Anda di halaman 1dari 16

WOMEN CENTER CARE PADA IBU BERSALIN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Asuhan Kebidanan Terkini

Disusun Oleh Kelompok II :


Lastria Manurung (195401426539)
Lilis Suryani ( 195401426540)
Nunung Maryamah (195401426522)
Priyatin ( 195401426542 )
Yuyun Ulva Dwi H (195401426541)

UNIVERSITAS NASIONAL
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
PROGRAM SARJANA TERAPAN
JAKARTA
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
karunia dan berkat-Nya buat kita semua sehingga kelompok II dapat
menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Asuhan Kebidanan Terkini makalah
dengan judul “Women Center Care Pada Ibu Bersalin”.
Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari berbagai kendala namun berkat
dan dorongan dari berbagai pihak, baik moral maupun material sehingga sedikit
demi sedikit kendala tersebut dapat diatasi dengan baik. Oleh karena itu, kami
menghanturkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada dosen pengampu Jenny
Anna Siauta, SST., M.Keb dan Dr. Rukmaini, SST., M.Keb yang telah
meluangkan waktunya untuk membimbing guna penyempurnakan dalam
menyelesaikan makalah penelitian ini.
Akhir kata kami memohon maaf apabila ada kesalahan baik secara teknik,
formal maupun isi makalah kami. Harapan kami semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi masyarakat.

Jakarta, Oktober 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN TEORI......................................................................... 3
2.1. Pengertian Women Center Care................................................ 3
2.2. Program Women Center Care Di Indonesia.............................. 5
2.3. Gerakan Sayang Ibu.................................................................. 6
2.4. Asuhan Persalinan Normal........................................................ 6
BAB III TINJAUAN KASUS........................................................................ 10
BAB IV ANALISA KASUS.......................................................................... 11
BAB V PENUTUP........................................................................................ 12
5.1. Kesimpulan............................................................................... 12
5.2. Saran.......................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan wanita adalah masalah kesehatan reproduksi, fisik dan psikis
secara keseluruhan. Kesehatan wanita dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu
status wanita di masyarakat, resiko reproduksi, pendidikan yang rendah,
kurang modal, dan faktor sosial, budaya dan ekonomi.
Wanita adalah manusia yang mempunyai hak asasi terutama hak dalam
bidang kesehatannya yaitu hak untuk memelihara kesehatan reproduksinya.
Dapat diakui bahwa wanita, anak dan keluarga sebagai kelompok penduduk 
yang punya peran besar bagi kelangsungan kehidupan kesejahteraan
masyarakat bangsa. Namun dalam hal ini, wanita mempunyai peran yang
sangat mendasar, sebagaimana pendapat Abudarne dan Naisbill cit Sri
Suhartati 1997 :” When the subject is women, what is happening awesome,
women are transforming the world we live in” pendapat tersebut
menggambarkan betapa besarnya peran wanita yang dapat merubah profil
dunia. Dengan dasar itulah maka dewasa ini terutama dinegara-negara
berkembang, banyak progam-progam yang dipusatkan pada wanita.   
Bidan diakui sebagai tenaga professional yang bertanggung-jawab, yang
bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan
nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin
persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi
baru lahir, dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi
persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan
medis , serta melaksanakan tindakan kegawat-daruratan. Bidan mempunyai
tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, kepada masyarakat
khususnya perempuan. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal,
persiapan menjadi orang tua, kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau
kesehatan reproduksi dan asuhan anak. Oleh karena itu bidan sebagai mitra

1
perempuan, dituntut lebih terampil, dapat mengidentifikasi dan mengambil
tindakan tepat waktu dan tepat bila terjadi masalah pada wanita.
Bidan berperan dalam memberikan dukungan pada wanita untuk
memperoleh status yang sama dimasyarakat untuk memilih dan memutuskan
perawatan kesehatan dirinya. Dalam memberikan asuhan hendaknya ‘women
center care’ / asuhan yang berorientasi pada wanita, dimana fokusnya
mencakup seluruh aspek kehidupan yang memandang wanita sebagai manusia
yang utuh, membutuhkan pemenuhan kebutuhan bio, psiko, sosio, spiritual,
dan kultural selama hidupnya.
Model asuhannya adalah wanita harus menjadi figure sentral pada proses
asuhan karena wanita yang mengerti kebutuhannya sendiri sedangkan bidan
adalah pemberi asuhan professional yang membantu ibu untuk pengambilan
keputusan dan menanggapi pilihan ibu. Salah satu faktor yang mencerminkan
wanita tetap sebagai pusat asuhan diasumsikan dengan kepuasan terhadap
asuhan kebidanan yaitu faktor ‘continuity of care’ / asuhan yang
berkelanjutan. Bentuk-bentuk ‘women center care’ di Indonesia merupakan
program untuk menurunkan angka kematian ibu diantaranya yaitu program
Gerakan sayang ibu,  ‘Making Pregnancies Safer‘(MPS) dan Asuhan
Persalinan Normal.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, terdapat rumusan masalah yaitu
‘Bagaimana women center care pada Ibu Bersalin?”.

