Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

FARMAKOLOGI MOLEKULER

“ KANAL ION “

DISUSUN OLEH :

KELAS C

RAHMAH DWI OKTARINI (O1A1 18 121)

MUH. MUADZ ABDI ASSHIDIQ RAHMAN (O1A1 18 136)

MUH. SYAMSIR MURSALI (O1A1 18 175)

DIASTY NURAISYAH (O1A1 18 177)

DOSEN :LOLY SUBIANTY, S.Farm

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena

dengan rahmat, dan anugerah-Nya kami dapat menyusun Makalah ini dengan

judul “Kanal Ion  yang disusun untuk memenuhi tugas teori “Farmakologi

Molekuler”

Tidak sedikit kesulitan yang kami alami dalam proses penyusunan

makalah ini. Namun berkat dorongan dan bantuan dari semua pihak yang terkait,

baik secara moril maupun materil, akhirnya kesulitan tersebut dapat diatasi. Tidak

lupa pada kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih kepada Dosen

yang telah membimbing kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini

dengan baik.

Kami menyadari bahwa untuk meningkatkan kualitas makalah ini kami

membutuhkan kritik dan saran demi perbaikan makalah di waktu yang akan

datang. Akhir kata, besar harapan kami agar makalah ini bermanfaat bagi kita

semua.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................. i

DAFTAR ISI................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1

1.1LatarBelakang......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 2

1.3 Tujuan................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN............................................................................ 4

2.1 Kanal Ion Sebagai Target Aksi Obat................................................ 3

2.2 Fungsi Kanal Ion.................................................................................. 5

2.3 Klasifikasi Kanal Ion........................................................................... 5

2.4 Mekanisme Kerja.................................................................................. 10

2.5 Contoh-Contoh Obat.............................................................................. 11

BAB III PENUTUP.................................................................................... 15

3.1 Kesimpulan............................................................................................ 16

3.2 Saran....................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Farmakologi berakar dari cerita cerita rakyat dan tradisi masa lampau

ketika pengetahuan tentang taanaman yang berkhasiat obat diturunkan dari

generasi ke generasi. Sejak tahun 1240 SM, farmakologi berali dari ranah

terapi alternative menjadi ilmu pengetahuan dimana standar obat ditetapkan

dan sistem pengukuran di kembangkan untuk mengukur dosis dan takaran obat.

Dikarenakan obat dapat sangat bervariasi baik dari segi khasiat maupun

kemurniannya, pemerintah akhirnya mengembangkan standar farmakologis

untuk memproduksi mengatur obat (Kamienski, 2015).

Farmakologi sebagai ilmu berbeda dari ilmu lain secara umum

pada keterkaitannya yang erat dengan ilmu dasar maupun ilmu klinik.

Sangat sulit mengerti farmakologi tanpa pengetahuan tentang fisiologi

tubuh, biokijmia, dan pathogenesis penyakitnya dan ilmu kedokteran klinik.

Farmakologi mempunyai keterkaitan khusus dengan Farmasi, yaitu

ilmu mengenai cara membuat, memformulasi, menyimpan dan menyediakan

obat.

Farmakologi merupakan ilmu dasar yang berperan penting dalam

penemuan suatu obat yaitu pada tahap uji praklinik maupun uji klinik. Uji

praklinik tersebut meliputi uji aktifitas farmakologi, uji toksikologi, dan uji

farmakodinamika obat pada hewan percobaan. Uji praklinik tersebut

bertujuan menentukan batas aman dan keefektifan umtuk memperkirakan

1
manfaat klinik suatu obat baru. Sedangkan pada uji klinik, obat tersebut

dilakukan evaluasi pada manusia baik dalam kondisi sehat maupun sakit

(Nugroho, 2012).

I.2 Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan kanal ion?

b. Apa jenis-jenis kanal ion?

c. Bagaimana mekanisme kanal ion sebagai target aksi obat?

d. Apa saja contoh obat yang bereaksi dengan kanal ion?

