setelah dianggap cukup semua peristiwa yang akan
menentukan masa depan keduanya, uwaknya Prabu Salya serta saudaranya Para
Pandawa.

“Ya, ya anakku, semoga semua akan berjalan baik. Puja keselamatan aku panjatkan
kepada yang Maha Adil untuk kejayaan Para Pandawa”.

Undur diri Nakula dan Sahadewa dengan perasaan campur aduk. Kebesaran hati sang
uwak telah mengusik ketidak tegaan kemenakannya. Terpikir bagaimana saudara-
saudaranya harus menyingkirkan rasa tega terhadap orang tua yang sebenarnya tidak
condong dalam mengayomi Para Kurawa, walau uwaknya itu telah menyatakan
kesanggupannya menyerahkan jiwa untuk kemenangan Para Pandawa.

Prabu Salya yang ditingalkan oleh kedua kemenakannya segera beranjak dari Sanggar
Pemujaan. Ia teringat dengan kewajibannya bahwa hari ini harus segera kembali ke
medan Kurukasetra. Ketika ia menengok kedalam tilam sari, dilihatnya istrinya Dewi
Setyawati masih tertidur pulas memeluk guling. Termangu Prabu Salya memandang
tubuh istrinya yang tergolek bagai boneka kencana. Ragu dalam hati Salya
meninggalkan tempat istrinya berbaring diam dengan tarikan nafas yang teratur.
Tetapi ia segera menetapkan diri akan kewajiban dan kesanggupannya terhadap
menantunya, Prabu Duryudana. Tanpa membuang waktu lagi, bergegas ia berganti
busana pamujan ke busana keprajuritan. Diperhatikan pusakanya seksama dengan
perasaan yang tidak menentu. Berangkatlah Prabu Salya dengan tanpa pamit dengan
istrinya. Namun perasaan bersalah menghentak dalam dadanya. Ia telah
meninggalkannya dengan sembunyi-sembunyi. Sepucuk surat telah ia letakkan di sisi
pembaringan.

Kereta yang ditumpangi Prabu Salya yang melaju pesat di dini hari yang masih
berembun. Semilir angin pagi yang menusuk tulang namun memberi kesegaran
baru. Segala yang dilalui seakan akan bergerak cepat kearah belakang bagai scene
cerita yang berkeradapan bingkai demi bingkai. Gambaran masa lalu, ketika ia
pertama kali bertemu dengan istri tercintanya, Setyawati. Tidaklah mengherankan
bahwa masa lalu itu terlintas, kegalauan hati masih berkecamuk ketika ia
meninggalkan sang istri, telah membawanya mengenang masa lalu ketika dirinya
masih muda.

Bingkai gambar itu dimulai saat pertama kali tatapan mata Salya muda itu saling
bertumbuk dengan sinar mata Endang Pujawati, nama muda Setyawati. Kejadian di
Pertapaan Argabelah ketika dirinya tersuruk-suruk meninggalkan kerajaan
Mandaraka, setelah diusir oleh ayahndanya, Prabu Mandrakesywara. Ayahnya yang
kecewa dengan perintah kepada dirinya agar segera menikah telah ditolaknya dengan
halus. Permintaan itu disodorkan oleh ayahnya waktu itu, agar ketika ayahndanya
menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putranya, maka dirinya sudah bertaut
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 95
dengan seorang wanita. Namun dirinya yang waktu itu masih bernama Narasoma,
mengajukan syarat, bahwa dirinya harus menikah dengan wanita yang serupa persis
dengan ibunya. Ayahnya yang salah memahami permintaan dirinya akhirnya mengusir
dirinya hingga terlunta-lunta sampai di Pertapaan Argabelah.

Gb. 67 – Narasoma, Prabu Salya Muda

http://www.maskedart.com/

Tumbukan sinar mata di pertapaan Argabelah itu telah memercikkan api dan
mengobarkan asmara keduanya. Maka ketika Endang Pujawati pun terbakar api itu,
diseretnya sang ayah, Begawan Bagaspati, untuk menemui dirinya. Terperanjat
dirinya waktu itu, ketika melihat ayah Pujawati yang ternyata berujud seorang
raksasa. Dalam hati bergolak sebuah pertanyaan, benarkah Pujawati, wanita dengan
sejuta pesona, berayah seorang pendeta raksasa? Tetapi pertanyaan ketidak
mungkinan itu ditepisnya sendiri. Seketika akalnya berputar, bagaimana caranya
memetik “bunga cempaka mulia indah nan mewangi, tetapi ditunggui oleh seekor
buaya putih”. Apa kata ayahnya bila ia berbesan dengan seorang raksasa?!

“Pujawati, inikah satria yang kau katakan telah mempesonamu?” Begawan Bagaspati
menanyakan kepada anaknya. Namun pertanyaan itu hanya basa basi saja. Dalam
kenyataannya Begawan Bagaspati telah mengetahui apa yang sedang terjadi pada
keduanya. Maka tanpa menunggu jawaban ayahnya, Begawan Bagaspati menanyakan
kepada Narasoma.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 96


“Raden siapakah andika sebenarnya?” Sapa Bagaspati.

“Heh Pendeta Raksasa, siapakah namamu?” Sifat tinggi hati Salya muda tak mau
kalah.

“Ooh tidak mau mengalah rupanya satria ini. Baiklah, namaku adalah Begawan
Bagaspati. Sedangkan siapakah nama andika, Raden?” Tanya Bagaspati kembali.

“Akulah anak Raja Mandaraka, Prabu Mandrakesywara. Namaku Narasoma”. Kata


Narasoma waktu itu dengan muka tengadah. Dirinya tak memungkiri bahwa dimasa
muda, berwatak degsura. Namun dilain pihak Begawan Bagaspati seakan terhenyak.
Mandrakesywara adalah salah seorang saudara seperguruannya, bertiga bersama
seorang saudara seperguruan yang lain, yang bernama Begawan Bagaskara yang juga
berujud seorang raksasa. Namun ia tak mengatakana sesuatau apapun. Sifat
Narasoma dan alasan yang tidak bisa ia ungkapkan, menuntunnya untuk tidak
mengatakan sedikitpun mengenai jati dirinya.

“Raden, perkenankan andika menyembuhkan sakit yang diderita oleh anakku ini”.
Bagaspati menjelaskan.

“Lho, kamu itu seorang pendita, yang pasti memiliki segala ilmu agal alus. Tidakkah
kamu dapat menyembukan penyakit anakmu sendiri?”

“Tapi penyakitnya adalah penyakit asmara, Raden. Hanya seorang yang dapat
menyembuhkan penyakit itu kecuali andika Raden. Bersediakah Raden mengobati
anakku?”. Bagaspati berterus terang dengan bahasa halus. Tanyanya mengharap.

Sepercik sinar telah menerangi akal pikiran Narasoma ketika itu. Terbuka
kesempatan bagaimana cara melenyapkan duri yang menghalangi hubunganku
dengan wanita yang menjadi pujaan hati. “Baiklah, aku mempunyai syarat agar
putrimu dapat sembuh dari sakit itu. Syaratnya kamu harus menjawab teka teki
dariku. Sanggupkah?”6

6 Kompilasi dan olahan bebas dari beberapa sumber lakon wayang dari Ki Narto.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 97


Episode 26 : Utang Piutang
Bagaspati-Narasoma
“Silakan Raden memberi teka-teki kepadaku. Akan kujawab semampuku, bila aku
tahu jawabannya”. Begawan Bagaspati adalah seorang Pendeta yang sudah tak lagi
samar dengan polah tingkah manusia. Ia adalah manusia sakti yang mengetahui setiap
keadaan didepan dengan penglihatannya yang tajam berdasarkan getar isyarat dan
gelagat yang ia terima. Meskipun demikian ia masih juga ingin melihat dengan
seutuhnya getaran itu dengan lebih jelas. Maka ia masih tetap ingin mendengarkan
langsung kata teka-teki dari mulut Narasoma.

