Anda di halaman 1dari 2

IKLAN DAN DIMENSI ETISNYA

Iklan atau dalam bahasa Indonesia formalnya pariwara adalah promosi benda seperti
meja baru, jasa seperti kantor pos, tempat usahadan ide yang harus dibayar oleh sebuah sponsor.
Pemasaran melihat klanik sebagai bagian dari strategi promosi secara keseluruhan. Komponen
lainnya dari promosi termasuk publisitas, hubungan masyarakat, penjualan, dan promosi
penjualan.

Iklan adalah salah satu alat pemasaran yang penting. Dengan iklan perusahaan ingin
menarik perhatian calon konsumen tentang barang atau jasa yang ditawarkannya. Banyak orang
memutuskan membeli suatu barang atau jasa karena pengaruh iklan yang sedemikian atraktif
tampilan visualnya. Kecermatan menimbang dan rasionalitas pemikiran seringkali ‘kalah
wibawa’ dengan semangat hedonis yang ditawarkan iklan. Tapi selalu saja banyak orang yang
kemudian kecewa, karena spesifikasi atau manfaat barang yang dibeli tidak seperti  yang
ditawarkan.

A.Fungsi Periklanan

Iklan dilukiskan sebagai komuniskasi antara produsen dan pasar, antara penjual dan calon
pembeli. Dalam proses komunikasi iklan menyampaikan sebuah “pesan”. Dengan demikian kita
mendapat kesan bahwa periklanan terutama bermaksud memberi informasi. Tujuan terpenting
adalah memperiklankan produk/jasa.

Fungsi iklan dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu berfungsi memberi informasi dan membentuk
opini (pendapat umum).

a.iklan berfungsi sebagai pemberi informasi

Pada fungsi ini, iklan merupakan media untuk menyampaikan informasi yang sebenarnya kepada
masyarakat tentang produk yang akan atau sedang ditawarkan di pasar. Pada fungsi ini, iklan
memberikan dan menggambarkan seluruh kenyataan serinci mungkin tentang suatu produk.
Tujuannya agar calon konsumen dapat mengetahui dengan baik produk itu, sehingga akhirnya
memutuskan untuk membeli produk tersebut.

b.Iklan berfungsi sebagai pembentuk opini (pendapat umum)

Pada fungsi ini, iklan mirip dengan fungsi propaganda politik yang berupaya mempengaruhi
massa pemilih. Dengan kata lain, iklan berfungsi menarik dan mempengaruhi calon konsumen
untuk membeli produk yang diiklankan. Caranya dengan menampilkan model iklan yang
persuasif, manipulatif, tendensus dengan maksud menggiring konsumen untuk membeli produk.
Secara etis, iklan manipulatif jelas dilarang, karena memanipulasi manusia dan merugikan pihak
lain.

Beberapa Persoalan Etis Periklanan

a.Merongrong ekonomi dan kebebasan manusia.


b.Menciptakan kebutuhan manusia dengan akibat manusia modern menjadi konsumtif.
c.Membentuk dan menentukan identitas dan citra manusia modern.
d.Merongrong rasa keadilan sosial masyarakat.

Dari persoalan diatas, beberapa prinsip yang kiranya perlu diperhatikan dalam iklan, sebagai
berikut :
a. Iklan tidak boleh menyampaikan informasi yang palsu dengan maksud memperdaya
konsumen.
b. Iklan wajib menyampaikan semua informasi tentang produk tertentu, khususnya menyangkut
keamanan dan keselamatan manusia.
c. Iklan tidak boleh mengarah pada pemaksaan khususnya secara kasar dan terang-
terangan.di Iklan tidak boleh mengarah pada tindakan yang bertentangan dengan moralitas

Makna Etis Menipu Dalam Iklan


Fungsi iklan pada akhirnya membentuk citra sebuah produk dan perusahaan di mata masyarakat.
Citra ini terbentuk oleh kesesuaian antara kenyataan sebuah produk yang diiklankan dengan
informasi yang disampaikan dalam iklan. Prinsip etika bisnis yang paling relevan dalam hal ini
adalah nilai kejujuran. Dengan demikian, iklan yang membuat pernyataan salah atau tidak benar
dengan maksud memperdaya konsumen adalah sebuah tipuan.

Kebebasan Konsumen

Iklan merupakan suatu aspek pemasaran yang penting, sebab iklan menentukan hubungan antara
produsen dengan konsumen. Secara konkrit, iklan menentukan pula hubungan penawaran dan
permintaan antara produsen dan pembeli, yang pada gilirannya ikut pula menentukan harga
barang yang dijual dalam pasar.

Kode etik periklanan tentu saja sangat diharapkan untuk membatasi pengaruh iklan ini. Akan
tetapi, perumusan kode etik ini harus melibatkan berbagai pihak, yang antara lain: ahli etika,
konsumen (lembaga konsumen), ahli hukum, pengusaha, pemerintah, tokoh agama, dan tokoh
masyarakat tertentu, tanpa harus merampas kemandirian profesi periklanan. Yang juga penting
adalah bahwa profesi periklanan dan organisasi profesi periklanan perlu benar-benar mempunyai
komitmen moral untuk mewujudkan iklan yang baik bagi masyarakat. Namun, jika ini tidak
memadai, kita membutuhkan perangkat legal politis dalam bentuk aturan perundang-undangan
tentang periklanan beserta sikap tegas tanpa kompromi dari pemerintah melalui departemen
terkait untuk menegakkan dan menjamin iklan yang baik bagi masyarakat.