Anda di halaman 1dari 14

RESUME

PENDIDIKAN INKLUSI

“Tanggung Jawab Guru Kelas, Guru Bidang Studi, GPK “

Oleh

Reska Sri Harida

18129135

18 BKT 13

Dosen Pengampu : Iga Setia Utami, S.Pd, M.Pd.T

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020
A. Peran Guru Kelas
1. Pengertian Guru
Menurut Idris (2008: 49) adalah orang dewasa yang bertanggung
jawab memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam hal
perkembangan jasmani dan ruhaniah untuk mencapai tingkat kedewasaan,
memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu yang
mandiri, dan makhluk sosial.
Kalimat yang sejak jaman dahulu menjadi istilah familiar terkait
makna seorang guru (dalam Mulyasa, 2008: 48) yaitu “guru itu artinya
digugu lan ditiru”. Digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan
senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua muridnya.
Segala ilmu pengetahuan yang datangnya dari sang guru dijadikan sebagai
sebuah kebenaran yang tidak perlu dibuktikan atau diteliti lagi. Ditiru
artinya ia menjadi uswatun hasanah, menjadi suri teladan dan panutan bagi
muridnya, baik cara berpikir dan cara berbicaranya maupun berprilaku
sehari-hari.
2. Tugas dan Tanggung Jawab Guru
Secara luas peran guru dalam standar proses pendidikan khusus
(Septiana: 2017: 134- 137) yaitu:
a. Dalam Perencanaan
1) Guru sebagai Inovator
Guru sebagai inovator.Guru berperan sebagai pengembang
sistem nilai ilmu pengetahuan (Syamsudin, 2003). Nilai ilmu
pengetahuan perlu dikembangkan bagi peserta didik, karena
pembelajaran tanpa nilai akan mengurangi esensi dari pendidikan
itu sendiri. Bagi peserta didik berkebutuhan khusus, nilai-nilai ilmu
pengetahuan yang dikombinasikan dengan nilai-nilai kehidupan
akan lebih bermakna sehingga peserta didik berkebutuhan khusus
dapat memandang positif pembelajaran yang didapatkannya.
Implikasinya adalah peserta didik berkebutuhan khusus akan
memiliki sudut pandang yang positif terhadap kondisi yang
dialaminya.
2) Guru sebagai Designer of Interactions(perancang pengajaran)
Peran ini berarti bahwa gurusenantiasa mampu dan siap
merancang kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien
(Muhibbin, 1995). Rancangan proses pembelajaran bagi peserta
didik berkebutuhan khusus harus disesuaikan dengan tingkatan
kemampuan dan kondisi yang dialami oleh peserta didik. Hal ini
bersesuaian dengan prinsip dan tujuan pendidikan khusus seperti
yang telah dikemukakan sebelumnya. Karena standar proses
pendidikan khusus memiliki keterkaitan dengan standar kompetensi
lulusan dan standar isi, maka capaian pembelajaran dan kedalaman
serta keluasan materi yang akan diajarkan harus disesuaikan agar
peserta didik mampu mengikuti pembelajaran secara optimal.
b. Dalam pelaksanaana.
1) Guru sebagai Manager ofInteractions (pengelola interaksiantara
guru dengan peserta didik)
Guru menyelenggarakan dan mengendalikan seluruh
tahapan proses belajar mengajar. Dimulai dari kegiatan awal, inti,
dan penutup. Guru bertanggung jawab untuk mengatur ritme, pola,
alokasi waktu pembelajaran dari awal hingga selesai. Interaksi di
dalam proses pembelajaran menjadi poin penting karena
bukanhanya peserta didik yang mendapatkan manfaat, namun juga
