Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMANENAN HASIL HUTAN


ACARA VII
KOMPOSISI PERALATAN PEMANENAN

Oleh :
NAMA : Ghina Wardah Hania Putri
NIM : 16/393948/KT/08185
CO-ASS : Hendry Sepriyadin
SHIFT : Kamis/ 15.30 WIB

LABORATORIUM PEMANENAN HASIL HUTAN


DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
ACARA VII
KOMPOSISI PERALATAN PEMANENAN

I. Tujuan
Praktikum ini dilaksanakan bertujuan untuk :

1. Mampu menentukan kebutuhan alat pada suatu kegiatan pemanenan


2. Mampu menyusun atau merencanakan komposisi alat dan personil yang sesuai
dengan kebutuhan dan target produksi

II. Dasar Teori


Peralatan pemanenan berperan penting terhadap kelangsungan kegiatan
pemanenan karena dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan perusahaan.
Penggunaan peralatan sangat bervariasi seperti sistem motor, manual dan
mekanis. Untuk saat ini sistem pemanenan yang dipakai menggunakan alat
mekanis seperti Harvester, Feller buncher, Forwarder, Skidder dan sistem kabel,
tetapi tidak menutup kemungkinan pada kegiatan pemanenan di hutan skala kecil
masih menggunakan peralatan manual seperti : gergaji tangan, kapak, gergaji
rantai, sapi dan kerbau. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa untuk
kelangsungan dan kelancaran pelaksanaan kegiatan pemanenan kayu terutama
penebangan maka penggunaan peralatan yang tepat sangat diperlukan (Suhartana
dkk., 2009).

Pengangkutan kayu merupakan kegiatan pemindahan kayu dari tempat


pengumpulan sementara di tepi hutan ke tempat pengolahan atau tempat
pemasaran melalui jalan yang telah diersiapkan secara optimal. Pengangkutan
kayu bertujuan agar kayu sampai di tempat tujuan pada waktu yang tepat secara
kontinyu dengan biaya minimal (Elias, 1988).

Kegiatan pengangkutan kayu dimulai setelah kegiatan pemuatan kayu ke atas


truk selesai dilakukan di tempat pengumpulan kayu sementara yang terletak di
tepi hutan ke tempat pengolahan kayu lebih lanjut atau TPK. Kegiatan
pengangkutan kayu merupakan kegiatan yang menentukan karena biaya
pengangkutan kayu merupakan bagian terbesar, yaitu sekitar 50-90% dari biaya
pembalakan (Sianturi, 1981).
Kegiatan pengangkutan kayu dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jenis alat
angkut, cuaca, kondisi jalan angkutan, tanjakan dan turunan, tikungan, serta
keterampilan pengemudi. Keterampilan pengemudi yang rendah tentu akan
menghasilkan produktivitas yang rendah juga. Demikian juga operator yang
kurang berpengalaman akan menghasilkan produktivitas pengangkutan yang
rendah. Sementara itu, untuk operator yang berumur relatif lebih tua biasanya
memiliki pengalaman yang lebih banyak. Akan tetapi, tenaga dari operator
tersebut kurang mendukung. Sedangkan operator yang berumur lebih muda
mempunyai kemampuan yang besar, akan tetapi pengalaman yang dimiliki relatif
lebih sedikit (Wackerman, 1949).

Dengan semakin banyaknya jumlah alat yang ada, maka semakin banyak pula
pilihan yang dapat dilakukan perusahaan. Pemilihan alat tersebut harus
disesuaikan dengan kondisi hutan yang dipanen. Peralatan yang dipilih adalah
secara teknis memungkinkan, secara ekonomis menguntungkan dan secara
ekologis menimbulkan gangguan lingkungan yang minimal. Penggunaan peralatan
dan jumlah alat yang tepat guna dalam pemanenan kayu sangat diperlukan.
Penggunaan jumlah peralatan pemanenan kayu perlu disesuaikan dengan rencana
produksi yang ditetapkan sehingga memungkinkan dihasilkan produksi kayu yang
dapat menutup biaya produksi yang dikeluarkan (Suhartana dkk., 2009).