Gb. 68 – Begawan Bagaspati

“Ini teka-teki ku, dengarkan baik baik. Suatu hari ada seekor kumbang jantan yang
sedang terbang tak bertujuan. Terlihat olehnya ada setangkai bunga cempaka yang
sedang mekar dengan indahnya. Penuh dengan sari madu yang membuat sang
kumbang begitu terpesona dan terbitlah rasa lapar ingin menghisap sari madu itu.
Namun ternyata didekat bunga mekar itu, terdapat seekor buaya putih yang sedang

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 98


menunggui. Sedangkan kumbang hanya dapat menghisap sari madu bunga cempaka
itu, bila buaya putih penunggu telah terbunuh”.

Sampai disini Begawan Bagaspati menarik nafas panjang. Ia sudah mengetahui


maksud dari teka-teki yang diberikan oleh Narasoma. Maka katanya kepada Pujawati

“Raden, tidak usah kau teruskan teka teki itu hingga selesai. Aku sudah dapat
menebak teka teki itu. Pujawati, pergilah ke sanggar pamujan, siapkan segenap
perangkat upacara kematian. Bentangkan selembar mori putih dan kekutug
kemenyan beserta mertega sucinya. Segeralah anakku Pujawati”.

Seketika tercekat kerongkongan Pujawati. Kegelisahan telah merayapi jantungnya,


namun ia masih saja meminta keterangan kepada ayahnya.

“Untuk apa dan siapa yang hendak diupacarai, Bapa?” Gemetar suara Pujawati.

“Sudahlah nanti kamu juga akan tahu sendiri. Bukankah engkau menghendaki
Narasoma menjadi kekasih hatimu? Inilah syarat yang harus kamu sediakan dalam
menjawab teka-teki dari calon suamimu, Pangeran Pati Mandaraka, Raden
Narasoma. Segeralah kamu lakukan apa permitaanku Pujawati”. Dipandangnya
Pujawati dengan sinar mata yang seakan menyihir Pujawati agar segera meninggalkan
keduanya.

Sebagai anak yang selalu patuh, Pujawati mohon diri disertai pandangan Narasoma
yang terpesona dengan tingkah dan kecantikannya. Dilain pihak Pujawati lengser
dengan dihinggapi perasaan yang amat gundah.

Sepeninggal Pujawati, Begawan Bagaspati melangkah lebih dekat ke depan


Narasoma. Kemudian ia mengatakan “Raden Narasoma, calon menantuku yang
bagus, aku tidak samar dengan apa yang kau maui dengan teka-teki yang kau
ucapkan. Baiklah, aku akan meminta syarat bila menghendaki Pujawati sebagai
istrimu”.

“Katakan Begawan, tentu aku akan kabulkan semua persyaratan yang kau ajukan”.
Narasoma penuh percaya diri menyanggupi.

“Bila nanti kamu sudah beristrikan Pujawati, cintai dia dengan sepenuh kasih
sayang. Janganlah kau perlakukan anakku dengan sia-sia, walaupun ia hanya seorang
anak perempuan gunung yang jauh dari suba sita dan kekurangan tata pergaulan
kerajaan. Selanjutnya, bila nanti kamu sudah kembali ke Mandaraka, tidak urung
nanti kamu akan menggantikan kedudukan ayahmu, Prabu Mandrakesywara.
Walaupun kamu berwenang untuk mengambil selir seberapapun banyaknya, tetapi
hendaknya engkau tetap setia dengan seorang Pujawati saja. Peganglah teguh
janjimu bila tidak ingin menemui petaka”.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 99
“Persyaratan yang mudah. Baiklah begawan, sekarang katakan jawaban atas
pertanyaan teka-teki itu”. Jawab Narasoma, masih terbawa oleh pesona terhadap
kecantikan seorang wanita. Maka segalanya mudah saja baginya menyanggupi. Tetapi
sesaat kemudian kembali Narasoma mengungkit tentang pertanyaan teka-teki yang
belum terjawab. Pertanyaan yang sebenarnya mudah jawabannya bagi seorang
Bagaspati.

“Jawabannya gampang-gampang susah. Gampang untuk mengucapkan dengan lidah,


tetapi tidak gampang menyelesaikan dengan tindakan. Begini bagus Narasoma,
kumbang jantan yang kau maksud disini adalah dirimu itu. Sedangkan rasa lapar
pada si kumbang dan ingin menghisap madu itu adalah, rasa asmara yang tak
tertahankan. Kembang cempaka mulya disini diartikan sebagai anakku Pujawati.
Tidaklah samar lagi, siapa yang kau sebut sebagai buaya putih penunggu kembang
cempaka, itu adalah aku sendiri”. Sejenak Begawan Bagaspati diam. Diamati raut
wajah Narasoma yang tegang dan memendam gejolak pada matanya. Lanjut Begawan
Bagaspati.

“Penjelasannya adalah, kamu kepengin menyunting anakku Pujawati, tetapi dirimu


malu mempunyai mertua semacam aku ini. Maka kamu menginginkan, agar aku
disingkirkan dari madyapada ini, agar kamu tidak mendapat malu didepan orang
tuamu. Itukah yang kau maksud dengan teka teki itu, raden?”

Getaran hebat menjalari seluruh jantung Narasoma. Walaupun perumpamaan itu


sudah yakin akan dijawab dengan mudah oleh Begawan Bagaspati, namun tak urung
ia terjerumus dalam jurang rasa salah yang teramat dalam. Setelah diredam rasa itu
dengan segala kekuatannya ia menjawab dengan gemetar; “Aduh Panembahan,
benar tanpa sedikitpun yang tertinggal. Namun aku memintakan seribu maaf atas
keinginanku yang sedemikian itu. Aku tidak ingkar, itulah sejatinya maksud dari teka
teki itu”.

Sedikitpun tak ada raut marah atau kecewa Begawan Bagaspati terbayang diwajahnya
Bahkan ia mengatakan kepada Narasoma, “Aku tidak kecewa dengan apa yang
menjadi kehendakmu. Tetapi sungguhkah persyaratanku atas keinginanmu
menyunting anakku dapat kau pegang teguh?”

“Ya, aku berjanji untuk memegang teguh persyaratan yang kau minta”. Serta merta
Narasoma menjawab terdorong keterkejutan karena sikap Bagaspati yang
dialaminya.

“Baiklah lega rasanya hati ini. Menantuku yang tampan, perkenankan aku
menyebutmu menantuku sekarang. Tak ada waktu lagi kedepan aku menyebutkan
kau sebagai menantuku, karena aku telah mengiklaskan jiwaku sekarang. Lekaslah
agar tidak membuang waktu, segeralah cabut pusakamu, tancapkan ke dada ini”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 100


“Maafkan aku rama Begawan, semoga semua yang aku lakukan kalis dari semua dosa-
dosa” Narasoma mencoba menjawab sambil tetap meredam getar di dada.

Maka keris pusaka Narasoma telah dihunus. Dipandangnya sejenak keris pusaka yang
selama ini tak pernah mengecewakan dirinya. Tetapi ketika keris itu menyentuh dada
Begawan Bagaspati, keris pusaka itu bagai menumbuk lembaran baja yang begitu
tebal. Berdentang memercikkan api, ujung keris yang menerpa dada Begawan
Bagaspati, tetapi segores lukapun tak nampak pada dada Sang Begawan. Tetapi tidak
kalah kaget begawan Bagaspati dengan kegagalan yang dialami oleh Narasoma.

Dengan murka Narasoma berkata. “Heh Begawan Bagaspati, ternyata ucapanmu


tidak lahir terus ke batinmu. Janjimu hanya sebatas sampai ke bibir saja, tidak terus
ke hatimu. Kenapa kamu tidak juga merelakan jiwamu? Malah kamu
mempertontonan kesaktianmu!”

“O o o . . . , Sabar Raden, ada suatu yang terlupa. Didalam tubuhku masih terpendam
ajian yang dinamai Aji Candabhirawa. Ujudnya hanyalah manusia kerdil berwajah
raksasa, tetapi bila ia dilukai oleh senjata, maka ia akan bertambah jumlahnya
menjadi seratus. Bila mereka dilukai kembali, mereka akan berlipat jumlahnya
menjadi seribu dan seterusnya. Ajian ini akan sekalian aku serahkan kepadamu
dengan syarat kamu harus memelihara Candabirawa dengan sebaik-baiknya”.

