Anda di halaman 1dari 15

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG 4 LANTAI

Oleh : Ringgo Trihat Musti 1830111038

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Manfaat Penulisan
1.5 Dasar Perencanaan
1.6 Rencana Desain

BAB II DESAIN STRUKTUR ATAP


2.1 Perhitungan Gording
2.2 Perencanaan Rangka Atap Kuda-Kuda

BAB III DESAIN BALOK ATAS


3.1 Analisa struktur balok
3.2 Desain Balok
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Perencanaan struktur bangunan adalah salah satu langkah kerja yang sangat
penting dalam dunia kontruksi, langkah ini akan mengefisienkan waktu, biaya,
dan tenaga untuk mendapatkan kualitas bangunan yang semaksimal mungkin.
Dalam merencanakan sebuah bangunan tentu erat kaitannya dengan beban
bangunan yang harus di topang oleh sebuah struktur, karena memang langkah
analisa struktur bangunan dimulai dari pembebanan yang paling atas dari
sebuah bangunan. Selain itu untuk perencanaan sebuah kontruksi juga harus
mengacu ke dalam standar yang sudah di tetapkan oleh pemerintah.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang permasalahan diatas, dalam pembahasan ini diangkat


permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana cara merencanakan struktur bangunan sesuai standar yang baik dan
benar?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ini, meliputi:

1. Membuat perencanaan struktur yang paling efisien.


2. Mengidentifikasi bahan-bahan yang diperlukan untuk membangunan
bangunan.

1.4 Manfaat Penulisan

1. Dapat menambah khasana ilmu pengetahuan khususnya tentang perencanaan


struktur bangunan.

1.5 Dasar Perencanaan

Dalam perencanaan ini pedoman yang digunakan untuk merencanakan


struktur gedung yaitu:
1. Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung SNI-1727-
1987, diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional, Jakarta
2. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung SNI-1729-
2002, diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional, Jakarta
3. Tabel Profil Konstruksi Baja.
4. Mutu beton f’c= 33 MPa
5. Mutu baja fy= 400 MPa
1.6 Rencana Desain

1.6.1 Data Rencana Atap

Gambar 1.1 Desain Kuda-Kuda

Gambar 1.2 Desain Rencana Struktur

Data Konstruksi :

a. Bentang kuda-kuda : 19.5 m

b. Jarak antar kuda-kuda : 1.3 m

c. Jarak antar gording : 2.55 m

d. Sudut kemiringan atap : 17 ̊

e. Beban atap (metal Zincalume) : 4,86 kg/m2


Insulasi Atap : 0,43 kg/m2
f. Beban angin : 25 kg/m2

g. Beban air hujan : 20 kg/m2

h. Beban hidup bekerja : 100 kg

i. Modulus Elastisitas (Es) : 2,0 x 106 Kg/cm2

j. Tegangan ijin baja (BJ-37)


Tegangan leleh (Fy) : 550 N/mm2 MPa
Tegangan Putus (Fu) : 550 N/mm2 MPa

k. Sambungan : Baut

l. Profil Lip Ligh Channels 100 x 50 x 20 x 1.6 Data Profil


W = 2.88 kg/m ix = 3.99 cm
Zx = 11.7 cm3 iy = 1.95 cm
Zy = 4.47 cm3
Ix = 58.4 cm4
Iy = 14 cm4
A = 3.672 cm2

1.6.2 Data Rencana Balok


Untuk menentukan desain balok yang akan kita analisis, pertama-
tama kita tentukan desain kasar dimensi balok sebagai berikut:
𝟏
1. Tinggi balok induk : 𝟏𝟐 x Bentang : 60 cm
𝟏
2. Lebar balok induk : 𝟐 x Tinggi balok induk : 30 cm
𝟏
3. Tinggi balok anak : x Bentang : 50 cm
𝟏𝟓

𝟏
4. Lebar balok anak : 𝟐 x Tinggi balok anak : 25 cm

1.6.3 Data Rencana Kolom


Untuk menentukan desain kolom yang akan kita analisis, pertama-
tama kita tentukan desain kasar dimensi kolom sebagai berikut:

1. Jika kita menggunakan kolom jenis kubus maka lebar


penampang kolom : lebar balok + (2 + 5 cm) : 40 cm
(40x40 cm)

