Anda di halaman 1dari 29

Mata Kuliah:Manajemen Audit

Audit Lingkungan
Oleh:
Kelompok 3
Ade Rizky Erindani
Ananda Maulianda
Anne Novita Manik
Annisa Safhira
Armelia Siahaan
Ayu Purnama Sari
Donna K Tambunan
Gabe Gultom

Kelas:
A Pendidikan Akuntansi 2015

PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam dunia yang modern ini banyak akan permasalahan yang dihadapi
setiap pribadi atau organisasi, salah satu dari permasalahan tersebut adalah
lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan hidup telah menjadi bagian dalam
kehidupan manusia, bahkan saat ini masalah lingkungan telah menjadi isu global
dan penting untuk dibicarakan karena menyangkut kepentingan seluruh umat
manusia. Empat puluh tahun terakhir ini telah terjadi perubahan cara pandang
dalam melihat masalah lingkungan. Pada tahun enam puluhan masalah lingkungan
hanya dipandang sebagai masalah lokal, pencemaran udara di perkotaan, masalah
limbah industri dan sebagainya. Pada tahun tujuh puluhan masalah lingkungan di
pandang sebagai masalah global seperti hujan asam, kerusakan lapisan ozon,
pemanasan global dan perubahan iklim. Pada tahun delapan puluhan timbul
kesadaran bahwa masalah lingkungan global dapat mengancam kelangsungan
pembangunan ekonomi.
Pada tahun sembilan puluhan munculah kesadaran masyarakat akan
perlunya suatu alat analisis yang obyektif untuk menilai kinerja operasional
perusahaan terhadap lingkungan.Salah satu isu utama yangmendapat perhatian
besar masyarakat dunia adalah. pencemaran lingkungan hidup oleh perusahaan
industri. Pengusaha industri dituntut untuk merubah sistem manajemen
lingkungan agar sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang
berwawasan lingkungan.Audit lingkungan merupakan alat untuk memverifikasi
secara obyektif upaya manajemen lingkungan dan dapat membantu mencari
langkah-langkah perbaikan untuk meningkatkan kinerja lingkungan, berdasarkan
kriteria yang telah ditetapkan.
Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan kemajuan yang
sangat pesat dalam bidang industri, teknologi, dan perdagangan bebas
internasional, hal tersebut menuntut adanya penggunaan secara intensif sumber
daya manusia dan sumber daya alam. Permintaan pemenuhan akan perluasan
sumber daya alam dalam pembangunan nasional perlu direncanakan dengan
matang. Pemerintah Indonesia sejak era Orde Baru telah mengantisipasi hal
tersebut melalui kebijaksanaan pengolahan lingkungan hidup, yaitu menetapkan

1
suatu keputusan mengenai penerapan dan pelaksanaan audit lingkungan dengan
dikeluarkannya surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-
42/MENLH/11/1994 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan.
Audit lingkungan sendiri merupakan salah satu upaya proaktif perusahaan untuk
perlindungan lingkungan yang akan membantu meningkatkan kinerja operasional
perusahaan terhadap lingkungan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan citra
positif perusahaan.
Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan yang melatar
belakangi audit lingkungan sebagai dasar evaluasi. Yaitu evaluasi kinerja
perusahaan terhadap lingkungan disekitarnya, dengan demikian perusahaan akan
dinilai positif dari lembaga yang bersangkutan.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Audit Lingkungan
Audit lingkungan merupakan instrumen berharga untuk memverifikasi dan
membantu penyempurnaan kinerja lingkungan. Awalnya, audit lingkungan bukan
merupakan pemerikasaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-
undangan, melainkan suatu usaha proaktif yang dilaksanakan secara sadar untuk
mengidentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat
dilakukan upaya-upaya pencegahannya. Sekarang, Audit lingkungan menjadi
kewajiban, karena limbah berbahaya dan beracun tidak hanya dari industri besar,
tetapi juga bisa dari limbah industri kecil dan menengah.
Audit perlu dilakukan secara berkala, untuk menentukan apakah sistem
yang dilaksanakan sudah sesuai dengan pengaturan yang direncanakan dan telah
dijalankan dan dipelihara secara benar, yang pelaksanaannya tergantung dari
pentingnya masalah lingkungan bagi kegiatan perusahaan dan hasil audit
sebelumnya.
Pengertian audit lingkungan sangat luas, dibawah ini adalah berbagai
pengertian dari audit lingkungan :
1. Berdasarkan Kep.Men.LHNo. 42 Tahun 1994, Audit Lingkungan adalah
suatu alat manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik,
terdokumentasi, periodik dan obyektif tentang bagaimana suatu kinerja
organisasi sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan menfasilitasi
kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak
lingkungan dan pengkajian pemanfaatan kebijakan usaha atau kegiatan
terhadap peraturan perundang undangan tentang pengelolaan lingkungan.

2. Berdasarkan UU No. 23 tahun 1997 Suatu proses evaluasi yang dilakukan


penanggungjawab usaha dan atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan
terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan atau kebijaksanaan dan
standar yang ditetapkan oleh penangungjawab usaha atau kegiatan yang
bersangkutan.

3
3. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 3
Tahun 2013 tentang Audit Lingkungan Hidup, Audit lingkungan hidup
adalah evaluasi yang dilakukan untuk menilai ketaatan penanggung jawab
Usaha dan/atau Kegiatan terhadap persyaratan hukum dan kebijakan yang
ditetapkan oleh pemerintah.

Dari beberapa  definisi diatas dapat ditarik kesimpulkan bahwa audit lingkungan
merupakan proses menentukan apakah seluruh atau tingkat yang terpilih dari
suatu organisasi menaati persyaratan peraturan dan kebanyakan serta prosedur
intern.

