Anda di halaman 1dari 11

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

TUGAS PETROLOGI

OLEH:

MUH. IKHSAN INDRAJAYA


D621 09 004

MAKASSAR
2010
KLASIFIKASI BATUAN MENURUT RUSSEL B. TRAVIS
Pada tahun 1955, Russell B. Travis membuat sebuah klasifikasi batuan beku. Klasifikasi
ini merupakan terdetil dibanding klasifikasi lainnya. Tekstur adalah fitur paling mencolok dari
batuan beku, dan karena tekstur merupakan salah satu dasar pengklasifikasian batuan beku, maka
penting bagi kita untuk memahami definisi dari berbagai tekstur tersebut.
1. Derajat pengkristalan
A. Holokristalin : semuanya kristal
B. Hipokristalin : kristal dan gelas vulkanik
C. Holohialin : semua gelas vulkanik
2. Ukuran butir
A. Phaneritic : terlihat dengan mata telanjang.
- Kasar : diameter lebih dari 5mm.
- Sedang : diameter antara 1-5mm.
- Halus : diameter kurang dari 1mm.
B. Aphanitic : tidak terlihat dengan mata telanjang.
- Mikrokristalin : masing-masing terlihat dengan mikroskop.
- Kriptokristalin : terdiri dari butir-butir yang tak terlihat dengan mikroskop, tetapi
bentuknya kristalin.
- Glassy : sebagian besar terdiri dari struktur seperti
kaca/mengkilap.
3. Hubungan Antar Butir
A. Granular : terdiri dari butir-butir equidimensional / dengan dimensi yang sama.
B. Equigranular : terdiri dari butir-butir dengan ukuran yang hampir sama.
C. Granitic : hypidiomorphicgranular.
D. Porphyritic : terdiri dari butiran-butiran dengan satu atau lebih ukuran, dengan
groundmass yang lebih halus.
E. Diabasic : terdiri dari piroksen anhedral (atau amphibole),
terletak di antara plagioklas yang tak teridentifikasi.
F. Ophitic : terdiri dari plagioklas laths yang mendekati piroksen.
G. Pegmatitic : terdiri dari butir2 yang memperlihatkan kisaran
ukuran yang luas, tetapi jelas lebih besar dari batuan- batuan sebelumnya.
H. Aplitic : allotrimorphic-granular, sugary (berbutir halus).
4. Derajat Penampakan Kristal dalam Bentuk Butir (bentuk kristal)
A. Yang mewakili dalam bentuk butir:
- Euhedral (idiomorphic, automorphic) : bentuk dan batas kristal baik
- Subhedral : hanya sebagian yang dibatasi permukaan kristal (batasnya ada yang baik
ada yang jelek)
- Anhedral (xenomorphic) : tak dibatasi permukaan kristal.
B. Yang mewakili tekstur batuan beku
- Panidiomorphic : terutama terdiri dari butir-butir euhedral.
- Hypidiomorphic : campuran antara anhedral dan subhedral dan atau euhedral.
- Allotriomorphic : terutama terdiri dari butir-butir anhedral.
5. Beberapa Tekstur Batuan Vulkanis yang Umum
A. Vesicular : mempunyai lubang-lubang tubular
B. Amygdaloidal : memiliki amygdule (pengisi lubang-lubang yang
terdiri dari secondary mineral / accessory mineral)
C. Pumiceous : berlubang-lubang banyak, halus, dan tubular. (banyak terdapat di
batuan vulkanis silika)
D. Scoriaceous : berlubang-lubang banyak, kasar, dan spherical (banyak terdapat di
batuan vulkanis dasar)
E. Spherulitic : dengan unsur/material kristalin (spherulites).

Menurut Russell B. Travis selain dengan melihat teksturnya, komposisi batuan seperti
mineral utama, mineral tambahan khas menjadi factor untuk menentukan batuan secara detil.
Selain itu, Russell memberikan indeks warna bagi masing-masing batuan, yang mana menjadi
nilai lebih bagi pengklasifikasian batuan oleh Russell tersebut.

Contoh Penamaan Batuan Beku menurut Klasifikasi Russell B. Travis


1. Nama Batuan : Granit
2. Deskripsi :
1) Komposisi Mineral
- Potash feldspar > 2/3 feldpsar total
- Kuarsa > 10 %
- Mineral utama : hornblende, biotit, piroksen, muskovit.
- Mineral tambahan : sodic amphiboles, aegirine, cancrinite, sodalit,
tourmaline.
2) Index Warna = 10
3) Tekstur : Granit memiliki tekstur Equigranular. Mineral-mineral yang terkandung
di dalamnya dapat dilihat langsung oleh mata.

1. Nama Batuan : Diorit


2. Deskripsi :
1) Komposisi Mineral
- Plagioklas > 2/3 feldspar total
- Potash feldspar < 10% feldpsar total
- Sodic plagioklas
- Kuarsa < 10 % ; Feldspatoid < 10 %
- Mineral utama : hornblende, biotit.
- Mineral tambahan : sodic amphiboles, piroksen, feldspatoid.
2) Index Warna = 25
3) Tekstur : Diorit memiliki tekstur Equigranular sehingga mineral-mineral yang
terkandung di dalamnya dapat dilihat langsung oleh mata.

A. Kelebihan
Kelebihan yang dimiliki klasifikasi batuan beku yang dibuat Russell B. Travis adalah
penyajian klasifikasi yang dibuat secara lengkap dan detail untuk setiap batuan. Ditambah lagi
apabila kita melihat tabel yang dibuat Russell B. Travis sebuah batuan dapat dijelaskan secara
rinci. Russell B. Travis juga membagi komposisi mineral penyusun menjadi 2 yaitu mineral
primer dan sekunder. Selain itu Russell B. Travis membuat rincian warna yang lebih jelas karena
dia mencantumkan nomor indeks warna dari setiap batuan sehingga hal ini akan lebih
memperjelas kita saat mempelajari warna dari mineral penyusun batuan beku.

