Anda di halaman 1dari 10

Tugas

Analisislah Isi Novel Berdasarkan Unsur Intrinsiknya!

Jawablah pertanyaan berikut ini!

1. Tema apa yang menonjol dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk?

Jawaban :

Tema yang yang menonjol dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah tema percintaan, sosial dan
budaya.

Tema sosial adalah tema yang berhubungan dengan hubungan antarmanusia yang terdapat pada
cerita tersebut.

Tema budaya adalah tema yang berhubungan dengan adat istiadat atau kebiasaan yang berlangsung
di dalam masyarakat tersebut.

2. Bagaimanakah alur yang tergambar dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk

Alur :  Maju, mundur, gabungan

Bukti alur Maju          : “ Jadi pada malam yang bening itu, tak ada anak Dukuh Paruk keluar halaman.
Setelah menghabiskan sepiring nasi gaplek mereka lebih senang bergulung dalam kain sarung, tidur di
atas balai-balai bambu. Mereka akan bangun esok pagi bila sinar matahari menerobos celah dinding dan
menyengat diri mereka.” (RDP:7)

Sudah dua bulan Srintil menjadi ronggeng. Namun adat Dukuh Paruk mengatakan masih ada dua
tahapan yang harus dilaluinya sebelum Srintil berhak menyebut dirinya seorang ronggeng yang
sebenarnya. (RDP: 43)

·         Bukti alur mundur      : “ Sebelas tahun yang lalu ketika Srintil masih bayi. Dukuh Paruk yang kecil
basah kuyup tersiram hujan lebat. Dalam kegelapan yang pekat, pemukiman terpencil itu lengang, amat
lengang.” (RDP:11)

·         Bukti alur gabungan: “ Dukuh Paruk dengan segalan isinya termasuk cerita Nenek itu hanya bisa ku
rekam setelah aku dewasa. Apa yang ku alami sejak anak-anak kusimpan dalam ingatan yang serba
sederhana.” (RDP:17)

           “ Lebih baik sekarang kuhadapi hal yang lebih nyala. Srintil sudah menjadi Ronggeng di Dukuh
Paruk.” (RDP:19)

          “Tahun 1960 wilayah kecamatan Dawuan tidak aman.” (RDP: 64)


          “ Sebagai laki-laki usia dua puluh tahun, aku hampir dibuatnya menyerah.”   (RDP:63)

3. Di manakah latar tempat, latar waktu, dan latar suasana yang tergambar dalam novel

Ronggeng Dukuh Paruk?

Latar Tempat     : Tempat terjadinya suatu peristiwa dalam sebuah cerita

Novel RDP berlatar utama di pendukuhan yang bernama Dukuh Paruk. Latar tempat ini terlihat dalam
kutipan berikut.

Dua pululuh tiga rumah berada di pendukuhan itu, di huni oleh orang-orang seketurunan. Di Dukuh
Paruk inilah akhirnya Ki Secamenggala menitipkan darah dagingnya (RDP: 10)

Dari kutipan diatas dapat diketahui bahwa latar tempat di dalam rumah novel RDP terjadi di Dukuh
Paruk sedangkan latar tempat di luar rumah tidak ditemukan dalam novel. Adanya dua puluh tiga rumah
di pendukuhan menggambarkan bahwa Dukuh Paruk merupakan pemukiman kecil yang keberadaannya
ditempat terpencil. Latar utama yang terjadi di Dukuh paruk memunculkan latar pendukung. Hal ini
terdapat dalam latar berikut.

·         Di tepi kampong

Di tepi kampung ini menjadi latar rasus dan temannya Darsun dan Warta mencabut       batang singkong
yang menjadi cerita pertama yang terdapat dalam novel (RDP: 10).

·         Di pelataran yang membatu di bawah pohon nangka

Tempat tersebut merupakan tempat srintil sering bermain dengan mendedangkan lagu kebanggan para
ronggeng. Selain itu di bawah pohon nangka srintil sering menari dan bertembang (RDP: 13).

·         Di halaman rumah Kartareja

Tempat ini menjadi bagian dari upacara sacral yang dipersembahkan kepada leluhur Dukuh Paruk
sebelum menuju pekuburan dukuh paruk (RDP: 45)

·         Di Pekuburan Ki Secamenggala

Latar ini syarat srintil untuk menjadi seorang ronggeng yaitu srintil melakukan upacara pemandian di
pekuburan ki secamenggala (RDP: 46)

·         Pasar Dawuan
Tempat ini adalah tempat yang dituju rasus ketika meninggalkan Dukuh paruk. Hal ini secara implicit
terdapat dalam kutipan berikut.

