Anda di halaman 1dari 18

MANAJEMEN HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN MASYARAKAT

Dosen Pengampu: Meilina Bustari M.Pd


Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Pendidikan

Disusun oleh:

Elizabeth Ananda Reka 18108241079

Fadhilatun Nurul Khasanah 18108241082

Salma Ainun Susatyo 18108244022

Ovan Jati Pamulat 18108244066

KELAS 4D
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2020
Daftar isi

Cover ............................................................................................................................................................ i
Daftar isi ...................................................................................................................................................... ii
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1
A. Latar belakang ................................................................................................................................ 1
B. Rumusan masalah ........................................................................................................................... 2
C. Tujuan dan manfaat ....................................................................................................................... 2
BAB II .......................................................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN .......................................................................................................................................... 3
A. Konsep Dasar Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat ...................................... 3
B. Asas Kegiatan Hubungan Masyarakat ......................................................................................... 4
C. Karakteristik Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat ........................................ 6
D. Manfaat Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat................................................ 6
E. Jenis-jenis Kegiatan Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat ............................ 7
F. Bentuk - Bentuk Kerjasama Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat ................................. 9
G. Peningkatan dan Pendayagunaan Partisipasi Masyarakat................................................... 11
H. Tujuan dan Manfaat Pelibatan Masyarakat .......................................................................... 12
I. Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan................................................................................. 13
J. Bentuk dan Sifat Partisipasi Masyarakat ................................................................................... 14
BAB III....................................................................................................................................................... 15
PENUTUP.................................................................................................................................................. 15
A. Kesimpulan .................................................................................................................................... 15
Daftar Pustaka .......................................................................................................................................... 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan dan masyarakat adalah faktor
pendidikan yang saling mempengaruhi karena keduanya memiliki timbale balik yang tidak
dapat dipisahkan. Seorang anak didik setelah mendapat pendidikan dari keluarganya akan
segera berlanjut untuk mencari ilmu di sekolah. Dalam lingkungan yang baru tersebut
peserta didik diberi berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya sendiri
ataupun orang lain.
Setelah itu ia akan beranjak ke lingkungan berikutnya yaitu masyarakat, di sinilah
ia akan mengaplikasikan segala ilmu yang telah didapatnya ketika melakukan pendidikan
di sekolah.Terkadang seorang anak didik tidak dapat di terima di dalam masyarakat karena
pendidikan yang diterima di sekolah tidak sesuai dengan yang dibutuhkan di masyarakat,
sehingga peserta didik tersebut hanya bisa menjadi penonton tanpa terlibat secara langsung
di dalam masyarakat.
Pada dasarnya lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi di
sekeliling proses pendidikan itu berlangsung yang terdiri dari manusia, binatang, tumbuh-
tumbuhan dan benda-benda mati. Keempat kelompok benda-benda lingkungan pendidikan
itu ikut berperan dalam rangka usaha setiap siswa atau mahasiswa mengembangkan
dirinya. Tetapi manajemen pendidikan menaruh perhatiannya terutama kepada lingkungan
yang berwujud manusia yaitu masyarakat.
Manusia merupakan bagian dari lingkungan masyarakat, seperti manusia,
pendidikan pun dapat dikatakan sebagai bagian dari masyarakat karena pendidikan dapat
memajukan cara pandang dan cara berperilaku masyarakat. Lembaga pendidikan tempat
pendidikan didapat pun sama pentingnya. Maka dari itu diperlukan kerjasama antara
lembaga pendidikan dengan masyarakat demi terciptanya masyarakat yang lebih maju.
Di sini perlu kita lihat sejauh mana pengaruh sekolah sebagai ladang pendidikan
(formal) dalam mencetak generasi yang siap terjun ke tengah-tengah masyarakat, karena
tidak jarang antara lembaga pendidikan dan masyarakat tidak saling berinteraksi. Sebagian
masyarkat menganggap bahwa pendidikan itu mahal dan hanya menghabis-habiskan uang.
Tetapi pada kenyataannya tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh bagian dari masyarakat

1
membutuhkan pendidikan. Maka dari itu perlu dibinanya komunikasi antara masyarakat
dan lembaga pendidikan tersebut dengan mengetahui jenis, bentuk dan hubungan lembaga
pendidikan dengan masyarakat, dan cara peningkatkan dan pemberdayaan partisipasi
masyarakat terhadap pendidikan dan lembaga pendidikan itu sendiri, dan semua itu perlu
kita bahas dalam makalah ini.

