Anda di halaman 1dari 14

TREN DAN ISU DALAM

KEPENATAAN ANESTESI MENUJU MEA

isusun Oleh Kelompok V

Suryanto
M. Aryadi A
Eka Septian Sukarman
Hidayati
I Ketut Wimawan Wikantara
Lalu Irwandi
Mustakim
Mimil Ratnamila
Sodik Eko Purwanto
Arlin Azis Ahmad
Muhammad Asma’
Muhammad Zulfahri Sitompul

PRODI DIV KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI


ITEKES BALI
2020
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Peran perawat adalah menjaga pasien mempertahankan kondisi terbaiknya terhadap masalah
kesehatan yang menimpa dirinya (Florence Nigthingale, 1954). Perawatan adalah suatu bentuk
pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang di dasarkan
ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spritual yang komprehensif serta
di tujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat yg mencakup
seluruh siklus kehidupan manusia (Lokakarya keperawatan Nasional 1986). Keperawatan sebagai
bagian integral dari pelayanan kesehatan, ikut menentukan menentukan mutu dari pelayanan
kesehatan.
Tenaga keperawatan secara keseluruhan jumlahnya mendominasi tenaga kesehatan yang
ada, di mana keperawatan memberikan konstribusi yang unik terhadap bentuk pelayanan
kesehatan sebagai satu kesatuan yang relatif, berkelanjutan, koordinatif dan advokatif.
Kepenataan Anestesi sebagai suatu profesi menekankan kepada bentuk pelayanan profesional
yang sesuai dengan standar dengan memperhatikan kaidah etik dan moral.
Penata Anestesi dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya sangat dituntut memiliki
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang baik yang dapat menunjang tindak prilaku
profesionalnya. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baik akan dapat diperoleh dalam
lingkungan perguruan tinggi yang memiliki komitmen yang kuat untuk mencetak penata yang
profesional.

A. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah “ Bagaimana
Tren dan Isu Kepenataan Anestesi menuju MEA?”.
B.Tujuan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami manajemen keperawatan yaitu tentang Tren
dan Isu Kepenataan Anestesi menuju MEA
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang tren dan isu dalam kepenataan.
b. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang bentuk-bentuk tren dan isu dalam
kepenataan anestesi dalam menghadapi MEA

c. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang manfaat tren dan isu dalam
kepenataan anestesi dalam menghadapi MEA.
d. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang faktor yang mempengaruhi tren dan
isu dalam kepenataan anestesi dalam menghadapi menghadapi MEA.
e. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang peran Penata Anestesi dalam
kepenataan dalam menghadapi MEA.
f. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang tren dan isu komunikasi dalam
asuhan kepenataan anestesi dalam menghadai MEA.

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Kelompok
Sebagai tambahan referensi dan bahan pustaka bagi sekolah tinggi ilmu kesehatan mengenai
tren dan isu kepenataan anestesi dalam menghadapi MEA.
2. Bagi Pembaca
Untuk menambah wawasan dan memberikan informasi kepada mahasiswa lain dan kepada
masyarakat tentang tren dan isu kepenataan anestesi dalam menghadapi MEA
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tren dan Isu Dalam Kepenataan