B. Kekurangan
Kekurangan yang dimiliki Russell adalah penyajian tabel yang terlalu detil dan lengkap
kadangkala membuat tabel ini sulit untuk dipelajari apalagi untuk diingat. Padahal kita ketahui
bahwa kita harus cepat dapat menyimpulkan nama sebuah batuan saat kita menemukan sebuah
batu yang ada dilapangan tanpa harus menunggu waktu yang lebih lama.
KLASIFIKASI BATUAN MENURUT IUGS

(International Union Of Geological Sciences)


BOWEN’S REACTION SERIES

Bowen menentukan bahwa mineral spesifik dari temperature tertentu hasil pendinginan magma.
Pada tempertatur tinggi akan berasosiasi dengan magma mafik dan intermediet, secara umum kemajuan
ini dibagi menjadi dua cabang. Cabang pertama Continuous menjelaskan mengenai evolusi plagioklas
feldspar mulai dari yang kaya calsium (Ca) dan kaya sodium (Na). Cabang berikutnya discontinuous
mendeskripsikan formasi atau bentuk mineral mafik seperti olivine, pyroxene, amphibole dan bitotit
mika. Hal aneh yang ditemukan pada Bowen adalah mengenai bagian discontinuous. Bowen disusun
suatu seri yang dikenal dengan Bowen’s Reaction Series.
Bowen’s Reaction Series merupakan urut-urutan pendinginan batuan beku.Sedangkan
batuan beku.Sedangkan batuan beku atau igneous rock itu sendiri adalah batuan yang terbentuk
dari proses pembekuan magma di bawah permukaan bumi atau hasil pembekuan lava di
permukaan bumi. Menurut para ahli seperti Turner dan Verhoogen (1960), F. F Groun (1947),
Takeda (1970), magma didefinisikan sebagai cairan silikat kental yang pijar terbentuk secara
alamiah, bertemperatur tinggi antara 1.500 – 2.500ºC dan bersifat mobile (dapat bergerak) serta
terdapat pada kerak bumi bagian bawah.
Dalam magma tersebut terdapat beberapa bahan yang larut, bersifat volatile (air, CO2,
chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain) yang merupakan penyebab mobilitas magma, dan
non-volatile (non-gas) yang merupakan pembentuk mineral yang lazim dijumpai dalam batuan
beku.Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan ke permukaan bumi, maka
mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa penghabluran.
Berdasarkan penghabluran mineral-mineral silikat (magma), oleh NL.
Temperatur tertentu magma dapat menghasilkan olivine, tetapi jika magma yang sama
mengalami pendinginan lebih lanjut, olivine akan bereaksi dengan magma yang terbentuk
terakhir, dan mengubah mineral selanjutnya pada seri tersebut dalam hal ini (pyroxene).
Pendinginan lebih lanjut dan pyroxene berubah ke amphibole dan kemudian ke biotit.
Dari diagram di atas, sebelah kiri mewakili mineral-mineral mafik, dan yang pertama kali
terbentuk adalah olivin pada temperatur yang sangat tinggi (1200ºC) dengan proporsi besi-
magnesium dan silikon adalah 2:1 dan membentuk komposisi (Fe2Mg).2SiO4. Tetapi jika
magma jenuh oleh SiO2, maka piroksen yang terbentuk pertama kali, dengan perbandingan
antara besi-magnesium dengan silikon adalah 1:1 membentuk komposisi (MgFe)SiO3 pada
temperatur yang lebih rendah.
Olivin dan piroksen merupakan pasangan Incongruent Melting, dimana setelah
pembentukan, olivin akan bereaksi dengan larutan sisa membentuk piroksen. Temperatur
menurun terus dan pembentukan mineral berjalan sesuai dengan temperaturnya. Mineral yang
terakhir terbentuk adalah biotit. Karena terjadi demikian maka reaksi ini disebut dengan reaksi
diskontinyu atau reaksi tidak menerus.
Seri berikutnya yang ada disebelah kanan mewakili kelompok plagioklas karena
didominasi atau hanya terdapat mineral plagioklas. Pada temperatur yang sangat tinggi (1200ºC)
yang mengkristal adalah plagioklas-Ca, dimana komposisinya didominasi oleh kalsium dan
sebagian kecil silikon dan aluminium. Pengkristalan selanjutnya yang berlangsung secara
menerus, komposisi Ca akan semakin berkurang dan kandungan Na (sodium) akan semakin
meningkat, sehingga pengkristalan terakhir adalah plagioklas-Na. Reaksi pada seri ini disebut
seri kontinyu karena berlangsung secara terus menerus. Mineral mafik dan plagioklas bertemu
pada mineral potasium feldspar dan menerus ke mineral yang stabil, yang tidak mudah terubah
menjadi mineral lain pada temperatur sekitar 600ºC.
DAFTAR PUSTAKA

• http://118.98.163.253/download/view.php?file=53_PRESENTASI_DAN_BAHAN_AJAR/Geolo
gi+Pertambangan/powerpoint+GP+asli/BATUAN+BEKU/KLASIFIKASI+BATUAN+BEKU.pp
tx
• http://2.bp.blogspot.com/_Kk-
QzINAOS8/SxDEK60kTCI/AAAAAAAAACQ/wbhJRMJlHqQ/s1600/KLSS2.BMP
• http://fhm13fas.wordpress.com/category/geologi-dasar/page/2/
• www.senyawa.com/2010/01/bowens-reaction-series.html