Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMANENAN HASIL HUTAN


ACARA V
PEMILIHAN ALAT/METODE

Oleh :
NAMA : Ghina Wardah Hania Putri
NIM : 16/393948/KT/08185
CO-ASS : Hendry Sepriyadin
SHIFT : Kamis/ 15.30 WIB

LABORATORIUM PEMANENAN HASIL HUTAN


DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
ACARA V

PEMILIHAN ALAT/METODE

I. Tujuan
Praktikum ini dilaksanakan bertujuan untuk :

1. Mempelajari cara pemilihan metode kerja dan peralatan yang sesuai kebutuhan
dengan menggunakan analisis Break-Event
2. Mampu menginterpretasikan hasil perhitungan BEP

II. Dasar Teori


Unit pengelolaan pemanenan kayu perlu dibagi dalam blok kerja tahunan
sesuai dengan daur tebangan. Blok kemudian dibagi ke dalam petak pemanenan.
Tipe tapak atau kondisi silvikultur yang ada di tiap petak di deliniasi dan di taksir
luasnya masing–masing. Unit pengelolaan harus mempunyai unit administrasi
berupa petak permanen. Hutan produksi dan kebun kayu yang tidak mempunyai
petak permanen bisa dikelola. Sama halnya tidak mungkin mengelola penduduk di
sebuah kelurahahn yang tidak mempunyai RT atau RW. Pemonitoran luas hutan
dan keadaan tegakan, pengaturan tat tempat kegiatan dan sistem informasi tidak
akan dapat dilakukan bila hutan tidak dilengkapi dengan petak permanen. Blok
kerja tahunan dibagi dalam petak permenen dengan luas 100–1000 ha. Dengan
menggunakan sungai, trase jalan. Jalan dan punggung lahan sebagai pembatas.
Pembutan petak tat hutan permanen paling lambat dilakukan setelah trase jalan
diketahui. Karena jalan akan digunakan sebagai batas petak dan petak harus di
petakan dan tidak boleh hanya di sketsa (Sagala, 1994).

Sebelum melakukan kgiatan pemanenan areal harus dibagi ke dalam petak–


petak tebang, yaitu suatu unit terkecil dalam blok tahunan, dimana seluruh kegiatan
pemanenan kayu akan dilakukan. Dimana kegiatan pemanenan kayu meliputi :
Penebangan, Penyaradan, Pengumpulan, Pembagian batang, dan Pemuatan
kayu.Atau secara mudah dan sederhana bahwa petak tebang adalah suatu areal
yang dilayani oleh satu TPn, dimana di dalam ini dilakukan pemanenan kayu. Oleh
karena itu daerah yang aman untuk dilakukan pemanenan yang produktif atau
efektif dilakukan kegiatan kehutanan, misalnya penggunaan sistem. Sistem
mekanis dengan traktor sebagai alat syarat dengan sistem silvikultur TPTI. Selain
itu, untuk memilih dan mengkombinasikan alat-alat pemanenan harus
mempertimbangkan beberapa aspek antara lain yaitu aspek teknis, ekonomi, sosial,
dan lingkungan.Berdasarkan ketentuan penebangan dalam Tebang Pilih Tanam
Indonesia (TPTI) dinyatakan bahwa ada salah satu syarat yang harus dipenuhi
dalam pelaksanaan pemanenan hutan, yakni semua pohon yang berjarak (radius) 50
m dari sumber mata air, saka alam atau suaka margasatwa, jalur vegetasi sepanjang
jalan raya/ provinsi, pohon pada jarak 100 m dari daerah yang mengandung nilai
estetika dan semua pohon pada jarak 200 m dari tepi sungai atau pantai.
(Departemen Kehutanan, 1993)

Analisis Break Even Point (BEP) merupakan suatu teknik analisis yang
digunakan untuk mengetahui keadaan dimana perusahaan tidak menderita rugi dan
juga tidak mendapatkan laba atau impas. Penggunaananalisis Break Even Point ini
dimaksudkan agar manajemen dapat mengetahui pada tingkat penjualanminimal
berapakah perusahaan mengalami impas, sehingga manajemen dapat mengambil
keputusan untukmerencanakan target penjualan di atas penjualan minimal agar
menghasilkan laba.(Ariyanti, 2014)

Analisis Break Even Point adalah suatu analisis yang bertujuan untuk
menemukan satu titik, dalam unit atau rupiah, yang menunjukkan biaya sama
dengan pendapatan. Titik tersebut dinamakan titik BEP. Dengan mengetahui titik
BEP, analis dapat mengetahui pada volume penjualan, berapa perusahaan
mencapai titik impasnya, yaitu tidak rugi, tetapi juga tidak untung sehingga apabila
penjualan melebihi titik itu, maka perusahaan mulai mendapatkan untung
(Prasetya, 2009).

