Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN

BAB I

I.1 LATAR BELAKANG

Reposisi hidrostatik pada kasus invaginasi merupakan terapi pilihan yang sudah
digunakan semenjak tahun 1876, dan didapatkan hasil yang memuaskan dari terapi ini.
Invaginasi sendiri merupakan keadaan akut suatu gangguan peristaltic usus, dimana
suatu segmen usus menjorok masuk ke segmen sebelahnya. Umumnya segmen proximal
masuk ke segmen distal.(1) Invaginasi sering ditemukan pada anak dan jarang pada orang
muda dan dewasa.
Invaginasi pada anak dan bayi merupakan hal yang masih sulit ditemukan
dibandingkan dengan invaginasi pada orang dewasa. Invaginasi pada anak dan bayi
sering dijumpai pada usia di bawah 2 tahun dan terbanyak ditemukan pada usia 5-9
bulan. Penyebab invaginasi pada anak dan bayi 70%-90% tidak diketahui; beberapa
kepustakaan menghubungkan dengan hypertrophied peyer's patches akibat infeksi oleh
virus, perubahan cuaca atau perubahan pola makanan. Sedangkan invaginasi pada anak
yang besar dan orang dewasa penyebabnya adalah suatu kelainan patologis (divertikel
Meckel, polip, tumor). Pada referensi lain dikatakan 70% pasien dibawah umur 1 tahun
(sering pada usia 6-7 bulan). Insidensi bervariasi dari 1-4 per 1000 kelahiran hidup, dan
pria 4 kali lebih banyak daripada wanita. Serta lebih banyak ditemukan pada bayi dengan
gizi baik.(1,2)
Kasus invaginasi masuk ke rumah sakit sebagai kasus gawat darurat. Tindakan
pertama yaitu mengatasi kekurangan cairan, elektrolit & keseimbangan asam basa.

I.2. EPIDEMIOLOGI

Angka kejadian intususepsi (invaginasi) dewasa sangat jarang , menurut angka


yang pernah dilaporkan adalah 0,08% dari semua kasus pembedahan lewat abdomen dan
3% dari kejadian obstruksi usus , angka lain melaporkan 1% dari semua kasus obstruksi
usus, 5% dari semua kasus invaginasi (anak-anak dan dewasa), sedangkan angka-angka
yang menggambarkan angka kejadian berdasarkan jenis kelamin dan umur belum pernah
dilaporkan, sedangkan segmen usus yang telibat yang pernah dilaporkan Anderson 281
pasien terjadi pada usus halus (Jejunum, Ileum) 7 pasien ileocolica, 12 pasien cecocolica
dan 36 colocolica dari 336 kasus yang ia laporkan . Desai pada 667 pasien

1
menggambarkan 53% pada duodenum,jejunum atau ileum, 14% lead pointnya pada
ileoseccal, 16% kolon dan 5% termasuk appendik veriformis.
Hampir 70 % kasus invaginasi terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun (Bisset
et all, 1988) sedangkan Orloff mendapatkan 69% dari 1814 kasus pada bayi dan anak-
anak umur kurang dari 1 tahun (Cohn 1976). Chairl Ismail 1988 mendapatkan insiden
tertinggi dicapai pada anak-anak umur antara 4 sampai dengan 9 bulan. Perbandingan
antara laki-laki dan wanita adalah 2:1 (Kartono, 1986; Cohn 1976; Chairul Ismail !988).

Insidensi tertinggi dari inttususepsi terdapat pada usia dibawah 2 tahun (Ellis
1990). Orloof mendapatkan 69% dari1814 kasus pada anak-anak terjadi pada usia kurang
dari 1 tahun (Cohn 1976). Pada bayi dan anak-anak intususepsi merupakan penyebab
kira-kira 80-90% dari kasus obstruksi. Pada orang dewasa intususepsi lebih jarang terjadi
dan diperkirakan menjadi penyebab kira-kira 5% dari kasus obstruksi (Ellis, 1990)(3)

I.3 TUJUAN
• Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami tekhnik penatalaksanaan penyakit invaginasi
terutama dalam hal reposisi hidrostatik, dan memberikan gambaran dan
penanganannya serta akibat yang ditumbulkan bila ada keterlambatan dalam
penanganan.

