Anda di halaman 1dari 12

NAMA : FEIBY MANTIARA

NIM : 17061129
ESSAY
“PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KESIAPSIAGAAN
MASYARAKAT TERHADAP SIKAP MASYARAKAT DALAM MENGATASI MASALAH
KESEHATAN AKIBAT BENCANA TANAH LONGSOR”
‘HEALTH EDUCATION INFLUENCE ABOUT COMMUNITY PROSPERITY ON
COMMUNITY ATTITUDES IN OVERCOMING HEALTH PROBLEMS CAUSED BY LAND
DISASTER’
A. Latar Belakang
Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan
empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudra
Hindia dan Samudra Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk
vulkanik (vulcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatra-Jawa-Nusa Tenggara–
Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan daratan rendah yang sebagian
didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana
seperti letusan gunung merapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor (Wiarto,
2017).
Menurut Sutopo (2016) dampak yang ditimbulkan bencana selama tahun 2016 adalah
375 orang tewas, 383 jiwa luka-luka, 2,52 juta jiwa menderita dan mengungsi, dan lebih dari
34 ribu rumah rusak. Diprediksi dampak bencana ini akan terus bertambah. Bencana tanah
longsor merupakan bencana yang menimbulkan korban tewas paling banyak yaitu 161 jiwa.
Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, pada tahun 2015 sudah
terjadi 5 (lima) kejadian bencana tanah longsor melanda Kecamatan Pagerwojo (Desa
Mulyosari, Gondanggunung, Gambiran) dan Kecamatan Sendang (Desa Krosok). Tahun
2016 tercatat sebanyak 12 (dua belas) kejadian bencana tanah longsor di wilayah Kecamatan
Pagerwojo (Desa Wonorejo, Mulyosari, Kradinan, Samar, Pagerwojo, Segawe), Kecamatan
Sendang (Desa Nyawangan, Kedoyo), dan Kecamatan Besuki (desa Sedayugunung).
Dampak yang ditimbulkan antara lain 13 rumah rusak ringan, 3 rumah rusak sedang, 2
rumah berat, akses jalan desa terganggu/terputus, rusaknya area ladang pekarangan milik
warga setempat.
Dampak yang terjadi bila masyarakat tidak mengetahui Kesiapsiagaan menghadapi
bencana tanah longsor adalah masyarakat tidak bisa maksimal dalam merespon secara cepat
situasi bencana secara efektif dengan menggunakan kapasitas sendiri. Selain itu, juga
terdapat dampak yang dialami masyarakat secara langsung yaitu berbagai masalah kesehatan
pasca terjadinya bencana tanah longsor seperti penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan
juga permasalahan mengenai suplai bahan makanan dan obat- obatan yang akan
menimbulkan berbagai masalah lainnya, seperti kekurangan gizi dan penyakit infeksi atau
wabah berupa infeksi pencernaan (GED), infeksi pernapasan akut seperti influensa, dan
penyakit kulit. Padahal upaya penanggulangan pra bencana tanah longsor dapat dilakukan
dengan cara pemberian Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan) tentang Kesiapsiagaan bencana
pada tingkat masyarakat (Aminto, 2013). Upaya yang dilakukan dapat berupa Penyuluhan
kesehatan atau bisa disebut juga pendidikan kesehatan yang diartikan sebagai proses untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan agar
orang mampu menerapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri, mampu memahami apa
yang dapat mereka lakukan terhadap masalahnya, dengan sumber daya yang ada pada
mereka ditambah dengan dukungan dari luar, dan mampu memutuskan kegiatan yang tepat
guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat
(Notoadmodjo,2013).
B. Literature Review
Tanah longsor adalah salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun
percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan
tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan
kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng. Hujan deras adalah pemicu utama terjadinya
tanah longsor. Faktor lain yang memengaruhi terjadinya bencana tanah longsor adalah ulah
manusia, seperti penebangan liar, penambangan tanah, pasir, dan batu yang tidak terkendali.
Bencana tanah longsor merupakan salah satu bencana alam geologi yang dapat menimbulkan
korban jiwa dan kerugian material yang sangat besar, seperti terjadinyapendangkalan,
terganggunya jalur lalu lintas, rusaknya lahan pertanian, permukiman,jembatan, saluran
irigasi dan prasaranafisik lainnya (Ramli, 2010).
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau
faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU RI No.
24 Tahun 2007).
Tanah longsor adalah pergerakan material berupa batuan atau tanah melalui permukaan
bidang miring yang disebut lereng. Batuan atau tanah mengalami longsoran menuruni
tebing searah dengan kemiringan lereng (Supriyono, 2014).
Secara geologi tanah longsor adalah suatu peristiwa geologi dimana terjadi pergerakan
tanah seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah(Nandi, 2007). Jadi tanah longsor
adalah suatu bencana alam yang terjadi dimana adanya pergerakan tanah.