III. Alat dan Bahan


Dalam praktikum ini, alat dan bahan yang digunakan adalah :

1. Target produksi pada suatu perusahaan


2. Prestasi kerja masing-masing elemen kegiatan pemanenan
3. Spesifikasi alat-alat pemanenan
4. Microsoft Excel
5. Alat tulis
IV. Cara Kerja

Lakukan perhitungan
Hitung biaya tetap Buat grafik hubungan untuk setiap kegiatan
dari tiap alat TC dari dua alat pemanenan hasil
hutan

Lakukan analisis
Buat grafik hubungan kebutuhan personil
Hitung biaya variabel
TFC, TVC, dan TC untuk tiap kegiatan
dari tiap alat
dari tiap alat pemanenan hasil
hutan

Hitung total fixed


Hitung jumlah cost, total variable
kebutuhan tiap alat cost, dan total cost
tiap alat

Deskripsi :

Pada acara ini, pertama-tama akan diberikan data spesifikasi, prestasi kerja alat,
serta berbagai biaya yang dibutuhkan oleh dua jenis alat dalam satu kegiatan. Kemudian
dilakukan perhitungan terhadap spesifikasi dan prestasi kerja alat tersebut. Hitung biaya
tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost) dari tiap jenis alat. Kemudian hitung
prestasi kerja tiap alat, jumlah target produksi, dan hitung jumlah kebutuhan alat dari
masing-masing alat. Hitung total variable cost (TVC), total fixed cost (TFC), dan total
cost (TC) tiap alat. Dari data tersebut dibuat grafik hubungan antara TVC, TFC, dan TC
dari tiap alat. Khusus untuk TC, selanjutnya dibuat sebuah grafik yang membandingkan
dua TC dari dua alat tersebut, yang kemudian digunakan untuk membandingkan alat
mana yang lebih murah TC-nya dan dipilih. Seluruh perhitungan di atas dilakuakn untuk
tiap kegiatan pemanenan hasil hutan yaitu penebangan, penyaradan, pemuatan,
pembongkaran, dan pengangkutan. Setelah didapatkan jumlah dan jenis alat yang
digunakan dari tiap kegiatan pemanenan hasil hutan, kemudian tentukan jumlah pekerja
(operator dan helper) serta mandor untuk tiap alat tersebut.

