Anda di halaman 1dari 139

TESIS

KARAKTERISTIK TINGKAT KEKUMUHAN


DAN PRIORITAS PENANGANAN KAWASAN PERMUKIMAN
KUMUH DI KABUPATEN BELU

EKO YOHAN WAHYUDI


1611030020

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2018
ii
DEKLARASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Karya tulis Tesis saya ini adalah asli dan belum pernah diajukan dalam gelar
akademik, baik di Universitas Nusa Cendana maupun diperguruan tinggi
lain.
2. Karya tulis ini adalah murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri
tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Tim Pembimbing dan Masukan
Tim Penilai/Tim Penguji.
3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis
atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas
dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama
pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari
terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka
saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang
telah diperoleh karena karya ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma
yang berlaku di perguruan tinggi ini.

Kupang,
Yang membuat pernyataan

EKO YOHAN WAHYUDI


NIM : 1611030020

iii
4
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa
karena atas berkat dan bimbingan-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul
“Karakteristik Tingkat Kekumuhan dan Prioritas Penanganan Kawasan Permukiman
Kumuh di Kabupaten Belu”.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini masih terdapat banyak
kekurangan dan kelemahan yang tidak luput dari seorang penulis. Dalam penulisan tesis
ini penulis banyak mengalami hambatan dan rintangan, namun berkat dan rahmat Allah
SWT dan juga atas bantuan dari berbagai pihak, penelitian ini dapat terselesaikan dengan
baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si, Ph.D sebagai Rektor Universitas Nusa Cendana
dan seluruh staf yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di Universitas Nusa Cendana.
2. Bapak Prof. Dr. Aloysius Liliweri, MS sebagai Direktur Program Pascasarjana
Universitas Nusa Cendana dan seluruh staf yang telah memberikan kesempatan dan
fasilitas kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program
Magister di Program Pascasarjana Universitas Nusa Cendana.
3. Bapak Prof. Dr. Jimmy Pello, SH, MS sebagai Asisten Direktur Bidang Akademik
Program Pascasarjana Universitas Nusa Cendana dan Kepala Sub Bagian Akademik
serta seluruh staf bagian akademik yang telah membantu penulis selama pendidikan
dalam urusan administrasi akademik.
4. Bapak Dr.Philiphi de Rozari, S.Si, M.Si, M.Sc, Ph.D sebagai Ketua Program Studi
Ilmu Lingkungan serta seluruh dosen yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk memperoleh ilmu pada Program Studi Ilmu Lingkungan Program
Magister di Program Pascasarjana Universitas Nusa Cendana.

5
5. Bapak Dr. Herry Zadrak Kotta, MT sebagai pembimbing I dan Bapak Dr. Suwari M.Si
sebagai pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktu dan pikiran
membimbing penulis untuk menyelesaikan penulisan tesis ini.
6. Bapak Ir. Welhelmus I. M. Mella, M.Sc.,Ph.D sebagai penguji I dan Bapak Dr. Blajan
Konradus, MA sebagai penguji II yang telah bersedia memberikan masukan kepada
penulis untuk menyempurnakan penulisan tesis ini.
7. Seluruh teman mahasiswa Ilmu Lingkungan angkatan 2016 yang selalu memberikan
dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini.

Sebagai insan yang penuh kekurangan, penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, segala kritikan, buah pikiran, ide atau gagasan sangat
diperlukan dalam penyempurnaan lebih lanjut.

Kupang, 2018

Penulis

6
7
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ......................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... i

DEKLARASI ................................................................................................ ii

KATA PENGANTAR ................................................................................ iii

DAFTAR ISI ............................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR .................................................................................. vii

DAFTAR TABEL ..................................................................................... viii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ 112

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................... ...... 1

1.2 Perumusan Masalah .................................................................... 3

1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................ 4

1.4 Kegunaan Penelitian .................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 5

2.1 Tinjauan Tentang Perumahan dan Permukiman .......................... 5

2.1.1 Pengertian Perumahan dan Permukiman .............................. 5

2.1.2 Sistem Pembangunan Perumahan dan Permukiman ............ 6

2.1.3 Pola dan Bentuk Perkembangan Permukiman penduduk ... 7

2.1.4 Masalah Perumahan dan Permukiman ............................... 10

iv
2.2 Permukiman Perkotaan ............................................................. 11

2.2.1 Kawasan Permukiman ....................................................... 11

2.2.2 Kawasan Permukiman Perkotaan ....................................... 12

2.2.3 Infrastruktur Permukiman................................................... 12

2.2.3.1 Air Bersih ............................................................... 13

2.2.3.2 Persampahan ........................................................... 15

2.2.3.3 Air Limbah ............................................................. 16

2.2.3.4 Drainase ................................................................... 17

2.3 Permukiman Kumuh Perkotaan ................................................ 19

2.3.1 Pengertian Kws Kumuh dan Permukiman Kumuh............. 19

2.3.2 Penyebab Timbulnya Permukiman Kumuh ....................... 21

2.3.3 Tipologi Kawasan Kumuh Perkotaan ............................... 21

2.3.4.1 Identifikasi Permasalahan Kekumuhan .................. 22

2.3.4.2 Identifikasi Pertimbangan Lain (Non Fisik) .......... 24

2.3.4.3 Identifikasi Legalitas Lahan ................................... 26

2.3.4.4 Identifikasi Lokasi Kws Permukiman Kumuh ....... 26

2.4 Metode Analytic Hierarchy Process (AHP)…………………….28


2.5 Hipotesis ..................................................................................... 33

2.7 Penelitian Terdahulu .................................................................. 36

2.8 Kerangka Berfikir ...................................................................... 37

BAB III METODE PENELITIAN ................................................... 38

3.1 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ................................... 39

v
3.2 Alat dan Bahan .......................................................................... 39

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ................................................ 40

3.4 Metode Pengumpulan Data ....................................................... 41

3.5 Analisis Data …………………………………………………..41


3.5.1 Analisis Tingkat Kekumuhan ............................................. 41

3.5.2 Analisis Prioritas Penanganan ........................................... 45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................... 48

4.1 Gambaran Umum Wilayah Kajian ............................................ 48

4.1.1 Kawasan Kumuh Wilayah Tenukiik................................... 48

4.1.1 Kawasan Kumuh Wilayah Rinbesi ..................................... 49

4.2 Karakteristik Tingkat Kekumuhan……………………………..50


4.3 Prioritas Penanganan Tingkat Kekumuhan (AHP)…………….97
BAB V KESIMPULAN .................................................................... 109

5.1 Kesimpulan ............................................................................. 109

5.2 Saran…………………………………………………………..109

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….110
LAMPIRAN

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pola Permukiman Memanjang Mengikuti Jalur Jalan .............. 8

Gambar 2.2 Pola Permukiman Memanjang Mengikuti Garis Pantai ............ 9

Gambar 2.3 Pola Permukiman Terpusat ..................................................... 10

Gambar 2.4 Pola Permukiman Mengelilingi Fasilitas Tertentu.................. 10

Gambar 2.5 Hubungan Antara Sistem Sosial, Ekonomi, Infrastruktur dan


Lingkungan Alam Yang Harmoni……………………………13
Gambar 2.6 Susuanan Hirarki Keputusan ................................................... 31

Gambar 2.7 Kerangka Berfikir.................................................................... 37

Gambar 3.1 Alur Penelitian ........................................................................ 38

Gambar 3.2 Lokasi Penelitian ..................................................................... 39

Gambar 4.1 Kawasan Tenukiik................................................................... 49

Gambar 4.2 Kawasan Rinbesi ..................................................................... 50

Gambar 4.3 Ketidakteraturan ...................................................................... 52

Gambar 4.4 Kepadatan Bangunan .............................................................. 53

Gambar 4.5 Kondisi Bangunan ................................................................... 54

Gambar 4.6 Pemenuhan Air Minum ........................................................... 65

Gambar 4.7 Sumur Terlindungi .................................................................. 66

Gambar 4.8 Kondisi Eksisting .................................................................... 68

Gambar 4.9 Rencana Saluran Tenukiik ...................................................... 70

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Skala Penilaian Berpasangan .................................................. 31

Tabel 2.2 Matriks (pairwase comparison) Perbandingan Berpasangan . 32

Tabel 2.3 Matriks Prioritas (pairwise comparison) Perbandingan


Berpasangan ............................................................................ 32

Tabel 3.1 Metode Pengumpulan data ...................................................... 38

Tabel 3.2 Indikator dan Parameter .......................................................... 42

Tabel 3.3 Kriteria dan Alternatif ............................................................. 46

Tabel 3.4 Matrik Penilaian Pakar ............................................................ 47

Tabel 3.5 Nilai Random Indek ................................................................ 47

Tabel 4.1 Ketidakteraturan ...................................................................... 51

Tabel 4.2 Kepadatan Bangunan .............................................................. 52

Tabel 4.3 Jumlah KK dalam 1 rumah ..................................................... 53

Tabel 4.4 Kondisi Hunian ....................................................................... 54

Tabel 4.5 Kondisi bangunan berdasarkan syarat teknis .......................... 55

Tabel 4.6 Cakupan Jalan Lingkungan ..................................................... 56

Tabel 4.7 Akses Air minum .................................................................... 64

Tabel 4.8 Tidak terpenuhinya kebutuhan air minum .............................. 66

Tabel 4.9 Ketidaktersediaan Drainase ..................................................... 71

Tabel 4.10 Ketidakterhubungan dengan sistem drainase perkotaan ......... 72

viii
9
Karakteristik Tingkat Kekumuhan dan Prioritas Penanganan Kawasan
Permukiman Kumuh di Kabupaten Belu
Oleh:
Eko Yohan Wahyudi1, Herry Zadrak Kotta2, Suwari3
1) 2) 3)
Penulis Tesis; Pembimbing Utama, Universitas Nusa Cendana; Anggota Pembimbing, Universitas Nusa Cendana

ABSTRAK
Pesatnya perkembangan perkotaan menyebabkan meningkatnya kebutuhan lahan di kota.
Masalah yang timbul kemudian berkembang ke arah kebutuhan penduduk akan ruang hidup
dan tempat tinggal. Hal tersebut merupakan salah satu pemicu munculnya permukiman
kumuh. Bupati Belu telah menetapkan lokasi permukiman kumuh, di antaranya adalah
kawasan Kelurahan Tenukiik dan Kelurahan Rinbesi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui karakteristik fisik tingkat kekumuhan dan menentukan program prioritas yang
yang efektif dan efisien untuk menangani permasalahan kekumuhan. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kuantitatif, melalui analisis kuantitatif dan
kualitatif. Untuk penentuan karakteristik fisik tingkat kekumuhan menggunakan analisis
pembobotan berdasarkan hasil survei lapangan. Sedangkan penentuan program prioritas
penanganan masalah kekumuhan menggunakan analisis Analytical Hierarchy Process AHP.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik tingkat kekumuhan kawasan Tenukiik
dan Rinbesi termasuk kategori sedang, dengan karakteristik fisik kawasan Tenukiik
Bangunan Gedung baik, Kondisi jalan Lingkungan buruk, Kondisi penyediaan air minum
buruk, Kondisi drainase lingkungan baik, Kondisi pengelolaan air limbah baik, Kondisi
pengelolaan persampahan buruk Kondisi proteksi kebakaran buruk, sedangkan karakteristik
fisik kawasan Rinbesi Bangunan Gedung baik, Kondisi jalan Lingkungan baik, Kondisi
penyediaan air minum buruk, Kondisi drainase lingkungan buruk, Kondisi pengelolaan air
limbah buruk, Kondisi pengelolaan persampahan buruk, Kondisi proteksi kebakaran buruk.
Analisis AHP menunjukkan bahwa alternatif program prioritas penanganan tingkat
kekumuhan adalah program padat karya, diikuti oleh komitmen pemerintah pusat dan daerah
serta pembuatan PERBUB/PERWALI

Kata kunci: Permukiman Kumuh, Perkotaan, Kabupaten Belu, Analytical Hierarchy Process

x
The Characteristics of Slums and Priority in Handling Slum Areas in Belu Regency
By:
Eko Yohan Wahyudi1, Herry Zadrak Kotta2, Suwari3
1) 2) 3)
Thesis Writer; Main supervisor Of Nusa Cendana University; Supervisor Member Of Nusa Cendana University

ABSTRACT

The rapid grown of the city has led to increased land demand in the city. Problems that arise then
develop towards the needs of the population for living space and shelter. This is one of the triggers
for the emergence of slums. Belu Regent has determined the location of slum settlements including
the Tenukiik urban suburb and the Rinbesi urban suburb. This study aims to determine the physical
characteristics of slum level and determine priority programs that are effective and efficient to deal
with slums. The method used in this study is quantitative descriptive through quantitative and
qualitative analysis. To determine the physical characteristics of the slum level, the weighting
analysis based on the result of field survey is used. While the determination of priority programs for
handling slum, analysis of Analytical AHP Hierarchy Process is used. The results show that the
characteristics of the Tenukiik and Rinbesi area in the medium category, with physical characteristics
of building. Good environmental conditions. Poor drinking water preparation conditions. Good
waste-water management conditions. Poor waste management conditions. Bad fire protection
conditions. AHP analysis shows that alternative priority programs for handing slum levels ara labor
intensice programs, followed by the commitment of central and regional government, and the making
of PERBUB/PERWALI.

Keywords: Slum Area, Urban Suburb, Belu Regency Analytical Hierarchy Process

xi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Istilah permukiman kumuh pertama kali dipakai di London pada dekade tahun 1980-an
oleh Badan Federasi perumahan London. Permukiman atau daerah kumuh digunakan untuk
mengenali kualitas perumahan kaum miskin dan kondisi paling tidak sehat, tempat
perlindungan bagi aktivitas-aktivitas kecil termasuk kejahatan atau kriminal, dan
penyalahgunaan obat-obatan, sumber penyakit (wabah) yang merusak wilayah perkotaan, serta
suatu tempat yang tidak layak dan tidak sehat (UN Habitat, 2003).

Munculnya kawasan (perumahan dan permukiman) kumuh di Indonesia pada umumnya


diakibatkan oleh laju urbanisasi yang tinggi, dimana kehidupan perkotaan menjadi
magnet yang cukup kuat bagi masyarakat perdesaan yang kurang beruntung karena
sempitnya lapangan kerja di daerahnya. Bermukim di kawasan kumuh perkotaan bukan
merupakan pilihan melainkan suatu keterpaksaan bagi kaum migran tak terampil yang harus
menerima keadaan lingkungan permukiman yang tidak layak dan berada di bawah standar
pelayanan minimal seperti rendahnya mutu pelayanan air minum, drainase, limbah,
sampah, kepadatan dan ketidakteraturan letak bangunan serta masalah – masalah lain yang
berdampak pada penurunan kualitas lingkungan fisik dan lingkungan sosial (Effendi, 2013).

Perpindahan penduduk dari desa ke kota secara cepat dan tidak terorganisasi telah
memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi terciptanya permukiman-permukiman baru
di perkotaan. Terjadi peningkatan urbanisasi yang berlangsung secara terus-menerus dan tidak
terkendali serta tidak terkontrol akan meningkatkan peningkatan kepadatan penduduk dan
tingkat hunian di lingkungan permukiman baru (Daljoeni, 2003). Selain itu Pesatnya
perkembangan perkotaan akan menyebabkan meningkatnya permintaan lahan di kota. Masalah
yang timbul kemudian berkembang ke arah kebutuhan penduduk akan tempat tinggal atau
perumahan. Perbedaan tingkat pendapatan penduduk menyebabkan daya beli terhadap tempat
tinggal (rumah) berbeda pula. Bagi penduduk Kota yang bekerja di sektor-sektor ekonomi
berpendapatan rendah, kebutuhan tempat tinggal ini merupakan masalah yang berat. Penyedia
perumahan merupakan salah satu hal yang harus dihadapi wilayah perkotaan dimasa yang akan
datang, seiring dengan perkembangan kota yang berlangsung cepat (Endang, 2006).

12
Menurut Salim (1998) dan Jellinek (1995), lokasi permukiman kumuh dicirikan oleh
tingkat ketersediaan prasarana permukiman yang terbatas. Permukiman kumuh juga dapat
dilihat berdasarkan asal warga dan etnis dan pekerjaan. Berdasarkan hal tersebut permukiman
kumuh dicirikan oleh asal warga dan etnis penghuninya yang sangat beragam serta jenis
pekerjaan yang juga beragam mulai dari buruh, sektor informal, karyawan swasta sampai PNS
(Baross,1993).

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Tujuan


Pembangunan Berkelanjutan, pemerintah telah mentargetkan bahwa pada tahun 2030
Indonesia bebas kumuh. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk penanganan
permukiman kumuh. Pada tahun 1966, Pemerintah meluncurkan Program Perbaikan Kampung
(KIP) diarahkan pada perbaikan prasarana perkampungan kelompok MBR, pada tahun 1997
Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), pada tahun 2000 Program
Community Based Housing and Initiative Local Development (CoBILD) yang diarahkan untuk
perbaikan perumahan, pembangunan rumah baru, serta pemeliharaan prasarana dan sarana
permukiman, pada tahun 2006 program National Slum Upgrading Program (NUSSP) yang
bertujuan untuk perbaikan prasarana MBR di perkotaan dan pada tahun 2014, pemerintah
melalui Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaam Umum melakukan penyusunan road map
penanganan kumuh serta pemutakhiran data kumuh yang dilaksanakan secara kolaboratif
dengan kementerian/lembaga yang terkait serta pemerintah daerah di seluruh Indonesia bahkan
pada tahun 2017 Pemerintah mengeluarkan program KOTAKU yang diarahkan pada
peningkatan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di permukiman kumuh perkotaan
untuk mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif dan
berkelanjutan. Namun program program ini belum berhasil secara baik dalam menurunkan
tingkat kekumuhan secara Nasional, terbukti tingkat penurunan permukiman kumuh rata – rata
baru mencapai 3,12 % pertahun (Renstra PU, 2016).

Dalam kontek Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Belu juga mengalami
permasalahan permukiman kumuh. Pesatnya perkembangan penduduk dan aktivitasnya yang
tidak diimbangi dengan kemampuan pelayanan kota berakibat pada semakin meluasnya
permukiman kumuh. Penanganan lingkungan perumahan dan permukiman kumuh perlu
dilakukan secara terpadu (multi sektor) dan berkelanjutan. Bupati Belu telah menetapkan lokasi
permukiman kumuh seluas 19 ha tersebar pada 11 kawasan atau 2.34 % dari total luas kawasan
kumuh Provinsi Nusa Tenggara Timur (810,13ha), namun sejauh ini belum diketahui tingkat

13
kekumuhan pada kawasan tersebut, sehingga penetapan program prioritas tidak dilakukan
berdasarkan analisis yang tepat dan penanganan belum berjalan optimal karena permasalahan
utama pada kawasan kumuh belum diketahui.

1.2 Perumusan Masalah

Pelaksanaan zero kumuh dimulai tahun 2015 dan target nol persen harus dicapai pada
tahun 2030, sesuai Keppres No 59 Tahun 2017 tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,
dengan ragam persoalan yang belum sepenuhnya terdeteksi secara baik, di antaranya
penetapan deliniasi kawasan dan identifikasi tingkat kekumuhan. Secara random telah
dilakukan verifikasi terhadap kawasan perumahan/permukiman kumuh yang telah ditetapkan
melalui SK Walikota/Bupati. Permukiman kumuh di Kabupaten Belu memiliki karakteristik
yang bervariasi seperti keberadaan di dataran rendah dan tepi sungai. Sebagian besar
permukiman kumuh di tepi sungai menggunakan material bangunan non permanen dengan
kondisi bangunan tidak beraturan. Berbeda dengan karakteristik permukiman di perbukitan/
dataran rendah cenderung mengalami permasalahan dalam penyediaan infrastruktur seperti
jalan dan drainase. Secara umum, kondisi jalan dalam keadaan rusak dan sistem drainase
kurang optimal sehingga terjadi genangan. Penyediaan MCK dan sarana persampahan masih
kurang memadai karena banyak masyarakat yang mengelola sampah dengan cara dibakar atau
dibuang pada lahan kosong yang ada. Sejauh ini belum ada data dan informasi terkait
karakteristik tingkat kekumuhan di Kabupaten Belu, sehingga upaya pemerintah daerah
Kabupaten Belu dalam mengatasi permukiman kumuh belum terarah. Terdapat beberapa
kriteria dan alternatif terkait program yang dilakukan pemerintah dalam upaya mewujudkan
tujuan pembangunan berkelanjutan, namun mengingat keterbatasan sumber daya maka
diperlukan analisis prioritas. Berdasarkan permasalahan di atas perlu diajukan pertanyaan
penelitian yang mengarahkan penelitian antara lain :

1). Bagaimana karakteristik tingkat kekumuhan pada kawasan Kelurahan Tenukiik dan
kawasan Kelurahan Rinbesi ?
2). Manakah program yang efektif dan efisien berdasarkan tingkat kekumuhan ?

14
1.3 Tujuan Penelitan
1). Untuk mengetahui karakteristik tingkat kekumuhan pada kawasan Kelurahan
Tenukiik dan Kawasan Kelurahan Rinbesi.
2). Untuk mengetahui alternatif program yang secara efektif dan efisien berdasarkan
kriteria dan alternatif yang dikembangkan.

1.4 Kegunaan Penelitian :


Penelitian ini adalah memiliki kontribusi :
a) Sebagai masukan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam mengimplementasikan
program dan kegiatan yang terpadu dan bersinergi yang pada gilirannya dapat
dilaksanakan sendiri oleh pemerintah kota/kabupaten secara mandiri dan
berkelanjutan;
b) Sebagai bahan informasi bagi masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan
permukiman guna terwujudnya lingkungan yang layak; dan
c) Dapat dipakai sebagai penelitian lanjutan bagi mereka yang akan mendalami masalah
penanganan kawasan permukiman kumuh di Kabupaten Belu.

15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TINJAUAN TENTANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

2.1.1 Pengertian Perumahan dan Permukiman

Pengertian dari kawasan perumahan dan pemukiman menurut Kepmen Perumahan


Rakyat nomor : 04/KPTS/BKP4N/1995 Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama sebagai
tempat tinggal atau lingkungan hunian. Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan
perumahan dan pemukiman adalah kawasan perumahan dan pemukiman yang mempunyai
batas-batas dan ukuran yang jelas dengan penataan tanah dan ruang, prasarana serta sarana
lingkungan yang terstruktur.
Ada beberapa pandangan mengenai batasan pengertian perumahan dari para ahli maupun
beberapa peraturan, antara lain:
1. Perumahan tidak dapat dilihat sebagai sarana kebutuhan semata-mata, tetapi lebih dari
itu merupakan proses bermukim manusia dalam menciptakan ruang kehidupan untuk
memasyarakatkan dirinya, dan menampakkan jati diri (Mc. Auslan, 1986)
2. Menurut Undang-undang RI nomor 4 tahun 1992
Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal
atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan.
Perumahan juga merupakan tempat untuk menyelengarakan kegiatan bermasyarakat
dalam lingkup terbatas. Penataan ruang dan kelengkapan prasarana dan sarana
lingkungan dan sebagainya, dimaksudkan agar lingkungan tersebut akan merupakan
lingkungan yang sehat, aman, serasi dan teratur serta dapat berfungsi sebagaimana
diharapkan.
3. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 tahun 1983
Tentang penyediaan dan pemberian hak atas tanah untuk keperluan perusahaan
pembangunan perumahan. Menjelaskan pengertian perumahan adalah sekelompok
rumah atau tempat kediaman yang layak dihuni dilengkapi dengan prasarana
lingkungan, utilitas umum dan fasilitas sosial.

5
4. Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota tahun 1983

Perumahan adalah sebagai salah satu sarana hunian yang sangat erat kaitannya dengan
tata cara kehidupan masyarakat. Lingkungan perumahan merupakan suatu daerah
hunian yang perlu dilindungi dari gangguan-gangguan, misalnya gangguan udara,
kotoran udara, bau dan lain-lain. Sehingga daerah perumahan harus bebas dari
gangguan tersebut dan harus aman serta mudah mencapai pusat-pusat pelayanan serta
tempat kerjanya. Dengan demikian dalam daerah perumahan harus disediakan sarana-
sarana lain yaitu sarana-sarana pendidikan, kesehatan, peribadatan, perbelanjaan,
rekreasi dan lain-lain, yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan penduduk (Baros,
1993).

Pengertian dasar permukiman dalam Undang-Undang No.1 tahun 2011 adalah bagian dari
lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai
prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan
perkotaan atau kawasan perdesaan.

Sedangkan pengertian pemukiman sering disebut perumahan dan atau sebaliknya.


Pemukiman berasal dari kata housing dalam bahasa Inggris yang artinya adalah perumahan dan
kata human settlement yang artinya pemukiman. Perumahan memberikan kesan tentang rumah
atau kumpulan rumah beserta prasarana dan sarana ligkungannya. Perumahan menitikberatkan
pada fisik atau benda mati, yaitu houses dan land settlement. Sedangkan pemukiman
memberikan kesan tentang pemukim atau kumpulan pemukim beserta sikap dan perilakunya
di dalam lingkungan, sehingga pemukiman menitikberatkan pada sesuatu yang bukan bersifat
fisik atau benda mati yaitu manusia (human). Dengan demikian perumahan dan pemukiman
merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat erat hubungannya, pada hakekatnya
saling melengkapi.

2.1.2 Sistem Pembangunan Perumahan dan Permukiman

Menurut Turner, (1972) disebutkan bahwa terdapat dua sistem pembangunan


perumahan yaitu :
 Sistem Pembangunan Nonformal
Sistem pembangunan nonformal yaitu suatu sistem pembangunan perumahan yang
perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan pembangunannya dilakukan terutama oleh
penghuni sendiri (lembaga nonformal). Biasanya dibangun tanpa mengikuti standar
baku dan sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
6
 Sistem Pembangunan Formal
Sistem pembangunan formal yaitu suatu sistem pembangunan perumahan yang
perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan pembangunannya dilakukan oleh pihak lain
atau lembaga formal, seperti pemerintah atau swasta yang biasanya perumahan tersebut
dibangun dalam bentuk jadi, dan menggunakan standar-standar yang ideal.
Sistem ini di Indonesia dilaksanakan oleh pemerintah melalui Perum Perumnas dengan
membangun perumahan baru berupa rumah sederhana, rumah inti, dan rumah susun.
Sedangkan oleh swasta melalui developer atau pengusaha real estate. Baik Perum
Perumnas maupun developer menggunakan sistem kredit pemilikan rumah dengan
membangun satu atau beberapa tipe rumah yang dibuat standar yang ideal serta
membangun dalam jumlah yang cukup banyak atau memproduksi secara massal.

2.1.3 Pola dan Bentuk Perkembangan Permukiman Penduduk


Pola pemukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal
menetap dan melakukan kegiatan/aktivitas sehari-harinya. Permukiman dapat diartikan sebagai
suatu tempat (ruang) atau suatu daerah dimana penduduk terkonsentrasi dan hidup bersama
menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan dan
mengembangkan hidupnya. Pengertian pola dan sebaran pemukiman memiliki hubungan yang
sangat erat. Sebaran permukiman membincangkan hal dimana terdapat permukiman dan atau
tidak terdapat permukiman dalam suatu wilayah, sedangkan pola pemukiman merupakan sifat
sebaran, lebih banyak berkaitan dengan akibat faktor-faktor ekonomi, sejarah dan faktor
budaya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pola pemukiman penduduk adalah bentuk
persebaran tempat tinggal penduduk berdasarkan kondisi alam dan aktivitas penduduknya.
Pola persebaran pemukiman penduduk dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan tanah, tata
air,topografi dan ketersediaan sumber daya alam yang terdapat di wilayah tersebut. Dilihat
dari bentuknya, pola persebaran permukiman menurut (Bintarto,1983) dapat dibedakan
sebagai berikut:

A. Pola permukiman memanjang


Pola pemukiman memanjang memiliki ciri pemukiman berupa deretan memanjang karena
mengikuti jalan, sungai, rel kereta api atau pantai.

