Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH WAWANCARA SURVEI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikodiagnostik Iii


Dosen Pembimbing: Selly Candra Ayu, M. Si

Oleh:
Faiza chimayatas salafy (18410047)
Elma dwi ana ()
Maulida aulia fitri ()
Dhana preiskaton ()
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk
memecahkan masalah yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah. Tujuan dari
semua usaha ilmiah adalah untuk menjelaskan, memprediksikan, membandingkan,
mencari hubungan,dan menafsirkan hal-hal yang bersifat teka-teki. Kegiatan
penyelesaian masalah yang disebut penelitian dapat dilakukan secara sistematis dengan
mengikuti metodologi, dikontrol, dan didasarkan teori yang ada serta diperkuat dengan
gejala yang ada (Sukardi, 2004:3).  Masalah yang ada di dalam sebuah penelitian dapat
dipecahkan melalui sebuah alat. Alat atau instrumen yang digunakan adalah metodologi
penelitian yang biasanya berisi tentang cara-cara menggunakan beberapa metode
pendekatan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Survei adalah suatu teknik mengumpulkan informasi dari responden dengan cara
menanyakan sejumlah pertanyaan terstruktur kepada responden. Menurut KBBI survei
memiliki arti “teknik riset dengan memberi batas yang jelas atas data; penyelidikan;
peninjauan”. Sedangkan wawancara adalah sebuah cara yang khusus dalam setting
percakapan yang terstruktur, yang masing-masing pewawancara dan responden memiliki
batasan peran yang dimainkan.
Kunci dari pengumpulan informasi adalah pada proses wawancara. Kecakapan
pewawancara dalam berinteraksi dengan responden ikut menentukan kualitas informasi
yang dikumpulkan. Pewawancara memiliki tugas pokok untuk membuat responden dapat
berpartisipasi dalam survei dan mencatat informasi dari responden. Wawancara
mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berpendapat. Setiap
orang memiliki pandangan dan perasaan mengenai fakta sosial tertentu. Informasi bisa
diakses melalui wawancara dengan bertanya pada mereka. Namun wawancara bukanlah
sekedar berbagi informasi melalui bertanya dan kemudian mendapat jawaban. Di dalam
wawancara juga terdapat fungsi, strategi, taktik yang terus berkembang seiring mapannya
metoda ini di antara riset-riset arus utama.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian metode penelitian wawancara survei?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian metode penelitian wawancara survei.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Survei

Survei merupakan salah satu dari metode ilmiah yang masih cukup baru.
Penelitian ini berkembang mulai dari abad kedua puluh. Penelitian survei dipandang
sebagai salah satu cabang penelitian ilmiah dalam ilmu sosial. Prosedur dan metodenya
telah dikembangkan terutama oleh psikolog, sosiolog, ekonom, ilmuwan politik, dan
statistikawan.
Menurut etimologi survei berasal dari bahasa latin terdiri dari suku kata sur yang
merupakan turunan kata Latin super yang berarti di atas atau melampui. Sedangkan suku
kata vey  berasal dari kata Latin videre yang berarti melihat. Jadi kata survei berarti
melihat di atas atau melampui (Leedy, 1980, dalam Irawan Soeharto, 2000:53). 
Penelitian survei mengkaji populasi (universe) yang besar maupuun kecil dengan
menyeleksi serta mengkaji sampel yang dipilih dari populasi itu, untuk menemukan
insidensi, distribusi, dan interelasi relativ dari variabel-variabel (Fred N.Kerlinger,
2004:660). Sejalan dengan pendapat diatas, penelitian survei menurut Widodo (2008:43)
digunakan untuk memecahkan masalah-masalah isu skala besar yang aktual dengan
populasi sangat besar, sehingga diperlukan sampel ukuran besar. Tetapi pengukuran
variabelnya lebih sederhana dengan instrument yang sederhana dan singkat. Arah minat
penelitian survei ialah membuat taksiran yang akurat mengenai karakteristik-karakteristik
keseluruhan populasi dengan mengkaji sampel-sampel yang ditarik dari populasi tersebut.
Kajian ini menjadi penting karena adanya kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam
mengkaji keseluruhan populasi secara utuh.
Margono (2005) mendefinisikan metode penelitian survei adalah pengamatan/
penyeledikan yang kritis untuk mendapatkan keterangan yang terang dan baik terhadap
suatu persoalan tertentu dan di dalam suatu daerah tertentu. Penelitian survei umumnya
bertujuan untuk mencapai generalisasi, dan sebagian lain juga untuk membuat prediksi.
Kemudian Asmadi Alsa (2004:20) mengemukakan rancangan survei merupakan prosedur
dimana peneliti melaksanakan survei atau memberikan angket atau skala pada satu
sampel untuk mendeskripsikan sikap, opini, perilaku, atau karakteritik responden. Dari
hasil survei ini, peneliti membuat claim tentang kecenderungan yang ada dalam populasi.
Sedangkan Mulyana (2001) berpendapat bahwa survei khususnya lazim
digunakam untuk mengumpulkan data yang sangat banyak mengenai opini publik dan
mengenai ciri-ciri dasar (demografik) penduduk, seperti jenis kelamin, agama, pekerjaan,
penghasilan, hobi, pemilikan property, kesehatan, kesejahteraan. Penelitian survei ini
bersifat deduktif.
Sehingga dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian survei
adalah salah satu metode penelitian yang umumnya mengkaji populasi dalam skala besar
dengan menggunakan sampel populasi yang bertujuan untuk membuat deskripsi,
generalisasi, atau prediksi tentang opini, perilaku, dan karakteristik yang ada dalam
populasi tersebut.
Metode penelitian survey dapat dibedakan menajdi dua tipe (Widodo, 2008:43), yaitu:
a. Cross Sectional Survey, digunakan untuk mengetahui isu yang bersifat temporer
dengan pengumpulan data cukup satu kali.
b. Longitudinal Survey, digunakan untuk memahami isu yang berkepanjangan, tetapi
populasi lebih kecil dengan pengumpulan data secara periodic. Survey ini jugag
sering dibedakan lagi menjadi trend study, cohort study, dan panel study.
Menurut Moehadjir (2002:63) ada dua macam jenis penelitian survei, yaitu: pertama,
survei untuk memperoleh data dasar guna memperoleh gambaran umum yang bermanfaat
untuk membuat perencanaan dan kebijakan publik (misalnya sensus). Kedua, survei yang
digunakan untuk mengungkapkan pendapat, sikap, dan harapan publik.