Analisis pulang pokok (break-even analysis) adalah suatu analisis yang


bertujuan untuk menemukan satu titik dalam kurva biaya - pendapatan yang
menunjukkan biaya sama dengan pendapatan. Titik tersebut disebut sebagai titik
pulang pokok (break even point, BEP) (Herjanto, 2008).

III. Alat dan Bahan


Dalam praktikum ini, alat dan bahan yang digunakan adalah :

1. Data biaya
2. Data peralatan
3. Kalkulator dan alat tulis
IV. Cara Kerja

Menentukan
rencana pemanenan Menghitung TC beli Membuat grafik TC
hasil hutan menurut dan TC borong beli dan TC borong
waktu dan tempat

Menentukan apakah
Mengelompokkan Menghitung
akan membeli atau
biaya tetap dan kekurangan jumlah
memborong
biaya variabel alat
kekurangan alat

Membuat grafik Merekapitulasi data


Menghitung TFC,
hubungan TFC, dari tiap kegiatan
TVC, dan TC
TVC, dan TC pemanenan

Deskripsi :

Pada acara ini, pertama-tama buat rencana pemanenan menurut waktu dan tempatnya.
Dibuat berapa lama seluruh kegiatan pemanenan hasil hutan akan berlangsung. Selanjutnya,
dari data peralatan dan data biaya yang didapatkan, pisahkan antara biaya tetap (fixed cost)
dan biaya variabel (variable cost), kemudian hitung total biaya tetap dan biaya variabel
tersebut. Setelah didapatkan total fixed cost (TFC), total variable cost (TVC), serta total cost
(TC) kemudian dibuat grafik hubungan ketiga biaya tersebut. Selanjutnya dihitung jumlah
alat yang tersedia, pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan alat yang tersedia, dan
kekurangan alat. Selanjutnya hitung biaya total (TC) untuk membeli dan memborong
kekurangan alat, kemudian dibuat grafik hubungan TC beli dan TC borong. Tentukan apakah
akan membeli atau memborong kekurangan alat berdasarkan grafik TC beli dan TC borong.
Perhitungan dilakukan pada setiap kegiatan pemanenan hasil hutan. Setelah seluruh kegiatan
dihitung, selanjutnya dibuat tabel rekapitulasi untuk seluruh kegiatan pemanenan hasil hutan.
V. Data dan Hasil
VI. Pembahasan
Penyusunan rencana pemanenan bertujuan memberikan pedoman untuk
menjamin tercapainya tujuan pengelolaan hutan. Salah satu bentuk perencanaan
sebelum kegiatan pemanenan ialah pemilihan alat pemanenan. Pertimbangan
dalam pemilihan alat pemanenan meliputi aspek teknis, ekonomi, sosial, dan
lingkungan.Analisis break-even point adalah teknik yang digunakan untuk
mengetahui output tingkat keuntungan sama dengan nol/impas. Analisis Break-
Even bertujuan untuk mengetahui hubungan antara volume produksi, biaya
produksi, dan laba/rugi suatu perusahaan.Analisis BEP adalah sebagai dasar untuk
merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai laba tertentu (profit
planning); mengendalikan kegiatan operasional yang berjalan (controlling); serta
pengambilan keputusan (decision making).
Penyusun BEP perlu memisahkan antara biaya tetap (fixed cost) dan biaya
variabel (variable cost). Biaya tetap adalah biaya yang secara total tidak
mengalami perubahan baik ketika ada kegiatan produksi maupun ketika tidak ada
kegiatan produksi. Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah
sebanding dengan perubahan produksi. Terdapat beberapa cara dalam pemenuhan
kekurangan alat pemanenan, yaitu dengan memborong atau membeli. Dalam
menentukan membeli atau memborong alat dilihat dengan membandingkan grafik
terendah antara TC beli dan TC borong. Misalnya apabila grafik nilai TC beli
berada di bawah grafik TC borong, maka cara yang dipilih adalah membeli alat,
begitu juga sebaliknya. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya sekecil modal
mungkin dan mengefisiensikan penggunaan alat tersebut.
VII. Hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemanenan menurut waktu
dan tempat di Indonesia ialah musim dan kondisi di lapangan. Indonesia
merupakan negara tropis yang memiliki 2 musim yaitu musim kemarau normal
pada bulan Maret-Agustus dan musim penghujan normal pada bulan September-
Februari. Kegiatan pemanenan pada musim penghujan tidak dapat berlangsung
sebaik ketika musim kemarau. Setiap kegiatan pemanenan direncanakan masing-
masing kerja selama 3 bulan. Keputusan awal musim kemarau diambil dengan
pertimbangan dari segi cuaca/musim agar terhindar dari ketidakstabilan masa
peralihan ke musim penghujan atau sebagian kegiatan pemanenan sampai musim
penghujan. Selain itu pemilihan awal musim kemarau untuk mempersiapkan jika