B. Fungsi Dan Manfaat Audit Lingkungan


Bidang Manajemen
1. Menunjukkan komitmen nyata untuk meningkatkan kinerja lingkungan
organisasi.
2. Dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan kebijakan
manajemen lingkungan atau usaha untuk memperbaiki rencana saat ini.
3. Mengeidentifikasi resiko dan dampak lingkungan, review terhadap
pengendalian manajemen dan sistem yang berkaitan dengan
kewajiban dan risiko lingkungan, baik yang telah lalu maupun saat ini.
4. Review proses dan prosedur operasi pabrik atau standar aktivitas
lingkungan saat ini terhadap operasi dan prosedur manajemen
lingkungan perusahaan, termasuk rencana keadaan bahaya, sistem
monitoring dan pelaporan, serta rencana perubahan di masa depan
terhadap proses dan peraturan.
5. Meningkatkan tindakan atau keinginan yang akan dilakukan
perusahaan atau aktivitas yang sesuai dengan tujuan lingkungan seperti
pengembangan yang berkelanjutan, kepedulia dengan tanggung jawab,
pengelolaan kembali, dan efisiensi penggunaan sumber daya.
Bidang Keuangan
1. Mencegah kerugian finansial melalui remediasi atau penghentian
aktivitas atau penutupan perusahaan, larangan –larangan pemerintah

4
atau publikasi negatif yang disebabkan oeleh pemantauan dan
pengelolaan ligkungan yang buruk.
2. Penilaian impilkasi keuangan yang wajar( fair) terhadap masalah
lingkungan, tanggung jawab dan dampak dari peraturan baru.
3. Menyoroti dimana biaya-biaya bisa dihemat ( seperti melalui
konservasi atau meminimalkan penggunaan energi, memperbaiki
penggunaan material,perubahan proses, penurunan pemborosan,
pemakaian atau pengelolaan kembali.
Bidang hukum
1. Untuk mengukur dan meningkatkan kepatuhan perusahaan atau
ektivitas terhadap peraturan- peraturan bidang lingkungan seperti izin
operasional standar emisi udara dan sebaginya, kemudian menghindari
sanksi hukum terhadap aktivitas atau perusahaan atau pengelolaannya
dibawah hukum dan peraturan yang berlaku.u
2. Menunjukkan ketentuan implementasi manajemen lingkungan dalam
pengadilan jika dibutuhkan
Bidang pelatihan
1. Untuk memfasilitasi praktik lingkungan terbaik serta meningkatkan
kesadaran staf dan manajemen perusahaan mengenai kebijakan dan
tanggung jawab ligkungan.
2. Menilai pelatihan pengetahuan dan kesadaran masayarakat.
Bidang pelaporan
1. Menyajikan lapora audit lingkungan untuk digunakan oleh aktivitas
atau perusahaan, berhubungan dengan komunitas lingkungan,
pemerintah dan media massa.
2. Menyajikan informasi yang dibutuhkan oleh perusahaan asuransi,
institusi keuangan, pemegang saham , dan pihak –pihak
berkepentingan lainnya.
C. Kunci Keberhasilan dalam Audit
Berikut merupakan kunci keberhasilan audit lingkungan :
1. Dukungan pihak pimpinan

5
Pelaksanaan audit lingkungan harus diawali dengan adanya itikad
pimpinan usaha atau kegiatan. Usaha atau kegiatan dan proses audit dapat menjadi
sangat kompleks dan pelaksanaan audit lingkungan menjadi tidak efektif bila
tidak ada dukungan yang kuat dari pimpinan usaha atau kegiatan. Selain itu tim
auditor harus pula diberi keleluasan untuk mengkaji hal-hal yang sensitif dan
berpotensi menimbulkan dampak linkungan.
2. Keikutsertaan semua pihak
Keberhasilan audit lingkungan ditentukan pula oleh keikutsertaan dan
kerjasama yang baik dari semua pihak dalam usaha atau kegiatan yang
bersangkutan, mengingat kajian terhadap kinerja lingkungan akan meliputi semua
aspek dan pelaksanaan tugassecara luas.
3. Kemandirian dan obyektifitas auditor
Tim audit lingkungan harus mandiri dan tidak ada keterikatan dengan
usaha atau kegiatan yang diaudit. Apabila tidak,maka obyektifitas dan kredibilitas
akan diragukan. Pada umumnya, kemandirian auditor diartikan bahwa tim auditor
harus dilaksanakan oleh orang di luar usaha atau kegiatan yang diaudit.
4. Kesepakatan tentang tata laksana dan lingkup audit
Harus ada kesepakatan awal antara pimpinan usaha atau kegiatan dengan
tim auditor tentang lingkup audit lingkungan yang akan dilaksanakan.
D. Jenis-jenis Audit Lingkungan
1. Audit tanggung jawab lingkungan
Audit ini sering dilakukan sebagai pendahuluan untuk menilai kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kepatuhannya terhadap ketentuan dan peraturan
lingkungan yang berlaku. Audit yang termasuk dalm kelompok audit ini adalah :
 Audit kepatuhan
Merupakan audit yang paling umum dilakukan dalam audit lingkungan.
Audit ini merupakan proses verifikasi terhadap tingkat kemampuan
fasilitas dalam memenuhi ketentuan undang –undang lingkungan ,
peraturan , batas emisi,dan sebagainya.
 Audit kewajiban resiko operasional

6
Berkonsentrasi pada kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi dari
aktivitas berbagai fungsi operasi. Kepatuhan terhadap peraturan tidak
dapat mengurangi kewajiban yang seharusnya terhadap risiko operasional.
 Audit keselamatan dan kesehatan kerja.
Merupakan bagian dari audit kesehatan dan keselamatan lingkungan,
meliputi penilaian terhadap kecukupan alat pengamanan pekerja (alat
keamanan kerja seperti sepatu , kacamata, helm dan sebagainya)
2. Audit manajemen lingkungan
Audit ini memberikan perhatian yang sangat tinggi terhadap sistem
manajemen lingkungan yang diterapkan perusahaan sebagai pedoman bagaimana
operasi dapat berjalan secara efektif dan efisien. Audit yang termasuk dalam
kelompok audit ini adalah sebagai berikut.
 Audit Perusahaan
Audit ini merupakan inisiatif dari manajemen puncak perusahaan induk
dan memberikan perhatian terhadap struktur organisasi, wewenangdan
tanggung jawab, implementasi kebijakan , kesadaran dan komunikasi. Hal
ini memberikan kepastian kepada manajemen puncak bahwa tujuan dan
sasarannya dapat terimplementasikan melalui struktur yang dimiliki oleh
perusahaan.
 Audit Sistem
Melakukan pengujia terhadap perbeedaan antara sistem dengan kebijakan
dan standar- standar yang berlaku seperti ISO 14001
 Audit kebijakan
Melakukan review dan menilai kembali relevansi kebijakan, mengingat
perkembangan yang terjadi di dalam dan di luar perusahaan.
3. Audit ativitas lingkungan
Audit ini mencakup penilaian terhadap permasalahan - permasalahan
manajemen dan pemilihan teknik pengelolaan lingkungan. Audit yang termasuk
dalam kelompok audit ini adalah sebagai beriut :
 Audit lingkungan lokasi pabrik
 Audit limbah
 Audit produk

