Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN Atrial Septal Defect (ASD)

PRAKTEK KLINIK KARDIOVASKULER I METODE DARING

Oleh:

MAISARAH

183110180

III.A

DOSEN PEMBIMBING :

Hj. Tisnawati, SiT, M.Kes

PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

TAHUN 2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Di antara berbagai kelainan bawaan (congenital anomaly) yang ada, penyakit jantung bawaan
(PJB) merupakan kelainan yang sering ditemukan. Di amerika serikat, insidens penyakit
jantung bawaan sekitar 8 – 10 dari 1000 kelahiran hidup, dengan sepertiga di antaranya
bermanifestasi sebagai kondisi kritis pada tahun pertama kehidupan dan 50% dari kegawatan
pada bulan pertama kehidupan berakhir dengan kematian penderita. Di indonesia, dengan
populasi lebih dari 200 juta penduduk dan angka kelahiran hidup 2%, diperkirakan terdapat
sekitar 30.000 penderita.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas pada praktek klinik kardiovaskuler metode daring.
2. Tujuan Khusus
a. Agar mahasiswa/i dapat mengetahui dan memahami pengertian Atrium Septal Defect
b. Agar mahasiswa/i dapat mengetahui dan memahami etiologi Atrium Septal Defec
c. Agar mahasiswa/i dapat mengetahui dan memahami manifestasi klinis Atrium Septal
Defect
d. Agar mahasiswa/i dapat mengetahui dan memahami komplikasi Atrium Septal Defect
e. Agar mahasiswa/i dapat mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik Atrium
Septal Defect
f. Agar mahasiswa/i dapat mengetahui dan memahami patofisiologi Atrium Septal
Defect
g. Agar mahasiswa/i dapat mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada anak
dengan gangguan Atrium Septal Defect
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian
Cacat jantung bawaan, atau penyakit, adalah masalah dengan struktur jantung yang ada saat
lahir. Mereka dapat mengubah aliran darah normal melalui jantung. Cacat jantung kongenital
adalah jenis cacat lahir yang paling umum (NHLBI, 2015).
Cacat septum atrium (ASD) adalah lubang di septum interatrial, menyebabkan pirau kiri-ke-
kanan dan kelebihan volume atrium kanan dan ventrikel kanan. Anak-anak jarang bergejala,
tetapi komplikasi jangka panjang setelah usia 20 tahun meliputi hipertensi paru, gagal
jantung, dan aritmia atrium. Orang dewasa dan, jarang, remaja dapat mengalami intoleransi
olahraga, dispnea, kelelahan, dan aritmia atrium. Murmur midsistolik lunak di perbatasan
sternum kiri atas dengan pemisah lebar dan tetap dari bunyi jantung ke-2 (S2) sering terjadi.
Diagnosis dilakukan dengan ekokardiografi. Perawatannya adalah penutupan alat
transcatheter atau perbaikan bedah (Marie Baffa, Jeanne, 2018).
Atrial Septal Defect (ASD) merupakan kelainan akibat adanya lubang pada septum
intersisial yang memisahkan antrium kiri dan kanan . Hal ini menyebabkan pencampuran
darah beroksigen dengan tidak beroksigen, yang akhirnya mengakibatkan jantung kanan
membesar dan tekanan tinggi pada paru-paru (hipertensi pulmonal) (IMFI, 2018).

Atrium Septal Defect (ASD) adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek) pada
septum interatrial (sekat antar serambi) yang terjadi karena kegagalan fungsi septum
interatrial semasa janin. Atrial Septal Defect (ASD) adalah suatu lubang pada dinding
(septum) yang memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium kanan).
Kelainan jantung ini mirip seperti Ventrikel Septal Defect (VSD), tetapi letak kebocoran di
septum antara serambi kiri dan kanan. Kelainan ini menimbulkan keluhan yang lebih ringan
dibanding VSD.
Atrial Septal Defect (ASD) adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang
memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan
pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium.
Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui
sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus
di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan
setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum
dan defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat
sekat antar bilik atau pada bantalan endokard.
B. Klasifikasi
ASD dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi:
1. Ostium secundum: Kerusakan pada fossa ovalis — di bagian tengah (atau tengah) dari
septum atrium.
2. Sinus venosus: Kerusakan pada aspek posterior septum, dekat vena cava superior atau
inferior vena cava, dan sering dikaitkan dengan kembalinya vena pulmonalis kanan
atas atau bawah ke atrium kanan atau vena cava kanan.
3. Ostium primum: Defek pada aspek anteroinferior septum, suatu bentuk defek septum
atrioventrikular (defek bantal endokardial). (Marie Baffa, Jeanne, 2018).

