Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMANENAN HASIL HUTAN


ACARA IV
TAKSIRAN PRODUKTIVITAS TRANSPORTASI

Oleh :
NAMA : Ghina Wardah Hania Putri
NIM : 16/393948/KT/08185
CO-ASS : Hendry Sepriyadin
SHIFT : Kamis/ 15.30 WIB

LABORATORIUM PEMANENAN HASIL HUTAN


DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
ACARA IV

TAKSIRAN PRODUKTIVITAS TRANSPORTASI

I. Tujuan
Praktikum ini dilaksanakan bertujuan untuk :

1. Mempelajari waktu dengan “formula speed”


2. Menaksir produksi kegiatan transportasi berdasarkan waktu kegiatan angkut.

II. Dasar Teori


Produktivitas kerja penebangan merupakan salah satu informasi dasar yang
penting terutama untuk kegiatan perencanaan, pengawasan, dan evaluasi. Proses
pengawasan dan evaluasi meliputi beberapa kegiatan antara lain penentuan standar
yang akan digunakan untuk penelitian, pengukuran pekerjaan, membandingka hasil
pekerjaan dengan standar yang dipakai serta mengambil tindakan perbaikan jika
diketahui adanya penyimpangan. Pemanenan aalah istilah yang biasa dipakai di
kehutanan yang meliputi kegiatan penebangan pohon termasuk di dalamnya
pemotongan/pembagian batang, penyaradan, pengangkutan, dan bongkar muat
kayu. Pengangkutan hasil hutan dilakukan dari TPN atau tepi jalan ke tempat
penimbunan kayu (TPK), logyard, atau logpond. Kegiatan tersebut biasa disebut
sebagai pengangkutan jarak jauh (Yasman dan Natadiwirya, 2001).

Pengangkutan kayu merupakan kegiatan memindahkan log atau kayu dari


tempat tebangan sampai tujuan akhir yaitu TPK atau pabrik atau logpond atau
logyard ataupun langsung ke konsumen. Kegiatan pengangkutan ini disebut dengan
istilah Major Transportation. Makin besar kayu maka akan semakin pendek waktu
penanganannya per satuan volume dan makin pendek waktu angkutan. Kayu akan
turun kualitasnya jika dibiarkan terlalu lama di dalam hutan (Elias, 1988).

Produktivitas pemanenan dapat dihitung dengan cara mengetahui waktu


kerja dan hasil kerja peralatan yang digunakan. Biaya pemanenan dapat dihitung
dengan cara mengetahui produktivitas pemanenan dan biaya menjalankan alat-alat
yang digunakan. Peralatan yang dipilih adalah peralatan yang secara teknis
memungkinkan, secara ekonomis menguntungkan, secara sosial dapat diterima,
dan secara ekologis mengakibatkan gangguan lingkungan yang minimal (Dulsalam
dan Tinambunan, 2003).

Beberapa alasan mengapa penggunaan truk sangat cocok digunakan


sebagai alat pengangkutan pada lahan kering yaitu : (1) Saat menghadapi topografi
agak berat, truk dapat berjalan dengan naik tanjakan sampai 15%; (2) Karena jalan
truk pada hakekatnya sama dengan jalan mobil, maka sudah sangat banyak
dijumpai jalan-jalan yang langsung dapat dimanfaatkan oleh truk. Hal ini akan
membantu memperlancar pengangkutan; dan (3) Truk dapat dirancang, dapat
disesuaikan dengan jumlah muatan (Suhartana dan Yuniawati, 2008).

III. Alat dan Bahan


Dalam praktikum ini, alat dan bahan yang digunakan adalah :

1. Kondisi jalan hasil praktikum acara 3


2. Spesifikasi kendaraan angkutan
3. Spesifikasi jalan angkutan pada petak tebangan
4. Alat tulis dan kalkulator

IV. Cara Kerja

Salin tabel Hitung


taksiran produksi produktivitas
ke MS. Excel transportasi

Hitung waktu per


Hitung nilai WN,
trip dan jumlah
Allowance, dan
trip per hari dari
WS
tiap blok

Hitung nilai PK 1 Hitung V rata-rata


dan PK 2 bongkar dan waktu dari
dan muat tiap blok
Deskripsi :

