Anda di halaman 1dari 7

158 Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Tahun I, No.

2, Desember 2013

MODEL INTEGRATED SCIENCE BERBASIS SOCIO SCIENTIFIC ISSUES


UNTUK MENGEMBANGKAN THINKING SKILLS DALAM
MEWUJUDKAN 21ST CENTURY SKILLS

INTEGRATED SCIENCE BASED SOCIO SCIENTIFIC ISSUES MODEL FOR


DEVELOPING THINKING SKILLS IN MAKING 21st CENTURY SKILLS

Purwanti Widhy H, Sabar Nurohman, Widodo Setyo Wibowo


Program Studi Pendidikan IPA FMIPA UNY

E-mail : widhy_ipauny@yahoo.com

Abstrak
Tujuan penelitian mengembangkan model Integrated science berbasis Socio Scientific Issues (SSI)
berupa Silabus, RPP dan Bahan Ajar IPAuntuk mengembangkan thinking skills. Metode penelitian adalah
R&D, yang terdiri 4 langkah yakni define, design, develope dan desseminate (4-D), namun dibatasi pada 3
langkah pertama (3-D dari 4-D). Fase define meliputi pengumpulan data karakteristik siswa, analisis isu di
masyarakat, pendefinisian variable pengembangan produk, dan menganalisis kurikulum. Fase design meli-
puti menyusun draft kasar produk dan seleksi format. Fase develop meliputi pengembangan produk awal,
validasi expert dan guru IPA dilanjutkan dengan revisi. Teknik analisis data adalah analisis deskriptif kuali-
tataif dan kuantitatif dengan 4 skala penilaian. Hasil penelitian menunjukkan model Integrated science
berbasis SSI berupa Silabus, RPP dan bahan Ajar IPA yang dirancang untuk mengembangkan thinking
skills layak digunakan dengan nilai sangat baik berdasarkan penilaian dosen ahli dan guru IPA. Terdapat 4
isu yang diangkat yang dijadikan dalam tema-tema yaitu erupsi gunung berapi, tema zat aditif dalam maka-
nan dan pengaruhnya, pengelolaan sampah, dan tema pengelolaan limbah perak. Produk hasil pengemba-
ngan dapat mengembangkan ketrampilan berfikir, dilihat dari kegiatan di LKS dan modul.
Kata kunci : model integrated science, socio scientific issues, thinking skill, 21st century skills

Abstract
The purpose of the study was developed a model of science-based Integrated Socio Scientific Issues
(SSI) a syllabus, lesson plans and materials science to develop Teaching thinking skills. The research
method is the R &D, which comprises four steps that define, design, develop, and disseminate (4-D), but
limited to the first 3 steps (3-D from 4-D). Define phase includes collection the data of student characterris-
tics, analyzes the issues in society, the definition of a variable product development, and analyze the curri-
culum. Design phase includes the draft the selection of products and formats. Develop phase includes the
initial product development, and validation of expert and science teachers continued with the revision. The
technique of data analysis are descriptive analysis qualitative and quantitative to 4 grading scale. The
results suggest a model in the form of SSI-based Integrated science syllabus, lesson plans and science mate-
rials were designed to develop thinking skills fit for use with very good value based valuation expert lectu-
rers and science teachers. There are four issues raised are used in the themes that is the volcanic eruption,
the theme of additives in food and their effects, waste management, silver waste management theme.
Product development outcomes can develop thinking skills , judging from the activity in LKS and modules.

PENDAHULUAN sa, mempunyai visi terwujudnya sistem pen-


Pemberlakuan kurikulum 2013 semakin didikan sebagai pranata sosial yang kuat dan
mempertegas peran Pendidikan Nasional se- berwibawa untuk memberdayakan warga ne-
bagai salah satu sektor pembangunan nasional gara Indonesia berkembang menjadi manusia
dalam upaya mencerdaskan kehidupan bang- yang berkualitas sehingga proaktif dan mam-
Model Integrated Science.... (Purwanti,dkk) 159