Manajemen Bencana :

1. Mitigation
Mitigasi bencana tanah longsor adalah suatu usaha memperkecil jatuhnya korban
manusia dan atau kerugian harta benda akibat peristiwa atau rangkaian peristiwa yang di
sebabkan oleh alam, manusia, dan oleh keduanya yang mengakibatkan jatuhnya korban.
Mitigasi tanah longsor pada prinsipnya bertujuan untuk meminimumkan dampak
bencana tersebut. Mitigasi bencana meliputi sebelum, saat terjadi dan sesudah terjadi
bencana.
a. Sebelum bencana antara lain peringatan dini (early warning system) secara optimal
dan terus menerus pada masyarakat.
- Mendatangi daerah rawan longsor lahan berdasarkan peta kerentanannya.
- Memberi tanda khusus pada daerah rawan longsor lahan.
- Manfaatkan peta-peta kajian tanah longsor secepatnya.
- Permukiman sebaiknya menjauhi tebing.
- Tidak melakukan pemotongan lereng.
- Melakukan reboisasi pada hutan yang pada saat ini dalam kedaan gundul,
- menanam pohon-pohon penyangga, melakukan panghijauan pada lahan-lahan
terbuka.
- Membuat terasering atau sengkedan pada lahan yang memiliki kemiringan yang
relatif curam.
- Membatasi lahan untuk pertanian
- Membuat saluran pembuangan air menurut kontur tanah
- Menggunakan teknik penanaman dengan sistem kontur tanah
- Waspada gejala tanah longsor (retakan, penurunan tanah) terutama di musim
hujan.

b. Saat bencana antara lain bagaimana menyelamatkan diri dan kearah mana. ini
harus diketahui oleh masyarakat.
c. Sesudah bencana antara lain pemulihan (recovery) dan masyarakat harus
dilibatkan.
- Penyelamatan korban secepatnya ke daerah yang lebih aman
- Penyelamatan harta benda yang mungkin masih dapat di selamatkan,
- Menyiapkan tempat-tempat penampungan sementara bagian para pengungsi
seperti tenda-tenda darurat
- Menyediakan dapur-dapur umum
- Menyediakan air bersih, sarana kesehatan
- Memberikan dorongan semangat bagi para korban bencana agar para korban
tersebut tidak frustasi dan Iain-lain.
- Koordinasi dengan aparat secepatnya

Adapun tahapan mitigasi bencana tanah longsor, yaitu pemetaan, penyelidikan,


pemeriksaan, pemantauan, sosialisasi.