B. Pengertian wawancara
Wawancara mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk
berpendapat. Setiap orang memiliki pandangan dan perasaan mengenai fakta sosial
tertentu. Informasi bisa diakses melalui wawancara dengan bertanya pada mereka.
Namun wawancara bukanlah sekedar berbagi informasi melalui bertanya dan kemudian
mendapat jawaban. Di dalam wawancara juga terdapat fungsi, strategi, taktik yang terus
berkembang seiring mapannya metoda ini di antara riset-riset arus utama.
Wawancara adalah metoda yang digunakan untuk mencari data primer dan
merupakan metoda yang banyak dipakai dalam penelitian interpretif maupun penelitian
kritis. Wawancara dilakukan ketika peneliti ingin menggali lebih dalam mengenai sikap,
keyakinan, perilaku, atau pengalaman dari responden terhadap fenomena sosial. Ciri khas
dari metoda ini adalah adanya pertukaran informasi secara verbal dengan satu orang atau
lebih. Terdapat peran pewawancara yang berusaha untuk menggali informasi dan
memperoleh pemahaman dari responden.
Wawancara tampak sederhana namun sebenarnya begitu rumit. Metoda
wawancara berkembang secara dinamis sepanjang waktu. Kerumitan dari wawancara
tidak hanya ada di aspek teknis namun juga di aspek epistemologis. Wawancara telah
berkembang dari sekedar bentuk komunikasi menjadi semacam alat produksi
pengetahuan melalui konstruksi makna antara pewawancara dan responden. Wawancara
bisa dikatakan lebih dari sekedar alat. Jika wawancara dilihat hanya sebagai alat maka
ilustrasinya akan sebagai berikut:
a.Responden dihubungi untuk menentukan jadwal, lokasi, dan aturan wawancara
b. Pertanyaan didesain untuk memperoleh jawaban yang sudah dapat diduga hingga
protokol wawancara terpenuhi
c.Tugas responden adalah menjawab pertanyaan dan mereka menunggu pertanyaan
disampaikan.
d. Responden tidak mempunyai wewenang untuk bertanya balik dan jika mereka
bertanya maka itu merupakan bentuk dari klarifikasi.
Sebagian besar peneliti menggunakan wawancara terstruktur, semiterstruktur,
maupun tidak testruktur (Rowley, 2009). Tidak terstruktur, semi struktur maupun
terstruktur merupakan hasil kebijakan penelitian. Wawancara terstruktur lebih mirip
dengan kuesioner, hanya saja responden tidak menuliskan jawaban mereka sendiri.
Pertanyaan yang diajukan juga relatif sedikit dan jawaban yang didapat juga relatif
pendek. Pertanyaan yang diajukan akan sama untuk setiap responden. Wawancara yang
sangat terstruktur sangat jarang ditemui dalam penelitian interpretif maupun kritis.
Wawancara jenis ini biasa ditemui dalam penelitian survei misalnya mengenai preferensi
pilihan di pemilu. Tujuan wawancara terstruktur adalah untuk memastikan jawaban
wawancara dapat secara andal dijumlahkan dan dibandingkan antar grup responden.
Wawancara jenis ini juga dikenal sebagai standardised interview atau researcher-
administered survey.
Berbeda dengan tipe pertama, wawancara semi-terstruktur adalah wawancara
dimana responden harus menjawab pertanyaan yang telah disiapkan oleh pewawancara.
Sebelum melakukan wawancara telah disiapkan panduan wawancara berupa daftar
pertanyaan atau topik skematis dan terstruktur yang akan didalami oleh pewawancara.
Panduan wawancara ini bermanfaat agar wawancara berjalan terfokus, berfungsi sebagai
panduan, dan untuk memastikan wawancara berjalan sesuai harapan. Pertanyaan yang
disusun merupakan pertanyaan utama yang kemudian akan didukung oleh beberapa
pertanyaan lanjutan yang berkaitan dengan pertanyaan utama.
Sedangkan tipe ketiga umumnya digunakan dalam riset etnografi yang dilakukan
dalam jangka panjang dan memungkinkan responden untuk mengekspresikan pendapat
mereka secara bebas tanpa intervensi dari pewawancara. Wawancara tidak terstruktur
lebih mirip percakapan biasa. Berbeda dengan wawancara jenis lain yang sering dianggap
sebagai percakapan terkendali yang lebih menitikberatkan pada kepentingan si
pewawancara. Ada banyak jenis wawancara tidak terstruktur misalnya nondirective
interviews, focused interview, dan informal interview.