pu menjawab tantangan zaman yang selalu sosial dikembangkan dalam pembelajaran IPA
berubah. Pembelajaran IPA merupakan sesua- (Dadan, 2012). Dengan demikian hendaknya
tu yang harus dilakukan oleh siswa bukan se- pembelajaran IPA dirancang dan di-
suatu yang dilakukan terhadap siswa sebagai- implementasikan melalui strategi yang dapat
mana yang dikemukakan National Science memenuhi kebutuhan kontekstualitas tersebut
Educational Standart (2003) bahwa ”Learn- sehingga siswa dapat berhadapan dengan ma-
ing science is an active process. Learning salah nyata di lingkungannya untuk mendu-
science is something student to do, not some- kung pembentukan pengetahuan, nilai, sikap,
thing that is done to them”. Dalam pembela- serta keterampilan berfikir (Thinking Skills)
jaran sains siswa dituntut untuk belajar aktif yang merupakan keterampilan berpikir tingkat
yang terimplikasikan dalam kegiatan secara tinggi (High Order Thinking Skills), terdiri dari
fisik ataupun mental, tidak hanya mencakup critical thinking dan creative thinking.
aktivitas hands-on tetapi juga minds-on. Pem- Menurut Ennis (1993: 180), “Critical thinking
belajaran IPA yang didasarkan pada standar isi is reasonnable reflective thinking focused on
akan membentuk siswa yang memiliki bekal deciding what to believe or do”. Pernyataan ini
ilmu pengetahuan (have a body of know- dapat didefinisikan bahwa berpikir kritis
ledge), standar proses akan membentuk siswa adalah berpikir secara beralasan dan reflektif
yang memiliki keterampilan ilmiah (scientific dengan menekankan pembuatan keputusan
skills), keterampilan berpikir (thinking skills) tentang apa yang harus dipercayai atau dila-
dan strategi berpikir (strategy of thinking), kukan. Inti dari pengembangan critical think-
standar inkuiri ilmiah akan membentuk siswa ing, yakni mengakses berbagai informasi lain,
yang mampu berpikir kritis dan kreatif (cri- dari berbagai sumber yang tidak dibatasi ha-
tical and creative thinking); standar assesmen nya buku teks, lalu informasi-informasi terse-
mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya but dianalisis dengan menggunakan berbagai
sesuai apa yang dialami siswa dalam pem- pengetahuan dasar dari bahan ajar formal, lalu
belajaran (authentic assessment) (Koballa & mereka membuat kesimpulan. Proses-proses
Chiapetta, 2010). itulah yang disebut dengan critical thinking
Kurikulum 2013 dikembangkan dengan yang mampu melahirkan berbagai pemikiran
berpijak pada kerangka dari 21stCentury Skills. kreatif (Dede Rosyada, 2004:170-171). Pen-
Dalam kerangka kompetensi abad 21 dapat Peter Kneedler tersebut dijabarkan da-
menunjukkan bahwa berpengetahuan (melalui lam Dike (2008:48-51), yang mengedepankan
core subject) saja tidak cukup, harus dileng- pengembangan kemampuan berpikir kritis
kapi salah satunya dengan kemampuan berpi- model proses untuk siswa kelas 8 di Califor-
kir kreatif-kritis (Partnership for 21st century nia dengan menggunakan model Critical
Skill: 2002). Pembelajaran IPA dalam kuriku- Thinking Skills (CTS) Process. Definisi dan
lum 2013 bersifat Integrative Science. Pembe- klarifikasi masalah (Defining and Clarifying
lajaran IPA dilaksanakan secara terintegrasi the problem). Aspek dan sub indikator ke-
mempunyai makna memadukan berbagai as- mampuan berpikir kritis tersebut yakni: 1)
pek yaitu domain sikap, pengetahuan, dan ke- Mengidentifikasi isu-isu sentral atau pokok
terampilan (Purwanti:2013). Seharusnya pem- masalah; 2) Membandingkan persamaan dan
belajaran IPA berorientasi aplikatif, pengem- perbedaan; 3) Menentukan informasi yang re-
bangan kemampuan berpikir (Thinking Skills levan; 4) Kemampuan memformulasikan atau
in science), kemampuan belajar, rasa ingin ta- menyusun pertanyaan-pertanyaan secara te-
hu, dan pembangunan sikap peduli dan ber- pat; 5) Menilai informasi yang berhubungan
tanggung jawab terhadap lingkungan alam dan dengan masalah (Judging information related
160 Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Tahun I, No. 2, Desember 2013