7
 Audit lintas batas
E. Tahap Pelaksanaan Audit
1. Pendahuluan
Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang
dilaksanakan, jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor.
2. Pra-audit
Kegiatan pra-audit merupakan bagian penting dalam prosedur audit
lingkungan. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan
keberhasilan pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut. Informasi
yang diperlukan pada tahap ini meliputi informasi rinci mengenai aktifitas
dilapangan, status hukum, struktur organisasi, dan lingkup usaha atau
kegiatan yang akan diaudit. Aktifitas pra-audit juga meliputi pemilihan tata
laksana audit, penentuan tim auditor, dan pendanaan pelaksanaan kegiatan
audit..Pada saat ini, tujuan dan ruang lingkup audit.Harus telah disepakati.
3. Audit (Kegiatan lapangan)
a. Pertemuan Pendahuluan
Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah mengadakan
pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk mengkaji tujuan
audit, tata Laksana, dan jadwal kegiatan audit.
b. Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan dilapangan dilaksanakan setelah pertemuan pendahuluan.
Tim audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan usaha yang
akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang memerlukan
perhatian secara khusus. Dengan melaksanakan pemeriksaan lapangan,
tim auditor dapat menemukan hal-hal yang terkait erat dengan kegiatan
audit. Namun Belum teridentifikasi dalam perencanaan. Fase ini disebut
juga tour pengenalan fasilitas teknis.
c. Pengumpulan Data
Data dan informasi yang dikumpulkan selama audit. Lingkungan akan
mencakup dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha atau
kegiatan, catatan dan pengamatan tin auditor, hasil sampling dan
pemantauan, foto-foto, rencana, diagram, kertas kerja dan hal-hal lain

8
yang berkaitan. Informasi tersebut harus terdokumentasi dengan baik
atau mudah ditelusuri kembali. Tujuan utama pengumpulan data adalah
untuk menunjang dan merupakan dasar bagi pengujian hasil temuan
audit lingkungan.Penyelenggaraan interview terhadap orang yang
dianggap mengetahui proses operasi ditiap bagian merupakan suatu
langkah yang umum digunakan pada pengumpulan data ini.
d. Pengujian (verifikasi)
Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang disajikan
oleh tim auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. Dokumentasi yang
dihasilkan oleh tim auditor haurs menunjang semua pernyataan, atau
telah teruji melalui pengamatan langsung oleh tim auditor.Dalam
menguji hasil temuan audit., tim auditor harus menjamin bahwa
dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan sah. Oleh
karena itu tata Laksana harus menentukan tingkat pengujian data yang
dibutuhkan, atau harus ditentukan oleh tim auditor.Verifikasi ditentukan
untuk seluruh informasi yang diperoleh melalui data check, interview
untuk cross checking denngan seluruh level pekerja, dan sampling
verifikasi lapangan.
e. Evaluasi Hasil Temuan
Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan dan tata
laksana yang telah disetuji untuk menjamin bahwa semua isu/masalah
telah dikaji. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga
hasil temuan telah ditunjang oleh data dan uji secara tepat.
f. Pertemuan Akhir
Setelah penelitian lapangan selesai, tim auditor haurs memaparkan hasil
temuan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi. Pertemuan ini akan
mendiskusikan berbagai hal yang belum tersedia. Tim auditor harus
mengkaji hasil temuannya secara garis besar dan menentukan waktu
penyelesaian laporan akhir.Seluruh dokementasi selama penelitian
harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha atau kegiatan.
4. Pasca audit

9
Tim auditor akan mempunyai laporan tertulis secara lengkap sebagai
hasil pelaksanaan audit lingkungan. Laporan tersebut juga mencakup
pemaparan tentang rencana tindak lanjut dan rekomendasi terhadap isu-isu
lingkungan yang diidentifikasi.
5. Aktivitas Pra dan Setelah Audit Lingkungan
a. Aktivitas pra audit lingkungan
Proses audit lingkungan dimulai dengan sejumlah aktivitas
sebelum audit ditempat aktual terjadi. Aktivitas-aktivitas tersebut yaitu
pemilihan fasilitas yang diaudit, jadwal dari fasilitas yang diaudit,
pemilihan timaudit, pengembangan dari suatu rencana audit,
mendefinisikan ruang lingkup audit, pemilihan topik yang prioritas untuk
dimasukkan, memodivikasi program audit dan mengalokasi sumber daya
tim audit.Audit ditempat aktual secara tipikal terdapat 5 langkah dasar,
yaitu:
1) Memahami sistem dan prosedur manajemen internal
Pemahaman auditor biasanya dikumpulkan dari berbagai sumber,
misalnya diskusi staff, kesioner, kunjungan pabrik dan dalam kasus
tertentu, suatu pengujian verifikasi terbatas dilakukan untuk membantu
mengkonfirmasikan pemahaman awal auditor. Auditor biasanya mencatat
pemahamannya dalam suatu bagan arus, uraian naratif atau gabungan dari
keduanya agar dapat mempunyai suatu deskripsi yang tertulis. Tujuan
dasar dalam langkah ini untuk memahami berbagai cara memperhatikan
lingkungan yang dikelola. Dalam kelanyakan organisasi, banyak aspek
dari sistem manajemen lingkungan internal tidak didokumentasikan secara
tertulis. Namun sistem manajemen yang terpilih dapat didokumentasikan
dalam detail yang cukup untuk memberikan suatu pemahaman dan
prosedur-prosedur dasar rencana.
2) Menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan
Auditor mencari indicator - indikator seperti tanggungjawab yang
secara jelas didefinisikan, suatu sistem otorisasi yang memadai, kesadaran
dan kapabilitas personil, dokumentasi dan pencatatan, serta verifikasi
internal. Jika disain manajemen lingkungan internal dinilai sehat (yaitu