V. Data
VI. Pembahasan
Pada praktikum acara VII kali ini dibahas mengenai komposisi peralatan
pemanenan. Dalam penyusunan rencana pemanenan diperhatikan antara
keseimbangan komponen dalam kegiatan pemanenan. Keseimbangan tersebut
merupakan pengaturan jumlah dan komposisi peralatan sehingga kemampuan
produksi pada masing-masing komponen seimbang. Keseimbangan diperlukan agar
dapat menjaga kelancaran produksi dan efisiensi penggunaan alat yang
diperhitungkan dari target produksi, prestasi kerja pada masing-masing komponen dan
waktu yang tersedia untuk melaksanakan pemanenan. Apabila prestasi kerja suatu
komponen lebih besar atau lebih kecil dari komponen yang lain maka proses produksi
kayu bulat tidak akan berjalan lancar dan efisien. Oleh karena itu, diperlukan analisis
BEP untuk pemilihan alat yang tepat agar keuntungannya lebih maksimal.
Dalam menyusun rencana terdapat banyak unsur yang harus dipertimbangkan
sehingga dapat terbentuk sebuah rencana yang lengkap dan maksimal. Dalam hal ini
akan lebih difokuskan pada rencana teknis tersebut mencakup rencana PWH minor
yang terdiri dari rencana jalur sarad, arah penyaradan, dan tempat penimbunan kayu
sementara (TPn) serta rencana pengaturan arah rebah (feeling direction). Dalam
organisasi pemanenan yang dibuat ditujukan untuk pembuatan perencanaan
pemanenan yang meliputi perencanaan medan yang akan dilewati dan alat yang
digunakan (PWH), penebangan dan pembagian batang, penyaradan, pemuatan,
pengangkutan dan pembongkaran.
Untuk melakukan pemanenan hasil hutan, diperlukan peralatan dan tenaga
kerja yang memadai untuk dapat mengimbangi produktivitas pada suatu tegakan yang
akan dipanen. Dalam pemanenan hasil hutan, terdapat komponen-komponen kerja
seperti penebangan, penyaradan, pemuatan, pembongkaran, dan pengangkutan yang
setiap kegiatannya memerlukan dukungan alat yang berbeda-beda. Dari hasil
perencanaan peralatan dengan melakukan perhitungan terhadap setiap
produktivitasnya, diperoleh hasil yaitu:
a. Pada kegiatan penebangan alat yang digunakan adalah Chainsaw jenis Stihl 090
sebanyak 21 alat.
b. Pada kegiatan penyaradan digunakan traktor tipe 527 sebanyak 4 alat.
c. Pada kegiatan pemuatan dipilih alat tipe CAT 980 C sebanyak 1 alat.
d. Pada kegiatan pembongkaran dipilih alat tipe CAT 950 H sebanyak 1 alat.
e. Pada kegiatan pengangkutan dipilih UD Nissan YZ 52 PPN sebanyak 59 alat.
Penentuan komposisi peralatan tersebut didasarkan pada analisis BEP dan
target tebangan serta waktu yang digunakan, yang telah diperhitungkan pada acara
sebelumnya. Pada setiap kegiatan pemanenan terdapat dua alat yang kemudian
dianalisis grafik TC dan tabel perhitungan TC-nya. Dari grafik tersebut dapat
diketahui alat manakah yang memiliki nilai lebih rendah dari alat yang lain. Pada
proses penebangan diperoleh grafik yang menunjukkan bahwa grafik TC pada alat
Stihl 090 lebih rendah dari pada grafik alat Sthl 070 AV maka alat yang akan
digunakan adalah Stihl 090. Kemudian pada proses penyaradan diperoleh grafik yang
menunjukkan bahwa grafik TC pada alat 527 lebih rendah dari pada grafik alat D73
maka alat yang akan digunakan adalah 527. Selanjutnya pada proses pemuatan dan
pembongkaran diperoleh grafik yang menunjukkan bahwa grafik TC pada alat CAT
980 C lebih rendah dari pada grafik alat CAT 950 H maka alat yang akan digunakan
adalah CAT 980 C. Dan terakhir pada proses pengangkutan diperoleh grafik yang
menunjukkan bahwa grafik TC pada alat UD Nissan YZ 52 PPN lebih rendah dari
pada grafik alat Mercedes Benz 2638 maka alat yang akan digunakan adalah UD
Nissan YZ 52 PPN.
Setiap personil pada organisasi pemanenan akan memiliki tugas yang berbeda-
beda. Tugas dari tiap personil tersebut tergantung pada tingkatannya. Direktur
bertugas dan bertanggungjawab pada seluruh kegiatan pemanenan dan mengontrol
kinerja staff/karyawan. Manajer akan mengawasi kerja supervisor. Supervisor akan
mengawasi dan mengontrol kerja mandor. Sedangkan mandor akan mengontrol
kinerja operator dan helper alat di lapangan.
Dasar penentuan organisasi pemanenan yang dilakukan adalah target
tebangan, dimana dari hasil pehitungan sebelumnya diketahui target tebangan totalnya
yang akan dihabiskan dalam waktu tertentu. Selain itu pertimbangan lainnya dalam
penentuan organisasi pemanenan adalah alat-alat yang digunakan. Alat-alat tersebut
meliputi jumlah alat, jenis alat, serta jumlah pekerja yang meliputi operator alat dan
helper (pembantu operator), dan juga jumlah mandor yang akan dipekerjakan sesuai
dengan total pekerja pada setiap kegiatan pemanenan hasil hutan. Tujuan organisasi
tersebut adalah agar kegiatan pemanenan dapat berjalan dengan lancar, efektif dan
efisien dalam berbagai aspek serta meminimalkan dampak kerusakan lingkungan
yang terjadi. Organisasi pemanenan didasarkan pada target penebangan. Organisasi
penebangan kayu dibedakan menjadi tiga, yaitu: pembagian batang di tempat
tebangan (areal tonggak) yang juga dibagi menjadi tiga yaitu: kayu utuh, kayu
pendek, dan produk lain. Organisasi pemotongan bagian pucuk dalam kayu panjang
dibagi di Tpn dan dibawa ke pabrik. Organisasi penumpukkan kayu yaitu di areal
tonggak dan di TPn. Organisasi penyaradan yaitu ditarik atau tidak ditarik dan dirakit.
Organisasi pemuatan dibagi menjadi dua, yaitu pemuatan di lokasi tonggak dan
dipinggir jalan atau dipinggir rel. Organisasi penebangan dapat dibagi menjadi dua
yaitu pengangkutan ke tempat sementara dan organisasi penebangan berdasarkan alat
angkutnya contohnya truk, dan dengan rel.
Penyusunan organisasi pemanenan yang telah dihitung dalam data, dilakukan
berdasarkan pertimbangan jatah tebang dan alokasi waktu penebangan, serta dilihat
dari produktivitas peralatan yang digunakan. Penentuan alat tersebut dilakukan agar
perusahaan dapat memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan tenaga yang
seefisien mungkin. Setelah dilakukan pemilihan alat, dilakukan perhitungan BEP
(Break Even Point) pada masing-masing alat sehingga dapat diketahui alat mana
dengan produktivitas terbaik. Dengan analisisi BEP tersebut kemudian peralatan yang
sebenarnya disiapkan oleh perusahaan terdiri dari dua tipe dapat dipilih mana yang
lebih baik dan paling efisien.
Komposisi peralatan yang digunakan dalam kegiatan pemanenan untuk
menentukan pengguna seperti mandor, operator, dan helper. Tugas dari masing-
masing pengguna yaitu mandor bertugas untuk mengawasi kegiatan pemanenan,
mandor bisa mengawasi 4 hingga 10 orang pekerja. Operator yaitu seseorang yang
melakukan kegiatan pemanenan dengan mengoperasikan alat, sedangkan helper
bertugas membantu operator dalam melaksanakan tugasnya. Menurut Supriyatno, N.
dan Haryanto (2009) untuk penebangan dibutuhkan 1 operator dan 1 helper. Untuk
penyaradan dibutuhkan 1 orang operator dan 2 orang helper. Untuk pemuatan
dibutuhkan 1 orang operator dan 1 orang helper. Untuk pembongkaran juga masing-
masing 1 orang operator dan 1 orang helper. Serta untuk pengangkutan juga
membutuhkan 1 orang operator dan 1 orang helper.Menurut Muhdi (2015), jumlah
personil dalam satu kegiatan pemanenan terdiri atas satu orang foreman (mandor),
satu operator penyarad, satu orang operator pemuat, dua orang helper traktor, dan satu
penebang untuk satu buah alat. Hasil dari perhitungan komponen pekerja diketahui
untuk kegiatan penebangan dibutuhkan 15 alat dengan total personil 30 orang dan 4
mandor. Untuk penyaradan dibutuhkan 16 alat dengan total personil 32 orang dan 4
mandor. Untuk pemuatan dibutuhkan 3 alat dengan total personil 6 orang dan 1
mandor. Untuk pembongkaran dibutuhkan 2 alat dengan total personil 4 orang dan 1
mandor. Dan untuk pengangkutan dibutuhkan 4 alat dengan total personil 8 orang dan
1 mandor.
Faktor yang dipertimbangkan dalam penentuan organisasi pemanenan antara
lain: kebutuhan tenaga kerja tiap peralatan; profesionalitas pekerja masing-masing
kegiatan pemanenan, baik mandor, operator, ataupun helper; kemampuan perusahaan;
jatah tebangan; dan efektivitas kerja para pekerja pada tiap komponen kegiatan
pemanenan.