C. Etiologi
ASD merupakan suatu kelainan jantung bawaan. Dalam keadaan normal, pada peredaran
darah janin terdapat suatu lubang diantara atrium kiri dan kanan sehingga darah tidak perlu
melewati paru-paru. Pada saat bayi lahir, lubang ini biasanya menutup. Jika lubang ini tetap
terbuka, darah terus mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan (shunt). Penyebab dari tidak
menutupnya lubang pada septum atrium ini tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang
diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD. Faktor-faktor tersebut
diantaranya :
1. Faktor Prenatal:
a. Ibu menderita infeksi Rubella
b. Ibu alkoholisme
c. Umur ibu lebih dari 40 tahun
d. Ibu menderita IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
e. Ibu meminum obat-obatan penenang.
2. Faktor genetik
a. Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB (Penyakit Jantung Bawaan)
b. Ayah atau ibu menderita PJB (Penyakit Jantung Bawaan)
c. Kelainan kromosom misalnya, Sindroma Down
d. Lahir dengan kelainan bawaan lain.
3. Gangguan hemodinamik
Tekanan di atrium kiri lebih tinggi daripada tekanan di atrium kanan sehingga
memungkinkan aliran darah dari atrium kiri ke atrium kanan (IMFI, 2018).
D. Manifestasi Klinis
Penderita ASD sebagian besar menunjukkan gejala klinis sebagai berikut:
1. Detak jantung berdebar-debar (palpitasi)
2. Tidak memiliki nafsu makan yang baik
3. Sering mengalami infeksi saluran pernafasan
4. Berat badan yang sulit
5. Sianosis pada kulit di sekitar mulut atau bibir dan lidah
6. Cepat lelah dan berkurangnya tingkat aktivitas
7. Demam yang tak dapat dijelaskan penyebabnya
8. Respon tehadap nyeri atau rasa sakit yang meningkat (IMFI, 2018).
9. Patofisiologi
Pada kasus Atrial Septal Defect yang tidak ada komplikasi, darah yang mengandung oksigen
dari Atrium Kiri mengalir ke Atrium Kanan tetapi tidak sebaliknya. Aliran yang melalui
defek tersebut merupakan suatu proses akibat ukuran dan complain dari atrium tersebut.
Normalnya setelah bayi lahir complain ventrikel kanan menjadi lebih besar daripada ventrikel
kiri yang menyebabkan ketebalan dinding ventrikel kanan berkurang. Hal ini juga berakibat
volume serta ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan meningkat. Jika complain ventrikel
kanan terus menurun akibat beban yang terus meningkat shunt dari kiri kekanan bisa
berkurang. Pada suatu saat sindroma Eisenmenger bisa terjadi akibat penyakit vaskuler paru
yang terus bertambah berat. Arah shunt pun bisa berubah menjadi dari kanan kekiri sehingga
sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah yang rendah oksigen akibatnya terjadi
hipoksemi dan sianosis.
E. WOC

Faktor Genetik
Faktor Pre natal

Pembentukan jantung pada janin abnormal pada trisemester pertama

Tidak ada sekat antara atrium kanan dan atrium kiri

Perubahan status
Defek atau lubang pada atrium Ansietas
kesehatan

Adanya shunt / aliran darah dari artium Adanya shunt/ aliran darah dari atrium
kiri ke kanan kanan ke kiri