10
hasil yang diterima tercapai, apabila sistem berfungsi seperti yang
didisain), maka langkah audit berikutnya dapat memfokuskan pada
efektifitas yaitu disain diimplementasikan, dan sejauhmana system dalam
kenyataan telah dilaksanakan seperti yang dikehendaki. Namun, apabila
disain dari sistem intrenal tidak cukup sehat untuk memastikan hasil yang
dikehendaki, langkah audit berikutnya harus memfokuskan pada hasil
lingkungan daripada sistem manajemen internal.
3) Menyimpulkan bukti audit
Kelemahan-kelemahan yang dicurigai dalam sistem manajemen
dikonfirmasi dalam tahap ini, sistem yang tampak sehat diuji untuk
membuktikan bahwa sistem tersebut berfungsi sesuai dengan yang
direncanakan dan digunakan secara konsisten.Bukti audit dapat
dikumpulkan melalui penyelidikan (seperti kuesioner formal dan kuesioner
tidak formal), pengamatan dan pengujian (seperti menelusuri kembali data,
memverifikasi jejal kertas). Tim audit harus mengidentifikasi dan
kemudian memverifikasi aktivitas tersebut dalam proses manajemen
lingkungan yang dapat memberikan pandangan secara mendalam
mengenai fungsi sistem secara keseluruhan. Bukti audit dapat berupa
dalam bentuk fisik, dokumen atau keadaan.
4) Menilai temuan audit
Pengamatan audit dan temuan dinilai, tujuannya dapat dimengerti
dan mengintegrasikan temuan-temuan dan observasi dari setiap anggota
tim, kemudian menentukan disposisi akhir temuan dan observasi akan
dimasukkan ke dalam laporan audit yang formal atau hanya membawa
pada perhatian dari manajemen fasilitas. Temuan audit dan observasi dapat
diorganisasikan untuk menentuka temuan yang umum, dapat mempunyai
signifikasi yang lebih besar daripada bila dipandang secara individual.
Dalam menilai temuan audit, anggota tim khususnya pemimpin tim,
menentukan apakah bukti audit yang dimiliki cukup untuk mendukung
temuan audit.
5) Melaporkan temuan audit

11
Proses pelaporan audit lingkungan sering dimulai dengan diskusi
yang tidak formal antara auditor dan koordinator lingkungan fasilitas
ketika penyimpanan diketahui. Temuan lebih jauh akan diklarifikasi ketika
audit sedang berlangsung dan kemudian dilaporkan kepada manajemen
fasilitas selama penyelesaian audit atau konferensi penutupan. Selama
pertemuan, tim audit mengkomunikasikan semua temuan dan pengamatan
yang diketahui selama audit dan menunjukkan item-item mana yang akan
muncul dalam laporan audit yang formal. Tujuan pengunaan laporan audit
mencakup memberikan informasi kepada manajemen, memprakarsai
tindakan korektif, dan menyediakan dokumentasi audit. Laporan audit
memberikan kaitan yang cukup untuk seluruh penelaahan yang dilakukan
sehinggam kerangka kerja manajemen yang ada dapat menentukan apa,
apabila ada, tindakan-tindakan yang diperlukan.
b. Aktivitas setelah audit lingkungan (post environmental audit
activities)
Proses audit tidak hanya berakhir pada simpulan dari audit
ditempat. Pemimpin tim audit menyiapkan suatu laporan sementara
mengenai temuan dan observasi dalam dua minggu dari audit ditempat.
Laporan sementara ini dapat ditelaah oleh manajemen fasilitas, dan lain-
lain sebelum suatu laporan akhir diterbitkan.
Ketika laporan akhir disiapkan, proses perencanaan tindakan
biasanya dimulai. Proses mencangkup menentukan lokasi yang potensial,
menyiapkan rekomendasi, memberikan tanggung jawab untuk tindakan
korektif dan menetapkan jadwal. Langkah terakhir dalam proses audit
secara keseluruhan dimulai dengan tindak lanjut terhadap rencana
tindakan untuk memastikan bahwa seluruh kekurangan dalam
kenyataannya telah diperbaiki.
F. Sistem Manajemen Lingkungan
Sistem manajemen lingkungan ini sebagian besar diadopsi dari SNI 19-
14001-2005, yang merupakan terjemahan dari ISO 14001-2004 tentang Audit
Manajemen Lingkungan.
G. Persyaratan Sistem Manajemen Lingkungan

12
Persyaratan Umum
Organisasi harus menetapkan, mendokumentasikan, menerapkan,
memelihara dan memperbaiki sistem manajemen lingkungan secara
berkelanjutan sesuai dengan persyaratan standar ini dan menentukan
bagaimana organisasi akan memenuhi persyaratan tersebut. Organisasi
harus menetapkan dan mendokumentasikan lingkup sistem manajemen
lingkungannya.
Kebijakan Lingkungan
Standar ISO 14001 berisi persyaratan sistem manajemen, atas
dasar proses siklus yang dinamis dari “merencanakan, menerapkan,
memeriksa dan mengkaji”. Sistem manajemen ini memungkinkan
perusahaan untuk :
 Membuat kebijakan lingkungan yang sesuai bagi organisasi
 Mengidentifikasi aspek lingkungan yang timbul dari kegiatan
organisasi untuk menentukan dampak lingkungan yang penting
 Mengidentifikasi persyaratan undang-undang dan peraturan yang
relevan
 Mengidentifikasi prioritas dan menentukan tujuan dan sasaran
lingkungan yang sesuai
 Membuat struktur dan program untuk menerapkan kebijakan dan
mencapai tujuan dan sasaran
 Memberi kemudahan bagi perencanaan, pengendalian, pemantauan,
tindakan koreksi, kegiatan audit dan pengkajian untuk menjamin
agar kebijaknnya sesuai dan sml tetap cocok
 Mampu menyesuaikan terhadap situasi yang berubah.
Untuk memudahkan membuat rumusan kebijakan lingkungan
dapat dilakukan
tahap-tahap :
1. Tanamkan komitmen
2. Identifikasikan kondisi pada saat ini: “dimana kita sekarang
berada?”