jadwal musim tidak normal (musim kemarau lebih pendek).Rincian waktu untuk
setiap komponen pemanenan, yaitu kegiatan penebangan dan penyaradan
dilakukan pada bulan April (minggu ke-1) sampai Juni (minggu ke-4).
Selanjutnya, kegiatan bongkar-muat dan pengangkutan dilakukan seminggu
setelah penebangan dan penyaradan yaitu bulan April (minggu ke-3) – Juni
(minggu ke-4).
Penyaradan dilakukan sesaat setelah penebangan pada minggu yang sama
bertujuan untuk menghindari hilangnya balak/hasil tebangan. Hilangnya hasil
tebangan bisa disebabkan oleh pencurian atau sebagainya. Penyaradan dilakukan
di minggu ke-1 bulan April dengan pertimbangan menghindari lama musim
kemarau yang tidak normal. Sehingga kegiatan penyaradan akan lancar dan tetap
aman jika terjadi musim kemarau lebih pendek/tidak normal.
Kegiatan bongkar-muat dilakukan seminggu setelah kegiatan penebangan dan
penyaradan dengan pertimbangan berat kayu akan sedikit lebih ringan karena
hilangnya sebagian kadar air kayu (mengalami penguapan), sehingga kegiatan
bongkar muat akan jauh lebih ringan. Setelah kegiatan pemuatan kayu, dilakukan
pengangkutan. Pengangkutan dilakukan di bulan April minggu ke-3 bersamaan
dengan waktu kegiatan bongkar muat. Hasil tebangan segera di diangkut ke TPk
dengan pertimbangan agar hasil tebangan tidak menumpuk di area TPn dan
meminimalisir pencurian. Setelah kayu dari TPn dimuat, lalu diangkut menuju
TPk menggunakan truk angut melalui jalan angkut yang telah tersedia dan
dibongkar setelah sampai di TPk. Kegiatan pemuatan akan memakan waktu lebih
lama dibandingkan dengan kegiatan pembongkaran. Hal tersebut karena kegiatan
pemuatan dilakukan penataan kayu agar truk angkut dapat memuat kayu dengan
maksimal sekaligus meminimalisir kerugian secara finansial.
Terdapat beberapa asumsi dalam menganalisis BEP, yaitu terdapat 2 macam
biaya yang harus diidentifikasi yaitu biaya tetap dan biaya variabel; biaya tetap
akan selalu konstan meskipun volume produksi berubah; serta biaya variabel per
unit konstan berapapun jumlah barang yang diproduksi jika kegiatan produksi
berubah, biaya variabel juga berubah proposional degresif maupun progresif.Titik
impas/Break-Even dapat dicari dengan cara matematis. Untuk mecapai kondisi
break-even, maka penerima (TC borong) harus sama dengan total biaya (TC beli).
Untuk menyamakan keduanya terdapat 1 parameter yang menjadi penghubung
dan penentu tingkat BEPnya, yaitu QBP atau jumlah unit yang terjual. Dalam hal
ini QBP merupakan titik dimana TC beli alat = TC memborongkan pekerja
beserta alat untuk menyesuaikan tebangan yang belum terselesaikan dengan alat
yang dimiliki.
Pada praktikum ini, rencana kegiatan pemanenan hasil hutan menurut
waktu dan tempat dimulai sejak bulan Mei hingga bulan Agustus. Kegiatan
pemanenan hasil hutan direncanakan dilakukan selama 3,5 bulan. Kegiatan
penebangan dan penyaradan dimulai pada minggu pertama bulan Mei dan selesai
pada minggu kedua bulan Agustus. Kegiatan penebangan dan penyaradan
dilakukan dalam waktu yang bersamaan karena setelah pohon ditebang agar segera
disarad ke TPN agar lebih aman, tidak ditinggal di tempat penebangan karena
beresiko untuk dicuri. Kemudian kegiatan bongkar-muat dan pengangkutan
dilakukan pada minggu ketiga bulan Mei dan selesai pada minggu keempat bulan
Agustus. Kegiatan bongkar-muat dan pengangkutan dilakukan bersama karena
sebelum pengangkutan diperlukan kegiatan muat untuk menaikkan kayu ke
kendaraan angkut, sedangkan setelah sampai tujuan perlu kegiatan bongkar untuk
menurunkan kayu dari kendaraan angkut. Kegiatan bongkar-muat dan
pengangkutan dilakukan setelah kegiatan penebangan dan penyaradan berlangsung
selama dua minggu supaya kayu yang kan di bongkar-muat dan diangkut telah
terkumpul cukup banyak jumlahnya di TPN. Apabila kegiatan bongkar-muat dan
pengangkutan dilaksanakan secara bersamaan dengan penebangan dan penyaradan,
maka perlu waktu untuk menunggu kayu yang akan diangkut tiba di TPN. Selain
itu juga butuh waktu agar jumlah kayu yang akan diangkut cukup banyak sesuai
kapasitas kendaraan angkut. Karena itu, apabila kegiatan bongkar-muat dan
pengangkutan dilakukan dua minggu setelah penebangan dan penyaradan, maka
kayu telah tersedia di TPN dan dapat langsung dimuat dan diangkut menuju TPK
atau industri.

