Anda di halaman 1dari 11

Formulasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Krim Ekstrak Etanol Daun Angsana

(Pterocarpus indicus Willd) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Formulation and Antibacterial Activity from Cream of Angsana Leaves (Pterocarpus


indicus Willd) Ethanolic Extract’s Against Growth of Staphylococcus aureus

Diterima: Direvisi: Disetujui:

Abstrak
Daun angsana (Pterocarpus indicus willd) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa kimia antara
lain alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan triterpenoid yang mempunyai aktivitas antibakteri. Penelitian ini
bertujuan untuk membuat formula sediaan krim ekstrak etanol daun angsana dengan basis vanishing cream, tween
80 dan span 80 sebagai emulgator dan menguji sifat fisik serta aktivtas antibakterinya terhadap Staphylococcus
aureus. Daun angsana diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Ekstrak etanol daun
angsana diuji kadar air, kadar abu, dan dilanjutkan dengan pengujian aktivitas daya hambat dengan metode difusi
cakram. Ekstrak etanol daun angsana dengan konsentrasi 5% dan 10% memiliki aktivitas daya hambat yang sedang,
dan konsentrasi ekstrak 20%, 30% dan 40% memiliki aktivitas daya hambat yang kuat terhadap S. aureus. Ekstrak
diformulasikan ke dalam sediaan krim dan dilakukan evaluasi krim dengan metode uji freeze-thaw cycling. Ketiga
formula sediaan krim ditempatkan pada suhu 4 ± 2°C selama 24 jam, dan kemudian dipindahkan pada suhu 40 ±
2°C selama 24 jam (satu siklus). Pengujian ini dilakukan sebanyak 6 siklus (12 hari). Sediaan krim yang dihasilkan
diuji sifat fisiknya meliputi organoleptis, homogenitas, nilai pH, daya sebar, viskositas dan uji sentrifugasi dilakukan
pada sediaan krim pada hari ke-0 dan setelah uji freeze-thaw cycling. Uji aktivitas antibakteri krim dilakukan dengan
metode difusi cakram dan menghasilkan aktivitas daya hambat ketiga sediaan formula 1, formula 2 dan formula 3
berturut-turut adalah 11,15±1,2 mm, 10,15±3 mm dan 9,8±0,7 mm. Keseluruhan formula mengalami penurunan
aktivitas daya hambat setelah uji freeze-thaw cycling.
Kata kunci: Ekstrak Etanol; Daun Angasana; vanishing krim; Staphylococcus aureus