13
3. Buat kebijakan lingkungan, yang merupakan suatu deklarasi yang
ditandatangani Direktur Utama perusahaan dan direktur lainnya.
Kebijakan lingkungan ini bisa bersifat umum ataupun spesifik.
Perencanaan
Tujuan tahap perencanaan atau rencana tindakan (action plan) adalah
menciptakan kondisi sedemikian sehingga perusahaan dapat melaksanakan
kegiatannya sesuai dengan kebijakan lingkungan, yang didasarkan pada
informasi yang benar dan usulan internal ataupun harapan perusahaan
tentang kinerja lingkungan. Perencanaan dalam ISO 14001 mensyaratkan
agar perusahaan:
 Membuat dan memelihara prosedur untuk mengidentifikasi aspek
lingkungan dari kegiatan, produk atau jasa
 Membuat dan memelihara prosedur untuk mengidentifikasi
peraturan perundang-undangan dan persyaratan lainnya yang
dilaksanakan oleh perusahaan
 Membuat dan memelihara tujuan dan sasaran lingkungan yang
terdokumentasi. Pada setiap bagian dan tingkat yang relevan dalam
perusahaan
 Membuat dan memelihara program lingkungan untuk memenuhi
tujuan dan sasaran lingkungan
H. Penerapan dan Operasi
Bagian yang penting dari SML adalah pelaksanaannya di lapangan. Karena
semua aspek yang tercantum sebagai prosedur maupun dokumen harus
dilaksanakan. Bisa saja perusahaan mempunyai perencanaan SML yang sangat
bagus, namun mendapat masalah karena sistem penerapan dan operasinya yang
belum memadai.
Dalam ISO 14001, penerapan dan operasi SML perusahaan akan
dievaluasi berdasarkan 7 unsur, yaitu :
 Struktur dan tanggungjawab
1. Peranan, tanggungjawab dan kewenangan harus ditentukan,
didokumentasikan dan dikomunikasikan untuk memungkinkan
pelaksanaan manajemen lingkungan secara efektif

14
2. Manajemen harus menyediakan sumberdaya yg penting untuk
penerapan dan pengendalian sistem menejemen lingkungan. Sumber
daya tsb meliputi sumberdaya manusia, ketrampilan khusus,
sumberdaya teknologi dan keuangan
3. Manajemen puncak organisasi harus menunjuk wakil khusus dari
manajemen tanpa memandang tanggungjawab lainnya
 Pelatihan, kepedulian dan kompetensi
Organisasi harus mengidentifikasikan kebutuhan pelatihan
 Komunikasi
1. Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk komunikasi
internal antara berbagai tingkat dan fungsi dari organisasi
2. Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk menerima,
mendokumentasikan dan menanggapi komunikasi yang sesuai dari
pihak luar yg terkait
3. Organisasi harus memperhatikan proses untuk komunikasi eksternal
tentang aspek lingkungan yang penting dan merekam keputusannya
 Dokumentasi SML
Organisasi harus membuat dan memelihara informasi dalam media
cetak atau elektronik untuk : Menerangkan unsur-unsur intisistem
manajemen dan interaksinya, Memberikan petunjuk dokumentasi yg
terkait
 Pengendalian dokumen
Dokumen yang diperlukan oleh sistem manajemen lingkungan dan
standar ini harus
Dikendalikan. Rekaman adalah jenis dokumen khusus dan harus
dikendalikan.
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur
untuk:
1. Menyetujui dokumen sebelum diterbitkan;
2. Meninjau dan memutakhirkan seperlunya serta menyetujui-ulang
(reapprove)
3. Dokumen;

15
4. Memastikan agar perubahan dan status revisi dokumen terakhir
dapat
5. Diidentifikasi;
6. Memastikan agar versi dokumen yang berlaku tersedia di tempat
penggunaan;
7. Memastikan agar dokumen tetap terbaca dan dapat segera
diidentifikasi secara
8. Mudah;
9. Memastikan agar dokumen yang berasal dari pihak eksternal yang
ditetapkan oleh
10. Organisasi sebagai dokumen penting untuk perencanaan dan
operasi sistem
11. Manajemen lingkungan, diidentifikasi dan penyebarannya
dikendalikan;
12. Mencegah penggunaan dokumen kadaluwarsa dan menerapkan
identifikasi yang
13. Cocok pada dokumen tersebut bila masih disimpan untuk maksud
tertentu.
 Pengendalian operasional
Organisasi harus mengidentifikasi dan merencanakan operasi yang
terkait dengan aspek lingkungan penting yang telah diidentifikasi,
sesuai dengan kebijakan, tujuan dan sasaran lingkungan agar operasi
tersebut dilaksanakan pada kondisi tertentu, dengan:
1. Menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur
terdokumentasi untuk mengendalikan situasi yang tidak sesuai
dengan kebijakan, tujuan dan sasaran lingkungan apabila prosedur
tersebut tidak ada; dan
2. Menetapkan kriteria operasi dalam prosedur; dan
3. Menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur yang terkait
dengan aspek lingkungan penting yang telah diidentifikasi pada
barang dan jasa yang digunakan oleh organisasi serta