• Tujuan Khusus
Sebagai syarat ujian stase ko-assisten bagian Ilmu Bedah di Rumah Sakit Umum
Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

2
II. TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. ANATOMI
Usus halus merupakan tabung komplek, berlipat-lipat yang membentang dari
pylorus sampai katup ileosekal. Pada orang hidup, panjang usus halus sekitar 12 kaki/
sekitar ± 3,6 meter. Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah rongga abdomen. Ujung
proximalnya bergaris tengah sekitar 3,8 cm, tetapi semakin ke bawah lambat laun garis
tengahnya semakin berkurang sampai sekitar 2,5 cm. (4)
Usus halus mencakup duodenum, jejunum dan ileum. Ia bertanggung jawab
bagi sebagian besar panjang saluran pencernaan dan luas permukaan mukosanya yang
luas merupakan tempat absorpsi bahan makanan, air dan mineral yang memungkinkan
pemeliharaan normal, pertumbuhan dan perkembangan.
Sepertiga proximal usus halus terdiri dari jejunum, 2/3 yang berikut merupakan
ileum. Tak ada batas pasti antara bagian usus halus. Sepertinya terlihat perubahan
bertahap dari ketebalan dinding usus yang menurun dengan lebih jauh ke distal usus.
Lebar lumen juga mengikuti pola serupa. Sehingga obstruksi lebih mudah timbul dalam
ileum distalis dibandingkan jejunum proximalis.(1)

Figure 1 - Anatomy of the digestive tract


www.yoursurgery.com (5)

3
Ada perbedaan antara usus halus proximal dan distal dalam mesenterium, yaitu
pada mesenterium jejunum lemak yang terkandung di antara lembaran berakhir tepat
sebelum batas usus dalam area Bering dan pembuluh darah dapar terlihat. Kalau pada
ileum, lemak terbentang sampai dinding usus sehingga pembuluh darah sulit dilihat.
Usus halus mesenterika seluruhnya dilayani oleh a. mesenterika superior melalui 12 -15
cabang yang membentuk “arcades” yang kemudian menimbulkan arteri lurus yang
menyilang mesenterium langsung ke dinding usus.(6)
Dinding usus halus di bagi dalam 4 lapisan :
1. Tunica Serosa.
Terdiri dari jaringan ikat longgar yang dilapisi oleh mesotel.
2. Tunica Muscularis.
Dua selubung otot polos tidak bergaris membentuk tunica muskularis usus halus.
Lapisan ini paling tebal di dalam duodenum dan berkurang dalamnya kearah
distal. Lapisan luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum
sirkulare. Plexus myentericus saraf (Auerbach) dan saluran limfe terletak di
antara kedua lapisan otot ini.(1,6)
3. Tela Submukosa.
Tela Submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang terletak diantara tunika
muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa, yang terletak dibawah
mukosa. Dalam ruang ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh
limfe. Juga ditemukan neuroplexus Meissner.
4. Tunica Mukosa.
Tunica mukosa usus halus, kecuali pars superior duodenum tersusun dalam
lipatan sirkuler tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa. Masing-
masing lipatan ini ditutup dengan tonjolan, vili.
Lipatan dan vili lebih banyak di dalam jejunum dibandingkan di dalam ileum,
sehingga bertanggung jawab lebih besar permukaan absorbsi dalam bagian usus ini.
Ada dua area dalam tingkatan submukosa dan bagian spesifik usus halus :
1. Plaque peyer
Plaque peyer terutama berada di dalam ileum dan lebih banyak ke distal. Ia
terdiri dari agregasi lymphaticus yang dikelilingi oleh plexus lymphaticus di atas
permukaan mesenterica usus.

4
2. Glandula Brunner
Glandula Brunner ada hampir seluruhnya di dalam duodenum, tetapi di dalam
jejunum proximal ia terdapat di proximal dan menurun dengan penuaan.
Usus besar terdiri dari sekum, kolon dan rectum, panjangnya sekitar 1,5 meter,
terbentang dari ileum terminalis sampai anus. Diameter terbesarnya pada saat kosong
±6,5 cm dalam sekum, dan berkurang menjadi ± 2,5 cm dalam sigmoid. Pada sekum
terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Katup ileosekal
mengendalikan aliran kimus dari ileum ke dalam sekum dan mencegah terjadinya aliran
balik bahan fekal dari usus besar ke usus halus. (4)
Kolon dibagi lagi menjadi kolon ascenden, tranversum, descenden dan sigmoid.
Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan disebut fleksura hepatica
dan kiri fleksura lienalis. (4)
Dinding kolon terdiri dari 4 lapisan, yaitu:
1. Tunika Serosa
Membentuk apendises epiploica, yaitu kantong-kantong kecil yang berisi lemak
dan menonjol dari serosa, kecuali pada rectum.
2. Tunika Muscularis
Terdiri atas stratum longitudinal di sebelah luar dan stratum circular di sebelah
dalam. Stratum circular membentuk m.Sphincter ani internus sedangkan stratum
longitudinale membentuk 3 pita yang disebut taenia coli, yang lebih pendek dari
kolon itu sendiri sehingga membentuk kolon berlipat-lipat seperti kantong
(haustrae).
3. Tela Submucosa
Dibentuk oleh jaringan penyambung longgar yang berisi pembuluh darah dan
kelenjar getah bening.
4. Tunika Mukosa
Licin karena tidak mempunyai vili, permukaan dalamnya mempunyai
lipatan-Lipatan (plicae mucosae) berbentuk bulan sabit karena tidak mencapai seluruh
lingkaran lumen dan dinamakan plicae semilunares.

