Anda di halaman 1dari 42

CRITICAL BOOK REPORT

Dibuat untuk memenuhi mata kuliah : Bisnis Berbasis Syariah

Dosen Pengampuh : Anggriyani M.Si

DI SUSUN

Kelompok 4

Annisa Salsabila (7182143001)

Fika Rahayu Ningsih (7181143001)

Jonathan Hasugian (7182143006)

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

FAKULTAS EKONOMI

PENDIDIKAN BISNIS

TA : 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT Yang mana karena dengan Rahmat dan
Hidayah- Nya sehingga Tugas ini dapat diselesaikan. Terimakasih kami ucapkan kepada ibuk
Anggriyani M.Si. yang telah membimbing kami dalam menyusun kerangka Critical Book
Report dengan baik dan benar. Penyusunan Critical Book Report ini dilakukan sebagai salah
satu syarat untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Bisnis Berbasis Syariah.

Akhir kata, sebagaimana layaknya manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan,
apabila terdapat kesalahan penulisan, kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang
membangun agar kami dapat lebih baik menyusun Laporan Critical Book Report dalam
materi kuliah lainnya. Harapan dan tujuan kami dalam menyelesaikan Critical Book Report
ini adalah agar dapat berguna dan dapat menambah pengetahuan bagi yang membacanya.
Atas segala perhatian, do’a dan dukungan ibu dosen dan teman-teman, kami mengucapkan
terima kasih.

Penulis

Kelompok 4

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................2

DAFTAR ISI..............................................................................................................................3

BAB I.........................................................................................................................................4

PENDAHULUAN......................................................................................................................4

A. Latar Belakang................................................................................................................4

B. Tujuan penulisan CBR....................................................................................................4

C. Manfaat CBR..................................................................................................................4

D. Identitas Buku.................................................................................................................4

BAB II........................................................................................................................................5

RINGKASAN BUKU UTAMA DAN BUKU PEMBANDING...............................................5

BAB III.....................................................................................................................................39

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN.......................................................................................39

BAB IV....................................................................................................................................40

PENUTUP................................................................................................................................40

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................41

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seringkali kita bingung memilih buku referensi untuk kita baca dan pahami.
Terkadang kita memilih satu buku, namun kurang memuaskan hati kita. Misalnya dari
segi analisis bahasa, pembahasan tentang Pancasila. Oleh karena itu penulis membuat
Critical Book Report ini untuk mempermudah pembaca dalam memilih referensi,
terkhusus pada pokok bahasan tentang Pancasila.

B. Tujuan penulisan CBR


1. Mengetahui kelamahan dan kelebihan suatu buku
2. Mengulas semua isi sebuah buku
3. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku
4. Melatih diri untuk berfikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh
setiap bab dari buku

C. Manfaat CBR
1. Membantu memahami pentingnya mempelajari Pancasila
2. Membantu memahami perkembangan pancasila dalam negeri.
3. Membantu mahasiswa kritisi dalam suatu hal termasuk buku

D. Identitas Buku
 Buku Utama
Judul : Bisnis Syariah edisi 2
Pencipta : Muhammad Yusuf ,SE. MM
Penerbit : Mitra Wacana Media
Tahun terbit : 2011
ISBN : 978-6.2-8856-66-9
 Buku Pembanding
Judul : Ekonomi, Bisnis, Dan Manajemen Islam
Pencipta : Pof. Dr. Sofyan S Harahap
Penerbit : BPFE Yogyakarta
Tahun terbit : 2009

4
ISBN : 979-503-4529

BAB II

RINGKASAN BUKU UTAMA DAN BUKU PEMBANDING

BUKU UTAMA

BAB I

Pengantar Ekonomi dan Bisnis Syariah

Isi Kerasilan bidang Ekonomi

Dimulai Nabi Adam AS pada peristiwa awal Mmenempuri bumi. Sejak muncul masalah
ekonomi sal keburahan hidup yang paling vital, vaitu soal pangan, sandang dan papan. Q S
al-Qur ant2 36 Oich larenanya. Beliaulah yang pertama kali memecahkan masalah ekonomi
(nonemik problen ling dan kegiatan ekonomi yang merefleksikan fungsi kekhalifahan sebagai
yang di-Kehendaki Allah SWT yang disimyalir dalam QS al-Bapanah 2 30-33. Nabi Adam
AS adalah mahaguru untuk solusi ekonomi pangan. Nabi Idris AS dengan keshlian menjahir
berarti telah mencairkan problema ekonomi sandang Nabi Nuh AS demgan keahliannya
membuat tempat berlindung sekaligus kendaraan (perahu) berarti telah menciptakan hak
paten pertama untuk perkapalan, dan membangun kembali perumahan setelah selamat dari
kebanjiran. Nabi Hud dan Soleh AS melanjutkan rutinitas kegiatan ekonomi sehagaimana
sga Nabi sebelumnya Nabi Ihrahim, Ismail & lhak AS telah mempersiapkan Infrastrukrur
ibadah Haji yang di kenadian hari banyak mendatangkan devisa serta meramaikan
pendagangan di Mekah Medinsh. QS al-Baganah (2): 125 128. Nabi Yusuf AS memberikan
cntoh achagai pemerirah yang piawai Menerapkan kebijakan Makekonomi untuk sinasi sulit
menginstru ksikan rakyar mengalokasikan pendapatan nnnik konnumai jangka pende dan
jangka panjang. QS Yamf12)) 46-47). Nabi Suaih AS banvak buka uaha di peternakan dan
banyak menghimbau masyarakat agar berperilaka ekonami dalam koridor takwa lkepada
Allah SWT, Nabi Musa AS bagai higar SDM yang tangah swhingga dapat dinikahkan oleh
Nabi Suaib AS dengan puterinya unuk usaha perernakannya. QS al Quhh (28), 24-28 Nati
Dawud dan Sulainan AS mempelopori ekonomi industn di mana qeum ead amapan dunnd

5
naaq ning rompoad unpyrun mpaag: Bisnis Svariah tangga, properti, perhiasan, jawatan pos,
dan isyarat mukjijatnya untuk Industri Pesawat terbang. serta kepiawaian manajerial, Lihat
Q.S.: Shad (38):24; Saba (34):12-13: al-Anbiya (21):80-82; an-Naml (27):20-26. Nabi
Zakariya AS ahli dalam mengelola hutan dan produksi hulu dan hilir pengelolaan kayu. Nabi
Isa AS ahli di bidang medis yang berarti pemula untuk usaha jasa Rumah Sakit. Terakhir
Nabi Muhammad SAW mengaktifkan perdagangan yang tangguh dalam arena persaingan
global dan mengajarkan persaingan sehat, serta sebagai pemerintah dapat membangun sistem
Moneter yang maju, sistem pasar dalam equilibrium, Manajemen Bait-al-Mal (rumah harta),
Sistem transaksi dan akuntansi, Sistem Perseroan, perkongsian dan Investasi, Q.S. al-Baqarah
(2): 275, 282, al- Muthaffifin (83): 1-3, al-Quraisy (106):1-4. Allah SWT mengutus para
Rasul, mewahyukan kitab-kitabNya. dan memaksumkan (mengoreksi dan mengesahkan)
hadits Nabawi agar berperan sebagai agar berperan sehan "hidayah agama"
(petunjuk/pengarah) kehidupan manusia. Dari segi "Kehendak Khaliq" manusia diciptakan
untuk menjadi penyembaha pengabdi Tuhan (Allah-Khaliq) dan menjadi khalifah/pemakmur
bumi, Q.S.: adz Dzariat (51):56, al-Baqarah(2):30, Hud (11):61. Namun dari segi
kemerdekaan manusia memilih, ada manusia yang memilih sikap tunduk pada ajakan Rasul
untuk menepati "Kehendak Khaliq", dan ada yang memilih sikap tak perduli/apriori/ ingkar.
Manusia yang tunduk, dalam kegiatan ekonomi mereka memposisikan Kitabullah dan
Sunnah Rasul sebagai "director" (pengarah/hidayah) agar merealisasikan dua tugas utama
manusia adalah "pengabdi Tuhan" dan "memakmurkan bumi menjalankan kekhalifahan".

TUJUAN EKONOMI ISLAM

Kegiatan Nabi Adam di surga tidak memerlukan formulasi keputusan ekonomi, karena segala
fasilitas kehidupan surgawi merupakan pelayanan Allah SWT untuk memulyakan manusia.
Surga yang pertama kali dinikmati manusia tersebut bisa diimplementasikan sebagai miniatur
kesejahteraan yang didambakan manusia. Di dunia, fasilitas-fasilitas kehidupan semacam
surga harus diperjuangkan. Karena itu kaum "hedonisme", mengerahkan segala kemampuan
dan cara dalam kegiatan ekonomi untuk merasakan kepuasan "fasilitas surgawi" di dunia ini.
Namun khalayak muslim harus mengalokasikan potensi dalam kegiatan ekonomi menuju
keuntungan ukhrawi dan duniawi, dua kesejahteraan harus dicapai dalam upaya ekonomi.
Karena bagi muslim, kehidupan dunia merupakan "halte kesejahteraan" dan halte tadi
diturunkan demi melanjutkan tujuan ke "terminal kebahagiaan abadi" di akhirat. Jadi semua

6
perjuangan ekonomi tujuan akhirnya adalah ukhrowi yang penuh rahmat dan kebebasan, dan
aktivitas ekonomi di dunia harus bernuansa khalifatul-ardli dan ibadah, sesuai QS: ad-Dzariat
(51): 56 dan al-Baqarah (2): 30. Tujuan ekonomi Islam mengandung unsur-unsur dan faktor-
faktor situasional untuk mencapainya, kurva akan dikemukakan berikut ini: sekali

. UNSUR TUJUAN EKONOMI ISLAM

Dua tujuan ekonomi Islam seperti telah dikemukakan di atas yaitu, tujuan duniawi dan
ukhrawi yang diimplementasikan secara ganda dalam suatu kegiatan ekonomi. Yang
dimaksudkan tujuan duniawi adalah bahwa kegiatan ekonomi sebagai upaya
mempertahankan hidup, memfasilitasi ibadah pribadi, meningkatkan peradaban, dan
membekali keturunan agar mempunyai keberdayaan / kejayaan yang lebih baik. Di dalam
tujuan tersebut tercakup unsur-unsur yang harus dicapai, yaitu; Sebuah. Unsur mikro: 1)
Nafkah Dasar. 2) Memfasilitasi silaturrahmi. 3) Menabung dan usaha agar banyak orang
dipekerjakan untuk punya kecukupan nafkah. 4) Zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS). 5)
Menunaikan Haji. Mewariskan harta kepada keturunan. 6) mewariskam harta kepada
keturunan

b. Unsur makro: 1) Keadilan dan pemerataan pendapatan nasional. 2) Fungsionalisasi Bait-


al-Mal. 3) Kegiatan pembangunan infrastruktur dan pelatihan / pengembangan usaha. 4)
Pengawasan distribusi, pasar, sirkulasi dan netralitas pemerintah sebagai persaingan sehat,
serta pemeliharaan keseimbangan umum yang sinergik dengan kaedah "Mashalihul-
Mursalah" (banyak mendatangkan manfaat dan menutup bahaya / risiko). 5) Pengendalian
mashlahah mu'amalah (transaksi ekonomi, bisnis, moneter, dan non ekonomi / bisnis /
moneter) luar negeri melalui manajemen pemerintahan, penasehat ekonom, perundangan dan
penegak hukum.