16
mengkomunikasikan prosedur dan persyaratan yang berlaku
kepada pemasok, termasuk kontraktor.
 Kesiagaan dan tanggap darurat
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur
untuk mengidentifikasi potensi situasi darurat dan kecelakaan, yang
dapat menimbulkan dampak lingkungan serta bagaimana organisasi
akan menanggapinya. Organisasi harus melakukan tindakan terhadap
situasi darurat dan kecelakaan yang terjadi serta mencegah atau
mengatasi dampak lingkungan negatif yang ditimbulkan. Organisasi
harus meninjau prosedur kesiagaan dan tanggap darurat secara berkala
dan apabila diperlukan organisasi menyempurnakan prosedur tersebut,
khususnya setelah terjadinya kecelakaan atau situasi darurat.
Organisasi juga harus menguji prosedur tersebut secara berkala apabila
dapat dilaksanakan.
 Pemeriksaan
Pemantauan dan pengukuran
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk
secara berkala memantau dan mengukur karakteristik pokok operasinya yang
dapat menimbulkan dampak lingkungan penting. Prosedur tersebut harus
termasuk pendokumentasian informasi untuk memantau kinerja, pengendalian
operasional yang berlaku dan pemenuhan tujuan dan sasaran lingkungan
organisasi. Organisasi harus memastikan agar peralatan pemantauan dan
pengukuran dikalibrasi atau diverifikasi, digunakan dan dipelihara serta organisasi
harus menyimpan rekaman yang terkait.
Evaluasi penaatan
Sesuai dengan komitmen terhadap penaatan, organisasi harus menetapkan,
menerapkan dan memelihara prosedur untuk secara berkala mengevaluasi
penaatan terhadap persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Organisasi harus mengevaluasi penaatan terhadap ketentuan lain yang diikuti
organisasi. Organisasi dapat menggabungkan evaluasi tersebut dengan evaluasi
terhadap penaatan peraturan perundang-undangan, atau menetapkan prosedur

17
yang terpisah. Organisasi harus menyimpan rekaman hasil evaluasi berkala
tersebut.
Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur
untuk menangani ketidaksesuaian yang potensial maupun yang nyata terjadi serta
melaksanakan tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan. Prosedur tersebut
harus menjelaskan persyaratan untuk:
 Mengidentifikasi dan melaksanakan koreksi terhadap ketidaksesuaian dan
melaksanakan tindakan untuk mengatasi dampak lingkungan yang timbul;
 Menyelidiki ketidaksesuaian, menemukan penyebabnya dan
melaksanakantindakan untuk menghindari terulangnya ketidaksesuaian;
 Mengevaluasi keperluan untuk melaksanakan tindakan pencegahan
ketidaksesuaian dan menerapkan tindakan yang memadai untuk
menghindariterjadinya ketidaksesuaian;
 Merekam hasil tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan yang telah
dilaksanakan; dan
 Meninjau efektivitas tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan yang
telah dilaksanakan.
Tindakan yang dilaksanakan harus memadai terkait dengan besarnya masalah dan
dampak lingkungan yang dihadapi. Organisasi harus memastikan agar
dokumentasi sistem manajemen lingkungan disesuaikan.
Pengendalian rekaman
Organisasi harus menetapkan dan memelihara rekaman yang diperlukan
untuk menunjukkan pemenuhan persyaratan sistem manajemen lingkungannya
dan standar ini, serta hasil yang dicapai. Organisasi harus menetapkan,
menerapkan dan memelihara prosedur untuk pengidentifikasian, penyimpanan,
perlindungan, pengambilan, penahanan (retention), dan pembuangan rekaman.
Rekaman harus tetap terbaca, teridentifikasi dan terlacak.
Audit internal
Organisasi harus memastikan bahwa audit internal terhadap sistem
manajemen lingkungan dilaksanakan pada jangka waktu yang direncanakan
untuk:

18
 Menentukan apakah sistem manajemen lingkungan
Memenuhi pengaturan yang direncanakan untuk manajemen
lingkungan termasuk persyaratan standar ini; dan telah diterapkan dan
dipelihara secara memadai, serta
 Menyediakan informasi hasil audit bagi manajemen
Program audit harus direncanakan, ditetapkan, diterapkan dan
dipelihara oleh organisasi, dengan mempertimbangkan tingkat kepentingan
berbagai operasi dari sisi lingkungan serta hasil audit sebelumnya. Prosedur
audit harus ditetapkan, diterapkan dan dipelihara, yang memuat:
- Tanggungjawab dan persyaratan untuk perencanaan dan
pelaksanaan audit, pelaporan hasil dan penyimpanan rekaman
yang terkait;
- Penentuan kriteria, lingkup, frekuensi dan metode audit.
- Pemilihan auditor dan pelaksanaan audit harus memelihara
objektivitas dan kenetralan proses audit.
 Tinjauan manajemen
Manajemen puncak harus meninjau sistem manajemen lingkungan
organisasi, pada jangka waktu tertentu, untuk memelihara kesesuaian,
kecukupan dan efektivitas sistem yang berkelanjutan. Tinjauan harus termasuk
mengkaji kesempatan untuk perbaikan dan keperluan untuk melakukan
perubahan pada sistem manajemen lingkungan, termasuk kebijakan
lingkungan, tujuan dan sasaran lingkungan. Rekaman tinjauan manajemen
harus disimpan. Masukan kepada tinjauan manajemen harus termasuk:
- Hasil audit internal dan evaluasi penaatan terhadap persyaratan
peraturan perundang-undangan dan persyaratan lain yang diikuti
organisasi;
- Komunikasi dari pihak eksternal yang berkepentingan, termasuk
keluhan;
- Kinerja lingkungan organisasi;
- Tingkat pencapaian tujuan dan sasaran;
- Status tindakan perbaikan dan pencegahan;
- Tindak lanjut tinjauan manajemen sebelumnya;

19
- Situasi yang berubah, termasuk perkembangan pada persyaratan
peraturan perundang-undangan dan persyaratan lain yang terkait
dengan aspek lingkungan; dan
 Rekomendasi perbaikan.
Keluaran tinjauan manajemen harus termasuk setiap keputusan dan
tindakan terkait dengan perubahan pada kebijakan, tujuan dan sasaran
lingkungan serta unsur lain system manajemen lingkungan, sesuai dengan
komitmen pada perbaikan berkelanjutan.