Abstract
Angsana (Pterocarpus indicus Willd) is one of the plants that have antibacterial activity. Various antibacterial
preparations have been widely circulated, one of them is cream dosage form. This study aims to formulate an
ethanol extract of angsana leaves cream with vanishing cream base, as well as tween 80 and span 80 as emulsifier
and to determine the antibacterial activity of preparations ethanol extract of angsana leaves cream against
Staphylococcus aureus. Angsana leaves were extracted by maceration method using ethanol 70%. Inhibitory
activity test was performed using disc diffusion method. Angsana leaves extract with a concentration of 5% and
10% have moderate inhibitory activity, and concentrations of 20%, 30% and 40% have strong inhibitory activity
against Staphylococcus aureus. Cream was formulated within three formulas, formula 1 (tween span 80 3% and 80
7%), formula 2 (4% tween 80 and span 80 6%) andformula 3 (5% tween 80 and span 80 5%). The physical stability
of three formulas was tasted before and after freeze-thaw cycling test. The results showed that increas the
concentration of tween 80 increases the viscosity of the preparations. The results of the inhibitory activity of the
three preparations formula 1, formula 2 and formula 3 were 11.15±1,2 mm, 10.15±3 mm and 9.8±0,7 mm,
respectively.The inhibitory activity of three formulas decreased after freeze-thaw cycling test.
Keywords: Ethanol Extract of Angasana Leaves; Cream; Staphylococcus aureus
PENDAHULUAN yang terkandung dalam tanaman ini juga
telah banyak diteliti antara lain seperti
senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin
dan triterpenoid (Armedita, Asfrizal, &
Staphylococcus aureus merupakan Amir, 2018). Ekstrak etanol daun angsana
salah satu bakteri penyebab utama dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan
tertundanya penyembuhan dan infeksi, jika krim agar dapat diaplikasikan pada kulit
luka bakar tidak dirawat dengan benar, akan dengan mudah. Sediaan krim dipilih karena
rentan terhadap infeksi bakteri maupun mempunyai keuntungan diantaranya yaitu
jamur. Selain menyebabkan infeksi pada luka mempunyai bentuk menarik, sederhana
bakar, bakteri S. aureus juga merupakan dalam pembuatan, mudah dalam
salah satu bakteri penyebab jerawat. Meilina penggunaan, daya menyerap yang baik,
dan Hasanah (2018) menyatakan bahwa mudah menyebar rata dan mudah dibersihkan
bakteri penyebab jerawat terdiri dari untuk krim minyak dalam air (Ansel, 2008).
Propionibacterium acnes, S. aureus dan S. Dalam formulasi sediaan krim
epidermidis. Untuk mengatasi masalah dibutuhkan emulgator untuk menjaga
jerawat dan infeksi lainnya yang disebabkan kestabilan krim. Penggunaan Twen 80 dan
oleh S. aureus dibutuhkan antibakteri alami span 80 sering digunakan sebagai emulgator
dari tumbuhan yang ada di Indonesia. Salah secara bersamaan. Saat emulgator yang
satu tumbuhan yang diketahui memiliki bersifat larut air dicampurkan dengan
aktivitas antibakteri terhadap S. aureus emulgator yang bersifat larut lemak akan
adalah tumbuhan angsana (Pterocarpus terbentuk stable interfacial complex
indicus willd). condensed film yang mampu membentuk dan
Tanaman angsana memiliki banyak mempertahankan emulsi dengan lebih efektif
manfaat untuk kesehatan secara tradisional dibandingkan penggunaan emulgator tunggal
dalam kehidupan sehari-hari antara lain kulit (Kim, 2004). Berdasarkan uraian di atas,
kayunya digunakan sebagai obat sariawan, maka perlu dilakukan penelitian untuk
getah batangnya digunakan untuk memformulasikan ekstrak etanol daun
pengobatan kanker terutama kanker mulut, angsana dalam sediaan krim dengan basis
dan mengobati luka (Armedita, Asfrizal, & vanishimg cream, sehingga dapat diketahui
Amir, 2018). Berbagai penelitian ilmiah juga aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun
telah dilakukan untuk memastikan efek angsana terhadap S. aureus dalam sediaan
farmakologis dari tumbuhan angsana seperti krim.
efeknya sebagai antidiabetes. Pada penelitian
yang dilakukan oleh Hendriati et al., (2015)
menyatakan bahwa pemberian ekstrak daun
angsana dalam dosis 35,36 mg/cm2 dan
70,72 mg/cm2 secara transdermal dengan
enhancer asam oleat, dapat menurunkan METODE
kadar glukosa darah pada tikus yang dibuat
hiperglikemik. Tanaman angsana dapat
menghambat pertumbuhan bakteri yang baik
pada S. aureus sebagai gram positif dan
kurang baik pada pertumbuhan S. pyogenes
dan Esherichia coli, aktivitas antibakteri
ekstrak etanol daun angsana 500 mg/ml dan Alat dan bahan
600 mg/ml memiliki daya hambat sebesar 16
± 0,29 mm (Fatimah et al., 2006).
Beberapa senyawa kimia antibakteri
Daun Angsana, Staphylococcus aureus Skrining fitokimia meliputi identifikasi
ATCC-1, Mueller-Hinton Agar, Dimetil senyawa golongan alkaloid, saponin, tanin,
Sulfoksida (DMSO), dan Nutrient Agar fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid,
(NA), Tween 80, Span 80, Asam Stearat, glikosida, dan kuinon. Pengujian dilakukan di
Malam Putih, Vaselin Putih, Trietilnolamin, Laboratorium Uji Balai Penelitian Tanaman
Propilenglikol, Nipagin, dan Akuades. Rempah dan Obat (Balittro) Bogor.

Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun


Angsana
Media mueller-hinton dituangkan ke
Prosedur kerja
dalam 4 cawan petri steril dan biarkan hingga
memadat, setelah media memadat 2 cawan
petri yang berisi media MHA diisi dengan
suspensi bakteri di swab hingga merata di
Persiapan Sampel atas permukaan media agar lalu biarkan
Penyiapan simplisia daun angsana hingga kering (Aziz, 2010). Kemudian media
dilakukan dengan cara sortasi basah untuk yang telah bercampur suspensi bakteri uji
memisahkan kotoran atau bahan asing tersebut dibagi menjadi beberapa zona,
lainnya dari daun. Kemudian dilakukan masing-masing bagian diisi kertas cakram
pencucian untuk menghilangkan pengotor yang telah diaplikasikan ekstrak etanol daun
angsana secara merata yang sebelumnya
telah dilarutkan dalam DMSO dengan variasi
yang masih menempel pada bahan. Tahap konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm
selanjutnya adalah pengeringan, sampel dan 40 ppm. Kemudian 2 cawan petri MHA
dikering-anginkan sehingga diperoleh daun lainnya diisi dengan kontrol yaitu
angsana yang kering. Setelah itu, daun klindamisin (kontrol positif) dan DMSO
angsana yang kering dipotong kecil-kecil (kontrol negatif) (Fatimah et al., 2006).
untuk mempermudah proses penggilingan, Kemudian cawan petri diinkubasi dalam
alat yang digunakan untuk penggilingan keadaan posisi terbalik pada suhu 37°C
adalah blender untuk memperoleh serbuk selama 24 jam.
simplisia. Kemudian sampel diekstraksi
dengan metode maserasi dengan pelarut
etanol 70%. Filtrat hasil ekstraksi yang
diperoleh kemudian disatukan dan
dipekatkan menggunakan rotary evaporator
pada suhu 40°C sampai ekstrak kental. Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Krim
a. Pengamatan organoleptis
Pengamatan organoleptis dapat dinilai
dengan pengamatan dari segi tekstur, bau,
Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Daun
dan warna sediaan. Uji organoleptis
Angsana
bertujuan untuk melihat tampilan fisik
sediaan yang telah dibuat.
Tabel 1. Formula Krim Ekstrak Etanol Krim dimasukkan dalam tube
Daun Angsana sentrifugasi, kemudian disentrifugasi
Keterangan:*Parameter divariasikan (Savitri,2016) Komponen Formula(%)
b. Pengujian Homogenitas F1 F2 F3
Pengujian homogenitas dilakukan Asam stearat 15 15 15
dengan cara menimbang krim 0,1 gram Malam putih 2 2 2
lalu krim dioleskan pada kaca objek yang Vaselin putih 25 25 25
bersih. Kaca objek tersebut dikatupkan Ekstrak daun 20 20 20
angsana
dengan kaca objek lain, kemudian dilihat Trietanolamin 1,5 1,5 1,5
penyebaran partikel krim menunjukan Propilenglikol 8 8 8
struktur yang homogen. Sediaan harus Tween 80 3* 4* 5*
homogen dan tidak terdapat adanya Span 80 7* 6* 5*
butiran kasar (Rizikiyan, Sulastri, & Nipagin 0,05 0,05 0,05
Indriaty, 2018). Akuades add (ml) 50 50 50
selama30 menit dengan kecepatan 5000
c. Pengujian pH
rpm (Buang, Trisnawati, & Hartadi,
Pengukuran pH krim dilakukan
2014). Pengujian ini dilakukan untuk
menggunakan pH meter. Sebelum
mengetahui adanya pemisahan fase pada
digunakan pH meter dikalibrasi terlebih
sediaan krim (Rahmatika, 2017).
dahulu dengan larutan buffer standar (pH
4,5 dan pH 6,5). Sediaan krim ditempatkan
Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan
dalam wadah, kemudian diukur pH nya.
Uji aktivitas antibakteri sediaan
krim ekstrak etanol daun angsana terhadap
d. Uji daya sebar
bakteri S. aureus dilakukan dengan
Uji daya menyebar krim dilakukan
metode difusi menggunakan cakram disc.
dengan menimbang 0,5 gram dan
Konsentrasi ekstrak yang dipilih untuk
diletakan di tengah dua kaca akrilik. Kaca
diformulasikan ke dalam krim adalah
yang digunakan untuk menutup ditimbang
konsentrasi yang memiliki aktivitas
terlebih dahulu, dan diletakkan di atas
bakteri yang baik pada saat pengujian
krim selama 1 menit, (Swastika et al.,
aktivitas antibakteri ekstrak. Media MHA
2013). Setelah 1 menit diameter sampel
dituangkan dalam cawan petri steril dan
yang menyebar diukur pada berbagai sisi
biarkan hingga memadat, setelah itu
kemudian dirata-rata. Tambahkan beban
suspensi bakteri dioleskan diatas media
sebesar 150 gram diamkan 1 menit dan
agar secara merata hingga kering. Cakram
ukur diameter krim yang menyebar. Daya
disk steril kemudian dioleskan sediaan
sebar yang menunjukkan konsistensi
krim dan diratakan diatas permukaan agar.
semisolid yang sangat nyaman dalam
Cawan peteri kemudian diinkubasi dalam
penggunaannya adalah daya sebar yang
keadaan posisi terbalik pada suhu 37°C
berkisar antara 5-7 cm.
selama 1 x 24 jam, kemudian diukur daya
e. Pengukuran viskositas
hambatnya dengan mengukur daerah daya
Pengukuran viskositas krim dilakukan
hambat yaitu terbentuknya daerah bening
dengan menggunakan viscotester. Krim
disekeliling cakram disc (Thamrin, 2012).
dituang ke dalam gelas beker, spindel
dipasang pada alat, kemudian spindel
diturunkan hingga tanda batas spindel
tercelup ke dalam krim. Kecepatan alat
dipasang pada kecepatan 2 rpm dengan
spindel nomer 7 (Dewi et al., 2014).
f. Uji stabilitas mekanik dengan
metode Sentrifugasi
menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat.
Dipilihnya konsentrasi 20% dibandingkan
Konsentrasi Daya Hambat konsentrasi 30% dan 40% ditujukan untuk
Ekstrak (%) (mm) ± SD penggunaan ekstrak dalam jumlah seminimal
5 8,5±0,7
10 8,5±0,7
mungkin agar warna ekstrak tidak
20 14±1,4
mempengaruhi warna sediaan krim.
30 16±1,4
40 17±1,4 Tabel 3. Hasil Uji Daya Hambat
+ 40±1,4 Ekstrak Etanol 70% Daun Angsana
- 0
HASIL

