Anda di halaman 1dari 9

Formulasi Dan Uji Daya Hambat Terhadap Staphylococcus aureus Sediaan

Krim Ekstrak Etanol 70% Daun Angsana (Pterocarpus indicus Willd)

Formulation and The Inhibitory Test of Staphylococcus aureus Againts Cream 70%
Ethanol Extractof angsana leaves (Pterocarpus indicus Willd)

Diterima: Direvisi: Disetujui:

Abstrak
Daun angsana (Pterocarpus indicus willd) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa kimia antara
lain alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan triterpenoid yang mempunyai aktivitas antibakteri. Penelitian ini
bertujuan untuk menformulasikan sediaan krim ekstrak etanol daun angsana dengan basis vanishing cream, tween
80 dan span 80 sebagai emulgator dan untuk mengetahui aktivitas antibakteri sediaan krim ekstrak etanol daun
angsana terhadap bakteri Staphylococcus aureus.Daun angsana diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan
pelarut etanol 70%. Ekstrak etanol daun angsana diuji aktivitas daya hambat dengan metode difusi cakram dan diuji
kadar air serta kadar abu dan dilakukan juga pengujian skrining fitokimia. Evaluasi sediaan krim dilakukan dengan
metode uji freeze-thaw cycling. Ketiga formula sediaan krim ditempatkan pada suhu 4 ± 2°C selama 24 jam, dan
kemudian dipindahkan pada suhu 40 ± 2°C selama 24 jam (satu siklus). Pengujian ini dilakukan sebanyak 6 siklus
(12 hari). Pengamatan berupa organoleptis, nilai pH, homogenitas, daya sebar, viskositas dan uji sentrifugasi
dilakukan pada sediaan krim pada hari ke-0 dan setelah uji freeze-thaw cycling.Ekstrak etanol daun angsana dengan
konsentrasi 5% dan 10% memiliki aktivitas daya hambat yang sedang, dan konsentrasi ekstrak 20%, 30% dan 40%
memiliki aktivitas daya hambat yang kuat terhadap Staphylococcus aureus.Hasil uji aktivitas daya hambat ketiga
sediaan formula 1, formula 2 dan formula 3 berturut-turut adalah 11,15±1,2 mm, 10,15±3 mm dan 9,8±0,7 mm.
Keseluruhan formula mengalami penurunan aktivitas daya hambat setelah uji freeze-thaw cycling.
Kata kunci: Ekstrak Etanol; Daun Angasana; vanishing krim; Staphylococcus aureus

Abstract
Angsana (Pterocarpus indicus Willd) is one of the plants that have antibacterial activity. Various antibacterial
preparations have been widely circulated, one of them is cream dosage form. This study aims to formulate an
ethanol extract of angsana leaves cream with vanishing cream base, as well as tween 80 and span 80 as emulsifier
and to determine the antibacterial activity of preparations ethanol extract of angsana leaves cream against
Staphylococcus aureus. Angsana leaves were extracted by maceration method using ethanol 70%. Inhibitory
activity test was performed using disc diffusion method. Angsana leaves extract with a concentration of 5% and
10% have moderate inhibitory activity, and concentrations of 20%, 30% and 40% have strong inhibitory activity
against Staphylococcus aureus. Cream was formulated within three formulas, formula 1 (tween span 80 3% and 80
7%), formula 2 (4% tween 80 and span 80 6%) andformula 3 (5% tween 80 and span 80 5%). The physical stability
of three formulas was tasted before and after freeze-thaw cycling test. The results showed that increas the
concentration of tween 80 increases the viscosity of the preparations. The results of the inhibitory activity of the
three preparations formula 1, formula 2 and formula 3 were 11.15±1,2 mm, 10.15±3 mm and 9.8±0,7 mm,
respectively.The inhibitory activity of three formulas decreased after freeze-thaw cycling test.
