Anda di halaman 1dari 16

PELANGGARAN KODE ETIK JURNALISTIK

Makalah

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Etika Profesi

Disusun oleh Kelompok 1:

1. Dimas Bayu Pratama 1702010118


2. Bella Arsy Safitri 1702010158
3. Lisa Mutiara Sari 1702010065
4. Mahardhika Eka Sukma 1702010160
5. Shella Sabilla Veronica

Semester: 6E

FAKULTAS HUKUM
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
UNIERSITAS ISLAM SYEKH YUSUF TANGERANG
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena dengan Rahmat,
karunia, serta taufik, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Pelanggaran Kode Etik Jurnalistik. Kami berterima kasih kepada Bapak Dippo Alam, SH.,
MH. selaku Dosen mata kuliah Etika Profesi yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai Pelanggaran Kode Etik Jurnalistik. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan
dan penulisan memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan masa depan.

Tangerang, 24 April 2020


Daftar Isi

Kata Pengantar.....................................................................................................................................2
Daftar Isi................................................................................................................................................3
BAB I......................................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.....................................................................................................................................4
Latar Belakang...................................................................................................................................4
BAB II.....................................................................................................................................................6
PEMBAHASAN.......................................................................................................................................6
Pengertian, Fungsi dan Peran serta Perkembangan Pers dalam pertumbuhan Indonesia.............6
2.3. Pers Yang Bebas Dan Bertanggung Jawab Sesuai  Kode Etik Jurnalistik Dalam Masyarakat
Demokratis Di Indonesia...................................................................................................................7
PENUTUP.............................................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................................16
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan
kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengelolah dan
menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara dan gambar, serta data dan grafik
maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan
segala jenis uraian yang tersedia.
Kemerdekaan pers yang belum lama dinikmati oleh masyarakat pers Indonesia,
ternyata sudah mendapatkan kritikan yang tajam di mana-mana. begitu banyak media massa
baru diluncurkan dalam jangka waktu yang sangat singkat. Banyak media yang dituduh
hanya memfokuskan pada hal-hal yang sensional dan tidak mengindahkan Kode Etik
Jurnalistik (KEJ) yang mendasar. Jurnalisme yang tidak bertanggung jawab juga
dipersalahkan sebagai salah satu penyebab banyaknya konflik di Indonesia. Masyarakat dan
politisi kini sepakat menuntut bahwa media harus lebih bertanggung jawab.
Kebebasan pers untuk mempublikasikan kejadian-kejadian yang terbuka sepertinya
sudah tidak memiliki batas. Sebuah pemberitaan dalam media massa di kalangan dunia pers,
pers dinilai sudah menyimpang dari kode etik. Praktek kehidupan pers setelah memasuki
gerbang politik yang jauh lebih bebas (liberal) dan kadang sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
Pemberitaan di suatu media massa terhidang begitu luas dan transparan. Untuk melaksanakan
kegiatan hubungan pers yang baik, lembaga atau individu yang terlibat didalamnya
memerlukan pengetahuan yang memadai tentang pers. Sangat mustahil kita bisa memahami
apa dan bagaimana pers itu bila kita tidak memiliki pengetahuannya.
Era reformasi ini, sedemikian bebasnya sehingga banyak orang mengatakan bahwa
pers tidak lagi terikat oleh etika dan tanggung jawab atas kepentingan masyarakat. Kita
sedang berhadapan dengan apa yang dinamakan eupouria (berlebihan) informasi khususnya
dalam dunia jurnalistik. Ruang gerak jurnalistik akan lebih terlihat dan terasa ketika melihat
fenomena kebebasan semua pihak dapat menyalurkan aspirasi dan berpartisipasi dalam dunia
jurnalistik baik itu secara tertulis maupun lisan, bahkan secara bebas.
Wartawan harus memiliki sifat yang jujur, adil, bijaksana, berkepribadian, bermoral,
berpendidikan, terampil dan kreatif, serta berbakat. Wartawan harus selalu berpijak pada
kebenaran dan yang harus selalu diperjuangkan, di samping harus selalu tanggap atau kritis
pada situasi dan kondisi. Tanggap atau kritis terhadap situasi dan kondisi maksudnya adalah
situasi dan kondisi seringkarli sudah menunjukkan sesuatu yang lain adanya dan yang perlu
dilacak atau dipertanyakan. Wartawan harus bisa memisahkan antara berita (News) dengan
opini (Views) saat menyajikan berita.