7
1. Mengikuti jalur jalan/rel kereta api
Pada daerah ini pemukiman berada disebelah kanan kiri jalan.Umumnya pola
pemukiman seperti ini banyak terdapat didataran rendah yang morfologinya landai
sehingga memudahkan pembangunan jalan-jalan di pemukiman.Namun pola ini
sebenarnya terbentuk secara alami untuk mendekati sarana transportasi.

Gambar : 2.1 Pola Permukiman Memanjang Mengikuti Jalur Jalan (sumber : Bintarto,1993)

2. Mengikuti Alur Sungai


Pada daerah ini pemukiman terbentuk memanjang mengikuti aliran sungai. Biasanya
pola pemukiman ini terdapat di daerah pedalaman yang memiliki sungai-sungai
besar. Sungai-sungai tersebut memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan
penduduk. Namun saat ini pada permukiman perkotaan juga mulai tumbuh
permukiman di sepanjang sungai. Sungai merupakan awal mula pertumbuhan dan
perkembangan kota. Menurut sejarahnya, sungai merupakan pusat pertumbuhan, jalur
pergerakan dan prasarana transportasi utama sampai sekarang. Seiring dengan
pertumbuhan kota dan meningkatnya jumlah penduduk ,permukiman baru berkembang
tidak terkendali di sepanjang sungai karena pergeseran dan degradasi lahan di
perkotaan. Sehingga beberapa sungai kehilangan fungsinya dan menurun kualitas
lingkungannya. Selain itu budaya sungai yang merupakan ciri khas masyarakat
sepanjang sungai mengalami pergeseran diakibatkan oleh perubahan orientasi
bermukim dari masyarakat sungai menjadi masyarakat daratan sehingga
mengakibatkan rusaknya lingkungan permukiman di bantaran sungai.

8
3. Mengikuti Garis Pantai
Daerah pantai pada umumnya merupakan pemukiman penduduk yang bermata
pencaharian nelayan.Pada daerah ini pemukiman terbentuk memanjang mengikuti
garis pantai. Hal itu untuk memudahkan penduduk dalam melakukan kegiatan
ekonomi yaitu mencari ikan ke laut.

Gambar : 2.2 Pola Permukiman Memanjang Mengikuti Garis Pantai (sumber Bintarto, 1983)

B. Pola Permukiman Terpusat (nucleated)


Pola pemukiman ini mengelompok membentuk unit-unit yang kecil dan menyebar,
umumnya terdapat di daerah pegunungan atau daerah dataran tinggi yang berelief kasar,
dan terkadang daerahnya terisolir. Di daerah pegunungan pola pemukiman memusat
mengitari mata air dan tanah yang subur. Sedangkan daerah pertambangan di pedalaman
pemukiman memusat mendekati lokasi pertambangan. Penduduk yang tinggal di
pemukiman terpusat biasanya masih memiliki hubungan kekerabatan dan hubungan dalam
pekerjaan. Pola pemukiman ini sengaja dibuat untuk mempermudah komunikasi
antar keluarga atau antar teman bekerja.

9
Gambar : 2.3 Pola Permukiman Terpusat (sumber : Bintarto, 1983)

C. Pola Permukiman Tersebar (Radial)


Terdapat didaerah dataran tinggi atau daerah gunung api dan daerah-daerah yang kurang
subur. Pada daerah dataran tinggi atau daerah gunung api penduduk akan mendirikan
pemukiman secara tersebar karena mencari daerah yang tidak terjal,morfologinya rata dan
relatif aman. Sedangkan pada daerah kapur pemukiman penduduk akan tersebar mencari
daerah yang memiliki kondisi air yang baik.

D. Pola Permukiman memiliki fasilitas tertentu


Bentuk pemukiman ini berada di dataran,mengolah dan memiliki fasilitas umum berupa
mata air, waduk, danau, dan lain-lain.

Gambar : 2.4 Pola Permukiman Mengelilingi Fasilitas Tertentu (sumber Bintarto, 1983)

2.1.4 Masalah Perumahan dan Permukiman


Menurut Turner, (1972) Urusan perumahan dan permukiman sering tumbuh sebagai
sumber permasalahan yang seakan tidak berujung (the endless problems) bagi banyak
Pemerintah Daerah, yang ditunjukkan oleh :

10
1. Berkembangnya penguasaan lahan skala besar oleh banyak pihak tidak disertai dengan
kemampuan untuk membangun atau merealisasikan pada waktunya.
2. Pemberian perijinan penguasaan lahan untuk kawasan perumahan dan permukiman yang
umumnya belum dilandaskan pada kerangka penataan wilayah yang lebih menyeluruh.
3. Belum terorganisasikannya perencanaan dan pemrograman pembangunan perumahan
dan permukiman yang dapat saling mengisi antara ketersediaan sumberdaya
pembangunan dan kebutuhan yang berkembang di masyarakat.
4. Penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman nampaknya belum
menjadi prioritas bagi banyak pemerintah daerah karena berbagai sebab dan
keterbatasan, diantaranya kelembagaan yang mengurusi perumahan dan permukiman
masih terbatas jumlah dan ruang gerak/aktifitasnya.
5. Belum tertampungnya aspirasi dan kepentingan masyarakat yang memerlukan rumah,
termasuk hak untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan.
6. Penyediaan tanah, prasarana dan sarana, teknologi bahan bangunan, konstruksi,
pembiayaan dan kelembagaan yang masih memerlukan pengaturan yang dapat
mengakomodasikan muatan dan kapasitas lokal.
7. Kekurangsiapan dalam mengantisipasi kecepatan dan dinamika pertumbuhan fisik dan
fungsional kawasan perkotaan, sehingga kawasan kumuh tumbuh sejalan dengan
berkembangnya pusat-pusat kegiatan ekonomi.

2.2 PERMUKIMAN PERKOTAAN


2.2.1 Kawasan Permukiman
Menurut UU No 1 Tahun 2011 Kawasan permukiman adalah kawasan di luar kawasan
lindung yang diperlukan sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian yang berada di daerah
perkotaan atau pedesaan. Ujuan pengelolaan kawasan ini adalah untuk menyediakan tempat
permukiman yang sehat dan aman dari bencana alam serta memberikan lingkungan yang sesuai
untuk pengembangan masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Kriteria umum kawasan permukiman adalah kawasan yang secara teknis dapat
digunakan untuk permukiman yang aman dari bahaya bencana alam, sehat dan mempunyai
akses untuk kesempatan berusaha. Secara keruangan, kawasan permukiman ini terdiri dari
permukiman pedesaan dan perkotaan.

2.2.2 Kawasan Permukiman Perkotaan

11
Kawasan permukiman perkotaan dapat terdiri atas bangunan rumah tempat tinggal,
berskala besar, sedang, kecil, bangunan rumah campuran tempat tinggal/usaha dan tempat
usaha, Pengembangan permukiman pada tempat-tempat yang menjadi pusat pelayanan
penduduk sekitarnya, seperti Ibukota Kecamatan, Ibukota Kabupaten agar dialokasikan di
sekeliling kota yang bersangkutan atau merupakan perluasan areal permukiman yang telah ada
(Adisasmita, 1978). Untuk pengembangan permukiman perkotaan ini hendaknya diperhatikan
beberapa hal berikut ini :

a. Sejauh mungkin tidak menggunakan tanah sawah beririgasi teknis.


b. Sejauh mungkin tidak menggunakan tanah sawah beririgasi setengah teknis, tetapi
intensitas penggunaannya lebih dari satu kali dalam setahun.
c. Pengembangan permukiman pada sawah non irigasi teknis atau kawasan lahan
pertanian kering diperkenankan sejauh mematuhi ketentuan yang berlaku mengenai
peralihan fungsi peruntukan kawasan.

2.2.3 Infrastruktur Permukiman

Infrastruktur merujuk pada sistem fisik yang menyediakan transportasi, pengairan,


drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik lainnya yang dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi (Grigg, 1988 dalam
Robert, 2003). Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial
dan sistem ekonomi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Sistem infrastruktur dapat
didefinisikan. sebagai fasilitas-fasilitas atau struktur-struktur dasar peralatan-peralatan,
instalasi-instalasi yang dibangun dan yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan
sistem ekonomi masyarakat.

Sebagai salah satu konsep pola pikir di bawah ini diilustrasikan diagram sederhana
bagaimana peran infrastruktur. Diagram ini menunjukkan bahwa secara ideal lingkungan alam
merupakan pendukung dari sistem infrastruktur, dan sistem ekonomi didukung oleh sistem
infrastruktur. Sistem sosial sebagai obyek dan sasaran didukung oleh sistem ekonomi.

Dari gambar di bawah ini dapat dikatakan bahwa lingkungan alam merupakan pendukung
dasar dari semua sistem yang ada. Peran infrastruktur sebagai mediator antara sistem ekonomi
dan sosial dalam tatanan kehidupan manusia dengan lingkungan alam menjadi sangat penting.
Infrastruktur yang kurang (bahkan tidak) berfungsi akan memberikan dampak yang besar bagi
umat manusia. Sebaliknya, infrastruktur yang terlalu berlebihan untuk kepentingan umat
manusia tanpa memperhitungkan kapasitas daya dukung lingkungan akan merusak alam yang

12
pada hakekatnya akan merugikan manusia termauk makluk hidup lainnya. Berfungsi sebagai
suatu sistem pendukung sistem sosial dan sistem ekonomi, maka infrastruktur perlu dipahami
dan dimengerti secara jelas terutama bagi penentu kebijakan.

SOCIAL SYSTEM

EKONOMIC SYSTEM

PHYSICAL INFRASTRUCTURE

Sumber: Grigg, 1988 dalam Robert J. Kodoatie


Gambar : 2.5 Hubungan Antara Sistem Sosial, Ekonomi, Infrastruktur dan
Lingkungan Alam Yang Harmoni (Sumber: Grigg, 1988)
Kodoatie)

2.2.3.1 Air Bersih


a) Menurut Jauhari, (2013) Sistem Air Bersih Pengelolaan dan proses
infrastruktur untuk water supply sistem adalah :
1. Eksporasi sumber daya air
- Sumberdaya air permukaan (sungai, danau, waduk, dll)
- Sumberdaya air tanah (sumur, pemompaan, dll)
2. Pengelolaan (treatment)
- Penjernihan dari partikel lain (sedimentation, flocculation, filtration, dll)
- Pengontrolan bakteri air (disinfection, ultra violet ray, ozone treatment,
dll)
- Komposis kimia air (aeration, iron and manganese removal, carbon
active, dll)
3. Penampungan (storage)
- Penampungan bahan baku air (waduk, sungai/long storage)
- Penampungan bahan baku air olahan (tangki tertutup, kolam terbuka,
dll)
4. Transmisi
- Truk tangki dan moda lainnya
- Jaringan pipa transmisi dari primer ke sekunder
- Bak pelepas tekan
- Pipa

13
5. Jaringan distribusi ke pelanggan
- Sistem jaringan pipa
- Sistem penampungan
- Fittings
- Control
- Valve, Pompa
b) Kebutuhan Air
Kebutuhan air yang dimaksud adalah kebutuhan air yang digunakan untuk
menunjang segala kegiaan manusia, meliputi air bersih, domestik dan non
domestik, air irigasi baik pertanian maupun perikanan dan air untuk
penggelontoran kota.
1. Kebutuhan air domestik
Kebutuhan air domestik sangat ditentukan oleh jumlah penduduk dan
konsumsi perkapita. Kecenderungan populasi dan sejarah populasi dipakai
sebagai dasar perhitungan kebutuhan air domestik terutama dalam
penentuan kecenderungan laju pertumbuhan.
2. Kebutuhan non air domestik
Kebutuhan air domestik meliputi kebutuhan air komersial, kebutuhan
institusi dan industri. Kebutuhan air komersial untuk suatu daerah
cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan penduduk dan
perubahan tata guna lahan. Kebutuhaninibisamencapai 20 – 25% dari total
suplai (produksi) air. Kebutuhan institusi antara lain meliputi kebutuhan air
untuk sekolah, RS, gedung pemerintahan,tempat ibadah dan lainnya.
3.Kebocoran air (unaccounted for water/UFW)
UFW merupakan kompoen mayor dari kebutuhan air. Dalam penentuan
kebutuhanair, analisa kebocoran air perlu dilakukan. Kebocoran dapat
didefinisikan sebagai perbedaan antara jumlah air yang doproduksi oleh
produsen air dan jumlah air yang terjual keada konsumen, sesuai dengan
yang tercatat dimeteran air pelanggan. Ada 2 (dua) jenis kehilangan air
pada sistem suplesi air bersih, yaitu:
 Kebocoran fisik, disebabkan oleh kebocoran pipa, reservoir yang melimpas
keluar, penguapan, pemadaman kebakaran, pencuci jalan, pembilas

14
pipa/saluran dan pelayanan air tanpa meter air yang kadangala terjadi
penyambungan yang tidak tercatat.
 Kebocoran administrasi, disebabkan oleh meter aitr tanpa registrasi, juga
termasuk kesalahan di dalam sistem pembacaan, pengumpulan dan
pembuatan rekening serta kasus-kasus yang secara langsung maupun tidak
langsung berpengaruh terhadap kehilangan air.

2.2.3.2 Persampahan
Sampah adalah limbah atau buangan yang bersifat padat, setengah padat yang
merupakan hasil sampingan dari kegiatan perkotaan atau siklus kehidupan
manusia, hewan maupun tumbuhan. Sumber sampah perkotaan berasal dari
permukiman, pasar, kawasan pertokoan dan perdagangan, kawasan perkantoran
dan sarana umum, kawasan industri, peternakan hewan dan fasilitas umum
lainnya (Effendi, 1995).
Jenis sampah perkotaan terdiri atas 2 (dua) yaitu sampah organik dan anorganik.
Sampah organik adalah sampah yang mempunyai komposo\isis kimia mudah
terurai oleh bakteri (biodegradable), sedangkan sampah anorganik adalah
sampah yang mempunyai komposisi kimia sulit untuk diuraikan atau
membutuhkan waktu yang lama (nonbiodegradable)
Sistem pengelolaan sampah perkotaan pada dasarnya dilihat sebagai
komponenkomponen subsistem yang saling mendukung satu dengan lainnya,
saling berinteraksi untuk mencapai tujuan, yaitu kota yang bersih, sehat dan
teratur. Komponen itu adalah:
1. Sub sistem kelembagaan
2. Sub sistem teknik operasional
3. Sub sistem pembiayaan
4. Sub sitem hukum dan kelembagaan
5. Sub sistem peran serta masyarakat
Strategi pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lintas kabupaten/kota. Pada
aspek kelembagaan pengelolaan bersama lintas kabupaten/kota perlu dibentuk
3 badan yaitu badan pengatur yang merupakan lembaga teknis antar daerah yang
merupakan perangkat masingmasing daerah, badan pengelola myang
merupakan lembaga teknis operasional pengelolaan kebersihan antar daerah

15
tetapi bukan perangkat murni daerah dan badan pengawas yaitu lembaga yang
dibentuk oleh masyarakat, bersifat mandiri dan independen yang bertugas
pelaksanaan pengelolaan.

2.2.3.3 Air Limbah


Air limbah domestik adalah air bekas yang tidak dapat dipergunakan lagi untuk
tujuan semula baik yang mengandung kotosan manusia (tinja) atau dari aktifitas
dapur, kamar mandi dan cuci dimana kuantitasnya antara 50-70% dari rata-rata
pemakaian air bersih (120-140l/orang/hari). Air limbah domestik mengandung
lebih dari 90% cairan. Zat-zat yang terdapat dalam air buangan diantaranya
adalah unsur-unsur organik tersuspensi maupun terlarut dan juga undsur-unsur
anorganik serta mikroorganisme (Effendi, 2005). Unsur-unsur tersebut
memberikan corak kualitas air buangan dalam sifat fisik kimiawi maupun
biologi. Dampak pembuangan air limbah domestik mempunyai pengaruh yang
berbeda-beda terhadap kesehatan individu manusia. Faktor yang terkait dengan
seberapa jauh pengaruh limbah terhadap kesehatan antara lain:
a) Daya tahan tubuh
b) Jenis limbah dan jumlah dosis yang diterima tubuh
c) Akumulasi dosis limbah dalam tubuh
d) Sifat-sifat racun (toxin) dari limbah terhadap tubuh
e) Mudah tidaknya limbah dicerna dan dikeluarkan dari tubuh
f) Waktu kontak (lama tidaknya) berada dalam lingkungan limbah
g) Alergi (sensifitas tubuh) terhadapo limbah dalam bentuk tertentu.
Sistem pengelolaan limbah domestik terbagi menjadi 2 macam, yaitu sistem
pengelolaan limbah setempat (on site sistem) dan pembuangan terpusat (off site
sistem). Sistem pembuangan setempat adalah fasilitas pembuangan air limbah
yang berada di dalam daerah persil pelayanan (batas tanah yang dimiliki).
Sistem pembuangan terpusat adalah sistem pembuangan yang berada di luar
persil. Keuntungan dan kerugian on site sistem dan off site sistem adalah:
1. On site sistem
a. Keuntungan:
- Biaya pembuatan murah
- Biasanya dibuat oleh sektor swasta/pribadi
- Teknologi cukup sederhana
16
- Sistem sangat privasi karena terletak pada persilnya
- Operasi dan pemeliharaan dilakukan secara pribadi masing-masing
- Nilai manfaatnya yang dapat dirasakan langsung seperti bersih,
saluran air hujan tidak lagi dibuangi air limbah, terhindar dari bau
busuk,timbul estetika pekarangan dan populasi nyamuk berkurang.
b. Kerugian :
- Tidak selalu cocok di semua daerah
- Sukar mengontrol operasi dan pemeliharaan
- Bila pengendalian tidak sempurna maka air limbah dibuang ke
saluran drainase
- Sukar mengontrol operasi dan pemeliharaan
- Sukar mengontrol air tanah bila pemeliharaan tidak dilakukan dengan
baik
2. Of site sistem
a. Keuntungan:
- Pelayanan yang lebih nyaman
- Menampung semua air limbah domestic
- Pencemaran air tanah dan lingkungan dapat dihindari
- Cocok untuk daerah dengan tingkat kepadatan tinggi
- Masa/umur pemakaian relatif lebih lama
b. Kerugian :
- Memerlukan pembiayaan yang tinggi
- Memerlukan tenaga yang trampil untuk operasional dan
pemeliharaan
- Memerlukan perencanaan dan pelaksanaan jangka panjang
- Nilai manfaat akan terlihat apabila sistem telah berjalan dan semua
penduduk terlayani.

2.2.3.4 Drainase
Air hujan yang jatuh di suatu daerah perlu dialirkan atau dibuang dengan cara
pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di
permukaan tanah tersebut. Sistem saluran di atas selanjutnya dialirkan ke sistem
yang lebih besar (Raharjo, 2010). Sistem yang paling kecil juga dihubungkan

17
dengan saluran rumah tangga dan sistem bangunan infrastruktur lainnya.
Sehingga apabila cukup banyak limbah cair yang berada dalam saluran tersebut,
maka perlu dilakukan pengolahan (treatment). Seluruh proses ini disebut sistem
drainase.
Sistem drainase pada prinsipnya terbagi atas 2 macam, yaitu drainase daerah
perkotaan dan drainase untuk daerah pertanian. Pada drainase perkotaan
diperlukan kombinasi antara perkembangan perkotaan, daerah rural dan daerah
aliran sungai (DAS). Fungsi drainase adalah:
1. Membebaskan suatu wilayah (terutama yang padat permukiman) dari
genangan air, erosi dan banjir.
2. Drainase dengan aliran lancar akan berfungsi memperkecil resiko kesehatan
lingkungan.
3. Kegunaan tanah permukiman padat akan menjadi lebih baik karena
terhindar dari kelembaban.
4. Dengan sistem yang baik, tata guna lahan dapat dioptimalkan dan juga
memperkecil kerusakan struktur tanah untuk jalan dan bangunan lainnya.
Sistem jaringan drainase dibagi menjadi 2, yaitu:
a) Sistem drainase mayor/primer sampai sekunder
Sistem drainase mayor adalah sistem saluran/badan air yang menampung
dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (catchment area).
Biasanya sistem in imenampung aliran berskala besar dan luas seperti
saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai. Sistem ini merupakan
penghubung antara drainase dan pengendalian banjir. Debit rencana untuk
daerah urban umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5–10 tahun.
Untuk Indonesia, karena keterbatasan dana, biasanya dipakai dengan
periode berulang antara 25 – 50 tahun.
b) Sistem drainase minor/mikro
Drainase mikro adalah sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase
yang menampung dan mengalirkan iar dari daerah tangkapan hujan dimana
sebagaian besar berada didalam wilayah kota. Secara keseluruhan, yang
termasuk dalam drainase mikro adalahsalurandisepanjang sisi jalan, selokan
air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong,salurandrainase kota dan
lainnya dimana debit yang dapat ditampung tidak terlalubesar.Drainase
mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2,5 atau 10 tahun
18
tergantung pada tata guna tanah yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan
permukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro. Dari segi
konstruksinya, dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1. Sistem saluran tertutup
Sistem aliran tertutup masih bersifat grafitasi (aliran pada saluran terbuka)
hanya konstruksi di atasnya dibuat tertutup sehingga dapat dimanfaatkan
untuk bangunan lain.
2. Sistem saluran terbuka
Sistem saluran terbuka biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan
mengalirkan air hujan dan juga ada yang berfungsi sebagai saluran
campuran (gabungan) misalnya sampah dan limbah penduduk.

2.3 PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN


2.3.1 Pengertian Kawasan Kumuh dan Permukiman Kumuh Perkotaan
Kawasan kumuh adalah sebuah kawasan dengan tingkat kepadatan populasi tinggi di
sebuah kota yang umumnya dihuni oleh masyarakat miskin. Kawasan kumuh dapat ditemui di
berbagai kota besar di dunia (Salim, 1998). Kawasan kumuh umumnya dihubung hubungkan
dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran tinggi. Kawasan kumuh dapat pula menjadi
sumber masalah sosial seperti: kejahatan, obat-obatan terlarang dan minuman keras. Di
berbagai negara miskin, kawasan kumuh juga menjadi pusat masalah kesehatan karena
kondisinya yang tidak higienis.
Ravianto (2009) mengemukakan bahwa perumahan kumuh atau pemukiman kumuh
adalah lingkungan hunian atau tempat tinggal/rumah beserta lingkungannya, yang berfungsi
sebagai rumah tinggal dan sebagai sarana pembinaan keluarga, tetapi tidak layak huni ditinjau
dari tingkat kepadatan penduduk, sarana dan prasarananya, fasilitas pendidikan, kesehatan serta
sarana dan prasarana sosial budaya masyarakat.
Secara umum, daerah kumuh (slum area) diartikan sebagai suatu kawasan pemukiman
atau pun bukan kawasan pemukiman yang dijadikan sebagai tempat tinggal yang bangunan
bangunannya berkondisi sub-standar atau tidak layak yang dihuni oleh penduduk miskin yang
padat. Kawasan yang sesungguhnya tidak diperuntukkan sebagai daerah pemukiman di banyak
kota besar, oleh penduduk miskin yang berpenghasilan rendah dan tidak tetap diokupasi untuk
dijadikan tempat tinggal, seperti: bantaran sungai, di pinggir rel kereta api, tanah-tanah kosong
di sekitar pabrik atau pusat kota, dan di bawah jembatan.

19
Sedangkan definisi permukiman kumuh mengacu kepada UU no. 1 tahun 2011 tentang
perumahan dan permukiman, yaitu: “permukiman kumuh merupakan permukiman yang tidak
layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan tinggi, dan kualitas
bangunan serta sarana dan prasarana yang mengalami penurunan kualitas fungsi sebagai tempat
hunian. Dengan penjabaran sebagai berikut:
Pengertian ketidakteraturan bangunan:
1. Tata letak bangunan dan prasarana dalam kawasan tidak teratur
2. Tidak adanya garis sempada bangunan (GSB) atau GSB tidak teratur
3. Orientasi bangunan tidak tertib atau tidak ada pola tata letak bangunan
4. Struktur pembentuk lingkungan yang tidak teratur (tidak berpola) dan pola pemanfaatan
ruang dengan efektifitas rendah. Dicirikan oleh struktur dan pola jalan serta
infrastruktur
5. Ketidakteraturan itu bisa disebabkan oleh aspek fisik alami dan fisik binaan di kawasan
tersebut
Pengertian kepadatan bangunan:
1. Menunjukkan banyaknya bangunan (jumlah) bangunan dalam suatu luas lahan tertentu
= bangunan/ha
2. Kesesuaian koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien lantai bangunan (KLB)
dengan persyaratan yang ditetapkan oleh setiap daerah (berbeda untuk kelas kota yang
ditinjau)
3. Berpengaruh terhadap nilai kepadatan penduduk per satuan luas
Pengertian Penurunan Kualitas Bangunan dan Sarana Prasarana:
a. Penurunan kualitas bangunan ditandai dengan kondisi teknis yang tidak nyaman, tidak
sehat, tidak ada kemudahan serta tidak adanya keindahan
b. Penurunan kualitas bangunan terkait dengan kriteria rumah tidak layak huni Secara
umum rumah tidak sehat diartikan sebagai kondisi kemampuan bangunan rumah yang
berada di bawah standar kelayakan untuk dihuni. Kondisi ini dicirikan oleh kualitas
bangunan dengan material yang sub standar dan kapasitas huni dari bangunan (luas
dibutuhkan per jiwa) berada di bawah standar rumah sehat yang ditetapkan.
c. Jenis atap rumah terbuat dari daun dan lainnya
d. Jenis dinding rumah terbuat dari anyaman bambu yang belum diproses
e. Jenis lantai tanah
f. Tidak mempunyai fasilitas tempat untuk Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang memadai
baik pribadi maupun komunal Sarana sosial, budaya, ekonomi dan pelayanan umum
20
seperti air bersih, air kotor, dan persampahan tidak memadai baik secara kuantitas
maupun kualitas Indikator yang digunakan unruk mencirikan kekumuhan dan
mengidentifikasi suatu lingkungan permukiman untuk dapat dikatakan kumuh adalah
hanya pada indikator fisik. Maka, karakteristik permukiman kumuh adalah sebagai
berikut:
1. Memiliki kekurangan pelayanan dasar seperti akses layak terhadap air bersih, jalan
lingkungan yang diaspal, sanitasi, dan infrastruktur penting lainnya
2. Bangunan rumah dalam permukiman terbuat dari struktur yang berkualitas buruk dan
umumnya melanggar aturan bangunan
3. Permukiman dengan intensitas lahan dan bangunan yang tinggi, ditandai dengan rumah
dan populasi kepadatan tinggi
4. Berada pada kondisi yang lingkungannya tidak sehat dan tidak mungkin bertempat di
lahan yang rawan bencana atau lahan tidak dapat dibangun
5. Penghuninya tidak memiliki jaminan kepemilikan lahan dan rentan digusur
6. Penghuninya mengalami kemiskinan tingkat tinggi dan pengucilan sosial

2.3.2 Penyebab Timbulnya Permukiman Kumuh


Menurut Khomarudin, (1997) penyebab utama tumbuhnya permukiman kumuh adalah
sebagai berikut :
1. Urbanisasi dan migrasi yang tinggi terutama bagi kelompok masyarakat
berpenghasilan rendah
2. Sulit mencari pekerjaan,
3. Sulitnya mencicil atau menyewa rumah,
4. Kurang tegasnya pelaksanaan perundang-undangan,
5. Perbaikan lingkungan yang hanya dinikmati oleh para pemilik rumah serta disiplin
warga yang rendah,
6. Semakin sempitnya lahan permukiman dan tingginya harga tanah.

