Anda di halaman 1dari 7

ARTIKEL PENELITIAN

Peran Perawat Dalam Pelaksanaan Perawatan Kesehatan


Masyarakat (Perkesmas)
Tini Jumariah1, Budhi Mulyadi 2
1,2
Program Sarjana Keperawatan,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju
Jln.Harapan No 50 Lenteng Agung Jakarta Selatan 12610
Telp (021) 78894045, Email: 1tinisahla@gmail.com,2bemulyadi@gmail.com

Abstrak
Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas) merupakan upaya program pengembangan
Puskesmas yang kegiatan nya terintegrasi dalam upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan
pengembangan lainnya. Pelaksanaan Perkesmas tak lepas dari peran perawat di puskesmas,
perawat perkesmas di Puskesmas minimal mempunyai enam peran dan fungsi yaitu sebagai
pemberi Asuhan keperawatan, penemu kasus, Pendidik Kesehatan, Koordinator dan Kolaborator,
Konselor dan sebagai Panutan. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui gambaran peran perawat
dalam kegiatan pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat (perkesmas) di Kabupaten Bogor
tahun 2016. Desain yang di gunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel
dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di puskesmas Kabupaten Bogor (n=30) pengambilan
sampel menggunakan total populasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisi
univariat.Hasil pnelitian menunjukkan bahwa peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan
dalam kategori optimal 60%, penemu kasus optimal 53,3%, Pendidik Kesehatan kurang optimal
56,7%, Koordinator dan Kolaborator kurang optimal 53,3%, Konselor optimal 53,3%, dan panutan
kurang optimal 60%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan masukan
yang berhubungan dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan keperawatan di puskesmas
Kata Kunci : Perkesmas, Puskesmas, peran perawat
Abstract
Public Health Nursing (Perkesmas) is a program development efforts seek his activities integrated
within compulsory health efforts as well as other development healt efforts. The implementation of
perkesmas cannot be separated from the role of the nurse in the community health centers, the
nurse’role in community health centes at least had six role and fungtion as a Nursing care
provider, case finding, health educators, coordinators and colaborators, counsellor and as a role
model. The purpose of this research is to knoe the description of the role of nurses in the
implementation activities public healt nursing in the Bogor district 2016. Design that use a
quantitative approach is descriptive. The sample in this study is the whole nurse in community
healt centers at Bogor district (n=30) sampling using the total population. Data analysis was
conducted using univariate analysis. The results of research showed that the role of nurses as care
provider in the optimal category 60%, the case finding of the optimal 53,3% health educator less
than optimal 56,7% coordinator and colaborator less than optimal 53,3% Counselor in the
optimal category 53,3% and 60% less than optimal as role model. The result of his research are
expected to give information and input related to effots to improve the quality of nursing care in
community health center.
Keywords : Perkesmas. Community Health Center, the role of nurses