I.3 Tujuan

a. Untuk memahami pengertian dari kanal ion.

b. Untuk mengetahui jenis kanal ion.

c. Untuk memahami mekanisme kanal ion sebagai target aksi obat.

d. Untuk mengetahui contoh obat yang bereaksi dengan kanal ion.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Kanal Ion Sebagai Target Aksi Obat

Keberadaan kanal ion pertama kali dihipotesiskan oleh ahli

biofisika dari Inggris, Alan Hodgkin dan Andrew Huxley, sebagai bagian

dari teori mereka mengenai impuls saraf yang dipublikasikan pada tahun

1952 dan memenangkan hadiah nobel. Keberadaan kanal ini kemudian

dikonfirmasikan pada tahun 1970-an menggunakan teknik perekaman

elektrik yang disebut “patch clamp” oleh Erwin Nehe dan Bert Sakmann

yang juga membawanya memenangkan hadiah nobel (Ikawati, 2014).

Kanal ion memainkan peranan penting dalam banyak tipe sel.

Beberapa penyakit trjadi disebabkan karena adanya disfungsi kanal ion,

antara lain penyakit aritmia jantung, diabetes, hipertensi, angina pektoris,

dan epilepsi. Kanal ion merupakan kompleks protein yang terdapat pada

membran sel yang tersusun membentuk porus/lubang dan berfungsi

memfasilitasi difusi ion menyebrangi suatu membran sel. Adanya kanal

ion akan memberikan jalan bagi senyawa hidrofilik dan senyawa bermuatan

untuk menyebrangi membran sel (Ikawati, 2014).

Komponen molekuler kanal teridentifikasi pertama kali dengan metode

kloning molekuler. Kanal ion tersusun dari beberapa sub-unit protein

membentuk suatu pori-pori. Lubang kanal disusun oleh subunit utama

(subunit a), yang menentukan infrastruktur kanal. Selain itu beberapa kanal

3
(kanal K+, Na+, dan Ca2+), mengandung protein pelengkap yang dapat

memodifikasi sifat kanal (Latifigana, 2012).

Kanal ion merupakan Kompleks protein yang terdapat pada membran

sel yang tersusun membentuk for us atau lubang dan berfungsi memproses

ritasi difusi ion menyeberangi suatu membran sel. Diketahui bahwa membran

sel adalah senyawa fosfolipid yang membentuk halangan/barirer yang bersifat

hidrofobik dan muatannya elektrik rendah sehingga menghalangi masuknya

senyawa hidroponik dan senyawa bermuatan ia bisa dikatakan sebagai isolator

listrik . Adanya kanal ion akan memberikan jalan bagi senyawa hidrofilik dan

senyawa bermuatan untuk menyebrangi membran sel (Ikawati, 2016).

kanal ion bisa berada dalam keadaan tertutup atau terbuka yang dapat

dikontrol oleh beberapa faktor eksternal. Pembukaan dan penutupan kanal ion

dapat diatur oleh suatu senyawa kimia, signal elektrik, atau kekuatan mekanik,

tergantung pada jenis kenalnya. Dengan mengatur dan mengontrol aliran ion

kalium dapat menjaga muatan negatif yang dimiliki oleh sel pada kondisi

istirahat (Ikawati, 2016).

Kanal ion umumnya bersifat selektif terhadap ion tertentu, artinya

hanya dapat dilewati atau memiliki afinitas hanya terhadap ion ion tertentu,

seperti kalau ion K+ , atau kanal ion na +. Mereka dapat membedakan ukuran

dan muatan suatu molekul yang melewatinya.Meskipun demikian ada juga

beberapa kali ion yang memiliki afinitas terhadap lebih dari satu ion (Ikawati,

2016).gambar struktur kanal ion teraktivasi voltase.