Adapun timbulnya kawasan kumuh ini menurut Hari Srinivas dapat dikelompokan
sebagai berikut:
1. Faktor internal: Faktor budaya, agama, tempat bekerja, tempat lahir, lama tinggal,
investasi rumah, jenis bangunan rumah.
2. Faktor eksternal: Kepemilikan tanah, kebijakan pemerintah.

21
Menurut Arawinda Nawagamuwa dan Nils Viking (2003:3-5) penyebab adanya
permukiman kumuh adalah:
1. Karakter bangunan yaitu umur bangunan yang sudah terlalu tua, tidak terorganisasi,
ventilasi, pencahayaan dan sanitasi yang tidak memenuhi syarat,
2. Karakter lingkungan yaitu tidak ada open space (ruang terbuka hijau) dan tidak
tersedia fasilitas untuk rekreasi keluarga, kepadatan penduduk yang tinggi, sarana
prasarana yang tidak terencana dengan baik.

2.3.3 Tipologi Kawasan Kumuh Perkotaan


Menurut Permen PU Nomor 11 tahun 2008, Tipologi perumahan kumuh dan
permukiman kumuh perkotaan merupakan pengelompokan perumahan kumuh
berdasrkan letak lokasi secara geografis, tipologi perumahan kumuh dan permukiman
kumuh terdiri dari:
a. Di atas Air
b. Di tepi Air
c. Di daratan
d. Diperbukitan
e. Di daerah rawan bencana
Secara umum penjelasan tipologi perumahan kumuh dan permukiman kumuh
perkotaan dapat dijelaskan sebagai berikut:
No Tipologi Batasan
1 Perumahan kumuh dan Perumahan kumuh dan permukiman kumuh yang berada
permukiman kumuh di atas di atas air, baik daerah pasang surut, rawa, sungai
air ataupun laut
2 Perumahan kumuh dan Perumahan kumuh dan permukiman kumuh yang berada
Permukiman Kumuh di tepi di tepi badan air (sungai, pantai, danau, waduk dan
air sebagainya), namun berada di luar Garis Sempadan Air)
3 Perumahan kumuh dan Perumahan kumuh dan permukiman kumuh yang berada
Permukiman Kumuh di di daerah dataran rendah dengan kemiringan lereng < 10
dataran rendah %
4 Perumahan kumuh dan Perumahan kumuh dan permukiman kumuh yang berada
Permukiman Kumuh di di daerah dataran tinggi dengan kemiringan lereng < 10
perbukitan % dan < 40 %

22
5 Perumahan kumuh dan Perumahan kumuh dan permukiman kumuh yang
Permukiman Kumuh di terletak di daerah rawan bencana alam, khususnya
daerah rawan bencana bencana alam tanah longsor, gempa bumi dan banjir
Sumber: Permen PU tentang Pedoman Teknis Peningkatan Kualitas terhadap Permukiman Kumuh Perkotaan

Tabel : 2.1 Tipologi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh Perkotaan


2.34 Identifikasi dan Indikator Permukiman Kumuh
2.3.4.1 Identifikasi Permasalahan Kekumuhan
Identifikasi permasalahan kekumuhan merupakan tahapan identifikasi untuk
menentukan permasalahan kekumuhan pada obyek kajian yang difokuskan pada
aspek kualitas fisik bangunan dan infrastruktur keciptakaryaan pada suatu lokasi
(Adisasmita, 1978). Identifikasi permasalahan kekumuhan dilakukan
berdasarkan pertimbangan pengertian perumahan kumuh dan permukiman
kumuh, persyaratan teknis sesuai ketentuan yang berlaku, serta standar
pelayanan minimal yang dipersyaratkan secara nasional (Rina, 2016). Atas dasar
itu, maka identifikasi permasalahan kekumuhan dilakukan pada beberapa
indikator sebagai berikut:
1. Kondisi Bangunan, dengan kriteria sebagai berikut:
a. Sebagian besar bangunan pada lokasi tidak memiliki keteraturan
bangunan, dalam hal dimensi, orientasi, dan bentuk tapak bangunan
b. Lokasi memiliki kepadatan bangunan yang tinggi, yaitu tingginya jumlah
bangunan per-hektar sesuai klasifikasi kota yang bersangkutan
c. Sebagian besar bangunan pada lokasi tidak memenuhi persyaratan teknis,
khususnya persyaratan teknis untuk hunian sederhana (sistem struktur,
pengamanan petir,penghawaan, pencahayaan, sanitasi, dan bahan
bangunan)

2. Kondisi Jalan Lingkungan, dengan kriteria sebagai berikut:


a. Cakupan pelayanan jalan lingkungan tidak memadai terhadap luas area,
artinya sebagian besar lokasi belum terlayani jalan lingkungan, serta
b. Sebagaian besar kualitas jalan lingkungan yang ada kondisinya buruk,
artinya kekerabatan permukaan jalan yang tidak memadai bagi kendaraan

23
untuk dapat dilalui oleh kendaraan dengan cepat, aman, dan nyaman,
termasuk akses bagi mobil ambulans.
3. Kondisi Drainase Lingkungan, dengan kriteria sebagai berikut:
a. Sebagian besar jaringan drainase pada lokasi yang ada mampu mengatasi
genangan minimal, yaitu genangan dengan tinggi lebih dari 30 cm selama
2 jam dan tidak lebih dari 2 kali setahun
b. Cakupan pelayanan jaringan drainase yang ada tidak memadai terhadap
luas area, artinya sebagian besar lokasi belum terlayani jaringan drainase.
4. Kondisi Penyediaan Air Minum, dengan kriteria sebagai berikut:
a. Sebagian luas area memiliki sistem penyediaan air minum yang tidak
memenuhi persyaratan teknis, baik jaringan perpipaan yang terdiri dari
unit air baku, unit produksi, unit distribusi, unit pelayanan dan unit
pengelolaan maupun jaringan bukan perpipaan yang terdiri dari sumur
dangkal, sumur pompa tangan, bak penampung air hujan, terminal
air,mobil tanki air, instalasi air kemasan, atau bangunan perlindungan
mata air, serta
b. Cakupan pelayanan penyediaan air minum yang ada tidak memadai
terhadap populasi, artinya sebagian besar populasi belum terpenuhi akses
air minum yang aman sebesar 60 liter/orang/hari.
5. Kondisi Pengelolaan Air Limbah, dengan kriteria sebagai berikut:
a. Sebagian besar luas area memiliki sistem pengelolaan air limbah yang
tidak memenuhi persyaratan teknis, baik sistem pengelolaan air limbah
setempat secara individual atau komunal, maupun sistem pengelolaan air
limbah terpusat, serta
b. Cakupan pelayanan pengolahan air limbah yang ada tidak memadai
terhadap populasi, artinya sistem pengolahan air limbah yang ada belum
mampu menampung timbulan limbah sebesar 5-40 liter/orang/hari.

6. Kondisi Pengelolaan Persampahan, dengan kriteria sebagai berikut:


a. Sebagian besar luas area memiliki sistem pengelolaan persampahan yang
tidak memenuhi persyaratan teknis, baik dalam hal perwadahan,
pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan.

24
b. Cakupan pelayanan pengelolaan persampahan yang ada tidak memadai
terhadap populasi, artinya sistem pengelolaan persampahan yang ada
belum mampu menampung timbunan sampah sebesar 0,3 kg/orang/hari.
7. Kondisi Pengaamanan Kebakaran, dengan kriteria sebagai berikut:
a. Sebagian besar luas area memiliki pasokan air untuk pemadaman yang
tidak memadai, baik dari sumber alam (kolam air, danau, sungai, sumur
dalam) maupun buatan(tanki air, kolam renang, reservoir air, mobil tanki
air dan hidaran) serta
b. Sebagaian besar luas area memiliki jalan lingkungan yang tidak memadai
untuk mobil pemadam kebakaran, yaitu jalan lingkungan dengan lebar
jalan minimum 3,5 meter dan bebas dari hambatan apapun

2.3.4.2 Identifikasi Pertimbangan Lain (Non Fisik)


Identifikasi pertimbangan lain (non fisik) merupakan tahap identifikasi untuk
menentukan skala prioritas penanganan permukiman kumuh dan permukiman
kumuh teridentifikasi dengan sudut pandang lain yang mempengaruhi
efektifitas/keberhasilan program penanganan. Identifikasi pertimbangan lain
dilakukan oleh pemerintah daerah berdasarkan pertimbangan non fisik yang
relevan (Rina.F, 2016) Identifikasi pertimbangan lain dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa indikator sebagai berikut:
1. Nilai Strategis Lokasi, dengan kriteria sebagai berikut:
Lokasi terletak pada fungsi strategis kawasan/ wilayah, konstelasi kawasan/
wilayah seperti fungsi pemerintahan, industri, perdagangan dan jasa, dan
fungsi lainnya.
2. Kepadatan Penduduk, dengan kriteria sebagai berikut:
Lokasi memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, artinya jumlah penduduk
per-hektar pada lokasi relatif tinggi sesuai klasifikasi kota yang bersangkutan.

3. Potensi Sosial Ekonomi, dengan kriteria sebagai berikut:


Lokasi memiliki potensi sosial ekonomi yang tinggi yang potensial
dikembangkan, artinya pada lokasi terdapat potensi kegiatan ekonomi seperti
budidaya, industri, perdagangan maupun jasa, maupun potensi kegiatan sosial
budaya seperti kesenian, kerajinan, dan lain sebagainya.
25
4. Dukungan Masyarakat, dengan kriteria sebagai berikut:
Dukungan masyarakat terhadap proses penanganan kekumuhan tinggi, artinya
masyarakat mendukung program penanganan bahkan berperan aktif sehingga
tercipta situasi yang kondusif dalam pelaksanaan fisik.
5. Komitmen Pemerintah Daerah, dengan kriteria sebagai berikut:
Pemerintah daerah memiliki komitmen tinggi dalam penanganan lokasi,
dimana komitmen pemerintah daerah terhadap lokasi dalam hal ini dinilai dari
alokasi anggaran, program regulasi, kebijakan, maupun kelembagaan.

2.3.4.3 Identifikasi Legalitas Lahan


Identifikasi legalitas lahan merupakan tahapan identifikasi untuk menentukan
permasalahan legalitas lahan pada obyek kajian, setiap perumahan kumuh dan
permukiman kumuh yang difokuskanpada status lahan, kesesuaian dengan
rencana tata ruang dan persyaratan administrasi bangunan (Effendi 2013).
Identifikasi legalitas lahan dilakukan dengan menggunakan indikator berikut:
1. Aspek Status Lahan, dengan kriteria sebagai berikut:
a. Keseluruhan lokasi memiliki kejelasan status tanah, baik dalam hal
kepemilikan maupun izin pemanfaatan tanah dari pemilik tanah (status
tanah legal)
b. Sebagian atau keselurahan lokasi tidak memiliki kejelasan status tanah,
baik merupakan miliki orang lain, milik negara, dan milik masyarakat adat
tanpa izin pemanfaatan tanah dari pemiliki tanah maupun tanah sengketa
(status tanah ilegal).
2. Aspek Kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang (RTR), dengan kriteria
sebagai berikut:
a. Keseluruhan lokasi berada pada zona perumahan dan permukiman sesuai
RTR (sesuai)
b. Sebagian atau keseluruhan lokasi berada tidak pada zona perumahan dan
permukiman sesuai RTR (tidak sesuai)
3. Aspek persyaratan administrasi bangunan, dengan kriteria sebagai
berikut:
a. Keseluruhan bangunan pada lokasi telah memiliki izin mendirikan
bangunan (IMB)

26
b. Sebagian atau keseluruhan bangunan pada lokasi tidak memiliki izin
mendirikan bangunan (IMB)

2.3.4.4 Identifikasi Lokasi Kawasan Permukiman Kumuh


Menurut Rina, (2016) Berikut merupakan tahapan dalam penentuan lokasi kawasan
permukiman kumuh di suatu lokasi:
1. Identifikasi satuan perumahan dan permukiman
Identifikasi satuan perumahan dan permukiman merupakan tahapan identifikasi untuk
menentukan batasan atau lingkup entitas perumahan dan permukiman dari setiap lokasi
dalam suatu wilayah kabupaten/ kota. Penentuan satuan perumahan dan permukiman
untuk perumahan dan permukiman dilakukan dengan pendekatan administratif .
2. Identifikasi kondisi kekumuhan
Identifikasi kondisi kekumuhan merupakan upaya untuk menentukan tingkat
kekumuhan pada suatu perumahan dan permukiman dengan menemukenali
permasalahan kondisi bangunan gedung beserta sarana dan prasarana pendukungnya.
Identifikasi kondisi kekumuhan dilakukan berdasarkan kriteria kumuh dan permukiman
kumuh.
3. Identifikasi legalitas lahan
Identifikasi legalitas lahan merupakan tahapan identifikasi untuk menentukan status
legalitas lahan pada setiap lokasi perumahan kumuh dan permukiman kumuh sebagai
dasar yang menentukan bentuk penanganan.
a. Kejelasan status penguasaan lahan
 Kepemilikan sendiri, dengan bukti dokumen sertifikat hak atas tanah atau
bentuk dokumen keterangan status tanah lainnya yang sah; atau
 Kepemilikan pihak lain (termasuk milik adat/ulayat), dengan bukti izin
pemanfaatan tanah dari pemegang hak atas tanah atau pemiliki tanah dalam
bentuk perjanjian tertulis antara pemegang hak atas tanah atau pemilik tanah
dengan pengguna tanah

b. Kesesuaian dengan rencana tata ruang


Kesesuaian dengan rencana tata ruang merupakan kesesuaian terhadap peruntukan
lahan dalam rencana tata ruang, dengan bukti surat keterangan rencana
kabupaten/kota (SRK).
4. Identifikasi Pertimbangan Lain
27
Identifikasi pertimbangan lain merupakan tahap identifikasi terhadap beberapa hal lain
yang bersifat non fisik untuk menentukan skala prioritas penanganan perumahan dan
permukiman kumuh (Salim, 1998). Identifikasi pertimbangan lain meliputi aspek:
a. Nilai strategis lokal
Nilai strategis lokasi merupakan pertimbangan letak lokasi perumahan atau
permukiman pada:
 Fungsi strategis kabupaten/kota; atau
 Bukan fungsi strategis kabupaten/kota
b. Kependudukan
Kependudukan merupakan pertimbangan kepadatan penduduk pada lokasi
perumahan dan permukiman dengan klasifikasi:
 Rendah yaitu kepadatan penduduk dibawah 150 jiwa/ha
 Sedang yaitu kepadatan penduduk dibawah 151-200 jiwa/ha
 Tinggi yaitu kepadatan penduduk dibawah 201-400 jiwa/ha
 Sangat padat yaitu kepadatan penduduk dibawah 400 jiwa/ha
5. Kondisi sosial, ekonomi, dan budaya
Kondisi sosial, ekonomi, dan budaya merupakan pertimbangan potensi yang dimiliki
lokasi perumahan dan permukiman berupa:
a. Potensi sosial yaitu tingkat partisipasi masyarakat dalam mendukung pembangunan
b. Potensi ekonomi yaitu adanya kegiatan ekonomi tertentu yang bersifat strategis bagi
masyarakat setempat
c. Potensi budaya yaitu adanya kegiatan atau warisan budaya tertentu yang dimiliki
masyarakat setempat

2.4 Metode Analytic Hierarchy Process (AHP)

Analytic Hierarchy Process (AHP ) dikembangkan oleh (Saaty,1990 dalam Atmanti, 2008).
AHP ini merupakan sistem pembuat keputusan dengan menggunakan model matematis.
Analisis AHP membantu dalam menentukan prioritas dari beberapa kriteria dengan melakukan
analisa perbandingan berpasangan dari masing-masing kriteria. Penggunaan model AHP yang
luwes yang memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk membangun ide-
ide dan mendefinisikan permasalahan dengan cara membuat asumsi mereka masing-masing,
guna memperoleh pemecahan yang diinginkan. Berbagai keuntungan AHP menurut (Saaty
1990 dalam Atmanti, 2008) adalah:

28
1. Kesatuan: AHP memberi satu model tunggal yang mudah dimengerti, luwes untuk
aneka ragam persoalan terstruktur.
2. Kompleksitas: AHP memadukan rancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan
persoalan kompleks.
3. Saling ketergantungan: AHP dapat menangani saling ketergantungan elemen–elemen
dalam suatu sistem dan tidak memaksakan pemikiran linier.
4. Penyusunan hierarki: AHP mencerminkan kecenderungan mendalami pikiran untuk
memilih-milah elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkatan berlainan dan
mengelompokkan unsur yang serupa dalam setiap tingkat.
5. Pengukuran: AHP memberi suatu skala untuk mengukur hal-hal dan wujud suatu
metode untuk menetapkan suatu prioritas.
6. Konsistensi: AHP melacak konsistensi logis dari pertimbangan- pertimbangan yang
digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas.
7. Sintetis: AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap
alternatif.
8. Tawa menawar: AHP mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor
sistem dan memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan-tujuan
mereka.
9. Penilaian dan konsensus: AHP tidak memaksakan konsensus tetapi mensistensi suatu
hasil yang representatif dari berbagai penilaian yang berbeda-beda.
10. Pengulangan proses: AHP memungkinkan orang memperhalus definisi mereka pada
suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian mereka melalui
pengulangan.

Menurut Saaty, (1990) dalam La Ode dan Yahya, (2007) dalam Atmanti, (2008), terdapat 3
(tiga) prinsip utama dalam masalah AHP yaitu: Pertama Decomposition (memecah
permasalahan), Comparative Judgement (membuat penilaian), synthesis of priority (mencari
nilai prioritas lokal) dan Logical Consistency (ukuran kekonsistensian responden terhadap
penilaiannya). Ketiga prinsip utama diatas merupakan tahapan analisis AHP yang yang harus
dipahami. Proses analisis dengan model ahp ini pada dasarnya mencakup semua aspek penting
yang berkaitan dengan tujuan (Goals), yaitu membuat struktur hirarki yang diawali dengan
tujuan utama, dilanjutkan dengan kriteria (subkriteria )dan kemungkinan alternatif-alternatif
pada tingkatan kriteria yang paling bawah. Banyaknya level susunan hierarki tergantung pada
permasalahan yang dihadapi (Atmanti, 2008).

29
1. Decomposition: setelah permasalahan didefinisikan, maka perlu di diurai permasalahan
yang utuh menjadi menjadi sebuah hirarki dengan setiap tingkatan terdiri dari beberapa
elemen yang dapat dikelola, yang pada giliran selanjutnya setiap elemen juga diurai
sampai yang terkecil sehingga membentuk hirarki yang lengkap.
2. Comparative Judgement: membuat penilaian tentang kepentingan relative dua elemen
pada suatu tingkatan tertentu dalam kaitannya dengan tingkat diatasnya. Hasil dari
penilaian ini akan tampak lebih baik bila penilaian ini disajikan dalam bentuk matrik
yang dinamakan matrik Pairwase comparison (perbandingan berpasangan).
3. Synthetis of Priority: mencari nilai eigen vector untuk mendapatkan nilai prioritas (local
priority)
3. Logical Consistency, menyatakan ukuran tentang konsisten tidaknya suatu penilaian atau
pembobotan perbandingan berpasangan. Pengujian ini perlu dilakukan, karena dapat
terjadi beberapa penyimpangan dari hubungan tersebut sehingga matriks tersebut tidak
konsisten sempurna Proses analisis dengan model ahp ini pada dasarnya mencakup
semua aspek penting yang berkaitan dengan tujuan (Goals), yaitu membuat struktur
hirarki yang diawali dengan tujuan utama, dilanjutkan dengan kriteria (subkriteria )dan
kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah. Banyaknya
level susunan hierarki tergantung pada permasalahan yang dihadapi (Atmanti, 2008).
Secara garis besar skema hierarki dapat disajikan pada Gambar 2.10

Tujuan (Goal)

Kriteria.1 Kriteria.2 Kriteria.3 Kriteria.n

Sub. Kriteria.1 Sub. Kriteria.1 Sub. Kriteria.1 Sub. Kriteria.1

Sub. Kriteria.2 Sub. Kriteria.2 Sub. Kriteria.2 Sub. Kriteria.2

Sub. Kriteria.n Sub. Kriteria.n Sub. Kriteria.n Sub. Kriteria.n

30
2.4 Kerangka Ber

Gambar : 2.6 Susunan Hirarki Keputusan

1. Membuat Matrik Perbandingan Antar Elemen


Untuk memberikan penilaian diperlukan suatu nilai matriks perbandingan berpasangan
(pairwise comparison)tingkat kepentingan antar kriteria, sub- skala kuantitatif 1 (satu)sampai
dengan 9 (sembilan)yang telah dikembangkan berdasarkan sumber dari (Saaty, 1990 dalam
Atmanti,2008).
Secara garis Skala Penilaian Perbandingan Berpasangan dapat disajikan pada Tabel 2.1
Nilai Skala Keterangan
1 A sama pentingnya dengan B
2 A sedikit lebih penting dari B
3 A Jelas lebih penting dari B
5 A Sangat lebih penting dari B
7 A Mutlak lebih penting dari B
2,4,6,8 Apabila ragu ragu dari dua nilai yang berdekatan
Tabel 1 nilai skala perbandingan Saaty dalam AHP (Saaty 1983; marimin 20050
Tabel : 2.1 Skala penilaian berpasangan

Pembobotan tingkat kepentingan apabila suatu kriteria A dinilai lebih penting dengan nilai
tingkat kepentingannya 3 dibandingkan dengan kriteria B, maka kriteria B lebih penting 1/3
(satuperlima )dari kriteria A. Apabila elemen A sama pentingnya dengan B, maka masing-
masing bernilai 1 (satu). Selanjutnya (pairwase comparison) perbandingan berpasangan
tersebut diaplikasikan kedalam bentuk tabel n x n. Bentuk tabel tersebut dapat disajikan pada
Tabel 2.2.
Tabel : 2.2 Matriks (pairwase comparison) Perbandingan Berpasangan
Kriteria/alternatif A B C n
A 1
B 1
C 1
N 1

31
2. Penentuan Nilai Tingkat Kepentingan
Penetapan prioritas pada tiap-tiap hierarki dilakukan melalui proses Priority Vector /eigen
vector dan Normalized dengan mencari nilai bobot untuk masing-masing kriteria prioritas
dengan melakukan penjumlahan setiap nilai bobot antar kriteria pada setiap baris tabel dibagi
dengan jumlah kriteria, Secara garis skala penentuan nilai prioritas dapat disajikan
pada Tabel 2.3.
Tabel : 2.3 Matrik Prioritas (pairwase comparison ) Perbandingan Berpasangan
Kriteria/alternatif A B C D Priority Vector
A 1
B 1
C 1
N 1

3. Uji Konsistensi Pengambilan Keputusan


Melakukan uji konsistensi indeks dan rasio dengan membandingkan bila nilai CR tidak lebih
dari 10 % berarti menunjukkan kekonsistenan para pengambil keputusan dalam menilai.
dibawah ini adalah tabel orde matrik yang mendapatkan nilai-nilai RI (random indeks)sebagai
tolak ukur menguji kekonsistenan. Secara garis besar perbandingan uji konsistensidapat
disajikan pada Tabel 2.4.

Tabel : 2.4 Nilai Random Indeks


Orde Matrik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
RI 1 0 0,58 0,9 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49

Menurut Thomas L. Saaty, 1990 bahwa salah satu cara pengukuran konsistensi melalui Indeks
Konsistensi dengan rumus sebagai berikut :
µ𝑚𝑎𝑥−𝑛
CI =
𝑛−1
Keterangan:
CI = Consistency Index (Ratio Penyimpangan Konsistensi)
λ max = Nilai eigen(eigen value) terbesar dari matriks perbandingan berpasangan berordo
n = menyatakan kriteria/ alternatif yang dibandingkan

32
Dengan membandingkan CI dengan RI maka didapat ukuran untuk menentukan tingkat
konsistensi suatu matriks, yang disebut ConsistencyRatio (CR), dengan rumus :
CR = CI/RI
Keterangan :
CR = Consistency Ratio, CI = Consistency Index dan RI = Random Index
Apabila ratio konsistensi (CR) 0,10 maka hasil penelitian dapat diterima atau
dipertanggung jawabkan. Jika tidak, maka pengambilan keputusan arus meninjau ulang
masalah dan merivisi nilai matrik (pairwase comparison) perbandingan berpasangan.

2.5 Hipotesis
Tingkat kekumuhan pada kawasan Kelurahan Tenukiik dan Kelurahan Rinbesi masuk
dalam kategori kumuh sedang

33
2.7 Penelitian Terdahulu
No Penulis Judul Penelitian Tujuan Metode Hasil
1 M. Farizki Pemetaan Kualitas interpretasi Interpretasi citra Tingkat kualitas permukiman
& Wenang Permukiman dengan visual memanfaatkan perangkat dengan penginderaan di Kecamatan Batam Kota, Kota Batam
Anurogo Menggunakan sistem informasi geografi jauh, melalui deteksi dan didominasi tingkat kualitas sedang, kualitas
(2017) Penginderaan Jauh dan (SIG), sehingga menghasilkan pemberian baik dan kualitas buruk merupakan
SIG di Kecamatan informasi baru yaitu peta bobot persebaran permukiman yang paling
Batam Kota, Batam kualitas permukiman. sedikit.

2 Hafsah Identifikasi Penentuan penentuan kriteria kawasan Analisa AHP digunakan Kriteria-kriteria yang sangat berpengaruh
Fatihul Ilmy Prioritas Kriteria permukiman kumuh perkotaan untuk menentukan bobot dalam penentuan identifikasi kawasan
& Yanto Kawasan Permukiman yang kemudian dilakukan tiap kriteria-kriteria yang permukiman kumuh di wilayah penelitian
Budisusanto Kumuh Perkotaan identifikasi penentuan prioritas berpengaruh terhadap adalah kriteria sistem pengelolaan
(2016) menggunakan Metode kriteria kawasan permukiman identifikasi wilayah persampahan tidak sesuai standar teknis,
AHP (Analytical kumuh perkotaan menggunakan permukiman kumuh. tidak terpeliharanya sarana dan prasarana
Hierarcy Process) metode AHP persamapahan, tidak terpenuhinya
kebutuhan air minum, cakupan pelayanan
jalan lingkungan dan ketidaktersediaan
drainase.
3 Eny Endang Faktor-faktor yang mengetahui faktor yang menjadi Metode Analisis Korelasi Faktor penyebab penurunan kualitas
Surtiani mempengaruhi penyebab kekumuhan Variabel Untuk Analisis lingkungan permukiman Kawasan
(2006) Terciptanya kawasan lingkungan Kawasan Kuantitatif dan Metode Pancuran adalah disebabkan oleh jumlah
permukiman kumuh Permukiman Pancuran yang ada Analisis Regresi Faktor penghuni, status kepemilikan, penghasilan,
Di kawasan pusat kota di kawasan pusat Kota Penyebab Kekumuhan luas lahan dan lama tinggal Dimana
(studi kasus: kawasan Salatiga, dalam upaya Lingkungan Kawasan variabel-variabel tersebut memiliki nilai
pancuran, salatiga) memberikan alternatif Permukiman Pancuran. signifikansi yang jauh lebih kecil dari 0,05.
penyelesaian masalah berupa Dan diantara varibael-variabel tersebut
rekomendasi perencanaan yang memiliki pengaruh tertinggi adalah
lingkungan, sehingga mampu variabel ”tingkat penghasilan” dan ”luas
meningkatkan fungsi dan lahan”.
kualitas Kawasan Permukiman
Pancuran Kota Salatiga.