“Ya,Baklah, rama Begawan, aku akan menerima segala yang kau kehendaki. Katakan
syarat itu.”

“Sebentar aku hendak semadi, untuk menyuruh Candabhirawa keluar dari dalam
hatiku”.

Beberapa saat Begawan Bagaspati mengatupkan tangannya, terpejam mata dalam


khusuknya tepekur, menguncupkan empat panca indera, hanya indera perasa yang ia
kerahkan dengan tajam. Sesaat terloncat ujud manusia kerdil dengan wajah yang
menakutkan! Itulah Candabhirawa!

Mencium kaki seketika Candabhirawa dengan takzim. Kemudian ia menanyakan


“Oooh Begawan . . , ada apakah gerangan, hamba disuruh keluar dari gua garba
paduka Sang Resi?”

“Sudah sampai waktuku untuk aku pergi ke keabadian sejati. Untuk itu sudah aku
sediakan sosok pengganti untuk kamu mengabdi. Lihat, siapakah yang berdiri
didepanmu. Itulah sosok yang akan kau huni sebagai penerus dari kejayaan
Candabhirawa”.

Namun terbayang kekecewaan Candabhirawa, ketika ia melihat sosok yang


dilihatnya. Sosok yang dilihatnya menyiratkan manusia yang kurang melakoni tindak
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 101
prihatin. Sosok yang lebih mementingkan kesenangan pribadi belaka dan terkesan
sombong. Maka dengan memelas ia mengatakan kepada Bagaspati.

“Aduh Bapa Resi, bisakah hamba ikut Bapa untuk selama-lamanya? Hamba melihat
hal yang berbeda dari pada yang biasanya hamba alami ketika bersama dengan
kebiasaan Bapa Begawan. Yang aku lihat pada sosok itu tidaklah akan membuat aku
betah tinggal pada raganya” meratap Candabirawa dikaki Sang Begawan. Begitu
kecewa ia membayangkan perpisahan dengan Bagaspati.

Gb. 69 – Narasoma, Candabhirawa, Bagaspati

“Raden! Raden sudah mendengar sendiri keluhan dari Candabirawa. Maka bila raden
berkenan untuk diikuti oleh Candabhirawa bersama dengan kesaktiannya yang tiada
tara, maka Raden harus berjanji sekali lagi untuk menyanggupi permintaan Aji
Candabhirawa”.

“Akan aku penuhi perminatanmu Begawan, dengan segala kemampuan yang ada
padaku. Apakah permintaannya?”

“Candabhirawa akan lapar, bila raden kenyang. Candabhirawa akan sedih bila Raden
senang-senang berlebihan dan segala sesuatu akan terbalik bila Raden merasakan
kenikmatan yang berlebihan. Sanggupkah Raden hidup dalam suasana yang serba
sederhana?”
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 102
“Baik, aku bersedia! Hendaknya bumi dan langit menjadi saksi.” kembali Narasoma
mengucap janji.

“Sekarang ulangi lagi apa yang sudah Raden lakukan tadi. Segeralah, mumpung
Pujawati belum kembali”. Sinar mata Begawan Bagaspati menerobos dinding hati
Narasoma yang sedang terguncang menerima peristiwa yang datang secara bertubi-
tubi. Maka tanpa berpikir panjang, kembali keris pusakanya dicocokkan ke dada
Begawan Bagaspati. Tak ayal lagi percobaan kedua ini telah berhasil. Tembus dada
raksasa Bagaspati. Darah menyembur dari luka Begawan Bagaspati, bergetar seluruh
tubuh sang Begawan. Tetapi ia tewas sesaat kemudian dengan bibir tersenyum puas.

Rasa bersalah yang berusaha ia tepiskan tak segera pergi. Gemetar tangannya yang
masih menggenggam kerisnya, hingga ia tidak dapat melakukan apapun. Ia masih
berdiri termangu mangu, hingga ia dikejutkan dengan suara yang menyapanya.

“Narasoma menantuku, aku titipkan anakku Pujawati sesuai dengan janjimu. Hingga
nanti bila perang besar tiba dan kau jumpai senapati yang berdarah putih, pada saat
itulah aku hendak menjemputmu bersama sama dengan anakku Pujawati. Aku akan
menunggu di alam madya, hingga waktu itu tiba”. Terkesiap Narasoma ketika
terdengar suara itu.

Tetapi seketika angan Salya buyar oleh suara gemuruh prajurit yang menunggu
kedatangannya hingga siang hari di medan Kuru. Ya, kedatangan Salya di Tegal Kuru
itu telah terlambat. Matahari di hari itu telah menuntaskan basah embun sedari lama.

Pada saat yang sama, kesiangan Sang Dewi Satyawati terbangun dari mimpi indah,
ketika sinar matahari menerobos celah jendela kamarnya. Geragapan Sang Dewi
membenahi pakaiannya yang kusut, menyisir rambutnya dengan jari. Tatapan
matanya seketika tertuju pada sepucuk surat yang tergeletak di pembaringan.
Dibacanya dengan seksama surat itu yang menyatakan ia telah pergi kembali ke
Kurusetra dan telah diserahkan negara Mandaraka kepada kemenakannya Nakula dan
Sadewa.

Setengah teriak ia memanggil Endang Sugandini, saudara dekat putri dari Begawan
Bagaskara. Endang Sugandini telah menjadi kawan setia Setyawati sejak ia
dikalahkan oleh Prabu Salya dan diruwat dari ujudnya semula, raseksi bernama
Tapayati, emban Prabu Kurandageni dari negara Girikedasar.

Yang dipanggil buru-buru datang. Yang dijumpainya, sedang menangis tersedu,


“Sugandini, tenyata malam tadi adalah malam yang penuh kenangan. Aku sudah
merasa bahwa malam tadi adalah malam terakhir bagi aku bersama kanda Prabu
Salya. Sugandini aku akan pergi menyusul Kanda Prabu ke peperangan”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 103


“Kusumaratu, hamba tidak mau paduka pergi seorang diri. Hamba akan ikut bersama
paduka kemedan Kuru”.

Sementara itu di Pandawa Mandala Yudha, Nakula dan Sadewa telah kembali dari
Mandaraka. Telah diceritakan dengan lengkap apa yang terjadi sepanjang lepas
tengah malam hingga ia tiba kembali di Pesanggrahan Hupalawiya. Setelah semuanya
menjadi jelas bagi Prabu Kresna, ia membuka pembicaraan penting dengan Prabu
Puntadewa.

“Sudah tiba waktu yang dijanjikan paman Prabu Salya, dinda Puntadewa!”.

“Apakah yang kanda Kresna maksudkan?” Tanya Prabu Puntadewa.

“Dinda, sudah saatnya dinda maju menjadi Senapati, menandingi senapati Kurawa,
Paman Prabu Salya”.

“Kanda hamba tidak ingin lagi melihat mengalirnya darah yang tertumpah dari dada
orang-orang tua kami yang hamba hormati”. Kembali Kresna melihat sifat asli dari
Prabu Puntadewa.

“Tetapi ingatlah, berkali kali sudah kanda katakan, perang ini bukan lagi tempat
untuk berbakti antara orang muda terhadap orang yang lebih tua, tetapi perang
yang terjadi adalah perang yang berdasar atas keutamaan dan berpayungkan atas
keadilan”. Jurus pertama Kresna ajukan dalam membujuk Prabu Puntadewa untuk
mau maju sebagai senapati.

“Bila begitu kanda, kanda Prabu telah menentukan bahwa Uwa Prabu Salya adalah
orang yang tidak berlaku adil. Dimanakah letak ketidak adilan yang terdapat pada
diri Uwa Salya”. Jawab Prabu Puntadewa tenang.

