Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN HERBAL

“EKSTRAKSI”

Dosen Pengampu : Weka Sidha Bhagawan, S. Farm., M. Farm., Apt.

Disusun Oleh:

Shella Anisa Dwi K 17041010012

FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN SAINS

UNIVERSITAS PGRI MADIUN

2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang memiliki sumber daya alam berupa
tumbuhan, hewan dan hasil bumi lainnya yang beranekaragam. Dimana, sumber daya
alam ini diketahui memiliki potensi sebagai bahan baku obat utamanya obat-obatan
tradisional yang sebagian besar berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Dalam banyak hal zat aktif dari tanaman obat yang secara umum sama tipe
sifat kimianya, mempunyai sifat kelarutan yang sama pula dapat diekstraksi secara
stimultan dengan pelarut tunggal atau campuran.
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari
simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, diluar pengaruh cahaya
matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. Cahaya
langsung Preparat farmasi tertentu yang dibuat dengan proses ekstraksi yakni dengan
penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan
pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan larut. Bahan mentah obat berasal dari
tumbuh-tumbuhan atau hewan tidak perlu diproses lebih lanjut kecuali dikumpulkan
dan dikeringkan.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui konsep dasar dari
metode ekstraksi bahan alam.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Metode Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dan
bagian tumbuhan obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat-zat
aktif tersebut terdapat di dalam sel, namun sel tumbuhan dan hewan memiliki
perbedaan begitu pula ketebalannya sehingga diperlukan metode ekstraksi dan pelarut
tertentu untuk mengekstraksinya ( Tobo F, 2001).
Ekstraksi adalah pemurnian suatu senyawa. Ekstraksi cairan-cairan merupakan
suatu teknik dalam suatu larutan (biasanya dalam air) dibuat bersentuhan dengan
suatu pelarut kedua (biasanya organik), yang pada dasarnya tidak saling bercampur
dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solut) ke dalam pelarut
kedua itu. Pemisahan itu dapat dilakukan dengan mengocok-ngocok larutan dalam
sebuah corong pemisah selama beberapa menit (Shevla, 1985).
Ada beberapa metode sederhana yang dapat dilakukan untuk mengambil
komponen berkhasiat ini; diantaranya dengan melakukan perendaman, mengaliri
simplisia dengan pelarut tertentu ataupun yang lebih umum dengan melakukan
perebusan dengan tidak melakukan proses pendidihan (Makhmud, 2001).
Umumnya zat aktif yang terkandung dalam tumbuhan maupun hewan lebih
mudah tarut dalam petarut organik. Proses terekstraksinya zat aktif dimulai ketika
pelarut organik menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga set yang
mengandung zat aktif, zat aktif akan terlarut sehingga terjadi perbedaan konsentrasi
antara larutan zat aktif di dalam sel dan pelarut organik di luar sel, maka larutan
terpekat akan berdifusi ke luar sel, dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi
keseimbangan antara konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel (Tobo F, 2001).