“Sampai hari-hari pertama aku menghuni pasar Dawuan, aku menganggap nilai-nilai yang kubawa dari
Dukuh Paruk secara umum berlaku pula di semua tempat (RDP: 84).”.

·         Di Hutan

Tempat ini menjadi tempat berburu Rasus, Sersan slamet dan Kopral Pujo (RDP: 95)

·         Di Rumah Sakarya

Latar ini menjadi tempat pertama yang di datangi oleh perampok ketika ingin merampok harta milik
srintil, tapi saat itu srinti sedang berada di rumah kartareja, hingga akhirnya perampok berbelok ke
rumah kartareja (RDP: 101)

·         Di Beranda Rumah Nenek Rasus

Tempat ini menggambarkan ketika rasus pulang kerumah neneknya ketika dia selesai menangkap
perampok yang ada di Dukuh Paruk, tapi kemudian di kembali menjadi tobang(RDP: 103)

Latar Waktu   : Waktu terjadinya suatu peristiwa dalam sebuah cerita                    

·         Sore hari

 Waktu ini tergambar dari kutipan berikut.

 Ketiganya patuh. Ceria di bawah pohon nagnka itu belanjut sampai matahari   menyentuh garis
cakrawala (RDP: 14).

Kutipan diatas menceritakan tentang Rasus, Darsun, dan warta ketika mengiringi srintil menari hingga
sore hari. Pengarang menggambarkan waktu ini dengan bahasa yang sederhana yaitu “matahari
menyentuh garis cakrawala”.

·         Tengah malam

Waktu tengah malam tergambar dari kutipan berikut.

Seandainya ada seorang di Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat mengira-ngira saat itu
hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1946 (RDP:21).

Kutipan diatas mengambarkan malam sebelum terjadinya keracunan tempe bongkrek yang dialami
masyarakat Dukuh Paruk. Waktu yang ditegaskan dalam kutipan di atas adalah tengah malam, yang
mana waktu tersebut menjadi latar waktu dalam novel ini

·         Tengah hari (Siang)

Latar waktu tengah hari terlihat dalam kutipan berikut.

Namun semuanya berubah menjelang tengah hari. Seorang anak berlari-lari dari sawah sambil
memegangi perut (RDP: 24)

Kutipan di atas menegaskan bahwa racun dalam tempe bongkrek mulai bereaksi ketika tengah hari
dimana setelah masyarakat Dukuh Paruk selesai melakukan aktivitas di sawah. Dalam kutipan tersebut
latar waktu yang terjadi tengah hari.

·         Pagi

Latar waktu pagi digambarkan dalam kutipan berikut.

Matahari mulai kembali pada lintasannya di garis khatulistiwa. Angin tenggara tidak lagi bertiup
(RDP:44)

Kutipan di atas merupakan salah satu latar dalam novel RDP ketika waktu pagi, yang menggambarkan
waktu pagi telah terasa.

·         Malam hari

Waktu malam hari tergambar dari kutipan berikut.

Karena gelap aku tak dapat melihat dengan jelas.

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa waktu terjadinya ketika malam hari. Dengan adanya kata
gelap yang memperjelas latar waktu tersebut.

Latar waktu yang disebutkan di atas merupakan waktu yang terdapat dalam novel RDP, sebenarnya dari
latar waktu tersebut ada yang lebih dari satu. Tapi penulis hanya mengambil salah satu sebagai
perwakilan.

Latar Suasana                        : Suasana yang terjadi dalam sebuah cerita

         Ceria “ Ketiganya patuh, ceria di bawah pohon nangka itu berlanjut sampai matahari menyentuh
garis cakrawala.” (RDP:7)
          terkesima “ penonton menunda kedipan mata ketika Srintil bangkit....” (RDP:10)

          panik “ Dalam haru-biru kepanikan itu kata-kata wuru bongkrek mulai di teriakkan orang.”
(RDP:13)

4. Siapakah tokoh utama dan tokoh-tokoh pendukung dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk ?

a. Tokoh utama

Tokoh utama dalam novel RDP adalah Rasus, pengarang menampilkan rasus sebagai narrator dalam
peristiwa novel RDP sedang srintil ditampilkan sebagai tokoh yang diceritakan Rasus. Tokoh Rasus
merupakan tokoh yang serba tahu akan segala peristiwa dalam cerita itu.