the problem); 6) Solusi masalah atau mem- 8) imagination, mempunyai kekuatan untuk
buat kesimpulan (Solving problem / drawing visualisasi dan membangun mental image dan
conclutions) (Curriculum Development Cen- meraih di luar lingkungan nyata.
tre Ministry of Education Malaysia, 2002) Strategi pembelajaran yang potensial
Berpikir kreatif merupakan cara berpikir untuk diterapkan adalah pembelajaran berba-
yang dipenuhi dengan ide atau gagasan dalam sis Socio-Scientific Issues (SSI). SSI adalah
mengembangkan daya imajinasi. Berpikir kre- strategi yang bertujuan untuk menstimulasi
atif adalah kemampan mendayagunakan po- perkembangan intelektual, moral dan etika,
tensi yang dimiliki yang muncul dari berbagai serta kesadaran perihal hubungan antara sains
keadaan (Baker, 2001). Variasi dan komplek- dengan kehidupan sosial (Zeidler, et al., 2005;
sitas masalah membutuhkan cara-cara peme- Nuang-chalerm, 2010). SSI merupakan repre-
cahan masalah yang berbeda. Ini membuat ke- sentasi isu-isu atau persoalan dalam kehidup-
trampilan berpikir logis-rasional saja menjadi an sosial yang secara konseptual berkaitan erat
tidak cukup. Tidak jarang situasi tertentu dengan sains (Anagun & Ozden, 2010) dengan
membutuhkan pemecahan masalah secara solusi jawaban yang relatif atau tidak pasti
kreatif. Oleh karenanya, ketrampilan menggu- (Topcu, et al, 2010). SSI dapat ditemukan
nakan tehnik-tehnik pemecahan masalah seca- dalam konteks global, seperti isu rekayasa
ra kreatif menjadi penting. Dengan membia- genetik (terapi gen, kloning atau stem sel) dan
sakan untuk menyesuaikan pola berpikir krea- masalah lingkungan seperti pemanasan global
tif (creative thinking) yang sesuai dengan si- dan perubahan iklim (Sadler, 2004). Di sam-
tuasi tertentu, pemecahan masalah akan men- ping itu, SSI juga dapat bersumber dari ma-
jadi semakin efektif (Herlanti: 2012). syarakat lokal, seperti isu dampak peristiwa
William (Ahmad, 2009) menyatakan erupsi Gunung Merapi (Agung, 2011). Meru-
bahwa ada 8 perilaku siswa yang terkait de- juk pada Callahan (2009) dan Zeidler, et al.
ngan kreativitas atau berfikir kreatif, yakni: 1) (2009), sebagai salah satu target kemampuan
fluency, kemampuan untuk menghasilkan se- yang dapat dikembangkan lewat pembelajaran
jumlah besar ide, produk dan respon; 2) flexi- IPA berbasis SSI adalah kemampuan berpikir
bility, kemampuan untuk memperoleh pen- kritis (critical thinking) dan berpikir kreatif
dekatan yang berbeda, membangun berbagai (creative thinking) yang menunjukkan tingkat
ide, mengambil jalan memutar dalam jalan pi- perkembangan literasi seseorang dalam hal
kirannya, dan mengadopsi situasi baru; 3) ori- mengumpulkan dan menganalisis informasi
ginality, kemampuan untuk membangun ide, atau data dari beragam sumber. Hal ini sesuai
yang tidak biasa, ide cerdas yang mengubah dengan salah satu hakikat IPA, bahwa IPA se-
cara dari yang nyata; 4) Elaboration, kemam- bagai dimensi cara berpikir (a way of think-
puan untuk memotong, mengembangkan atau ing) yang menjadi substansi yang mendasar
membubuhi ide atau produk; 5) risk taking, pentingnya pembelajaran IPA yang mengem-
mempunyai keberanian untuk menyatakan bangkan proses ilmiahnya untuk pembentuk-
sendiri kesalahan atau kritikan, tebakan dan an pola pikir peserta didik.
mempertahankan ide sendiri; 6) complexity, Persoalan yang ada di lapangan adalah
mencari berbagai alternatif, membawa keluar pembelajaran IPA masih berkutat pada penca-
dari kekacauan, dan menyelidiki ke dalam paian core knowledge atau a body of know-
masalah atau ide yang rumit; 7) curiosity, ke- ledge saja tanpa memperhatikan aspek yang
inginan untuk tahu dan kagum, bermain de- lain salah satunya thinking skills yang dimiliki
ngan suatu ide, membuka situasi teka teki dan oleh siswa. Pembelajaran masih berpedoman
mempertimbangkan sesuatu yang misteri; dan pada pencapaian produk berupa kognitif, tan-
Model Integrated Science.... (Purwanti,dkk) 161