B. Proses Ekstrak bahan alam


1. Pengeringan dan perajangan
Pengeringan merupakan proses pengawetan simplisia sehingga simplisia tahan
lama dalam penyimpanan. Selain itu pengeringan akan menghindari teruainya
kandungan kimia karena pengaruh enzim. Pengeringan yang cukup akan
mencegah pertumbuhan mikroorganisme dan kapang (jamur). Jamur Aspergilus
flavus akan menghasilkan aflatoksin yang sangat beracun dan dapat menyebabkan
kanker hati, senyawa ini sangat ditakuti oleh konsumen dari Barat. Menurut
persyaratan obat tradisional tertera bahwa Angka khamir atau kapang tidak Iebih
dari 104. Mikroba patogen harus negatif dan kandungan aflatoksin tidak lebih dari
30 bagian per juta (bpj). Tandanya simplisia sudah kering adalah mudah meremah
bila diremas atau mudah patah. Menurut persyaratan obat tradisional pengeringan
dilakukan sampai kadar air tidak lebih dari 10%. Cara penetapan kadar air
dilakukan menurut yang tertera dalam Materia Medika Indonesia atau Farmakope
Indonesia. Pengeringan sebaiknya jangan di bawah sinar matahari langsung,
melainkan dengan almari pengering yang dilengkapi dengan kipas penyedot udara
sehingga terjadi sirkulasi yang baik. Bila terpaksa dilakukan pengeringan di
bawah sinar matahari maka perlu ditutup dengan kain hitam untuk menghindari
terurainya kandungan kimia dan debu. Agar proses pengeringan berlangsung lebih
singkat bahan harus dibuat rata dan tidak bertumpuk. Ditekankan di sini bahwa
cara pengeringan diupayakan sedemikian rupa sehingga tidak merusak kandungan
aktifnya (Dijten POM, 1990).
Banyak simplisia yang memerlukan perajangan agar proses pengeringan
berlangsung lebih cepat. Perajangan dapat dilakukan “manual” atau dengan mesin
perajang singkong dengan ketebalan yang sesuai. Apabila terlalu tebal maka
proses pengeringan akan terlalu lama dan kemungkinan dapat membusuk atau
berjamur. Perajangan yang terlalu tipis akan berakibat rusaknya kandungan kimia
karena oksidasi atau reduksi. Alat perajang atau pisau yang digunakan sebaiknya
bukan dan besi (misalnya “stainless steel” eteu baja nirkarat) (Ditjen POM, 1990).

2. Pemilihan pelarut
Dalam memilih pelarut yang akan dipakai harus diperhatikan sifat kandungan
kimia (metabolit sekunder) yang akan diekstraksi. Sifat yang penting adalah sifat
kepolaran, dapat dilihat dari gugus polar senyawa tersebut yaitu gugus OH,
COOH. Senyawa polar lebih mudah larut dalam pelarut polar, dan senyawa non
polar akan lebih mudah larut dalam pelarut non polar. Derajat kepolaran
tergantung kepada ketetapan dielektrik, makin besar tetapan dielektrik makin
polar pelarut tersebut (Ditjen POM, 1992).
Syarat-syarat pelarut adalah sebagai berikut (Ditjen POM, 1992):
 Kapasitas besar
 Selektif
Volabilitas cukup rendah (kemudahan menguap/titik didihnya cukup
rendah) Cara memperoleh penguapannya adalah dengan cara penguapan
diatas penangas air dengan wadah lebar pada temperature 60oC, destilasi,
dan penyulingan vakum.
 Harus dapat diregenerasi
 Relative tidak mahal
 Non toksik, non korosif, tidak memberikan kontaminasi serius dalam
keadaan uap
 Viskositas cukup rendah

3. Pemilihan metode ekstraksi


Pemilihan metode ekstraksi tergantung bahan yang digunakan, bahan yang
mengandung mucilago dan bersifat mengembang kuat hanya boleh dengancara
maserasi. sedangkan kulit dan akar sebaiknya di perkolasi. untuk bahan yang
tahan panas sebaiknya diekstrasi dengan cara refluks sedangkan simplisia yang
mudah rusak karna pemanasan dapat diekstrasi dengan metode soxhlet (Agoes,
2007).
Hal-hal yang dipertimbangkan dalam pemilihan metode ekstraksi (Agoes,
2007):
a. Bentuk/tekstur bahan yang digunakan
b. Kandungan air dari bahan yang diekstrasi
c. Jenis senyawa yang akan diekstraksi
d. Sifat senyawa yang akan diekstraksi
e. Pembagian Jenis Ekstraksi

