Anda di halaman 1dari 42

SNI 19-6471.

1-2000

Standar Nasional Indonesia

Tata cara pengerukan muara sungai dan pantai


Bagian 1
Survei lokasi dan investigasi

ICS 91.01 Badan Standardisasi Nasional


BSN
SNI 19-6471.1-2000

Daftar isi

Daftar isi ....................................................................................................................................... i


Prakata........................................................................................................................................ ii
Pendahuluan.............................................................................................................................. iii
1 Ruang Lingkup ....................................................................................................................... 1
2 Acuan normatif ....................................................................................................................... 1
3 Istilah dan definisi .................................................................................................................. 1
4 Survei lokasi dan investigasi ................................................................................................. 3
4.1 Umum ................................................................................................................................ 3
4.2 Survei hidrografi ................................................................................................................ 3
4.3 Sistem survei otomatis .................................................................................................... 16
4.4 Kondisi dasar laut............................................................................................................ 16
4.5 Pengukuran arus ............................................................................................................. 16
4.6 Tinggi dan arah gelombang ............................................................................................ 17
4.7 Pasang surut ................................................................................................................... 17
4.8 Temperatur dan salinitas air ........................................................................................... 17
4.9 Padatan tersuspensi ....................................................................................................... 18
4.10 Angkutan sedimen .......................................................................................................... 18
4.11 Penyelidikan tanah .......................................................................................................... 18
4.12 Pengujian tanah di laboratorium dan di lapangan .......................................................... 29
4.13 Pengujian batu di laboratorium dan in situ ..................................................................... 29
Lampiran A ............................................................................................................................... 35
Lampiran B ............................................................................................................................... 36
Bibliografi .................................................................................................................................. 37

i
SNI 19-6471.1-2000

Prakata

Standar ini adalah revisi dari SNI 19-6471.1-2000, Tata cara pengerukan muara sungai dan
pantai, Bagian 1 : Survei lokasi dan investigasi. Standar ini mengacu pada standar BS 6349-
1991 : Part 5 Code of practice for maritime structures: part 5-1991 section 1.

SNI ini direvisi karena sudah berumur lebih dari lima tahun dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi khususnya pada peralatan yang digunakan dalam pengukuran di
pantai. SNI ini disusun sesuai dengan ketentuan yang diberikan dalam Pedoman
Standardisasi Nasional (PSN) 08 : 2007.

Standar ini disusun oleh Panitia Teknis 91.01 Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa
Sipil, 91-01-S1 Bidang Sumber Daya Air dan dibahas pada rapat teknis dan rapat konsensus
dengan melibatkan wakil dari pemerintah, produsen, konsumen, pakar akademis dan peneliti
serta instansi teknis terkait lainnya.

ii
SNI 19-6471.1-2000

Pendahuluan

Pengerukan adalah pengambilan tanah atau material dari lokasi di dasar air, biasanya
perairan dangkal seperti danau, sungai, muara ataupun laut dangkal, dan memindahkan
atau membuangnya ke lokasi lain. Pengerukan dilakukan untuk berbagai tujuan, diantaranya
adalah keperluan navigasi, penambangan material, aktivitas konstruksi, atau membersihkan
sedimen yang tercemar.

Untuk melakukan pengerukan diperlukan pengukuran-pengukuran pendahuluan, meliputi


survei hidrografi, kondisi dasar laut, arus, gelombang, pasang surut, temperatur dan
salinitas, sedimen, serta penyelidikan tanah.

Standar ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaksana di lapangan dalam pekerjaan
pengerukan yang dilakukan di muara dan pantai.

iii
SNI 19-6471.1-2000

Tata cara pengerukan muara sungai dan pantai


Bagian 1 : Survei lokasi dan investigasi

1 Ruang Lingkup

Tata cara ini meliputi ketentuan-ketentuan survei dan investigasi untuk keperluan kegiatan
pengerukan muara sungai dan pantai yang dilakukan dengan bantuan wahana apung.

2 Acuan normatif

SNI 6471.2, Tata cara pengerukan muara sungai dan pantai, Bagian 2 : Pertimbangan-
pertimbangan yang mempengaruhi pekerjaan pengerukan.
SNI 6471.3, Tata cara pengerukan muara sungai dan pantai, Bagian 3 : Pemilihan
peralatan.
SNI 6471.4, Tata cara pengerukan muara sungai dan pantai, Bagian 4 : pelaksanaan dan
pengawasan.

SNI 6724, Jaring Kontrol Horizontal

3 Istilah dan definisi

Istilah dan definisi yang berkaitan dengan standar ini adalah sebagai berikut.

3.1
pengerukan
pemindahan tanah, batuan atau debris dari bawah air dan diangkat melalui air ke atas

3.2
alat keruk
peralatan mekanik, hidraulik atau listrik yang digunakan untuk pengerukan

3.3
faktor penambahan
faktor yang menunjukkan penambahan volume material hasil kerukan relatif dibandingkan
dengan volume material sebelum dikeruk

3.4
penutupan
penggunaan suatu material keruk yang bersih sebagai penutup material keruk tercemar
yang dibuang ke dalam perairan bebas untuk menghambat material tercemar dari
lingkungan kelautan

3.5
alat penyebar
alat yang dipasang di bagian luar pipa pembuang untuk mengurangi kecepatan aliran
keluar dan turbulensi

1 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

3.6
sekat kapal
jarak vertikal dari garis air ke titik terdalam lunak kapal

3.7
bongkar muatan kapal
pemindahan muatan dari kapal ke tempat pembuangan

3.8
kapasitas ember
volume maksimum cairan yang dapat dimuat oleh ember bila diisi pada elevasi ujung
pemotongan

3.10
kapasitas hopper
kapasitas total maksimum hopper baik dari kapal keruk hopper atau tongkang

3.11
rapat massa lapangan
rapat massa material dasar laut dalam keadaan tak terganggu

3.12
reklamasi lahan
peninggian elevasi daerah-daerah yang semula terendam atau hampir tergenang dengan
material hasil kerukan dari dasar laut atau muara sungai

3.13
pengerukan pemeliharaan
pengerukan untuk memperbaiki atau menjaga kedalaman semula yang telah mengalami
pendangkalan karena endapan

3.14
pengerukan berlebih
pengerukan material yang melebihi dari tempat yang ditentukan

3.15
dasar laut
tanah dasar di bawah massa air laut

3.16
pelumpuran
proses pengendapan sedimen dalam air

3.17
tiang jangkar
tiang untuk menahan kapal keruk stationer agar tetap di tempat yang diinginkan pada saat
akan memutar

2 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

4 Survei lokasi dan investigasi

4.1 Umum

Kinerja setiap alat keruk secara langsung berkaitan dengan karakteristik tanah atau batuan
yang akan dikeruk dan lingkungan dimana pekerjaan dilakukan. Dengan pengetahuan
yang cukup mengenai karakteristik tanah atau batuan, dapat dipilih alat keruk yang paling
sesuai sehingga laju produksi serta durasi pekerjaan dapat diperkirakan.
Hal tersebut diatas diterapkan pada semua jenis pengerukan, termasuk pengerukan
pemeliharaan. Pengetahuan yang cukup mengenai kondisi lokasi merupakan suatu
prasyarat untuk setiap pengerukan atau pekerjaan reklamasi. Beberapa informasi mungkin
ada, sebagai hasil dari pekerjaan terdahulu pada atau di sekitar lokasi, dan jika memang
ada, hasil tersebut harus dievaluasi terlebih dahulu. Jika informasi yang cukup tidak
tersedia, maka perlu dilakukan investigasi ke lokasi.
Disamping persyaratan yang lebih lengkap dan jelas untuk menentukan kondisi batimetri
dan tanah, hal lain yang harus diteliti meliputi pengujian sebagai berikut.
a) sisa reruntuhan yang berlebihan (excessive debris) atau benda-benda asing;
b) fasilitas umum;
c) amunisi;
d) struktur-struktur sensitif atau instalasi lain;
e) air dangkal yang mungkin terjadi atau pembatas lebar pada pengerukan atau alat-alat
bantu pengerukan

4.2 Survei hidrografi

4.2.1 Umum
Tujuan survei hidrografi dalam hubungannya dengan pekerjaan pengerukan adalah untuk
mengetahui elevasi dasar secara detail. Elevasi dasar laut harus diketahui sebelum
melakukan pengerukan sehingga dapat diperkirakan rencana kedalaman dan kuantitas
pengerukan yang akan dilaksanakan. Pemilihan alat keruk, waktu kerja dan keamanan
pelayaran, semuanya dipengaruhi oleh keadaan elevasi dasar laut. Survei hidrografi dapat
pula meliputi pengukuran arus, gelombang, sifat-sifat air, karakteristik dasar laut, dll.
Dalam sub bab ini, hanya dibahas mengenai penentuan elevasi dasar laut pada lokasi
khusus.
Gambaran umum laut diberikan dalam peta laut yang diterbitkan oleh Dinas Hidro
oseanografi TNI AL. Informasi yang lebih menyeluruh dapat diperoleh dari ahli hidrografi
yang juga dapat memberikan informasi tambahan misalnya kapal karam dan lain-lain. Peta
dasar laut banyak digunakan dalam pelayaran daripada dalam pekerjaan teknik. Informasi
detail mengenai keadaan pantai sangat jarang dan informasi survei yang ada mungkin
sudah tidak terpakai. Untuk tujuan teknik, harus dilakukan survei yang lebih baik.

4.2.2 Detil bathimetri


Survei detail harus mencerminkan tujan utama dari survei itu sendiri. Jika survei ditujukan
untuk mengukur kuantitas pengerukan yang diperlukan untuk menghitung pembayaran
kepada kontraktor, maka jalurnya harus cukup rapat sehingga variasi penampang dan
elevasi dapat diketahui. Jalur survei antara 10 m dan 25 m atau lebih lebar dilakukan untuk
pekerjaan dengan skala besar. Jika tujuan survei cukup sederhana yaitu untuk
memberikan petunjuk detail untuk navigasi dan pemasangan alat, maka jarak jalur survei
lebih kurang 100 m masih cukup baik. Gambaran antara setiap jalur survei harus dibuat

3 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

dengan menggunakan side scan sonar. Survei dengan kerapatan rendah (kurang detail)
tidak dianjurkan untuk tujuan pengukuran.
Secara praktis, jalur survei harus diusahakan tegak lurus terhadap kontur dasar laut, kanal,
atau kemiringannya.

4.2.3 Pengukuran kedalaman


4.2.3.1 Umum
Elevasi dasar laut pada umumnya ditentukan dengan mengukur kedalaman air di atas
dasar laut dan sekaligus mengukur muka laut terdekat terhadap datum yang ada. Elevasi
muka laut seharusnya diukur pada satu lokasi secara akurat selama periode survei dimana
muka air sama atau tidak terlalu berbeda dengan area survei. Kondisi laut di titik
pengukuran harus memenuhi persyaratan untuk melakukan pengukuran yang teliti.
Kedalaman perairan dapat diukur dengan alat perum gema atau alat duga. Metode yang
lebih cepat dan cukup baik adalah dengan menggunakan echosounder. Jika sounding
dilakukan dekat struktur, maka echosounder akan dipengaruhi oleh gema dari sisi
sekitarnya sehingga akan lebih baik jika menggunakan "leadline" atau "sounding pole".
Akurasi yang diperoleh dalam penentuan elevasi dasar laut lebih rendah bila dibandingkan
dengan hasil survei yang dilakukan di darat.
Akurasi pengukuran kedalaman dipengaruhi oleh karakteristik material dasar laut. Jika
dasar laut lunak dan mudah terganggu seperti yang sering ditemui selama dan sesudah
pengerukan, maka pengukuran secara akurat sangat sulit dan perlu perhatian lebih untuk
mendapatkan hasil yang baik. Pada lumpur lunak, echo sounding tidak dapat dilakukan.
Agar hasil pemerian konsisten, metode sounding yang digunakan selama pelaksanaan
pekerjaan tidak boleh berubah-ubah, misalnya jenis perum gema yang digunakan harus
sama selama pelaksanaan pekerjaan.
Pengukuran kedalaman yang dilakukan ketika kapal bergerak melintasi daerah yang miring
harus dilakukan dengan kecepatan minimum. Untuk mendapatkan hasil yang baik, seluruh
jalur pengerukan harus dilewati dari arah yang sama.
Ketelitian pengukuran kedalaman hanya mungkin dilakukan pada kondisi laut tenang.
Ketelitian pengukuran akan berkurang dengan bertambahnya tinggi gelombang/swell.
(Lihat Tabel 1).