B. Rumusan masalah
1. Apa Konsep dasar hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat?
2. Sebutkan Jenis-Jenis Kegiatan Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat?
3. Bagaimana Bentuk-Bentuk Kerjasama Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat?
4. Peningkatan dan Pendayagunaan Partisipasi Masyarakat?

C. Tujuan dan manfaat


Bertujuan untuk memenuhi tugas Manajemen Pendidikan dan bermanfaat sebagai
penambah pemahaman tentang Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat


Organisasi pendidikan adalah suatu sistem yang terbuka. Sebagai sistem terbuka,
berarti lembaga pendidikan selalu mengadakan kontak hubungan dengan lingkungannya
yang disebut sebagai suprasistem. Kontak hubungan ini dibutuhkan untuk menjaga agar
sistem atau lembaga itu tidak mudah punah atau mati.
Hanya sistem terbuka yang memiliki negentropy, yaitu suatu usaha yang terus-
menerus untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy atau kepunahan. Ini berarti
hidup atau matinya sistem itu sebagian terbesar ditentukan oleh usaha lembaga itu sendiri.
Konsep ini bisa dicocokkan dengan praktek-praktek pendidikan yang telah terjadi. Sekolah
yang tidak memiliki nama baik di mata masyarakat dan akhirnya mati, adalah sekolah yang
tidak mampu membuat hubungan baik dengan masyarakat pendukungnya. Dengan
berbagai sebab masyarakat enggan menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah itu, hal
tersebut yang membuat sekolah itu tidak mempunyai siswa, dan sebaliknya.
Keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak, yaitu baik
lembaga pendidikan, keluarga, maupun masyarakat. Masing-masing pihak memiliki
tanggung jawab untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas baik dalam bentuk
kontribusi berupa dukungan pikiran, ide, dan gagasan sertabantuan materiil yang
diperlukan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dengan demikian menjadi
kebutuhan lembaga pendidikan untuk mengelola dengan baik hubungannya dengan
masyarakat. Hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat pada dasarnya merupakan
kegiatan hubungan masyarakat (humas) yang dilakukan oleh lembaga pendidikan formal
(sekolah) atau lembaga pendidikan non formal.
Ada hubungan saling memberi dan saling menerima antara lembaga pendidikan
dengan masyarakat sekitarnya. Lembaga pendidikan merealisasi apa yang dicita-citakan
oleh masyarakat tentang pengembangan putra-putri mereka. Disamping layanan terhadap
masyarakat berupa pendidikan dan pengajaran, lembaga pendidikan juga menyediakan diri
sebagai agen pembaru atau penerang bagi masyarakat.

3
Glen dan Denny Griswold (1968) menyatakan bahwa hubungan masyarakat
merupakan fungsi manajemen yang diadakan untuk menilai dan menyimpulkan sikap
publik, menyesuaikan kebijaksanaan dan prosedur instansi atau organisasi dengan
kepentingan umum, serta menjalankan suatu program untuk mendapatkan pengertian dan
dukungan masyarakat. Oemi Abdurrahman (1975) menjelaskan humas sebagai upaya
memperoleh pengertian, dukungan, kepercayaan, serta penghargaan pada dan dari publik
suatu badan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
J.C. Seidel (2001) merumuskan bahwa public relation adalah proses yang berjalan
terus-menerus ketika manajemen berusaha memperoleh dukungan dan pengertian publik
dalam arti luas, yaitu dari pegawai, langganan, dan lain-lain; dukungan ke dalam dengan
jalan pengawasan diri dan koreksi; dan ke luar dengan jalan menggunakan segala bentuk
pernyataan).Senada dengan pendapat tersebut, S.K. Bonar (1977) menyatakan bahwa
hubungan masyarakat menjalankan usaha untuk mencapai hubungan harmonis antara suatu
badan atau organisasi masyarakat sekelilingnya.
Berdasarkan keterangan dan batasan yang dikemukakan para ahli, dapat
disimpulkan bahwa humas adalah kegiatan yang dilakukan bersama-sama antara lembaga
dan masyarakat dengan tujuan memperoleh pengertian, kepercayaan, penghargaan,
hubungan harmonis, serta dukungan (goodwill) secara sadar dan sukarela.