2. Jika menggunakan kolom pipih (anggap lebar balok 30cm) maka


40x40=30xY (Y= 55), maka dimensi kolom pipih adalah
55x30 cm

1.6.4 Data Rencana Pelat Lantai


Untuk menentukan desain kolom yang akan kita analisis, pertama-
tama kita tentukan desain kasar dimensi kolom sebagai berikut:
𝟏
1. Tebal pelat lantai : 𝟒𝟎Bentang : 20 cm
BAB II
DESAIN STRUKTUR ATAP

2.1. Perhitungan Gording

2.1.1 Analisa Beban

Beban Mati (D)


Berat Gording = 2.88 kg/m
Berat penutup atap = 4.87x2.55 =12.4186 kg/m
Berat pengaku (bracing) = 10% x berat = 1,24186 kg/m
Berat Total (qD) = 16,54046 kg/m

Beban Angin (W)


Beban Angin (qa) = 25 Kg/m2
Koefisien angin tekan (Ct) = 0,02 x α - 0,4 = -0,136
Koefisien angin hisap (Ch) = -0,40
Angin Tekan (Wt) = 25 x -0,112 x 2.55 m = -8.67 Kg/m
Angin Hisap (Wh) = 25 x -0,4 x 2.55 m = -25.5 Kg/m
2.1.2 Analisa Statika
Beban Mati (D)

qx 
=14
1141

q
qy

Gambar 2.1 Beban Mati Gording

Beban tepi (Bt1) = 10.3311 Kg/m


Beban tengah (Bt2) = 16.56046 Kg/m

Beban diuraikan menjadi :

Bt1x = 10.3311 x sin 170 = 3.020521319 Kg/m

Bt1y = 10.3311 x cos 170 = 9.879680064 Kg/m


Bt2x = 16.56046 x sin 170 = 4.841809921 Kg/m

Bt2y = 16.56046 x cos 170 = 15.83684666 Kg/m

(catatan: Beban yang digunakan untuk kombinasi pembebanan nantinya adalah


beban yang full, sedangkan beban tepi akan digunakan untuk perhitungan
SAP2000)

Sehingga Momen (M) yang bekerja pada gording :

\
MBt1x = 1/8 x Bt1 x (1.3)2 = 0.638085129 Kgm

MBt1y = 1/8 x Bt1 x (1.3)2 = 2.087082414 Kgm


MBt2x = 1/8 x Bt2 x (1.3)2 = 1.022832346 Kgm
MBt2y = 1/8 x Bt2 x (1.3)2 = 3.345533857 Kgm

Beban Hidup (L)

Px

P
Py

Gambar 2.2 Beban Hidup Gording

Beban pekerja (P) = 100 Kg

Beban diuraikan menjadi :

Px = 100 x sin 170 = 29.23717047 Kg

Py = 100 x cos 170 = 95.6304756 Kg

Sehingga Momen (M) yang bekerja pada gording :

Mx = 1/4 x Px x (1.3) = 9.502080403 Kgm

My = 1/4 x Py x (1.3) = 31.07990457 Kgm


Beban Angin (W)
a. Angin Tekan (Wt)
(Wt) = -8.67 Kg/m
Wtx = -2.53486268
Wty = -8.291162234
Sehingga Momen ultimate (Mu) yang bekerja pada gording :
Mu =1/8 xWt x 1.32 = -1.8315375 Kgm
b. Angin Hisap (Wh)
(Wh) = -25.1 Kg/m
Whx = -7.4554 Kg/m
Why = -24.385 Kg/m
Sehingga Momen ultimate (Mu) yang bekerja pada gording :
Mu =1/8 xWh x 1.32 = -5.386875 Kgm
Momen maksimum akibat beban angin dalam perhitungan diatas diambil
harga W terbesar. Diasumsikan tidak terjadi gaya tekan sumbu X relatif
terhadap gording karena arah beban angin tegak lurus bidang atap .

2.1.3 Kombinasi Pembebanan

Beban (kgm) Beban Angin (kgm)


M
Mati Hidup Tekan Hisap
Mx 1.0228 9.5020 0 0
32346 80403
My 3.3455 31.079 - -5.386875
33857 90457 1.8315375
Tabel 2.1 Momen Gording Arah x dan y

Menurut pasal 6.6.2 SNI SNI 03-1729-2002 :