1.2   Tujuan Penulisan
Tujuan makalah ini kami buat adalah untuk mendidik, melatih, dan menambah wawasan
kami tentang Penyimpangan Kode Etik Jurnalistik dan Upaya Pemerintah dalam
mengendalikan pers. Makalah yang kami buat dengan judul “Penyimpangan Kode Etik
Jurnalistik dan Upaya Pemerintah Dalam Mengendalikan Pers” antara lain:

 Untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepada kelompok kami


 Untuk melatih kekompoakan berdiskusi dengan kelompok
 Menambah wawasan kami tentang dunia pers
 Mengetahui lebih luas tentang penyimpangan kode etik jurnalistik dan upaya
pemerintah dalam mengendalikan pers

Berdasarkan beberapa sub-bagian atas terdoronglah kami untuk membuat makalah ini karena
kami ingin lebih banyak tahu tentang penyimpangan kode etik jurnalistik dan pemerintah
untuk mengendalikan pers yang ada di Indonesia.

1.3 Rumusan Masalah

1. Bagaimana perkembangan pers di Indonesia pada era orde baru?


2. Bagaimana persetujuan dan kontrol pers yang bebas, tetapi harus dipertanggung jawabkan
kepada istana selama orde baru?     
3. Bagaimana perkembangan pers Indonesia pasca reformasi?
4. Apa sistem yang dianut pada sistem pers Indonesia?
5. Bagaimana etika pers di Indonesia?

6. Bagaimana sikap positif terhadap upaya pemerintah dalam mengendalikan kebebasan


pers?     

BAB II
PEMBAHASAN
2. Pengertian, Fungsi dan Peran serta Perkembangan Pers dalam
pertumbuhan Indonesia

2.1 Pengertian Pers

Istilah Pers berasal dari bahasa inggris press yang berarti mesin pencetak. Istilah ini
lebih menekankan pada proses pembuatan dengan menggunakan peralatan. Menurut J.C.T.
Simorangkir, SH. Dalam bukunya yang berjudul hukum dan kebebasan Pers,  ia
menyebutkan sebagai berikut:
a) Pers dalam arti sempit, hanya terbatas pada surat-surat kabar harian, mingguan dan
Majalah.
b) Pers dalam arti luas, selain surat kabar, majallah dan tabloid mingguan, juga
mencakup radio, televisi dan film.

Pers menurut UU Nomor 40 Tahun 1999 adalah lembaga sosial dan wahana
komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi : mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan,
suara, gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan
media massa, media cetak dan media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.

Menurut Lekiston, komunikasi pers mempunyai arti sebagai berikut:


a. Kegiatan percetakan dan penerbitan
b. Usaha pengumpulan dan penulisan serta penyiaran berita
c. Penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, radio dan televisi
d.Orang-orang yang bergerak dalam kejurnalistikan
e. Media penyiaran berita baik berupa surat kabar, majalah, radio, televisi dan internet.