36
2.7 Kerangka Berfikir
Kerangka berpikir terbentuk dalam bentuk diagram alur pemikiran, disusun berdasarkan
kajian pustaka dan studi penelitian berupa landasan teori dan hasil penelitian yang
berkaitan dengan objek penelitian :

Kabupaten Belu mempunyai Kawasan Kumuh

Urbanisasi dan Kemiskinan

Pertambahan Jumlah Penduduk Kebutuhan Standar Pelayanan Minimal


(SPM)

Kebutuhan Ruang Bermukim

Latar Belakang
Permukiman Kelurahan Tenukik dan Rinbesi
yang tidak tertata dan terkendali

PERTANYAAN PENELITIAN
Bagaimana Tingkat Kekumuhan pada Kelurahan Tenukik dan Rinbesi ?
Manakah program yang efektif dan efisien berdasarkan tingkat
kekumuhan ?

Perumusan Masalah

Identifikasi Kebijakan Identifikasi Eksisting


Normatif Pemanfaatan Lahan

Analisis Fisik dan Non Fisik


Permukiman

Karakteristik Kawasan
Analisis Tingkat Kekumuhan pada Kelurahan
Tenukik dan Rinbesi

Analisis program prioritas melalui AHP.

Kesimpulan

Gambar : 2.7 Gambar Kerangka berfikir

37
BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan fokus penelitian adalah
menentukan karakteristik tingkat kekumuhan dan menentukan prioritas dalam upaya
menurunkan atau meminimalisir tingkat kekumuhan. Tahapan penelitian dimulai dari
perumusan masalah, studi literatur dan pengumpulan data melalui survey, dokumentasi,
wawancara kepada masyarakat untuk mengetahui informasi di wilayah penelitian serta tahapan
analisis dan penulisan laporan. Wawancara juga dilakukan kepada pakar untuk memperoleh
kriteria dan alternatif program, serta pembobotan terhadap kriteria dan alternatif terkait strategi
pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dalam menangani atau meminimalisir permukiman
kumuh perkotaan. Secara garis besar tahapan penelitian ditunjukkan dalam gambar 3.1

PERMASALAHAN
Persoalan permukiman kumuh di Kabupaten Belu,
karakteristik tingkat kekumuhan di Kelurahan
Tenukiik dan Reinbesi

STUDI LITERATUR PENGUMPULAN DATA


Perumahan dan Permukiman, Survey, Dokumentasi, Deliniasi
Perkotaan,Infrastruktur wilayah, Analisis Lokasi Penelitian, Wawancara
Kekumuhan, Analytical Hierarchy Process masyarakat dan pakar

PENGOLAHAN DATA
Data deliniasi lokasi Penelitian dengan Citra
Resolusi Tinggi, analisis Statistik Deskriptif
Kuantitatif, Wawancara Pakar : Analytical
Hierarchy Process

PENULISAN LAPORAN
DAN REKOMENDASI

Gambar 3-1 Alur Penelitian

3.1 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

38
Mengacu pada Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTR) perkotaan Atambua
Kelurahan Tenukiik dan Kelurahan Rinbesi berkarakteristik permukiman padat. Penelitian ini
dilaksanakan di Kelurahan Tenukik Kecamatan Kota Atambua Kabupaten Belu tepatnya pada
RT 03,04,13, 14 RW 9 dengan luasan 4,54 Ha dan Kelurahan Rinbesi Kecamatan Atambua
Selatan Kabupaten Belu tepatnya pada RT10, RW 04 dengan luasan 1,58 Ha. Penelitian
dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2018. Lokasi penelitian disajikan dalam
peta berikut ini.

Gambar 3-2 Lokasi Penelitian


3.2 Alat dan Bahan

Alat:

1. Kamera
2. Global Positioning System (GPS)
3. Alat tulis
4. Komputer
5. Perangkat lunak pengolah data (Microsoft Excel) dan sistem informasi geografis
(Google Earth)

Bahan:

39
1. Form survey tingkat kekumuhan
2. SK Kumuh Bupati Belu
3. Peta batas administrasi desa/kelurahan di Kabupaten Belu
4. Kuesioner untuk masyarakat
5. Kuesioner untuk pakar

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kawasan kumuh yang ada di Kelurahan
Tenukiik Kecamatan Kota Atambua Kabupaten Belu dan Kelurahan Rinbesi Kecamatan
Atambua Selatan Kabupaten Belu, sedangkan yang menjadi sampel penelitian ini adalah
kawasan kumuh yang ada pada Kelurahan Tenukiik Kecamatan Kota Atambua Kabupaten
Belu RT 03,04 dan RT14 RW 9 dengan luasan 4,54 Ha dan Kelurahan Rinbesi Kecamatan
Atambua Selatan Kabupaten Belu RT10, RW 04 dengan luasan 1,58 Ha. Dengan teknik
pengambilan sampel Propotional Random Sampling, jadi sampel diambil secara proposional
kemudian dipilih secara acak. Ukuran sampel digunakan rumus dari Taro Yamane yang dikutip
Rakhmat (1998) dalam (Riduwan,2008), sebagai berikut:

𝑵
n = 𝑵𝒅𝟐 +𝟏

Dimana :
n : Jumlah sampel/ responden
N : Jumlah populasi
d : derajat kecermatan

Berdasarkan rumus diatas maka sampel diambil dengan tingkat presisi ditetapkan 10 % karena
dari penelitian yang dilakukan Arikunto (1996) dalam Riduwan,2008 mengemukaan bahwa
bila sampel penelitian > 100 sampel, maka diambil presisi 10 %, dengan demikian perhitungan
untuk menentukan sampel di RT 03, 04, 14 RW 9 Kelurahan Tenukik berdasarkan data 74 KK,
maka jumlah responden yang diambil adalah:

𝟕𝟒
n = 𝟕𝟒(𝟏𝟎%)²+𝟏 = 43 Responden

Jumlah Kepala Keluarga di RT14, RW 04 Kelurahan Rinbesi adalah 37 KK, maka jumlah
responden yang diambil adalah:

𝟑𝟕
n= = 27 Responden
𝟑𝟕(𝟏𝟎%)²+𝟏

40
3.4 Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil
survei dan wawancara untuk mengetahui delineasi batas lokasi penelitian, kondisi fisik
lingkungan, status kepemilikan lahan, kesesuaian lahan dengan tata ruang (RTRW), dan untuk
penyusunan rekomendasi maka kriteria dan alternatif penanganan dikumpulkan melalui
pengisian kuisioner dan wawancara secara mendalam dengan para pakar. Data sekunder yang
dikumpulkan meliputi peta citra dan batas administrasi, data kependudukan, kondisi
infrastruktur dan status kepemilikan lahan. Selain itu, juga dikumpulkan beberapa teori
pendukung hasil studi pustaka dari berbagai literatur (jurnal penelitian, hasil penelitian dan
instansi terkait). Rangkuman pengumpuan data yang disajikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 3.1 Metode Pengumpulan Data


No Tujuan Data yang dikumpulkan Sumber Data
1 Menentukan karakteristik 1.Deliniasi batas lokasi - Survei lapangan
tingkat kekumuhan penelitian - BAPPEDA
2.Peta RTRW - Data Kelurahan
3.Kondisi infrastruktur fisik - Dinas PU PR
yang terbangun - Survei lapangan
4.Data Kependudukan - BPS
5.Status Kepemikan Lahan

2 Menentukan Program 1.Kriteria Penanganan - Wawancara dengan


kegiatan prioritas tingkat 2.Alternatif Penanganan pakar pembobotan
kekumuhan yang efektif 3.Tingkat kepentingan Kriteria dan
dan efisien Kriteria Alternatif oleh Pakar
4.Tingkat kepentingan
alternatif

3.5 Analisis Data

3.5.1 Analisis Tingkat Kekumuhan


Penentuan tingkat kekumuhan mengacu pada PERMEN PUPR NO.2/PRT/M/2016 tentang
Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh. Aspek yang
dinilai dalam analisis tingkat kekumuhan antara lain: kondisi bangunan, jalan lingkungan,
penyediaan air minum, drainase, limbah, persampahan, proteksi kebakaran dan pertimbangan
lain. Metode analisis karakteristik fisik tingkat kekumuhan disajikan dalam tabel berikut.

41
Tabel 3.2 Perhitungan Parameter dan Indikator Tingkat Kekumuhan menurut PERMEN PUPR no 2 tahun 2016
No Aspek Kriteria Rumus Perhitungan Parameter Indikator Parameter Nilai
Kondisi Ketidakteraturan  Tidak memenuhi ketentuan tata 76% - 100% bangunan pada 5
Bangunan Bangunan bangunan dalam Rencana Detail lokasi tidak memiliki
Gedung 𝛴 Bangunan tdk teratur (unit) Tata Ruang (RDTR) meliputi keteraturan
𝛴 Bangunan keseluruhan ( unit)
𝑥 100 %
Pasal 5 & 6 perletakan, dan tampilan bangunan 51% - 75% bangunan pada 3
pada suatu zona, dan/atau lokasi tidak memiliki
 Tidak memenuhi ketentuan tata keteraturan
bangunan dan tata kualitas 25% - 50% bangunan pada 1
lingkungan dalam Rencana Tata lokasi tidak memiliki
bangunan Lingkungan (RTBL) keteraturan
meliputi pengaturan blok bangunan,
ketinggian, dan elevasi lantai,
konsep identitas lingkungan, konsep
orientasi lingkungan, dan wajah
jalan. ( PERMEN PUPR No. 2
tahun 2016, lampiran I, halaman 1)

Tingkat  Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 76% - 100% bangunan 5


Kepadatan Luas Bangunan terbangun (Ha) melebihi ketentuan RDTR memiliki kepadatan tidak
Luas kawasan kumuh (Ha) x 100 %
Bangunan dan/atau RTBL sesuai ketentuan
 Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
melebihi ketentuan dalam RDTR,
dan/atau RTBL; dan/atau
 Kepadatan bangunan yang tinggi 51% - 75% bangunan 3
pada lokasi, yaitu : memiliki kepadatan tidak
sesuai ketentuan

42
No Aspek Kriteria Rumus Perhitungan Parameter Indikator Parameter Nilai
- Untuk kota metropolitan dan kota 25% - 50% bangunan 1
besar ≥250 unit/Ha memiliki kepadatan tidak
- Untuk kota sedang dan kota kecil sesuai ketentuan
≥200 unit/Ha
Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2
tahun 2016, lampiran I, halaman 2)
Ketidaksesuaian Kondisi bangunan pada lokasi tidak 76% - 100% bangunan pada 5
𝛴 Bgn tdk sesuai persy. teknis (unit)
dengan 𝑥 100 % memenuhi persyaratan : lokasi tidak memenuhi
𝛴 Bangunan keseluruhan ( unit)
Persyaratan  Kualitas Bangunan tidak memenuhi persyaratan teknis
Teknis Bangunan persyaratan 51% - 75% bangunan pada 3
 Pembangunan bangunan gedung di lokasi tidak memenuhi
atas dan/atau di bawah tanah, air persyaratan teknis
dan/atau prasarana/sarana umum 25% - 50% bangunan pada 1
 Keselamatan bangunan gedung lokasi tidak memenuhi
(BG) persyaratan teknis
 Kenyamanan Bangunan Gedung
Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2
tahun 2016, lampiran I, halaman 2)
Rata – rata Kondisi bangunan gedung
2 Kondisi Jalan Cakupan Sebagian lokasi perumahan atau 76% - 100% area tidak 5
Lingkungan Pelayanan Jalan Panjang Jalan (ideal−Eksisting)(𝑚) permukiman tidak terlayani dengan jalan terlayani oleh jaringan jalan
𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐼𝑑𝑒𝑎𝑙 (𝑚)
𝑥 100 %
Pasal 7 Lingkungan lingkungan yang sesuai dengan ketentuan lingkungan
teknis. 51% - 75% area tidak 3
( Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 terlayani oleh jaringan jalan
tahun 2016, lampiran I, halaman 3.) lingkungan
25% - 50% area tidak 1
terlayani oleh jaringan jalan
lingkungan

43
No Aspek Kriteria Rumus Perhitungan Parameter Indikator Parameter Nilai
Kualitas Sebagian atau seluruh jalan lingkungan 76% - 100% area memiliki 5
Panjang Jalan yang rusak (𝑚)
Permukaan Jalan 𝑥 100 % terjadi kerusakan permukaan jalan pada kualitas permukaan jalan
𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐼𝑑𝑒𝑎𝑙 (𝑚)
Lingkungan lokasi perumahan atau permukiman. yang buruk
( Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 51% - 75% area memiliki 3
tahun 2016, lampiran I, halaman 3.) kualitas permukaan jalan
yang buruk
25% - 50% area memiliki 1
kualitas permukaan jalan
yang buruk
Rata – rata kondisi jalan lingkungan
3 Kondisi Ketersediaan Masyarakat pada lokasi perumahan dan 76% - 100% populasi tidak 5
Σ KK tdk terakses Air Minum aman
Penyediaan Akses Aman Air 𝛴 𝐾𝐾 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑥 100 % permukiman tidak dapat mengakses air dapat mengakses air minum
Air Minum Minum minum yang memiliki kualitas tidak 51% - 75% populasi tidak 3
Pasal 8 berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa dapat mengakses air minum
( Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 25% - 50% populasi tidak 1
tahun 2016, lampiran 3, halaman 12.) apat mengakses air minum
Tidak Kebutuhan air minum masyarakat pada 76% - 100% populasi tidak 5
Σ KK tdk terakses Air Minum cukup
Terpenuhinya 𝑥 100 % lokasi perumahan atau permukiman tidak terpenuhi kebutuhan air
𝛴 𝐾𝐾 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛
Kebutuhan Air mencapai minimal sebanyak 60 minum minimalnya
Minum liter/orang/hari. 51% - 75% populasi tidak 3
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 terpenuhi kebutuhan air
tahun 2016, lampiran 3, halaman 12.) minum minimalnya
25% - 50% populasi tidak 1
terpenuhi kebutuhan air
minum minimalnya
Rata – rata kondisi Penyediaan air Minum
4 Kondisi Ketidakmampuan Jaringan drainase lingkungan tidak 76% - 100% area terjadi 5
Luas kws.terkena genangan (Ha)
Drainase Mengalirkan 𝑥 100 % mampu mengalirkan limpasan air genangan >30cm, >2 jam,
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑖𝑚𝑎𝑛 ( 𝐻𝑎)
Lingkungan Limpasan Air sehingga menimbulkan genangan dengan dan >2x setahun
Pasal 9 tinggi lebih dari 30 cm selama lebih dari 51% - 75% area terjadi 3
2x setahun genangan >30cm, >2 jam,
dan >2x setahun

44
No Aspek Kriteria Rumus Perhitungan Parameter Indikator Parameter Nilai
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 25% - 50% area terjadi 1
tahun 2016, lampiran 3, halaman 17.) genangan >30cm, >2 jam,
dan >2x setahun
Ketidaktersediaan Tidak tersedianya saluran drainase 76% - 100% area tidak 5
Panjang Drainase Ideal−Eksisting (m)
Drainase 𝑥 100 % lingkungan pada lingkungan tersedia drainase lingkungan
Panjang drainase ideal (m)
permukiman, yaitu saluran tersier 51% - 75% area tidak 3
dan/atau saluran lokal tersedia drainase lingkungan
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 25% - 50% area tidak 1
tahun 2016, lampiran 1, halaman 4.) tersedia drainase lingkungan
Ketidakterhubung Saluran drainase lingkungan tidak 76% - 100% drainase 5
Panjang sal.tdk terhubung (m)
an dengan Sistem 𝑥 100 % terhubung dengan saluran pada hirarki di lingkungan tidak terhubung
Panjang drainase ideal (m)
Drainase atasnya sehingga menyebabkan air tidak dengan hirarki di atasnya
Perkotaan dapat mengalir dan menimbulkan 51% - 75% drainase 3
genangan. lingkungan tidak terhubung
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 dengan hirarki di atasnya
tahun 2016, lampiran 3, halaman 17.) 25% - 50% drainase 1
lingkungan tidak terhubung
dengan hirarki di atasnya
Tidak Tidak dilaksanakannya pemeliharaan 76% - 100% area memiliki 5
Panjang Drainase tidak dipelihara (m)
Terpeliharanya 𝑥 100 % saluran drainase lingkungan pada lokasi drainase lingkungan yang
𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑟𝑎𝑖𝑛𝑎𝑠𝑒 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 (𝑚)
Drainase perumahan atau permukiman baik kotor dan berbau
pemeliharaan rutin maupun pemeliharaan 51% - 75% area memiliki 3
berkala. drainase lingkungan yang
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 kotor dan berbau
tahun 2016, lampiran 1, halaman 5.) 25% - 50% area memiliki 1
drainase lingkungan yang
kotor dan berbau
Kualitas Kualitas konstruksi drainase buruk, 76% - 100% area memiliki 5
Panjang Drainase yang rusak (m)
Konstruksi 𝑥 100 % karena berupa galian tanah tanpa material kualitas konstruksi drainase
𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑟𝑎𝑖𝑛𝑎𝑠𝑒 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 (𝑚)
Drainase pelapis atau penutup maupun karena telah lingkungan yang buruk
terjadi kerusakan. 51% - 75% area memiliki 3
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 kualitas konstruksi drainase
tahun 2016, lampiran 3, halaman 21.) lingkungan yang buruk

45
No Aspek Kriteria Rumus Perhitungan Parameter Indikator Parameter Nilai
25% - 50% area memiliki 1
kualitas konstruksi drainase
lingkungan yang buruk
Rata – rata kondisi drainase lingkungan
5 Kondisi Sistem Pengelolaan air limbah pada lokasi 76% - 100% area memiliki 5
Σ KK sistem air limbah tdk sesuai
Pengelolaan Pengelolaan Air 𝑥 100 % perumahan atau permukiman tidak sistem air limbah yang tidak
Σ KK keseluruhan
Air Limbah Limbah Tidak memiliki sistem yang memadai, yaitu sesuai standar teknis
Pasal 10 Sesuai Standar kakus/kloset yang tidak terhubung 51% - 75% area memiliki 3
Terknis dengan tangki septik baik secara sistem air limbah yang tidak
individual/deomestik, komunal maupun sesuai standar teknis
terpusat.
25% - 50% area memiliki 1
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2
sistem air limbah yang tidak
tahun 2016, lampiran 3, halaman 23.)
sesuai standar teknis
Prasarana dan Kondisi prasarana dan sarana pengelolaan 76% - 100% area memiliki 5
Σ KK sistem air limbah
Sarana tdk sesuai syarat teknis
air limbah pada lokasi perumahan atau sarana prasarana air limbah
Pengelolaan Air Σ KK keseluruhan
𝑥 100 % permukiman dimana yang tidak sesuai standar
Limbah Tidak  Kloset leher angsa tidak terhubung teknis
Sesuai dengan dengan tangki septik 51% - 75% area memiliki 3
Persyaratan  Tidak tersedianya sistem sarana prasarana air limbah
Teknis pengolahan limbah setempat atau yang tidak sesuai standar
terpusat. teknis
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 25% - 50% area memiliki 1
tahun 2016, lampiran 3, halaman 24.) sarana prasarana air limbah
yang tidak sesuai standar
teknis
Rata – rata kondisi pengelolaan air limbah
6 Kondisi Prasarana dan Prasarana dan sarana persampahan pada 76% - 100% area memiliki 5
Σ KK dgn sarpras tidak sesuai
Pengelolaan Sarana persyaratan teknis
lokasi perumahan atau permukiman tidak sarana prasarana pengelolaan
Persampahan Persampahan Σ KK keseluruhan
𝑥 100 % sesuai dengan persyaratan teknis, yaitu persampahan yang tidak
Pasal 11 Tidak Sesuai sesuai standar teknis
dengan 51% - 75% area memiliki 3
sarana prasarana pengelolaan

46
No Aspek Kriteria Rumus Perhitungan Parameter Indikator Parameter Nilai
Persyaratan  Tempat sampah dengan pemilahan persampahan yang tidak
Teknis sampah pada skala domestik atau sesuai standar teknis
rumah tangga 25% - 50% area memiliki 1
 Tempat Pengumpulan Sampah sarana prasarana pengelolaan
(TPS) atau TPS 3R (Reduce, persampahan yang tidak
Recycle, and Reuse) pada skala sesuai standar teknis
lingkungan
 Gerobak sampak dan/atau truk
sampah pada skala lingkungan, dan
 Tempat Pengolahan Sampah
Terpadu (TPST) pada skala
lingkungan
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2
tahun 2016, lampiran 3, halaman 29.)

Sistem Pengelolaan persampahan pada 76% - 100% area memiliki 5


Σ KK dgn pengolahan tdk sesuai
Pengelolaan standar teknis
lingkungan perumahan atau permukiman sistem persampahan yang
Persampahan Σ KK keseluruhan
𝑥 100 % tidak memenuhi persyaratan sebagai tidak sesuai standar teknis
yang Tidak Sesuai berikut 51% - 75% area memiliki 3
Standar Teknis  Perwadahan dan pemilahan sistem persampahan yang
domestik tidak sesuai standar teknis
 Pengumpulan lingkungan 25% - 50% area memiliki 1
 Pengangkutan lingkungan sistem persampahan yang
 Pengolahan lingkungan tidak sesuai standar teknis
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2
tahun 2016, lampiran 3, halaman 29.)
Σ KK persampahan tdk terpelihara
Tidak 𝑥 100 % Tidak dilakukannya pemeliharaan sarana 76% - 100% area memiliki 5
Σ KK keseluruhan
Terpeliharanya dan prasarana pengelolaan persampahan sarana prasarana
Sarana dan pada lokasi perumahan atau permukiman, persampahan yang tidak
Prasarana baik pemeliharaan rutin dan/atau terpelihara
Pengelolaan pemeliharaan berkala. 51% - 75% area memiliki 3
Persampahan sarana prasarana

47
No Aspek Kriteria Rumus Perhitungan Parameter Indikator Parameter Nilai
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 persampahan yang tidak
tahun 2016, lampiran 3, halaman 30.) terpelihara
25% - 50% area memiliki 1
sarana prasarana
persampahan yang tidak
terpelihara
Rata – rata Kondisi Pengelolaan Persampahan
7 Kondisi Ketidaktersediaan Tidak tersedianya prasarana proteksi 76% - 100% area tidak 5
𝛴 Bangunan tdk terlayani
Proteksi Prasarana Proteksi prasarana proteksi(unit)
kebakaran pada lokasi yaitu memiliki prasarana proteksi
Kebakaran Kebakaran 𝛴 Bangunan keseluruhan ( unit)
𝑥 100 %  Pasokan air kebakaran
Pasal 12  Jalan lingkungan 51% - 75% area tidak 3
 Sarana komunikasi memiliki prasarana proteksi
 Data sistem proteksi kebakaran kebakaran
lingkungan, dan 25% - 50% area tidak 1
 Bangunan pos kebakaran memiliki prasarana proteksi
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 kebakaran
tahun 2016, lampiran 3, halaman 35.)

Ketidaktersediaan Tidak tersedianya prasarana proteksi 76% - 100% area tidak 5


𝛴 Bangunan tdk terlayani
Sarana Proteksi sarana proteksi(unit)
kebakaran pada lokasi yaitu memiliki sarana proteksi
Kebakaran 𝛴 Bangunan keseluruhan ( unit)
𝑥 100 %  Alat Pemadam Api Ringan (APAR) kebakaran
 Mobil pompa 51% - 75% area tidak 3
 Mobil tangga sesuai kebutuhan, dan memiliki sarana proteksi
 Peralatan pendukung lainnya kebakaran
(Mengacu pada PERMEN PUPR No. 2 25% - 50% area tidak 1
tahun 2016, lampiran 3, halaman 37.) memiliki sarana proteksi
kebakaran
Rata – rata Kondisi Proteksi Kebakaran

48
49
Batas Ambang Nilai Tingkat Kekumuhan
Kumuh berat : 71 – 95
Kumuh sedang : 45 – 70
Kumuh ringan : 19 – 44
Tidak kumuh : < 19

Penentuan parameter dan nilai mengacu pada lampiran 2 Permen PUPR Nomor 02 tahun 2016
pada halaman 11, Jika rata – rata nilai aspek 0 s/d 2 dinyatakan baik, dan 3 s/d 5 dinyatakan
buruk. Apabila total aspek bangunan gedung 15, Jalan lingkungan 10, Air minum 10, Drainase
25, Air Limbah 10, Persampahan 15, dan Proteksi kebakaran 10, sehingga total adalah 95 maka
dikategorikan KUMUH BERAT

3.5.2 Analisis Prioritas Penanganan Tingkat Kekumuhan


Penentuan prioritas dilakukan melalui wawancara secara mendalam dengan pakar dan
analilis menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Analisis ini digunakan
dalam menentukan prioritas dari beberapa alternatif dalam mengurangi tingkat kekumuhan
dengan melakukan analisis perbandingan berpasangan dari masing-masing kriteria. Berikut
kriteria penting dan alternatif/upaya dalam mengurangi tingkat kekumuhan.
Dalam analisis prioritas penanganan tingkat kekumuhan, dipilih kriteria berdasarkan
urgensi yang selanjutnya disebut 1) Kriteria Urgen (penanganan segera), berdasarkan, 2)
Kriteria Aktual (sedang mendapat perhatian khusus) dan 3) Kriteria Relevan (sesuai
kebutuhan masyarakat ). Dari tiga kriteria tersebut, akan dipilih beberapa alternatif yang akan
menjadi prioritas dalam upaya penanganan tingkat kekumuhan.
Tabel 3.3 Kriteria dan Alternatif untuk Mengurangi Tingkat Kekumuhan

Kriteria Alternatif/upaya untuk mengurangi


tingkat kekumuhan
Urgen A. Komitmen Pemerintah Daerah dan Pusat
Aktual B. Penyediaan Sarana dan Prasarana
Relevan C. Rusun/Rusunawa
D. Komitmen/ dukungan OPD terkait
E. Pembuatan PERBUP/PERWALI
F. Padat Karya

Jika diberikan alternatif A, B, C, D, E, F maka matriks penilaian pakar disajikan dalam matriks
perbandingan berpasangan (Pairwise Comparasion) berikut.

50
Tabel 3.4 Matriks Penilaian Pakar

A B C D E F
A X … … … … …
B X X … … … …
C X X X … … …
D X X X X … …
E X X X X X …
F X X X X X X

Kriteria penting dan alternatif/upaya ini dianalisis dengan perbandingan berpasangan dari
masing-masing kriteria dengan ketentuan sesuai tabel berikut.