4.2.3.2 Echo sounder


Echo sounder yang berbeda akan beroperasi dengan sinyal frekuensi serta sudut-sudut
pancaran gelombang elektromagnetik yang berbeda. Sudut-sudut pancaran gelombang
elektromagnetik meliputi sudut sebar dari sinyal yang dipancarkan dari transduser (lihat
gambar 1). Echo sounder yang beroperasi pada frekuensi yang relatif tinggi tetapi rendah
energi pada umumnya cukup ringan dan hemat energi. Alat ini itu sangat baik digunakan
dalam survei hidrografi terutama jika harus dipindah-pindah. Sinyal dari echo sounder
semacam itu dapat dipantulkan dari material dasar laut yang kerapatannya rendah.
Sebaliknya, echo sounder yang beroperasi pada frekuensi rendah dan energi tinggi dapat
melakukan penetrasi melalui lapisan permukaan yang kerapatannya rendah dan sinyalnya
akan dipantulkan oleh lapisan sub-bottom. Karakteristik echo sounder dapat
mempengaruhi hasil survei. Oleh karena itu perlu jenis echo sounder yang akan digunakan
harus dipilih berdasarkan tujuan surveinya

4 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Tabel 1 Kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengukuran kedalaman

Kondisi Alat Penduga Alat Perum Gema


(m) (m)
A. Akibat material dasar laut
Dasar berbatu + 0,05 + 0,05
Dasar berpasir + 0,10 + 0,10
Dasar lanau + 0,15 + 0,15
Dasar lumpur lunak + 0,30 + 0,20
B. Akibat arus
Kecepatan arus :
1,0 knot + (0,05 d) 0,00
2,0 knot + (0,20 d) 0,00
C Akibat gelombang
Tinggi gelombang
0,3 m : diasumsikan kapal kecil + 0,20 + 0,20
0,5 m : diasumsikan untuk panjang kapal dengan + 0,30 + 0,25
panjang 10 m atau lebih
1,0 m : diasumsikan untuk panjang kapal dengan + 0,50 + 0,30
panjang 15 m atau lebih
CATATAN 1. Ketelitian akan menurun dengan berkurangnya atau berubahnya gradien dasar laut.
Ketelitian dapat ditingkatkan dengan menggunakan alat perum gema berfrekuensi ganda.
CATATAN 2. Echo sounder tidak dipengaruhi oleh arus. Ketelitian alat duga dalam arus bergantung pada keahlian
penungkutnya. Kesalahan yang terjadi nungkut lebih besar daripada yang diperlihatkan dalam tabel di atas, jika alat
digunakan oleh orang yang tidak ahli. Alat duga tidak dianjurkan jika kedalaman perairan melebihi 10 m. d adalah
kedalaman perairan dalam meter.
CATATAN 3. Kesalahan rekaman akan lebih besar daripada hasil yang diperlihatkan, terutama jika terjadi swell,
tetapi hal ini rekaman dapat diperbaiki dengan kemampuan menginterpretasikan rekaman analog, jika dasar laut rata
dan perioda gelombangnya pendek. Akurasi rekaman echo sounder dalam gelombang atau swell dapat diperbaiki
dengan
menggunakan filter dan kompensator swell.

CATATAN 4. Semua pengaruh tersebut dan yang lainnya dapat berakumulasi sehingga menghasilkan kesalahan lebih
besar dari ada hasil yang diperlihatkan

Beberapa echo sounder dengan frekuensinya diberikan pada Tabel 2 sebagai berikut :
Tabel 2 Frekuensi dan penetrasi echo sounder

Frekuensi Penetrasi
(kHz) Lumpur (m) Pasir (m)
10 2,0 sampai 5,0 0,5 sampai 1,5
15 1,0 sampai 3,0 0,5 sampai 1,0
50 0,5 sampai 2,0 0,1 sampai 0,5
100 0,1 sampai 1,0 0,0 sampai 0,5
200 0,0 sampai 0,2 0,0 sampai 0,1

Alat perum gema dapat mencatat kedalaman hasil pengukuran dalam bentuk grafik
sebagai rekaman menerus pada suatu diagram dalam bentuk analog atau dalam bentuk
digital pada pita magnetik atau piringan magnetik. Jika digunakan hasil rekaman analog,
maka skala vertikal pada diagram harus memakai untuk melakukan penginterpretasian
yang baik. Skala 1 : 100 cukup baik untuk diinterpretasi. Jika digunakan rekaman digitasi,
maka harus dilakukan beberapa pemilihan data. Proses pemilihan mungkin akan
mempengaruhi hasilnya. Proses pemilihan harus dilakukan dengan baik dan setiap
praduga yang bertentangan dengan tujuan survei harus dihilangkan.

5 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Gambar 1 Echo sounder dengan transducer sudut pancaran gelombang


elektromagnetik angle dan side echo dari slope

Kalibrasi ulang yang berkala harus dilakukan terhadap echo sounder dengan suatu bar
check. Kalibrasi harus dilakukan pada awal dan akhir setiap perode periode survei dan jika
perlu pada interval diantaranya.
Berikut ini daftar pengecekan di lapangan yang harus dilakukan jika menggunakan echo
sounder:
a) Kecocokan dan kestabilan sumber listrik dengan alat.
b) Kedalaman transduser dibawah permukaan air (mungkin bervariasi terhadap
perpindahan kapal atau kecepatan).
c) Perpindahan horizontal posisi transduser relatif terhadap sistem posisi tetap (position
fixing).
d) Letak kertas diagram analog.
e) Kalibrasi echo sounder (bar check).
f) Karakteristik dasar laut.
g) Frekuensi sinyal.
h) Kecepatan kertas rekaman.
i) Arah jalur pelayaran.
j) Muka air di daerah survei.

4.2.3.3 Alat penduga


Alat duga terdiri dari tali yang fleksibel non elastik, biasanya kabel atau rantai dan diikatkan
pada baja pemberat. Tali tersebut ditandai dengan interval tertentu, biasanya 0,1 m.

6 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Alat duga digunakan untuk mengukur kedalaman secara manual. Karena itu dalam
pelaksanaannya memerlukan waktu dan banyak pekerja terutama jika kedalaman perairan
bertambah. Keadaan dasar dapat ditentukan berdasarkan pengalaman, misalnya lunak,
sangat lunak, agak keras atau keras, tetapi perlu ketelitian dalam melakukan evaluasi
terhadap hasil yang diperoleh.
Alat duga tidak biasa digunakan sebagai alat survei pada kedalaman perairan lebih dari
10 m atau pada lokasi survei dengan arus sedang atau kuat. Kecepatan kapal survei harus
diusahakan selambat mungkin. Alat duga mungkin berguna pada situasi berikut.
a) sepanjang struktur, dimana sinyal yang dipantulkan mungkin akan memberikan
pengaruh yang berlawanan terhadap echosounder;
b) untuk mengecek echosounder; terutama jika dasar laut berupa tanah lunak;
c) untuk menentukan kedalaman yang dapat dilayari, dengan asumsi bahwa kedalaman
yang dicapai oleh alat duga adalah kedalaman yang dapat dilayari;
d) pada suatu daerah yang kecil dan dangkal, echosounder tidak terlalu diperlukan
Alat duga, terutama yang terbuat dari rangkaian rantai mungkin bisa putus dan bisa
disambung kembali sehingga panjangnya berkurang. Oleh karena itu dianjurkan bahwa
panjang keseluruhan dan posisi tanda-tanda pembagi harus diperiksa lagi sebelum
digunakan dengan pita ukur baja berkualitas baik.

4.2.4 Kerapatan pengukuran kedalam berdasarkan masa


4.2.4.1 Umum
Jika elevasi dasar laut tidak dapat ditentukan secara baik dengan menggunakan metode
sederhana, seperti halnya pada daerah lumpur lembut atau lumpur cair, mungkin lebih
tepat menentukan tingkat kerapatan dan menggunakan data tersebut sebagai dasar untuk
menentukan kedalaman yang aman untuk pelayaran/navigasi. Pengukuran tersebut dapat
digunakan untuk mengurangi frekuensi dan kuantitas pengerukan di pelabuhan dan alur
pelayaran. Alat density meter yang mengukur kerapatan material dasar laut pada elevasi
alat tersebut ditempatkan, dapat digunakan untuk keperluan itu. Perlu diperhatikan bahwa
pemakai harus cukup berpengalaman dan tujuan pengukuran dimengerti dengan baik.

4.2.4.2 Sistem berdasarkan radiasi gamma


Saat ini terdapat dua jenis alat pengukur kerapatan berdasarkan radiasi gamma, yaitu
backscatter dan transmission. Backscatter meter memiliki sumber radiasi dan
penghitungan radiasi disusun secara vertikal dalam tabung berbentuk silindris (cylindrical
housing) serta lebih mudah digunakan. Kedua jenis tersebut dikalibrasi dengan
membenamkannya pada medium yang telah diketahui rapat massa.
Cara penggunaan instrumen tersebut diturunkan ke material dasar laut dan laju perubahan
rapat massa sebagai fungsi kedalaman dicatat. Variasi rapat massa dari material dasar
laut terhadap kedalaman dapat ditentukan dengan referensi pada kurva kalibrasi. Hal ini
hanya cocok untuk pengukuran setempat atau profil kedalaman.
Untuk pengukuran rapat massa dalam area lumpur cair, sistem terdiri dari alat ukur
transmisi sinar gamma, untuk daerah yang lebih luas dipasang pada alat pemberat
menyerupai ikan (top fish). Kedalaman dan posisi alat diukur dengan metode sederhana.

4.2.4.3 Metode sonik


Berbagai sistem dapat digunakan untuk pengukuran kerapatan dasar laut secara menerus
di area berlumpur cair dengan menggunakan metode sonik. Sumber suara dan penerima
suara disimpan dalam sebuah alat pemberat berbentuk ikan-ikanan, yang ditarik melalui
lapisan dasar laut dengan kerapatan rendah. Sistem ini membutuhkan kalibrasi terhadap
medium yang telah diketahui. Untuk hal ini perlu diketahui komposisi lapisan lumpur,

7 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

termasuk analisis ukuran butiran dan kandungan organik dengan analisis pengambilan
contoh secara konvensional dan analisis laboratorium. Sistem ini juga dapat digunakan
dari posisi yang telah ditentukan untuk menghasilkan profil kerapatan terhadap kedalaman.
Pada sistem tersebut yang mampu melakukan pengukuran densitas yang berkelanjutan,
penarikan alat pemberat yang berbentuk ikan-ikanan secara otomatis dinaikkan dan
diturunkan melalui lapisan lumpur cair, kemudian mencatat variasi kerapatan terhadap
kedalaman. Analisis berikutnya dapat memberikan informasi mengenai elevasi dengan
kerapatan tertentu sepanjang area yang disurvei.

4.2.5 Penentuan posisi


4.2.5.1 Umum
Metode dan ketelitian dalam penentuan posisi di perairan agak ketinggalan jika
dibandingkan dengan metode yang telah dikembangkan untuk pengukuran di darat. Survei
hidrografis dilakukan dari kapal yang bergerak pada permukaan yang bergerak, karena itu
sistem penentuan posisi bersifat dinamis. Jika berbagai komponen pengukuran posisi tidak
diatur dengan baik terhadap waktu, maka akan menimbulkan sumber kesalahan. Jika
dasar laut tidak horizontal, maka akan menyebabkan kesalahan dalam penentuan posisi
akan menghasilkan kesalahan dalam penentuan kedalaman. Harus dicatat bahwa di
perairan teluk dan posisi dasar laut lain yang serupa, metode survei sederhana mungkin
lebih sesuai.
Penerapan metode penentuan posisi yang sama atau serupa dengan yang digunakan
selama survei dan investigasi akan menguntungkan meskipun mungkin tidak praktis.
Dengan demikian tingkat ketelitian dan titik kontrol tetap di darat konsisten dari awal
sampai akhir pekerjaan.

4.2.5.2 Penentuan posisi dengan GPS

GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang
dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan
kecepatan tiga diemensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia
tanpa tergantung waktu dan cuaca, kepada banyak orang secara simultan.

Dalam kaitannya dengan aktivitas pemetaan laut, metode penentuan posisi yang
digunakan umumnya adalah :
1. Metode survey GPS statik : Untuk penentuan posisi titik-titik control di pantai.
2. Metode DGPS : untuk aplikasi yang menuntut informasi secara instan (real time)
dengan aplikasi berketelitian menengah (1 meter smpai dengan 4 meter)
3. Metode RTK : untuk aplikasi-aplikasi yang menuntut informasi secara real time untuk
aplikasi berketelitian tingggi (1 cm sampai dengan 10 cm)

4.2.5.2.1 Metode Survei GPS Statik

Metode survey GPS pada dasarnya bertumpu pada metode penentuan posisi statik secara
diferensial dengan menggunakan data fase. Dalam hal ini, pengamatan satelit GPS
umumnya dilakukan baseline per baseline selama selang waktu tertentu (beberapa menit
sampai beberapa jam tergantung ketelitian yang diinginkan), dalam suatu jaring (kerangka)
dari titik-titik yang akan ditentukan posisinya, seperti contoh yang ditunjukan pada Gambar
2.

8 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Gambar 2- Sketsa penentuan posisi suatu titik dengan GPS

Seandainya ada lebih dari dua receiver GPS yang digunakan, maka pada satu sesi
pengamatan (observing season) dapat diamati lebih dari satu baseline sekaligus. Dalam
pelaksanaan survey GPS, selain dengan moda jaring yang ditunjukan pada gambar
diatas, penentuan posisi titik-titik juga dapat dilakukan dalam moda radial sesuai dengan
keperluan.
Proses penentuan koordinat dari titik-titik dalam suatu jaringan dalam survey GPS, terdiri
atas tiga tahap yaitu : Pengolahan data dari setiap baseline dalam jaringan, perataan
jaringan yang melibatkan semua baseline untuk menentukan koordinat dari titik-titk dalam
jaringan dan transformasi koordinat titik-titik tersebut dari datum WGS84 ke datum yang
diinginkan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada SNI 6724, Jaring Kontrol Horizontal.

4.2.5.2.2 Sistem DGPS

DGPS adalah akronim yang sudah umum digunakan untuk sistem penentuan posisi real-
time secara diferensial menggunakan data pseudorange. Sistem ini umumnya digunakan
untuk penentuan posisi objek-objek yang bergerak. Untuk merealisasikan tuntukan real-
time-nya, maka monitor station harus mengirimkan koreksi diferensial ke pengguna secara
real-time menggunakan sisitem komunikasi data tertentu, seperti yang diilustrasikan pada
Gambar 3.