4. Ekstraksi Secara Dingin


Proses ektraksi secara dingin pada prinsipnya tidak memerlukan pemanasan.
Hal ini diperuntukkan untuk bahan alam yang mengandung komponen kimia yang
tidak tahan pemanasan dan bahan alam yang mempunyai tekstur yang lunak. Yang
termasuk dalam ekstraksi dingin antara lain : (Ditjen POM, 1986)
a. Metode Maserasi
Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari
selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya
(Ditjen POM, 1986).
Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung
komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung
zat yang mudah mengembang seperti benzoin, stiraks dan lilin. Penggunaan
metode ini misalnya pada sampel yang berupa daun, contohnya pada
penggunaan pelarut eter atau aseton untuk melarutkan lemak/lipid (Ditjen
POM, 1986).
Maserasi umumnya dilakukan dengan cara: memasukkan simplisia
yang sudah diserbukkan dengan derajat halus tertentu sebanyak 10 bagian
dalam bejana maserasi yang dilengkapi pengaduk mekanik, kemudian
ditambahkan 75 bagian cairan penyari ditutup dan dibiarkan selama 5 hari
pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya sambil berulang-ulang
diaduk. Setelah 5 hari, cairan penyari disaring ke dalam wadah penampung,
kemudian ampasnya diperas dan ditambah cairan penyari lagi secukupnya dan
diaduk kemudian disaring lagi sehingga diperoleh sari 100 bagian. Sari yang
diperoleh ditutup dan disimpan pada tempat yang terlindung dari cahaya
selama 2 hari, endapan yang terbentuk dipisahkan dan filtratnya dipekatkan
(Ditjen POM, 1986).
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan
dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Selain itu,
kerusakan pada komponen kimia sangat minimal. Adapun kerugian cara
maserasi ini adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna
(Ditjen POM, 1986).
b. Metode Soxhletasi
Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan,
cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari
terkondensasi menjadi molekul-molekul air oleh pendingin balik dan turun
menyari simplisia dalam klongsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam
labu alas bulat setelah melewati pipa sifon. Proses ini berlangsung hingga
penyarian zat aktif sempurna yang ditandai dengan beningnya cairan penyari
yang melalui pipa sifon atau jika diidentifikasi dengan kromatografi lapis tipis
tidak memberikan noda lagi. (Ditjen POM, 1986).
Metode soxhletasi bila dilihat secara keseluruhan termasuk cara panas,
karena pelarut atau cairan penyarinya dipanaskan agar dapat menguap melalui
pipa samping dan masuk ke dalam kondensor, walaupun pemanasan yang
dilakukan tidak langsung tapi hanya menggunakan suatu alat yang bersifat
konduktor sebagai penghantar panas. Namun, proses ekstraksinya secara
dingin karena pelarut yang masuk ke dalam kondensor didinginkan terlebih
dahulu sebelum turun ke dalam tabung yang berisi simplisia yang akan
dibasahi atau di sari. Hal tersebutlah yang mendasari sehingga metode soxhlet
digolongkan dalam cara dingin. Pendinginan pelarut atau cairan penyari
sebelum turun ke dalam tabung yang berisi simplisia dilakukan karena
simplisia yang disari tidak tahan terhadap pemanasan. (Ditjen POM, 1986).