pa memperhatikan proses, sikap dan kemam- yang akan dijadikan isu dalam pembelajaran,
puan berpikir IPA. Padahal dengan pembela- menyusun indikator, dan menyusun tujuan
jaran yang mampu menumbuhkan kemam- pembelajaran, menganalisis materi pokok
puan berpikir (Thinking Skills), siswa mem- mengacu pada pemilihan tema). Fase design
punyai literasi sains (Scientific literacy) yang merupakan menyusun draft kasar dari produk.
bagus, selain itu juga akan menjadi terbiasa Produk yang dikembangkan dalam penelitian
untuk bisa memecahkan permasalahan yang ini berupa silabus, RPP dan bahan ajar (LKS
mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. dan modul) berbasis socio scientific issues,
Oleh karena itu diperlukan suatu perangkat kemudian dilakukan seleksi format-format pe-
dalam Pembelajaran IPA yang diajarkan seca- rangkat yang dikembangkan. Fase develop
ra terintegrasi berbasis SSI, yang mampu me- merupakan pengembangan produl awal, ke-
ngembangkan kemampuan berpikir (Thinking mudian dilakukan validasi expert dilanjutkan
Skills), yaitu kemampuan berpikir kritis (criti- revisi 1, validasi 2 dan revisi 2. Hasil revisi 2
cal thinking) dan berpikir kreatif (creative merupakan produk yang siap untuk diujicoba-
thinking) kan di sekolah. Pada penelitian ini dibatasi
pada 3 langkah pertama, sedangkan untuk ta-
METODE PENELITIAN hap ke 4 yaitu disseminate tidak dilakukan.
Tujuan penelitian mengembangkan mo- Teknik analisis data yang digunakan yaitu
del Integrated science berbasis Socio Scien- teknik analisis deskriptif kualitatif dan kuan-
tific Issues (SSI) berupa Silabus, RPP, dan titatif. Teknik analisis data untuk mengetahui
bahan ajar IPA untuk mengembangkan think- kelayakan produk dilakukan secara deskriptif
ing skills. kualitatif dengan menghitung rata-rata skor
Subjek dalam penelitian ini dilakukan di penilaian, dengan menggunakan kriteria peni-
siswa SMP di Yogyakarta, dengan jumlah sis- laian skala 1-4. Instrumen dalam penelitian ini
wa untuk masing-masing tema 30 siswa. Pe- adalah instrumen validasi produk. Untuk me-
nelitian ini dilakukan karena kemampuan ber- ngetahui kualitas produk digunakan kriteria
pikir siswa masih di SMP yang diteliti masih penilaian kualitas produk sebagai berikut.
perlu ditingkatkan dan proses pembelajaran
Tabel 1 . Kriteria Penilaian
yang dilakukan belum mengkaitkan isu-isu
No Rentang Skor Kategori
yang ada di masyarakat untuk diangkat seba- 1 Xi+1,5SBi≤X≤Xi+3SBi Sangat Baik
gai sumber dalam proses pembelajaran. 2 Xi+0SBi≤X<Xi+1,5SBi Baik
Desain penelitian menggunakan acuan 3 Xi-1,5SBi ≤X<Xi+0SBi Cukup baik
metode Research and Development (R&D) 4 Xi-3SBi≤X<Xi-1,5SBi Kurang Baik
4-D (Four-D Models) (Thiagarajan, 1975:5).
Keterangan:
Namun dalam pelaksanaannya hanya meng-
Xi : Mean Ideal = ½ (skor maksimal ideal +
gunakan 3-D dari 4-D. Pada fase yang perta-
skor minimal ideal)
ma yaitu fase define merupakan fase awal pe-
SBi : Simpangan Baku ideal = 1/6 (skor mak-
nelitian dan pengumpulan data awal berupa
simal ideal - skor minimal ideal)
karakteristik siswa, analisis isu di masyarakat
yang bisa dijadikan sebagai sumber permasa- skor maksimal ideal = jumlah butir x skor tertinggi
lahan, pendefinisian variabel yang terkait de- skor minimal ideal = jumlah butir x skor terendah
ngan pengembangan produk (aspek social
scientific issues, aspek thinking skills, meng-
analisis kurikulum berupa (menganalisis SK
dan KD yang sesuai dengan permasalahan
162 Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Tahun I, No. 2, Desember 2013