4
B. Fungsi Kanal Ion

Kanal ion terdapat pada hampir setiap sel. Kanal ion berfungsi

untuk transport ion, pengaturan potensial listrik melintasi membran sel,

serta sinyaling sel. Kanal ion berperan penting dalam proses normal

tubuh beberapa penyakit terkait dengan disfungsi kanal ion misal aritmia

jantung, diabetes, epilepsi, hipertensi, cystic fibrosis, dan lain-lain

(Latifigana, 2012)

5
C. Klasifikasi Kanal Ion

Berdasarkan cara teraktivasinya, kanal ion dapat digolongkan

menjadi lima jenis, yaitu :

a. Kanal ion teraktivasi voltase (voltage-gated channels), kanal ion ini

berespons terhadap adanya perubahan potensial trans-membran. Kanal

ini akan membuka sebagai respons terhadap terjadinya depolarisasi dan

akan menutup jika terjadi hiperpolarisasi.

b. Kanal ion teraktivasi ligau (ligand-gated channels), kanal ini

berespons terhadap adanya molekul ligan spesifik yag berada di

daerah ekstrakurikuler tempat kanal berada. Kanal ini memiliki tempat

ikatan untuk ligan dan disebut juga reseptor kanal ion.

c. Kanal ion teraktivasi molekul intrasel atau signal, kanal yang

berespons terhadap suatu molekul yang berada di bagian intrasel yang

6
merupakan bagian dari proses signalling, misalnya terhadap second

messenger seperti Ca, cAMP, dan cGMP.

d. Kanal ion teraktivasi oleh kekuatan mekanik (stretch-activated

channel), kanal ini membuka dan menutup sebagai respons terhadap

kekuatan mekanis yang timbul dari peregangan atau pengerutan lokal

membran di sekitar kanal tersebut, misalnya jika sel tersebut

mengembang atau mengerut.

e. Kanal ion terkait protein G (G-protein-gated channel), kanal ini terkait

dengan protein G dan teraktivasi jika protein G teraktivasi.

Berdasarkan ion yang melintasi kanal, kanal ion dibedakan menjadi

kanal kalium, natrium, kalsium, dan klorida.

a. Kanal Kalium

Kanal kalium berperan untuk proses repolarisasi atau

hiperpolarisasi. Repolarisasi merupakan proses terjadinya kembali

perbedaan potensial aksi antara ekstraksel dengan intrasel. Dalam proses

potensial aksi sel, terbuka kanal ion kalium ini dipicu oleh depolarisasi

yang diakibatkan terbukanya ion natrium sebelumnya. Terbukanya ion

kalium menyebabkan repolarisasi sehingga menurunkan potensial aksi sel

(Nugroho, 2012).

Secara umum, kanal K dibagi menjadi empat keluarga besar yang

masing-masing terdiri dari 6, 4, dan 3 segmen transmembran, yaitu :

7
1. Kanal K teraktivase voltase (shaker-like) yang mengandung enam

daerah domain transmembran (S1-S6) dengan porus tunggal (Kv).

2. Kanal K inward rectifier yang mengandung hanya 2 domain

transmembran dengan porus tunggal (KIR).

3. Kanal K yang teraktivasi oleh calcium (Kca).

4. Kanal K dengan dua porus yang mengandung 4 domain

transmembran (K2p).

Kanal ion K terdapat pada sel-sel eksitabel dan noneksitabel. Anggota

kanal ion ini memainkan peranan penting pada berbagai proses signaling

seluler yang mengatur pelepasan neurotransmitter, denyut jantung, pelepasan

insulin, eksitabilitas saraf, transport elektrolit epithelial, kontraksi otot polos,

dan regulasi volume sel. Belakangan mulai diketahui fungsi dari kanal K,

khususnya Voltage-gated dalam proliferasi sel sehingga terlibat juga dalam

perkembangan kanker (Ikawati, 2016).

b. Kanal Natrium

Kanal natrium berperan dalam penghantaran potensial aksi dan

depolarisasi. Tebukanya kanal ion natrium menyebabkan depolarisasi

Sehingga potensial aksi sel akan meningkat. Depolarisasi adalah

penurunan perbedaan potensial aksi antara ekstrasel dengan intrasel

(Nugroho, 2012).

Kanal ion Na bersifat selektif terhadap ion natrium dan dijumpai pada

sel-sel yang bisa tereksitasi (excitable cells), seperti sel saraf, otot, dan sel

neuroendokrin.Ia bertanggung jawab terhadap inisiasi dan propagasi atau

8
penghantaran potensial aksi pada tipe sel-sel tersebut. Namun, kanal Na

juga terekspresi dalam jumlah kecil pada sel-sel yang tidak tereksitasi,

walaupun peran fisiologis kanal ini pada tipe sel tersebut belum banyak

diketahui (Ikawati, 2016).

c. Kanal Kalsium

Kanal kalsium berperan dalam kontraksi otot, proses eksotsitosis,

dan pelepasan neurotransmitter. Terbukanya kanal ion kalsium akan

memacu ketiga proses tersebut (Nugroho, 2012).