9 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Gambar 3 - Sketsa penentuan posisi suatu titik dengan system DGPS

Koreksi diferensial ini dapat berupa koreksi pseudorange maupun koreksi koordinat. Dalam
hal ini, yang umum digunakan adalah koreksi pseudorange. Koreksi kooordinat jarang
digunakan, karena koreksi ini menuntut bahwa stasiun referensi pengirim koreksi serta
pengamat mengamati set satelit yang sama, dimana hal ini umumnya tidak dapat selalu
direalisir di lapangan. Ketelitian tipikal posisi yang diberikan pada sistem DGPS ini adalah
berkisar antara 1 meter sampai dengan 3 meter atau lebih baik. Dengan ketelitian setingkat
itu, sisitem DGPS ini umum digunakan pada survei-survei kelautan. Tergantung pada luas
wilayah cakupan koreksinya, system DGPS umumnya dibedakan atas Local Area DGPS
(LADGPS) dan Wide Area DGPS (WADGPS).

4.2.5.2.3 Sistem RTK

Sistem RTK (Real-Time Kinematic) adalah suatu akronim yang sudah umum digunakan
untuk sistem penentuan posisi real-time secara diferensial menggunakan data fase. Untuk
merealisasikan tuntutan real-timenya, stasiun referensi harus mengirimkan data fase dan
pseudorange-nya ke pengguna secara real-time menggunkan sistem komunikasi data
tertentu (umumnya radio), seperti diilustrasikan pada Gambar 4.

10 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Gambar 4 - Sketsa penentuan posisi suatu titik dengan system RTK

Ketelitian posisi yang diberikan oleh sistem RTK adalah sekitar 1 cm sampai dengan 5 cm.
Sistem RTK dapat pula digunakan untuk penentuan posisi objek-objek yang diam maupun
bergerak, sehingga sistem RTK ini tidak hanya merealisasikan survei GPS real-time, tapi
juga navigasi berketelitian tinggi.

4.2.5.3 Sudut sextant


Sextant merupakan suatu metode penentuan posisi di perairan yang paling sederhana dan
paling ekonomis asalkan jarak pandang pendek, jarak penglihatan baik, tidak memerlukan
ketelitian yang tinggi dan di pantai ada tanda-tanda rambu ukur atau rambu-rambu tersebut
mudah dibuat. Rambu ukur dalam jumlah yang banyak diperlukan untuk menjaga ketelitian
dalam pekerjaan survei di area yang panjang dan sempit seperti muara atau alur sungai.
Hal ini mungkin tidak praktis dan tidak ekonomis.
Biasanya sextant cocok untuk menentukan posisi alat keruk yang tidak bergerak (Tata
Cara Pengerukan Muara Sungai dan Pantai Bagian 3 : Pemilihan Peralatan sub pasal 4.7
sampai 4.11), tetapi tidak praktis untuk kapal keruk yang bergerak. Sextant tidak cocok
untuk survei yang sangat teliti kecuali jarak ke rambu-rambu ukur relatif pendek.

4.2.5.4 Alat posisi elektronik jarak jauh


Prinsip utama dari sistem penentuan posisi dengan menggunakan gelombang radio,
termasuk sistem transponder, dijelaskan pada sub-sub pasal 6.3.3.
Sistem transponder terdiri atas dua atau lebih stasiun di pantai yang diketahui
koordinatnya dan stasiun utama berada diatas kapal survei. Posisi diperoleh dari
perputaran dua atau lebih besar secara simultan jarak.
Jarak dapat ditampilkan pada monitor yang ada di stasiun utama. Jika dibutuhkan, sebuah
mikrokomputer dapat dihubungkan untuk mengubah jarak ke koordinat X-Y, kemudian
dapat dipindahkan ke track plotter atau layar monitor yang memberikan petunjuk visual
posisi yang sedang ditentukan langsung di atas kapal survei. Sistem ini juga merupakan
sarana bantu penting untuk pengoperasian trading suction hopper dredgers yang efisien.
Periode pengambilan jarak yang lebih singkat dibandingkan dengan sextant, dengan
kecepatan kapal tanpa pengurangan yang berarti, memungkinkan terkumpulnya informasi

11 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

kerapatan. Penggunaan alat juga memungkinkan dilakukannya penentuan posisi dengan


ketelitian yang baik pada daerah luas secara lebih detail. Penggunaan track plotter
memungkinkan pelaksanaan survei pada garis yang telah ditentukan sebelumnya yang
dapat diluruskan seperti dalam pembuatan penampang melintang.
Ketelitian dari jarak pengukuran individual bervariasi menurut sistem spesifik yang
digunakan tetapi dapat berada antara ± 1 m dan ± 5 m. Ketelitian posisi selalu lebih kecil
dari ketelitian jarak individual seperti suatu fungsi geometri jarak perpotongan busur.
Bahkan dengan memperkirakan sudut perpotongan yang sempurna (90 °), kesalahan
maksimum dalam penentuan posisi dapat menjadi tiga kali lebih besar daripada kesalahan
jarak maksimum (lihat gambar 5). Besarnya potensi kesalahan maksimum potensial
meningkat sejalan dengan penyimpangan sudut perpotongan busur jarak dari 90 ° (lihat
tabel 3).

Tabel 3 Kesalahan pendekatan dalam penentuan posisi sudut perpotongan


yang kurang baik menggunakan alat pengukur jarak
Sudut
Kesalahan pendekatan
perpotongan
Jarak
Jarak kesalahan
derajat kesalahan
maksimum ± 3m
maksimum ± 1m
90 3 8
80 3 9
70 3 11
60 4 12
50 5 14
40 6 18

Kebanyakan sistem jarak-jarak membutuhkan garis pandang yang jelas antara stasiun
pantai dan sistem utama diatas kapal survei, untuk ini stasiun pantai harus ditempatkan
dengan tepat. Akurasi jarak masing-masing titik tetap dapat dipengaruhi oleh kondisi
atmosfir, cuaca, refleksi dari permukaan kasar dan keras, seperti kapal dan gedung serta
gangguan alat pemancar seperti radar.
Posisi semua titik tetap di pantai harus ditentukan koordinatnya dan disesuaikan dengan
grid nasional atau lokal. Pada awal dan setiap periode survei, posisi kapal survei harus
diketahui koordinatnya dan jarak yang diperkirakan harus dibandingkan dengan jarak hasil
perhitungan. Sebagai alternatif lain, pengukuran jarak dapat dilakukan dengan pengukur
jarak elektronik (electronic distance measurer – EDM). Alat ini dapat digunakan untuk
mengecek jarak. Untuk area survei yang kecil dan biasa (regular), pengecekan pada dua
titik biasanya cukup untuk menunjukkan apakah sistem tersebut dikalibrasi dengan baik
dan bebas dari gangguan atau tidak. Pengecekan lebih lanjut dapat dilakukan ketika
melalui jalur poligon yang telah diketahui.

12 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Pengecekan berikut ini harus dilakukan sebelum melaksanakan survei.


a) Koordinasi posisi titik tetap di pantai.
b) Geometri perpotongan busur jarak diseluruh area survei (biasanya tidak kurang dari
60°).
c) Kalibrasi alat (statis dan dinamis).
d) Alat yang bebas gangguan.
e) Koreksi untuk posisi horizontal antara antena penerima dan transaducer echo sounder.
f) Koreksi jarak karena adanya perbedaan elevasi antara stasiun utama dan stasiun
pantai jika diperlukan.

4.2.5.5 Alat posisi electronik jarak azimuth


Sistem jarak-azimuth terdiri dari satu stasiun di pantai yang diketahui koordinatnya dan
stasiun di kapal utama. Posisi ditentukan dengan pengukuran jarak dan sudut secara
bersamaan. Jarak dan azimuth ditampilkan pada sebuah monitor di atas kapal survei. Jika
dibutuhkan, sebuah mikrokomputer dapat dihubungkan untuk mengubah jarak dan azimuth
dalam koordinat X-Y. Hal ini kemudian dapat dimasukkan dalam track plotter atau layar
monitor untuk memberikan indikasi atau catatan menerus mengenai posisi kapal relatif
terhadap grid nasional atau lokal. Fasilitas ini dapat digunakan untuk menentukan lajur
survei pada peta track plotter grafik.
Ketelitian sistem jarak-azimuth meningkat dengan merambahnya jarak sampai jarak
maksimum kurang lebih sama dengan jarak penglihatan pada jalur yang telah ditetapkan di
lokasi. Tidak seperti sistem jarak-jarak, kualitas "fix" tidak dipengaruhi oleh sudut potong
dari sistem ini. Ketelitian secara langsung berhubungan dengan jarak, karena itu sistem ini
lebih tepat digunakan pada jarak yang relatif pendek. Penggunaan titik tetap tunggal
menyederhanakan prosedur pemasangan alat, asal mampu menjangkau seluruh daerah
pengukuran.
Sistem ini harus dikalibrasi pada jarak minimum dan jarak maksimum yang dibutuhkan dan
harus dicek pada awal dan akhir setiap periode survei. Beberapa sistem mengukur sudut
vertikal seperti halnya sudut horizontal yang memungkinkan ditentukannya elevasi kapal
survei relatif terhadap titik tetap pantai.
Pengecekan berikut ini harus dilakukan sebelum melaksanakan survei :
a) koordinat posisi titik tetap pantai;
b) kalibrasi alat (statis dan dinamis);
c) kemungkinan gangguan pada alat;
d) koreksi untuk posisi horizontal antara antena receiver dan echo sounder transducer;
e) koreksi jarak akibat perbedaan elevasi dari stasiun utama dan stasiun pantai jika
diperlukan.

4.2.5.6 Laser
Laser memberikan indikasi visual mengenai posisi yang dibutuhkan dan dengan beberapa
sistem dapat juga mengukur jarak dari stasiun pantai serta menunjukkannya pada monitor
di kapal. Sistem yang lebih sederhana menggunakan titik tetap tunggal yang dibangun
pada arah yang tetap dimana pengerukan dilaksanakan. Walaupun begitu, beberapa
sistem dibuat untuk mengukur jarak dan azimuth secara bersamaan. Kinerja alat
tergantung pada jarak pandang yang bebas.
Alat ini lebih sering digunakan pada pekerjaan pengerukan (khususnya pengerukan pada
paritan untuk pipa dan pembuang). Laser dapat digunakan secara efektif untuk mengontrol
tinggi dari urugan dalam pekerjaan reklamasi.

13 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

4.2.6 Side-scan sonar


Side-scan adalah echo perum gema dengan pancaran ke samping yang lebih lebar. Pada
keadaan normal, dua transduser yang dipasang pada arah dalam alat pemberat yang
berbentuk ikan-ikanan, yang dapat ditarik dibelakang kapal survei. Alternatif lain, pada
kapal yang akan digunakan transduser dapat diletakan di bagian bawah kapal. Sinyal
tranducer diarahkan dengan sudut kecil dibawah luas kapal pada kedua sisi kapal. Lebar
cakupan tergantung pada kedalaman air dan kekuatan sinyal, tetapi untuk kebanyakan
aplikasi pengerukan harus di kedalaman 75 m pada perairan dangkal atau 150 m di
perairan dalam. Kedua dimensi lajur survei harus sedikit lebih sempit daripada cakupan
pancaran sehingga diperoleh overlap 100%. Dengan demikian setiap bentuk dapat dilihat
dari dua arah termasuk yang tepat berada di bawah alat pemberat yang berbentuk ikan-
ikanan.
Ketinggian alat pemberat yang berbentuk ikan-ikanan di atas dasar laut dapat diubah
dengan memperpanjang atau memperpendek kabel pengerek atau merubah kecepatan
kapal survei. Alat pemberat yang berbentuk ikan-ikanan biasanya ditarik pada ketinggian di
atas dasar laut kurang lebih sebanding dengan 10% kedalam jarak. Walaupun begitu,
tekstur dasar laut akan tergambar baik bila alat pemberat berbentuk ikan-ikanan ditarik
mendekati dasar laut.
Tiga frekuensi yang umum digunakan adalah 50 kHz, 100 kHz dan 500 kHz. Frekuensi 50
kHz biasanya digunakan untuk pekerjaan survei pelacakan. Khusus pada kedalaman lebih
dari 200 m, tranduser dipasang pada kedua sisi lampu kiri dan kanan. Sedangkan
frekuensi 100 kHz biasanya digunakan untuk pekerjaan survei yang lebih umum. Khusus
pada kedalaman 200 m dan 500 kHz biasanya digunakan untuk pemeriksaan rinci dan
khusus pada kedalaman sampai dengan 50 m (lihat gambar 6 untuk pemilihan frekuensi).
`
Side-scan sonar memberikan rekaman grafis dari permukaan dasar laut dimana adanya
ketidakteraturan dan bentuk-bentuk yang jelas biasanya diindikasikan dengan bayangan
yang lebih gelap. Bayangan yang lebih gelap merupakan hasil dari pemantulan yang lebih
kuat dari bentuk yang jelas tadi sehingga sinyal balik yang dihasilkan lebih kuat. Dengan
pengalaman menginterpretasi dan ditunjang oleh mutu rekaman yang baik, dasar laut
alami yang berbeda seperti lumpur, pasir atau kerikil dapat diketahui. Sistem ini juga
terutama sangat berguna untuk mengidentifikasi bentuk permukaan yang tidak umum dan
dapat membahayakan navigasi, seperti reruntuhan atau singkapan batuan. Side-scan
sonar juga memberikan metode yang baik untuk mengevaluasi hasil pengerukan. Data
sonar dapat disimpan dalam pita magnetik (magnetic tape). Rekaman pemetaan dasar laut
yang terakhir dapat digunakan untuk mengubah kecepatan kapal dan distorsi rekaman
sehingga menghasilkan rekaman pada skala tertentu. Dengan pemrosesan lebih lanjut
masing-masing gambar dapat digabungkan menghasilkan gambaran mozaik dasar laut.
Karena side-scan sonar memberikan metode sederhana yang mencakup area dasar laut
yang luas secara cepat dan murah, maka metode ini sebaiknya digunakan terutama jika
hasil rekaman akan digunakan untuk desain atau memantau pekerjaan pengerukan. Side-
scan sonar dapat dilakukan pada saat yang bersamaan dengan perum gema atau sub-
bottom profilling.