182
Vol. 7 No. 1 Maret 2017 Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia
Pendahuluan untuk mengembangkan upaya tersebut antara
lain Perawatan Kesehatan Masyarakat
Pembangunan kesehatan bertujuan
(Perkesmas)
untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar Perawatan Kesehatan Masyarakat
terwujud derajat kesehatan masyarakat yang (Perkesmas) merupakan upaya program
optimal (Yuyun Tafwidhah)1 Kebehasilan pengembangan yang kegiatan nya terintegrasi
pembangunan kesehatan hendaknya di dukung dalam upaya kesehatan wajib maupun upaya
dengan kesadaran individu dan masyarakat kesehatan pengembangan lainnya. Kegiatan
untuk secara mandiri menjaga kesehatannya. perkesmas dapat terwujud melalui peningkatan
kerjasama linas program terkait. Kegiatan
Menurut Riset Kesehatan Dasar Tahun
perkesmas sangat erat kaitan nya dengan peran
2010, Saat ini permasalahan kesehatan cukup
perawat di puskesmas.
kompleks, terutama dalam hal upaya kesehatan
yang belum menjangkau seluruh lapisan Peran adalah seperangkat tingkah laku
masyarakat. Hal ini tercermin pada masih yang diharapkan oleh orang lain terhadap
tingginya angka kematian di Indonesia, Angka seseorang, sesuai kedudukannya didalam
Kematian Ibu (AKI) 118 per 100.000 kelahiran sistem. Peran perawat utama dari perawat
hidup,Angka Kematian Bayi (AKB) sejumlah kesehatan masyarakat adalah memberikan
24 per 1000 kelahiran hidup.Prevalensi gizi asuhan keperawatan pada individu, keluarga,
kurang masih terdapat sekitar 15% , Masih kelompok dan masyarakat baik yang sehat
tinggi nya angka kematian penyebab akibat maupun yang sakit atau yang mempunyai
stroke dan hipertensi sebesar 22,22% dan masalah kesehatan/keperawatan apakah itu
kematian akibat Tuberculosis (TB Paru) dirumah, sekolah, panti dan sebagainya sesuai
sebesar 7,5 %2 kebutuhan. (Depkes,2006)
Di Kabupaten Bogor Angka kematian Dalam melaksanakan perawatan
Ibu (AKI) pada tahun 2015 69 per 100.000 Kesehatan Masyarakat, perawat idealnya
kelahiran hidup, Angka Kematian Bayi (AKB) memiliki 12 peran dan fungsi. Namun karena
berjumlah 441 per 1000 kelahiran hidup, angka masih rendahnya tingkat pendidikan yaitu
penemuan TB Paru BTA + 15,66 % angka pendidikan D3 bahkan ada yang SPK dari
penemuan kasus ini masih di bawah target seluruh peran dan fungsi yang harus dilakukan
sebesar 70%. Jumlah penemuan kasus baru oleh perawat hanya enam saja yang menjadi
HIV/AIDS meningkat 114 kasus pada tahun prioritas (Depkes,2006). Peran tersebut antara
2016 yang sebelumnya 96 kasus pada tahun lain pemberi asuhan keperawatan, penemu
2015. Jumlah kasus kusta dengan cacat (PB kasus, sebagai pendidik/penyuluh kesehatan,
dan MB) naik dari 9,4% tahun 2014 menjadi koordinator dan kolaborator, konselor
15,68% di tahun 2015, dan jumlah kasus keperawatan, panutan.
penyakit ISPA 40%. Dan kasus gangguan jiwa
Peran pemberi asuhan keperawatan
di tahun 2015 meningkat menjadi 585 orang
bertugas untuk memberikan pelayanan berupa
(Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor,2015)3
asuhan keperawatan secara langsung kepada
Sehubungan dengan hal tersebut perlu klien, keluarga maupun komunitas sesuai
di tingkatkan upaya-upaya untuk memperluas dengan kewenangannya. Peran sebagai
jangkauan dan mendekatkan pelayanan penemu kasus dapat dilakukan dengan jalan
kesehatan kepada masyarakat dengan mutu mencari langsungke masyarakat (active case
pelayanan yang baik, berkelanjutan dan dapat finding) dan dapat pula didapat tidak langsung
menjangkau seluruh lapisan masyarakat yaitu kunjungan pasien ke Puskesmas (Passive
terutama keluarga miskin rawan kesehatan atau Case Finding), Peran sebagai pendidik
resiko tinggi4 kesehatan harus mampu mengkaji kebutuhan
klien yaitu individu, keluarga, kelompok dan
Kegiatan yang dilakukan puskesmas
masyarakat, pemulihan kesehatan dari suatu
dalam melayani masyarakat meliputi enam
penyakit, menyusun program penyuluhan
upaya wajib puskesmas yaitu promosi
/pendidik kesehatan baik sehat maupun sakit
kesehatan, Pelayanan Pengobatan, Pelayanan
(Depkes,2006)5
KIA dan KB, Sanitasi Lingkungan, Pelayanan
Gizi dan Penanggulangan Penyakit Menular Peran sebagai Koordinator dan
(P2M) dan upaya pengembangan puskesmas kolaborator dengan mengkoordinir seluruh
yang di dasarkan pada kemampuan puskesmas kegiatan upaya pelayanan kesehatan