Rasus dilukiskan sebagai seorang pemuda rakyat biasa yang tidak mempunyai status kebangsaan, tinggal
di daerah terpencil yang mempunayi status rendah, kurang pengetahuan serta mudah rapuh. Hal ini
secara eksplisit disampaikan pengarang sebagaimana tampak pada kutipan berikut.

Aku tidak rela hal semacam itu terjadi. Tetapi lagi-lagi terbukti seorang anak dari Dukuh Paruk bernama
Rasus terlalu lemah untuk menolak hal buruk yang amat dibencinya. Jadiaku hanya bisa mengumpat
dalam hati dan meludah.Asu buntung! (RDP: 53)

Dalam kutipan di atas watak rapuh Rasus tampak jelas dalam pengakuannya bahwa kejadian tersebut
disebabkan oleh ketidakmampuannya melawan hukum pasti di Dukuh Paruk yang harus dilakukan
seorang ronggeng yaitu malam bukak-klambu. Rasus harus merelakan orang yang dicintainya yaitu srintil
untuk menyelesaikan persyaratan terakhir menjadi seorang ronggeng yang bernama bukak-
klambu. Menghadapi hal itu rarus tidak dapat berbuat apa-apa, dia hanya dapat pasrah pada apa yang
akan terjadi pada srintil.

b. Tokoh Pembantu Utama

Tokoh pembantu utama dalam novel RDP adalah srintil, pengarang menggambarkan srintil
sebagai seorang ronggeng yang cantik berperawakan menarik serta perempuan yang sempurna fisiknya
yang dianggap sebagai titisan dari Ki Secamanggala. Kutipan berikut memperlihatkan kecantikan srintil
serta kesempurnaan fisik yang dimilikinya.

Mulutnya mungil. Cambang tipis di pipinya menjadi nyata setelah Srintil dibedaki. Alis yang diperjelas
dengan jelaga bercampur getah pepaya membuatnya kelihatan seperti boneka. (RDP: 18)

Pengarang dalam kutipan di atas menampilkan tokoh utama Srintil sebagai seorang ronggeng yang
sempurna, yaitu dengan kecantikan dan fisik yang dimilikinya. Srintil yang sebelumnya hanya anak
Dukuh Paruk biasa yang tidak mempunyai status kebangsaan dijadikan pengarang sebagai perempuan
mempunyai status yang tinggi ketika menjadi ronggeng. Hal tersebut menimbulkan perubahan watak
yang dimiliki Srintil. Dulu srintil yang sering bermain bersama Rasus, Warta dan Darsun tapi setelah
menjadi seorang ronggeng dia sudah tidak ada waktu untuk bermain bersama mereka. Dari situ sangat
terlihat perubahan sifat srintil.

5. Bagaimana karakter tokoh-tokoh Ronggeng Dukuh Paruk ?

Rasus

Rasus merupakan tokoh utama yang diceritakan dalam novel ini. Rasus memiliki karakter/penokohan,
yaitu:

a.       Baik, pemberani, peduli, penyayang, cerdas, tegas dan bijaksana.

b.      Pendendam, hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

Aku bersumpah takkan memaafkannya. (Ronggeng Dukuh Paruk: 80).

Sesaat berikutnya kudengar jerit Srintil. Aku mengutuk sengit mengapa Kopral Pujo belum juga muncul.
Karena tidak sabar menunggu, maka timbul keberanianku. (Ronggeng Dukuh Paruk: 101).

c.       Penyayang, hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

Srintil mengikutiku ketika aku berjalan menuju rumah nenek. Ah, tua nenekku. Kurus dan makin
bengkuk. Kasihan, nenek tidak bisa banyak bertanya kepadaku. Linglung dia. Tetapi aku merangkulnya
sambil berseru berulang-ulang menyebut namaku sendiri. “Aku Rasus, Nek.” (Ronggeng Dukuh Paruk:
103).

2.      Srintil

Srintil merupakan tokoh pembantu utama yang selalu diceritakan dalam novel ini. Srintil mempunyai
karakter/penokohan, yaitu:

a.       Perhatian, hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

“Jadi engkau mau pulan,  Rasus? Di luar masih gerimis,” ujar Srintil (Ronggeng Dukuh Paruk: 56).

b.      Penyayang, hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

Yang sedang dicari oleh sepasang matabening itu adalah ketulusan hati. Seorang bayi dengan hati yang
demikian bersih akan tahu sikap palsu dibalik sikap keramahan dan kehangatan yang dibuat-
buat. (Ronggeng Dukuh Paruk: 137).

c.       Baik, ramah, perhatian.