14 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Gambar 5 - Ilustrasi mengenai penentuan posisi secara elektronik


dengan metode jarak bearing dan jarak-jarak dan sumber kesalahan (error)
jika hanya digunakan dua lokasi jarak-jarak yang baik

Penggunaan grafik

Tentukan resolusi dasar laut yang diinginkan dan ikuti grafik untuk mengetahui jarak yang berhubungan.
Sebagai alternatif, tentukan kisaran jarak garis dan lihat jika resolusi yang diperoleh dapat diterima. Jika kedua
nilai telah diperoleh, ambil perpotongan vertikal dengan sumbu untuk mendapatkan frekuensi optimum bagi
operasi sonar alat pemberat yang berbentuk ikan. Grafik ini hanya berlaku jika arah panah diikuti.

Catatan 1. Resolusi dasar laut berdasarkan pada lebar kertas, biasanya 127 mm per channel.
Catatan 2. Frekuensi tertinggi akan memberikan resolusi sinyal yang lebih besar, tetapi sinyal akan lebih cepat
berkurang dengan pertambahan kedalaman.
Catatan 3. Grafik mencakup penggunaan “alat pemberat” yang berbentuk ikan-ikanan secara umum. Jika hasil
yang dibutuhkan pekerjaan tidak diperoleh, perlu alat sonar, alat pemberat yang berbentuk ikan yang lebih
khusus dan/atau alat perekam lain dan hal ini dianjurkan untuk berkonsultasi dengan ahli geofisika atau
surveyor hidrografi.

Gambar 6 Pemilihan side-scan sonar alat pemberat yang berbentuk ikan-ikanan

15 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Kekurangan utama dari metode sonar adalah ketidakpastian posisi alat pemberat yang
berbentuk ikan terhadap kapal survei. Jika objek yang akan diteliti telah diidentifikasi,
goyangan ke samping alat pemberat yang berbentuk ikan dapat dikoreksi dengan metode
"busur obyek". Dalam praktek baik melakukan scanning pada keempat sisi dari objek
yang diamati untuk memperbaiki hasil indentifikasi posisi diteliti. Kompas dan
transponder dapat ditambahkan pada alat pemberat yang berbentuk ikan untuk
memberikan orientasi dan posisi yang aktual.

4.3 Sistem survei otomatis

Dengan kemajuan elektronika modern tingkat otomatisasi yang sangat tinggi dapat
dilakukan. Untuk area survei kecil, kemajuan tersebut tidak biasa dilakukan tetapi untuk
survei berulang pada area yang luas akan didapat manfaat yang positif. Sistem otomatis
penuh sangat berguna untuk otoritas pelabuhan yang bertanggung jawab untuk
mempertahankan kedalaman dengan cara pengerukan di area pelabuhan yang luas atau
daerah di sekitarnya dan untuk kontraktor yang melaksanakan pekerjaan pengerukan skala
besar. Walaupun begitu, kehati-hatian sangat diperlukan ketika sistem otomatis digunakan.
Dalam perangkat lunak yang menginterpretasikan dan mengolah data tersebut
penyesuaian mungkin dilakukan sehingga mempengaruhi hasil akhir. Sebagai contoh,
suatu program yang didesain untuk pengukuran kedalaman yang aman untuk pelayaran
cenderung memberikan kedalaman minimum yang tercatat dan oleh karena itu perlunya
volume endapan yang lebih besar tidak terpercaya. Beberapa tingkat ketelitian atau
penyimpangan dapat muncul selama digitisasi pengukuran kedalaman dengan echo-
sounder.
Pengecekan penyimpangan yang terjadi pada pengukuran kedalaman dapat dilakukan
dengan interpretasi dan plotting manual dari rekaman analog echo-sounder dan dari
koreksi pasang untuk suatu area survei secara acak.

4.4 Kondisi dasar laut

Keadaan dasar laut yang alami merupakan hal yang penting untuk pekerjaan desain yang
meliputi pengerukan dan pemilihan alat keruk.
Beberapa karekteristik kondisi dasar laut dapat diukur secara langsung menggunakan alat
seperti scan-sonar dan echo-sounder. Karateristik lainnya tidak membutuhkan penyelidikan
secara visual oleh para penyelam.
Tekstur dasar laut dapat diperlihatkan oleh side-scan sonar. Alat ini juga mengindikasikan
adanya singkapan batuan, pembentukan beting, di dasar laut jaringan pipa, bangkai kapal
karam, sampah atau debris umum.
Pemetaan terumbu karang, rumput laut dan lain-lain dapat dilakukan dengan
menggunakan citra satelit. Teknik ini menganalisis pantulan sinar matahari dari dasar laut
pada kedalaman 3 m hingga 25 m, tergantung pada kejernihan air.
Pada umumnya, bentuk permukaan dasar laut yang lebih rinci perlu dipastikan oleh
penyelam atau kamera bawah laut.

4.5 Pengukuran arus

Penentuan kecepatan dan arah arus perlu dilakukan untuk mengetahui kemungkinan
distribusi sedimen tersuspensi, kinerja alat keruk dan stabilitas dasar laut. Variasi
kecepatan dan arah arus terjadi dari dasar ke permukaan laut pada keadaan pasang yang
berbeda yang dipengaruhi oleh fluktuasi debit sungai dan pada musim yang berbeda
dalam setahun.

16 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Current meter dapat digantung dari kapal atau dapat dipasang pada pelampung berjangkar
dan ditinggalkan untuk merekam secara otomatis. Rekaman yang meliputi pasang
purnama dan perbani harus diperoleh selama satu periode setidaknya 2 minggu untuk
mendapatkan petunjuk mengenai kecepatan dan arah arus. Kecepatan arus paling besar
kebanyakan terjadi ketika tunggang pasang tertinggi. Pengukuran arus dapat dilakukan
dengan metode lain, seperti float tracking.

4.6 Tinggi dan arah gelombang

Rekaman gelombang harus dikumpulkan selama mungkin sebelum pelaksanaan pekerjaan


pengerukan. Jika tidak dapat diperoleh data periode yang panjang, maka rekaman selama
periode musim barat dan timur atau periode yang secara normal termasuk kondisi
gelombang yang sangat ganas harus tersedia.
Jika kemarau, maka data gelombang selama musim kemarau harus diketahui. Rekaman
harus meliputi data detail mengenai tinggi, periode dan arah gelombang serta durasinya
terutama selama kondisi ekstrim.
Tinggi dan periode gelombang diukur dengan menggunakan alat pelampung atau yang
dipasang di dasar. Alat yang lebih canggih dapat mengukur arah gelombang. Jika terjadi
kondisi gelombang yang kompleks, arah gelombang sebagai alternatif dapat diukur dengan
radar yang dipasang di pantai atau dengan satelit.

4.7 Pasang surut

Mengingat kebanyakan pekerjaan pengerukan berlokasi dalam perairan dekat pantai yang
termasuk perairan dangkal dan sempit, maka variasi muka laut yang dihasilkan dari
fluktuasi pasang surut merupakan hal yang sangat penting. Untuk pelabuhan standar,
catatan data pasang surut telah tersedia dan peramalan pasang surut telah dipublikasikan
dalam bentuk tabel. Koreksi terhadap ramalan pasang surut untuk pelabuhan utama dapat
dilakukan menggunakan metode dasar sehingga menghasilkan perkiraan pasang surut di
pelabuhan sekunder.
Jika tidak ada hasil pencatatan atau peramalan, maka muka pasut harus diamati selama
beberapa siklus pasut untuk menunjukan hubungan sebenarnya antara kondisi lokal dan
kondisi pelabuhan standar terdeka. Pengamatan minimum pasut dapat dilakukan pada
periode pasut perbani selama minimal 24 jam kemudian pada periode pasut purnama
selama 24 jam juga. Secara ideal, observasi pasang kontinu harus dibuat untuk periode
setidaknya 15 hari dan lebih baik 29 hari. Catatan pasang surut dapat diperoleh dengan
pemasangan AWLR, periskal sederhana yang dipasang di pantai atau alat ukur pasang
surut pneumatik yang diikatkan ke suatu bidang datum yang telah ditentukan.

4.8 Temperatur dan salinitas air

Di daerah tropis pengaruh temperatur air yang tinggi dan salinitas yang tinggi relatif
penting dalam hubungannya dengan pekerjaan di lokasi pengerukan.
Temperatur dan salinitas air juga mempengaruhi kerapatan dan kedalaman air serta
kinerja alat survei kedalaman seperti echo sounder.
Investigasi lokasi untuk proyek dalam daerah tropis atau daerah dengan temperatur tinggi
harus meliputi pengukuran secara teratur dari temperatur dan kadar garam; khususnya
selama fase musim yang lebih ekstrim.

17 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

4.9 Padatan tersuspensi

Sedimen dalam suspensi dapat mempengaruhi aspek-aspek desain dalam pekerjaan


pengerukan. Formasi alat keruk yang memotong jalur deposit yang bergerak akan memicu
laju pelumpuran yang besar sehingga pemeliharaan alat menjadi besar. Konsentrasi
sedimen harus diukur dengan pengambilan contoh pada titik-titik kedalaman selama siklus
pasang surut.
Biasanya pengambilan contoh pada beberapa lokasi dalam area proyek pekerjaan perlu
dilakukan untuk membentuk pola variasi lokal yang mungkin terjadi dan untuk menentukan
arah angkutan sedimen primer.

4.10 Angkutan sedimen

Selain angkutan sedimen dalam bentuk suspensi, ada angkutan yang signifikan di atau
dekat dasar laut. Hal ini terutama terjadi untuk sedimen butiran yang berada di daerah
pecah gelombang atau dalam daerah yang dipengaruhi gelombang.
Angkutan sedimen di dasar laut biasanya tidak mempengaruhi alat keruk. Walaupun
begitu, hal tersebut berpengaruh besar pada kelayakan pemeliharaan kanal dan area yang
dikeruk lainnya. Masalah khusus dapat timbul di daerah dekat pantai dimana angkutan
sejajar pantai dilintasi oleh alur pelayaran atau bangunan pelabuhan. Jika laju angkutan
tinggi, akan menjadi mahal dan mungkin tidak praktis untuk mempertahankan kedalaman
kanal yang memadai. Masalah lebih jauh dapat timbul jika aktivitas pengerukan yang
diperlukan untuk memelihara kedalaman kanal menyebabkan "downdrift shore-line" tidak
mendapakan material urugan sehingga terjadi regresi garis pantai dengan menghilangkan
downdrift shore-line dari material renourishment dengan regresi subsekzient shore-line.

4.11 Penyelidikan tanah

4.11.1 Umum
Sifat-sifat geoteknik tanah yang akan dikeruk pada dasarnya akan mempengaruhi kinerja
alat keruk.
Pada banyak pengerukan, kedalaman tanah yang harus dipindahkan terbatas hanya
beberapa meter. Metode penyelidikan tanah yang relatif sederhana mungkin cukup, seperti
metode vibrocorirag. Sebaliknya, jika yang harus dikeruk berupa material sulit seperti
batuan, maka tak ada alternatif lain yaitu harus mendapatkan contoh dengan cara
pemboran dari bangunan terapung.
Penyelidikan harus dilakukan dalam daerah yang direncanakan akan dikeruk. Kita tidak
dapat menggantungkan pada penyelidikan lain di luar daerah yang diusulkan, meskipun
hasil dari penyelidikan tersebut harus diperiksa dan digunakan bila perlu.
Profil geologi batas pantai hampir selalu kompleks. Penyelidikan tanah yang kurang baik
akan meningkatkan biaya dari pekerjaan tambahan karena kondisi tanah yang tidak
diketahui lebih dulu. Petunjuk awal dapat dilihat pada Tabel 4.

4.11.2 Metode survei dan penyelidikan lokasi


4.11.2.1 Umum
Banyak metode dan alat-alat yang digunakan pada penyelidikan tanah di daratan dapat
digunakan pada pekerjaan di laut. Untuk penyelidikan tanah, metode yang biasa digunakan
adalah shell dan auger.

18 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

4.11.2.2 Profil seismik refraksi


Dalam metode refraksi, kecepatan perambatan energi akustik diukur melalui dasar laut.
Untuk mendapatkannya, suatu pulsa energi akustik dilepaskan dengan bahan peledak,
sparker, air gun, dll. Sumber energi akustik dapat dipasangkan atau diikatkan pada
rangkaian hydrophone atau diletakkan secara bebas di dasar laut. Pemilihan sumber
energi akustik dan rangkaian hydrophone bergantung pada kondisi lokasi pekerjaan dan
pertimbangan kebutuhan pada tahap perencanaan.
Kecepatan nyata yang terekam diantara dua hydrophone adalah kecepatan rambat dalam
suatu lapisan energi direfraksikan. Dengan cara ini profil vertikal dapat ditentukan dan
kedalaman titik perubahan kecepatan dapat dihitung. Keuntungan metode ini adalah
bahwa kecepatan energi yang direfraksikan akan berkurang ketika melewati sesar atau
zone retakan. Hal ini memungkinkan untuk diperkirakannya kualitas batuan sepanjang arah
horizontal dari rangkaian hydrophone tersebut.
Metode refraksi melengkapi metode refleksi dapat memberikan hasil yang memuaskan jika
metode refleksi memiliki tingkat penetrasi yang lemah atau resolusinya kurang baik akibat
adanya sedimen organik, permukaan dasar laut yang berbutir kasar, buruknya kualitas
reflektor, variasi geologi yang berubah-ubah atau gangguan dari reflektor di perairan
dangkal.
Kelemahan metode ini adalah sulitnya pemasangan sumber energi akustik dan rangkaian
hydrophone di dasar laut pada posisi yang diketahui. Gelombang, arus, angin dan
kedalaman perairan dan lain-lain membuat pekerjaan lebih lambat daripada metode
seismik refleksi. Kekurangan lain adalah bahwa data lapangan tidak dapat
diinterpretasikan secara langsung, tetapi harus diproses lagi untuk mendapatkan hasil
terbaik. Keuntungan metode ini adalah dapat memberikan petunjuk mengenai material
tanah yang dapat dikeruk secara langsung atau mungkin memerlukan pendekatan
pendahuluan.