183
Ida Khudaipah Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia

masyarakat dan pusksmas dalam mencapai Populasi dari penelitian ini adalah
tujuan kesehatan melalui kerjasama dengan tim semua perawat yang berada di Puskesmas
kesehatan lainnya (lintas program dan lintas Kabupaten Bogor yakni 30 perawat yang
sektoral). Peran sebagai konselor melakukan tersebar di tiga puskesmas di kabupaten Bogor
konseling keperawatan sebagi usaha yaitu 11 perawat dari puskesmas
memecahkan masalah secara efktif.Perawat Klapanunggal, 9 perawat dari puskesmas
menggunakan metode pengajaran yang Gunung Putri, dan 10 perawat dari puskesmas
direncanakannya (Pery & Potter,2005) Peran Citereup. Penelitian ini akan memperoleh
sebagai panutan diharapkan berperilaku hidup gambaran peran perawat puskesmas dalam
yang sehat baik dalam tingkat pencegahan pelaksanaan kegiatan perkesmas.
dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi
Sampel adalah sebagian dari
contoh masyarakat.6
keeluruhan objek yang diteliti dan dianggap
Perawatan Kesehatan Masyarakat mewakili seluruh populasi. Sampel dalam
(Perkesmas) adalah bidang khusus dari penelitian adalah 30 perawat yang memenuhi
keperawatan yang merupakan gabungan dari kriteria inklusi dan kriteria ekslusi.
ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat
Pengumpulan data dalam penelitian ini
yang merupakan bagian integral dari pelayanan
dengan dengan mempergunakan kuesioner
kesehatan yang di berikan kepada individu,
yang disebar di tiga puskesmas. Waktu
keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat
penelitian ini dilaksanakan pada bulan
maupun sakit atau yang mempunyai masalah
September 2016 sampai Februari 2017. Dalam
kesehatan/keperawatan secara komprehensif
penelitian ini peneliti menggunakan etika
melaui upaya-upaya promotif, preventif,
penelitian berupa memberikan lembar
kuratif dan rehabilitatif dengan melibatkan
persetujuan (Inform concent), tidak menuliskan
peran aktif masyarakat dan diharapkan dapat
nama serta menjaga kerahasian. Pengolahan
mandiri dalam memelihara kesehatannya.
data dilakukan mealui proses editing data,
(Efendi Fery, 2009)7
coding data, entri data, tabulating dan
Dari hasil wawancara dengan beberapa cleaning.sedangkan analisis dilakukan secara
perawat di 3 puskesmas yaitu puskesmas univariat.
Klapanunggal, Puskesmas Gunung Putri dan
Hasil
Puskesmas Citereup di dapatkan bahwa
didalam menjalankan peran nya perawat lebih Penelitian ini mempunyai beberapa
banyak berperan sebagai pemberi asuhan keterbatasan antara lain jumlah responden
keperawatan dan peran sebagai pendidik yang harus mengambil dari 3 puskesmas
kesehatan, bahkan ada yang harus menerjakan dengan jumlah sampel 30 responden, variabel
tugas tenaga kesehatan lainyang sebenarnya yang di teliti terdiri dari data demografi dan
bukan dalam konteks peran dan fungsi nya, peran perawat
adapula perawat yang menjadi bendahara dan
memegang banyak program kegiatan di luar
program perawat. Tabel 1. Distribusi Responden berdasarkan
usia
Dalam penelitian ini penulis ingin
mengetahui peran perawat dalam pelaksanaan Usia Frekuensi Persentase
kegiatan perkesmas di wilayah binaan 20-30 tahun 2 6,67
puskesmas Kabupaten Bogor tahun 2016. 31-35 tahun 6 20
36-40 tahun 12 40
Metode 41-45 tahun 5 16,7
46-50 tahun 3 10
Penelitian ini merupakan penelitian 56-57 tahun 2 6,67
deskriptif sederhana yang di gunakan untuk Total 30 100
memperoleh gambaran dengan menggunakan
teknik penelitian kuantitatif, yaitu penelitian Tabel 1 menunjukkan sebagian besar
yang datanya dikumpulkan dan disajikan responden berusia 36-40 tahun yaitu sebanyak
dalam bentuk angka-angka. Penelitian ini 12 orang (40%)
menggunakan kuesioner sebagai alat untuk
mengumpulkan data.8