Sampel atau bahan yang akan diekstraksi terlebih dahulu diserbukkan
dan ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam klongsong yang telah dilapisi
dengan kertas saring sedemikian rupa (tinggi sampel dalam klongsong tidak
boleh melebihi pipa sifon), karena dapat mempengaruhi kesetimbangan
pergerakan eluen yang telah terelusi keluar dari pipa sifon, dimana jika tinggi
sampel melebihi kertas saring (pipa sifon), maka eluen hasil elusi akan keluar
melalui pipa aliran uap yang berada diatas sampel, bukan keluar melalui pipa
sifon . Selanjutnya labu alas bulat diisi dengan cairan penyari yang sesuai
kemudian ditempatkan di atas waterbath atau heating mantel dan diklem
dengan kuat kemudian klongsong yang telah diisi sampel dipasang pada labu
alas bulat yang dikuatkan dengan klem dan cairan penyari ditambahkan untuk
membasahkan sampel yang ada dalam klongsong. Setelah itu kondensor
dipasang tegak lurus dan diklem pada statif dengan kuat. Aliran air dan
pemanas dijalankan hingga terjadi proses ekstraksi dimana pada saat pelarut
telah mendidih, maka uapnya akan melalui pipa samping lalu naik ke
kondensor. Di sini uap akan didinginkan sehingga uap mengembun dan
menjadi tetesan- tetesan cairan yang akan menetes turun ke klongsong dan
membasahi simplisia. Tetesan – tetesan uap air cairan penyari ini akan
ditampung di dalam klongsong hingga suatu ketika ekstrak mencapai
ketinggian ujung sifon sehingga pelarut ini akan turun kembali ke dalam
wadah pelarut secara cepat. Proses ini berulang hingga penyarian yang
dilakukan sempurna dalam hal ini, cairan penyari yang pada awalnya
berwarna, di dalam pipa sifon sudah tidak berwarna lagi atau jika cairan
penyari pada awalnya memang tidak berwarna maka biasanya dilakukan 20-25
kali sirkulasi. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan dengan
rotavapor (Ditjen POM, 1986).
Adapun keuntungan dari proses soxhletasi ini adalah cara ini lebih
menguntungkan karena uap panas tidak melalui serbuk simplisia, tetapi
melalui pipa samping. Kerugiannya adalah jumlah ekstrak yang diperoleh
lebih sedikit dibandingkan dengan metode maserasi (Ditjen POM, 1986).
c. Metode Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkanpenyari melalui
serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip ekstraksi dengan perkolasi adalah
serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian
bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah
melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel
simplisia yang dilalui sampel dalam keadaan jenuh. Gerakan ke bawah
disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan tekanan penyari dari
cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk
menahan gerakan ke bawah (Ditjen POM, 1986).
Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena
(Ditjen POM, 1986) :
 Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi
dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah sehingga meningkatkan
derajat perbedaan konsentrasi.
 Ruangan diantara butir – butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat
mengalir cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka
kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas, sehingga dapat
meningkatkan perbedaan konsentrasi.