B. Asas Kegiatan Hubungan Masyarakat


Menurut Ibnoe Syamsi (1969) terdapat enam asas kegiatan humas, yakni:
a. Asas pemberitaan resmi dan obyektif
Setiap informasi yang diberikan oleh bagian humas adalah informasi resmi dari
instansi. Maka, informasi humas harus obyektif dan tidak berlebihan.
b. Asas pemantauan keberesan intern instansi
Sukses tidaknya pelaksanaan kegiatan humas ditentukan oleh baik tidaknya keadaan
intern instansi bersangkutan, hubungan baik dengan publik didasarkan pada
pelaksanaan kegiatan yang baik pula dari instansi sebagai suatu keseluruhan.
Keberesan intern instansi juga tergambar dari moral yang ditegakkan, semisal para
karyawan menegakkan sopan santun dan etika. Selain moral, terdapat juga unsur moril,
yakni berkaitan dengan semangat, ketekunan dan giatnya karyawan. Selain itu yang

4
mengindikasikan keberesan intern instansi adalah prosedur. Jika prosedurnya berbelit-
belit, biasanya akan terjadi sesuatu yang mengecewakan.
c. Asas pertimbangan dan pengusahaan dukungan publik
Sebelum mengadakan kegiatan humas, perlu dipertimbangkan terlebih dahulu
berbagai kemungkinan dukungan publik karena kegiatan atau proyek yang dianggap
bertentangan dengan kepentingan umum beresiko menghadapi hambatan. Hal itu
dilakukan agar publik ikut mendukung dan mensukseskannya. Sebagai contoh, proyek
keluarga berencana. Meskipun proyek tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat,
untuk mendapatkan dukungan publik harus dilakukan usaha penyadaran masyarakat
terlebih dahulu.
d. Asas Pelangsungan Hubungan
Apabila hubungan dengan publik sudah berjalan, perlu menjaga hubungan tersebut
dipertahankan dengan baik. Hubungan yang berkelanjutan juga dapat dimaknai
sebagai upaya kerjasama yang dikembangkan terus-menerus, tidak hanya pada satu
bidang atau insidental.
e. Asas pemerhatian opini publik
Opini atau suara publik hendaknya diperhatikan dengan baik. Sepertik ritik, kelakuan,
pertanyaan, pendapat, dan saran membangun hendaknya diperhatikan. Meskipun pada
awalnya hubungan mendapat dukungan penuh, dalam proses selanjutnya mungin
terjadi hal-hal kurang memuaskan, kurang tepat, atau bertentangan dengan
kepentingan umum. Mungkin terdapat pula rasa memiliki (sense of belonging) dari
publik sehingga mereka ingin memberikan saran-saran baik penyempurnaan suatu
instansi.
f. Asas Peningkatan Mutu dan Kegiatan
Petugas humas harus memikirkan dan mengusahakan agar mutu kegiatan ditingkatkan
sesuai dengan perkembangan instansinya. Peningkatan mutu tersebut dapat dilakukan
dengan cara meningkatkan kecakapan atau keahlian para petugas humas. Selain itu,
dapat pula meningkatkan teknik penyajian agar tidak membosankan sehingga lebih
menarik perhatian publik.