184
Vol. 7 No. 1 Maret 2017 Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia
Tabel 2. Distribusi Responden berdasarkan Dari hasil tabel di atas menunjukkan bahwa
jenis kelamin dari keenam peran perawat tesebut peran
sebagai pendidik, koordinator/kolaborator dan
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
Laki-Laki 6 20 peran sebagai panutan belum optimal
Perempuan 24 80 sedangkan peran sebagai pemberi asuhan
Total 30 100 keperawatan, penemu kasus, dan peran sebagai
konselor menunjukkan dalam kategori optimal.
Dari tabel 2 menunjukkan sebagian besar
responden berjenis kelamin perempuan yaitu Pembahasan
sebanyak 24% (80%) Distribusi Responden berdasarkan Usia
Hasil analisis univariat terhadap
Tabel 3. Distribusi Frekuensi responden variabel usia terlihat bahwa mayoritas
berdasarkan Tingkat Pendidikan responden berusia 36- 40 tahun yaitu 12 orang
(40 %) Bila di lihat dari teori Robbins (2001)
Pendidikan Frekuensi Persentase 9
menyebutkan bahwa kinerja dapat merosot
SPK 7 23,4
seiring dengan bertambahnya usia akan tetapi
D3 21 70
S1 2 6.67 menurut peneliti dari hasil penelitian 36-40
Total 30 100 tahun merupakan usia yang produktif untuk
bekerja.
Dari tabel 3 diatas menunjukkan sebagian
besar pendidikan respon masih di jenjang Distribusi responden Berdasarkan Jenis
pendidikan D3 keperawatan Kelamin
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar responden berjenis kelamin
Tabel 4. Distribusi Frekuensi responden perempuan yaitu sebanyak 24 orang (80%)
berdasarkan masa kerja Menurut teori Robbins, 2001)9 tidak ada
Masa Kerja Frekuensi Persentase perbedaan yang konsisten antara pria dan
1-5 tahun 6 20 wanita dalam kemampuan memecahkan
6-10 tahun 9 30 masalah, keterampilan analisis, dorongan
11-15 tahun 6 20 kompetitif, motivasi, sosiabilitas atau
16-20 tahun 3 10 kemampuan belajar namun menurut peneliti
21-25 tahun 5 16.7 jenis kelamin sangat menentukan cara bekerja
26-30 tahun 1 3,37 seseorang biasanya perempuan memiliki
Total 30 100
kecenderungan bekerja lebih teliti dan hati-hati
Dari tabel 4 di atas menujukkan bahwa sedangkan laki-laki lebih mengutamakan hasil
distribusi usia responden peran perawat dalam akhir.
pelaksanaan kegiatan perkesmas di wilayah Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat
binaan puskesmas Kabupaten Bogor tahun Pendidikan
2016 yaitu sebagian masa kerja terlama yaitu
6-10 tahun berjumlah 9 orang (30%) Hasil penelitian menunjukkan bahwa
frekuensi pendidikan responden terbanyak
Peran Perawat adalah pendidikan D3 Keperawatan yaitu
Tabel 5. Distribusi frekuensi berdasarkan sebanyak 21 orang (70%) Secara umum
variabel peran perawat yang diteliti kemampuan individu akan meningkat sesuai
dengan jenjang pendidikan yang telah
Peran Kategori n %
dilaluinya (Robbins,2001)
Askep Optimal 18 60
Kurang optimal 12 40 Menurut Peneliti tingkat pendidikan
Penemu Kasus Optimal 16 53,3 seseorang sangat berpengaruh terhadap
Kurang optimal 14 46,7 pelayanan keperawatan semakin dia
Pendidik Optimal 13 43,3 berpendidikan maka semakin bijaksana dalam
Kurang Optimal 17 56,7
menyampaikan pendapat dan bertutur kata
Koordinator Optimal 14 46,7
Kurang optimal 16 53,3 kepada pasien begitu juga dengan kompetensi
Konselor Optimal 16 53,3 yang di milikinya.
Kurang Optimal 14 46,7
Panutan Optimal 12 40
Kurang Optimal 18 60
185
Ida Khudaipah Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia

Distribusi responden Berdasarkan Masa Penemu kasus dapat dilakukan dengan


Kerja jalan mencari langsung ke masyarakat (active
case finding) dan dapat pula didapat tidak
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
langsung yaitu pada kunjungan pasien ke
frekuensi masa kerja responden terbanyak
puskesmas (passive case finding)11
yaitu 6-10 tahun yaitu berjumlah 9 orang
(30%) lamanya seseorang bekerja juga Menurut peneliti berdasarkan
merupakan salah satu faktor yang kenyataan dilapangan peran perawat sebagai
mempengaruhi kinerja seseorang sekalipun ia penemu kasus lebih cenderung dilakukan oleh
tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. pemegang program TB paru dan Kusta untuk
deteksi dini atau penemuan kasus baru
Menurut peneliti lamanya seseorang
penderita tb paru atau kusta, hal ini sejalan
bekerja juga belum tentu membuktikan bahwa
dengan teori bahwa perawat harus terjun
seseorang tersebut paham dan mengerti tentang
kelapangan tidak hanya melakukan kegiatan di
program perkesmas.
dalam gedung tetapi perawat harus melakukan
Peran Perawat kegiatan diluar gedung puskesmas untuk
Peran Sebagai Pemberi Asuhan mencari kasus penyakit yang mungkin belum
Keperawatan terdeteksi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peran Sebagai Pendidik