2.2. Fungsi dan Peran Pers

a. Memberi Informasi

Pers mempunyai fungsi untuk memberi informasi atau kabar kepada masyarakat atau
pembaca melalui tulisan-tulisannya pada setiap edisi. Pers memberikan informasi yang
beraneka ragam. Informasi tersebut juga meningkatkan kualitas kehidupan baik dalam bidang
ekonomi, sosial budaya, teknologi, kesehatan, politik, dan sebagainya. Dengan membaca
surat kabar, majalah dan tabloid dan mendengarkan radio,  masyarakat dapat memperoleh
informasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

b. Mendidik

Melalui berbagai macam tulisan atau pesan yang dimuat, pers dapat mendidik
masyarakat atau pembacanya. Dengan demikian, pers mempunyai kontribusi yang penting
dalam memberikan pendidikan dalam kehidupan masyarakat Berbangsa dan bernegara. Demi
mewujudkan kemajuan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
c. Memberikan Kontrol Sosial

Pers ditengah-tengah masyarakat mempunyai peran sebagai kontrol sosial. Dengan


tulisan-tulisan pers dapat melaksanakan atau memberikan kontrol sosial dan menyampaikan
berbagai kritik yang bersifat membangun yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
d. Hiburan

Hampir semua media massa dan media cetak maupun media elektronik memberikan
layanan hiburan kepada warga masyarakat pengguna media tersebut. Agar dapat memberikan
kesenangan para pembaca, sebagai upaya relaksasi dari kejenuhan,menghidupkan kembali
sisi emosional masyarakat,dan memberikan sentuhan pada diri mereka secara alamiah
sehingga bisa menyatu dengan alam.

e. Memotivasi dan Menggerakkan

Pemberitaan atau sajian tertentu dalam media massa akan dapat memotivasi dan
meggerakkan seseorang atau pihak tertentu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu
kegiatan atau perbuatan.

f. Pembentuk Opini Publik

Pers dikonsumsi oleh masyarakat luas, maka pers mampu menciptakan opini atau
pandangan tentang sesuatu. Dengan demikian pers mampu memotivasi dan menggerakan
kekuatan dikalangan masyarakat luas dengan memengaruhi dan menciptakan opini khalayak.
Opini yang bersifat objektif karena pandangan atau penilaian seseorang dengan orang lain
selalu berbeda.

g. Pencipta Wahana Demokratisasi

Pers diyakini mampu menciptakan wahana demokratisasi. Karena melalui pers, orang
atau warga negara dapat mengemukakan pendapat, pandangan dan keinginan untuk diketahui
dan dipahami khalayak serta mendapat perhatian dari pihak pemerintah. Sebaliknya melalui
pers, pemerintah dapat menyampaikan informasi atau mensolisasikan kebijakan-kebijakan
yang di ambil. Maka pers sangat berperan dalam mendidik dan mengarahkan warga
masyarakat untuk berdemokrasi dan menciptakan wahana demokratisasi. .

2.3. Pers Yang Bebas Dan Bertanggung Jawab Sesuai  Kode Etik Jurnalistik
Dalam Masyarakat Demokratis Di Indonesia

Bahwa pertumbuhan pers di Indonesia banyak dipengaruhi oleh model pers liberal khususnya
Amerika Serikat. Namun, pers indonesia diharapkan menunjukkan citra ke-Indonesiannya.
Pers yang bebas dan merdeka serta bertanggung jawab merupakan konsep yang didambakan
dalam pertumbuhan persdi indonesia.

2.3.1 Kebebasan Pers di Indonesia

Pasal 28 UUD 1945 menjamin kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan


pendapat secara lisan dan tulisan.pers merupakan salah satu wahana komunikasi massa yang
mewujudkan kemerdekaan mengeluarkan pendapat secara lisan , tulisan maupun gambar.
Sebagai perbandingan mengenai kebebasan pers, berikut ini dipaparkan kehidupan pers di
negara-negara dengan corak masyarakat dan ideologinya.

A. Pers Liberal, adalah corak pers yang hidup dan berkembang di negara-negara yang
rakyatnya mengagung-agungkan kebebasan individual atau berpaham liberalisme.

B. Pers Komunis, adalah corak kehidupan pers di negara-negara sosialis yang berhaluan
komunis.

C. Pers Otoriter, adalah model kehidupan pers di negara-negara yang pemerintahnya bersifat
otoriter dengan berlandaskan faham fasisme.

D. Pers Pembangunan, istilah ini dimunculkan para jurnalis yang berasal dari negara-negara
yang sedang berkembang, dengan alasan negara itu sedang giat melaksanakan pembangunan.