5
C. Karakteristik Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat
Berikut ini karakteristik humas lembaga pendidikan ditinjau dari sisi peran,
struktur,
a. Peran Humas di Lembaga Pendidikan
Pada aktivitas lembaga pendidikan yang kompleks keberhasilan hubungan dengan
masyarakat menentukan pengembangan intitusi secara berkelanjutan. Selain itu, juga
menentukan dukungan atau partisipasi publik (masyarakat) untuk mendukung
berbagai kebijakan dan program sekolah.
b. Humas dalam struktur organisasi sekolah
Secara khusus bidang tersebut dikelola oleh koordinator khusus terutama pada
sekolah-sekolah yang lebih kompleks.

Fungsi humas sejatinya juga diperankan oleh seluruh unsur warga internal lembaga.
Citra lembaga ikut diemban oleh pimpinan, staf dan pengajar maupun peserta didik.
Namun demikian fungsi humas akan lebih optimal dan terkontrol manakala ada personil
tersendiri yang menanganinya. Dalam struktur organisasi sekolah, humas merupakan
bagian dari fungsi operasional sekolah yang dikoordinasikan oleh personil /petugas atau
unit khusus sesuai dengan besar dan kecilnya organisasi sekolah. Guru pun kerap dimintai
bantuan sebagai penanggungjawab bidang humas melalui pemberian tugas tambahan
sebagai wakil kepala sekolah bidang humas.

D. Manfaat Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat


Bagi lembaga pendidikan:
1) Memudahkan memperbaiki pendidikan
2) Mendapatkan koreksi dari kelompok masyarakat
3) Mendapat dukungan moral dari masyarakat
4) Memudahkan meminta bantuan dari masyarakat
5) Memudahkan pemakaian media pendidikan masyarakat
6) Memudahkan pemanfaatan narasumber
Bagi masyarakat yakni:
1) Tahu hal-hal persekolahan dan inovasinya
2) Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tentang pendidikan lebih mudah diwujudkan

6
3) Menyalurkan kebutuhan berpatisipasi dalam pendidikan
4) Melakukan usul-usul terhadap lembaga pendidikan

E. Jenis-jenis Kegiatan Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat


Menurut Don Begin (1984), public relations dibedakan menjadi external public
relations ( humas ke luar ) dan internal public relations ( humas ke dalam ). Oleh karena
itu, di sekolah dikenal adanya kegiatan publisitas ke luar dan publisitas ke dalam.
a. Kegiatan Eksternal
Kegiatan ini selalu berhubungan atau ditujukan kepada publik atau masyarakat
di luar warga sekolah. Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan yakni secara
langsung ( tatap muka ) dan tidak langsung. Kegiatan tatap muka misalnya rapat
bersama dengan pengurus BP3 setempat, berkonsultasi dengan tokoh-tokoh
masyarakat, melayani kunjungan tamu dan sebagainya. Kegiatan eksternal tidak
langsung adalah kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat melalui perantaraan
media tertentu, seperti:
1) Penyebaran informasi melalui televisi
Berhasil tidaknya menggunakan televisi sebagai alat media publisitas
sekolah, tergantung pada program yang telah disiapkan sebelumnya di dalam
program itu disusun hal-hal atau pokok-pokok yang akan disajikan kepada
penontonnya. Maka dari itu, informasi melalui televisi memerlukan persiapan yang
lebih cermat daripada informasi melalui radio. Informasi melalui televisi dapat
dilaksanakan dengan cara ceramah biasa, wawancara, ceramah dengan alat-alat
peraga, diskusi, sandiwara, acara cerdas tangkas, kegiatan kesenian dan sebagainya.
2) Penyebaran informasi melalui radio
Radio merupakan media massa yang penting yang mampu menjangkau
publik yang luas. Karena itu, sekolah dapat mengambil manfaat yang sebesar-
besarnya dari radio ini untuk kepentingan publisitas. Beberapa hal yang penting
seperti kapan pendaftaran siswa baru, kegiatan pendidikan dan data sekolah dapat
diinformasikan ke luar melalui radi
3) Penyebaran informasi melalui media cetak