Keywords: Ethanol Extract of Angasana Leaves; Cream; Staphylococcus aureus
PENDAHULUAN yang terkandung dalam tanaman ini juga
telah banyak diteliti antara lain seperti
senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin
dan triterpenoid (Armedita, Asfrizal, &
Staphylococcus aureus merupakan Amir, 2018). Ekstrak etanol daun angsana
salah satu bakteri penyebab utama dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan
tertundanya penyembuhan dan infeksi, jika krim agar dapat diaplikasikan pada kulit
luka bakar tidak dirawat dengan benar, akan dengan mudah. Sediaan krim dipilih karena
rentan terhadap infeksi bakteri maupun mempunyai keuntungan diantaranya yaitu
jamur. Selain menyebabkan infeksi pada luka mempunyai bentuk menarik, sederhana
bakar, bakteri S. aureus juga merupakan dalam pembuatan, mudah dalam
salah satu bakteri penyebab jerawat. Meilina penggunaan, daya menyerap yang baik,
dan Hasanah (2018) menyatakan bahwa mudah menyebar rata dan mudah dibersihkan
bakteri penyebab jerawat terdiri dari untuk krim minyak dalam air (Ansel, 2008).
Propionibacterium acnes, S. aureus dan S. Dalam formulasi sediaan krim
epidermidis. Untuk mengatasi masalah dibutuhkan emulgator untuk menjaga
jerawat dan infeksi lainnya yang disebabkan kestabilan krim. Penggunaan Twen 80 dan
oleh S. aureus dibutuhkan antibakteri alami span 80 sering digunakan sebagai emulgator
dari tumbuhan yang ada di Indonesia. Salah secara bersamaan. Saat emulgator yang
satu tumbuhan yang diketahui memiliki bersifat larut air dicampurkan dengan
aktivitas antibakteri terhadap S. aureus emulgator yang bersifat larut lemak akan
adalah tumbuhan angsana (Pterocarpus terbentuk stable interfacial complex
indicus willd). condensed film yang mampu membentuk dan
Tanaman angsana memiliki banyak mempertahankan emulsi dengan lebih efektif
manfaat untuk kesehatan secara tradisional dibandingkan penggunaan emulgator tunggal
dalam kehidupan sehari-hari antara lain kulit (Kim, 2004). Berdasarkan uraian di atas,
kayunya digunakan sebagai obat sariawan, maka perlu dilakukan penelitian untuk
getah batangnya digunakan untuk memformulasikan ekstrak etanol daun
pengobatan kanker terutama kanker mulut, angsana dalam sediaan krim dengan basis
dan mengobati luka (Armedita, Asfrizal, & vanishimg cream, sehingga dapat diketahui
Amir, 2018). Berbagai penelitian ilmiah juga daya hambat ekstrak etanol daun angsana
telah dilakukan untuk memastikan efek terhadap S. aureus dalam sediaan krim.
farmakologis dari tumbuhan angsana seperti
efeknya sebagai antidiabetes. Pada penelitian
yang dilakukan oleh Hendriati et al., (2015)
menyatakan bahwa pemberian ekstrak daun
angsana dalam dosis 35,36 mg/cm2 dan
70,72 mg/cm2 secara transdermal dengan METODE
enhancer asam oleat, dapat menurunkan
kadar glukosa darah pada tikus yang dibuat
hiperglikemik. Tanaman angsana dapat
menghambat pertumbuhan bakteri yang baik
pada S. aureus sebagai gram positif dan
kurang baik pada pertumbuhan S. pyogenes
dan Esherichia coli, aktivitas antibakteri Alat dan bahan
ekstrak etanol daun angsana 500 mg/ml dan
600 mg/ml memiliki daya hambat sebesar 16
± 0,29 mm (Fatimah et al., 2006).
Beberapa senyawa kimia antibakteri
Daun Angsana, Staphylococcus aureus etanol 70%. Filtrat hasil ekstraksi yang
ATCC-1, Mueller-Hinton Agar, Dimetil diperoleh kemudian disatukan dan
Sulfoksida (DMSO), dan Nutrient Agar dipekatkan menggunakan rotary evaporator
(NA), Tween 80, Span 80, Asam Stearat, pada suhu 40°C sampai ekstrak kental.
Malam Putih, Vaselin Putih, Trietilnolamin,
Propilenglikol, Nipagin, dan Akuades.
Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun
Angsana
Media mueller-hinton dituangkan ke
dalam 4 cawan petri steril dan biarkan hingga
memadat, setelah media memadat 2 cawan
Prosedur kerja petri yang berisi media MHA diisi dengan
suspensi bakteri di swab hingga merata di
atas permukaan media agar lalu biarkan
hingga kering (Aziz, 2010). Kemudian media
Persiapan Sampel
yang telah bercampur suspensi bakteri uji
Penyiapan simplisia daun angsana
tersebut dibagi menjadi beberapa zona,
dilakukan dengan cara sortasi basah untuk
masing-masing bagian diisi kertas cakram
memisahkan kotoran atau bahan asing
yang telah diaplikasikan ekstrak etanol daun
lainnya dari daun. Kemudian dilakukan
angsana secara merata yang sebelumnya
pencucian untuk menghilangkan pengotor
telah dilarutkan dalam DMSO dengan variasi
yang masih menempel pada bahan. Tahap
konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm
Komponen Formula(%)
dan 40 ppm. Kemudian 2 cawan petri MHA
F1 F2 F3
lainnya diisi dengan kontrol yaitu
Asam stearat 15 15 15
klindamisin (kontrol positif) dan DMSO
Malam putih 2 2 2
(kontrol negatif) (Fatimah et al.,
Vaselin putih 25 25 25
2006).Kemudian cawan petri diinkubasi
Ekstrak daun angsana 20 20 20 dalam keadaan posisi terbalik pada suhu
Trietanolamin 1,5 1,5 1,5 37°C selama 24 jam.
Propilenglikol 8 8 8
Tween 80 3* 4* 5*
Span 80 7* 6* 5* Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Krim
Nipagin 0,05 0,05 0,05 Tabel 1. Formula Krim Ekstrak Etanol
Akuades add (ml) 50 50 50 Daun Angsana
selanjutnya adalah pengeringan, sampel Keterangan:*Parameter divariasikan (Savitri,2016)
dikering-anginkan sehingga diperoleh daun a. Pengamatan organoleptis
angsana yang kering. Setelah itu, daun Pengamatan organoleptis dapat dinilai
angsana yang kering dipotong kecil-kecil dengan pengamatan dari segi tekstur, bau,
untuk mempermudah proses penggilingan, dan warna sediaan. Uji organoleptis
alat yang digunakan untuk penggilingan bertujuan untuk melihat tampilan fisik
adalah blender untuk memperoleh serbuk sediaan yang telah dibuat.
simplisia. Kemudian sampel diekstraksi b. Pengujian pH
dengan metode maserasi dengan pelarut Pengukuran pH krim dilakukan
menggunakan pH meter. Sebelum
digunakan pH meter dikalibrasi terlebih
dahulu dengan larutan buffer standar (pH Uji aktivitas antibakteri sediaan
4,5 dan pH 6,5). Sediaan krim ditempatkan krim ekstrak etanol daun angsana terhadap
dalam wadah, kemudian diukur pH nya. bakteri staphylococcus aureus dilakukan
c. Pengujian Homogenitas dengan metode difusi menggunakan
Pengujian homogenitas dilakukan cakram disc. Media MHA dituangkan
dengan cara menimbang krim 0,1 gram dalam cawan petri steril dan biarkan
lalu krim dioleskan pada kaca objek yang hingga memadat, setelah itu suspensi
bersih. Kaca objek tersebut dikatupkan bakteri dioleskan diatas media agar secara
dengan kaca objek lain, kemudian dilihat merata hingga kering. Cakram disc steril
penyebaran partikel krim menunjukan kemudian dioleskan sediaan krim dan
struktur yang homogen. Sediaan harus diratakan diatas permukaan agar. Cawan
homogen dan tidak terdapat adanya peteri kemudian diinkubasi dalam keadaan
butiran kasar (Rizikiyan, Sulastri, & posisi terbalik pada suhu 37°C selama 1 x
Indriaty, 2018). 24 jam, kemudian diukur daya hambatnya
d. Uji daya sebar dengan mengukur daerah daya hambat
Uji daya menyebar krim dilakukan yaitu terbentuknya daerah bening
dengan menimbang 0,5 gram dan disekeliling cakram disc (Thamrin, 2012).