a. Pemetaan
Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di
suatu wilayah, sebagai masukan kepada masyarakat dan atau pemerintah
kabupaten/kota dan provinsi sebagai data dasar untuk melakukan pembangunan
wilayah agar terhindar dari bencana.
b. Penyelidikan
Mempelajari penyebab dan dampak dari suatu bencana sehingga dapat digunakan
dalam perencanaan penanggulangan bencana dan rencana pengembangan
wilayah.
c. Pemeriksaan
Melakukan penyelidikan pada saat dan setelah terjadi bencana, sehingga dapat
diketahui penyebab dan cara penaggulangannya.
d. Pemantauan
Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis secara
ekonomi dan jasa, agar diketahui secara dini tingkat bahaya, oleh pengguna dan
masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut.
e. Sosialisasi
Memberikan pemahaman kepada Pemerintah Provinsi /Kabupaten /Kota atau
masyarakat umum, tentang bencana alam tanah longsor. Sosialisasi dilakukan
dengan berbagai cara antara lain, berita, poster, booklet, dan leaflet atau dapat
juga secara langsung kepada aparat pemerintah.

2. Preparedness
a. Mengurangi Kemungkinan/Dampak
Dalam upaya mengurangi dampak bencana di suatu wilayah, tindakan pencegahan
perlu dilakukan oleh masyarakatnya. Pada saat bencana terjadi, korban jiwa dan
kerusakan yang timbul umumnya disebabkan oleh kurangnya persiapan dan sistem
peringatan dini. Persiapan yang baik akan bisa membantu masyarakat untuk
melakukan tindakan yang tepat guna dan tepat waktu. Bencana bisa menyebabkan
kerusakan fasilitas umum, harta benda dan korban jiwa. Dengan mengetahui cara
pencegahannya masyarakat bisa mengurangi resiko ini.
b. Menjalin Kerjasama Penanggulangan bencana hendaknya menjadi tanggung jawab
bersama antara masyarakat dan pemerintah serta pihak-pihak terkait. Kerjasama ini
sangat penting untuk memperlancar proses penanggulangan bencana.

Tindakan kesiapsiagaan :

 Tidak menebang atau merusak hutan


 Melakukan penanaman tumbuh-tumbuhan berakar kuat, seperti nimba, bambu, akar
wangi, lamtoro, dsb., pada lereng-lereng yang gundul
 Membuat saluran air hujan
 Membangun dinding penahan di lereng-lereng yang terjal
 Memeriksa keadaan tanah secara berkala
 Mengukur tingkat kederasan hujan
 Cara-cara menghindari korban jiwa dan harta akibat tanah longsor :
 Membangun pemukiman jauh dari daerah yang rawan
 Bertanya pada pihak yang mengerti sebelum membangun
 Membuat Peta Ancaman. Untuk keterangan lebih lanjut lihat bagian A.3 Buku
Panduan PBBM
 Melakukan deteksi dini

Yang harus dilakukan saat tanah longsor :

 Segera keluar dari daerah longsoran atau aliran reruntuhan/puing ke bidang yang
lebih stabil
 Bila melarikan diri tidak memungkinkan, lingkarkan tubuh anda seperti bola dengan
kuat dan lindungi kepala Anda. Posisi ini akan memberikan perlindungan terbaik
untuk badan Anda.

Yang harus dilakukan setelah tanah longsor :

 Hindari daerah longsoran, dimana longsor susulan dapat terjadi


 Periksa korban luka dan korban yang terjebak longsor tanpa langsung memasuki
daerah longsoran.
 Bantu arahkan SAR ke lokasi longsor
 Bantu tetangga yang memerlukan bantuan khusus-anak-anak, orang tua dan orang
cacat
 Dengarkan siaran radio lokal atau televisi untuk informasi keadaan terkini
 Waspada akan adanya banjir atau aliran reruntuhan setelah longsor
 Laporkan keruskan fasilitas umum yang terjadi kepada pihak yang berwenang
 Periksa kerusakan pondasi rumah dan tanah disekitar terjadinya longsor
 Tanami kembali daerah bekas longsor atau daerah disekitarnya untuk menghindari
erosi yang telah merusak lapisan atas tanah yang dapat menyebabkan banjir bandang
 Mintalah nasihat pada ahlinya untuk mengevaluasi ancaman dan teknik untuk
mengurangi risiko tanah longsor