VII. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, diketahui jenis dan jumlah
alat yang dibutuhkan pada setiap kegiatan pemanenan hasil hutan untuk
memenuhi target produksi dan target waktu adalah:
 Penebangan menggunakan jenis alat Stihl 090 dengan jumlah alat 16
buah
 Penyaradan menggunakan jenis alat 527 dengan jumlah alat 16 buah
 Pemuatan menggunakan alat cat 950 H dengan jumlah alat 6 buah
 Pengangkutan menggunakan alat MERCEDES-BENZ 2638 dengan
jumlah alat 5 buah
 Pembongkaran menggunakan alat cat 950 H dengan jumlah alat 3 buah
2. Susunan komposisi alat dan personil yang sesuai dengan kebutuhan adalah:
 Penebangan menggunakan 16 alat, memerlukan 16 operator, 16 helper,
dan 4 mandor
 Penyaradan menggunakan 16 alat, memerlukan 16 operator, 16 helper,
dan 4 mandor
 Pemuatan menggunakan 6 alat, memerlukan 6 operator, 6 helper, dan 2
mandor
 Pengangkutan menggunakan 5 alat, memerlukan 5 operator, 5 helper,
dan 1 mandor
 Pembongkaran menggunakan 3 alat, memerlukan 3 operator, 3 helper,
dan 1 mandor
VIII. Daftar Pustaka
Dulsalam dan D. Tinambunan. 2003. Produktivitas dan Biaya Peralatan
Pemanena Hutan Tanaman: Studi Kasus di PT. Musi Hutan Persada,
Sumatera Selatan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil
Hutan. Bogor.
Elias. 1988. Pembukaan Wilayah Hutan. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Elias. 1998. Sistem Pemanenan Kayu di Hutan Rawa Tropika Indonesia. Fakultas
Kehutanan Istitut Pertanian Bogor. Bogor.
Muhdi, W. 2015. Efisiensi Pemanenan Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan IPB.
Bogor.
Ramdhan, Ivan Meidyana. 2001. Efektifitas dan Efisiensi Kegiatan Penyaradan di
IUPHHK-HA (Studi Kasus di PT. Austral Byna, Kalimantan Tengah).
Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Sianturi, A. 1981. Produktivitas dan Biaya Angkutan dengan Truk Isuzu pada
Beberapa Perusahaan Kehutanan di Jambi dan Riau. Balai Penelitian Hasil
Hutan. Bogor.
Suhartana, Sona, Yuniawati, dan Rahmat. 2009. Efisiensi Kebutuhan Peralatan
Pemanenan di Hutan Tanaman Industri, di Kalimantan Barat. Jurnal Hutan
Tropis Borneo. 26: 119-127.
Wackerman, A.E. 1949. Harvesting Timber Crops. Mc Graw-Hill Book Company.
New York.