Vaskularisasi
Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan berdasarkan
suplai darah yang diterimanya. Arteri mesenterika superior (memperdarahi belahan

5
kanan; sekum, kolon ascenden dan duapertiga proximal kolon transversum) akan
bercabang ke a.ileokolika, a.kolika dextra. Sedang arteri mesenterika inferior
(memperdarahi sepertiga kolon transversum, kolon descenden, sigmoid dan bagian
proximal rectum) akan bercabang ke a.kolika sinistra, a.sigmoid, a.hemoroidalis
superior.(4)
Aliran balik vena dari kolon berjalan parallel dengan arterinya. V.mesenterika
superior untuk kolon ascenden dan transversum. Sedang v.mesenterika inferior untuk
kolon descenden, sigmoid dan rectum.
Rektum disuplai oleh a.hemoroidalis superior (cabang dari a.mesenterika
inferior) dan a.hemoroidalis inferior (cabang dari a.pudenda interna). Sedang aliran
venanya yaitu v.hemoroidalis superior dan inferior. (4,7)

Aliran Limfe
Sejalan dengan perdarahannya antara lain kelenjar para kolik, kelenjar dalam
mesenterium, kelenjar para aorta pada pangkal a.mesenterika superior dan inferior.
Aliran limfe pada rectum yaitu, inguinal, kelenjar iliaka interna, kelenjar para
kolik, kelenjar di mesenterium, dan kel.para aorta. (8)

Persyarafan
Usus besar diperarafi oleh system otonom kecuali sfingter externa diatur secara
volunter. Kolon dipersarafi oleh system parasimpatis yang berasal dari n.splannikus dan
pleksus presakralis serta serabut yang berasal dari n.vagus. Sedangkan rectum dipersarafi
oleh serabut simpatis yang berasal dari plexus mesenterikus inferior dan dari system
parasakral yang terbentuk dari ganglion simpatis L 2-4 serta serabut simpatis yang
berasal dari S 2-4. (8)

II. 2. INVAGINASI
II.2.1 DEFINISI
Invaginasi atau intususepsi adalah suatu keadaan akut saluran cerna dimana
suatu segmen usus bagian proximal masuk ke bagian distal yang umumnya akan berakhir
dengan obstruksi usus strangulasi.(1,4,9,10)
Bila disertai strangulasi harus diingat kemungkinan terjadinya peritonitis
setelah perforasi. Invaginasi hampir selalu terjadi di ileum terminal.

6
Bagian segmen usus yang masuk ke bagian distal disebut intususeptum.
Sedangkan bagian usus yang mengandung intususeptum disebut intususipien.

http://
(11)
uuhsc.utah.edu/healthinfo/images

Figure 2 - Anatomy of a typical


intussusception of ileum into the colon. The
leading proximal, small bowel segment
(intussusceptum) telescopes into the distal,
colon segment (intussuscipens). © C.
McKee
www.yoursurgery.com (12)

7
II.2.2 ETIOLOGI
Penyebab kebanyakan invaginasi belum diketahui.
Berdasarkan fakta-fakta yang dikumpulkan dari bayi-bayi dengan invaginasi
didapatkan hal-hal sebagai berikut :
1. Adanya penebalan Plaque Peyer akibat suatu proses dari infeksi virus pada usus.
Adenovirus ditemukan dari limfonodi mesenterika pada pembedahan dan juga
dari biakan permukaan dengan presentase yang lebih tinggi pada anak dengan
invaginasi daripada control. Invaginasi pada anak biasanya disebut idiopatik,
dimana disebabkan oleh penebalan plaque Peyeri yaitu suatu jaringan limfoid di
dinding ileum bagian distal, yang dapat merangsang peristaltic usus sebagai
upaya untuk mengeluarkan massa tersebut sehingga menyebabkan invaginasi.
(1,2,10)

2. Adanya perubahan flora usus sehingga timbul peristaltic yang meniggi.


Perubahan flora memang terjadi pada usia 6-9 bulan sehubungan dengan
perubahan pola makan pada bayi. (1,4,7)
3. Sedangkan pada anak di atas usia 2 tahun atau orang dewasa umumnya
ditemukan pencetus gerakan peristaltic yang berlebihan tersebut, misalnya: polip,
divertikel Meckel, limfoma, hemangioma, dan mesenteric hematom.(1,4,9)
Sekali usus bagian proximal masuk ke bagian usus distal, oleh adanya
peristaltic, maka bagian usus proximal ini akan tetap ada dan bahkan lebih jauh masuk
dalam usus bagian distal.