diletakan di tengah dua kaca akrilik. Kaca
yang digunakan untuk menutup ditimbang
terlebih dahulu, dan diletakkan di atas
krim selama 1 menit, (Swastika et al., HASIL
2013). Setelah 1 menit diameter sampel
yang menyebar diukur pada berbagai sisi
kemudian dirata-rata. Tambahkan beban
sebesar 150 gram diamkan 1 menit dan
ukur diameter krim yang menyebar. Daya
sebar yang menunjukkan konsistensi
semisolid yang sangat nyaman dalam Konsentrasi Ekstrak Daya Hambat (mm) ± SD
penggunaannya adalah daya sebar yang (%)
berkisar antara 5-7 cm. 5 8,5±0,7
10 8,5±0,7
e. Pengukuran viskositas
20 14±1,4
Pengukuran viskositas krim dilakukan 30 16±1,4
dengan menggunakan viscotester. Krim 40 17±1,4
dituang ke dalam gelas beker, spindel + 40±1,4
dipasang pada alat, kemudian spindel - 0
diturunkan hingga tanda batas spindel Ekstrak etanol daun angsana memiliki
tercelup ke dalam krim. Kecepatan alat karakteristik berupa ekstrak kental, berwarna
dipasang pada kecepatan 2 rpm dengan hijau kecoklatan dan berbau khas
spindel nomer 7 (Dewi et al., 2014). angsana.Hasil kadar air yang diperoleh
f. Uji stabilitas mekanik dengan adalah 14,581%. Kadar abu ekstrak etanol
metode Sentrifugasi daun angsana yang diperoleh
Krim dimasukkan dalam tube adalah12,3138%.Hasil skrining fitokimia
sentrifugasi, kemudian disentrifugasi menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun
selama30 menit dengan kecepatan 5000 angsana positif mengandung alkaloid,
rpm (Buang, Trisnawati, & Hartadi, saponin, tanin, fenolik, flavonoid,
2014). Pengujian ini dilakukan untuk triterpenoid, steroid dan glikosida, hasil
mengetahui adanya pemisahan fase pada skrining fitokimia dapat dilihat pada tabel 1.
sediaan krim (Rahmatika, 2017). Pengujian daya hambat ekstrak etanol 70%
daun angsana terhadap staphylococcus
Uji Aktivitas daya Hambat Sediaan aureus ATCC-1 dibuat dalam 5 seri
konsentrasi yaitu 5%, 10%, 20%, 30% dan persyaratan daya sebar untuk sediaan krim,
40%. Hasil uji daya hambat ekstrak etanol daya sebar krim yang baik adalah 5-7 cm
Formula pH pada pH setelah uji freeze-
(Garg et al.,2002).
hari ke-0 thaw cycling
F1 5,42 5,28 Tabel 4.Hasil Uji Daya Sebar
F2 5,20 5,14 Formula Pada hari Setelah uji freeze-
F3 5,30 5,14 ke-0 (cm) thaw cycling (cm)
F1 2,7 3,1
daun angsana dapat dilihat pada tabel 2.
F2 2,6 3
F3 2,5 3
Hasil Evaluasi Fisik Sediaan
Hasil pemeriksaan organoleptis pada
Hasil viskositas pada masing-masing
hari ke-0 menunjukkan sediaan krim ekstrak
formula adalah 119000 cP untuk formula 1,
etanol daun angsana pada F1, F2 dan F3
232500 cp untuk formula 2 dan 389000 cp
berwarna hijau kecoklatan, berbau khas
untuk formula 3, standar viskositas krim
ekstrak angsana dengan bentuk sediaan
yang ideal yaitu tidak kurang dari 50 dPa-s
berupa semi solid, lembut dan mudah
(Gozali et al., 2009). Uji sentrifugsi
diaplikasikan. Setelah uji freeze-thaw cycling
keseluruhan formula krim menunjukkan hasil
pada suhu 4°C selama 24 jam dan 40°C
yang stabil dimana tidak terjadi pemisahan
selama 24 jam (satu siklus), yang dilakukan
selama 6 siklus menunjukkan terjadinya Tumbuhan Skrining Hasil Ujisebelumnya
perubahan warna pada sediaan F1, F2 dan F3 Fitokimia (Yulianti,2013)
dari hijau kecoklatan menjadi Alkaloid + +
hijaukehitaman. Saponin + +
Ekstrak Tanin + +
Tabel 1.Hasil Skrining Fitokimia Etanol Fenolik + -
Keterangan: (+) Menunjukkan ReaksiPositif Flavonoid + +
70%
(-)Tidak dilakukan uji
Daun
Angsana
Tabel 2.Hasil Uji Daya Hambat Triterpenoid + +
Ekstrak Etanol 70% Daun Angsana Steroid + -
Keterangan: (+)Kontrol positif yaitu klindamisin Glikosida + -
(-) Kontrol negatif yaitu DMSO Kuinon - +
fase sebelum dan setelah uji freeze-thaw
Nilai pH dapat dilihat pada tabel 3, nilai cycling.Hasil viskositas dapat dilihat pada
pH untuk masing-masing formula pada hari tabel 5.
