Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam tarian ini perilaku seorang yang sedang mencari rumput atau dalam bahasa
jawa disebut ngarit mencoba di eksplorasikan dan di wujudkan dalam bentuk-bentuk
gerak tari dengan tetap mempertahankan karakter dan rasa gerak klasik gaya Yogyakarta
dan pengembangannya. Penata tari melihat perilaku dan kegiatan yang dilakukan oleh
seorang yang sedang ngarit dapat dijadikan inspirasi dalam pembuatan sebuah karya tari
tunggal. Dalam penggarapannya penata tari tari mengarah ke konsep gecul atau lucu.

B. Tema Tari
Tari Babat Teki diciptakan dengan tema kegembiraan, karena menggambarkan
kecerian seorang yang sedang ngarit dengan segala kegiatannya.

C. Judul Tari
Judul tari digunakan adalah “Babat Teki”. Babat dalam bahasa jawa berarti
menebas atau memotong. Teki adalah nama salah satu jenis rerumputan yang sering
dicari oleh petani untuk pakan ternak. Penggunaan dua kata ini disesuaikan dengan tema
garapan yaitu perilaku seorang yang sedang ngarit, yaitu memotong rumput.

D. Orientasi Garapan
Garapan tari ini berpijak pada tari klasik gaya Yogyakarta dengan
pengembangannya. Garapan tari ini dikembangkan sedemikian rupa menjadi tari kreasi
baru yang menarik bagi anak-anak usia Sekolah Menengah Atas (SMA).

BAB II
ISI

A. Rangsang Awal
Rangsang awal adalah rangsang yang membangkitkan fikir atau semangat atau
mendorong kegiatan (Soeharto, dalam Diktat Komposisi dan Koreografi II, 2007 : 43).
Kemunculan ide garapan dan ide gerak terbentuk karena rangsangan. Rangsang yang
digunakan dalam garapan ini adalah rangsang visual, yaitu rangsang penglihatan.
Rangsang ini muncul saat piñata tari melihat seorang yang sedang ngarit. Rangsang ini
mendorong penata tari untuk mewujudkannya dalam sebuah bentuk tarian anak.
Kemudian penata tari mengembangkan rangsang idesionalnya untuk lebih
membangkitkan kreatifitas fikirnya dalam menciptakan gerak.

B. Tipe Tari
Tipe tari dalam karya tari “Babat Teki” ini adalah tipe tari murni. Tari murni
adalah menjelaskan sebuah bentuk tari yang berasal dari rangsang kinestetiknya dan
secara eksklusif hanya memandang gerak itu sendiri.
Dalam tari ini penata tari mengembangkan gerak tari berdasarkan gerak yang
dilihatnya dalam rangsang visual dan mengembangkan gerak-geraknya berdasar rangsang
idesional yang ingin mewujudkan gerak.

C. Mode Penyajian
Mode penyajian adalah cara yang digunakan penata tari dalam menyajikan
karyanya. Mode penyajian ini umumnya terbagi atas dua macam, yaitu mode penyajian
representasional dan mode penyajian non representasional atau simbolis.
Dalam tari ini penata tari memilih mode penyajian representasional. Dimana
dalam gerak-geraknya tergambar atau tersirat secara jelas seorang yang sedang
memotong rumput. Dalam penerapannya gerak-gerak yang digunakan adalah gerak
maknawi dengan maksud untuk lebih memperlihatkan maksud dari penata tari. Namun
untuk penghubung antar gerak digunakan gerak murni, contohnya gerak sendi.