Darah CO2 & O2 Penurunan curah Volume sekuncup Aliran darah dari atrium kiri
bercampur jantung turun ke ventrikel kiri berkurang

Penambahan beban pada ventrikel Aliran darah kaya O2 dan nutrisi ke


kanan, arteri pulmonalis, kapiler aorta berkurang
paru-paru dan atrium kiri
Kerja jantung meningkat
Suplai O2 ke seluruh tubuh

Palpitasi menurun Gg tumbuh Penurunan


Kardiomegali
Peningkatan kembang asupan nutrisi
Perfusi perifer kelemahan
tekanan ventrikel Aliran pulmonal tidak efektif
kanan, arteri paru- meningkat
Deformitas dada
paru Hipoksia jaringan Nutrisi tidak
adekuat
Hiperventilasi Intoleransi Aktifitas
Nyeri akut Risiko Cedera
Bising sistolik
dan diastolik Pola napas tidak Defisit nutrisi
efektif Pembentukan asam laktat +
2 ATP
F. Komplikasi

Adapun komplikasi dari Aterial Septal Defect

1. Gagal jantung
2. Penyakit pembuluh darah paru
3. Endokarditis
4. Aritmia
5. Clubbing finger

G. Pemeriksaan diagnostic
1. Rontgen dada
2. Ekokardiografi
3. Doppler berwarna
4. Ekokardiografi trans esophageal
5. Kateterisasi jantung
6. MRI dada
7. Foto thorax

H. Penatalaksanaan
1. Pembedahan penutupan defek dianjurkan pada saat anak berusia 5-10 tahun.
Prognosis sangat ditentukan oleh resistensi kapiler paru, dan bila terjadi sindrome
Eisenmenger, umumnya menunjukkan prognosis buruk.
2. Amplazer Septal Ocluder
3. Sadap jantung (bila diperlukan).
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan

Bukti penambahan BB yang buruk, makan buruk, intoleransi aktivitas, postur tubuh
tidak umum, atau infeksi saluran pernapasan yang sering. Observasi anak terhadap
manifestasi ASD Pada Bayi.

a. Dispnea, khususnya setelah kerja fisik seperti makan, menangis, mengejan


b. Keletihan
c. Pertumbuhan dan perkembangan buruk (gagal tumbuh)

Sebagian anak menderita KJB dapat tumbuh dan berkembang secara normal. Pada
kasus yang spesifik seperti VSD, ASD dan TF, pertumbuhan fisik anak terganggu,
terutama berat badannya. Anak kelihatan kurus dan mudah sakit, terutama karena
mengalami infeksi saluran pernapasan. Sedangkan untuk perkembangannya yang
sering mengalami gangguan adalah aspek motoriknya.

d. Pola Aktivitas

Anak-anak yang menderita TF sering tidak dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari


secara normal. Apabila melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak energi,
seperti berlari, bergerak, berjalan-jalan cukup jauh, makan/minum yang tergesa-
gesa, menangis atau tiba-tiba jongkok (squating), anak dapat mengalami serangan
sianosis. Hal ini dimaksudkan untuk memperlancar aliran darah ke otak. Kadang-
kadang tampak pasif dan lemah, sehingga kurang mampu untuk melaksanakan
aktivitas sehari-hari dan perlu dibantu.

2. Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail terhadap jantung.


a. Denyut arteri pulmonalis dapat diraba di dada
b. Pemeriksaan dengan stetoskop menunjukkan bunyi jantung yang Abnormal.
c. Bisa terdengar murmur akibat peningkatan aliran darah yang melalui katup
pulmonalis
d. Tanda-tanda gagal jantung
e. Jika shuntnya besar, murmur juga bisa terdengar akibat peningkatan aliran darah
yang mengalir melalui katup trikuspidalis
3. Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.
4. Kaji tampilan umum, perilaku, dan fungsi:

a. Inspeksi
1) Status nutrisi–Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan
dengan penyakit jantung.
2) Warna – Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung kongenital,
sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang sering menyertai penyakit
jantung.
3) Deformitas dada – Pembesaran jantung terkadang mengubah konfigurasi dada.
4) Pulsasi tidak umum – Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.
5) Ekskursi pernapasan – Pernapasan mudah atau sulit (mis; takipnea, dispnea, adanya
dengkur ekspirasi).
6) Jari tabuh – Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung kongenital.
7) Perilaku – Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri khas dari
beberapa jenis penyakit jantung.