1.Tren
Tren adalah sesuatu yang sedang “menjamur” atau sedang disukai dan digandrungi oleh orang
banyak dan sesuai dengan fakta.Tren merupakan suatu alur yang menuju ke arah mana pasar
bergerak dan suatu pola dari peristiwa-peristiwa atau perilaku yang sama-sama dialami oleh
semakin banyak orang. Tren juga merupakan hal yang sangat mendasar dalam pendekatan analisa
dan merupakan salah satu gambaran ataupun informasi yang terjadi saat ini yang biasanya sedang
populer di kalangan masyarakat.
2. Isu
Isu adalah suatu peristiwa atau kejadiaan yang dapat di perkirakan terjadi atau tidak terjadi
pada masa mendatang dan merupakan sesuatu yang sedang di bicarakan banyak orang tetapi masih
belum jelas fakta atau buktinya.
Dari pengertian diatas dapat ditarik garis besar untuk trend dan isu keperawatan
merupakan sesuatu yang sedang di bicarakan banyak orang tentang peraktek ataupun mengenai
keperawatan baik itu berdasarkan fakta atau tidak, trend dan isue keperawatan tentunya
menyangkut aspek legal dan etis dalam dunia keperawatan.(Nasir, 2009)
Beberapa isu, keperawatan pada saat ini, Euthanasia adalah membunuh bisa dilakukan
secara legal. Itulah euthanasia, pembuhuhan legal yang sampai kini masih jadi kontroversi.
Pembunuhan legal ini pun ada beragam jenisnya. Secara umum, kematian adalah suatu topik
yang sangat ditakuti oleh publik. Hal demikian tidak terjadi di dalam dunia kedokteran atau
kesehatan. Dalam konteks kesehatan modern, kematian tidaklah selalu menjadi sesuatu yang
datang secara tiba-tiba. Kematian dapat dilegalisir menjadi sesuatu yang dapat dipastikan tanggal
kejadiannya. Euthanasia memungkinkan hal tersebut terjadi.
Organisasi profesi kepenataan memerlukan suatu perubahan cepat dan dinamis serta
kemampuan mengakomodasi setiap kepentingan individu menjadi kepentingan organisasi dan
mengintegrasikannya menjadi serangkaian kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya.
Restrukturisasi organisasi kepenataan merupakan pilihan tepat guna menciptakan suatu
organisasi profesi yang mandiri dan mampu anggotanya melalui upaya jaminan kualitas kinerja
dan harapan akan masa depan yang lebih baik serta meningkat.
Komitmen penata anestesi jalan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sangat penting
dalam terwujudnya pelayanan kepenataan profesional. Beberapa hal terkait dengan isu ini, yang
secara fundamental mesti dilakukan dalam penerapan teknologi dalam bidang kesehatan dalam
merawat pasien adalah:
1. Jaminan kerahasiaan dan jaminan pelayanan dari informasi kesehatan yang diberikan harus
tetap terjaga
2. Pasien yang mendapatkan intervensi melalui telehealth harus diinformasikan potensial resiko
(seperti keterbatasan jaminan kerahasiaan informasi, melalui internet atau telepon) dan
keuntungannya
3. Diseminasi data pasien seperti identifikasi pasien (suara, gambar) dapat dikontrol dengan
membuat informed consent (pernyataan persetujuan) lewat email
4. Individu yang menyalahgunakan kerahasiaan, keamanan dan peraturan dan penyalah gunaan
informasi dapat dikenakan hukuman atau legal aspek.

Nilai profesional yang melandasi pelayanan kepenataan dapat dikelompokkan dalam :


1. Nilai intelektual
Nilai intelektual dalam pelayanan kepenataan anestesi terdiri dari :
a. Body of Knowledge
b. Pendidikan spesialisasi (berkelanjutan)
c. Menggunakan pengetahuan dalam berpikir secara kritis dan kreatif.

2. Nilai komitmen moral


Pelayanan keperawatan diberikan dengan konsep altruistic, dan memperhatikan kode etik
keperawatan. Menurut Beauchamp & Walters (1989) pelayanan professional terhadap masyarakat
memerlukan integritas, komitmen moral dan tanggung jawab etik.