3. Response
Tanggap Darurat (response) menurut definisi adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk
yang ditimbulkan, meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban,harta benda,
pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan,
serta pemulihan prasaranadan sarana(UUNo.24/2007).
4. Recovery
Recovery adalah proses dimana masyarakat dan bangsa dibantu untuk kembali ke
fungsi kehidupan seperti sebelumnya setelah bencana.
Dalam tahap ini, untuk memudahkan analisis peneliti juga membagi tahap recovery
menjadi tiga bagian berdasarkan jenis recovery yang dilakukan, yaitu restorasi,
rehabilitasi dan rekonstruksi.
 Restorasi adalah pembersihan kondisi sehingga bisa berfungsi secara darurat.
Rehabilitasi fisik (yang vital), yaitu perbaikan sarana-sarana kehidupan seperti
penyediaan pelayanan rumah, sarana air bersih, penyediaan sarana dapur umum dan
lain-lain.
 Rehabilitasi sosial bagi korban bencana yang mengalami tekanan/stress yang
ditujukan guna pengembalian fungsi sosial korban. Rehabilitasi fisik termasuk dalam
kategori response
 Rekonstruksi yaitu perbaikan secara total terhadap sarana-sarana atau fasilitas umum
kehidupan masyarakat sehingga dapat berfungsi secara normal, seperti sekolah, pasar,
jalan umum, rumah sakit, sarana penerangan, sarana komunikasi yang rusak, sehingga
kehidupan masyarakat dapat berfungsi secara normal kembali.
DALA (Damage and Losses Assessment) untuk menghitung nilai kerusakan,
pemulihan sarana dan prasarana umum, rekonstruksi permanen dengan pemberian
bantuan material, memberikan bantuan sembako dan bantuan material untuk
memperbaiki rumah yang rusak untuk korban angin puting beliung, melakukan
koordinasi dengan pemilik kewenangan di wilayah terdampak bencana untuk
melakukan rekonstruksi, dan untuk daerah yang sudah tidak layak huni akibat
bencana, maka akan diusahakan untuk mencari tempat tinggal baru. Secara umum
tindakan recovery yang dilakukan sudah sesuai dengan teori karena tujuan dari
tindakan tersebut sudah tercapai yakni pengembalian fungsi bangunan-bangunan yang
rusak akibat bencana.