BAB 2

Perkembangan Lembaga Bisnis Syariah

Perubahan paradigma terhadap lembaga bisnis syariah bukanlah suatu hal yang
mudah dilakukan. , masyarakat secara umum mempunyai paradigma lembaga bisnis
konvensional, contohnya: perbankan, karena sudah beratus – ratus tahun masyarakat

7
berhubungan atau berinteraksi dan mempelajari perbankan konvensional yang mengutamakan
uang sebagai komoditi untuk membperoleh keuntungan.

2.1. Fungsi lembaga bisnis syariah

Sudah dikenal fungsi bank konvensional adalah sebagai penghubung antara pihak
yang kelebihan dana dan membutuhkan dana selain menjalankan fungsi jasa keuangan. Bank
syariah mempunyai fungsi yang berbeda dengan bank konvensional, fungsi bank syariah juga
merupakan karakteristik bank syariah yang perlu dibahas secara khusu, karena dengan
diketahui fungsi bank syariah yang jelas akan membawa dampak dalam pelaksanaan kegiatan
usaha bank syariah. Banyak para pengelola bank syariah yang tidak memahami dan
menyadari fungsi bank dan menyamakan fungsi bank syariah dengan fungsi bank
konvensional, sehingga membawa dampak dalam pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh
bank syariah yang bersangkutan.

2.1.1. Fungsi manajer investasi

Salah satu fungsi bank syariah yang sangat penting, bank syariah adalah manajer
investasi. Bank syariah merupakan manajer investasi dari pemiliki dana, dari dana yang
dihimpun dengan prinsip deposan atau penabung. Karena besar kecil nya pendapatan yang
diterima oleh pemilik dana tersebut sangat tergantung pada hasil usaha yang diterima oleh
bank syariah dalam mengelola dana, sehingga sangat tergantung pada keahlian, kehati –
hatian, dan profesionalisme dari bank syariah. Bank syariah dapat menghimpun dana yang
besar, kemudian dalam penyaluran dana dilakukan tidak efektif, kurang memperhatikan
prinsip – prinsip kehati – hatian, sembarangan sehingga banyak yang macet atau banyak yang
dikategorikan dalam non-perfoming, banyaknya penyaluran dana yang tidak melakukan
pembayaran angsuran, maka membawa dampak pendapatan yang diikuti aliran kas masuk
hanya sedikit yang diterima.

Dana yang dihimpun oleh bank syariah, hendaknya ditanamkan pada sektor yang
produktif dan tidak melanggar syariah. Jadi apa yang dilakukan oleh bank syariah dalam
penyaluran dana akan membawa dampak atau risiko kepada pemilik dana dari dana yang
dihimpun. Dalam bank syariah, imbalan yang diberikan kepada para deposan (penghimpunan
dana) sangat tergantung pada pendapatan yang doiperoleh atas pengelolaan atau penyalur

8
dana yang dilakukan oleh bank syaria, khususnya pendapatan yang telah diikuti dengan aliran
kas masuk, sehingga dari bulan ke bulan berikutnya penghasilannya tidak selalu sama.

Dalam menjalankan fungsi bank konvensional sebagai intermediary dalam


pengelolaan uang antara pihak suplus dana dan pihak yang defisit dana tersebut, bank
konvensional memperoleh pendapatan.

2.1.2. Fungsi investor

Dalam peyaluran dana, baik dalam prinsip bagi hasil, prinsip ujroh, dan prinsip jual
bel, bank syariah berfungsi sebagai investor. Oleh karena sebagai pemilik dana maka dalam
menanamkan dana dilakukan dengan prinsip – prinsip yang telah diterapkan dan tidak
melanggar syariah, ditanamkan pada sektor – sektor produktif dan mempunyai risiko yang
sangat minim. Keahlian, profesionalisme sangat diperlukan dalam menangani penyaluran
dana ini, penerimaan pendapatan dan kualitas aktiva produktif yang sangat baik menjadi
tujuan yang penting dalam penyaluran dana, karena pendapatan yang diterima dalam
penyaluran dana inilah dana yang akan dibagikan kepada pemilik dana. Jadi fungsi ini sangat
terkait dengan fungsi bank syariah sebagai manajer investasi.

Bank – bank islam menginvestasikan dana yang disimpan pada bank tersebut dengan
menggunakan alat investasi yang sesuai dengan syariah. Investasi yang sesuai dengan syariah
tersebut meliputi akad murabahah, sewa – menyewa, musyarakah, pembentukan perusahaan
atau akuisisi pengendalian atau kepentingan lain dalam rangka menderikan perusahaan atau
akuisisi pengendalian atau kepentingan lain dalam rangka mendirikan perusahaan,
memperdagangkan produk, dan investasi atau memperdagangkan saham yang dapat diperjual
belikan atau realestate. Keuntungan dibagikan kepada pihak yang memberikan kontribusi
dana, setelah bank menerima bagian keuntungan yang sudah disepakati antara pemilik
rekening investasi dan bank sebelum pelaksanaan akad. Fungsi ini dapat dilihat dalam hal
penyaluran dana yang dilakukan oleh bank syariah, baik yang dilakukan dengan
mempergunakan prinsip jual beli maupun dengan menggunakan prinsip bagi hasil sendiri.
Bank – bank islam bisa melakukan fungsi ini berdasarkan kontrak. Tetapi, jika terjadi
kerugian maka bank tidak berhak memperoleh imbalan atas usahanya dan kerugian
diperbankan kepada penyedia dana. Menurut agency contract, bank menerima satu jumlah

9
sekaligus atau persentase dari jumlah dana yang diinvestasikan tanpa memperhatikan apakah
diperoleh keuntungan atau tidak.

2.1.3. Fungsi jasa perbankan

Dalam menjalankan fungsi ini, bank syariah tidak jauh berbeda dengan bank non
syariah, seperti misalnya memberi layanan kliring, transfer, inkaso, pembayaran gaji dan
sebagainya, hanya saja yang sangat diperhatikan adalah prinsip – prinsip syariah yang tidak
boleh dilanggar.Bank syariah memberikan jasa transfer,inkaso,kliring dengan prinsip
wakalah;menyediakan tempat untuk menyimpan barangdan surat-surat berharga berdasarkan
prinsip wadi`a h yad amanah;memberikan layanan letter of credit(L/C)dengan prinsip
wakalah,memberikan layanan bank garansi dengan prinsip kafalah;melakukan kegiatan wali
amanat dengan prinsip wakalah,memberikan layanan penukaran uang asing dengan prinsip
sharf dan sebagainya.Bank-bank islam juga menawarkan berbagai jasa-jasa keuangan lainnya
untuk memperoleh imbalan atas dasar agency contract atau sewa dan pendapatan yang
diperoleh atas jasa keuangan tersebut merupakan pendapatan operasi lainnya dan tidak
termasuk dalam perhitungan pembagian hasil usaha.

2.1.4. Fugsi sosial

Konsep perbankan syariah mengharuskan bank-bank sayariah memberikan pelayanan


sosial apakah melalui dana Qard (pinjaman kebajikan) atau zakat dan dana sumbangan sesuai
dengan prinsip- prinsip islam.Di samping itu,konsep perbankan islam juga mengharuskan
bank-bank syariah untuk memainkan peran penting dalam pengembangan sumber daya
manusianya dan memberikan konstribusi bagi perlindungan dan pengembangan
lingkungan.Fungsi ini juga membedakan fungsi bank syariah dan bank konvesional,walaupun
hal ini ada dalam bank konvesional biasanya dilakukan oleh individu-individu yang
mempunyai perhatian dengan hal sosial tersebut,tetapi dalam bank syariah fungsi sosial
merupakan salah satu fungsi yang tidak dapat dipisahkan dengan fungsi-fungsi yang lain.

2.2.Pelaksanaan lembaga bsinis syariah merupakan implementasi prinsip syariah

Dalam melakukan kegiatan bank syariah selain diatur oleh ketentuan perundang-
undangan yang berlaku,juga harus tunduk pada prinsip-prinsip syariah yang ditentukan dalam

10
al-qur’an dan hadits,sehingga pelaksanaan kegiatan usaha bank syariah tersebut merupakan
implementasi dari prinsip-prinsip ekonomi islam,yang mempunyai ciri antara lain:

1.Pelarangan riba dalam berbagai bentuk.

2.Tidak mengenal konsep “time value of money.

3.Uang sebagai alat tukar bukan komoditi yang diperdagangkan.

4.Mengandung maisir (judi/gambing),Gharar (ada unsur penipuan),Riba,dan Bathil


(rusak/tidak syah).