4.11.2.3 Seismic reflection profiling


Pada metode refleksi, suatu pulsa energi akustik direfleksikan oleh dasar laut dan lapisan
di bawahnya yang memberikan hasil akustik berlawanan akibat bertambahnya kerapatan
batuan dan atau kecepatan.
Energi akustik dilepaskan oleh suatu piezoelectric atau transduser elektromekanik,
sparker, air gun, dll., dan memiliki nama generik `echo sounder', `pinger', `boomer',
`sparker', dan `airgun' dan secara progresif meningkatkan output energi akistik dari yang
terlemah sampai terkuat. Sinyal energi yang direfleksikan dideteksi oleh transduser atau
oleh sebuah rangkaian hydrophone yang diikatkan di buritan kapal dan dilewatkan pada
kertas pencatat atau digitisasi.
Lapisan di bawah dasar laut ditampilkan secara grafis oleh alat perekam seperti rekaman
perum gema dalam atau geophysical time section dengan beberapa reflekstor seismik
yang dapat diidentifikasi sebagai lapisan geologi.
Kelebihan metode ini adalah kecepatan pengambilan data dan presentasi real-time data
sebagai satu bagian. Oleh karena itu, perlu dimengerti sepenuhnya hubungan antara
energi akustik, frekuensi sinyal, resolusi dan penetrasi untuk memilih peralatan yang
optimum di lokasi penyelidikan. Gambar 7 memperlihatkan suatu hubungan umum antara
sejumlah faktor-faktor tersebut yang dapat digunakan untuk membantu pemilihan awal
sumber akustik.
Frekuensi yang lebih tinggi akan menurun terhadap kedalaman oleh karena itu penetrasi
hanya dapat dicapai pada frekuensi rendah. Makin rendah frekuensi, maka resolusi dari
lapisan tipis pun makin rendah. Makin kasar material lapisan di bawah dasar laut, maka
penyerapan energi lebih besar dan penetrasinya lebih sedikit.

19 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Sinyal echo sounder tidak akan menembus jauh ke dasar laut yang dapat diukur, kecuali
lumpur halus. Suatu sinyal pinger akan menembus pasir tetapi energinya yang rendah
akan terserap dengan cepat dan hanya memberikan penetrasi beberapa meter meskipun
resolusi dan akurasi yang dihasilkan cukup tinggi. Sinyal dari sebuah boomer akan
menembus pasir sampai kedalaman beberapa puluh meter dengan resolusi dan akurasi
yang cukup baik. Metode ini merupakan gabungan terbaik antara biaya, massa dan kinerja
untuk sebagian besar penyelidikan lokasi dan pekerjaan survei. Sebuah sparker dapat
memberikan kekuatan yang lebih besar dibandingkan boomer dan mampu melakukan
penetrasi lebih jauh meskipun solusinya rendah. Karena satu sistem memberikan
interpretasi lengkap, maka sebaiknya digunakan dua cara atau lebih sekaligus. Kombinasi
yang biasa digunakan untuk penetrasi yang lebih dalam adalah echo sounder, boomer dan
sparker sedangkan untuk penetrasi dangkal adalah echo sounder, pinger dan boomer.
Percobaan yang dilakukan di laut selama beberapa jam perlu dilakukan untuk menentukan
kecepatan kapal, perputaran baling-baling dan penyusunan instrumen sehingga dihasilkan
rekaman data seismik sejelas mungkin. Kondisi laut, terutama gelombang akan
memberikan pengaruh terhadap kualitas rekaman. Pekerjaan tidak dapat dilaksanakan
dengan baik jika keadaan laut melebihi 3 pada skala Beaufort. Jika transduser diletakan
dibawah permukaan, maka pengaruh gelombang dapat dikurangi tetapi ketidakstabilan
kapal survei akan mengurangi kualitas rekaman. Dalam hal ini dapat digunakan
kompensator swell untuk memperluas kemungkinan kerja jika digunakan peralatan yang
diletakan di permukaan. Lubang bor untuk korelasi harus dibuat posisi terpilih untuk
membuktikan kondisi geofisiknya.

4.11.2.4 Marine magnetometer profiling


Magnetometer laut mendeteksi dan merekam medan magnetik total bumi di dekat dasar
laut. Logam besi yang terdapat di dasar laut atau sedikit di bawah dasar laut akan
mempengaruhi medan magnetik tersebut dan menyebabkan anomali magnetik yang dapat
dideteksi oleh magnetometer tersebut.
Anomali magnetik dapat disebabkan oleh adanya tanggul yang kaya kandungan besinya
dan corak geologi yang serupa.

20 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Tabel 4 Prosedur penelitian dan pengambilan contoh untuk pengambilan pengerukan


Peralatan Gangguan Pengujian
Jenis batu / Rotary drilling Contoh tak Pengujian Pengujian vane
Pengeboran dalam air terhadap penetrasi Metode geofisika
tanah terganggu 2) penetrasi statik in situ
(dasar laut) sample 2) dinamik 3)
Batu Metode terbaik untuk NA¹) Berguna untuk Inti menunjukan Pemotongan pada Hanya digunakan NA NA Berguna untuk
mendapatkan contoh memperoleh contoh contoh batu pada fluida drill dapat untuk tanah lunat menetapkan keadaan
ini dengan sempurna inti dengan dasarnya yang tak dilakukan untuk atau padakarang geologi pada suatu
pada in situ penetrasi terbatas mengalami mengidentifikasi area yang besar.
gangguan lapisan tak tertutup Dapat membantu
(non-recovered) untuk
Bongkah/kerakal Dapat digunakan Pemahatan NA Kerikil diperoleh NA NA NA NA Menentukan grid
untuk menembus diperlukan untuk sebagai contoh lubang bor dan
dan memperoleh menembus batas mengisi details antara
contoh inti lapisan borings dan drillings
Kerikil kecil NA Metode yang NA Kerikil sebagai Digunakan dengan NA Tetapi, metode
digunakan pada sampel tak dapat cone memberikan semacam itu masih
penelitian lokasi dilakukan kecuali prakiraan kepadatan memerlukan
untukmemperoleh dalam kondisi (compactness) in situ interpretasi lebih jauh.
contoh yang tersemen
Pasir NA representative dan Tersedia Tersedia contoh Diperoleh dari Berguna untuk Sangat sulit NA Sangat berguna jika
tak terganggu dan bermacam-macam patent, sulit pengeboran pada memperkirakan menembus batuan kondisi tanah/batu
untuk memperoleh alat untuk memperoleh tins atau bags. kepadatan in situ kerikil kasar relatifsederhana.Jika
hasil pengujian memperoleh contoh sampel padakondisi Harus representatif pada waktu yang terjadi perubahan
lapangan (in situ) yang terganggu (yaitu hanya dari sama dengan kecil dalam strata
representative, horizontal tunggal) memperoleh contoh densitas, perlu
Lumpur NA tetapi pada Jika kohesif dapat merupakan dasar Dapat digunakan tapi Metode yang Berguna untuk Hati-hati dalam
umumnya menggunakan untuk identifikasi perlu interpretasi berguna untuk memperkirakan melakukan
membatasi contoh inti untuk variasi strata secara hati-hati menentukan sifat in kekuatan geser interpretasi
kemampuan tanah liat,selain itu situ dan tingkat tapi perlu hati-hati
penetrasi lihat pasir kekerasan lapisan dalam melakukan
interpretasi
Lempung NA Tersedia variasi Diarea dengan Sangat berguna
contoh inti tak variasi tanah untuk elevasi
terganggu sangat sedikit, kekuatan geser
mungkin berguna
Gambut NA Tersedia variasi Untuk menambah Berguna untuk
contoh inti tak informasi tentang memperkirakan
terganggu lubang bor kekuatan geser
tapi perlu hati-hati
dalam melakukan
interpretasi
NA = tak dapat digunakan

1) Biasanya ukuran inti maksimum (atau mendekati) yang diutmakan untuk batuan masif adalah 55 mm dan minimum 70 mm biasanya dianjurkan untuk batuan yang lemah dan
mudah hancur. Meskipun demikian, untuk hasil yang lebih baik dianjurkan pengutamaan batu berukuran 100 mm sampai 150 mm.

2) Perhatian lebih perlu diberikan dalam penelitian dan pengambilan contoh. Jika memungkinan, contoh batuan harus dipertahankan dalam kondisi hampir sama dengan kondisi
semula. Contoh tanah yang terganggu/tak terganggu, terutama contoh inti material kohesif harus dilindungi dari kehilangan kelembaban alaminya. Jangan lupa memberi nama
pada setiap contoh mm.

21 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Komentar terhadap Tabel 4 menggunakan penyelam atau menggunakan remote control dari
Komentar umum permukaan. Perhatian perlu ditujukan pada vibrocores dan
gravitasi contoh sebagai metode pengambilan contoh untuk
lapisan atas bersedimen halus. Saat ini, contoh khusus dari
Pada umumnya, penyelidikan lokasi harus dilakukan oleh bawah air telah dikembangkan untuk investigasi pengerukan. Alat
orang yang benar-benar ahli, mulai dari peneliti pemerintah tersebut meliputi remote control untuk melakukan uji penetrasi
sebagai organisasi sampai ahli geoteknik dari pihak kontraktor. atau mengambil contoh tanah dan batuan dengan coring
Siapapun yang melakukan pekerjaan, hal yang utama adalah (pemboran) atau penetrasi.
bahwa pekerjaan diawasi dengan baik dan pekerjaan ditangani
oleh kru yang terlatih serta peralatan yang terawat dengan Self-elevating platforms
baik.
Sebagian besar penyelidikan lokasi untuk pekerjaan pengerukan
Penyelidikan untuk pekerjaan pengerukan biasanya meliputi dilakukan dari pontoon atau kapal laut. Meskipun demikian
pekerjaan di atas air dan perlu diperhatikan bahwa ahli dan penggunaan self-elevating platforrns merupakan cara yang
pekerja yang biasa bekerja dengan peralatan di darat, belum hampir sama dengan penyelidikan dengan alat-alat di darat (land-
tentu dapat bekerja dengan alat terapung. base) dan menimbulkan mutu informasi yang diperoleh.
Dianjurkan untuk mencari informasi sebanyak mungkin
mengenai elevasi dari konfigurasi endapan dan asalnya. Percobaan pengerukan
Endapan dari struktur yang kompleks memerlukan
penyelidikan yang lebih detail daripada endapan yang memiliki Mungkin ada beberapa pekerjaan dengan kondisi geologi yang
profil dan struktur umum. Jumlah penyelidikan juga bergantung rumit atau keadaan khusus lainnya sehingga diperlukan
pada luas daerah kajian yang akan dikeruk. pengujian pengerukan. Pada kasus lain, hasil pengerukan
terdahulu mungkin berguna. Pada semua kasus, harus diketahui
Uji pengeboran harus mencapai jarak tertentu di bawah kondisi yang relevan secara detail, meliputi informasi limbah
kedalaman yang akan dikeruk; hal ini mempertimbangkan pengerukan/buangan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif,
pengerukan ulang atau penambahan kedalaman yang dan pendekatan mana yang akan digunakan. Perlu perhatian
mungkin diperlukan dikemudian hari. Pada daerah berpasir lebih untuk para pekerja dalam menggunakan informasi yang ada
(misalnya untuk tujuan reklamasi), pengeboran harus dan bagi kontraktor dalam menginterpretasi informasi ini.
menembus sampai kedalaman yang cukup.
Direksi/pemberi kerja harus memberikan informasi yang keran
Prosedur investigasi dan kontraktor harus berhati-hati dalam menginterpretasikan
informasi yang diterimanya.
Sebagian besar prosedur pengambilan contoh dan investigasi
telah diturunkan berdasarkan teknik yang berlaku di darat.
Beberapa teknik telah digunakan dan dalam pengembangan
lebih lanjut untuk operasi di bawah air di dasar laut dengan

22 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Tabel 5 Penerapan dari sistem geofisika

Hubungan antara
Sistem yang
Jarak Kontrol pengambilan
Tujuan survei akan Kontrol vertikal
garis horizontal contoh dengan
digunakan
pengujian in situ

500 m2 Penentuan Peramalan pasut Angkutan udara


Echo sounder posisi pada pelabuhan Vibrocore
Penyelidikan pada standar Grab
Boomer dengan radio
tanah dan kerikil
Sparker jarak-panjang
kecil
Side-scan sonar Satelit navigasi
Radar
Pengerukan untuk Echo sounder 50 - 100 m Penentuan Pengamatan pasut Grab
pembuatan kanal Boomer dengan posisi pada lokasi tertentu Vibrocore
Sparker garis lintas dengan radio Borehole
Side-scan sonar pada 200 - jarak-sedang Dutch cone
Magnetometer 500 m Optis

Trenching dan Echo sounder 20 m Penentuan Pengamatan pasut Gravity


pemilihan rute Pinger dengan posisi pada lokasi tertentu Vibrocore
untuk jalur pipa, Boomer garis lintas dengan radio atau pemasangan Borehole
sea outfalls dan Side-scan sonar pada 100 jarak-sedang palem pasut setiap Dutch cone
jalurkabel Maguetometer m dengan proses 201an sepanjang Pressuremetcr
komputer rute.