Menurut Penelitian Evi Fitriani, Febriana Patmiati (2019), Pendidikan kesehatan


tentang kesiapsiagaan, mampu mempersiapkan masyarakat untuk mengantisipasi masalah
kesehatan yang mungkin terjadi. Tujuan penelitian untuk mengetahui adanya pengaruh
pendidikan kesehatan tentang kesiapsiagaan masyarakat terhadap sikap masyarakat
dalam mengatasi masalah kesehatan akibat bencana tanah longsor. Desain yang
digunakan dalam penelitian ini adalah pre eksperimen dengan rancangan pre test post
test. Populasi penelitian ini adalah anggota keluarga di Desa Nglurup yang berjumlah 162
kepala keluarga, dengan sampel sejumlah 40 responden yang diambil dengan teknik
quota Sampling. Pengambilan data dengan menggunakan lembar kuisioner. Selanjutnya
dianalisa dengan uji statistic Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian didapatkan
sejumlah 67,5% responden memiliki sikap positif terhadap kesiapsiagaan masyarakat
sebelum diberikan pendidikan kesehatan. Setelah diberikan pendidikan kesehatan
sejumlah 75% masyarakat mempunyai sikap positif. Berdasarkan uji statistic Wilcoxon
diperoleh nilai p=0.001 (p value <0,0.05) sehingga H0 ditolak yang artinya ada pengaruh
Pendidikan kesehatan tentang kesiapsiagaan masyarakat terhadap sikap masyarakat
dalam mengatasi masalah kesehatan akibat bencana tanah longsor. Masyarakat mampu
menerapkan kesiapsiagaan bencana yang telah diberikan petugas kesehatan untuk
mengetahui tindakan – tindakan yang harus dilakukan pada saat terjadi bencana.
Menurut Penelitian yang dilakukan Fakhryza Hamida, Hasti Widyasamratri (2019),
Terjadinya bencana longsor ini dapat menyebabkan dampak yang besar seperti kerusakan
dan kerugian baik materiil maupun non materiil. Tersedianya informasi yang lengkap dan
akurat dalam pengendalian pemanfaatan lahan di kawasan rawan bencana longsor dalam
pengembangan suatu wilayah menjadi hal yang sangat penting dalam meminimalisir
adanya korban jiwa dan kerugian-kerugian baik fisik, sosial maupun ekonomi. Informasi
tersebut harus disebarkan kepada masyarakat sebagai sistem peringatan dini dalam upaya
mitigasi bencana. Identifikasi karakteristik daerah rawan longsor diperlukan sebuah
pemetaan risiko kawasan rawan longsor dalam upaya mitigasi bencana dapat dilakukan
menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil dalam penelitian ini menunjukkan
perlunya identifikasi risiko bencana secara detail karena pada dasarnya, suatu kawasan
yang terancam bencana belum tentu tiap masyarakatnya mempunyai tingkat risiko
bencana yang sama. Pemetaan dapat dilakukan dengan pengklusteran maupun dengan
identifikasi setiap bangunan dalam kawasan rawan berdasarkan tingkat risiko terhadap
bencana tanah longsor.
Sistem Informasi Geografis (SIG) atau Geographis Information System (GIS) adalah
suatu sistem yang dapat digunakan untuk mengolah seluruh jenis data geografis. Adanya
informasi seperti data spasial risiko bencana merupakan upaya untuk meminimalisir dampak
dari bencana yang terjadi. Data spasial dalam SIG yang dimaksud yaitu berupa informasi
mengenai kawasan risiko bencana dalam peta dua dimensi (Kemkes, 2016).
Menurut penelitian Ardia Putra, dkk (2015), Bencana diartikan sebagai peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Perawat sebagai profesi yang bersifat luwes
dan mencakup segala kondisi, diharapkan tidak hanya terbatas pada pemberian asuhan
dirumah sakit saja melainkan juga dituntut mampu bekerja dalam kondisi siaga tanggap
bencana. Tujuan dari penelusuran kepustakaan ini adalah untuk mengidentifikasi peran dan
kepemimpinan perawat dalam manajemen bencana pada fase tanggap darurat. Penelitian ini
menggunakan pendekatan literature review. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari
literature yang diperoleh melalui internet berupa hasil penelitian dari perpustakaan on-line
baik lokal, nasional, maupun internasional. Peran dan kepemimpinan perawat pada fase
tanggap darurat secara umum akan diidentifikasikan pada 6 aspek, termasuk pencarian dan
penyelamatan, triase, pertolongan pertama, proses pemindahan korban, perawatan di rumah
sakit, dan rapid health assessment. Oleh karena itu, situasi penanganan antara keadaan siaga
dan keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga perawat harus mampu secara skill dan
teknik dalam menghadapi kondisi seperti ini.