Skrining Fitokimia Hasil

Alkaloid +
Karakteristik Ekstrak dan Hasil Skrining Saponin +
Fitokimia Tanin +
Fenolik +
Tabel 2. Kandungan senayawa kimia Flavonoid +
dalam Ekstrak Etanol 70% Daun angsana Triterpenoid +
Steroid +
Glikosida +
Keterangan: (+) Menunjukkan ReaksiPositif
Kuinon -
(-)Tidak dilakukan uji

Ekstrak etanol daun angsana memiliki


karakteristik berupa ekstrak kental, berwarna
hijau kecoklatan dan berbau khas angsana.
Hasil kadar air yang diperoleh adalah
14,581%. Kadar abu ekstrak etanol daun
angsana yang diperoleh adalah 12,3138%. Keterangan: (+)Kontrol positif yaitu klindamisin
Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa (-) Kontrol negatif yaitu DMSO
ekstrak etanol daun angsana positif
mengandung alkaloid, saponin, tanin, Hasil Evaluasi Fisik Sediaan
fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid dan Hasil pemeriksaan organoleptis pada
glikosida, hasil skrining fitokimia dapat hari ke-0 menunjukkan sediaan krim ekstrak
dilihat pada tabel 1. etanol daun angsana pada F1, F2 dan F3
berwarna hijau kecoklatan, berbau khas
Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun ekstrak angsana dengan bentuk sediaan
Angsana berupa semi solid, lembut dan mudah
Pengujian daya hambat ekstrak etanol diaplikasikan. Setelah uji freeze-thaw cycling
70% daun angsana terhadap S. aureus pada suhu 4°C selama 24 jam dan 40°C
ATCC-1 dibuat dalam 5 seri konsentrasi selama 24 jam (satu siklus), yang dilakukan
yaitu 5%, 10%, 20%, 30% dan 40%. Hasil uji selama 6 siklus menunjukkan terjadinya
daya hambat ekstrak etanol daun angsana perubahan warna pada sediaan F1, F2 dan F3
dapat dilihat pada Tabel 3. dari hijau kecoklatan menjadi hijau
Konsentrasi yang dipilih untuk kehitaman. Hasil uji homogenitas
dikembangkan ke dalam sediaan krim adalah menunjukkan bahwa sediaan F1, F2 dan F3
konsentrasi ekstrak 20% karena ekstrak homogen sebelum dan setelah uji freeze-
dengan konsentrasi tersebut sudah thaw cycling.
dapat dilihat pada Hasil viskositas dapat
Tabel 4. Karakteristik Fisik Sediaan Krim dilihat pada Tabel 5. Kontrol negatif yang
digunakan adalah basis sediaan untuk
Nilai pH dapat dilihat pada Tabel 4, nilai mengetahui pengaruh basis dalam pengujian
pH untuk masing-masing formula pada hari daya hambat sediaan krim. Berdasarkan hasil
ke-0 adalah F1 5,42, F2 5,20 dan F3 5,30 pengamatan uji daya hambat masing-masing
setelah uji freeze-thaw cycling masing- sediaan krim memiliki aktivitas daya hambat,
masing pH sediaan adalah 5,28, 5,14 dan rata-rata daya hambat F1 sebesar 11,15±1,2
5,14. mm, F2 10,15±3 mm dan F3 sebesar 9,8±0,7
Hasil daya sebar untuk masing-masing mm.
formula dapat dilihat pada Tabel 4, nilai daya
sebar untuk masing-masing formula pada
hari ke-0 adalah F1 2,7 cm, F2 2,6 cm dan F3
2,5 cm. Nilai tersebut belum memenuhi PEMBAHASAN
persyaratan daya sebar untuk sediaan krim,
daya sebar krim yang baik adalah 5-7 cm
(Garg et al.,2002).
Hasil viskositas pada masing-masing
formula adalah 119000 cP untuk formula 1, Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol
232500 cp untuk formula 2 dan 389000 cp daun angsana menggunakan klindamisin
untuk formula 3, standar viskositas krim sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai
yang ideal yaitu tidak kurang dari 50 dPa-s kontrol negatif. Pengujian dibuat dalam 5 seri
(500000 cP) (Gozali et al., 2009). Hasil konsentrasi yaitu 5%, 10%, 20%, 30% dan
viskositas dapat dilihat pada Tabel 4. 40%, hasil pengujian menunjukkan bahwa