Aspek moral yang harus menjadi landasan perilaku Penata Anestesi adalah :
a. Beneficience: Selalu mengupayakan keputusan dibuat berdasarkan keinginan melakukan yang
terbaik dan tidak merugikan klien. (Johnstone, 1994)
b. Fair: Tidak mendeskriminasikan klien berdasarkan agama, ras, sosial budaya, keadaan
ekonomi dan sebagainya, tetapi memperlakukan klien sebagai individu yang memerlukan bantuan
dengan keunikan yang dimiliki.
c. Fidelity: Berperilaku caring (peduli, kasih sayang, perasaan ingin membantu), selalu berusaha
menepati janji, memberikan harapan yang memadahi, komitmen moral serta memperhatikan
kebutuhan spiritual klien.
d. Non- Malefience: tidak melukai atau tindak menimbulkan bahaya atau cidera bagi orang lain.

e. Kejujuran: Kejujuran adalah berarti dengan penuh dengan kebenaran nilai ini diperlukan oleh
pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk
meyakinkan bahwa klien sangat mengerti.
f. Altruisme: Merupakan perilaku yang menggambarkan kepedulian dan kesejahteraan orang
lain. Sikap dari nilai altruisme yang ditampilkan penata meliputi pemberian perhatian.

3. Otonomi, kendali dan tanggung gugat


Otonomi merupakan kebebasan dan kewenangan untuk melakukan tindakan secara mandiri.
Hak otonomi merujuk kepada pengendalian kehidupan diri sendiri yang berarti bahwa penata
memiliki kendali terhadap fungsi mereka. Otonomi melibatkan kemandirian, kesedian mengambil
resiko dan tanggung jawab serta tanggung gugat terhadap tindakannya sendiri begitu pula
sebagai pengatur dan penentu diri sendiri.
Kendali mempunyai implikasi pengaturan atau pengarahan terhadap sesuatu atau seseorang.
Bagi profesi kepenataan, harus ada kewenangan untuk mengendalikan praktik, menetapkan
peran, fungsi dan tanggung jawab anggota profesi. Tanggung gugat berarti penata anestesi
bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang dilakukannya terhadap klien.

B. Bentuk-bentuk Tren dan Isu kepenataan anestesi menuju MEA


1. Tren Keperawatan Medikal Bedah dan Implikasinya di Indonesia
Perkembangan trend keperawatan medikal bedah di Indonesia terjadi dalam berbagai bidang
yang meliputi:
a. Telenursing (Pelayanan Asuhan Keperawatan Jarak Jauh)
Menurut Martono, telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) adalah upaya
penggunaan teknologi informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian
pelayanan kesehatan di mana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau
antara beberapa perawat. Keuntungan dari teknologi ini yaitu mengurangi biaya kesehatan,
jangkauan tanpa batas akan layanan kesehatan, mengurangi kunjungan dan masa hari rawat,
meningkatkan pelayanan pasien sakit kronis, mengembangkan model pendidikan keperawatan
berbasis multimedia (Britton, Keehner, Still & Walden 1999). Tetapi sistem ini justru akan
mengurangi intensitas interaksi antara perawat dan klien dalam menjalin hubungan terapetik
sehingga konsep kepenataan anestesi secara holistik akan sedikit tersentuh oleh Penata
Anestesi.
2. Tren Current issue dan kecenderungan dalam keperawatan jiwa
Trend atau current issue dalam keperawatan jiwa adalah masalah-masalah yang sedang hangat
dibicarakan dan dianggap penting. Masalah-masalah tersebut dapat dianggap ancaman atau
tantangan yang akan berdampak besar pada keperawatan jiwa baik dalam tatanan regional maupun
global. Ada beberapa tren penting yang menjadi perhatian dalam keperawatan jiwa di antaranya
adalah sebagai berikut :
a. Kecenderungan dalam penyebab gangguan jiwa
b. Trend peningkatan masalah kesehatan jiwa
c. Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi
d. Kecenderungan situasi di era global
e. Kecenderungan penyakit jiwa
f. Globalisasi dan perubahan orientasi sehat
g. Kecenderungan penyakit jiwa