Kombinasi Arah X Arah Y
Pembebanan (kgcm) (kgcm)
Mu = 1,4 .D 1.431965284 4.6837474
Mu = 1.2D+1.6La 16.43072746 53.7424879
Mu = 1,2 .D +
14.40283732 47.1095582
1,6.La+0,8wt
Mu = 1,2 .D +
8.43845454 27.6009411
1,6.La+0,8.Wh
Mu = 1,2 .D +
2.683117533 8.77608201
1,3.Wt+0,5.La
Mu = 1,2 .D +
0.442943133 1.44880171
1,3.Wh+0,5.La
Mu = 0,9 .D + -
-2.374772373
1,3.Wt 7.76753043
Mu = 0,9 .D + -
-1.140249648
1,3.Wh 3.72958855
Tabel 2.2 Kombinasi Pembebanan
Dari kombinasi pembebanan diatas diambil nilai maksimum:

Mux = 1643.072746 kgcm


Muy = 5374.248794 kgcm

2.1.4 Perhitungan Dimensi

Direncanakan memakai profil C 100 x 50 x 20 x 1.6


Profil Lip Channels Data Profil

Gambar 2.3 Profil C 100 x 50 x 20 x 1.6

Data Profil :

W= 2.88 kg/m Ix= 58.4 cm4 ix= 3.99 cm

Zx= 11.7 cm3 Iy= 14 cm4 iy= 1,95 cm

Zy= 4.47 cm3 A= 3.672 cm2

Dengan:

2.1.5 Kontrol terhadap tegangan maksimum

Mx = 1643.072746 kgcm
My = 5374.248794 kgcm

2
M  M 
2

σ = x    y 
 Z x   Z y 


2 2
 1643.08   5374.3 
=     
 11.7   4.47 

= 1210.467 kg/cm2 < σ ijin = 1600 kg/cm2


2.1.6 Kontrol Terhadap Lendutan

Syarat:
𝐿
Fijin = 180
= 0.722222222 cm
5.qx.𝐿4 Px.𝐿3
Fx = 384.E.Iy + 48.E.Iy

=0.054223956 cm

5.qy.𝐿4 Py.𝐿3
Fy =384.E.Iy + 48.E.Ix
= 0.042517465
F = √𝐹𝑥 2 + 𝐹𝑦 2
= 0.068905531 cm
F < Fijin (aman)
2.2 Perencanaan Rangka Atap Kuda-Kuda

2.2.1 Pendimesian Kuda-kuda

Rangka kuda-kuda direncanakn menggunakan profil baja ringan


C 150 x 50 x 20 x 3,2 dan profil C 100 x 50 x 20 x 1.6
Data-data profil:
C 150 x 50 x 20 x 3,2 :
W= 6,76 kg/m Ix= 280 cm4 ix= 5,71 cm
3 4
Zx= 37,4 cm Iy= 28,3 cm iy= 1,81 cm
Zy= 8,19 cm3 A= 8,607 cm2

C 100 x 50 x 20 x 1.6 :
W= 2.88 kg/m Ix= 58.4 cm4 ix= 3.99 cm

Zx= 11.7 cm3 Iy= 14 cm4 iy= 1,95 cm

Zy= 4.47 cm3 A= 3.672 cm2

2.2.2 Analisa Beban Kuda-Kuda

Beban Mati (D)

Berat Sendiri Gording = 2.88 kg/m


Penutup Atap = 7.34 kg/m
Jarak Kuda-kuda = 1.3 m
Maka:
Beban tepi x L = 13.43043 Kg(Btt1)
Beban tengah (Bt2) x L = 21.528598 Kg (Btt2)
Berat Gording x L = 3.74 Kg (Bg)
Input beban mati dapat dilakukan dengan cara Assign-Frame Joint load
kemudian pada Load Pattern Name pilih Dead, isikan jumlah beban.
Beban dapat digambarkan sebagai berikut:
Beban Mati
Btt2
Btt2 Btt2
Btt2 Btt2
Btt2 Btt2
Btt1 Btt1

Bg Bg Bg Bg Bg Bg Bg

Gambar 2.4 Input Beban Mati pada Atap

Beban Hidup (L)


Berat pekerja (Bp) = 100 Kg
Input beban mati dapat dilakukan dengan cara Assign-Frame Joint load
kemudian pada Load Pattern Name pilih Live, isikan jumlah beban

Beban Hidup
Bp
Bp Bp
Bp Bp
Bp Bp
Bp Bp

Bp Bp Bp Bp Bp Bp Bp

Gambar 2.5 Input Beban Hidup pada Atap


Beban Angin (W)
Wt = -8.67 Kg/m Wh = -25.1 Kg/m
Wtx = -2.53486268 Whx = -7.4554 Kg/m
Wty = -8.291162234 Why = -24.385 Kg/m
Beban Angin

1
2 Whx- 21 Wtx

Wty Why
1
Wtx+ 21 Whx
Wty 2
Why
Wty Wtx Whx Why
1 Wtx Whx 1
2 Wty 2 Why
Wtx Whx
1 1
2 Wtx 2 Whx

Gambar 2.6 Input Beban Angin pada Atap


Kombinasi Pembebanan
Dari hasil kombinasi pembebanan menggunakan aplikasi SAP 2000 didapatkan
Mu= 104.53 Kg.m.