ke-0 adalah F1 5,42, F2 5,20 dan F3 5,30 Tabel 5.Hasil Uji Viskositas
setelah uji freeze-thaw cycling masing- Formula Pada hari ke- Setelah uji freeze-thaw
masing pH sediaan adalah 5,28, 5,14 dan 0 (cP) cycling (cP)
5,14. F1 119000 107850
F2 232500 108400
F3 389000 148060
Tabel 3.Hasil Uji Derajat
Keasaman (pH) Hasil Uji Daya Hambat Sediaan Krim
Ekstrak Etanol Daun Angsana
Hasil uji homogenitas menunjukkan Hasil uji daya hambat sediaan krim
bahwa sediaan F1, F2 dan F3 homogen dapat dilihat pada tabel 6. Kontrol negatif
sebelum dan setelah uji freeze-thaw cycling. yang digunakan adalah basis sediaan untuk
Hasil daya sebar untuk masing-masing mengetahui pengaruh basis dalam pengujian
formula dapat dilihat pada tabel 4, nilai daya daya hambat sediaan krim. Berdasarkan hasil
sebar untuk masing-masing formula pada pengamatan uji daya hambat masing-masing
hari ke-0 adalah F1 2,7 cm, F2 2,6 cm dan F3 sediaan krim memiliki aktivitas daya hambat,
2,5 cm. Nilai tersebut belum memenuhi rata-rata daya hambat F1 sebesar 11,15±1,2
mm, F2 10,15±3 mm dan F3 sebesar 9,8±0,7 menyatakan bahwa ekstrak etanol daun
mm. angsana memiliki aktivitas daya hambat yang
Tabel 6. Hasil Uji Daya Hambat Sediaan baik terhadap pertumbuhan staphylococcus
Krim aureus. Diameter zona hambat ekstrak etanol
Keterangan: F1 = Formula 1, F2= Formula 2, F3 =
Formula 3, K1= Kontrol 1,K2= Kontrol 2, K3= Formula Pada hari Setelah freeze-thaw
Kontrol 3 ke-0 cycling ± SD
F1 11.15±1,2 9,3±0,4
K1 0 0
F2 10.15± 3 9,3±0,4
K2 0 0
PEMBAHASAN F3 9,8±0,7 9,1±1,9
K3 0 0
daun angsana mengalami peningkatan sesuai
dengan ditingkatkannya konsentrasi ekstrak
Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol yang diuji.
daun angsana menggunakan klindamisin
sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai Evaluasi Fisik Sediaan
kontrol negatif. Pengujian dibuat dalam 5 seri Pengujian organoleptis bertujuan
konsentrasi yaitu 5%, 10%, 20%, 30% dan untuk melihat sifat fisik sediaan krim
40%, hasil pengujian menunjukkan bahwa meliputi pengujian bentuk sediaan, warna
ekstrak etanol daun angsana memiliki daya dan bau selama masa penyimpanan tertentu.
hambat terhadap pertumbuhan bakteri Hasil pemeriksaan organoleptis pada hari ke-
staphylococcus aureus ATCC-1. Hasil uji 0 menunjukkan sediaan krim ekstrak etanol
daya hambat ekstrak etanol daun angsana daun angsana pada F1, F2 dan F3 berwarna
dapat dilihat pada Tabel 2. Nilai rata-rata hijau kecoklatan, berbau khas ekstrak
setiap konsentrasi ekstrak adalah 5% sebesar angsana dengan bentuk sediaan berupa semi
8,5±0,7 mm, 10% 8,5±0,7 mm, 20% 14±1,4 solid, lembut dan mudah diaplikasikan.