8
II.2.3 PATOFISIOLOGI
Berbagai variasi etiologi yang mengakibatkan terjadinya intususepsi pada
dewasa pada intinya adalah gangguan motilitas usus terdiri dari dua komponen yaitu satu
bagian usus yang bergerak bebas dan satu bagian usus lainya yang terfiksir/atau kurang
bebas dibandingkan bagian lainnya, karena arah peristaltik adalah dari oral keanal
sehingga bagian yang masuk kelumen usus adalah yang arah oral atau proksimal,
keadaan lainnya karena suatu disritmik peristaltik usus, pada keadaan khusus dapat
terjadi sebaliknya yang disebut retrograd intususepsi pada pasien pasca
gastrojejunostomi . Akibat adanya segmen usus yang masuk kesegmen usus lainnya akan
menyebabkan dinding usus yang terjepit sehingga akan mengakibatkan aliran darah
menurun dan keadaan akhir adalah akan menyebabkan nekrosis dinding usus
Perubahan patologik yang diakibatkan intususepsi terutama mengenai intususeptum.
Intususepien biasanya tidak mengalami kerusakan. Perubahan pada intususeptum
ditimbulkan oleh penekanan bagian ini oleh karena kontraksi dari intususepien, dan juga
karena terganggunya aliran darah sebagai akibat penekanan dan tertariknya mesenterium.
Edema dan pembengkakan dapat terjadi. Pembengkakan dapat sedemikian besarnya
sehingga menghambat reduksi. Adanya bendungan menimbulkan perembesan (ozing)
lendir dan darah ke dalam lumen. Ulserasi pada dindidng usus dapat terjadi. Sebagai
akibat strangulasi tidak jarang terjadi gangren. Gangren dapat berakibat lepasnya bagian
yang mengalami prolaps. Pembengkakan dari intisuseptum umumnya menutup lumen
usus. Akan tetapi tidak jarang pula lumen tetap patent, sehingga obstruksi komplit
kadang-kadang tidak terjadi pada intususepsi (Tumen 1964).
Invaginasi akan menimbulkan gangguan pasase usus (obstruksi) baik partiil maupun total
dan strangulasi (Boyd, 1956). Hiperperistaltik usus bagian proksimal yang lebih mobil
menyebabkan usus tersebut masuk ke lumen usus distal. Usus bagian distal yang
menerima (intussucipient) ini kemudian berkontraksi, terjadi edema. Akibatnya terjadi
perlekatan yang tidak dapat kembali normal sehingga terjadi invaginasi.
Invaginasi merupakan keadaan yang potensial berbahaya, karena bukan saja
terjadi obstruksi tetapi termasuk jenis strangulasi dimana pembuluh-pembuluh darah
dalam mesenterium dari usus bagian proximal yang masuk ke bagian distal
(intususeptum) terjepit diantara kedua dinding usus tersebut, sehingga kemungkinan
intususeptum mengalami nekrosis. Konstriksi mesenterium menyumbat aliran balik
vena; selanjutnya terjadi pembengkakan intususeptum, karena edema dan perdarahan

9
mukosa menyebabkan tinja mengandung darah, kadang mengandung mucus (red currant
jelly-selai kismis merah). (1,2,9,10)
Pada proses strangulasi tersirat oleh adanya rasa sakit & perdarahan per rectal.
Serangan sakit mula-mula hilang timbul kemudian menetap, gelisah sewaktu serangan
dan sering disertai rangsangan muntah. (1,4)
Puncak invaginasi dapat berjalan sampai ke kolon tranversum, desenden,
sigmoid, bahkan sampai & melewati anus pada kasus yang ditelantarkan. Tanda ini
(1,9)
harus dibedakan dari prolaps rectum. . Proses obstruksi usus sebenarnya sudah
dimulai sejak invaginasi terjadi, tetapi penampilan klinik obstruksi memerlukan waktu.
Umumnya setelah 10-12 jam sampai menjelang 24 jam gejala. (10)

Right-Hemicolectomy Specimen (External View) Showing the Ileocecal Intussusception.