guru memperoleh umpan balik (feedback) dari peserta didik (BHP
UNY, 2010).
2) Guru sebagai motivator
Peran guru sebagai motivator menjadi penting dalam rangka
meningkatkan semangat belajar peserta didik (Sadirman, 2011).
Motivasi yang diberikan oleh guru akan menjadi reinforcement
(bantuan) untuk mengembangkan potensi peserta didik, karena hal
tersebut dapat berfungsi sebagai dasar bagi peserta didik
berkebutuhan khusus untuk menerima dirinya dan menumbuhkan
rasa percaya diri akan potensi yang dimilikinya (Dimyati, 2006).
3) Pembimbing atau Director
Guru sebagai pembimbing dituntut untuk mampu
mengidentifikasi setiap potensi maupun hambatan yang dialami
oleh peserta didik di kelasnya (Syamsuddin, 2003). Dengan kondisi
yang dialaminya, peserta didik berkebutuhan khusus memerlukan
arahan atau bimbingan yangterpadu dari guru sehingga dapat
mengikuti proses pembelajaran secara seksama.
4) Inisiator
Guru diharapkan menghadirkan ide-ide pembelajaran yang
mampu menginspirasi peserta didik berkebutuhan khusus untuk
mengeksplorasi pembelajaran secara aktif. Hal ini dimaksudkan
agar pembelajaran tidak bersifat monoton, sehingga diperlukan
kreativitas dari guru untuk memulai ide-ide pembelajaran yang
mampu menarik minat peserta didik (Soekartini, 1995).
5) Guru sebagai fasilitator
Guru perlu memfasilitasi peserta didik berkebutuhan khusus
dalam proses pembelajaran, dikarenakan kondisi dan kemampuan
mereka yang terbatas. Oleh karena demikian, peran guru dalam
“menjembatani” antara kebutuhan belajar dan tujuan pembelajaran
menjadi penting.
c. Dalam penilaian
Guru berperan sebagai evaluator, yaitu sebagai pihak yang
mengevaluasi pembelajaran itu sendiri dan mengevaluasi hasil belajar
peserta didik (Mulyasa, 2005). Evaluasi pembelajaran dapat
memberikan guru informasi terkait keberhasilan guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran, sementara itu evaluasi hasil belajar
peserta didik dapat memberikan guru informasi terkait dengan kemajuan
peserta didik terhadap pembelajaran yang telah diikutinya.
d. Dalam pengawasan
Guru sebagai pelaksanadan penjamin ketercapaianisi standar.
Guru memegang peranan sebagai pihak yang menjadi pelaksana isi
standar proses pendidikan. Terkait dengan pelaksanaan isi standar, guru
berkewajiban untuk melakukan monitoring secara berkala selama
rangkaian proses pembelajaran misalnya setiap minggu, setiap bulan,
dan setiap akhir tahun ajaran. Dalam praktiknya, guru harus
memperhatikan rambu-rambu yang terdapat dalam standar proses
pendidikan khusus dalam merencanakan, melaksanakan, menilai, dan
mengawasi proses pembelajaran
Pendapat lain muncul dari Uhbiyati, beliau mengemukakan tugas
dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh pendidik (guru) antara
lain:
a. Membimbing peserta didik kepada jalan yang sesuai dengan ajaran
agama Islam.
b. Menciptakan situasi pendidikan keagamaan yaitu suatu keadaan di
mana tindakan-tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan hasil
yang memuaskan sesuai dengan tuntutan ajaran Islam. Barnadib
menambahkan bahwa tugas guru terkait dengan perintah, larangan,
menasehati, hadiah, pemberian kesempatan, dan menutup
kesempatan