Mu = 1,4D
Mu = 1.2D+1.6L
Mu = 1,2D + 1,6L+0,8Wh
Mu = 1,2D + 1,3W+0,5L
Mu = 0,9D + 1,3W

Tabel 2.3 Kombinasi Pembebanan

2.2.3 Analisis Struktur

Gambar 2.7 Output dari proses Run Analysis

Gambar 2.7 Nilai Rasio Tegangan Elemen


Gambar 2.8 Besar Gaya Tumpuan Akibat Beban

2.3 Hasil Analisa

Dari Analisa gording dan kuda-kuda diatas, diketahui bahwa penggunaan profil baja
ringan untuk struktur rangka atap dinyatakan aman dengan dibuktikan oleh kontrol
tegangan gording, kontrol lendutan gording, dan nilai rasio tegangan yang lebih
kecil dari 1. Serta didapatkan hasil Mmaks= 104.53 Kg.m, Vsendi= 1621.59 Kg,
Hsendi=98 Kg, dan Vrol=1607.56 Kg.
Data hasil Analisa struktur
Hsendi =98 Kg Kg
Vsendi =1621.59 Kg
Vrol =1607,56 Kg
Mmaks =104.53 Kg.m
Tabel 2.9 Data hasil Analisa struktur

BAB III
DESAIN BALOK ATAS

3.1 Analisa struktur balok

Dari hasil analisa struktur atap pada tabel 2.9 didapatkan reaksi tiap-tiap
tumpuan baik itu untuk sendi jepit atau pun sendi roll, maka pembebanan dari balok
atas ini digunakan besaran tersebut hanya saja dengan arah yang berlawanan dengan
reaksi tumpuan.

Gambar 3.1 Pembebanan Sendi Gambar 3.2 Pembebanan Roll

Untuk mendesain balok tersebut, langkah awal nya adalah menentukan desain kasar
rencana. selanjutnya adalah memasukan data-data tersebut kedalam SAP2000.
3.1.1 Analisa dimensi balok

Langkah analisa struktur:


a. Gambar desain balok atas seperti dibawah ini.

Gambar 3.3 Desain Struktur Balok


b. Define material dan section properties seperti seperti di point 1.6.2 dengan
mutu beton f’c= 33 MPa.
c. Masukan pembebanan vertikal dan horizontal seperti gambar 3.1 dan 3,2 di
setiap 1.3 m.
d. Run analisis.
e. Cek kemanan struktur.
f. Untuk balok berdimensi 60x30 cm dalam struktur ini ternyata terlalu boros
karena indikatornya berwarna abu-abu, sehingga harus diperkecil kembali.
Disini penulis akan menggunakan beton ukuran 30 x 15 cm.

Gambar 3.4 Pembebanan Balok Dimensi 60x30 cm

g. Setelah balok 30x15 dinayatakan aman maka hitung secara manual


kebutuhan tulangan dalam balok tersebut.

3.1.2 Analisa Penulangan Balok

Dalam analisa penulangan ini penulis menggunakan tulangan tunggal untuk


balok ini, sehingga langkah pengerjaan nya akan seperti berikut.

0,05
a. Karena f’c ≥ 30 maka 𝛽1 = 0.85 − (𝑓 ′ 𝑐 − 30) = 0.83
7
0.85𝑓′ 𝑐𝛽1𝑏𝑑 600
b. Mencari rasio penulangan balance 𝐴𝑠(𝑏𝑎𝑙) = 𝑓𝑦
(600+𝑓𝑦) = 15.7 𝑐𝑚2
c. Maka dibutuhkan 6 buah tulangan ulir berdiameter 19 mm
3.2 Desain Balok

Dari hasil analisa struktur menggunakan aplikasi SAP diatas dan perhitungan
manual maka didapatkan desain rencana balok seperti gambar dibawah ini.

Gambar 3.5 Desain Rencana Balok Atas

Anda mungkin juga menyukai