 Adapun kerugian dari cara perkolasi ini adalah serbuk kina yang
mengadung sejumlah besar zat aktif yang larut, tidak baik bila diperkolasi
dengan alat perkolasi yang sempit, sebab perkolat akan segera menjadi
pekat dan berhenti mengalir (Ditjen POM, 1986).
 Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain: gaya berat, kekentalan,
daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya kapiler dan
daya geseran (friksi) (Ditjen POM, 1986).
 Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator, cairan yang
digunakan untuk menyari disebut cairan penyari atau menstrum, larutan
zat aktif yang keluar dari perkolator disebut sari atau perkolat, sedangkan
sisa setelah dilakukannya penyarian disebut ampas atau sisa perkolasi
(Ditjen POM, 1986).

5. Ekstraksi Secara Panas


Ekstraksi secara panas dilakukan untuk mengekstraksi komponen kimia yang
tahan terhadap pemanasan seperti glikosida, saponin dan minyak-minyak
menguap yang mempunyai titik didih yang tinggi, selain itu pemanasan juga
diperuntukkan untuk membuka pori-pori sel simplisia sehingga pelarut organik
mudah masuk ke dalam sel untuk melarutkan komponen kimia. Metode ekstraksi
yang termasuk cara panas yaitu (Tobo, 2001).
a. Metode Refluks
Metode refluks adalah termasuk metode berkesinambungan dimana
cairan penyari secara kontinyu menyari komponen kimia dalam simplisia
cairan penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut
dikondensasikan oleh pendingin balik, sehingga mengalami kondensasi
menjadi molekul-molekul cairan dan jatuh kembali ke labu alas bulat sambil
menyari simplisia. Proses ini berlangsung secara berkesinambungan dan
biasanya dilakukan 3 kali dalam waktu 4 jam (Ditjen POM, 1986).
Simplisia yang biasa diekstraksi adalah simplisia yang mempunyai
komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan dan mempunyai tekstur yang
keras seperti akar, batang, buah, biji dan herba (Ditjen POM, 1986).
Serbuk simplisia atau bahan yang akan diekstraksi secara refluks
ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan ditambahkan
pelarut organik misalnya methanol sampai serbuk simplisia terendam kurang
lebih 2 cm di atas permukaaan simplisia atau 2/3 dari volume labu, kemudian
labu alas bulat dipasang kuat pada statif pada waterbath atau heating mantel,
lalu kondendor dipasang pada labu alas bulat yang dikuatkan dengan klem dan
statif. Aliran air dan pemanas (water bath) dijalankan sesuai dengan suhu
pelarut yang digunakan. Setelah 4 jam dilakukan penyarian. Filtratnya
ditampung pada wadah penampung dan ampasnya ditambah lagi pelarut dan
dikerjakan seperti semula, ekstraksi dilakukan selama 3-4 jam. Filtrat yang
diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan dengan rotavapor, kemudian dilakukan
pengujian selanjutnya (Ditjen POM, 1986).
Keuntungan dari metode ini adalah (Ditjen POM, 1986):
 Dapat mencegah kehilangan pelarut oleh penguapan selama proses
pemanasan jika digunakan pelarut yang mudah menguap atau dilakukan
ekstraksi jangka panjang.
 Dapat digunakan untuk ekstraksi sampel yang tidak mudah rusak dengan
adanya pemanasan.
 Adapun kerugian dari metode ini adalah prosesnya sangat lama dan
diperlukan alat – alat yang tahan terhadap pemanasan (Ditjen POM, 1986).
b. Metode Destilasi Uap Air
Metode destilasi uap air diperuntukkan untuk menyari simplisia yang
mengandung minyak menguap atau mengandung komponen kimia yang
mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal, misalnya pada
penyarian minyak atsiri yang terkandung dalam tanaman Sereh (Cymbopogon
nardus). Pada metode ini uap air digunakan untuk menyari simplisia dengan
adanya pemanasan kecil uap air tersebut menguap kembali bersama minyak
menguap dan dikondensasikan oleh kondensor sehingga terbentuk molekul-
molekul air yang menetes ke dalam corong pisah penampung yang telah diisi
air. Penyulingan dilakukan hingga sempurna (Ditjen POM, 1986).
Sampel yang akan diekstraksi direndam dalam gelas kimia selama 2
jam setelah itu dimasukkan ke dalam bejana B, bejana A diisi air dan pipa-
pipa penyambung serta kondensor dan penampung corong pisah dipasang
dengan kuat. Api Bunsen bejana A dinyalakan sehingga airnya mendidih dan
diperoleh uap air yang selanjutnya masuk ke dalam bejana B melalui pipa
penghubung untuk menyari sampel dengan adanya bantuan api kecil pada
bejana B, minyak menguap yang telah tersari selanjutnya menguap menuju
kondensor, karena adanya pendinginan balik uap dari minyak menguap ini,
maka uap air yang terbentuk menetes ke dalam corong pisah penampung yang
telah berisi air (Ditjen POM, 1986).
Prinsip fisik destilasi uap yaitu jika dua cairan tidak bercampur
digabungkan, tiap cairan bertindak seolah – olah pelarut itu hanya sendiri, dan
menggunakan tekanan uap. Tekanan uap total dari campuran yang mendidih
sama dengan jumlah tekanan uap parsial, yaitu tekanan yang digunakan oleh
komponen tunggal, karena pendidihan yang dimaksud yaitu tekanan uap total
sama dengan tekanan atmosfer, titik didih dicapai pada temperatur yang lebih
rendah daripada jika tiap – tiap cairan berada dalam keadaan murni (Ditjen
POM, 1986).
Keuntungan dari destilasi uap ini adalah titik didih dicapai pada
temperatur yang lebih rendah daripada jika tiap– tiap cairan berada dalam
keadaan murni. Selain itu, kerusakan zat aktif pada destilasi langsung dapat
diatasi pada destilasi uap ini. Kerugiannya adalah diperlukannya alat yang
lebih kompleks dan pengetahuan yang lebih banyak sebelum melakukan
destilasi uap ini (Ditjen POM : 1986).