3. Tren dan isu keperawatan komunitas


Pengaruh politik terhadap keperawatan professional. Keterlibatan perawat dalam politik
sangat terbatas. Walaupun secara individu ada beberapa nama seperti F.Nightingale, Lilian
Wald, Margaret Sunger, dan Lavinia Dock telah mempengaruhi dalam pembuatan di berbagai
bidang nampaknya perawat kurang di hargai sebagai kelompok. Gerakan wanita telah
memberikan inspirasi pada perawat mengenai masalah keperawatan komunitas.
Kekuatan politik merupakan kemampuan untuk mempengaruhi atau meyakinkan
seseorang untuk memihak pada pemerintah untuk memperlihatkan bahwa kekuatan dari pihak
tersebut membentuk hasil yang diinginkan (Rogge,1987).
Perawat merasa tidak nyaman dengan politik karena mayoritas perawat adalah wanita dan
politik merupakan dominasi laki-laki (Marson,1990) . Keterlibatan perawat dalam politik
mendapatkan perhatian yang lebih besar dalam kurikulum keperawatan, organisasi profesional,
dan tempat perawatan profesional. Organisasi keperawatan mampu memgabungkan semua upaya
seperti pada Nursing Agenda For Healt Care Reform (Tri-council,1991).
Strategi spesifik pengintegrasian peraturan publik dalam kurikulum keperawatan,
sosialisasi dini, berpartisipasi dalam organisasi profesi, memperluas lingkungan praktik klinik,
dan menjalankan tempat pelayanan kesehatan.

C. Manfaat Tren dan Isu Kepenataan Anestesi Dalam Menghadapi MEA


Pemanfaatan tekhnologi telehealth mempunyai banyak manfaat dan keuntungan bagi berbagai
pihak di antaranya pasien, petugas kesehatan dan pemerintah. Aspek kemudahan dan
peningkatan jangkauan serta pengurangan biaya menjadi keuntungan yang bisa terlihat secara
langsung Dengan adanya kontribusi telehealth dalam pelayanan keperawatan di rumah atau
homecare, akan banyak sekali manfaat yang dapat dirasakan oleh pasien dan keluarga, Penata
Anestesi, instansi pelayanan kesehatan dan termasuk juga pemerintah dalam hal ini adalah
Departemen Kesehatan. Namun demikian untuk bisa mengaplikasikan telehealth dalam bidang
keperawatan banyak sakali tantangan dan hambatannya misalnya: faktor biaya, sumber daya
manusia, kebijakan dan perilaku. Peluang Penata dalam Memanfaatkan Tren Isu,Perawat sangat
berpeluang dalam menerapkan teknologi Telenursing ini dimana penata dapat memanfaatkan
komunikasi pada telenursing sehingga pelayanan asuhan kepenataan anestesi dapat berjalan
dengan baik. Telenursing adalah penggunaan tekhnologi dalam keperawatan untuk
meningkatkan perawatan bagi pasien (Skiba, 1998) Telenursing menggunakan teknologi
komunikasi dalam asuhan kepenataan anestesi untuk memenuhi asuhan kepada klien. Teknologi
berupa saluran elektromagnetik (gelombang magnetik, radio dan optik) dalam menstransmisikan
signal komunikasi suara, data dan video. Atau dapat pula di definisikan sebagai komunikasi jarak
jauh, menggunakan transmisi elektrik dan optik, antar manusia dan komputer. Salah satu contoh
program telehealth adalah homecare.
Sistem ini menyediakan audio dan video interaktif untuk hubungan antara lanjut usia di
rumah dan telehealth perawat. Penata Anestesi memasukkan data data pasien secara elektronik
dan menganalisanya, kalau perlu untuk dilakukan kunjungan, perawat akan melakukan
kunjungan ke pasien.