Menurut Wens Tanlain dkk guru yang bertanggung jawab memiliki


beberapa sifat, yaitu:
e. Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusiaan
f. Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas
bukan menjadi beban baginya)
g. Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta
akibat-akibat yang timbul (kata hati)
h. Menghargai orang lain, termasuk anak didik
i. Bijaksana dan hati-hati (tidak nekat, tidak sembrono, tidak singkat
akal)
j. Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Abin Syamsuddin mengemukakan bahwa dalam pengertian
pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan
sebagai:
a. Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber
norma kedewasaan
b. Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan
c. Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta
didik;
d. Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui
penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi
dengan sasaran didik
e. Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat
dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang
mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada
sasaran didik, serta Tuhan yang menciptakannya).
Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas, Makmum
(2003) dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner, mengemukakan
peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik, yang mencakup:
a. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa
yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (preteaching
problems)
b. Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan
situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan
kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, di mana ia
bertindak sebagai orang sumber (resource person), konsultan
kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik dan humanistik
(manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems).
c. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan,
menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan
pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses
pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai
aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.
B. Peran Guru Bidang Studi
Indramurni (2019) mengatakan guru mata pelajaran atau bidang studi
adalah guru yang bertanggung jawab melaksanakan pembelajaran untuk mata
pelajaran tertentu pada satuan pendidikan sekolah dasar dan yang sederajat,
sekolah menegah pertama dan yang sederajat, sekolah menengah pertama dan
yang sederajat serta sekolah menegah kejuruan atau madrasah aliyah kejuruan.
Nurhayati (2014: 144) juga berpendapat bahwasanya guru bidang studi
adalah guru yang mengajar mata pelajaran tertentu sesuai kualifikasi yang di
persyaratkan. Guru bidang studi adalah guru yang mengajar seluruh siswa
disemua kelas parallel dengan pembagian jam pelajaran, dimana guru tersebut
mengajarkan hanya satu pelajaran.
Guru bidang studi mempunyai tugas sebagai berikut:
1. Menciptakan iklim yang kondusif sehingga anak-anak merasa
nyaman belajar di sekolah atau dikelas
2. Menyusun dan melaksanakan assesmen pada semua anak
untuk mengetahui kemampuan dan kebutuhannya
3. Menyusun program Pengajaran Individu (PPI) bersama-sama
dengan guru pendidikan khusus
4. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan mengadakan
penilaian kegiatan belajar mengajar untuk mata pelajaran yang
menjadi tanggung jawabnya
5. Memberikan program perbaikan (remedial teaching)
pengayaan atau percepatan bagi siswa yang membutuhkan
6. Melaksanakan administrasi kelas sesuai dengan bidang
tugasnya
C. Peran GPK
1. Pengertian Guru GPK
Marilyn (2015:76) menyebutkan Guru pendamping khusus juga
sering disebut Guru Pembimbing Khusus merupakan para tenaga
profesional yang perannya teramat kompleks dalam proses pengajaran
siswa penyandang disabilitas.
Anak berkebutuhan khusus biasanya mengenyam pendidikan di
SLB (Sekolah Luar Biasa) namun tidak jarang pula ada yang di sekolahkan
ke lembaga formal reguler karena orang tuanya kurang paham dengan
kondisi anaknya. Oleh karena itu dalam pengajaran terhadap peserta didik
berkebutuhan khusus tersebut supaya berhasil maksimal dibutuhkan guru
pendamping yang biasa disebut guru pembimbing khusus.
Maksud dari GPK sesuai dengan buku pedoman penyelanggara