“Tidakkah dinda melihat, bahwa Prabu Duryudana adalah sosok yang melakukan
tindak angkara. Tetapi dinda lihat sendiri, paman Prabu Salya tetap membela
tingkah pakarti yang dilakukan oleh kanda Duryudana”. Terus mendesak Kresna
untuk meyakinkan Prabu Puntadewa.

“Tetapi hamba tidak bisa mengatakan bahwa Prabu Salya tidak bertindak adil.
Mestinya kanda Prabu Kresna tahu, bahwa kanda Prabu Duryudana adalah salah
seorang dari menantu Prabu Salya. Bila ada seorang mertua yang membela menantu,
apakah ini bisa desebut salah” Prabu Puntadewa menjawab.

“Benar disatu sisi tapi tidak benar disisi yang lain. Memang benar bahwa Prabu
Duryudana adalah menantu pada garis kekeluargaan. Tetapi dalam sisi kebenaran
semesta, tindakan Prabu Salya adalah salah. Prabu Duryudana yang tidak bertindak
dalam garis kebenaran, tidak selayaknya dibela oleh Paman Prabu Salya. Tidakkah

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 104


dinda ketahui siapa yang seharusnya memiliki bumi Astina. Mestinya bukankah dinda
Puntadewa?!”. Kresna masih ngotot merayu Prabu Punta.

“Tetapi kanda, saya sudah merelakan hal itu. Biarkan kanda Prabu Duryudana tetap
menikmati manisnya madu yang terkulum. Perang Baratayuda dimulai bukan atas
kemauan hamba, diakhiri sekarangpun juga bukan kemauan hamba”.

Krena menghela nafas panjang. Sulit sekali merasakan bagaimana ia harus


menundukkan hati manusia yang begitu kukuh dalam memegang kesucian. Namun
sejenak kemudian, rayuannya kembali mengalun

“Dinda, ini adalah perang Baratayuda. Yang sudah banyak memakan korban bukan
saja dari prajurit kecil, tapi sudah meluas mengorbankan para orang orang tua kita
dan anak-anak kita yang harus kita lindungi dan orang yang seharusnya kita beri
kemukten. Bila dahulu sewaktu peprangan dimulai dinda diam saja, sekarang begitu
sudah banyak makan korban dengan mudahnya dinda hendak menghentikan.
Mengapa pada awal pecah perang dinda diam saja”.

Masih dengan tenang Puntadewa menjawab, “Bila dulu hamba diam saja, itu tidak
berarti hamba setuju. Tapi apalah saya ini, bila saudara kami yang empat sudah
mempunyai kemauan yang tak dapat dihalangi, maka peristiwa yang seharusnya
terjadi itu terjadilah. Biarlah semua orang didunia mengatakan, bahwa Puntadewa
adalah seorang raja yang tidak teguh dalam menjalankan negara, dan tidak becus
dalam memimpin adik-adiknya. Hamba adalah orang yang siap untuk diberi cap
sebagai raja yang pantas untuk dicela, tidak bisa dijadikan tauladan. Hamba menjadi
raja bukan atas kemauan hamba, dan semua pengaturan tata negara sudah hamba
berikan kepada saudara kami yang empat”.

Diam, suasana balairung kembali sunyi. Kresna setengah putus asa. Akhirnya ia
berkata kepada Werkudara, “Werkudara, bisakah kamu memberi usulan bagaimana
kakakmu itu bisa maju menandingi senapati Astina paman Prabu Salya?”.

“Hlaaa, jangankan aku. Yang sebagai adiknya. Kamu sendiri yang selalu menjadi
tempat untuk mengurai kekusutanpun, tak lagi diturut omongannya!” . Jawaban
Werkudara tidak membuat Kresna puas.

“Arjuna, kamu tentunya bisa memberikan sumbang saran?”. Pertanyaan Kresna


beralih ke Arjuna.

“Aduh kanda, hamba yang sebaga saudara muda, apalah daya yang hamba miliki
kanda Kresna”.

“Dimas Nakula Sadewa, bagaimana?” Kresna menanya kepada kembar dengan


jawaban yang sudah ia perkirakan.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 105
Yang disebut namanya hanya saling pandang.

Gb. 70 – Puntadewa (Koleksi Tropenmuseum)


Sumber : http://www.tropenmuseum.nl/

“Jadi bagaimana Werkudara?” Kembali pertanyaan ditujukan kepada Werkudara.

“Baiklah, kanda Puntadewa. Bila sudah tidak ada rasa memiliki adik-adikmu ini.
Sekarang aku dan saudaramu yang empat akan melakukan bakar diri”.

“Silakan dinda. Tetapi setahuku, orang yang hendak bunuh diri dengan mengatakan
kepada orang lain, itu biasanya perbuatan yang tidak sungguh-sungguh”. Jawab
Puntadewa. Kresna yang mendengar jawaban Puntadewa tersenyum kepada
Werkudara penuh arti.

“Kresna, aku sudah tidak sanggup!” keluh Bima seenaknya.

Kesunyian kembali menggenang, keputus asaan Kresna membuat ia tak kuasa untuk
memutar otak yang seakan kusut. Tapi tiba tiba Puntadewa berkata, “Kanda, bila
hamba diminta menjadi senapati menandingi senapati dari Astina hamba sanggup,
tetapi hamba harus tetap kalis dari dosa. Hamba sanggup melakukan itu bila jaminan
itu ada, kanda”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 106


Terang pikiran Prabu Kresna seketika mendengar kalimat kalimat yang tak terduga
meluncur dari bibir Prabu Punta. Maka dengan sepenuh hati ia meyakinkan keinginan
yang tertuang dari hati Prabu Puntadewa. “Baiklah dinda, saya pastikan dinda akan
tetap suci dan tidak terlumuri dosa, bila yang memerintah paduka adalah Sang
Hyang Wisnu. Lihatlah dinda, kanda akan memperlihatkan diri dalam bentuk Wisnu,
dan dengarkan apa yang pukulun Sang Hyang Wisnu hendak katakan”.

Perlahan Prabu Kresna memuja semedi, dikerahkan kekuatan untuk membuka pintu
batinnya dan mampu memperlihatkan kesejatian dirinya dalam rupa Batara Wisnu.
Telah tercapai maksudnya, berkata ia kepada Prabu Puntadewa, “Heh titah ulun
Puntadewa, hendaknya kamu segera maju ke medan perang. Tandingi kekuatan
Prabu Salya dengan sarana Pusaka Jamus Kalimasadda. Lepaskan pusakamu untuk
menyirnakan jasad Prabu Salya”.

Tersenyum Kresna ketika ia telah berhasil membujuk Prabu Puntadewa. Canggung


gerak Prabu Puntadewa ketika menaiki kereta dengan sepasang kuda perang putih
dengan didampingi oleh Nakula dan Sadewa. Sedangkan Arjuna dan Werkudara pun
tidak mengambil jarak yang cukup jauh dalam menjaga keselamatan kakak
sulungnya.

Sementara di padang Kurusetra, amuk Prabu Salya seakan tak terbendung. Berbagai
macam senjata telah mengenai sosok Prabu Salya, namun tak satu senjata yang
mampu melukai kulit Sang Senapati.Tak diketahui orang yang sedang berada di
peperangan, Sukma Sang Bagaspati melayang menunggu saat yang ditunggu-tunggu.

“Salya menantuku, sekarang sudah saatnya bagiku untuk menjemput kamu.


Narasoma, aku tidak membenci kamu walaupun kamu telah membunuhku. Tapi
kehendakku, belum akan kembali ke tepet suci bila tidak bersama dengan anak dan
menantuku. Nah sekarang lah waktunya. Aku akan menyatu dalam tubuh Puntadewa.
Salya tunggu kedatanganku”. Melayang sukma Bagaspati menyatu dalam diri Prabu
Punta.