HASIL DAN PEMBAHASAN kukan seleksi format-format perangkat yang


1. D-1 (Tahap Define) dikembangkan. Format silabus pembelajaran
Tahap define dilakukan dengan analisis dan RPP mengikuti format silabus dan RPP
isu di masyarakat yang bisa dijadikan sebagai Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP:
sumber permasalahan yang ada di sekolah. 2006). Format LKS disesuaikan dengan pen-
Selanjutnya dilakukan pendefinisian variabel dekatan pembelajaran (percobaan, demonstra-
yang terkait dengan pengembangan produk si atau penyelidikan).
yang akan dikembangkan meliputi aspek so-
cio scientific issues, aspek keterampilan berfi- 3. D-1 (Tahap Develop)
kir (critical thinking dan creative thinking) dan Tahap ketiga yaitu Develop. Berupa va-
indikator instrumen penilaian produk. Selain lidasi expert dan validasi guru IPA sebanyak 8
itu juga menganalisis kurikulum KTSP IPA orang. Data yang diperoleh meliputi data
tingkat SMP/MTs yang potensial sesuai penilaian produk oleh ahli dan guru IPA. Pe-
dengan isu yang akan dijadikan permasalahan nilaian ini dilakukan untuk produk yang dibu-
dalam pembelajaran dan tetap disinkronkan at yaitu silabus, RPP, LKS dan Modul. Peni-
dengan kurikulum 2013, kemudian mengana- laian dilakukan oleh dosen ahli dengan kri-
lisis materi pokok mengacu pada pemilihan teria memiliki gelar S2 dalam bidang rumpun
tema IPA dan atau pendidikan IPA, serta kompeten
Terdapat 4 isu yang dirancang yaitu: Apa dalam bidang IPA. Produk yang divalidasi
yang sebaiknya atau dapat dilakukan untuk sesuai dengan unsur-unsur dari masing-ma-
menghadapi masalah dampak erupsi Merapi? sing produk.
Dengan tema erupsi gunung berapi, yang Hasil penilaian pada produk melibatkan
kedua isu: Apakah sebaiknya yang kita 3 orang dosen ahli dengan menggunakan lem-
lakukan tentang penggunaan zat aditif dalam bar penilaian validasi ahli untuk masing-ma-
makanan? Dengan tema zat aditif dalam ma- sing jenis produk. Penilaian produk menggu-
kanan dan pengaruhnya. Yang ketiga Apakah nakan rentang penilaian skor antara satu sam-
yang kita lakukan untuk menghadapi sampah pai empat.Untuk produk berupa silabus, RPP,
yang menggunung? Dengan tema pengelolaan LKS dan modul, kriteria penilaian silabus da-
sampah. Dan yang terakhir Apakah yang se- pat disajikan pada Tabel 2.
baiknya kita lakukan terhadap limbah perak di
Tabel 2. Kriteria Penilaian Produk oleh ahli
industri pengrajin perak? Dengan tema penge-
No Rentang Skor Kategori
lolaan limbah perak. 1 3,25≤X≤4 Sangat Baik
2 2,5≤X<3,25 Baik
2. D-1 (Tahap Design) 3 1,75≤X<2,5 Cukup baik
Tahap design dilakukan dengan menyu- 4 1≤X<1,75 kurang Baik
sun draft kasar dari produk. Produk yang di-
Hasil penilaian Produk oleh ahli dapat
kembangkan dalam penelitian ini berupa sila-
disajikan dalam Tabel 3.
bus, RPP dan bahan ajar (LKS dan modul).
Produk ini dikembangkan untuk pembelajaran Tabel 3. Penilaian Produk oleh dosen ahli
berbasis socio scientific issues meningkatkan No Jenis perangkat Rerata Kategori
keterampilan berfikir kritis dan kreatif. Terle- 1 Silabus 3,7 Sangat baik
bih dahulu dilakukan seleksi media dan sum- 2 RPP 3,5 Sangat baik
ber belajar yang tepat untuk presentasi isi 3 LKS 3,5 Sangat baik
4 Modul 3,6 Sangat baik
pembelajaran dan disesuaikan dengan analisis
tugas dan analisis kurikulum. Kemudian dila-
Model Integrated Science.... (Purwanti,dkk) 163