Suatu transaksi bank syariah sesuai dengan prinsip syariah apabila telah memenuhi
seluruh syarat (IAI,kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan bank
syariah,paragraf 7)sebagai berikut:

1.transaksi tidak mengandung unsur kedzaliman

2.bukan riba

3.tidak membahayakan pihak sendiri atau pihak lain

4.tidak ada penipuan (gharar)

5.Tidak mengandung materi-materi yang diharamkan;dan

6.tidak mengandung unsur judi (maisyir)

2.2.1.Pelarangan riba dalam berbagai bentuknya

Beberapa para ulama memberikan defenisi riba antara lain:

1. Ibnu Hajar Al Askalani,mengatakan “esensi riba adalah kelebihan,apakah itu


berupa barang ataupun uang,seperti uang dua dinar sebagai pengganti satu dinar”
2. Allama Mahmud Al Hassan Tauki, mengatakan “Riba berarti kelebihan atau
kenaikan,dan jika dalam suatu perjanjian barter (perukaran barang dengan
barang),meminta kelebihan adanya satu benda untuk benda yang sama”

11
3. Syekh Waliyullah Dahlawi,mengatakan “unsur riba terdapat pada utang yang
diberikan dengan syarat si peminjam bersedia membayarnya lebih banyak dari apa
yang telah di terimanya”
4. Abu Bakar Ibn Al Arabi,mengatakan “setiap kelebihan yang tidak ada sesuatu pun
yang di kembalikan sebagai penggantinya disebut riba”
5. Qatadah,mengatakan, sebelum kedatangan islam riba yang disebut riba adalah
”jika seseorang menjual barangnya pada orang lain untuk jangka waktu
tertentu,dan ketika sampai batas waktu yang ditentukan si pembeli tidak
membayarnya,lalu si penjual memberikan perpanjangan waktu pembayarannya”

Dr. Setyawan Budi Utomo berkaitan dengan riba ini menjelaskan (setiawan,fiqih
aktual,hal 76-77) bahwa menurut istilah teknis,riba berarti “pengambilan tambahan dari harta
pokok atau modal secara bathil”.Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang
beriman,janganlah kamu memakan harta sesama dengan jalan bathil”.(An-Nisaa 29)

Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua.Masing-masing adalah riba utang-
piutang dan riba jual beli .Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba
jalilla .sedangkan kelompok kedua, riba jual beli terbagi lagi menjadi riba adhl dan riba
nasiah.

Adapun barang-barang yang diklasifikasikan kedalam jenis barang yang dapat


digunakan dalam praktik riba yaitu:

a.emas dan perak,baik dalam bentuk mata uang maupun lainnya,

b.bahan makanan pokok seperti beras,gandum dan sebagainya.

Allah SWT,dengan jelas dan tegas mengharamkan apapun jenis tambahan yang
diambil dari pinjaman.ini adalah ayat terakhir penuntas masalah riba.

“Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah keada allah dan tinggalkanlah sisa-sisa


(dari berbagai jenis)riba jika kamu orang-orang yang beriman.Maka jika kamu tidak
mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa allah dan rasul-nya akan
menerangimu.Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok
hartamu;kamu tidak menganiaya dan tidakpula dianiaya.”(al-baqarah278-279)

12
Adapun larangan riba dalam hadits tersurat dalam amanat terakhir rasulullah pada
tanggal 9 dzulhijjah tahun 10 hijriah,beliau masih menekankan pelarangan riba.

Umat islam dilarang mengambil riba dalam bentuk apapun.larangan ini secara
tegas,jelas dan qath’i terdapat dalam al-qur’an dan hadits rasulullah SAW larangan riba yang
terdapat dalam al-qur’an diturunkan secara bertahap seperti larangan khamar yakni melalui
dalam empat tahap.pertama,menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang lainnya seolah-
olah menolong sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarrub kepada Allah SWT.pada
hakikatnya justru menjerumuskan (ar-rum:39).kedua,riba digambarkan sebagai suatu yang
buruk.Allah SWT.mengancam memberikan balasan keras kepada orang yahudi yang
memakan riba (an-nisa:160-161).ketiga,riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu
tambahan yang berlipat ganda.

2.2.2. Uang sebagai alat tukar bukan komoditi yang diperdagangkan

Sesuai fungsinya bak konvensional memperoleh keuntungan dari pengelola uang.


Mengambil keuntungan atau pendapatan yang sebesar – besarnya dari pengeluaran
pembayaran bunga kepada deposan dengan pendapatan bunga yang diterima dari para
deriktur. Bank konvensional memandang uang sebagai komoditi atau barang daangan, dari
barang dagangnya tersebut akan diperoleh pendapatan yang sebesar - besar nya.

Islam mengakui semua jenis uang dan mengakui penggunaanya sebagai alat
pembayaran yang berlaku dan beredar di tengah – tengah masyarakat, sekaligus dijadikan
sebagai standar bagi nilai barang dan jasa dimana semua itu adalah merujuk pada timbangan
penduduk Makkah.

BAB 3

Opersional Lembaga Bisnis Syariah

2.1. kegiatan usaha dan operasional lembaga bisnis syariah

Oleh karena bank syariah mempunyai karakteristik dn fungsi yang berbeda dengan
bentuk konvensional, mempunyai dampak dalam pelaksanaan kegiatan usaha yang dilakukan
oleh yaitu beroperasi berdasarkan prinsip syariah, beroperasi atas dasar setiap hasil.

13
2.1.1. kegiatan usaha lembaga bisnis berdasarkan prinsip syariah

Dalam melakukan kegiatan usahanya bank syariah, baik penghimpunan dana


penyaluran dana dan jasa keuangan, harus dilandasi dengan fatwa dewan syariah maksimal.

Berdasarkan prinsip syariah, pasal 38 sebagai berikut :

(1) Bank wajib mengajukan permohonanan persetujuan kepada bank indonesia atau
produk dan jasa baru yang akan dikeluarkan.
(2) Permohonan persetujuan atas produk dan jasa baru yang akan dikeluarkan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilampiri dengan fatwa dewan syariah
nasional

Pihak yang mempunyai kompetensi untuk memerikan fatwa adalah dewan syariah
nasional, yaitu institusi yang mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan fatwa, yang
sampai saat ini sudah sebanyak 40 buah fatwa yang dikeluarkan dan fatwa ini terus
berkembang. Hal ini tidak berbeda dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntan publik
adalah pemeriksaan setempat yang merupakan bentuk pendelegasian wewenang Bank
Indonesia selaku otoristas pembinaan dan pengawasan bank.

Namun demikian yang perlu diperhatikan bahwa sesuai penjelasan undang – undang
No. 10/1998 tentang perubahan undang – undang No. 7/1992 tentang perbankan.

3.1.2.lembaga bisnis syariah beroperasi atas dasar bagi hasil

Sesuai dengan tujuan sebagai manajer investasi, bank syariah melakukan bagi hasil
atas pendapatan atau hasil usaha yang dilakukan oleh bank syariah dalam penyaluran dana
yang sumber dananya dari investasi tidak terikat. Penyaluran dana yag dilakukan oleh bank
syariah dilakukan dengan prinsip bagi hasil , pembiayaan, dan prinsip jual beli. Dalam
akuntansi perbankan syariah, pendapatan yang merupakan unsur perhitungan pembagian hasil
usaha dikategiorikan sebagai pendapatan operasi utama. Oleh karena itu dalam menjalankan
operasional bank syariah ini sangat diperlukan kejujuran, keadilan, keterbukaan dan amanah
dari para pihak yang berkait.

3.1.3. lembaga bisnis syariah tidak menggunakan bunga sebagai alat untuk
memperoleh pendapaan

14
Lembaga bisnis konvensional dalam kegiatan usahanya sangat terkait erat dengan
“bunga”. Contohnya bank konvensional memperoleh keuntungan dari selisih bunga yang
dibayar kepada deposan dan bunga yang diterima dari debitur, karena bank konvensional
menghitung bunga dari modal atau uang yang diterima atau diberikan kepada nasabah. Bunga
dalam bank konvensional diterapkan di muka, baik bunga kepada deposan maupun bunga
yang dikenakan kepada debitur. Dalam bank syariah dalam menjalankan kegiatan usahanya
tidak berdsarkan bunga, bank syariah sangat jelas dan tegas mengharamkan bunga, bunga
meruoakan salah satu bentuk riba yang tidak diperkenankan dalam prinsip syariah. Bak
syariahberoperasi ats dasar konsep bagi hasil. Bank syariah tidak menggunakan bunga
sebagai alat untuk memperoleh pendapatan maupun membebankan bunga atas penggunaan
dana dan pinjaman karena bunga merupakan riba yang diharamkan. Ketetapan hukum
haramnya bunga bank yang dikategorikan riba tersebut berlaku bagi segala transaksi yang
terkait dengannya baik sebagai pembayar bunga maupun penerima bunga serta para saksi dan
pertugas administrasinya.

3.1.4. Kegiatan usaha bank syariah untuk memperoleh imbalan atas jasa

Salah satu fungsi bank syariah adalah memberikan jasa keuangan, jasa keuangan yang
diberikan oleh bank syariah didasarkan pada kontrak sebagai agen, dan pendapatan yang
diperoleh dari jasa ini adalah berupa upah. Dalam akuntansi perbankan syariah pendapatan
yang diperoleh dari layanan jasa perbankan ini dikategorikan sebagai pendapatan operasi
lainnya dan tidak dibagikan kepada pemilik dana yang dihimpun, pendapatan yang
didasarkan pada konsep merupakan pemdapatan milik bank syariah sendiri.