3.      Santayib
Santayib merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai ayah Srintil. Santayib berwatak gegabah,
cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan terlebih dahulu, dan baik.

4.      Istri Santayib

Istri santayib juga merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai istri Santayib dan sekaligus
merupakan ibu Srintil. Tokoh ini berwatak baik, penyayang, keibuan, dan peduli.

5.      Dower

Dower merupakan tokoh pembantu dalam novel ini. Dower memiliki karakter tokoh yang selalu
memaksakan kehendaknya dari apa yang di inginkannya. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

“Wah, Kek,” kata Dower akhirnya. Pada saya baru ada dua buah rupiah perak. Saya bermaksud
menyerahkannya kepadamu sebagai panjar. Masih ada waktu sehari lagi, barangkali besok saya bisa
memperoleh ringgit emas.” (Ronggeng Dukuh Paruk: 59).

6.      Warta

Warta merupakan tokoh pembantu yang sekaligus berperan sebagai teman Rasus ketika kecil. Karakter
tokoh Warta yaitu baik dan lucu, serta selalu menghibur dan membuat Rasus tertawa jika sedang dalam
kesulitan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

“Oh kasihan kawanku in. Kau senang pada Srintil, tetapi nanti malam ronggeng itu dikangkangi orang.
Wah.....” (Ronggeng Dukuh Paruk: 63).

7.      Salam

Salam merupakan tokoh pembantu yang sekaligus berperan sebagai lawan Dower pada saat
acara malam bukak-kelambu. Salam berwatak sombong dan angkuh. Hal ini dapat dilihat dari kutipan
berikut:

“Ada anak Pecikalan disini?” kata Salam angkuh. (Ronggeng Dukuh Paruk: 71).

8.      Kartareja

Kartareja merupakan tokoh pembantu dalam novel ini yang berperan sebagai seorang dukun di Dukuh
Paruk. Watak Kartareja yaitu licik, kartareja menghalalkan segala cara agar dapat mencapai
keinginannya. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

Kartareja mengeluarkan botol-botol dari lemari. Sebuah masih penuh berisi ciu. Sebuah lagi hanya berisi
seperempatnya. Isi botol yang kedua ditambah dengan air tempayan hingga penuh. Kartareja
memerintahkan menghidangkan minuman keras itu kepada Sulam dan Dower. (Ronggeng Dukuh Paruk:
73).

9.      Nyai Kartareja
Nyai kartareja juga merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai istri Kartareja dan sekaligus
induk semang Srintil. Nyai Kartareja berwatak licik sama seperti suaminya Kartareja. Hal ini dapat dilihat
dari kutipan berikut:

Bayangkan, Pak. Srintil sedang menuntut kalung seperti dipakai oleh istri Lurah Pecikalan. . seorang
Priyayi seperti sampean, kalau mau, tentu bisa memenuhi keinginan Srintil ini. Nah, bagaimanakah
dengan kami melarat ini. Oh, Srintil. Mentang-mentang cantik mudah saja dia memberikan beban berat
kepada kami.” (Ronggeng Dukuh Paruk: 122).

10.  Nenek Rasus

Nenek Rasus merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai seorang nenek yang merawat Rasus
dari kecil ketika Rasus menjadi anak yatim piatu. Nenek Rasus berwatak baik, penyayang, dan pikun.

11.  Sakarya

Sakarya merupakan tokoh pendukung yang berperan sebagai kakek Srintil yang merawat Srintil dari bayi
hingga dewasa. Sakarya berwatak baik, penyayang, taat akan adat serta larangan-larangan yang ia
percaya dari Ki Secamenggala. Watak penyayang Sakarya dapat dilihat dari kutipan berikut:

“Nah begitulah. Namun hati-hati. Sampean tak boleh berlaku kasar terhadap cucuku meskipun dia telah
merepotkan kita.” (Ronggeng Dukuh Paruk: 124).

12.  Nyai Sakarya

Nyai Sakarya merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai istri Sakarya dan juga nenek Srintil
yang merawat Srintil dari bayi hingga dewasa. Nyai Sakarya berwatak penyayang, ramah, peduli dan
baik. Watak ramah dari Nyai Sakarya dapat dilihat dari kutipan berikut:

“Oh,  ya. Tampi, bukan? Mari masuk,” ujar Nyai Sakarya dan menyilakan tamunya. (Ronggeng Dukuh
Paruk: 137).

