Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

BRONCHITIS PADA ANAK

Disusun oleh :

Nama : Syahreta Herawati Bawono

NIM : 108118056

Tgl. Pratik : 30 Juli – 3 Agustus 2020

Stase : Anak (praktek online)

PRODI S1 KEPERAWATAN
STIKES AL – IRSYAD AL – ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN AJARAN 2019/2020
BAB I
KONSEP KEBUTUHAN

A. Definisi
Bronkitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru).
Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna (Suryo,
2010). Bronkitis adalah infeksi pada bronkus yang berasal dari hidung dan tenggorokan,
bronkus merupakan suatu pipa sempit yang berawal pada trakea, yang menghubungkan
saluran pernafasan atas, hidung, tenggorokan dan sinus ke paru (Hidayat, 2008).
Bronkitis adalah suatu peradangan bronchioles, bronchus, dan trachea oleh berbagai
sebab. Bronkitis biasanya lebih sering disebabkan oleh virus seperti rhinovirus, Respiratory
Syncitial Virus (RSV), virus influenza, virus para influenza, dan Coxsackie virus. Bronkitis
adalah suatu peradangan pada bronchus yang disebabkan oleh berbagai macam
mikroorganisme baik virus, bakteri, maupun parasit. Ada 2 jenis Bronkitis yaitu bronchitis
akut dan kronik (Muttaqin, 2008).

B. Etiologi
1. Bronkitis Akut
Penyebab utama penyakit Bronkitis Akut adalah adalah virus.Sebagai contoh
Rhinovirus Sincytial Virus (RSV), Infulenza Virus, Para-influenza Virus, Adenovirus
dan Coxsakie Virus. Bronkitis akut dapat disebabkan karena non infeksi karena paparan
asap tembakau karena polutan pembersih rumah tangga dan asap. Pekerja yang terkena
paparan debu dan uap dapat juga menyebabkan bronkitis akut.Alergi, cuaca, polusi
udara dan infeksi saluran napas atas dapat memudahkan terjadinya bronkitis akut.

2. Bronkitis Kronik
Bronkitis akut dapat menyebabkan bronkitis kronik jika tidak mengalami
penyembuhan.Hal ini terjadi karena penebalan dan peradangan pada dinding bronkus
paru – paru yang sifatnya permanen. Disebut bronkitis kronis jika batuk terjadi selama
minimal 3 bulan dalam setahun di dua tahun berturut. Yang termasuk penyebab
bronkitis kronik adalah :
a. Spesifik:
1) Asma.
2) Infeksi kronik saluran napas bagian atas (misalnya sinobronkitis).
3) Infeksi, misalnya bertambahnya kontak dengan virus, infeksi mycoplasma,
hlamydia, pertusis, tuberkulosis, fungi/jamur.
4) Penyakit paru yang telah ada misalnya bronkietaksis.
5) Sindrom aspirasi.
6) Penekanan pada saluran napas .
7) Benda asing .
8) Kelainan jantung bawaan .
9) Kelainan sillia primer .
10) Defisiensi imunologis .
11) Kekurangan anfa-1-antitripsin .
12) Fibrosis kistik .
13) Psikis

b. Non-Spesifik
1) Perokok.
2) Polusi udara dan debu
3) Gas beracun di tempat kerja
4) Gastroesophageal reflux desease (GERD). GERD adalah asam lambung yang
naik kedalam esophagus dan beberapa tetes masuk ke saluran napas.GERD
sebabkan karena lemahnya katup lambung yang memisahkan antara lambung
dan esophagus.
(Raharjoe,2012)

C. Klasifikasi

Bronkhitis dapat diklasifikasikan sebagai :


1. Bronkhitis Akut
Bronkhitis akut pada bayi dan anak biasanya bersama juga dengan trakheitis, merupakan
penyakit infeksi saluran nafas akut (ISNA) bawah yang sering dijumpai.Penyebab utama
penyakit ini adalah virus.Batuk merupakan gejala yang menonjol dank arena batuk
berhubungan dengan ISNA atas.Berarti bahwa peradangan tersebut meliputi laring,
trachea dan bronkus.Gangguan ini sering juga disebut laringotrakeobronkhitis akut atau
croup dan sering mengenai anak sampai umur 3 tahun dengan gejala suara serak, stridor,
dan nafas berbunyi.