20
BAB III
PENUTUP

Secara ringkas audit lingkungan adalah sistim evaluasi yang dilakukan


secara sistematis dan obyektif terhadap pengelolaan dampak yang ada maupun
dampak yang potensial dari kegiatan suatu organisasi atas lingkungan. Apa yang
dievaluasi biasanya termasuk pengelolaan lingkungan dari organisasi itu,
pentaatan terhadap peraturan dalam pengelolaan lingkungan seperti emisi ke
udara, pembuangan ke air, pengelolaan limbahnya, sistim dokumentasi, pelaporan,
indikator kinerja, sistim tanggap darurat dan lain sebagainya. Dalam
melaksanakan audit lingkungan ada beberapa unsur dalam strategi pendekatan
audit lingkungan yang harus diperhatikan oleh auditor. Selain itu, pelaksanaan
audit lingkungan memiliki tujuan, fungsi, dan manfaat baik bagi perusahaan
maupun lingkungan. Dengan melakukan audit lingkungan berarti perusahaan
memiliki tanggungjawab social untuk turut menjaga kelestarian lingkungan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Bayangkara, IBK. 2016. Audit Manajemen. Jakarta : Salemba Empat


http://www.kan.or.id/index.php/programs/sni-iso-iec-17021/lembaga-sertifikasi-
sistem-manajemen-lingkungan
http://personal.its.ac.id/files/material/2643-Joni%20HermanaS2_Buku
%20SML_BAB%20V.pdf

22
CONTOH KASUS AUDIT LINGKUNGAN

Barito Pasific Timber Tbk, dan PT. Binajaya Roda Karya telah
memperoleh akreditasi ISO 14001, standar internasional untuk sistem manajemen
lingkungan (EMS). Akreditasi diberikan pada tanggal 20 maret 2000 dan berlaku
selama 3 tahun dari tanggal tersebut “sesuai dengan implementasi
berkesinambungan yang memuaskan dari sistem manajemen operator” (BVQIISO
14001 Sertifikat 66596). BVQI (Bureau Verlitas Quality Internasional)
melaksanakan audit sertifikasi dan akan terus melaksanakan audit-audit eksternal
EMS pada interval 6 bulanan.
Sebagai bagian dari proses ISO 14001, perusahaan ini memperbaiki
penyelanggaraan lingkungan perusahaannya dan menyusun prosedur kerja untuk
mencapai tujuan ini. Juga sebagai bagian dari proses tersebut, perusahaan telah
melaksanakan dan akan terus melaksanakan audit internal untuk memastikan
EMS diimplementasikan secara efektif, untuk mengidentifikasi cara-cara yang
menjamin perbaikan yang berkesinambungan dari penyelenggaran lingkungan
perusahaan.
Meskipun tinjauan lingkungan awal (Initial Environmental Review) yang
dilaksanakan sebagai bagian dari proses ISO 14001, departemen lingkungan
perusahaan mengeluarkan laporan foto yang memperinci contoh-contoh dari
kegiatan manajemen tidak baik yang mendapat perhatian selama pemeriksaan.
Laporan ini didistribusikan kepada kepala-kepala departemen dengan instruksi
agar memperbaiki keadaan ini. Audit internal dilaksanakan bulan Juli 2000 yang
berlaku sebagai mekanisme untuk menjamin bahwa semua perbaikan telah
dilakukan dan mengidentifikasi perbaikan yang masih belum selesai atau baru.
Tujuannya adalah untuk membuat laporan foto lanjutan berdasarkan audit bulan
Juli. Tetapi sejauh ini belum tercapai. Selama audit juga banyak contoh
pelaksanaan manajemen tidak bagus yang didapat dari laporan foto, ternyata
masih dijumpai di lingkungan perusahaan.
BVQI melaksanakan audit eksternal EMS dan selama itu ada beberapa
poin persoalan yang mendapat perhatian, yaitu:
a. Kontrol debu yang tidak layak,

23
b. Total Padatan Tersuspensi (TSS) di log pond masih terlalu tinggi.
Rencana-rencana kerja untuk mengurangi polusi log pond perlu diperbaiki,
c. Mengurangi limbah kayu dan memperbaiki tingkat pemulihan kayu di
areal utama yang memerlukan perbaikan segera, dan
d. Tidak adanya bukti pengawasan emisi cerobong asap, bau atau
pengawasan vibrasi.
Semenjak audit eksternal telah ada tinjauan internal dari persoalan-
persoalan ini, yang menghasilkan saran perbaikan dan mengidentifikasi orang-
orang yang bertanggung jawab melaksanakan perbaikan tersebut. Masih belum
ada tindakan sampai sekarang dan persoalan-persoalan ini masih terbuka.
Penerimaan ISO 14001 seharusnya dipandang sebagai langkah positif
dalam menjamin peningkatan penyelenggaraan lingkungan PT. Barito Pacific
Timber Tbk. dan PT. Binajaya Roda karya. Namun demikian, yang harus
dilaksanakan untuk menjaga akreditasi adalah mengambil langkah untuk
meningkatkan kegiatan-kegiatan manajemen di lapangan secara
berkesinambungan,terutama di tempat- tempat dimana limbah kayu menjadi
perhatian.

24
Bab I
Informasi Latar Belakang
Barito Pacific Timber Tbk. dan PT. Binajaya Rodakarya merupakan
sebuah perusahaan yang terletak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang
bergerak dalam bidang kehutanan dan perkayuan. Tujuan dilakukannya audit ini
adalah :
a. Untuk melakukan audit lingkungan teknis dari berbagai aktifitas
yang sedang berlangsung di PT. Barito Pacific Timber Tbk. dan
PT.Binajaya Rodakarya.
b. Untuk Manajemen lapangan bisa menggunakan temuan audit ini
untuk meningkatkan penyelenggaraan lingkungan dari operasi-
operasi tersebut.

Bab II
Temuan Audit
Berikut ini adalah temuan-temuan auditor antara lain :
a. Limbah Kayu
Limbah kayu merupakan persoalan kritis di PT. Barito Pacific Timber Tbk.
dan PT. Binajaya Rodakarya, dan diidentifikasi sebagai salah satu dari persoalan-
persoalan utama yang memerlukan perhatian. Selama tinjauan lapangan terdapat
banyak buangan dari sumber alamiah, yaitu kayu, selama proses produksi. Hal ini
meliputi :
(1) Kayu yang dibuang selama proses penggergajian dalam jumlah banyak
(2) Jumlah serbuk kayu hasil penggergajian yang cukup banyak masih belum
dapat diatasi
(3) Jumlah kayu gelondongan yang membusuk sebelum dipakai.
(4) Sejumlah besar produk akhir, terutama kayu papan, ditumpuk di tempat
terbuka dalam jangka waktu yang lama dan kemungkinan tidak bisa dijual.
b. Air
Perusahaan PT. Barito Pacific Timber Tbk. dan PT. Binajaya Rodakarya
letaknya berdekatan dengan beberapa anak sungai, yaitu sungai Barito dan sungai