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui asuhan kebidanan women center care pada ibu bersalin.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Women Center Care


Women Center Care adalah asuhan kesehatan yang berpusat pada wanita.
Dalam kebidanan terpusat pada ibu (wanita) adalah suatu konsep yang
mencakup hal-hal yang lebih memfokuskan pada kebutuhan, harapan dan
aspirasi masing-masing wanita dengan memperhatikan lingkungan sosialnya
dari ada kebutuhan institusi atau profesi terkait. (Hidayat Asri,Dkk,2009).
Women Center Care adalah asuhan yang berpusat pada wanita, maksudnya
bahwa asuhan yang diberikan oleh bidan harus berorientasi pada wanita
sehingga wanita tidak dipandang sebagai obyek melainkan dipandang sebagai
manusia secara utuh / holistic yang mempunyai hak pilih untuk memelihara
kesehatan reproduksinya. (Enggar, 2011)
Asuhan yang berorintasi pada wanita atau Women Centre Care amat
penting untuk kemajuan Praktik kebidanan. Women Center Care ini sangat
sesuai dengan keinginan ICM (International Confederation Of Midwifery)
yang tertuang dalam VISI nya, yaitu :
a) Bidan memberikan asuhan pada wanita yang membutuhkan asuhan
kebidanan.
b) Bidan mempunyai otonomi sebagai pemberi asuhan yang menghargai
kerjasama team dalam memberikan asuhan untuk seluruh kebutuhan
wanita dan keluarga
c) Bidan memegang kunci dalam menentukan asuhan dimasa mendatang
termasuk pelayanan kesehatan utama pada komunitas untuk seluruh
wanita dan keluarga.
d) Bidan bekerjasama dengan wanita dalam memberikan asuhan sesuai
dengan harapan wanita.

3
Women Centered Care harus mencakup:
a. Sebuah filosofi yang menegaskan kekuatan perempuan itu sendiri,
kekuatan dan keterampilan, dan komitmen untuk mempromosikan
persalinan fisiologis dan kelahiran.
b. Kebidanan yang dipimpin perawatan kehamilan normal, kelahiran
dan periode pascanatal.
c. Layanan yang direncanakan dan disediakan dekat dengan perempuan
dan masyarakat di mana mereka tinggal atau bekerja.
d. Terintegrasi perawatan di batas-batas sektor akut dan primer.
e. Sebuah perspektif kesehatan masyarakat, yang mempertimbangkan
faktor sosial dan lingkungan yang lebih luas, berkomitmen sumber
daya untuk perawatan kesehatan preventif, dan bertujuan untuk
mengurangi kesenjangan kesehatan dan sosial.
f. Maximised kontinuitas perawatan dan perawat, dengan satu-ke-satu
perawatan kebidanan selama persalinan.
g. Fokus pada kehamilan dan persalinan sebagai awal dari kehidupan
keluarga, bukan hanya sebagai episode klinis terisolasi, dengan
memperhitungkan penuh makna dan nilai-nilai setiap wanita
membawa pengalamannya keibuan.
h. Pendanaan struktur dan komitmen yang mengakui hasil seumur
hidup kesehatan ibu dan bayi.
i. Keterlibatan pengguna yang melampaui tokenistik, untuk
mengembangkan kemitraan yang nyata antara wanita dan bidan.
j. Keluarga-berpusat perawatan yang memfasilitasi pengembangan
percaya diri, orangtua yang efektif.
k. Memperkuat kepemimpinan kebidanan, dalam rangka untuk
mempromosikan keunggulan profesional dan memaksimalkan
kontribusi pelayanan maternitas ke agenda kesehatan masyarakat
yang lebih luas.

4
l. Cukup membayar dan keluarga-ramah kondisi kerja bagi semua
bidan Women center care untuk kehamilan harus cukup fleksibel
untuk mengatasi berbagai pengalaman perempuan di seluruh dunia,
meliputi berbagai kondisi medis, budaya dan struktur keluarga. Hal
ini juga harus mencakup perempuan yang memilih untuk tidak
menginginkan kehamilan atau mengalami keguguran.