mm, 30% 16±1,4 mm dan 40% sebesar Setelah uji freeze-thaw cycling pada suhu
17±1,4 mm, kontrol positif 40±1,4 mm dan 4°C selama 24 jam dan 40°C selama 24 jam
kontrol negatif tidak menunjukkan aktivitas (satu siklus), yang dilakukan selama 6 siklus
daya hambat. menunjukkan terjadinya perubahan warna
Jawetz, Melnick J dan Adelberg (2007) pada sediaan F1, F2 dan F3 dari hijau
menyatakan bahwa daerah bening di sekitar kecoklatan menjadi hijau kehitaman.
disc merupakan kekuatan daya hambat zat Perubahan warna pada sediaan disebabkan
antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri. oleh faktor suhu tinggi yang mempengaruhi
Hasil dari kelima konsentrasi menunjukkan kestabilan krim, Rufiati (2011) menyatakan
aktivitas yang berbeda-beda, menurut Davis setiap kenaikan suhu sebesar 10°C dapat
and Stout (1971) penentuan kategori meningkatkan laju reaksi kimia menjadi dua
kekuatan aktivitas antibakteri oleh senyawa kali lipat. Selain itu, perubahan warna dari
aktif dapat dikelompokkan menjadi empat hijau kecoklatan menjadi hijau kehitaman
kategori, yaitu aktivitas lemah (<5 mm), dapat disebabkan oleh penggunaan
aktivitas sedang (5-10 mm), aktivitas kuat trietanolamin yang merupakan suatu amin
(11-20 mm), dan aktivitas sangat kuat (>20- yang bersifat basa kuat bereaksi dengan
30 mm). Berdasarkan kategori tersebut flavonoid yang merupakan senyawa fenol
konsentrasi 5% dan 10% memiliki aktivitas sehingga terjadi perubahan warna. Tidak
daya hambat yang sedang, dan konsentrasi terjadi peubahan bau dan bentuk pada
ekstrak 20%, 30% dan 40% memiliki masing-masing sediaan setelah uji freeze-
aktivitas daya hambat yang kuat. Hasil yang thaw cycling.
diperoleh sejalan dengan penelitian yang Nilai pH untuk masing-masing
dilakukan oleh fatimah (2004) yang formula pada hari ke-0 adalah F1 5,42, F2
5,20 dan F3 5,30 setelah uji freeze-thaw Uji Daya Hambat Sediaan Krim Ekstrak
cycling masing- masing pH sediaan adalah Etanol Daun Angsana
5,28, 5,14 dan 5,14. Berdasarkan Tranggono Kontrol negatif yang digunakan
dan Latifah (2007) menyatakan pH sediaan adalah basis sediaan untuk mengetahui
yang memenuhi pH kulit yaitu berada pada pengaruh basis dalam pengujian daya hambat
interval 4,5 - 6,5 sehingga pH sediaan masih sediaan krim. Berdasarkan hasil pengamatan
berada pada rentang pH yang sesuai dengan uji daya hambat masing-masing sediaan krim
pH kulit. Setelah uji freeze-thaw cycling pH memiliki aktivitas daya hambat, rata-rata
sediaan pada ketiga formula mengalami daya hambat F1 sebesar 11,15±1,2 mm, F2
penurunan. Penurunan pH pada sediaan 10,15±3 mm dan F3 sebesar 9,8±0,7 mm.
biasanya disebabkan oleh penguraian lemak Sediaan krim pada masing-masing formula
akibat hidrolisis, oksidasi karna adanya menunjukkan hasil uji daya hambat yang
oksigen dari atmosfer dan cahaya (Martin et berbeda-beda, formula 1 memiliki daya
al., 1993). hambat yang paling tinggi, hal tersebut
Hasil uji homogenitas menunjukkan disebabkan oleh perbedaan konsentrasi
bahwa sediaan F1, F2 dan F3 homogen emulgator pada masing-masing sediaan,
sebelum dan setelah uji freeze-thaw cycling. formula 1 dengan konsentrasi tween 80
Homogenitas sistem emulsi dipengaruhi oleh sebesar 3% dan span 80 sebesar 6%, formula
teknik atau cara pencampuran serta alat yang 2 konsentrasi tween 80 4% dan span 80 6%
digunakan (Lachman et al., 1994). Sediaan sedangkan formula 3 konsentrasi tween 80
krim diharapkan mudah menyebar tanpa 5% dan span 80 5%. Hasil yang diperoleh
menggunakan penekanan yang berlebihan menunjukkan bahwa semakin tinggi
(Inayah, Suwarmi dan Bagiana, 2013). Hasil penggunaan konsentrasi tween 80
daya sebar untuk masing-masing formula menurunkan aktivitas daya hambat sediaan.