Sebagai suatu aturan umum, sebuah magnetometer harus dapat mencatat anomali dari
100 kg besi pada jarak 10 m dari tambatan alat penangkap ikan. Dengan demikian, ada
banyak faktor yang mempengaruhi pengukuran.
Metode yang digunakan untuk mencarian harus dipandang secara kualitatif dan semua
anomali yang dapat diukur harus diselidiki oleh penyelam. Jika anomalinya tidak terlihat,
mungkin perlu menyingkirkan sedimen dengan semprotan yang menghalangi sehingga
objeknya terbuka.
4.11.2.5 Gravity sampling
Gravity sampler adalah alat berat berupa tabung terbuka yang diturunkan kedasar laut
dengan kabel atau dijatuhkan secara bebas sehingga memasuki dasar laut dengan suatu
momentum yang memaksa contoh untuk masuk ke dalam tabung. Kelebihan utama dari
sistem ini adalah biaya yang rendah serta pelaksanaan yang cepat dan pada lumpur
aluvium yang sangat lunak mampu menembus cukup jauh dan mungkin mencapai
kedalaman material 6 m.
Kekurangan sistem ini adalah daya tembus yang kecil pada material selain keras,
sehingga contoh yang diperoleh sangat terganggu.
Side-scan sonar merupakan alat yang cukup baik untuk penyelidikan lokasi dan juga
yang dilakukan pada pengukuran batimetri.
4.11.2.6 Vibrocoring
Metode pengambilan contoh dengan tabung terbuka ini memanfaatkan fakta bahwa
materil granular akan mencair jika tervibrasi sehingga terjadinya penetrasi tabung lebih
mudah. Dengan demikian contoh, material granular atau material lunak yang relatif tak
terganggu akan terampil secara lebih cepat.

23 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Kurangnya kontrol posisi vibrocorer di laut merupakan salah satu kekurangan.


Kekurangan lebih lainnya adalah keterbatasan penetrasi dan pengambilan contoh belum
tentu terambil dan kerapatan dari contoh yang terambil mungkin berubah akibat vibrasi.

Penggunaan grafik
Tentukan penetrasi dibawah dasar laut yang diinginkan dan ikuti grafik untuk mengetahui resolusi yang
umumnya diperoleh di pasir. Sebagai alternatif, tentukan resolusi dan lihat apakah penetrasi di pasir
memungkinkan. Jika kedua nilai dapat diterima, ambil perpotongan dengan grafik untuk mendapatkan sistem
profiling dan perpotongan vertikal dangan sumbu untuk mendapatkan frekuensi operasi serta kekuatan yang
harus digunakan pada sistem profiling tersebut. Grafik ini hanya berlaku jika arah panah diikuti.
CATATAN 1. Jika sedimen lebih kasar daripada pasir, maka penetrasinya lebih kecil, resolusi kurang baik dan
diperlukan kekuatan yang lebih besar untuk dapat menembus dasar laut.
CATATAN 2. Jika sedimen lebih halus daripada pasir, maka penetrasinya lebih besar, resolusi lebih baik dan
kekuatan yang diperlukan lebih kecil untuk menembus dasar laut.
CATATAN 3. Kerikil atau material kasar di permukaan dasar laut akan mengacak energi sehingga diperlukan
kekuatan yang lebih besar atau mungkin sumber energi dari sparker atau airgun untuk mencapai penetrasi
yang diinginkan.
CATATAN 4. Tanah liat mengandung materi organik dan gas yang menyerap energi sehingga tidak mungkin
untuk menembus di bawahnya.
CATATAN 5. Grafik ini merupakan generalisasi dari penentuan profil dengan seismic reflection dan mencakup
konsep yang luas mengenai pengangan data. Jika diperlukan prakiraan yang lebih detail dianjurkan untuk
berkonsultasi dengan ahli geofisika.

Gambar 7 - Sistem penentuan posisi dengan seismic reflection (berdasarkan pada


peralatan yang biasa digunakan pada material berpasir)

24 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Kelebihan vibrocorer adalah penanganan contoh yang relatif cepat dan murah
dibandingkan dengan shell dan auger boring dan dapat digunakan untuk melengkapi
contoh dari beberapa lubang bor untuk memperoleh informasi yang lebih banyak mengenai
lokasi dengan biaya lebih murah.

4.11.2.7 Jet probing


Penelitian dengan sebuah jet dilakukan dengan suatu pipa tipis yang mengeluarkan udara
atau air pada tekanan tinggi, menembus dasar laut lunak dengan panjang pipa yang dapat
terus ditambah hingga mencapai lapisan yang tidak dapat ditembus. Jenis yang mudah
dipindah-pindah secara umum terbuat terfabrikasi dari pipa air atau pipa gas dengan
sebuah mulut diujungnya. Alat ini sangat berguna untuk menentukan bidang antar muka
sedimen alluvial lunak dimana sedimen alluvial lunak terletak diatas material yang lebih
padat atau lebih keras.
Keuntungan utama metode ini biasanya dioperasikan dari kapal kecil. Salah satu
kekurangan adalah mungkin saja terjadi hal-hal tak berguna, misalnya adanya lapisan tipis
shell atau yang tak penting. Bergantung pada kedalaman perairan dan ketebalan sedimen,
akan terjadi deviasi dalam arah vertikal sehingga terjadi kelebihan perkiraan ketebalan
material lunak. Kekurangan lain adalah tak ada contoh yang dapat diambil dan tidak ada
aturan baku tentang tekanan yang harus diberikan. Karena keterbatasan tersebut, metode
ini seharusnya hanya digunakan sebagai pelengkap dari metode lain yang lebih baik.
4.11.2.8 Grab sampling
Grab sampler merupakan sebuah spring-loaded atau pengambil contoh yang diberi
pemberat yang diturunkan dengan menggunakan kabel sampai ke dasar laut. Ketika
menyentuh dasar laut, alat tersebut mengambil material permukaan dan penahannya
sampai dibawa ke kapal.

Cara ini relatif cepat dan alat yang kecil dapat digunakan dari kapal kecil di pera iran
dangkal. Operator dapat mengetahui perbedaan kondisi dasar laut antara tanah dan
batu/bongkah batuan dan berguna untuk memastikan tekstur dasar laut dari penelitian
dengan side-scan sonar dan penentuan profil seisimik refleksi. Grab berukuran besar
dapat melakukan pengambilan contoh dan tidak ada aturan baku tentang tekanan yang
harus diberikan. Karena keterbatasan tersebut, metode ini seharusnya hanya digunakan
sebagai pelengkap dari metode lain yang lebih baik.

4.11.2.9 Uji pengerukan


Uji pengerukan mungkin merupakan cara yang paling baik untuk memperkirakan kinerja
alat keruk yang akan digunakan pada suatu lokasi tertentu. Kecuali jika sudah tersedia alat
yang sesuai di lokasi, biaya uji pengerukan mungkin cukup tinggi, tetapi pada situasi
tertentu cara tersebut dianjurkan untuk dilakukan.
Jika kondisi tanah di area yang akan dikeruk sangat kompleks dengan jenis dan kekuatan
tanah yang bervariasi, maka pola pengambilan contoh dengan lubang bor atau metode lain
yang serupa mungkin tidak memberikan gambaran yang cukup representatif, sehingga
dianjurkan untuk digunakan metode uji pengerukan. Pada lokasi paritan atau kanal
melewati sedimen dengan stabilitas yang diragukan atau melintasi jalur angkutan sedimen
pembuatan suatu penampang uji coba dengan pengerukan, mungkin menunjukan cara
terbaik untuk memperkirakan kinerja bangunan jadi dan pemantauan terhadap pengujian
tersebut akan memberikan suatu peramalan yang akurat mengenai formasi akhir.
Uji pengerukan harus dilakukan pada situasi dimana tidak ada metode penyelidikan tanah
konvensional yang dapat mengambil contoh yang menggunakan kondisi tanah
sebenarnya. Hal ini meliputi lokasi-lokasi yang mengandung butiran berukuran yang tak
dapat ditangani secara langsung dengan metode pengambilan contoh normal misalnya
pada lokasi yang mengandung kerikil kasar, kerakal atau bongkah, terutama glacial origin.

25 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Tabel 6 Dasar umum untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi tanah untuk tujuan pengerukan

Ukuran partikel untuk


Tipe tanah Keadaan partikel dan
mengidentifikasi rentang Identifikasi Karakteristik kekuatan dan struktural
utama plastisitas
ukuran (mm)

Batu besar dan Lebih besar dari 200 Penyelidikan dan pengukuran visual Bentuk Partikel Tidak tersedia
kerikil 200 sampai 60 1) Bulat
Kerikil besar Kasar 60 sampai 20 Mudah diidentifikasi dengan Acak Mungkin ditemukan dalam bentuk tersemen pada dasar kerikil yang
Sedang 20 sampai 6 penyelidikan visual Bersudut merupakan batu konglomerat lunak. Kerikil keras mungkin terdapat
Halus 6 sampai 2 Berlapis dalam campuran dengan pasir
Pasir (lihat Kasar 2 sampai 0,6 Semua partikel mudah dilihat dengan Panjang Kekuatan endapan bervariasi dari endapan lepas, padat sampai
catatan 2) Sedang 0,6 sampai 0,2 mata biasa Panjang dan berlapis endapan tersementasi. Struktur mungkin homogen atau terstratifikasi.
Halus 0,2 sampai 0,06 Campuran dengan tanah liat atau lumpur mungkin menghasilkan pasir
Kohesi sangat kecil ketika kering keras.
Tanah liat (silt) Kasar 0,06 sampai 0,02 Pada umumnya partikel sulit dilihat Tak plastis atau Pada dasarnya tidak plastis tetapi karakteristiknya mungkin serupa
(lihat catatan 2) Sedang 0,02 sampai 0,006 dan hanya tanah liat berbutir kasar plastisitasnya rendah dengan pasir jika didominasi oleh pasir. Jika halus, menyerupai tanah
Halus 0,006 sampai 0,002 yang dapat dilihat dengan mata. liat dengan karakter plastis. Sangat jarang terjadi percampuran dengan
Penentuan terbaik adalah pengujian pasir halus atau tanalt liat. Konsistensi bervariasi dari lumpur cair
dilatansi 3). Material mungkin bersifat sampai lumpur keras hingga ` batu lumpur '
plastis, tetapi tanah liat dapat
dihancurkan ketika kering dan
dibubukan dengan tangan
Tanah liat Kurang dari 0,002 Tanah liat memperlihatkan kekuatan Plasitisitasnya sedang Kekuatan Kekuatan geser 4)
(clay) Pembedaan antara silt dan kohesi dan plastisitas yang kuat (tanah liat kurus - lean
clay tidak hanya dari tanpa dilatansi. Contoh yang lunak clay) Sangat Dapat ditekan dengan mudah kurang dari 20
Z
ukuran butir saja. Yang menempel pada tangan dan memiliki kN/m
lunak diantara jari
lebih penting adalah sifat sentuhan yang halus. Gumpalan Lunak Mudah dibentuk dengan tangan 20 kN/mZ - 40
fisisnya. kering tidak menjadi bubuk akan Plastisitasnya tinggi (tanah kNJmZ
Sedang Memerlukan tekanan kuat untuk 40 kN/m2 - 75
mengalami pengerutan dan liat gemuk - fat clay) kN/mZ membentuknya dengan jari
2
perpecahan selama proses Agak keras Tak dapat dibentuk dengan tangan 75 kN/m - 150
pengeringan dengan kekuatan yang kN/mZ dapat ditekan dengan ibu jari
tinggi. Keras Tetap tegar, sulit ditekan bahkan diatas 150 kNlm'
oleh kuku ibu jari
Struktur mungkin pecah, sempurna, homogen, terstratifikasi atau
hancur dimakan usia.
Peats dan Bervariasi Pada umumnya diidentifikasi dari Di alam, mungkin agak keras atau berongga. Struktur dan kekuatannya
tanah organik warna coklat atau hitam atau dengan bervariasi bergantung pada arah horizontal dan vertikal. Perlu
bau bahan organik yang kuat dan diperhatikan ada atau tidaknya gas.
adanya materil berkayu
Catatan 1. Meskipun mungkin dilakukan dengan penyelidikan dan pengamatan secara visual, tetapi satu indikasi harus diberikan terhadap partikel seperti prosentase dari ukuran yang
berbeda.
Catatan 2. `Pasir' dan `tanah liat' menunjukkan ukuran partikel. Bentuk pasir tidak terbatas hanya pada pasir kuarsa tetapi juga pasir kapur, logam besi, dll. Tanah liat juga menunjukkan
ukuran
bukanbutir,
sebuah konsistensi. Bentuk konsistensi, seperti `fresh harbour silts, muds', seharusnya tidak digunakan.
Catatan 3. Dilatansi adalah sikap yang diperlihatkan oleh tanah liat sebagai reaksi dari pengadukan. Jika sampel yang agak lembab diletakan di tangan terbuka dan diaduk, maka air akan
muncul ke permukaan sampel menampakan permukaan yang mengkilat, sedangkan tanah liat yang plastis tidak akan menunjukkan reaksi demikian.

Catatan 4. Kekuatan geser didefinisikan sebagai kekuatan geser seketika ditentukan dengan penerapan prosedur pengujian di lokasi atau di laboratorium.