3.1.5. Kegiatan usaha lembaga bisnis syariah tidak membedakan secara tegas sektor
moneter dan sektor rill

Sebagaimana diketahui bersama bahwa perbankan dikatakan sektor moneter, karena


fungsi bank adalah sebgai penghubung pihak yang kelebihan dana dan pihak yang
kekurangan dana serta bank mengambil keutungan dari selisih beban yang dibayar kepada
para deosan dengan pendapatan yang diterima dari debitur. Hal tersebut sangat berbeda
dalam bank syariah, hubungan bank syariah dengan para nasabah, baik nasabah pemilik dana
yang dihimpun atau nasabah dalam penyaluran dana merupakan hubungan kemitraan bukan
hubungan pinjam meminjam sebagaimana yang dilakukan oleh bank konvensional. Dalam

15
kaitannya penghimpunan dana hubungan bank syariah dengan nasabah penghimpunan dana ,
juga merupakan hubungan kemitraan, karena sesuai dengan prinsip nya semua pekerjaan
dalam pengelolaan dana diserahkan sepenuhnya kepada bank syariah sehingga bank syariah
sebagai pemegang amanah harus ada keterbukaan , kepercayaan , keadilan, dan transparasi,
terutama hal – hal yang berkaitan dengan pembagian hasil usaha, karena nasib para deposan
sangat tergantung pada hasil usaha pengelolaan dana yang dilakukan oleh bank syariah.

BAB 4

Produk Perhimpunan Dana Bisnis Syariah

4.1 Prinsip Produk Bisnis Syariah

Bisnis Syariah berbeda dengan bisnis konvesional yang ada,yang perlu diperhatikan adalah
prinsip yang digunakan bukan nama produknya.

Secara garis besar perhimpunan dana penyaluran dana bang syariah sebagai berikut:

1.Perhimpunan dana bank syariah terdiri dari:

a.Perhimpunan dana prinsip wadiah.

b.Perhimpunan dana prinsip mudharabah.

2.Penyaluran dana bank syariah antara lain meliputi :

a.Penyaluran dana melalui pola bagi hasil

1) Pembiayaan Mudharabah

2) Pembiayaan Musyarakah

b.Penyaluran dana melalui pola ujroh

1) Ijarah

2) Iharah Muntahiyah Bittamlik

16
C.Penyaluran dana dengan pola jual-beli

1) Murabahah

2) Salam dan Salam Paralel

3) Sthisna dan Isthisna Paralel

3.Jasa Perbankan Syariah antara lain Meliputi:

a.Wakalah

b.Kafalah

c.Hawalah

d.Sharf

e.Dan sebagainya.

4.2 Produk Perhimpunan Dana

Untuk mengetahui prinsip perhimpunan dana dalam konsep syariah yang mengacu pada
PSAK 59 tentang perbankan syariah,dan pada PSAK 105 tentang akuntansi Mudharabah.

4.2.1 Perhimpunan Dana prinsip Wadiah

Wadiah dapat diartikan sebagai titipan dari satu pihak baik individu maupun badan hukum
dan dapat dikembalikan kapan saja jika penyimpan mengkehendakinya.

Beberapa rukun yang harus dipenuhi dalam transaksi dengan prinsip wadiah:

a. barang yang dititipkan


b. orang yang dititipkan
c. orang yang menerima titipan
d. Ijah Qabul

17
Wadiah terdiri dari 2 jenis,yaitu:

1. Wadiah Yad Al Amanah,merupakan titipan murni,yang dimana barang titipan tidak


boleh diambil manfaatnya oleh penitip.
2. Wadiah Yaf Ad Dhamanah,barang yang dititip boleh di kembangkan sesuai aktivitas
perekonomian yang ada.

4.3 Penghimpunan Dana Prinsip Mudharabah

Mudharabah merupakan istilah yang paling banyak digunakan oleh Bank Islam atau dapat
dikatakan sebagai perjanjian atas suatu jenis perekonomian.

Rukun yang harus dipenuhi dalam Mudharabah,yaitu:

1. Shabibul Maali Rabulmal (Pemilik dana/nasabah)


2. Mudharib (pengelola dana/pengusaha/bank)
3. Amal (Usaha/pekerjaan)
4. Ijab Qabul

Dilihat dari segi kuasa yang diberikan kepada kuasa mudharaba terbagi menjadi 2,yaitu:

1. Mudharabah Muthalaqah,dimana pemilik dana memberikan kebebasan untuk


pengelola dana dalam mengelola investasinya.
2. Mudharabah Muthalaqah,dimana pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola
dana,berupa tempat dan objek investasi.

4.3.1 Tabungan Mudharabah

Dalam fatwa dewan syariah nasional,telah ditetapkan ketentuan tentang tabungan


mudharabah sebagai berikut:

a. Nasabah sebagai pemilik dana dan bank bertindak sebagai pengelola dana.
b. Bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip
syariah.
c. Modal penyertaan berbentuk tunai dan bukan piutang.

18
d. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalan bentuk nisbah dan diruangkan dalam
akad pembukaan rekening.
e. Bank sebagai Mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan
nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
f. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan tanpa persetujuan nasabah.

4.3.2 Deposito Mudharabah

Jenis jenis deposito berdasarkan jangka waktu:

1. Deposito berjangka biasa,deposito yang berakhir pada jangka waktu yang


diperjanjikan dan perpanjangan hanya dapat dilakukan setelah ada permohonan baru
dari penyimpan.
2. Deposito berjangka otomatis,deposito yang jika pada saat jatuh tempo akan secara
otomatis diperpanjangan dengan jangka waktu yang sama tanpa pemberitahuan dari
penyimpan.

BAB 5

Produk Pembiayaan Syariah

Dalam penyaluran dana,bank syariah dapat mempergunakan prinsip jual beli yang terdiri
dari murabah,salam dan salam pararel.

5.1 Jual beli Murabahah


Menurut PSAK 102 akuntabsi Murabahah paagraf menyatakan bahwa:
Murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya perolehan
ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya
perolehan barang tersebut kepada pembeli.

Murabahah sesuai jenis dapat dikategotikan dalam:

19
1. Murabahah tanpa pesanan.
2. Mruabahah berdasarkan pesanan.

Murabahah berdasarkan peranan,yaitu:

a. Sifatnya yang mengikat.


b. Sifatnya yang tidak mengikat.

Rukun dalam murabahah yaitu:

1. Ba'l penjual
2. Musyfari
3. Mabi
4. Tsaman-harga
5. Ijab Qabul

Syarat murababah:

1. Penjual memberitahu biaya barang kepada nasabah.


2. Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang diterapkan.
3. Kontrak harus bebas dari riba.
4. Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah
pembelian.
5. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian.

Menurut PSAK 102,paragaf 10 dan menyatakan bahwa harga yang disepakati dalam
murabahah adalah harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual,sedangkan
harga beli harus diberitahukan.Jika bank mendapat potongan dari pemasok,maka potongan itu
merupakan hal nasabah.Apabila potongan tersebut terjadi setelah akad maka pembagian
potongan tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian yang dimuat dalam akad.

5.2 Jual beli Saham

Menurut PSAK 103 Akuntabsi Salam,paragraf 4 menyatakan bahwa salam adalah


akad jual beli muslam filh (barang pesanan) dengan penangguhan pengiriman oleh muslam

20
ilaihi (penjual) dan pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli sebelum barang pesanan
tersebut diterima sesuai dengan syarat-syarat tertentu.

Salam paralel dapat dilakukan dengan syarat:

1. Akad kedua antara bank dan pemasok terpisah dari akad pertama antara bank dan
pembeli akhir,Dan.
2. Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.

5.3 Jual beli istishna dan isthisna parallel

Isthisna adalah jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan
kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan dan penjual. Isthisna paralel
adalah suatu bentuk akad isthisna antara pemesan dan penjual kemudian untuk memenuhi
kewajiban pada musthasni,penjual memerlukan pihak lain sebagai shani.

BAB 6

PRODUK JASA BISNIS SYARIAH

Bank Syariah juga menjalankan fungsi jasa perbankan seperti kliring, transfer.
Dinkaso, bank garansi. letter of credit, pembayaran gaji, pembayaran telepon dan sebagainya.
Dalam menjalankan fungsi jasa perbankan ini yang harus diperhatikan adalah prinsip apa
vang harus dipergunakan. Prinsip-prinsip syariah yang betkaitan dengan jasa perbankan
antara lain:

 WAKALAH

Wakalah adalah pelantikan seorang untuk mengambil tempat orang yang melantiknya
untuk mengerjakan suatu tugas bagi pihaknya. Wakalah merupakan salah satu perjanjian
yang memberikan kuasa orang yang mewakili pada wakil untuk menjalankan suatu kerja bagi
pihak diwakili itu, Misalnya: seorang nasabah Bank Islam untuk mewakilinya untuk membeli
sejumlah saham dari sebuah perusahaan tertentu bagi pihaknya dengan membuat bayaran
yang disetujui. Setelah pembelian. tersebur selesai, maka pihak Bank menyerahkan saham-

21
saham itu kepada nasabah, dengar itu selesailah hubungan Wakala antara Nasabah denga
Bank bersangkutan.

Dalam prinsip wakalah rukun wakalah adalah:

1) Pemberi kuasa (Muwakil)


2) Penerima kuasa (Wakil 1. Objek yang dikuasakan (Jankil) Ijab Qahul (Sighat) Wakalah
HALAL dalam Islam dengan menurut syarat-syarar tertenta. Syarat- syarat tersebut
adalah:
 Pihak orang vang diwakili dan wakil harus terdiri dari mereka yang
dipertanggungiawabkan.
 Orang yang diwakili harus mempunyai kuasa untuk mengendalikan perkara yang
diwakili. Wakil hendaklsh menyatakan dengan jelas perkara diwakili saat perjanjian.
3) Wakil harus menyebudkan nama orang/pihak yang diwakili saat menjalankan tugas
Wakalah yang berkaitan dengan Hibah, Pinjaman, Pegadaian. Wadiah, Lirang Piutang
Muyaanakah dan Mudharabah. Adapun ketika menjalankan tugas Wakalah dalam Jual
Beli dan Sewa menyewa tidak perlu menyebutkan nama pihak yang diwakili.