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tren Dan Isu Kepenataan


Anestesi Dalam menghadapi MEA
1. Faktor agama dan adat istiadat.
Agama serta latar belakang adat-istiadat merupakan faktor utama dalam membuat
keputusan etis. Setiap perawat disarankan untuk memahami nilai-nilai yang diyakini maupun
kaidah agama yang dianutnya. Untuk memahami ini memang diperlukan proses. Semakin tua
dan semakin banyak pengalaman belajar, seseorang akan lebih mengenal siapa dirinya dan nilai-
nilai yang dimilikinya.Indonesia merupakan negara kepulauan yang dihuni oleh penduduk
dengan berbagai agama/kepercayaan dan adat istiadat.
2. Faktor sosial.
Berbagai faktor sosial berpengaruh terhadap pembuatan keputusan etis. Faktor ini antara
lain meliputi perilaku sosial dan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum, dan peraturan
perundang-undangan.
Perkembangan sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap sistem kesehatan nasional. Pelayanan
kesehatan yang tadinya berorientasi pada program medis lambat laun menjadi pelayanan
komprehensif dengan pendekatan tim kesehatan.
3. Faktor ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pada era abad 20 ini, manusia telah berhasil mencapai tingkat kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang belum dicapai manusia pada abad sebelumnya. Kemajuan yang telah dicapai
meliputi berbagai bidang. Kemajuan di bidang kesehatan telah mampu meningkatkan kualitas
hidup serta memperpanjang usia manusia dengan ditemukannya berbagai mesin mekanik
kesehatan, cara prosedur baru dan bahan-bahan/obat-obatan baru. Misalnya, Ibu-ibu yang
mengalami kesulitan hamil dapat diganti dengan berbagai inseminasi. Kemajuan-kemajuan ini
menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan etika.
4. Faktor legislasi dan keputusan yuridis.
Perubahan sosial dan legislasi secara konstan saling berkaitan.
Setiap perubahan sosial atau legislasi menyebabkan timbulnya tindakan yang merupakan
reaksi perubahan tersebut.Legislasi merupakan jaminan tindakan menurut hukum sehingga orang
yang bertindak tidak sesuai hukum dapat menimbulkan konflik.
Saat ini aspek legislasi dan bentuk keputusan yuridis bagi permasalahan etika kesehatan
sedang menjadi topik yang banyak dibicarakan. Hukum kesehatan telah menjadi suatu bidang
ilmu, dan perundang-undangan baru banyak disusun untuk menyempurnakan perundang-
undangan lama atau untuk mengantisipasi perkembangan permasalahan hukum kesehatan.
5. Faktor dana atau keuangan.
Dana atau keuangan untuk membiayai pengobatan dan perawatan dapat menimbulkan
konflik. Untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat, pemerintah telah banyak berupaya
dengan mengadakan berbagai program yang dibiayai pemerintah.
6. Faktor pekerjaan.
Penata perlu mempertimbangkan posisi pekerjaannya dalam pembuatan suatu keputusan.
Tidak semua keputusan pribadi perawat dapat dilaksanakan, namun harus diselesaikan dengan
keputusan/aturan tempat ia bekerja. Penata yang mengutamakan kepentingan pribadi sering
mendapat sorotan sebagai perawat pembangkang. Sebagai konsekuensinya, ia mendapatkan sanksi
administrasi atau mungkin kehilangan pekerjaan.
7. Faktor Kode etik keperawatan.
Kelly (1987), dikutip oleh Robert Priharjo, menyatakan bahwa kode etik merupakan salah
satu ciri/persyaratan profesi yang memberikan arti penting dalam penentuan, pertahanan dan
peningkatan standar profesi. Kode etik menunjukkan bahwa tanggung jawab kepercayaan dari
masyarakat telah diterima oleh profesi.
Untuk dapat mengambil keputusan dan tindakan yang tepat terhadap masalah yang menyangkut
etika, perawat harus banyak berlatih mencoba menganalisis permasalahan-permasalahan etis.
8. Faktor Hak-hak pasien.
Hak-hak pasien pada dasarnya merupakan bagian dari konsep hak-hak manusia. Hak
merupakan suatu tuntutan rasional yang berasal dari interpretasi konsekuensi dan kepraktisan
suatu situasi.Pernyataan hak-hak pasien cenderung meliputi hak-hak warga negara, hak-hak
hukum dan hak-hak moral. Hak-hak pasien yang secara luas dikenal menurut Megan (1998)
meliputi hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil dan berkualitas, hak untuk diberi
informasi, hak untuk dilibatkan dalam pembuatan keputusan tentang pengobatan dan perawatan,
hak untuk diberi informed concent, hak untuk mengetahui nama dan status tenaga kesehatan yang
menolong, hak untuk mempunyai pendapat kedua(secand opini), hak untuk diperlakukan dengan
hormat, hak untuk konfidensialitas (termasuk privacy), hak untuk kompensasi terhadap cedera
yang tidak legal dan hak untuk mempertahankan dignitas (kemuliaan) termasuk menghadapi
kematian dengan bangga.

