Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH GANGGUAN DALAM PERKEMBANGAN JIWA

KEAGAMAAN

OLEH : KELOMPOK 10

1. SUFRIATI (190402096)

2. ADINDA THALIA SALSABILA NASUTION (190402041)

DOSEN PEMBIMBING : HENDRI, M.Si

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI


PRODI BIMBINGAN KONSLING ISLAM
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua.
Dan atas ridha Allah kami bisa menyelesaikan tugas mata kuliah “PSIKOLOGI AGAMA”.
Shalawat beserta salam kita kirimkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan izin Allah Beliau
dapat membawa kita dari zaman jahiliyah ke zaman islamiyah yang penuh dengan kedamaian dan
ketentraman.
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang “GANGGUAN DALAM
PERKEMBANGAN JIWA KEAGAMAAN.Walaupun penyusunan makalah ini sudah diusahakan
secara maksimal, namun penulis menyadari bahwa dalam makalah ini banyak terdapat kekurangan.
Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun. Dan penulis berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.

Banda Aceh,20 maret 2020

penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara pengetahuan agama, perasaan
agama serta tindak keagamaan dalam diri seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa sikap keagamaan
menyangkut atau berhubungan erat dengan gejala kejiwaan.
Pada garis besarnya teori mengungkapkan bahwa sumber jiwa keagamaan berasal dari faktor
intern dan dari faktor ekstern manusia. Pendapat pertama menyatakan bahwa manusia adalah homo
religius (makhluk beragama), karena manusia sudah memiliki potensi untuk beragama. Potensi
tersebut bersumber dari faktor intern manusia yang termuat dalam aspek kejiwaan manusia seperti
naluri, akal, perasaan maupun kehendak dan sebagainya. Namun, pendukung teori ini masih berbeda
pendapat mengenai faktor mana yang paling dominan.
Sebaliknya teori kedua menyatakan bahwa jiwa keagamaan manusia bersumber dari faktor
ekstern. Manusia terdorong untuk beragama karena pengaruh faktor luar dirinya, seperti rasa takut,
rasa ketergantungan ataupun rasa bersalah (sense of guilt). Faktor-faktor inilah yang menurut
pendukungteori tersebut kemudian mendorong manusia menciptakan suatu tata cara pemujaan dan
dikenal dengan nama agama.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian gangguan?
2. Apa saja faktor yang menyebabkan gangguan jiwa?
3. Bagaimana cara mengobati gangguan jiwa?

C.TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian gangguan.
2. Untuk mengetahui faktor penyebab gangguan jiwa.
3. Untuk mengetahui cara mengobati gangguan jiwa.
BAB II

PENDAHULUAN

A.    Gangguan dalam perkembangan jiwa keagamaan

Gangguan dalam perkembangan keagamaan hal yang sering terjadi terhadap jiwa diberbagai
kalangan para pemeluk agama karena agama itu sendiri berawal dari pemikiran manusia
pemeluknya yang mempercayainya. Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gangguan dalam
perkembangan jiwa keagamaan ada baiknya penulis memaparkan kata perkata yang akan dibahas.
Gangguan menurut bahasa adalah sebuah gejala atau callange, tantangan, dan masalah.
Perkembangan adalah suatu perubahan atau proses menuju kemajuan dari keterpurukan kepada
yang lebih baik. Sedangkan jiwa adalah ruh yang berada dalam tubuh makhluk hidup. Mengenai
tentang ruh ini biasa di sebut dengan rohani yang mana bila rohani atau jiwa seseorang mengalami
gangguang maka akan membuat seseorang melakukan sesuatu yang bertantangan dengan ajaran
agama. Dewasa ini jasmani manusia telah mencapai puncaknya namun kita saksikan pula rohani
dalam ketertinggalan. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan”gejala apa yang membuat rohani atau
jiwa seseorang ketertinggalan?” biasanya jiwa yang tidak dihiraukan, meluncur kejurang
kesengsaraan yang tiada taranya.
Menurut ilmu psikologi gejala jiwa berawal dari empat hal yaitu:

1. Kognisi (pengenalan)
Hal yang pertama dilakukan oleh seseorang ketika melihat sesuatu yang baru atau berbeda
ialah mencoba untuk mengetahui atau berusaha untuk mengenali. Dalam pengenalan dapat
dikatakan suatu panca roba dari satu sisi ke sisi yang lain. Biasanya dalam panca roba ini banyak
terdapat kekeliruan, perbedaan, dan perbandingan. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap
psikologi seseorang dan dapat menjadikan seseorang stres atau defresi dan menimbulkan gangguan
pada jiwa.
2. Emosi (emosi)
Emosi juga dapat menimbulkan gangguan kejiwaan karena emosi selalu mendorong
seseorang untuk berbuat sesuatu tanpa memperhatikan aturan perundang-undangan baik secara
konstitusi kenegaraan maupun secara keagamaan bahkan emosi mendorong seseorang untuk
melakuakan sesuatu diluar batas kemampuannya saat itu.m dengan demikian akan menyebabkan
seseorang bermasalah pada jiwa ketika emosinya tidak terkendali.
3. Konasi (Kemauan)
pada dasarnya adalah sifat yang terpuji karena kemauan dapat membuat orang bertindak
nekat untuk mencapaikan tujuannya. Konasi juga dapat menimbulkan gejala jiwa bagi yang tidak
melakukan tindakan yang sesuai dengan diinginkan.
4. Gejala campuran
Setelah melihat perbedaan timbul rasa ingin tahu dan akan muncul emosi yang mendampingi
kognisi dan dengan demikian manusia akan tidak setabil jika tidak diimbangi denga inteligensi
seseorang.
5. Berpikir dan intelegensi (bakat,inteligen,IQ)
Semua yang kita lakukan merupakan hasil dari buah pemikiran. Orang –orang yang berpikir
cenderung memiliki rasa ingin tahu, kemauan yang tinggi, dan emosi yang lebih. Keempat hal ini
dapat menimbulkan gejala pada jiwa sesseorang yang kosong dari nilai-nilai keagamaannya.
Faktor-faktor dalam perkembanga jiwa keagamaan terdiri dari dua faktor yaitu faktor Internal dari
dalam dan faktor ekternal.
1. Fakor intern (dari Dalam)
Faktor-faktor intern yang berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan antara lain
adalah faktor hereditas, tingkat usia, kepribadian dan kondisi kejiwaan seseorang.
a. Faktor Hereditas
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan secara
turun-temurun, melainkan terbentuk dari unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, afektif
dan konatif. Tetapi dalam penelitian terhadap janin terungkap bahwa makanan dan perasaan ibu
berpengaruh terhadap kondisi janin yang dikandungnya. Rasul saw. Menyatakan bahwa daging dari
makanan yang haram, maka nerakalah yang lebih berhak atasnya. Pernyataan ini setidaknya
menunjukkan bahwa ada hubungan antara status hukum makanan (halal dan haram) dengan sikap.
Selain itu Rasul saw. Juga menganjurkan untuk memilih pasangan hidup yang baik dalam
membina rumah tangga, sebab menurut beliau keturunan berpengaruh. Benih berasal dari keturunan
tercela dapat mempengaruhi sifat-sifat keturunan berikutnya. Karenanya menurut Rasul saw.
Selanjutnya: “Hati-hatilah dengan Hadra Al-Diman yaitu wanita cantik dari lingkungan yang jelek.”
(Sayid Mujtaba dan Musawi Lari, 1977: 93). Perbuatan yang buruk dan tercela jika dilakukan,
menurut Sigmund Freud akan menimbulkan rasa bersalah (sense of guilt) dalam diri pelakunya. Bila
pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan agama, maka pada diri pelakunya akan timbul rasa