b. Palpasi dan perkusi


1) Dada – Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan karakteristik lain
(seperti thrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat mampalpasi)
2) Abdomen – Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin terlihat.
3) Nadi perifer – Frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat menunjukkan
ketidaksesuaian.

c. Auskultasi
1) Jantung – Mendeteksi adanya murmur jantung.
2) Frekwensi dan irama jantung – Menunjukkan deviasi bunyi dan intensitas jantung
yang membantu melokalisasi defek jantung.
3) Paru-paru – Menunjukkan ronki kering kasar, mengi.
4) Tekanan darah – Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung (mis;
ketidaksesuaian antara ekstremitas atas dan bawah) Bantu dengan prosedur
diagnostik dan pengujian – mis; ekg, radiografi, ekokardiografi, fluoroskopi,
ultrasonografi, angiografi, analisis darah (jumlah darah, haemoglobin, volume sel
darah, gas darah), kateterisasi jantung.

B. Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen
3. Perubahan per tumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidak adekuatan
oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.
4. Resiko tinngi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah
5. Resiko tinggi cedera (komplikasi )berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi
6. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit
jantung (ASD)

C. Intervensi
1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur
Tujuan : Klien akan menunjukan perbaikan curah jantung kriteria hasil
a. Frekwensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada batas normal
sesuai usia
b. Keluaran urine adekuat (antara 0,5 – 2 ml/kg BB, tergantung pada usia)
Intervensi
a. Beri digoksin sesuai program
b. Beri obat penurun afterload sesuai program
c. Beri diuretik sesuai program

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen


Tujuan : klien mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress tambahan
Kriteria Hasil
a. Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan
b. Anak mendapatkan waktu istirahat atau tidur yang tepat
Intervensi
a. Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan
b. Anjurkan prmainan dan aktivitas tenang
c. Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.
d. Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia
meningkatkan kebutuhan oksigen
e. Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas
f. Berespon dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari strees

3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidak adekuatan


oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.
Tujuan : pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan
Kriteria Hasil:
a. Anak mencapai pertumbuhan yang adekuat
b. Anak melakuakan aktivitas sesuai usia
c. Anak tidak mengalami isolasi sosial
Intervensi
a. Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat
b. Pantau tinggi dan brat badan; gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk
menentukan kecendrungan pertumbuhan
c. Dapat memberikan suplemen zat besi untuk mengatasi anemia, bila di anjurkan
d. Dorong aktivitas yang sesuai usia.
e. Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti
anak yang lain.
f. Izinkan anak menata ruanganya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan
beristirahat bila lelah.

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah


Tujuan : klien tidak menunjukan bukti – bukti infeksi
Kriteria Hasil
a. Anak bebas dari infeksi
Intervensi
a. Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi
b. Beristirahat yang adekuat\
c. Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan alami

5. Resiko tinggi cedera (komplikasi )berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi
Tujuan : klien / keluarga mengenali tanda – tanda komplikasi secara dini
Kriteria hasil
a. Keluarga mengenali tanda – tanda komplikasi dan melakukan tindakan yang tepat
b. Klien / keluarga menunjukan pemahaman tentang tes diagnostik dan pembedahan
Intervensi

a. Ajari keluarga untuk mengenali tanda – tanda komplikasi:


1) Gagal jantung kongestif:
a) Takikardi, khususnya selama istirahat dan aktivitas rigan
b) Takipnea
c) Keringat banyak di kulit kepala, khusunya pada bayi
d) Keletihan
e) Penambahan berat badan yang tiba – tiba
f) Distress pernapasan