Untuk silabus disarankan memperbaiki gambar yang tidak mendukung materi. Per-
instrumen penilaian yang disesuaikan dengan baikan untuk Modul: penulisan kalimat de-
indikator yang ada, kegiatan pembelajaran le- ngan SPOK, melengkapi sumber-sumber
bih difokuskan ke siswa bukan guru, Untuk gambar, menajamkan warna, dan mengganti
RPP disarankan tujuan pembelajaran sebaik- artikel yang sesuai dengan isu yang diangkat.
nya disusun dengan rinci sesuai dengan indi- Selanjutnya produk ini tahap selanjutnya yaitu
kator, dirincikan dengan ABCD (Audience, ujicoba terbatas. Ujicoba ini akan dilakukan di
Behaviour, Condition, Degree) yang lebih je- sekolah dengan objek siswa SMP untuk
las, Untuk LKS disarankan gunakan kalimat melihat bagaimana respon siswa dan keteram-
dengan SPOK, warna tulisan diganti lebih hi- pilan berpikir baik berpikir kritis maupun
tam pekat, menggganti artikel dengan isu-isu kreatif.
lokal. Untuk Modul disarankan perhatikan pe- Diharapkan dengan penggunaan produk
nulisan di setiap kalimat, dan gunakan pola perangkat pembelajaran yang berbasis SSI
SPOK, berikan gambar yang sesuai pada ma- (Socio Scientific Issues) akan dapat mewujud-
sing-masing materi, mencari artikel yang le- kan keterampilan berfikir siswa yang bagus.
bih sesuai dengan isu lokal yang familiar. Ha- Dan dapat menjadi bahan pembelajaran yang
sil penilaian produk oleh guru IPA disajikan akan mengaktifkan siswa dalam hal berpikir.
pada Tabel 4. Dalam produk ini keterampilan berpikir siswa
tumbuh saat siswa melakukan kegiatan yang
Tabel 4. Hasil penilaian produk oleh guru IPA
sudah didesain di modul dan LKS.
No Jenis perangkat Rata-rata Kategori
1 Silabus 3,6 Sangat baik
2 RPP 3,5 Sangat baik SIMPULAN DAN SARAN
3 LKS 3,6 Sangat baik Simpulan dari penelitian ini adalah: te-
4 Modul 3,7 Sangat baik lah dikembangkan produk berupa Silabus,
RPP, LKS, dan Modul berbasis Socio Scien-
Saran dari 3 guru IPA yaitu untuk sila-
tific Issues untuk mengembangkan Thinking
bus identitas dilengkapi, untuk RPP skenario
Skills. Dihasilkan pemetaan materi yang se-
kegiatan disesuaikan dengan scientific method
suai dengan isu sebagai permasalahan pembe-
yaitu 5M (mengobservasi, menanya, mengeks-
lajaran yaitu tema Erupsi gunung merapi, Zat
perimen/mengeksplorasi, mengasosiasi, me-
aditif dalam makanan, Pengelolaan sampah,
nyimpulkan), untuk LKS warna LKS ditajam-
Pengolahan limbah industri perak. Hasil Peni-
kan dan jangan terlalu banyak gambar-gambar
laian Produk oleh dosen ahli dan guru IPA di-
yang tidak mendukung materi, untuk Modul,
nilai sangat baik dan dapat mengembangkan
warna ditajamkan dan sumber gambar ditulis-
keterampilan berpikir.
kan.
Berdasarkan hasil penelitian produk su-
Dari saran dosen ahli dan guru IPA ma-
dah siap untuk diujicobakan di lapangan da-
ka dilakukan perbaikan yaitu untuk silabus:
lam skala lebih luas dan perlu dikembangkan
diperbaiki pada instrumen penilaian, rumusan
lagi untuk tema dan isu yang lain.
indikator dan identitas silabus. Perbaikan un-
tuk RPP: diperbaiki pada tujuan pembelajaran
DAFTAR PUSTAKA
yang berbasis ABCD, kegiatan pembelajaran
Agung W, Nur A.A, & Sulistyo. 2013. Pembe-
dengan scientific method, dan melengkapi lajaran Materi ekosistem dengan Socio
identitas RPP. Perbaikan untuk LKS: pada pe- Scientific Issues dan pengaruhnya pada
nulisan kalimat dengan SPOK, menajamkan rfelktive judgement Siswa. Jurnal
warna pada LKS, dan mengurangi gambar-
164 Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Tahun I, No. 2, Desember 2013