Ketika melihat kedatangan Puntadewa yang menaiki kereta itu, hatinya tercekat. Ia
sudah merasa terdapat aura aneh yang terpancar pada diri lawannya.7

7 Diolah berdasar imaginasi dari cerita Rubuhan-nya ki Narto.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 107


Episode 27 : Babak Akhir Baratayuda
Jayabinangun
Semakin dekat Prabu Puntadewa, semakin berdebar jantung Prabu Salya. Firasatnya
mengatakan inilah saat yang ia janjikan. Namun kemudian Prabu Salya teringat
kembali akan keberadaan ajiannya yang diturunkan oleh mertuanya, Begawan
Bagaspati. Aji Candabirawa.

Sejurus kemudian dipusatkannya segenap rasa dalam pamuja, meloncat dari goa
garba ujud mahluk bajang berwajah raksasa. Itulah Aji Candhabhirawa!

“Raden Narasoma, hendak menyuruh apa kepadaku, Raden?!” Tanya Candabirawa.

“Sekali lagi aku meminta kerjamu. Lihat didepanku, dialah musuhku, Prabu
Puntadewa. Bunuh dia!” Tanpa membantah, Candabirawa segera berlalu dari
hadapan Prabu Salya. Ia kemudian mengamuk sejadi-jadinya kearah para prajurit
pengawal Prabu Puntadewa. Sementara Prabu Puntadewa sendiri telah rapat dijaga
oleh para prajurit dan Arjuna serta Werkudara. Terkena senjata para prajurit yang
terbang bagaikan gerimis yang tercurah dari langit, Candabirawa membelah diri.
Menjadi sepuluh, seratus, seribu dan tanpa hitungan lagi yang dapat terlihat. Geger
para prajurit Hupalawiya lari salang tunjang melihat kejadian disekelilingnya yang
begitu nggegirisi. Kresna segera bertindak menghentikan rangsekan musuh dalam
ujud mahluk kerdil yang begitu menyeramkan itu. Perintah Kresna untuk bertindak
tanpa melawan amukan Candabirawa disebarkan ke seluruh prajurit yang segera
menyingkir.

Ketika serangan berhenti, maka para mahluk kerdil itupun ikut terhenti, saling
berpandang dan termangu-mangu sejenak. Sebagian lagi larut menjadi semakin
sedikit. Tetapi tak lama kemudian mereka bergerak kembali kearah dimana Prabu
Puntadewa berada. Ketika sudah dekat jarak antara para manusia kerdil itu, tiba-
tiba gerombolan itu berhenti mendadak. Mereka kemudian saling berbisik.

“Heh teman-temanku semua, kita sudah memperbanyak diri. Tapi begitu aku
melihat ke arah Prabu Puntadewa, kelihatan olehku disitu bersemayam
sesembahanku yang lama, Begawan Bagaspati. Teman, kita telah lama merasakan
lapar dan capek ikut Prabu Salya yang kurang memperhatikan kita, terbawa oleh
kesenangan yang ia jalankan sehari-hari. Prabu Salya kebanyakan bersuka ria dari
pada melakukan olah penyucian diri. Akan lebih baik bila kita ikut kepada
sesembahan kita yang lama! Mari kawan semua, kita kembali ke haribaan Begawan
Bagaspati”.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 108


Bagai arus bah mengalir, para mahluk kerdil berwajah raksasa segera larut dalam
raga Prabu Puntadewa. Peristiwa ajaib yang dilihat Prabu Salya membuatnya jantung
Prabu Salya semakin berdebar. Guncang moral Prabu Salya, hingga terasa menyentuh
dasar jantungnya yang terdalam. Semakin yakin ia bahwa saat yang djanjikannya
telah tiba.

Prabu Puntadewa telah bersiap melepaskan panah dengan pusaka Jamus Kalimasadda
yang disangkutkan pada bedhor anak panah. Busur telah terpegang pada tangan
kirinya dan terutama ketetapan hati telah diambil. Tak akan menjadi dosa bila Batara
Wisnu yang memerintahkan membunuh musuh.

Walau Prabu Puntadewa tidak sesering para saudaranya berolah warastra, tetapi
sejatinya ia adalah salah satu murid Sokalima yang tidak jauh kemampuan olah
senjata panah dibanding dengan Arjuna. Sebagaimana Arjuna yang mempunyai hati
lebih tegar, maka Puntadewa sejatinya adalah pemanah jitu, baik menuju sasaran
diam setipis rambut maupun sasaran bergerak secepat burung sikatan. Hatinya yang
suci dan cenderung peragu-lah yang membuat ia tidak seterkenal adiknya, Arjuna,
dalam olah warastra.

Maka ketika anak panah meluncur dari busurnya, tidaklah ia melakukannya untuk
kedua kali. Sekali ia melepaskan anak panah kearah Prabu Salya, maka menancaplah
anak panah itu kedada bidang Prabu Salya. Kulit Salya yang kebal terhadap berbagai
macam senjata telah terpecah, rebah Prabu Salya!

Sakit di dada Prabu Salya tak terasakan, hanya kepuasan hati yang terasa ketika ia
telah menyender di bangkai gajah. Ia telah memenuhi janji terhadap kemenakannya,
Nakula dan Sadewa. Janji itu telah terlaksana dengan sempurna. Senyum lemah di
bibir Prabu Salya ketika menarik nafas dan menghembuskannya untuk terakhir
kalinya.

Seketika perang berhenti. Prabu Punta yang tidak lagi ingin melihat tumpahnya darah
segera memberi aba-aba kembali ke pakuwon, sedangkan prajurit Kurawa dengan
sendirinya telah mundur mencari pembesar yang sekiranya masih bisa menaungi.

Hanya Patih Sengkuni yang merasa telah putus asa telah berbuat nekad. Kenyataan
yang begitu pahit seakan tidak dapat diterimanya dengan akal sehatnya. Kurawa
seratus dengan bantuan begitu banyak raja seberang, telah tumpas oleh krida Para
Pandawa. Dengan sesumbarnya yang mengesankan sebagai manusia yang telah
kehilangan asa, ia gentayangan mengincar kematian Para Pandawa.

Patih Sengkuni adalah seseorang yang sejak kelahirannya telah ditakdirkan membawa
watak culas. Kelahirannya ditandai dengan terusirnya seorang dewa dari pusat
Kahyangan, Paparjawarna. Dewa yang memang memangku sifat culas yaitu Batara

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 109


Dwapara. Terusirnya Batara Dwapara itu bersamaan dengan lahirnya Harya Suman,
nama kecil dari Sengkuni atau Sakuni.

Gb. 71 – Sengkuni (Koleksi Tropenmuseum)


Sumber : http://www.tropenmuseum.nl/

Putra Prabu Gandara itu telah disusupi oleh Batara Dwapara yang diperbolehkan oleh
Sang Hyang Wenang untuk menitis kepada seorang anak manusia yang tertakdir
sebagai tukang memanasi suasana. Maka sepanjang hidupnya, ia telah berlaku
mengipas segala bentuk bara angkara sekecil apapun menjadi berkobar liar
menyambar-nyambar.

Dengan tidak lebih duapuluh Kurawa yang tersisa, Harya Sengkuni mengamuk menarik
perhatian Prabu Kresna dan Werkudara yang masih saja siaga menghadapi suasana
yang mungkin saja terjadi.

“Werkudara! Lihat Sangkuni mengamuk! Jangan dikira ia yang bertubuh bungkuk dan
lemah, dapat kamu kalahkan dengan segenap kekuatan tenagamu. Tetapi
sebenarnyalah ia adalah seorang yang kebal senjata. Tetapi otakmu harus kau

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 110


gunakan juga. Mungkin kamu dulu sudah ketahui, bahwa ia telah berlumurkan
minyak Tala ketika cupu berisi minyak Tala peninggalan orang tuamu Prabu Pandu
menjadi rebutan dan jatuh ke sumur dalam. Ketika itu Pendita Kumbayana telah
berhasil mengangkat cupu itu, tetapi karena masih jadi rebutan dan minyak Tala
itupun tumpah. Sangkuni telah melumuri dirinya dengan minyak Tala dengan
bergulingan diatas tumpahan minyak. Tetapi ada yang terlewat, yaitu bagian
duburnya. Bagian itulah yang kamu dapat jadikan sasaran awal untuk menyobek kulit
dagingnya!”