Tugas jurnalistik perlu mengakkan tiga pilar utama kejurnalistikan, yaitu sebagai baerikut:

a. Pilar utama Kode etik

Kode etik jurnalistik merupakan pilar utama yang pertama yang berfungsi sebagai landasan
moral kaidah penuntun, dan memberi arah pada wartawan dalam menjalankan tugasnya.

b. Pilar Utama Norma Hukum

Kode etik dan norma hukum saling berkaitan erat karena apa yang dilarang oleh kode etik
juga dilarang oleh norma hukum, demikian pula sebaliknya, namun keduanya mempunyai
sisi pendekatan yang berbeda.

c. Pilar Utama Profesionalisme

Keterampilan untuk mengemas dan mengamu berita sedemikian rupa sehingga pesan yang
akan disampaikan kepada publik dapat diterima dan dimengerti dengan jelas.

2.3.2. Pers yang Bebas dan Bertanggung Jawab

Untuk menghindarkan dampak negativ dari kemerdekaan pers dan sebagai wujud tanggung
jawab pers telah ditetapkan UU Nomor 40 tahun 1999 tentang pers, didalamnya memuat
ketentuan-ketentuan yaitu:

a. Dalam pasal 2,  dinyatakan kemerdekaan pers berasaskan prinsip-prinsip demokrasi,


keadilan dan supermasi hukum. Ini berarti kebebasan pers harus memperlihatkan
penghormatan hak dan kewajiban individu serta masyarakat dan menaati peraturan yang
berlaku.

b. Dalam pasal 5, Dalam memberikan peristiwa dan Opini harus menghormati norma-
norma agama, Pers berkewajiban melayani hak jawab dan pers berkewajiban melayani hak
tolak.

c. Dalam pasal 6, Menegakkan nilai dasar demokrasi. Mengembangkan pendapat umum


berdasar informasi yang tepat dan akurat. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
d. Dalam pasal 13, tidak boleh memuat iklan yang merendahkan martabat suatu agama.
Tidak boleh mengiklankan minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat aditip lainnya.
Dilarang menayangkan wujud rokok atau penggunaan rokok.
Pengendalian kebebasan pers, selain melalui undang-undang juga digunakan
ketentuan-ketentuan pasal dalam KHUP yang dapat dikaitkan dengan delik (perbuatan yang
dapat dijatuhi pidana) pers diantaranya, yaitu sebagai berikut:
“Delik penghinaan”, meliputi :
1. Penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (pasal 137)
2. Penghinaan terhadap raja atau kepala negara dari negara lain (pasal 144)
3. Penghinaan terhadap aparat pemerintah (pasal 297 dan 208)

“Delik penyebaran kebencian, yaitu kebencian pada pemerintah (pasal 154 dan 155)”

“Delik penghinaan terhadap golongan, adalah setiap bagian dari penduduk Indonesia yang
berbeda. Misalnya agama, suku, keturunan, kebangsaan, dan lainnya (pasal 156, 157)”

“Delik penodahan terhadap agama, penodahan atau menyebar kebencian atau rasa
permusuhan (pasal 156)”

“Delik kesusilaan/pornografi, tulisan, gambar, atau barang yang melanggar perasaan


kesopanan (pasal 282)”

2.3.3. Kode Etik Jurnalistik

Kode dalam istilah bahasa Inggris adalah code dan codex untuk isttilah latin yang
berarti 'buku undang-undang', kumpulan sandi, dan susunan prinsip hidup masyarakat.
Sedangkan etik atau etika dalam istilah Perancis disebut ethique, latin ethica, dan Yunani
ethos. Kode etik jurnalistik adalah aturan tata susila kewartawanan dan juga norma tertulis
yang mengatur sikap, tingkah laku, dan tata krama penerbitan. Sedangkan Wartawan adalah
sebuah profesi, bahkan salah satu profesi yang cukup terpandang di masyarakat, haruslah ia
mempunyai kode etik.
Kode Etik Jurnalistik yang ditetapkan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)
memberikan petunjuk-petumjuk, antara lain sebagai berikut:

1. Kepribadian dan integritas wartawan Indonesia

a. Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila dan taat kepada
UUD1945
b. Dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya
menyiarkan berita, tulisan dan gambar yang dapat membahayakan keselamatan dan
keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan
agama,kepercayaan atau keyakinan suatu golongan.
c. Tidak menyiarkan berita, tulisan atau gambar yang menyesatkan, memutarbalikkan
fakta, bersifat fitnah, cabul, sadis dan sensasi yang berlebihan.
d. Tidak menerima imbalan untuk menyiarkan berit atau tidak menyiarkan berita yang
dapat merugikan sesorang atau pihak tertentu.

2. Cara penberitaan yang dilakukan wartawan Indonesia


a. Menyajikan berita secara berimbang, adil, cermat, dan berkualitas.
b. Menghormati dan menjunjung tinggi pribadi seseorang, tidak merugikan nama baik
dan perasaan  susila seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum.
c. Menhormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil, dan jujur.
d. Dalam pemberitaan kejahatan susila tidak menyebut nama dan identitas korban.
Selain itu penyebutan identitas pelaku kejahatan yang masih di bawah umur juga
dilarang.
e. Dalam penulisan judul harus mencerminkan isi berita.

3. Wartawan Indonesia dalam mencari/memperoleh sumber berita

a. Dengan cara sopan dan terhormat


b. Secepatnya mencabut atau meralatsetiap pemberitaan yang ternyata kurang akurat dan
memberi hak jawab secara propesional.
c. Meneliti kebenaran sumber berita.
d. Tidak melakukan plagiat, tidak mengutip berita, tulisan atau gambar tanpa menyebut
sumbernya.
e. Menyebut sumber berita, kecuali atas permintaan yang bersangkutan untuk tidak
disebutkan nama dan identitasnya.
f. Menghormati ketentuan embargo dan tidak menyiarkan informasi yang oleh sumber
berita diminta untuk dirahasiakan (of the record).
Sejumlah kendali yang akan membatasi pers untuk bersikap membabibuta atau
kebebasan yang kelewat batas. Yang berkaitan dengan pers dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Aspek Moral Individu, adalah individu seorang wartawan atau individu praktisi
humas. Artinya apakah ia memiliki cukup moral untuk menulis sesuatu atau praktisi humas
dalam menyiarkan siaran persnya.

b. Kode Etik Profesi, Bila kendali diatas masih dilanggar, maka kendali berikutnya
adalah kode etik. Dalam menjalankan profesinya insan pers harus memegang teguh kode etik
sehingga tidak kebablasan.

c. Prinsip-prinsip Ekonomi dan Bisnis, Media massa saat ini telah menjadi suatu usaha
yang banyak  diminati. Sulit untuk menjumpai media massa yang mengesampingkan media
bisnis. Hal ini dapat kita maklumi karena untuk menerbitkan sebuah media massa
membutuhkan investasi yang besar.

d. Norma dan Tata Nilai Masyarakat, masyarakat mempunyai tata nilai dan norma-
norma yang dipegang teguh dan dijunjung tinggi. Oleh karenanya insan pers atau yang akan
membuat pernyataan pers harus memperlihatkan hal ini.

e. Undang-undang hukum pidana, merupakan kendali yang terakhir bila batasan-batasan


diatas diabaikan. Hukum pidana tidak dapat diabaikan oleh praktisi pers karena berakibat dia
berurusan dengan aparat penegak hukum.

2.4.Dampak Penyalahgunaan Kebebasan Media Massa dalam Masyarakat


Demokratis di Indonesia

1. Masalah Bidang Manajemen


Di beberapa penerbitan, ada beberapa media massa ada yang mengalami perpecahan
atau pemecahan dan masing-masing pemecahan mengibarkan benderanya sendiri. Selain itu,
persaingan antarmedia untuk meraih sukses dan diminati masyarakat makin ketat, sehingga
masing-masing media berdaya upaya dengan segala cara untuk menarik simpati masyarakat.