2.2 Program Women Center Care Di Indonesia


Bentuk-bentuk ‘women center care’ di Indonesia merupakan program
untuk menurunkan angka kematian ibu yang merujuk pada program-program
sedunia yang didukung oleh WHO yaitu:
1. ‘Safe Motherhood’ tahun 1988, di Indonesia dibentuknya Standar
Pelayanan Kebidanan, yang diikuti dengan program-program lainnya
yang masih berkesinambungan.
2. ‘The Mother Friendly Movement’ pada tahun 1996 Indonesia
menterjemahkannya sebagai ‘Gerakan Sayang Ibu’
3. ‘Live Saving Skill’
4. Komunikasi Inter Personal dan Konseling (KIP-K)
5. Asuhan Persalinan Dasar (APD) yang kemudian berganti nama menjadi
Asuhan Persalinan Normal (APN)
6. ‘Making Pregnancies Safer‘(MPS) tahun 2000, dan
7. IBI sendiri mengeluarkan Standar Asuhan Kebidanan, dan usulan
peningkatan pendidikan bidan (dari DI, DIII, dan DIV).
Keseluruh program di atas bertujuan untuk mencapai ‘Safe Motherhood’,
sesuai kriteria yang diberikan oleh WHO tentang asuhan / pelayanan yang
baik yaitu harus memenuhi kriteria:
a) ‘Available’ (pelayanan harus ada dan bisa dicapai oleh siapapun)
b) ‘Acceptable’ (diterima masyarakat), dan
c) ‘Accessable’ (mudah dijangkau).

5
2.3 Gerakan Sayang Ibu (GSI)
A. Pengertian
Gerakan sayang ibu merupakan gerakan percepatan penurunan angka
kematian ibu yang dilakukan bersama-sama oleh pemerintah dan masyarakat
dengan meningkatkan pengetahuan kesadaran dan kepedulian dalam upaya
integral dan sinergis.
B. Prinsip Asuhan
1) Intervensi minimal
2) Komprehensif
3) Sesuai kebutuhan.
4) Sesuai dengan standar, wewenang, otonomi dan kompetensi provider
5) Dilakukan secara komplek oleh team kerja.
6) Asuhan sayang ibu.
7) Filosofi bahwa proses persalinan, menstruasi, menopause adalah normal.
8) Memberikan informed consent.
9) Aman, nyaman, logis dan berkualitas
C. Program
Progamnya adalah gerakan asuhan sayang ibu yang dioperasionalkan di
kecamatan dan desa /kelurahan. Dalam pelaksanaannya GSI
mempromosikan kegiatan yang berkaitan dengan kecamatan sayang ibu dan
rumah sakit sayang ibu untuk mencegah tiga keterlambatan yaitu:
1) Keterlambatan di tingkat keluarga dalam mengenali tanda bahaya dan
membuat keputusan untuk segera mencari pertolongan.
2) Keterlambatan dalam mencapai fasilitas pelayanan kesehatan.
3) Keterlambatan di fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapat
pertolongan yang dibutuhkan.

2.4 Asuhan Persalinan Normal (APN)

6
Tujuan asuhan persalianan normal adalah mengupayakan kelangsungan
hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya,
melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal
sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat
yang optimal. Dengan demikian penolong persalinandapat memberikan
asuhan yang mengacu pada upaya-upaya pencegahan yang dapat memberikan
rasa nyaman dan aman bagi ibu dan bayi baru lahir selama persalinan, pasca
persalinan dan masa nifas dini.
Ada lima aspek dasar atau lima benang dasar yang penting dan salin
terkait dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman. Berbagai aspek
tersebut melekat pada setiap persalinan, baik normal maupun patologis.
Lima benang merah tersebut adalah:
a. Membuat keputusan klinik
Membuat keputusan klinik adalah proses pemecahan masalah yang akan
digunakan untuk merencanakan asuhan bagi ibu dan bayi baru lahir. Hal
ini merupakan suatu proses sistematik dalam mengumpulkan dan analisis
informasi , membuat diagnosis kerja [ menentukan kondisi yang dikaji
adalah normal atau bermasalah], membuat rencana tindakan yang sesuai
dengan diagnosis, melaksanakan rencana tindakan dan akhirnya
mengevaluasi hasil asuhan atau tindakan yang telah diberikan kepada ibu
dan atau bayi baru lahir.
b. Asuhan sayang ibu dan bayi
Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai
budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Salah satu prinsip dasar
asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga
selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa banyak ibu di Indonesia yang masih tidak mau
meminta pertolongan tenaga penolong persalinan terlatih untuk
memberikan asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Sebagian dari
mereka memberi alasan bahwa penolong persalinan terlatih tidak benar-
benar memperhatikan kebutuhan atau kebudayaan, tradisi dan keinginan