The cecum (C) and ileocecal valve have invaginated into the ascending colon (AC).
The dashed lines indicate the appendix. I denotes the terminal ileum.(13)
II.2.4 KLASIFIKASI

Intususepsi dibedakan dalam 4 tipe :

1. Enterik : usus halus ke usus halus(6.7%)


2. Ileosekal : valvula ileosekalis mengalami invaginasi prolaps ke sekum dan
menarik ileum di belakangnya. Valvula tersebut merupakan apex dari intususepsi.
(39 %)
3. Kolokolika : kolon ke kolon.(4.7%)

10
4. Ileokoloika : ileum prolaps melalui valvula ileosekalis ke kolon.(31.5%)

II.2.5 DIAGNOSIS
Tanda & Gejala :

• serangan rasa sakit/kholik (Rasa sakit berhubungan dengan passase dari


intususepsi).
• Muntah(Stenosis Pilorus : Encer dan asam ,Obstruksi usus halus : Berwarna
kehijauan ,Obstruksi kolon : onset muntah lama)
• keluarnya darah melalui rektum,
• terdapatnya masa yang teraba di perut

TRIAS INVAGINASI :

• Anak mendadak kesakitan episodic, menangis dan mengankat kaki (Craping


pain), bila lanjut sakitnya kontinyu
• Muntah warna hijau (cairan lambung)
• Defekasi feses campur lendir (kerusakan mukosa) atau darah (lapisan dalam) à
currant jelly stool

Pemeriksaan Klinik
Umumnya bayi dalam keadaan sehat, gizi baik. Mungkin beberapa hari
sebelumnya terdapat peradangan saluran nafas bagian atas.(1,2,4,9)
Pada kasus-kasus yang khas, nyeri kolik hebat yang timbul mendadak, hilang
timbul. Bayi tiba-tiba menangis seperti menahan rasa sakit untuk beberapa saat,
kemudian diam, lalu main atau tidur kembali. Sering disertai rangsangan muntah.
Muntah berupa minuman atau makanan yang masuk.
Beberapa jam kemudian (antara 6-8 jam setelah serangan pertama) bayi
defekasi disertai darah segar dan lendir.(1) Selanjutnya defekasi hanya darah dan lendir.
Sementara gejala & tanda obstruksi belum tampak, pada pemeriksaan abdomen dapat
teraba massa. Bila massa teraba di kanan atau kiri atas maka perabaan pada abdomen
kanan bawah terus kosong. Keadaan ini disebut sebagai “Dance’s Sign”. (1,9,10)
Pemeriksaan colok dubur terdapat feses dengan darah segar serta lendir pada
sarung tangan.

11
Menjelang 24 jam sejak serangan sakit, usus yang tadinya tersumbat parsial
dapat berubah menjadi sumbatan totalis, seperti abdomen yang membuncit dengan
terlihat kontur & peristaltic usus. Muntah sudah berwarna hijau, karena mengandung
empedu atau sudah fekal.(2) Massa intra abdomen sulit teraba lagi.
Pemeriksaan colok dubur mungkin teraba ujung invaginatum, seperti perabaan
pada portio yang dikenal sebagai pseudoportio. Sarung tangan hanya terdapat darah dan
lendir, tidak ada feses lagi.
Pengeluaran cairan yang terus menerus akan menyebabkan dehidrasi yang bila
tidak segera ditangani akan menyebabkan syok & mungkin kenaikan suhu tubuh.
Pada anak yang menderita malnutrisi, gejala nyeri tidak hebat, gejala obstruksi
berjalan menahun & intususeptum dapat prolaps melalui anus.

Pemeriksaan Radiologi
 Pada foto polos abdomen, sumbatan oleh invaginatum dapat menunjukkan
padatan di daerah invaginasi.
 Barium enema akan menunjukkan defek pengisian atau bentuk seperti mangkuk
di ujung barium, karena alirannya tersumbat oleh invaginasi. Barium enema juga
dapat digunakan untuk terapi.
 Ultrasonografi sekarang juga mulai digunakan untuk menunjukkan kelainan
invaginasi.(1)

Caption:. Note intussusception in the left upper quadrant on this plain film of an infant with pain
vomiting. Courtesy of Dr. Kelly Marshall, Children's Healthcare of Atlanta at Scottish Rite.
Pic.Type X-RAY www.emedicine.com (1)

12
A plain film of the abdomen (Panel A) disclosed multiple airfilled lucencies in the right upper quadrant
that were suggestive of the presence of pneumatosis coli. A computed tomographic scan revealed air
within the wall of the ascending colon and the typical target lesion of a colonic intussusceptions
(arrow in Panel B). (13)