7
Yang dimaksud media cetak adalah surat kabar, majalah, buletin dan
sebagainya. Kadang-kadang semuanya ini disebut pers dalam arti sempit. Dalam
hubungannya dengan kegiatan humas, pers dapat dikatakan sebagai penyalur
informasi yang menguntungkan.
4) Pameran sekolah
Pameran sekolah dimaksud untuk menunjukkan hasil pekerjaan para siswa
serta masyarakat pada umumnya.
b. Kegiatan Internal
Kegiatan ini merupakan publisitas ke dalam, sasarannya tidak lain adalah warga
sekolah yang bersangkutan yakni para guru, tenaga tata usaha dan seluruh siswa. Pada
prinsipnya, kegiatan internal bertujuan untuk:
1) Memberi penjelasan tentang kebijaksanaan penyelenggaraan sekolah,situasi dan
perkembangannya.
2) Menampung sarana-sarana dan pendapat-pendapat dari warga sekolah dalam
hubungannya dengan pembinaan dan pengembangan sekolah.
3) Dapat memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya kerja sama antar warga
sekolah sendiri.

Kegiatan internal dapat dibedakan atas kegiatan langsung dan tidak langsung.
Kegiatan langsung ini dapat berupa, antara lain:

1) Rapat dewan guru


2) Upacara sekolah
3) Karyawisata/rekreasi bersama
4) Penjelasan lisan pada berbagai kesempatan yang ada, misalnya pada pertemuan arisan,
syawalan dan sebagainya

Sedangkan mengenai kegiatan yang tidak langsung dapat berupa:

1) Penyampaian informasi melalui surat edaran


2) Penggunaan papan pengumuman di sekolah
3) Penyelenggaraan majalah dinding
4) Menerbitkan buletin sekolah untuk dibagikan kepada warga sekolah

8
5) Pemasangan iklan/pemberitahuan khusus melalui media massa pada kesempatan-
kesempatan tertentu

Jenis hubungan sekolah dan masyarakat itu sendiri dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:

a. Hubungan edukatif, ialah hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara guru
di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar
tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan
keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri anak.
b. Hubungan kultural, yaitu usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang
memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat
tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama antara kehidupan
di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan kurikulum sekolah disesuaikan
dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Demikian pula tentang
pemilihan bahan pengajaran dan metode-metode pengajarannya.
c. Hubungan institusional, yaitu hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-
lembaga atau instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan
kerja sama antara sekolah satu dengan sekolah-sekolah lainnya, kepala pemerintah
setempat, ataupun perusahaan-perusahaan Negara, yang berkaitan dengan perbaikan
dan perkembangan pendidikan pada umumnya.

F. Bentuk - Bentuk Kerjasama Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat


a. Hubungan sekolah dengan orang tua siswa dan warga masyarakat. Bentuk hubungan
ini bisa individual, bisa pula organisatoris:
1. Secara individual:
a) Orang tua datang ke sekolah untuk berkonsultasi maupun untuk pemecahan
masalah anaknya.
b) Secara sukarela orang tua datang ke sekoah menyampaikan saransaran bahkan
sumbangan untuk kemajuan sekolah.
Sebagai contoh: seseorang pensiunan Pustakawan secara sukarela datang ke sekolah
untuk “pembenahan” perpustakaan sekolah.
2. Secara Organisasi melalui BP3