7
pribadi para ibu  dalam persalinan dan kelahiran bayinya. Alasan lain yang
juga berpengaruh adalah bahwa sebagian besar fasilitas
kesehatan  memiliki peraturan dan prosedur kurang bersahabat dan
menakutkan bagi ibu.
Peraturan dan prosedur tersebut termasuk, tidak memperkenankan ibu
untuk berjalan-jalan selama proses persalinan, tidak mngizinkan anggota
keluarga menemani ibu, membatasi ibu hanya pada posisi tertentu selama
persalinan dan kelahiran bayi dan memisahkan ibu dari bayi segera setelah
bayi dilahirkan.  
Coalition for Improving Maternity Services (CIMS), 1996
a. Menawarkan ibu
b. Memilih untuk mendampingi untuk mensupport fisik dan emosional
c. Menginformasikan praktek, intervensi dan hasil asuhan
d. Asuhan responsif pada keyakinan nilai adat istiadat.
e. Memberikan kebebasan memilih posisi dalam bersalin
f. Kebijakan dan prosedur yang jelas dan asuhan yang
berkesinambungan.
g. Menghindari tindakan rutin yang yang tidak jelas
h. Mendidik pemberi asuhan, pengurangan rasa nyeri tanpa obat
i. Mendorong semua ibu: bonding attachment dan breast feeding
j. Menghindari penyunatan bayi baru lahir yang tidak diperlukan
k. Sayang bayi: pemberian ASI dengan sukses.

c. Pencegahan infeksi
Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak terpisah dari komponen-komponen
lain dalam asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Tindakan ini
harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi
baru lahir, keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainnya
dengan jalan menghindarkan transmisi penyakit yang disebabkan oleh
bakteri, virus dan jamur.
Tindakan pencegahan infeksi dalam pelayanan asuhan kesehatan;

8
1) Meminimalkan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme.
2) Menurunkan risiko penularan penyakit yang mengancam jiwa seperti
Hepatitis dan HIV-AIDS.

d. Pencatatan (rekam medis)


Pencatatan adalah bagian penting dari proses membuat keputusan klinik
karena memungkinkan penolong persalinan untuk terus menerus
memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses persalinan dan
kelairan bayi. Mengkaji ulang catatan memungkinkan untuk menganalisis
data yang telah dikumpulkan dan dapat lebih efektif dalam
merumuskan  suatu diagnosis serta membuat rencana asuhan atau
perawatan bagi ibu dan bayinya. 
e. Rujukan
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan
rujukan atau yang memiliki sarana lebih lengkap diharapkan mampu
menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun sebagian
besar ibu menjalani persalinan normal, namun sekitar 10-15% di antaranya
akan mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran sehingga
perlu dirujuk ke fasilitas rujukan. Sangatlah sulit untuk menduga kapan
penyulit akan terjadi, sehingga kesiapan untuk merujuk ibu dan / atau
bayinya ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu jika
penyulit terjadi.

9
BAB III
TINJAUAN KASUS

Ny. I adalah primigravida hamil aterm normal, masuk kamar bersalin RS. X
dalam keadaan inpartu.
          Ny. I setiap ANC selalu datang ketempat bidan G. Sewaktu ANC di bidan
G, Ny. I mengutarakan keinginan melahirkan di bidan S karena rumah Ny.I dekat
dengan rumah. Bidan S. Bidan G mendukung keinginan Ny. I dan menganjurkan
beberapa bulan sebelum HPL untuk ANC di bidan S, Tetapi, ibu mertua dan
sebagian keluarga besarnya menyuruh melahirkan di Rumah Sakit X dengan
alasan peralatan yang lebih lengkap dengan terpaksa Ny. I menyanggupinya.
         Sewaktu dilakukan anamnesa di RS X, Ny. I mengatakan keinginannya
ingin persalinannya didampingi suami dan tidak mau di episiotomi. Sekarang ini,
Ny. I berada dalam kala II dan kala II yang berlangsung agak lambat, tetapi ada
kemajuan. Bidan di RS X mempersilahkan suami Ny. I untuk mendampingi Ny. I
selama proses persalinan.
          Pada proses persalinan tersebut, Ny. I merasa nyaman dengan posisi
setengah duduk, tetapi bidan sering menyuruh Ny. I dalam posisi terlentang dan
menjelaskan kepada Ny. I bahwa posisi tersebut mempermudah mengukur
perkembangan pembukaan dan mengamati penurunan kepala bayi.
  