II.3 REPOSISI HIDROSTATIK


Kasus invaginasi masuk RS sebagai kasus gawat darurat. Tindakan pertama
yaitu:
1. Tindakan perbaikan keadaan umum mutlak perlu dikerjakan sebelum melakukan
tindakan apa pun.
2. Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi & mencegah aspirasi.
3. Rehidrasi. Hati-hati tanda dehidrasi kadang-kadang tidak jelas tampak karena
bayi bergizi baik & malah sering gemuk.
4. Obat-obat penenang untuk penahan rasa sakit.
5. Setelah keadaan umum baik dilakukan tindakan pembedahan, bila jelas telah
tampak tanda-tanda obstruksi usus. Atau dilakukan tindakan reposisi bila tidak
terdapat kontraindikasi.
Dasar pengobatan pada invaginasi ialah reposisi usus yang masuk ke
lumen usus lainnya. Reposisi dapat dicapai dengan barium enema, reposisi
pneumostatik atau melalui pembedahan. (1,2,9)

a. Reduksi hidrostatik

13
Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus menggunakan
kateter dengan tekanan tertentu. Pertama kali keberhasilannya dikemukakan oleh
Ladd tahun 1913 dan diulang keberhasilannya oleh Hirschprung tahun 1976.

Reposisi barium diikuti oleh X-ray. Mula-mula tampak bayangan barium


bergerak berbentuk cupping pada tempat invaginasi. Dengan tekanan hidrostatik
sebesar ¾ - 1 meter air, barium didorong ke arah.proksimal. tekanan hidrostatik
tidak boleh melewati 1 meter air dan tidak boleh dilakukan pengurutan atau
penekanan manual di perut sewaktu dilakukan reposisis hidrostatik

Pengobatan dianggap berhasil bila barium sudah mencapai ileum


terminalis. Pada saat itu, pasase usus kembali normal, norit yang diberikan per os
akan keluar melalui dubur. Seiring dengan pemeriksaan zat kontras kembali dapat
terlihat coiled spring appearance. Gambaran tersebut disebabkan oleh sisa-sisa
barium pada haustra sepanjang bekas tempat invaginasi

Pada saat sekarang ini barium enema yang digunakan untuk


prosedur diagnostic, kurang lebih 75% berhasil mereduksi invaginasi. (1)
Pemberian sedikit sedative yang cukup sebelum prosedur enema sangat banyak
membantu berhasilnya reduksi hidrostatik ini.(14)

Indikasi:

1. tidak terdapat gejala & tanda rangsangan peritoneum


2. tidak toksik juga tidak terdapat obstruksi tinggi
3. tidak dehidrasi
4. gejala invaginasi kurang dari 48 jam

kontra indikasi:,

1. distensi abdomen yang berlebihan,


2. invaginasi rekuren
3. gejala invaginasi lebih dari 48 jam,
4. peritonitis

14
www.pennhealth.com/intestobstruct_2.html (15)

pengelolaan

o Masukan oral dihentikan, penderita diberi cairan intravena dan


selanjutkan dilakukan reposisi usus.
o Bergantung pada keadaan penderita, reposisi dilakukan dengan operasi
atau barium enema. Pada operasi, reposisi secara manual dan hasilnya
langsung diketahui.
o Reposisi barium diikuti oleh X-ray, Mula-mula tampak bayangan barium
bergerak berbentuk cupping pada tempat invaginasi. Dengan tekanan
hidrostatik sebesar 3/4 meter air, barium didorong ke arah proksimal.
o Pengobatan dianggap berhasil bila barium sudah mencapai ileum
terminalis. Pada saat itu, pasase usus kembali normal, norit yang
diberikan per os akan keluar melalui dubur.
o Seiring dengan pemeriksaan zat kontras kembali dapat terlihat coiled
spring appearance. Gambaran tersebut disebabkan oleh sisa-sisa barium
pada haustra sepanjang bekas tempat invaginasi.
o Sejak 1876, barium enema sudah dipergunakan untuk pengobatan
invaginasi dan hasilnya memuaskan. Hanya sedikit kemungkinan terjadi