Rangkaian kegiatan pemanenan hasil hutan direncanakan dimulai pada


bulan Mei dan berakhir di bulan Agustus. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan
bahwa bulan Mei hingga Agustus merupakan bulan yang memiliki musim
kemarau. Sehingga kegiatan pemanenan hasil hutan seluruhnya dapat dilakukan
pada musim kemarau, agar lebih efektif dan efisien. Asumsinya adalah prestasi
kerja pada musim kemarau akan lebih baik daripada prestasi kerja saat musim
hujan. Apabila kegiatan dilakukan pada musim hujan, akan ada banyak hambatan
dalam melakukan kegiatan pemanenan hasil hutan, seperti jalanan yang licin, angin
kencang, serta resiko kecelakaan kerja yang meningkat juga. Kemudian kegiatan
pemanenan dilaksanakan selama 3,5 bulan saja atau hingga akhir Agustus saja,
meskipun bulan September juga masih termasuk dalam musim kemarau. Hal ini
untuk berjaga-jaga apabila kegiatan pemanenan tidak dapat selesai tepat waktu dan
harus mengalami kemunduran, maka masih terdapat bulan September untuk
menyelesaikan kegiatan pemanenan di musim kemarau, sebelum akhirnya masuk
bulan Oktober yang biasanya sudah masuk musim hujan.

Pada kegiatan penebangan, TFC adalah Rp 28.603.333,33/tahun sedangkan


TVC adalah Rp 1813,33/m3 dengan jumlah alat yang tersedia sebanyak 8 alat.
Berdasarkan hasil perhitungan, jumlah alat yang diperlukan adalah 13 alat, dengan
kekurangan alat sebanyak 5 alat. Kemudian setelah dilakukan perhitungan
diperoleh nilai Q BEP adalah 2169,110 dan grafik TC beli lebih rendah dari TC
borong. Artinya untuk memenuhi kebutuhan alat, akan dilakukan dengan membeli
5 alat chainsaw.