Kanal Ca teraktivasi voltase merupakan jalur utama masuknya ion

Ca ke dalam sel pada berbagai jenis tipe sel dan mengatur berbagai proses

intraseluler sel, seperti kontraksi, transkripsi gen, pelastisitas sinaptik, dan

pengeluaran hormon atau neurotransmitter. Kanal ini pertama kali

teridentifikasi pada tahun 1953 oleh Fatt dan Katz pada otot binatang

Crustacean, sedangkan kanal Ca pada mamalia pertama kali dipurivikasi

dari otot rangka setelah dilabel dengan suatu radioligan, yaitu dihidropiridin,

fenilalkilamin, dan benzotiazepin pada tahun 1980-an. Selanjutnya kanal Ca

juga ditemukan pada otot jantung, otot polos, dan hampir disemua jaringan

eksitabel (Ikawati, 2016).

Ca merupakan second messenger yang sangat banyak digunakan

pada berbagai fungsi sel. Konsentrasi Ca dalam sitosol sangat kecil (10-20

nM), sedangkan pada kompartemen ekstrasel sebesar 1-2 mM.didalam sel,

Ca tersimpan didalam retikulum endoplasma (pada sel saraf) atau di

reticulum sarcoplasma (pada sel otot). Pembukaan kanal Ca menyebabkan

9
naiknya kadar Ca intraseluler sampai 100 µM, yang dapat memicu berbagai

proses seluler, seperti peristiwa kontraksi otot, pelepasan neurotransmitter

dari sel saraf, dan eksositosis pada sel sekretori ( seperti pelepasan histamin

dari sel mast atau insulin dari sel β di pankreas) (Ikawati, 2016).

d. Kanal Klorida

Kanal klorida berperan dalam menjaga aliran osmotik, dan

hiperpolarisasi sel. Jika kanal ion klorida terbuka maka klorida cenderung

masuk kedalam sel, terjadi hiperpolarisasi sehingga menurunkan potensial

aksi sel.(Nugroho, 2012).

Kanal Cl- berperan penting dalam mengontrol komposisi ion dalam

sitoplasma dan volume sel. Fungsi ini dijalankan bersama dengan berbagai

transporter ion lainnya, seperti pompa, kontrasporter, dan kanal ion lain.

Seperti diketahui pH (derajat keasaman) sitoplasmik sel harus dikontrol

secara ketat. Hal ini merupakan aktivitas penukar Na/H dan NaHCO 3 / HCl

yang juga mempergunakan kanal Cl- secara paralel untuk mengembalikan

ion Cl- selain itu, beberapa sel juga membutuhkan proton ATPase yang juga

memerlukan peran kanal Cl untuk menjaga netralitas sitoplasmiknya.

Karena itu, kanal ion Cl- ini sangat penting untuk mengatur komposisi ionik

(Ikawati, 2016).

Dalam hal pengaturan volume sel kanal ion Cl- juga berperan

penting jika suasana ekstrasel menjadi hipotonis, sel akan memberikan

respon untuk menjaga isotonisitasnya. Peristiwa ini melibatkan pembukaan

secara parallel kanal K+ dan kanal Cl- yang teraktivasi oleh kekuatan

10
mekanik berupa pembengkakan (swelling). Pembukaan kanal Cl-

menyebabkan Cl- keluar dari sel yang membengkak, diikuti oleh kation dan

air sehingga dapat dicapai kondisi isotonis dan volume tertentu. Fungsi

kanal seperti ini berperan penting terutama pada sel-sel sekretori, seperti sel

pada epithelia mukosa dan pada ginjal (Ikawati, 2016).