pada hari ke-0 adalah F1 2,7 cm, F2 2,6 cm Hasil pengujian daya hambat ekstrak etanol
dan F3 2,5 cm. Nilai tersebut belum daun angsana yang diformulasikan dalam
memenuhi persyaratan daya sebar untuk bentuk sediaan krim mengalami penurunan
sediaan krim, daya sebar krim yang baik aktivitas daya hambat jika dibandingkan
adalah 5-7 cm (Garg et al., 2002). dengan aktivitas daya hambat ekstrak etanol
Viskositas merupakan nilai yang daun angsana pada konsentrasi 20%, hal ini
menunjukkan suatu kekentalan medium menunjukkan bahwa bahan yang digunakan
pendispersi dari sauatu emulsi. Hasil untuk membuat sediaan krim menurunkan
viskositas pada masing-masing formula kemampuan ekstrak etanol daun agsana
adalah 119000 cP untuk formula 1, 232500 dalam menghambat pertumbuhan
cp untuk formula 2 dan 389000 cp untuk staphylococcus aureus. Formulasi sediaan
formula 3, standar viskositas krim yang ideal krim menghambat pelepasan kandungan
yaitu tidak kurang dari 50 dPa-s (Gozali et senyawa aktif dari ekstrak untuk berdifusi ke
al., 2009). Hasil pengukuran viskositas pada dalam media, sehingga ekstrak yang
masing-masing sediaan krim mengalami terkandung dalam sediaan tidak terlepas
penurunan setelah uji freeze-thaw cycling, sempurna kedalam media (Nuralifah dkk,
hal ini disebabkan oleh perpindahan suhu 2018) . Pengamatan daya hambat sediaan
yang cepat sehingga kestabilan krim untuk masing-masing formula mengalami
berkurang (Savitri, 2016). Sampel krim perubahan aktivitas sebelum dan setelah uji
disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm freeze-thaw cycling, setelah pengujian
selama 30 menit hasilnya ekuivalen dengan freeze-thaw cycling masing-masing formula
efek gravitasi selama satu tahun (Lachman et krim mengalami penurunan aktivitas sediaan
al., 1994). Keseluruhan formula krim hal ini disebabkan adanya pengaruh suhu
menunjukkan hasil yang stabil dimana tidak ekstrim pada uji freeze-thaw cycling yang
terjadi pemisahan fase sebelum dan setelah mengakibatkan penurunan kestabilan sediaan
uji freeze-thaw cycling. sehingga menyebabkan menurunnya aktvitas
daya hambat zat aktif dalam sediaan krim. 4. Buang, A., Trisnawati, & Hartadi. (2014).
Formulasi dan uji daya hambat krim ekstrak
etanol teh hijau terhadap propionibacterium
acnes. Media Farmasi, XII(20), 21–28.
5. Dewi, R. et al., (2017). Uji stabilitas fisik
KESIMPULAN formula krim yang mengandung ekstrak
kacang kedelai (Glycine max).
Pharmaceutical Sciences and Research, 1(3),
194–208.
https://doi.org/10.7454/psr.v1i3.3484
6. Fatimah, Cut. et al., (2006). Uji aktivitas
antibakteri estrak daun angsana (Pterocarpus
Aktivitas daya hambat ekstrak etanol Indicus Willd.) secara in vitro. Jurnal Ilmiah
daun angsana terhadap staphylococcus Panmed, 1(1), 1- 8.
aureus ATCC-1 dengan konsentrasi 5% dan 7. Garg, A., et al., (2002). Spreading of
10% memiliki aktivitas daya hambat yang Semisolid Formulation An Update.
sedang, dan konsentrasi ekstrak 20%, 30% Pharmaceutical Technology.26:84-105
dan 40% memiliki aktivitas daya hambat 8. Gozali, D. et al., (2009). Formulasi krim
yang kuat terhadap staphylococcus aureus. pelembab wajah yang mengandung tabir
Aktivitas daya hambat krim ekstrak surya nanopartikel zink oksida salut silikon.