Pada acara ini, pertama-tama salin tabel taksiran potensi produksi untuk
beberapa petak ke Microsoft Excel. Kemudian hitung volume tebangan pada tiap
petak degan mengalikan volume standing stock tiap petak dengan fk (0,8).
Kemudian hitung nilai dari WN, Allowance, WS detik, dan WS jam pada tabel
Wheel Loader. Selanjutnya hitung nilai dari PK 1 dan PK 2 untuk bongkar dan
untuk muat. Kemudian buat tabel untuk masing-masing blok (total ada 3 blok).
Data kecepatan isi dan kosong disalin dari data spesifikasi kendaraan angkutan
hutan, sedangkan data panjang disalin dari data spesifikasi jalan angkutan.
Kemudian hitung kecepatan rata-rata (V rata-rata) dan waktu dari tiap kelerengan
dan tanjakan/turunan. Dari data tersebut, kemudian dihitung nilai dari waktu per
trip dan ∑trip per hari dari tiap blok. Selanjutnya, hitung produktivitas transportasi
per hari, bulan, dan tahun dari tiap blok, kemudian hitung waktu untuk
meyelesaikan kegiatan pengangkutan dari tiap blok. Terkahir, hitung produktivitas
transportasi total dan waktu untuk menyelesaikan kegiatan pengangkutan total.
V. No print
VI. Pembahasan
Pada praktikum acara 4 ini membahas mengenai taksiran produksi
transportasi. Transportasi terbagi menjadi dua macam yaitu transportasi minor dan
transportasi mayor. Transportasi minor sering disebut dengan penyaradan.
Transportasi minor adalah kegiatan memindahkan pohon yang telah ditebang dari
tempat penebangan ke tempat penimbunan sementara (TPn). Transpotasi minor ini
dilakukan di dalam hutan dan menggunakan alat berat dengan mesin yang
berkekuatan tinggi. Karena itu transportasi minor memerlukan biaya yang besar.
Jarak yang ditempuh pada transportasi minor ini relatif dekat. Sementara itu,
transportasi mayor sering disebut dengan pengangkutan (hauling). Transportasi
mayor adalah kegiatan membawa kayu hasil tebangan dari lokasi penimbunan
sementara (TPn) ke tempat penimbunan kayu (TPK) atau langsung menuju
perusahaan atau pabrik industri kayu. Transportasi mayor ini dilakukan di luar
hutan. Pada transportasi mayor, alat yang digunakan dapat berupa kendaraan besar
seperti truk, namun memiliki kekuatan mesin yang lebih rendah dibandingkan
dengan alat untuk transportasi minor. Biaya yang diperlukan untuk transportasi
mayor lebih kecil dibandingkan transportasi minor karena alat yang digunakan
lebih sederhana. Pada transportasi mayor ini, jarak yang ditempuh sangat jauh.
Kegiatan transportasi sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-
faktor yang mempengaruhi kegiatan transportasi adalah:
1. Jenis kendaraan
Jenis kendaraan yang digunakan untuk transportasi berbeda-beda. Setiap
merk atau jenis kendaraan memiliki tenaga yang berbeda-beda. Jenis kendaraan
yang memiliki tenaga yang besar akan melakukan kegiatan transportasi dengan
lebih cepat dibandingkan kendaraan yang bertenaga kecil. Selain itu, jenis
kendaraan yang memiliki panjang, lebar, dan berat yang besar akan lebih sulit
untuk bergerak pada jalan yang sempit dan berjalan dengan lambat, sehingga
kegiatan transportasi akan berjalan lebih lama.
2. Jalan angkutan
Jalan angkutan merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh terhadap
kegiatan transportasi. Kondisi jalan yang lurus, datar, dan halus akan membuat
kegiatan transportasi berjalan dengan cepat dan lancar. Sebaliknya, apabila jalan
berbelok-belok, miring, dan kasar (bergelombang) maka akan mengakibatkan
kegiatan transportasi berjalan lebih lama. Selain itu jalan yang terbuat dari aspal
lebih mudah dan aman untuk dilalui kendaraan, sehingga kegiatan transportasi
akan berlangsung lebih cepat.
3. Kecepatan bongkar muat
Kegiatan transportasi tidak lepas dari kegiatan bongkar muat. Kegiatan
bongkar muat berfungsi untuk menurunkan atau menaikkan barang yang akan
diantar dari/ke kendaraan transportasi. Apabila kegiatan bongkar muat berjalan
dengan lambat, tentunya kegiatan transportasi juga akan semakin lama dan
membutuhkan banyak waktu. Karena itu proses bongkar muat dilakukan secepat
mungkin agar produktivitas kegiatan trasnportasi semakin besar.
4. Spesifikasi jalan yang dilalui
Spesifikasi jalan yang dilalui dapat berupa kelerengan (tanjakan dan
turunan) dan panjang jalan. Tanjakan dan turunan pada jalan akan berpengaruh
terhadap kegiatan transportasi. Jalan yang menanjak akan membuat kendaraan
berjalan dengan lambat, sehingga kegiatan transportasi akan berjalan dengan
lambat. Sedangkan pada jalan turunan, kendaraan akan berjalan lebih cepat karena
terbantu oleh gaya gravitasi yang membuat beban yang diangkut menjadi lebih
ringan. Namun jalan turunan yang terlalu curam, justru akan menghambat proses
transportasi karena kendaraan harus berjalan dengan lambat agar tidak kehilangan
kendali. Panjang jalan juga akan berpengaruh. Semakin panjang jalan, maka
semakin panjang juga jarak yang harus ditempuh sehingga akan membutuhkan