Fungsi kanal Cl berikutnya adalah pengaturan eksitabilitas listrik

membrane sel. Kanal Cl yang teraktivasi oleh voltase banyak dijumpai pada

sel otot rangka, otot polos, dan sel saraf. Pembukaan kanal ion Cl-

mengakibatkan aliran ion Cl- masuk kedalam sel sehingga menyebabkan

hiperpolarisasi. Karena itu, inaktivasi kanal ion Cl- dapat menyebabkan

hipereksitabilitas pada otot rangka. Misalnya, adanya mutasi kanal Cl,

khususnya ClC-1 dapat menyebabkan terjadinya hiperreksitasi otot yang

menjadikan otot mengalami myotonia (kekejangan otot) (Ikawati, 2016).

D. Mekanisme Kerja

Kategorisasi Obat berdasarkan Tempat Aksinya. Kategorisasi ini baru

muncul setelah pengetahuan tentang aspek molekular dalam farmakologi

berkembang pesat. Kepentingannya adalah untuk usaha pengembangan obat

baru. Berdasarkan tempat aksinya, akan kita jumpai obat yang beraksi pada

kanal ion, enzim, protein pembawa, serta reseptor. Sebagian besar tempat aksi

obat ini berada di membrane sel (kecuali enzim dan reseptor intraseluler) yang

melintasi membrane (trans membrane).

11
Berdasarkan mekanismenya, obat dengan target aksi kanal ion

dibedakan menjadi 2, yaitu :

1. Pengeblok Kanal

Obat golongan ini mengeblock kanal ion secara fisik sehingga

menghambat transport ion pada membrane. Anastesi lokal beraksi dengan

cara mengeblock voltage-gated Na+ channels sehingga menyebabkan

12
transport ion natrium ke dalam sel terhambat. Hal ini menyebabkan

terhambatnya proses depolarisasi sehingga menurunkan potensial aksi sel.

Padahal potensial aksi tersebut dibutuhkan dalam penghantaran impuls

rasa sakit (Nugroho, 2012).

2. Modulator kanal

Obat golongan ini bekerja dengan cara memodulasi kanal ion

sehingga menyebabkan kanal ion terbuka atau tertutup. Obat ini

mempunyai sisi aktif sendiri (selain sisi aktif agonis) pada kanal ion

(Nugroho, 2012).

Berdasarkan model aksi farmakologi, obat dibagi menjadi dua kelas:

obat dengan struktur non-spesifik dan obat berstruktur spesifik.

a. Obat berstruktur non-spesifik.

Obat berstruktur non-spesifik adalah obat yang aktivitas

farmakologinya tidak berhubungan langsung dengan struktur kimia,

kecuali bahwa struktur kimia tersebut mempengaruhi sifat fisikokimianya.

Sifat fisikokimia tersebut meliputi adsorpsi,solubilitas, pKa, dan potensial

oksidasi-reduksi; yang mempengaruhi permeabilitas membran,

depolarisasi membran, koagulasi protein dan pembentukan kompleks.

Dapat diasumsikan bahwa obat yang berstruktur non-spesifik bekerja

melalui proses fisikokimia.Walaupun struktur kimia bervariasi, namun

dapat menyebabkan aktivitas biologis yang serupa karena kesamaan sifat

fisikokimia. Sedikit perubahan dalam struktur kimia tidak akan terlalu

mempengaruhi aktivitas biologis. Contoh adalah senyawa-senyawa

13
bakterisidal, seperti : fenol, o-kresol, etanol, timol, sikloheksanol,

resorsinol, dan lain-lain.

b. Obat berstruktur spesifik

Obat berstruktur spesifik merupakan obat yang aktivitas biologisnya

merupakan hasil esensial dari struktur kimianya, dapat berinteraksi dengan

struktur tiga dimensi reseptor dalam organisme melalui pembentukan

kompleks obat-reseptor. Reaktivitas kimiawi, bentuk, ukuran, stereokimia,

distribusi gugus fungsi, resonansi, efek induksi,distribusi elektronik dan

kemampuan berikatan dengan reseptor, mempunyai peranan penting dalam

aktivitas obat.Obat-obat ini mempunyai karakteristik struktur tertentu,

dengan menambahkan gugus fungsi dengan orientasi arah tertentu, akan

memberikan respon biologis yang serupa. Sedikit modifikasi pada struktur

fundamental akan menyebabkan perubahan aktivitas biologi yang

signifikan, sehingga suatu seri senyawa dapat menunjukkan rentang

aktivitas mulai dari antagonis hingga serupa dengan aktivitas senyawa

induk.