Jurnal Farmaka, 7 (1), 42.
etanol daun angsana terhadap staphylococcus
9. Hendriati, L. et al., (2015). Efek
aureus ATCC-1 pada masing-masing sediaan hipoglikemik dan uji hipersensitivitas sediaan
adalah F1 memiliki aktivitas daya hambat transdermal ekstrak angsana (Pterocarpus
kuat sebesar 11,15 mm, F2 10,15 dan F3 Indicus Willd.). J Pharm Sci Pharm Pract,
sebesar 9,8 mm memiliki daya hambat 2(2):15-19.
sedang. Aktivitas daya hambat keseluruhan 10. Kim, C. (2004). Advanced Advanced :
formula mengalami penurunan aktivitas Physicochemical Principles. New York:
setelah uji freeze-thaw cycling. CRC Press LLC.
11. Lachman, L. et al., (1994). Teori dan
Praktek Farmasi Industri. Jakarta: UI –
Press.
12. Martin, A. et al., (1993). Farmasi Fisik:
Dasar-dasar Kimia Fisik dalam Ilmu
Farmasetik. Jakarta: Universitas Indonesia
DAFTAR RUJUKAN Press.
13. Meilina, N. E., Hasanah, A. N. (2018).
Review artikel: Aktivitas antibakteri ekstrak
kulit buah manggis (garnicia mangostana l.)
terhadap bakteri penyebab jerawat. Farmaka,
16(2), 322–328.
14. Nuralifah, D. et al., (2018). Uji aktivitas
1. Ansel, H.C. (2008). Pengantar Bentuk antibakteri sediaan krim anti jerawat ekstrak
Sediaan Farmasi. Jakarta: UI-Press. etanol terpurifikasi daun sirih ( Piper betle
2. Armedita, D., Asfrizal, V., & Amir, M. L .) dengan basis vanishing cream terhadap
(2018). Aktivitas antibakteri ekstrak etanol propionibacterium acne. Pharmauho, 4(9),
daun, kulit batang, dan getah angsana. 30- 35.
ODONTO Denta Journal, 5(1), 1–8. 15. Rahmatika, A. (2017). Formulasi dan uji
3. Aziz, Syaikhul. (2010). Uji aktivitas aktivitas antioksidan sediaan krim ekstrak
antibakteri ekstrak etanol daun dan umbi etanol 70% daun ashitaba (angelica keiskei
bakung putih (crinum asiaticum) terhadap koidz) dengan setil alkohol sebagai stiffening
bakteri penyebab jerawat. Skripsi. Jakarta: agent. Skripsi. Jakarta: UIN Syarif
UIN Syarif Hidayatullah. Hidayatullah
16. Rizikiyan, Y., Sulastri, L., & Indriaty, S.
(2018). Formulasi dan uji daya hambat krim
ekstrak etanol teh hijau terhadap antibakteri terhadap staphylococcus
propionibacterium acnes formulation and epidermidis. Skripsi. Surakarta: Universitas
inhibition test of ethanol ekstract green tea Muhammadiyah.
cream on propionibacterium acnes. Jurnal 19. Swastika, A., Mufrod, & Purwanto. (2013).
Medical Sains, 2(2), 65–74. Aktivitas antioksidan krim ekstrak sari tomat
17. Rufiati, E. (2011). Penalaran sifat koligatif (Solanum lycopersicum L.). Traditional
laruta kenaikan titik didih dan penurunan titik Medicine Journal, 18(3), 132–140.
beku (2011, Juli 18). Retrieved from 20. Thamrin, N. F., (2012). Formulasi
http://etnarufiati.guruindonesia.net/artikel_de sediaan krim dari ekstrak etanol kunyit
tail- 11169.html (curcuma domesticae. val) dan uji
18. Savitri, A. A., (2016). Formulasi sediaan efektivitas terhadap bakteri
krim ekstrak etanol buah mahkota dewa staphylococcus aureus. Skripsi.
(phaleria macrocarpa (scheff) boerl) dengan
Makassar: UIN Alauiddin
basis vanishing cream dan uji aktivitas