25
Andjir Soebardjo. Areal pabrik dan daerah luar kota di sekelilingnya rendah
letaknya dan mudah kebanjiran.
Selama tinjauan ke lokasi ditemukan adanya kontaminasi hidrokarbon di
sungai Barito sekitar log pond (areal perairan) dan areal penggergajian. Terdapat
sejumlah minyak dan pelumas di bawah peralatan ini. Yang nyatanya
kesehariannya sungai Barito juga dipakai para staf untuk mandi dan mencuci.
Sabun dan deterjen akan mengkontaminasi sungai.
c. Kualitas Udara
Debu merupakan persoalan diberbagai lokasi, tidak ada pengawasan debu
yang dilaksanakan saat ini terlebih lagi debu membahayakan lingkungan dan
kesehatan serta keamanan. Sejumlah cerobong asap di lapangan berhubungan
dengan ketel yang menjalankan diesel, pembakaran limbah kayu dan debu
penggergajian, dan juga tempat pembakaran buangan limbah. Cerobong-cerobong
ini menghasilkan asap pencemar dalam jumlah yang besar dan karenanya
memerlukan pengawasan.
Areal luas yang sebelumnya digunakan sebagai lahan penimbunan kulit
kayu dan limbah kayu sebagai bagian dari upaya reklamasi sebagian tanah rawa di
lokasi, dibakar. Aktifitas ini menyebarkan banyak asap ke area lingkungan
masyarakat sekitar dan ke atmosfer.

Bab III
Rekomendasi

Hasil audit yang dilakukan menemukan beberapa kelemahan yang harus


segera menjadi perhatian pihak manajemen di masa yang akan datang.
Rekomendasi yang diberikan :
a. Limbah kayu
Hal ini harus menggabungkan tinjauan menyeluruh dari rata-rata
pemerolehan kayu berdasarkan semua proses dari saat kedatangan kayu sampai
pada pengolahan akhir, dan juga keefektifan mesin pengolahan yang digunakan.
Hasil-hasil tinjauan ini bisa dipakai untuk mengidentifikasikan areal-areal yang
mempunyai buangan terbesar dan bisa dipakai untuk meningkatkan rata-rata
pemerolehan. Distribusi kayu harus juga diperhatikan, karena sejumlah besar kayu

26
olahan di lapangan nampaknya ditimbun dalam jangka waktu lama, yang terbuka
bagi elemen-elemen tersebut. Akibatnya, tumpukan-tumpukan ini akan berkurang
nilainya. Dalam menangani permasalahan limbah berupa hasil penggergajian
seharusnya dapat diatasi dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan lain yang
membutuhkan bakan baku berupa serbuk kayu hasil penggergajian tersebut.
b. Air
(1) Pengujian Kualitas Air di Saluran Air
Pengujian kualitas air di saluran air permukaan dekat areal-areal
pemrosesan menunjukkan tingkat polutan yang meninggi. Sebagai alternatif, air
limbah dari parit-parit (saluran air) penampungan ini harus menjadi bagian dari
sistem drainase yang tertutup dan dialihkan ke pusat pengolahan limbah cair di
lapangan.
(2) Pemeliharaan Saluran Air Permukaan
Saluran air permukaan di lokasi pabrik diketahui memiliki kotoran dan
lapisan berminyak di beberapa tempat. Saluran-saluran ini langsung berhubungan
ke sungai Barito dan mudah kebanjiran. Jika saluran ini ditutup, penutup betonnya
harus diperbaiki, dan langkah-langkah lanjutan harus diambil karena untuk
menjamin bahwa saluran-saluran ini tidak tercemar. Jika kenyataannya terdapat
polusi di saluran ini, air limbah harus dipindah dan diolah di pusat pengolahan air
limbah.
c. Kualitas udara
(1) Debu
Debu dipandang sebagai masalah di lapangan. Direkomendasikan agar
pengawasan debu dilaksanakan dengan mengimplementasikan prosedur-prosedur
pengurangan jumlah debu yang dapat mencemari udara
(2) Pengawasan Kualitas Udara
Pengawasan kualitas udara harus dilaksanakan dan hasilnya ditindaklanjuti
seperti yang ditentukan, dengan mengurangi jumlah bahan kimia yang dilepaskan
ke atmosfer, terutama formalin.

27
Bab IV
Ruang Lingkup Audit
Sesuai dengan penugasan yang kami terima, audit yang kami lakukan
hanya meliputi masalah yang terjadi di lingkungan sekitar saat dilakukannya
proses produksi pada PT. Barito Pacific Timber Tbk. dan PT. Binajaya Rodakarya.
Audit kami mencakup pemeriksaan terhadap lingkungan sekitar yang letaknya
berdekatan dengan tempat proses produksi.
Saran
Agar audit lingkungan dapat berlangsung dengan efektif, ada 5 elemen
yang harus diperhatikan. Pertama diperlukan komitmen dari perusahaan itu agar
mau terbuka dan jujur dalam memberikan data. Hal tersebut memang agak riskan
mengingat pengusaha biasanya sulit untuk membuka ‘jati dirinya’ karena
persaingan bisnis misalnya. Kedua, adanya Auditor yang mandiri yang tidak
mempunyai kepentingan apapun akan fasilitas yang sedang diaudit. Ini penting
untuk menjaga keobyektifan penilaian, kemandirian auditor harus pula dijaga agar
tidak terpengaruh oleh situasi atau tekanan lainnya ketika mereka melakukan
kunjungan lapangan. Verifikasi prosedur dan pengukuran kinerja, merupakan dua
hal berikutnya dari elemen Audit Lingkungan. Hal ini penting dilakukan agar ada
kepastian bahwa informasi yang didapat benar-benar akurat. Terakhir, harus ada
mekanisme tindak lanjut dari rekomendasi yang didapat selama Audit
Lingkungan. Jika tidak, maka usaha Audit Lingkungan yang telah dilakukan tidak
akan ada hasilnya.

28