Wawancara terstruktur
Pada analisis kuantitatif, bentuk data numerik sangat penting untuk menentukan
jenis analisis. Kuesioner kuantitatif disusun, dengan semua subjek ditanyakan pertanyaan
yang sama, dalam urutan yang sama, dan subjek merespon pilihan jawaban yang telah
disediakan dengan memilih satu opsi dari serangkaian pilihan yang ditetapkan. Nilai
numerik mewakili setiap pilihan. Jika subjek memutuskan untuk tidak menjawab,
meninggalkan jawaban kosong, "data yang hilang" dapat dibiarkan kosong atau, jika
terlalu banyak responden tidak menjawab pertanyaan tertentu, peneliti dapat memutuskan
untuk mengabaikan item tersebut dari analisis.
Kumpulan data selalu dalam bentuk matriks, dengan tanggapan subyek tercantum
baris demi baris dalam baris yang mencantumkan setiap nilai item dan variabel yang
membentuk kolom. Data dianalisis secara statistik setelah penyelesaian pengumpulan
data.
Wawancara tidak terstruktur
Pada wawancara kualitatif, wawancara tidak terstruktur mengacu pada jenis
wawancara di mana peneliti mengajukan pertanyaan yang sifatnya umum dan jumlahnya
minimal. Pertanyaan hanya berupa topik umum untuk membantu memfokuskan
responden. Diikuti dengan proses mendengarkan tanpa melakukan terlalu banyak
interupsi pada responden. Sikap mendengarkan bertujuan untuk memperoleh cerita dari si
responden. Tujuan peneliti adalah untuk mendapatkan perspektif peserta tanpa memandu
peserta. Perlu dicatatat bahwa adanya panduan yang amat rinci merupakan salah satu
ancaman utama terhadap validitas wawancara ini. Wawancara tidak terstruktur juga
disebut sebagai wawancara yang panjang, tidak standar, untuk memperoleh narasi,
bersifat open-ended.
Bentuk lain dari wawancara ini adalah wawancara terpandu atau percakapan
terpandu (Rubin & Rubin, 2012). Peneliti dapat menyiapkan 6 hingga 10 pertanyaan yang
berupa pertanyaan umum untuk memandu jalannya wawancara. Kedua pendekatan ini,
tidak terstruktur dan terpandu, memberikan peserta kebebasan untuk menceritakan kisah
mereka dengan cara mereka sendiri dengan gangguan minimal dari peneliti. Wawancara
ini menekankan pendekatan emic, minim campur tangan atau interupsi dari peneliti,
untuk meningkatkan validitas.