15
perforasi walaupun usus telah mengalami gangren, asal tekanan
hidrostatik tidak melebihi 1 meter.
o Demikian pula lamanya perawatan pada reposisi barium lebih pendek
daripada operasi. Sebaliknya dengan reduksi manual pada operasi ternyata
lebih bersifat traumatik, sehingga lebih mudah terjadi ruptur usus.
o Dengan kelebihan yang disebut tadi, di Skandinavia reposisi barium lebih
banyak digunakan. Survival rate 55%, masing-masing 81% pada umur
kurang 1 tahun dan 15% pada usia kurang 3 bulan.
o Kadang-kadang reposisi barium tidak berhasil, misalnya pada umur
kurang 3 bulan dan invaginasi ileo-ileal. Bayangan kontras dalam bentuk
cupping tidak mencapai ileum terminalis sehingga memerlukan operasi.
o Operasi dini tanpa terapi barium dikerjakan bila terjadi perforasi,
peritonitis dan tanda-tanda obstruksi. Keadaan ini biasanya pada
invaginasi yang sudah berlangsung 48 jam.
o Demikian pula pada kasus-kasus relapse. Invaginasi berulang 11% setelah
reposisi barium dan 3% pada operasi tanpa reseksi usus. Bisanya reseksi
dilakukan jika aliran darah tidak pulih kembali setelah dihangatkan
dengan larutan fisiologik.
o Usus yang mengalami invaginasi nampak kebiruan. Pada perawatan ke-
2x, dikerjakan operasi tanpa barium enema(3).

III.4 REDUKSI MANUAL (MILKING) DAN RESEKSI USUS

Pasien dengan keadaan tidak stabil, didapatkan peningkatan suhu, angka


lekosit, mengalami gejala berkepanjangan atau ditemukan sudah lanjut yang
ditandai dengan distensi abdomen, feces berdarah, gangguan sistema usus yang
berat sampai timbul shock atau peritonitis, pasien segera dipersiapkan untuk
suatu operasi Laparotomi dengan incisi transversal interspina Jika ditemukan
kelainan telah mengalami nekrose, reduksi tidak perlu dikerjakan dan reseksi
segera dilakukan (Ellis, 1990).

16
Penanganan Lain:

1. Pre-operatif

Penanganan intususepsi pada dewasa secara umum sama seperti penangan


pada kasus obstruksi usus lainnya yaitu perbaikan keadaan umum seperti
rehidrasi dan koreksi elektrolit bila sudah terjadi defisit elektrolit

2. Durante Operatif

reseksi anastosmose segmen usus yang terlibat dengan memastikan lead pointnya
Batas reseksi pada umumnya adalah 10cm dari tepi – tepi segmen usus yang
terlibat, pendapat lainnya pada sisi proksimal minimum 30 cm dari lesi,
kemudian dilakukan anastosmose end to end atau side to side.

Operasi tidak akan dilakukan pada keadaan umum bayi yang jelek. Bayi
baru dapat dibius dan dioperasi bila kita sudah yakin perfusi darah ke jaringan
sudah baik. Kalau proses penyakit diduga sudah lebih dari 24 jam atau bayi
menderita demam maka diharuskan pemberian antibiotik berspektrum luas.
Pembedahan sudah dapat dilakukan kalau perfusi jaringan sudah cukup
yang dapat diukur secara klinis dari produksi urin, yaitu 0,5 – 1 ml/kgBB/jam
melalui kateter. Kriteria lainnya adalah suhu tubuh kurang dari 38ºC, nadi kurang
dari 120 kali per menit, pernapasan tidak lebih dari 40 kali/ menit, turgor kulit
membaik, dan paling utama kesadaran yang baik. Akral yang tadinya dingin jadi
hangat kembali. Biasanya dengan pemberian cairan sejumlah 50% dari kebutuhan
( untuk koreksi & kebutuhan normal), perfusi jaringan sudah dapat dicapai.
Pembedahan dan anestesi yang dikerjakan pada waktu perfusi jaringan tidak
memadai akan menyebabkan tertimbunnya hasil-hasil metabolisme yang
seharusnya dikeluarkan dari tubuh, dan hal ini akan mengakibatkan oksigenasi
jaringan yang buruk, yang dapat berakibat kerusakan sel yang irreversible, dan
bila menyangkut organ vital akan menyebabkan kematian.