2. Masalah Merebut Pangsa Pasar


Demi meraih pangsa pasar, ada beberapa media mengumbar sensasionalisme tidak
mendasarkan fakta secara crmat. Dalam membuat laporan hanya secara spekulatif yang
sekiranya diminati publik.

3. Masalah Orientasi Berita


Era reformasi sekarang ini banyak memproduksi media massa yang berorientasi
populis, mengangkat soal-soal yang digunjikkan masyarakat.

4. Masalah Keperpihakan
Ada yang media massa yang merilis berita dari daerah yang sedang bergejolak,
misalnya Maluku, Aceh, Poso dan sebagainya yang isi pemberitaannya menunjukkan
kcenderungan atau keperpihakan pada salah satu kelompok dan menyerang kelompok
lainnya.

5. Masalah Kode Etik


Makin ketatnya persaingan antar medis massa untuk meraih pangsa pasar dam
mepertahnkan kelangsungan hidup, beberapa media massa kurang memperhatikan kode etik
yang harus mereka taati.

3.1   Perkembangan Pres di Indonesia Pada Era Orde Baru

Sejak Presiden Soeharto mundur sebagai presiden pada 21 Mei 1998, ruang gerak
kebebasan memutuskan, media khusus massa, memang semakin terbuka. Bagaimana topik
selama 3 menentang tabu seperti korupsi, dan kolusi di berbagai pihak, otoritas pertahanan,
bahkan kritik tentang dasar-dasar negara mulai diberitakan secara terang-terangan. Undang-
Undang Pokok Pers No. 21/1982 telah diganti, bahkan departemen penerangan telah
diganti. Pada umumnya tantangan terhadap kebebasan pers diIndonesia datang dari 3 pihak,
yaitu penguasa, pemodal dan masyarakat. Secara umum bentuk ancaman yang pertama dan
kedua terjadi pada masa orde baru, sementara ancaman ketiga merupakan fenomena yang
terjadi pada era reformasi.

Ancaman kepentingan pemodal sangat menentukan kualitas kebebasan pers dari


berbagai segi. Misalnya, isu-isu seputar yang membatasi pers atau media yang dibatasi
hanya pada isu-isu yang tidak bertentangan dengan kepentingan yang diakumulasi
disektor industri pers. Dalam kasus yang dilindungi pihak penguasa, banyak kasus yang
bisa kita lihat pada masa orde baru. Senjata utama orde baru untuk meminta izin adalah
Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Media yang mengeluarkan perbincangan
tentang kaidah “pers pancasila” karena memuat berita yang menyeret pemerintah
sehingga SIUPP dicabut. Pers bebas memberitakan semua tindak tanduk pemerintah
khusus setelah UU Pers yang baru, UU No. 40/1999 ditetapkan. Ketentuan tentang SIUPP
pun tidak lagi berlaku setelah Departemen Penerangan dibubarkan oleh Presiden
Abdurrahman Wahid.

3.2   Tuntutan dan Kontrol (Pers Yang Bebas, Tapi Bertanggung Jawab)

Pers dapat diajak untuk menjadi patner dalam proses dan sumber legitimas untuk
“Istana” Kontrol dari “Istana” selama orde baru sekurang-kurangnya meliputi beberapa hal
berikut:

1. Kontrol bagi industri media bagi para pelaku bisnis antara lain melalui pengeluaran
para penghasil politik bagi yang ingin ikut ambil bagian dalam hambatan-ekonomi
“alamiah” dari pasar dan pemerintahan finansial, penguasa orde pasar dalam industri
media (antara lain dengan bantuan SIUPP selektif berdasarkan kriteria politik
tertentu)
2. Kontrol terhadap individu dan kelompok profesional (Wawancara) melalui seleksi
seleksi dan ketentuan (menjadi anggota PWI) dan penunjukan individu-individu untuk
perencanaan khusus dalam media milik pemerintah
3. Kontrol terhadap isi dan isu pemberitaan melalui berbagai perubahan
4. Kontrol terhadap sumber daya (sumber daya) antara lain mengandung monopoli
kertas oleh pihak yang memiliki kedekatan dengan penguasa
5. Kontrol terhadap akses pres, terdiri pencekalan terhadap tokoh-tokoh oposan tertentu
agar tidak tampil dalam pemberitaan pers.