2. Bronkhitis Kronis atau Batuk Berulang


Belum ada persesuaian pendapat mengenai bronchitis kronik, yang ada ialah mengenai
batuk kronik dan atau berulang yang di singkat (BKB). BKB ialah keadaan klinis yang
disebabkan oleh berbagai penyebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang-
kurangnya 2 minggu berturut-turut dan atau berulang paling sedikit 3 kali dalam 3 bulan,
dengan atau tanpa disertai gejala respiratorik dan non respiratorik lainnya. Dengan
memakai batasan ini secara klinis jelas bahwa bronchitis kronik pada anak adalah batuk
kronik dan atau berulang (BKB) yang telah disingkirkan penyebab-penyebab BKB itu
misalnya asma atau infeksi kronik saluran napas dan sebagainya.

Walaupun belum ada keseragaman mengenai patologi dan patofisiologi bronchitis


kronik, tetapi kesimpulan akibat jangka panjang umumnya sama. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa bayi sampai anak umur 5 tahun yang menderita bronchitis kronik
akan mempunyai resiko lebih besar untuk menderita gangguan pada saluran napas kronik
setelah umur 20 tahun, terutama jika pasien tersebut merokok akan mempercepat
menurunnya fungsi paru. (Raharjo,2012)

D. Tanda dan Gejala


1. Tanda dan gejala pada kondisi bronchitis akut :
a) Batuk
b) Terdengar ronk
c) Suara yang berat dan kasar
d) Wheezing
e) Demam
f) Produksi sputum meningkat

2. Tanda dan gejala bronchitis kronis:


a) Batuk yang parah pada pagi hari dan pada kondisi lembab
b) Sering mengalami infeksi saluran nafas (seperti misalnya pilek atau flu) yang
dibarengi dengan batuk
c) Gejala bronchitis akut lebih dari 2-3 minggu
d) Demam tinggi
e) Sesak nafas jika saluran tersumbat
f) Produksi dahak bertambah banyak berwarna kuning atau hijau

E. Patofisiologi
Bronkitis biasanya didahului oleh suatu infeksi saluran nafas bagian atas oleh virus
dan infeksi bakteri sekunder oleh pneumonia atau hemophilus influenza. Adanya bahan –
bahan pencemar udara juga memperburuk keadaan penyakit begitu juga dengan
menghisap rokok. Anak menampilkan batuk – batuk yang sering, kering tidak produktif
dan dimulai berkembang berangsur – angsur mulai hari 3 – 4 setelah terjadinya rhinitis.
Penderita diganggu oleh suara – suara meniup selama bernafas (ronki) rasa sakit pada
dada dan kadang – kadang terdapat nafas pendek. Batuk – batuk proksimal dan
penyumbatan oleh sekreasi kadang – kadang berkaitan dengan terjadinya muntah –
muntah. Dalam beberapa hari, batuk tersebut akan produktif dan dahak akan dikeluarkan
penderita dari jernih dan bernanah. Dalam 5 – 10 hari lender lebih encer dan berangsur –
angsur menghilang. Temuan – temuan fisik berbeda beda sesuai dengan usia penderita
serta tingkat penyakit. Pada mulanya anak tidak demam atau demam dengan suhu rendah
serta terdapat tanda – tanda nasofaringitis. Infeksi konjungtiva dan rinitis. Kemudian
auskultasi akan mengungkapkan adanya suara pernafasan bernada tinggi, menyerupai
bunyi – bunyi pernafasan pada penyakit asma. Pada anak – anak dengan malnutrisi atau
keadaan kesehatan yang buruk, maka otitis, sinusitis dan pneumonia merupakan temuan
yang sering dijumpai. (Ngastiyah, 2003)
F. Phatways

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Bayangan di paru-paru pada sinar X dada selama infeksi
2. Tes fungsi paru-paru menunjukan :
a) Forced Vital Capacity (FCV) berubah karena diperlukan lebih banyak waktu untuk
menghirup udara setelah inhalasi maksimal.
b) FEV1 turun karena diperlukan lebih banyak waktu untuk ekshalasi.
c) Residial Volume (RV) naik karena udara terperangkap.
3. Oksigen turun dan karbondioksida naik di arterial blood gas.