Wawancara kelompok terfokus


Wawancara kelompok fokus terdiri dari serangkaian pertanyaan (biasanya 10- 20)
yang dimaksudkan untuk memfasilitasi diskusi dan memantik pendapat di antara
sekelompok kecil orang. Pertanyaan yang sama ditanyakan di semua kelompok fokus
dalam satu studi. Fasilitator ada untuk mendorong diskusi mengenai topik yang diajukan.
Analisis data kelompok fokus dapat berupa analisis konten berdasarkan
pertanyaan, meskipun terkadang analisis tematik dilakukan. Tanggapan dari masing-
masing kelompok disintesis pertanyaan demi pertanyaan. Wawancara ini tidak berusaha
menghitung respon peserta per pertanyaan karena setiap peserta mungkin tidak memiliki
kesempatan untuk menjawab setiap pertanyaan. Konsensus keseluruhan dari masing-
masing kelompok lebih ditekankan dibandingkan jawaban individu.

Wawancara semi-terstruktur
Kategori wawancara ketiga adalah wawancara semi terstruktur yang biasanya
bersifat kualitatif. Wawancara ini terdiri dari batang pertanyaan yang dapat direspon
secara bebas. Kemudian diikuti dengan pertanyaan lanjutan dan probe berdasarkan
rencana pertanyaan atau jawaban yang muncul dari dari tanggapan peserta. Wawancara
semi terstruktur digunakan ketika peneliti cukup tahu tentang topik atau fenomena sosial
yang diteliti (misalnya batas-batas topik dan apa yang dan tidak berkaitan dengan
pertanyaan penelitian) tetapi tidak tahu dan tidak dapat mengantisipasi semua jawaban.
Pertanyaan diajukan kepada semua responden dalam urutan yang sama.
Wawancara ini dapat dilakukan secara tatap muka, dalam format tertulis, atau
melalui telepon. Karena pertanyaan tidak dapat diubah begitu pengumpulan data dimulai.
Pengujian pilot terhadap pertanyaan itu penting untuk memastikan bahwa pertanyaan
mencakup topik penelitian dan bahwa tanggapan yang diharapkan diperoleh. Data
dianalisis sekaligus pada akhir pengumpulan data. Analisis data wawancara semi
terstruktur dapat dilakukan dengan analisis isi atau analisis tematik.

C. Pengertian wawancara survei

Interview atau wawancara survei tidak lain adalah penggunaan metode wawancara dalam
kegiatan survei untuk tujuan pengumpulan data/ informasi terkait topik/ permasalahan
yang akan diteliti. Tidak jauh berbeda dengan wawancara pada umumnya, dalam
wawancara survei berlangsung proses interview, dimana terdapat 2 (dua) pihak dengan
kedudukan yang berbeda. Pihak pertama berfungsi sebagai penanya, disebut pula sebagai
interviewer, sedang pihak kedua berfungsi sebagai pemberi informasi (Information
supplyer), interviewee, atau informan. Interviewer mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
meminta keterangan atau penjelasan, sambil menilai jawaban-jawabannya. Sekaligus ia
mengadakan paraphrase (menyatakan kembali isi jawaban interviewee dengan kata-kata
lain), mengingat-ingat dan mencatat jawaban-jawaban. Di samping itu juga menggali
keterangan-keterangan lebih lanjut dan berusaha melakukan “probing” (rangsangan,
dorongan) untuk memperoleh informasi lebih lengkap dan akurat.
Pihak interviewee diharap mau memberikan keterangan serta penjelasan, dan menjawab
semua pertanyaan yang diajukan kepadanya. Kadang kala bahkan membalas dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan pula. Hubungan antara interviewer dengan
interviewee itu disebut sebagai “a face to face non-reciprocal relation” (relasi muka
berhadapan muka yang tidak timbal balik). Maka interview ini dapat dipandang sebagai
metoda pengumpulan data dengan tanya jawab sepihak, yang dilakukan secara sistematis
dan berdasarkan tujuan research (Kartono, 1980).
Dengan demikian dapat disimpulkan wawancara (interview) survey merupakan
suatu kegiatan tanya jawab dengan tatap muka (face to face) antara pewawancara
(interviewer) dengan yang diwawancarai (interviewee), dengan tujuan untuk memperoleh
data/informasi tentang persepsi, opini, pendapat ataupun sikap dari yang diwawancarai
terkait dengan masalah yang diteliti.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
SARAN
DAFTAR PUSTAKA

https://medium.com/@afdanrojabi/teknik-wawancara-research-methodology-
7ebdb094b490

file:///C:/Users/DELL
%20INSPIRON/Downloads/WordDraftBookChapterMD6Agustus2018.pdf

https://kuliah-ikm.blogspot.com/2015/11/desain-penelitian-survei-makalah-dan.html