berdosa. Dan perasaan seperti ini barangkali yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa
keagamaan seseorang sebagai unsur hereditas. Sebab, dari berbagai kasus pelaku zina sebagian
besar memiliki latar belakang keturunan dengan kasus serupa.
b. Tingkat Usia
Hubungan antara perkembangan usia dengan perkembangan jiwa keagamaan tampaknya tak
dapat dihilangkan begitu saja. Bila konversi lebih dipengaruhi oleh sugesti, maka tentunya konversi
akan lebih banyak terjadi pada anak-anak, mengingat di tingkat usia tersebut mereka lebih mudah
menerima sugesti. Namun, kenyataannyahingga usia baya pun masih terjadi konversi agama.
Terlepas dari ada tidaknya hubungan konversi dengan tingkat usia seseorang, namun hubungan
antara tingkat usia dengan perkembangan jiwa keagamaan barangkali tak dapat diabaikan begitu
saja. Berbagai penelitian psikologi agama menunjukkan adanya hubungan tersebut, meskipun
tingkat usia bukan merupakan satu-satunya faktor penentu dalam perkembangan jiwa keagamaan
seseorang. Yang jelas, kenyataan ini dapat dilihat dari adanya perbedaan pemahanan agama pada
tingkat usia yang berbeda.
c. Kepribadian
Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur hereditas dan
pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dengan pengaruh lingkungan inilah yang
membentuk kepribadian (Arno F. Wittig, 1977:238). Adanya kedua unsur yang membentuk
kepribadian itu menyebabkan munculnya konsep tipologi dan karakter. Tipologi lebih ditekankan
kepada unsur bawaan, sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan.
Dilihat dari pandangan tipologis, kepribadian manusia tidak dapat diubah karena sudah
terbentuk berdasarkan komposisi yang terdapat dalam tubuh (Crijns dan Reksosiswojo:234).
Sebaliknya, dilihat dari pendekatan karalterologis, kepribadian manusia dapat diubah dan tergantung
dari pengaruh lingkungan masing-masing.
Dari pendekatan tipologis maupun karakterologis, maka terlihat ada unsur-unsur yang bersifat
tetap dan unsur-unsur yang dapat berubah membentuk struktur kepribadian manusia. Unsur-unsur
yang bersifat tetap berasal dari unsur bawaan, sedangkan yang dapat berubah adalah karakter.
Namun demikian, karakter pun menurut Erich Fromm relatif bersifat permanen.
Unsur pertama (bawaan) merupakan faktor intern yang memberi ciri khas pada diri seseorang.
Dan perbedaan ini diperkirakan berpengaruh terhadap perkembangan aspek-aspek kejiwaan
termasuk jiwa keagamaan.
d. Kondisi Kejiwaan
Kondisi kejiwaan ini terkait dengan kepribadian sebagai faktor intern. Ada beberapa model
pendekatan yang mengungkapkan hubungan ini. Model psikodinamik yang dikemukakan Sigmund
Freud menunjukkan gangguan kejiwaan ditimbulkan oleh konflik yang tertekan di alam
ketidaksadaran manusia. Konflik akan menjadi sumber gejala kejiwaan yang abnormal.
Selanjutnyua, menurut pendekatan biomedis, fungsi tubuh yang dominan mempengaruhi kondisi
jiwa seseorang. Penyakit ataupun faktor genetik atau kondisi sistem saraf diperkirakan menjadi
sumber munculnya perilaku abnormal. Kemudian pendekatan eksistensial menekankan pada
dominasi pengalaman kekinian manusia. Dengan demikian, sikap manusia ditentukan oleh stimulan
(rangsangan) lingkungan yang dihadapinya saat itu.