E. Peran PenataAnestesi Terhadap Tren Isu Dalam Menghadapi MEA


Peran perawat dalam penerapan tren isu pada yaitu dapat melakukan perannya sebagai
pemberi asuhan kepenataan anestesi dengan lebih baik. Pemberian asuhan kepenataan anestesi
akan lebih baik dengan adanya Telehealth atau Telenursing yang berbasis teknologi. Dengan
adanya teknologi nursing ini penata hendaknya dapat melakukan tindakan asuhan kepenataan
lebih efisien dan tepat. Dan berlaku adil kepada pasien tidak membedakan pasien satu dengan
yang lainnya, tidak membedakan ras, agama, dan kedudukannya.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Telenursing memungkinkan penata anestesi memberikan asuhan kepenataan anestesi
untuk menyediakan informasi secara akurat dan tepat waktu dan memberikan dukungan secara
langsung (online). Kesinambungan pelayanan ditingkatkan dengan memberi kesempatan kontak
yang sering antara penyedia pelayanan kesehatan dan pasien dan Telenursing saat ini semakin
berkembang pesat di banyak Negara.Tren dalam asuhan kepenataan anestesi sebagai profesi
meliputi perkembangan aspek-aspek dari asuhan kepenataan anestesi yang mengkarakteristikan
keperawatan sebagai profesi meliputi: pendidikan, teori, pelayanan, dan kode etik.

B. Saran
Bagi Penata Anestesi Indonesia dapat meningkatkan lagi kualitasnya sebagai Penata
Anestesi dan memberikan asuhan kepenataan anestesi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan
agar tidak terjadinya kelalaian atau malpraktek.
DAFTAR PUSTAKA

Nasir, Abdul.2009. Pengantar komunikasi bagi siswa perawat. Penerbit : Salemba Medika. Jakarta.
Reza, Ica.2014.Trend dan issue dalam komunikasi keperawatan.

https://icarezahardiansyah.wordpress.com/2016/12/19/makalah-trend-dan-issue/.
Diaskes pada tanggal 25 maret 2018. Jam : 20.00 wib.

Novria,Eka.2012.Trend dan issue dalam komunkasi keperawatan.


http://ekanovriadytanjung.blogspot.co.id/2013/04/tren-dan-isu-keperawatan- komunitas.html.
Diaskes pada tanggal 25 maret 2018. Jam : 20.05 wib.
Novria, Eka .2013. trend dan issue dalam komunikasi keperawatan dan
komunitas.http://ekanovriadytanjung.blogspot.co.id/2013/04/tren-dan-isu-keperawatan-
komunitas.html. Diaskes pada tanggal 25 maret 2018. Jam : 20.15 wib.

- December 28, 2018 Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest


No comments:
Post a Comment

Newer Post Older Post Home


Subscribe to: Post Comments (Atom)
Subscribe To
Posts
Comments
Search This Blog

Anda mungkin juga menyukai