Tabel 3.5. Nilai skala perbandingan Saaty dalam AHP (Saaty 1983; Marimin 2005)
Nilai Keterangan
1 A sama pentingnya dengan B
3 A sedikit lebih penting dari B
5 A Jelas lebih penting dari B
7 A Sangat lebih penting dari B
9 A Mutlak lebih penting dari B
2,4,6,8 Apabila ragu ragu dari dua nilai yang berdekatan

Matrik hasil penilaian pakar berupa matriks individu (N (ij) tentang kepentingan relatif antar
elemen kemudian diolah menjadi matrik gabungan (NG(ij) dengan menggunakan persamaan
6
geometric mean, NG(ij) = √𝑁 ₁(ij) x N 2(ij) x ….x N6(ij) .

Identifikasi dan pembobotan kriteria dan alternatif penanganan tingkat kekumuhan di


Kelurahan Tenukiik dan Kelurahan Rinbesi dilakukan melalui wawancara mendalam dengan
pakar dan dan pengisian kuesioner. Pakar yang digunakan dalam penelitian ini harus memenuhi
minimal salah satu dari kriteria berikut :
1. Mempunyai kapasitas sebagai pengambil keputusan (minimal kepala seksi)
2. Mempunyai kompetensi di bidangnya
3. Bekerja pada instansi yang membidangi penanganan kumuh ( Satker Permukiman,
Dinas PU, BAPPEDA)
3. Pendidikan minimal S2
4. Termasuk Anggota POKJA

51
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Wilayah Kajian


Kabupaten Belu adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Kabupaten yang beribukota di Kota Atambua yang memiliki luas wilayah 2.240,05 km²,
terbagi dalam 24 kecamatan, 12 kelurahan dan 196 desa, termasuk 30 desa dalam 8 kecamatan
perbatasan.
Kemiskinan yang ada di Kabupaten Belu juga merupakan salah satu penyebab timbulnya
kawasan permukiman kumuh di kawasan perkotaan. Pada dasarnya kemiskinan dapat
ditanggulangi dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pemerataan, peningkatan
lapangan pekerjaan dan pendapatan kelompok miskin serta peningkatan pelayanan dasar bagi
kelompok miskin dan pengembangan institusi penanggulangan kemiskinan. Peningkatan
pelayanan dasar ini dapat diwujudkan dengan peningkatan air bersih, sanitasi, penyediaan serta
usaha perbaikan perumahan dan lingkungan pemukiman pada umumnya. Berbagai kondisi
fisik dan sosial di kawasan perkotaan di Kabupaten Belu menjadi kawasan yang relatif
tertinggal dan membutuhkan upaya pengembangan dan pembangunan yang perlu percepatan
untuk mengejar ketertinggalan, karena kawasan Tenukiik dan Rinbesi memiliki sarana dan
prasarana yang sangat terbatas.

4.1.1 Kawasan Kumuh Kelurahan Tenukiik


a. Letak dan Batas Kawasan
Kawasan Kumuh Tenukiik merupakan kawasan kumuh yang berada di Kelurahan
Tenukiik Kecamatan Kota Atambua. Kawasan ini meliputi RT 03, RT 04 dan RT 14 yang
termasuk dalam RW 09 dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 74 KK / 415 Jiwa serta
jumlah bangunan 62 unit. Kawasan Kumuh Tenukiik merupakan tipologi kawasan kumuh tepi
air dengan karakteristik kawasan bantaran sungai. Kawasan Tenukiik memiliki luas 4,54 ha.
Kawasan Tenukiik memiliki batas dengan :
Batas Utara : RT 03 dan RT 04 / RW 09 Kelurahan Tenukiik
Batas Timur : RT 03 dan RT 04 / RW 09 Kelurahan Tenukiik
Batas Selatan : RT 13 dan RT 14 / RW 09 Kelurahan Tenukiik
Batas Barat : RT 03 dan RT 04 / RW 09 Kelurahan Tenukiik

51
Sumber SK kumuh Kab. Belu, 2014
Gambar : 4.1 Kawasan Tenukiik
Kawasan permukiman kumuh ini merupakan permukiman swadaya yang tumbuh di sekitar
pusat kawasan yang merupakan kawasan pemerintahan dan kawasan rumah sakit Kota
Atambua.
b. Letak Fisik Kawasan
Kawasan Tenukiik merupakan kawasan permukiman kumuh di perkotaan yang padat.
Kawasan permukiman kumuh ini tumbuh secara swadaya sehingga pola permukiman tidak
tertata dan teratur. Kawasan permukiman ini tumbuh di sekitar kawasan perdagangan jasa dan
pusat pemerintahan/ perkantoran.

4.1.2 Kawasan Kumuh Kelurahan Rinbesi


a. Letak dan Batas Kawasan
Kawasan Kumuh Rinbesi merupakan kawasan kumuh yang berada di Kelurahan
Rinbesi Kecamatan Atambua Selatan. Kawasan ini meliputi RT 14 yang termasuk dalam RW
05 dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 37 KK / 179 Jiwa serta jumlah bangunan 26 unit.
Kawasan Kumuh Rinbesi merupakan tipologi kawasan kumuh dataran rendah dengan

52
karakteristik perbukitan. Kawasan ini memiliki luas sebesar 0.55 ha. Kawasan ini memiliki
batas dengan :
Batas Utara : RT 09 RW 04 Kelurahan Rinbesi
Batas Timur : RT 08 RW 04 Kelurahan Rinbesi
Batas Selatan : RT 07 RW 04 Kelurahan Rinbesi
Batas Barat : RT 11 RW 04 Kelurahan Rinbesi

Sumber SK kumuh Kab. Belu, 2014


Gambar : 4.2 Kawasan Rinbesi

b. Letak Fisik kawasan


Kawasan Rinbesi merupakan kawasan permukiman kumuh di perkotaan yang padat.
Kawasan permukiman kumuh ini tumbuh secara swadaya sehingga pola permukiman tidak
tertata dan teratur. Kawasan permukiman ini tumbuh di sekitar kawasan perdagangan jasa.

4.2 Karakteristik Tingkat Kekumuhan


Penentuan tingkat kekumuhan mengacu pada PERMEN PUPR NO.2/PRT/M/2016 tentang
Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh. Aspek yang
dinilai dalam analisis tingkat kekumuhan antara lain: kondisi bangunan, jalan lingkungan,

53
penyediaan air minum, drainase, limbah, persampahan dan proteksi kebakaran.Hasil analisis
karakteristik fisik tingkat kekumuhan di rinci sebagai berikut :

1. Kondisi Bangunan Gedung


Kawasan permukiman kumuh identik dengan ketidakteraturan bangunan, tingkat
kepadatan bangunan tinggi, dan bangunan yang tidak layak huni. Secara umum, permukiman
kumuh kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi memiliki pola tata letak bangunan yang tidak
teratur, padat, dan orientasi bangunan yang tidak teratur. Berikut merupakan karakteristik
bangunan dan tata letak lingkungan di Kawasan Tenukiik dan Kawasan Rinbesi :
a. Ketidakteraturan Bangunan
Ketidakteraturan bangunan ini dapat dilihat berdasarkan data kepemilikan IMB di mana
yang tidak memiliki IMB berarti bangunan tidak teratur. Jika data IMB maka ketidakteraturan
dikaji dari pola tata letak lingkungan, yaitu tata letak bangunan, garis sempadan bangunan dan
orientasi bangunan. Kondisi ketidakteraturan ditunjukkan pada tabel 4.1
Tabel. 4.1 Jumlah Responden berdasarkan Ketidakteraturan bangunan
Kelurahan Σ bangunan Σ bangunan tdk % Nilai
(unit) teratur (unit)
Tenukiik 62 18 29.03 1
Rinbesi 26 12 46.16 1
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Secara makro bangunan, di kawasan kumuh Tenukiik dan Rinbesi memiliki pola tata letak
bangunan yang tidak teratur dengan garis sempadan bangunan 0-1 m. Hal ini artinya bahwa
bangunan di kawasan Tenukiik dan Rinbesi tidak memiliki garis sempadan bangunan yang
memenuhi syarat, sesuai PERDA Kabupaten Belu nomor 24 tahun 2015 tentang
Pengendalian Penyelenggaraan Bangunan Gedung disebutkan bahwa garis sempadan
bangunan untuk samping 2 meter dan depan 4 meter. Letak orientasi bangunan di kawasan
Tenukiik dan Rinbesi sebagian juga tidak teratur, beberapa bangunan terdapat orientasi
antara depan rumah berhadap dengan samping rumah atau antara depan rumah berhadapan
dengan belakang rumah bahkan yang di tepi sungai rumah berorientasi membelakangi
sungai, Kondisi ketidakteraturan ditunjukkan pada gambar 4.2

54
Garis sempadan bangunan 0 – 1 m Pola Letak Bangunan tidak teratur

A B
Sumber : Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.2 Pola letak bangunan yang tidak teratur, orentasi bangunan tidak teratur garis
sempadan bangunan 0 – 1 m, (Kawasan Tenukiik (A) dan (B) Kawasan Rinbesi)

b. Tingkat Kepadatan Bangunan


Kepadatan bangunan menunjukkan banyaknya bangunan (unit) dalam suatu luas lahan
tertentu (bangunan/ha). Kondisi tingkat kepadatan bangunan di kawasan Tenukiik dan
kawasan Rinbesi ditunjukkan pada tabel 4.2
Tabel. 4.2 Jumlah Responden berdasarkan Kepadatan bangunan
Kelurahan Luasan Σ Tingkat Luas % Nilai
kumuh bangunan kepadatan bangunan
(unit) (unit/Ha) hunian (Ha)
Tenukiik 4.54 70 7 0.3247 7.15 0
Rinbesi 0.55 26 34 0.1866 33.93 1
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Kepadatan bangunan di kawasan Tenukiik yaitu sebesar 7 unit/Ha yang artinya setiap 1 Ha
terdapat 7 unit rumah, sedangkan kepadatan bangunan di kawasan Rinbesi yaitu 34 unit/Ha.
Kota Atambua termasuk dalam kategori kota kecil (> 200 unit/Ha), dengan koefisien dasar
bangunan (KDB) maksimum 50 %. Berikut gambaran tingkat kepadatan bangunan
ditunjukkan pada gambar 4.3

55
A B

Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian


Gambar : 4.3 Kepadatan Bangunan (Kawasan Tenukiik (A) dan (B) Kawasan Rinbesi)

c. Ketidaksesuaian dengan Persyaratan Teknis Bangunan Gedung


Ketidaksesuaian bangunan dengan teknis bangunan gedung ini dapat diukur berdasarkan
kondisi teknis yaitu kecukupan luas, keamanan, kenyamanan, kesehatan dan kemudahan.
Bisa juga dikaji dari jenis atap, jenis dinding, dan jenis lantai bangunan atau kondisi
pemanensi rumah. Kondisi ketidaksesuaian dengan peryaratan teknis bangunan gedung di
kawasan Tenukiik dan Kawasan Rinbesi berdasarkan kondisi teknis ditunjukkan pada tabel
4.3
Tabel. 4.3 Jumlah responden berdasarkan Jumlah KK dan penghuni dalam 1 rumah
Kelurahan Jumlah KK dalam satu rumah Jumlah penghuni dalam satu rumah
KK dalam satu rumah Jumlah % Penghuni dalam satu rumah Jumlah %
(Unit) ( Unit)
Tenukiik 1-2 KK 60 86 Kurang atau sama dengan 5 jiwa 39 56
3-5 KK 10 14 Antara 6-8 jiwa 21 30
> 6 KK Lebih Besar dari 8 Jiwa 10 14
Total 70 100 70 100
Rinbesi 1-2 KK 26 100 Kurang atau sama dengan 5 jiwa 19 73
3-5 KK Antara 6-8 jiwa 7 27
> 6 KK Lebih Besar dari 8 Jiwa
Total 26 100 26 100
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Berdasarkan jumlah KK dalam satu rumah di Kawasan Kumuh Tenukiik teridentifikasi


bahwa terdapat 60 bangunan yang memiliki 1-2 KK dalam satu rumah, dan 10 bangunan
ditempati oleh 3-5 KK, sedangkan di kawasan Rinbesi teridentifikasi bahwa terdapat 26
bangunan yang memiliki 1-2 KK dalam satu rumah. Bangunan yang ditempati oleh lebih dari

56
2 KK tersebut tergolong kurang layak mengingat luas hunian yang tergolong kecil, hal
tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan di dalam rumah. Sesuai dengan KEPMEN
Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 403/KPTS/M/2002 disebutkan bahwa aktivitas
dasar seseorang dalam rumah meliputi tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan
masak serta ruang gerak lainnya adalah 7,2 m²/orang dengan ketinggian langit langit 2,80 m.
Kondisi ketidaksesuaian dengan peryaratan teknis bangunan gedung ditinjau dari kondisi
rumah di kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi ditunjukkan pada tabel 4.4
Tabel. 4.4 Jumlah responden berdasarkan Kondisi hunian
No Jumlah bangunan rumah Kelurahan Tenukiik Kelurahan Rinbesi
tinggal menurut permanensi Jumlah Persentase Jumlah Persentase
bangunan (Unit) (Unit) (Unit) (Unit)
1 Rumah Permanen 60 86 21 80
2 Rumah Semi Permanen (semi 2 3 2 8
bebak)
3 Rumah Non Permanen 8 11 3 12
Jumlah 70 100 26 100
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Terdapat 3 jenis rumah di kawasan Tenukiik yaitu permanen, semi permanen, dan non
permanen. Berdasarkan pada tabel 4.3, terdapat 86 % rumah permanen dan 3 % rumah semi
permanen sisanya 11 % rumah non permanen, sedangkan di kawasan Rinbesi terdapat 80%
rumah permanen, 8% rumah semi permanen dan 12% rumah non permanen. Menurut UN
habitat (2003) dalam Effendi (2013), rumah semi permanen dan non permanen tidak sesuai
dengan kelayakan rumah. Bahan rumah non permanen yaitu terbuat dari bebak atau kayu,
sedangkan rumah semi permanen atau semi bebak ini dindingnya sebagian adalah bata dan
sebagian lagi adalah kayu bebak. Gambaran rumah semi permanen dan non permanen
ditunjukkan pada gambar 4.4

Sumber : Hasil Orentasi Lapangan


A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.4 Kondisi bangunan non permanen (Kawasan Tenukiik (A) dan (B) Kawasan Rinbesi)

57
Dari hasil kajian di atas, dapat disimpulkan bahwa rumah yang tidak sesuai dengan
persyaratan teknis bangunan gedung merupakan rumah yang tidak layak huni, sedangkan
rumah yang sudah sesuai dengan standar teknis bangunan gedung merupakan rumah yang
layak huni. Kondisi rumah berdasarkan kesesuaian syarat teknis di kawasan Tenukiik dan
kawasan Rinbesi ditunjukkan pada tabel 4.5
Tabel. 4.5 Jumlah responden berdasarkan kesesuaian syarat teknis rumah
Tenukiik Rinbesi
Identifikasi bangunan Jumlah % Nilai Jumlah % Nilai
(Unit) (Unit)
Bangunan layak huni (sesuai standar teknis 60 16,13 0 21 19,23 0
bangunan gedung)
Bangunan tidak layak huni (tidak sesuai 10 5
standar teknis bangunan gedung)
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

58
Gambar : 4.5 Kondisi bangunan gedung dilihat dari interpretasi citra Kawasan Tenukiik
59
Gambar : 4.6 Kondisi bangunan gedung dilihat dari interpretasi citra Kawasan Rinbesi

60
2. Jalan Lingkungan
Kondisi jalan kawasan permukiman Tenukiik dan Rinbesi dapat dibedakan dari klasifikasi
jalannya. Klasifikasi jalan di kawasan tenukiik terdiri jalan atas jalan arteri, jalan kolektor dan
jalan lingkungan, sedangkan di kawasan Rinbesi terdiri atas jalan negara, jalan arteri dan jalan
lingkungan. Ditinjau dari kondisi jalannya, jalan di kawasan Tenukiik dan Rinbesi dapat
dibedakan menjadi jalan aspal dan jalan tanah. Enam puluh persen kawasan Tenukiik sudah
terlayani oleh jaringan jalan, Hanya sebagian kecil kawasan masih terlayani oleh jalan tanah.
Berdasarkan lebar jalannya, jalan utama kawasan merupakan jalan kota ( Jl. Adisucipto )
mempunyai lebar 6 m, Jalan kolektor lebar 4 m dan jalan lingkungan lebar 2-3 m, sedangkan
di kawasan Rinbesi, Sembilan puluh persen sudah terlayani oleh jaringan jalan. Berdasarkan
lebar jalannya, jalan utama kawasan merupakan jalan negara ( Jl. A. Yani ) mempunyai lebar
8 m, Jalan kolektor (Noh. Amalo) lebar 4 m dan jalan lingkungan lebar 1.0 – 1.2 m.

a. Cakupan Pelayanan Jalan Lingkungan


Cakupan pelayanan jalan lingkungan di kawasan Tenukiik hampir sebagian sudah
terlayani sesuai dengan persyaratan teknis yaitu jalan sudah berstruktur aspal, sedangkan di
kawasan Rinbesi cakupan pelayanan jalan lingkungan hamper sebagian sudah terlayani sesuai
dengan persyaratan teknis yaitu jalan sudah berstruktur aspal/beton. Berikut cakupan pelayanan
jalan lingkungan di permukiman kumuh Kawasan Tenukiik ditunjukkan pada tabel 4.6
Tabel 4.6 Jumlah responden berdasarkan Cakupan Pelayanan Jalan Lingkungan
No Perkerasan Jalan Jenis Tenukiik Rinbesi
perkerasan Panjang % Nilai Panjang % Nilai
(m) Pelayanan (m) Pelayanan
1 Terlayaninya jalan Jalan aspal 367 40,52 1 300 10,45 0
lingkungan
(diperkeras dengan
aspal/paving/beton)
2 Tidak terlayaninya Jalan 250 35
jalan lingkungan
tanah
(tanpa perkerasan)
Jumlah 617 335
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Hasil kajian cakupan pelayanan jalan lingkungan di permukiman kumuh Kawasan


Tenukiik diketahui bahwa panjang jalan yang belum terlayani jalan lingkungan adalah
sepanjang 250 meter, sehingga dapat diketahui cakupan pelayanan jalan lingkungan di kawasan
tenukiik adalah 40,52 %, sedangkan kawasan Rinbesi panjang jalan yang belum terlayani jalan
lingkungan adalah 10,45%, sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 34 tahun 2016 tentang

61
Jalan, menyebutkan bahwa sistem jaringan jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang saling
menghubungkan dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam
pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hierarki. Gambaran cakupan pelayanan jalan
lingkungan di kawasan Tenukiik ditunjukkan pada gambar 4.5

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.7 Salah satu jalan eksisting yang belum terhubung (Kawasan Tenukiik (A) dan (B) Kawasan
Rinbesi)
b. Kualitas Jalan Lingkungan
Jaringan jalan merupakan elemen pembentuk struktur kawasan yang terkait dengan pola
sirkulasi dan membentuk aksesibilitas menuju ke dalam kawasan. Secara makro jaringan jalan
di kawasan Tenukiik tidak teratur mengikuti pola permukiman atau bangunan yang tidak
teratur dan bertopografi curam. Bahkan jalan juga terbentuk secara tidak sengaja karena
pertumbuhan hunian. Jalan lingkungan di kawasan Tenukiik dapat dilewati oleh kendaraan
bermotor. Kondisi jalan lingkungan di kawasan Tenukiik sebesar empat puluh persen masih
perkerasan tanah. Kualitas permukaan jalan sebagian besar masih buruk, hanya beberapa jalan
lingkungan di kawasan yang diperkeras dengan aspal yaitu di RT.14, jalan tersebut
merupakan bantuan jalan dari PNPM. Selain itu, juga terdapat jalan aspal yang merupakan
jalan utama kawasan yaitu Jalan Adisucipto, sedangkan di kawasan Rinbesi jaringan jalan
juga tidak teratur mengikuti pola permukiman atau bangunan yang tidak teratur. Jalan
lingkungan di kawasan Rinbesi dapat dilewati oleh kendaraan bermotor. Kondisi jalan
lingkungan di kawasan Rinbesi ada yang perkerasan tanah. Kualitas permukaan jalan pada
jalan negara baik sedangkan pada jalan lingkungan sebagian besar masih buruk. Kondisi
kualitas jalan lingkungan di kawasan Tenukiik ditunjukkan pada tabel 4.3

62
Tabel 4.3 Jumah responden berdasarkan Kualitas Jalan Lingkungan
Kualitas Tenukiik Rinbesi
permukaan Panjang % IRI % Nilai Panjang % IRI % Nilai
jalan
lingkungan
Jalan - - 100 5 200 60 4 40,30 1
Lingkungan
perkerasan
aspal
(kondisi
baik)
Kualitas baik - - 200 60 4
Jalan yang 367 59 12,80 100 30 17
sudah
diperkeras
(rusak)
Tanpa 250 41 24,49 35 10 24,49
perkerasan
(jalan tanah)
Kualitas 617 135 40 41,49
buruk
Total 617 100 335 100
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Hasil kajian kualitas jalan lingkungan di kawasan Tenukiik diketahui bahwa total panjang
jalan lingkungan yang rusak adalah 617 m, sehingga dapat diketahui bahwa kinerja kualitas
jalan lingkungan di kawasan Tenukiik 100 % berkualitas buruk, sedangkan di kawasan
Rinbesi total panjang jalan lingkungan yang rusak adalah 40 m, sehingga dapat diketahui
kinerja jalan kualitas jalan lingkungan 40 % berkualitas buruk. Sesuai PERMEN PU Nomor
1 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang, yang menyebutkan bahwa tingkat kondisi jalan dinilai berdasarkan nilai International
Roughness Index (IRI) yang dapat diperoleh menggunakan alat (Naasra/ Romdas/
Roughometer) atau metode visual (Road Condition Index/ RCI) Berdasarkan tingkat IRI,
kondisi jalan terbagi atas:
a. Jalan aspal (paved): baik (IRI = 4); sedang (IRI > 4 dan IRI = 8); rusak ringan
(IRI>8 dan IRI = 12); dan rusak berat (IRI > 12).
b. Untuk jalan tanah/kerikil (unpaved): baik (IRI = 10); sedang (IRI > 10 dan IRI
=12); rusak ringan (IRI > 12 dan IRI = 16); dan rusak berat (IRI > 16).
Gambaran cakupan pelayanan jalan lingkungan ditunjukkan pada gambar 4.5

63
A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.8 Kondisi kerusakan jalan eksisting (Kawasan Tenukiik (A) dan (B) Kawasan
Rinbesi)

64
Gambar : 4.9 Kondisi jalan lingkungan dilihat dari interpretasi citra Kawasan Tenukiik

65
Gambar : 4.10 Kondisi jalan lingkungan dilihat dari interpretasi citra Kawasan Rinbesi

66
3. Kondisi Penyediaan Air Minum
Hasil kajian kondisi penyediaan air minum di kawasan Tenukiik dan Rinbesi
menunjukkan bahwa prasarana air bersih atau air minum kawasan termasuk dalam kategori
kurang memadai. Pengukuran aspek kondisi penyediaan air minum didasarkan pada kriteria
sebagai berikut :

a. Akses Penduduk terhadap Air Minum yang Aman


Hampir seluruh penduduk permukiman kumuh Kawasan Tenukiik dan Rinbesi masih
menggunakan akses air sumur untuk memenuhi kebutuhan air minum, karena pasokan air
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Belu tidak lancar. Air PDAM tersebut
hanya mengalir setiap dua atau tiga hari sekali. Air sumur yang digunakan sebagai sumber air
minum memiliki kualitas fisik cukup baik karena tidak berbau, tidak berasa dan tidak
berwarna. Sumber air lain yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat
kawasan Tenukiik dan Rinbesi adalah dengan membeli air tangki dari pengusaha air minum
yang dijual dengan harga Rp 100.000,- sampai Rp 150.000 untuk 5000 liter ,- bergantung pada
jarak lokasi. Pembelian air tangki umumnya dilakukan secara patungan oleh dua sampai tiga
keluarga untuk memenuhi kebutuhan air keluarga selama empat sampai lima hari. Hasil
identifikasi akses air minum aman di kawasan Tenukiik dan Rinbesi ditunjukkan pada tabel
4.7
Tabel 4.7 Jumlah responden berdasarkan akses air minum
Lokasi Jumlah Sumber Air % Nilai
Penduduk
(KK)
Tenukiik Ledeng/ SR Sumur Sumur Tangki/mobil/
Bor gerobak air
RT 14 31 7 10 - 20 85,14 5
RT 04 17 1 13 - 1
RT 03 26 3 16 - 3
Jumlah 74 11 39 - 24
Rinbesi
RT 14 37 1 30 1 5 97,30 5
Jumlah 37 1 30 1 5

Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

67
Hasil kajian di atas diketahui bahwa jumlah penduduk yang tidak memiliki akses air
minum yang aman di kawasan Tenukiik sebesar 63 KK atau 85,14 % dari jumlah penduduk
di kawasan permukiman kumuh, sedangkan di kawasan Rinbesi jumlah penduduk yang tidak
memiliki akses air minum yang aman sebesar 35 KK atau 97,30 % dari jumlah penduduk di
kawasan permukiman kumuh. Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 tahun 2017,
tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk
Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum
menyebutkan untuk kepeluan Higiene Sanitasi meliputi parameter fisik, biologi, dan kimia
yang dapat berupa parameter wajib dan parameter tambahan. Parameter wajib merupakan
parameter yang harus diperiksa secara berkala sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan, sedangkan parameter tambahan hanya diwajibkan untuk diperiksa jika kondisi
geohidrologi mengindikasikan adanya potensi pencemaran berkaitan dengan parameter
tambahan. Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi tersebut digunakan untuk pemeliharaan
kebersihan perorangan seperti mandi dan sikat gigi, serta untuk keperluan cuci bahan pangan,
peralatan makan, dan pakaian. Selain itu air untuk keperluan higiene sanitasi dapat digunakan
sebagai air baku air minum. Gambaran pemenuhan air minum aman kawasan Tenukiik dan
Rinbesi ditunjukkan pada gambar 4.6

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.11 Gambaran pemenuhan air minum (Kawasan Tenukiik (A) dan (B)
Kawasan Rinbesi)

b. Tidak terpenuhinya kebutuhan Air Minum


Kebutuhan dasar air bersih adalah jumlah air bersih minimal yang perlu disediakan agar
manusia dapat hidup secara layak, yaitu dapat memperoleh air yang diperlukan untuk
melakukan aktivitas dasar sehari-hari. Identifikasi pemenuhan kebutuhan air minum warga

68
dinilai berdasarkan jumlah penduduk yang belum terpenuhi kebutuhan air minum secara
kuantitas yaitu 60 liter/hari. Hasil identifikasi tidak terpenuhinya kebutuhan air minum
kawasan Tenukiik dan Rinbesi ditunjukkan pada tabel 4.8
Tabel 4.8 Jumlah Responden berdasarkan tidak terpenuhinya kebutuhan air minum
No Lokasi Jumlah Penduduk tidak % Nilai
Tenukiik Penduduk terpenuhi air minum
(KK) (KK)
1 RT 14 36 53 85,14 5
2 RT 04 17 3
3 RT 03 26 7
Jumlah 74 63
Rinbesi
1 RT 14 37 36 97,30 5
Jumlah 37 36
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Berdasarkan hasil kajian di atas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang tidak
terpenuhi kebutuhan air minum adalah 63 KK atau 85.14 % dari jumlah kepala kelurga
kawasan Tenukiik, sedangkan di kawasan Rinbesi adalah 36 KK atau 97,30 %. Sesuai
PERMEN PU Nomor 1 tahun 2014 Kriteria air minum yang aman adalah melalui Sistim
Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan jaringan perpipaan dan bukan perpipaan
terlindungi dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/hari. Gambaran sumur
terlindungi kawasan Tenukiik dan Rinbesi ditunjukkan pada gambar 4.7