C. Pembahasan
Perawat sebagai lini depan pada suatu pelayanan kesehatan mempunyai tanggung jawab
dan peran yang besar dalam penanganan pasien gawat darurat sehari-hari maupun saat terjadi
bencana. Peran perawat sebagai tenaga kesehatan mempunyai keahlian dalam siklus
kebencanaan salah satunya pada tahap pencegahan/mitigasi bencana yang terbagi menjadi
yaitu pengurangan risiko, pencegahan penyakit dan promosi kesehatan serta pengembangan
kebijakan dan perencanaan. Dengan demikian,perawat memiliki kesiagaan dari populasi
rentan di masyarakat dan masyarakat yang mungkin berisiko tinggi terhadap bencana
(International Council Nursing, 2009).
- Upaya Perawat dalam Fase Mitigasi Bencana Gunung Kelud berdasarkan ICN Framework
Kategori Baik
Dari hasil penelitian tentang upaya perawat dalam fase mitigasi bencana Gunung
Kelud dengan prosentase baik 36,3% (16 perawat). Hal itu karena perawat telah melakukan
upaya mitigasi bencana diantaranya pengurangan risiko dan pencegahan penyakit sebanyak
53% (23 perawat). Hal ini dibuktikan dengan dibentuknya team gerak cepat perawat.
Perawat bekerja dengan tenaga kesehatan lainnya untuk menentukan risiko penyakit,
kolaborasi pada rencana pengembangan untuk mengurangi kerentanan risiko yang
diidentifikasi dalam survey pengembangan lingkungan (International Council Nursing,
2009). Menurut opini peneliti, partisipasi dalam mengidentifikasi risiko penyakit dapat
mengurangi risiko potensial, karena pengetahuan perawat terhadap masyarakat dan bidang
kerentanan merupakan peran perawat.
Selain itu menurut peneliti, upaya perawat baik dikarenakan perawat pernah mengalami
bencana letusan gunung api sehingga mereka sudah paham apa yang harus mereka lakukan
apabila sewaktusewaktu terjadi bencana gunung meletus terbukti dengan sebanyak 70,50%
(31 perawat) pernah menjadi team bencana Gunung Kelud. Menurut Nurrobikha (2015),
perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia
dengan lingkungan yang terwujud dalam sikap dan tindakan yang bersifat holistik. Menurut
opini peneliti bahwa pengalaman merupakan guru terbaik untuk melakukan suatu perilaku
yang diaplikasikan dengan upaya atau tindakan. Semakin banyak pengalaman seseorang
maka pengetahuan seseorang akan semakin tinggi pula dan pengetahuan tersebut adalah
salah satu komponen dari suatu upaya.
Faktor lain yang mempengaruhi perawat dalam fase mitigasi bencana yaitu dengan
lama bekerja 11-20 tahun melakukan upaya mitigasi bencana Gunung Kelud yang baik
sebanyak 22,7% (10 perawat), upaya cukup 11,4% (5 perawat) dan upaya kurang sebanyak
6,8% (3 perawat). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1995) masa kerja
adalah jangka waktu orang sudah bekerja dari pertama mulai hingga sekarang masih
bekerja. Peneliti berpendapat semakin lama masa bekerja semakin baik pula pengetahuan
dan pengalamannya.