9
Organisasi ini akan lebih efektif bila sekolah mampu menggerakkan dan
memanfaatkan potensi yang ada di kalangan orang tua umpamanya:
a) Para dokter untuk duduk pada seksi UKS bahkan untuk mendirikan poliklinik
sekolah
b) Para insinyur untuk memberikan saran-saran dalam pembanguna sekolah
c) Para Profesional pejabat dan pengusaha lainnya yang juga akan dengan sukarela
membantu sekolah demi kepentingan anak-anaknya.
d) Para pemuka agama untuk peningkatan Imtaq ( iman dan taqwa )
b. Hubungan Sekolah dengan Alumni
Dari para alumni, sekolah memperoleh masukan tentang kekurangan sekolah
yang perlu dibenahi, upayaupaya yang perlu dilakukan untuk perbaikan. Juga melalui
alumni dapat dihimpun dana bagi peningkatan kesejahteraan guru dan karyawan
maupun perbaikan pembangunan sekolah . Bahkan mengundang para alumni itu sendiri
untuk menyampaikan pengalaman keberhasilannya untuk motivasi atau menularkan
pengetahuannya untuk penyegaran dan tambahan wawasan bukan hanya untuk para
siswa tetapi juga para guru dan warga sekolah lainnya.
c. Hubungan dengan Dunia Usaha/ Dunia Kerja
Biasanya ini merupakan bidang garapan guru bimbingan dan
konseling. Pelaksanaannya:
1. Mengundang tokoh yang berhasil untuk datang ke sekolah
Keberhasilan tokoh tersebut akan memotivasi semua pihak untuk berbuat
yang serupa.
2. Mengirim para anak didik ke dunia usaha/dunia kerja.
Tentu saja ini menguntungkan kedua belah pihak. Dunia kerja memperoleh tenaga
yang murah sedangkan para siswa mendapatkan pengalaman kerja yang berharga.
d. Hubungan dengan Instansi lain
1. Hubungan dengan Sekolah lain:
Hubungan kerjasama ini dapat juga dibina melalui MGMP, MKS, MGP, K3S,
K3M.
2. Hubungan dengan Lembaga/Badan-Badan Pemerintahan Swasta

10
Sebagai contoh: kerjasama dengan bank dalam rangka penggalangan dana “gemar
menabung” pelajar. Begitu juga kerjasama dengan pertamanan dalam rangka
penghijauan.

G. Peningkatan dan Pendayagunaan Partisipasi Masyarakat


Masyarakat memandang sekolah (lembaga pendidikan) sebagai cara yang
menyakinkan dalam membina perkembangan para siswa atau mahasiswa, karena itu
masyarakat berpatisipasi dan setia kepadanya. Namun hal ini tidak otomatis terjadi
terutama dinegara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena
banyak warga yang belum paham akan makna lembaga pendidikan, lebih-lebih bila kondisi
ekonomi mereka rendah, merek hampir tidak hirau akan lembaga pendidikan. Pusat
perhatian mereka adalah kebutuhan hidup sehari-hari.
Untuk mengikut sertakan warga masyarakat ini dalam membangun pendidikan
disekolah maupun perguruan tinggi, sudah sepatutnya para manajer pendidikan melalui
tokoh-tokoh masyarakat aktif menggugah perhatian mereka. Para manajer dapat
mengundang para tokoh ini untuk membahas bentuk-bentuk kerjasama dalam
meningkatkan pendidikan. Keputusan diambil secara musyawarah untuk memperoleh
alternatif yang terbaik.
Bila manajer berhasil, biasanya imbalannya dari warga masyarakat cukup besar.
Mereka secara antusias akan mendukung lembaga pendidikan bersangkutan baik secara
moral maupun material. Makin banyak orang tua yang merasakan kepuasan itu, makin
banyak dan makin besar pula partisipasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan itu.
Inilah beberapa contoh partisipasi masyarakat dalam pendidikan :
1. Dalam bentuk partisipasi antara lain :
a. Dewan Pendidikan
b. Komite Sekolah
c. Persatuan orang tua siswa
d. Perkumpulan olahraga
e. Perkumpulan Kesenian
f. Organisai-organisasi yang lain
2. Dalam bidang partisipasi antara lain :

11
a. Kurikulum terutama yang lokal
b. Alat-alat belajar
c. Dana
d. Material untuk bangunan gedung
e. Auditing Keuangan
f. Kontrol terhadap kegiatan-kegiatan sekolah dan sejenisnya.
3. Dalam cara partisipasinya antara lain :
a. Ikut dalam pertemuan
b. Datang ke sekolah
c. Lewat surat
d. Lewat telepon
e. Ikut malam kesenian dan sejenisnya