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.12 Sumur terlindungi (Kawasan Tenukiik (A) dan (B) Kawasan Rinbesi)

69
Gambar : 4.13 Kondisi air minum dilihat dari interpretasi citra Kawasan Tenukiik

70
Gambar : 4.14 Kondisi air minum dilihat dari interpretasi citra Kawasan Rinbesi

71
4. Kondisi Drainase Lingkungan
Drainase merupakan salah satu komponen penting dalam struktur ruang pada kawasan
permukiman. Penilaian aspek kondisi drainase lingkungan dapat dilihat berdasarkan kriteria
sebagai berikut:
a. Ketidakkemampuan Mengalirkan Limpasan Air
Ketidakmampuan mengalirkan limpasan air dapat diukur berdasarkan luas area yang
terdampak genangan pada lingkungan permukiman akibat luapan drainase lingkungan. Hasil
observasi dan wawancara dengan masyarakat di kawasan Tenukiik dan Rinbesi menunjukkan
bahwa tidak terdapat area yang tergenang sehingga skor parameter ketidakmampuan
mengalirkan limpasan air adalah nol (0). Sesuai PERMEN PU Nomor 1 tahun 2014 yang
menyebutkan bahwa yang disebut genangan adalah terendamnya suatu kawasan perkotaan
lebih dari 30 cm selama lebih dari dua (2) jam dan daerah genangan adalah kawasan yang
tergenang air akibat tidak berfungsinya sistem drainase yang mengganggu dan/atau merugikan
aktivitas masyarakat. Gambaran kondisi eksisting kawasan Tenukiik dan Rinbesi ditunjukkan
pada gambar 4.8

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.15 Kondisi Eksisting menunjukkan tidak terdapat genangan pada (Kawasan
Tenukiik (A) dan (B) Kawasan Rinbesi)
b.Ketidaktersediaan Drainase
Ketidaktersediaan drainase lingkungan ini diukur berdasarkan luas area yang tidak
terlayani prasarana drainase lingkungan. Permukiman kumuh kawasan Tenukiik terdapat
dalam lingkungan di dalam kawasan tidak memiliki prasarana drainase lingkungan, sedangkan
di kawasan Rinbesi drainase lingkungan di dalam kawasan terdapat prasarana drainase
lingkungan. Hasil identifikasi ketidaktersediaan drainase kawasan Tenukiik ditunjukkan pada
tabel 4.10

72
Tabel 4.10 Jumlah responden berdasarkan Ketidaktersediaan drainase
No Tenukiik Drainase Kualitas kontruksi Panjang % Nilai
drainase (m)
1 RT 14 Saluran 40 x 60 tanah 100 16.67 0
(renc)
Jumlah 100
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis
Berdasarkan hasil analisis ketidaktersediaan drainase dapat diketahui bahwa panjang
drainase yang diperlukan pada kawasan Tenukiik yang tidak terlayani drainase yaitu sepanjang
100 m atau 16.67 % dari panjang keseluruhan yang diperlukan di kawasan permukiman,
sedangkan di kawasan Rinbesi berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan masyarakat
menunjukkan bahwa tidak diperlukan drainase baru sehingga skor parameter ketidaktersediaan
drainase adalah nol (0). Sesuai PERMEN PU Nomor 1 tahun 2014 yang menyebutkan bahwa
sistem drainase lokal adalah saluran awal yang melayani suatu kawasan kota tertentu seperti
komplek, areal pasar, perkantoran, areal industri dan komersial. Gambaran rencana pembuatan
saluran drainase kawasan Tenukiik ditunjukkan pada gambar 4.9

Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian


Gambar : 4.16 Rencana saluran drainase kawasan Tenukiik

c. Ketidakterhubungan dengan Sistem Drainase Perkotaan


Sistem drainase di kawasan Tenukiik merupakan sistem drainase tersier yaitu drainase
dalam lingkungan permukiman menuju ke drainase primer, sedangkan kawasan Rinbesi,
sistem drainase melalui sistem drainase sekunder yaitu masuk dalam saluran primer yang ada
di jalan A. yani. Hasil identifikasi ketidakterhubungan dengan sistem drainase perkotaan
kawasan Tenukiik ditunjukkan pada tabel 4.11

73
Tabel 4.11 Jumlah responden berdasarkan Ketidakterhubungan dengan sistem drainase
perkotaan Kawasan Tenukiik
No Jenis Drainase Panjang Lebar Kondisi Saluran % Nilai
(m) (m)
1 Primer (Tenukiik 300 3x3 Saluran terbuka, kondisi 16.67 0
Saluran) mengalir
2 Sekunder (Jln. 200 0.60 x Saluran terbuka,kondisi
Adisucipto) 0.80 kering
3 Tersier 100 Tanah
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Hasil analisis ketidakterhubungan dengan sistem drainase perkotaan menunjukkan bahwa


dikawasan Tenukiik masih membutuhkan drainase tersier sepanjang 100 m atau 16.67 % dari
total kebutuhan drainase, sedangkan di kawasan Rinbesi berdasarkan hasil observasi dan
wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa sistem drainase perkotaan telah
terhubung sehingga skor parameter ketidakterhubungan dengan sistem drainase perkotaan
adalah nol (0). Sesuai PERMEN PU Nomor 1 tahun 2014 yang menyebutkan bahwa Sistem
drainase perkotaan berwawasan lingkungan adalah jaringan drainase perkotaan yang terdiri
dari saluran induk/primer, saluran sekunder, saluran tersier, bangunan peresapan, bangunan
tampungan beserta sarana pelengkapnya yang berhubungan secara sistematik satu dengan
lainnya. Berikut gambaran kondisi ketidakterhubungan dengan sistem drainase perkotaan
kawasan Tenukiik ditunjukkan pada gambar 4.10.

R. Saluran

Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian


Gambar : 4.17 Kondisi eksisting drainase primer dan rencana saluran drainase

d.Tidak terpeliharanya drainase


Kondisi drainase lingkungan di kawasan Tenukiik ini tergolong rusak. Pada drainase
sekunder terdapat sampah di saluran drainase, baik sampah daun maupun sampah rumah
tangga. Hal ini berakibat pada aliran air pada drainase menjadi tidak lancar dan jika musim

74
hujan, air dapat meluap karena drainase yang tersumbat. Sementara itu kondisi drainase
primer yaitu Tenukiik Saluran digunakan untuk tempat MCK (Mandi, cuci, Kakus) warga.
Kondisi drainase buruk karena di sekitar aliran sungai terdapat sampah, sedangkan di
kawasan Rinbesi, kondisi drainase lingkungan tergolong buruk. Pada drainase tersier terdapat
urugan tanah dan sampah di saluran drainase, hal ini berakibat pada aliran air pada drainase
menjadi tidak lancar dan jika musim hujan air dapat meluap karena drainase yang tersumbat.
Hasil identifikasi tidak terpeliharanya drainase kawasan Tenukiik dan Rinbesi ditunjukkan
pada tabel 4.12
Tabel 4.12 Jumlah Responden berdasarkan tidak terpeliharanya drainase
No Drainase Kondisi Kualitas Panjang % Nilai
Tenukiik saluran kontruksi (m)
drainase drainase
1 RT 14 Saluran 300 x 300 Rusak Sepanjang 300 300 50 1
dan (eks) m, lantai
RT 04 saluran rusak,
sepanjang 12
meter dinding
saluran retak
Jumlah 300
Rinbesi
1 RT 14 Saluran 40 x 60 (eks) Rusak Dinding saluran 121 100 5
rusak
Saluran 20 x 30 (eks) Rusak Dinding saluran 50
rusak
Jumlah 171
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Berdasarkan hasil analisis dan wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa


sistem drainase tidak dilakukan pemeliharaan rutin dan berkala pada kawasan Tenukiik
adalah sepanjang 300 m atau 50 % dari panjang saluran di kawasan permukiman, sedangkan
kawasan Rinbesi sistem drainase juga tidak dilakukan pemeliharaan rutin dan berkala yang
mengakibatkan sepanjang 171 meter terjadi kerusakan. Sesuai PERMEN PU Nomor 12
tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sitem Drainase Perkotaan yang menyebutkan bahwa
pemeliharaan dilakukan untuk mencegah kerusakan dan/atau penurunan fungsi prasarana
drainase dan perbaikan terhadap kerusakan prasarana drainase.

75
Gambaran kerusakan pada saluran drainase eksisting kawasan Tenukiik dan Rinbesi
ditunjukkan pada gambar 4.11

Dinding Saluran rusak

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.18 Tidak terpeliharanya drainase (Kawasan Tenukiik (A) dan (B) Kawasan Rinbesi)

e. Kualitas Konstruksi Drainase


Kualitas kontruksi drainase dikaji berdasarkan panjang konstruksi prasarana drainase
yang berkondisinya buruk, oleh karena belum di-struktur atau karena mengalami kerusakan
berat struktur. Jenis kontruksi drainase primer dan sekunder di kawasan Tenukiik dan Rinbesi
terbuat dari pasangan batu kemudian disemen dengan jenis drainase terbuka. Hasil
identifikasi kualitas konstruksi drainase di kawasan Tenukiik dan Rinbesi ditunjukkan pada
tabel 4.13
Tabel 4.13 Jumlah responden berdasarkan kualitas konstruksi drainase
Drainase Jenis Kualitas Panjang % Nilai
No Tenukiik Konstruksi kontruksi (m)
drainase
1 RT 14 Saluran 300 x 300 (eks) Pasangan Rusak 300 85.33 5
dan Batu
RT 04
2 RT 14 Saluran 60 x 80 (eks) Pasangan Rusak 200
Batu
Jumlah 500
Rinbesi
1 RT 14 Saluran 40 x 60 (eks) Pasangan Rusak 121 100 5
Batu
2 RT 14 Saluran 20 x 30 (eks) Pasangan Rusak 50
Batu
Jumlah 171

Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa panjang saluran drainase di kawasan
Tenukiik yang kondisi kontruksinya masih rusak adalah sepanjang 500 meter atau 85.33 %
dari total panjang ideal saluran di kawasan permukiman sehingga diperlukan normalisasi

76
saluran, sedangkan di kawasan Rinbesi perlu dilakukan perbaikan saluran sepanjang 171
meter atau 100 %. Sesuai PERMEN PU Nomor 12 tahun 2014 yang menyebutkan bahwa
Pelaksanaan Konstruksi Sistem Drainase Perkotaan meliputi kegiatan normalisasi adalah
kegiatan untuk memperbaiki saluran dan sarana drainase lainnya termasuk Bangunan
Pelengkap sesuai dengan kriteria perencanaan. Berikut gambaran kerusakan konstruksi
drainase kawasan Tenukiik dan Rinbesi ditunjukkan pada gambar 4.12
Terjadinya sedimentasi Dinding dan lantai rusak

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.19 Kerusakan konstruksi drainase (Kawasan Tenukiik (A) dan (B) Kawasan Rinbesi)

77
Gambar : 4.20 Kondisi drainase lingkungan dilihat dari interpretasi citra Kawasan Tenukiik

78
Gambar : 4.21 Kondisi drainase lingkungan dilihat dari interpretasi citra Kawasan Rinbesi

79
5. Pengelolaan Air Limbah
Pengelolaan air limbah merupakan salah satu aspek penting yang ada dalam lingkungan
kawasan permukiman kumuh dan kawasan padat huni ini. Pengelolaan limbah yang baik
dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan mengurangi pencemaran terhadap air tanah.
Hasil analisis tingkat pengelolaan limbah dikaji berdasarkan aspek dan kriteria sebagai
berikut :
a. Sistem Pengelolaan Air Limbah Tidak Sesuai Standar Teknis
Standar teknis sistem pengelolaan limbah yang baik yaitu kakus/kloset yang sudah
terhubung dengan tangki septik baik secara individual/domestik, komunal maupun terpusat.
Di kawasan Tenukiik dan Rinbesi sistem pengolahan limbah dilakukan secara individual
yaitu dilakukan secara sendiri-sendiri pada masing-masing rumah terhadap air limbah yang
dihasilkan. Selain itu, sistem pembuangan limbah sanitasi dilakukan secara on-site, dimana
air limbah tidak dikumpulkan serta disalurkan ke dalam suatu jaringan saluran yang akan
membawanya ke suatu tempat pengolahan air buangan atau badan air penerima, melainkan
dibuang di tempat yaitu langsung diresapkan ke tanah. Sistem pengelolaan limbah di
kawasan Tenukiik dan Rinbesi tergolong baik karena hampir enam puluh sembilan persen
(69%), rumah tangga memiliki tangki septik sebagai saluran pembuangan limbah dari air
kotor (WC). Dan hanya beberapa rumah (31%) membuang limbah secara individual dan on-
site. Hal tersebut berbahaya karena dapat mencemari air tanah. Hanya. Hasil identifikasi
pengelolaan air limbah kawasan Tenukiik dan Rinbesi ditunjukkan pada tabel 4.14
Tabel 4.14 Jumlah responden berdasarkan Pengelolaan Air Limbah
No Tenukiik Tempat Buang Air Besar Pembuangan Limbah % Nilai
Jamban Jamban Tidak Tangki Bukan 31,08 1
Sendiri umum dijamban septik tangki
septik
1 RT 04 17 0 0 8 0
2 RT 03 26 0 0 20 3
3 RT 14 31 0 0 27 7
Jumlah 74 0 0 53 23
Rinbesi
1 RT 14 37 0 0 26 11 29,71 1
Jumlah 37 0 0 26 11
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

80
Berdasarkan hasil analisis terdapat dua jenis pembuangan limbah di kawasan Tenukiik
dan Rinbesi yaitu tangki septik dan bukan tangki septik. Berdasarkan tabel 4.14 terdapat 23
KK atau 31,08 %, sedangkan di kawasan Rinbesi terdapat 11 KK atau 29,71 %, sistem
pengelolaan air limbah tidak terdapat unit pengolahan setempat (tangki septik). Menurut
PERMEN PU Nomor 1 tahun 2014, menyebutkan bahwa fasilitas sistem pengelolaan air
limbah permukiman yang memadai adalah satu kesatuan sistem fisik (teknis) dan non fisik
(non teknis) berupa unit pengolahan setempat (tangki septik/MCK komunal) dan/atau berupa
sistem pengolahan terpusat (pengaliran air limbah dari sambungan rumah melalui jaringan
perpipaan yang kemudian diolah pada instalasi pengolahan air limbah baik skala kawasan
maupun skala kota/regional). Gambaran sistem pengelolaan air limbah tidak sesuai standar
teknis kawasan Tenukiik dan Rinbesi ditunjukkan pada gambar 4.13
Bukan tangki septik

tangki septik

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.22 Sistem on-site dan individual untuk pengelolaan limbah (Kawasan Tenukiik (A)
dan (B) Kawasan Rinbesi)
rumah tangga dan sanitasi
b. Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Tidak Sesuai dengan Persyaratan
Teknis
Hasil analisis prasarana dan sarana pengelolaan air limbah di permukiman kumuh
kawasan Tenukiik belum sepenuhnya sesuai dengan standar teknis. Sarana sanitasi yaitu WC
sudah individual tiap rumah namun kondisinya kurang layak, terletak di luar rumah dan
hanya terbuat dari seng. Terdapat beberapa rumah tangga (67 %) yang WC nya sudah
ditembok. Pengelolaan limbah setempat dengan tangki septik dan belum ada pengelolaan
limbah terpusat. Sarana pembuangan limbah sanitasi ada yang sudah menggunakan kloset
leher angsa dengan atau tanpa tangki septik. Hasil identifikasi prasarana dan sarana
pengelolaan air limbah tidak sesuai persyaratan tenis kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi
ditunjukkan pada tabel 4.15

81
Tabel 4.15 Jumlah responden berdasarkan Prasarana dan sarana
Tenukiik Rinbesi
No Sarana Pengelolaan Limbah Jumlah % Nilai Jumlah % Nilai
sanitasi hunian hunian
(KK) (KK)
1 Jamban dilengkapi tangki septick 47 31.08 1 15 29.73 1
2 Jamban dilengkapai dengan -
IPAL Komunal
3 MCK Umum -
4 Sarana sanitasi tidak layak 23 11
(cubluk, toilet, apung, dll)
5 Tanpa Sanitasi (BABS) -
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Data ketidaksesuaian persyaratan teknis sarana dan prasarana pengelolaan air limbah
dihitung berdasarkan kepala keluarga yang sarana dan prasarana sanitasinya kurang layak
yaitu tidak memenuhi syarat jamban dengan tangki septik. Berdasarkan hasil analisis
menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga yang sanitasinya tidak layak adalah sebesar 23
unit rumah atau 31.08 %, sedangkan di kawasan Rinbesi berdasarkan hasil analisis
menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga yang sanitasinya tidak layak adalah sebesar 11
unit rumah. Menurut PERMEN PU Nomor 1 tahun 2014 yang menyebutkan bahwa sistem
pengelolaan air limbah permukiman setempat adalah satu kesatuan sistem fisik dan non fisik
berupa pembuangan air limbah skala individual dan/atau komunal yang unit pengaliran dan
pengolahan awalnya melalui atau tanpa melalui jaringan perpipaan yang dilengkapi dengan
sarana pengangkut lumpur tinja dan instalasi pengolahan lumpur tinja. Tangki septik adalah
bak kedap air untuk mengolah air limbah, berbentuk empat persegi panjang atau bundar yang
dilengkapi tutup, penyekat, pipa masuk/keluar dan ventilasi. Fungsinya untuk merubah sifat-
sifat air limbah, agar curahan ke luar dapat dibuang ke tanah melalui resapan tanpa
mengganggu lingkungan. Berikut gambaran sarana dan prasarana pengelolaan air limbah
tidak sesuai persyaratan teknis kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi ditunjukkan pada
gambar 4.14 Bukan tangki septik

Bukan tangki septik

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.23 Sarpras pengelolaan air limbah (Kawasan Tenukiik (A) dan (B) Kawasan Rinbesi)
82
Gambar : 4.24 Kondisi pengelolaan air limbah dilihat dari interpretasi citra Kawasan Tenukiik

83
Gambar : 4.25 Kondisi pengelolaan air limbah dilihat dari interpretasi citra Kawasan Rinbesi

84
6. Pengelolaan Persampahan
Kondisi persampahan merupakan salah satu indikator dalam penentuan kriteria kawasan
permukiman kumuh, permukiman kumuh dan padat huni cenderung memiliki sistem
pengelolaan persampahan yang buruk dan tidak sesuai standar, Hasil analisis pengelolaan
persampahan dirinci sebagai berikut :
a. Kesesuaian Persyaratan Teknis Prasarana dan Sarana
Kondisi prasarana dan Sarana Persampahan yang sesuai standar teknis yaitu yang
memiliki pendekatan 3R (Reuse, Reduce, Recyclcle ) yaitu bin/tempat sampah dengan
pemilahan, gerobak sampah, TPS3R, dan TPST. Hasil identifikasi kesesuaian persyaratan
teknis prasarana dan sarana kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi ditunjukkan pada tabel
4.16
Tabel 4.16 Jumlah responden berdasarkan pengelolaan persampahan rumah tangga
No Tenukiik Pembuangan Sampah Rumah Tangga % Nilai
Tempat Tempat Dalam Ruang 100 5
sampah sampah Lubang/ terbuka/ lahan
pribadi komunal dibakar kosong
1 RT 04 0 0 17 0
2 RT 03 0 0 26 0
3 RT 14 12 0 19 0
Jumlah 12 0 62 0
Rinbesi
1 RT 14 17 8 12 100 5
Jumlah 17 0 8 12
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis
Hasil analisis kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi tidak memiliki syarat teknis sarana
dan prasarana yang baik karena tidak ada sarana dan prasarana pengelolaan sampah di kawasan
Tenukiik. Warga meletakkan sampah rumah tangga pada tempat-tempat tertentu disamping
atau dibelakang rumahnya yang memiliki halaman atau lahan yang masih kosong. Tempat
sampah ditampung sendiri-sendiri di tiap rumah dan kemudian dibuang didalam lubang lalu
dibakar/ dilahan tanah kosong. Menurut PERMEN PU Nomor 3 tahun 2013 yang menyebutkan
prasarana persampahan yang selanjutnya disebut prasarana adalah fasilitas dasar yang dapat
menunjang terlaksananya kegiatan penanganan sampah dan sarana persampahan yang
selanjutnya disebut sarana adalah peralatan yang dapat dipergunakan dalam kegiatan
penanganan sampah. Berikut gambaran kondisi eksisting kebiasaan masyarakat dalam
membuang sampah kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi ditunjukkan pada gambar 4.15

85
A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.26 Perilaku masyarakat dalam membuang sampah (Kawasan Tenukiik (A) dan
(B) Kawasan Rinbesi)

b. Kesesuaian Persyaratan Teknis Sistem Pengelolaan Persampahan


Sistem pengelolaan persampahan yang sesuai dengan standar yaitu pengelolaan
persampahan dengan pewadahan, pengumpulan, pengangkutan dan pengolahan. Hasil
identifikasi kesesuaian persyaratan sistem pengolahan persampahan kawasan Tenukiik dan
Rinbesi ditunjukkan pada tabel 4.17
Tabel 4.17 Jumlah responden berdasarkan sistem pengelolaan persampahan rumah tangga
No Tenukiik Pembuangan Sampah Rumah Pengangkutan sampah % Nilai
dari rumah ke TPS/TPA
Tangga
Tempat Ruang Dalam >2x <1x 100 5
sampah terbuka/ Lubang/ seminggu seminggu
pribadi lahan dibakar
kosong
1 RT 04 0 0 17 3 0
2 RT 03 0 0 26 3 0
3 RT 14 12 0 19 4 0
Jumlah 12 0 62 0
Rinbesi
1 RT 14 17 12 8 0 1 100 5
Jumlah 17 12 8
Sumber : Hasil Olahan Data dan analisis

Hasil analisis Kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi memiliki sistem pengelolaan
sampah yang buruk, warga hanya mengolah sampah rumah tangganya melalui pewadahan
pada masing-masing rumah tangga dan kemudian dikumpulkan di belakang atau di
samping halaman kosong lalu dibakar. Pengangkutan sampah oleh petugas atau pemerintah
daerah dilakukan selama 2x selama seminggu dengan cara open dumping karena tidak ada
sistem pengolahan. Pengelolaan sampah yang seperti ini belum memenuhi standar teknis
pengelolaan yang baik. Hal ini dapat mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan dan

86
kesehatan dan harus segera diatasi. Menurut PERMEN PU Nomor 3 tahun 2013 Tentang
Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah
Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang menyebutkan bahwa Pewadahan
adalah kegiatan menampung sampah sementara dalam suatu wadah individual atau
komunal di tempat sumber sampah dengan mempertimbangkan jenis-jenis sampah,
Pengumpulan adalah kegiatan mengambil dan memindahkan sampah dari sumber sampah
ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R,
Pengangkutan adalah kegiatan membawa sampah dari sumber atau tempat penampungan
sementara menuju tempat pengolahan sampah terpadu atau tempat pemrosesan akhir
dengan menggunakan kendaraan bermotor yang didesain untuk mengangkut sampah.
Berikut gambaran sistem pengelolaan sampah kawasan Tenukiik dan Rinbesi ditunjukkan
pada gambar 4.16

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Penelitian
Gambar : 4.27 Kondisi sistem pengelolaan persampahan Eksisting (Kawasan Tenukiik (A) dan
(B) Kawasan Rinbesi)

c. Tidak Terpeliharanya Sarana dan Prasarana Pengelolaan Persampahan


Hasil observasi dan wawancara dengan masyarakat pada kawasan Tenukiik dan
kawasan Rinbesi menunjukkan bahwa tidak ditemukan sarana dan prasarana pengelolaan
persampahan sehingga skor parameter tidak terpeliharanya sarana dan prasarana
pengelolaan persampahan adalah seratus (100). Menurut PERMEN PU Nomor 3 tahun
2013 yang menyebutkan bahwa Tempat Penampungan Sementara, yang selanjutnya
disingkat TPS, adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang,
pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu, Tempat Pengolahan Sampah
Dengan Prinsip 3R (reduce, reuse dan recycle), yang selanjutnya disingkat TPS 3R, adalah
tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang,dan

87
pendauran ulang skala kawasan. Gambaran kondisi eksisting dalam pengelolaan sampah
kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi ditunjukkan pada gambar 4.17

A B
Sumber : Dokumentasi Penelitian

Gambar : 4.28 Kondisi eksisting dalam pengelolaan persampahan (Kawasan Tenukiik (A) dan
(B) Kawasan Rinbesi)

88
Gambar : 4.29 Kondisi pengelolaan sampah dilihat dari interpretasi citra Kawasan Tenukiik

89
Gambar : 4.30 Kondisi pengelolaan sampah dilihat dari interpretasi citra Kawasan Rinbesi

90
7. Proteksi Kebakaran
Kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi merupakan permukiman yang mempunyai
tingkat kepadatan rendah dan mempunyai lorong yang sempit sehingga menyulitkan akses
warga pada pelayanan darurat. Kebakaran menjadi bencana laten dalam pemukiman
Tenukiik dan Rinbesi. Hasil analisis proteksi kebakaran di rinci sebagai berikut :
a. Ketidaktersediaan prasarana kebakaran
Prasarana proteksi kebakaran yaitu terdiri dari adanya sumber air, jalan, mobil tangki
air, komunikasi, data sistem proteksi dan pos kebakaran. Letak permukiman yang
berdempetan, berada di kawasan tepi air membuat kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi
merupakan kawasan yang rawan terhadap bahaya kebakaran. kondisi jalan yang sempit
tidak dapat dilalui mobil pemadam. Kawasan Tenukiik ini juga tidak mempunyai akses air
yang cukup atau sumber air yang cukup untuk mengatasi bahaya kebakaran. Sungai
cenderung kering ketika musim kemarau dan air sumur warga/ sumber air warga belum
mampu mencukupi. Hasil identifikasi di masyarakat menunjukkan bahwa tidak ditemukan
prasarana kebakaran sehingga skor parameter prasarana kebakaran adalah seratus. Menurut
PERDA Bangunan Gedung Kabupaten Belu Nomor 5 tahun 2012 Tentang
Penyelenggaraan Bangunan Gedung, yang menyebutkan bahwa persyaratan keselamatan
meliputi persyaratan kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi
bahaya kebakaran. Berikut gambaran kondisi eksisting prasarana kebakaran kawasan
Tenukiik ditunjukkan pada gambar 4.18

Lebar
Jalan 2 m Lebar
Jalan 1.5
m

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Lapangan
Gambar : 4.31 Ketidaktersediaan prasarana kebakaran (Kawasan Tenukiik (A) dan
(B) Kawasan Rinbesi)
b. Ketidaktersediaan sarana kebakaran
Ketersediaan sarana proteksi kebakaran yaitu tekait kesediaan APAR (Alat Pemadam
Api Ringan), mobil pompa, pompa dorong, pompa motor maupun mobil tangga. Hal yang

91
terkait langsung berupa sarana pendukung operasi pemadaman kebakaran dari pemerintah
daerah, kondisinya belum mampu mengimbangi ancaman dan kebutuhan penanggulangan
kebakaran. Sedangkan dari sisi masyarakat, umumnya kesadaran masyarakat akan bahaya
kebakaran juga masih relatif rendah. Hasil identifikasi di masyarakat menunjukkan bahwa
tidak ditemukan prasarana kebakaran sehingga skor parameter prasarana kebakaran adalah
seratus. Menurut PERDA Bangunan Gedung Kabupaten Belu Nomor 5 tahun 2012 yang
menyebutkan bahwa Setiap bangunan gedung harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran
dengan sistem proteksi aktif dan pasif dan setiap bangunan gedung dengan fungsi,
klasifikasi, luas, jumlah lantai/ dengan jumlah penghuni tertentu harus memiliki unit
management pengaman kebakaran. Berikut gambaran kondisi eksisting permukiman
kawasan Tenukiik ditunjukkan pada gambar 4.19