3.3   Perkembangan Pers di Indonesia Pasca Reformasi


Wajah pers Indonesia pada masa reformasi berbeda dengan pers Indonesia
sebelumnya. Sekarang dengan bergulirnya reformasi, pers Indonesia kelihatan lebih bergairah
dibandingkan sebelumnya. Selain pihak berekspresi dari pers, pihak pemerintah telah
meluncurkan “kran” dalam persetujuan mendapatkan Surat Izin Usaha Penerbit Pers (SIUPP)
sehingga membuat jumlah yang meningkat drastis dibandingkan masa
sebelumnya. Kebebasan di zaman orde baru, selalu sangat berhati-hati dalam menjalankan
fungsinya sebagai media massa, tetapi saat ini suasananya jauh berbeda. Dulu hantu SIUPP
dapat menjelaskan proses hukum yang pasti dan tanpa dibuktikan melalui pengadilan tentang
menjelaskan kesalahannya.

Pada dasarnya dalam UU Pokok Pers tahun 1982 jelas-jelas memenangkan kebebasan
itu pers Indonesia Disetujui oleh Undang-Undang. Pemerintahan dalam Kabinet reformasi
pembangunan telah memberi Jaminan tidak akan ada lagi pemberedelan pers. Sesuai dengan
norma dan hukum yang berlaku di masyarakat. Demikian pula dalam memberikan
kesempatan kepada semua golongan masyarakat dalam publikasi pers. Departemen
penerangan telah melakukan reformasi di bidang SIUPPembuat siapa saja yang diizinkan
untuk menerbitkan media cetak. Oleh karena itu, jumlah media cetak saat ini menjadi tiga
kali lipat dan jumlah insan pers pun berlipat ganda.

3.4   Sistem Yang Dianut Pada Sistem Pers Indonesia

Sistem pers merupakan subsistem dari sistem komunikasi, sedangkan sistem


komunikasi itu sendiri merupakan bagian dari sistem kemasyarakatan (sistem sosial) yang
merupakan proses saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan masyarakat yang
komunis. Pada dasarnya sistem pers di Indonesia dalam Undang-Undang Pers yang
menyatakan bahwa Persi Indonesia sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi
dan pembentuk pendapat harus dapat dilakukan asas, fungsi, hak dan perencanaan dan
perannya dengan sebaik-baiknya harus mendapat Jaminan dan perlindungan hukum, juga
bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun.

3.5   Etika Pers di Indonesia

Merupakan filsafat di bidang moral tentang persyaratan-persyaratan pers yang baik


dan pers yang buruk, disyaratkan tingkah laku pers. Sumber etika pers adalah kesadaran
moral, pengetahuan tentang yang buruk, benar salah juga tepat dan tidak tepat untuk orang-
orang yang terlibat dalam kegiatan pers

3.5.1   Pers Pancasila

Melalui pers pancasila dapat dikembangkan suasaa saling percaya menuju masyarakat
terbuka yang disetujui dan bertanggung jawab. Dalam mengamalkan pers pancasila,
hubungan yang dipakai adalah interaksi positif antara masyarakat dan pemerintah. Dalam
penjelasan dalam UU No. 40 Tahun 1999, adalah kebebasan yang dipertanyakan mengenai
kesadaran penegakan supremasi hukum yang dilaksanakan oleh pengadilan dan
pertanggungjawaban yang dijabarkan dalam kode etik jurnalistik sesuai dengan hati nurani
insan pers.