13.  Sersan Slamet

Sersan Slamet merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai seorang tentara. Sersan Slamet
berwatak baik, ramah,  dan tegas. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

“Siapa namamu?” tanya Sersan Slamet. Gayanya ramah kebapakan. (Ronggeng Dukuh Paruk: 91).

14.  Marsusi

Marsusi merupakan tokoh pendukung yang berperan sebagai kepala perkebunan karet Wanakeling.
Marsusi berwatak sombong, angkuh, pemarah, kasar dan pendedendam. Hal ini dapat dilihat dari
kutipan berikut:

“Sampean tadi mengatakan Srintil ada di rumah. Lalu manakah dia?” tanya Marsusi sambil meletakkan
botolnya dengan agak kasar. (Ronggeng Dukuh Paruk: 120).
15.   Pedagang Lontong di pasar Dawuan

Tokoh ini merupakan tokoh pendukung yang berperan sebagai pedagan lontong di pasar Dawuan. Tokoh
ini berwatak baik, keibuan, penyayang serta peduli.

16.  Pedagang Ubi

Tokoh ini merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai seorang pedagang ubi di pasar Dawuan.
Tokoh ini berwatak peduli.

17.  Siti

Siti merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai seorang gadis yang menjadi pelnggan Rasus
dalam membeli Singkong. Siti berwatak baik, alim, sopan dan berbeda dari wanita lain

18.  Wirsiter dan Ciplak

Tokoh ini juga merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai pasangan penjaja musik kecapi.
Tokoh ini berwatak ramah serta pekerja keras.

19.  Sakum

Sakum merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai seorang pemukul calung yang dengan
keterbatasannya tidak dapat melihat. Sakum berwatak baik, penyayang, dan sabar.

20.  Tampi

Tampi merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai seorang wanita yang dekat dengan Srintil dan
juga merupakan ibu kandung Goder, anak yang dianggap Srintil seperti anaknya sendiri. Tampi berwatak
baik, penyayang, perhatian serta peduli.

21.  Goder

Goder merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai anak Tampi dan juga anak yang sangat
disayangi oleh Srintil. Goder berwatak baik, penyayang dan lucu.

22.  Dilam

Dilam merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai seorang yang berasal dari Warubosok. Dilam
berwatak pendendam, dimana Dilam tega membunuh orang yang dianggapnya meracuni kerbaunya.
Dilam juga mudah percaya kepada orang yang baru dikenal.

23.  Tarim merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai seorang dukun. Tarim berwatak baik, dia
selalu mengingatkan orang-orang yang meminta bantuannya untuk membalaskan dendamnya agar tidak
langsung mengambil keputusan yang salah.
24.  Ibu camat

Ibu camat merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai seorang istri camat. Ibu camat memiliki
watak syirik, dan suka membicarakan kejelekan orang lain.

25.  Wedana

Wedana merupakan tokoh pembantu. Wedana memiliki watak suka mepergunjingkan orang lain.

26.  Sentika

Sentika merupakan tokoh pembantu yang berperan sebagai seorang yang sangat kaya yang berasal dari
Alaswangkal. Sentika berwatak tenang, baik, ramah, penyayang, tegas dan berwibawa.

27.  Nyai Sentika

Nyai Sentika merupakan tokoh tambahan yang berperan sebagai istri Sentika. Nyai Sentika berwatak
baik, keibuan, ramah, penyayang dan juga tenang.

28.  Mertanakim

Mertanakim merupakan tokoh tambahan yang berperan sebagai orang suruhan Sentika yang mengawal
rombongan Srintil menuju rumah Sentika. Mertanakim memiliki sifat bertanggung jawab atas tugas yang
diberikan.

29.  Waras

Waras merupakan tokoh tambahan yang berperan sebagai anak Sentika dan Nyai Sentika. Waras
berwatak, baik ramah, lucu, polos, dan kekanak-kanakan.

6. Jelaskanlah amanat yang terkandung dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk?

Amanat atau pesan yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk ini adalah agar kita semua mau
dan mampu melihat seseorang itu tidak hanya dari luarnya saja melainkan juga dari hatinya. Selain itu
janganlah menjadi orang yang tidak mau bergaul dengan sesama serta dengan lingkungan, karena hal itu
akan membuat kita bodoh.

Anda mungkin juga menyukai