Anda di halaman 1dari 4

I.

DESIGN PRODUCT BRIEF


A. Rencana pengembangan produk PT. Tri-hexa PharmaLab
PT Tri-hexa Pharmalab (PT. TP) adalah sebuah industri farmasi yang bertempat di kawasan
industri Cikarang, Bekasi. PT.TP selama 10 tahun terakhir telah berfokus pada sediaan farmasi
per oral serta intravena, melalui penjualan produk – produk tersebut PT. TP telah menjadi
industry farmasi yang berkembang cukup pesat di Indonesia. Selanjutnya PT. TP hendak
memperluas ranah bisnisnya atau cakupan pasarnya di bidang farmasi melalui pengembangan
produk baru yang potensial baik dari segi medis dan juga segi komersil. Untuk mewujudkan
rencana tersebut PT. TP berencana mengekplorasi rute pemberian obat lainnya. Pengembangan
produk baru difokuskan pada melahirkan produk me too berdasarkan paten ataupun brand lain
yang telah lebih dahulu beredar.

B. Analisis Pengembangan Produk.


Obat anti-inflamasi merupakan salah satu kelompok obat dengan tingkat kebutuhan yang
tinggi. Analisis global yang dilakukan oleh Allied Market Research menunjukkan bahwa nilai
pasar obat anti-inflamasi diprediksi dapat mencapai angka 106,1 miliar dollar pada tahun 2020.
Daerah asia – pasifik sendiri diprediksi menjadi pasar yang paling potensial bagi obat anti –
inflamasi, sehingga dengan mengembangkan sediaan anti – inflamasi merupakan suatu langkah
yang cukup potensial secara komersil bagi industri farmasi di Indonesia.
Analisis Allied Market Research juga menunjukkan bahwa obat anti – inflamasi terbagi ke
dalam 3 golongan, yaitu biologik, obat anti – inflamasi non-steroid (OAINS), dan kortikosteroid.
Beberapa penyakit yang membutuhkan anti – inflamasi di antaranya adalah artritis, penyakit
saluran nafas, multipel sclerosis, psoriasis, inflammatory bowel diseases (IBD), dan lain – lain.
IBD yang terbagi ke dalam crohn disease (CD) dan ulcerative colitis (UC) adalah salah satu
penyakit yang dapat membutuhkan produk anti – inflamasi dalam terapinya. Analisis dari
Biospace menunjukkan bahwa kortikosteroid merupakan kelompok obat anti – inflamasi yang
banyak digunakan digunakan dalam terapi IBD. Nilai market share kortikosteroid berkisar pada
5.9%, dibawah produk biologik, dan aminosalisilat.

Kortikosteroid yang diberikan pada pasien IBD dapat berupa obat intravena, per-oral, dan
rektal (topikal) (enema, foams, dan suppositoria). Namun penggunaan kortikosteroid sistemik
memiliki risiko efek samping yang signifikan baik pada penggunaan jangka pendek maupun
jangka panjang, berupa diabetes, insufiensi kelenjar adrenal, dan osteoporosis. Penggunaan
kortikosteroid topikal menawarkan keuntungan berupa kerja obat yang lebih tertarget dengan
efek samping sistemik minimal (Cohen & Weisshof, 2020). Beberapa produk rektal (topikal)
yang telah tersedia adalah sebagai berikut:

No. Formulasi Obat


Suppositoria Mesalamine
1. Hydrocortison
Beclomethasone dipropionate
2. Cairan enema Mesalamine
Hydrocortison
Beclomethasone dipropionate
Budesonide
Foam enema Mesalamine
Hydrocortison
3.
Beclomethasone dipropionate
Budesonide
4. Rectal gel mesalamine

Hidrokortison yang diberikan secara rektal telah ditetapkan sebagai terapi terapi yang kuat
untuk kondisi medis tertentu. Keuntungan hidrokortison yang diberikan secara rektal (mis.,
Hidrokortison asetat) mencakup tingkat penyerapan sistemik yang sangat rendah dan efek
samping yang lebih sedikit daripada yang sering dialami dengan perawatan kortikosteroid oral
dan intravena (WIPO, 2016). Sediaan suppositoria dapat menghindari terjadinya iritasi pada
lambung, dapat menghindari kerusakan akibat asam lambung, obat dapat langsung masuk dalam
saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat dari pada pengunaan oral maupun tropical,
dan baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadarkan diri (Anief, 2006).

Kriteria suppositoria yang baik harus memiliki persyaratan sebagai berikut (Sulistyowati,
1991):

1. Harus dapat meleleh pada suhu tubuh, melarut dan melunak pada cairan tubuh.
2. Stabil pada penyimpanan dan tidak menunjukan perubahan warna, bau dan pelepasan
bahan aktif.
3. Perbedaan suhu saat bahan dasar mulai melunak dan meleleh kecil yaitu kurang dari
3O C.
4. Tidak toksik dan tidak mengiritasi.
5. Harus inert dan tercampur dengan bermacam – macam bahan aktif.
6. Dapat mengalami penyusutan volume pada waktu pendinginan sehingga tidak perlu
lubrikan.
7. Dapat dibuat dengan tangan, tekanan atau leburan.

Formulasi obat hidrokortison rektal saat ini termasuk enema cair, enema busa dan
supositoria semi-padat. Kebiasaan peresepan saat ini untuk formulasi obat hidrokortison rektum
meliputi penilaian tingkat keparahan penyakit serta tingkat aktivitas penyakit dalam usus besar.
Hidrokortison yang diberikan secara rektal telah terbukti menginduksi remisi pada pasien dengan
kolitis ulserativa sisi kiri. Untuk pasien dengan penyakit ini, cairan enema sering diresepkan
karena obat didistribusikan sejauh kelenturan limpa. Untuk pasien dengan sigmoid colitis, busa
enema diresepkan sebagai distribusi obat meluas ke kolon sigmoid dan sebagian ke kolon
desendens. Meskipun kolitis ulserativa terbatas pada rektum, didefinisikan sebagai proktitis
ulseratif, dapat diobati dengan formulasi supositoria hidrokortison, tidak ada formulasi
supositoria hidrokortison yang telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) sebagai
pengobatan yang aman dan efektif (WIPO, 2016).

Produk hidrokortison asetat dalam bentuk suppositoria terbilang cukup langka di Indonesia.
Produk yang tersedia dipasaran merupakan barang import dengan harga yang cukup tinggi. Oleh
karena itu, perlu adanya produk lokal dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, kebutuhan
untuk formulasi supositoria hidrokortison yang lebih aman dan lebih efektif untuk pengobatan
penyakit dan gangguan gastrointestinal (GI), termasuk kolitis ulserativa, penyakit Crohn dan
penyakit radang usus (IBD).