Uji sentrifugasi keseluruhan formula ekstrak etanol daun angsana memiliki daya
krim menunjukkan hasil yang stabil dimana hambat terhadap pertumbuhan bakteri S.
tidak terjadi pemisahan fase sebelum dan aureus ATCC-1. Hasil uji daya hambat
setelah uji freeze-thaw cycling. ekstrak etanol daun angsana dapat dilihat
pada Hasil viskositas dapat dilihat pada
Hasil Uji Daya Hambat Sediaan Krim Tabel 3. Nilai rata-rata setiap konsentrasi
Ekstrak Etanol Daun Angsana ekstrak adalah 5% sebesar 8,5±0,7 mm, 10%
8,5±0,7 mm, 20% 14±1,4 mm, 30% 16±1,4
Tabel 5. Hasil Uji Daya Hambat mm dan 40% sebesar 17±1,4 mm, kontrol
Sediaan Krim positif 40±1,4 mm dan kontrol negatif tidak
Keterangan: F1 = Formula 1, F2= Formula 2, F3 =
Formula 3, K1= Kontrol 1,K2= Kontrol 2, K3= Formula Pada hari Setelah freeze-
Kontrol 3 ke-0 thaw cycling ±
SD
F1 11.15±1,2 9,3±0,4
Hasil uji daya hambat sediaan krim K1 0 0
Eval For pH pH setelah F2 10.15± 3 9,3±0,4
uasi mula pada uji freeze- K2 0 0
hari thaw F3 9,8±0,7 9,1±1,9
ke-0 cycling K3 0 0
F1 5,42 5,28
pH F2 5,20 5,14
menunjukkan aktivitas daya hambat.
F3 5,30 5,14 Jawetz, Melnick J dan Adelberg (2007)
F1 2,7 cm 3,1 cm menyatakan bahwa daerah bening di sekitar
Daya disc merupakan kekuatan daya hambat zat
F2 2,6 cm 3 cm
sebar
F3 2,5 cm 3 cm antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri.
F1 119000 cP 107850 cP Hasil dari kelima konsentrasi menunjukkan
Visk
F2 232500 cP 108400 cP aktivitas yang berbeda-beda, menurut Davis
ositas
F3 389000 cP 148060 cP
and Stout (1971) penentuan kategori (2011) menyatakan setiap kenaikan suhu
kekuatan aktivitas antibakteri oleh senyawa sebesar 10°C dapat meningkatkan laju reaksi
aktif dapat dikelompokkan menjadi empat kimia menjadi dua kali lipat. Selain itu,
kategori, yaitu aktivitas lemah (<5 mm), perubahan warna dari hijau kecoklatan
aktivitas sedang (5-10 mm), aktivitas kuat menjadi hijau kehitaman dapat disebabkan
(11-20 mm), dan aktivitas sangat kuat (>20- oleh penggunaan trietanolamin yang
30 mm). Berdasarkan kategori tersebut merupakan suatu amin yang bersifat basa
konsentrasi 5% dan 10% memiliki aktivitas kuat bereaksi dengan flavonoid yang
daya hambat yang sedang, dan konsentrasi merupakan senyawa fenol sehingga terjadi
ekstrak 20%, 30% dan 40% memiliki perubahan warna. Tidak terjadi peubahan bau
aktivitas daya hambat yang kuat. Hasil yang dan bentuk pada masing-masing sediaan
diperoleh sejalan dengan penelitian yang setelah uji freeze- thaw cycling.
dilakukan oleh fatimah (2004) yang Hasil uji homogenitas menunjukkan
menyatakan bahwa ekstrak etanol daun bahwa sediaan F1, F2 dan F3 homogen
angsana memiliki aktivitas daya hambat yang sebelum dan setelah uji freeze-thaw cycling.
baik terhadap pertumbuhan S. aureus. Homogenitas sistem emulsi dipengaruhi oleh
Diameter zona hambat ekstrak etanol daun teknik atau cara pencampuran serta alat yang
angsana mengalami peningkatan sesuai digunakan (Lachman et al., 1994). Sediaan
dengan ditingkatkannya konsentrasi ekstrak krim diharapkan mudah menyebar tanpa
yang diuji. Konsentrasi ekstrak 20% dipilih menggunakan penekanan yang berlebihan
untuk dikembangkan ke dalam sediaan krim (Inayah, Suwarmi dan Bagiana, 2013). Hasil
karena ekstrak dengan konsentrasi tersebut daya sebar untuk masing-masing formula
sudah menunjukkan aktivitas antibakteri pada hari ke-0 adalah F1 2,7 cm, F2 2,6 cm
yang kuat. Dipilihnya konsentrasi 20% dan F3 2,5 cm. Nilai tersebut belum