SHARF Ash Shaft adalah jual beli mata uang. Asalnya mata uang hanya emas dan
perak, uang emas disebut dinar dan uang perak disebut Dirham. Mata uang dari kedua jenis
itu disebut maa uang intrinsik. Zaman sekarang, mata uang jug berhentuk nikel, tembaga dan
kertas yang dibeli nilai tertentu. Mata uang dari jenis-jenis tersebut disebut mata uang
menurut nonimal. Rukun dari sharf adalah:

1) Penjual (Ba)
2) Pembeli (Musyzari)
3) Mata uang yang diperjual belikan (Sharf
4) Nilai tukar (Si'rus Sharf)
5) Tjab Qabul (Sighat)

Tukar menukar mata uang boleh terjadi antara:

1) Jenis logam yang sama (emas dengan emas, perak dengan perak)
2) Jenis logam yang berlainan (emas dengan perak, emas dengan nikel)
3) Logam dengan uang kertas (emas dengan kertas)

22
4) Uang kertas dengan uang kertas (selembar uang Rp. 10.000,-- dengan beberape lembar
uang ribuan) Dalam taraf international, tukar menukar uang mata uang juga selalu tei
antara mata uang setempat dengan mata uang asing dan antara mata uang e dengan
mata uang asing lainnya.

Syarat Al-Qardh adalah

a. Kerelaan dua pihak melakukan akad


b. Dana yang akan digunakan ada manfaatnya dan halal.

Dewan Syariah Nasional menetapkan aturan tentang Sharf sebagaimana tercantum


dalam fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 19/DSN-MUI/IX/2000 rertanggal 09 April
2001 (Himpunan Fatwa, Edisi kedua, hal 114-116) sebagai berikut: Pertama: Ketencuan
umum al Qardh

a. Al Qurdh adalah pinjaman yang diberikan kepada nasabah (muqtaridh) yang


memerlukan
b. Nasabah al Qardh wajib mengembalikan jumlah pokok yang diterima pada waktu yang
telah disepakati bersama
c. Biaya administrasi dibebankan kepada nasabah
d. LKS dapat meminta jaminan kepada nasabah bilamana dipandang perlu
e. Nasabah alyard dapat memberikan tambahan (sumbangan) senang sukarela kepada
LKS selama tidak diperjanjikan dalam akad
f. Jika nasabah tidak dapat mengembalikan sebagian atau seluruh kewajibannya pada saat
yang relah disepakati dan LKS telah memastikan ketidäkmampuannya

Tukar-menkar mara uang atau jual beli mata uang hukumnya Jatz (boleh boleh saja)
dengan syarat-syacar sebagai berikut:

1) Jika mata ang yang ditukar itu emas dengan ensas atau perak dengan perak, maka hans
ama berat atau sama timbangan dan penyerahan barangnya dilakukan pada waktu yang
sama.
2) lika mata ungyang ditukar itu emas dengan perak, maka penyerahan barangnya harus
dilakukan pada waktu yang sama.

23
Menunn kebanyakan ulama Fiqih. mata uang selain enas dan perak tidak terimasuk
barang tibawl. Karea ina. serah terima dalam rukar menukar mata uang selain emas dan perak
tidak dihanuskan dilakukan pada wakru yang sama Islam mengakui perabahan nilai mata
uang asing dari waktu ke waktu.

BAB 7

SEJARAH PERKEMBANGAN LEMBAGA BISNIS SYARIAH DI INDONESIA

Lembaga keuangan Syariah, mulai berkembang dan mendapat perhatian di Indonesia


sejak tahun 1992 dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia: bank berdasarkan prinsip
bagi hasil. Pada awal berdirinya bank syariah banyak pihak yang beranggapan bahwa bank
syariah tidak berbeda dengan bank konvensional, produk- produk yang dijalankanpun
merupakan produk bank konvensional, hanya diganti namanya saja.

Hal ini dapat dipahami bahwa awal berdirinya bank syariah, sangat terbatas
pemahaman dan pengetahuan tentang bank syariah disamping belum adanya ketentutan yang
baku yang berkaitan dengan bank syariah. Bank syariah baru mendapat perhatian semua
pihak setelah dikeluarkan Undang-undang Nomor 10/1998 tentang perubahan Undang-
Undang Nomor 7/1992 tentang perbankan, dimana dalam undang-undang tersebut telah
diatur tentang perbankan syariah. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Unda ng-Undang No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan serta
dikeiuarkannya Fatwa Bunga Bank Haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2003
banyak bank-bank yang menjalankan prinsip syariah, baik melakukan konversi dari konsep
konvensional menjadi syariah, bank konvensional membuka cabang syariah dan berdirinya
Bank Perkreditan Rakyar Syariah, karena bank syariah relah membuktikan memiliki berbagai
keunggulan dalam mengatasi dampak krisis ckonomi yang baru lalu serta mempunyai potensi
pasar yang cukup besar, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim dan masih
banyak di kalangan umat INam yang enggan berhubungan dengan pihak bank yang
menggunakan sistem ribawi. Sebelum mel.ikukan pembahasan yang lebih mendalam tentang
perbankan khususnya perbankan syariah, perlu ditelaah keberadaan perbankan dalam sistem
keuangan Indonesia.

Lembaga yang Terlibat dalam Reksa Dana Manajer

24
Investasi Manajer investasi menurut UU Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 1 ayar 11
adalah: 3. Pihak yang kegiatan usahanya mengelola portofolio efek untuk para nasabah atau
portofolio investasi kolëktif untuk sekelompok nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana
pensiun dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Manajer investasi adalah pihak yang kegiatan usahanya
mengelola portofolio efek untuk para nasabah atau mengelola portofolio investasi kolektif
untuk sekelompok nasabah. Manajer investasi wajib dan bertanggung jawab penuh
menjalankan tugas sebaik mungkin semata-semata untuk kepentingan pemilik modal dan juga
atas segala kerugian yang timbul karena tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana
diatur dalam keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal No: KEP-07/PM-MI/1994.
Serta menurut tujuan dan kebijalisanaan investasi yang tercantum dalam kontrak dan
prospectus. Oleh sebab itu, investor harus mempelajari terlebih dahulu tujuan dan kebijakan
investasi reksa dana yang dicantumkan dalam prospectus. Manajemen inveastasi dalam
praktiknya mengelola sejumlah portofolio. yang pada umumnya satu portofolio dimiliki oleh
satu pihak nvestor. Sebagai imbalan jasanya, manajer investasi memperoleh management fe
yang beseinya disesuaikan dengan NAB reksa dana dan kinerja pengelolaan. Nilai Aktiva
Bersih adalah nilai pasar wajar dari portofolio efek dan kekaya.n lain dari reksa dana
dikurangi seluruh kewajibannya. Dana nasabah yang dikelola dan diinvestasikan ke dalam
portofolio efek oleh manajer investasi tersebut, bukan merupakan bagian dari kekayaan.

Karakteristik Portofolio

Syariah Berdasarkan prinsip-prinsip syariah, tidak memperkenankan adanya sekuritas


dalam portofolio yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Operasional yang berdasarkan riba, seperti aktivitas yang dila kukan bank dan
institusi keuangan konyensional.
2. Operasional yang melibatkan perjudian. Aktivitas yang melibatkan pabrikasi dan atau
penjualan produk-produk haram seperti alkohol, makanan haram, dan daging babi.
3. Operasi yang mengandung elemen ketidak pastian sepert. bisnis asuransi
konvensional.

Perasuransian Asuransi

25
diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 rentang Usaha Perasuransian.
Definisi asuransi menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha
Perasuransian adalah: Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau
leboh dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada terianggung, dengan
menerima premi, untuk memberikan penggatian kepada tertanggung karena kerugian,
kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada
pihak keriga yang mungkin akan diderita tertanggung.

Dalam hul figh terdapat kaidah yang mengatakan, "Apa saja yang membawa kepada
perbuatan har am, maka itu adalah haram". Strategi Reksa Dana Syariah Reksa dana Islami
tentunya juga memiliki strategi portofolio. Strategi ini dirujukan untuk membuat reksa dana
ini dapat ourperform dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Secara garis besarnya strategi
ini dibagi duà, yaitu: Active Strategy Suatu strategi dimana manajer investasi melakukan
kontrol terus-menerus terhadap portofolionya. Dengan demikian, manajer investasi bisa
melakukan daily trading, sehingga investasi yang dilakukannya bersifat jangka pendek.
Investasi jangka pendek biasanya menggunakan trend araupun marker riming yang security
andlisis-nya b. Pasive Stratey Strategi di mana lebih mencerminkan investasi jangka
menengah atau panjang. Yang dilakukan manajer investasi buy and hold dengan indek
tracking misalnya. a. Landasan Syariah AL Qur'an a. Qur'an secara literal berarti bacaan, dari
akar katanya qaraa. Al-Qur'an yang merupakan lata-kata atau firman ALLAH adalah sumber
pertama yurispendensi 1lam, sebagai rujukan utama syariah, yang tidak ada keraguan
didalamnya untuk dijadikan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

BAB 8

Laporan Keuangan Lembaga Bisnis Syariah

Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan Lperistiwa


lain yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik
ekonominya. Menurut Kerangka Dasar Penyusun dan Penyajian Laporan keuangan Transaksi

26
Svasriah (KDPPLK), paragraf 68: Sesuai karakteristik maka laporan keuangan entitas
syariah, meliputi Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan komersial:

1) Laporan Posisi Keuangan


2) Laporan Laba Rugi
3) Laporan Arus Kas
4) Laporan Perubahan Ekuitas

Komponen Laporan Keuangan yang mencerminkan kegiatan sosial:

a) Laporan sumber dan penggunaan dana zakat; dan


b) Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan

Komponen laporan keuangan lainnya yang mencerminkan kegiatan dan tanggung


jawab khusus entitas syariah tersebut Menurut PSAK 101 paragraf 11, menyatakan bahwa
Laporan keuangan Syariah yang lengkap terdiri dari komponen berikut:

Catatan atas laporan keuangan Menurut PSAK 101 paragraf 12, menyatakan; Jika
entitas syariah merupakan lembaga keuangan maka selain kompnen laporan keuangan yang
diuraikan dälam paragraf 11, entitas syariah tersebut juga harus menyajikan komponen
laporan keuangan tambahan yang menjelaskan karakteristik utama entita tersebut jika
subtansi informasinya belum tercakup dalam paragraf.

LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA)

Laporan Neraca pada bisnis konvensional berbeda dengan Bistis syariah, pada laporan
keuangan Bank Syariah. beberapa hal yang berbeda dengan unsur neraca Bank konvensional
yang perlu dijelaskan, Dalam bank konvensional penyaluran dana hanya ditampung dalam
perkiraan "kredit" atau "pinjaman yang diberikan", hal ini sangar berbeda dengan Bank
Syariah dimana dalam penyaluran dana ditampung dalam perkiraan yang sesuai dengan
prinsip penyalurannya. Menurut Harahap, Wiroso dan Yusuf (2005: 45) dalam buku
Akuntansi Perbankan Svariah perbedaam itu meliputi:

a. prinsip jual beli dibukukan pada perkiraan "piutang". seperti piutang murabahah,
piutang istishna, piutang salam

27
b. prinsip bagi hasil ditampung dalam perkiraan "pembiayaan", seerti pembiayaar
mudharabah, dan pembiayaan musyarakah.

LAPORAN ARUS KAS

Laporan arus kas disajikan sesuai dengan PSAK 2: Laporan Arus Kas dan PSAK 31:
Akuntansi Perbankan. 8.4. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS Laporan perubahan ekuitas
disajikan sesuai dengan PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan. Menurut PSAK 101 paragraf
67, menyatakan: Entitas syariah harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai
komponen utama laporan keuangan yang menunjukan:

 laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan


 setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang
berdasackan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan terkait diakui secara langsung
dalam ekuitas:
 pengaruh komulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap
kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan terkait:
 transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik: d saldo akumulasi laba
atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahannya O rekonsiliasi antara nilai
tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio dan cadangan pada awal dan
akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.

LAPORAN PERUBAHAN DANA INVESTASI TERIKAT

Investasi terikat adalah investasi yang bersumber dari pemilik dana investasi terikat
scjenisnya yang dikelola oleh bank syariah sebagai agen investasi. Investas terikat bukan
merupakan aset maupun kewajiban karena bank syariah tidak mempunyai hak untuk
menggunakan atau mengeluarkan investasi tersebut, serta bank syariah tidak memiliki
kewajiban mengembalikan atau menanggung risiko investasi: Penyajian Laporan perubahan
dana investasi terikat adalah: Laporan perubahan dana investasi terikat memisahkan dana
investasi terikat berdasarkan sumber dana dan memisahkan investasi berdasarkan jenisnya.

BAB 9

28
Asuransi Syariah

SEJARAH ASURANSI

Pada jaman Nabi Muhammad SAW, konsep asuransi syariah sudah dikenal dengani
sebutan Al-Agila. Saat itu suku arab terdiri atas berbagai suku besar dan suku kecil.
Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah adalah keturunan suku Qurais, salah satu suku yang
terbesar. Menurut dictionary of istarn, yang ditulis Thomas Patrick, jika ada salah satu
anggota suku yang terbunuh oleh anggota suku lainnya, sebagai kompensasi, keluarga
terdekat dari si pembunuh akan membayar sejumlah uang, darah atau diyar kepada pewaris
Qurban. Al'agl adalah denda, sedangkan makna al'agil adalah orang yang menbayar denda.
Beberapa ketent uan system Aqilah yang merupakan bagian dari asuransi social ditungkan
oleh Nabi Muhammad SAW dalam piagam madina yang merupakan konstitusi pertama
setelah Nabi hijrah ke Madina. Dalam Pasal 3 Konstitusi Madina, Pasullulah membuat
ketentuan mengenai penyelamatan jiwa para tawanan. Ketentuan rersebut menyatakan bahwa
jika tawanan tertahan oleh musuh karena perang, pihak tawanan harus membayar tebusan
pada musuh untuk membebaskannya Pada abad 19 asuransi jiwa bagi awak kapal mulai
dikenal, pada mulanya asuransi jiwa merupakan bagian dari asuransi laut. Perusahaan
asuransi jiwa berkembang mulai abad 20 hingga sekarang. Perusahaan asuransi laut dan
kebakaran di Indonesia yang pertama kali berdiri adalah Bataviansche Zee & Brand
Assurantie Maatshappij. didirikan pada tahun 1843. Pada tahun 1912 lahir perusahaan
asuransi jiwa Bumi Putera sebagai usaha pribumi, Seiring perkembangan kebutuhan pasar
asuransi dan perkembangan lembaga keuangan syariah seperti bank syariah dan lembaga
keuangan syariah lainnya. Asuransi syariahpun berdiri yaitu pada tanggal 27 Juli 1993, 1CMI
melalui Yayasan Tugu Mandiri sepakat memprakarsai pendirian Asuransi Takaful dengan
menyusun Tim Pembentukan Takaful Indonesia.

PERBEDAAN ASURANSI SYARIAH DENGAN KONVENSIONAL

Perbedaan mendasar antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional. Perbedaan


tersebut adalah:

29
a. Asuransi syari'ah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas mengawasi
oroduk yang dipasarkan dan pengelolaan investasi daanya. Dewan Pengawas Syariah
ini tidak ditemukan dalam asuransi konvensional.
b. Akad yang dilaksanakan pada asuransi syari'ah berdasarkan tolong menolong.
Sedangkan suransi korivensional berdasarkan jual beli
c. Investasi da na pada asuransi syari'ah berdasarkan bagi hasil (mudbarabah). Sedangkan
pada asuransi konvensional memakai bunga (riba) sebagai landasan perhitungan
investasinya
d. Kepemilikan dana pada asuransi syari'ah merupakan hal peserta. Perusahaan hanya
sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Pada asuransi konvensional, dana yang
terkumpul dari nasabah (premi) menjadi milik perusahaan. Sehingga, perusahaan bebas
menentukan alokasi investasinya.
e. Dalam mekanismenya, asuransi syari'ah tidak mengenal dana hangus seperti yang
terdapat pada asuransi konvensional.

PRODUK-PRODUK ASURANSI SYARIAH

Asuransi Kerugian (Umum) menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1992 tentang usaha
Perasuransian Pasal 3 adalah memberikan jasa dalam penanggulangan risiko atas kerugian,
kehilangan manfaat, dan tanggung jawab hukun kepada pihak ketiga yang timbul dari
peristiwa yang tidak pasti. Oleh karena itu agar dapat memberikan pelayanan yang tepat
terutama dalam mengatasi risiko yang akan terjadi, maka perusahaan asuransi membutuhkan
informasi data yang akurat berupa peristiwa yang menimbulkan kerugian atas objek yang
menjadi tanggungan. Hal ini merupakan tugas underwriter untuk mengelompokkan jenis-
jenis risiko. Deagan demikian dapat menentukan besarnya tarif premi dan kontribusi peserta
dalam menanggulangi risiko. Konsep asuransi kerugian sesungguhnya bentuk pelaksanaan
dari surat al- maidah ayat 2 serta hadits Nabi SAW, yaitu agar manusia saling tolong
menolong dalam kebajikan, bahwa sesama muslim harus saling membantu dan menguatkan
muslim yang lain bagaikan satu bangunan yang kuat.

BAB 10

30
Koperasi Syariah

PENGERTIAN DAN LANDASAN HUKUM KOPERASI SYARIAH

Dalam daftar istilah Buku Himpunan farwa Dewan Syariah Nasional memberikan
pengertian syariah thimpunan farwa, edisi kedua, hal 306- 316) sebagat berikur "Ekonomi
Syariah" adalah ekonomi yang berdasarkan ajaran Al Qur'an dan As-Sunnah Lembaga
Keuangan Syariah" adalah lembaga keuangan yang operasionalnya menggunakan prinsip
syariah "Muamalah syariah" adalah hubungan sosial termasuk kegiatan bisnis yang sejalan
atau didasarkan pada prinsip-prinsip xyariah "syariah" sdalah ajaran Islam yang termaktub
dalam Al-Quran dan Al- Hadits Pengertian dan tata kerja Koperasi Syariah belum ditermukan
dalam tatanan perundang-undangan perkoperasian yang ada di Indonesia, baik dalam tatanan
undang-undang. peraturan pemerintah maupun ketentuan menteri yang membidangi. Dalam
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian yang merupakan perubahan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Köperasi, belum membahas
tentang Koperasi Syariah. Hal ini dapar dimaklumi karena perkembangan Lembaga
Keuangan Syariah mulai tumbuh dengan pesat di Indonesia dimulai tahun 1992 dengan
berdirinya Bank Muamalat. Indonesia, walaupun sebelumnya juga telah berdiri usaha syariah.
Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia telah
mengeluarkan Keputusan Menteri Nomor 91/Kep/M.KUKM/IX/2004 tanggal 10 September
2004 tentang petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah.
Cakupan dan ruang lingkup dari Kepurusan Menteri tersebut akan dibahas dalam bab yang
terkait dengan pembahasan Apabila memperhatikan perjalanan pembentukan perbankan
syariah dimana dalam dalam tahun 1992, belum tercantum dalam Undang-Undang No.7
tahun 1992 tentang perbankan, dan untuk mendirikan Bank Umum Syariah pemerintah
mengeluarkan Peraturan Pemerintah.