(Mary DiGiulio, dkk. 2014).

H. Komplikasi
Komplikasi bronkitis yang diderita dapat terjadi karena terlambatnya penanganan bronchitis
tersebut. Hal ini tidak lagi jarang ditemukan. Bahkan cenderung banyak masyarakat yang
menyepelekan penyakit bronkitis dan membuatnya menjadi semakin parah dan terjadi
komplikasi.
1. Pneumonia
Pneumonia adalah penyakit yang pasti muncul setelah terjadi komplikasi pada
penyakit bronkitis anda. Tidak dapat dipungkiri penyakit ini akan menyebabkan keadaan
paru menjadi semakin parah. Khususnya pneumonia ini akan terjdi pada pasien bronkitis
yang lanjut usia. Tidak jarang anda kemudian membutuhkan penanganan sesak nafas
mendadak pada kasus kasus pneumonia.
2. Otitis Media
Otitis media adalah penyakit infeksi yang terjadi di bagian telinga. Keadaan ini
ternyata dapat terjadi pada penderita bronkitis yang mengalami komplikasi. Pasalnya,
saluran pernafasan memang memiliki hubungan dengan telinga.
3. Efusi Pleura
Efusi pleura merupakan kondisi yang terjadi akibat adanya penumpukan cairan di
antara lapisan pleura  paru paru anda. Pleura atau membran paru paru ini tidak boleh
memiliki cairan berlebih. Karena akan membuat pernafasan menjadi tidak normal.
4. Bronkitis Kronis
Bronkitis kronis adalah penyakit bronkitis yang terjadi menahun. Keadaan ini juga
merupakan akibat dari komplikasi penyakit bronkitis akut yang terjadi dalam waktu hari
atau minggu saja. Jika menderita bronkitis kronis, maka biasanya perawatan
pemulihannya pun akan semakin rumit dilakukan.
5. Sinusitis
Sinusitis adalah penyakit yang dapat terjadi pada anda yang mengidap bronkitis.
Alasannya adalah karena sinusitis ini merupakan peradangan yang terjadi pada rongga
hidung anda. Jadi anda akan mengalami banyak masalah kesehatan yang berhubungan
dengan sinusitis.
6. Pleuritis
Pleuritis adalah penyakit radang pada pleura anda. Pleura adalah lapisan tipis yang
membungkus paru paru anda. Jika terjadi pada penderita bronkitis, maka anda akan
mengalami rasa sakit atau nyeri di dada. Keadaan ini akan menyebar hingga menjadi
penyakit pleuritis pada anda. Oleh sebab itu, ketahuilah bagaimana cara mencegah
pleuritis terjadi akibat komplikasi bronkitis ini.
7. Infeksi Pernafasan
Infeksi pernafasan sangat mungkin terjadi pada penderita bronkitis. Terutama jika
bronkitis sudah semakin menyebar dan menyebabkan komplikasi anda. Oleh sebab itu,
anda perlu mencegah penyebaran penyakit bronkitis sesegara mungkin sebelum semakin
parah. Jika perlu anda dapat menggunakan pengobatan alami infeksi paru yang dipercaya
aman dalam masyarakat.
8. Atelektasis
Atelektasis adalah penyakit atau gangguan paru paru yang menunjukkan gejala
pengerutan sebagian atau seluruh paru paru anda. Hal ini akibat terjadinya penyumbatan
pada saluran pernafasan anda. Keadaan ini sangat mungkin terjadi pada anda yang
menderita bronkitis karena gangguan pada saluran pernafasan anda.
9. Gagal Nafas
Gagal nafas adalah penyakit paru paru yang paling berat yang dapat terjadi pada
penderita bronkitis. Keadaan ini sesuai namanya menunjukkan bahwa terjadi masalah
pernafasan bahkan menyebabkan penderita tidak lagi dapat bernafas dengan normal.
10. Bronkiektasis
Bronkiektasis adalah kerusakan paru paru yang disebabkan oleh dilatasi paru paru
yang terjadi tidak normal. Paru paru menjadi melebar dan saluran pernafasan melebar
dan menyebabkan produksi lendir di paru par uterus meningkat.