dibandingkan konsentrasi 30% dan 40% memenuhi persyaratan daya sebar untuk
ditujukan untuk penggunaan ekstrak dalam sediaan krim, daya sebar krim yang baik
jumlah seminimal mungkin agar warna adalah 5-7 cm (Garg et al., 2002).
ekstrak tidak mempengaruhi warna sediaan Nilai pH untuk masing-masing
krim formula pada hari ke-0 adalah F1 5,42, F2
5,20 dan F3 5,30 setelah uji freeze-thaw
Evaluasi Fisik Sediaan cycling masing- masing pH sediaan adalah
Pengujian organoleptis bertujuan 5,28, 5,14 dan 5,14. Berdasarkan Tranggono
untuk melihat sifat fisik sediaan krim dan Latifah (2007) menyatakan pH sediaan
meliputi pengujian bentuk sediaan, warna yang memenuhi pH kulit yaitu berada pada
dan bau selama masa penyimpanan tertentu. interval 4,5 - 6,5 sehingga pH sediaan masih
Hasil pemeriksaan organoleptis pada hari ke- berada pada rentang pH yang sesuai dengan
0 menunjukkan sediaan krim ekstrak etanol pH kulit. Setelah uji freeze-thaw cycling pH
daun angsana pada F1, F2 dan F3 berupa sediaan pada ketiga formula mengalami
sediaan semi solid, lembut dan mudah penurunan. Penurunan pH pada sediaan
diaplikasikan. Akan tetapi krim memiliki biasanya disebabkan oleh penguraian lemak
warna hijau kecoklatan dan berbau khas yang akibat hidrolisis, oksidasi karna adanya
disebabkan oleh ekstrak yang pekat. Setelah oksigen dari atmosfer dan cahaya (Martin et
uji freeze-thaw cycling pada suhu 4°C selama al., 1993).
24 jam dan 40°C selama 24 jam (satu siklus), Viskositas merupakan nilai yang
yang dilakukan selama 6 siklus menunjukkan menunjukkan suatu kekentalan medium
terjadinya perubahan warna pada sediaan F1, pendispersi dari sauatu emulsi. Hasil
F2 dan F3 dari hijau kecoklatan menjadi viskositas pada masing-masing formula
hijau kehitaman. Perubahan warna pada adalah 119000 cP untuk formula 1, 232500
sediaan disebabkan oleh faktor suhu tinggi cp untuk formula 2 dan 389000 cp untuk
yang mempengaruhi kestabilan krim, Rufiati formula 3, standar viskositas krim yang ideal
yaitu tidak kurang dari 50 dPa-s (500000 cP) menunjukkan bahwa bahan yang digunakan
(Gozali et al., 2009). Hasil pengukuran untuk membuat sediaan krim menurunkan
viskositas pada masing-masing sediaan krim kemampuan ekstrak etanol daun agsana
mengalami penurunan setelah uji freeze-thaw dalam menghambat pertumbuhan S. aureus.
cycling, hal ini disebabkan oleh perpindahan Formulasi sediaan krim menghambat
suhu yang cepat sehingga kestabilan krim pelepasan kandungan senyawa aktif dari
berkurang (Savitri, 2016). ekstrak untuk berdifusi ke dalam media,
Sampel krim disentrifugasi dengan sehingga ekstrak yang terkandung dalam
kecepatan 5000 rpm selama 30 menit sediaan tidak terlepas sempurna kedalam
hasilnya ekuivalen dengan efek gravitasi media (Nuralifah dkk, 2018). Pengamatan
selama satu tahun (Lachman et al., 1994). daya hambat sediaan untuk masing-masing
Keseluruhan formula krim menunjukkan formula mengalami perubahan aktivitas
hasil yang stabil dimana tidak terjadi sebelum dan setelah uji freeze-thaw cycling,
pemisahan fase sebelum dan setelah uji setelah pengujian freeze-thaw cycling
freeze-thaw cycling. masing-masing formula krim mengalami
penurunan aktivitas sediaan hal ini
disebabkan adanya pengaruh suhu ekstrim
pada uji freeze-thaw cycling yang
mengakibatkan penurunan kestabilan sediaan
Uji Daya Hambat Sediaan Krim Ekstrak sehingga menyebabkan menurunnya aktvitas
Etanol Daun Angsana daya hambat zat aktif dalam sediaan krim.