BENTUK USAHA DAN ORGANISASI KOPERASI SYARIAH

Pada dasarnya pengelolaan dan tata administrasi koperasi yang konvensional dan
koperasi syariah harus dipisahkan, karena dalam kegiatan usaha syariah harus dapat
digambarkan hasil yang sayariah. Hasil usaha yang diperoleh dari hal-hal yang tidak sesuai
syariah diserahkan sebagi dana kebajikan. Menurur Nur S. Buchori (2002), bentuk koperasi
yang menjalankan kegiatan syariah dapat dibagi menjadi: 1. Koperasi Syariah, adalah

31
koperasi yang menjalankan usahanya hanya dalam bidang syariah 2. Unit Usaha Koperasi
Syariah, yaitu koperasi konvensional yang memiliki unit usaha bidang syariah. Pengelolaan
Koperasi Jasa Keuangan Syariah (Kep Men 91/2004, Pasal 14) adalah: 1. Pengelolaan KJKS
dilakukan oleh pengurus yang bertanggung jawab kepada Rapat Anggota. 2 Dalam hal
pengurus KJKS mengangkat tenaga pengelola. maka tugas pengelolaan teknis KJKS tersebut
diserahkan kepada pengelola yang ditunjuk pengurus menjalankan tugas perencanaan
kebijakan startegis, pengawasan dan pengendalian. Dalam hal ini pengawas bisa diangkat
atau tidak perlu diangkat sesuai dengan kebutuhan dan keputusan rapat anggota KJKS yang
bersangkutan

PRINSIP PEMBAGIAN HASIL USAHA

Pembagian Hasil Usaha dalam Koperasi

 Dengan pengelolan usaha (penyaluran dana)


 Dengan pemilik modal (sumber dana)
 dengan Anggota (Sisa Hasil Usaha)

KONSEP PEMBAGIAN HASIL USAHA KOPERASI SYARIAH SEBAGAI


MUDHARIB

Dalam perhitungan distribusi hasil usaha, ada dua hal yang sangat terkait yaitu sistem
pencataran administrasi dan pengakuan pendapatan yang diperkenankan untuk dibagi dan
prinsip perhitungan pembagian hasil usaha. Atas dua hal tersebut Dewan Syariah Nasional
memberikan Fatwa sebagai acuan Lembaga Keuangan Syariah Dalam Farwa Dewan Syariah
Nasional Nomor 14/DSN-MUI/IX/2000 tentang Sistem Distribusi Hasil Usaha Dalam
Lembaga Keuangan Syariah, ditetapkan sistem distribusi hasil usaha adalah sebagai berikut:

1. Pada prinsipnya, LKS boleh menggunakan sistem accrual basis maupun cash basis
dalam administrasi keuangan
2. Dilihar dari segi kemaslahatan (al ashlah), dalam pencatatan sebaiknya digunakan
ystem accrual basis; akan tetapi, dalam distribusi hasil usaha hendaknva ditentukan atas
dasar penerimaan yang benar-benar terjadi (cash basis).
3. Penetapan sistem yang dipilih harus disepakati dalam akad Dari fatwa Dewan Syariah
Nasional tersebut sangat jelas. bahwa Lembaga Keuangan Syariah dalam

32
mengadministrasikan pendapatannya untuk kepentingan laporan keuangan adalah
mempergunakan dasar akrual (accrual basis) tetapi pendapatan yang dibagikan kepada
shaibul maal, atau pendapatan yang merupakan unsur distribusi hasil usaha adalah
pendapatan dari penyaluran dna benar terjadi/diterima (cash basis) oleh Lembaga
Keuangan Syariah.

Fatwa Dewan Svariah Nasional Nomor 15/DSN-MUI/IX/2000 tanggal 16 September


2000 tentang prinsip distribusi hasil usaha, mengatur ketentuan yang berkaitan dengan
perhitungan distribusi hasil usaha sebagai berikut: Pada dasarnya, LKS boleh menggunakan
prinsip Bagi Hasil (Revenue sharing) maupun Bagi Untung (profit sharing) dalam distribusi
hasil usaha dengan mitra (nasabah)-nya Dilihat dari segi kemaslahatan (al ashlah), distribusi
hasil usaha sebaiknya digunakan prinsip Bagi Hasil (Revenue Sharing) 3. Penetapan prinsip
distribusi hasil usaha yang dipilih harus disepakati dalam yang benar- 1. 2. Akad

33
ISI BUKU PEMBANDING

BAB 1

EKONOMI ISLAM

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Dimana, setiap lini kehidupannya
selalu membutuhkan dan berinteraksi dengan orang lain atau hablumminannas. Oleh karena
itu manusia hendaknya memiliki akhlaq-akhlaq yang mulia dalam berhubungan dengan
orang-orang disekitarnya dan dalam pelaksanaannya di dasarkan pada hablumminallah yang
menuntut manusia untuk berbuat baik kepada sesama didasarkan pada syariah islam Al-
Quran dan Al-Hadist. Firman Allah Swt dalam surah Al-Qashash ayat 77.

‫ض إِ َّن هَّللا َ ال‬ِ ْ‫ا َد فِي األر‬d‫غ ْالفَ َس‬d


ِ d‫كَ َوال تَ ْب‬dd‫ك ِمنَ ال ُّد ْنيَا َوأَحْ ِس ْن َك َما أَحْ َسنَ هَّللا ُ إِلَ ْي‬
َ َ‫صيب‬ َ ‫ك هَّللا ُ ال َّدا َر اآل ِخ َرةَ َوال تَ ْن‬
ِ َ‫س ن‬ َ ‫َوا ْبت َِغ فِي َما آتَا‬
َ‫ي ُِحبُّ ْال ُم ْف ِس ِدين‬

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah
kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan.”

Mengapa demikian?

Di buku ini menjelaskan bahwa aktivitas-aktivitas manusia itu sangatlah kompleks


dari yang bersifat personal maupun kelompok. Penulis mengambil salah satu aktivitas yang
menarik untuk di bahas yaitu kegiatan ekonomi. Dapat kita lihat realita yang ada,
bahwasannya pebisnis di zaman modern ini banyak yang hanya memikirkan profit yang besar
tanpa memperhatikan aspek kemanusian dan ketentuan hukum.Dengan banyaknya manusia
yang kurang mampu membedakan kebutuhan dengan keinginan menjadi sasaran empuk para
pebisnis yang memiliki orientasi kepada profit semata, karena mereka hanya mencari untung
saja. Hal itu sangat berbeda dengan ekonomi islam , dimana para pebisnis tidak hanya
memikirkan diri sendiri,melainkan juga berfikir bagaimana caranya agar bisnis mencapai
keuntungan bagi kedua belah pihak sehingga tercapai tujuan dunia sebagai ladang akhirat.

34
Disini penulis melakukan penelitian berkaitan dengan ekonomi islam dengan 3 metode
pendekatan yaitu pendekatan normatif ,pendekatan empiris dan pendekatan transendental.
Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ekonomi islam menghindarkan pelaku
bisnis dari kegiatan yang diharamkan oleh Al-Quran dan Al-Hadist contohnya
riba,monopoli,matrealisme,dan ijon. Selain itu dalam ekonomi islam juga memberlakukan
tenaga kerja sebagai mitra yang perlu dikembangkan tidak hanya mensukseskan pebisnis saja,
tetapi sukses secara bersama-sama.

BAB 2

LEMBAGA BISNIS UMAT

Dalam mengartikan lembaga Bisnis umat, maka ada tiga kata yang harus dipahami
terlebih dahulu yaitu: kata lembaga, kata perekonomian, dan kata umat. Bila ketigakata
tersebut telah dipahami maka selanjutnya lembaga perekonomian umat dapat dipahami
sebagai sesuatu yang utuh. Lembaga dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan institution
dandidalam bahasa Indonesia setara pula dengan pranata. Maka lembaga ini lebih
bernuansasosiologi, yakni sebagai sebuah proses sosial yang menjelma menjadi sebuah
sistem. Dalam hal ini lembaga lebih diartikan sebagai lembaga sosial (social institution).
(Djazuli,2002:1)Perekonomian umat sebenarnya telah muncul pada masa Nabi Muhammad
SAW masihhidup. Pada masa Nabi SAW lembaga perekonomian tersebut berbentuk Bayt al-
Mal Pada masa Nabi SAW. Bayt al-mal, merupakan lembaga ekonomi yang berfungsi
sebagai pengumpul dan pendayagunaan harta yang bersumber dari umat Islam, seperti zakat,
infak, dan sadaqah.Ekonomi islam sendiri merupakan sekumpulan dasar-dasar umum
ekonomi yang disimpulkandari Al-qur‟an dan As-Sunnah. (Djazuli,2002:9&20). Ekonomi
islam juga berdasarkanketuhanan dan aktivitas ekonomi seperti produksi, ditribusi, konsumsi,
ekspor, impor juga tidak terlepas dari tolak ketuhanan dan bertujuan akhir untuk Tuhan. Jika
seorang muslim bekerjadalam bidang produksi, maka itu tidak lain karena ingin memenuhi
perintah Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mulk ayat 15 yang berkenaan
ekonomi yang berbunyi:

۟ ُ‫وا فِى منَا ِكبهَا َو ُكل‬


‫وا ِمن رِّ ْزقِ ِهۦ ۖ َوإِلَ ْي ِه ٱلنُّ ُشو ُر‬ ۟ ‫ض َذلُواًل فَٱ ْم ُش‬
َ ْ‫هُ َو ٱلَّ ِذى َج َع َل لَ ُك ُم ٱأْل َر‬
ِ َ

35
“Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalannya di segala penjurunya
dan makanlah sebagaimana dari rezkinya dan hanya kepadanyalah kamu (kembali setelah)
dibangkitkan.”

Prinsip-prinsip utama yang ditengahkan Islam berkenaan dengan sistem ekonomi


adalahberkenaan dengan sistem ekonomi Islam. Seperti kewajiban zakat, larangan riba,
kerjasamaekonomi, jaminan sosial dan peranan Negara. (Suharwadi,2004:7). Lembaga-
lembagaperekonomian umat yaitu: Bank Islam, Badan Amil Zakat (BAZ), Ansuransi
Takaful, Baitul MalWa Tamwil (BMT), Koprasi, dan Islam dan Ekonomi. Selain itu, nilai
filosofis sistem ekonomiIslam adalah sistem ekonomi Islam bersifat terikat yakni nilai
ekonomi bersifat dinamik, dalamarti penelitian dan pengembangan berlangsung terus-
menerus serta nilai normatif sistem ekonomiIslam berlandaskan pada;

a. Landasan aqidah. Aqidah adalah pokok-pokok keimanan, maka aqidah sifatnya


kekal dan tidak mengalami perubahan.
b. Landasan akhlak. Landasan akhlak yang berasal dari bahasa Arab ( - ) atau
perilaku atau tindakan yangmengarah kepada kebaikan.
c. Landasan syariah. Landasan syariah yang berarti peraturan hukum perintah dan
larangan yang dibebankan olehAllah swt kepada manusia.d. Al-qur‟anur karim
Sebagaimana dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 172 yang berbunyi:

۟ ‫ت ما َر َز ْق ٰنَ ُك ْم َوٱ ْش ُكر‬ ۟ ۟


ٰٓ َ‫ُوا هَّلِل ِ إِن ُكنتُ ْم إِيَّاهُ تَ ْعبُ ُدون‬ َ ِ َ‫أَيُّهَا ٱلَّ ِذينَ َءا َمنُوا ُكلُوا ِمن طَيِّ ٰب‬

“Haiorang-orang yang beriman makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang kami
berikankepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepadanyalah kamu
menyembah.

e. Ijtihad (Ra‟yu) meliputi qiyas, maslah mursalah, istihsan, istishab dan „urf.

Dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari manusia, tujuan ekonomi ada lima, yaknimeliputi:
memenuhi kebutuhan hidup seseorang secara sederhana, memenuhi kebutuhankeluarga,
memenuhi kebutuhan jangka panjang, menyediakan kebutuhan keluarga yangditinggalkan,
memberikan bantuan sosial dan sumbangan. Sedangkan dasar-dasar tujuanekonomi Islam
terbagi tujuh bagian, diantaranya adalah: bertujuan untuk mencapai masyarakatyang sejahtera
baik di dunia dan di akhirat serta tercapainya pemuasan optimal berbagaikebutuhan baik

36
jasmani maupun rohani dan secara seimbang baik perorangan maupunmasyarakat, lalu hak
milik relatif perorangan diakui sebagai usaha dan kerja secara halal dandipergunakan untuk
hal-hal yang halal pula, dilarang menimbun harta benda dan menjadikannyaterlantar, dalam
harta benda itu terdapat hak untuk orang miskin yang selalu meminta olehkarena itu harus
dinafkahkan,sehingga dicapai pembagian rizki, pada batas tertentu hak milik relatif tersebut
dikenakan zakat, perniagaan diperkenankan, akan tetapi riba dilarang, tiadaperbedaan suku
dan keturunan dalam bekerja sama dan yang menjadi ukuran perbedaan adalahprestasi
kerja.Untuk terciptanya suatu sistem ekonomi islam yang baik diperlukan suati landasan
nilai.Landasan nilai yang menjadi tumpuan tegaknya sistem ekonomi Islam terbagi menjadi 3
sistem,yaitu:

1. Hakikat pemilikan adalah pemanfaatan, bukan penguasaan, seperti modal.


Modal sepertisumber daya alam dan harta juga dibagi menjadi 3 yaitu dicari,
dikeluarkan (dibelanjakan) dandikembangkan.
2. Keseimbangan ragam aspek dalam diri manusia. Keseimbangan didalam
pembahasannorma dan etika ekonomi islam ini adalah keseimbangan yang adil
(pertengahan) tentang duniadan akhirat,jiwa dan raga,akal & hati tertuju semata-
mata karena ridho Allah.
3. Keadilan antara sesama manusia. Seperti jujur, amanah dalam melaksanakan
ekonomiyang dalam contoh perniagaan yang diperkenankan, dan riba sangat
dilarang oleh Allah swt.(Qardhawi,1997:71)

Berdasarkan paparan terkait di atas dapat disimpulkan bahwa didalam dasar-


dasarfundamental perekonomian umat adalah organisasi yang berdasarkan pada syariah Islam
(al-qur‟an dan sunnah) dan didirikan oleh umat Islam. Lembaga adalah organisasi sosial yang
mengorganisir sekelompok orang yang memiliki tujuan, target, sasaran dan visi yang sama
untuk menggarap sebuah usaha sosial. (Djazuli,2002:4). Dari lembaga perekonomian umat
sendirimempunyai prinsip ekonomi, dasar-dasar tujuan ekonomi Islam dan nilai dasar sistem
ekonomi Islam.

37
BAB 3

MANAJEMEN BISNIS DALAM ISLAM

Pengertian Manajemen Bisnis dalam Islam

Secara konseptual teorities kata manajemen berasal dari bahasa Inggris yang terdiri
atas dua kata “man” dan “age”, yang biasa dimaknai sebagai usia di mana seseorang menjadi
laki-laki. Secara historis, laki-laki memang memegang tanggung jawab utama untuk
mengelola bisnis keluarga serta seluruh kewajiban keluarga selain bisnis. Manajemen juga
bisa diartikan sebagai seni karena menjadi pemanfaat dan organisator dari bakat. Manajemen
selain disebut sebagai seni, juga bisa disebut sebagai ilmu karena merupakan pengetahuan
yang terorganisasi dalam mempraktikkan manajemen. Manajemen merupakan hal yang
penting dan mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan manajemen
manusia mampu mengenali kemampuannya dan mengurangi hambatan-hambatan dalam
mencapai suatu tujuan. Dalam konteks bisnis Islam, manajemen merupakan sebuah
keharusan sebagai counter dari sistem manajemen konvensional yang terbukti gagal dalam
menciptakan manusia yang berpihak kepada kejujuran, kebahagiaan, dan memanusiakan
manusia. Kencenderungan manajemen bisnis konvensional berorientasi laba, sehingga
miskin nilai dan moral spiritual.

Manajemen bisnis Islam merupakan sebuah sistem yang berjalan berdasarkan koridor
nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam dengan mengacu kepada al-Qur’an dan sunnah sebagai
pedoman. Panduan Islam dalam mengatur aktivitas bisnis antara lain; planning,
Organization ;coordination, controling,motivation,dan leading. Kata Kunci; Manajemen,
Bisnis, Islam, al-Qur’an, Syariah. Bisnis dan keuangan Islam berkembang sangat pesat.
Ditambah dengan krisis keuangan global, di mana ketika keuangan konvensional tumbang
diterjang krisis, keuangan Islam tetap bisa bertahan. Karena itu, para ekonom Barat mulai
mempelajari keuangan Islam. Bahkan dibeberapa negara maju seperti Inggis dan Amerika
Serikat mulai menghadirkan unit-unit ekonomi dan bisnis Islam sebagai bahan kajian dan
praktik. Secara subtansi, seharusnya operasionalisasi bisnis ini didasari pada nilai dan prinsip
Islam. Oleh karena sistem Islam sangat berbeda dengan sistem kapitalis, maka manajemen

38
dalam mengatur bisnis di lingkungan kapitalis tidak bisa sekaligus diadopsi dalam bisnis
yang bernafaskan Islam. Meskipun sudah berkembang institusi keuangan Islam yang begitu
cepat, namun tampaknya belum ada upaya akademik untuk menentukan bagaimana
manajemen bisnis Islami seharusnya. Sebagai alternatifnya, organisasi bisnis keuangan Islam
umumnya menentukan bahwa skop bisnis mereka haruslah sejalan dengan prinsip Islam
(shariah compliance) baik dalam sturktur kapital, operasi organisasi, sampai bentuk produk
yang dihasilkan(Amin dan Tim FEBS FEUI, 2010 : 66)

39
BAB III

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN

 Kelebihan Buku
Dari segi isi buku
o Isi buku jelas sasarannya dan mudah di fahami.
o Tema yang di pakai sangat menarik,terutama untuk para pebisnis.
o Tujuan penulis jelas,karena di paparkan keterangan pendukung.

Dari segi penyajian

o Adanya keterkaitan antar bab, penulis menuliskan masalah pada bab 1,


kemudian membahas perilalku dan solusi.
o Isi buku disajikan secara jelas dan spesifik, dan dilengkapi dengan dasar
hukum khususnya dalil ayat Al-Quran. Terdapat penulis menambahkan QS. Al
Qasas ayat 77 untunk menguatkan pendapat.

Dari segi bahasa

o Bahasa mudah di fahami

 Kelemahan Buku:
o Ilustrasi kurang jelas , penulis menuliskan “dalam ekonomi islam, keativitas
tetap jalan bahkan di dorong supaya hidup dan berkembang …”
o Seharusnya penulis memaparkan bentuk kreativitas yang di kembangkan
seperti apa sehingga pemahaman pembaca tidak mengambang.

40
BAB IV

PENUTUP

 KESIMPULAN

Buku “Ekonomi , Bisnis & Manajemen Islami” memaparkan tentang kebaikan ekonomi
islam untuk di aplikasikan dalam kehidupan bisnis. Selain memberikan keuntungan bagi
pihak pebisnis juga memberikan keuntungan kepada pekerjanya karena ekonomi islam
menggunakan dasar habblumminannas untuk berorientasi kepada hablumminallah. Yaitu
segala aktivitas yang berhubungan dengan manusia di landasi dengan ketaatan kepada Allah
SWT akan syariat-Nya, dan prinsip dunia sebagai lading akhirat. Karena baran siapa berbuat
baik maka surge balasannya, dan barangsiapa berbuat buruk maka neraka balasannya.

 SARAN

EKONOMI, BISNIS & MANAJEMEN ISLAMI merupakan perwujudan dari paradigma


Islam. Pengembangan Ekonomi Islam bukan untuk menyaingi sistem ekonomi kapitalis atau
sistem ekonomi sosialis, tetapi lebih ditujukan untuk mencari suatu sistem ekonomi yang
mempunyai kelebihan-kelebihan untuk menutupi kekurangan-kekurangan dari sistem
ekonomi yang telah ada. Islam diturunkan ke muka bumi ini dimaksudkan untuk mengatur
hidup manusia guna mewujudkan ketentraman hidup dan kebahagiaan umat di dunia dan di
akhirat sebagai nilai ekonomi tertinggi. Umat di sini tidak semata-mata umat Muslim tetapi,
seluruh umat yang ada di muka bumi. Ketentraman hidup tidak hanya sekedar dapat
memnuhi kebutuhan hidup secara limpah ruah di dunia,tetapi juga dapat memenuhi
kebutuhan sebagai bekal di akhirat nanti.jadi harus ada keseimbangan dalam memenuhi
kebutuhan di dunia maupun di akhirat nanti.

41
DAFTAR PUSTAKA

42