sebagian besar peran perawat sebagai pemberi Hasil Penelitian menunjukkan sebagian
asuhan keperawatan dalam kategori optimal besar peran perawat sebagai pendidik dalam
yaitu 60% kategori kurang optimal yaitu 56,7%
Peran sebagai pemberi asuhan Peran utama perawat kesehatan
keperawatan merupakan peran yang sangat masyarakat selain memberikan asuhan
penting diantara peran-peran yang lain (bukan keperawatan juga sebagai pendidik atau
berarti peran yang lain tidak penting) baik atau penyuluh kesehatan yang merupakan bagaian
tidaknya kualitas pelayanan profesi yang dari promosi kesehatan. Oleh sebab itu
profesional bukan hanya dibuktikan dengan kemampuan dalam promosi kesehatan dengan
jenjang pendidikan yang tinggi. Banyaknya baik dan benar harus di miliki oleh setiap
ilmu dan teori keperawatan juga harus perawat kesehatan masyarakat (Depkes,2006)
diwujudkan kedalam aktivita pelayanan nyata
Menurut peneliti pada kenyataan
kepada klien agar klien mendapatkan
dilapangan perawat lebih banyak berperan
kepuasan. Ini merupakan langkah promosi
dalam memberikan asuhan keperawatan dan
yang sangat efektif dan murah dalam upaya
tugas-tugas adminitrasi lainnya, sehingga
membentuk citra perawat yang baik. Stigma-
peran sebagai pendidik/penyuluh kesehatan
stigma negatif tentang perawat dapat hilang
banyak dilakukan oleh tenaga kesehatan lain,
dengan pembuktian nyata berupa layanan
perawat harus lebih meningkatkan
keperawatan yang profesional kepada klien
pengetahuannya dalam bidang kesehatan
(Fauziah,syifa)10
karena masyarakat ingin dan bisa memperoleh
Menurut peneliti kenyataan dilapangan banyak pengetahuan di bidang kesehatan.
agar peran ini dapat berjalan dengan efektif an
Peran sebagai Koordinator dan
efisien sehingga tujuan asuhan keperawatan
Kolaborator
tercapai, maka perawat harus melakukan
proses asuhan keperawatan yang terdiri atas Hasil penelitian menunjukkan sebagian
assesment, diagnosis, planning, besar peran perawat sebagai koordinator dan
implementation, dan evaluation kolaborator dalam kategori kurang optimal
53,3%
Peran sebagai Penemu Kasus
Koordinator dan Kolaborator
Hasil penelitian menunjukkan
merupakan peran yang sangat penting karena
sebagian besar peran perawat sebagai penemu
peran inilah perawat mampu bekerja sama
kasus menunjukkan kategori optimal yaitu
dengan tenaga kesehatan lain.
53,3%
Menurut peneliti pada kenyataan
dilapangan peran koordinator dan kolaborator
186
Vol. 7 No. 1 Maret 2017 Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia
kurang optimal banyak faktor yang di wilayah binaan Puskesmas Kabupaten
mempengaruhinya salah satunya dilihat dari Bogor tahun 2016 dapat di simpulkan bahwa
tingkat pendidikan perawat yang rata-rata peran perawat sebagai pemberi asuhan
masih dijenjang diploma sehingga tingkat keperawatan, penemu kasus, dan konselor
pengetahuan dalam melakukan koordinator dan sebagian besar optimal sedangkan peran
kolaborator masih kurang meskipun dilihat sebagai pendidik, Koordinator/Kolaborator dan
dari masa kerja yang lama belum menentukan peran sebagai panutan menujukkan sebagian
perawat tersebut mengerti tentang program besar kurang optimal.
perkesmas.
Saran
Peran Sebagai Konselor
Disarankan bagi pengambil kebijakan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terutama Dinas Kesehatan kabupaten Bogor
sebagian besar peran perawat sebagai konselor untuk mengalokasikan dana bagi kegiatan
dalam kategori optimal yaitu 53,3% pelatihan Perkesmas untuk perawat serta
penambahan sumber daya manusia di bagian
Perawat sebagai konselor melakukan
non kesehatan yaitu tenaga adminitrasi denga
konseling keperawatan sebagai usaha
tujuan agar peran perawat dapat berjalan
memecahkan masalah secara efektif. Kegiatan
sebagaimana mestinya.
yang dapat dilakukan perawat puskesmas
antara lain menyediakan informasi, mendengar Diharapkan dapat dilakukan penelitian
secara objektif, memberi dukungan, memberi lebih lanjut tentang faktor-faktor yang
asuhan keperawatan dan meyakinkan klien, mempengaruhi peran perawat dalam
menolong klien mengidentifikasi masalah dan pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat
faktor-faktor terkait, memandu klien menggali (perkesmas)
permasalahan dan memilih pemecahan
masalah yang dikerjakan.
Daftar Pustaka
Menurut peneliti kenyataan dilapangan
sejalan dengan hasil penelitian dalam kategori 1. Tafwidhah, Yuyun Tesis: Hubungan
optimal bahwa perawat selain memberikan Kompetensi Perawat Puskesmas dan Tingkat
asuhan keperawatan juga isa menjadi sebagai keterlaksanaan kegiatan perawatan kesehatan
konselor untuk membantu memecahkan masyarakat (perkesmas) di Kota Pontianak.
Tesis.Depok: FIK UI 2010
masalah klien. 2. Riset Kesehatan Dasar. 2010
Peran Sebagai Panutan http://www.Litbang.depkes.go.id/Riskesdas
2010
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3. Dinas Kesehatan kabupaten Bogor. Profil
sebagian besar peran perawat sebagai panutan Kesehatan kabupaten Bogor tahun 2015,Bogor
dalam kategori kurang optimal yaitu 60% 2015.
4. Ekasari, Fatma Mia. Keperawatan Komunitas,
Perawat puskesmas harus dapat upaya memandirikan Masyarakat untuk Hidup
memberikan contoh yang baik dalam bidang Sehat, Jakarta: Trans Info Media; 2007
kesehatan pada individu, keluarga, kelompok 5. Departemen Kesehatan RI. Pedoman
dan masyarakat tentang agaimana cara hidup Peningkatan Kerja Perawat di Puskesmas
yang sehat yang dapat ditiru dan di contih oleh (panduan Bagi Kab/Kota), jakarta: Direktorat
masyarakat. Keperawatan dan keteknisian Medik; 2006
6. Potter,P.A & Perry,A.G. Fundamental Of
Menurut peneliti pada kenyataan nya Nursing: Fundamental Keperawatan. Alih
dilapangan masih banyak petugas kesehatan Bahasa Yasmin Asih. Jakarta: EGC; 2005
dalam hal ini perawat yang merokok dan tidak 7. Effendy, Fery. Makhfudli, Keperawatan
memberikan contoh panutan yang baik. Kesehata Komunitas, Teori dan Praktik dalam
Memberi panutan itu penting karena keperawatan. Jakarta:Salemba Medika; 2013
masyarakat akan meniru kita untuk berperilaku 8. Arikunto, S, Prosedur Penelitian. Jakarta:Pt
hidup bersih dan sehat. Rineca Cipta;2010
9. Robbins S.P. Perilaku Organisasi. Jakarta: Pt
Kesimpulan Indeks Kelompok Gramedia; 2001
10. Fauziah,Syifa,Skripsi: Gambaran Persepsi
Setelah dilakukan penelitian dan uji masyarakat tentang peran perawat puskesmas
statistik tentang gambaran peran perawat di Kelurahan Bintara Kota Bekasi. Skripsi.
puskesmas dalam pelaksanaan kegiatan Depok: UI; 2012
perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas)
187
Ida Khudaipah Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia

11. Permenkes Nomor 279 tentang pedoman


penyelenggaraan Upaya Keperawatan
Kesehatan Masyarakat Di Puskesmas, Jakarta:
2006

188