26 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Komentar terhadap Tabel 6 Tanah halus


Pada tanah halus, perlakuan telatis
Penjelasan mengenai tanah seharusnya dihubungkan dengan suatu
Umum penjelasan yang memperhitungkan pengaruh
yang terlihat pada fraksi tanah liat (silt atau
Pada prakteknya, tak ada runtuhan tanah yang
clay). Sebagai contoh, proporsi kecil material
secara tepat menentukan jenis tanah utama.
berukuran tanah liat (clay) dapat menyatakan
Oleh karena itu perlu penjelasan yang lebih
sifat kohesif untuk suatu tanah komposit dan
akurat dan dapat dipahami mengenai hal ini.
cukup untuk memperkuat penjelasan
Hal tersebut mungkin saja dilakukan dengan
mengenai tanah sebagai suatu tanah liat
menggunakan sebuah kata benda untuk
(clay). Perbedaan antara fraksi silt dan clay
menunjukkan komponen utama dari tanah
merupakan faktor penting karena perilaku
kompleks dan kata sifat untuk menunjukkan
keduanya berbeda. Sebagian besar penunjuk
komponen lain yang terdapat dalam jumlah
sifat dalam suatu proporsi relatif silat dan clay
kecil. Kata benda harus dinyatakan sebagai
adalah plastisitasnya.
penunjuk komponen dasar, yaitu salah satu
penentu sifat tanah.
Setiap penjelasan mengenai tanah harus
Prakiraan kandungan boulder dan cobble
mengandung beberapa indikasi mengenai
karakteristik berikut. Pada banyak kasus (terutama di Scandinavia),
(a) struktur (yaitu ketahanan terhadap kandungan boulders dan cobbles
penetrasi, kepadatan);
menyebabkan masalah dalam pekerjaan
(b) untuk tanah yang berbutir-butir, distribusi pengerukan. Sayangnya, penelitian mengenai
kuantitatif ukuran butir dapat dinyatakan endapan tersebut sangat sulit dilakukan
sebagai kurva ukuran dan menunjukkan padahal prediksi yang tepat mengenai
indikasi mengenai bentuk butir; kandungan boulder dan cobbles sangat
(c) untuk tanah kohesif, kekuatan geser (shear
penting.
strength); Prakiraan tak langsung mengenai kandungan
(d) bau dan warna boulder dan cobbles dapat dilakukan dengan
(e) untuk peats, penambahan dekomposisi. menganggapnya sebagai suatu bentuk
Selain itu, untuk tanah komposit, karakteristik formasi, komposisi dari sampel laboratorium
utama harus diketahui berdasarkan bahan dan hasil sounding.
yang mendominasi tanah. Sebagai referensi, dapat dilihat dalam hal yang
Jika memungkinkan, kurva derajat ukuran meliputi pokok-pokok berikut.
harus ada. Tetapi jika kurva ukuran tidak ada (a) Mode formasi. Mode/bentuk formasi
atau sangat terbatas, maka hal yang perlu memberikan indikasi yang baik mengenai
diketahui adalah prosentase massa dari kandungan boulders dan cobbles dalam
beberapa fraksi tanah. tanah. Sebagai contoh, kandungan
Penjelasan yang harus diberikan meliputi : boulder dalam tills (material yang
(i) keras, pecah, tanah liat kelabu; dipindahkan oleh lapisan echo sounder
(ii) lepas, kuning, bulat, kerikil berukuran ketika echo sounder mencair) dapat
sedang dan pasir kasar yang diasumsikan sebagai berikut.
mengandung kulit kerang; Jenis tills Kandungan boulder
(iii) lunak, kelabu/biru, tanah liat berpasir; Butir kasar Tinggi
(iv) lunak, hitam, clayey, berserat, bau yang Butir campuran Sedang sampai tinggi
kuat; Butir halus Rendah sampai sedang
(v) cokelat, bulat, padat, pasir halus; Perlu diperhatikan bahwa tills berbutir halus
(vi) dipadatkan, kasar, pasir bersudut dapat memiliki kandungan cobbles yang tinggi
bercampur dengan kerikil acak; meskipun kandungan bouldernya rendah.
(vii) keras, tanah liat coklat mengandung pasir Untuk pembahasan yang lengkap mengenai
dan kerikil; harga-harga petunjuk untuk pembagian tanah
mineral berdasarkan kandungan bermacam-
macam fraksi, dapat dilihat pada tabel 5, 6 dan
7.
Meskipun telah dibuat penjelasan lengkap
(b) Komposisi pada sampel laboratorium.
mengenai tanah, tetapi sampel yang
Komposisi pada sampel di laboratorium
representatif harus disediakan dalam suatu
juga dapat memberikan prakiraan
tempat yang berbeda sehingga dapat
mengenai kandungan boulder. Karena
dilakukan penelitian lebih lanjut pada sampel
keterbatasan kapasitas alat pengambil
yang tetap segar.
sampel, maka sampel tidak dapat
memberikan indikasi langsung mengenai

27 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

kenumgkinan ada/tidaknya kandungan


boulder/cobble dalam tanah tetapi tetap
dapat dilakukan penggambaran dari
kesimpulan yang ada.
Jika sampel tanah diklasifikasikan sebagai
gravel atau jika sampel mengandung sedikit
cobble, maka ada alasan untuk mencurigai
adanya kandungan cobble dan boulder dalam
jumlah besar. Tanpa adanya penyelidikan dan
perencanaan, bahkan pasir sekalipun tidak
dapat diasumsikan benar-benar bebas dari
cobble (misalnya pasir aeolian). Meskipun
demikian, kandungan boulder biasanya sangat
rendah. Jika koefisien keseragaman CU (yaitu
D 60 / D 10 ) tinggi (lebih besar daripada 10)
maka kemungkinan adanya gravel cobble dan
boulder perlu dicurigai, bahkan dalam suatu
endapan sedimen.
(c) Hasil pengujian penetrasi. Berdasarkan
penelitian, sinar dan suara dapat
dihentikan oleh boulder dan cobble besar.
Berikut ini petunjuk untuk mengindikasikan
adanya boulder dan cobble :
(1) jika penghentian terjadi pada kedalaman
yang bervariasi dalam lubang yang
berdekatan;
Dalam pembahasan ini, tanah halus biasanya
dikategorisasikan berdasarkan sifat
plastisitasnya, pada suatu dasar hubungan
antara batas plastis dan batas liquid. Untuk
keperluan tersebut, dapat digunakan diagram
plastisitas dimana mineral dan tanah organik
dibagi oleh suatu garis "A" (setelah
Casagrande). Tanah yang diplot dibawah garis
A didominasi oleh silt dan tanah yang diplot
diatas garis A didominasi oleh clay.
(2) jika penambahan tahanan terjadi secara
acak.
(3) jika penghentian terjadi pada kedalaman di
bawah kedalaman bed rock.
Penyelidikan tidak seperti untuk menjumpai
cobble atau boulder jika kedua jenis batuan
tersebut hanya terjadi untuk suatu derajat kecil
saja. Hanya sedikit penghentian yang telah
dilakukan dapat mengindikasikan kandungan
cobble dan boulder.

28 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Kinerja alat keruk dan formasi hasil kerukan harus dipantau selama uji coba dan
parameter kunci harus ditentukan sebelumnya dengan baik dan dicatat dengan hati-hati
selama pelaksanaan pekerjaan. Perubahan cuaca selama percobaan tersebut, harus
dilihat untuk memperkirakan kinerja alat yang digunakan.

4.11.3 Klasifikasi tanah

Klasifikasi tanah dilakukan dengan mengelompokkan tanah yang memiliki sifat-sifat


serupa. The British Soil Classification System (BSCS) untuk tujuan teknik diperlihatkan
pada Tabel 8. The Permanent International Association of Navigation Congresses
(PIANC) telah menghasilkan klasifikasi tanah khusus untuk pengerukan meliputi
kekuatan tanah dan karakteristik struktur (lihat Tabel 6). Untuk tujuan pengerukan
dianjurkan menggunakan klasifikasi dari PIANC atau BSCS. Semua klasifikasi tanah
memiliki kegunaan dan penerapan masing-masing, sehingga nama klasifikasi yang
digunakan untuk menggambarkan contoh tanah perlu disebutkan.

4.12 Pengujian tanah di laboratorium dan di lapangan

Untuk pengujian-pengujian yang dianggap penting dalam pekerjaan pengerukan bisa


dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8. Tabel 7 menunjukkan jenis pengujian yang biasanya
dilakukan di laboratorium dan pengujian in situ dengan tujuan penentuan klasifikasi.
Pengujian di laboratorium harus dilakukan terhadap contoh yang masih baru dan contoh
yang diambil harus benarbenar representatif.

4.13 Pengujian batu di laboratorium dan in situ

4.13.1 Umum
Karena banyaknya sifat batuan yang mempengaruhi bagaimana batu akan di bor,
diledakan atau dikeruk, maka perlu dilakukan klasifikasi yang benar terhadap batuan dan
pengujian yang akan dilakukan terhadapnya untuk menentukan sifat-sifatnya.

4.13.2 Pengujian di laboratorium


Sifat-sifat batuan berikut ini merupakan informasi yang penting untuk memperkirakan
apakah batuan dapat dikeruk dan cara pengerukan dengan atau tanpa perbaikan
pendahuluan:
(a) kerapatan;
(b) kekerasan;
(c) ketahanan terhadap abrasi (abrasiveness)
(d) porositas;
(e) tarik (tensile strength);
(f) kuat tekan.
Kualitas yang penting dalam pengerukan adalah kekerasan, abrasiveness dan kekuatan.
Ahli geoteknik harus memberikan petunjuk mengenai pengujian apa yang diperlukan
sebagai informasi untuk pekerjaan pengerukan dan bagaimana informasi ini harus
diinterpretasikan.

4.13.3 Pengujian lapangan dan deskripsinya


Prakiraan yang akurat serta deskripsi mengenai kondisi batuan (keadaan retakan dan
kualitas batuan) merupakan hal yang penting ketika akan dilakukan pengerukan batuan,
dengan atau tanpa pengolahan pendahuluan.
Sejumlah pengujian in situ atau prakiraan di lapangan dapat dilakukan, terutama pada
batuan sedimen, untuk memperkirakan kekuatan atau ketahanan terhadap pemotongan.

29 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Hal-hal pengujian meliputi.


- borlog;
- keadaan retakan;
- frekuensi retakan;
- pemulihan keteguhan inti;
- pemulihan inti total;
- pengujian kualitas batuan
- keutuhan inti;
- kecepatan rambat suara;
- pengujian standard penetrasi.

Tujuan pengujian yang dilakukan atau untuk menentukan pengaruh dari berbagai jenis
tanah dan kondisi batuan terhadap penggalian dan pengerukan. Jika retakan cukup
dekat dan terbuka, maka perbaikan pendahuluan tidak perlu dilakukan. Jika perbaikan
pendahuluan perlu dilakukan, maka retakan batuan dapat menghalangi pekerjaan
pemboran. Kekuatan batuan mempengaruhi energi yang diperlukan untuk mengeruknya
dan abrasiveness mempengaruhi laju keausan dari komponen pengeruk.

30 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Tabel 7 Klasifikasi tanah untuk tujuan pengerukan dengan pengujian lapangan dan laboratorium
Tipe tanah Distribusi Bentuk partikel Densitas in Densitas relatif Kepadatan Kandungan Sampah plastik Kekuatan Kandungan Kandungan
utama ukuran partikel situ dari partikel (in situ) kelembaban dan Iquid geses kapur organik
/bulk densitas Alami alami (shear strength)
Boulder dan Pengamatan Pemeriksaan NA1) Pengujian NA NA NA NA NA NA
Cobble 2) di di laboratorium
Lapangan lapangan (dalam bentuk
fragmentasi)
Gravel (kerikil) Pengujian Pengujian NA Pengujian Pengujian in NA NA NA Pengujian NA
Laboratorium Laboratorium laboratorium Situ laboratorium 3)
Pasir Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian in Pengujian NA NA Pengujian Pengujian
Laboratorium Laboratorium Laboratorium laboratorium Situ laboratorium laboratorium laboratorium
pada sampel
yang tak
terganggu 4)
Tanah Iiat/silt Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian in Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian
5) Laboratorium Laboratorium Laboratorium laboratorium situ pengujian laboratoriurn 6) laboratorium laboratorium laboratorium laboratorium
pada sampel atau
yang tak laboratorium
terganggu pada sample
yang tak
terganggu
Tanah Pengujian NA Pengujian NA Pengujian in Pengujian Pengujian Pengujian in NA Pengujian
liat/clays Laboratorium Laborarorium situ Pengujian laboratorirun 6) Laboratorium situ atau laboratorium
7 pada sampel atau pengujian
yang tak laboratoriurn Laboratorium 8)
terganggu Pada sample
yang tak
Terganggu
Gambut dan NA NA Pengujian NA Pengujian in Pengujian Pengujian Pengujian in NA Pengujian
tanah organik Laboratorium Situ laboratorium laboratorium situ atau laboratorium
pada sampel Pengujian
yang tak Laboratorium
terganggu
Kunci
Pengujian dengan tulisan miring dan tebal merupakan prioritas pertama untuk memperkirakan karakteristik tanah untuk tujuan pengerukan; pengujian dalam tulisan miring merupakan prioritas kedua, sedangkan
pengujian dalam tulisan biasa dapat dibatasi menjadi beberapa contoh/sampel yang representatif untuk masing-masing tipe tanah.
¹NA= tidak dapat digunakan
1. Untuk prosedur pengujian lihat tabel 8
2. Diuji sebagai batuan
3. Dapat digunakan sebagai kumpulan hasil kerukan untuk tujuan konstruksi
4. Turut dianjurkan penentuan densitas kering maksimum dan minimum.
5. Silt sering mengandung sejumlah partikel clay, yang memiliki pengaruh kuat terhadap karakteristik tanah. Pada beberapa kasus, harus dilakukan pengujian pada silt sebagaimana yang dilakukan pada clay.
6. Pengujian harus dilakukan pada sampel dalam kondisi natural dan lebih baik pada contoh yang tak mengalami gangguan (undisturbed samples)
7. Mungkin ada gunanya melakukan perhitungan distribusi ukuran partikel untuk pasir/fraksi silt dalam sampel clay tetapi juga menyatakan prosentase relatif terhadap total contoh.
8. Pengujian harus meliputi keadaan representatif contoh yang sensitif.