I. Penatalaksanaan Medis
Bronchitis akut diobati dalam jangka pendek dengan pengobatan simtomatik dan
antibiotic ketika ada infeksi bakteri. Bronchitis kronis diobati dengan kombinasi medikasi
untuk menjaga jalur udara tetap terbuka, mengurangi inflamasi di dalam jalur udara, dan
mencegah komplikasi atau gejala sakit mendadak.
1. Memberika Beta2-agonist yang dihirup atau nebulizier untuk memperbesar bronkus :
a) Terbutaline, albuterol, levallbuterol
b) Formoterol, salmeterol
2. Memberikan anticholinergic agar otot bronchial yang lembut bias rileks :
a) Ipratropium, tiotropium inhaler
3. Memberikan steroid untuk mengurangi inflamasi pada jalur udara :
a) Hydrocortisone, methylprednisolone secara sistematis
b) Beclomethasone, triamcinolone, fluticasone, budesonide, flunisoslide inhalers
c) Prednisolone, prednisone secara oral
4. Memberikan methylxanthines untuk meningkatkan bronkodilasi :
a) Aminophylline
b) Theophylline (Theo-Dur)
5. Memberikan diuretic untuk mengurangi retensi cairan pada pasien dengan gagal jantung:
a) Furosemide, bumetanide
6. Memberikan ekspektoran untuk membantu mengencerkan sekresi:
a) Guaifepsin
7. Memberikan antibiotic pada kekambuhan akut dari bronchitis kronis :
a) Dipilih berdasar kultur dan sensitivitas atau diberikan secara empiric
8. Memberikan antacid, H2 bloker, atau penghalang pompa proton untuk menurunkan
jumlah asam dalam perut, mengurangi kemungkinan pembentukan tukak/luka karena
stress akibat penyakit atau efek medikasi.
a) Antacid : aluminum hydroxide/magnesium hydroxide, calcium carbonat
b) H2 blokers : ranitidine, famotidine, nizatidine, cimetidine
c) Penghalang pompa protons : omeprazole, lansoprazole, esomeprazole, rabeprazole,
pantoprazole.
9. Memberikan vaksin untuk menurunkan kesempatan infeksi :
a) Influenza
b) Pneumonia
10. Oksigen : 2 liter per menit via nasal canula untuk membantu kebutuhan tubuh; laju aliran
rendah membantu mengurangi dyspnea sementara menghindari CO2
11. Meningkatkan protein, kalori, dan vitamin C dalam diet untuk memenuhi kebutuhan
tubuh.
12. Memberikan katup flutter pada spignometer insentif untuk mendorong batuk dan
mengeluarkan lendir.
13. Nocturnal negative pressure ventilation digunakan untuk pasien hypercapnic (tingkat
CO2 naik).
BAB II

RENCANA ASUHAN KLIEN

A. Pengkajian

1. Biodata pasien (nama; tempat, tanggal lahir; usia; jenis kelamin; nama ayah/ibu;
pendidikan ayah/ibu; agama; suku bangsa; alamat; nomor register; tanggal MRS;
tanggal pengkajian; sumber informasi; diagnosa medis).
2. Keluhan utama :
Keluhan utama yang biasa klien rasakan adalah batuk dan mengeluarkan
dahak.
3. Riwayat penyakit dahulu.:
Infeksi saluran pernapasan sebelumnya/batuk, pilek, takipnea, demam.
4. Riwayat tumbuh kembang.
5. Orang tua menceritakan tentang bagaimana dia bersekolah, tentang prestasinya.
6. Lingkungan, kopping stress :
Yang klien lakukan untuk mengatasi tuntutan – tuntutan yang penuh tekanan
atau yang membangkitkan emosi.
7. Orang tua menceritakan tentang bagaimana lingkungan sekitar anak tersebut tinggal.
Dan orang tua juga menjelaskan bagaimana anak tersebut dapat mengatasi
permasalahan.