Melompat Werkudara tidak sabar untuk menyelesaikan tugas di ujung sore itu.
Didekati Sangkuni yang terbungkuk bungkuk sesumbar maciya ciya tanpa
memperhatikan sekelilingnya. Ilmu kebalnya telah membuat ia bagaikan tak ada yang
bisa mengalahkannya. Lengah Arya Suman!

Dan sejumlah Kurawa yang mencoba menghadang menjadi sasaran amukan


Werkudara. Mereka bagaikan laron yang masuk kedalam kobaran api. Tumpas Kurawa
yang menghadang.

“Hayoh keparat Pandawa! Maju kemari bila masih bernyali melawan Harya Suman .
. . . !” Belum habis kata kata Sangkuni, Werkudara telah menyambar tubuh
lawannya yang memang tidak lagi gesit setelah raganya dirusak oleh Patih
Gandamana, Patih Astina ketika Prabu Pandu Dewanata bertahta.

Pundak Harya Sangkuni dipegang erat, kemudian diangkat kakinya sehingga ia


terbalik. Sejurus kemudian kuku Pancanaka Werkudara telah mendarat di sela-sela
bokong Sengkuni. Sementara kaki Werkudara telah menahan salah satu kaki Sengkuni
yang satu lagi. Belah raga Sengkuni dengan jerit mengiring kematiannya.

“Werkudara, belum cukup kamu menangani raga Sengkuni. Ingat sumpah ibumu,
Kunti, ketika ia telah dilecehkan olehnya, sehingga kemben ibumu melorot dan
menjadi tontonan dan sorakan orang-orang Kurawa. Ketika itu ibumu bersumpah,
tak akan berkemben bila tidak menggunakan kulit dari Patih Sengkuni yang telah
mempermalukannya. Kuliti sekalian dinda!”

Senja telah menjelang usai gugurnya sang senapati utama, Prabu Salya. Layung senja
oleh terbawa awan mendung melayang menyorotkan cahaya jingga, ketika Dewi
Setyawati telah sampai di medan Kurukasetra. Berdua dengan Endang Sugandini,
Dewi Satyawati seakan berenang dalam genangan darah. Sebentar-sebentar ia
membolak balik jenazah yang terkapar, mencari-cari jangan-jangan jenazah itu
adalah sang suami. Sementara mendung makin tebal terkadang seleret petir
menyambar menerangi walau sesaat sosok demi sosok yang ia perkirakan adalah raga
Prabu Salya.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 111


Ketika untuk kesekian kali kilat menerangi medan perang itu, Dewi Setyawati tak lagi
ragu terhadap sosok yang ia perkirakan sebagai jenazah suaminya. Menjerit Dewi
Setyawati memanggil nama suaminya. Dipeluk sosok yang belum lagi kering darah
didadanya.

“Kanda Prabu, paduka telah meninggalkan hamba. Paduka gugur sebagai tawur
perang ini. Walau paduka telah tidak lagi bernyawa, namun sikap tubuh dalam gugur
paduka, seakan-akan melambai mengajak hamba turut serta”.

Sejenak Setyawati menciumi jenazah suaminya yang sudah semakin dingin.


Ditetapkannya hatinya untuk menyusul kematian suami tercintanya, “Marilah kanda,
ajakan kanda untuk pergi bersama seperti yang Paduka ucapkan semalam, tak kan
kuasa hamba tolak”.

Segera diraih cundrik, sejenis keris kecil yang terselip di pinggang Dewi Setyawati,
tewas Sang Dewi menyusul kekasih hatinya. Sementara Begawan Bagaspati dengan
senyum menjemput dan menggandeng anak dan menantunya menapaki keabadian.

Endang Sugandini yang sama-sama mencari jenazah Prabu Salya tak jauh dari Dewi
Setyawati segera datang menghampiri, ketika mendengar jerit saudara sekaligus
temannya karibnya. Melihat Prabu Salya dan Dewi Setyawati yang keduanya saling
berpeluk, terpekik. Tanpa pikir panjang segera ia juga melepas cundrik yang
menancap di dada Dewi Setyawati, kemudian menyusul Salya dan Setyawati.

Sepi menguak di Kurukasetra setelah peristiwa itu. Awan mendung yang menggantung
telah berubah menjadi hujan yang demikian lebat. Air hujan itu seakan telah
mensucikan ketiga raga manusia yang memiliki kesetiaan tanpa cela.

Malam itu di Pesanggrahan Pandawa Mandalayuda, Prabu Puntadewa masih duduk di


bangunan yang dirupa sebagai pendapa. Diantaranya duduk Prabu Matswapati dan
Prabu Kresna.

“Eyang Baginda, tak ada rasa sedih seperti yang terjadi pada saat ini. Kemenangan
demi kemenangan telah kami dapatkan hari demi hari disepanjang Perang
Baratayuda Jayabinangun ini. Namun kemenangan demi kemenangan telah dibeli
dengan jatuhnya tawur para saudara, orang tua, guru, dan semua orang yang
sepantasnya hamba beri kemukten. Puncaknya, hari ini, tangan hamba telah
mengantarkan Uwa Prabu Salya ke tepet suci. Sekecil ujud debupun, hamba tidak
mengira, bahwa gerak tangan hamba ini akan menjadi lantaran perginya Uwa
Mandaraka”.

Prabu Matswapati menarik nafas panjang. Apa yang dikatakan oleh Prabu Puntadewa
adalah hal yang sangat dipahaminya. Sesal sekecil apapun pasti membekas di dada

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 112


Puntadewa yang begitu teguh memegang kesucian diri. Maka sejurus kemudian ia
berkata, “Cucu Prabu, sebagaimana telah terjadi pada trah Matsya, tumpasnya
anak-anak lelaki yang aku punyai Seta, Utara dan Wratsangka pada mulanya telah
membuat sesal dan sedih. Tetapi semoga cucu Prabu menjadikan contoh dari
perasaanku terhadap takdir. Semua kejadian yang telah terjadi hendaknya
dipasrahkan saja kepada Yang Maha Mengatur. Berikanlah jiwa ini keringanan beban,
serahkan segalanya kembali kepada-Nya, sehingga kita menjadi ringan dalam
melangkahi hari hari didepan.”

Gb. 72 – Prabu Matswapati

Kalimat yang dikatakan Eyangnya yang sangat dihormati telah sedikit memberi
pencerahan di hati Prabu Puntadewa yang segera mengatakan isi hatinya yang masih
terpendam “Sabda Eyang Baginda Matswapati sedapat mungkin akan hamba lakukan.
Tetapi Eyang, masih ada beberapa saudara kita Kurawa termasuk Kanda Prabu
Duryudana masih belum kelihatan dalam perang hari ini. Maka perkenankan hamba
mohon kepada Kanda Prabu Kresna, mumpung dalam pertemuan ini juga hadir, agar
besok hari untuk bersama-sama membimbing saudara-saudara kami Pandawa, untuk
mencari keberadaan kanda Prabu Duryudana. Ajaklah kanda Prabu untuk kembali ke
Astina”.

Sejenak Prabu Puntadewa terdiam, seakan ada sesuatu yang penting hendak
disampaikan; “Eyang, hamba akan pasrahkan seutuhnya Negara Astina untuk
membangun kembali diatas reruntuhan yang terjadi dalam perang. Hamba
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 113
bersaudara telah mengambil keputusan untuk hanya menempati Negara yang kami
bangun dengan keringat dan darah kami sendiri, Negara Indraparahasta atau
Amarta!”

Tersenyum Prabu Matwapati, sangat mengerti ia akan keluhuran budi cucu yang satu
itu. Keputusan yang sebenarnya telah disampaikannya pada sebelum korban
berjatuhan dan menjadi luluh lantak. Walau kemenangan sudah dikatakan telah ada
di tangan, tetapi keputusan semula masih saja ia pegang .