Kontrol negatif yang digunakan


adalah basis sediaan untuk mengetahui
pengaruh basis dalam pengujian daya hambat SIMPULAN
sediaan krim. Berdasarkan hasil pengamatan
uji daya hambat masing-masing sediaan krim
memiliki aktivitas daya hambat, rata-rata
daya hambat F1 sebesar 11,15±1,2 mm, F2
10,15±3 mm dan F3 sebesar 9,8±0,7 mm.
Sediaan krim pada masing-masing formula
menunjukkan hasil uji daya hambat yang Pada penelitian ini dihasilkan krim
berbeda-beda, formula 1 memiliki daya ekstrak etanol daun angsana dengan sifat
hambat yang paling tinggi, hal tersebut organoleptis yang kurang baik ditinjau dari
disebabkan oleh perbedaan konsentrasi segi warna dan bau. Hasil uji homogenitas,
emulgator pada masing-masing sediaan, pH, dan sentrifugasi krim memenuhi
formula 1 dengan konsentrasi tween 80 persyaratan, sedangkan daya sebar dan nilai
sebesar 3% dan span 80 sebesar 6%, formula viskositas krim tidak memenuhi persyaratan
2 konsentrasi tween 80 4% dan span 80 6% yang telah ditentukan. Setelah dilakukan uji
sedangkan formula 3 konsentrasi tween 80 freeze-thaw cycling, sifat fisik krim
5% dan span 80 5%. Hasil yang diperoleh mengalami penurunan nilai pH dan
menunjukkan bahwa semakin tinggi viskositas, akan tetapi mengalami
penggunaan konsentrasi tween 80 peningkatan daya sebar.
menurunkan aktivitas daya hambat sediaan. Aktivitas antibakteri krim ekstrak
Hasil pengujian daya hambat ekstrak etanol etanol daun angsana terhadap S. aureus pada
daun angsana yang diformulasikan dalam masing-masing sediaan adalah F1 memiliki
bentuk sediaan krim mengalami penurunan aktivitas daya hambat kuat sebesar 11,15
aktivitas daya hambat jika dibandingkan mm, F2 10,15 dan F3 sebesar 9,8 mm
dengan aktivitas daya hambat ekstrak etanol
daun angsana pada konsentrasi 20%, hal ini
memiliki daya hambat sedang. Aktivitas daya
hambat keseluruhan formula mengalami
penurunan aktivitas setelah uji freeze-thaw
cycling.