B. Pemeriksaan fisik
Head to toe
1. Inspeksi
a) Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu)
b) Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding)
c) Penggunaan otot bantu napas
d) Hipertropi otot bantu napas
e) Pelebaran sela iga
f) Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis leher dan
edema tungkai
g) Penampilan pink puffer (Gambaran yang khas pada emfisema,penderita
kurus, kulit kemerahan dan pernapasan pursed - lipsbreathing) atau blue
bloater (Gambaran khas pada bronkitis kronik,penderita gemuk sianosis,
terdapat edema tungkai dan ronki basah dibasal paru, sianosis sentral dan
perifer)

2. Palpasi
Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar 

3. Perkusi
Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil, letak diafragma rendah,
hepar terdorong ke bawah

4. Auskultasi
1) Suara napas vesikuler normal, atau melemah
2) terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau padaekspirasi
paksa
3) ekspirasi memanjang
4) bunyi jantung terdengar jauh

C. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.
c. Hipertermia berhubungan dengan inflamasi

D. Diagnosa keperawatan yang sering muncul


1. Diagnosa 1 : ketidakefektifan bersihan jalan nafas
a. Definisi :
Bersihan Jalan nafas tidak efektif merupakan ketidak mampuan dalam
membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk menjaga
bersihan jalan nafas (Nanda 2005-2006).
b. Batasan karakteristik :

1) Tidak ada batuk 7) Penuruna bunyi


2) Suara nafas nafas
tambahan 8) Dispnea
3) Perubahan pola 9) Sputum dalam
nafas jumlah yang
4) Perubahan frekuensi berlebihan
nafas 10) Batuk yang tidak
5) Sianosis efektif
6) Kesulitan 11) Ortopnea
verbalisasi 12) Gelisah
13) Mata terbuka lebar

c. Faktor yang berhubungan :


Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan
produksi sekret

2. Diagnosa 2 : Ketidakefektifan pola nafas


a. Definisi :
Ketidakefektifan pola napas adalah inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak
memberi ventilasi yang adekuat (Wilkinson, 2006). Pola nafas tidak efektif
adalah ventilasi atau pertukaran udara inspirasi dan atau ekspirasi tidak
adekuat. (Santoso, Budi.2006)
b. Batasan Karakteristik :

1) Pola nafas abnormal 6) Penurunan ventilasi


2) Perubahan ekskursi semenit
dada 7) Penurunan kapasitas
3) Bradipnea vital
4) Penurunan tekanan 8) Dispnea
ekspirasi 9) Peningkatan
5) Penurunan tekanan diameter anterior –
inspirasi posterior
10) Pernafasan cuping 14) Takipnea
hidung 15) Penggunaan otot
11) Ortopnea bantu pernafasan
12) Fase ekspirasi 16) Penggunaan posisi
memanjang tiga – titik
13) Pernafasan bibir

c) Faktor yang berhubungan :


Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.

3. Diagnosa 3 : Hipertermia
a. Definisi :
Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal
b. Batasan Karakteristik :
1) Postur abnormal
2) Apnea
3) Koma
4) Kulit kemerahan
5) Hipotensi
6) Bayi tidak dapat mempertahankan menyusu
7) Gelisah
8) Letargi
9) Kejang
10) Kulit terasa hangat
11) Stupor
12) Takikardia
13) Takipnea
14) Vasodilatasi
c. Faktor yang berhubungan :
Hipertermia berhubungan dengan inflamasi

E. Perencanaan (berdasarkan dua diagnosa pada B)


1. Diagnosa 1 : ketidakefektifan bersihan jalan nafas
a. Tujuan : bersihan jalan nafas efektif
Kriteria hasil :
a) Menunjukan pembersihan jalan napas yang efektif , yang dibuktikan oleh
pencegahan aspirasi,; status pernapasan : kepatenan jalan napas,; dan status
pernapasan: ventilasi tidak terganggu.
b) Menunjukan status pernapasan : kepatenan jalan napas , yang dibuktikan
oleh indicator: Kemudahan bernapas, frekuensi dan irama pernapasan baik,
pergerakan sputum keluar dari jalan napas, pergerakan sumbatan keluar
dari jalan napas

b. Intervensi keperawatan dan rasional.