Upaya Perawat dalam Fase Mitigasi Bencana Gunung Kelud berdasarkan ICN
Framework Kategori Cukup
Berdasarkan hasil penelitian dari gambaran upaya perawat dalam fase mitigasi bencana
Gunung Kelud berdasarkan ICN Framework berkategori cukup 34,1% (15 perawat). Hal itu
karena perawat telah melakukan upaya mitigasi bencana melalui upaya promosi kesehatan
sebanyak 50% (22 perawat). Promosi kesehatan merupakan proses pemberdayaan atau
memandirikan masyarakat agar dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Ottawa
Charter, 1986). Proses pemberdayaan atau memandirikan masyarakat tidak hanya terbatas
pada kegiatan pemberian informasi (seperti kegiatan penyuluhan, KIE dan pendidikan
kesehatan), tetapi juga menyangkut penggalangan berbagai dukungan di masyarakat
(Maulana, 2009).Peneliti berpendapat, dengan terwujudnya pemberdayaan masyarakat
melalui promosi kesehatan dapat mempermudah perawat dalam melakukan pengurangan
risiko bencana. Hal ini dikarenakan masyarakat menjadi mandiri dan mengerti apa yang harus
dilakukannya apabila terjadi bencana.
Selain itu, upaya perawat dalam fase mitigasi bencana dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor salah satunya pendidikan yang dibuktikan dari hasil penelitian dengan mayoritas
pendidikan D3 keperawatan melakukan upaya baik sebanyak 27,3% (12 perawat), upaya
cukup 22,7% (10 perawat), upaya kurang 25,0 % (11 perawat). Ini sesuai denganpendapat
Dr Minami (2007) menyatakan sangat penting bahwa perawat dididik di semua tingkat
sehubungan dengan bencana. Kompetensi mencerminkan pengetahuan, pemahaman, dan
penilaian berbagai keterampilan kognitif, teknik atau psikomotor dan sikap pribadi
(Alexander, 2003).
Kurangnya kompetensi bencana dalam pendidikan menentukan tenaga kerja dengan
minim kompetensi. Akibatnya, banyak perawat tidak memandang tanggap bencana sebagai
prioritas atau kurang percaya diri untuk merespon bila diperlukan. Sebagai contoh, 70%
perawat sekolah di tiga wilayah Ohio Timur Laut, Amerika Serikat, menanggapi survei
tentang pendidikan bencana mereka memerlukan pendidikan tambahan terkait dengan
tanggap darurat agar dapat merespons secara efektif (Mosca, Sweeney dan Brenner , 2005).
Menurut Mubarak (2007), semakin tinggi pendidikan seseorang makin mudah pula
bagi mereka untuk menerima informasi dan makin banyak pula yang dimiliki. Peneliti
berpendapat bahwa tingkat pendidikan akan mempengaruhi seseorang dalam berperan,
dimana semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin bertambah pula pengetahuan
dan wawasan yang ia miliki. Semakin luas pengetahuan dan wawasan yang dimiliki oleh
seseorang tersebut maka dapat semakin baik pula peran yang dijalankan. Sebaliknya,
semakin rendah tingkat pendidikan dan pengetahuan semakin kurang juga peran yang
dilakukannya.