waktu yang lebih lama.
Pada praktikum ini, diperoleh data hasil taksiran produksi transportasi yang
dilakukan oleh PT Suka Jaya Makmur. Spesifikasi kendaraan yang digunakan oleh
PT Suka Jaya Makmur ini yaitu jenis 1998 Kenworth T800 Logging Truck yang
memiliki kapasitas 50 m3 dengan jumlah kendaraan sebanyak 10 unit. Kemudian
dihitung kecepatan bongkar muat pada PT Suka Jaya Makmur. Berdasarkan tabel
Wheel Loader, diketahui bahwa waktu normal yang yang dibutuhkan untuk
bongkar yaitu 1344,05 detik, sedangkan WN untuk muat adalah 1662,96 detik.
Kemudian waktu allowance (waktu yang terbuang) pada kegiatan bongkar adalah
201,61 detik, untuk kegiatan muat adalah 249,44 detik. Waktu standar (WS) yang
dibutuhkan untuk melakukan kegiatan bongkar adalah 1545,66 detik atau 0,43 jam,
sedangkan WS kegiatan muat adalah 1912,40 detik atau 0,53 jam. Dari data
tersebut, dapat dihitung prestasi kerja (PK) bongkar muat. Untuk kegiatan bongkar,
PK tiap jamnya adalah 151,39m3/jam atau 1059,37 m3/HOK. Sedangkan untuk PK
muatnya adalah 122,36 m3/jam atau 856,52 m3/HOK. Terlihat bahwa PK bongkar
lebih besar daripada PK muat. Hal ini karena pada kegiatan pembongkaran hanya
perlu menurunkan kayu dari truk. Sedangkan pada kegiatan muat, perlu menata
kayu pada truk sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga PK nya
akan lebih kecil.
Terdapat tabel potensi produksi dari tiap petak. Petak-petak tersebut dibagi
menjadi 3 blok, yaitu blok 1 (petak 569-593), blok 2 (petak 598-619), dan blok 3
(petak 620-647). Total potensi produksi pada blok 1 yaitu 41669,20 m 3, blok 2
sebesar 32914,90 m3, dan blok 3 sebesar 59167,40 m3. Selanjutnya adalah
membuat tabel truk logging untuk masing-masing blok. Pada tabel ini dihitung
kecepatan rata-rata dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan transportasi. Pada
seluruh blok dengan kelerengan yang sama, kecepatan truk di tanjakan dan turunan
nilainya sama. Sementara itu, kecepatan rata-rata untuk turunan selalu lebih besar
daripada kecepatan rata-rata tanjakan. Hal ini karena pada turunan truk dibantuk
oleh gaya gravitasi, sehingga terasa lebih ringan dalam mengangkut muatannya dan
mampu melaju lebih cepat. Total waktu yang dibutuhkan dalam melakukan
transportasi adalah 0,70 jam pada blok 1 dan 0,71 jam pada blok 2 dan 0,73 pada
blok 3. Waktu per trip (tpt) untuk blok 1 adalah 1,40 jam sedangkan untuk blok 2
adalah 1,43 jam dan untuk blok 3 adalah 1,46 jam. Nilai tpt merupakan dua kali
nilai waktu total transportasi karena dalam kegiatan transportasi memerlukan
perjalan berangkat dan perjalan kembali melalui jalan yang sama, sehingga waktu
total dikalikan dua. Kemudian untuk semua blok, terdapat 3 trip/hari. Produktivitas
per hari untuk semua blok adalah 1365 m3/hari, 34125 m3/bulan, atau 204750
m3/tahun. Pada blok 1, perlu 30,53 hari atau 1,22 bulan atau 0,20 tahun untuk
menyelesaikan pengangkutan. Pada blok 2 memerlukan 24,11 hari atau 0,96 bulan
atau 0,16 tahun untuk menyelesaikan pengangkutan. Sementara untuk blok 3
memerlukan waktu 43,35 hari atau 1,73 bulan atau 0,29 tahun untuk
menyelesaikan pengangkutan. Blok 3 merupakan blok yang memerlukan waktu
untuk menyelesaikan pengangkutan paling lama karena total taksiran produksi
pada blok 3 yang paling besar. Sehingga apabila taksiran produksinya semakin
besar, maka waktu untuk melakukan trasnportasinya juga akan semakin lama.
Kemudian apabila digabungkan, maka produktivitas transportasi total dari ketiga
blok tersebut adalah 614250 m3/tahun. Jatah tebangan total dari ketiga blok
tersebut adalah 133751,5 m3 Waktu total untuk menyelesaikan kegiatan
transportasi dari ketiga blok tersebut adalah 0,22 tahun. Data ini dapat digunakan
untuk melakukan evaluasi, apakah kegiatan pengangkutan telah berjalan dengan
efektif dan efisien atau apakah perlu penambahan jumlah kendaraan transportasi
atau tidak.
Taksiran produksi di atas dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu
apabila kondisi fisik jalan memadai. Kondisi fisik jalan akan sangat berpengaruh
terhadap kelancaran kegiatan transportasi. Kondisi fisik jalan yang berpengaruh
tersebut dapat berupa jalan aspal atau tanah, jalan yang datar atau bergelombang,
serta perawatan jalan. Jalan aspal tentunya akan lebih memudahkan transportasi
daripada jalan tanah. Selain itu jalan aspal juga akan lebih aman dan tidak licin.
Kemudian jalan yang halus dan datar dapat dilalui kendaraan dengan kecepatan
tinggi. Namun apabila jalannya bergelombang, maka kendaraan akan menurunkan
kecepatannya. Selain itu kondisi fisik jalanan juga harus dijaga sepanjang tahun.
Apabila tidak dijaga, maka kondisi fisik lama kelamaan akan semakin rusak.
Kondisi fisik jalan yang rusak yang dapat berupa lubang di tengah jalan atau aspal
yang mengelupas, dapat menurunkan produktivitas transportasi.