1. Pemantauan pernapasan pasien , mengumpulkan dan menganalisis data
pasien ( tanda vital )
Rasional : Untuk memastikan kepatenan jalan napas dan pertukaran gas
yang adekuat
2. Manajemen jalan napas
Rasional : memfasilitasi kepatenan jalan napas
3. Berikan udara/oksigen
Rasional : membantu jalan napas
4. Pengaturan posisi, mengubah posisi pasien
Rasional : untuk memfasilitasi kesejahteraan fisiologis dan psikososial, serta
memudahkan mengeluarkan skeret
5. Lakukan dan bantu dalam terapi nebulizer
Rasional : mengencerkan secret , mempermudah pernapasan
6. Instrusikan kepada pasien tentang batuk dan teknik nafas dalam
Rasional : memudahkan pengeluaran sekret
7. Pengisapan jalan napas ( suction )
Rasional : untuk menghilangkan secret

2. Diagnosa 2 : Ketidakefektifan pola nafas


a. Tujuan : Memperlancar pola jalan nafas
Kriteria Hasil :
1. Menunjukan pola pernapasan efektif , yang dibuktikan oleh status
pernapasan ; status pentilasi pernapasan tidak terganggu , kepatenan jalan
napas, tidak ada penyimpangan tanda vital dari rentang normal.
2. Perubahan status pernapasan : ventilasi tidak terganggu yang dibuktikan
oleh :
a) kedalaman inspirasi dan kemudahan nafas
b) ekspansi dada simetris
Menunjukan tidak ada gangguan status pernapasan ;suara napas
tambahan, pendek napas

b.Intervensi keperawatan dan rasional


1. Manajemen jalan napas
Rasional : memfasilitasi kepatenan jalan napas
2. Pemantauan tanda vital
Rasional : untuk menentukan dan mencegah komplikasi
3. Pantau pola pernapasan , auskultasi suara napas
Rasional : mengetahui tindakan selanjutnya yang akan dilakukan serta
mengetahui adanya suara tambahan
4. Ajarkan teknik relaksasi
Rasional : untuk memperbaiki pola pernapasan
5. Ajarkan teknik batuk efektif
Rasional : mengeluarkan sekret
6. Berikan terapi nebulizer ultrasonik dan udara atau oksigen
Rasional : untuk membantu pola pernapasan
7. Atur posisi pasien ( fowler)
Rasional : mengoptimalkan pernapasan

3. Diagnosa 3 : Hipertermia
a. Tujuan : Mempertahankan suhu tubuh normal
Kriteria Hasil :
1. Suhu anak dibawah 370C

b.Intervensi keperawatan dan rasional


1. Pertahankan lingkungan yang dingin
Rasional : lingkungan dingin akan menghilangkan suhu tubuh melalui
panas pancaran
2. Berikan antipiretik
Rasional : pemberian obat antipiretik biasanya mengurangi demam secara
efektif
3. Pantau suhu tubuh anak setiap 1 – 2 jam
Rasional : peningkatan suhu tubuh secara tiba – tiba dapat mengakibatkan
kejang
4. Berikan kompres basah dengan suhu 370C bila perlu, untuk mengurangi
demam
Rasional : kompres hangat basah akan mendinginkan permukaan tubuh
dengan cara konduksi

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, E Marlyn, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta: EGC

Dokterparuparu.com diaakses pada jumat, 24 agustus 2018

Donna Jackson & Mary Digiulio. Editor Khudazi Aulawi (2014). Keperawatan Medikal
Bedah
Hidayat, A. Aziz Alimul, 2008, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta : Salemba
Medika.

Muttaqin, A. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistim Pernafasan,
Jakarta, Salemba Medika

Wilkinson,Judith M.2011.Buku Saku Dignosis Keperawatan, Diagnosis NANDA,Intervensi


NIC ,Kreteria Hasil NOC Edisi 9.Jakarta: EGC