Untuk kegiatan penyaradan, jumlah alat yang tersedia sebanyak 8 buldozer,


sedangkan jumlah buldozer yang dibutuhkan yaitu sebanyak 11 alat. Untuk itu
masih diperlukan 3 alat lagi. Berdasarkan grafik hubungan TC borong dan TC beli,
diketahui bahwa TC beli lebih rendah daripada TC borong dengan nilai Q BEP
sebesar 210934,855. Artinya untuk memenuhi kekurangan buldozer akan
dilakukan dengan membeli tambahan 4 alat buldozer.

Pada kegiatan bongkar dan muat, masing-msaing tersedia 4 alat untuk


melakukan kegiatan. Untuk kegiatan bongkar dan muat sebenarnya hanya
memerlukan 2 alat saja, sehingga kegiatan bongkar dan muat kemungkinan dapat
diselesaikan lebih cepat dari waktu yang ditetapkan. Baik kegiatan bongkar
maupun muat karena jumlah alat yang tersedia telah mencukupi, maka tidak perlu
untuk membeli atau memborong alat.

Untuk kegiatan pengangkutan, tersedia 13 truk untuk pengangkutan.


Jumlah alat yang dibutuhkan yaitu sebanyak 10 truk, sehingga tidak membutuhkan
tambahan alat baik membeli maupun memborong alat.
VIII. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Analisis Break-Even merupakan cara untuk mengetahui tingkat volume hasil


atau output untuk tingkat keuntungan sebesar nol/impas. Hal yang perlu
diketahui untuk menentukan metode dan alat yang sesuai BEP, yaitu:
a. Jumlah alat yang digunakan.
b. Volume tebangan yang bisa diselesaikan.
c. Jatah tebangan yang belum diselesaikan.
d. Kekurangan alat yang dibutuhkan.
2. Berdasarkan analisis BEP yang dilakukan, dapat disimpulkan:
- Penebangan
Alat yang dibutuhkan sebanyak 13 alat, sedangkan alat yang tersedia
hanya 8 alat. Diperoleh nilai Q BEP sebesar 2169,110 dengan grafik TC
beli lebih rendah daripada TC borong, yang artinya pemenuhan
kekurangan 5 alat dilakukan dengan membeli alat.
- Penyaradan
Alat yang dibutuhkan sebanyak 11 alat, sedangkan alat yang tersedia
hanya 8 alat. Diperoleh nilai Q BEP sebesar 10934,855 dengan grafik TC
beli lebih rendah daripada TC borong, yang artinya pemenuhan
kekurangan 3 alat dilakukan dengan membeli alat.
- Bongkar
Alat yang dibutuhkan sebanyak 2 alat, sedangkan alat yang tersedia
ada 4 alat. Artinya jumlah alat yang diperlukan telah terpenuhi dan tidak
perlu untuk membeli atau memborong alat.

- Muat
Alat yang dibutuhkan sebanyak 2 alat, sedangkan alat yang tersedia
ada 4 alat. Artinya jumlah alat yang diperlukan telah terpenuhi dan tidak
perlu untuk membeli atau memborong alat.
- Pengangkutan
Alat yang dibutuhkan sebanyak 12 alat, sedangkan alat yang tersedia
ada 13 alat. Artinya jumlah alat yang diperlukan telah terpenuhi dan tidak
perlu untuk membeli atau memborong alat.
IX. Daftar Pustaka
Ariyanti, R., S. M. Rahayu, dan A. Husaini. 2014. Analisis Break Even Point sebagai
Dasar Pengambilan Keputusan Manajemen terhadap Perencanaan Volume
Penjualan dan Laba. Jurnal Administrasi Bisnis., 11 (1) : 1-3.
Departemen Kehutanan. 1993. Pedoman dan Petujuk Teknis Sistem Silvikultur
Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI). Dirjen Pengusahaan Hutan.
Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.

Herjanto, Eddy. 2008. ManajemenOperasiEdisiKetiga. Jakarta: Grasindo.


Prasetya, HerydanFitriLukiastuti. 2009.ManajemenOperasi. Media Pressindo,
Yogyakarta.
Sagala, P. 1994. Mengelola Lahan Kehutanan Indonesia. Yayasan Obor Indonesia.
Jakarta.