E. Contoh-Contoh Obat

1. Kanal Natrium

Fenitoin dan karbamazepin → memperlama proses inaktivasi kanal

→ ion Na+ kembalinya kanal Ka bentuk aktif diperlama / mengurangi firing

rate → sel saraf tidak mudah di pick → mencegah kejang.

14
Anastesi lokal (kokain, lidokain, prokain) → melintasi membran →

berikatan dengan sitoplasmik kanal Na+ → kanal teraktivasi → blockade

kanal menghambat transmisi impuls rasa sakit.

2. Kanal Kalium

Beberapa senyawa peptide yang di isolasi dari bisa kalajengking dan

anemone laut dilaporkan dapat mengeblock kanal Kv1.3 dan menghambat

aktivasi sel T limfosit. Beberapa senyawa mempeptida seperti

dihidroquinolin10, pepiridin11, dan alkoksipsoralen12juga terbukti dapat

memblock kanal Kv1.3 dan menghambat aktivitas sel T limfosit manusia

secara in vitro.

Kanal kalium tersebut menjadi target aksi bagi obat-obat antiaritmia

kelas III seperti amiodaron, pretilium, betanidin, klofilium, sotalol,

ibutilid, dofetilid, dan lain lain. Dengan cara memblock kanal K+ tipe Kv

dan aliran K+ keluar selama fase plateau potensial aksi sehingga

memperlama durasi potensial aksi dengan menghambat depolarisasi.

Pembukaan kanal kalium ini akan menyebabkan efflux K+ keluar sel

sehingga terjadi terpolarisasi membrane. Hiperpolarisasi membran akan

mencegah pembukaan kanal Ca sehingga mengurangi masuknya Ca, dan

pada gilirannya meralaksasi otot polos vaskuler dan miokardial. Dalam

terapi, kanal ini dikembangkan sebagai target aksi obat antihipertensi,

seperti minoksidil, kromakalim, aprikalim, pinasidil, dan lain lain dengan

aksi sebagai pembuka kanal (Ikawati, 2016).

3. Kanal Kalsium

15
Secara farmakologi, sifat-sifat ketiga keluarga kanal Ca sangat

berbeda.Karena lokasinya yang banyak berada di otot jantung, kanal Ca tipe

Cav1 merupakan target molekuler dari obat pemblock kanal Ca yang

banyak digunakan dalam terapi penyakit kardiovaskular. Obat-obat ini

bekerja pada tiga tempat ikatan / reseptor yang terpisah, tetapi terhubung

secara alosterik. Golongan fenil / alkilamin seperti Verapamil merupakan

pemblock kanal secara intraseluler yang akan memasuki pori dari sisi

sitoplasmik dan kemudian mengeblocknya. Obat golongan dihidropiridin,

seperti bifedipin, amlodipin, bikardipin dan lain lain bereaksi secara

alosterik menggeser kanal dari bentuk terbuka menjadi tertutup, sedangkan

golongan benzodiazepin seperti deltiazem mengikat sisi reseptor ketiga dari

kanal ion tersebut pada sisi ekstraseluler. Blockade atau penutupan kanal Ca

menyebabkan berkurangnya kadar Ca intraseluler sehingga menurunkan

kekuatan kontraksi otot jantung, menurunkan kebutuhan otot jantung akan

oksigen, dan menyebabkan vasodilatasi otot polos pembuluh darah sehingga

mengurangi tekanan arteri dan intraventrikular.