Upaya Perawat dalam Fase Mitigasi Bencana Gunung Kelud berdasarkan ICN
Framework Kategori Kurang
Berdasarkan hasil penelitian upaya perawat dalam fase mitigasi bencana Gunung
Kelud berkategori kurang pada pengembangan kebijakan dan perencanaan sebanyak 75%
(30 perawat). Menurut Bella (2011) menyatakan bahwa perencanaan yang jelas dan
keterlibatan perawat sebagai tim penanggulangan bencana merupakan suatu bentuk kerja
sama yang baik untuk membantu dalam penanggulangan bencana. Menurut peneliti dengan
terlibatnya perawat dalam tim penanggulangan bencana, perawat lebih memahami cara
melakukan pertolongan pertama atau bagaimana cara untuk penanggulangan bencana.
Selain itu dengan adanya pengembangan kebijakan dan perencaan terkait dengan bencana
dapat menimbulkan rencana yang lebih terorganisir. Perencanaan tersebut dapat
diwujudkan dengan adanya koordinasi baik lintas program, lintas sektor maupun antar
wilayah.
Hasil penelitian tentang upaya perawat dalam fase mitigasi bencana Gunung Kelud
berkategori kurang 29,6% (13 perawat). Hal ini dibuktikan dari hasil data diketahui upaya
dalam mengikuti pelatihan kurang yaitu 34,1% (15 perawat). Menurut Koichiro Matsura
(2005), Direktur Jenderal UNESCO mengatakan, mengantisipasi, mendidik atau melatih
dan menginformasikan adalah kunci untuk mengurangi efek mematikan dari bencana alam.
Unsur ketidaksiapan bencana, termasuk untuk mencegah, mempersiapkan, merespons, dan
memulihkan ditemukan pada bencana-bencana sebelumnya. Kesiapan lain yang harus
dimiliki oleh perawat adalah peningkatan kompetensi baik melalui pelatihan-pelatihan
seperti managemen bencana, adanya petunjuk teknis, sarana dan prasarana serta
pengalaman perawat itu sendiri dalam menangani masalah bencana (Arbon, 2006).
Menurut peneliti dengan mengikuti pelatihan dapat membantu perawat untuk kreatif dalam
memilih alternatif respon bencana sehingga dapat mempersiapkan lebih baik untuk bencana
yang sesungguhnnya.
D. Kesimpulan
Tanah longsor adalah salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun
percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan
tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan
kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng. Hujan deras adalah pemicu utama terjadinya
tanah longsor. Faktor lain yang memengaruhi terjadinya bencana tanah longsor adalah ulah
manusia, seperti penebangan liar, penambangan tanah, pasir, dan batu yang tidak terkendali.
Bencana tanah longsor merupakan salah satu bencana alam geologi yang dapat menimbulkan
korban jiwa dan kerugian material yang sangat besar, seperti terjadinyapendangkalan,
terganggunya jalur lalu lintas, rusaknya lahan pertanian, permukiman,jembatan, saluran
irigasi dan prasaranafisik lainnya (Ramli, 2010).
Pendidikan kesehatan dengan masyarakat yang tidak mendapat pendidikan kesehatan
dalam mengatasi masalah kesehatan akibat bencana tanah longsor. Dan saran untuk peneliti
selanjutnya, diharapkan dapat digunakan sebagai referensi dalam melaksanakan penelitian
dengan sampel yang lebih banyak, juga dengancara yang berbeda. Di mana dalam penelitian
yang telah dilakukan mungkin bisa dibandingkan antara pemberian informasi melalui
pendidikan kesehatan dengan pemberian informasi melalui simulasi. Diharapkan dengan
metode yang berbeda mendapathasil yang lebih baik dari penelitian sebelumnya. Hasil
penelitian setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang kesiapsiagaan terdapat
peningkatan sikap masyarakat. Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu sumber
informasi yang diharapkan masyarakat mampu menerapkan kesiapsiagaan bencana yang
telah diberikan petugas kesehatan dan dapat mengetahui tindakan-tindakan yang harus
dilakukan pada saat terjadi bencana.
Peran dan kepemimpinan perawat pada fase tanggap darurat :
1. Pencarian dan penyelamatan
2. Triase
3. Pertolongan pertama
4. Proses pemindahan korban
5. Perawatan di rumah sakit
6. RHA
7. Peran perawat di dalam posko pengungsian dan posko bencana
8. Peran perawat dalam fase postimpact

E. Referensi
Fitriani. 2019. PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KESIAPSIAGAAN
MASYARAKAT TERHADAP SIKAP MASYARAKAT DALAM MENGATASI MASALAH
KESEHATAN AKIBAT BENCANA TANAH LONGSOR.
https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/view/4769/pdf. Diakses pada tanggal
07/10/2020 jam 00.00
Yuniarta, Hanif. 2019. KERAWANAN BENCANA TANAH LONGSOR KABUPATEN
PONOROGO. https://jurnal.uns.ac.id/matriks/article/download/37327/24552. Diakses pada
tanggal 07/10/2020 jam 00.00
Anam,winarni,.dkk 2018 UPAYA PERAWAT DALAM FASE MITIGASI BENCANA
GUNUNG KELUD BERDASARKAN ICN FRAMEWORK. https://www.google.com/url?
sa=t&source=web&rct=j&url=http://ojs.poltekkes-
malang.ac.id/index.php/JKT/article/download/261/113/&ved=2ahUKEwjGttnx16DsAhWPf3
0KHRvpCWUQFjAAegQIARAB&usg=AOvVaw21hO9oT8qarJ3K7G_zn7Xe

Putra, Ardia,. Dkk. 2019. PERAN DAN KEPEMIMPINAN PERAWAT DALAM


MANAJEMEN BENCANA PADA FASE TANGGAP DARURAT .
http://jurnal.unsyiah.ac.id/INJ/article/download/6635/5429. Diakses pada tanggal 07/10/2020
jam 00.00