A B
Sumber : Hasil Dokumentasi Lapangan
Gambar : 4.32 Kondisi Eksisting permukiman (Kawasan Tenukiik (A) dan (B) Kawasan Rinbesi)

92
Gambar : 4.33 Kondisi proteksi kebakaran dilihat dari interpretasi citra Kawasan Tenukiik

93
Gambar : 4.34 Kondisi proteksi kebakaran dilihat dari interpretasi citra Kawasan Rinbesi

94
Berdasarkan hasil evaluasi tingkat kekumuhan kawasan Tenukiik ditunjukkan pada tabel 4.21
dan kawasan Rinbesi ditunjukkan pada tabel 4.22

Tabel 4.21 Ringkasan hasil evaluasi tingkat kekumuhan Kawasan Tenukiik

KONDISI AWAL
ASPEK KRITERIA
PERSEN
NUMERIK SATUAN
(%)
NILAI
a. Ketidakteraturan Bangunan (hal.
51) 18.00
Unit 29.03 1
1. KONDISI BANGUNAN b. Kepadatan Bangunan (hal. 52) Ha 7.15 0
GEDUNG 0.32
c. Ketidaksesuaian dengan Persy
Teknis Bangunan (Hal. 55) 10.00
Unit 16.13 0

Rata-rata Kondisi Bangunan Gedung 1


a. Cakupan Pelayanan Jalan
2. Kondisi Jalan Lingkungan (Hal. 58) 250.00
Meter 40.52 1
Lingkungan b. Kualitas Permukaan Jalan
lingkungan (hal. 60) 617.00
Meter 100.00 5
Rata-rata Kondisi Jalan Lingkungan 3
a. Ketersediaan Akses Aman Air
3. Kondisi Penyediaan Minum (hal. 64) 63.00
KK 85.14 5
Air Minum b. Tidak terpenuhinya Kebutuhan
Air Minum (hal. 66) 63.00
KK 85.14 5

Rata-rata Kondisi Penyediaan Air Minum 5


a. Ketidakmampuan Mengalirkan
Limpasan Air (hal.70) -
Ha - 0
b. Ketidaktersediaan Drainase (hal.
71) 100.00
Meter 16.00 0
4. Kondisi Drainase c. Ketidakterhubungan dgn Sistem
Lingkungan Drainase Kota (hal. 72) 100.00
Meter 16.00 0
d. Tidak terpeliharanya Drainase
(hal. 73) 300.00
Meter 50.00 1
e. Kualitas Konstruksi Drainase
(hal. 74) 500.00
Meter 85.33 5

Rata-rata Kondisi Drainase Lingkungan 1


a. Sistem Pengelolaan Air Limbah
5. Kondisi Pengelolaan
Air Limbah
Tidak Sesuai Standar Teknis (hal.
23.00
KK
31.08
1
78)

95
b. Prasarana dan Sarana
Pengelolaan Air Limbah Tidak
Sesuai dengan Persyaratan Teknis 23.00
KK
31.08
1
(hal.80)

Rata-rata Kondisi Penyediaan Air Limbah 1


a. Prasarana dan Sarana
Persampahan Tidak Sesuai dengan
74.00
KK
100.00
5
persyaratan Teknis (hal. 83)
b. Sistem Pengelolaan
6. Kondisi Pengelolaan
Persampahan
Persampahan yang tidak sesuai
74.00
KK
100.00
5
Standar Teknis (hal. 84)
c. Tidakterpeliharanya Sarana dan
Prasarana Pengelolaan
74.00
KK
100.00
5
Persampahan

Rata-rata Kondisi Pengelolaan Persampahan 5


a. Ketidaktersediaan Prasarana
Proteksi Kebakaran (hal. 88) 62.00
Unit 100.00 5
7. Kondisi Proteksi
Kebakaran b. Ketidaktersediaan Sarana
Proteksi Kebakaran (hal. 89) 62.00
Unit 100.00 5

Rata-rata Kondisi Proteksi Kebakaran 5

TOTAL NILAI 50

Tabel 4.22 Ringkasan hasil evaluasi tingkat kekumuhan kawasan Rinbesi

KONDISI AWAL
ASPEK KRITERIA
PERSEN
NUMERIK SATUAN NILAI
(%)
a. Ketidakteraturan Bangunan (hal.
51) 12.00
Unit 46.15 1
1. Kondisi
Bangunan b. Kepadatan Bangunan (hal. 52)
0.1866
Ha 33.93 1
Gedung
c. Ketidaksesuaian dengan Persy
Teknis Bangunan (Hal. 55) 5.00
Unit 19.23 0

Rata-rata Kondisi Bangunan Gedung 1


a. Cakupan Pelayanan Jalan
2. Kondisi Jalan Lingkungan (Hal. 58) 35.00
Meter 10.45 0
Lingkungan b. Kualitas Permukaan Jalan
lingkungan (hal. 60) 135.00
Meter 0.403 1

96
Rata-rata Kondisi Jalan Lingkungan 1
a. Ketersediaan Akses Aman Air
3. Kondisi
Minum (hal. 64) 36.00
KK 97.30 5
Penyediaan Air
Minum b. Tidak terpenuhinya Kebutuhan Air
Minum (hal. 66) 36.00
KK 97.30 5

Rata-rata Kondisi Penyediaan Air Minum 5


a. Ketidakmampuan Mengalirkan
Limpasan Air (hal.70) -
Ha - 0
b. Ketidaktersediaan Drainase (hal.
71) -
Meter - 0
4. Kondisi
c. Ketidakterhubungan dgn Sistem
Drainase
Drainase Kota (hal. 72) -
Meter - 0
Lingkungan
d. Tidak terpeliharanya Drainase
(hal. 73) 171.00
Meter 100.00 5
e. Kualitas Konstruksi Drainase (hal.
74) 171.00
Meter 100.00 5

Rata-rata Kondisi Drainase Lingkungan 2


a. Sistem Pengelolaan Air Limbah
5. Kondisi Tidak Sesuai Standar Teknis (hal. 78) 11.00
KK
29.73
1
Pengelolaan Air b. Prasarana dan Sarana Pengelolaan
Limbah Air Limbah Tidak Sesuai dengan
11.00
KK
29.73
1
Persyaratan Teknis (hal.80)

Rata-rata Kondisi Penyediaan Air Limbah 1


a. Prasarana dan Sarana
Persampahan Tidak Sesuai dengan
37.00
KK
100.00
5
persyaratan Teknis (hal. 83)
6. Kondisi b. Sistem Pengelolaan Persampahan
Pengelolaan yang tidak sesuai Standar Teknis
37.00
KK
100.00
5
Persampahan (hal. 84)
c. Tidakterpeliharanya Sarana dan
Prasarana Pengelolaan Persampahan 37.00
KK
100.00
5

Rata-rata Kondisi Pengelolaan Persampahan 5


a. Ketidaktersediaan Prasarana
7. Kondisi
Proteksi Kebakaran (hal. 88) 26.00
Unit
100.00
5
Proteksi
b. Ketidaktersediaan Sarana Proteksi
Kebakaran
Kebakaran (hal. 89) 26.00
Unit
100.00
5

Rata-rata Kondisi Proteksi Kebakaran 5

TOTAL NILAI 50

97
Hasil analisis berdasarkan 7 aspek dan 19 kriteria untuk kawasan Tenukiik total nilai 50 dan
kawasan Rinbesi total nilai 50 sehingga kedua kawasan masuk dalam kategori kumuh sedang.

98
Gambar : 4.34 Permasalahan Kawasan kumuh Tenukiik dilihat dari interpretasi citra

99
Gambar : 4.35 Permasalahan Kawasan kumuh Rinbesi dilihat dari interpretasi citra

100
4.3 Prioritas Penanganan Tingkat Kekumuhan (AHP)
Anamat UU No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman menyatakan
bahwa : Perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas
pembinaan, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan permukiman,
pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh
dan permukiman kumuh, penyediaan tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran
masyarakat. Pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan
permukiman kumuh guna meningkatkan mutu kehidupan dan penghidupan masyarakat
penghuni dilakukan untuk mencegah tumbuh dan berkembangnya perumahan kumuh dan
permukiman kumuh baru serta untuk menjaga dan meningkatkan kualitas dan fungsi
perumahan dan permukiman. Pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan
kumuh dan permukiman kumuh wajib dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau
setiap orang. Penanganan tingkat kekumuhan dibutuhkan dalam rangka memperoleh sejumlah
rencana penanganan kumuh yang akan dianalisis lebih lanjut untuk mendapatkan prioritas
penanganan. Terdapat tiga kriteria yang digunakan untuk menentukan prioritas penanganan,
yaitu (1) Perlu mendapat perhatian Khusus (Aktual); (2) Perlu ditangani segera (Urgen); (3)
Sesuai kebutuhan masyarakat (Relevan), dan sebanyak 6 alternatif penanganan kumuh yang
telah diidentifikasi, yaitu:
1. Komitmen pemerintah Daerah dan Pusat
2. Penyediaan sarana dan prasarana
3. Rusun / rusunawa
4. Dukungan OPD terkait
5. Pembuatan PERBUP/PERWALI
6. Padat Karya
Penetapan penanganan prioritas tingkat kekumuhan sesungguhnya adalah menentukan
nilai eigen vector dan global priority dari 6 alternatif penanganan yang telah teridentifikasi
menggunakan 3 (tiga) kriteria yang telah ditentukan. Metode analisis atau pendekatan yang
digunakan untuk menetapkan prioritas penanganan kekumuhan adalah : Analytical Hierarchy
Process (AHP) atau analisis jenjang keputusan (AJK). Pendekatan ini digunakan untuk
membuat keputusan yang efektif melalui strukturisasi kriteria majemuk ke dalam struktur
hirarki, menilai kepentingan relatif setiap kriteria, membandingkan alternatif untuk tiap kriteria
dan menentukan seluruh rangking dari alternatif-alternatif, sehingga dengan menggunakan
AHP persoalan yang kompleks dapat disederhanakan dan dipercepat proses pengambilan

101
keputusannya. Prinsip kerja AHP adalah penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang tidak
terstruktur, strategis, dan dinamik menjadi bagian-bagiannya, serta menata dalam suatu hirarki.
Metode AHP secara efisien umum digunakan dalam meranking kriteria yang berbeda,
tujuan yang berbeda atau alternatif yang berbeda, di mana masing-masing independen dan tidak
terhubung dalam pola matematis tertentu. Data yang ada bersifat kualitatif yang didasarkan
atas aspek-aspek konektif, persepsi dan pengalaman. Analisis penetapan isu prioritas dengan
AHP, ada beberapa prinsip dan tahapan yang harus dipahami di antaranya: decompocition,
comparative judgement, synthesis of priority, dan logical consistency.
1. Dekomposisi Masalah
Penggunaan AHP dimulai dengan melakukan decompocition (dekomposisi) masalah
kompleks dan kemudian menggolongkan pokok permasalahannya menjadi elemen-elemen
keputusan dalam satu hirarki tertentu. Dekomposisi masalah dilakukan terhadap elemen-
elemennya sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut sehingga didapatkan
beberapa tingkatan dari persoalan tadi. Karena alasan ini, maka proses analisis ini
dinamakan hirarki (hierarchy). Setelah informasi mengenai tujuan/sasaran, kriteria, dan
alternatif ditetapkan berdasarkan hasil expert judgement atau responden, langkah
selanjutnya adalah menyusun struktur hirarki. Struktur hirarki prioritas penanganan
kekumuhan ditunjukkan pada Gambar 4.20

Gambar 4.36 Struktur hirarki prioritas penanganan kekumuhan

102
2. Comparative Judgement /Perbandingan Antar Elemen
Pada tahap comparative judgement, dilakukan penilaian tentang kepentingan relatif dua
elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di atasnya. Penilaian ini
merupakan inti dari AHP, karena akan berpengaruh terhadap prioritas elemen-elemen. Hasil
dari penilaian ini disajikan dalam bentuk matriks yang dinamakan matriks perbandingan
berpasangan (pairwise comparison). Dalam penilaian kepentingan relatif dua elemen
berlaku aksioma reciprocal, artinya jika elemen i dinilai 3 kali lebih penting dibanding j,
maka elemen j harus sama dengan 1/3 kali pentingnya dibanding elemen-i. Di samping itu,
perbandingan dua angka yang sama akan menghasilkan angka 1, artinya sama penting. Jika
terdapat n elemen, maka akan diperoleh matriks pairwise comparison berukuran n x n.
Banyaknya penilaian yang diperlukan untuk menyusun matriks perbandingan berpasangan
adalah n(n-1)/2 karena matriksnya reciprocal dan elemen-elemen diagonal sama dengan 1.
Matriks hasil penilaian pakar (responden) berupa matriks individu (N ij) tentang
kepentingan relatif antar elemen, kemudian diolah menjadi matriks gabungan (N Gij) dengan
menggunakan persamaan Geometric Mean, sebagai berikut:
n N1(ij ) x N 2 (ij ) x ... x N n (ij )
NGij =
Hasil perhitungan matriks perbandingan berpasangan gabungan level dua dengan
memperhatikan keterkaitan dengan level satu ditunjukkan pada Tabel 4.21 untuk kriteria
urgen setelah diolah dengan geometric mean ditunjukkan pada Tabel 4.22

Tabel 4.21 Perbandingan kepentingan alternatif berdasarkan kriteria Urgen


Komitmen
Penyediaan Dukungan Pembuatan
Pemerintah Rusun/ Padat
Sarana dan OPD PERBUP/
Daerah Rusunawa Karya
Prasarana terkait PERWALI
dan Pusat
Komitmen 7 3 6 5 1
Pemerintah Daerah
dan Pusat 1 1 1 1 2
Penyediaan Sarana 1 2 2 1
dan Prasarana 1 1 1 9
3 3 1
Rusun/Rusunawa
1 1 9
Dukungan OPD 1
2
terkait 6
Pembuatan 1
PERBUP/PERWALI 5
Padat Karya
Sumber : Hasil Olahan Penilaian para pakar

103
Tabel 4.22 Perbandingan alternatif penanganan prioritas berdasarkan kriteria Urgen
Komitmen
Penyediaan Dukungan Pembuatan
Pemerintah Rusun/ Padat
Sarana dan OPD PERBUP/
Daerah Rusunawa Karya
Prasarana terkait PERWALI
dan Pusat
Komitmen
7 3 6 5 1
Pemerintah Daerah 1.00
dan Pusat 1 1 1 1 2
Penyediaan Sarana 1 1 2 2 1
1.00
dan Prasarana 7 1 1 1 9
1 1 3 3 1
Rusun/Rusunawa 1.00
3 1 1 1 9
Dukungan OPD 1 1 1 1
1.00 2
terkait 6 2 3 6
Pembuatan 1 1 1 1 1
1.00
PERBUP/PERWALI 5 2 3 2 5
2 9 9 6 5
Padat Karya 1.00
1 1 1 1 1

3. Normalisasi Data, Sintesis Prioritas dan Uji Konsistensi


Normalisasi data dilakukan dengan membagi nilai dari setiap elemen di dalam matriks
berpasangan dengan nilai total dari setiap kolom. Selanjutnya melakukan sintesis prioritas
(synthesis of priority), di mana dari setiap matriks pairwise comparison ditentukan eigen
vector-nya untuk mendapatkan local priority. Nilai eigen vector merupakan bobot setiap
elemen. Langkah ini mensintesis pilihan dan penentuan prioritas elemen-elemen pada
tingkat hirarki terendah sampai mencapai tujuan. Oleh karena matriks pairwise comparison
terdapat pada setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priority harus dilakukan
sintesis diantara local priority. Prosedur melakukan sintesis berbeda menurut bentuk hirarki.
Setelah nilai eigen vector dihitung, tahap selanjutnya adalah menguji konsistensinya, jika
tidak konsisten pengambilan data (preferensi) perlu diulangi. Nilai eigen vector yang
dimaksud adalah nilai eigen vector maksimum. Perhitungan indeks konsistensi (Consistency
Index, CI) dimaksudkan untuk mengetahui konsistensi jawaban pakar yang akan
berpengaruh terhadap kesahihan hasil. Persamaan yang digunakan untuk menghitung CI
adalah:
max  n
CI =
n 1
max adalah nilai eigen terbesar dari matriks berordo n. Nilai eigen terbesar adalah jumlah
hasil kali perkalian jumlah kolom dengan eigen vektor utama.

104
Melakukan uji konsistensi indeks dan rasio dengan membandingkan bila nilai CR tidak lebih
dari 10 % berarti menunjukkan kekonsistenan para pengambil keputusan dalam menilai.
dibawah ini adalah tabel orde matrik yang mendapatkan nilai-nilai RI (random
indeks)sebagai tolak ukur menguji kekonsistenan. Nilai RI merupakan nilai random indeks
yang dikeluarkan oleh Oarkridge Laboratory yang berupa tabel berikut ini:
Orde Matrik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
RI 0,00 0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49 1,51 1,48 1,56

Perbandingan bobot kriteria penetapan prioritas penanganan kekumuhan dilakukan


dengan mengkuadratkan matriks perbandingan berpasangan (Tabel 4.22), menghitung
jumlah nilai dari setiap baris dan dilakukan normalisasi, kemudian ditentukan eigen vector-
nya dan Consistency Ratio (CR) untuk mendapatkan local priority dan global priority.
a. Ubah matriks menjadi bilangan decimal

A B C D E F

A 1.00 7.00 3.00 6.00 5.00 0.50


B 0.14 1.00 1.00 2.00 2.00 0.11
C 0.33 1.00 1.00 3.00 3.00 0.11
D 0.17 0.50 0.33 1.00 2.00 0.17
E 0.20 0.50 0.33 0.50 1.00 0.20
F 2.00 9.00 9.00 6.00 5.00 1.00

b. Kuadratkan matriks isian dan normalisasi


Iterasi ke-1:
1.00 7.00 3.00 6.00 5.00 0.50 1.00 7.00 3.00 6.00 5.00 0.50
0.14 1.00 1.00 2.00 2.00 0.11 0.14 1.00 1.00 2.00 2.00 0.11
0.33 1.00 1.00 3.00 3.00 0.11 X 0.33 1.00 1.00 3.00 3.00 0.11
0.17 0.50 0.33 1.00 2.00 0.17 0.17 0.50 0.33 1.00 2.00 0.17
0.20 0.50 0.33 0.50 1.00 0.20 0.20 0.50 0.33 0.50 1.00 0.20
2.00 9.00 9.00 6.00 5.00 1.00 2.00 9.00 9.00 6.00 5.00 1.00

105
Jumlah
Iterasi 1 Normalisasi
Baris
6.0 27.0 21.2 40.5 47.5 4.1 146.28 0.288

1.6 6.0 4.8 9.5 12.3 1.1 35.27 0.069

2.1 8.3 6.0 12.2 16.2 1.6 46.45 0.083

1.2 5.0 3.8 6.0 7.7 0.9 24.66 0.055

1.1 4.8 3.7 5.4 6.0 0.7 21.66 0.043

Jumlah 10.3 46.5 36.7 71.5 77.0 6.0 247.95 0.462

Iterasi ke-2:
Jumlah
Iterasi 2 Normalisasi
Baris
267.1 1121.3 865.9 1551.1 1871.7 182.9 5859.99 0.288

65.7 277.4 214.5 383.6 459.9 44.7 1445.93 0.069

87.6 370.4 286.7 513.7 614.7 59.5 1932.54 0.083

48.6 204.6 158.2 287.3 344.9 33.1 1076.60 0.055

42.0 175.7 135.6 247.3 299.3 28.8 928.75 0.043

Jumlah 446.2 1867.1 1440.7 2579.3 3126.1 306.9 9766.35 0.462

Hasil iterasi diperoleh nilai eigen (hasil normalisasi) adalah 0,288; 0,069; 0,083; 0,055;
0,043 dan 0,462.
c. Uji Konsistensi

Penentuan nilai eigen value maksimum ( max ) dilakukan dengan mengalikan matriks
awal dengan nilai eigen vector atau vektor kolom, kemudian hasil perkalian dibagi
kembali dengan nilai vektor kolom yang bersangkutan sehingga diperoleh nilai rata-rata
yang merupakan nilai eigen value maksimum.
1.00 7.00 3.00 6.00 5.00 0.50 0.288 1.80 : 0.288 6.44
0.14 1.00 1.00 2.00 2.00 0.11 0.069 0.44 : 0.069 6.44
0.33 1.00 1.00 3.00 3.00 0.11 0.083 0.59 : 0.083 6.43
X = =
0.17 0.50 0.33 1.00 2.00 0.17 0.055 0.33 : 0.055 6.41
0.20 0.50 0.33 0.50 1.00 0.20 0.043 0.28 : 0.043 6.42
2.00 9.00 9.00 6.00 5.00 1.00 0.462 3.00 : 0.462 6.45

106
Maka nilai max adalah 38,6/6 = 6,43, sehingga nilai CI adalah:
6,43  6
CI = = 0,09
6 1
Untuk n = 6, nilai RI adalah 1,24 sehingga nilai Consistency ratio adalah:
CR = 0,09/1,24= 0,07 atau 7%
Nilai CR (7%) ≤ 10%, sehingga hasil penilaian pakar dinyatakan konsisten.
Dengan demikian ,berdasarkan kriteria urgen, terlihat bahwa padat karya (eigen value
0.462) adalah alternatif terbaik, kemudian diikuti komitmen pemerintah daerah dan pusat
(eigen value 0.288), rusun/rusunawa (eigen value 0.083), penyediaan sarana dan prasarana
(eigen value 0.069), dukungan OPD terkait (eigen value 0.055) dan pembuatan
PERBUB/PERWALI (eigen value 0.043), Hasil data pengolahan matrik perbandingan
elemen terhadap 3 kriteria lainnya ditunjukkan pada tabel 4.23
Tabel 4.23 Hasil perbandingan kepentingan alternatif berdasarkan kriteria

Aktual Relevan Urgen


Alternatif KET
0.055 0.155 0.291
Komitmen Pemerintah Daerah dan Pusat 0.030 0.030 0.286
Penyediaan Sarana dan Prasana 0.520 0.500 0.069
Rusun/Rusunawa 0.250 0.250 0.083
Dukungan OPD terkait 0.110 0.120 0.055
Pembuatan PERBUP/PERWALI 0.070 0.070 0.043
Padat Karya 0.030 0.040 0.462

Hasil analisis berdasarkan matriks perbandingan berpasangan antar elemen (alternatif)


dengan memperhatikan keterkaitan dengan (kriteria) diperoleh peringkat keseluruhan alternatif
berupa bobot prioritas lokal kegiatan penanganan kekumuhan terhadap tiga alternatif yang
dikembangkan . Operasi perkalian antar matriks lokal kemudian dilanjutkan operasi perkalian
dengan prioritas global ditunjukkan pada tabel 4.24 dan gambar 4.20

107
Tabel 4.24 prioritas lokal dan prioritas global penanganan kekumuhan

Aktual Relevan Urgen Prioritas


Alternatif %
Global
0.055 0.155 0.291
Komitmen Pemerintah Daerah dan Pusat 0.030 0.030 0.286 0.14 13.56%
Penyediaan Sarana dan Prasana 0.520 0.500 0.069 0.09 8.62%
Rusun/Rusunawa 0.250 0.250 0.083 0.03 2.90%
Dukungan OPD terkait 0.110 0.120 0.055 0.04 4.27%
Pembuatan PERBUP/PERWALI 0.070 0.070 0.043 0.09 9.36%
Padat Karya 0.030 0.040 0.462 0.15 15.32%

Perbandingan Prioritas Alternatif Kegiatan Penanganan


Kekumuhan

0.00% 2.00% 4.00% 6.00% 8.00% 10.00% 12.00% 14.00% 16.00% 18.00%

Gambar : 4.20 Perbandingan prioritas alternatif penanganan kekumuhan


Berdasarkan tabel 4.24 dan gambar 4.20 terlihat bahwa padat karya mempunyai nilai yang
tertinggi (0.15), karena dari tiga kriteria yang dikembangkan untuk penanganan kekumuhan,
padat karya mempunyai satu nilai unggul yaitu urgen. Disamping itu nilai unggul padat karya
terletak pada kriteria urgen dengan bobot tertinggi (eigen value 0.291), kegiatan komitmen
pemerintah daerah dan pusat mempunyai bobot tertinggi kedua (0.14), pembuatan
PERBUB/PERWALI (0.093), penyediaan sarana dan prasarana (0.09), dukungan OPD terkait
(0.04) dan rusun/rusunawa (0.03). Oleh karena itu prioritas kegiatan yang perlu dilakukan
untuk dalam kasus ini adalah padat karya, kemudian kegiatan komitmen pemerintah daerah
dan pusat, pembuatan PERBUB/PERWALI, penyediaan sarana dan prasarana, dukungan OPD
terkait dan rusun/rusunawa.
Kegiatan Padat Karya merupakan alternatif terbaik karena kegiatan ini berbasis pada
pemberdayaan masyarakat kota atau desa. Berdasarkan Peraturan Menteri PUPR no 2 tahun

108
2016 peran serta masyakat dalam penanganan kekumuhan pada tahap penetapan lokasi dan
perencanaan penanganan perumahan kumuh dan permukiman kumuh; peningkatan kualitas
terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh; pengelolaan perumahan dan
permukiman hasil peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh,
mengacu pada PERDA kabupaten Belu nomor 17 tahun 2017 yang menyatakan bahwa guna
mengoptimalkan pengelolaan pasca peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh untuk
mempertahankan dan menjaga kualitas perumahan dan permukiman kumuh secara
berkelanjutan dilakukan masyarakat secara swadaya dengan di bentuk kelompok swadaya
masyarakat. Dan pada tahun 2017 Pemerintah mengeluarkan program KOTAKU,Kegiatan ini
tidak hanya bertujuan membangun infrastruktur lingkungan, tetapi juga untuk meningkatkan
ekonomi warga dan perilaku hidup sehat masyarakat.
Namun, jika ditinjau dari aspek relevan dan aktual maka Komitmen Daerah dan pusat
(alternatif A) merupakan alternatif yang baik oleh karena alternatif ini dinilai sesuai untuk
menangani permasalahan perkumuhan secara berkelanjutan, karena memiliki payung hukum
yang kuat sebagai dasar pelaksanaan program penanganan perkumuhan. Selain relevan,
alternatif juga menjadi alternatif yang aktual oleh karena perlu mendapat perhatian serta
dukungan dari semua pihak, baik pemerintah melalui lembaga terkait, lembaga non-pemerintah
dan masyarakat sendiri, sehingga Komitmen Pemda dalam menangani permasalahan
perkumuhan dapat terus dikawal oleh semua pihak. Pembagian urusan Pemerintahan menurut
Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemda
o Pasal 9 UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang dimaksudkan sebagai
Urusan Pemerintahan adalah:
1. Urusan absolut, sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat.
2. Urusan pemerintahan konkuren, Urusan Pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah
Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota. Urusan pemerintahan
konkuren yang diserahkan ke Daerah menjadi dasar pelaksanaan Otonomi Daerah.
3. Urusan pemerintahan umum, menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala
pemerintahan.
o Pasal 20 (3), UU No. 23 Tahun 2014 menyatakan bahwa urusan pemerintahan konkuren
yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota diselenggarakan sendiri oleh Daerah
kabupaten/kota atau dapat ditugaskan sebagian pelaksanaannya kepada Desa.