“Cucu Prabu Punta, begitu luhur budimu. Untukmu kaki Kresna, segera setelah
sidang sore ini terlaksana, bersiaplah untuk mencari keberadaan Prabu Duryudana.
Eyangmu sangat setuju dengan putusan yang diambil oleh cucu Puntadewa, yang
hanya mengambil Negara yang dibangun atas landasan hutan Mertani ketika itu.

Maka ketika cerah mentari pagi telah menerangi hari, Prabu Kresna telah berada
diluar Medan Kuru yang hari itu menjadi demikian sepi. Hiruk pikuk peperangan yang
telah berlangsung sejak delapan belas hari telah menyisakan pemandangan yang
begitu mengerikan.

Namun Prabu Kresna teringat akan ucapannya ketika Prabu Baladewa yang disisihkan
dengan tipu dayanya, agar tidak ikut-ikutan dalam perang, dan harus bertapa di
Grojogan Sewu atau air terjun dengan seribu alur. Tetapi ia berjanji bahwa walaupun
hanya sekejap sajapun, kakaknya diberi waktu untuk menyaksikan perang itu.

Disitu Prabu Baladewa bertapa memuja ke hadapan Dewa, agar diberikanlah


kerukunan antara saudara-saudaranya Kurawa dan Pandawa. Ketika itulah Kresna
sudah sampai di tempat Prabu Baladewa bersemedi.

“Dosa besarlah namanya, Werkudara, bila seseorang membangunkan orang yang


sedang bertapa. Tetapi kali ini ada hal yang tidak dapat ditunda lagi. Mari dinda,
bantu aku mengheningkan cipta untuk membangunkan kanda Baladewa dengan aji
Pameling”. Kata Kresna kepada Werkudara setelah berada di hadapan Prabu
Baladewa yang selalu dijaga putranya Raden Setyaka.

Segera Prabu Kresna bersemadi membisikkan aji Pameling kearah telinga hati Prabu
Baladewa. Demikianlah pesat cipta Prabu Kresna telah mampu mengubah jalannya
waktu. Terkena aji Pameling, Prabu Baladewa seketika terbangun dari tapa. Bagai
bangun dari tidur dengan mimpi yang nggegirisi, dihadapannya telah berdiri Kresna
dan Werkudara.

“Dinda kamulah yang aku tunggu, apakah Baratayuda sudah dimulai. Atau bahkan
perang sudah selesai?”

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 114


“Kurawa sudah tumpas hari ini kanda Prabu. Tetapi ada satu yang masih kita cari,
Prabu Duyudana”. Jawab Kresna.

“Jagad dewa batara, ternyata tragis akhir hidup para Kurawa. Sudahlah, sekian saja
Werkudara, cukup sampai disini kita menyudahi pertengkaran yang membawa
kehancuran. Kamu harus ingat bahwa Pandawa dan Kurawa adalah berasal dari satu
turun. Turun dari Eyang Wiyasa. Betapapun pasti Eyang Wiyasa sangat sedih melihat
apa yang sudah terjadi”.

Gb. 72 – Prabu Matswapati


Sumber : http://wayangukur. wordpress.com/

“Sudah aku ingatkan kanda Prabu Duryudana sejak semula tapi itulah yang terjadi”
Jawab Werkudara.

“Mari Kanda, kita cari dimana dinda Duryudana sekarang berada. Dinda Punta sudah
merelakan Negara Astina tetaplah menjadi milik Kurawa”. Ajak Kresna

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 115


Perjalanan kemudian dilanjutkan kembali dengan mengerahkan ketajaman insting
Kresna. Tak lama kemudian terlihat seekor gajah yang dengan tenangnya merumput.

“Lihat kanda, kita bertemu dengan gajah yang tidak asing lagi. Gajah Kyai Pamuk.
Tetapi lihat lagi, dipunggung gajah itu terlihat busana dari Prabu Duryudana, serta
bermacam senjata. Hamba pikir di telaga itulah Prabu Duryudana bersembunyi
dibawah rimbunnya tanaman teratai merah yang mengambang”.

“Aku juga berpikir begitu. Biarlah aku akan memanggil Prabu Duryudana. Betapa
kangennya rasa hati ini walau tidak sampai sebulan aku telah terpisah. Dan akan aku
tebus tapaku untuk kedamaian antara saudara-saudaraku Pandawa dan Kurawa”.
Baladewa menimpali.

Dengan lantang kemudian Baladewa memanggil manggil Prabu Duryudana , “Dinda


Prabu, ternyata dinda ada disini. Sudah kangen rasa ini untuk bertemu dengan dinda
Prabu Duryudana. Saya kakakmu Prabu Baladewa. Dinda, perkenankan dinda keluar
dari air telaga walaupun hanya sebentar. Kita dapat berbicara dari hati kehati”.

Suara itulah yang ditunggu-tunggu Prabu Duryudana. Walau sayup suara Prabu
Baladewa karena lebarnya telaga, namun ia telah yakin, yang ditunggu sudah tiba.
Keluar dari tempat persembunyian ditengah telaga dan segera mendekati arah Prabu
Baladewa. Berangkulan keduanya tanpa menghiraukan sekelilingnya.

“Terimakasih kanda telah bersusah payah mencari kami, kanda. Kandalah yang
selama ini hamba tunggu. Bukannya hamba lari dari tanggung jawab, ngeri atau
pengecut, tetapi hamba ingin melawan musuh hamba dengan olah gada. Olah gada
yang kanda Prabu ajarkan. Selayaknya kanda Prabu menjadi saksi ketrampilan olah
gada yang aku tekuni. Sepantasnya guru menjadi saksi kesaktian muridnya”
Duryudana berkilah.

“Oooh dinda, kami datang bukan untuk menantang perang. Tetapi justru kami
datang dengan ajakan berdamai. Telah banyak para orang tua tua kita yang menjadi
tawur perang! Kami beserta para Pandawa telah bersepakat untuk mengajak paduka
dinda untuk kembali ke Astina, dan melupakan kejadian yang telah lalu, yang
sejatinya kita bisa jadikan pelajaran kita melangkah kedepan”. Baladewa mencoba
memberikan penjelasan.

“Para Pandawa sudah menerima bahwa mereka rela menyerahkan Negara Astina dan
hanya meminta negara Amarta yang mereka bangun dengan jerih payah sendiri”.

Namun jawaban Prabu Duryudana tidak menjadikannya persoalan selesai

“Tidak, tidak kanda! Kanda telah mengecilkan hamba. Prajurit kami telah gugur
beribu-ribu jumlahnya. Apa gunanya hamba yang tinggal sendirian takut mati.
Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 116
Tidak! Hamba adalah raja besar. Raja yang sudah bertahun tahun hidup dalam
kemuliaan. Tidak selayaknya hamba melepaskan begitu saja tanggung jawab itu”.

Dibiarkannya Prabu Duryudana menumpahkan rasa hatinya oleh Baladewa, sesat


kemudian Duryudana menyambung “Kalah atau menang, Pandawa akan kecewa.
Seumpama saya yang menang itu sudah menjadi kewajiban kami untuk membangun
kembali kemuliaan kami, dan kemuliaan Prabu Duryudana akan menyundul hingga
kelangit tujuh. Tetapi bila Pandawa yang menang, mereka akan kecewa. Negara
Astina sudah hancur. Mereka hanya akan merawat anak-anak yatim dan janda-janda
korban perang. Mereka hanya akan menemukan reruntuhan demi reruntuhan”.

Menarik nafas panjang Prabu Baladewa yang kemudian menggelengkan kepala lemah,
katanya “Keterlaluan dinda Duryudana yang mempunyai watak gunung. Tak bisa
diperlakukan rendah. Baiklah sekarang kanda akan menuruti kemauan dinda Prabu”.

“Paduka Kanda Prabu Baladewa hendaknya menjadi saksi, kami minta perang
tanding gada dengan salah seorang Pendawa, yang mempunyai sosok seimbang”.
Jawab Duryudana.