2) Toksisitas digoksin
a) Muntah (tanda paing dini)
b) Mual
c) Anoreksia
d) Bradikardi
e) Disritmia
f) Peningkatan upaya pernafasan – retraksi, mengorok, batuk, sianosis
g) Hipoksemia – sianosis, gelisah.
h) Kolaps kardiovaskuler – pucat, sianosis, hipotonia.

b. Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selam serangan hipersianotik


1) Tempatkan anak pada posisi lutut – dada dengan kepala dan dada ditinggikan
2) Tetap tenang
3) Beri oksigen 100% dengan asker wajah bila ada

c. Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahl bedah pada
keluarga
d. Siapkan anak dan orang tua untuk prosedur
e. Bantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan
f. Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan
6. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit
jantung (ASD)
Tujuan : klien dan keluarga mengalami penurunan rasa tajut dan ansietas , klien
menunjukan perilaku koping yang positif
Kriteria Hasil:
a. Keluarga mendiskusikan rasa takut dan ansietasnya
b. Keluarga menghadapi gejala anak dengan cara yang positif
Intervensi :
a. Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan
masalah defek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering
menyebabkan ansietas/rasa takut.
b. Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi
untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah.
c. Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk
mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri.
d. Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat
untuk anak

D. Evaluasi
a. Proses : langsung setalah setiap tindakan
b. Hasil : tujuan yang diharapkan
1. Tanda-tanda vital anak berada dalam batas normal sesuai dengan usia
2. Anak berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang sesuai dengan usia
3. Anak bebas dari komplikasi pascabedah
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Jantung merupakan sebuah organ muskuler berongga yang terdiri dari otot-otot. Otot
jantung merupakan jaringan istimewa karena jika dilihat dari bentuk dan susunannya
sama dengan otot serat lintang, dan cara kerjanya dipengaruhi oleh susunan saraf
otonom atau diluar kemauan kita.

a. Atrium Septal Defect (ASD)

Atrium Septal Defect (ASD) adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek)
pada septum interatrial (sekat antar serambi) yang terjadi karena kegagalan fungsi
septum interatrial semasa janin. Atrial Septal Defect (ASD) adalah suatu lubang
pada dinding (septum) yang memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium
kanan).

b. Ventrikel septal defect (VSD)

Suatu keadaan abnormal yaitu adanya pembukaan antara ventrikel kiri dan ventrikel
kanan. Adanya defek pada ventrikel, menyebabkan tekanan ventrikel kiri meningkat
dan resistensi sirkulasi arteri sistemik lebih tinggi dibandingkan resistensi pulmonal.
Hal ini mengakibatkan darah mengalir ke arteri pulmonal melalui defek septum.
Volume darah di paru akan meningkat dan terjadi resistensi pembuluh darah paru.
Dengan demikian tekanan diventrikel kanan meningkat akibat adanya shunting dari
kiri kekanan. Ini akan beresiko endokarditis dan mengakibatkan terjadinya
hipertropi otot ventrikel kanan sehingga akan berdampak pada peningkatan
workload sehingga atrium kanan tidak dapat mengimbangi meningkatnya workload,
terjadilah pembesaran atrium kanan untuk mengatasi resistensi yang disebabkan
oleh pengosongan atrium yang tidak sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
IMFI. 2018. Atrial Septal Defect. Diakses pada http://wilayah3.imfi.or.id/2018/ 10/24/atrial-
septal-defect/ pada tanggal 9 September 2019.
Marie Baffa, Jeanne. 2018. Atrial Septal Defect (ASD). Diakses pada
https://www.merckmanuals.com/professional/pediatrics/congenital-cardiovascular-
anomalies/atrial-septal-defect-asd?qt=atrial%20septal%20defect&alt=sh pada tanggal
9 September 2019.
NHLBI. 2015. Congenital Heart Defects. Diakses pada https://www.nhlbi.nih.gov/health-
topics/congenital-heart-defects pada tanggal 9 September 2019.
PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat PPNI.
PPNI.2018. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat
PPNI.
PPNI.2018. Standar Intervensi Keperawatan. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat PPNI.