pendidikan inklusif tahun 2007 adalah guru yang mempunyai latarbelakang
pendidikan khusus atau Pendidikan luar biasa atau yang pernah mendapat
pelatihan tentang pendidikan khusus atau luar biasa, yang ditugaskan di
sekolah inklusif.
Zakia (2015) menyebutkan bahwa syarat menjadi guru pendamping
khusus sesuai dengan pedoman penyelenggara pendidikan inklusif tahun
2007 adalah mereka yang memiliki latar belakang pendidikan khusus atau
Pendidikan Luar Biasa (PLB) atau lulusan S1 atau sederajat yang diperoleh
melalui perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan
tenaga kependidikan dan program kependidikan non pendidikan.
Pendapat lain terkait pngertian guru pembimbing khusus yaitu
disampaikan oleh Astuti (2014: 158), menurut Astuti dalam jurnal
Apriastuti dan Karwanto guru pendamping khusus merupakan lulusan
Pendidikan Luar Biasa atau S1 Psikologi atau S1 Kependidikan yang telah
memperoleh pelatihan intensif dalam pendidikan khusus atau pernah
mengajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dalam kelas pendidikan
khusus
2. Kompetensi GPK
Buku Pedoman Pembinaan Tendik Direktur PSLB (dalam
Depdiknas, 2007: 24) mengungkapkan bahwa Kompetensi GPK selain
dilandasi oleh empat kompetensi guru yang utama (pedagogik, kepribadian,
profesional, dan sosial), secara khusus juga berorientasi pada tiga
kemampuan utama, yaitu:
a. Kemampuan umum (general ability)
Kemampuan umum (general ability) adalah kemampuan
yang diperlukan untuk mendidik peserta didik pada umumnya (anak
normal)
b. Kemampuan dasar (basic ability)
Kemampuan dasar (basic ability) adalah kemampuan yang
diperlukan untuk mendidik peserta didik berkebutuhan khusus
c. Kemampuan khusus (specific ability)
Kemampuan khusus (specific ability) adalah kemampuan
yang diperlukan untuk mendidik peserta didik kebutuhan khusus
jenis tertentu (spesialis).
3. Tugas dan tanggung jawab GPK
Dalam PP 17 tahun 2010 Pasal (j) menjelaskan bahwa guru
pembimbing khusus sebagai pendidik pofesional memiliki tugas dan fungsi
membimbing, mengajar, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
berkelainan pada satuan pendidikan umum, satuan pendidikan kejuruan,
dan/atau satuan pendidikan keagamaan.
Tugas dan tanggung jawab tersebut adalah, merencang dan
melaksanakan program kekhususan, melakukan proses identifikasi, asesmen
dan menyusun PPI, melakukan modifikasi kurikulum bersama guru kelas
atau guru mata pelajaran, melakukan evaluasi dan tindak lanjut, membuat
program dan perkembangan peserta didik berkebutuhan khusus. Tugas-
tugas inilah yang perlu dilaksanakan oleh guru pembimbing khusus untuk
memberikan suatu pelayanan yang optimal bagi peserta didiknya di sekolah
inklusif.(dalam Wardah, 2019: 96)
Menurut Depdiknas (dalam Wati, 2014: 375-376) mengatakan
adapun tugas GPK adalah:
a. Memberikan bantuan berupa layanan khusus bagi anak-anak
berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran di kelas umum, berupa remedial ataupun
pengayaan.
b. Memberikan bimbingan secara berkesinambungan dan membuat
catatan khusus jika terjadi pergantian guru.
c. Memberikan bantuan (berbagi pengalaman) pada guru kelas
dan/atau guru mata pelajaran agar mereka dapat memberikan
pelayanan pendidikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
d. Melaksanakan asesmen bersama team untuk mendiagnosa
permasalahan belajar ABK.
e. Membuat silabus, kurikulum, dan evaluasi yang disesuaikan dengan
kemampuan anak.
Subagya (dalam Mulyani, 2016: 8-9) yang mengatakan bahwa salah
satu tugas guru pendidik khusus yaitu
a. Mengadaptasi media atau alat khusus yang bertujuan untuk
menghilangkan kesenjangan komunikasi tertulis/lisan antara anak
berkebutuhan khusus dengan para guru kelas dan guru bidang studi
serta melengkapi bahan pelajaran tertulis yang relevan dengan anak
berkebutuhan khusus.
b. Layanan pembelejaran khusus yang diantaranya pembelajaran
remedial yang diberikan jika anak berkebutuhan khusus di dalam
proses belajar mengajar di kelas mengalami ketidakjelasan, salah
pengertian dan atau kesalahan cara mengajar guru.
c. Memberikan bimbingan secara berkesinambungan dan membuat
catatan khusus kepada anak-anak berkelainan selama mengikuti
kegiatan pembelajaran, yang dapat dipahami jika terjadi pergantian
guru. (Suyanto: 2012: 44-55)