H. Tujuan dan Manfaat Pelibatan Masyarakat


Pelibatan masyarakat bertujuan untuk melengkapi kekurangan dan membantu
lembaga pendidikan. Paling tidak ada dua hal yang menjadi tujuan pelibatan masyarakat
yaitu
a. Saling Membantu Saling Mengisi
Di luar sekolah mereka berada di rumah atau di lingkungan. Waktu senggang
dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan atau organisasi, misalnya kegiatan
kepramukaan, keolahragaan, kesenian, dan keagamaan. Selain itu, masyarakat dapat
pula menyelenggarakan pendidikan yang bersifat spesialisasi, misalnya pendidikan
keahlian.
b. Membantu Keuangan, Bangunan, dan Barang
Pendidikan yang baik membutuhkan ruang belajar, alat bantu, dan dana yang
cukup. Dana yang terdapat di sekolah biasanya terbatas sehingga memerlukan sumber
dana yang berasal dari sumber lain, antara lain yang berasal dari masyarakat dengan
berbagai bentuk.
Pelibatan masyarakat juga akan memberi manfaat baik langsung maupun tidak
langsung bagi lembaga sendiri maupun masyarakat yang dilibatkan. Pariata Westra (1977:
18) menguraikannya sebagai berikut:

12
a. Memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar.
b. Memungkinkan para staf menggunakan kemampuan berpikir secara kreatif.
c. Mengembalikan nilai-nilai martabat manusia (humanity), dorongan (motivasi), serta
membangun kepentingan bersama.
d. Mendorong orang untuk lebih bertanggung jawab.
e. Memperbaiki semangat kerja sama serta menimbulkan kesatuan kerja (team work).
f. Memungkinkan untuk mengikuti perubahan-perubahan atau mencapai kemajuan.
Dengan demikian pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan akan berdampak juga
pada masyarakat itu sendiri dalam bentuk nilai balik yang bisa bersifat wawasan
bahkan ekonomis.

I. Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan


Menurut Soegarda Poerbakawada (1981: 251), partisipasi adalah suatu gejala
demokrasi tempat orang-orang diikutsertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan segala
sesuatu yang berpusat pada berbagai kepentingan. Orang-orang juga ikut memikul
tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan tingkat kewajiban mereka.
Partisipasi dilakukan dalam bidang fisik maupun bidang material serta dalam bidang
penentuan kebijakan.
Jika dilihat dari tingkatannya, partisipasi masyarakat menurut (Jumrowi &
Subandiyah, 1982: 2) dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Partisipasi dalam proses pengambilan keputusan;
b. Partisipasi dalam proses perencanaan
c. Partisipasi dalam pelaksanaan suatu program
Dasar pelibatan masyarakat dalam pendidikan dapat ditinjau dari dua pangkal,
yaitu:
a. Kesamaan Tanggung Jawab
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua, dan
masyarakat. Masyarakat terdiri atas kelompok dan individu-individu yang berusaha
menyelenggarakan pendidikan atau membantu usaha-usaha pendidikan. Contoh
organisasi penyelenggara pendidikan yaitu organisasi keagamaan, organisasi
kepramukaan, organisasi politik, organisasi sosial, organisasi olahraga, atau organisasi

13
kesenian yang bergerak dalam usaha pendidikan. Serta terdapat individu-individu yang
bersimpati terhadap pendidikan di sekolah.
b. Kesamaan Tujuan
Sekolah dan masyarakat menghendaki agar para siswanya kelak menjadi
manusia pembangun yang Pancasilais. Oleh karena itu, antara sekolah dan masyarakat
harus mempunyai kesamaan tujuan. Secara empiris dan fundamental, keterbatasan
instansi pendidikan secara alamiah menyebabkan perlunya pelibatan masyarakat.
Dengan adanya bantuan masyarakat maka dapat memperingan tugas lembaga dalam
meningkatkan mutu pendidikan. Lembaga juga memerlukan adanya dukungan moral
dan masukan serta harapan masyarakat sekaligus kontrol atas kinerja dan
produktivitasnya.