Demikianlah, setelah selesai mengenakan kembali busana keprajuritan yang terletak


dipunggung gajah, maka Duryudana telah berhadapan dengan Werkudara. Satu lawan
satu! Kresna mendekati Werkudara sebelum perang tanding dimulai dengan
membisikkan sesuatu yang disusul anggukan kepala Werkudara penuh arti.

Ketika Prabu Duryudana bergeser, maka Werkudara-pun bergeser pula. Ia menyadari


sepenuhnya, bahwa Duryudana itu sudah siap untuk meloncat menyerangnya.

Tetapi Werkudara-pun sadar, bahwa Duryudana mulai serangan gadanya dengan


menjajagi kemampuannya, sebagaimana juga akan dilakukan oleh Werkudara.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Duryudana meloncat menyerang dengan
penggada tepat kearah dada. Namun seperti yang diduga oleh Werkudara, Duryudana
belum mempergunakan tataran ilmunya yang tertinggi. Meskipun demikian namun
pukulan itu seakan-akan telah meluncur secepat lidah api dan melontarkan angin
yang keras mendahului gerak tangan Duryudana yang terjulur itu.

Werkudara bergeser selangkah menyamping. Meskipun ia tahu bahwa lawannya


belum menyerang dengan sepenuh kemampuan, namun Werkudara tidak mau
merendahkannya. Karena itu, sejak awal ia telah mulai mengetrapkan ilmu kebalnya
Bandung Bandawasa. Ilmu yang dapat melindungi ujud wadagnya, meskipun ia masih
belum yakin jika serangan lawannya cukup kuat dengan lambaran ilmu yang sangat
tinggi, hingga serangan itu akan dapat menyusup, dan memecahkan perisai ilmu
kebal itu.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 117


Gb. 73 – Perang tanding Duryudana dan Bimasena

Berapa saat, pertarungan berjalan semakin seru. Tetapi baik Werkudara maupun
Duryudana tidak mau tergesa-gesa. Justru karena masing-masing melihat kelebihan
lawannya, mereka harus mebuat perhitungan yang sebaik-baiknya dalam
pertempuran itu. Bagaimanapun mereka tidak boleh membuat kesalahan yang akan
dapat menjerumuskan mereka kedalam kesulitan yang gawat.

Serangan-serangan Duryudana itu semakin cepat menyambar-nyambar Werkudara


dari segala arah. Langkahnya seakan-akan sama sekali tidak diberati oleh bobot
tubuhnya. Seperti seekor burung sikatan Duryudana itu meloncat menyambar dan
sekali sekali mematuk dengan gadanya.

Sengitnya perang tanding masih diawasi dengan tegang oleh Prabu Kresna dan
Baladewa. Sebentar-sebentar mimik muka keduanya menegang, sebentar kemudian
kembali cair. Terasa kesiur angin panas dari ayunan gada mulai menampar tubuh
keduanya dan memaksanya sedikit menjauh dari arena pertempuran. Sementara
pukulan gada keduanya dari waktu ke waktu semakin dahsyat. Keduanya telah sampai
pada tataran teringgi kemampuannya. Kekuatan yang bagaikan taufan saling
menghantam badan keduanya, tetapi mereka adalah manusia-manusia pilihan yang
telah tertempa oleh pengalaman berguru dan pengalaman tempur yang panjang.

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 118


Duryudana melontarkan gelombang-gelombang pukulan gada yang dahsyat beruntun
susul menyusul. Namun Werkudara dengan ajian Blabak Pengantol antol dan dibantu
sukma Kumbakarna yang menyatu selagi Werkudara ada di lereng gunung Kutarunggu,
sangat sulit ditaklukkan. Sementara tamparan serangan itupun mulai terasa bagaikan
panasnya uap air yang sedang mendidih menyengat tubuhnya. Arena perang tanding
telah menjadi hangus bagai terkena sengatan halilintar. Bahkan suara gelegar
benturan kedua gada pusaka terdengar membahana bagai sejuta guruh dilangit
berpetir.

Namun kekuatan Duryudana adalah kekuatan simbol dari angkara murka yang tidak
begitu saja dapat diatasi oleh laku kebaikan. Maka perang tanding itu sudah seharian
tanpa ada kelihatan siapa yang bakal unggul. Setingkat demi setingkat Duryudana itu
meningkatkan ilmunya yang nggegirisi. Kekuatan angin yang melanda Werkudara oleh
kesiur gadanya menjadi semakin dahsyat. Bahkan kemudian angin itu mulai berputar,
Werkudara mulai merasa dirinya dihisap oleh pusaran angin yang begitu panas.
Seolah-olah pusaran air yang mempunyai kekuatan tidak terbatas telah
menghisapnya keatas. Sedangkan udara panas semakin lama menjadi semakin panas
menerpa kulitnya. Namun aji Blabak Pangantol antol telah menerapkan dirinya bagai
terpaku dalam tanah. Dalam satu kesempatan ketika Duryudana melompat
menyerang, maka dikenai pahanya sebelah kiri Prabu Duryudana dengan penggada
yang bagai bobot gunung Semeru. Dengan keluh tertahan, disusul kata kata kotor,
ambruk Prabu Duryudana!

Tetapi begitu Duryudana mencoba bangkit, sekali dua kali, tiga kali gada Werkudara
masih saja menggempur tubuhnya. Remuk rempu tubuh Duryudana tak berujud lagi.

Prabu Baladewa murka melihat Prabu Duryudana yang sudah tidak berdaya terkena
hajaran gada Werkudara. Walau ia mengerti bahwa kekuatan Duryudana tiada tara
namun kekuatan gada Werkudara yang bagai bobot gunung Mahameru pasti akan
menghancurkan sosok Duryudana.

“Keparat Werkudara ayoh tandingi aku Baladewa. Jangan mentang-mentang kamu


menang, sehingga kamu berlaku sia-sia terhadap pihak yang kalah. Duryudana sudah
tidak berdaya kamu perlakukan seperi layaknya binatang buruan! Ayoh tandingi
Baladewa!”

Kresna yang dari tadi siaga menjaga agar tidak ada peristiwa yang mengkhawatirkan
terjadi, telah menyongsong gerak Prabu Baladewa, “Sabar kanda, sabar. Hamba
sudah bilang sebelumnya, kemauan hati tak lah kuasa untuk membelokkan takdir.
Baratayuda adalah peristiwa luwarnya kaul atau janji, itu hal yang pertama. Kedua
adalah arena tagih menagih antara yang menghutangi dan yang diberi hutang, baik
dalam hal rasa ataupun budi pekerti. Dan ketiga adalah, syarat bagi hilangnya

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 119


angkara murka. Hilangnya angkara itu kanda, tidaklah bisa sirna bila tidak
bersamaan dengan yang menyandangnya”.

Kresna yang melihat di mata kakaknya sudah surut kemarahannya segera


menyambung, “Mestinya ada banyak peristiwa yang tentunya kanda Prabu sudah
mengerti bahwa Prabu Duryudana juga mempunyai hutang budi, hutang pati dan
hutang seribu malu yang disandang manusia-manusia yang telah ia hutangi. Maka
kanda, ikhlaskan kematian Prabu Duryudana. Marilah kita bersama melangkah
kedepan dalam satu tindakan bersama-sama para saudara kita Pandawa, yang telah
terbukti menjadi sarana hilangnya angkara”.

Hari kembali buram di sore itu sewaktu perang tanding berakhir. Kembali langit
membiaskan layung senja yang entah kapan sore berlayung itu akan berakhir.
Demikianlah, setelah merawat jenazah Duryudana maka ketiganya telah kembali
menghadap Baginda Matswapati di Hupalawiya.

Golongan Kurawa, Kartamarma dan Aswatama masih berkeliaran. Namun Perang


Dunia ke empat ini praktis telah berakhir . . . .

Surak surak manengker gumuruh


Swaraning wadya surak gambira
Unggul Baratayuda para Pandawa
Labuh Negara Astina balane
Kurawa gugur tengahing palagan
Pandawa . . . Pandawa ungguling prang Baratayuda.

TANCEP KAYON

Baratayuda – indonesiawayang.com Hlm 120