17
Sewaktu operasi akan dicoba reposisi manual dengan mendorong
invaginatum dari anal kearah sudut ileo-sekal, dorongan dilakukan dengan hati-
hati tanpa tarikan dari bagian proximal.
Reposisi dengan pembedahan dicapai melalui laparatomi. Setelah dinding
perut dibuka, tindakan selanjutnya tergantung pada temuan yang ada. Reposisi
dikerjakan secara manual diperas seperti memeras susu sapi yang disebut
milking, dikerjakan secara halus dan perlahan dengan sabar, dan diselingi dengan
istirahat beberapa waktu untuk memberi kesempatan agar aliran darah balik yang
mengurangi edema sehingga mempermudah usaha milking selanjutnya. Jangan
sekali-kali menarik bagian usus yang masuk ke dalam usus lainnya, tetapi diperas
dari pihak lainnya. Kalau terjadi kebocoran usus sebelum atau sesudah milking
maka dilakukan dengan reseksi usus, kemudian anastomosa end to end. Kalau
kita berhasil dengan milking, maka sebagian besar pakar tidak melakukan fiksasi
sekum.
Apabila terdapat kerusakan usus yang cukup luas, danbanyak bagian dari
usus itu yang harus diangkat. Maka pada kasus ini tidak dapat dilakukan
anastomosis end to end, harus colostomy supaya proses digestive tetap berjalan.
(16)

Kalau ditemukan penyebab yang menjadi factor pencetus seperti


divertikulum atau duplikasi maka perlu dilakukan reseksi. Pada penderita yang
berhasil dengan cara milking umumnya sudah dapat meninggalkan rumah sakit
pada hari ke-4 dan ke-5 pascabedah.

3. Pasca Operasi

• Hindari Dehidrasi
• Pertahankan stabilitas elektrolit
• Pengawasan akan inflamasi dan infeksi
• Pemberian analgetika yang tidak mempunyai efek menggangu motilitas usus

18
BAB III
KESIMPULAN

Penggunaan barium enema pada penatalaksanaan penyakit invaginasi dengan


menggunakan prinsip hidrostatik sudah digunakan semenjak tahun 1876, dengan
menggunakan kateter melalui anus dengan tekanan tertentu, diharapkan dapat
memperbaiki keadaan colon yang mengalami intussusepsi. Reduksi dengan barium
enema hanya dilakukan bila tidak ada distensi yang hebat, tanda peritonitis, dan demam
tinggi. Akan tampak gambaran cupping dan coiled spring yang menghilang bersamaan
dengan terisinya ileum oleh barium. Reduksi dengan barium enema dikatakan berhasil
bila barium cukup jauh mengisi ileum atau tampak jendela kolon.

Selain barium enema, terdapat metode udara enema, cara kerja kedua metode ini
sama. Jika metode ini berhasil, bayi sudah bisa minum dan bisa pulang dalam beberapa
hari. Jika metode ini tidak berhasil perlu dilakukan operasi. Invaginasi cenderung
menyumbat usus dan menghentikan aliran darah ke usus, sehingga perlu dilakukan
pembedahan darurat

19
DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.emedicinehealth.com/includes/basicsearch.asp_october,26_2005.
2. Behrman, Kliegman, Arvin; NELSON Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15,2000,
Penerbit Buku Kedokteran EGC
3. STAF PENGAJAR ILMU KESEHATAN MASYARAKAT. ILMU KESEHATAN ANAK. JAKARTA: ILMU
KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UI, 1985
4. Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson; Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit, Edisi 6, Buku I, Cetakan I 2006, Penerbit Buku Kedokteran EGC, hal :
435-458
5. http://www.drhull.com/encymaster/intussusception.html. July 15,1999
6. Sabiston, D.C.Jr. Ilmu Bedah Anak, Adrianto,P, Dr. (eds), Buku Ajar Bedah,
Jilid 2, 1994, Penerbit Buku Kedokteran EGC, hal : 269-273..
7. Suharyono, Aswitha Boediarso, EM Halimun; Gastroenterologi Anak Praktis,
Cetakan II 1994, Balai Penerbit FKUI 1998, hal : 421 -423.
8. Robbins, S.L, M.D. dan Kumar, V.,M.D.,1995, Traktus Gastrointestinal dalam
Buku Ajar Patologi II, ed. 4, Penerbit Buku Kedokteran EGC, hal 281-293
9. R.Sjamsuhidajat, Wim de Jong; Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Cetakan I
1997, Penerbit Buku Kedokteran EGC, hal : 846 – 850.
10. Soelarto Reksoprodjo editor ketua; Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Cetakan I
1995, FKUI Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/R.S
Dr. Cipto Mangunkusumo, Penerbit Binarupa Aksara, hal : 119 – 121.
11. http://www.uuhsc.utah.edu/healthinfo/pediatric/digestive/intussus.htm.copyright.
April, 2003
12. http://www.yoursurgery.com/procedures/intussusception
13. http://www.nejm.org on March 11, 2010
14. http://www.pedisurg.com/intestinal_obstruction.htm.
15. http://www.pennhealth.com/intestobstrucy_3.html
16. http://www.lpch.org/DiseaseHealthInfo/HealthLibrary/digest/intussus.html.
Copyrigh 2006.

20
21