J. Bentuk dan Sifat Partisipasi Masyarakat


UU no 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pada bagian ke satu pasal 54 menyatakan
bahwa peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan,
kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam
penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Ayat kedua pasal tersebut
menyebutkan masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna
hasil pendidikan.
Wujud partisipasi masyarakat sebagaimana disampaikan Dusseldorp dalam
Subandiyah (1989: 12) antara lain sebagai berikut:
a. Mendatangi pertemuan;
b. Melibatkan diri dalam diskusi;
c. Melibatkan diri dan berpartisipasi dalam segala aspek organisasi, misalnya
menyelenggarakan pertemuan kelompok, mernpengaruhi orang luar untuk ikut dalam
kegiatan kelompok, serta memimpin diskusi kelompok;
d. Membantu untuk memperoleh bantuan tenaga, modal, fasilitas, dan kemampuan
mental;
e. Mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan;
f. Berperan dalam pemanfaatan hasil.

14
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Humas adalah kegiatan yang dilakukan bersama-sama antara lembaga dan masyarakat
dengan tujuan memperoleh pengertian, kepercayaan, penghargaan, hubungan harmonis,
serta dukungan (goodwill) secara sadar dan sukarela. Asas Humas terdiri dari asas
pemberitaan resmi dan obyektif, asas pemantauan keberesan intern instansi, asas
pertimbangan dan pengusahaan dukungan public, asas pelangsungan hubungan, asas
pemerhatian opini public dan asas Peningkatan Mutu dan Kegiatan. Keenam asas tersebut
merupakan pedoman bagi penyelenggaraan kegiatan humas. Bukan berarti keenam asas
tersebut merupakan pedoman khusus hanya bagi petugas humas, melainkan pedoman yang
harus diperhatikan pula oleh pimpinan instansi.
Jenis-jenis Kegiatan Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat terdiri dari
dua kegiatan ekternal dan internal. Selanjutnya ada proses humas menurut Kasali (2005:
82-85) meliputi 1) identifikasi permasalahan, 2) perencanaan dan penyusunan program 3)
aksi dan komunikasi dan 4) evaluasi. Jenis media humas berdasarkan publik sasarannya
adalah media humas internal dan media humas eksternal. Media humas internal antara lain
warta atau buletin lembaga pendidikan, papa informasi, presentasi video, stasiun radio,
kotak saran, jaringan telepon internal. Untuk media humas eksternal antara lain jurnal
eksternal, media audio visual, pameran, media cetak dan media elektronik.
Untuk mengikut sertakan warga masyarakat ini dalam membangun pendidikan
disekolah maupun perguruan tinggi, sudah sepatutnya para manajer pendidikan melalui
tokoh-tokoh masyarakat aktif menggugah perhatian mereka. Para manajer dapat
mengundang para tokoh ini untuk membahas bentuk-bentuk kerjasama dalam
meningkatkan pendidikan. Keputusan diambil secara musyawarah untuk memperoleh
alternatif yang terbaik.

15
Daftar Pustaka

Bonar, Drs. S.K. 1977. Hubungan Masyarakat Modern. Jakarta: PT Bina Aksara.

Glen Griswold and Denny Griswold. Your Public Relation. Fark & Wangnalis Company.
New York 1984. Grading Teaching Notes oleh NUFFIC.

Syamsi, Ibnu. Pengambilan Keputusan Dan Sistem Informasi. Jakarta : Bumi Aksara,
2000.

Jabar, Cepi Syaifuddin Abdul.dkk.2016.ManajemenPendidikan.Yogyakarta : UnyPres

J.C Seidel (2001). Dasar-Dasar Public Relations Diadopsi Dari Abdurahman Oemie.
Publisher : Bandung : Citra Aditya Karya

Oemi, Abdurrahman. Dasar-Dasar Public Relations. (Bandung: Citra Aditya Baki, 2001).

Poerbakawatja, Soegarda. Ensiklopedi Pendidikan. Jakarta. Gunung Agung. 1981.

Subandiyah. (1982). Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal


di Sd Se-jawa Tengah. Tesis-PPs-UNY

Westra, Pariata. Et al. 1977. Ensiklopedi Administrasi. Jakarta: Gunung Agung.

Wojowasito, S. 1989. Kamus Kawi-Indonesia. Jakarta: CV Pengarang.

http://syiffa93yuhu.blogspot.com/2013/09/manajemen-hubungan-lembaga-pendidikan.html

16