VII. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Formula speed adalah perhitungan kecepatan rata-rata yang diperoleh dari


kecepatan kosong dan kecepatan isi kendaraan. Rumus formula speed adalah

2(V 1 ×V 2 )
V= dengan V1 = kecepatan kosong dan V2 = kecepatan isi.
V 1 +V 2
Formula speed digunakan untuk mencari waktu yang dibutuhkan untuk
melakukan kegiatan transportasi pada tiap blok pada tiap kelerengan untuk
kemudian dijumlahkan. Waktu total digunakan untuk menghitung waktu per
trip (tpt) yaitu waktu untuk menyelesaikan satu kali kegiatan transportasi dan
diperoleh hasil :
- Tpt blok 1 : 1,40 jam
- Tpt blok 2 : 1,43 jam
- Tpt blok 3 : 1,46 jam
2. Produktivitas kegiatan transportasi di PT Suka Jaya Makmur adalah :
a. Produktivitas transportasi per hari
Blok 1 = Blok 2 = Blok 3 = 1365 m3/hari
b. Waktu untuk menyelesaikan pengangkutan per hari
- Blok 1 : 30,53 hari
- Blok 2 : 24,11 hari
- Blok 3 : 43,35 hari
c. Produktivitas transportasi per bulan
Blok 1 = Blok 2 = Blok 3 = 34125 m3/bulan
d. Waktu untuk menyelesaikan pengangkutan per bulan
- Blok 1 : 1,22 bulan
- Blok 2 : 0,96 bulan
- Blok 3 : 1,73 bulan
e. Produktivitas transportasi per tahun
Blok 1 = Blok 2 = Blok 3 = 204750 m3/tahun
f. Waktu untuk menyelesaikan pengangkutan per tahun
- Blok 1 : 0,20 tahun
- Blok 2 : 0,16 tahun
- Blok 3 : 0,29 tahun
g. Produktivitas transportasi total
= 614250 m3/tahun
h. Jatah tebangan total
= 133751,5 m3
i. Waktu untuk menyelesaikan kegiatan pengangkutan total
= 0,22 tahun
VIII. Daftar Pustaka
Dulsalam dan D. Tinambunan. 2003. Produktivitas dan Biaya Peralatan
Pemanena Hutan Tanaman: Studi Kasus di PT. Musi Hutan Persada,
Sumatera Selatan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil
Hutan. Bogor.

Elias. 1988. Pembukaan Wilayah Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Suhartana, Sona dan Yuniawati. 2008. Produktivitas Pengangkutan Kayu dengan


Truk dan Tugboat di Hutan Rawa Gambut : Kasus di Satu Perusahaan
Hutan di Jambi. Jurnal Hutan Tropis Borneo. 24: 125-132.

Yasman, I. dan M. Natadiwirya. 2001. Dipterocarp Plantation: The Strategy and


The Approaches of PT lnhutani I. In: Thielges, B.A., Sastrapraja, S.D. and
Rimbawanto, A. (eds.) In Situ and Ex Situ Conservation of Commercial
Tropical Trees. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.