31 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Tabel 8 Prosedur pengujian tanah di lapangan dan laboratorium


untuk tujuan pengerukan
Karakteristik atau Pengujian in situ Pengujian laboratorium (pada laboratorium di
sifat tanah lokasi atau di pusat)
Analisis ukuran NA Pengayakan pada tanah berbutir. Sedimentasi
butir pada tanah kohesif. Kontaminasi pada tanah
komposit seperti clays berpasir. Suatu evaluasi
kasar membandingkan dengan sampel tanah,
dengan mikroskop atau dengan grid counter

Bentuk partikel NA Perbandingan dengan sampel standar dan foto

Densitas bulk atau Tidak dapat dilakukan di atas air Satuan massa tanah seperti ditemukan in situ
sensitas in situ kecuali untuk pengukuran boulder dan dinyatakan sebagai rasio antara massa total
dan cobble dan volume total tanah.

Densitas NA PD ditentukan sebagai perbandingan antara


partikel(PD) untuk satuan massa partikel tanah dan satuan massa
butiran padat air.
Kepadatan (in situ) Dapat dilakukan beberapa
pengujian/in situ, misalnya :
(a) Standard penetration pengujian
(SPT)
(b) Static cone penetration
pengujian(CPT)
(c) Dynamic probing (DP)
Kandungan air (a) Metode radioaktif meter di tanah (b) Penentuan kandungan kelembaban
kelembaban
Plastisitas NA Penetuan batas liquid dan plastik
Kekuatan geser Dapat dilakukan beberapa (e) Baling-baling laboratorium
pengujian in situ, misalnya : (f) Tak dibatasi alat kompresi
(g) Kompresi triaxial
(a) Penetrometer tangan atau
baling-baling tangan
(b) Static cone penetration
pengujian(CPT)
(c) Dynamic probing (DP)
Kandungan kapur NA (a) Pengukuran kandungan karbonat
(b) Pengujian/uji visual dengan menggunakan
Hcl encer untuk spesimen(benda uji) untuk
menunjukkan adanya pemuaian

Kandungan NA Penentuan kandungan bahan organik


organik

')NA=tiadk dapat diterapkan

Komentar terhadap Tabel 8


Pengujian in situ dan laboratorium
Tabel tersebut menunjukkan jarak pengujian in situ dan Bentuk Nilai - N SPT
laboratorium yang dapat digunakan untuk menentukan bertiup/penetrasi 300 mm
sifat atau karakteristik tanah. sangat lepas 0 sampai 4
Pengujian di laboratorium harus dilakukan terhadap lepas 4 sampai 10
sampel segar dan pengujian harus dilakukan sesegera kepadatan sedang 10 sampai 30
mungkin setelah sampel diperoleh. Tetapi karena padat 30 sampai 50
kesulitan pelaksanaan dan logistik, kadang-kadang sangat padat di atas 50
terjadi keterlambatan penerimaan sampel di
laboratorium. Jika hal ini terjadi, maka pengujian Pengujian lain
lapangan sederhana (misalnya dengan penetrometer Harus diperhatikan bahwa, terutama dalam
atau hand vane) harus dilakukan di lokasi kemudian hubungannya dengan aspek lingkungan, mungkin perlu
dibandingkan dengan pengujian di laboratorium. dilakukan pengujian secara kimia terhadap beberapa
Kepadatan in situ dapat ditentukan dengan sampel yang terpilih. Pengujian yang tepat akan
menggunakan salah satu pengujian termasuk Standard berhubungan dengan keadaan proyek dan keperluan
Penetration Pengujian (SPT). khusus.
Satu nilai penting yang digunakan dalam pekerjaan
geoteknik adalah densitas relatif pasir dan kerikil yang
telah dikembangkan dengan menggunakan pengujian
ini. Skala yang digunakan dalam bentuk nilai-N,
sebagai berikut.

32 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Tabel 9 Prosedur pengujian tanah di lapangan dan laboratorium


untuk tujuan pengerukan
Lab. (L)
Nama Pengujian Tujuan Pengujian Penjelasan atau in
situ (S)

Menunjukkan keadaan massa batuan in


Penyelidikan visual Prakiraan massa batuan S atau L
situ (nol)

Bagian tipis Identifikasi Membantu penentuan komposisi mineral L


Densitas Bulk Hubungan volume/massa Pengujian kering dan basah L
Pengukuran lubang
menunjukkan prosentase Harus dihitung secara langsung dari
Porositas L
voids terhadap volume densitas bulk kering dan basah
total
Berguna untuk idetrtifikasi
Kandungan Karbonat L
batuan kapur, dll

Kekerasan Penentuan ukuran terhadap skala Moh's


Penentuan kekerasan L
Pernmkaan dari 1 (talk) sampai 10 (berlian)

Pengujian dilakukan terhadap sampel


yang tersaturasi sempurna. Dimensi
Kekuatan terakhir dibawah pengujian piece dan arah stratifikasi
Kompresi uniaxial L
pengaruh stress uniaxial berhubungan dengan arah stress harus
ditetapkan. Dianjurkan rasio 1: 2
panjang/diameter untuk model silindris
Kekuatan tensile
Sama dengan pengujian diatas, kecuali
Brazilian split (diturunkan dari pengajian L
uutuk rekomendasi perbandingan
uniaxial)
Pengujian yang mudah dan cepat tetapi
Point Load Pengujian Indikasi kekuatan harus sesuai dengan pengujian kekuatan L
kompresif uniaxial
Pengujian telah dirancang untuk batu
yang
Indikasi ketahmtan
paling keras. Perlu hati-hati terhadap
Protodiakonov terhadap L
pelaksanaan dan interpretasi hasil
muatan dinamik
pengujian terhadap batuan lunak,
terutama jenis konglomerat berbutir kasar.
Diterapkan pada karang (coral) dan pada
Standard Penetration
Indikasi kekuatan batu yang mengalami perubahan akibat S
Pengujian (SPT
cuaca
Berguna dalam mengekstrapolasi
Indikasi stratigraF serta
Kecepatan seismik pengujian laboratorium dan pengujian S
retakan massa batun
lapangan untuk perilaku massa batuan
Pengujian terhadap sampel inti yang
Kecepatan ultrasonik Kecepatan longitudinal L
tersaturasi
Modulus statis
Laju stress / strain Memberikan indikasi mengenai kerusakan L
clastisitas

Pengukuran parameter drilling meliputi


laju penetrasi, torque, tekanan fluida, dtl.,
Driability Prakiraan massa batuan S
dan penyataan mengenai spesifikasi serta
tekait

Mungkin dengan Percobaan visual


Angularity Penentuan bentuk Partikel L
dibandingkan terhadap model standar
Kunci
Pengujian dalam huruf tebal dan miring dipertimbangkan sebagai prioritas pertama untuk memperkirakan karakteristik tanah untuk
tujuan pengerukan;
pengujian dalam huruf miring merupakan prioritas kedua dan pengujian dalam huruf tidak miring dapat dibatasi untuk beberapa
sampel yang
representatif dari masing-masing tipe tanah.
1)
ASTM = American Society for Test and Materials.
1. Foto berwarna untuk pendataan sangat berguna.
2. Catatan ringkas tidak tersedia untuk pengujian Protodiakonov. Referensi yang memberikan modifikasi terhadap prosedur ini
untuk mengatasi
kekurangan metode awal adalah Evans dan Pomeroy, seperti penyimpanan material pulverized.

33 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Komentar terhadap Tabel 9


Bentuk Kekuatan kompresif
Karakteristik teknik batuan (MN/m²)
Pendekatan yang dilakukan saat ini dilakukan untuk Sangat lemah < 1,25
memberikan pertimbangan terhadap material dan Lemah 1,25 sampai 5
karakteristik massa batuan. Sedang lemahnya 5 sampai 12,5
Meskipun demikian, dalam hubungannya dengan Sedang kuatnya 12,5 sampai 50
pekerjaan pengerukan dimana batuan yang akan Kuat 50 sampai 100
dikeruk berada di bawah air, biasanya perlu untuk Sangat kuat 100 sampai 200
menggambarkan dan memperkirakan batuan Sangat kuat sekali > 200
dengan penelitian inti yang berasal dari
penyelidikan lapangan mengenai keadaan alami Perlu diperhatikan bahwa kekuatan material batuan
material batuan. Massa batuan hanya dapat ditentukan dalam uniaxial compression pengujian
diketahui dengan pemetaan natural dan pembukaan dan bergantung pada kandungan air (kelembaban)
buatan serta penggalian tanah. Meskipun hasil dari contoh batuan, anisotropy dan prosedur
penyelidikan lokal berguna bagi pekerjaan pengujian yang digunakan.
pengerukan, tetapi diperlukan perhatian lebih Untuk keperluan pengerukan, jarak kekuatan dalam
banyak, karena terisolasi, maka pembukaan alami bentuk deskriptif biasanya lebih besar sehingga
tidak terlalu representatif menjelaskan massa ketika memberikan bentuk deskriptif, hasil pengujian
batuan di lokasi untuk penggalian yang akan harus sudah tersedia.
datang.
Keadaan Retakan
Material Batuan Keadaan batuan in situ sangat penting, oleh karena
Untuk tujuan pengerukan, diperlukan prakiraan itu perlu ditetapkan metode yang akan digunakan
karakteristik teknik. Penyelidikan geologi akan dan ukuran batuan yang akan dikeruk. Sebagai
menentukan material dan memberikan informasi tambahan, untuk memperkirakan kekerasan batuan,
dasar mengenai jenis batuan dan karakteristiknya. banyak kriteria yang dapat digunakan untuk
Informasi keadaan batuan akibat pengaruh cuaca menentukan keadaan retakan dari inti bahan; yaitu
juga perlu diketahui untuk menentukan skala recovery inti total, recovery inti solid, fracture log
deskriptif mengenai kondisi cuaca yang dan Rock Qualify Designation (RQD). Semua hal
berhubungan dengan kerusakan material batuan. tersebut harus termasuk kedalam log dari lubang
bor.
Kerusakan material batuan oleh cuaca Recovery inti total dinyatakan sebagai jumlah
Skema deskriptif mengenai kerusakan material panjang total inti yang direcover sebagai suatu
batuan oleh cuaca dapat dinyatakan sebagai prosentase dari panjang inti.
berikut. Recovery inti solid ditentukan sebagai jumlah
Bentuk Deskripsi panjang total inti yang direcover sebagai silinder
Fresh Tidak terlihat tanda mengenai solid dan dinyatakan sebagai prosentase dari
kerusakan material batuan oleh panjang inti.
cuaca Fracture log adalah suatu perhitungan jumlah
Discoloured Warna material batuan yang fresh retakan natural yang terjadi pada suatu panjang
akan berubah dan ditandai oleh tertentu, misalnya jumlah retakan natural per meter
cuaca. Derajat perubahan dari inti.
warna asal seharusnya ditentukan. Penentuan RQD merupakan pengukuran kuantitatif
Perlu diperhatikan jika perubahan dari keadaan retakan batuan. RQD adalah
warna terjadi pada komponen penjumlahan panjang dari seluruh bagian ini (100
mineralnya. mm atau lebih), diukur sepanjang garis pusat inti,
Decomposed Batu akan berubah menjadi tanah dinyatakan sebagai suatu prosentase inti yang
dimana material asalnya tetap, digali.
tetapi beberapa bagian mineralnya Tahap pertama, bersamaan dengan penentuan
akan memisah. RQD, dilakukan juga pengambilan foto berwarna
Disintegrated Batu akan berubah menjadi tanah dari inti batuan.
dimana material asalnya tetap. Batu Mungkin juga dilakukan perbadingan antara
menjadi mudah pecah, tetapi butir kecepatan seismik di lapangan dengan kecepatan
mineral tidak memisah. seisimik di laboratorium, sebagai index retakan
kuantitatif daripada massa batuan in situ.
Tahap perubahan dapat dibagi-bagi dengan
menggunakan bentuk-bentuk yang terhitung,
misalnya merunutnya sebagian warna, dll.

Kekuatan material batuan

Hubungan antara kekuatan material batuan dalam


uniaxial compression pengujian terhadap skala
unnun kekuatan dapat dinilai sebagai berikut:

34 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Lampiran A
Tabel daftar deviasi teknis dan penjelasannya

No. Materi Sebelum Revisi

1. Judul SNI 19-6471.1-2000, Tetap


Tata cara pengerukan
muara sungai dan
pantai, Bagian 1 : Survei
lokasi dan investigasi

2. Format Belum mengikuti format Disesuaikan dengan


PSN 08:2007 format PSN 08:2007

3. Acuan normatif Ada Dilengkapi

4. Istilah dan definisi Ada Dilengkapi

5. Gambar Sudah ada Diperbaiki, ditambahkan


dan dan diperjelas

6. Tabel deviasi teknis Belum ada Ditambahkan tabel daftar


deviasi teknis dan
penjelasannya

35 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Lampiran B
(informatif)

Daftar nama dan lembaga

1) Pemrakarsa
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air, Badan Penelitian dan
Pengembangan, Kementerian Pekerjaan Umum

2) Penyusun awal

NAMA LEMBAGA

Ir. Kardana, M.Sc. Pusat Litbang Sumber Daya Air

3) Penyusun baru

NAMA LEMBAGA

Dedi Junarsa, S.ST, MT Pusat Litbang Sumber Daya Air


Yudi Lasmana, ST Pusat Litbang Sumber Daya Air
Abimanyu, ST Pusat Litbang Sumber Daya Air

36 dari 37
SNI 19-6471.1-2000

Bibliografi

SNI 19-6471.1-2000, Tata cara pengerukan muara sungai dan pantai bagian 1 : survei lokasi
dan investigasi

37 dari 37