Keluarga kanal Cav3 atau tipe T terlibat dalam beberapa jenis

gangguan jantung dan jenis epilepsy tertentu, khususnya epilepsy jenis

petit mal. Peningkatan aktivitas kanal tipe T pada jaringan

thalamokortikal di otak dapat memicu gelombang muatan yang terkait

dengan terjadinya petit mal. Karena itu, kanal ini menjadi target

molekuler obat antiepilepsi petit mal yang cukup luas dipakai secara

klinis, yaitu etosuksimid. Obat antiepilepsi lain, seperti zonisamid dan

16
valproat, juga dapat beraksi pada kanal ini walaupun masih memiliki

target aksi yang lain. Senyawa lain yang cukup selektif mengeblok

kanal ini adalah mibefradil dan suatu peptide kurtoksin.

4. Kanal Klorida

Beberapa kanal Cl telah dikembangkan menjadi target aksi

agen-agen farmakologis, diantaranya Cystic Fibrosis Transmembrane

Conductance Regulator (CFTR) dan CLC-2. Kanal CFTR merupakan

kanal Cl yang teraktivasi oleh cAMP dan banyak dijumpai pada sel-

sel epithelial berbagai organ, seperti paru-paru, intestinal, pancreas,

testis, serviks, dan lain-lain. Kanal ini berperan dalam transport cairan

transepitelial. Adanya mutasi yang menyebabkan disfungsi kanal ini

berkontribusi dalam patofisiologi penyakit cystic fibrosis. Pada

penyakit ini terjadi mutasi gen CFTR yang merupakan jenis mutasi

yang paling banyak dijumpai, yakni kanal menjadi tidak berfungsi

mengalirkan ion Cl. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk

menemukan obat yang dapat mengoreksi disfungsi tersebut dengan

mengembangkan activator kanal CFTR, antara lain golongan

phenylglicine dan sulfonamide dan antihipertensi golongan

dihidropiridin.

Selain CFTR, salah satu kanal Cl yang telah dikembangkan

menjadi target aksi obat lainnya adalah kanal CLC-2. Kanal ini

terdapat pada sel-sel epitel usus dan berperan pula untuk transport

cairan ke lumen usus. Konstipasi idiopatik kronis dapat disebabkan

17
karena fungsi kanal tersebut kurang optimal. Karena itu,

dikembangkanlah obat activator kanal yang bekerja

mengaktifkan/membuka kanal Cl tipe CLC-2 sehingga meningkatkan

pergerakan cairan ke usus, yang pada gilirannya akan mengurangi

konsistensi feses. Obat itu adalah lubiproston yang dalam uji klinik,

dapat meningkatkan pergeerakan usus spontan dengan efek samping

yang dapat ditoleransi (Ikawati, 2016).

18
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pembahasan , dapat di peroleh

kesimpulan bahwa :

1. Farmakologi molekuler adalah ilmu yang mempelajari interaksi obat

dengan makhluk hidup pada aras molekuler.

2. Ada empat target aksi obat yaitu, reseptor, enzim, kanal ion,

dan molekul pembawa.

3. Kanal ion merupakan kompleks protein yang terdapat pada membran

sel yang tersusun membentuk porus/lubang dan berfungsi

mengfasilitasi difusi ion menyebrangi suatu membrane

4. Kanal ion berfungsi untuk transport ion, pengaturan potensial

listrik melintasi membran sel, serta sinyaling sel.

5. Berdasarkan ion yang melintasi, kanal ion terbagi empat yaitu

kanal kalium, natrium, kalsium, dan klorida.

6. Berdasarkan mekanismenya, obat dengan target aksi kanal ion

dibedakan menjadi dua yaitu, pengeblok kanal dan modulator

kanal.

7. Obat-obatan yang bekerja pada kanal ion berbeda-beda pada

tiap kanalnya.

19
.2 SARAN

Di harapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai aksi obat

terhadap kanal ion agar mempermudah penemuan obat baru yang

berkaitan dengan kanal ion.

20
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, dkk. 2007. “Farmakologi Dan Terapi Edisi V”. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Ikawati, Zullies. 2016. “Farmakologi Molekuler”. Yogyakarta : Gadjah Mada


University Press.

Kamienski, Mary. 2015. “Farmakologi”. Yogyakarta : Rapha Publishing.

Latifagana, Vebri. 2012. “Farmakologi Molekuler”.

Nugroho, Agung. 2012. “Prinsip Aksi Dan Nasib Obat Dalam


Tubuh”.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

21