109
Urusan Pemerintahan Konkuren (Pasal 20 UU Pemda)
1. Urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah provinsi
diselenggarakan
• sendiri oleh Daerah provinsi;
• dengan cara menugasi Daerah kabupaten/kota berdasarkan asas Tugas
Pembantuan; atau dengan cara menugasi Desa.
2. Penugasan oleh Daerah Provinsi kepada Daerah kabupaten/kota berdasarkan asas
Tugas Pembantuan dan kepada Desa ditetapkan dengan Peraturan Gubernur sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota
diselenggarakan sendiri oleh Daerah kabupaten/kota atau dapat ditugaskan sebagian
pelaksanaannya kepada Desa.
4. Penugasan oleh Daerah kabupaten/kota kepada Desa ditetapkan dengan peraturan
bupati/wali kota sesuai ketentuan perundang-undangan

Kewenangan Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh berdasarkan Luasan

Sub Urusan Pusat Provinsi Kab Kota

Kawasan Penetapan Penataan dan Perizinan pembangunan dan


Permukiman Sistem kawasan peningkatan Pengembangan
permukiman kualitas kawasan
permukiman
Penataan dan Penataan dan peningkatan
kumuh 10 – 15 ha
peningkatan kualitas kawasan
kualitas kawasan permukiman kumuh < 10 ha
permukiman
kumuh >= 15 ha

Begitu juga untuk aspek urgen pembuatan PERBUB/PERWALI , merupakan instrumen untuk
mencegah tumbuh dan berkembangnya kekumuhan pada perumahan dan permukiman yang
layak huni serta untuk meningkatkan kualitas perumahan dan permukiman yang diindikasi
kumuh agar menjadi layak huni. Pembuatan Perda diharapkan dapat memuat pengaturan
sebagaimana telah diatur dalam perundangan di tingkat nasional dan dilengkapi dengan
muatan lokal yang spesifik untuk setiap daerah.

110
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1.Tingkat kekumuhan kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi masuk dalam tingkat
kekumuhan sedang, dengan karakteristik kawasan Tenukiik (1) Bangunan Gedung (baik),
(2) Kondisi jalan Lingkungan (buruk), (3) Kondisi penyediaan air minum (buruk), (4)
Kondisi drainase lingkungan (baik), (5) Kondisi pengelolaan air limbah (baik), (6) Kondisi
pengelolaan persampahan (buruk) dan (7) Kondisi proteksi kebakaran (buruk), sedangkan
karakteristik fisik kawasan Rinbesi (1) Bangunan Gedung (baik), (2) Kondisi jalan
Lingkungan (baik), (3) Kondisi penyediaan air minum (buruk), (4) Kondisi drainase
lingkungan (buruk), (5) Kondisi pengelolaan air limbah (buruk), (6) Kondisi pengelolaan
persampahan (buruk) dan (7) Kondisi proteksi kebakaran (buruk).
2.Program prioritas penanganan tingkat kekumuhan kawasan Tenukiik dan kawasan Rinbesi
yang menjadi prioritas utama adalah padat karya, diikuti oleh komitmen pemerintah pusat
dan daerah dan pembuatan PERBUB/PERWALI

5.2 Saran
Pengurangan kumuh bisa dicapai dengan dengan kemitraan (Merupakan upaya yang
melibatkan berbagai sektor, kelompok masyarakat, lembaga pemerintah, untuk
bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan bersama berdasarkan kesepakatan prinsip dan
peran masing-masing), Kolaborasi (Fokus pada pemecahan persoalan bersama untuk
mencapai tujuan bersama bukan tujuan masing-masing. Ini terjadi karena tiap unsur adalah
bagian dari yang lain sehingga tiap persoalan yg dihadapi oleh tiap unsur adalah persoalan
bersama) dan Kerjasama (1. Adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau
kelompok untuk mencapai tujuan bersama. 2. Kerjasama dapat berlangsung manakala
individu-individu yang bersangkutan memiliki kepentingan yang sama dan memiliki
kesadaran untuk bekerja sama guna mencapai kepentingan mereka.)

111
DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita, R. 1978. Peremajaan Kota atau ”Urban Renewal” ditinjau dari aspek ekonomi,
Graha Ilmu, Yogyakarta.

Achmad, B. dan Fardausy. 2005.Teknik Pengolahan Citra Digital, Ardi Publishing, Yogyakarta.

Al Rasyid, H. 1994. (Penyunting : Teguh Kismantoroadji, dkk). Metode Penelitian. Cetakan


Pertama, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Ambarasakti, G. Y. 2013. Analisis Kualitas Lingkungan Permukiman Dengan Menggunakan


Aplikasi Citra Penginderaan Jauh Tahun 2006 Dan 2010 Di Kecamatan Sewon
Kabupaten Bantul [Doctoral dissertation] Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Arawinda N. and Nils V. 2003. Slum, Squatter Areas and Informal Settlement. 9th International
Conference On Sri Lanka Studies, Matara. Sri Lanka.

Atmanti, Hastarini Dwi. 2005. Investasi Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan, Jurnal
Dinamika Pembangunan, 2 (1) : 30-39.

Bintarto.1993. Interaksi Desa - Kota dan Permasalahannya, Ghalia Indonesia, Yogyakarta

Baros, Z.1993. Prospek Perubahan bagi Golongan Miskin Kota, dalam kemiskinan di perkotaan,
Yayasan obor Indonesia, Jakarta

Daldjoeni. 2003. Geografi Kota dan Desa untuk Mahasiswa dan Guru SMU, Yayasan obor
Indonesia, Bandung

Effendi, T.N 1995. Sumber daya manusia ,peluang kerja dan kemiskinan, PT Tiara Wacana,
Yogyakarta.

Danoedoro, Projo. 2012. Pengantar Penginderaan Jauh Digital, Andi Publisher, Yogyakarta.

Endang Eni, S. 2006. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kawasan Permukiman Kumuh
[Tesis] Universitas Diponegoro, Semarang.

Grigg, N. 1988. Infrastructure Engineering and Management, John Wiley & Sons, Zed Book,
London.

Hamdi, N. and Goether R. 1996. Action Planning for Cities, A Guide to community Practice.
Wiley and son, chic hester, New York.

Harvey. 2008. Urban Planning and the Fragmented City of Developing Countries, Third World
Planning Review, 15(1) :104-120.

112
[UN-Habitat] 2003. The UN. Habitat Strategic Vision, Nairobi Keya

Hafsah, F. dan Yanto, B. 2016. Identifikasi Penentuan Prioritas Kriteria Kawasan Permukiman
Kumuh Perkotaan menggunakan Metode AHP (Analytical Hierarcy Process), [Jurnal
Teknik ITS], 10(10) : 2301-9271.

Iskandar, Z.N. 2009. Penerapan Metode AHP Dalam Sistem Pendukung Keputusan [Jurnal
Pelangi Ilmu], 2(1) : 108-120.

Jauhari, E. 2005. Perkembangan Karakteristik Permukiman Kumuh Perkotaan: implikasi Pola


Pengembangannya. Makalah diajukan pada seminar nasional ASPI, Universitas Taruma
Negara.

Jauhari, E. 2013. Analisis Permukiman Kumuh Perkotaan, @Percetakan Pohon Cahaya,


Yogyakarta.

Jauhari, E.2008. Permukiman Kumuh Perkotaan Jurusan PTK FKIP Undana, Kupang.

Jellinek, L.1995. Seperti Roda Berputar : Perubahan Sosial Sebuah Kampung di Jakarta. PT.
Pustaka LP3ES, Jakarta.

John FC Turner,1972. Kebebasan untuk membangun; kontrol penghuni dari proses perumahan,
Marion Boyars Publishers Ltd, New York .

[Kepmen] Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Rakyat nomor : 04/KPTS/BKP4N/1995 tentang


Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman, Kementerian Pekerjaan
Umum, Jakarta.

Khomarudin, 1997. Menelusuri Pembangunan Perumahan dan Permukiman Jakarta, PT.


Rakasindo, Jakarta.

M, Farizki dan Wenang, A. 2017. Pemetaan Kualitas Permukiman dengan Menggunakan


Penginderaan Jauh dan SIG di Kecamatan Batam Kota, Batam , 31(1) : 39-45.

Mc. Auslan, P. 1986. Tanah Perkotaan dan Perlindungan Rakyat Jelata, PT. Gramedia, Jakarta

[Pepres] Pepres No 59 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

[Permenpera] Peraturan Menteri Perumahan Rakyat No. 11 Tahun 2008 tentang Pedoman
Keserasian Kawasan Perumahan dan Permukiman, Kementerian Pekerjaan Umum,
Jakarta.

113
[Permenpera] Peraturan Menteri Perumahan Rakyat No. 22 Tahun 2008 tentang Standart
Pelayanan Minimal Bidang Perumahan Rakyat Daerah Provinsi dan Daerah
Kabupaten/Kota, Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta.

[PP] Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Perumahan dan


Kawasan Permukiman, Percetakan Negara, Jakarta.

Raharjo, A. 2010. Pembangunan Kota Optimum, Efisien dan Mandiri, PT. Gramedia, Jakarta.

Zen, M.T. 1979. Menuju kelestarian lingkungan, Pustaka LP3ES, Jakarta.

Ravianto, 2009. Manajemen Pembangunan Perkotaan, Pustaka LP3ES, Jakarta.

Rina Farida, 2016. Panduan Penyusunan RP2KP Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian
Pekerjaan Umum, Jakarta.

Riduwan, 2008. Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Alfabeta, Bandung.

[Renstra] Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum dan Rencana Program Investasi
Jangka Menengah 2014-2019, Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta.

Salim, E. 1998. Perkampungan Kota dan Lingkungan. dalam Eko Budiharjo (ed.) Sejumlah
Masalah Permukiman Kota, Alumni Bandung, Bandung.

Saaty,L.T.,1990. The analytical heararchy Process in Conflict Management. International


Journal of Conflict Management, 1(1) : 47-68.

[UU] Undang- Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Percetakan Negara,
Jakarta.

[UU] Undang- Undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Percetakan Negara, Jakarta.

[UU] Undang- Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, Percetakan Negara, Jakarta.

[UU] Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman,
Percetakan Negara, Jakarta.

114
Lampiran 1

PENILAIAN PAKAR (DINAS PU, BAPEDA) UNTUK ALTERNATIF PRIORITAS


PENGURANGAN TINGKAT KEKUMUHAN
A. Pendahuluan
Kuesioner berikut dimaksudkan untuk memperoleh penilaian pakar (expert judgement)
terkait kriteria dan alternatif prioritas untuk mengatasi atau mengurangi tingkat kekumuhan
di wilayah perkotaan. Pakar diharapkan dapat mengisi kuesioner dalam bentuk matriks
perbandingan berpasangan (pairwise comparasion).

B. Petunjuk Pengisian
Terdapat 6 alternatif prioritas penanganan kawasan kumuh (alternatif A sampai F). Pakar
(responden) mohon mengisi matriks perbandingan berpasangan yang diberi nilai sesuai
pedoman di bawah. Terdapat 2 matriks yang harus diisi. Pengisian Matriks 1 berdasarkan
Kriteria Urgen (penanganan segera), Matriks 2 berdasarkan Kriteria Aktual (sedang
mendapat perhatian khusus). 3. Matrik 3 berdasarkan Kriteria Relevan (sesuai
kebutuhan) Penilaian menggunakan pedoman berikut:
Nilai Skala Keterangan
1 Alternatif A sama pentingnya dengan B
3 A sedikit lebih penting dari B
5 A jelas lebih penting dari B
7 A sangat lebih penting dari B
9 A Mutlak lebih penting dari B
2,4,6,8 Apabila ragu-ragu dari dua nilai yang berdekatan

Contoh: Pengisian Matriks 1 (alternatif berdasarkan Kriteria Urgen)


1. Jika menurut pakar, alternatif A sangat lebih penting dibandingkan alternatif B
berdasarkan kriteria Urgen, maka pada kolom matriks berpasangan A dan B dituliskan
7/1.
2. Jika alternatif B jelas kurang penting dibandingkan C, maka pada kolom matriks B dan
C dituliskan 1/5, dan seterusnya.

A B C D E F
A 7/1 ….. ….. …… …..
B 1/5 …… …… …..
C …… …… ….
D ….. …..
E …..
F
Keterangan:
Index Alternatif
A Komitmen Pemerintah Daerah dan Pusat
B Penyediaan Sarana dan Prasarana
C Rusun/Rusunawa
D Dukungan OPD terkait
E Pembuatan PERBUP/PERWALI
F Padat Karya

115
MATRIKS 1 : PERBANDINGAN ALTERNATIF BERDASARKAN KRITERIA URGEN

A B C D E F

A
B

C
D

E
F

MATRIKS 2 : PERBANDINGAN ALTERNATIF BERDASARKAN KRITERIA AKTUAL

A B C D E F
A

B
C

D
E

MATRIKS 3 : PERBANDINGAN ALTERNATIF BERDASARKAN KRITERIA RELEVAN


A B C D E F

115
Lampiran 2

Tabel 4.23 Perbandingan alternatif penanganan prioritas berdasarkan kriteria AKTUAL


Komitmen
Penyediaan Dukungan Pembuatan
Pemerintah Rusun/ Padat
Sarana dan OPD PERBUP/
Daerah Rusunawa Karya
Prasarana terkait PERWALI
dan Pusat
Komitmen
Pemerintah Daerah 1.00 1/9 1/7 1/5 1/2 1/1
dan Pusat
Penyediaan Sarana
9/1 1.00 5/1 6/1 7/1 9/1
dan Prasarana
Rusun/Rusunawa 7/1 0.20 1.00 5/1 5/1 7/1
Dukungan OPD
5/1 0.17 1/5 1.00 3/1 5/1
terkait
Pembuatan
2/1 1/7 1/5 1/3 1.00 5/1
PERBUP/PERWALI
Padat Karya 1/1 1/9 1/7 1/5 1/5 1.00

4. Normalisasi Data, Sintesis Prioritas dan Uji Konsistensi


Perbandingan bobot kriteria penetapan prioritas penanganan kekumuhan dilakukan
dengan mengkuadratkan matriks perbandingan berpasangan (Tabel 4.23), menghitung
jumlah nilai dari setiap baris dan dilakukan normalisasi, kemudian ditentukan eigen vector-
nya dan Consistency Ratio (CR) untuk mendapatkan local priority dan global priority.
d. Ubah matriks menjadi bilangan decimal
Komitmen
Penyediaan Dukungan Pembuatan
Pemerintah Rusun/ Padat
Sarana dan OPD PERBUP/
Daerah Rusunawa Karya
Prasarana terkait PERWALI
dan Pusat
Komitmen
Pemerintah
Daerah dan
1.00 0.11 0.14 0.20 0.50 1.00
Pusat
Penyediaan
Sarana dan 9.00 1.00 1.00 2.00 7.00 9.00
Prasarana
Rusun/
Rusunawa
7.00 0.20 1.00 3.00 5.00 7.00
Dukungan
OPD 5.00 0.17 0.20 1.00 3.00 5.00
terkait
Pembuatan
PERBUP/ 2.00 0.14 0.20 0.33 1.00 5.00
PERWALI
Padat
Karya
1.00 0.11 0.14 0.20 0.20 1.00

116
e. Kuadratkan matriks isian dan normalisasi
Iterasi ke-1:
1.00 0.11 0.14 0.20 0.50 1.00 1.00 0.11 0.14 0.20 0.50 1.00
9.00 1.00 1.00 2.00 7.00 9.00 9.00 1.00 1.00 2.00 7.00 9.00
7.00 0.20 1.00 3.00 5.00 7.00 X 7.00 0.20 1.00 3.00 5.00 7.00
5.00 0.17 0.20 1.00 3.00 5.00 5.00 0.17 0.20 1.00 3.00 5.00
2.00 0.14 0.20 0.33 1.00 5.00 2.00 0.14 0.20 0.33 1.00 5.00
1.00 0.11 0.14 0.20 0.20 1.00 1.00 0.11 0.14 0.20 0.20 1.00

Jumlah
Iterasi 1 Normalisasi
Baris
6.0 0.5 1.1 2.1 3.3 7.5 20.53 0.030

106.0 6.0 15.2 42.9 63.3 127.0 360.40 0.510

57.8 3.5 6.0 15.7 31.3 72.8 187.07 0.260

23.9 1.9 3.3 6.0 11.7 32.9 79.64 0.110

13.4 1.2 2.2 3.9 6.0 16.4 42.97 0.060

Jumlah 5.4 0.4 1.1 2.0 3.0 6.0 17.93 0.030

Iterasi ke-2:
Jumlah
Iterasi 2 Normalisasi
Baris
286.2 20.6 42.7 91.7 151.7 355.6 948.61 0.030

4706.0 347.9 714.5 1489.0 2464.3 5871.1 15592.77 0.520

2250.4 166.1 351.0 734.4 1188.2 2779.3 7469.41 0.250

1011.6 73.0 155.5 333.7 540.3 1245.2 3359.31 0.110

591.2 42.2 89.0 193.2 316.3 731.4 1963.32 0.070

Jumlah 260.1 18.7 38.5 82.8 137.7 324.1 861.88 0.030

Hasil iterasi diperoleh nilai eigen (hasil normalisasi) adalah 0,030; 0,520; 0,250; 0,110;
0,070 dan 0,030.

117
f. Uji Konsistensi

Penentuan nilai eigen value maksimum ( max ) dilakukan dengan mengalikan matriks

awal dengan nilai eigen vector atau vektor kolom, kemudian hasil perkalian dibagi
kembali dengan nilai vektor kolom yang bersangkutan sehingga diperoleh nilai rata-rata
yang merupakan nilai eigen value maksimum.

1.00 0.11 0.14 0.20 0.50 1.00 0.03 0.21 : 0.03 6.60

9.00 1.00 1.00 2.00 7.00 9.00 0.52 3.42 : 0.52 6.61

7.00 0.20 1.00 3.00 5.00 7.00 0.25 1.65 : 0.25 6.68
X = =
5.00 0.17 0.20 1.00 3.00 5.00 0.11 0.74 : 0.11 6.67

2.00 0.14 0.20 0.33 1.00 5.00 0.07 0.43 : 0.07 6.63

1.00 0.11 0.14 0.20 0.20 1.00 0.03 0.19 : 0.03 6.58

Maka nilai max adalah 39.77/6 = 6,63, sehingga nilai CI adalah:

CI = 6,63  6 = 0,126
6 1
Untuk n = 6, nilai RI adalah 1,24 sehingga nilai Consistency ratio adalah:
CR = 0,126/1,24= 0,101 atau 10 %
Nilai CR (10%) ≤ 10%, sehingga hasil penilaian pakar dinyatakan konsisten.

118
Lampiran 3

Tabel 4.24 Perbandingan alternatif penanganan prioritas berdasarkan kriteria RELEVAN


Komitmen
Penyediaan Dukungan Pembuatan
Pemerintah Rusun/ Padat
Sarana dan OPD PERBUP/
Daerah Rusunawa Karya
Prasarana terkait PERWALI
dan Pusat
Komitmen
Pemerintah Daerah 1.00 1/9 1/7 1/5 1/2 1/1
dan Pusat
Penyediaan Sarana
9.00 1.00 5/1 6/1 7/1 9/1
dan Prasarana
Rusun/Rusunawa 7.00 1/5 1.00 5/1 5/1 7/1
Dukungan OPD
5.00 0.17 1/5 1.00 3/1 5/1
terkait
Pembuatan
2.00 1/7 1/5 1/3 1.00 5.00
PERBUP/PERWALI
Padat Karya 1.00 0.11 0.14 1/5 1/5 1.00

1. Normalisasi Data, Sintesis Prioritas dan Uji Konsistensi


Perbandingan bobot kriteria penetapan prioritas penanganan kekumuhan dilakukan
dengan mengkuadratkan matriks perbandingan berpasangan (Tabel 4.24), menghitung
jumlah nilai dari setiap baris dan dilakukan normalisasi, kemudian ditentukan eigen vector-
nya dan Consistency Ratio (CR) untuk mendapatkan local priority dan global priority.
a. Ubah matriks menjadi bilangan decimal
Komitmen
Penyediaan Dukungan Pembuatan
Pemerintah Rusun/ Padat
Sarana dan OPD PERBUP/
Daerah Rusunawa Karya
Prasarana terkait PERWALI
dan Pusat
Komitmen
Pemerintah 1.00 0.11 0.13 0.17 0.33 0.50
Daerah dan
Pusat
Penyediaan
Sarana dan 9.00 1.00 4.00 5.00 8.00 9.00
Prasarana
Rusun/ 8.00 0.25 1.00 3.00 6.00 8.00
Rusunawa
Dukungan
OPD 6.00 0.20 0.33 1.00 3.00 3.00
terkait
Pembuatan
PERBUP/ 3.00 0.13 0.17 0.33 1.00 4.00
PERWALI
Padat 2.00 0.11 0.13 0.33 0.25 1.00
Karya

119
b. Kuadratkan matriks isian dan normalisasi
Iterasi ke-1:
1.00 0.11 0.13 0.17 0.33 0.50 1.00 0.11 0.13 0.17 0.33 0.50

9.00 1.00 4.00 5.00 8.00 9.00 9.00 1.00 4.00 5.00 8.00 9.00

8.00 0.25 1.00 3.00 6.00 8.00 X 8.00 0.25 1.00 3.00 6.00 8.00

6.00 0.20 0.33 1.00 3.00 3.00 6.00 0.20 0.33 1.00 3.00 3.00

3.00 0.13 0.17 0.33 1.00 4.00 3.00 0.13 0.17 0.33 1.00 4.00

2.00 0.11 0.13 0.33 0.25 1.00 2.00 0.11 0.13 0.33 0.25 1.00

Jumlah
Iterasi 1 Normalisasi
Baris
6.0 0.4 0.9 1.5 2.9 4.8 16.56 0.02

122.0 6.0 13.3 29.2 60.3 101.5 332.17 0.49

70.3 3.6 6.0 13.3 27.7 55.3 176.04 0.26

31.5 1.9 3.1 6.0 12.4 25.5 80.23 0.12

18.5 1.1 1.8 3.6 6.0 13.0 44.00 0.07

Jumlah 8.8 0.6 1.1 2.0 3.8 6.0 22.24 0.03

Iterasi ke-2:
Jumlah
Iterasi 2 Normalisasi
Baris
288.7 16.7 30.9 61.6 119.8 222.2 739.85 0.030

5312.8 311.8 576.1 1136.5 2193.6 4063.2 13593.98 0.500

2696.6 158.3 297.0 584.7 1130.3 2066.7 6933.59 0.250

1272.3 74.2 139.5 275.7 534.8 977.2 3273.71 0.120

715.4 41.5 78.3 155.3 303.0 552.9 1846.33 0.070

Jumlah 385.7 22.3 41.5 82.7 161.1 297.7 991.03 0.040

Hasil iterasi diperoleh nilai eigen (hasil normalisasi) adalah 0,030; 0,500; 0,250; 0,120;
0,070 dan 0,040.

120
c. Uji Konsistensi

Penentuan nilai eigen value maksimum ( max ) dilakukan dengan mengalikan matriks

awal dengan nilai eigen vector atau vektor kolom, kemudian hasil perkalian dibagi
kembali dengan nilai vektor kolom yang bersangkutan sehingga diperoleh nilai rata-rata
yang merupakan nilai eigen value maksimum.
1.00 0.11 0.13 0.17 0.33 0.50 0.030 0.17 : 0.030 6.45

9.00 1.00 4.00 5.00 8.00 9.00 0.500 3.22 : 0.500 6.48

8.00 0.25 1.00 3.00 6.00 8.00 0.250 1.65 : 0.250 6.50
X = =
6.00 0.20 0.33 1.00 3.00 3.00 0.120 0.78 : 0.120 6.49

3.00 0.13 0.17 0.33 1.00 4.00 0.070 0.44 : 0.070 6.49

2.00 0.11 0.13 0.33 0.25 1.00 0.040 0.23 : 0.040 6.46

Maka nilai max adalah 38.87/6 = 6,48, sehingga nilai CI adalah:

CI = 6,48  6 = 0,096
6 1
Untuk n = 6, nilai RI adalah 1,24 sehingga nilai Consistency ratio adalah:
CR = 0,096/1,24= 0,077 atau 8 %
Nilai CR (8%) ≤ 10%, sehingga hasil penilaian pakar dinyatakan konsisten.

121
Lampiran 4
Tabel 4.25 Perbandingan kriteria

A (AKTUAL) B (URGEN) C (RELEVAN)


A 1 1
(AKTUAL) 5 3
2
B (URGEN)
1
C
(RELEVAN)

Tabel 4.26 Perbandingan antar kepentingan

A (AKTUAL) B (URGEN) C (RELEVAN)


A 1 1
1.00
(AKTUAL) 5 3
5 2
B (URGEN) 1.00
1 1
C 3 1
1.00
(RELEVAN) 1 2

a. Normalisasi Data, Sintesis Prioritas dan Uji Konsistensi


Perbandingan bobot kriteria penetapan prioritas penanganan kekumuhan dilakukan
dengan mengkuadratkan matriks perbandingan berpasangan (Tabel 4.26), menghitung
jumlah nilai dari setiap baris dan dilakukan normalisasi, kemudian ditentukan eigen vector-
nya dan Consistency Ratio (CR) untuk mendapatkan local priority dan global priority.

a. Ubah matriks menjadi bilangan decimal

A (AKTUAL) B (URGEN) C (RELEVAN)


A
1.00 0.20 0.33
(AKTUAL)
B (URGEN) 5.00 1.00 2.00
C
3.00 0.50 1.00
(RELEVAN)

122
b. Kuadratkan matriks isian dan normalisasi
Iterasi ke-1:

1.00 0.20 0.33 1.00 0.20 0.33


5.00 1.00 2.00 X 5.00 1.00 2.00
3.00 0.50 1.00 3.00 0.50 1.00

Jumlah
Iterasi 1 Normalisasi
Baris
3.0 0.6 1.1 4.63 0.110
16.0 3.0 5.7 24.67 0.580
Jumlah 8.5 1.6 3.0 13.10 0.310

Jumlah
Iterasi 2 Normalisasi
Baris
27.1 5.1 9.6 41.85 0.110
144.2 27.1 51.1 222.37 0.580
Jumlah 76.6 14.4 27.1 118.15 0.310

Hasil iterasi diperoleh nilai eigen (hasil normalisasi) adalah 0,110; 0,580; dan 0,310;

c. Uji Konsistensi

Penentuan nilai eigen value maksimum ( max ) dilakukan dengan mengalikan matriks
awal dengan nilai eigen vector atau vektor kolom, kemudian hasil perkalian dibagi
kembali dengan nilai vektor kolom yang bersangkutan sehingga diperoleh nilai rata-rata
yang merupakan nilai eigen value maksimum.
1.00 0.20 0.33 0.110 0.33 : 0.110 3

5.00 1.00 2.00 X 0.580 = 1.75 : 0.580 = 3

3.00 0.50 1.00 0.310 0.93 : 0.310 3

Maka nilai
max adalah 9/3 = 3, sehingga nilai CI adalah:

CI = 3  3 = 0
3 1
Untuk n = 3, nilai RI adalah 0,58 sehingga nilai Consistency ratio adalah:
CR = 0/0,58= 0 atau 0 %
Nilai CR (0%) ≤ 10%, sehingga hasil penilaian pakar dinyatakan konsisten.

123
124