10
BAB IV
ANALISA KASUS

    
       Wanita (ibu) menjadi pusat asuhan kebidanan dalam arti bahwa asuhan yang
diberikan harus berdasarkan pada kebutuhan ibu, bukan kebutuhan dan
kepentingan bidan. Asuhan yang diberikan hendaknya tidak hanya melibatkan ibu
hamil saja melainkan juga keluarganya, dan itu sangat penting bagi ibu sebab
keluarga menjadi bagian integral tak terpisahkan dari ibu hamil.
         Sikap, perilaku, dan kebiasaan ibu hamil sangat dipengaruhi oleh keluarga.
Kondisi yang dialami oleh ibu hamil juga akan mempengaruhi seluruh anggota
keluarga. Selain itu, keluarga juga merupakan unit sosial yang terdekat dan dapat
memberikan dukungan yang kuat bagi anggotanya.. Dalam hal pengambilan
keputusan haruslah merupakan kesepakatan bersama antara ibu, keluarganya, dan
bidan, dengan ibu sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan.
Ibu mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan kepada siapa dan dimana ia
akan memperoleh pelayanan kebidanannya.
       Pada kasus diatas dapat dilihat bahwa bidan G, sudah melakukan
tindakan asuhan sayang ibu pada Ny. I, karena mendukung pilihan dan keputusan
Ny. I untuk melahirkan di bidan S hanya saja, bidan G tidak melibatkan keluarga
Ny. I dalam asuhan, agar keluarganya bisa mengerti pilihan Ny. I dan menyadari
bahwa Ny. I mempunyai hak untuk memutuskan kepada siapa dan dimana Ny. I
akan memperoleh pelayanan kebidananya karena bidan memegang kunci dalam
menentukan asuhan dimasa mendatang termasuk pelayanan kesehatan utama pada
komunitas untuk seluruh wanita dan keluarga.
Sewaktu di RS X, bidan di RS X telah melakukan asuhan kebidanan yang
benar dengan menawarkan kepada Ny. I untuk memilih didampingi suami atau

11
keluarga sebagai support fisik dan emosional. Tetapi bidan tersebut tidak
menghargai keinginan Ny. I dalam memberikan kebebasan untuk memilih posisi
bersalin sesuai keinginan Ny. I. Seharusnya, bidan dapat bekerja sama dengan Ny.
I dalam memberikan asuhan sesuai harapan Ny. I.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Women Centered Care adalah istilah yang digunakan untuk filosofi asuhan
maternitas yang memberi prioritas pada keinginan dan kebutuhan pengguna,
dan menekankan pentingnya informed choice, kontinuitas perawatan,
keterlibatan pengguna, efektivitas klinis, respon dan aksesibilitas.
Dalam hal ini Bidan difokuskan memberikan dukungan pada wanita dalam
upaya memperoleh status yang sama di masyarakat untuk memilih dan
memutuskan perawatan kesehatan dirinya. Di dalam women center care
terdapat banyak hal yang harus diperhatikan oleh bidan. Yaitu tentang
prinsip-prinsip dalam pemberian asuhan kebidanan yang terkait dengan
wanita secara keseluruhan. Bentuk-bentuk dari women center care itu
sendiri. Dan dapat mengetahui siapa saja yang harus dilakukan pendekatan
secara keseluruhan terkait dengan women center care. Karena dalam women
center care ini adalah ruang lingkup tanggung jawab dari bidan untuk
memenuhi profesinya sebagai teman wanita.

5.2 Saran
Dengan berdirinya Women Center Care yang didalamnya ada organisasi
Gerakan Sayang Ibu dan Asuhan Persalinan normal bidan professional itu
harus berpandangan luas dan mempunyai tujuan untuk menurunkan Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Dengan
menurunnya AKI dan AKB akan mencerminkan bangsa yang sehat dan
berkualitas dalam bidang kesehatan.

12
DAFTAR PUSTAKA

 https://www.scribd.com/presentation/270581850/Women-Center-Care
 https://scienceofmidwife.wordpress.com/2017/10/26/lima-benang-merah-
dalam-asuhan-
 persalinan-dan-kelahiran-bayi/
 http://www.indonesian-publichealth.com/asuhan-persalinan-normal
 https://rossylauranda.wordpress.com/2012/06/07/women-center-care/
 http://bidanenggar.blogspot.com/2011/12/women-care-center.html
 JNP-KR, 2004. Asuhan Persalinan Normal. Edisi Baru dengan Resusitasi.
Jakarta: Depatemen Kesehatan RI

13