Terdapat beberapa tugas bagi guru pembimbing khusus menurut


Rudiyati (dalam Wardah, 2019: 95) diantaranya:
a. Menyelenggarakan administrasi, asesmen
b. Menyusun program pendidikan inklusi
c. Pengadaan dan pengelolaan alat bantu ajar
d. Pembinaan anak berkebutuhan khusus
e. Memodifikasi kurikulum, konseling keluarga
f. Pengembangan pendidikan inklusif
g. Menjalin hubungan dengan pihak-pihak pelaksanaan pendidikan
inklusif.
Di samping tugas– tugas tersebut, Soejipto (dalam Wati, 2014: 376)
tujuan dari guru pendamping adalah “membantu mengatasi segala kesulitan
yang dihadapi siswa sehingga terjadi proses belajar-mengajar yang efektif
dan efisien”.
Dalam Pedoman Khusus Penyelenggara Inklusi tahun 2007 (dalam
Zakia, 2015:112) tugas GPK antara lain adalah:
a. Menyusun instrument asesmen pendidikan bersama-sama dengan
guru kelas dan guru mata pelajaran
b. Membangun sistem koordinasi antara guru, pihak sekolah dan orang
tua peserta didik
c. Melaksanakan pendampingan ABK pada kegiatan pembelajaran
bersama-sama dengan guru kelas/guru mata pelajaran/guru bidang
studi,
d. Memberikan bantuan layanan khusus bagi anak-anak berkebutuhan
khusus yang mengalami hambatan dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran di kelas umum, berupa remidi ataupun pengayaan
e. Memberikan bimbingan secara berkesinambungan dan membuat
catatan khusus kepada anak-anak berkebutuhan khusus selama
mengikuti kegiatan pembelajaran, yang dapat dipahami jika terjadi
pergantian guru,
f. Memberikan bantuan (berbagi pengalaman) padaguru kelas dan/atau
guru mata pelajaran agar mereka dapat memberikan pelayanan
pendidikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
Hanya saja dalam pelaksanaan di lapangan, peran dan tugas GPK
mengalami penambahan. Seorang GPK bukan guru kelas dan juga bukan
guru mata pelajaran, tetapi guru yang berfungsi menjembatani kesulitan
yang dihadapi ABK, dan guru kelas/ mata pelajaran dalam pembelajaran.
Daftar Pustaka

Astuti, Apri Nur Mita dan Karwanto. 2014. “Manajemen Sekolah Inklusi di SD
Negeri Babatan V Surabaya”. Jurnal Inspirasi Manajemen Pendidikan. Vol. 3
No. 3.

Depdiknas. 2007. Pedoman Khusus Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif tentang


Pengadaan dan Pembinaan Tenaga Pendidik. Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Luar Biasa.

Idris, Muhamad. Kiat Menjadi Guru Profesional. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Marilyn dan William D. Bursuck. 2015. Menuju Pendidikan Inklusi. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Makmun, Abin Syamsuddin. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.

Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan


Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Mulyani, Gusvina. 2016. Pelaksanaan Tugas Pokok Guru Pendidik Khusus di


Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif (Penelitian Deskriptif Kualitatif
di SD N 09 Koto Luar). Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus. Volume 5 Nomor1.

Septiana, Fajar Indra. Peran Guru Dalam Standar Proses Pendidikan Khusus Pada
Lingkup Pendidikan Formal (Sekolah Luar Biasa/Sekolah Khusus). Inclusive:
Journal of Special Eduacation. Volume III Nomor 02. Universitas Islam
Nusantara.

Wardah, Erika Yunia. 2019. Peranan Guru Pembimbing Khusus Lulusan Non
Pendidikan Luar Biasa (Plb) Terhadap Pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus
Di Sekolah Inklusi Kabupaten Lumajang. Jurnal Pendidikan Inklusi Volume 2
Nomor 2. Pendidikan Luar Biasa, Pascasarjana, Universitas Negeri Surabaya.
E-Issn: 2580-9806.
Wati, Ery. 2014. Manajemen Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar Negeri 32 Kota
Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Didaktika. Vol XIV No 2. Universitas Syiah Kuala.

Zakia, Dieni Laylatul. 2015. “Meretas Sukses Publikasi Imliah Bidang Pendidikan
Jurnal Bereputasi”. Surakarta. Makalah Seminar Nasional Pendidikan UNS
& ISPI Jawa Tengah. ISBN: 978-979-3456-52-2.