2. Factor Ekstern (dari Luar)


Faktor ekstern yang dinilai berpengaruh dalam perkembangan jiwa keagamaan dapat dilihat
dari lingkungan dimana seseorang itu hidup. Umumnya lingkungan tersebut dibagi menjadi tiga,
yaitu keluarga, institusi dan masyarakat.
a. Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan satuan sosial yang paling sederhana dalam kehidupan manusia.
Anggota-anggotanya terdiri atas ayah, ibu dan anak-anak. Bagi anak-anak, keluarga merupakan
lingkungan social pertama yang dikenalnya. Dengan demikian, kehidupan keluarga menjadi fase
sosialisasi awal bagi pembentukan jiwa keagamaan anak.
Pengaruh kedua orang tua terhadap perkembangan jiwa keagamaan anak dalam pandangan
Islam sudah lama disadari. Oleh karena itu, sebagai intervensi terhadap perkembangan jiwa
keagamaan tersebut, kedua orang tua diberikan beban tanggung jawab. Ada semacam rangkaian
ketentuan yang dianjurkan kepada orang tua, yaitu mengadzankan ke telinga bayi yang baru lahir,
mengaqiqah, memberi nama yang baik, mengajarlkan membaca Alqur’an, mrmbiasakan salat serta
bimbingan lainnya yang sejalan dengan perintah agama. Keluarga dinilai sebagai faktor yang paling
dominan dalam meletakkan dasar bagi perkembangan jiwa keagamaan.
b. Lingkungan Institusional
Lingkungan institusional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa
institusi formal seperti sekolah ataupun yang nonformal seperti berbagai perkumpulan dan
organisasi.
Sekolah sebagai institusi pendidikan formal ikut memberi pengaruh dalam membantu
perkembangan kepribadian anak. Menurut Singgih D. Gunarsa pengaruh itu dapat dibagi menjadi
tiga kelompok, yaitu
1)      kurikulum dan anak
2)      hubungan guru dan murid
3)      hubungan antar anak.
Dilihat dari kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan, tampaknya  ketiga kelompok
tersebut ikut berpengaruh. Sebab, pada prinsipnya perkembangan jiwa keagamaan tak dapat
dilepaskan dari upaya untuk membentuk kepribadian yang luhur. Dalam ketiga kelompok itu secara
umumtersirat unsur-unsur yang menopang pembentukan tersebut seperti ketekunan, disiplin,
kejujuran, simpati, sosiabilitas, toleransi, keteladanan, sabar dan keadilan. Perlakuan dan
pembiasaan bagi pembentukan sifat-sifat seperti itu umumnya menjadi bagian dari program
pendidikan di sekolah.
c. Lingkungan Masyarakat
Kehidupan bermasyarakat dibatasi oleh berbagai norma dan nilai-nilai yang didukung warganya.
Karena itu, setiap warga berusaha untuk menyesuaikan sikap dan tingkah laku dengan norma dan
nilai-nilai yang ada. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat memiliki suatu tatanan yang
terkondisi untuk dipatuhi bersama.
Lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif
bagi perkembangan jiwa keagamaan anak, sebab kehidupan keagamaan terkondisi dalam tatanan
nilai maupun institusi keagamaan. Keadaan seperti ini bagaimanapun akan berpengaruh dalam
pembentukan jiwa keagamaan warganya.
d. Fanatisme dan Ketaatan
Suatu tradisi keagamaan dapat menimbulkan dua sisi dalam perkembangan jiwa seseorang, yaitu
fanatisme dan ketaatan. Mengacu kepada pendapat Erich Fromm bahwa karakter terbina melalui
asimilasi dan sosialisasi, maka tradisi keagamaan memenuhi kedua aspek tersebut.
David Riesman melihat bahwa tradisi kultural sering dijadikan penentu dimana seseorang harus
melakukan apa yang telah dilakukan nenek moyang. Dalam menyikapi tradisi keagamaan juga tak
jarang munculnya kecenderungan seperti itu. Jika kecenderungan taqlid keagamaan tersebut
dipengaruhi unsur emosional yang berlebihan, maka terbuka peluang bagi pembenaran spesifik.
Kondisi ini akan menjurus kepada fanatisme. Sifat fanatisme dinilai merugikan bagi kehidupan
beragama. Sifat ini dibedakan dari ketaatan. Sebab, ketaatan merupakan upaya untuk menampilkan
arahan dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama.
B. Cara Mengatasi Gangguan Jiwa Beragama
Proses perbaikan manusia selain memperbaiki organisasi tubuh dengan perintah syari’ah
dalam makan-minum yang halal, baik, cukup dan tidak berlebihan, maka perlu pula memperbaiki
aspek ilmu, pemahaman, dan kesadaran melalui serangkaian upaya da’wah (penyampaian secara
sistematis dan kontinyu mana yang benar dan mana yang batil), tazkiyah (pembersihan Syubhat,
musyrik, khurafat, dalam pikiran sehingga virus-virus pemikiran, dan  kesesatan cara berpikir dan
pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam pendidikan (tarbiyah) yang
lebih sistematik, maka kesalehan individu, kesalehan masyarakat dan kesalehan sistem bernegara
menjadi bagian terintegrasi untuk melahirkan manusia sempurna.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Gangguan dalam perkembangan keagamaan hal yang sering terjadi terhadap jiwa diberbagai
kalangan para pemeluk agama karena agama itu sendiri berawal dari pemikiran manusia
pemeluknya yang mempercayainya. Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gangguan dalam
perkembangan jiwa keagamaan ada baiknya penulis memaparkan kata perkata yang akan dibahas.
Menurut ilmu psikologi gejala jiwa berawal dari empat hal yaitu:

Kognisi (pengenalan)
Emosi (emosi)
Konasi (Kemauan).
Gejala campuran
Berpikir dan intelegensi (bakat,inteligen,IQ)
Faktor-faktor dalam perkembanga jiwa keagamaan terdiri dari dua faktor yaitu faktor Internal dari dalam dan
faktor ekternal.
Fakor intern (dari Dalam)
Factor Ekstern (dari Luar)
Proses perbaikan manusia selain memperbaiki organisasi tubuh dengan perintah syari’ah dalam
makan-minum yang halal, baik, cukup dan tidak berlebihan, maka perlu pula memperbaiki aspek
ilmu, pemahaman, dan kesadaran melalui serangkaian upaya da’wah (penyampaian secara
sistematis dan kontinyu mana yang benar dan mana yang batil), tazkiyah (pembersihan Syubhat,
musyrik, khurafat, dalam pikiran sehingga virus-virus pemikiran, dan kesesatan cara berpikir dan
pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah
DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012.


Matt Jarvis. 2000. teori-teori psikologi. Penerbit nusamedia dan nuansa Bandung.
Aziz abdul ahyadi, 1991,”psikologi agama kepribadian muslim
pancasila,”penerbit sinar baru Bandung

Anda mungkin juga menyukai