Pendidikan IPA Indonesia Volume 2 (1 ) Ennis, R. H. 1993. Critical Thinking Assess-


2013. ment. Ohio State University: USA.
Herlanti, Y., et.al. 2012. Kualitas Argumentasi
Ahmad, Jazuli. 2009. Berfikir kreatif dalam pada Diskusi Isu Sosiosaintifik Mikro-
Kemampuan Komunikasi Matematika. biologi Melalui Weblog. Jurnal Pendi-
Prosiding Seminar Nasional Matematika dikan IPA Indonesia. Vol 1 (2): 168-177.
dan Pendidikan Matematika FMIPA
UNY 5 desember 2009. ISBN 978-979- Koballa & Chiapetta. 2010. Science Instruc-
16353-3-2. tion in the Middle and Secondary
Schools. Pearson: USA.
Anagun, Sengul S. & M. Ozden. 2010. Teacher
Candidates’ Perceptions Regarding So- NSTA. 2003. Standards for Science Teacher
cio-scientific issues and Their Compe- Preparation. Revised 2003
tencies in Using Socio-scientific issues
in Science and Technology Instruction. Nuangchalerm, P. 2009. Development of So-
Journal of Procedia Social and Beha- cio scientific Issues-based Teaching for
vioral Science. Vol 9: 981-985. Preservice Science Teachers. Journal of
Social Science. Vol 5 (3): 239-243.
Baker, M. et al. 2001. Relationship between
critical and creative Thinking. Journal of Partnership for 21st century Skill. 2002. Learn-
southern Agricultural Education re- ing for the 21st century. A Report and
search. Volume 51 number 1 2001. MILE Guide for 21st century skills.
www. 21stcenturyskills.org.P21.Re
Callahan, B. E. 2009. Enhancing Nature of port.pdf. diakses 13 Januari 2013.
Science Understanding, Reflective judg-
ment, and Argumentation through Socio- Purwanti Widhy H. 2013. Integrative Science
scientific Issues. (Dissertation). Florida: Untuk Mewujudkan 21st Century Skills
University of South Florida. pada Pembelajaran IPA. Prosiding
seminar Nasional MIPA UNY. 4 Mei
Curriculum Development Centre Ministry of 2013.
Education Malaysia. 2002. Integrated
Curriculum for Secondary Schools Cur- Sadler, T.D. & Zeidler, D.L. 2005. Patterns of
riculum Specifications Science Form 2. Informal Reasoning in the Context of
Ministry Of Education Malaysia: Socio scientific Decision Making. Jour-
Malaysia nal of Research in Science Teaching. Vol
42 (1): 112–138
Dadan Rosana. 2012. Menggagas Pendidikan
IPA yang Baik Terkait Esensial 21st Topcu, M.S, et al. 2010. Preservice Science
Century Skills. Disampaikan pada Semi- Teachers’ Informal Reasoning about So-
nar Nasional Pendidikan IPA ke IV, cioscientific Issues: The Influence of
Unesa: Surabaya. Issue Context. International Journal of
Science Education. Vol 32 (18): 2475-
Dede Rosyada. 2004. Paradigma Pendidikan 2495
Demokratis Sebuah Model Pelibatan
Masyarakat dalam Penyelenggaraan Zeidler, D.L., et al. 2005. Beyond STS: A Re-
Pendidikan. Jakarta: Prenada Media search-Based Framework for Socio-
scientific Issues Education. Journal of
Science Education. Vol 89 (3): 357-377.