6. Proses ekstraksi berdasarkan proses penyarian


a. Berkesinambungan (Ditjen POM, 1986)
1) Ekstraksi secara soxhletasi
Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya ekstraksi secara
berkesinambungan. Cairan penyari dipanaskan sampai mendidih. Uap
penyari akan naik melalui pipa samping, kemudian diembunkan lagi oleh
pendingin tegak. Cairan penyari turun untuk menyari zat aktif dalam
simplisia. Selanjutnya bila cairan penyari mencapai sifon, maka seluruh
cairan akan turun ke labu alas bulat dan terjadi proses sirkulasi. Demikian
seterusnya sampai zat aktif yang terdapat dalam simplisia tersari
seluruhnya yang ditandai jernihnya cairan yang lewat pada tabung sifon.
2) Ekstraksi secara refluks
Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi
berkesinambungan. Bahan yang akan diekstraksi direndam dengan cairan
penyari dalam labu alas bulat yang dilengkapi dengan alat pendingin
tegak, lalu dipanaskan sampai mendidih. Cairan penyari akan menguap,
uap tersebut akan diembunkan dengan pendingin tegak dan akan kembali
menyari zat aktif dalam simplisia tersebut, demikian seterusnya. Ekstraksi
ini biasanya dilakukan 3 kali dan setiap kali diekstraksi selama 4 jam.
b. Tidak berkesinambungan (Ditjen POM, 1986)
1) Maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian yang tidak berkesinambungan
karena dilakukan dengan cara sederhana yaitu merendam serbuk simplisia
dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan
terlindung dari cahaya. Kemudian disaring dan diambil ekstrak cairnya.
2) Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang tidak berkesinambungan karena
dilakukan dengan cara dibasahkan 10 bagian simplisia dengan derajat
halus yang cocok, menggunakan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan
penyari dimasukkan dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam.
Massa dipindahkan sedikit demi sedikit ke dalam perkolator, ditambahkan
cairan penyari. Perkolator ditutup dibiarkan selama 24 jam, kemudian kran
dibuka dengan kecepatan 1 ml permenit, sehingga simplisia tetap
terendam. Filtrat dipindahkan ke dalam bejana, ditutup dan dibiarkan
selama 2 hari pada tempat terlindung dari cahaya.
3) Destilasi uap air
Destilasi uap air adalah metode yang tidak berkesinambungan karena
metode ini yang popular untuk ekstraksi minyak-minyak menguap
(esensial) dari sampel tanaman. Metode destilasi uap air diperuntukkan
untuk menyari simplisia yang mengandung minyak menguap atau
mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi pada
tekanan udara normal.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari
simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, diluar pengaruh cahaya
matahari langsung. Ekstraksi adalah proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat
aktif dan bagian tumbuhan obat, hewan dan mineral. Ekstraksi dibagi menjadi dua
bagian yaitu ekstraksi panas dan dingin.

B. Saran
Dengan adanya laporan ini pembaca dan praktikan dapat memahami mengenai
ekstraksi sehingga dapat menambah wawasan mengenai materi tersebut. Laporan ini
jauh dari kata sempurna kami sangat menerima kritik yang sifatnya membangun.
DAFTAR PUSTAKA

Agoes. Goeswin, 2007, Teknologi Bahan Alam. Penerbit ITB: Bandung.

Anonim. 2014. Penuntun dan Buku Kerja Praktikum Fitokimia I. Universitas Muslim
Indonesia :
Makassar

Ditjen POM, 1986. Sediaan Galenik. Departemen Kesehatan RI : Jakarta.

Ditjen POM, 1990, Cara Pembuatan Simplisia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia:
Jakarta.

Ditjen POM, 1992, Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia: Jakarta.

Gembong T., 1998, Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta, UGM UI Press :Yogyakarta.

Harborne. J.B. 1987. Metode Fitokimia. ITB Press. Bandung

Makhmud, AI. 2001. Metode Pemisahan. Departemen Farmasi Fakultas Sains Dan
tekhnologi,
Universitas Hasanuddin : Makassar.PT Kalman Media Pustaka : Jakarta

Tobo, F. 2001. Buku Pengangan Laboratorium Fitokimia I. Universitas Hasanuddin :


Makassar.