3.5.2   Pers yang bebas dan bertanggung jawab

UUD 1945 pasal 28 dicantumkan kebebasan pemikiran atau pendapat tersebut agar
kehidupan, demokrasi dapat ditumbuhkan. Dalam Undang-Undang pers UU NO. 40 Tahun
1999 Pasal 4 ayat 1 “Kemerdekaan pers yang berhak atas hak warga negara”. Jika ada
masalah di masyrakat, tolong bantu menjernihkan pembicaraan yang ada di
masyarakat. Dalam menjalankan profesinya, harus menjalankan tugas, hak dan kewajiban
serta fungsinya yaitu mengemukakan apa yang terjadi, jelas, mudah dipahami dan juga
terbuka.

3.6   Sikap Positif Terhadap Upaya Pemerintah Dalam Mengendalikan Pers

Tanggung jawab moral dalam pembinaan karakter / sifat dan mental bangsa adalah
tanggung jawab seluruh bangsa, aparatur baik negara maupun seluruh
masyarakat Indonesia. Pemerintah menentukan kebijakan hukum untuk kegiatan pers yang
terdiri atas KUHPembunuhan tentang delik pers, UU pers dan ketentuan lainnya. Kebijakan
hukum ini merupakan norma atau rambu-rambu di dalam rangka pengontrolan agar
pengaduan positif menyetujui mestinya. Mempertimbangkan peran penting sekali sebagai
saluran komunikasi semua pihak yang dapat membentuk opini ke semua pihak baik / buruk,
benar / salah. Seperti mengundang pers, pihak pemerintah pun memunyai tanggung jawab
untuk tidak mengumumkan suatu berita yang menarik kepentingan umum atau
memenangkan.

BAB III

PENUTUP

4.1   Kesimpulan
Makalah ini kami buat untuk mengulas lebih lanjut tentang penyimpangan kode etik
jurnalistik dan dukungan pemerintah dalam mengendalikan pers. Masyarakat pers harus
meningkatkan kesadaran bahwa sensor pemerintah tidak ada, tetapi nilai-nilai agama dan
aturan moral dalam tatanan sosial merupakan salah satu yang nyata dan harus
dilakukan. PersiIndonesia tidak boleh dinilai semua aturan dan nilai-nilai itu. Misalnya, jika
pers melihat perselisihan etnis atau konflik penganut agama, persIndonesia harus dirawat
untuk tidak mengobarkan lebih lanjut sentimen pihak yang terlibat konflik itu.

Organisasi profesi perlu memiliki kode etik yang dapat berperang dan menjadi “polisi moral”
bagi para anggotanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika salah anggapan profesi yang
ditolak kode etik profesinya, maka seluruh anggota kelompok profesi itu bisa ikut tercemar.

4.2   Saran

Pada akhir membahas makalah ini, kami seluruh anggota kelompok selaku penyusun makalah
ini berterima kasih atas semua perhatian dan waktu yang telah Anda berikan untuk membaca
makalah ini. Kami harap dapat membicarakan tentang penyimpangan kode etik jurnalistik
dan upaya pemerintah dalam mengendalikan pers.

DAFTAR PUSTAKA
Priyatno, Bambang Sidik. 2011. pendidikan kewaganegaraan XII. Jakarta: Bina Pustaka.

Suherman, Drs. Ujang, dkk. 2007. pendidikan kewaganegaraan XII. Jakatra: Arya Duta.

Bambang, S. Sugiyarto. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Grahadi.


file:///E:/school%20task/Ppkn/MAKALAH-GLOBALISASI.htm

file:///E:/school%20task/Ppkn/MAKALAH-PERS.htm

https://www.kompasiana.com/fajaragung/55182091813311a2689de81e/makalah-kebebasan-
pers

Daulay Hamdan , Wartawan dan Kebebasan Pers, Yayasan Fokus , Yogyakarta , 2012

Syamsul Asep M. Romli , Jurnalistik Praktis , Remaja Rosdakarya , Bandung , 2006