SARAN UCAPAN TERIMA KASIH


Indicus Willd.). J Pharm Sci Pharm Pract,
2(2):15-19.
10. Kim, C. (2004). Advanced Advanced :
Physicochemical Principles. New York:
CRC Press LLC.
11. Lachman, L. et al., (1994). Teori dan
Praktek Farmasi Industri. Jakarta: UI –
Press.
12. Martin, A. et al., (1993). Farmasi Fisik:
Dasar-dasar Kimia Fisik dalam Ilmu
DAFTAR RUJUKAN Farmasetik. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.
13. Meilina, N. E., Hasanah, A. N. (2018).
Review artikel: Aktivitas antibakteri ekstrak
kulit buah manggis (garnicia mangostana l.)
terhadap bakteri penyebab jerawat. Farmaka,
16(2), 322–328.
1. Ansel, H.C. (2008). Pengantar Bentuk 14. Nuralifah, D. et al., (2018). Uji aktivitas
Sediaan Farmasi. Jakarta: UI-Press. antibakteri sediaan krim anti jerawat ekstrak
2. Armedita, D., Asfrizal, V., & Amir, M. etanol terpurifikasi daun sirih ( Piper betle
(2018). Aktivitas antibakteri ekstrak etanol L .) dengan basis vanishing cream terhadap
daun, kulit batang, dan getah angsana. propionibacterium acne. Pharmauho, 4(9),
ODONTO Denta Journal, 5(1), 1–8. 30- 35.
3. Aziz, Syaikhul. (2010). Uji aktivitas 15. Rahmatika, A. (2017). Formulasi dan uji
antibakteri ekstrak etanol daun dan umbi aktivitas antioksidan sediaan krim ekstrak
bakung putih (crinum asiaticum) terhadap etanol 70% daun ashitaba (angelica keiskei
bakteri penyebab jerawat. Skripsi. Jakarta: koidz) dengan setil alkohol sebagai stiffening
UIN Syarif Hidayatullah. agent. Skripsi. Jakarta: UIN Syarif
4. Buang, A., Trisnawati, & Hartadi. (2014). Hidayatullah
Formulasi dan uji daya hambat krim ekstrak 16. Rizikiyan, Y., Sulastri, L., & Indriaty, S.
etanol teh hijau terhadap propionibacterium (2018). Formulasi dan uji daya hambat krim
acnes. Media Farmasi, XII(20), 21–28. ekstrak etanol teh hijau terhadap
5. Dewi, R. et al., (2017). Uji stabilitas fisik propionibacterium acnes formulation and
formula krim yang mengandung ekstrak inhibition test of ethanol ekstract green tea
kacang kedelai (Glycine max). cream on propionibacterium acnes. Jurnal
Pharmaceutical Sciences and Research, 1(3), Medical Sains, 2(2), 65–74.
194–208. 17. Rufiati, E. (2011). Penalaran sifat koligatif
https://doi.org/10.7454/psr.v1i3.3484 laruta kenaikan titik didih dan penurunan titik
6. Fatimah, Cut. et al., (2006). Uji aktivitas beku (2011, Juli 18). Retrieved from
antibakteri estrak daun angsana (Pterocarpus http://etnarufiati.guruindonesia.net/artikel_de
Indicus Willd.) secara in vitro. Jurnal Ilmiah tail- 11169.html
Panmed, 1(1), 1- 8. 18. Savitri, A. A., (2016). Formulasi sediaan
7. Garg, A., et al., (2002). Spreading of krim ekstrak etanol buah mahkota dewa
Semisolid Formulation An Update. (phaleria macrocarpa (scheff) boerl) dengan
Pharmaceutical Technology.26:84-105 basis vanishing cream dan uji aktivitas
8. Gozali, D. et al., (2009). Formulasi krim antibakteri terhadap staphylococcus
pelembab wajah yang mengandung tabir epidermidis. Skripsi. Surakarta: Universitas
surya nanopartikel zink oksida salut silikon. Muhammadiyah.
Jurnal Farmaka, 7 (1), 42. 19. Swastika, A., Mufrod, & Purwanto. (2013).
9. Hendriati, L. et al., (2015). Efek Aktivitas antioksidan krim ekstrak sari tomat
hipoglikemik dan uji hipersensitivitas sediaan (Solanum lycopersicum L.). Traditional
transdermal ekstrak angsana (Pterocarpus Medicine Journal, 18(3), 132–140.
20. Thamrin, N. F., (2012). Formulasi efektivitas terhadap bakteri
sediaan krim dari ekstrak etanol kunyit staphylococcus aureus. Skripsi.
(curcuma domesticae. val) dan uji Makassar: UIN Alauiddin